Relasi Tuan dengan Hamba, 12 Januari 2020

Ef. 6:5-9

Pdt. Dawis Waiman, M. Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita berbicara mengenai relasi antara tuan dan hamba di dalam suatu kehidupan yang ada di dalam dunia ini, maka prinsipnya adalah tetap sama dengan prinsip yang kita telah bahas sebelumnya, yaitu seorang tuan dan hamba atau seorang tuan dan pekerja di dalam kehidupan Kristen itu harus baru bisa dijalankan kalau kita memegang prinsip yang namanya kita dipenuhi oleh Roh Kudus. Kalau kita melihat keadaan di dalam dunia ini maka permasalahan antara tuan dan pekerja, atau bos dengan pekerja, kelihatannya itu permasalahan yang tidak pernah selesai, dari tahun demi tahun yang kita lalui dalam kehidupan kita. Kalau misalnya kita bisa lihat dari setiap hari buruh tiba, biasanya buruh-buruh akan adakan demonstrasi untuk menuntut upah yang lebih tinggi mungkin, atau menuntut hal-hal lain yang merupakan kebijakan dari pada perusahaan yang berpihak kepada diri mereka.Kalau kita melihat misalnya pada waktu ada kebijakan perusahaan yang tidak baik di keluarkan atau tidak berpihak sepertinya dengan buruh atau sepertinya merugikan buruh, maka saat itu para pekerja atau buruh mulai akan mengadakan suatu boikot terhadap pimpinannya atau mengadakan penghentian massal dari pada pekerjaan mereka untuk mereka demonstrasi. Salah satu contohnya kita bisa lihat, kalau misalnya ada, apa itu, gojek online ada masalah, mereka biasanya kemudian akan stop lalu kemudian mereka demonstrasi, kita yang berusaha untuk order enggak ada satupun yang menyambut orderan itu, baik mereka yang berinisiatif atau merekapun yang terlibat di situ mereka takut untuk kalau menyambut atau menerima panggilan mereka akan di-ekskomunikasi atau mereka akan mengalami suatu penolakan dari teman-teman mereka yang lain. Jadi ada suatu perselisihan antara tuan atau boss dengan pekerja, ada suatu ketidaksepakatan seringkali antara tuan dengan para pekerja yang mereka hire atau mereka pekerjakan di dalam perusahaan mereka.

Nah apa yang menyebabkan adanya ketidak sepemahaman ini, dan adanya penolakan, adanya demonstrasi di dalam pekerjaan tersebut? Saya pikir yang mendasari itu pertama adalah, ada satu greediness, ada satu kerakusan di dalam hati baik pekerja maupun yang menjadi boss terhadap uang. Pada waktu seorang boss mempekerjakan karyawan, dalam pikiran mereka adalah, “Saya harus mempekerjakan karyawan semaksimal mungkin, dia harus bekerja dengan sebanyak mungkin waktu, dengan seberat mungkin,” dengan upah yang ia bayar seminimal mungkin, supaya apa? Supaya dia bisa diringankan di dalam perkerjaan dia, dan dia bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari karyawan yang bekerja dengan upah minimum tapi hasil yang baik di dalam perusahaan mereka. Tetapi bagi karyawan, pada waktu mereka bekerja dalam pemikiran mereka adalah, “Saya tidak mau berkerja seperti yang diberikan di dalam peraturan perusahaan, karena apa itu sepertinya merugikan kalau bisa adalah, saya bekerja dengan waktu yang lebih sedikit, upah gaji yang lebih banyak, dan lebih santai dalam tuntutan,” supaya apa? Intinya “saya bisa menikmati pekerjaan saya, hasil yang saya capai di dalam pekerjaan saya yang saya lakukan.” Kalau kita lihat di dalam relasi antara tuan dan hamba di dalam pekerjaan atau boss dengan karyawan di dalam pekerjaan, maka dibalik itu umumnya yang memotivasi mereka membuat suatu peraturan atau memberikan kebijaksanaan, kebijakan di dalam perusahaan mereka itu dasarnya adalah uang, termasuk kita yang bekerja adalah ingin mencari uang, dan sebanyak mungkin ingin mencari uang. Ditambah lagi ketika konsumerisme itu masuk di dalam budaya kita, dan kita melihat adanya materi dan pengejaran akan kebahagiaan hidup itu dengan segala fasilitas yang kita miliki di dalam kehidupan kita, maka itu mendorong rasa keserakahan, rasa keserakahan di dalam hidup kita itu makin besar lagi. Dan ditambah lagi bukan hanya keserakahan, keegoisan diri yang ingin dihargai, yang ingin dipentingkan, yang tidak ingin dirugikan di dalam kehidupan kita, itu membuat seolah-olah di dalam masyarakat antara seorang boss dengan karyawan itu menjadi masalah yang tidak terselesaikan. Bagaimana menyelesaikan masalah ini? Mengapa saya katakan sepertinya tidak terselesaikan? Mungkin tidak diselesaikan? Saya percaya itu mungkin saja bisa diselesaikan tetapi kuncinya itu bukan kepada sistem yang dibuat di dalam pemerintahan yang mengatur antara karyawan dengan boss yang mempekerjakan mereka, kalau itu adalah sesuatu yang diatur oleh pemerintahan, oleh suatu sistem tertentu, buktinya sampai hari ini tetap ada penolakan-penolakan yang terjadi yang tidak pernah ada suatu kepuasan sama sekali. Kecuali kalau mungkin masuk ke dalam komunisme kali, mereka pun tidak berani menolak sama sekali ataupun memberontak, semuanya diatur dengan secara ketat dan tegas dan keras kepada bawahan dan masyarakat yang ada.

Tetapi di dalam Alkitab, Alkitab mengajarkan prinsip bahwa ada kepemilikan, ada upah yang diberikan sesuai dengan pekerjaan yang ia kerjakan, ada penghargaan itu yang Alkitab ajarkan di dalam kehidupan kita. Sehingga di situ kita bisa melihat bahwa ketika Tuhan memberikan suatu talenta tertentu kepada orang dan ia menggunakan talenta itu atau kemampuan yang dia miliki, dia berhak untuk mendapatkan upah, dan upah yang ia dapatkan itu berbeda dari upah yang orang lain dapatkan berdasarkan kemampuan yang mereka miliki dalam kehidupan mereka dan kualitas yang mereka kerjakan di dalam kehidupan mereka. Dan keseragaman atau ke-sama rata-an dalam pengertian keadilan itu bukan sesuatu yang Alkitab ajarkan. Makanya di dalam Alkitab ada prinsip upah yang diberikan kepada orang yang dipercaya lima talenta, dua talenta dan satu talenta; orang yang diberikan lima talenta mereka kemudian mengusahakan lima talenta dan menghasilkan lima talenta, lalu Tuhan berkata, “Engkau adalah hamba yang baik dan setia.” Pada waktu seorang yang memiliki dua talenta mengusahakan dua talenta, dan bukan tiga talenta atau lima talenta tetapi dua talenta karena mereka hanya memiliki dua talenta, Tuhan tetap memberikan pujian yang sama kepada hamba yang memiliki dua talenta seperti hamba yang mengusahakan lima talenta. Tapi pada waktu hamba yang satu talenta tidak bekerja tetapi memendam talenta itu, menyimpannya dan menganggap tuannya sebagai tuan yang jahat, disitulah Tuhan kemudian menuntut hamba itu karena dia tidak menggunakan bakat, potensi, karunia atau talenta yang Tuhan berikan dalam kehidupan dia. Jadi dalam prinsip Alkitab, keadilan itu bukan berarti pukul rata semua, tetapi orang dihargai berdasarkan karunia atau talenta yang diberikan pada diri dia, itu namanya keadilan.

Nah pada waktu kita berbicara mengenai ini dan bicara mengenai suatu mungkin hukum yang bersifat mernyamaratakan dan hukum yang mengatur segala suatunya, saya percaya prinsip Alkitab itu lebih bisa lebih tepat untuk dijalankan dan baru bisa menghasilkan hasil seperti yang diharapkan. Sistem tidak akan bisa memberikan suatu pengaturan yang betul-betul baik kepada masyarakat atau antara relasi tuan dan pekerja yang ada di dalam dunia ini, karena kuncinya itu bukan pada sistem, walaupun sistem diperlukan tetapi kuncinya adalah pada hati masing-masing orang. Pada waktu kita memiliki sistem yang baik sekali, dengan peraturan yang begitu baik, dengan hukuman yang begitu keras bagi orang yang melanggar sistem yang ada, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya tanya kejahatan masih ada tidak? Akal untuk berusaha untuk mengakali sistem demi keuntungan diri masih ada tidak? Usaha untuk menindas pekerja, karyawannya untuk mendapatkan keuntungan yang besar bagi perusahaan dan untuk bagi bosnya ada tidak? Tetap ada. Jadi prinsipnya itu bukan terletak pada sistem, walaupun sistem itu adalah hal yang diperlukan tetapi prinsipnya adalah hati dari tuannya dan hati dari karyawannya. Ini sebenarnya sama dengan prinsip di dalam kita membangun keluarga. Di dalam membangun hubungan suami istri ataupun di dalam membangun sebuah keluarga, relasi antara orang tua dengan anak-anaknya, dan prinsipnya itu apa? Prinsipnya itu adalah seorang itu harus dipenuhi oleh Roh Kudus dalam kehidupan dia baru yang namanya relasi yang baik antara suami istri bisa terjadi, antara orang tua dengan anak bisa terjadi, antara tuan dan karyawan itu bisa terjadi.

Dan pada waktu berbicara mengenai prinsip dipenuhi oleh Roh Kudus itu maka ada dua hal yang penting yang tidak bisa kita abaikan dan Kitab Suci nyatakan, yaitu kebenaran mengenai adanya otoritas dan adanya yang tunduk atau submit. Antara hubungan suami dan istri misalnya, suami menjadi kepala, istri taat kepada suami. Pada waktu kita melihat relasi antara orang tua dengan anak, orang tua menjadi yang berotoritas, anak yang taat kepada orang tua dan menghormati orang tua. Begitupun pada waktu kita berbicara mengenai relasi antara bos dan karyawan, maka bos menjadi yang berotoritas dan karyawan yang tunduk dan taat kepada apa yang menjadi kehendak bosnya atau tuannya tersebut. Jadi ada prinsip seperti ini. Tetapi Alkitab juga berkata, seseorang yang dipenuhi oleh Roh Kudus di dalam pasal yang ke 5 ayat 21 dikatakan mereka adalah “orang yang merendahkan diri seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.” Jadi pada waktu seorang berkata, “Saya berotoritas di dalam keluarga,” maka di situ dikatakan suami tidak bisa memperlakukan istrinya semau-maunya sendiri tetapi dia harus melayani istrinya. Otoritasnya adalah otoritas yang melayani, otoritas yang menjadi teladan. Pada waktu orang tua berkata, “Aku memiliki otoritas kepada anak-anakku,” maka orang tua juga tidak bisa memperlakukan anak sebagai manusia level yang kedua, yang tidak penting atau kurang penting dalam kehidupan mereka, tetapi dia harus menggunakan otoritasnya untuk mendidik dan mengajar dan bahkan membawa anak menghormati mereka, dan tidak boleh membuat anak marah di dalam kehidupan mereka kepada orang tua.

Dan ini adalah suatu perintah yang Alkitab katakan walaupun di satu sisi patēr itu bisa ditunjukkan dalam pengertian papa dan mama tetapi otoritas ini Alkitab mengatakan otoritas ini diberikan secara khusus kepada papa. Kenapa papa? Saya sudah singgung di dalam minggu lalu karena papa yang menjadi pemimpin, papa yang menjadi leader, papa harus mengerti apa yang menjadi kondisi rohani mama, istrinya, papa harus menjadi teladan di dalam kerohanian bagi anak anaknya. Signifikannya dari mana? Pertama itu adalah pengajaran Kitab Suci. Penting enggak? Penting! Pentingnya dimana? Kenapa enggak cukup mama saja yang setia, mama yang mendidik anak, kenapa papa juga? Dan ini yang ingin saya katakan tadi. Kemarin ada Pak David Tong itu kirim suatu artikel yang ditulis oleh seorang Katolik atau dari gereja Katolik melalui penelitian yang mereka lakukan. Lalu mereka katakan seperti ini, mereka mendapatkan kalau yang setia kepada Tuhan itu mamanya saja, dia rajin beribadah, dia rajin ke gereja dengan tekun sekali, maka anak yang datang ke gereja itu kemungkinan 1 dari 50 anak, baik dia adalah seorang yang rajin didalam ibadah atau yang jarang-jarang datang ke dalam gereja, tetapi yang pasti adalah 1 dari 50 akan datang. Berapa persen? 2%. Tetapi kalau yang rajin itu papanya juga, papanya suka datang ke gereja beribadah kepada Tuhan maka anak yang akan datang ke gereja itu adalah 2/3 atau 3/4 dari anak yang ada. Apakah itu seorang yang memang rajin, rutin yang tiap minggu datang, atau yang jarang-jarang datang ke gereja. Ini adalah suatu statistik yang diteliti dari gereja Katolik, lalu mereka menulis makalah ini atau menulis semacam artikel ini untuk kita bisa mengerti. Lalu di situ disimpulkan bagaimana? Mereka menyimpulkan, ini yang menarik, jadi kalau kita ingin anak-anak kita tidak meninggalkan gereja pada waktu mereka dewasa, kita ingin mereka tetap berbakti kepada Tuhan, kita ingin mereka memilki iman yang takut kepada Tuhan, maka pembinaannya yang dilakukan selama ini mungkin salah. Kalau kita ingin anak kita itu menjadi seorang yang takut akan Tuhan, umumnya gereja akan menjangkau anak dan membina anak, tapi dia katakan di dalam artikel ini mungkin seharusnya yang gereja lakukan saat ini adalah membina papanya supaya papanya mengerti firman, hidup di dalam takut akan Tuhan, dan rajin berbakti kepada Tuhan, baru di situ menjadi contoh bagi anak untuk beribadah kepada Tuhan dan tidak meninggalkan gereja dalam hidup mereka. Jadi saya pikir satu sisi kita mengerti signifikansi dalam Kitab Suci bahwa papa yang menjadi otoritas, papa yang menjadi contoh, papa yang menjadi seorang yang pemimpin di dalam keluarga dan di dalam kehidupan istri dan anak anaknya, tapi kita mengerti tanggung itu sebagai hanya sebagai tanggung jawab mungkin, kita berpikir sering kali, “enggak apa-apa kok, mama yang ada di situ, mama yang didik, maka anak saya akan tumbuh dengan baik-baik.” Saya berfikir anak kita tumbuh dengan baik itu adalah anugerah Tuhan, tetapi realita yang lebih tajam dan lebih jelas adalah kalau kita melawan prinsip Tuhan maka kemungkinan anak kita tidak berbakti kepada Tuhan dan meninggalkan Tuhan. Mungkin tidak sekarang tetapi pada waktu mereka dewasa dan pada waktu mereka bisa mengambil suatu keputusan bagi mereka sendiri. Jadi itu sebabnya pada waktu kita melihat kepada relasi antara orang tua dan anak, saya percaya kenapa papa bisa betul-betul hidup beribadah? Kenapa bisa belajar mengasihi istrinya? Kenapa mama bisa belajar taat kepada suaminya? Kenapa papa dan mama bisa belajar untuk mendidik anak di dalam takut dan hormat kepada orang tua dan anak dididik di dalam takut akan Tuhan? Jawabannya karena sama-sama mau menundukkan diri dibawah kendali Roh Kudus di dalam hidup mereka, dan sama-sama ketika dibentuk hidup di dalam kendali dari Roh Kudus mereka hidup berdasarkan prinsip saling melayani satu dengan yang lain, saling merendahkan diri satu dengan yang lain atau mendahulukan diri yang lain daripada kepentingan diri sendiri, baru dari situ keluarga yang berkenan di hadapan Tuhan, relasi suami dan istri yang berkenan di hadapan Tuhan, yang bisa menjadi kesaksian yang baik, itu bisa terjadi dalam kehidupan keluarga.

Begitupun juga dengan kehidupan antara tuan dan karyawan. Kalau seandainya masing-masing berjalan berdasarkan egoisme diri, masing-masing menjadikan keserakahan menjadi tujuan di dalam kehidupan mereka, saya yakin itu tidak akan tercapai relasi yang baik antara tuan dan karyawan. Tapi pada waktu seseorang ingin menyangkal diri untuk kepentingan karyawan, dan karyawan belajar untuk menyangkal diri untuk kepentingan tuannya dalam satu relasi yang saling melayani dan mendahulukan kepentingan masing-masing, saya percaya itu ndak mungkin terjadi kalau Roh Kudus tidak memperbarui hatinya, tujuannya, motivasinya, arah hidupnya, dan nilai hidupnya; dan kalau dia tidak memiliki satu hati yang ingin tunduk kepada Tuhan dan menjadikan firman Tuhan tergenapi di dalam kehidupan dia, itu ndak mungkin terjadi. Makanya tadi saya katakan di awal, baik prinsip di dalam membangun relasi suami-istri, keluarga, maupun tuan dan karyawan, itu adalah relasi yang harus dibangun di bawah kendali Roh Kudus atau dalam kehidupan manusia yang baru. Dan saya percaya, ini adalah sesuatu yang harusnya diusahakan oleh orang Kristen, harusnya dilakukan oleh orang Kristen, karena apa? Karena kitalah yang diberi kuasa untuk hidup seperti ini. Tuhan ingin kita menjadi saksi bagi dunia, bagaimana memiliki suatu keluarga yang benar, yang baik, memiliki relasi antara orang tua dan anak yang baik, dan memiliki relasi antara tuan dan hamba yang baik dalam kehidupan kita. Dan pada waktu berbicara mengenai relasi, sebenarnya kita bisa lihat ini adalah suatu kesatuan, karena apa? Karena di dalam konteks saat itu, dalam jaman itu, sebenarnya pekerja tidak lepas dari keluarga juga. Ini yang dimaksud sebagai karyawan atau hamba, ini adalah hamba yang ada di dalam keluarga, yang bekerja untuk keluarga, untuk papa, mama, dan anak-anaknya. Dan itu adalah sesuatu yang harus kita bisa terapkan di dalam kehidupan keluarga kita. Walaupun, ini adalah suatu kondisi yang ada di dalam konteks keluarga, mungkin kalau kita lihat, seperti kita dengan pembantu di dalam rumah seperti itu, tetapi pembantu dalam rumah bukan cuma urusan rumah, mereka juga membantu tuannya di dalam mungkin menjaga anak, di dalam mengerjakan hal-hal yang harus dikerjakan di dalam usaha dalam keluarga tersebut. Jadi, walaupun ini adalah suatu relasi yang prinsipnya di dalam keluarga, tetapi sebenarnya juga prinsip yang ada di dalam relasi antara pekerja dengan tuannya itu adalah suatu prinsip yang bisa kita terapkan di dalam relasi ketika kita bekerja dengan orang lain, apakah dia adalah orang yang takut Tuhan atau orang yang tidak takut Tuhan, dan relasi antara kita sebagai tuan atau sebagai yang memiliki pekerjaan, yang mempekerjakan orang lain sebagai karyawan kita, itu prinsipnya sama.

Nah, sekarang kita masuk ke dalam bagian ini, pada waktu kita berbicara mengenai relasi antara pekerja dan tuannya, Paulus berkata, “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati sama seperti kamu taat kepada Kristus.” Istilah yang digunakan oleh Paulus di sini adalah antara tuan dan hamba. Tuan itu siapa? Di situ sebagai master, sebagai seorang yang berkuasa. Lalu hamba itu siapa? Hamba di dalam bahasa aslinya berbicara mengenai dia adalah seorang budak. Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa Alkitab menggunakan bahasa tuan dan budak di dalam relasi antara tuan dan karyawan? Apakah Alkitab melegalkan adanya perbudakan di dalam kehidupan orang Kristen? Dan apakah saat ini itu berarti kita juga boleh melegalkan kehidupan perbudakan itu, atau itu justru sesuatu yang harus dikecam dan disingkirkan apalagi kita hidup dalam jaman sekarang ini yang tidak lagi menyetujui adanya perbudakan, sehingga Alkitab kita tidak relevan lagi? Saya percaya kuncinya itu bukan di istilah budak dan tuan, tuan dan hamba, tetapi kuncinya itu adalah di dalam relasi yang ada di dalam pengertian tuan dan hamba itu. Di dalam Alkitab, ketika kita berbicara mengenai kata tuan dan budak, atau tuan dan hamba, konsep kita mengenai hubungan tuan dan hamba itu jangan sampai salah. Banyak orang yang hidup di dalam jaman sekarang melihat Kekristenan itu melegalkan adanya relasi perbudakan di dalam kehidupan mereka sebagai sesuatu yang betul-betul jelek, yang hina, yang harusnya dijauhkan. Karena apa? Karena di dalam konotasi mereka konsep tuan dan budak itu sebagai sesuatu yang kejam, sesuatu penindasan, sesuatu yang jahat, sesuatu yang tidak menghargai nyawa atau gambar Allah di dalam kehidupan manusia yang menjadi budak tersebut, sehingga tuannya bisa berlaku sewenang-wenang untuk menindas, menekan, merendahkan dan bahkan mengorbankan mereka tidak lebih berharga dari seekor binatang dan alat untuk dipekerjakan. Ini bukan konsep Alkitab, walaupun Alkitab ketika berbicara mengenai tuan dan budak itu sepertinya ada bagian yang melegalkan adanya budak di dalam kehidupan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Allah.

Saudara boleh buka di dalam Keluaran 22:1-3, “Apabila seseorang mencuri seekor lembu atau seekor domba dan membantainya atau menjualnya, maka ia harus membayar gantinya, yakni lima ekor lembu ganti lembu itu dan empat ekor domba ganti domba itu. Jika seorang pencuri kedapatan waktu membongkar, dan ia dipukul orang sehingga mati, maka si pemukul tidak berhutang darah; tetapi jika pembunuhan itu terjadi setelah matahari terbit, maka ia berhutang darah. Pencuri itu harus membayar ganti kerugian sepenuhnya; jika ia orang yang tak punya, ia harus dijual ganti apa yang dicurinya itu.” Jadi ketika kita baca bagian ini, seolah-olah ini adalah suatu persetujuan menjual seseorang untuk menjadi seorang budak, menggantikan apa? Barang curian yang dia tidak bisa tebus dan dia tidak bisa bayar dalam kehidupan dia. Lalu boleh buka Imamat 25:44-45, “Tetapi budakmu laki-laki atau perempuan yang boleh kaumiliki adalah dari antara bangsa-bangsa yang di sekelilingmu; hanya dari antara merekalah kamu boleh membeli budak laki-laki dan perempuan. Juga dari antara anak-anak pendatang yang tinggal di antaramu boleh kamu membelinya dan dari antara kaum mereka yang tinggal di antaramu, yang dilahirkan di negerimu. Orang-orang itu boleh menjadi milikmu.” Pertanyaannya adalah, Alkitab setuju perbudakan? Kalimat ini sepertinya Alkitab menyetujui perbudakan, tetapi sebenarnya kalau Saudara perhatikan relasi yang kemudian Alkitab munculkan di antara tuan dan hamba, sebenarnya istilah perbudakan yang dimaksudkan di sini itu berbeda sekali dengan konsep orang-orang sekarang melihat perbudakan yang kejam. Sebenarnya pada waktu Alkitab menggunakan istilah tuan dan budak di sini, itu dalam konotasi antara seorang tuan dan pekerja yang ada di dalam jaman kita saat ini, bukan di dalam konteks tuan punya otoritas, tuan punya kekuasaan, tuan bisa berlaku sewenang-wenang kepada budaknya untuk memperlakukan budaknya seperti seekor binatang atau lebih rendah dari seekor binatang, mencambuk dia, memukul dia, dan bahkan membunuh diri dia dan tuannya tidak masalah sama sekali. Bukan seperti itu. Karena apa ? Kalau Saudara baca kelanjutan dari pada Imamat 25, dan Saudara melihat di dalam konteks-konteks dari Keluaran pasal 22 dan 21, dan yang bagian lainnya, maka Saudara akan melihat sebenarnya Tuhan bukan sedang melegalkan perbudakan seperti konsep yang penindasan tersebut, tetapi Tuhan sedang menjaga relasi antara pemilik budak dan budak yang ada pada zaman itu, yang menjadi sesuatu yang normal, yang ada di dalam zaman kehidupan orang-orang Israel, zaman Alkitab tersebut.

Tetapi ketika mereka hidup sebagai relasi antara tuan dan budak di dalam umat Allah, dengan tuan dan budak di antara orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, ada perbedaan yang sangat drastis sekali. Antara regulasi yang Tuhan sedang berikan kepada orang-orang yang merupakan umatNya, ketika mereka memiliki seorang budak, mereka tidak boleh memperlakukan budak itu seperti orang dunia memperlakukan budak mereka, atau orang yang tidak percaya memperlakukan budak mereka dengan kejam. Kenapa saya bisa berkata seperti ini? Karena ada beberapa ayat misalnya, kalau Saudara buka di dalam Keluaran pasal 21:16, kalau di zaman sekarang, penjualan manusia dengan adanya ras yang ada atau warna kulit, itu bisa sepertinya melegalkan suatu perbudakan, seperti itu, tetapi di dalam Alkitab berkata seperti ini, “Siapa yang menculik seorang manusia, baik ia telah menjualnya, baik orang itu masih terdapat padanya, ia pasti dihukum mati.” Jadi jual beli manusia, boleh tidak? Jawabannya tidak boleh. Lalu misalnya kalau Saudara buka di dalam Imamat 25 yang tadi, kalau Saudara baca di dalam konteks sebelumnya. Bukan di dalam konteks sebelumnya, di dalam ayat-ayat sebelumnya, dari ayat yang 44 yang kita baca itu, ada kalimat seperti ini, di dalam ayat, misalnya dari ayat 39 saja ya. Imamat 25 ayat ke-39, “Apabila saudaramu jatuh miskin di antaramu, sehingga menyerahkan dirinya kepadamu, maka janganlah memperbudak dia. Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel, ia harus bekerja padamu. Kemudian ia harus diizinkan keluar dari padamu, ia bersama-sama anak-anaknya, lalu pulang kembali kepada kaumnya dan ia boleh pulang ke tanah milik nenek moyangnya. Karena mereka itu hamba-hambaKu yang Kubawa keluar dari Tanah Mesir, janganlah mereka itu dijual, secara orang menjual budak. Janganlah engkau memerintah dia dengan kejam, melainkan engkau harus takut akan Allahmu. Tetapi budakmu laki-laki atau perempuan yang boleh kaumiliki adalah dari antara bangsa-bangsa yang di sekelilingmu; hanya dari antara merekalah kamu boleh membeli budak laki-laki dan perempuan.” Ini sepertinya ada suatu ini ya, peraturan ganda, “O kalau sesama orang Israel boleh pekerjakan mereka, tapi engkau harus melepaskan mereka di tahun Yobel. Kamu tidak boleh memperlakukan mereka dengan kejam, tapi pada waktu kita berbicara mengenai budak dari orang asing, bukan dari keturunan Israel, kita boleh membeli mereka, kita boleh memperbudak mereka,” begitu tidak ? Saya berpikir, prinsipnya bukan dalam pengertian tadi, dengan kejam, prinsipnya adalah sama, kita tidak boleh memperlakukan mereka dengan kejam, tetapi prinsip yang lainnya adalah juga pada waktu kita mempekerjakan mereka di dalam kehidupan umat Allah pada waktu itu, konteksnya adalah orang-orang asing itu tidak punya tanah warisan untuk dikerjakan. Kalau mereka tidak punya tanah warisan untuk dikerjakan, sedangkan konteks zaman itu hidup di dalam agrikultur, bagaimana mereka bisa hidup? Bagaimana mereka bisa memiliki penghasilan dalam kehidupan mereka? Itu tidak mungkin. Itu membuat mereka harus bekerja dengan umat Allah yang memiliki usaha dalam kehidupan mereka. Tetapi pada waktu mereka bekerja pada umat Allah, perlakuan dari tuannya kepada anak buahnya itu, atau hambanya itu, tetap sekali lagi bukan sesuatu yang jahat tetapi yang baik. Dari mana? Kalau Saudara baca di dalam ayat berikutnya, ayat 47, “Apabila seorang asing atau seorang pendatang di antaramu telah menjadi mampu, sedangkan saudaramu yang tinggal padanya jatuh miskin, sehingga menyerahkan dirinya kepada orang asing atau pendatang yang di antaramu itu atau kepada seorang yang berasal dari kaum orang asing,” artinya apa? Orang asing yang tinggal bersama-sama dengan orang Yahudi atau umat Allah, bekerja dengan mereka sebagai seorang budak, kok bisa menjadi orang yang mampu? Kalau dia adalah seorang budak mana mungkin mampu? Dia akan ditindas, ditekan, semua hidupnya milik tuannya, tapi ini bisa menjadi mampu dan bahkan bisa mempekerjakan orang Yahudi atau umat Allah. Dan di situ dikatakan kalau sampai dia dipekerjakan, saudaranya harus menebus dia. Jadi ada prinsip seperti ini di dalam Alkitab.

Lalu misalnya Saudara juga boleh buka dari Ulangan 23:15, 16, “Janganlah kauserahkan kepada tuannya seorang budak yang melarikan diri dari tuannya kepadamu. Bersama-sama engkau ia boleh tinggal, di tengah-tengahmu, di tempat yang dipilihnya di salah satu tempatmu, yang dirasanya baik; janganlah engkau menindas dia.” Jadi kalau ada seorang budak yang bekerja pada tuan sebelumnya, dia merasa tuannya itu kejam, jahat, memperlakukan dia dengan tidak baik, lalu dia melarikan diri dari tuannya, misalnya ke saya, saya boleh tidak kembalikan budak itu ke tuannya? Alkitab ngomong tidak boleh. Dan bahkan ada ayat yang berkata seperti ini, “Barang siapa diantara umat Allah yang ketika berlaku jahat atau memukul budaknya atau menyakiti budaknya lalu budaknya menjadi cacat matanya atau bagian tubuh lainnya ada yang cacat, maka dia harus melepaskan budak itu sebagai orang merdeka dan dia tidak boleh lagi memperlakukan dia sebagai seorang budak. Dan ketika dia pergi ke tuan yang lain dan bekerja di tuan yang lain maka tuan yang lain itu tidak boleh mengembalikan budak ini kepada tuan sebelumnya, dia boleh memilih sendiri mau bekerja kepada siapa, tuan yang mana yang baik, yang memberikan tempat yang baik bagi dirinya dan bagi dia adalah sesuatu yang menyenangkan mungkin, dia boleh tinggal di situ dan bekerja di situ.” Ini adalah peraturan yang Tuhan berikan kepada budak-budak yang ada diantara umat Allah yang ada di zaman Perjanjian Lama.

Begitupun juga di zaman Perjanjian Baru. Di dalam Perjanjian Baru, misalnya Saudara boleh buka 1 Timotius 1. Prinsipnya sama ya, sebenarnya kita tidak boleh memiliki budak dalam konsep memperjualbelikan, menindas mereka, dan menekan mereka. 1 Timotius 1:9, 10, “Yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat.” Di situ ada kata “bagi penculik,” penculik itu berbicara mengenai suatu perdagangan manusia untuk memperbudak mereka. Jadi Alkitab melarang hal ini. Kalau begitu, pertanyaannya adalah kalau Tuhan mengizinkan sepertinya ada tuan dan budak diantara umat Allah, lalu Tuhan kemudian berkata, “Engkau harus memiliki relasi yang baik di dalam hubungan tuan dan budak itu, ada waktu tertentu budak ini bisa dilepaskan dari antara orang Israel,” maka hubungan seperti apa antara tuan dan budak diantara umat Allah tersebut? Apakah itu adalah sesuatu yang rendah, sesuatu yang harusnya kita sangkali dan kita tidak boleh terapkan di dalam zaman kita? Jawabannya tidak, justru kehidupan budak saat itu dalam relasi antara budak dan tuan itu mirip sekali dengan kehidupan antara karyawan dan tuan pada zaman kita. Misalnya, kalau kita buat suatu perusahaan, lalu kita mencari karyawan untuk bekerja dengan diri kita, kita dapat karyawan tetapi bosnya yang kira-kira pemimpin dari karyawan-karyawan kita itu sembarang orang nggak? Kebanyakan tidak, pemimpin itu tidak mau melatih dari nol tetapi mau meng-hijack karyawan orang yang sudah pintar. Dia cari perusaahaan lain yang memiliki karyawan yang baik atau seorang leader yang baik di situ, tetapi pekerja, lalu dia cari tahu gajinya berapa, lalu dia ngomong kepada orang itu, “Kamu mau nggak kerja sama saya? Gajimu berapa?” Misalnya, 100 juta. “Tak kasih 200 juta mau nggak kamu kerja sama saya?” Lalu orang ini ketika dia mau bekerja dengan diri dia, tuan ini harus membayar uang senilai yang diminta oleh orang itu untuk bekerja dengan diri dia, itu terjadi pada zaman Perjanjian Lama. Ada budak yang datang kepada tuannya menjual diri dia dengan nilai tertentu, mungkin karena dia sedang terlilit hutang atau kehidupan yang keluarga yang perlu penuhi dan tidak bisa. Dia menjual diri dia dengan nilai tertentu dan harus bekerja dengan tuannya dengan sekian lama waktu untuk bisa membayar nilai yang dia peroleh dengan perjanjian tersebut. Lalu misalnya, bagaimana dengan suatu kehidupan jual beli budak antara tuan yang satu dengan tuan yang lain? Boleh enggak dilakukan? Zaman kita ada enggak sikap seperti ini atau  perlakuan seperti ini? Saya yakin ada. Contohnya apa? Dalam dunia olahraga. Ada tim sepakbola, ada basket dan yang lain-lain. Kalau ada pemain yang betul-betul hebat di situ lalu ingin diambil oleh grup pemain yang lain, yang dia lakukan apa? Mungkin dia bikin perjanjian dengan pemain itu mengenai gajinya berapa, lalu liga yang lain itu harus membayar suatu mungkin ganti rugi kepada liga yang sebelumnya, selain daripada dia membayar orang itu dan membayar mungkin manager-nya. Ada kan. Artis juga ada manager, di mana manager yang menentukan penghasilannya.

Jadi sistem yang diajarkan oleh Kitab Suci yang Tuhan berikan pada umat Allah di dalam Perjanjian Lama itu  bukan suatu  sistem yang sepertinya aneh pada zaman kita, dan bukan suatu  sistem penindahasan seperti budak-budak yang lainnya diperlakukan  oleh orang-orang yang tidak percaya di sekitar mereka. Tapi justru Tuhan sedang memberikan suatu rule untuk dijalankan  supaya umat Allah tidak memperlakukan budaknya seperti orang-orang tidak percaya pada Tuhan, menghina, menyakiti dan membunuh budak-budaknya tersebut, tetapi mereka dijaga supaya dalam kondisi yang baik oleh peraturan Tuhan. Itu yang terjadi. Kalau begitu kenapa pakai istilah tuan dan hamba? Atau tuan dan budak? Kenapa ndak pakai istilah bos dan  karyawan? Jawabannya penting tidak? Bukan pada istilahnya yang penting itu tetapi pada relasi  yang ada di balik istilah itu. Saudara boleh punya istilkah yang benar, saya bos ada karyawan di situ dengan sistem yang benar tetapi kalau kelakuan saya kepada karyawan saya membuat mereka itu menjadi orang yang diperbudak di dalam pekerjaan saya, bisa tidak? Saya yakin bisa sekali. Caranya apa? Buat dia berkutat sama saya sampai dia nggak bisa lari, dia bekerja seumur hidup untuk saya, atau dia mungkin kita peralat tanpa batas waktu kerja, bisa. Tapi Saudara, apakah itu adalah sesuatu yang  dimaksudkan oleh Kitab Suci? Itu bukan sesuatu yang dimaksudkan oleh Kitab Suci. Saya percaya, walaupun istilah dalam Kitab Suci tuan dan budak, dalam istilah sekarang bos dan karywan, tapi kalau kelakuan dia, bosnya pada karyawannya itu seperti kelakuan  dari zaman orang-orang yang hidup dari zaman Perjanjian Lama yang dibuat dari pada umat Allah, dia mendapatkan umat Allah, bos umat Allah yang berkata dia adalah budakku tapi sungguh-sungguh takut akan Tuhan itu di dalam kondisi yang jauh lebih baik daripada dia dalam kondisi dunia yang dengan nama bos dan karyawan. Paham? Jadi kuncinya adalah pada relasi, relasi yang ada antara tuan dan hamba itu. Dan itu yang harusnya kita bangun di dalam kehidupan kita ketika kita bekerja dengan bos kita. Itu bos memperkerjakan kita sebagai karyawan, ada otoritas, ada penundukan diri, ada relasi antara tuan dan hamba, ini adalah bahasa Alkitab.

Tetapi relasi seperti apa yang  harus dibangun di dalamnya itu yang kemudian Paulus jabarkan di dalam Efesus 6:5-9? Ada beberapa hal yang Paulus ajarkan. Pertama itu adalah, ketika seseorang  hamba bekerja dengan tuannya, maka hambanya itu harus taat kepada tuannya. Taat dalam pengertian apa? Taat di dalam segala seuatu yang diminta oleh tuannya, taat melakukan apa yang tuannya perintahkan untuk diri dia lakukan. Seorang hamba harus dengarkan itu dan dia tidak boleh membantah, kalau pakai bahasa Titus, dia tidak boleh membantah, Titus 2:9, tuannya dan permintaan tuannya tersebut dia harus jalankan dan dia tidak boleh menggerutu terhadap tuannya. Jadi ini istilah hamba harus tunduk dalam otoritas tuan, dengan cara apa? Dia taat pada apa yang menjadi kehendak tuannya tersebut. Tapi bagaimana kalau tuannya jahat? Bagaimana kalau tuannya kejam? Kalau tuannya jahat dan kejam, maka seperti Perjanjian Lama, silahkan kamu boleh pergi keluar cari pekerjaan  lain dong, untuk bekerja dengan orang lain. Tapi kalau engkau kemudian memutuskan untuk tidak pergi dengan orang lain tapi engkau memutuskan untuk tetap bekerja dengan tuanmu yang sekarang, tolong tutup mulut, jangan banyak bicara, kerjakan baik-baik apa yang harus engkau kerjakan. Saudara boleh lihat ini di dalam 1 Tesalonika 4:10-12, “Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.” Bicara tentang untuk mengurus persoalan sendiri, lalu hidup dengan tenang, itu bicara mengenai apa? Satu kehidupan pekerjaan yang tidak complain, enggak menggerutu, dan yang lain-lain. Kerjakan baik-baik, taati apa yang menjadi kehendak tuanmu. Tapi kalau tuannya jahat bagaimana? Ya tadi, kalau nggak tahan, ya pergi cari tempat lain, tapi kalau engkau sudah komitmen engkau harus taat. Di mana dikatakan? Di dalam 1 Petrus 2:18, “Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.” Jadi kita harus bagaimana? Harus tunduk dan taat. Kepada siapa? Yang baik atau yang bengis juga? Bukan cuma yang baik saja, tetapi yang bengis juga. Sebab adalah kasih karunia jika kenapa? Ayat 19 kita baca sama-sama ya, “Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” Jadi kalau kita menderita karena ulah boss kita, tuan kita, dan kita dengan tekun, dengan tetap setia melayani dia, lakukan apa yang dia minta kita untuk lakukan, walaupun mungkin upahnya tidak sesuai dengan tenaga yang kita keluarkan, waktu yang kita keluarkan tetapi kita dengan setia lakukan itu karena kita tahu bahwa kita melakukan itu di hadapan Tuhan, tetap itu adalah sesuatu yang baik.

Jadi Saudara, sebagai seorang pekerja Kristen, Alkitab berkata kita pada waktu memutuskan untuk komit dengan sebuah perusahaan tertentu, atau tuan tertentu, kerjalah dengan setia, jangan banyak menggerutu, jangan banyak complain. Walaupun mungkin gajimu tidak sesuai dengan tenaga yang engkau keluarkan, kerjalah dengan setia kepada tuannya itu, taati apa yang dia perintahkan untuk engkau lakukan itu kepada diri dia. Tapi bagaimana kalau ia mengajak kita melakukan kejahatan atau sesuatu yang melanggar hukum Tuhan? Nah saya percaya di dalam aspek ini, pada waktu seorang tuan meminta kita melanggar hukum Tuhan saat itu kita boleh berkata tidak, tapi selama dia tidak mengajak kita untuk melanggar hukum Tuhan, kalau kita sudah komit untuk kerja kepada tuan ini, kerjakan dengan sebaik mungkin, taati apa yang dia kehendaki untuk kita lakukan. Yang bicara mengenai melanggar hukum Tuhan itu, seperti misalnya, pada waktu Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego, yang bekerja dari pada pemerintahan Babelonia, dia memiliki seorang raja di atas segala raja saat itu, orang yang begitu berkuasa sekali. Dan orang yang berani menolak raja punya perintah, bisa dibunuh dan dihukum  mati. Mereka tetap berkata, “Selama engkau meminta kami untuk menyembah engkau sebagai tuhan, kami enggak akan lakukan, walaupun itu berarti nyawa kami yang harus dikorbankan.” Pada waktu Petrus dan Yohanes berhadapan dengan Sanhedrin, yang meminta mereka untuk tidak memberitakan Injil mengenai Yesus Kristus lagi, mereka berkata, “Silahkan pilih sendiri, kami harus taat kepada engkau atau taat kepada Tuhan Allah!”

Jadi, saya percaya seorang Kristen punya satu prinsip: Belajar tunduk di bawah otoritas. Saya percaya kalau kita enggak pernah bisa mengerti otoritas dalam hidup kita, kita enggak sungguh-sungguh mengerti kehidupan yang takut akan Tuhan itu seperti apa. Karena pada waktu kita berbicara mengenai suatu kehidupan Kristen antara orang yang ditebus oleh Kristus dengan Kristus, Alkitab berkata kita adalah hamba dan Dia adalah Tuan, dan kita harus mentaati semua yang menjadi kehendak Tuan kita itu dalam hidup kita. Dan ekspresi itu dinyatakan dari aspek apa? Dari kehidupan kita yang taat kepada otoritas yang Tuhan tempatkan di atas diri kita. Mungkin dia bukan seorang yang layak untuk dihormati, enggak masalah tapi yang penting adalah engkau harus menghormati orang yang Tuhan tempatkan di atas hidupmu, yang memiliki otoritas atas hidupmu. Itu yang menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang pekerja atau karyawan, atau seorang hamba dalam hidup kita. Dan ini menjadi hal yang juga penting, saya percaya, karena Saudara bisa bayangkan, pada waktu mereka hidup di dalam zaman Romawi seperti itu, atau dengan pengajaran Yunani saat itu, menjadi seorang boss itu adalah orang yang nggak perlu bekerja, yang bekerja itu semua budak. Dan orang yang merdeka itu adalah orang yang tidak bekerja seperti seorang budak bekerja. Dan budak itu seperti apa? Yang hina yang rendah, yang tidak dihargai sama sekali nyawanya itu. Lalu kemudian budaknya itu mengenal Kristus. Pada waktu budaknya mengenal Kristus, dia tahu bahwa dia adalah memiliki status lebih benar dari tuannya, dia adalah orang yang dimerdekakan, dia adalah orang yang sudah menjadi anak Allah dalam kehidupan dia, dia adalah orang yang kemudian mungkin punya suatu konsep bahwa, “Saya enggak harus kok bekerja dengan tuan saya.” Mulai saat itu mereka kemudian berkata: “Aku mau berhenti dari tuanku.” Karena apa? “Dia kejam. Seharusnya kita hidup di dalam kasih, dan segala macam.” Mungkin bisa seperti itu.  Tetapi Paulus berkata, “Tidak,” seperti halnya Petrus berkata, “engkau tetap harus bekerja walaupun dia kejam, engkau harus kerja terhadap dirinya.” Nah kenapa? Saya percaya ini berkaitan dengan kehidupan kesaksian yang harus diberikan oleh orang Kristen. Ini nanti saya masih ada pengulangan seperti itu, tapi saya mau ngomong dulu di sini. Kita hidup di dalam ketaatan kepada Tuhan kita, itu adalah sesuatu kesaksian yang mengenai Tuhan kita itu siapa kepada tuan kita, atau kepada orang-orang yang merupakan sesama karyawan yang ada di sekitar kita. Jadi, orang kalau mau melihat kita punya Tuan, Tuhan yang kita sembah itu seperti apa, Alkitab berkata itu tidak mungkin terlepas dari apa yang kita lakukan di dalam kehidupan kita, sikap yang kita ambil itu seperti apa. Kalau tuannya adalah tuan yang kejam, saya yakin kita akan jadi orang yang kejam kepada orang lain. Kalau Tuan kita adalah Tuan yang mengasihi, maka kita akan belajar untuk mengasihi orang lain. Kalau Tuan kita adalah Tuan yang tunduk kepada otoritas Bapa-Nya di sorga, maka kita akan menjadi orang yang tunduk kepada otoritas tuan kita di dalam dunia ini.Itu prinsip ya. Jadi, bagaimana kita bekerja, bagaimana kita berelasi dengan tuan kita itu menjadi kesaksian: Siapa Tuhan yang kita sembah di dalam kehidupan kita.

Dan yang kedua adalah, Paulus berkata, “Bukan hanya taat kepada mereka, tetapi takutlah. Taatlah dengan takut dan gentar.” Tapi sebelum itu ada kalimat, “Taatilah tuanmu yang di dunia, dengan takut dan gentar.” Maksud dunia itu apa? Dalam bahasa Inggris itu: in the flesh – di dalam daging. Saya pikir, waktu saya renungkan, maksudnya apa ya? Iya wajar kan, ketika kita bekerja, kita bekerja di dalam dunia ini kok, di dalam kondisi tubuh yang mengandung daging ini, kita bekerja di dalam dunia ini. Kenapa di sini dikatakan, apakah ini hanya sebagai suatu istilah: “Kamu harus taat tuanmu di dalam dunia, dengan takut dan gentar”? Saya satu sisi sepertinya ya wajar, ini adalah kalimat yang wajar sekali dan tidak ada sesuatu arti yang signifikan di dalam situ. Tetapi, waktu direnungkan kembali, saya melihat ada hal yang menarik di situ. Pada waktu berbicara di dalam dunia, atau di dalam darah dan daging, itu berarti ketaatan kita kepada tuan kita itu adalah sesuatu yang sementara, bukan sesuatu yang kekal. Dan ini bukan berkaitan dengan hal yang bersifat spiritual, tetapi hanya berkaitan dengan sesuatu yang jasmani dalam kehidupan kita. Maksudnya apa? Pada waktu seseorang itu bekerja di dalam dunia, mungkin dia adalah seorang yang menjadi budak dari tuannya, tetapi ketika dia masuk ke dalam gereja, budak ini mungkin bukan menjadi budak di dalam gereja tetapi menjadi pemimpin di dalam gereja dan pemimpin tuannya. Ini hal yang menarik ya. Di dalam Galatia 3 dikatakan, ketika kita ada di dalam Kristus, tidak ada lagi yang namanya tuan, tidak ada hamba, tidak ada budak, tidak ada orang yang merdeka, tidak ada laki-laki dan tidak ada perempuan, semua kita sama di dalam Kristus. Dan salah satu peristiwa yang dicatat oleh Paulus di dalam Perjanjian Baru itu adalah suatu hal yang indah sekali, yaitu berkenaan dengan Filemon dan Onesimus. Itu adalah satu surat yang begitu pendek sekali di dalam Perjanjian Baru, hanya satu pasal saja. Tetapi di dalam pasal itu ada kalimat seperti ini, “Onesimus memang budakmu, Filemon. Dia pernah lari dari engkau dan dia ada bersama-sama dengan aku di penjara melayani aku.” Paulus berkata, “Mungkin ada baiknya dia sementara waktu dipisahkan dari engkau,” supaya apa? “Engkau sekarang bisa menerima dia sebagai saudaramu, bukan sebagai seorang budak. Mungkin dia lakukan kesalahan. Benar. Tetapi aku sebagai orang yang punya otoritas atas hidupmu,” Paulus berkata kayak gini, “kalau aku dulu muda, mungkin aku bisa ngomong, aku akan meminta engkau dengan satu hal perintah, “engkau harus terima Onesimus.” Tetapi sekarang aku sudah tua. Karena itu aku meminta engkau dengan lembut untuk menerima dia kembali. Padahal engkau yang sebenarnya juga orang yang berhutang kepada aku, hutang nyawa karena Injil yang aku beritakan kepada engkau.” Satu hal yang menarik, Saudara, tapi ini bisa terjadi di dalam gereja, saya percaya. Ini kalau Bapak-Ibu punya karyawan di luar gereja, ketika masuk dalam gereja, tolong jangan perlakukan dia sebagai karyawan, tetapi perlakukanlah dia sebagai saudara di dalam Tuhan. Dan mungkin bahkan dia bisa memiliki kerohanian yang jauh lebih tinggi daripada engkau yang memperkaryakan dia atau mempekerjakan dia di luar. Dan saat itu, ketika dia ada di dalam gereja, mungkin engkau harus belajar dari dia dan belajar mengerti dan bertumbuh dalam kerohanian dari diri dia. Jangan menggunakan otoritas di luar untuk dibawa masuk ke dalam gereja untuk menunjuk dan memerintahkan dan melakukan segala sesuatu seolah-olah dia adalah karyawan kita secara sepenuh waktu. Saya pikir itu tidak baik.

Jadi ini prinsip di dunia ini. Tetapi prinsip di dunia ini juga memiliki arti bahwa ada yang kekal yang akan kita masuki, dan yang kekal itu adalah berkaitan dengan Tuhan Allah. Dan pada waktu berbicara mengenai apa yang kita lakukan dalam dunia ini adalah sesuatu yang sementara saja, itu berarti ada upah lain yang akan kita terima di kemudian hari yang tidak bersangkut paut dengan upah yang kita terima dari tuan kita di dalam dunia ini. Nah ini nanti itu berkaitan dengan ayat yang terakhir nanti. Tapi saya akan, kita lanjutkan dulu ya. Jadi di dalam dunia ini kita harus belajar taat kepada tuan kita dengan takut dan gentar. Takut dan gentar bukan berarti tuan kita itu seorang yang bengis sehingga kita ketika berhadapan dengan dia kita benar-benar ketakutan, gemetaran seperti itu menghadapi dia, bukan, tetapi dalam pengertian kita harus menghormati diri dia. Itu maksud takut dan gentar. Jadi pada waktu kita menghadapi boss kita, hormatilah dia, perlakukanlah dia sebagai seorang yang layak menerima hormat kita atau layak menerima kita punya ketaatan, perlakuan yang baik dari diri kita sama seperti kita taat kepada Kristus. Jadi perlakukan mereka dengan baik, perlakukan mereka dengan tulus, perlakukan mereka dengan satu penghargaan, bukan merendahkan mereka, bukan menghina mereka, bukan menjelekkan mereka, tapi kita belajar menghormati mereka. Dengan motivasi apa? Seperti engkau taat kepada Kristus. Saya percaya ini penting ya, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan. Kita di dalam mentaati boss kita, mungkin saya lanjutkan sedikit saja ya, kalau Bapak-Ibu baca berikutnya, kita punya satu kecondongan, pada waktu kita mentaati boss ada motivasi balik, keuntungan di balik itu kita mentaati tuan kita. Keinginan untuk dihargai, keinginan untuk naik jabatan, keinginan untuk diberi upah yang lebih besar, dan bahkan dengan mungkin takut dalam pengertian supaya saya tidak menerima sanksi maka saya akan bekerja sebaik mungkin kalau boss saya melihat diri saya. Tapi kalau dia tidak ada bagaimana? Saya berusaha korupsi waktu saya, saya berusaha untuk mengerjakan hal yang tidak sebanding dengan gaji yang diberikan kepada saya per hari misalnya, itu yang saya lakukan. Tapi Alkitab berkata, kita sebagai orang yang takut akan Tuhan, kita harus bekerja melayani boss kita, taat kepada dia seperti seorang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Artinya adalah, walaupun mereka tidak melihat diri kita, motivasi kita adalah kita harus bekerja untuk Tuhan, dan itu berdampak kepada suatu pekerjaan yang tekun, setia, tidak kompromi atau tidak korupsi waktu, tidak curang di dalam pekerjaan kita, tidak berusaha untuk memanipulasi boss kita, dan apa yang menjadi kebijakan dia, atau segala sesuatunya supaya menguntungkan diri kita. Karena apa? Karena pada waktu kita bekerja untuk Tuhan dan kita mempunyai kesadaran ada Tuhan yang memandang diri kita, itu berarti kita ketika bekerja kita bukan menuntut upah yang ada di dalam dunia ini tetapi ada di dalam kekekalan. Dan saya percaya, pengertian seperti ini akan membuat kita tetap bertekun untuk bekerja dengan setia kepada tuan kita yang ada di dalam dunia ini, walaupun dia tidak berlaku baik kepada diri kita, karena apa? Upah yang kita tuntut bukan dari dunia ini tetapi dari sorga.

Ada satu cerita sepasang misionaris yang melayani di Afrika. Lalu pada waktu mereka melayani Afrika dari muda sampai ke tua, mereka bekerja situ, mereka kemudian pulang kembali ke negara mereka di Amerika. Tapi pada waktu mereka pulang mereka dalam kondisi yang mungkin agak terpukul, hancur, merasa diri gagal di dalam pelayanan tersebut. Tapi pada waktu mereka pulang, mereka ternyata satu kapal dengan presiden Roosevelt, di dalam perjalanan pulang itu. Nah pada waktu mereka dalam perjalanan itu, mereka melihat bahwa orang punya penyambutan terhadap presiden ini begitu luar biasa sekali, padahal presiden itu pergi ke Afrika hanya untuk berburu binatang, tetapi mereka, seumur hidup mereka bekerja untuk Tuhan, melayani Tuhan di negeri Afrika tersebut, dan pada waktu mereka tiba di Amerika, Roosevelt disambut dengan luar biasa sekali, tetapi tidak ada satu pun orang yang memperhatikan sepasang suami istri yang sudah tua ini. Mereka keluar dari kapal itu, mereka naik angkutan umum yang sederhana dengan uang mereka yang terbatas untuk mencari penginapan yang sederhana dengan uang mereka dan berpikir besok kira-kira kita harus mencari pekerjaan di mana untuk melangsungkan hidup. Dan di dalam kondisi ini suaminya berkata kepada istrinya seperti ini, “Saya merasa Tuhan nggak adil, orang itu cuma pergi berburu di Afrika tapi penyambutan orang sudah begitu luar biasa sekali terhadap diri dia. Tapi kita yang sudah bekerja berkorban uang dan tenaga, usia dan segala sesuatu dan mungkin rumah dan tempat tinggal, hari depan kita demi untuk Tuhan diperlakukan seperti ini.” Tapi istrinya adalah orang yang bijaksana, terus dia berkata, “Kamu jangan berkata seperti itu deh. Kalau kamu masih berpikir seperti itu, silahkan kamu adukan sendiri kepada Tuhanmu, ngomong kepada Tuhanmu, “Tuhan kamu ndak adil memperlakukan kami seperti ini.”” Lalu suaminya ketika dengar permintaan istrinya kemudian dia dengarkan itu, dia masuk ke dalam kamar lalu dia berdoa. Pada waktu dia berdoa, berdoa, berdoa sampai satu waktu dia akhirnya keluar dari kamar, lalu istrinya agak heran lihat diri dia karena ada perubahan di dalam wajahnya yang semula kesel, marah, kecewa, tetapi dia menampilkan wajah yang bersyukur, wajah yang senang dan sukacita. Lalu istrinya tanya, “Lho kamu kok berubah, ada apa?” “Iya,” suaminya bilang, “Waktu aku berdoa kepada Tuhan aku komplain, aku tanya, Roh Kudus memberikan pengertian bagi saya, masalahnya adalah kamu belum tiba di rumah. Kamu belum pulang. Makannya tidak ada penyambutan bagi kamu. Ini bukan dunia tempat kita tinggal, tempat kita adalah di sorga. Di situlah Tuhan akan menyambut kita.”

Saya percaya prinsip yang mengajarkan kita bekerja untuk tuan di hadapan Tuhan seperti untuk Kristus. Kita ada di dalam dunia sekarang ini walaupun tuan kita jahat, tuan kita memperlakukan kita dengan tidak adil, tapi kenapa kita tetap harus taat, setia, mengerjakan tugas yang tuan kita minta kita kerjakan walaupun mungkin bayarnya tidak setimpal dengan apa yang kita kerjakan? Karena kita belum kembali kepada Tuhan. Walalupun kita menerima ketidakadilan dalam dunia ini itu ndak masalah, karena apa? Upah kita bukan dari dunia ini, upah kita nanti waktu Tuhan kita datang kedua kali di situlah baru kita diberi upah. Ini yang harusnya menjadi motivasi kita di dalam kita melayani di dalam kita bekerja di dalam kehidupan kita, dalam kita memperlakukan tuan kita di dalam kehidupan kita. Dan kalau kita memperlakukan seperti itu mungkin tidak tuan kita tidak melihat bahwa Kristus kita itu berbeda dengan tuhan mereka? Mungkin tidak kita tidak memberikan suatu kesaksian yang baik? Saya percaya kita akan memberikan kesaksian yang baik yang mempermuliakan nama Tuhan. Saudara, menjadi orang Kristen itu bukan hanya di hari Minggu, menjadi orang Kristen itu adalah suatu panggilan seumur hidup kita dan setiap hari yang kita lalui dalam hidup kita. Dan tugas seorang Kristen itu adalah memuliakan Bapa kita yang ada di surga. 1 Korintus 10:31, “Apapun yang engkau makan, minum, atau lakukan, lakukanlah untuk kemuliaan nama Tuhan.” Berarti pada waktu kita hidup jangan hanya menyatakan sebagai orang yang taat, tunduk, baik di dalam gereja tapi di luar kita ada waktu seolah-olah kita bukan orang Kristen yang tidak perlu membawa kesaksian yang baik bagi nama Tuhan. Itu bukan Kristen. Kristen itu ndak ada jangka waktu. Kristen itu setiap hari yang kita lalui, Kristen itu adalah seumur hidup yang kita lalui dan Tuhan ingin kita terapkan prinsip ini dalam kehidupan kita sebagai seorang yang bekerja dengan tuan kita.

Lalu untuk tuan bagaimana? Ini yang menarik ya, kita baca sama-sama ayat 9. Dua, tiga, “Dan kamu tuan-tuan perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkan ancaman, ingatlah bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di surga dan Ia tidak memandang muka.” Sebagai tuan bagaimana kita memperlakukan karyawan? Perlakukanlah dia seperti mereka memperlakukan engkau. Prinsipnya sama, jadi pada waktu kita menuntut karyawan kita untuk bekerja dengan sepenuh hati, dengan setia, dengan bulat hati, dan mentaati semua yang kita inginkan dari diri dia, sebagai tuan kita juga harus juga memperlakukan karyawan kita dengan baik dengan melakukan segenap tenaga kita demi untuk kebaikan dia. Ndak boleh ada sesuatu yang berat sebelah. Jadi apa yang kita tuntut dari karyawan untuk dilakukan semua prinsip yang tadi sudah dibahas, tuan harus perlakukan itu yang sama kepada karyawan kita seperti untuk Tuhan. Jadi kalau karyawan diminta untuk bekerja dengan sekuat tenaga, korban waktu, korban tenaga, tuan harus perhatikan engkau memberikan gaji yang setimpal tidak dengan tenaga yang dia keluarkan? Engkau menjamin enggak kualitas dari pekerjaan dia? Itu harus kita pikirkan dan sebagai tuan, jaga mulut, jangan suka mengancam, jangan suka menghina, merendahkan, atau menyakiti dia dengan perkataan kita atau memaki dia seperti seekor binatang. Jangan mengancam. Dan yang ketiga adalah bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di surga dan Ia tidak memandang muka. Jangan berlaku tidak adil. Karena apa? Kita juga sebagai tuan, di hadapan Tuhan adalah hamba. Dia juga di hadapan Tuhannya adalah hamba dan Tuhan tidak memandang kita lebih baik daripada dia yang adalah karyawan kita dan Dia tidak memandang karyawan kita lebih baik dari diri kita. Tuhan akan memperlakukan kita secara adil berdasarkan bagaimana kita melayani diri Dia. Karena itu kita jangan berlaku curang atau berlaku tidak adil kepada karyawan yang kita pekerjakan. Itu prinsipnya. Jadi di akhir itu Paulus tidak berikan terlalu banyak hal, hanya 3 hal ini, karena apa? Prinsip yang lain sesuai dengan yang harusnya karyawan lakukan kepada tuannya karena kita juga adalah hamba di hadapan Tuhan, kita dapat melakukan segala sesuatu yang Tuhan kita minta untuk kita lakukan dalam hidup kita. Saya harap ini menjadi prinsip yang kita miliki pada waktu Saudara memiliki karyawan ataupun pada waktu Saudara bekerja dengan tuan Saudara, enggak peduli apakah dia percaya atau tidak. Ada satu hal yang saya harus ngomong, ada kecondongan seorang karyawan Kristen ketika mendapatkan seorang bos Kristen merasa dia punya hak lebih daripada semua karyawan lain. Dia sepertinya memiliki satu keuntungan-keuntungan dan tuntutan sebagai seorang karyawan yang lebih ringan daripada karyawan yang lain sehingga dia tidak bekerja secara maksimal bagi tuannya. Itu salah. Seorang karyawan baik itu Kristen, dia adalah Kristen waktu dia mendapatkan seorang tuan Kristen, dia harus tetap menghormati dia, dan menghargai dia, dan mentaati dia, dan tidak boleh ada diskon atau mencari keuntungan demi kepentingan diri di atas karyawan yang lain dengan korting-korting yang dia inginkan, karena apa? Sesama seiman. Itu salah. Ini adalah prinsip ya. Itu sebabnya mungkin banyak boss Kristen itu ndak suka pekerjakan orang Kristen dalam perusahaan dia karena ndak tahu diri. Seperti orang yang tidak suka mempekerjakan saudaranya sendiri di dalam perusahaannya dia karena suka besar kepala. Itu ndak boleh terjadi. Kiranya Tuhan boleh berkati kita ya kita masuk dalam doa.

Kami bersyukur Bapa untuk kebenaran firman dan prinsip yang boleh Engkau berikan. Kiranya firmanMu boleh menjadi penopang hidup kami dan kiranya firmanMu boleh menjadi kebenaran yang kami hidupi dalam kehidupan kami. Tolong mampukan kami ya Tuhan baik kami sebagai karyawan ataupun kami sebagai tuan atas karyawan kami, biarlah prinsip kebenaran firman yang kami usahakan untuk tegakkan, ketika orang melihat relasi antara Tuhan dengan karyawan yang kami miliki dan kami nyatakan dalam kehidupan kami itu boleh membawa suatu kesaksian yang mempermuliakan nama Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus kami bersyukur dan berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *