Prinsip-prinsip dalam Mendidik Anak, 5 Januari 2020

Ef. 6:4

Pdt. Dawis Waiman, M. Div.

Pada waktu kita berbicara mengenai suatu kehidupan Kristen, khususnya di dalam kehidupan berkeluarga dan di dalam relasi antara orang tua dengan anak-anak, dan mungkin suami dan istri dan orang tua dengan anak anak, maka yang menjadi suatu prinsip yang sangatmendasar sekali untuk kunci kebahagiaan di dalam keluarga adalah suatu kehidupan yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Ini dikatakan di dalam Efesus 5:18, kita sudah membahas cukup panjang, saya agak review supaya ketika kita masuk kedalam bagian ini kita punya suatu garis yang lebih jelas ya. Di dalam Efesus 5:18 dikatakan,“Kita tidak boleh mabuk oleh anggur tetapi kita hendaklah penuh dengan Roh.” Ini yang menjadi dasar kita membangun sebuah kehidupan keluarga, bukan hanya sebuah pelayanan di dalam gereja dan kehidupan Kristen antara orang Kristen yang satu dengan orang Kristen yang lain di dalam gereja, tetapi ini juga menjadi dasar kebahagiaan sebuah keluarga, suatu keluarga yang dibangun diatas dasar prinsip firman, dan suatu keluarga yang bisa memuliakan nama Tuhan atau menyatakan relasi antara Kristus dengan jemaat. Saya percaya tanpa orang yang sungguh sungguh memiliki suatu kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus, dia akan memiliki banyak sekali alasan untuk menghentikan kehidupan keluarganya. Tetapi kalau dia adalah seorang yang memiliki kehidupan yang mau dipimpin oleh Roh Kudus, dikontrol oleh Roh Kudus, atau istilah lainnya adalah menundukkan diri dibawah kebenaran firman dalam hidup dia dan menjadikan firman Tuhan berotoritas atas kehidupan dia, maka saya percaya banyak hal yang menjadi alasan orang-orang dunia untuk memisahkan kehidupan pasangan suami-istri itu menjadi sesuatu yang tidak benar bagi orang-orang Kristen karena dia mengerti ada kehendak lain dari Tuhan Allah yang harus dinyatakan di dalam kehidupan keluarganya, ada kehendak lain dari Tuhan Allah yang harus dinyatakan melalui kehidupan dari orang Kristen itu ketika dia menjalani hidup baik di dalam gereja ataupun dalam keluarga sebagai suami, istri, ataupun anak anak. Karena itu, ini menjadi hal yang penting.

Apa yang membuat kita bisa saling melayani di dalam sebuah keluarga? Saya percaya orang dunia memiliki suatu prinsip di dalam anugerah umum Tuhan, ketika mereka ingin memiliki suatu kehidupan keluarga yang baik, yang harmonis, mereka saling melayani, saling mengerti satu dengan yang lain. Tetapi kita di dalam kebenaran Tuhan diberikan secara nyata, jelas, dan langsung sekali prinsipnya. Misalnya orang antara laki laki dan perempuan harus saling merendahkan diri seorang kepada yang lain. Artinya apa? Suami ketika menikah dengan seorang istri atau laki-laki menikah dengan seorang perempuan, satu sisi laki-laki memang adalah seorang kepala, perempuan adalah orang yang dikatakan oleh firman Tuhan untuk tunduk kepada suaminya, tetapi bukan berarti suami menjadi orang yang otoriter di dalam keluarga, yang memerintah dan memaksakan kehendaknya di dalam keluarga dengan kekerasan, tetapi Alkitab berkata ketika kita harus saling merendahkan diri satu dengan yang lain maka suamipun harus melayani istrinya, istrinya harus melayani suaminya. Kepemimpinan seorang suami bukanlah sebuah kepemimpinan yang didasarkan kepada kekerasan dan otoritas di dalam keluarga, bukan berdasarkan kekuatan otot, seperti itu, tetapi dengan peneladanan yang diberikan oleh suami kepada istri dan anak-anaknya.

Saya percaya kenapa Paulus di dalam bagian ini secara spesifik berkata bahwa, “Hai istri tunduklah kepada suamimu,” dan “hai suami, engkau adalah kepala atas istri dan kasihilah istrimu tersebut,”ini berbicara mengenai dosa yang dilakukan oleh perempuan, kecondongan perempuan dan laki-laki di dalam berdosa, seperti halnya dosa pertama Adam dan Hawa. Pada waktu Hawa jatuh dalam dosa yang dia inginkan adalah melawan suaminya, menegakkan otoritas sebagai seorang pemimpin yang kedua di dalam keluarga, dia ingin bersaing otoritas kepemimpinan dengan suaminya, Adam. Itu sebabnya ketika Paulus berkata, “Hai istri tunduklah kepada suamimu,”sebenarnya Paulus inginkan keluarga Kristen kembali kepada suatu ordo atau suatu status yang seperti ketika manusia pertama dicipta tanpa dosa dimana istri tunduk kepada suaminya. Dan pada waktu Paulus berkata, “Hai suami kasihilah istrimu,” di dalam Kejadian dikatakan ketika istri ingin berkuasa atas suaminya, suami mulai menggunakan kekerasan untuk menundukkan istrinya dan mungkin juga tidak setia. Makanya kelemahan dari suami itu,“kasihilah istrimu” itu menjadi suatu prioritas yang harus ditegakkan di dalam keluarga Kristen. Makanya di dalam bagian ini, kalau kita menjalankan prinsip ini di dalam Efesus 5:22 dan seterusnya, saya percaya kehidupan keluarga di dalam gereja atau kehidupan keluarga Kristen itu kita bawa kembali ke dalam suatu kehidupan keluarga yang ideal seperti yang Tuhan kehendaki ketika Tuhan menciptakan manusia pertama sebelum manusia jatuh di dalam dosa. Jadi ini adalah suatu dasar.

Bagaimana kita bisa menegakkan prinsip ini? Saya percaya selama kita tidak mau dipimpin oleh Roh Kudus, selama kita tidak mau menjadikan firman Tuhan berkuasa atas hidup kita dan memiliki kontrol sepenuhnya di dalam kehidupan kita, yang kita selalu majukan itu adalah kepentingan diri kita dan harga diri kita untuk sebuah relasi. Akibatnya apa? Saya percaya bukan damai yang terjadi tetapi keributan yang terjadi di dalam keluarga karena semuanya mau mementingkan diri, semuanya tidak mau mengalah satu dengan yang lain. Kalaupun mengalah, mengalah tidak ada dasarnya dan visinya, pokoknya siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih pintar berargumentasi dia yang menang, tetapi tidak ada dasar kebenaran firman, dasar relasi yang benar yang dibangun di dalam sebuah kehidupan keluarga. Makanya di dalam keluarga kadang-kadang perempuan atau istri menjadi orang yang menjadi kepala, suami yang tunduk dibawah kepemimpinan istri, anak-anak tunduk dibawah kepemimpinan istri. Nanti kita akan lihat akibatnya apa daripada penelitian orang dunia, tapi itu bukan sesuatu yang benar menurut kepemimpinan atau menurut prinsip keluarga di dalam Alkitab yang Tuhan nyatakan bagi diri kita.

Selain daripada kehidupan di dalam relasi antara suami dan istri maka Alkitab juga memberikan kepada kita, atau dari sini melalui Paulus, Tuhan melalui Paulus memberitakan kepada kita relasi antara orang tua dengan anak-anak, bagaimana anak-anak harus bersikap kepada orang tua. Di dalam Efesus pasal 6 ayat 1 dan 2 dikatakan anak-anak punya dua tanggung jawab, yaitu anak-anak harus belajar taat kepada orang tuanya di dalam Tuhan dan belajar menghormati orang tuanya di dalam Tuhan. Dan ini menjadi suatu tanggung jawab di dalam kehidupan keluarga ketika suami dan istri menikah dan memiliki anak di dalam keluarga maka tanggung jawab utama yang harus dilakukan oleh orang tua di dalam mendidik dan membesarkan anak memang kita bisa lihat dari Lukas pasal yang ke-2. Ketika Yesus tumbuh dan dewasa ada 4 hal yang menjadi penekanan pertumbuhan itu.Kita buka Lukas 2:52,“Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Di dalam pendidikan, kita perlu perhatikan pertumbuhan mental, hikmat, pengetahuan daripada anak kita; kita perlu memperhatikan pertumbuhan fisik dari anak kita, besarnya; kita perlu memperhatikan relasi sesama, sosial dia, yang dia miliki antara sesama manusia; kita harus memperhatikan relasi spiritual dia dengan Tuhan Allah. Ini adalah 4 aspek yang harus diperhatikan ketika seseorang membesarkan anaknya atau mendidik anaknya di dalam sebuah keluarga.

Tetapi, di dalam semua aspek itu, yang menjadi dasar sekali adalah orang tua harus mendidik anaknya di dalam mentaati diri dia dan menghormati diri dia. Dan bahkan ketika berbicara mengenai prinsip ini, maka Paulus dan Tuhan sendiri di dalam Keluaran pasal 20 memberi satu catatan, kalau anak mentaati otoritas orang tuanya, belajar menghormati orang tuanya, maka dia akan panjang umurnya di bumi ini. Jadi saya percaya ini adalah suatu kebenaran yang sudah dinyatakan bukan hanya di dalam Kitab Suci, tetapi kita bisa lihat di dalam masyarakat sendiri. Anak yang tidak menghormati orang tua, anak yang melawan orang tuanya, itu adalah anak-anak yang mungkin hidupnya kacau, dan berapa banyak dari mereka yang mati muda? Walaupun ada juga yang tidak mati muda, mungkin dia mengalami penundaan hukuman Tuhan atas hidup dia. Tetapi berapa banyak yang kita bisa lihat anak-anak yang melawan otoritas Tuhan di dalam keluarga melalui orang tuanya yang memiliki umur yang pendek. Saya bukan berbicara anak Tuhan ndak ada umur pendek, ada yang umur pendek berarti dia juga melawan Tuhan, bukan seperti itu ya, tetapi di dalam suatu kebenaran umum kita bisa melihat anak-anak yang hidup di dalam kebebasan, anak-anak yang hidup di dalam pemberontakan terhadap orang tua, anak-anak yang melakukan kejahatan di dalam kehidupan mereka, kalau mereka tidak mengalami kematian, mereka akan dihukum oleh pemerintahan di dalam dunia ini. Itu adalah hal yang Tuhan sudah katakan sebelumnya di dalam Kitab Suci. Dan untuk menegakkan prinsip mendidik anak, supaya anak belajar taat dan hormat kepada orang tua, maka Alkitab memberikan satu prinsip yang sederhana sekali bagi diri kita, yang kita sudah bahas, yaitu rotan. Kalau anak tidak mau taat, anak terus memberontak, anak terus melawan kepada orang tua, orang tua bisa menegakkan penundukkan disiplin itu melalui rotan dan pukulan yang diberikan kepada anak. Supaya anak belajar tahu bahwa ada konsekuensi di dalam sikap dia melawan orang tua dan tidak mau taat kepada orang tua, dan dari situ dia belajar untuk menundukkan diri dan menguasai diri dia di bawah otoritas daripada orang tuanya.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau begitu, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kalau kita harus mendisiplin anak dengan satu otoritas orang tua dan pukulan yang kita tegakkan kepada anak-anak, ada tidak batasan yang harus yang kita miliki untuk membuat anak kita itu tidak menjadi rusak? Mungkin ini yang menjadi satu pertanyaan yang penting yang harus kita ajukan, karena di dalam dunia ini banyak sekali orang-orang berusaha untuk meneliti kehidupan manusia, meneliti kenapa ada suatu kerusakan di dalam masyarakat atau kehidupan anak-anak di dalam suatu kehidupan keluarga, yang menimbulkan kejahatan di dalam kehidupan anak-anak tersebut. Apakah itu adalah faktor dari salah didik, apakah itu adalah faktor dari salah lingkungan yang ada? Dan di dalam penelitian tersebut, ada ditemukan hal-hal yang menarik. Misalnya, di dalam penelitian dari sepasang suami istri, yang bernama Sheldon Glueck dan Eleanor Glueck, mereka menulis suatu buku yang bernama Predicting Delinquency and Crime, atau istilahnya adalah bagaimana memprediksi kejahatan anak-anak dan kejahatan di dalam masyarakat. Maka di dalam penelitian tersebut, mereka menemukan hal yang menarik. Yang mereka temukan adalah seperti ini, banyak orang beranggapan kejahatan di dalam kehidupan anak-anak itu adalah disebabkan karena faktor lingkungan anak-anak tersebut, anak-anak itu bergaul dengan kelompok dari anak-anak yang rusak itu membuat akhirnya anak-anak itu menjadi rusak. Ada enggak faktor itu? Saya pikir ada. Makanya kita di dalam membesarkan anak, kita biasanya menjaga seolah-olah anak kita yang paling baik, anak orang lain itu banyak masalahnya, banyak rusaknya, anak kita itu kita tidak boleh bergaul sama mereka supaya tidak terpengaruh oleh kerusakan dari anak-anak lain, tetangga kita, dan yang lain-lain seperti itu. Memang ada faktor itu, tetapi yang menarik adalah, ketika si Eleanor dan Sheldon meneliti mengenai faktor kerusakan mereka menemukan faktornya bukan karena mereka ada di dalam kelompok dengan anak yang rusak. Karena pada waktu mereka ada di dalam kelompok yang rusak, itu biasanya masuk di dalam usia remaja, tetapi kerusakan yang ditemukan itu adalah bukan pada waktu mereka masuk dalam masa usia remaja, tetapi dimulai dari mereka masih usia 5, 6, 11 tahun, dalam kehidupan mereka. Lalu, mereka juga menemukan ketika anak-anak menjadi jahat, mungkin anggapan sosial umum berkata bahwa ada faktor kelainan di dalam mentalitas mereka, itu yang membuat seorang anak rusak, tetapi ketika mereka meneliti, mereka juga menemukan itu bukan menjadi dasar seorang anak menjadi seorang penjahat, tetapi anak bisa menjadi penjahat itu adalah sesuatu yang dimulai di dalam keluarga dan sudah bisa diprediksi mulai dari anak usia 5 dan 6 tahun. Dan prediksi itu, hampir 90% benar ketika anak itu menanjak dewasa, bisa diketahui bagaimana dia akan jadi, ketika mereka mulai masuk dalam usia remaja dan kedewasaan tersebut. Nah, ini penelitian dilakukan oleh kedua suami istri ini kepada anak-anak yang berusia kira-kira 5, 6 tahun, lalu setelah itu 4 tahun kemudian di crosscheck, betul tidak hasil yang mereka temukan tersebut.

Dan pada waktu mereka meneliti apa yang menjadi faktor seorang anak itu bisa kemudian melakukan kejahatan di dalam kehidupan mereka, mereka menemukan ada 5 hal, tapi bisa mungkin bisa dikategorikan menjadi 4 hal, pertama adalah berkaitan dengan disiplin ayah kepada anaknya. Faktor yang merusak anak di kemudian hari itu tergantung bagaimana seorang ayah mendisiplin anaknya. Dan ini berkaitan dengan keadilan dan konsistensi di dalam menegakkan disiplin tersebut. Yang kedua adalah tergantung dari pendampingan ibu terhadap anaknya. Kita dalam keluarga sekarang sering kali berpikir bahwa tanggung jawab anak itu diserahkan ke suster, ke pembantu untuk merawat anak itu, suami dan istri pergi dan bekerja, tapi mereka menemukan tanggung jawab seorang anak untuk bisa menjadi seorang yang baik di kemudian hari itu tergantung dari aspek kedua juga, yaitu pendampingan ibu terhadap anak itu. Maksudnya pendampingan ibu terhadap anak itu apa? Kemanapun anak itu pergi, ada di bawah pengawasan ibunya, apapun yang anak itu lakukan ada di bawah pengawasan ibunya, karena papa di mana? Papa pergi kok, papa bekerja di luar, papa punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Lalu anak ini diserahkan ke dalam tangan siapa? Saya sendiri percaya bahwa tanggung jawab membesarkan anak, tanggung jawab mengajar itu ada di dalam bahu papa, tanggung jawab membesarkan anak dan memperhatikan anak itu ada di dalam tanggung jawab mama. Jadi, anak kita pada waktu melakukan segala sesuatu, itulah kesempatan untuk mendidik mereka, menjaga mereka. Kalau mamanya enggak awasi, papanya juga enggak ada di tempat, anak mau melakukan apapun sendirian, mereka bisa lakukan sesuka hati mereka, bagaimana mereka belajar mana yang benar, mana yang salah, mana yang boleh, mana yang tidak boleh? Maka Sheldon dan Eleanor ini menemukan bahwa hal kedua yang menentukan anak ini akan menjadi anak yang baik di kemudian hari atau anak yang rusak, atau anak yang jahat, itu adalah apakah mamanya mendampingi dia atau tidak di dalam kegiatan yang dilakukan oleh anak tersebut. Lalu yang ketiga adalah, nah ini bisa dibagi menjadi dua. Pertama adalah dilihat dari afeksi papa kepada anaknya, dan yang kedua adalah afeksi mama kepada anak itu. Atau istilah lainnya adalah bagaimana kasih yang dinyatakan oleh papa dan mama kepada anaknya, itu menjadi hal yang ketiga, yang harus diperhatikan. Mungkin banyak anak-anak yang akhirnya memberontak dan marah karena mereka tidak merasakan kasih yang nyata dari orang tua kepada anak-anak. Nanti kita akan lihat di dalam hal-hal yang menyebabkan anak marah kepada orang tua itu apa. Ada beberapa poin yang saya pikir ini sangat baik untuk kita bisa renungkan di dalam mendidik anak kita ya. Tapi di dalam poin ini, mereka berdua ini dari Harvard University, menemukan aspek ketiga adalah tidak adanya afeksi di antara papa dan mama kepada anak. Yang keempat adalah kesatuan dalam keluarga. Jadi pada waktu mereka berkata, apa yang menyebabkan seorang anak itu menjadi jahat ? Coba teliti, di dalam keluarga ada disiplin enggak, papa kepada anak, yang mewakili keadilan Tuhan? Ada perhatian mama terhadap anak enggak? Ada kasih yang dinyatakan enggak? Ada keutuhan tidak di dalam keluarga? Kalau empat syarat ini tidak dipenuhi, maka anak itu kemungkinan akan rusak di kemudian hari.

Lalu selain daripada Predicting Delinquency and Crime yang dilakukan oleh atau diteliti dalam Harvard University ini, ada seorang Doktor bernama Paul D. Meier, ini adalah buku Kristen, dia menulis sebuah buku Kristen berjudul Christian Child-Rearing and Personality Development. Pada waktu dia  melihat kepada kehidupan daripada anak-anak, dia menulis bagaimana seharusnya relasi antara orang tua dengan anak-anak, hal esensi apa yang harus ada di dalam keluarga itu? Maka dia menemukan lima hal esensi. Pertama adalah kasih harus menjadi unsur yang mendominasi di dalam keluarga. Jadi antara orang tua, dan papa, dan mama itu harus saling mengasihi dan bisa dilihat oleh anak-anak.Antara orang tua dan anak-anak itu harus ada kasih diantara mereka yang harus bisa dilihat dan dirasakan oleh anak-anak. Kasih, itu harus mendominasi di dalam keluarga. Yang kedua adalah disiplin. Disiplin ini berbicara mengenai tadi, mengenai keadilan dan suatu ketegasan di dalam mendisiplinkan anak. Lalu yang ketiga adalah berbicara mengenai konsistensi. Konsistensi maksudnya adalah apa? Pada waktu kita mendisiplin anak kita, jangan gunakan standar yang berbeda. Maksudnya adalah kalau kita dari awal ngomong anak tidak boleh melakukan suatu tindakan, misalnya pegang HP, maka dia tidak boleh sekalipun pegang HP; atau anak boleh main sesuatu maka dia boleh main hal itu, tetapi jangan gunakan standar yang berbeda. Kadang-kadang kita akan berkata, “Oh kamu boleh lakukan,” kadang-kadang, “Oh kamu tidak boleh lakukan,” itu akan mengakibatkan ketidak konsistenan di dalam pendidikan. Contohnya apa ya yang lebih spesifik? Misalnya begini ya, saya sebenarnya tidak setuju kalau anak itu makan sambil jalan-jalan. Biasanya kalau saya kasih anak makan dari kecil itu dudukkan dia lalu suapin dia, tidak bawa dia keluar, jalan lihat ini, lihat itu, sambil makan. Nah misalnya kita tegakkan prinsip seperti itu maka dari kecil kita harus konsisten kalau makan-duduk, makan-duduk, makan-duduk. Ada konsistensi di dalam membesarkan anak, ada prinsip, standar, respon, peraturan, relasi yang harus kita tetapkan secara konsisten dan kita jalankan secara konsisten di dalam relasi kita kepada anak. Yang keempat adalah harus ada contoh hidup. Orang tua ketika menegakkan suatu standar tertentu kepada anaknya untuk dilakukan, saya katakan, jangan pernah berharap anak-anak itu akan lakukan perintah dan permintaan orang tua kalau anak itu tidak pernah melihat orang tuanya melakukan itu. Jadi pada waktu orang tua menegakkan suatu standar tertentu untuk anak lakukan, standar itu harus berlaku kepada orang tua juga. Kalau tidak, anak akan meremehkan standar itu, mungkin anak akan menghina orang tua, anak akan mencari celah untuk tidak melakukan itu, karena orang tuanya juga tidak melakukan kok. Dan saya seringkali berkata orang tua jangan pernah berpikira anaknya jadi anak yang takut Tuhan dan rohani kalau dia sendiri tidak memberikan contoh sebagai orang yang rohani dalam kehidupan dia. Ini natural, normalnya seperti ini. Lalu yang kelima adalah laki-laki harus menjadi kepala keluarga. Ini adalah tulisan dari Dr. Paul Meier di dalam bukunya Christian Child-Rearing and Personality Development. “Ketika kita menemukan laki-laki tidak menjadi kepala keluarga,” dia mencatat di dalam bukunya, “di situlah awal mula permasalahan timbul di dalam kehidupan anak-anak di dalam keluarga itu.” Saya percaya ini adalah hal yang benar. Saudara boleh teliti, di mana istri menjadi pribadi yang dominan di dalam keluarga, anaknya mungkin tidak ada kestabilan mental dalam kehidupan mereka.

Jadi dari Sheldon dan Eleanor diberikan ada 4 prinsip, dari Paul D. Meier diberikan ada 5 prinsip dalam kehidupan keluarga, relasi antara orang tua dengan anak-anak di dalam membangun sebuah pendidikan yang baik bagi anak-anak. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita melihat kepada kebenaran ini Bapak-Ibu punya suatu pemikiran seperti apa, prinsip-prinsip ini ada di mana? Kita sudah tahu tidak? Saya percaya kalau Bapak-Ibu perhatikan dalam Kitab Suci maka kita akan menemukan semua prinsip ini sudah ditegakkan oleh Kitab Suci ribuan tahun sebelum mereka menemukan dasar prinsip ini. Dalam Kitab Suci dikatakan siapa yang menjadi kepala keluarga? Papa.Apa peran Mama? Peran Mama penting juga di dalam mendidik dan menjaga. Nah Alkitab berkata misalnya di dalam Amsal bagian yang terakhir itu dikatakan Mama yang baik, yang takut Tuhan itu adalah Mama yang menjalankan bisnisnya dari rumah, bukan orang yang pergi keluar lalu tidak memikirkan tanggungjawab di dalam keluarga, tetapi  dia memikirkan prioritas utama keluarga terlebih dahulu baru dia memencarkan pengaruhnya keluar tapi sentralnya ada di dalam keluarga.Lalu bagaimana relasi antara orang tua dengan anak? Alkitab berkata orang tua harus mendidik anak untuk taat dan hormat kepada diri dia atau mereka, di sini disiplin bapak kepada anak-anak. Lalu bagaimana relasi antara suami dan istri dalam keluarga? Suami harus mengasihi istrinya, istri harus belajar tunduk kepada suaminya. Itu adalah suatu contoh yang dilihat oleh anak adanya ordo di dalam keluarga tersebut  kepada anaknya.

Dan kalau mau ditambahkan lagi, kita bisa lihat dari Ulangan 6:4-12, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan ini adalah satu perintah yang diberikan oleh Tuhan pada orang tua untuk diterapkan kepada anak-anaknya. Coba perhatiin ya, di dalam ayat 4-12 ini, saya baca sampai ayat 9 ya, ayat 10, “Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu–kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami–dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.”

Kira-kira pendidikan seperti apa yang harus diberikan oleh orang tua kepada anak? Kita lihat dari aspek rohani sih dalam aspek ini ya, tapi saya percaya prinsipnya kita bisa terapkan dalam aspek yang lain. Pertama adalah anak harus dididik mengenai supremasi Tuhan, betul enggak? “Dengarlah Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa,”enggak boleh ada yang lain dalam kehidupan kita, Tuhan harus menjadi satu-satunya yang berkuasa atas hidup kita. Kedua apa? Harus didik anak bagaimana kita “mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, jiwamu, akal budimu, kekuatanmu.” Yang ketiga apa, cara pendidikannya gimana? Taat kepada firman,“haruslah engkau mengajarkan berulang-ulang,” atau yang ke-6, “apa yang kuperintahakan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan.”Lalu yang berikutnya adalah menjadikan diri kita sebagai contoh di dalam mengajar. Ayatnya di mana? Ayat yang ke-7,“haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” Istilah ini bukan bicara mengenai,“Oh saya taruh tulisan ini di kepala saya, di tangan saya,  dan di pintu rumah saya,” tetapi istilah ini adalah kita bisa menafsirkan ketika firman ditaruh, diikatkan sebagai tanda di kepala kita, itu berarti ketika kita menjalankan segala sesuatu worldview kita apa? Sudut pandang kita,konsep nilai kita dasarnya apa? Firman bukan? Pada waktu kita mengerjakan segala sesuatunya, menjadi dasar kita mengerjakan prinsip yang kita lakukan itu apa, kebenaran firman bukan? Pada waktu kita membangun keluarga kita, dasarnya apa yang pertama,firman bukan? Dan itu berarti ketika seorang tua mendidik anaknya untuk mengasihi Tuhan Allah, yang mentaati Tuhan Allahnya, yang anak lihat adalah,“Papa mamaku mentaati Tuhan Allah atau tidak? Papa mamaku mengasihi Tuhan Allah atau tidak? Papa mamaku berpegang pada prinsip kebenaran Tuhan dan diterapkan dalam cara pandang dia, keputusan-kepoutusan yang dia ambil, atau di dalam membesaarkan anak atau tidak?” Ada contoh yang harus kita berikan kepada anak kita. Jadi saya pikir ketika orang dunia meneliti, kalau dia meneliti berdasarkan bukti dan kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan, dan itu adalah suatu kebenaran saya percaya kebenaran itu tidak akan lari daripada Kitab Suci. Karena Tuhan kitalah yang memberikan perintah itu atau memberikan prinsip itu untuk dijalankan di dalam dunia ini, baik dalam science ataupun di dalam kehidupan keluarga. Tapi masalahnya seringkali kita meragukan ini, kebenaran Kitab Suci, dan kita lebih suka menggunakan penelitian manusia untuk mendidik atau menjalankan  prinsip-prinsip lain  dalam kehidupan kita.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuham, Alkitab kita sudah dengan jelas sekali memberikan dasar,rule yang harus kita sebenarnya jalankan untuk kebaikan kita. Dan misalnya ambil contoh satu lagi, pada waktu  berbicara mengenai disiplin, disiplin itu apa sih? Disiplin itu apa? Disiplin itu adalah suatu latihan melalui aturan-aturan, atau pelatihan melalui aturan dan peraturan yang ditekankan oleh upah dan hukuman, itu disiplin. Kita ingin anak kita mentaati satu hukum tertentu, menjalankan satu prinsip tertentu, waktu kita mengingkan mereka menjalankan itu tentunya ada konsekuensi di dalam ketaatan dan ketidaktaatan. Kalau dia taat bagaimana? Harus dipuji. Kalau dia tidak taat? Harus mengalami hukuman. Itu disiplin namanya. Ini adalah bicara mengenai pendidikan. Rules ini dapat dari mana? Saya percaya itu sudah ada di dalam Alkitab, contohnya apa? Coba perhatikan perjalanan Israel keluar dari tanah Mesir menuju ke Tanah Perjanjian. Bapak-Ibu bisa lihat, pada waktu mereka keluar dari tanah Mesir hal pertama yang Tuhan lakukan adalah bawa mereka ke Gunung Sinai, lalu di Gunung Sinai, mereka diberikan perintah Tuhan, 10 Perintah Allah. Lalu setelah itu apa yang terjadi? Mereka mulai belajar untuk mentaati Hukum itu, diharuskan untuk mentaati Hukum itu. Tetapi ketika mereka tidak mentaati, mereka dihukum oleh Tuhan. Makanya di dalam 5 Kitab Musa, ada yang namanya “Berkat dan Kutuk,” barang siapa yang taat, dia akan diberkati, barang siapa yang tidak taat, dia akan dikutuk oleh Tuhan Allah atau mengalami hukuman dalam kehidupan dia. Itu pendisiplinan.  Kita belajar untuk mentaati Tuhan, ada konsekuensi di dalam kita belajar mentaati Tuhan dalam kehidupan kita. Dan saya bukan bicara mengenai, “Oh kalau gitu, perbuatan kita bisa menyelamatkan diri kita” ya, kita bukan bahas aspek itu terlebih dahulu, tetapi saya sedang berbicara mengenai ketika kita mendidik anak kita, maka hal yang perlu diperhatikan adalah, pertama kita harus membawa mereka mengenal kepada Tuhan, Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya,itu hal yang pertama. Yang kedua adalah, dia harus belajar di dalam pertumbuhan pengudusan, dan dalam pertumbuhan pengudusan ini hal apa yang bisa kita didik? Dua hal ini adalah karya Roh Kudus, saya percaya ini adalah karya Tuhan dan tidak mungkin bisa dikerjakan oleh manusia. Iman kepada Kristus adalah pemberian Tuhan, pengudusan juga adalah karya dari Roh Kudus, tetapi sebagai orang tua ada bagian tidak? Ada bagian, kita memperkenalkan Injil kepada anak-anak kita, kita menjelaskan mengenai Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi anak-anak kita, tetapi kita juga mendidik dia untuk bertumbuh di dalam ketaatan kepada firman di dalam kesucian kehidupan, dengan konsekuensi upah dan hukuman yang mereka terima. Itu bisa dilakukan. Tetapi tetap, kita tidak boleh mendidik anak kita sampai aspek masalah jasmani, masalah mentalitas, moralitas saja, tapi kita harus membawa anak kita mengerti bahwa semua itu adalah karunia dari Tuhan dalam kehidupan mereka juga. Itu penting.

Dan sekarang saya kembali ya, Alkitab sudah membicarakan semua prinsip ini, orang dunia hanya menemukan prinsip ini kembali dalam relasi antara orang tua dengan anak, itu membuat kita tidak boleh meninggalkan firman Tuhan sebenarnya untuk menjadi panduan bagi kita melangkah apapun yang kita lakukan di dalam kehidupan kita. Sekarang saya masuk, pada waktu kita berbicara bagaimana saya mendidik anak di dalam aspek taat dan hormat tersebut, maka bagian lain daripada Kitab Suci, khususnya dari Amsal dikatakan bahwa orang tua harus dengan otoritas menegakkan disiplin kepada anak-anaknya. Waktu berbicara mengenai disiplin ini kepada anak supaya anak bisa taat dan hormat kepada orang tua, maka disitu ada aspek yang namanya upah dan aspek yang namanya hukuman. Dan sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah ada tidak batasan hukuman yang bisa kita berikan kepada anak kita, yang membuat anak kita masih bisa dalam taraf yang baik dan tidak akhirnya merusak dan hancur? Hal-hal apa yang harusnya kita hindari, di dalam kita mendidik anak kita, supaya anak kita itu tidak menjadi seorang anak yang marah kepada orang tuanya yang mengakibatkan kerusakan dan kejahatan di dalam kehidupan dia?

Ada beberapa faktor yang kita bisa lihat, kira-kira 8 hal. Yang pertama adalah, kalau kita terlalu over-proteksi kepada anak kita, maka anak kita bisa menjadi anak yang rusak. Maksud over-proteksi itu adalah kita terlalu menjaga anak kita, kita tidak boleh ijinkan dia melakukan segala sesuatu yang mungkin bagi kita berbahaya di dalam kehidupan dia, atau sesuatu yang bodoh di dalam kehidupan dia, hal-hal harus di dalam pengaturan dari orang tua semua, mungkin bukan pengaturan, tapi pengekangan dari orang tua, tidak ada kebebasan yang bisa dimiliki oleh anak-anak tersebut di dalam menjalankan apa yang menjadi keinginan dia, walaupun banyak orang tua terlalu bablas membiarkan anak-anaknya melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan keinginan dia dan bahkan orang tua tunduk di dalam keinginan anak; lupa, kalau anak itu adalah orang berdosa; lupa, kalau anak itu adalah anak yang sudah dicemari oleh kejahatan dari naturnya atau kedagingan dia dan berpikir bahwa anak itu pasti melakukan sesuatu yang baik, “ketika dia melakukan tanpa dilarang, itu akan menimbulkan confidence dalam diri dia untuk melakukan apapun dan menjadi orang yang percaya diri.” Tetapi saya percaya, itu bukan prinsip firman Tuhan. Jadi satu action, kita bisa membiarkan anak kita melakukan segala sesuatu semaunya sendiri, tapi di sisi lain kita begitu protektif sekali pada diri anak kita, apapun enggak boleh.Bapak, Ibu,Saudara yang dikasihi Tuhan, anak kita itu adalah seorang yang berpribadi, anak kita itu walaupun dia masih kecil dia itu adalah manusia yang sama dengan diri kita, anak kita itu walaupun masih kecil dia punya nilai-nilai, dia punya suatu penghargaan yang seharusnya setara dengan orang tuanya sebagai seorang manusia. Kalau orang tuanya punya kebebasan, kehendak bebas, anaknya juga punya kehendak bebas. Kalau orang tuanya punya keinginan sesuatu, anaknya juga punya keinginan untuk dilakukan, dan itu tidak bisa kita tekan, pressed, supaya apa, yang menjadi keinginan orang tua, dan orang tua anggap baik segala sesuatunya, itu yang menjadi hal yang harus dilakukan oleh anak tanpa kita memperhatikan kebutuhan anak itu sendiri. Kalau itu terjadi, anak akan melihat kita bukan mengasihi dia, tetapi kita sedang mem-bully dia, kita sedang melakukan tindak kejahatan dan kekerasan kepada diri anak kita. Over-proteksi, itu yang pertama.

Yang kedua adalah, hal yang berbahaya adalah, pada waktu kita membesarkan anak, yang bisa membuat anak marah, kalau orang tua itu pilih kasih. Di dalam Alkitab, ada contoh-contoh dari orang tua yang pilih kasih. Pertama adalah Yakub disayangi oleh mamanya, Esau disayangi oleh papanya, Ishak. Ishak sayang Esau, Ribka sayang Yakub. Ribka kurang sayang kepada Esau, Ishak kurang sayang kepada Yakub. Akibatnya apa? Akibatnya kedua kakak beradik ini mau membunuh satu sama lain.  Bapak, Ibu,Saudara yang dikasihi Tuhan, kadang-kadang kita di dalam membesarkan anak, mungkin bisa ada anak yang dekat sama kita, ada anak yang kurang dekat, ada anak yang nakal, ada anak yang lebih taat, seperti itu, orang tua ngomong apa dia langsung jalankan, ada yang satu ngeyel-ngeyelan dulu, dan itu bisa mungkin menimbulkan kesukaan, kedekatan, rasa sayang yang lebih daripada yang lain.Mungkin tidak dimaksudkan oleh orang tua seperti itu, tetapi kalau orang tua kemudian membandingkan, “kamu jadi dong seperti saudaramu, kalau diomongin taat, kamu kok enggak taat,” itu bisa menimbulkan rasa suka yang bagi anak yang satu, itu bisa berpikiran kalau kita lebih sayang kepada yang satu ini daripada diri dia. Itu nggak boleh, pilih kasih. Saya percaya kita sebagai orang tua kalau punya anak kita harus memiliki kasih yang sama kepada anak-anak kita semua. Dan saya llihat, keluarga yang akhirnya tidak harmonis, anak-anak tidak harmonis karena orang tuanya pilih kasih. Sampai hari ini saya lihat keluarga itu ada, dan mereka sulit sekali bergaul di antara anak-anaknya sendiri karena orang tuanya pilih kasih pada salah satu anak dibandingin anak-anak yang lain. Bisa bayangin, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau orang tuanya sudah tidak ada lagi bagaimana? Orang tua masih hidup aja akibat dari pada pilih kasih itu bisa merusak hubungan antara anak. Kalau orang tua sudah tidak ada lagi, anaknya bagaimana? Saya pikir itu adalah hal yang berbahaya sekali. Sebabnya karena apa? Kemarahan karena anak melihat orang tua tidak menyayangi diri dia lebih daripada saudaranya yang lain, atau seperti saudaranya yang lain.

Yang ketiga adalah, kemarahan anak itu bisa timbul kalau orang tua memberikan suatu tuntutan yang tidak realistis kepada anak. Kadang orang tua ketika membesarkan anak, dia punya agenda untuk mendidik anak itu dan membesarkan anak itu. Agendanya itu adalah agenda pribadi orang tua, bukan agenda anak itu berdasarkan kemampuan anak itu atau karunia yang Tuhan berikan atau talenta yang Tuhan berikan pada diri dia atau minat anak itu. Tetapi orang tua punya muka atau punya harga diri yang membuat dia menjadi orang yang kemudian menuntut anaknya harus mencapai hal yang terbaik, prestasi dalam hidup dia, baik di dalam sekolah, baik di dalam hal-hal lain dalam kehidupan dia, supaya apa? Orang tuanya dipuji, dihormati oleh orang lain, dihargai oleh orang lain, bukan karena anak ini yang memang mampu. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita memberikan suatu tuntutan yang tidak realistis kepada anak kita, ingat baik-baik, yang hancur itu anak kita lho. Saya yakin dia akan hancur, karena apa? Dia tidak bisa melakukan apa yang orang tuanya inginkan. Tapi karena orang tuanya terus menuntut dia harus mencapai hal yang seperti yang orang tuanya harapkan, padahal dia tidak punya talenta di situ, ya frustasi, depresi, dan mungkin bisa bunuh diri. Misalnya anak kita punya IQ yang rata-rata, kalau di dalam kelas cuma bisa rata-rata. Kita tuntut dia harus juara 1, kira-kira bagaimana? Saya yakin dia akan frustasi berat sekali. Atau yang paling gampang misalnya, anak kita nggak suka musik, kita paksain dia musik kayak gitu, dia stres berat sekali mungkin. Lalu kita paksain dia harus menjadi seorang profesional yang mahir seperti orang profesional main musik yang begitu jago sekali, saya yakin dia stres sekali. Jadi mungkin bisa dikasih satu pendidikan di dalam aspek itu tetapi menurut takaran anak itu porsinya seberapa, sedangkan bagi yang dia mampu itu yang kita bisa perdalam. Tapi kalau kita menuntut sesuatu idealisme yang harus dicapai oleh anak itu, standar yang harus dicapai anak itu, padahal dia tidak punya kemampuan di situ tapi karena kita punya harga diri, kita punya kehormatan di dalam masyarakat, relasi kita dengan orang lain, dan kita ingin tuangkan itu ke dalam diri anak kita semua, sebenarnya kita bukan mengasihi anak kita, tetapi kita membuat dia marah dan menghancurkan masa depan dia dan hidup dia. Tuntutan yang tidak realistis.

Yang keempat adalah, mematahkan semangat dari anak itu. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya pikir ini adalah hal yang kadang-kadang kita abaikan ya, atau karena mungkin salah satu dosa juga yang Yakobus peringatkan, penguasaan lidah itu menjadi unsur yang penting. Pada waktu kita berelasi baik dengan suami dan istri, dengan anak, saya pikir mulut kita itu bisa menjadi satu senjata yang menghancurkan hidup mereka, merusak hidup mereka. Dengan cara apa? Kita mengkritisi, kita memaki, kita memberikan label kepada anak kita, kita men-discourage mereka, tidak ada pujian yang keluar dari mulut kita tapi penghinaan yang keluar dari mulut kita terhadap diri mereka, perendahan yang kita lakukan terhadap diri mereka. Itu bisa menghancurkan mereka. Mungkin kalau nggak percaya boleh terapin bicara kepada anak, “Kamu malas ya,” ngomong aja, “malas, malas, malas, malas,” terus, nanti anak kita itu jadi malas beneran. Atau jahat ya, ngomong aja, “jahat, jahat, jahat” terus, mungkin jadi anak yang jahat beneran. Punya kuasa itu. Saya sampai hari ini nggak percaya orang itu ada yang hatinya baik tapi mulutnya jahat, karena ketika seseorang berbicara itu pasti dari hati, ketika seseorang berbicara sesuatu pasti dia maksudkan seperti itu.  Dia harus punya penguasaan diri. Dan kalau orang tua tidak bisa menguasai diri dia, dia menekan anak itu, dia mematahkan semangatnya, dia tidak menunjukkan afeksinya kepada anaknya tersebut, maka anak itu bisa rusak, dia akan timbul kemarahan dalam hatinya. Anak-anak itu sangat ingin pujian juga, dan pujian yang dia ingin dengar itu juga dari orang tuanya. Dan bukan cuma berdasarkan nilai, tapi ada aspek-aspek lain yang kita juga perlu berikan kepada anak kita. Pujian ya.

Lalu yang kelima adalah gagal untuk mengorbankan diri bagi mereka. Orang tua kalau di dalam aspek yang ketiga tadi sering menuntut dengan satu tuntutan yang tidak realistis, aspek yang kelima ini bisa juga berbicara mengenai orang tua itu memiliki suatu rencana, satu keinginan, satu schedule kesibukan dalam hidup dia, sehingga yang dia lakukan mungkin adalah mengejar itu semua tanpa memikirkan anaknya punya kebutuhan. Itu bisa menghancurkan anak. Maksudnya adalah seperti ini, pada waktu kita mengejar semua keinginan kita tanpa memikirkan apa yang menjadi kebutuhan anak kita, tahu tidak, itu sebenarnya kita sedang merendahkan pribadi mereka. Kita sedang tidak menganggap mereka itu sebagai manusia, dan yang paling krusial lagi, kita tidak menganggap mereka itu penting di dalam kehidupan kita. Hai suami, istrimu penting tidak? Kalau dia adalah orang yang penting dalam hidupmu, apa tandanya dia penting dalam hidupmu? Dan istri, apakah suamimu itu adalah suatu pribadi yang penting dalam kehidupanmu? Tandanya apa? Atau saya tarik lagi, Tuhan itu penting nggak dalam hidup kita? Kalau Tuhan itu penting dalam kehidupan kita, apa tandanya Tuhan itu penting dalam kehidupan kita? Saya percaya tandanya adalah penyangkalan diri demi kehendak Tuhan jadi dalam kehidupan kita. Penyangkalan diri supaya apa yang menjadi keinginan suami itu terjadi, apa yang menjadi kesenangan istri itu terjadi dalam kehidupan dia, apa yang menjadi kesenangan istri itu terjadi dalam kehidupan. Itu namanya kita mementingkan mereka lebih daripada diri kita. Kalau kita mementingkan anak kita, kita menganggap dia adalah manusia, kita mengasihi dia, tapi semua urusan kita adalah urusan pribadi kita yang harus terjadi bukan urusan dia, saya yakin itu bukan kasih namanya. Itu namanya kita egois, kita mementingkan diri kita sendiri. Bagaimana anak kita bisa menyadari kalau orang tua mengasihi mereka? Tapi kadang-kadang anak juga kebablasan. Ketika orang tua mengasihi mereka terlalu over kasih anak akan selalu kehausan rasa kasih dan tuntutan yang diberikan orang tua itu tidak masuk akal juga. Mungkin bisa sebaliknya. Jadi sebagai orang tua kita harus belajar jangan hanya mementingkan diri kita. Kadang-kadang kita harus korbankan waktu kita, korbankan rencana kita, korbankan schedule pribadi kita, korbankan yang kita miliki untuk diri mereka. Baru dari situ mereka belajar, “O saya juga dihargai sebagai manusia, saya juga adalah orang yang penting bagi orang tua saya, dan mereka mengasihi saya.”

Hal yang keenam adalah kita gagal untuk ijinkan mereka bertumbuh dewasa. Nah ini juga ada sedikit kaitan dengan over-proteksi ya. Kalau di dalam over-proteksi kita begitu mem-protect anak, ndak boleh rusak, semua yang mungkin baik-baik mereka terima dan segala sesuatunya. Tapi akibat dari over-proteksi itu apa sih sebenarnya? Anak ndak jadi dewasa lo, mereka ndak belajar dari kesalahan mereka, mereka menjadi anak yang naif mungkin dalam hidup mereka, mereka jadi anak yang mungkin di kalau zaman kita bilang kuper, kurang pergaulan. Jadi di dalam pendidikan saya pikir ada aspek di mana kita boleh kadang-kadang ijinkan mereka mengambil keputusan yang salah dan mereka belajar melalui keputusan salah yang mereka ambil itu berapa pahitnya, sakitnya keputusan itu kalau itu dilakukan secara salah. Kita boleh ijinkan mereka mengeluarkan ide-ide yang konyol, ide-ide yang kita anggap apa sih nggak ada artinya ndak signifikan sama sekali. Mungkin bisa seperti itu tapi dari situlah kita ada kesempatan untuk mendidik mereka dan mereka belajar untuk bertumbuh jadi orang yang lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih memikir secara lebih menyeluruh. Tapi kalau kita terus kekang, kekang, kekang, anak itu jadi bagaimana? Satu sisi dia nggak dewasa tapi di sisi lain saya yakin mereka juga akan marah sekali. Mereka merasa tidak dipercaya, mereka tidak punya kebebasan lagi. Itu yang keenam ya.

Yang ketujuh adalah mengabaikan mereka. Mengabaikan ini bisa dalam bentuk apa? Saya pikir satu sisi bisa dalam pengertian saya mengabaikan untuk mendisiplin mereka, saya mengabaikan untuk mengasihi mereka, saya mengabaikan untuk mengorbankan diri bagi mereka, itu bisa bicara seperti ini. Kalau kita tidak mendisiplin mereka, kita tidak menyatakan kasih kepada mereka saya pikir anak kita juga ndak akan suka akan hal itu ya. Tapi di sisi lain ada orang tua yang mungkin bisa kemudian melakukan tindakan seperti ini: dia menarik kasihnya, menarik relasinya dengan anaknya sebagai suatu tanda hukuman kepada mereka sehingga anak itu merasa orang tua itu tidak mengasihi sama sekali, tidak punya relasi sama sekali, dan ndak mau berelasi dengan diri mereka itu bisa menimbulkan kemarahan dalam diri anak.

Yang kedelapan adalah kita menggunakan kata-kata yang tadi, kita bisa mematahkan semangat mereka dengan tidak memuji mereka tetapi kita juga bisa menggunakan kata-kata yang jahat untuk menjatuhkan mereka. Saya pikir mendidik anak itu bukan sesuatu yang gampang. Dan di dalam mendidik saya pikir kita banyak celah, kita banyak kekurangan sebagai orang tua. Dan saya sendiri sebagai seorang tua ketika mendidik anak saya sadar bahwa kalau bukan anugerah Tuhan yang menjaga mereka mungkin anak kita sudah rusak. Sebaik-baiknya kita di dalam mendidik tetap di situ kita perlu bergantung sama Tuhan dan berdoa kepada Tuhan di dalam pendidikan kita. Kalau tidak mungkin anak kita sudah melihat hal-hal jelek dari hidup kita, hal-hal yang tidak perlu diteladani dalam kehidupan kita, tapi paling tidak bukan berarti kita melepas tanggung jawab ya. Pada waktu kita membesarkan mereka, kita jangan mengembalikan apa yang menjadi apa yang Tuhan sudah berikan dalam hidup kita kembali kepada Tuhan kembali atau tanggung jawab dalam hidup kita kita lempar kembali kepada Tuhan dengan harapan, “O kalau Engkau sudah berikan saya anak saya cuma cukup berdoa bagi mereka maka segala sesuatu beres.” Ndak bisa seperti itu. Kita perlu tetap mengarahkan, dan mendidik, dan membekali mereka dengan firman, pengertian disiplin dalam kehidupan mereka supaya mereka bisa tumbuh menjadi seorang anak yang baik. Itu tanggung jawab kita sebagai orang tua.

Nah itu sebabnya di dalam ayat 4 ini dikatakan oleh Paulus, “Dan kamu bapak-bapak janganlah kamu bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu tapi didiklah mereka dalam ajaran dan nasehat Tuhan.” Tanggung jawab siapa untuk melakukan itu? Tanggung jawab siapa? Papa? Memang di dalam kata-kata yang digunakan sini itu bapak-bapak ya ditujukannya. Dan bahasa Yunaninya patera. Tapi bapak ibu saudara yang dikasihi Tuhan kalau kita komparasi dengan Ibrani 11:25 pada waktu dikatakan Musa itu dipelihara dia lahir dan dipelihara oleh orang tuanya, maka kata orang tua di situ adalah patera. Papa dan mama itu menggunakan kata patera juga. Boleh buka Ibrani 11:25, “Karena iman maka Musa setelah ia lahir disembunyikan selama 3 bulan oleh orang tuanya karena mereka melihat bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja.” Oleh orang tuanya itu bahasa Yunaninya juga patera. Jadi patera itu bisa diterjemahkan sebagai orang tua yang terdiri dari papa dan mama atau papa saja. Nah kenapa di sini kalau bisa diterjemahkan sebagai papa dan mama Paulus tidak berkata, “Dan kamu orang tua janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu tapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasehat Tuhan?” Saya percaya hal ini disebabkan karena papa itu menjadi sosok yang bertanggungjawab atas keseluruhan yang terjadi di dalam kehidupan keluarga. Itu bukan tanggung jawab mama. Mama juga bertanggungjawab tetapi pemimpin yang paling Tuhan lihat di dalam keluarga itu papa, dan itu sebabnya Paulus tujukan kepada bapak.Jadi ini yang tadi saya bilang berkaitan dengan keputusan sinode di awal, papa-papa seringkali berpikir tanggungjawabkehidupan keluarga itu hanya memberi makan kepada istri dan anak-anak, tetapi urusan rohani di dalam kehidupan keluarga, disiplin, dan pendidikan dalam keluarga itu adalah urusan mama, yang terus menerus hidup bersama dengan anak kita, sehingga ya tahunya adalah dari kerja, pulang, senang-senang, ndakmikirin keadaan keluarga itu seperti apa, ndak mau dipusingkan dengan kehidupan keluarga itu seperti apa.Tapi Alkitab tidak pernah berpegang pada prinsip seperti ini, Alkitab selalu pegang tanggung jawab di dalam keluarga itu adalah di tangan papa, walaupun mama juga turut untuk mendidik tetapi anak perlu figur bapak, anak perlu figur otoritas dalam hidup mereka, anak perlu teladan dari seorang yang takut Tuhan itu seperti apa, anak perlu teladan dari seorang yang menjalankan prinsip-prinsip yang benar berdasarkan  firman Tuhan dan kebenaran dalam hidup ini itu seperti apa, itu bukan dari perempuan saja tetapi juga dari laki-laki, baru dari situ saya percaya anak itu punya kestabilan yang lebih baik di dalam kehidupan mereka ya.Jadi seorang papa atau seorang tua, harus perhatikan bagaimana cara mendidik.Boleh tidak pukul?Boleh, tapi ingat ada batasan dimana kita tidak boleh lampaui, kalau kita lampaui itu anak kita akan rusak, kalau kita tidak lampaui anak kita akan tumbuh menjadi seorang yang baik atau secara mentalitas dia adalah seorang yang stabil juga.

Dan di dalam aspek mendidik ini perlu memperhatikan apa? Dua hal: ajaran dan nasehat Tuhan. Tadi saya sudah singgung di depan ya, ajaran itu bicara mengenai apa?Disiplin.Nasehat itu berbicara mengenai apa?Pengajaran.Maksud disiplin itu adalah melalui tindakan kita, kita membuktikan mengenai hukum-hukum yang boleh dan tidak boleh; melalu pengajaran kita mengajar mereka dengan verbal akan apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, apa yang benar dan apa yang salah, ini pendidikan.Jadi ini adalah dua aspek yang saya pikir kita perlu perhatikan baik-baik, karena saya percaya ini juga berkaitan dengan prinsip “iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati.” Bapak,Ibu,Saudara, bagaimana kita menyatakan iman kita?Melalui perbuatan kita, bukan hanya melalui perkataan kita.Kalau kita menyatakan saya mengasihi anak saya, bukan hanya dengan perkataan kan, tapi dengan perbuatan mengasihi mereka. Kalau saya bilang, “Nak,enggak boleh,” maka kita ngomong itu dengan perkataan atau dengan perbuatan? Saya pernah lihat orang tua yang didik anak, lari sana, lari sini, baru kemarin juga adik saya ngomong, “Ko, gimana ya ini anak, lihat tuh duduk sebentar lari, duduk sebentar lari.”Tapi saya pikir yang yang soal adik saya itu orang tuanya masih punya otoritas karena pada waktu dia panggil, dia duduk, lalu, tapi enggak lama kemudian dia lari lagi, kayak gitu, lalu dipanggil lagi ya dia duduk lagi, nanti dia lari lagi, dipanggil duduk lagi, saya pikir itu masih punya otoritas ya, ya anak konsentrasi nya juga enggak telalu ini.Tetapi ada orang tua yang panggil bagaimanapun ngomong itu diabaikan oleh anak lho.“Nak, duduk,”enggak, pokoknya lari terus enggak pernah berhenti.“Duduk,” lari terus, dia ketawa-ketawa lihat anaknya seperti itu, itu ndak punya otoritas.Kalau kita bicara tentang mendidik itu berarti yang kita katakan itu harus kita nyatakan itu harus terjadi.Makanya di sini dikatakan didikan itu mengandung dua hal, pertama adalah dalam ajaran, maksudnya disiplin dalam bahasa Yunaninya, dan nasihat, itu perkataan.Jadi apa yang kita ngomong harus betul-betul terjadi seperti yang kita ngomong, kalau tidak anak kita itu merendahkan kita atau menyepelekan kita.Nah ini yang kita harus gunakan sebagai orang tua untuk mendidik anak supaya dia menjadi orang yang tumbuh di dalam ketaatan dan hormat kepada orang tua.Saya percaya kalau kita ndak lakukan ini anak kita ndak akan punya rasa hormat dan taat orang tua, mereka enggak rasa butuh untuk memiliki itu dalam hidup mereka. saya kemarin ditanya adik saya, “Oh kalau kamu gimana suruh anak taat?” Saya ngomong kayak gini, “Kalau saya lihat anak lari, saya suruh duduk ndak mau duduk, saya ngomng sekali, dua kali,enggak mau, ketiga kali saya langsung ambil dia dudukkan di kursi,“Duduk, diam-diam di sini,””dan dia belajar otoritas.Jadi saya harap ini menjadi bekal bagi kita ya, mungkin bagi orang tua, kita yang sudah punya anak lucu dan dewasa, kadang saya belajar hal ini juga.Banyak sekali dalam kehidupan keluarga yang perlu koreksi, tapi saya pikir, lebih baik kita koreksi daripada terlambat.Dan kalau kita punya anak yang kecil, kita boleh terapkan untuk didik mereka dari kecil berdasarkan prinsip firman Tuhan karena ini adalah untuk kebaikan mereka dan untuk keluarga kita yang boleh membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.Mari kita masuk dalam doa.

Bapa, kami bersyukur untuk kebenaran-kebenaran yang boleh Engkau bukakan bagi kami.Hal-hal yang telah tersembunyi sebenarnya, yang ada didalam Kitab Suci-Mu, yang kalau mau digali maka kami boleh mendapatkan kebenaran itu dalam segala aspek dalam kehidupan kami.Dan hari ini kami bersyukur karena Engkau boleh memberikan bekal atau pengertian kebenaran prinsip berdasarkan firman Tuhan untuk membangun keluarga dalam mendidik anak-anak kami.Kami mohon ya Tuhan Engkau boleh pimpin keluarga-keluarga dari anak-anakMu yang ada di tempat ini, baik mereka yang sudah memiliki anak yang sudah dewasa, ataupun mereka yang masih memiliki anak yang kecil, ataupun mereka yang belum menikah dalam kehidupan mereka. Biarlah apa yang boleh disampaikan ini boleh menjadi bekal dalam hidup mereka, pengertian dalam kehidupan mereka untuk membesarkan anak, ataupun suatu hari nanti ketika Engkau percayakan anak dalam kehidupan keluarga mereka, mereka boleh mendidiknya di dalam kebenaran akan Tuhan, berdasarkan prinsip firman Tuhan.Berkati keluarga-keluarga dari anak-anakMu ini ya Tuhan, pakai mereka untuk boleh senantiasa membawa kemuliaan bagi nama Tuhan dan kesaksian bagi nama Tuhan.Biarlah ketika orang melihat kehidupan keluarga mereka, orang boleh melihat bahwa Engkau, yaitu Tuhan Yesus, hidup ditengah-tengah mereka dan prinsip-prinsip kebenaranMu ini adalah suatu prinsip kebenaran yang sejati, yang benar, yang dapat dihidupi, dan adalah kebenaran yang benar untuk dijalankan karena mereka boleh melihat prinsip-prinsip kebenaranMu diterapkan dalam kehidupan dari anak-anakMu. Tolong berkati, tolong pimpin ya Tuhan, sehingga gerejaMu boleh menjadi suatu gereja yang sungguh-sungguh menyatakan kebenaran firman dan keluarga-keluarga yang ada di dalam gerejaMu menjadi keluarga-keluarga yang boleh menerapkan kebenaran firman itu di dalam kehidupan mereka.Kami berdoa secara khusus untuk anak-anak kami, kiranya Engkau boleh pimpin mereka, biarlah kerinduan hati kami untuk melihat mereka tumbuh di dalam hati yang takut kepada Kristus boleh nyata dalam kehidupan mereka, biarlah kerinduan hati kami untuk melihat mereka tumbuh sebagai orang-orang yang sungguh-sungguh lahir baru dan memiliki keselamatan di dalam Kristus itu boleh nyata dan terbukti dalam kehidupan mereka ya Tuhan; dan biarlah Engkau juga boleh pakai kami sebagai orang tua, ketika mendidik anak kami bukan hanya berbicara saja tetapi hidup kami boleh sungguh menjadi teladan bagi anak-anak kami di dalam menjalankan prinsip firman Tuhan.Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, yaitu Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami telah berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *