Respon Dipenuhi Roh: Memuji Tuhan, 7 Juli 2019

Ef. 5:19

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, ibu, saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita berbicara mengenai suatu kehidupan yang dipenuhi oleh Roh Kudus, maka di dalam pertemuan sebelum nya kita sudah melihat bahwa kehidupan yang dipenuhi oleh Roh Kudus itu adalah sebenar nya kehidupan yang menyerahkan diri kita di bawah kontrol dari Roh Kudus secara sepenuh nya. Dan ketika kita menyerahkan diri kita di bawah kontrol daripada Allah Roh Kudus secara sepenuh nya, maka kontrol dari Allah Roh Kudus itu tidak mungkin terlepas daripada kebenaran Firman Tuhan atau Firman Yesus Kristus dalam hidup kita. Itu sebabnya di dalam kita melihat antara Efesus Pasal 5 Ayat ke 18 dengan Kolose Pasal 3 Ayat ke 16, terdapat suatu paralel. Di dalam Efesus Pasal 5 Ayat 18, di situ dikatakan seorang itu kepenuhan Roh Kudus dan di dalam Kolose 3 Ayat 16 itu dikatakan seorang itu mentaati apa yang menjadi perkataan Firman Tuhan dalam kehidupan dia. Jadi pada waktu bicara mengenai seorang yang dipenuhi Roh Kudus, apa bukti seorang itu dipenuhi oleh Roh Kudus? Dia ada di bawah kontrol dari Allah Roh Kudus sepenuh nya di dalam kehidupan dia, dan ketika dia hidup di bawah kontrol Allah Roh Kudus di dalam kehidupan nya sepenuh nya, maka itu menyatakan kehidupan yang taat kepada perintah Tuhan. Ini yang menjadi hal yang perlu kita perhatikan baik-baik di dalam kehidupan kita. Karena kepenuhan Roh Kudus sering kali di-identik-kan dengan suatu manifestasi rohani supranatural yang terjadi dalam kehidupan kita. Tetapi Alkitab tidak bicara seperti ini. Alkitab berbicara kalau itu sampai harus ada suatu kuasa supranatural, manifestasi supranatural, yang terjadi dalam kehidupan kita, pasti ada maksud Tuhan secara khusus yang terjadi dalam kehidupan kita. Tetapi sebenarnya, pada waktu kita menekankan pada manifestasi supranatural, kita mungkin di dalam hati, mencari sesuatu momen-momen khusus dalam hidup kita yang dipenuhi oleh Roh Kudus, dengan manifestasi itu, sedangkan bagian lain dalam kehidupan kita seperti nya tidak terlalu penting. Sedangkan Alkitab berkata, seorang yang dipenuhi oleh Roh Kudus, itu adalah seorang yang harus memperhatikan bagaimana dia menjalankan hidup dia dalam dunia ini, bagaimana dia mengatur waktu dia, bagaimana dia adalah orang yang betul-betul memiliki bijaksana dan takut akan Tuhan, atau bagaimana dia memiliki suatu relasi yang baik, baik dengan diri dia dengan Tuhan ataupun dengan sesamanya, dan itu adalah sesuatu yang dijalankan setiap hari di dalam kehidupan dia.

Jadi kepenuhan Roh Kudus itu bukan sesuatu yang Tuhan minta hanya momen-momen tertentu saja dalam hidup kita, tapi kepenuhan Roh Kudus itu adalah sesuatu yang terjadi setiap detik, setiap jam, setiap hari dalam perjalanan kita mengikut Kristus dalam kehidupan kita. Itu yang terjadi. Makanya di dalam bagian Efesus Pasal 5 Ayat 18, 19, 20, di situ diikuti oleh Ayat 22 dan seterusnya berbicara mengenai bagaimana relasi suami dengan istri, orang tua dengan anak, tuan dan hamba di dalam kehidupan kita di tengah-tengah dunia ini. Ini yang menjadi penekanan. Tetapi sekali lagi saya mau katakan, memiliki suatu kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus, itu adalah hal yang sangat penting sekali. Tanpa Saudara memiliki kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus, jangan pernah harap, Saudara bisa mentaati Tuhan dalam kehidupan Saudara, dan jangan pernah berharap Tuhan bisa bekerja secara maksimal di dalam kehidupan Saudara. Karena apa? Karena untuk bisa mengerti Firman Tuhan, memahami kehendak Allah dalam kehidupan kita, untuk bisa memiliki suatu kuasa untuk memberitakan Firman, dan membawa orang dan percaya kepada Yesus Kristus, untuk memiliki suatu kehidupan yang kudus dalam kehidupan kita, untuk memiliki suatu kehidupan yang berpengharapan akan hari depan yang ada di dalam tangan Tuhan, bersama-sama dengan Kristus, dan memiliki suatu penghiburan dan kekuatan dalam kehidupan kita ketika kita mengalami pencobaan dan penderitaan, semuanya kalau ada Roh Kudus yang menyertai kehidupan kita dan memenuhi kehidupan kita. Itu kunci nya.

Bapak, ibu, saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita tidak pernah dipenuhi oleh Roh Kudus, maka kehidupan kita itu seperti kalau kita punya kendaraan, semewah apapun kendaraan kita, tapi kita tidak pernah isi bahan bakar. Maka kendaraan itu tidak mungkin pernah bisa berfungsi dengan baik, atau bisa dijalankan, untuk bisa membawa kita ke mana pun kita ingin pergi. Begitu juga dengan kehidupan kita, orang percaya, Alkitab bilang, semua orang percaya pasti punya Roh Kudus, tetapi masalah nya adalah tidak semua orang percaya hidup nya dipenuhi oleh Roh Kudus. Itu sebab, banyak sekali orang Kristen masih hidup dalam dosa, itu sebab banyak sekali orang Kristen yang berdoa kepada Tuhan doanya tidak dijawab oleh Tuhan Allah dalam kehidupan dia, itu sebab ketika orang Kristen bersaksi dalam kehidupan dia kesaksian nya tidak menjadi suatu kesaksian yang efektif untuk bawa orang kepada Kristus dalam kehidupan dia. Sebab nya karena apa? Karena kita tidak rela untuk dipimpin oleh Roh Kudus, dan tidak rela untuk mentaati apa yang menjadi kebenaran Firman dalam kehidupan kita, kita lebih memilih untuk menjalani hidup sesuai dengan apa yang menjadi keinginan kita. Tuhan berkata, ini bukan anak Tuhan, atau bisa bilang ini anak Tuhan, tapi Tuhan tidak berkehendak itu terjadi di dalam kehidupan dari anak-anak Tuhan.

Nah, bapak, ibu, saudara yang dikasihi Tuhan, pertanyaan nya sekali lagi; pada waktu seseorang itu memiliki suatu kehidupan yang dipenuhi oleh Roh Kudus, dia adalah orang yang ada di dalam ketaatan kepada Firman, dia adalah orang yang memiliki kehidupan yang diserahkan sepenuhnya kepada Roh Kudus, atau kontrol dari pada Allah Roh Kudus, ada tidak contoh nya? Alkitab bilang, ada satu contoh yang mungkin kita bisa jadikan sebagai contoh orang yang senantiasa ingin hidup bersandar kepada Roh Kudus di dalam kehidupan dia. Dan mungkin, pengertian ini bisa kita mengerti di dalam aspek lain daripada seorang yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Contoh ini adalah dari kehidupan Petrus. Kalau bapak, ibu perhatikan kehidupan Petrus, kehidupan Petrus ada bagian yang kuat mengikut Tuhan, ada bagian yang lemah kan. Ada bagian di mana dia bisa begitu berani sekali maju, bahkan menghadapi musuh, tetapi ada bagian di mana dia begitu ketakutan dan bahkan sampai menyangkal Yesus Kristus. Tapi pada waktu kita melihat kehidupan ini, coba perhatikan, kapan Petrus menampilkan diri sebagai orang yang begitu kuat sekali, begitu berani sekali, kapan Petrus menampilkan diri sebagai seorang yang penakut? Kalau kita baca dari Kitab Suci, maka kita mendapatkan Petrus menyatakan diri sebagai orang yang begitu berani, karena dia dekat dengan Kristus. Petrus menyatakan diri sebagai orang yang begitu takut pada waktu dia jauh dari pada Yesus Kristus. Ambil contoh, kalau Bapak-Ibu melihat kehidupan Petrus, maka pada waktu dia melihat Yesus Kristus berjalan di atas air sedangkan mereka ada di dalam perahu yang menyeberangi danau Galilea, setelah Yesus Kristus memberi makan lima ribu orang, dengan roti dan dua ikan, lima roti dan dua ikan. Pada waktu itu murid-murid dengan susah payah mendayung kapal mereka untuk menyeberangi danau Galilea karena ada badai yang begitu besar, ombak yang begitu tinggi yang menghalangi perjalanan mereka ke seberang. Tapi setelah Yesus Kristus menyuruh orang-orang banyak itu pulang, dikatakan, Dia kemudian menyusul murid-murid Nya, dan berjalan di atas air. Dan pada waktu murid-murid Nya sedang bersusah payah mendayung kapal nya itu, tiba-tiba mereka melihat ada sesosok bayangan yang berjalan di atas air, dan pada waktu mereka melihat itu mereka semua ketakutan karena mereka berpikir yang berjalan itu adalah hantu. Lalu, pada waktu mereka semua ketakutan dan panik, Yesus bilang, “Jangan takut, ini Aku.”

Dan pada waktu Yesus berkata, “Ini Aku, Yesus Kristus,” yang pertama kali menyahut itu adalah Petrus. Dan Petrus berkata apa? “Tuan, kalau itu Kamu, suruh aku datang kepada Kamu, berjalan di atas air.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kira-kira murid-murid yang lain ketika mendengar Petrus ngomong ini, pikiran mereka apa ya? Saya pikir mungkin mereka akan berkata, “Gila kamu Petrus. Kita ini nelayan lho. Kita ini hidup dari kecil dan besar dalam keluarga nelayan yang pergi ke laut menangkap ikan. Dan setiap kali kita menangkap ikan, dan kita melompat ke dalam air, yang terjadi adalah kita nggak pernah berdiri di atas air tetapi tenggelam di dalam air. Itu yang terjadi dalam kehidupan kita. Sekarang kamu mau berani-beraninya bilang Yesus, “Kalau itu Engkau, suruh aku berjalan di atas air menuju kepada Engkau”?” Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, dengan confidence-nya, Petrus kemudian melangkah ketika Yesus bilang, “Ayo kemari Petrus, di atas air.” Dan betul-betul dia bisa berjalan di atas air, sampai satu waktu ketika dia melihat ke kiri dan ke kanan, dia khawatir akan gelombang yang tinggi, dia mulai takut, dan akhirnya dia mulai tenggelam. Tetapi Alkitab berkata, Yesus menangkap dia dan membawa dia ke tepi. Berani sekali. Lalu pada waktu dia bersama dengan Yesus di Taman Getsemani, pada waktu di Taman Getsemani, para utusan dari Sanhedrin, para orang-orang Sanhedrin, atau pemimpin daripada  orang Yahudi yang tertinggi, itu mengutus para prajurit dan keamanan dari Bait Allah untuk pergi menangkap Yesus. Dan pada waktu mereka pergi menangkap Yesus, di situ mereka memiliki senjata lengkap untuk dibawa menghadap Yesus di Taman Getsemani, dan sedangkan murid-murid hanya memiliki dua buah pedang di saku mereka, dan bukan orang yang terlatih di dalam peperangan. Tetapi pada waktu prajurit ada di hadapan Yesus Kristus, dikatakan oleh Kitab Suci, mendadak Petrus bisa mencabut pedangnya lalu mau menebas salah satu prajurit yang ingin menangkap Yesus Kristus. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tapi apa yang terjadi ? Alkitab mencatat, yang terjadi adalah Petrus hanya menebas salah satu telinga daripada prajurit itu. Sekarang pertanyaannya begini ya: “Apakah Petrus memang incar telinganya ?” Saya yakin tidak kan? Kita yakin dia bukan orang yang mengincar telinga, iseng banget ya? Mau melawan itu hanya menebas telinga, menunjukkan mungkin keahliannya menguasai pedang, yang begitu tepat hanya menebas telinga? Saya pikir tidak seperti itu. Tetapi yang diincar oleh Petrus itu adalah kepala dari prajurit ini, dia ingin mematikan prajurit itu. Tetapi karena dia tidak memiliki penguasaan di dalam ilmu peperangan dan bela diri, maka yang terjadi adalah yang dia tebas bukan lehernya, bukan kepalanya, tetapi telinganya, karena orang ini kemudian bisa menghindar serangan dari pada Petrus.

Bayangin, puluhan orang datang di depan mereka, menghadapi Yesus dengan sebelas murid saat itu, dengan dua buah pedang. Petrus dengan begitu berani sekali, maju dan menyerang prajurit yang begitu terlatih sekali. Kenapa ya? Saya pikir, sebabnya karena dia melihat kepada Yesus yang punya kuasa begitu besar. Pada waktu para prajurit itu datang menghadap Yesus, mereka tanya, atau Yesus pertama kali tanya kepada mereka : “Siapa yang kamu cari ?” Lalu prajurit-prajurit itu bilang : “Yesus dari Nazaret.” Waktu Yesus dengar itu, Alkitab mencatat, Yesus berkata: “Inilah Aku. Akulah Dia.” Lalu yang terjadi adalah prajurit-prajurit itu jatuh tersungkur ke belakang. Dua kali mereka tersungkur ke belakang. Pada waktu mereka jatuh pertama, mereka kemudian bangkit lagi, lalu mereka tanya, eee, Yesus tanya lagi : “Siapa yang kamu cari ?” Lalu mereka berkata : “Yesus dari Nazaret.” Yesus bilang : “Akulah Dia.” Lalu mereka jatuh lagi ke belakang. Nah dalam kondisi seperti ini, Yesus satu orang, puluhan prajurit terlatih, dengan hanya satu kalimat mereka bisa jatuh, kalau kita yang jadi Petrus dan sebelas rasul yang lain saat itu, kira-kira kita berani nggak melawan mereka? Saya pikir berani sekali, karena apa? Backing kita adalah Tuhan yang punya kuasa begitu besar untuk mengalahkan musuh tanpa perlu ada senjata sama sekali. Makanya Petrus kemudian mengambil pedangnya lalu mau coba melawan prajurit itu, tapi Yesus berkata, “Cukuplah, nggak boleh seperti itu, orang yang menggunakan pedang akan dibalas dengan pedang juga.”

Akhirnya menyerah, murid-murid melarikan diri, Yesus ditangkap, dan dibawa kepada Pilatus. Lalu pada waktu dihakimi di hadapan Pilatus, dikatakan ada Yohanes yang datang ke situ bersama dengan Petrus. Yohanes bisa masuk mungkin karena dia punya koneksi tetapi Petrus hanya duduk di halaman dari rumah Pilatus. Waktu dia duduk di perapian, dia melihat gurunya sedang ditangkap, diadili di situ, lalu datang seorang perempuan, hamba perempuan Pilatus. Lalu pada waktu dia melihat Petrus dia berkata, “Kamu kan Petrus, kamu kan adalah salah satu murid dari Yesus Kristus? Saya tahu kamu itu adalah murid Yesus Kristus.” Petrus bilang, “Bukan, bukan, saya bukan murid Yesus.” “Benar kamu murid Yesus, dari logatmu saja kamu adalah orang Galilea sama seperti Yesus Kristus yang dari Galilea.” Petrus pada saat itu dikatakan menyangkal Yesus tiga kali. Apa yang membuat dia menyangkal Yesus? Karena dia tidak ada bersama dengan Kristus, walaupun Alkitab berkata Yesus kemudian menatap kepada Petrus dengan pandangan yang saya nggak tahu pandangan seperti apa, tapi kemungkinan pandangan yang mengingatkan dan penuh kasih kepada Petrus untuk kembali kepada Tuhan Yesus ketika dia sudah menyadari apa yang menjadi kelemahan dia dan dosa yang dia lakukan. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, dari ayat-ayat ini kita bisa melihat ada bagian dimana Petrus begitu berani, ada bagian dimana Petrus begitu takut sampai menyangkali Yesus Kristus. Dan pada waktu kita melihat bagian yang berani dan bagian yang menyangkali Yesus Kristus, bagian yang berani adalah bagian yang mana dia bersama dengan Kristus, bagian yang takut adalah bagian dimana dia tidak bersama-sama dengan Yesus Kristus dalam hidup dia.

Tetapi setelah hari Pentakosta, pada waktu Yesus berkata, “Aku akan naik ke Sorga,” dan Alkitab berkata Dia kemudian terangkat ke Sorga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Alkitab mencatat pada hari itu, tidak lama kemudian, 50 hari kemudian, maka Roh Kudus turun dari langit, kiriman Tuhan untuk memenuhi atau membaptis para murid ini dengan Roh Kudus dan memenuhi mereka dengan Roh Kudus. Dan pada hari itu dikatakan Petrus yang sebelumnya penakut, berani berdiri di hadapan orang banyak pada hari pertemuan raya ibadah orang Yahudi di Yerusalem, dan berkhotbah kepada ribuan atau jutaan orang yang ada, dan saat itu tiga ribu orang bertobat. Dan pada waktu Petrus dan Yohanes mengabarkan injil di bait Allah yang semula mereka semuanya bersembunyi tidak berani karena takut kepada pemimpin orang Yahudi, setelah Yesus naik ke atas Sorga, bisa berdiri di bait Allah lalu berkhotbah di bait Allah dengan terang-terangan memberitakan Yesus Kristus adalah Mesias dan Juruselamat. Dan pada waktu mereka ditangkap oleh Sanhedrin, lalu diadili oleh Sanhedrin, dan dilarang untuk memberitakan Kristus, maka Petrus dan Yohanes berkata, “Silakan kamu nilai sendiri, kami harus lebih taat kepada Tuhan atau kepada manusia?” Pada waktu itu para Sanhedrin ini tidak bisa buat apa-apa lagi, akhirnya terpaksa melepaskan mereka, Petrus dan Yohanes. Begitu berani sekali. Lalu setelah peristiwa itu dikatakan mulai terjadi penganiayaan kepada orang-orang Kristen, lalu pada waktu itu mereka masuk dan berdoa, setelah berdoa mereka kembali keluar dan berani memberitakan injil Tuhan walaupun ancamannya adalah kematian. Kenapa murid-murid yang begitu takut menjadi begitu berani? Kenapa Petrus yang semula begitu takut ketika jauh dari Kristus, ketika Yesus naik ke atas Sorga, duduk di sebelah kanan Bapa, justru menjadi orang yang begitu berani ketika Kristus tidak ada bersama dengan mereka?

Jawabannya adalah karena ada Roh Kristus yang diberikan oleh Kristus yang bukan lagi hanya menyertai murid-murid atau orang-orang percaya, tetapi Alkitab berkata, yang tinggal di dalam kehidupan dari orang-orang Kristen, itu yang menjadi dasar. Atau istilah lainnya adalah pada waktu Hari Pentakosta tiba, pada waktu Allah membaptis para murid dengan Roh Kudus, Allah sedang membaptis para murid dengan Roh Kristus dan baptisan itu menyatakan Allah Roh Kudus tinggal di dalam diri setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Atau istilah lainnya, Kristus sendiri hadir di dalam diri setiap orang percaya melalui Roh Kudus-Nya. Saya bilang seperti ini mohon Bapak, Ibu mengerti di dalam konteks Allah Tritunggal ya. Saya bukan berkata bahwa Kristus sendiri yang hadir dan tinggal  di dalam diri orang percaya. Karena apa? Karena pada waktu Kristus naik duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Alkitab bilang di dalam Kisah Para Rasul, Dia yang sah akan terus duduk di sana dan tidak pernah meninggalkan posisi-Nya di sebelah kanan  Allah Bapa sampai hari penghakiman tiba. Tetapi kenapa bisa dikatakan ketika Roh Kudus tiba, tinggal di dalam diri kita, maka itu berarti Roh Kristus sendiri yang adadi dalam diri kita? Ingat baik-baik, karena Allah itu Allah Tritunggal, Allah kita adalah Allah yang Esa Allah atau Allah yang satu. Allah yang satu memiliki tiga pribadi yang berbeda, tetapi setiap pribadi sungguh-sungguh merupakan kepenuhan dari Allah. Mereka adalah Satu, tidak ada bedanya di antara yang satu dengan yang lain. Yaitu ketika yang satu hadir, maka keduanya yang lain ikut  hadir di dalam kehadiran yang satu itu, Pribadi itu. Maka ketika Roh Kudus ada dalam diri kita, dibaptis dalam diri kita, tinggal dalam diri kita, maka kita bisa berkata Kristus sendiri tinggal di dalam diri kita. Nah ini yang membuat Petrus punya keberanian di dalam memberitakan injil. Walaupun dia mengalami penolakan dan aniaya di dalam kehidupan dia. Jadi  kalau kita bertanya apa artinya dipenuhi oleh Roh Kudus? Satu sisi kita berkata kita menyerahkan hidup kita di dalam kontrol Allah Roh Kudus di dalam diri kita. Penyerahan diri kedalam kontrol Allah dinyatakan dalam ketaatan dalam perintah Kristus di dalam hidup kita. Dan semua itu bisa terjadi karena apa? Karena kita mengerti Kristus senantiasa berdiri di hadapan kita, atau di samping kita, dan menyertai kapanpun kita pergi.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mungkin kalau ambil ilustrasi mungkin anak sekolah lah. Kita semua pernah sekolah dan pernah nyontek mungkin ya? Ada yang nggak pernah nyontek seumur hidupnya? Anggaplah semuanya pernah nyontek. Kenapa kita berani nyontek? Karena guru mungkin duduk di depan. Ketika sedang mengerjakan ujian, guru sibuk sendiri mungkin baca koran, baca yang lain. Sehingga kita merasa pada waktu kita mendapatkan soal yang sulit untuk dijawab, kita melihat gurunya sepertinya tidak perhatikan. Sedangkan ada teman sebelah yang mengerjakan. Ada kecondongan untuk bertanya jawabannya seperti apa, ada peluang itu untuk kita mencontek, untuk meminta jawaban dari teman kita. Tapi bagaimana kalau guru itu keluar dari ruangan? Saya yakin lebih parah lagi ya sekolah itu ya. Makin murid-murid itu heboh dan langsung cepet-cepet tanya untuk memanfaatkan situasi itu. Tapi pertanyaannya adalah bagaimana kalau guru itu berdiri di samping kita dari awal ujian sampai selesai ujian? Semua metode jurus nyontek keluar nggak? Semua tulisan-tulisan yang kecil yang  kita tulis di sepatulah, di tangan, di balik baju atau di kertas kecil, keluar nggak? Saya yakin nggak ada satu pun berani keluarkan. Karena apa? Guru itu berdiri di samping kita. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa kita punya hidup tidak bisa mentaati Tuhan? Kenapa kita punya hidup nggak memiliki kuasa? Kenapa kita hidup masih jatuh di dalam dosa? Karena kita lupa ada Kristus berdiri di samping kita. Jadi kalau Bapak, Ibu ingin suatu kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus, jalinlah relasi dengan Tuhan melalui firman-Nya dan bangunlah kesadaran bahwa Kristus senantiasa ada di hadapan kita atau kita berdiri di hadapan Kristus. Kemanapun kita pergi, apapun yang kita lakukan, Dia senantiasa melihat apa yang kita kerjakan. Bukan hanya yang di luar, tetapi apa yang ada di dalam hati kita. Saya yakin pada waktu itu, kita mau nggak mau pasti akan mentaati  Tuhan. Tapi saya mau bilang, mau tidak mau bukan berarti kita terpaksa menaati Tuhan, tetapi ketika Roh Kudus melahirbarukan kita, memberikan hati yang baru dalam kehidupan kita, maka satu hal yang muncul dalam diri kita kita mau rela dan taat kepada Tuhan dalam kehidupan kita. Itu berarti kita adalah orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus.

Sekarang pertanyaannya begini, saya lanjutkan kembali, waktu seorang dipenuhi dengan Roh Kudus, apa yang terjadi di dalam kehidupan dia? Apakah dia dikatakan menjadi orang yang punya kuasa supranatural itu? Alkitab bilang tidak. Apa hal pertama yang terjadi di dalam kehidupan orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus? Yang menariknya adalah ketika kita baca ayat 19, maka Tuhan berkata yang pertama kali terjadi dalam kehidupan orang percaya adalah atau menerima  kepenuhan Roh Kudus adalah bernyanyi atau memuji di dalam kehidupan dia. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ini adalah hal yang pasti benar sekali. Setiap orang yang percaya kepada Kristus, setiap orang yang dilahirbarukan di dalam kehidupan dia, maka yang dilakukan oleh Tuhan adalah satu  perubahan dalam hati seseorang. Dari seorang yang merasa terhakimi yang dijatuhi hukuman, sekarang pada waktu dia mendapatkan keselamatan di dalam Kristus, dia menjadi orang yang memiliki sukacita di dalam diri dia. Kalau dia memiliki sukacita di dalam diri dia, apa yang akan dilakukan? Hal pertama pasti akan memuji Tuhan. Ini yang akan dilakukan. Makanya Alkitab bilang di dalam ayat  ke-19 di sini dikatakan, ketika seseorang dipenuhi oleh  Roh, mereka akan berkata seorang terhadap orang yang lain di dalam mazmur, kidung puji-pujian, dan nyanyian rohani di dalam kehidupan mereka.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita akan memuji, kita akan bernyanyi, dan pada waktu kita bernyanyi, Alkitab seringkali mengkaitkan pujian ini dengan  satu istilah, kita akan menyanyikan “nyanyian yang baru” bagi Tuhan. Maksudnya apa ya? Saya percaya nyanyian yang baru bagi Tuhan bukan berarti kita continue terus-menerus harus ganti lagu ganti lagu seperti itu, atau menyanyikan lagu baru bagi Tuhan karena yang lama sudah bosan maka harus ada lagu yang baru yang dinyakikan di dalam kehidupan kita, saya percaya bukan seperti itu. Karena  pada waktu bicara mengenai “nyanyian yang baru” kita bisa lihat pengertian “baru” ini digunakan oleh Kitab Suci itu dikatakan kainos dan bukan neos. Neos itu adalah  pengertian Yunani yang dalam urutan kronologi,  itu baru. Tetapi kainos itu memiliki pengertian sesuatu yang beda secara karakter. Jadi pada waktu seseorang menjadi orang percaya dan dilahirkan baru oleh Roh Kudus dan memiliki kepenuhan Roh Kudus maka dia akan menaikkan satu pujian, dan pujian yang dia naikkan itu adalah pujian yang baru dalam pengertian: dia sebelumnya tidak memuji Tuhan tapi sekarang dia memuji Tuhan di dalam hidup dia, dan satu pujian yang berbeda daripada pujian yang sebelumnya dia lakukan dalam kehidupan dia, itu adalah nyanyian yang baru.

Dan pada waktu kita melihat di dalam Kitab Suci maka nyanyian yang baru yang dinyatakan di dalam Kitab Suci, hanya ada sembilan kali muncul.  Dan sembilan-sembilan bagian ini semuanya bicara mengenai keselamatan yang dilakukan oleh Allah atau Kristus di dalam kehidupan kita. Bapak Ibu boleh buka di dalam Mazmur 33:1-3. Di dalam ayat yang pertama, di situ ada dikatakan, “Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam Tuhan!” Kita tahu bahwa orang benar itu bukan orang yang berdasarkan perbuatannya benar, dari Perjanjian Lama dikatakan orang benar itu adalah orang yang sudah ditebus oleh Kristus, itu adalah orang benar. Orang yang dilupakan dosanya oleh Tuhan Allah, atau orang yang mendapatkan anugerah dari Tuhan Allah, itu adalah orang benar. Dan dari situ dikatakan, “Nyanyikanlah nyanyian yang baru bagi Tuhan Allah.” Lalu boleh coba buka Mazmur 40:3-4. Kenapa seseorang menyanyi nyanyian baru? Ayat 3 bilang, “Karena Tuhan mengangkat dia dari lobang kebinasaan dan dari lumpur rawa.” Berarti apa? Berkaitan dengan keselamatan. Masih banyak sekali ya. Boleh buka Mazmur 96:1-2, lalu Mazmur 98:1. Kita lompat saja ke dalam Wahyu 5:9, kalau mau dicatat bisa, selain Mazmur 98:1, ada Mazmur 144:9, 149:1, Yesaya 42:10, Wahyu 5:9-10. Satu lagi dari Wahyu 14:3. Jadi apa yang menjadi nyanyian baru? Alkitab bilang: Nyanyian baru itu adalah sesuatu yang merupakan ekspresi dari apa yang Allah kerjakan dalam kehidupan kita. Dari hati kita dan nyanyian itu berkenaan mengenai apa? Mengenai keselamatan yang dikerjakan Allah di dalam Kristus bagi kehidupan kita.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, dengan begini saya yakin kita memiliki definisi yang baik di dalam memuji Tuhan itu apa? Saya percaya, ketika seseorang itu memuji Tuhan, maka seseorang itu ketika memuji Tuhan, dia harus mengalami penebusan Kristus terlebih dahulu dalam kehidupan dia, baru dia bisa menyanyikan satu nyanyian yang memuji Tuhan Allah. Dan nyanyian yang memuji Tuhan Allah itu adalah sesuatu respon dari pada keselamatan yang dia terima di dalam kehidupan dia. Itu sebabnya pada waktu kita memuji Tuhan, pertanyaannya seperti ini ya, “Mungkin tidak, orang yang tidak mengalami penebusan Kristus, bisa memuji Tuhan?” Bisa, tidak? Jawabannya tidak bisa. Kalau dia tidak memiliki sesuatu, satu ucapan syukur dari dalam hatinya, suatu pekerjaan Tuhan dalam dirinya yang memperbaharui hatinya, nggak mungkin dia bisa memuji Tuhan Allah. Kalau dia tidak mengalami suatu karya penebusan yang mengeluarkan dia dari kondisi yang sulit dalam kehidupan dia, dari hukuman kekal, nggak mungkin dia bisa memuji Tuhan Allah. Salah satunya contohnya adalah, Saudara boleh buka Mazmur 137:1-5, ini bercerita tentang kehidupan orang-orang Israel yang ada di dalam pembuangan di Babel. Pada waktu mereka ada di dalam pembuangan di Babel, mereka diminta oleh orang-orang Babel untuk menaikkan pujian yang mereka biasa nyanyikan di Sion. Jadi di dalam ayat ini dikatakan, kalau Tuhan tidak memberikan kelepasan, kalau Tuhan tidak memberikan suatu penebusan, kalau Tuhan tidak bekerja untuk membebaskan umatNya dari pada suatu keadaan yang ada di dalam belenggu, tidak mungkin ada pujian yang keluar dari mulut kita. Karena apa? Pujian adalah respon dari hati terhadap apa yang Kristus kerjakan dalam diri kita, atau Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita.

Itulah sebabnya Alkitab berkata: Nyanyian kita adalah menjadi suatu nyanyian yang baru. Kenapa baru? Baru karena kita dulu adalah manusia yang lama, sekarang menjadi manusia baru. Sebagai manusia baru yang telah menerima anugerah Tuhan, wajar kalau kita menyanyikan sesuatu yang baru dalam kehidupan kita. Kita tidak lagi menyanyikan hal-hal yang bersifat duniawi dalam kehidupan kita. Dan kita tidak mengatakan bahwa hal-hal yang duniawi itu adalah sesuatu yang lebih penting lagi untuk kita hidupi dalam kehidupan kita daripada kita menaikkan pujian bagi Tuhan Allah.Alkitab bilang mengenai hal ini di dalam ayat yang ke-19, kalau Bapak Ibu perhatikan baik-baik, di situ ada kalimat seperti ini: “dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur,” dan yang bagian kedua adalah: “Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.” Di situ ada 2 komponen, mungkin bisa 3 komponen yang kita angkat. Pertama adalah, ketika seseorang memuji Tuhan, maka Alkitab bilang, pujian itu adalah sebuah pujian yang dinyanyikan bersama-sama dengan orang Kristen yang lain, bukan orang non-Kristen. Dalam kita memuji, bersama siapa kita nyanyi? “Berkata-katalah seorang kepada yang lain…” Siapa yang lain itu? Orang Kristen yang sama-sama mendapatkan penebusan dari Yesus Kristus. Kita sama-sama menyanyi, memuji Tuhan. Ini yang pertama. Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya musik itu adalah sesuatu yang penting. Pujian itu adalah sesuatu yang penting di dalam gereja, di dalam ibadah kita kepada Tuhan Allah. Kenapa? Karena melalui musik itu, kita dibawa untuk memuji dan menyembah kepada Tuhan Allah, tetapi pujian dan penyembahan kepada Tuhan Allah itu tidak mungkin terjadi dalam kehidupan kita, kalau kita tidak terlebih dahulu mendapatkan karunia penebusan dalam Kristus dan tidak ada kebenaran firman Tuhan yang menerangi hati kita, dan memberi tahu kepada kita apa yang Tuhan senangi untuk kita lakukan bagi diri Dia. Kalau kita menyembah menurut cara kita sendiri, Alkitab berkata itu bukan penyembahan kepada Tuhan Allah. Itu sebabnya pada waktu kita ingin menyembah kepada Tuhan, hal yang penting adalah kita memiliki pengetahuan yang benar akan Tuhan, baru dari situ kita bisa menyembah Tuhan, tapi sebelumnya ingat dulu identitas kita siapa? Kalau kita bukan orang percaya Tuhan juga tidak menerima penyembahan yang kita lakukan kepada diri Dia. Kalau kita bukan orang yang mengerti kehendak Tuhan, Tuhan juga tidak terima apa yang kita naikkan kepada Dia, atau kita persembahkan kepada diri Dia. Karena itu Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, yang utama di dalam sebuah ibadah bukan pujiannya, pujian itu menjadi salah satu sarana di dalam kita menyembah kepada Tuhan Allah. Yang utama di dalam sebuah ibadah adalah mengerti kehendak Tuhan, dan kehendak Tuhan itu bisa dimengerti melalui pemberitaan Tuhan, itu yang harus kita miliki dalam kehidupan kita, baru kita kemudian kita memuji Tuhan, bersama-sama dengan orang Kristen yang lain.

Dan pada waktu berbicara bersama-sama dengan orang Kristen yang lain dan ketika kita berbicara mengerti kehendak Tuhan yaitu adalah melalui pemberitaan firman Tuhan, maka aplikasi yang kedua kita bisa pegang adalah, saya percaya di dalam penginjilan yang utama itu adalah pemberitaan mengenai Kristus dan tidak ada istilahnya adalah pujian penginjilan. Orang bisa ngomong, “saya memilki grup menyanyi pujian penginjilan,” oke yang kamu naikkan apa? “Nyanyian-nyanyian mengenai karya penebusan Kristus,” oke baik, karya penebusan Kristus. Bisa nggak membawa orang percaya kepada Kristus? Mungkin bisa, karena Tuhan bisa menggunakan berbagai cara untuk membawa seseorang datang kepada Kristus, bahkan melalui pemberita-pemberita injil palsu,orang bisa datang dan percaya kepada Yesus Kristus. Di dalam Kitab Filipi di situ di katakan ada orang-orang yang memberitakan Kristus dengan tujuan yang baik, benar, tetapi ada orang-orang yang memberitakan Kristus dengan tujuan “supaya aku makin diperberat di dalam hukuman,” tapi Paulus bilang nggak mengapa, ada orang yang betul-betul memberitakan Kritus dengan tujuan yang benar, ada orang memberitakan Kristus dengan tujuan yang salah supaya aku makin diperberat dalam hukuman nggak masalah, yang penting adalah Kristus diberitakan, dan Tuhan bisa menggunakan dua cara itu untuk membawa orang datang kepada Kristus, nggak masalah. Begitu juga dengan kehidupan, pujian. Mungkin orang-orang yang mendengar suatu pujian dia bisa mendadak tergerak untuk datang kepada Kristus, tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu bukan cara yang utama yang Tuhan gunakan untuk membawa orang dalam iman kepada Kristus. Alkitab bilang setiap orang yang ingin datang di dalam iman kepada Kristus dia harus mendengar firman Yesus Kristus, Roma 10:17. Itu sebabnya kalau Saudara ingin orang datang kepada Kristus, Saudara nggak hanya bisa menyanyi saja dalam injil, Saudara akan tiba sampai waktunya Saudara harus beritakan injil pada dia, kebenaran firman pada dia, baru dia memiliki iman yang teguh di dalam Tuhan. Tuhan bisa pakai tetapi sarana yang paling utama untuk membawa orang dalam iman, bukan melalui pujian tetapi melalui pemberitaan firman, walaupun pujian yang kita miliki dalam kehidupan kita yang kita naikkan kepada Tuhan Allah mungkin bisa membuat orang merasa heran mengenai kehidupan kita yang penuh dengan sukacita dan penuh dengan pujian dan tidak seperti kehidupan mereka, tetapi ingat baik-baik itu hanya langkah awal, bukan untuk membawa orang kepada iman, iman yang sejati harus di bangun di atas dasar Fiman Tuhan.

Atau saya boleh ilustrasikan misalnya seperti ini, ada tidak orang yang menjadi orang Kristen melalui kehidupan orang Kristen yang baik, ada ya? Tetapi mereka punya iman nggak? Imannya dari mana? Mungkin dia bisa tertarik dengan kehidupan orang Kristen yang baik, karena mengasihi, mengampuni, memperhatikan, mendoakan, seperti itu, dan itu tidak pernah mereka alami dalam kehidupan mereka. Saya pernah mendengar suatu kesaksian dari orang yang dalam YouTube, yang dari seorang saksi Yehuwa menjadi orang Kristen, lalu dia kemudian apa yang membuat dia menjadi orang Kristen, karena suatu hari ketika dia dalam kondisi yang sulit ditolak oleh orangtua, nggak punya kerjaan, punya satu anak, dia harus bekerja keliling-keliling untuk menjajakan dia punya barang dagangannya, dari pintu satu ke pintu yang lain. Lalu ketika dia sampai kepada suatu rumah, dia ketok pintu rumah itu lalu orang yang ada di dalam rumah membuka pintu, Lalu dia tanya, “ada apa?” “Saya ingin menawarkan ini, barang yang ingin saya jual kepada ibu.” Lalu dia berkata, orang rumah itu, “ayo silahkan masuk.” Lalu pada waktu dia duduk itu di sana sama ibu ini, dia menjelaskan apa yang menjadi barang yang dia jual, pemilik rumah ini kemudian juga sedikit-sedikit memulai memasukkan injil kepada orang ini, lalu setelah dia memasukkan injil mereka akhirnya berbicara bukan mengenai dagangan tetapi mengenai kondisi pribadi dari pada si penjual ini, saksi yehova ini. Lalu setelah mereka berbicara-bicara, akhirnya pemilik rumah ini menawarkan satu hal, “boleh tidak saya mendoakan engkau?” Perempuan ini kaget, karena apa? Selama dia hidup sebagai saksi yehova tidak pernah ada orang yang saling mendoakan satu dengan yang lain, baru kali ini ada orang Kristen yang menawarkan diri untuk mendoakan diri dia. Akhirnya dia memboleh engkau doakan. Mulai hari itu dia pulang dengan suatu perasaan yang baru, diperhatikan oleh orang Kristen, ada orang yang betul-betul mengasihi diri dia, dan dari situ dia mulai gejolak dia mulai belajar tentang iman Kristen, akhirnya dia menjadi orang Kristen. Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, dari kehidupan kita yang baik, yang mengasihi, bisa menjadi satu daya tarik orang untuk datang kepada Kristus, tetapi untuk bisa membangun iman yang benar, yang kuat di dalam Kristus, tetap harus ada firman yang dikhotbahkan, kalau tidak ada firman yang diajarkan, orang mengikut Kristus pikir semuanya orang baik, perbuatan itu adalah penting, mereka tidak mengerti ada karunia penebusan 100% pemberian Tuhan Allah dalam kehidupan dia. Untuk bisa menjadi orang yang sungguh-sungguh mengerti kehendak Allah di dalam Kristus dan keselamatan yang hanya ada di dalam Kristus melalui karunia semata-mata orang harus mendengarkan Injil. Itu sebabnya tadi saya bilang, Tuhan bisa memakai berbagai cara untuk membawa orang kepada Kristus tetapi jangan lupa cara yang paling utama, yang paling benar, pasti benar, pasti berkenan kepada Tuhan adalah kita memberitakan Injil pada orang yang tertarik kepada Iman di dalam kekristenan, dari situ baru mereka bisa bertumbuh di dalam kerohanian yang teguh di dalam Kristus.

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pujian itu di dalam ibadah itu adalah sesuatu yang penting. Bahkan ada penulis di dalam sejarah gereja pernah berkata, Kekristenan itu dikenal dengan pujian. Saya percaya agama lain punya pujian, tetapi tidak ada satu agamapun yang memiliki pujian yang seindah daripada pujian yang dinaikkan oleh orang Kristen, karena apa? Ada karya penebusan Kristus yang kita alami dalam kehidupan kita, sebagai orang-orang yang percaya di dalam Kristus, itu memberikan suatu pujian yang sangat indah sekali dan hanya orang Kristen yang hanya bisa memuji Tuhan dalam kehidupan ini. Karena itu jangan pikir kita bisa membawa orang non-Kristen ke dalam gereja untuk memuji Tuhan, jangan pikir kita bisa membawa orang non-Kristen memuji Tuhan di luar dari pada gereja dan berharap mereka bisa kemudian bisa kemudian menjadi orang Kristen, atau kita membuat lagu-lagu yang mirip dunia tetapi kata-katanya sepertinya kata-kata rohani supaya orang bisa percaya kepada Kristus. Saya pikir mereka juga nggak mau menyanyi kok, karena itu adalah suatu pujian bagi orang Kristen, dan Tuhan menerima pujian yang dari orang-orang yang sudah ditebus oleh Kristus.

Kedua, pada waktu memuji Tuhan, yang menarik lagi Alkitab berkata, siapa yang bisa memuji Tuhan diantara orang Kristen? Akitab tidak pernah memberi syarat siapa yang bisa memuji, Alkitab tidak pernah memberi syarat orang yang punya tune musik yang baik, Alkitab tidak pernah bilang orang yang tidak bisa nyanyi itu tidak bisa memuji Tuhan, Alkitab nggak pernah berkata orang yang deaf tone, yang tidak bisa mendengar, nggak tahu nada do-re-mi-fa-sol-la-si-do kayak gitu, semuanya do-do-do-do-do mungkin, itu adalah orang yang tidak bisa memuji Tuhan. Tetapi Alkitab berkata, orang yang memuji Tuhan itu adalah semua anak Tuhan. Dan yang menjadi syarat adalah ketika dia memuji Tuhan, dia harus memuji dari dalam hati. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Tuhan tidak suka melihat orang memuji hanya dari mulut. Walaupun dia memiliki teknik pujian yang begitu baik sekali, dia bisa menaikkan pujian yang begitu indah sekali tapi kalau hati dia tidak pernah tertuju bagi Tuhan untuk kemuliaan Tuhan di dalam pujian yang dia naikkan pada Tuhan, Tuhan tetap melihat dia tidak sedang beribadah kepada Tuhan dan tidak sedang memuji Tuhan. Tuhan tidak ingin orang yang munafik di dalam memuji Tuhan, tapi Tuhan ingin orang yang memuji Tuhan dari luar dan dalam hatinya ketika dia menaikkan pujian itu. Alkitab pernah memberikan satu peringatan yang keras bagi orang-orang di dalam Perjanjian Lama melalui Kitab Amos. Bapak Ibu boleh buka Kitab Amos 5:21. Ayat ini bicara mengenai apa? Kalau Bapak-Ibu perhatikan dari perikop sebelumnya, di situ bicara mengenai hari Tuhan dan kutukan Tuhan kepada orang-orang yang tidak menginginkan hari Tuhan atau tidak mengindahkan Tuhan, tetapi di dalam kehidupan dia tetap di dalam sebuah ibadah kepada Tuhan Allah. Makanya di dalam ayat 21-24 di situ dikatakan, Tuhan membenci orang-orang seperti ini. Kita bisa datang ke sini, oh semua orang bisa memuji kita, semua orang bisa mengagumi suara kita, semua orang bisa melihat kita sepertinya sungguh-sungguh kepada Tuhan Allah, tetapi ingat, Tuhan melihat hati, bukan melihat apa yang dilihat oleh manusia. Pada waktu Tuhan melihat hati kita ternyata tidak sungguh-sungguh beribadah dan memuji Tuhan, Tuhan tetap berkata, “Tidak ada gunanya engkau memuji Tuhan, Aku benci kepada ibadahmu.” Ingat baik-baik, Tuhan bukan bersyukur, Tuhan bukan senang, Tuhan bukan kemudian diubahkan pelan-pelan, akhirnya “ya sudahlah Saya terima saja karena kamu ngotot memuji Aku,” tetapi makin kita ngotot memuji Tuhan dengan hati yang munafik, makin Tuhan muak melihat pujian kita. Kenapa? Tuhan ingin kita memuji dari hati yang tulus kepada Tuhan Allah, dan bukan berdasarkan suatu kehidupan yang hipokrit atau munafik, sesuatu yang kita tampilkan sepertinya memuji Tuhan tetapi untuk menerima pujian bagi diri kita sendiri. Itu yang dialami oleh orang-orang Farisi. Mereka beribadah kepada Tuhan, mereka menaikkan pujian pada Tuhan, tetapi semua fokus ibadah mereka bukan ditujukan kepada Tuhan tetapi untuk mereka mendapatkan hormat bagi diri mereka dan pujian orang bagi diri mereka. Dan Tuhan berkata, “Aku tidak mau menerima engkau sama sekali.” Makanya di dalam Kitab Suci ada kalimat, selain dari pada Kitab Amos ini, Tuhan menolak persembahan dan pujian yang dinaikkan. Bapak-Ibu bisa melihat misalnya di dalam Kitab 1 Samuel. Pada waktu Saul memberikan persembahan kepada Tuhan Allah, Tuhan bilang, “Aku tidak butuh persembahanmu. Yang Aku butuhkan adalah ketaatan engkau kepada perkataan-Ku.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, lebih penting mengerti kehendak Tuhan dan ketika kita mengerti kehendak Tuhan, kita beribadah kepada Tuhan dari hati yang tulus, baik itu dalam suatu ketaatan atau dalam pujian yang kita naikkan dari dalam hati daripada kita menaikkan sesuatu yang tidak dari hati dan bukan karena penebusan dari pada Kristus, karena kita sedang akan menumpuk suatu murka Tuhan di dalam kehidupan kita.

Dan yang ketiga adalah, pada waktu kita melakukan ini, satu hal yang menarik, di dalam ayat 19, ada kalimat apa? Bernyanyi dan bersoraklah. Kira-kira waktu Tuhan ingin mendengar pujian yang betul-betul dari hati, Tuhan ingin mendengar pujian yang seperti apa? Yang kecil-kecil, atau yang kuat? Dan tambah lagi, Tuhan tidak terlalu peduli intonasi yang tepat. Gimana? Bagi anggota paduan suara, hah? Nyakitin telinga. Saya tahu nyakitin telinga. Saya juga sakit kok telinga, dengar. Karena saya dengar suara beda sedikit saya bisa dengar. Saya nggak enak sekali. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, persoalannya adalah, pujian itu bukan untuk manusia. Memang pujian itu adalah sesuatu yang kita naikkan bersama dengan orang-orang Kristen, tetapi ingat, tujuan pujian itu untuk siapa? Untuk manusia atau untuk Tuhan? Hah? Coba baca sama-sama ayat 19. “Bernyanyi dan bersoraklah kepada, atau bagi.. Tuhan, dengan segenap hatimu”. Jadi kalau kita memuji, kita memuji siapa? Tuhan. Bukan memuji supaya diterima oleh manusia. Pujian itu bukan sesuatu yang untuk meng-entertain manusia supaya manusia menepuk tangan kita, atau kemudian memuji kita punya hasil, apa itu, latihan yang baik seperti itu, atau memuji suara kita yang baik, tetapi yang kita harus kejar adalah apakah Tuhan bertepuk tangan melihat kita memuji Dia atau tidak? Itu yang harus kita kejar. Makanya Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita berkata pujian itu adalah sesuatu yang harus dari hati, Tuhan tidak terlalu mementingkan nadanya tepat atau tidak, tapi Tuhan mementingkan kita memuji dari hati dan kesungguhan hati dengan suara yang ditujukan kepada Tuhan Allah, perlu malu-malu nggak memuji Tuhan? Perlu nggak? Saya yakin tidak kan? Tapi kita boleh bersungguh-sungguh hati untuk datang kepada Tuhan, membuka suara kita, menaikkan pujian kepada Tuhan Allah karena Tuhan akan menghargai itu. Kita tidak terlalu butuh pujian yang dari manusia, tetapi yang kita perlukan adalah pujian dari Tuhan Allah, karena itu yang penting.

Saya bukan bicara bahwa pujian itu nggak ada efek sama manusia ya. Begitu dengar nada melenceng ada orang yang biasa nyanyi itu sakit telinganya. Itu berarti ada efek dari pujian kepada manusia. Bapak-Ibu boleh teliti, ada orang-orang yang meneliti, ada tidak dampak pujian di dalam kehidupan seseorang. Salah satu ayatnya adalah di dalam 1 Samuel. Di situ dikatakan, pada waktu Saul terganggu oleh roh yang dikirim oleh Tuhan Allah atau kerasukan oleh roh yang dikirim oleh Tuhan Allah, dia minta Daud memainkan kecapi. Waktu Daud memainkan kecapi dikatakan Saul dikatakan menjadi tenang, nyaman, lega, nyaman, dan roh itu keluar dari pada dirinya. Berarti pujian membuat efek. Efek didalam kehidupan psikologis kita dan fisik kita. Punya peran terapi dalam kehidupan kita dan ada penelitiannya. Dan dari penelitian itu bisa dikatakan pujian itu  seperti obat. Bedanya apa kalau obat itu adalah sesuatu yang merasuki ke dalam aliran darah kita, mempengaruhi kita punya tubuh. Pujian itu mempengaruhi tubuh tetapi dia tidak meresap seperti obat yang meresap ke dalam pembuluh darah kita. Bisa memberikan suatu pengaruh dalam kehidupan kita. Makanya pada waktu kita misalnya makan di restoran ada pujian di situ, mau belanja ada pujian disitu. Coba kalau kita mau ke Carrefour atau Hypermart, mau belanja lalu pujiannya tidak menyenangkan hati, kira-kira mau cepat-cepat pergi belanja atau mau stay di situ? Tapi kalau pujiannya begitu nyaman, tenang, membuat kita rileks di dalam situ, pingin jalan-jalan, makin noleh kanan, makin noleh ke kiri, lihat-lihat barang yang dijajain, mungkin kita akan makin banyak ambil barang disitu. Jadi pujian punya atau nyanyian itu punya pengaruh dalam kehidupan kita. Tetapi ingat baik-baik, itu berarti pujian bukan hanya ditujukan pada Tuhan Allah, punya dampak dalam kehidupan kita. Cuman saya tidak akan bahas ini terlalu jauh ya. Cuman inget sekali lagi, walaupun itu adalah sesuatu yang mungkin tetep berdampak pada kita, jangan suara kita dan ketidakmampuan kita menyanyi sebagai penghalang untuk memuji Tuhan. Ingat, Tuhan melihat hati bukan hanya melihat suara. Tetapi bukan berarti kita tidak perlu menuntut suara yang lebih baik. Kalau Saudara bisa belajar melatih diri lebih baik dalam memuji Tuhan itu jauh lebih baik. Tetapi ingat, jangan perlu malu ketika engkau merasa diri tidak bisa menyanyi karena Tuhan yang melihat bukan manusia yang melihat pada hal itu.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di sorga nanti yang ada itu adalah pujian yang rohani. Di sorga nanti pujian duniawi itu tidak akan ada lagi. Di sorga mungkin alat musik yang menaikkan pujian untuk Tuhan itu masih ada, tetapi orang-orang menggunakan alat musik untuk menaikkkan pujian yang ada di dalam di dunia itu akan dibuang dan dimusnahkan oleh Tuhan semua. Ayatnya dimana? Di dalam Wahyu 18:21-24. Ayat ini berbicara mengenai kalau kita mengejar suatu pujian dalam kehidupan kita atau kita melakukan apapun dalam kehidupan kita, perhatiin Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Bapak-Ibu lakukan untuk siapa? Kalau kita melakukan untuk kesenangan diri kita sendiri termasuk pujian seperti yang ada di dalam dunia bukan untuk Tuhan Allah, sampai di surga saya yakin kita akan menjadi orang yang susah sekali hatinya karena apa kita tidak bisa menyanyikan itu lagi dalam hidup kita. Alkitab bilang semua hal pujian dalam dunia yang tidak berkaitan dengan Tuhan Allah itu akan dimusnahkan oleh Tuhan Allah dan tidak ada lagi, yang ada adalah pujian yang ditujukan kepada Allah kepada Anak Domba Allah. Makanya di dalam Wahyu 14:1, kalau Bapak-Ibu baca, di sorga orang-orang memuji Anak Domba Allah dalam kehidupan mereka, itu yang akan terjadi. Karena itu saya harap kita mulai memikirkan ya, pujian yang kita naikkan kepada Tuhan itu seperti apa. Ibadah yang kita persembahkan kepada Tuhan itu seperti apa. Apakah sesuatu yang bersumber dari hati yang berdasarkan respon kita kepada penebusan Kristus apa tidak? Kalau tidak, saya percaya kita harus cepat mengubah itu, memperbaiki kerohanian kita, menata hati kita untuk Tuhan dan baru kita ibadah kita bisa memperkenan Tuhan Allah. Dan pada waktu kita melakukan ini, di dalam Ibrani 2:12 ada suatu hal yang menarik yang penulis Ibrani katakan, pada waktu kita melakukan itu semua, ibadah kepada Tuhan, pujian dari hati, maka penulis Ibrani berkata Yesus sendiri sedang memuji Bapa-Nya melalui mulut kita. Kita coba buka ya Ibrani 2:10-12. Pada waktu kita memuji Tuhan dari hati maka yang terjadi adalah, penulis Ibrani berkata, Kristus sendiri memuji melalui diri kita kepada Bapa yang di surga. Itu adalah sesuatu yang luar biasa sekali yang Tuhan boleh kerjakan melalui anak-anakNya.

Terakhir, pada waktu Alkitab berkata, “dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani,” bernyanyilah dalam kidung pujian dan nyanyian rohani itu di dalam bahasa inggrisnya adalah berkatalah di dalam psalms, hymn, dan spiritual songs, maksudnya adalah di dalam kita memuji Tuhan kita bisa ada 3 hal atau 3 pujian yang kita bisa naikkan: yang pertama adalah mazmur yang ada di dalam Perjanjian Lama, yang kedua adalah hymne, hymne itu berkaitan dengan karya Kristus yang menebus dosa kita. Pada waktu kita menaikkan pujian yang berkaitan dengan karya penebusan Kristus itu adalah hymne. Sedangkan spiritual song atau pujian nyanyian rohani itu berbicara mengenai respon kita kepada Tuhan Allah di dalam pujian. Pada waktu kita memuji Tuhan kita bisa baik itu menggunakan mazmur, atau menggunakan lagu hymn, atau menggunakan lagu yang memiliki respon pribadi terhadap apa yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita. Itu adalah suatu pujian yang bisa kita naikkan kepada Tuhan. Dan ini adalah hal yang Tuhan senangi melalui kehidupan kita anak-anakNya. Saya akan berhenti disini mari kita masuk didalam doa.

Kami kembali bersyukur Bapa, untuk firmanMu. Kami bersyukur untuk apa yang Tuhan boleh nyatakan mengenai pujian dan seperti apa kami harus naikkan pujian di hadapan Tuhan. Kiranya Engkau boleh makin menguduskan kami dan pengertian kami di dalam memuji Tuhan, sehingga kami boleh bersatu hati dengan anak-anakMu didalam memuji dari dalam hati kami. Kiranya apa yang kami persembahkan kepada Tuhan boleh menjadi sesuatu yang berkenan di hadapan Tuhan. Sekali lagi kami berdoa hanya di dalam AnakMu Yesus Kristus Tuhan kami. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *