Sehati Sepikir di dalam Tuhan, 9 Agustus 2020

Flp. 4:1-3

Vik. Leonardo Chandra, M. Th.

Dalam kehidupan kita, kita berada dalam situasi yang sekarang, keadaan yang sangat critical ya kalau mau dibilang, dalam banyak hal. Dalam beberapa bulan terakhir saja kita mengalami situasi di mana kita masuk ke fase, karena sebelum ini sebenarnya Covid itu sudah dibilang ada namun sebelumnya sempat ada semacam prasangka bahwa Indonesia ini aman, kita tidak terkena, dan seterusnya, namun dalam beberapa bulan terakhir saja kita melihat dunia kita itu berubah. Dunia kita itu menjadi, khususnya dalam konteks Indonesia itu, konteksnya berubah drastis dan di mana-mana kita berada di dalam kesulitan di dalam baik pekerjaan kita, dalam keseharian kita.Kita melihat juga anak-anak kita tidak bisa lagi belajar secara layaknya, umumnya mereka pergi ke sekolah.Dan ada banyak pekerjaan-pekerjaan yang menjadi macet ya. Dan tidak sedikit dari kita juga yang mengalami ketidakpastian, semacam terjepit karena keadaan dari Covid ini. Kita berada di situasi yang sangat-sangat tidak nyaman, sangat-sangat tidak enak, dan seperti bayang-bayang maut itu ada di sekitaran kita. Sederhana saja ya, kalau kita sebelum Covid misalnya kita batuk-batuk gitu, atau kayak pengkhotbah batuk, ya kita rasa biasa saja gitu ya, tapi kalau misalnya saya batuk-batuk di sini dan mulai kelihatannya agak flu gitu ya, mungkin beberapa kita mulai khawatir gitu ya. Ini Vikaris Leo akan tetap khotbah atau mungkin diganti oleh, mungkin rekan saya Yudha gitu ya, mungkin, dan sebagainya. Kita berada dalam situasi yang jauh lebih sulit, dan kita jadi semacam menyadari itu ya, bayang-bayang kematian itu di mana-mana gitu. Dan kita menjadi berada di situasi yang serba tidak menentu dan sepertinya gamang ya dalam situasi seperti ini.

Tapi saya percaya di dalam situasi ini ketika Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan kita, karena kita tahu dalam kedaulatan Allah tidak ada suatu pun yang terjadi di luar rencana Allah, maka saya percaya Tuhan pun sudah, Dia tentu sebelum kejadian ini sudah tahu, dan Dia sudah mempersiapkan kita juga sebelumnya. Dan saya percaya juga di dalam masa-masa inilah sebenarnya adalah masa yang kalau saya bilang gitu ya, meski sangat tidak ideal tapi sebaliknya secara ironis atau paradoks itu justru sangat ideal untuk kita bisa menggumulkan dan menghayati apa makna setiap kebenaran firman yang dicatatkan. Kenapa? Karena kenyataannya Kitab Suci dituliskan di zaman yang tidak ideal juga, di situasi yang sulit juga. Ketika kita lihat kisah dari para nabi, maka kita mengerti mereka bukan, kebanyakan ya, para nabi itu hidup di zaman bukan di era rajanya yang baik. Yang kalau mau dibilang taat, setia pada Tuhan, itu sangat sedikit nabi yang hidup di era demikian. Justru banyak kitab-kitab para nabi itu dituliskan justru di era menghadapi raja yang lalim, di era ketika menghadapi di mana orang-orang Israel itu meninggalkan Tuhan, menyembah Baal dan sebagai macamnya. Dan begitu pula ketika kita masuk ke era Perjanjian Baru kita mengerti dan sangat kental ya saya percaya dalam mungkin kita juga “sudah bosan” gitu ya, berkali-kali, “Oh orang jemaat mula-mula itu hidupnya itu sangat tidak nyaman. Mereka dalam penderitaan, penganiayaan”. Dan sampai mungkin di waktu itu ya kita cuma mengerti itu sebagai suatu histori, sebagai sejarah. Oh mereka dulu susah, kita sih sekarang nyaman, kita di daerah modern dan agama kita Kekristenan itu diakui oleh negara dan segala sesuatunya. Sampai ketika masuk Covid ini kita berada dalam suatu kesulitan dan konteks yang memang berat ya kalau mau dibilang, tapi saya percaya dalam bagian ini menjadi satu bagian untuk kita bisa renungkan betul-betul, apa sih makna setiap penulisan Alkitab itu sendiri, karena konteksnya mereka pun dituliskan di dalam kondisi yang berat, dalam kondisi yang sulit di mana bayang-bayang kematian itu juga menghantui di mana-mana. Di zaman itu ketika menjadi orang Kristen itu tidak menguntungkan sama sekali. Bukan cuma masalah tidak menguntungkan ya, merugikan dan sangat membahayakan. Bahkan kalau kita agak maju lagi mungkin sejarahnya loncat agak jauh ya, kalau kita masuk ke era reformasi, kita kalau hari ini ya kalau kita ngomong kita orang Reformed itu kayaknya wah keren gitu ya. “Oh kamu gerejanya Stephen Tong” dan seterusnya gitu ya. Kita mungkin bisa rasa ada semacam prestise mungkin, seperti itu, tentu tidak di semua konteks gitu ya, bisa juga dicaci maki. Tapi kita ada rasa semacam suatu kebanggaan tersendiri gitu ya, “oh kita ini orang Reformed”, dan seterusnya. Tapi kalau kita kembali di zaman reformasi mula-mula, itu bahkan ada suatu istilah. Itu para orang lulusan sekolah teologinya Calvin dapat ijazah, titelnya itu ya, ijazah kelulusannya nih, S.Th gitu atau M.Th, M.Div dan seterusnya, itu dianggap sebagai death certificate, sebagai sertifikat kematian. Kenapa? Karena memang tidak berlebihan di situ, tidak hiperbola di sana, karena kenyataannya banyak orang-orang yang lulusan dari sekolah teologinya Calvin, Luther, dan yang lainnya itu, kemudian akhirnya mati martir satu per satu. Menjadi orang Reformed di mula itu ya, itu bukan suatu prestise. Itu seperti, “Kamu Reformed? Berarti kamu bukan Roma Katolik? Oh siap dihukum, siap dianiaya, siap ditangkap.” “Oh ini nih yang memecah gereja”, dan seterusnya. “Oh ini nih yang keluar dari Roma Katolik”, “Oh ini nih yang dianggap bidat” dan seterusnya. “Oh ini orang akhirnya, kelompok yang melawan Paus dan konsili” dan seterusnya. Sehingga menjadi seorang Reformed itu bukan sesuatu yang menyenangkan ya, kalau mau dibilang, bukan suatu kondisi yang sepertinya keren dan akademis, dan segala sesuatunya. Enggak. Berada dalam situasi yang sulit, namun mereka tetap memperjuangkan kebenaran itu sendiri, kenapa? Karena itulah kebenaran itu. Apa pun konteksnya dan situasinya saya tetap berpegang pada itu meski situasinya itu tidak nyaman.

Dan menarik ketika kita kaitkan dalam konteks di sini dalam pembahasan kita hari ini ya, saya pikir inilah menarik ketika saya pertama kali mulanya ya, ketika membaca pasal ini, ya sepertinya baca “biasa saja”, oh ya seperti ini saja. Namun ketika kita kembali ke dalam teks aslinya, dan memang dalam teks Inggris itu penerjemahan itu tetap bisa kelihatan, ada suatu nuansa yang bagi saya itu cukup surprise gitu ya, yaitu ketika kita membaca bagian ini, di bagian teks ini pasal  4 mau menyatakan bahwa ternyata gereja Filipi pun itu ada suatu konflik di dalam gerejanya sendiri. Bahkan ada beberapa komentator yang mengatakan, “Oh justru salah satu elemen penting di dalam penulisan Surat Paulus kepada jemaat Filipi itu justru kareana meng-address isu ini, ada konflik dalam gereja Filipi.” Dan terutama adalah terbagi 2 kubu yaitu ada kubu Iodia, ada kubu Sinteke kira-kira seperti itu. Ya kembali lagi kita kalau baca sepintas kita pikir oh biasa saja gitu ya, namun di dalam banyak komentari itu mengatakan ini memang isu yang berat dan akhirnya dinyatakan bahkan disebut namanya ya. Mungkin kalau kita sampai hari ini, tapi saya rasa untuk konteks sini kita akan rasa heran gitu ya, misalnya karena kita dapat surat dari sinode gitu ya dari pusat gitu ya dari Pak Tong lalu ngomong misalnya ya misalnya di sini, “Yudha kunasehati,” lalu misalnya, “Veri kunasehati supaya sehati sepikir.” Kita akan pikir ini apa sih. Dingomong blak-blakan sebut nama di situ ya berarti ini ada suatu konflik yang memang benar terjadi dan menjadi itu istilahnya “rahasia umum.” Menjadi suatu konflik perpecahan terjadi di gereja dan ini yang di-address Paulus di dalam surat Filipi ini ya. Saya sendiri di dalam penafsiran ini tidak terlalu sampai apa ya pernah ada tidak terlalu tekan sekali di dalam bagian ini karena ada meski ada komentari yang ngomong iya semua penulisan kitab Filipi ini bahkan sampai strukturalnya ketika melihat kenapa dia bahas bagaimana Kristus merendahkan diri, meninggalkan kemuliaanNya ya, Dia mengosongkan diriNya menjadi hamba dan seterusnya ada yang bilang o ini karena dia mau address masalah ini gitu ya. Jadi ada yang sedemikian sampai segitunya para komentator itu ada yang melihat itu sampai sedemikian intinya dan dia bilang ini menjadi main issue, menjadi alasan utama kenapa Paulus menuliskan surat kepada jemaat Filipi ya. Saya sendiri mengambil posisi pandangan tidak sampai seekstrim itu karena saya percaya dalam banyak hal juga dalam pimpinan Tuhan, Paulus menuliskan bagian ini dan terutama maksud intensi Tuhan. Tapi kemudian kita juga tidak bisa menegasikan menanggap seperti ini cuma isu ringan gitu ya tapi kita perlu makannya bahas di dalam satu kesempatan ini lihat bagaimana konflik yang terjadi di gereja dan apa kira-kira menjadi penyebab dan pemicu konflik itu sendiri dan bagaimana kira-kira kita solusinya bagaimana kita meresponi konflik itu sendiri biar kita bisa pelajari bagian sini ya. Saya meng-highlight bagian sini gitu ya secara masih agak lebih broad-nya.

Kembali lagi ada beberapa komentator mengatakan seluruh surat Filipi ini dituliskan kenapa? Karena memang ada konflik ini. Makanya Paulus sungguh-sungguh demikian suratnya untuk mengaddress isu ini. Bagi saya itu berlebihan ya tapi sisi lain kita ndak bisa sangkali ada konflik yang terjadi dan itu realitanya. Dan di bagian ini ketika saya renungkan ini saya pikir menjadi suatu semacam eye opening juga bagi saya gitu ya, itu menjadi saya sadar gitu ternyata kadang-kadang kita berpikir kita ini mau kembali seperti jemaat mula-mula, mau persis seperti gereja mula-mula, mungkin itu over-romaticizing gitu ya. Kita terlalu menanggap pokoknya di jemaat mula-mula itu bagus sekali, semua baik sekali, semuanya berjalan dengan sangat harmonis dan seterusnya. Nggak juga. Kenyataannya adalah jemaat mula-mula sendiri ada konflik di dalam ya. Mungkin kalau kita ambil dari kitab yang lain ada pernah teolog itu mengatakan dia bilang teolog biblika itu dia ngomong kalau orang ngomong, “Kita harus kembali seperti jemaat mula-mula, kita harus jadi seperti jemaat mula-mula,” itu ya teolog biblika itu dia cuma nyengir gitu ya ketawa dia bilang, “Kamu nggak mau benar-benar kembali persis seperti jemaat mula-mula. Kenapa? Jemaat mula-mula itu banyak masalahnya.” Atau mungkin kamu bisa pilih jemaat mula-mula yang model mana gitu ya. Minimal kita nggak mau seperti jemaat Korintus. Jemaat Korintus itu berat sekali kita baca aja aduh ini banyak isu-isu moral, percabulan, dan segala sesuatunya. Kita bukan mau persis seperti mereka tapi kita lihat bagaimana konteks mereka di tengah situasi yang ada dan itu menjadi cerminan juga menjadi gereja sepanjang segala zaman dan bagaimana firman Tuhan berbicara kepada mereka berbicara juga dalam konteks seperti mereka dan juga saya percaya berbicara kepada kita pada hari ini. Saya melihatnya itu seperti situ ya di tengah konflik dan situasi yang ada dan bahkan menarik ini kalau saya renungkan ini Paulus ini lagi di penjara lho. Itu kondisi ya kembali lagi ya kita mungkin kita nggak ada yang pernah masuk penjara tapi kira-kira kalau kayak kita disuruh karantina itu mirip lah gitu ya. Karantina itu ndak enak sekali gitu ya. 14 hari aja gerah gitu ya, kenapa di sini harus nggak boleh keluar. Ini Paulus bukan cuma karantina 14 hari ya, berbulan-bulan, tahunan, dan ndak tahu kapan keluarnya. Dan bukan tanda petik ya kita kalau misalnya masuk di karantina pun itu masih kita dikasih makanan yang cukup lho, dirawat, malah ada saudara keluarga saya yang agak jauh ya itu mengatakan, “Oh di tengah sana dikarantina enak kok malah dikasih masak asupan gizi yang cukup,” gitu ya karena memang pengobatannya seperti itu di masa Covid ini dan dirawat dengan baik ya. Konon bahkan kadang mungkin lebih baik daripada di rumahnya sendiri gitu. Tapi Paulus ini dia di tengah pemenjaraan dia itu bahkan saya sudah bahas di pasal yang sebelumnya gitu ya di bulan-bulan yang lalu yaitu bahkan untuk makanan sendiri itu ndak tentu cukup ya. Dan itulah sebabnya dia bersyukur itu ada Epafroditus, ada Timotius, yang diutus untuk memberikan bantuan mencukupkan makanan dia selama di penjara. Jadi dia kondisi yang sangat-sangat sulit dan kita bayangkan di tengah kesulitan itu dia dengar ada konflik di Filipi. Kira-kira respon kita seperti apa? Kalau saya mungkin sudah ngamuk gitu ya. Saya sudah susah di sini, menderita gini semua sudah ndak tahu lah ya itu kalau sudah berapa lama nanti makanan nggak tentu ada, asam lambung udah naik, udah emosi gitu ya. Konon katanya itu ada bukan cuma angry bisa ada hangry gitu ya hungryandangry gitu ya lapar dan marah gitu ya jadi campur gitu. Ini kok seperti gini gitu ya.

Tapi menarik ya, di tengah yang sulit ini seperti sudah saya katakan juga di khotbah-khotbah sebelumnya, surat Filipi ini dikenal sebagai surat sukacita. Surat sukacita ditengah situasi yang sangat tidak enak dan disituasi konflik yang adapun Paulus tetap bisa menghadapinya dengan baik.Saya pikir disini dan kita bisa belajar bersama ya. Kalau kita kembali ke dalam bagian ini, konflik, apa sih yang memicu konflik? Kalau kita kembali pada kerangka besar berfikir di dalam Alkitab maka kita akan ketemu kenyataannya memang konflik itu bagaimana pun pasti tidak terhindarkan terjadi di dunia ini sejak manusia jatuh di dalam dosa. Sejak dari pertama manusia jatuh ke dalam dosa,Adam dan Hawa itu sudah langsung terjadi konflik. Itu mulai dari hubungan relasi yang paling intim, yang paling dekat, suami-istri yang paling pertama, orang tua pertama ya. Mereka masih di kondisi yang aman sekali kalau mau dibilang, kondisi yang nyaman sekali di Taman Eden pun pun langsung konflik disitu sejak jatuh di dalam dosa. Mereka bukan menghadapi mungkin terjadi perang atau situasi yang seperti apa gitu, mereka masih di Taman Eden sudah langsung konflik. Langsung ketika Adam ditanya,“Adam dimanakah engkau, lalu apakah engkau memakan buah itu?” O langsung tuduhnya Hawa, itu saling blamming satu sama lain. “O bukan saya, ya memang sih saya yang makan,” tapi enggak mau mengaku pokoknya cuma mengkambing hitamkan yang lain. Dan kita melihat dari bagian situ konflik itu terjadi pertama sejak memang manusia jatuh dalam dosa. Dan bahkan kita ditunjukkan di pasal berikutnya anak Adam dan Hawa baru aja keluar Taman Eden kira kira seperti itu ya terjadi dosanya enggak tanggung-tanggung gitu lho, bukan berantem pukul-pukulan tapi langsung bunuh-bunuhan, ya lebih tepatnya cuma Kain yang membunuh Habel. Sikap Habel tidak membalas dengan hantam Kain dan seterusnya. Tapi kita lihat langsung kejahatan, kriminal pertama itu terjadi adalah pembunuhan antar saudara. Jadi bagian sini kita melihat di dalam Alkitab itu menggambarkan bukan suatu dunia yang seperti mitos yaitu atau seperti kisah dongeng yang semuanya happily ever after, semuanya indah seperti itu, enggak. Kenyataannya adalah kesulitan, konflik. Kenapa? Dan memang sejak jatuh dalam dosa konflik itu tak terelakkan. Kita sendiri di dalam keluarga siapa sih di kita keluarga yang enggak pernah konflik? Saya tentu membahas ini bukan merayakan konflik itu sendiri ya, tapi ini suatu yang tak terhindarkan karena memang kita adalah manusia yang berdosa dan hidup di tengah dunia yang berdosa juga sehingga konflik ini memang terjadi. Sehingga akhirnya ini adalah suatu yang memang faktor-faktor penyebab konflik itu terjadi ya karena memang kita adalah manusia yang berdosa, kita mempunyai keterbatasan dan kekurangan diri masing masing yang bisa menjadi pemicu konflik itu.

Dan ketika terjadi konflik, berapa banyak kita itu bergumul pikir ini akarnya, salahnya, atau penyebabnya ini apa? Dan menjadi suatu respon untuk kita pikir menjadi menyadarkan kita memang sejak manusia jatuh dalam dosa konflik itu memang terjadi. Tentu di dalam bagian ini dimana kita me-manage konfliknya tidak mau menjadi lebih besar ya. Kita redam, kita coba memulihkan, dst. Tapi ini adalah sesuatu yang tidak terhindar kan. Keluarga yang kita lihat selaluharmonis pun pasti pernah terjadi konflik. Dan ini bagian yang saya ingat ya, karena ya masih belum lama, ya tahun lalu saya kan ikut ke kelas konseling gitu ya. Kelas itu dalam satu sesinya itu juga ada pembicara itu ngomong ke pasangan-pasangan ini yang mau menikah gitu ya. Ditanya nya itu sudah pernah ribut belum? Terus saya pikir,“Ahh kenapa sih orang mau nikah kok disuruh ribut dulu.” Bahkan ada yang di bagian tertentu kalau belum ribut disuruh ribut dululah, ribut gede dulu gitu. Ini pendeta lho, ya kok ngomong suruh orang ribut kenapa sih? Saya mulanya itu pikir kayak bagaimana ya, disisi lain sih kami juga sudah pernah konflik sebelumnya. Tapi saya pikir menarik gitu ya. Karena kadang-kadang kita punya ide atau semacam pikiran bahwa kalau ini kayaknya mereka itu saling mengasihi itu enggak pernah konflik gitu ya. Tapi dibagian sini saya pikir ya tentu benar ya apa yang disampaikan oleh para hamba Tuhanngomong justru kalau kamu sudah pernah konflik kamu tahu seperti apa titik berbedanya, dimana titik persamaan kalian, dan bagaimana kalian manage bergumul ditengah konflik yang ada. Tapi itu menarik ya. Dan saya pernah tanya kenapa sih harus bilang,“ya iya, kalau mereka belum pernah konflik gitu ya. Terus kayaknya just flowery, semua indah-indah, langsung nikah gitu ya nanti kelak kita sudah berkati ya itu konflik langsung bubar karena selama pacaran enggak pernah konflik, enggak pernah konflik besar, jadi nanti kalau diburu-buru dinikahin karena ohdia so cute, begitu manisnya, begitu indah, begitu romantisnya. Ya begitu kita tahu karena dua-duanya manusia berdosa ya nanti ketika ada konflik ya langsung bubar. Lho enggak pernah dulu digumulkan, hadapi sebelum pernikahan kok, kira-kira seperti itu ya. Dan itu saya pikir menarik kalau kita renungkan, realita itu ada di dalam kehidupan kita,di dalam keluarga kita, dan ini menjadi hal yang tidak terhindarkan karena memang kita manusia yang berdosa dan hidup di tengah dunia yang berdosa. Itu penyebabnya yang pertama.

Yang kedua karena kadang-kadang selain memang ada bagian faktor dosa dan kita perlu bertobat atashal itu, juga menangisinya, tetapi bagian yang kedua adalah yang secara lumrah saja memang karena perbedaan temperamen. Dan temperamen itu tiap-tiap orang itu punya ada watak kebiasaannya masing-masing gitu ya, punya temperamen kecenderungan masing-masing gitu ya. Walau kadang orang pakai istilah itu 4 temperamen dengan kombinasi-kombinasinya dari temperamen itu ya. Dan dalam keseharian kita temukan memang keseharian saja ketika kita di dalam pekerjaan atau mungkin konteks yang agak lebih besar misalnya di dalam sekolah, kadang-kadang kan kita merasa cocok enggak cocok dengan seseorang itu ada kadang-kadang faktor temperamen sih. Memang gayanya seperti ini, temperamennya gini dan saya ada cocok enggak cocok,like dislikes, itu bisa terjadi ya. Dan makanya kadang-kadang anak-anak kita seperti ini bikin kita heran gitu ya, misalnya ya kita disini sebagai orang tua, kita ini sudah, kita berteman dengan ada orang tua lain dan kita teman akrab, tapi kadang-kadang anak kita itu ndak cocok. Dan bisa juga terjadi sebalik nya, orang tuanya ini ndak cocok, ciong gitu ya kira-kira, tapi anaknya itu temenan akrab. Kita juga heran gitu, kenapa ya? Kadang-kadang ya itu, masalah temperamennya itu cocok ndak cocoknya itu, dan itu adalah faktor yang natural ada dalam kehidupan, ya. Dan saya pikir ketika di bagian ini kita kaitkan dengan konteks gereja, memang ini menjadi suatu yang “lumrah terjadi” ya karena di gereja ini kita masuk dalam sekolah yang kagak pernah naik kelas, kagak pernah bisa pass, ya iya to? Kadang-kadang ini kalau yang sekolah itu masih ingat nggak ya, kita memang berapa sudah lama sekali, masih ingat nggak ya, misalnya kita pernah konflik dengan siapa, lalu naik kelas, “oh kita pisah kelas dengan dia, dan saya di kelas A, dia di kelas B, atau dia di kelas C, ah senang, saya beda kelas dengan dia”, akhirnya nggak ribut sama orang itu. Yah, tiap tahun ada berubah gitu ya, belum lagi kalau pindah sekolah, dia beda SMP nya, beda SMA nya, dan seterusnya, tapi kita dalam gereja, kagak pernah naik kelas gitu ya. Maksudnya nggak pernah pindah gitu ya. Ndak tau kalau suatu saat karena masalah konflik ini kita ibadah dua kali mungkin ya, nanti akhirnya orang ciong kayak begitu, “oh orang itu suka, musuh saya itu, suka datang ibadah pagi, gua datang ibadah siang”, nah, ada model-model seperti itu tu. Atau, kalau konon katanya di konteks JABODETABEK “oh, dia suka di cabang A, ya udah saya pergi ke cabang lain, rumah saya, sebenarnya daerah, misalnya, rumah saya daerah Karawaci, tapi ah saya ibadah di BSD aja gitu, mungkin ya, karena saya ciong dengan orang di sana”. Belum lagi orang yang putus pacar dan segala macem ya. Saya kadang heran ya, putus cinta langsung pindah cabang gitu ya. Saya, ya sudah lah, pokok nya masih GRII, kira-kira saya bayangkan kayak gitu. Tapi maksudnya adalah, ini adalah hal yang tak terhindarkan dalam kehidupan karena memang masalah temperamen tiap-tiap orang juga beda dalam watak tiap masing-masing itu sehingga ada memang bisa terjadi konflik, dan ini adalah bagaimana kita bisa menyikapi nya. Saya ajak di dalam bagian ini kita menyikapi nya dengan lebih dewasa ketika terjadi hal ini, gitu ya.

Satu sisi tentu ketika terjadi konflik kita berduka akan hal itu, namun ini adalah sesuatu realita yang kita tak terhindarkan dalam kehidupan. Ya, bahkan dalam keluarga itu ya, kadang-kadang nanti ketika anak-anak kalau masih kecil itu kaya nya semua nya akrab, cocok, mulai gede-gede itu kok bisa beda ya, kok yang si ini kadang-kadang, apalagi yang si ini, si dedek ini beda dari koko nya, beda dari cici nya, gitu ya, kaya nya kenapa gitu. Padahal kan anak sendiri, tapi bisa ada beda gitu, kenapa, karena ada masalah temperamen, atau kebiasaan, dan gayanya memang agak beda gitu. Lebih lanjut lagi, juga yang lumrah itu juga ada karena masalah perbedaan kebudayaan atau kebiasaan, ya. Dalam bagian ini saya teringat di dalam suatu anekdot ya, kisah ada keluarga Chinese gitu ya, ya anekdot nya begitu, soalnya keluarga Chinese lalu dia, dia itu orang Chinese lalu dia ajak ada teman nya itu orang Amerika ya, “yok makan di rumah saya”, ya diundang, terus makan. Lalu Ketika makan itu orang Amerika itu oh sangat excited, oh saya diundang makan ni, seperti apa ni pakai sumpit, ini makan nya beda, nasi gitu ya, karena orang bule biasa nya roti dan seterusnya. Mereka makan, si orang bule ini sangat excited diajak ngobrol-ngobrol, orang Chinese nya diem-diem, diem-diem, tenang-tenang gitu ya, setelah selesai makan, pulang. Lalu si orang bule nya terpikir, “bingung ya, kenapa si orang Chinese, dia ajak, undang kita makan, mereka diem-diem aja, saya ajak ngomong kok ndak banyak meresponse gitu, ya kenapa ya, padahal kita sudah diundang makan, mereka malah makan nya diem-diem seperti itu, kita ajak ngobrol kok ya dia jawab cuma secukupnya”. Nah, sebaliknya, yang Chinese bilang “ini ya temen bule kita ini, dia ajak undang makan kok ga tau tata krama ya, berisik sekali gitu, selama makan ngoceh terus, gitu ya, ndak bisa makan tenang-tenang gitu ya”, dan seterusnya. Ya dalam suatu anekdot ini bicara memang karena beda kebiasaan itu sih. Kembali lagi ya, sama-sama undang makan, ya, dan kita bisa persepsinya masing-masing juga bisa beda gitu ya, maksudnya diundang makan apa? Ada orang ya memang kebiasaan nya itu makan itu diem-diem, tenang-tenang, ndak banyak ngomong, ndak banyak bersuara, dan ya cuma mau kasi makan ini, dikasi ini, coba ini, belum lagi kita tau ya kalau orang di Cina daratan kalau tawarkan kita makan, dia termasuk pakai sumpit nya itu, ambilin makan buat kita gitu ya. Saya nggak tau ya itu kita bisa telan nggak itu ya. Tau ya, yang sumpit nya dia pakai di mulut nya itu, dia juga pakai ambil sayur nya kasi ke mangkok kita, gitu ya. Dan itu adalah memang kebiasaan nya kaya gitu. Kita mungkin, mungkin sebagian kita rasa “ini gimana ya, ini kan abis, apalagi ini kan COVID, atau apa gitu ya, bekas dia masuk mulut nya ini”, tapi itu tata krama dan itu adalah suatu kesopanan, dan itu suatu bentuk kebiasaan mereka, ini menawarkan makan ke kamu. Ndak ngomong banyak mungkin ya, tapi ditawarkan secara begitu. Dan ini kita mengerti ada perbedaan kebudayaan dan kebiasaan ini memang bisa jadi konflik. Perbedaan-perbedaan yang seperti demikian memang dalam kebudayaan itu terjadi karena tiap-tiap kita, bagaimanapun setiap kita itu berangkat dari adat kebudayaan masing-masing, kebiasaan masing-masing yang sudah terbentuk bertahun-tahun. Setiap kita, tidak pernah sadari kevakuman, setiap kita punya ada muatan, baggage, di belakang ya, tentang masalah dosa, ataupun yang masalah secara alamiah, itu temperamen kita, memang karakter kita ya, maupun juga ada kebiasaan kebudayaan kita masing-masing yang berbeda. Dan di sini kita tau, ketika beresentuhan dengan orang-orang lain, dan aneka macam latar belakang, pendidikan yang berbeda, maka memang bisa terjadi konflik.

Dan selanjutnya lebih dalam itu adalah sebenarnya karena masalah beda pandangan atau paradigma. Nah kadang di dalam suatu konflik itu bisa terjadi itu sebenarnya karena masalah paradigma nya itu memang beda gitu ya, atau mungkin presaposisi dasar nya itu sama, tapi kemudian, dikembangkan dengan asumsi masing-masing itu yang bisa berbeda, ini yang menjadi konflik di kemudian hari. Misalkan saja ada seorang anak itu yang ingin menikah ya, lalu dia diskusi dengan orang tua nya, bagaimana persiapan-persiapan nya, sampai satu titik itu membahas bagaimana makanan nya, lalu orang tua nya “iya harus resepsi di hotel begini, yang bagus, yang mewah, gitu ya, kamu nikah cuma seumur hidup sekali” seperti itu. Lalu anak itu pikir, “aduh ngapain si Ma, bayar mahal-mahal hotel, gitu ya, boros banget, gitu ya, udah mending nasi kotak aja, atau nasi kucing, gitu ya, karena mungkin konteks orang Jogja, ya nasi kucing cukup. Mereka bisa ribut lho. Coba kalau begitu itu solusinya bagaimana? Setiap orang itu nikah anaknya pokoknya itu harus ada pestanya, harus di hotel yang mewah dan seterusnya, ya ini tentu kalau ada covid ya sudah enggak jadi gitu ya. Tapi misalnya covid ini saya juga pernah dengar yang terjadi di teman-teman saya juga, bilang ya sederhana saja, bahkan mungkin cuma nasi kotak. Kalau kita di dalam bagian ini kira-kira keributannya ini apa, kalau kita bolak-balik cuma masalah ini nasi kotak atau makan meja, itu akan enggak habis-habis. Tapi kalau kita lebih mendalam sebenarnya bisa kepikir nasi kotak itu kenapa, atau bisa kepikir makan di meja bersama itu pertimbangannya kenapa? Tentu bisa banyak alasan ya, tapi kalau saya bisa coba telaah dari banyak obrolan-obrolan saya bisa mengerti kalau biasanya ada paradigm yang dipunyai dari orang tua itu masalah sederhana saja sih, balas budi, yang kedua itu gengsi. Wah ini jarang orang ngomong ya, karena itu paradigm pasti berpikir akar sekali. Kita yang harus coba gumulkan dan renungkan sendiri kenapa ya saya mikirnya ke sana, dan masing-masing itu bisa beda. Pertama saya bahas tentang balas budi, karena mungkin sebagian besar, sebagaimana kita juga tahu, orang tua itu sudah alami berkali-kali dia diundang oleh temannya, saudaranya, sahabatnya ke pernikahan-pernikahan yang ada sebelumnya, dan ketika giliran anaknya menikah dia harus balas budi. “Lho iya saya diundang makan di sana, dijamu di sana, ya saya juga kudu jamu waktu giliran anak saya. Saya dulu dijamunya bagus lho, dikasih makannya bagus, ya waktu anak saya maka saya juga harus dong,” karena balas budi. Ini konteks kita tidak tentu persis sama, tapi kira-kira, kadang-kadang ya balas budi ini, saya rasa secara paradigmanya anaknya juga setuju paradigmanya balas budi tapi anaknya tidak mengalami, anaknya mungkin lulusan kuliah, kerja beberapa tahun langsung menikah jadi dia merasa teman saya tidak pernah traktir kemana ngapain kasih makan mereka begitu boros sekali. “Nasi kucing cukuplah, kami biasa dulu kuliah makan nasi kucing.” Karena balas budi anaknya itu dari ground zero. Dan herannya anak ini ketika kelak dia sudah dewasa dan berumur, dia juga ingin anaknya menikah pakai pesta juga, karena ada nuansa balas budi yang sama. Jadi saya mau mengajak kita berpikir itu menggali lebih dalam, ada paradigma kita masing-masing yang kita pegang. Setiap orang punya worldview masing-masing, cara pandang masing-masing, entah kita sadar atau tidak sadar, kita bisa elaborate, jelaskan dengan detil atau tidak tapi setiap kita punya yang membuat kenapa kita sesuatu itu merasa ini cocok enggak cocok ada faktor dari cara berpikir kita.

Dan belum lagi yang kedua itu adalah masalah gengsi, kita tentu masih bisa bedakan ada gengsi rasional dan ada gengsi irasional. “Gengsi dong, saudara saya itu nikahnya di hotel yang top bintang 5, masak giliran anak saya cuma nasi kucing? Aduh mau dikemanakan muka ini?” Meski ada gengsi yang irasional, “Pokoknya saya enggak mau kalah,” semata kompetisi engak boleh kalah dari saudara saya atau dari rekan kerja saya. Tapi anaknya enggak ada masalah gengsi karena dulu waktu kuliah ya makan seadanya saja, engak ada gengsi-gengsian, jadi dia tidak merasa perlu, tidak ada rasa prestisnya untuk makan di hotel dan seterusnya. Tapi mungkin si anak ini ketika kelak dia sudah bekerja apalagi kalau sudah naik posisi sampai manajer atau bahkan sampai direktur juga aka gengsi. Bagian sini maksud saya bicara apa? Paradigmanya bisa sama tapi asumsi-asumsi berikutnya bisa beda sehingga keputusannya itu beda, dan bisa terjadi konflik. Di bagian sini saya teringat apa yang dikatakan oleh Francis Schaeffer, “I do what I think, I think what I believe,” saya melakukan apa yang saya pikirkan dan saya pikirkan berdasarkan apa yang saya percaya, apa yang saya anggap sebagai sesuatu yang baik, apa yang lumrah, apa yang wajar, dan apa etika yang seharusnya dan itu meng-impllied bagaimana saya berpikir dan meng-impllied bagaimana saya bertindak. Dan ini semua kita mengerti ada perbedaan-perbedaan dan bisa mterjadi disagreement, dan di satu titik kita bisa setuju bahwa memang kita tidak setuju, ya sudah. Tapi bagaimana kita bergumul mencari titik temu ketika konflik-konflik ini memang bisa terjadi.

Justru maksud saya di bagian ini adalah kalau kita ekspektasikan semua akan lancar-lancar saja dan baik, mungkin kita itu yang kurang realistis melihat dunia ini, atau kurang melihat dari cara pandang Alkitab karena bahkan di jemaat mula-mula pun bisa terjadi konflik, dan apalagi dalam konteks yang memang sangat tidak nyaman dalam situasi itu. Kita bisa bayangkan ya kalau kita jadi jemaatnya Paulus di zaman itu, pendetanya rasul, kayak gembala sidang itu masuk penjara, kita respon bisa beraneka macam, kita bisa bilang, “Mungkin khotbahnya terlalu keras,” atau pendekatannya yang kurang santun, atau khotbahnya jangan singgung ini itu. Atau tentu orang lain bisa bereaksi, “Oh enggak, itu sudah benar, tapi memang kita dianiaya jadi kita harus tetap jangan mundur, perjuangkan tetap sekeras itu.” Kalau bisa lebih keras lagi dari Paulus mungkin ya. Karena kita itu ya, nekad gitu ya, apa semangatnya itu berani kita jangan mundur dan seterusnya. Dan karena itulah bisa terjadi konflik perbedaan di dalam bagian ini. Di dalam bagian ini menarik ya kita lihat konflik yang terjadi antara Euodia dan Sintikhe, para komentator itu berusaha mencoba cari  gitu ya seperti kayak pecahin teka-teki ini kira-kira konfliknya apa sih? Dan mereka coba cari dari keseluruhan kerangka dari teks kitab Filipi ini, sehingga mungkin addressed ini area mana dan area mana gitu ya. Dan tapi ya biasanya orang bilang akhirnya jadi cuma is a guess. Academic guess gitu ya, suatu tebakan secara akademis tapi ndak ada kepastian. Menarik. Paulus tidak menuliskan konflik mereka terjadi seperti apa, tetapi semua komentator setuju memang terjadi konflik yang cukupsetidaknya cukup crusial dan signifikan. Dan itu yang memang di highlight di dalam bagian ini. Tetapi saya pikir menarik ya ketika Paulus mengaddress bagaimana solusi dari konfliknya, dia memberikan  selain tertentu daridia memberikan sesuatu yang sederhana selain dari keseluruhan surat itu berbicara bagi setiap kita, yaitu bagaimana, untuk sehati sepikir di dalam Tuhan, agree in the Lord. Bagian sini berpikiran meskipun ada beda pandangan ya, kemungkinan misalnya lah kita contohkan mungkin ya, Euodia dan Sintikhe ini akan pikir iya makanya kita ini nggak usah terus maju misalnya ada orang Yahudi kena ngomong itu orang Yahudi yang bikin konflik itu karena orang Yahudi yang ributin mungkin  seperti itu. Atau mungkin ada sebaliknya yang, “Iya makanya cara PI nya itu yang lebih halus ya.” Yang lebih pendekatannya itu jangan terlalu frontal dan seterusnya. Dan mereka beda opini sampai ada dua kubu dan akhirnya keributan  terjadi. Tapi di bagian ini Paulus menarik adalah dia bukan sedang mengaddress kira-kira yang benar Euodia, atau yang benar Sintikhe tapi memang menyatakan yang  penting kita ini setuju di dalam Tuhan, yaitu sehati sepikir di dalam Tuhan, meski di tengah perbedaan yang ada.

Ya ini saya pikir menarik ya, Paulus di tengah bagian ini Paulus menyatakan dinasihati untuk apa? Mereka dinasihati untuk apa? Yaitu supaya sehati sepikir dalam Tuhan. Itu kayak pikir mungkin ya kalau sebagian dari kita, kalau kita di zaman jadi Jemaat Filipi, trus gua harus bilang, “Wow..” gitu ya.. ya saya tahu sehati sepikir di dalam Tuhan tapi seperti apa? Tetapi Paulus ngomong highlight memang itu intinya dan itu titik pemersatunya. Perbedaan approach kita masing-masing itu bisa berbeda dan ada memang pada akhirnya kita bisa eee memang ada beda pandangan masing-masing ya, tapi ingatlah di dalam bagian itu tidak mutlak, tapi yang penting mutlak itu kita sehati sepikir di dalam Tuhan dan kita berjuang untuk injil yang sama dan ketika kita memang masih berjuang untuk injil yang sama meski dengan pendekatan cara berbeda, tetap perjuangkan hal itu dan jaga keutuhan ini. Nah saya yakin itu  yang baik di-highlight oleh Paulus di sini itu sehati sepikir di dalam Tuhan. Bahwa di dalam banyak hal untuk kita diingat bahwa meski kita berbeda pandangannya, saya lebih suka mungkin, mungkin ya, misalnya si Euodia lebih suka yaudah kita penekanan sebenarnya ke orang Yahudi aja. Tapi mungkin Sintikhe bilang, “Nggak kita lebih tekankan pada orang Yunani, orang non Yahudi.” misalnya, tapi dia bilang yang penting kita itu sehati sepikir di dalam Tuhan, pelayanan memang bisa beragam, bisa beraneka macam bentuk, tetapi yang penting kita ingat apa yang esensi ini yang tidak boleh ditawar. Ini yang tidak boleh dikompromikan, tapi masalah pendekatan itu memang bisa beda satu sama lainnya. Kembali lagi di dalam bagian ini kita lihat ada suatu keindahan yang terjadi dengan solusi yang ini over simplyfied, atau apa gitu ya, tapi menarik di dalam bagian ini dia tekankan yang penting sehati sepikir di dalam Tuhan dan meski kita tidak temukan catatan balasannya gitu ya kira-kira, kemudian mereka berdamai baik dan seterusnya segala macam tapi kira-kira itulah yang Paulus tekankan bagi jemaat Filipi ini, di tengah Paulus sendiri tidak tahu dia masih akan hidup atau mati. Kita bisa bayangkan itu semacam nasihat terakhir, “yang penting kamu sehati sepikir di dalam Tuhan, saya nggak tahu kamu akan selesai nggak konfliknya, saya nggak tahu saya akan hidup masih bertemu dengan kamu langsung atau tidak, tapi yang penting kamu sehati sepikir di dalam Tuhan,”thats the main point. Itu yang paling inti dan itu yang harus dipertahankan.

Kita  bisa melihat di dalam bagian-bagian ini ya, saya menarik ketika saya renungkan bagian-bagian ini ya, karena saya melihat ketika dibandingkan saja misalnya respon Paulus di Kitab Galatia misalnya, ya, kitab Galatia, Galatia pasal 1 ayat 6 sampai 10, saya akan bacakan, mungkin sebagian kita ada tahu juga ini ya, Galatia 1:6-10 bunyinya demikian, “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik daripada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan bermaksud untuk memutarbalikkan injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau malaikat dari Surga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia ataukah kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia, sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah Hamba Kristus.”Kita lihat bagian ini, ini adalah suatu surat yang keras sekali di bagian Kitab Galatia, ada konflik ada terjadi juga perselisihan yang terjadi di kitab Galatia. Dan Paulus memberikan respon yang keras sekali. Dan bagi saya itu menjadi gambaran karakter Paulus itu seperti apa, Paulus itu bukan kira-kira mungkin temperamen mungkin kalau baca Filipi itu mungkin orangnya kalem-kalem, adem ayem, mungkin phlegmatis kali ya, oh ndak papa ndak papa gitu ya. Lho dia ini orangnya keras sekali! Dan di Kitab Galatia itu bisa nyata sekali, keras sekali tegurannya di sana. Dan menarik ketika kita bandingkan di bagian sini  ya, Kitab Galatia dengan Kitab Filipi di sini, kondisi Paulus ketika di Galatia itu, “jauh lebih nyaman” karena dari commentary semua, Galatia itu menyatakan dia bukan, itu either dia sebelum sidang, mau perjalanan menuju sidang Yerusalem atau mungkin setelahnya. Tapi either way, Kitab Galatia tidak dituliskan dalam penjara. Tapi kita bisa lihat ya. Ini menarik lho, kalau kita renungkan sini. Paulus kondisinya enak tenang, tidak ada dalam konflik. Kondisinya cukup nyaman, kalau mau dibilang di sini. Tapi dia bisa marah, keras kepada Galatia, kenapa? Bukan karena lagi nggak enak, tapi karena memang ada Injil yang lain. Itu Paulus keras sekali. Kenapa? Karena perbedaannya di masalahnya apa. Yaitu, di Galatia memang permasalahan teologis, yaitu bicara Injil plus. Injil plus perbuatan baik,  injil plus sunat – dan itu tidak sesuai dengan kebenaran yang sejati. Ini akhirnya berkompromi terhadap kebenaran, dan Paulus, meski kondisinya oke-oke saja, dia akan tulis surat keras sekali! Bukan karena lagi marah, tapi karena memang harus marah untuk ada masalah ketidakbenaran. Tapi sebaliknya, di Filipi, kondisi sangat tidak nyaman, dia tetap bisa, kalau saya lihat itu, tegur dengan halus ya; kalau melihat dalam bagian sini. Saya percaya adalah karena di bagian sini Paulus melihat juga bahwa permasalahannya itu bukan permasalah teologis, tapi memang masalah perbedaan dengan minor, bukan hal esensial. Ya ini saya pikir adalah suatu keindahan yang kita bisa belajar bersama, bagaimana kita meresponi permasalahan yang ada. Bagaimana kita meresponi suatu konflik yang ada. Bagaimana kita meresponi adanya perbedaan yang ada. Dan di sini Paulus menunjukkan sikap kaya gitu.

Kembali lagi ya, kita biasanya orang, kondisi biasa, ya dia akan respon biasa. Kondisi lagi genting, karena kondisi yang tidak nyaman, sakit, dst., wah itu bisa responnya memang aneka macam. Kita kalau yang pernah pelayanan besuk ke rumah sakit, itu tahu nggak, orang yang dalam kritis itu gayanya kaya gimana? Tapi Paulus, dalam kondisi ini, dia kembali mengingat yang menjadi pemicu konflik ini apa? Masalah esensial kah? Harus tegur keras! Harus langsung ditegur dengan keras sekali, bahkan dikatakan di dalam Galatia, itu ya, yang dikenal dalam bahasa Yunani itu: “anathema” – terkutuklah dia, terkutuklah dia. Wah keras sekali! Kenapa? Karena ini memang bicara kompromi terhadap kebenaran. Tapi di sisi lain, di kitab Filipi, ketika perbedaannya itu cuma masalah pendekatan, approach  yang memang bisa berbeda, ya diajarkan untuk sehati sepikir dalam Tuhan saja, tidak dikutuki itu satu-satu.Dan di sini, dan sebenarnya di dalam pasal-pasal awal Filipi tetap ada Paulus mengingatkan ya: Waspada terhadap penyunat-penyunat palsu, dan seterusnya, dia mengingatkan di sini kita bisa melihat bagaimana kita responi suatu konflik permasalahan itu sendiri. Ketika itu adalah masalah kebenaran, ayo kita fight! Ayo kita harus tegur keras sekali, karena ini mengkompromikan kebenaran. Tetapi bicara masalah pendekatan, dan mungkin ada perbedaan-perbedaan yang secara mungkin pandangannya dalam pelayanan, dan satu lain hal, kita bisa responi dengan bisa lebih anggun, dengan lebih berbijaksana di sini.

Saya pikir menarik ya, para komentator ketika saya renungkan bagian sini. Komentator itu terus mau cari, sebenarnya masalahnya itu apa sih? Masalahnya Eudea ini apa, Sinthike ini masalahnya apa? Coba dijelaskan! Gitu ya… tapi Paulus nggak tulis, gitu ya. Ya akhirnya, ya kita yang bolak balik, akhirnya harus tebak-tebak sendiri, gitu ya. Tapi saya pikir, ada suatu keanggunan, Paulus itu ketika meng-addressed ini masalah bukan esensial, jadi nggak perlu dituliskan juga sih. Kita bisa bayangkan ya, kalau Paulus tulis masalahnya, Eudea itu begini gini, pro kontranya gini, kelebihan kekurangannya gini. Lalu Sinthike punya pendekatan gini, pro kontranya gini, kelebihan kekurangannya gini. Itu, akhirnya nggak jadi berkat, bagi orang Kristen pada segala zaman, karena itu masalah lokal sekali sebenarnya. Yang temporal sekali, sementara. Tapi Paulus di dalam bagian ini, hal-hal yang sebenarnya masalah pendekatan atau masalah ada yang lebih minor, bagaimana meresponi dengan lebih berbijaksana. Tapi sebaliknya, ketika memang yang dikompromikan itu adalah firman: harus ditegur dengan keras sekali. Keras sekali! Bahkan sampai itu kita temukan makanya di dalam surat Filipi, atau pun banyak pelanggaran-pelanggaran moral yang dicatat di dalam surat Korintus. Catat keras sekali. Kenapa? Karena ini bukan masalah pilihan A, atau bisa A bisa B. tapi memang ini adalah masalah kebenaran diikuti atau tidak.

Dan di tengah, saya pikir di dalam bagian ini, kita refleksikan dalam kehidupan kita, kita berada di situasi dengan masalah pandemi COVID-19 dan segala sesuatunya, kita ngerti di dalam situasi yang sulit seperti ini, banyak kita sebenarnya memang, kalau mau jujur ya, mungkin tidak siap, tidak siap hadapi ini. Dan kita bisa aneka macam punya pandangan masing-masing gimana hadapi ini. Seperti saja, kita akan nanti ibadah offline atau tetap online. Masing-masing akan punya preferensi masing-masing. Atau yang si papa maunya offline, tapi si mama maunya online, atau sebaliknya, dan seterusnya. Banyak kita nggak siap dalam bagian ini dan akhirnya bisa terjadi konflik, perbedaan-perbedaan pandangan karena hal ini. Tapi bagian ini, saya mengajak kita kembali melihat, tapi apakah yang esensi itu? Apakah yang paling utama itu? Dan gimana kita lihat, itu yang kita jaga ketika memang esensinya itu masih sama, kita jaga kesatuan dan keutuhannya. Dan kembali kita mengingat seperti apa yang dinyatakan Paulus di dalam pasal 2 nya, bagaimana Kristus sendiri merendahkan dirinya, mengambil rupa seorang hamba. Taat, taat sampai mati di kayu salib, untuk penebusan dosa-dosa kita. Biarlah spirit yang sama, yang kita imani dalam Kristus, itu yang kita pegang dan kita beritakan seumur hidup kita di dalam berbagai konteks yang Tuhan izinkan ada dalam kehidupan kita di masa kini. Mari kita satu dalam doa.Dengan hormat minta kesediaan Vikaris Lukman memimpin kita di dalam doa meresponi kebenaran firman ini. Mari kita berdoa.

Bapa di sorga, kami bersyukur, Tuhan, untuk kebenaran firmanMu yang terus mengingatkan kami, di dalam jemaat gereja mula-mula, begitu banyak konflik – baik secara dari luar ataupun di dalam. Dan kami kembali diingatkan bahwa Kristus yang sudah menebus kami dan menyatukan kami, kiranya kasih Kristus itu juga yang terus membangun kami, Tuhan. Dan biarlah kami terus berfokus kepada Kristus, yang sudah mau mati bagi kami dan bangkit, sehingga kami pun hidup serupa dengan Kristus, mengikuti teladan Kristus dalam menghadapi segala sesuatu. Kiranya, mampukan kami Tuhan terus untuk berakar di dalam Kristus. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *