Sakramen Baptisan, 19 Agustus 2018

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hari ini saya akan bicara mengenai apa itu baptisan dan seberapa pentingkah baptisan itu dijalankan oleh gereja, atau diterima oleh orang-orang Kristen. Pada waktu kita bicara mengenai baptisan ini, mungkin ada sebagian dari orang-orang Kristen atau orang dunia yang ketika melihat kepada ritual baptisan maka mereka akan mengira bahwa baptisan itu hanyalah sebagai suatu ritual keagamaan, baptisan itu adalah sesuatu tradisi yang dijalankan oleh gereja untuk orang masuk ke dalam gereja atau bergabung di dalam sesuatu gereja lokal tertentu. Selain itu ada makna lain tidak dari sebuah baptisan? Mungkin beberapa orang akan berkata, yang lebih mendalam sedikit adalah baptisan itu bukan hanya suatu tradisi atau ritual keagamaan tetapi baptisan itu menyimbolkan sesuatu. Menyimbolkan apa? Misalnya salah satu contoh, kematian dan kebangkitan dari Tuhan Yesus Kristus, seperti yang dicatat di dalam Kolose 2:8-15. Tapi pada hari ini saya mau mengatakan bahwa pada waktu kita kembali pada Kitab Suci maka Kitab Suci menyatakan baptisan itu bukan hanya sekedar sebuah simbol, itu adalah sesuatu yang lebih dari tradisi dan ritual keagamaan, dan bahkan dibalik dari pada baptisan itu ada suatu makna rohani yang mendalam yang turut ada dan berbagian di dalam kehidupan dari orang-orang yang menerima baptisan itu. Saya akan membahas ada 4 poin pada pagi hari ini berkenaan dengan baptisan.

Pertama adalah pada waktu kita kembali pada Kitab Suci, kita dapat melihat baptisan itu adalah sesuatu yang Tuhan perintahkan kepada gereja atau orang Kristen untuk dijalankan. Mungkin kita semua paham di dalam Matius 28:19-20; di situ pada waktu Yesus telah bangkit dari kematian pada hari ketiga, lalu setelah Dia melayani kembali selama 40 hari dalam dunia ini untuk memberitakan menngenai Kerajaan Allah, lalu menjelang Dia naik ke Sorga, di situ dikatakan, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Istilah yang dikatakan oleh Matius ini menyatakan ketika Tuhan Yesus mau naik ke Sorga, Tuhan Yesus memberikan bukan hanya sekedar perkataan, tetapi Tuhan Yesus memberikan suatu perintah bagi murid-murid untuk dilakukan. Perintah itu meliputi apa? Pertama adalah baptis mereka di dalam nama Allah Tritunggal; kedua adalah, “ajarlah mereka dengan semua perintah yang Aku pernah ajarkan kepada engkau.” Jadi pada waktu kita menjalankan sakramen baptisan, jangan hanya lihat itu sebagai suatu tradisi di dalam gereja, sesuatu yang biasa saja, sesuatu yang natural, sesuatu yang normal yang dilakukan oleh seorang Kristen, tetapi ini adalah perintah Allah sendiri yang ditujukan kepada kita untuk kita lakukan. Pada waktu kita bicara ini adalah perintah Allah sendiri, sampai kapan kita harus menjalankan sakramen baptisan ini? Jawabannya ada di dalam bagian terakhir dari ayat yang ke-20 itu, “Aku akan menyertai engkau sampai kepada akhir zaman.” Ini adalah satu janji Tuhan di dalam penyertaan bagi anak-anakNya yang memberitakan injil, mengajarkan pengajaran Kristus, dan membaptis orang di dalam nama Bapa, Anak , dan Roh Kudus. Berarti pada waktu kita membaca bagian ini, Tuhan Yesus mau mengatakan sakramen baptisan itu adalah sebuah sakramen yang harus dijalankan secara terus menerus, tanpa henti sampai Kristus datang kedua kalinya. Kenapa? Karena Tuhan sendiri berjanji untuk menyertai anak-anakNya yang menjalankan perintahh Dia ini dan memberitakan injil serta pengajaran Kristus sampai Dia datang kedua kali kepada semua bangsa yang ada di dalam dunia ini. Jadi kalau kita ditanya, “sakramen itu apa?” Sakramen adalah, salah satu pengertiannya, itu adalah perintah dari Tuhan kita Yesus Kristus sendiri. Dan kalau itu adalah perintah dari Tuhan kita, Allah kita, maka yang akan kita lakukan adalah kita perlu tunduk kepada apa yang menjadi perintah Tuhan untuk kita lakukan di dalam gereja Tuhan.

Lalu yang kedua adalah, Kitab Suci ketika berbicara mengenai baptisan maka baptisan itu bukanlah sekedar tanda, tetapi juga merupakan materai dari kasih Allah dalam kehidupan orang Kristen. Alkitab ada berbicara mengenai beberapa hal yang terjadi dalam kehidupan orang Kristen secara rohani ketika seseorang itu mengalami baptisan. Kita ambil beberapa contoh, misalnya di dalam Titus 3:5 Paulus itu mengkaitkan baptisan dengan kelahiran kembali yang dialami oleh orang percaya, dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus bagi orang percaya; ada 2 hal yang dikaitkan dengan baptisan, pertama adalah kelahiran kembali, kedua adalah pembaharuan yang dialami oleh orang percaya. Lalu kemudian di dalam Roma 6:3-7. Jadi pada waktu Paulus berbicara mengenai baptisan, Paulus mengkaitkan baptisan dengan kesatuan bersama dengan Kristus. Kesatuan dalam hal apa? Dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Jadi ketika Kristus mati di kayu salib dan kita dibaptis di dalam Kristus, itu sama dengan kita dibaptis dalam kematian Kristus, atau kita dibaptis dalam kematian terhadap dosa. Karena itu ketika orang Kristen dibaptiskan maka kita tidak mungkin lagi bisa hidup di dalam dosa, atau tidak boleh lagi hidup di dalam dosa, dan harus memiliki suatu kehidupan yang baru seperti Kristus yang sudah bangkit dari kematian. Ada kesatuan rohani atau spiritual antara orang yang dibaptis, yang percaya dengan Kristus yang mati dan bangkit dari kematian. Lalu pada waktu kita melihat Kisah [Para Rasul] 2:38, ini adalah kisah ketika Pentakosta terjadi, Roh Kudus dicurahkan oleh Allah dari Sorga, lalu Petrus bangkit dan berkhotbah mengenai injil Kristus, kematian Kristus yang menebus dosa manusia; Dia yang mati terpaku di atas kayu salib karena dosa dari pada manusia. Lalu setelah orang-orang banyak yang datang ke Yerusalem itu kemudian mendengar itu dan merasa terharu terhadap berita itu, mereka kemudian bertanya kepada Petrus, “Apa yang harus kami perbuat?” Petrus menjawab, “Bertobatlah, dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Jadi baptisan dikaitkan dengan pengampunan dosa. Yang pertama tadi baptisan dikaitkan dengan kelahiran kembali dan pembaharuan yang dialami oleh orang percaya; kedua, baptisan dikaitkan dengan kesatuan dalam kematian dan kebangkitan dari Yesus Kristus; ketiga adalah baptisan itu dikaitkan dengan pengampunan dosa. Lalu satu ayat lagi, 1 Petrus 3:21, di sini Petrus berkata, “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan–maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah–oleh kebangkitan Yesus Kristus.” Jadi baptisan di sini dikaitkan dengan apa? Bukan pembersihan secara tubuh fisik kita, tetapi baptisan itu menyatakan janji Allah yang akan memurnikan hati nurani kita atau membersihkan kenajisan rohani yang kita miliki di dalam diri kita. Jadi bukan sesuatu yang bersifat pembasuhan luar tetapi suatu pembasuhan, pembersihan internal yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita.

Jadi dari ayat-ayat yang kita baca, yang kita sudah lihat, yaitu ada 4 ayat, kita bisa berkata ketika seseorang itu dibaptiskan dengan air, apa maksud dari baptisan air itu? Baptisan air bukan sekedar suatu simbol penyucian luar yang kita terima dari Tuhan, tetapi pembasuhan air itu berbicara mengenai ada suatu anugerah kelahiran baru yang dialami oleh orang percaya, ada suatu pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam kehidupan kita, ada sesuatu pengampunan dosa yang kita alami dalam kehidupan kita dari Allah yang kudus itu, kita kemudian mengalami keselamatan kekal dan kita dipersatukan dengan Kristus dalam kehidupan kita. Jadi ada makna rohani, ada kaitan, yang disimbolkan dengan air, itu dengan sesuatu yang bersifat rohani yang internal di dalam diri kita. Itu sebabnya pengakuan iman Westminster itu berkata “dalam setiap sakramen terdapat suatu hubungan rohani atau kesatuan sakramental antara tanda dan perihal yang ditandakannya, oleh karena hal inilah maka nama-nama dan efek-efek dari yang satu dapat diatribusikan kepada yang lain.” Intinya itu seperti ini, pada waktu kita menerima baptisan air atau sakramen baptisan, maka sakramen baptisan itu memiliki kesatuan dengan apa yang ditandainya. Yang ditandai itu apa? Bukan kesatuan yang bersifat materi, jasmani, atau fisik, tetapi sesuatu yang bersifat rohani yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita. Jadi pada waktu kita menerima baptisan air, ada identifikasi dengan suatu pembasuhan dan pemurnian yang Tuhan kerjakan secara rohani di dalam hati kita atau di dalam jiwa kita. Itu maksudnya. Dan ini adalah sesuatu yang misteri. Maksud misteri adalah kita nggak bisa terlalu menjelaskan maknanya apa, tetapi pada waktu kita dibaptis, orang yang mengalami baptisan di dalam iman kepada Yesus Kristus sungguh-sungguh mengerti, sungguh-sungguh menyadari kalau pada waktu itu juga dia sudah betul-betul diterima oleh Allah sebagai seorang yang kudus, seorang yang sudah dilahirbarukan oleh Tuhan, seorang yang dibenarkan, dan seorang yang sudah memperoleh kehidupan yang kekal. Karena apa? Karena ada suatu realita atau fakta rohani yang sungguh-sungguh terjadi di dalam kehidupan orang percaya ketika ia dibaptiskan. Karena itu di dalam pengajaran teologi Reformed, pengertian mistis ini itu dikatakan dalam istilah kesatuan sakramental, di dalam pengakuan iman Westminster. Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, sekali lagi saya katakan, baptisan bukan hanya sekedar suatu tradisi atau suatu tanda, tetapi terdapat sebuah materai yang Allah kerjakan dalam kehidupan kita. Materai yang menyatakan bahwa Allah sungguh-sungguh mengasihi kita orang yang berdosa ini, Allah sungguh-sungguh memberikan kepastian keselamatan di dalam kehidupan kita yang percaya di dalam Yesus Kristus. Itu makna dari pada baptisan.

Ada ilustrasi yang mungkin bisa menolong kita untuk mengerti, seperti ketika kita studi. Waktu kita studi di dalam sebuah universitas tertentu atau di dalam fakultas tertentu dan jurusan tertentu, kita menjalankan semua yang menjadi tuntutan atau prasyarat untuk seseorang itu lulus dan diakui oleh universitas itu. Misalnya kita ambil mata kuliah yang ditentukan, kita mengambil sejumlah SKS yang diharuskan untuk kita lalui, baru kita boleh dikatakan sebagai seorang yang lulus dari kuliah dan dari jurusan tersebut. Setelah kita mengambil semua prasyarat yang ditentukan dan ditetapkan itu, lalu setelah kita mengikuti ujian, menulis skripsi misalnya, setelah itu diuji oleh dosen-dosen pembimbing, fakultas kemudian mengeluarkan sebuah ijazah, sertifikat kelulusan bagi kita yang telah studi di tempat itu. Ijazah itu tandanya apa? Ijazah itu sendiri berarti tidak? Berarti kalau yang dinyatakan di dalam ijazah itu sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang kita sudah lalui, apa yang kita sudah terima di dalam pendidikan di universitas tersebut. Tapi bagaimana kalau kita tidak pernah mengikuti prasyarat dari tuntutan akademik yang diajukan oleh suatu fakultas tetapi kemudian fakultas itu mengeluarkan sebuah ijazah kelulusan bagi diri kita? Dampaknya adalah, itu adalah sebuah penipuan; maka orang atau fakultas yang mengeluarkan ijazah itu bisa mendapatkan tuntutan hukum, karena yang menjadi realita, yang sebenarnya tidaklah seperti yang diwakili oleh ijazah tersebut.

Begitu juga dengan baptisan. Pada waktu kita menerima sakramen air dalam kehidupan kita, maka kalau kita menjalankan itu secara benar, kita memiliki iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, maka sakramen baptisan yang dijalankan secara benar itu, benar ini bisa bicara mengenai modenya, juga di dalam Allah Tritunggal yang nanti kita akan bahas, tetapi juga disertai dengan iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam kehidupan kita, maka baptisan itu sungguh-sungguh merepresentasikan Allah yang telah memeteraikan kita dengan Roh Kudus-Nya dan menguduskan serta menyucikan kita dari dosa. Tapi bagaimana kalau kita menerima sakramen itu tanpa disertai dengan sesuatu iman kepada Kristus yang sungguh-sungguh? Bagaimana kalau kita melakukan sakramen itu dengan suatu yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan modenya juga adalah sesuatu mode yang salah, atau di dalam nama Allah yang salah? Maka Tuhan melihat itu bukan sebagai suatu sakramen, Tuhan melihat itu bukan sebagai suatu sarana untuk kita mendapatkan berkat, karunia, anugerah Tuhan, tetapi justru yang kita terima adalah murka Allah dalam kehidupan dari orang yang menjalankan sakramen tersebut. Karena apa? Dia sembarangan di dalam menerima sakramen.

Pada waktu kita berbicara mengenai sakramen ini, sakramen baptisan di dalam gereja kita itu tidak hanya berbicara mengenai orang dewasa saja yang percaya kepada Kristus lalu dibaptiskan, tetapi bicara juga mengenai anak-anak, bayi-bayi yang turut kita baptiskan di dalam nama Allah Tritunggal. Mengapa? Karena kita percaya bahwa anugerah Allah mendahului respon manusia, kita percaya bahwa seseorang itu bisa percaya kepada Allah di dalam Kristus Yesus itu adalah karena karunia Roh Kudus yang bekerja di dalam hati kita, yang menyadarkan kita akan dosa, menyadarkan kita akan kebutuhan pada penebusan Kristus, dan menyadarkan kita bahwa kita nggak mampu menyelamatkan diri kita sendiri kecuali kita datang kepada Yesus Kristus dan mendapatkan keselamatan melalui kematian dan kebangkitan Kristus di atas kayu salib. Karena itu, pada waktu seseorang yang beriman menjalankan sakramen baptisan, seorang yang percaya menerima sakramen baptisan itu di dalam iman kepada Kristus, sebagai orangtua yang membaptiskan anaknya juga, maka kita percaya Tuhan akan memberikan anugerah kepada anak itu, anugerah iman, bukan menurut waktu dari manusia, tetapi waktu dari Tuhan Allah sendiri. Jadi ini pengertian dari sakramen sebagai suatu materai yang diterima oleh orang-orang percaya karena itu adalah sebuah perintah yang Tuhan nyatakan.

Yang ketiga adalah, ini agak menjadi suatu perdebatan yang seringkali muncul dalam gereja tetapi saya harus bahas ini. Sakramen baptisan itu adalah sebuah sakramen yang dilakukan dengan mode percikan, dan bukan atau tidak harus dengan mode selam. Ada beberapa denominasi gereja yang mengatakan ketika kita menjalankan sakramen baptisan maka sakramen baptisan itu harus dilakukan dengan mode: orang dibawa masuk ke dalam kolam, lalu kemudian dia ditenggelamkan dan dimunculkan kembali, atau dimasukkan ke dalam air lalu dikeluarkan kembali, baru itu maksudnya adalah dia sudah dibaptiskan dengan air. Lalu mereka mengatakan apa yang menjadi dasar dari penerapan sakramen ini? Mereka berkata ada beberapa ayat, contohnya seperti Roma 6:4 yang tadi kita baca. Pada waktu kita dibaptiskan, baptisan itu lambang dari apa? Kesatuan dengan kematian dan kebangkitan dari Tuhan Yesus Kristus; karena itu pada waktu seseorang itu dimasukkan ke dalam air lalu diangkat kembali itu seperti dia dikuburkan dalam kubur lalu bangkit dari kematian. Makanya sakramen itu harus melalui mode selam, mereka bilang. Yang kedua adalah dari Kisah [Para Rasul] 3:38-39, ini peristiwa Filipus yang membaptis sida-sida dari Etiopia. Pada waktu Filipus dibawa oleh Roh Kudus kepada sida-sida ini, sida-sida ini sedang membaca satu bagian dari Kitab Yesaya, dia bingung kitab ini bicara tentang siapa. Akhirnya Filipus menjelaskan bahwa kitab ini bicara mengenai Mesias yang mati bagi dosa untuk menebus dosa dari manusia. Lalu ketika sida-sida ini mendengar, dia menjadi percaya akan karya keselamatan di dalam Yesus Kristus itu. Dan pada waktu dia percaya dan dalam perjalanan itu mereka melihat ada air, lalu setelah melihat air yang ada di tepi jalan maka sida-sida ini berkata, “Apa yang menghalangi jika aku dibaptis?” Lalu Filipus bilang, “Nggak ada, ayo mari kita baptis.” Setelah itu mereka turun dari kereta lalu dikatakan apa? Keduanya berjalan ke sungai lalu turun ke dalam air kan, maksudnya apa? Beberapa denominasi ini berkata “turun ke dalam air dan membaptis” itu berarti di dalam baptisan perlu air yang banyak, atau turun ke dalam air berarti dia diselamkan. Kenapa begitu? Kalau baptisan itu dilakukan dengan cara memercikkan atau menuangkan air, jawabannya nggak butuh air yang banyak kan. Tetapi ketika kita bandingkan dengan Yohanes 3:23, di situ dikatakan “ada banyak air untuk baptis,” mereka berkata, itu berarti orang itu harus diselam untuk menerima baptisan. Jadi dasar baptisan selam apa? Mereka bilang, pertama itu adalah lambang kesatuan kematian dan kebangkitan bersama Kristus; kedua adalah membutuhkan banyak air, sedangkan baptisan percik tidak butuh banyak air; ketiga adalah ada kalimat “turun ke dalam air”; tidak hanya sampai di situ, mereka juga berkata ada satu lagi, kata baptisan sendiri, kata ‘baptis’ itu akar katanya, menurut mereka, adalah berarti diselam atau dicelupkan. Karena itu ketika seorang Kristen melakukan sakramen baptisan maka yang sah adalah orang harus dicelupkan di dalam air dan dikeluarkan kembali, baru di situ dia menerima baptisan.

Nah kita melihatnya seperti apa? Saya akan ajak kita lihat dari beberapa pengertian ya mengenai baptisan ini, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi sebelumnya saya akan ajak bicara sesuatu yang agak teknis sedikit supaya kita tidak bingung ya. Istilah yang diterjemahkan sebagai dibaptis, bahasa Yunaninya itu adalah baptizō. Nah kalau kita melihat pada Kitab Suci kita, sebenarnya istilah baptizo sendiri itu apakah sungguh-sungguh mencerminkan seseorang yang dicelupkan atau dimasukkan ke dalam air? Jawabannya tidak, sebenarnya yang menggambarkan sesuatu yang dicelupkan ke dalam suatu air atau sesuatu larutan tertentu istilah Yunaninya bukan baptizō tetapi baptō. Beda sekali ya, satu baptizo, satu baptō. Dan pada waktu Alkitab menggunakan istilah baptō, Alkitab itu secara konsisten sekali selalu berkata baptō itu adalah sesuatu yang dicelupkan atau dimasukkan ke dalam cairan, itu istilahnya baptō. Kita bisa lihat beberapa ayatnya, Keluaran 12:22, kalau Bapak-Ibu punya program yang ada bahasa aslinya bisa dibuka ya. Sebenarnya Perjanjian Lama itu adalah Ibrani tetapi saya pakai istilah Yunani atau kitab yang diterjemahkan dari Ibrani ke bahasa Yunani yang namanya Septuaginta, supaya pada waktu kita menggunakan komparasi kata, kita menggunakan komparasi kata yang sama dengan yang ada di dalam Perjanjian Baru. Di dalam Keluaran 12:22 dikatakan, “Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu.” Kalau Bapak-Ibu baca, ini konteksnya adalah tentang Hari Paskah saat orang Israel ada di Mesir lalu kemudian mereka keluar dari perbudakan di Mesir. Yang mereka harus lakukan apa? Mereka harus menyembelih seekor domba yang berumur satu tahun, menampung darahnya di sebuah wadah, lalu mereka harus menggunakan hisop dicelupkan ke dalam darah itu, lalu kemudian hisop itu dikuaskan kepada ambang pintu dari rumah. Istilah ‘dicelupkan’ di situ bahasa Yunaninya adalah baptō, bukan baptizō tetapi baptō. Kemudian contoh kedua adalah Imamat 4:6, “Imam harus mencelupkan jarinya ke dalam darah itu, dan memercikkan sedikit dari darah itu, tujuh kali di hadapan TUHAN, di depan tabir penyekat tempat kudus.” Di dalam Imamat pasal 4, Tuhan melalui Musa sedang berbicara mengenai ritual penghapus dosa melalui korban penghapus dosa. Lalu pada waktu mereka menjalankan ritual ini apa yang harus dilakukan? Imam harus menyembelih seekor lembu, lalu darahnya ditampung, setelah ditampung dia harus mencelupkan tangannya lalu memercikkan ke tirai pemisah antara ruangan kudus dengan ruangan maha kudus. Istilah ‘mencelupkan’ tangannya ke dalam darah itu adalah baptō, bukan baptizō. Ada beberapa bagian berbicara ini, Saudara bisa misalnya buka di dalam Yosua 3:15, di situ dikatakan pada waktu Israel menyeberang masuk ke Tanah Perjanjian, Yosua memimpin Israel masuk menyeberangi Sungai Yordan, apa yang terjadi? Mereka harus menyeberangi sungai yang cukup dalam, cukup lebar sehingga tidak mungkin bisa seberang begitu saja. Lalu Tuhan melalui Yosua memerintahkan seperti ini, para imam yang memegang tabut perjanjian harus berdiri depan, lalu setelah itu apa yang mereka lakukan? Mereka harus berjalan masuk ke dalam air. Waktu mereka masuk ke dalam air, mencelupkan kakinya ke dalam sungai Yordan, mendadak sungai Yordan itu terpisah, terbelah, dan ujung-ujungnya itu melebar ke samping dan ada sebuah jalan yang kering di depan orang-orang Israel sehingga orang Israel itu bisa berjalan menyeberangi sungai Yordan itu. Nah istilah ‘mencelupkan’ kakinya ke sungai Yordan itu berarti dia menenggelamkan diri tidak? Tidak kan. Tapi istilahnya mencelupkan itu dalam bahasa Yunani adalah baptō. Sekali lagi ya, jadi dia masukkan kakinya ke dalam air itu adalah baptō, bukan baptizō.

Sedangkan di dalam Perjanjian Baru bagaimana? Di dalam Perjanjian Baru, istilah baptisan itu sendiri Yunaninya adalah bukan baptō tetapi baptizō. Maksudnya apa ya? Maksudnya begini. Kalau kita menemukan pengertian istilah baptō untuk membaptis seseorang di dalam Perjanjian Baru, maka adalah benar kalau kita menggunakan mode selam untuk membaptis seseorang. Bapak Ibu bisa ikuti ya? Kalau misalnya Yesus Kristus dibaptis di sungai Yordan, dibaptis itu istilah Yunaninya adalah Yesus Kristus di- baptō di sungai Yordan, maka yang benar itu adalah Yesus Kristus harus dicelupkan ke dalam air seperti hisop yang dicelupkan ke dalam darah. Tetapi masalahnya adalah, yang digunakan itu bukan baptō melainkan adalah baptizō. Lho bedanya di mana baptizō? Baptizō bukan berbicara mengenai, atau tidak harus bicara mengenai dicelupkan. Tapi baptizō sendiri sebenarnya memiliki makna untuk menunjukkan sebuah proses dan efek dari tindakan membaptis tersebut. Proses membaptis dan efek yang dihasilkan dari pada tindakan membaptis itu; sehingga pada waktu kita mengerti istilah baptizō, mungkin saja ada orang ketika dibaptis dia dibaptis dengan cara dicelupkan ke dalam air, tetapi penekanannya tidak pernah pada modenya apakah dia dicelupkan dengan air atau air itu diambil dan dituangkan ke atas kepala seseorang atau dipercikkan kepada seseorang. Karena apa? Inti dari istilah baptizō sendiri bukan pada mode, tetapi pada proses atau pada efek yang dihasilkan dari pada pembaptisan itu.

Saya ajak lihat beberapa ayat di dalam Perjanjian Lama ya. Tetapi konteks Perjanjian Lama ini harus kita lihat dari konteks Perjanjian Baru. Banyak orang tidak melihat atau melewati bagian ini, sehingga mereka mengira, setiap kali bertemu dengan kata baptizō itu harus berbicara mengenai suatu baptisan selam. Tapi coba Bapak Ibu buka Ibrani 9:10. Kita baca sama-sama ya, “karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan.” Jadi ini bicara mengenai ritual-ritual yang dilakukan di dalam bumi, tempat kudus di bumi, di Bait Allah atau Bait Suci, Kemah Suci, lalu semua itu bicara mengenai apa? Bukan hal-hal yang berkaitan dengan peraturan-peraturan hidup insani jasmani, tetapi itu hanya sebagai lambang untuk merujuk kepada suatu peristiwa. Nah di dalam ayat 10 ini ada satu istilah yang muncul, yaitu pelbagai macam ‘pembasuhan.’ Pelbagai macam pembasuhan ini bahasa Yunaninya apa? Bahasa Yunaninya adalah diaphoros baptismos. Artinya apa? Sebenarnya istilah diaphoros baptismos itu memang secara penerjemahan sering kali diterjemahkan sebagai segala macam atau macam pembasuhan. Tetapi terjemahan pelbagai macam pembasuhan itu bukan sesuatu yang harus dimengerti seperti itu. Istilah diasporois baptimois itu bisa diartikan di samping makanan minuman dan pelbagai macam cara pembaptisan yang diterima; karena di situ digunakan istilah baptis. Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu orang-orang di dalam Perjanjian Lama menjalankan ritual agama mereka, pembasuhan, pemercikan darah, maka ritual-ritual itu adalah suatu baptisan yang dikerjakan oleh orang-orang yang ada di dalam Perjanjian Lama, atau imam-imam yang ada di dalam Perjanjian Lama. Kita tahu dari mana? Kalau Bapak Ibu baca ayat berikutnya ya, misalnya ayat 13 kemudian ayat 19 dan ayat 21, maka di situ penulis Ibrani kemudian menunjukkan apa yang dilakukan oleh para imam di dalam ritual pembaptisan tersebut, yang dikatakan di dalam ayat 10. Di dalam Ibrani 9 ini dikatakan, apa yang dikerjakan di dalam pembaptisan di Perjanjian Lama itu adalah simbol atau lambang dari apa yang akan dilakukan oleh Kristus di dalam Perjanjian Baru. Lalu yang dilakukan itu apa di dalam Perjanjian Lama? Tadi di dalam ayat 13 itu dikatakan, pemercikan darah lembu jantan dengan abu. Kalau Bapak-Ibu baca Ibrani 9:13 tidak terlalu jelas dikatakan proses pembaptisannya itu seperti apa.

Tapi kalau Bapak-Ibu buka di dalam kitab dari Bilangan 19:17-18, maka di situ dikatakan, cara melakukan ritual pembaptisan itu bagaimana? Yaitu dengan cara seorang yang tahir, dia akan mengambil hisop, lalu hisop itu akan dicelupkan ke dalam darah yang ada abu korbannya, lalu setelah itu hisop itu kemudian dipercikkan kepada kemah atau kepada segala benda dan juga kepada manusia yang tidak tahir. Jadi maksudnya adalah, ini adalah sebuah proses; kalau kita berbicara mengenai baptisan, proses pembasuhan, maka di dalam proses pembasuhan itu ada ritual. Ritualnya itu seperti apa? Ritualnya adalah orang akan ambil hisop, celupkan ke dalam darah, yang berarti dia akan di- baptō, bukan baptizō, tapi hisop itu akan dicelupkan lalu dipercikkan kepada orang. Jadi saya mau tanya, baptisan itu adalah sesuatu proses atau sesuatu mode? Proses. Kalau mau bicara mode selalu merujuk kepada baptō. Ketika bicara baptizō, penulis Ibrani tidak berhenti di dalam pengertian pelbagai pembasuhan tetapi dia merujuk pada peristiwa-peristiwa cara-cara orang Ibrani atau imam melakukan pembaptisan, yaitu mencelupkan hisop dan memercikkan itu kepada orang yang akan ditahirkan. Hal yang sama di dalam ayat 19 lalu ayat 21. Bapak Ibu kalau ada waktu bisa merujuk kepada Kitab Keluaran 24:6-8 dan Imamat 8:19. Medianya bisa dengan dimasukkan hisop, dipercikkan, atau dituangkan; atau itu istilahnya digunakan adalah baptō. Tetapi sebenarnya di dalam terjemahan LAI dituangkan di dalam Keluaran 24:6-8 saya lihat itu kurang tepat karena istilah Ibrani yang kemudian diterjemahkan pada istilah Yunani itu bukan dituangkan, tetapi dipercikkan. Tetap dipercikkan. Jadi semua ritual pembasuhan atau ritual pembaptisan yang dilakukan oleh para imam di dalam Perjanjian Lama berkenaan dengan pengampunan dosa, penebusan, kekudusan di hadapan Allah, itu bukan melalui penyelaman tetapi justru melalu pemercikan darah.

Tapi bagaimana dengan Perjanjian Baru? Perjanjian Baru ketika kita lihat maka Bapak Ibu mungkin akan heran, karena di dalam Perjanjian Baru yang sering kali dikutip untuk berbicara mengenai mode baptisan, baptizō berarti baptisan selam. Itu sebenarnya tidak pernah berbicara secara jelas kalau baptizo itu berarti diselamkan. Perjanjian Baru dari kitab Matius sampai kitab Wahyu tidak pernah memberikan kepada kita sesuatu petunjuk yang begitu clear sekali kalau kita dibaptis kita harus dicelupkan dalam air. Tetapi Perjanjian Baru itu memberikan kepada kita suatu proses pembasuhan yang begitu clear sekali, atau proses pemandian yang begitu clear sekali, dari mana? Ibrani 9:10 itu. Boleh diselidiki, nggak ada satu pun perintah langsung dari Tuhan Yesus untuk mencelupkan orang ke dalam air. Nah ini yang membuat ketika kita berbicara mengenai pembaptisan, pembaptisan yang kita lakukan itu adalah melalui tuang atau pemercikan dan bukan melalui selam. Tapi selain dari itu, baptizō sendiri bukan hanya bicara mengenai prosesnya; yang lebih penting lagi adalah apa efek yang dihasilkan dari sebuah pembaptisan bagi orang tersebut. Nah ini kita bisa lihat di dalam Yohanes 3:22-26. Pada waktu Yesus Kristus itu berbicara mengenai pembaptisan, maka di situ pembaptisan itu berkaitan dengan penyucian. Kita buka saja ya, Yohanes 3:22-26. “Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara. Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” Jawab Yohanes: “Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.””

Pertanyaannya, seseorang ketika dibaptis itu menyatakan apa? Perdebatannya di sini tentang baptisannya atau tentang apa? Proses penyucian kan? Jadi efek dari seseorang itu dibaptis harus mengalami penyucian. Efek dari pada orang diperciki darah lembu yang dicampur dengan abu dalam Perjanjian Lama itu sama, penyucian. Maka kalau kita lihat apa yang dikatakan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, ada konsistensi; yaitu apa? Baptisan itu adalah sebuah proses mencelup dan memercikkan. Yang menjadi media itu apa? Yang menjadi media di dalam Perjanjian Lama itu adalah darah, sedangkan di dalam Perjanjian Baru kita tidak lagi gunakan darah tetapi air, karena Yesus sudah mati dan bangkit di atas kayu salib. Lalu tujuan di masing-masing pembasuhan itu apa? Untuk membersihkan atau menyucikan benda, objek, atau manusia yang diperciki dengan air atau darah tsb. Itu pengertiannya. Karena itu pada waktu kita berbicara mengenai pembaptisan, di dalam Teologi Reformed, kita diajarkan seperti ini: Kita harus melihat suatu prinsip yang secara keseluruhan, bukan suatu prinsip yang terpisah antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Kalau kita mau lihat, recall pembasuhan; recall pembasuhan yang ada di dalam Perjanjian Lama, itu harus sesuai dengan apa yang ada di dalam Perjanjian Baru. Lagipula Perjanjian Baru sendiri mengajarkan proses pembaptisan, seperti yang dilakukan di dalam Perjanjian Lama, yaitu melalui percikan itu. Itu sebabnya, orang Reformed kemudian berpegang, bahwa baptisan itu harus melalui percik atau tuang air, bukan melalui selam. Sedangkan di dalam denominasi yang menerapkan baptisan melalui selam, mereka tidak ada terlalu sangkut paut yang erat antara Perjanjian Baru dengan Perjanjian Lama.

Ada satu bagian lagi, yang kita bisa katakan, baptisan itu tidak harus bersifat selam, tetapi bisa berupa percik. Bapak Ibu boleh buka di dalam 1 Korintus 10:2, dikatakan, “Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.” Orang Israel pernah dibaptis nggak, yang keluar dari Mesir, pernah nggak? Nggak ya. Yang mereka pernah alami apa? Melewati Laut Merah, di mana airnya terbelah dua. Dan di dalam konteks 1 Korintus 10:2, ketika Paulus berbicara mengenai itu, Paulus bicara, mereka sebenarnya saat itu sedang dibaptis di dalam air. Jadi baptisan yang dialami oleh orang Israel, apakah sesuatu penyelaman, dicelupkan? Kalau dicelupkan di dalam air Laut Merah, kaya Firaun, bikin mati. Tapi yang terjadi adalah, mereka tidak dicelupkan, mereka jalan di antara air. Saya nggak tahu ada orang yang ilustrasi airnya percik-percik, mungkin, basah, karena mereka dibaptis percik. Tetapi intinya, baptisan dalam Perjanjian Lama, nggak harus dimengerti sebagai dicelupkan, tetapi di dalam 1 Korintus 10:2, itu pakai baptizō di situ.  Jadi bukan pada modenya, tapi pada proses dan efek yang dihasilkan dari proses tersebut. Tapi kalau kita bicara ini, bicara mengenai suatu proses dan efek, bagaimana mengenai ayat di dalam Roma 6 dan Kolose 2, di situ ada menyamakan atau menyatukan antara orang yang dibaptis dengan kematian dan kebangkitan dari Kristus? Sekali lagi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita sungguh-sungguh mengerti dari konteks yang luas ini, saya pikir kita tidak akan kesulitan untuk mengartikan maksud kesatuan itu apa. Kesatuan itu bukan melalui orang dicelupkan dalam air dan dikeluarkan dari air, maka itu melambangkan mati dan bangkit, karena orang Yahudi tidak pernah dikuburkan di dalam tanah. Kalau mereka mati, mereka akan dimasukkan ke dalam goa. Nah waktu mereka bangkit, bukan mereka keluar dari kubur, tetapi mereka buka pintu goa lalu mereka keluar dari goa. Itu namanya mati dan bangkit menurut orang Yahudi. Jadi kalau kita bicara mode baptisan selam itu menggambarkan kematian dan kebangkitan, itu pasti tidak benar.

Lalu mode apa yang dimaksudkan dengan kesatuan kematian kematian dan kebangkitan di dalam Kristus itu melalui baptisan? Itu berbicara mengenai, ketika kita dibaptiskan, kita diidentifikasikan dengan Kristus. Diidentifikasi kan dalam hal apa? Kehidupan Kristus, kematian Kristus, kebangkitan Kristus, pembaharuan yang dialami dan keselamatan kekal. Itu semua menjadi identifikasi yang kita alami, ketika kita mengalami baptisan. Atau istilah lainnya adalah, ketika kita menerima baptisan, saat itu kita sedang mengakui, bahwa kita ada di bawah kuasa penuh dan control penuh dari Tuhan Yesus Kristus. Karena kita hidup persis seperti Kristus hidup. Bukan hidup di dalam dosa lagi. Itu identifikasi. Jadi pada waktu Bapak, Ibu, Saudara menerima baptisan, Bapak Ibu sudah mengakui bahwa Bapak Ibu adalah orang yang sudah dihidupkan kembali. Dan karena itu, Bapak Ibu harus hidup sebagai orang yang sudah dihidupkan kembali atau manusia baru. Karena Bapak Ibu adalah orang yang dihidupkan di dalam Kristus, yang adalah Anak Allah, maka Bapak Ibu harus memiliki kehidupan seperti halnya Kristus yang adalah Anak Allah, yang kudus dan tidak berdosa dan tidak bercacat tersebut. Karena Kristus adalah seorang Pribadi yang tunduk total kepada apa yang menjadi kehendak Allah, maka ketika Bapak Ibu menerima baptisan, Bapak Ibu mengakui bahwa Bapak Ibu harus tunduk total di dalam ketaatan kepada apa yang menjadi kehendak Allah seperti Kristus yang taat total apa yang menjadi kehendak Allah, atau BapaNya di sorga. Itu istilahnya, kita diidentikkan dengan Kristus melalui kematian dan kebangkitan daripada Tuhan Yesus. Jadi saya percaya itu bukan bicara tentang suatu mode saja, tetapi ini bicara mengenai identifikasi.

Tapi ada bagian lain kan? Ayat yang seringkali dikutip kaya Kisah Para Rasul, yang mengatakan kalau, bukankah sida-sida itu turun ke dalam air? Turun ke dalam air, bukannya masuk ke dalam air, begitu ya? Sekali lagi, kalau kita mau lihat ini, kita harus lihat secara teknis, istilah turun, yang diterjemahkan “turun ke dalam air”, itu Yunaninya apa? Yunaninya adalah kata “eis,eis itu adalah  seperti kata imbuhan di dalam Bahasa Indonesia. Dan imbuhan itu, kalau kita lihat di dalam konteks pasal yang ke-8, Kisah Rasul itu, lalu kita kemudian lihat di dalam ayat ke-3, 5. 16. 25, 26, 27, 40 dst., Bapak Ibu harus bukan konkordasi ya sama buka ini, Alkitab Bahasa Yunani sih itu, atau apa itu, translinear, apa namanya? Alkitab Bahasa Yunani Indonesia itu. Maka di situ Bapak Ibu akan menemukan, istilah yang digunakan, atau diterjemahkan LAI untuk turun ke dalam air, “eis” itu, sebenarnya hanya 1x dari 11x penggunaan istilah “eis”. Di dalam 10x penggunaan istilah “eis”, di dalam konteks yang sama, Penulis tidak pernah berkata: turun ke dalam air atau masuk ke dalam air, tetapi menuju. Istilahnya, to atau into. Hanya di dalam ayat itu saja, yang dikatakan, ayat 38, “Sida-sida itu turun ke dalam air.” Sehingga dari sini kita bisa ngomong, pada waktu sida-sida itu melihat air, boleh nggak diterjemahkan: “Sida-sida dan Filipus kemudian berjalan menuju kepada air itu. Lalu setelah itu, Filipus mengambil air dan memercikkan atau menuangkannya di atas kepala dari sida-sida itu”?. Atau, mungkin bisa dimengerti seperti ini, Sida-sida dan Filipus itu kemudian jalan menuju air, dia masuk ke dalam air, Tetapi ketika dia masuk ke dalam air, bukan berarti dia direndam di dalam air, atau ditenggelamkan di dalam air, tetapi dia berdiri di air lalu Filipus mengambil air itu dan membasuh atau memercikan sida-sida itu dengan pembaptisan. Itu maksudnya. Jadi kita tidak harus mengerti itu secara selam. Tapi kita harus mengerti sebagai suatu proses seseorang itu diperciki atau disucikan melalui pembasuhan air yang menggambarkan tindakan Allah Roh Kudus dalam kehidupan kita atau darah Kristus bagi hidup kita.

Terakhir adalah, pada waktu kita menjalankan baptisan, maka baptisan yang sah, itu adalah dilakukan “di dalam nama Allah Bapa, dan Allah Anak dan Allah Roh Kudus”, bukan “di dalam nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, yaitu Yesus Kristus.” Karena pada waktu seseorang membaptis “di dalam nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, yaitu Yesus Kristus’, dia sedang menyatakan kalau Allah yang dia percaya bukan Allah Tritunggal, tetapi Allah yang tunggal, di mana Allah menyatakan diri, ketika di Sorga sebagai Bapa, di bumi sebagai Yesus, ketika Dia kembali ke sorga dan turun lagi ke dalam dunia, sebagai Roh Kudus. Berapa Allah? Satu Pribadi, yaitu siapa? Yesus Kristus. Itu bukan Allah Tritunggal. Tetapi Alkitab mengajarkan, yang namanya Allah kita yang sejati, itu adalah Allah Bapa bukan Allah Anak, Allah Anak bukan Allah Roh Kudus, Allah Bapa bukan Allah Roh Kudus, mereka adalah Tiga Pribadi yang berbeda tetapi Mereka adalah Satu Allah, yang itu memiliki satu Esensi yaitu Allah. Sehingga kita tidak bisa menyamakan Bapa itu dengan Anak, dan Anak itu dengan Bapa, atau Roh Kudus dengan Bapa, atau Anak dengan Roh Kudus, Roh Kudus dengan Anak, karena Mereka berbeda. Dan pada waktu Alkitab berbicara mengenai perbedaan ini, kita sudah bahas di dalam Efesus 1, misalnya. Ketika Bapak Ibu Saudara baca Efesus 1, di situ kita akan lihat, tindakan penebusan dan penyelamatan orang berdosa, itu bukan tindakan dari satu Pribadi Allah tapi dari tiga Pribadi Allah. Bapa memilih, Anak menebus orang yang dipilih oleh Bapa melalui kematianNya di atas kayu salib, lalu Roh Kudus memeteraikan orang, atau melahir-barukan seseorang, dan membawa orang itu kepada Kristus dan percaya kepada Yesus Kristus. Jadi pada waktu kita berbicara mengenai baptisan di dalam nama Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, itu sebenarnya adalah suatu pengakuan bahwa keberadaan kita sebagai orang yang percaya, itu tidak mungkin terlepas dari tindakan dari Allah Tritunggal dalam kehidupan kita. Dan kita memohon supaya Allah Tritunggal sendiri yang hadir dan menyucikan orang yang mengalami pembaptisan itu. Dan kiranya segala kemuliaan dan hormat dikembalikan kepada Allah Tritunggal yang telah menyelamatkan kita daripada kehidupan yang berdosa. Ini makna dari baptisan di dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Saya harap, pengeritan ini boleh menjadi dasar bagi kita untuk mengerti ritual baptisan atau sakramen Baptisan yang kita jalankan hari ini. Penekanan terakhir saya adalah pada waktu seseorang menerima baptisan, karena itu adalah sakramen yang menyatakan kepada apa yang Tuhan kerjakan secara rohani dalam hati seseorang, maka kita harus mengerti, sakramen Baptisan itu hanyalah sarana anugrah, bukan anugrah itu sendiri. Bedanya apa? Kalau sarana anugrah, berarti ketika Saudara dibaptisan, baptisan tidak pernah menyelamatkan kita dari dosa, hukuman maut, tetapi anugrah Allahlah yang menyelamatkan kita daripada hukuman maut. Karena itu ketika seseorang menjalankan sakramen baptisan, dan sakramen baptisan itu tidak disertai dengan iman kepada Kristus, maka sakramen itu tidak ada gunanya atau manfaatnya. Yang terjadi adalah dia sedang menerima atau membuka diri untuk dihukum oleh Tuhan Allah. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *