Relasi dalam Pelayanan, 24 Januari 2021

Filipi 4:10-11

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Konon ayat 10 ini, itu merupakan satu ayat yang penting, katanya ya, yang harus dihafalkan, karena sangat mujarab kalau menghadapi ada masalah besar dalam kehidupan. Saya pernah ketemu ada tulisan seperti itu ya, “Wah ayat 10 ini penting lho,” ya saya mungkin bacakan untuk setiap kita bisa perhatikan. Dia bilang, “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.” Nah, katanya ya, ayat ini itu penting kalau kita menghadapi masalah misalnya begini: kalau satu hari tiba-tiba mantan nge-chat, nah gimana? Filipi 4:10 katanya gitu ya, “tidak ada kesempatan bagimu.” gitu. Atau tahu-tahu mantan ngajak ketemuan, ngopi darat, oh Filipi 4:10. Atau mantan bilang, “Oh masih sayang, belum bisa move on.” “Oh, ini lho ayatnya,” gitu ya katanya. Ya saya juga heran ya kenapa dia menafsir seperti itu. Saya percaya di dalam bagian ini, itu makanya itu ada penafsiran mungkin yang orang umum, gitu ya, tapi kalau kita memperhatikan di dalam detailnya itu tidak se-simple gitu ya pengertiannya. Seketika saya mempelajari, mempersiapkan bagian ini, itu ada di dalam, seperti dalam Study Bible itu mencatat, menjelaskan tentang kondisi Paulus itu seperti apa. Dia itu bukan sedang teringat ini, “Oh ya, mantannya kembali perhatian kepada dia, lalu dia bersukacita,” bukan seperti itu, karena kita lihat kondisi Paulus ini dia berada di dalam penjara.

Menarik ya ketika saya mempersiapkan bagian ini, ada menjelaskan kondisi penjara di sana di zaman itu, yaitu seperti penjara Tullianum, itu sendiri sebenarnya adalah penjara yang, saya baru aware ya, bahwa penjara itu, penjara zaman dulu, penjara Tullianum itu bukan tempat penghukuman seperti penjara modern. Kalau penjara modern, zaman sekarang, kita mengerti penjara itu sudah tempat hukuman. Maksudnya adalah apa? Misalnya orang, “Oh kamu ini ada satu kejahatan gini, masuk penjara, lalu nanti tunggu kapan sidang, dan setelah sidang nanti di jatuhkan hukumannya kamu masuk di penjara itu,” dan itu kadang sudah ketika dia selama tunggu di penjara pun dianggap itu sudah menjalani penghukumannya, dan seterusnya. Jadi memang penjara itu sebagai tempat penghukuman itu sebenarnya ide modern. Tapi dulu, penjara itu bukan seperti itu. Penjara itu cuma sebagai tempat tunggu giliran sidang ataupun eksekusi mati.

Jadi penjara Tullianum itu sendiri kalau kita lihat itu ada yang bahkan mencatat di, bukan mencatat ya kalau kita ketemu arkeologi dari orang Romawi itu ada yang memakai penjaranya itu apa? Ya bekas tempat galian sumur atau tempat penyimpanan, penampungan air, ya tentu cukup gede gitu ya, lalu ya orang ya dionggok aja masuk ke situ. Lho kita bilang, “Pak, itu kan melanggar HAM.” Ya zaman dulu tidak ada masalah HAM, itu bukan era PBB dan seterusnya gitu ya. Zaman dulu ya dimasukkin aja. Maksudnya gini, ini orang katanya ada dia melanggar hukum, ditangkap, lalu dia akan disidang, baru akan tahu dia akan dieksekusi seperti apa. Lalu untuk menunggu, karena banyak gitu ya, ya masukin aja ke sana, dionggok-onggok masuk situ. Jadi kembali lagi, itu bukan tempat yang manusiawi, penjaranya itu kotor dan penuh para tahanan, dan sering kali memang, ada banyak catatan mengatakan, sering kali mereka diperlakukan tidak manusiawi.

Jadi kita juga jangan pikir ya misalnya kaya zaman sekarang itu ya, saya berapa tahun lalu pernah, karena ada permintaan jemaat, bukan yang di sini ya, itu untuk mengunjungi dan menginjili ya, sekaligus itu ada orang yang dipenjara. Nah itu kalau orang di penjara situ kita mengerti, kembali karena kalau penjara modern itu adalah dapet makanan cukup, bahkan negara-negara tertentu orang malah berpikir lebih enak masuk penjara makanannya lebih diperhatikan dan seterusnya. Tapi zaman dulu ndak seperti itu. Kembali lagi cuma ruang tunggu. Jadi dionggok masuk ke sana, zaman dulu penjara Romawi itu, Tullianum, itu dionggok masuk sana, dan sering kali mereka tidak diperhatikan makanannya. Beberapa itu ada abuse terjadi di dalam penjara meski itu bukan official aturan dari pemerintah Romawi, tapi sering kali terjadi gitu. Dan dalam berapa kasus ketika orang di dalam penjara itu tidak diperhatikan terus, misalnya dia mati di sana entah karena kurang makanan atau mungkin digebukin karena satu lain hal, ya sudah dianggap kasusnya selesai. Jadi seperti itu. Ini beda sekali dengan zaman sekarang, zaman sekarang kalau orang belum sidang, “Oh mati di penjara,” bisa diusut tu kenapa segala macem dan bisa dituntut dan seterusnya. Tapi zaman dulu ndak seperti itu.

Dan kalau kita bayangkan, seperti itulah kondisi Paulus di penjara di sana, dia serba kekurangan, dan entah kenapa ya kalau kita temukan dalam teks ini, ada sempat berapa lama waktu itu Paulus tidak mendapat perhatian dari jemaat ketika dalam situasi itu. Nah itu yang background konteksnya ketika dituliskan ini. Makanya dia bilang, “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya, ya itu memang terjemahan Indonesia memang cukup bagus ini, “akhirnya” ya, ada yang bilang “at last” pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Meski tidak ada sebenarnya pikiran dan perasaan bagi gitu. Tapi dia kembali, jemaat menunjukkan perhatian, dia makanya ada bersukacita.

Dan di bagian ini saya bisa melihat, kita bisa belajar berapa hal dari bagian ini, gitu ya. Pertama adalah ada jemaat memberikan perhatian kepada Paulus, dan ini kita bisa lihat pertama itu sebagai perhatian secara pribadi. Saya pikir ini menarik ya, Paulus itu ketika dapat bantuan, dukungan dari jemaat seperti itu ya, dia kembali lagi awal-awal dia masuk penjara itu tidak ada perhatian dan kita ndak ngerti berapa lama, bisa bulan, mungkin bisa tahun. Kita ambil konservatif aja ya mungkin bisa berapa bulan. Orang berapa bulan ndak makan atau ndak apa, itu menderita sekali lho. Itu orang ya, kadang-kadang ya kalau ndak dikasikan perhatian itu waktu belum dikasih itu bisa bukan, “Akhirnya lu kasih,” dia belum tentu berterima kasih, dia bisa maki-maki ya nggak? Ya kita kalau ndak percaya kita bisa alami ya misalnya anda perlu harus masuk rumah sakit karena satu atau lain hal misalnya mungkin harus pengecekan tes PCR mungkin atau apa, dan anda tunggu giliran giliran, “Kapan baru saya dilayani?” Itu pas giliran kita, waktu dapat itu kita bisa ngamuk-ngamuk gitu ya. Dan ini apalagi kalau kita mengerti dialami Paulus lama. Tapi kita lihat di dalam bagian ini adalah ketika perhatian jemaat itu diberikan, dia bersukacita. Nah ini saya pikir hal yang menarik kita renungkan di bagian sini. Jadi Paulus melihat adalah ketika perhatian itu dapat kepada dirinya, dia itu tidak melihat sebagai hak. Kalau melihat sebagai hak ya dia bilang, “Akhirnya, memang sudah seharusnya kamu kasih, bahkan dari dulu,” gitu ya. Tapi dia mengerti itu sebagai suatu perhatian yang jemaat bisa berikan, dan dia bersukacita atas hal itu.

Di dalam hal ini kita bisa lihat setidaknya ada suatu kesabaran dari Paulus ya, karena bicara itu perhatian secara pribadi. Karena memang ya ndak wajib. Tidak ada suatu aturan harus seperti itu, tapi di dalam bagian ini kita bisa lihat ada suatu kesabaran Paulus, dan meski relasi dia dengan jemaat Filipi khususnya ini adalah relasi yang dekat – surat ini juga dimengerti sebagai surat persahabatan – tapi dalam relasi dia bersabar juga bukan hitung untung rugi gitu ya. Orang kalau relasinya cuma sudah untung rugi, “Kamu susah saya bantu, tapi ingat lho, waktu saya susah kamu bantuin saya,” gitu ya. Kalau kaya gitu itu akhirnya orang itu relasinya cuma asas manfaat, gitu ya, utilitarian, untung-untungan, kamu untungin saya atau ndak. Dan kalau orang relasinya seperti itu, akhirnya memang ya ndak bisa sukacita ketika ada suatu, kalau mau dibilang, bantuan atau perhatian yang terlambat diberikan.

Tapi kita lihat, menarik dalam relasi Paulus dengan jemaat ini ada suatu relasi yang mendalam, dan dia tetap bersukacita dalam Tuhan ketika akhirnya jemaat bisa memberikan perhatiannya. Dan makanya ketika dia bilang, “Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu,” yaitu sebelumnya tidak ada kesempatan – kembali lagi kita tidak dijelaskan apa penyebab tidak dapat kesempatannya – tapi dia tetap meresponinya dengan bersyukur, dengan bersukacita. Dan ini saya pikir, kembali lagi ya meski kita sederhana kalau kita baca, “Oh iya cuma dia sukacita,” tidak gampang lho dalam kehidupan seperti itu. Kembali lagi ya, anda kalau misalnya pernah untuk mau giliran aja tes PCR, anda tunggu, tunggu sudah berapa jam, itu pas giliran kita, kita bisa ngamuk-ngamuk lho. Ada kejadian kadang-kadang itu karena misalnya kurang di perhatikan susternya atau apanya, bisa digebukin gitu ya. Bagian susternya itu saya juga pikir heran-heran. Itu cuma sejam atau kadang bisa hari, kita bisa ngamuk, “Kenapa tidak dilayani?!” Tapi kita lihat Paulus menunggu sekian lama tidak dapat perhatiannya, baru dapat itu dia bisa responi dengan sukacita. Dan saya percaya ini ada bagian bukan cuma bicara aspek perbuatan, gitu ya, tingkah laku yang baik, tapi itu secara kerohanian itu dia mengerti bagaimana bergantung pada Tuhan di tengah semua ini, dan relasi dia dengan jemaat itu seperti apa.

Dan khususnya ketika kita lihat lebih lanjut, tentu ini Paulus ketika tuliskan ini bukan cuma sukacita jemaat perhatian pada dia karena kita mengerti ini bukan sekedar tulisan surat pribadi atau tulisan bagian dari diary, tapi ini bagian dari Kitab Suci. Sehingga saya percaya dalam ketika bagian ini kita mengerti ada setiap bagian dari Kitab Suci ada bermanfaat untuk orang percaya di segala zaman, maka kalau kita tarik lebih dalam, sukacita Paulus ini bukan cuma sukacita karena ada jemaat memperhatikan dia secara pribadi, tapi dia bersukacita karena adanya perhatian jemaat kepada pelayanan yang dia kerjakan. Nah ini yang beda-beda tipis di sini ya. Dan memang sering kali dalam kaitan ini, rasul atau hamba Tuhan, itu memang berkaitan dalam antara pribadi dengan pelayanan itu sendiri. Kita tetap perlu membedakannya karena tidak nempel ya. Pelayanan itu bisa terus berjalan terlepas dari pribadi ini, ya, kalau Tuhan mau pakai di dalam pribadi, di dalam satu waktu ya bisa saja, tapi kemudian ketika misalnya pribadi itu meninggal misalnya, pekerjaan Tuhan, pelayanan tetap berjalan. Bisa nangkap di sini ya? Tidak bergantung pada pribadi. Kita harus bisa melihat ini secara dewasa. Siapapun pribadi itu, pekerjaan Tuhan tidak bergantung kepada pribadi itu.

Tapi kemudian dalam, secara lokalnya atau secara konteks sejarahnya, memang kenyataannya juga Tuhan pakai pribadi-pribadi tertentu untuk mengerjakan pelayanan itu. Jadi kembali lagi, ini dua, kalau mau saya pakai dari istilah dari seperti kaya kpengertian dari hypostatic union ataupun dalam Tritunggal, itu dibedakan tapi tidak untuk dipisahkan. Antara pribadi sang pelayan dengan pelayanan ini dibedakan tapi tidak untuk dipisahkan. Ya dalam Kolose memakai terminologi itu gitu ya. Kembali kita perlu membedakannya bahwa pelayanan itu tidak bergantung sepenuhnya kepada pribadi itu, tapi kita tidak untuk pisahkan karena pelayanan itu mengerjakan suatu pelayanan tertentu yang Tuhan tetapkan. Dan di sebaliknya, ketika jemaat memberikan perhatian kepada pribadi ini, Paulus saya percaya dalam bagian ini bukan cuma sukacita, “Oh senang kamu perhatian sama saya,” kalau cuma bagian itu, itu tidak layak masuk dalam tulisan Kitab Suci. Bisa nangkep bagian sini ya? Karena itu jadinya cuma personal sekali. Tapi saya percaya dalam bagian ini, sukacita Paulus adalah jemaat memperhatikan pelayanan yang ada, pekerjaan Tuhan yang ada. Karena ya, kembali lagi, pelayanan dan pelayan itu saling terkait, dan ketika jemaat mendukung, menopang, men-support Paulus kehidupannya di sana untuk apa, kalau mau dibilang ya, dibilang supaya dia bisa lebih efektif mengerjakan pelayanan di kesempatan waktunya. Lah iya lah, kalau sampai dia mati di penjara, kasarnya ini ya, mati di penjara, ya ndak bisa lanjut pelayanan toh, sederhana saja gitu. Ada bagian sana.

Dan di dalam bagian ini makanya ada bagaimana respons Paulus juga ketika jemaat ini menunjukkan perhatian atas pelayanan, dia bersukacita atas hal itu. Bisa nangkep ini ya, saya masuk ke dimensi yang lebih mendalamnya di sini. Dan kembali ini bisa berbicara baik untuk kita introspeksi diri kita sendiri, kita melihat kita sendiri pelayan, kaitannya dengan pelayanan itu bagaimana, nempel kah? Ada pemisahannya seperti apa? Dan ada satu bagian ini ya, kalau kita lihat perhatian yang diberikan kepada pribadi, kita bersabar, karena memang ndak harus. Kembali lagi ya, itu ndak wajib ya dalam relasi-relasi secara pertemanan. Tapi ketika perhatian kepada pelayanan, kita juga harus mengingat, lebih lagi kita harus bersabar, karena itu sepenuhnya bergantung pada anugerah Tuhan.

Tidak semua orang, kenyataannya, itu langsung otomatis ya, ketika dia dipertobatkan, ketika dia lahir baru, langsung mengerti apa pentingnya pelayanan itu sendiri. Kenyataannya itu ada anugerah Tuhan. Kadang-kadang orang bilang itu satu karunia untuk boleh orang terlibat pelayanan ataupun untuk mengerti pentingnya suatu pelayanan itu sendiri. Dan ketika kita bicara itu adalah aspek anugerah, maka kita itu sangat mengerti itu sangat bergantung kepada Tuhan, dan ketika memang Tuhan belum bukakan atau belum berikan, ya kita belajar lebih bersabar lagi. Bisa nangkep ini ya? Ada mungkin beda bersabar di sini ya. Kalau dalam kita relasi pertemanan, “Oh, saya dulu bantuin kamu waktu kamu susah, masa saya susah kamu nggak bantuin?” Mungkin kita bisa pikir ini dalam relasinya mungkin kurang mendalam atau kita bisa lebih perbaiki dan seterusnya karena ini bicara horizontal. Tapi untuk orang itu bisa perhatian pada pelayanan, kita mengerti itu adalah lebih vertikal yaitu ketika Tuhan beranugerah, baru orang itu bisa mengerti pentingnya pelayanan, baru dia akan terbeban, sungguh, untuk berbagian dalam pelayanan itu. Ini adalah bagian memang, kembali lagi, sederhana ya, tapi kita perlu tetap membedakan gitu. Tetap membedakan, kembali lagi, bukan untuk memisahkan. Dan bagaimana perhatian seseorang akan suatu pelayanan itu kenyataannya juga butuh anugerah Tuhan, dan karena itu perlu kita doakan.

Saya contoh mungkin dalam keseharian gitu ya, atau mungkin dalam konteks kita gitu ya misalnya seperti tadi juga diumumkan untuk terlibat dalam pelayanan, itu kan kita ajak ya, kita umumkan, dan mungkin secara juga personal ada yang ngomong secara ajakan gitu ya, itu kan ada kita ajakan secara pribadi, ya. Dan kadang-kadang memang dalam kehidupan, maupun juga seperti saya alami, kenapa saya terlibat pelayanan? Ya diajak teman saya atau mungkin keluarga atau siapa dan seterusnya, tapi biarlah kita lihat yang mengajak ini – itu bukan kita lantas mungkin kadang-kadang memang kita akhirnya pelayanan karena si pribadi, sang pelayan itu – tapi berapa banyak kalau kita mengerti mengerjakan pelayanan itu bukan karena sang pelayan, tapi karena pelayanan itu sendiri. Dan pelayanan ini sendiri kita mengerti adalah karena dipercayakan oleh Tuhan. Dan di dalam bagian ini, kembali lagi ya, antara pelayan dan pelayanan itu kita perlu membedakan, tapi jangan memisahkan. Dan ketika kita mengerjakan satu pelayanan adakah kita melihat – kita mengerjakannya itu pertama-tama karena Tuhan sudah beranugerah menyelamatkan kita, menebus kita, melalui pengorbanan anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus – Kristus pun, Anak Manusia pun datang untuk melayani bukan untuk dilayani. Dan karena itulah, dan dari spirit itulah, kita terbeban dan sungguh rindu untuk mengerjakan pelayanan, bukan karena sang pelayan tapi karena pelayanan itu sendiri.

Dan di dalam bagian inilah saya percaya juga, termasuk ketika, jadi itu dua sisi ya baik untuk kita respon untuk mau bergumul mungkin mau terlibat suatu pelayanan, maupun kita yang sudah terlibat pelayanan ketika mengajak orang untuk terlibat dalam pelayanan, biarlah kita melihat ini juga bergantung pada anugerah Tuhan. Kembali lagi ya, ada tentu pendekatan kita secara pribadi, secara horizontal, pendekatan relasi, pendekatan gimana ajakan atau melakukan persiapan ya, seperti tadi juga diumumkan pelatihan penatalayan, dan seterusnya, iya ada, tapi ingatlah yang membuat orang akan tertopang terus mengerjakan pelayanan itu bersandar pada anugerah Tuhan. Dan di dalam bagian ini, ya saya percaya itu bukan untuk kita lepas, “Ya sudah kalau orangnya ndak mau pelayanan, ya mungkin Tuhan tidak mau beranugerah,” ya, bisa seperti itu, ada tapi juga ada mungkin andil kita yang lebih itu adalah kita mendoakan. Berapa banyak kita mendoakan ketika kita rindu misalnya lebih banyak orang terlibat dalam pelayanan, berapa banyak kita sungguh-sungguh genuinely mendoakan supaya Tuhan beranugerah menggerakkan lebih banyak orang terbeban dalam pelayanan itu?

Kembali lagi ini 2 sisi kita tentu ada pendekatan secara horizontal, tapi berapa banyak vertikalnya kita mengerti dan kita mendoakan kalau memang pekerjaan pelayanan ini dari Tuhan, memang kehendak Tuhan, maka kita percaya Tuhan juga akan menyediakan pelayannya, tidak karena bergantung pada pelayannya tapi karena Tuhan memang mau memakai manusia dan kita mendoakan itu. Ketika dalam mengerjakan satu pelayanan itu makanya sangat penting itu dalam kita mendoakan dan kita sendiri secara rutin, saya ingat atau waktu kita awal masuk COVID itu terus berapa jalan, berapa lama itu muncul surat dari sinode lalu bilang semua kegiatan online dulu. Tapi yang diusahakan paling minimum untuk fisik itu adalah apa? Yaitu ibadah Minggu dengan Persekutuan Doa. Karena dibilang itu yang esensial. Ini saya ngomong apa adanya, mungkin berapa juga kita tahu dari surat sinodenya muncul seperti itu.

Mungkin lalu lantas kita pikir yang esensial itu ibadah Minggu dan doa. Apakah PA itu tidak esensial? Nah kalau misalnya kita tanya itu, “Apakah pelayanan-pelayanan lain tidak esensial?” dan seterusnya. Tentu mungkin maksudnya bukan situ. Tapi maksudnya adalah ketika diukur sampai sedalamnya, maka ibadah minggu itu memang harus karena diperintahkan Tuhan untuk Sabat, beribadah Minggu, dan Persekutuan Doa itu esensial karena apa? Karena di situ kita belajar mendoakan pelayanan itu sehingga kita mengerti dalam kita mengerjakan pelayanan baik seperti tadi di tiap kita dalam rutinitas kita kan ada doa, saya juga sebelum pemberitaan firman juga berdoa, kami hamba Tuhan juga berdoa mendoakan, itu bukan mantera, itu bukan jimat, itu juga bukan sekedar basa basi kalau saya tidak berdoa itu gimana, nggak. Itu adalah memang kita belajar mempercayakan pelayanan itu kepada Tuhan karena pelayanan itu milik Tuhan. Tidak bergantung sepenuhnya pada sang pelayan. Meski ada bagian yang tanggung jawab kita, kita kerjakan, tapi itu adalah pelayanan dari Tuhan dan itu sangat bergantung pada anugerah Tuhan. Dan ketika akhirnya ada jemaat kembali mau memperhatikan pelayanan itu, kepentingan itu, Paulus meresponi dengan bersyukur.

Ini yang saya mau highlight di sini, dia responnya itu bersyukur. Kembali lagi nggak mudah lho ya. Saya ngomong apa adanya, mungkin dalam keseharian kita misalnya kita ajak orang, spesifik mungkin teman kita atau saudara kita, “Yuk kamu pelayanan,” karena mungkin notabene kita sudah pelayanan, “ayo kamu terlibat pelayanan.” Kita saja mungkin sudah sampai berapa lama dia, “Nggak mau, nggak mau,” sampai satu titik baru kasih. Kita responnya kira-kira apa? “Wah akhirnya lu, dari dulu saya sudah bilang!” Nggak, kalau kita lihat respon Paulus ini makanya dia bersukacita, dia bersyukur, dia berterimakasih di dalam satu bagian di dalam bagian ini kalau kita mau sebut di dalam bagian itu ya.

Karena dia masuk ke poin saya selanjutnya yaitu dia bagaimana berterimakasih dan mensyukurinya. Saya percaya di dalam bagian ini yaitu Paulus belajar juga secara horizontalnya itu dia belajar menghargai dan menikmati kebaikan atau perhatian orang lain itu. Karena kadang-kadang kita lupa ketika orang sudah terlibat pelayanan terus kita pikir, “Ah sudah harusnya begitu.” Lho ndak lho. Akhirnya Tuhan beranugerah pada dia, Tuhan menggerakkan dia. Dan ketika orang kerjakan pelayanan itu ya memang pasti masih ada kelemahannya, masih ada perlu dibina makanya ada pembinaan dan seterusnya, tapi biarlah ada nggak kita itu bisa belajar menghargai dan menikmati kebaikan atau perhatian orang itu khususnya dalam pelayanan.

Saya pikir ini menarik ya saya ingat di berapa waktu yang lalu itu ketika saya masih pelayanan di Jabodetabek lah kalau mau dibilang gitu, every now and then itu kadang-kadang Pak Tong ngomong misalnya ada hamba Tuhan di kita itu yang khotbah baik Pendeta atau Vikaris atau bahkan Mahasiswa STT, kadang-kadang ketika ada kesempatan, lalu di mana kita khotbah (Mahasiswa STT jarang ya, mungkin di tingkat akhir) lalu yang hamba Tuhan yang lain khotbah lalu Pak Tong duduk mendengar. Lalu Pak Tong itu sangat suka, setidaknya itu saya dengar seringkali, dia bilang dia menikmati khotbah itu. Menikmati apa yang disampaikan. Meski satu sisi mengafirmasi, “Wah khotbahnya bagus,” oke, satu sisi gitu. Tapi saya coba renungkan lagi lebih dalam, Pak Tong ini khotbah sudah berapa kali, sudah puluhan ribu mungkin sudah ratusan ribu, dia sudah khotbah banyak sekali, ekspos pengalaman banyak sekali, dia mengerjakan banyak hal, dia baca buku banyak sekali sehingga kadang-kadang orang karena sudah dalam, misalnya itu kadang-kadang saya lihat ekstrim itu sangat highly critical ketika orang lain kerjakan karena lihat, “Ya nggak sebagus saya.” Lho iya to, emang ada kita di sini Pendeta, Vikaris khotbah lebih bagus dari Pak Tong? Ya dia bisa lho sangat highly critical, tapi saya lihat dia responnya seringkali dia menikmati pembahasan itu dan dia benar-benar memperhatikan dan kadang-kadang dia jadikan pembahasan lagi. “Oh bahas gini bisa bahasa mana-mana dan dia bersyukur dari ini,” saya percaya itu meski bagian sederhana ya tapi itu adalah suatu bagaimana dia sangat menghargai dan bisa menikmati pelayanan orang lain juga. Ini kadang-kadang hal ini meski sederhana tapi luput dalam kehidupan kita kan? Seringkali kadang begitu kan?

Contoh ekstrimnya misalnya kayak gini, kita misalnya pertama kali terlibat dalam pelayanan KKR Regional berapa tahun lalu, ya memang sekarang waktu belum bisa, tapi misalnya terlibat persiapan KKR Regional, persiapan khotbah pertama kali kita akan seperti susah sekali persiapan-persiapan mungkin semalam suntuk tidak bisa tidur. Persiapan, persiapan, persiapan, terus khotbahnya nanti masih kurang, masih kurang, masih kurang gitu ya. Tapi kalau sudah berapa kali kita kerjakan, sudah biasa. Nah muncul orang baru lagi. Kita tetap bisa appreciate nggak atau kita akan highly critical di situ? Highly critical dalam konotasi negatif, kritis habis ini kurang, ini kurang, ini kurang, khotbanya kamu kurang ini, kurang ini, kurang ini. Akhirnya nggak bisa lihat ada kelebihannya yang dia sudah kerjakan. Nggak perfect, memang nggak perfect tapi ya bisa di-appreciate atau tidak? Bisa menysukurinya atau tidak dan itu bicara ke spirit kita sih, kerohanian kita seperti apa meresponi pelayanan yang ada. Karena kembali lagi orang ketika mau kerjakan pelayanan itu, kita lihat adalah semata bergantung pada anugerah Tuhan, dan ketika orang kerjakan, jalani itu, ya dia juga berproses di situ. Kadang-kadang ada orang itu misalnya dengar persiapan khotbah gitu, “Oh ini jelek, kurangnya gini gini gini.” Terus dia persiapan lagi orang lain, “Wah kurang ini ini ini.” Sampai yang sudah bagus sekali, “Kamu pikir deh apa kurangnya.” Kalau orang highly critical secara mentalnya gitu ya. Karena kayaknya kalau dia tidak kritik kayaknya ada yang salah. “Saya kudu harus say something dan saya harus mengoreksi,” seperti seolah-olah harus begitu. Tapi ada bagian sebenarnya ketika bagian ini ya kita bersukacita.

Dan sebagaimana saya ingat di dalam satu bagian yang lain, karena ini bicara secara horizontalnya, relasi itu ada yang katakan relasi itu selalu memang perlu ada sorry and thank you. Sorry salah, sorry saya salah dalam relasi. Dan juga ada thank you, kita berterimakasih untuk apa yang dia kerjakan. Dalam bagian ini kita, mesti kaitanan dalam pelayanan ya, kita juga bisa gumulkan dalam relasi kita dengan keluarga juga, masih ada nggak itu dalam kehidupan kita. Ketika kita bikin salah, mesti pasangan kita lho yang sudah bertahun-tahun sudah kenal kita tapi memang kita salah, ya nggak usah takut untuk mengaku salah, ya saya salah ya sorry. Lho itu mau ngomong, “Saya kan kepala keluarga, gimana dengan istri dia kan penolong?” Kalau kita salah ya bilang sorry karena memang begitu. Kita manusia nggak perfect. Dan sebaliknya ketika dia mengerjakan sesuatu yang baik dan kita bersukacita, ya nggak usah gengsi untuk kita ngomong thank you.

Kembali ya, kembali ini meski sederhana dalam relasi katanya perlu itu selalu sorry and thank you itu dinamikanya. Kalau nggak artinya cuma take and give. Kamu berikan saya apa saya kasih kamu apa. Take and give, take and give, take and give. Tapi kalau relasimu lebih dinamis, organis, dan hidup di dalamnya, itu sebenarnya ada sorry and thank you. “Oh saya salah sini, sorry ya.” Dan ketika orang ada kerjakan suatu yang baik, ya kita appreciate kita ngomong thank you. Dalam bagian itu dan kembali lagi meski ini sederhana, itu ada di dalam surat Paulus. Paulus itu dalam banyak suratnya sebenarnya secara umum kalau kita lihat itu banyak mengkritik, mengoreksi kesalahan di dalam jemaat. Ya iya to. Bahkan dalam satu artian kalau jemaatnya nggak ada salah nggak dikirimin surat kali kira-kira begitu ya. Tapi dia ada kiriman surat dan berkali-kali ada koreksi tentang kesalahan jemaat. Tapi dia juga ada ucapan syukur di dalam surat itu sehingga itu mem-balance di sini. Bukan hanya bisa bilang kamu salah, kamu salah, koreksi, koreksi, tapi juga bisa bilang bersyukur tetap ada kebaikan, ada pencapaian, ada yang sudah dikerjakan dengan baik oleh pelayanan. Dan khususnya ini kalau kita melihat apalagi dia dalam konteks kesulitan dan penganiayaan ya, bukan kondisi nyaman.

Kadang ada orang bilang itu ya, “Pak saya kena sekarang, jadi saya sulit rasanya untuk bisa bersyukur untuk apa yang diberikan.” Tapi kalau kita renungkan kembali ini, kondisi Paulus itu dipenjara. Penjara Tullianum, penjara yang sangat sangat tidak nyaman di sana. Kita mau ngomong tidak higenis, busuk lah segala macam. Mungkin ya kalau zaman dulu sudah ada COVID langsung sudah mati di tempat sana. Oh dionggok orang di situ. Mana ada disediain masker? Ya boro-boro masker belum ada, tapi zaman itu ya begitu memang. Dan ya kalau kita bisa memikirkan ada berapa banyak penyakit zaman-zaman dulu ya saling menular saja dan memang tidak ada yang peduli. Tapi di tengah kesulitan itu muncul akhirnya setelah berapa lama jemaat bisa memperhatikan Paulus khususnya dalam aspek pelayanannya, dia bersyukur, dia belajar bersyukur itu. Karena apa? Dalam dia itu bergumul dia selalu berelasi dengan Tuhan, bergantung pada Tuhan, dan dia melihat dari aspek mata Tuhan itu ini apa dia harus responi.

Mungkin ya dalam satu hal secara kalau manusiawi Paulus bisa ngomong, “Akhirnya lu baru sekarang. Kenapa nggak dari dulu?” Mungkin ya secara manusiawi, saya nggak mengerti, mungkin Paulus bisa berpikir dan merasa di sana. Tapi saya percaya dia melihat dari kacamata surga, dari kacamata Tuhan, melihat adalah ketika jemaat bisa mau terlibat dalam pelayanan, engage ke dalam dan mendukung pelayanan, ya dia bersukacita. Karena itu berarti ada juga pertumbuhan dari jemaat itu. Setiap orang ada pergumulannya dan kesulitannya.

Dan belum lagi kita bisa mengukur dari secara lebih kompleksitas zaman itu ya, begini lho, ini Paulus kan tahanan penjara, orang bantu, dia akan di-trace kan, “Ini kamu kiriman dari mana?” Epafroditus yang kirim, kamu dari mana? “Oh dari Filipi,” dari jemaat situ. “Oh kita grebek sekalian!” Klaster gitu ya, klaster Filipi digrebek semua. Jadi mungkin juga banyak aspek, masalah bukan saja ketidakadanya ya ini memang kalau kita mau renungkan apa yang membuat mereka sebelumnya nggak sempat, mungkin ada aspek sekuritas juga. Dan saya lihat apalagi situasi sekarang COVID, kadang-kadang kita mau besuk atau kunjungan orang lain, ada kesulitan karena COVID juga kan, ya nggak aman begitu. Nggak aman itu both ways, dua sisi bisa membahayakan dia, bisa membahayakan kita dan seterusnya. Tapi di dalam bagian itu ada kesulitan seperti itu juga dialami di jemaat, dan sangat-sangat manusiawi kalau mau dibilang. Ya iya kan ini Epafroditus datang sama Timotius terus, “Oh ini ada bantuan.” “Untuk siapa?” “Untuk Paulus.” “Oh kamu temannya dong?” Ya di tangkap sekalian. Itu sangat bisa. Tapi kita mengerti berarti ketika jemaat memberikan dukungan seperti itu juga meresikokan diri mereka. Ada unsur situ. Kita nggak mengerti seberapanya, tapi ada sangat besar di bagian situ, tapi mereka mau mengerjakannya dan Paulus bersukacita atas hal itu. Dan ini kita bisa lihat ini yang terjadi di dalam meski di dalam kata-kata yang sederhana yang diungkapkan Paulus.

Dan di bagian ini saya juga renungkan itu yang menarik adalah yang dia katakan bahwa, “..tetapi tidak ada kesempatan bagimu.” Kesempatan itu sebelumnya nggak ada. Kembali ya kita nggak mengerti kesempatan itu karena masalah apa, lokasi kah, dana kah, atau masalah lagi ketat, lagi merah gitu mungkin zaman dulu, merah ini lagi dipantau sekali, karena memang kenyataannya zaman dulu itu meski orang Kristen dianiaya tapi tidak merata di semua. Ada yang lebih keras penganiayaannya, ada yang lebih longgar. Terutama biasanya orang lihat lebih keras itu di zamannya Nero dan tentu dia dekat-dekat ibu kota negara. Tapi daerah-daerah jauh seperti Asia Minor itu cenderung lebih relatif lebih aman. Kita bisa lihat mungkin mirip kayak COVID penyebarannya gimana gitu ya.

Tapi kita mengerti artinya ini menarik ini sebelumnya “tidak ada kesempatan bagimu.” Dalam bagian ini saya merenungkan bahwa kenyataannya pelayanan itu memang tidak selalu ada kesempatan itu sih. Pelayanan itu bagaimanapun adalah suatu momen, suatu kairos yang Tuhan berikan, dan kenyataannya tidak selalu ada ya. Dalam bagian ini saya coba renungkan saja dari aspek kita yaitu personal dan pelayanan, kesempatan pelayanan itu kenyataannya tidak selalu ada, dan kalau memang tutup sama sekali ya kita nggak bisa ngomong apa. Tapi saya coba renungkan dari aspek kita itu kadang-kadang kita mau tapi tidak bisa. Mau dan bisa ini. Saya coba lihat secara 4 kuadran gitu ya. Ada kalanya itu ketika pelayanan muncul itu bisa tapi kita tidak mau. “Waduh ini lho bisa pelayanan yang ini tapi nggak mau.” Mungkin kalau ketika kita sudah alami COVID kayak gini kita baru ingat, “Dulu ya, dulu itu kita bisa kerjakan KKR, bisa, sekarang sudah nggak bisa.” Tapi sayangnya dulu mungkin, ini saya kembali kita bukan untuk ngomong siapa tapi untuk kita renungkan masing-masing mungkin ada kalanya begitu, dulu bisa tapi kita nggak mau. Tapi dulu nggak mau. Sekarang sudah nggak bisa. Mungkin sekarang kita mau ya sudah nggak bisa. Sayangnya ya begitu.

Biarlah lebih baik kita renungkan itu ketika bisa, kesempatannya itu memang bisa, masih dibuka itu, kita mau belajar sinkron di dalam bagian itu. Kembali lagi karena kesempatan itu nggak selalu muncul. Tuhan tidak selalu tawarkan ke kita, “Ini lho pelayanan-pelayanan gini,” ya apalagi semua dalam kedaulatan rencana-Nya, tapi dalam aspek keseharian kita, kita menemukan memang tidak selalu available pelayanan itu. Ada pelayanan-pelayanan tertentu kalau memang sudah waktu Tuhan itu sudah cukup, Dia tutup. Kita mau pun sudah nggak bisa.

Di dalam bagian ini saya makanya tidak bisa tidak itu teringat sekali dengan pelayanan saya dulu besuk di dalam ada penginjilan di rumah sakit ya. Mau ketemu ada seorang ibu-ibu waktu penginjilan, sharing firman, terus dia nangis. Saya pikir, “Wah dia nangis kenapa ini? Tersentuh, mungkin.” ya mungkin sih ya. Tapi dia bilangnya dia nangis kenapa? Dia bilang, “Dulu saya kaya kamu, pelayanan juga. Tapi satu titik saya sudah nggak mau lagi. Sekarang akhirnya saya sudah sakit, dirawat gini wah saya tahu saya sudah nggak bisa pelayanan.” Tapi ya dia nangis karena dia masih mau. Tapi sudah ditutup kesempatan itu. Nah di dalam bagian ini kehidupan kita tentu dinamikanya bisa beda-beda situasinya. Tapi berapa banyak itu dalam kehidupan kita ketika pelayanan itu memang bisa, masih bisa dikerjakan, adakah kita mau kerjakan? Ingat pelayanan itu semuanya adalah anugerah Tuhan dalam kairos momen itu tidak selalu ada.

Dalam suatu artian itu saya coba saya ingat-ingat ya dulu berapa kali kalo KKR Regional ataupun kalau seperti kesempatan Pak Tong datang KKR kadang-kadang ketemu ada orang, ini saya bicara aspek humas ya, ketika saya humas gitu ya ada saja orang yang, “Ah kan juga selalu ada. Ah tahun depan lah, Pak. Nanti lah tahun depan, Pak akan datang.” Itu seperti mau ngomong apa? Satu sisi dia seperti bisa prediksi ah tahun depan pasti bisa dan istilahnya itu tidak menghargai kairos itu. “Ah nanti juga bisa. Kesempatan tahun depan lah, Pak,” dan kita juga kadang-kadang ya karena humas, “oh iya nggak apa-apa tahun depan.” Padahal nggak tentu momennya ada lho. Tidak tentu ada lagi dan kalau sudah nggak ada lagi, nggak bisa lagi ya you jangan maksa juga. Situasi lagi gini terus udah kita sewa aja ini KKR gede-gedean, nggak bisa.

Dan di bagian ini kembali makanya kita gumulkan di dalam bagian kita ya. Ketika bisa nggak bisa, dibuka atau ditutup kalau mau dibilang, itu biarlah kita mengerti itu dalam kedaulatan Tuhan, meski kadang-kadang dalam melihat tertentu dengan otoritas di atas kita, baik pemerintah ataupun atasan kita membuka kesempatan itu atau tidak. Tapi kalau bicara mau nggak mau, itu kan tanggung jawab kita. Bisa nangkap kalau bagian sini ya? Bisa nggak bisanya kita bisa argue lah masalah yang di bagian atas, ataupun lebih tepatnya Tuhan yang buka atau tidak kesempatannya. Tapi mau nggak mau kan pergumulan pribadi. Pertanyaannya adalah ketika dibuka itu kita mau atau tidak? Dan biarlah ketika masih ada kesempatan itu kita mau gitu ya.

Ataupun mungkin kalau bicara mau dan bisa ini mungkin kalau konteks disini pemuda itu juga begitu ya kalau misalnya naksir seseorang, “Oh dia available.” Bisa available, tidak selamanya-lamanya available. Ya kalau kamu mau, ya cobalah mulai mumpung available. Jangan anggap dia selalu available, ya nggak lah. Suatu saat dia jadi dengan yang lain, ya sudah milih yang lain. Kamu mau sudah terlambat. Ini mungkin lebih cocok kalau pemuda. Jadi kita lihat karena kesempatan itu nggak selalu ada, dan ketika kita mengerti sebenarnya dibagian pergumulan kita biarlah kita belajar bergumul di hadapan Tuhan dan menaklukkan diri kita di hadapan Tuhan di area situ.

Kadang-kadang saya dalam mengerjakan pelayanan, saya mengertinya adalah karena saya terlibat di GRII itu dari 2003, itu mau kadang kesempatan ada dan kita mau atau nggak mau itu pergumulan kita pribadi. Dan saya harus ngomong apa adanya kadang-kadang juga ada pelayanan yang saya kerjakan saya lagi nggak kepingin. “Oh, Pak bisa begitu ya.” Ya bisa saja. Apakah ini munafik? Ya nggak toh. Karena kita belajar menundukkan diri kita kepada kehendak Tuhan, kita mengerti ini adalah kehendak Tuhan, memang momen kairos-nya ini muncul ya saya kerjakan dulu. Kadang bisa hati ini nyusul, loh iya nggak papa. Loh ini para pelayan apakah tiap kerjakan pelayanan ini selalu sukacita. “Hore! Giliran saya dapat jadwal!” Ini aja liturgis sudah ketawa, ya nggak selalu kan. Kadang-kadang “Yah giliran saya..” saya sebenarnya mau kemana, saya ngomong honestly speaking apa adanya, nggak selalu kita kepingin gitu. Tapi ketika kita lihat memang kesempatan itu ada ya, kita belajar taat. Ketika ada bagian itu ya kita belajar menghargai kesempatan itu kita kerjakan pelayanan bukan karena kita senang, tapi di dalam bagian itu ketika kita bergumul pun dalam titik tertentu kadang sulit sekali, “Wah lagi padat sekali ini” Kita mau karena apa? Karena kita belajar lihat ini adalah anugerah Tuhan yang kali ini Dia buka, belum tentu selalu dibuka. Dan ketika masih bisa kita kerjakan, ya kita kerjakan. Dan kalau bicara willingness, itu adalah bagian kita menundukkan diri kita pada kehendak Tuhan kan di bagian situ juga.

Dalam mengerjakan pelayanan itu selalu ada aspek situ ya, dalam kita mengerjakan pelayanan itu memang tidak selalu se-happy itu kalau mau dibilang, tapi itulah namanya saya mengerti ketika kita kerjakan itu pas nggak mau pun ya itulah pelayanan. Bahkan ya kadang-kadang atau mungkin lebih banyak gitu ya, di sini kita ada yang pernah atau bekerja sebagai pelayan restoran, apakah tiap tamu orang yang datang itu minta pesan makan itu kita sukacita, “Wah senang ada ini tamu!” Dalam satu artian kadang kan, “Aduh makin banyak, Pak itu kita capeknya loh.” Apalagi kalau kita ukur dari aspek gajinya ya, sama aja rame nggak rame gajinya sama meski ada bagian tertentu yang kasih insentif, tapi capek. Apakah tiap kita tawarkan menu ke orang ini, “Ini, Pak menunya,” kita selalu senang? Apalagi itu ya customer yang bawel gitu, “Oh ini ayamnya digorengnya setengah matang terus kulitnya dikasih pisah terus dikasih…” Aduh malas kali, tapi kita kerjakan kan? Kenapa? Itulah pelayanan. Bukan suka nggak suka ya. Atau kalau kita bilang, “Yah Pak, kalau saya nggak ada kerjaan, saya nggak digaji.” Kalau begitu berarti hati kita sebenarnya cuma di uang. Nah terus makanya, “Kalau pelayanan di sini nggak digaji, Pak. Jadi masalah suka nggak suka.” Nggak ya saya percaya dalam bagian itu, itu adalah spirit pelayanan kadang-kadang memang kita kerjakan kita nggak suka, tapi kita kerjakan karena itu kita mengerti yang kita layani adalah Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama dan kita belajar menaatinya.

Bahkan seperti kalau kita mengerti kaya ibu-ibu pun memberikan suapan makanan ke anaknya, apakah itu selalu menyenangkan? Loh nggak kan. Kasih makan difoto gitu ya, posting di Instagram atau apa gitu ya, nggak selalu kan? Kadang-kadang anaknya, “Aduh makan dilepeh lagi, apa lagi.” Apakah ibu-ibu itu yang kalau mau merawat anaknya terus harus cebokin itu selalu senang? Ya nggak dong. Terus sekedar apa? Wajib? Ya itulah pelayanan, itulah kasih itu juga kan? Malam-malam nangis nangis, nangis. “Aduh. Giliran kamu deh.” Mungkin gitu ya suami istri, “Giliran kamu deh yang ganti popoknya atau apa.” Terus selalu senang, “Wih sukacita saya bangun jam 3 subuh hanya untuk suapin ini besok saya jam 5 lagi pergi lagi ke kantor.” Ya nggak toh. Tapi itulah kasih. Itulah pelayanan itu sendiri. Bukan karena dia benar-benar lagi senang suapin atau ganti popoknya dan seterusnya, tapi itulah kita mengerti secara natural itu suatu pelayanan yang kita kerjakan, suatu wujud kasih. Bukan memperhitungkan untung rugi, dan di dalam bagian ini ketika dalam relasi pelayanan ini Paulus melihat juga ketika ada jemaat bertumbuh sana, dia bersyukur dan dia melihat jemaat mulai bisa menangkap momen kairos yang Tuhan bukakan itu. Kembali lagi itu selalu ada dalam waktu Tuhan, tidak menurut waktu kita.

Dan poin terakhir adalah menarik ya ketika meski cuma satu singkat saya bahas disini, yang di ayat 11 dia katakan, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Nah ini menarik karena teks ini satu sisi sepintas bisa berkesan stoik ya. Stoikisme itu dengan spiritnya itu self-sufficient, cukup ya. Jadi ini kita bisa mengerti ya itu tadi pertama aspek di dalam relasi jemaatnya, tapi dari Paulusnya dia berada di posisi dia bilang dia sebut ini bahwa saya tidak katakan ini karena kekurangan tapi dia belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Ini banyak komentator mengatakan, “Wah kok kalimat ini mirip stoik ya,” karena stoikisme itu bersikap juga seperti itu ya. Jadi dia mengerti adalah orang itu dewasa, karakternya kuat atau personhood-nya itu kuat kenapa? Ya itu dia belajar self-sufficient, dia belajar independen.

Ya iya toh kalo masih anak-anak kan bergantung kalau orang sudah gede apalagi secara spirit stoik, ada kesulitan apa yang di luar itu sebenarnya cuma untuk pengujian karakter. Jadi orang stoik kalau mau kena musibah buruk, oh kamu akan nangis, kamu akan nangis kesulitan apa. Oh nggak. Orang stoik akan bilang “Oh nggak. Ini cuma ujian karakter saya, apakah saya kuat menghadapi itu.” Terus ketika untung besar apakah saya jadi foya-foya? “Oh nggak itu ujian karakter bagaimana saya itu tetap tidak bergantung pada itu.” Nah menarik sepintas memang seperti stoik yang dia selfsufficient, tapi kalau kita lihat di dalam bagian ayat-ayat selanjutnya jelas bahwa, makanya saya tadi bacanya 12 bahwa Paulus itu bukan self-sufficient tapi dia itu adalah sufficient in Christ atau contentment in Christ. Dan ini adalah bagian yang makanya kalau kaya Gordon Fee itu katakan ini jadi berbeda antara Paulus dengan stoikisme. Stoikisme itu akan melihat orang personhood, orang dewasa itu apa? Ya dia makin kuat. Ada makanan, nggak ada makanan dia nggak berubah gitu ya seperti kaya gitu jadi tetap stoik seperti apatis seperti apathetic itu tidak tergoyah. Apa kelimpahan, kekurangan aku tetap jalan kokoh gitu. Jadi dia seperti personalhood-nya kuat seperti itu.

Tapi kalau kita mengerti dalam kekristenan tidak mengajarkan kekristenan yang seperti ini yang self-sufficient, cukup pada diri sendiri tapi adalah kita belajar sufficient in Christ, cukup di dalam Tuhan. Dan di dalam bagian inilah kita mengerti meski ini tipis tapi secara esensinya itu berbeda sekali. Kembali lagi ya tampilan luar ya kalau kita lihat orang stoik dengan orang seperti Paulus itu bisa sepintas mirip. Orang stoik nggak dikasih makan, “Nggak apa-apa ini ujian karakter. Saya belajar mencukupkan diri, ada nggak ada makanan.” Paulus juga gitu kan, “Ada atau nggak ada, saya belajar mencukupkan diri.” Tapi ketika di dalam relasi paling dalam apa yang membuat dia kuat bertahan dengan ada atau tidak adanya perhatian dari luar itu? Ini yang berbeda karena stoik itu bergantung pada diri sendiri, self-sufficient itu berarti self-referential; tapi ketika Paulus ini adalah Christ-referential. Jadi dia bisa cukup karena dia bergantung pada Tuhan bahwa relasi dia dengan Tuhan itulah menjadi dasar fondasi dia menjalani kehidupan dalam pelayanannya itu. Itu dia mengerti ada Tuhan yang mencukupkan dia, dia cukup di dalam Kristus ya.

Di dalam bagian ini kita lihat dalam tantangannya dan kesulitan itu dia mengerti adalah dia belajar ketika muncul kesulitan, dia bukan bilang, “Oh ini cuma ujian karakter saya,” Nggak. Tapi kalau kita lihat dalam kekristenan adalah melihat, “Tuhan mau bentuk saya apa melalui kesulitan ini?” Sebenarnya kita lihatnya gitu. Lalu ketika Tuhan berikan kelimpahan, “Oh Tuhan mau saya pakai kelimpahan ini untuk apa?” Karena kita bukan self-referential, ber-refer pada diri sendiri dan akhirnya cukup pada diri sendiri tapi kita itu me-refer kepada Tuhan dan bergantung pada Tuhan, menemukan suatu contentment, kecukupan itu di dalam Kristus, dan inilah yang diucapkan oleh Paulus ini. Dan ini bicara secara spirit kerohanian itulah yang menjadi pembedaan yang jauh dari orang stoikisme.

Kita dalam filsafat dunia juga orang melihat selalu gitu ya. “Kamu itu makin matang, makin dibilang top. Wah itu apa? Oh makin kuat berdiri sendiri. Ada kesulitan nggak goyah, wah ada COVID saya tetap tidak jatuh, maupun biarpun seribu orang sekitarku rebah tapi saya tetap berdiri seterusnya.” Tapi itu kalau orang bergantung pada diri sendiri itu bukan yang diajarkan kekristenan. Kita diajarkan bergantung pada Tuhan dan terutama adalah ini tentu bukan cuma lip service ya ngomong, “Oh saya bergantung pada Tuhan,” padahal sebenarnya juga pada diri tapi melihat sebenarnya kalau Tuhan hadirkan ini dalam kedaulatan-Nya, Dia sebenarnya membentuk saya untuk apa? Dia mau saya kerjakan apa? Dan ketika itulah saya bisa mengerti seperti apa dalam relasinya di situ.

Ketika Tuhan hadirkan, kembali lagi, ketika Tuhan hadirkan ada kesulitan ataupun ada kelimpahan dan kita bisa menikmatinya dengan sukacita juga, Paulus genuinely bersukacita atas pemberian jemaat tanpa bergantung pada itu ya. Tapi dia bersukacita adalah apa? Karena dia lihat jemaat punya kerohanian bertumbuh, jemaat punya hati terbeban untuk pelayanan, dan dia lihat ya inilah satu bentuk pemeliharaan Tuhan juga. Sehingga di dalam bagian ini tetap ada ketika kita mengerti suatu contentment di dalam Kristus, suatu kepenuhan di dalam Kristus, kita tetap ada bisa berelasi melihat ada kebaikan dari sesama tanpa bergantung padanya ya. Ketika kita lihat perhatian dari jemaat ya kita lihat berarti kita bersyukur orang mulai concern kepada pelayanan itu. Kembali lagi bukan senang, “Oh karena perhatian pada saya,” tapi karena untuk pelayanan itu, dan berarti jemaatnya bertumbuh. Dan di tengah semua itu ketika muncul kesulitan kita belajar terus bergumul dengan Tuhan.

Ada yang pernah mengatakan itu untuk punya wisdom kita butuh pengertian, tapi untuk bisa taat kita membutuhkan penderitaan. Menarik ya. Untuk kita bisa punya wisdom wah saya butuh pengertian nih, knowledge. Tapi untuk bisa taat, banyak hal itu memang butuh penderitaan. Bukan penderitaan ini sebagai means segala-galanya, tapi kenyataannya sampai kita sulit baru kita bisa belajar seperti apa itu taat kepada Tuhan dan itu ada bentukan yang Tuhan hadirkan disana. Dalam kehidupan kita kalau kita menyebut diri kita sebagai Israel, Umat Tuhan, ingatlah bahwa “Israel” sendiri artinya ketika Yakub itu diberi nama Israel itu artinya dia bergulat dengan Tuhan, yaitu bergumul dengan Tuhan dengan yang close contact combat gitu ya, bukan kaya orang main fencing, anggar gitu jauh-jauhan. Nggak.

Dalam setiap kesulitan yang Tuhan hadirkan itu kita bergumul dengan Tuhan sedalam-dalamnya itu, dan bergumul yang mendalam kita mencoba mengerti apa maksud Tuhan ketika hadirkan bagian-bagian ini. Dan ketika ada suatu sukacita ataupun dukacita yang Dia hadirkan, biarlah kita mengerti bagaimana kita berkecukupan di dalam Kristus karena Kristuslah yang topang kehidupan kita sedemikian untuk Kristus yang mampukan kita menjalaninya, dan ketika pun harus mengalami kerugian yang besar ingatlah bahwa Kristus lah sudah lebih dahulu yang mengosongkan diri-Nya, Ia mengambil rupa seorang hamba dan yang akhirnya taat, taat sampai mati di kayu salib. Dan itulah yang dikatakan Paulus dalam pasal 2 sebelumnya dan itu menjadi teladan kita bagaimana mentaati kehendak Kristus, bagaimana mentaati kehendak Tuhan dan makin serupa dengan Dia, bagaimana kita belajar teladan kita di dalam Kristus karena Dia sudah lebih dulu memerintahkan kita untuk sangkal diri, pikul salib dan Dia sendiri sudah menyangkali diri-Nya dan memikul salib-Nya untuk menebus dosa-dosa kita, untuk akhirnya memberikan faedah keselamatan bagi setiap orang percaya pada-Nya. Biarlah kita mengerti ketika adapun kesulitan yang Tuhan hadirkan itu adalah untuk pembentukan kita, bukan bagi kita sendiri tapi bagi kemuliaan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama kita juga. Mari kita satu dalam doa.

Bapa kami dalam sorga, kami berdoa bersyukur untuk kesempatan kami boleh mendengarkan firman-Mu dan kami berdoa ya Bapa, biarlah di dalam berbagai tantangan kesulitan yang ada Engkau yang mengajarkan kami untuk belajar bergantung pada-Mu, mencukupkan diri di dalam Kristus, dan bagaimana kami boleh menyikapi setiap tantangan maupun kelimpahan yang Kau berikan untuk sesuai tetap berjalan sesuai dengan kehendak rencana-Mu. Pimpin setiap kami Bapa, dan biarlah dalam kehidupan kami, spirit inkarnasi Kristus, spirit ketaatan dan pengosongan diri Kristus itulah yang terus kami jalani, kami hidupi, dan kaminyatakan juga dalam pelayanan kami dan kepada sesama kami. Hanya dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *