Prinsip Khotbah yang Baik, 17 Januari 2021

Kisah Para Rasul 2:14-40

Pdt. Dawis Waiman, M.Div

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita melihat pada bagian ini, maka bagian ini diawali dengan satu introduksi yang berbicara berkenaan dengan apa yang terjadi di dalam perikop sebelumnya. Nah apa yang terjadi di dalam perikop sebelumnya? Kita sudah melihat bahwa perikop tersebut menceritakan berkenaan dengan hari Pentakosta, hari di mana Roh Kudus dicurahkan di tengah-tengah daripada 120 orang Kristen atau orang yang menjadi murid Kristus ketika mereka sedang berdoa atau berkumpul di ruang atas yang berada di dekat Bait Allah. Pada waktu itu terjadi, Alkitab berkata terjadi suara seperti angin ribut yang membawa satu daya tarik besar yang membuat orang mencari tahu dari mana sumber suara itu. Lalu selain itu mereka juga mendengar ada hal yang aneh terjadi di antara 120 orang tersebut yaitu mereka berbicara di dalam bahasa lain.

Dan bahasa lain di sini digunakan 2 kata, pertama adalah kata yang berbicara itu adalah ‘glossa’, bahasa yang ada di dalam dunia ini atau bahasa lidah, bahasa manusia. Ada juga 1 lagi ‘dialek’ yaitu berarti yang diucapkan adalah sungguh-sungguh bahasa yang ada di masing-masing suku bangsa dari orang-orang yang hidup dalam dunia ini. Atau istilah lainnya adalah Lukas mau menyatakan yang terjadi di hari Pentakosta ketika orang-orang mendapatkan karunia Roh Kudus di situ atau dipenuhi oleh Roh Kudus, maka Roh Kudus memberikan kepada mereka karunia bukan berbicara bahasa malaikat, bukan berbicara suatu bahasa yang sama sekali tidak mengerti karena itu bukan bahasa, tetapi Roh Kudus memberikan mereka karunia untuk berbicara dalam bahasa lain yang dibuktikan oleh bangsa-bangsa yang mendengar mereka berbicara itu.

Dan itu menimbulkan suatu keheranan besar di dalam diri mereka karena bagaimana mungkin seseorang yang dari Galilea, seorang yang tidak terpelajar, seorang Yahudi yang tidak belajar bahasa lain kecuali mungkin bahasa Aram atau bahasa Ibrani dan bahasa Yunani tetapi bisa berbicara bahsa-bahasa lain seperti orang yang berasal dari Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, dan mereka semua mendengar para rasul itu dan juga 100 lebih orang yang lain berbicara dalam bahasa mereka.

Jadi ini membuktikan ketika Petrus bangkit berdiri, ketika Petrus mempertanggungjawabkan apa yang terjadi, dia berkata, “Saudara tahu tidak ini masih pukul 9 pagi lho, orang kalau mau mabuk bukan di pagi hari tetapi di malam hari.” Dan apa yang terjadi di sini itu bukan sesuatu yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak bertanggungjawab karena mereka mabuk, tetapi ini adalah bukti dari hari Tuhan, hari terakhir dari zaman ini itu sudah tiba. Dan di situ Petrus kemudian mengutip apa yang dikatakan di dalam Kitab Yoel berkenaan dengan hari itu. Atau istilah lainnya Petrus mau berkata kalau apa yang terjadi di hari Pentakosta itu adalah sesuatu yang terjadi seperti yang dinubuatkan oleh Nabi Yoel atau itulah hari penggenapan yang dikatakan oleh Nabi Yoel.

Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini yang menjadi suatu introduksi untuk kita masuk ke dalam khotbah dari Petrus. Kenapa ini menjadi suatu dasar yang saya katakan introduksi? Karena pada waktu kita berbicara berkenaan dengan karunia roh di sini, saya percaya bahasa lidah itu bukan menjadi karunia utama di dalam gereja. Kalau kita perhatikan di dalam Kisah Para Rasul, di situ dikatakan karunia yang paling utama adalah – tentunya ada kasih di situ 1 Korintus 13 – tetapi yang membangun gereja itu karunia apa? Bernubuat, atau karunia untuk membicarakan firman Tuhan, mengajarkan kebenaran firman yang bertanggungjawab bagi gereja Tuhan. Karena apa yang diajarkan dengan bahasa yang dimengerti itu berkenaan dengan firman, itu yang akan mempertumbuhkan iman dari jemaat.

Jadi dari dasar ini kita bisa berkata karunia yang terjadi pada waktu Pentakosta bukan karunia utama. Lalu kalau itu bukan karunia utama, kenapa Tuhan memberikan atau Roh Kudus memberikan karunia itu untuk mereka miliki? Jawabannya ada di dalam ayat yang ke-12 yaitu, “Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya ini?”” Lalu sebelumnya ada kalimat mereka berbicara tentang perbuatan Allah yang besar, yang dilakukan Allah, yaitu ayat ke-11. Jadi pada waktu karunia itu diberikan, Tuhan mau menunjukkan kepada orang-orang banyak tersebut yang hadir di Yerusalem, jutaan orang itu – yang beribadah kepada Allah orang Israel melalui korban persembahan seperti yang diajarkan di dalam Perjanjian Lama – itu tercengang, dan ketika mereka tercengang mereka tidak diberikan kesempatan untuk memikirkan hal yang lain kecuali 1 hal: peristiwa ini pasti bersumber dari Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, walalupun di ayat 12 ada yang menyindiri mereka sedang mabuk oleh anggur manis dan menghina peristiwa itu yang terjadi, tetapi bagi mereka yang mengerti apa yang terjadi, mendengar perkataan dari para rasul dan 100 orang lebih tersebut di ruang atas itu, mereka tahu bahwa orang-orang itu tidak sedang mabuk tetapi mereka sedang memuji Allah melalui perbuatan-perbuatan Allah yang besar yang mereka katakan. Atau istilah lainnya ada yang mengatakan mereka mengutip Mazmur-Mazmur dalam Perjanjian Lama, peristiwa-peristiwa yang Tuhan kerjakan dari Kitab Kejadian sampai Maleakhi berkenaan dengan pekerjaan Tuhan bagi umat-Nya. Dan ini membuat orang-orang Israel atau orang-orang dari bangsa lain tersebut yang datang ke Israel yang selama ini tinggal di bangsa-bangsa yang lain itu tidak bisa memungkiri kalau yang terjadi itu bukan bersumber dari manusia, yang terjadi di hari Pentakosta itu bukan bersumber dari iblis, tetapi yang terjadi di hari Pentakosta itu pasti bersumber dari Tuhan.

Nah ini menjadi satu introduksi yang kemudian membawa Petrus untuk berkhotbah pada hari Pentakosta tersebut yang membawa pertobatan kepada 3000 orang Israel pada hari itu. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini menyatakan kalau yang utama adalah tetap khotbah. Yang utama untuk membawa orang datang di dalam iman kepada Kristus lalu menyerahkan hidup mereka dan berubah dari kehidupan lama menjadi suatu kehidupan yang baru, mengalami kelahiran baru dalam hidup mereka , dan menjadi umat Allah itu bukan karunia dari Roh Kudus tetapi adalah pemberitaan firman Tuhan.

Di dalam gereja kita sekarang ini, kita seringkali mendengar kalau Roh Kudus bekerja, banyak orang yang dipertobatkan. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, betul tidak hal itu? Mungkin ada benarnya. Roh Kudus bekerja, banyak orang dipertobatkan. Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita jarang sekali mendengar firman Tuhan itu begitu diberkati dan Roh Kudus bekerja melalui firman itu untuk membawa pertobatan bagi orang yang berdosa untuk kembali kepada Kristus. Saya percaya apa yang dicatat oleh Lukas di dalam ayat ke-14 dan seterusnya ini pasal ke-2 itu mau menunjukkan betapa luar biasanya dan berkuasanya khotbah yang dikabarkan oleh Petrus pada hari Pentakosta itu sehingga melalui itu, orang-orang boleh bertobat dan percaya kepada Kristus.

Kita bisa melihat ini bukan hanya dari khotbah yang Petrus berikan, tapi kalau Bapak, Ibu, perhatikan pada pasal yang pertama di situ kita menemukan ketika Kristus bangkit dari kematian dan bahkan kalau Bapak, Ibu, mau tarik mundur lagi ke dalam Injil Lukas bagian yang terakhir ketika Kristus bangkit dari kematian, banyak dari murid-murid tidak percaya atau semua murid tidak percaya kecuali orang-orang tertentu, para perempuan yang datang ke kubur itu untuk merempah-rempahi Kristus karena mereka tidak sempat merempah-rempahi Kristus pada waktu ia dimakamkan, menyaksikan Kristus yang sudah dibangkitkan lalu memberitakan itu kepada rasul-rasul yang lain. Tapi rasul-rasul yang lain sebelumnya tidak percaya. Kebanyakan dari mereka pulang ke kampung mereka masing-masing, pulang kembali ke dalam pekerjaan mereka masing-masing, dan menjadi seorang yang mulai melupakan atau mengesampingkan panggilan mereka yang diberikan oleh Kristus bagi mereka.

Tapi pada waktu Yesus bangkit, dikatakan Yesus kembali mengumpulkan mereka satu per satu. Saya merasa itu seperti kalau kita COVID sekarang ini banyak orang tidak datang kebaktian, lalu apa yang harus dilakukan? Mencari satu per satu kembali untuk dikuatkan imannya, diingatkan untuk datang ke dalam kebaktian Minggu secara fisik. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Yesus datang ke murid-Nya satu per satu untuk apa? Dia bukan hanya menunjukkan, “Oh Saya bangkit. Saya dulu mati dan apa yang terjadi kemudian hari ke-3 itu adalah suatu mujizat di mana Dia tidak dikuasai oleh maut tapi sekarang Dia hidup kembali.” Tetapi Alkitab berkata Ia menjelaskan apa yang harus terjadi kepada diri Dia, kepada murid-murid-Nya mulai dari Kitab Kejadian sampai Maleakhi. Seluruh Perjanjian Lama yang berbicara berkenaan dengan Kristus itu Dia ajarkan kembali kepada murid-murid-Nya satu demi satu, satu orang per orang selama 40 hari Dia ada di dalam dunia ini.

Artinya apa Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan? Saya percaya kuasa Roh Kudus itu penting, saya percaya baptisan Roh Kudus itu penting yang membuat kita masuk ke dalam Kerajaan Tuhan, tetapi saya juga sangat percaya sekali firman Tuhan itu adalah yang sangat utama sekali. Karena Alkitab berkata ketika Roh Kudus bekerja, Roh Kudus akan bekerja berdasarkan firman Kristus. Ketika Roh Kudus bekerja, maka Roh Kudus akan membawa orang untuk datang kepada Kristus dan meninggikan Kristus. Saudara boleh buka itu dalam Injil Yohanes 15:26 kita baca sama-sama, “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” Lalu 16:14, “Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”

Jadi pada waktu Roh Kudus datang, yang akan dilakukan oleh Roh Kudus itu apa? Membawa orang memahami firman, membawa orang masuk di dalam kebenaran. Dan kebenaran itu berbicara berkenaan dengan apa? Yaitu siapa Kristus. Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika seseorang ingin kita bawa untuk bertobat dari dosa mereka, dari hidup mereka yang lama kembali kepada Allah yang sejati dalam hidup mereka untuk beribadah kepada Allah, yang mereka butuhkan itu apa? Saya percaya yang mereka sangat butuhkan dan pentingkan sekali, seperti yang Kitab Suci nyatakan, adalah firman Tuhan. Mereka memiliki karunia Roh Kudus dalam hidup mereka, tanpa firman itu nggak ada gunanya sama sekali.

Saudara bisa lihat dalam Kitab Korintus di situ dikatakan orang yang memiliki karunia Roh Kudus yang bisa berbahasa lidah itu, yang memiliki karunia untuk melakukan mujizat ataupun karunia yang lain tapi sangat memprioritaskan karunia bahasa lidah itu, Paulus katakan mereka adalah bayi rohani bukan orang Kristen yang dewasa karena mereka tidak mengerti firman. Dan pada waktu Paulus berkata kepada orang-orang yang mengatakan diri mereka nabi Tuhan, yang mengerti firman, yang mengajarkan firman tetapi yang mencela pengajaran paulus berkenaan dengan karunia berbahasa lidah tersebut, Paulus mengatakan, “Kalau engkau sungguh-sungguh adalah nabi Tuhan, engkau mengerti apa yang aku katakan berkenaan dengan karunia lidah itu adalah bersumber dari Tuhan.” Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika Roh Kudus diberikan, karunia yang paling penting saya percaya adalah bernubuat. Kenapa bernubuat? Karena dengan bernubuat, orang dibawa untuk mengerti firman dan beriman kepada Kristus dan kebenaran yang Kitab Suci nyatakan bagi diri kita. Dan semua itu bagaimana disampaikan? Alkitab berkata: melalui khotbah.

Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah hal yang mungkin di zaman kita sekarang ini lebih tekankan kepada, saya pernah dengar ya khotbah-khotbah kayak KKR seperti itu bukan zamannya lagi saat ini. Mereka lebih condong kepada KTB, mereka lebih condong kepada komsel untuk bisa mendidik orang, kelompok-kelompok kecil untuk membawa orang mengenal Kristus. Mereka lebih condong kalau gereja itu bukan besar tetapi kecil-kecil di rumah-rumah seperti itu. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita kembali kepada Kisah Rasul, itu adalah bertolak belakang sekali. Pada waktu kita melihat Tuhan bekerja di antara para rasul untuk pekerjaan keselamatan yang Dia kerjakan dalam dunia ini, maka hal pertama yang Tuhan kerjakan adalah memberitakan firman Tuhan melalui khotbah yang disampaikan oleh Rasul Petrus. Dan jumlahnya nggak sedikit. Ribuan atau mungkin 1 juta orang, mungkin setengahnya yang mendengar firman itu atau khotbah tersebut. Dan Saudara bisa telusuri seluruh Kisah Rasul itu berkaitan dengan bagaimana rasul itu berkhotbah memberitakan firman Tuhan.

Itu sebabnya Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau Bapak, Ibu, perhatikan, di dalam gereja kita ada mimbar. Khususnya di dalam gereja Reformed kita tetap mempertahankan mimbar ini. Untuk apa? Untuk menekankan pentingnya khotbah, pemberitaan firman. Walaupun banyak dari gereja sekarang yang menghilangkan mimbar, lebih casual dalam kebaktian seperti itu, dan ketika menyampaikan firman bukan seperti satu arah, berotoritas, tetapi kita tetap mempertahankan hal ini. Kenapa? Sebabnya adalah kita meneladani apa yang terjadi di hari Pentakosta.

Bapak, Ibu, mungkin bertanya kenapa gereja itu ketika berbakti ada pendeta yang berdiri, berbicara, menyampaikan firman? Kenapa pendeta itu ketika berbicara ia berbicara dengan suara yang lantang? Lalu ketika dia berbicara, apa yang harus menjadi dasar atau berita yang disampaikan oleh pendeta itu atau hamba Tuhan itu? Lalu bagaimana dia caranya menyampaikan kebenaran itu? Apakah harus berteriak-teriak? Atau dengan suara yang lembut? Suatu keberanian? Atau dengan suatu perkataan yang menghibur hati? Yang membuat hangat di dalam hati, yang tidak menyinggung perasaan orang? Seperti itu? Dari mana kita dapatkan prinsipnya? Saudara, semuanya ada dari Kisah 2:14-40 ini. Setiap STT yang baik, Sekolah Hamba Tuhan, setiap orang Kristen, atau hamba Tuhan yang ingin memiliki khotbah yang baik, setiap orang Kristen yang ingin tahu apa prinsip yang ada di balik khotbah yang benar dan baik sesuai dengan firman Tuhan, belajar dari Kisah 2:14-40 ini.

Misalnya saya ambil contoh kenapa kita berdiri? Di sini dikatakan Petrus berdiri. Lalu kenapa orang yang berkhotbah dengan suara nyaring, berteriak? Karena Petrus berteriak di situ dengan suara nyaring. Ya mungkin karena nggak ada mikrofon waktu itu ya tapi paling tidak kalau orang banyak yang datang mendengar nggak mungkin dia tidak berteriak. Apalagi kalau saya pakai ilustrasinya Pdt. Stephen Tong, orang yang berkhotbah itu adalah orang yang menyampaikan kebenaran firman, panggilan Injil, kepada orang yang berjalan masuk ke dalam jurang maut. Dan orang itu adalah orang yang tertidur atau seperti orang yang ada di dalam sebuah rumah yang terbakar. Dia sedang tertidur lelap tapi rumah itu terbakar dengan api yang besar, kita yang dari luar ingin menyelamatkan orang itu kita nggak bisa masuk ke dalam, bagaimana caranya kita memperingati orang itu untuk bangun dan keluar dari rumah? Kita pasti nggak mungkin datang, gedor-gedor pintu, “Halo?” Misalnya panggil, “Valen, Valen atau Lukman, Lukman, bangun, ada api..” Kita pasti ngomong, “Lukman! Valen! Bangun! Ada api! Kamu bisa mati! Cepat bangun dari tidurmu!”

Kenapa kita harus dengan suara yang lantang? Suara yang nyaring? Suara yang jelas? Dan bahkan kalau mau dikatakan, suara yang berani untuk memberitakan firman Tuhan atau Injil Tuhan? Karena orang perlu diperingatkan, orang perlu dibangunkan. Ada unsur desakan, ada unsur keseriusan, ada unsur harus cepat-cepat berbalik karena ini adalah hal yang sangat penting yang membahayakan engkau kalau engkau tidak mau berbalik dan bangun dari tidurmu, engkau akan mati dan binasa.

Dan Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, gereja yang tidak terlalu mementingkan khotbah biasanya tidak terlalu mengutamakan kebenaran, otoritas mutlak kebenaran. Saya terus terang bergumul dengan isteri waktu kita bikin Panggung Boneka. Kita bukan hanya bikin itu langsung cuma ada cerita lalu kita bikin, kita rekaman lalu kita sebarkan di Youtube, tetapi sebelum kita bikin pangbon itu kita lihat begitu banyak sekali pangbon yang lain dan juga kartun-kartun yang ada. Dan kalau Bapak, Ibu perhatikan pangbon kita dibandingkan dengan pangbon yang lain, ada perbedaan. Tau nggak perbedaannya di mana? Siapa yang di sini nonton? Nggak ya? Boleh lihat ya. Pangbon yang lain biasanya percakapan yang ada satu dengan yang lain. Dan percakapan itu kalimat-kalimat yang pendek. Betul kan? Kayak komunikasi antara seorang dengan yang lain lalu disertai dengan suara, musik, disertai dengan gambar-gambar yang bagus seperti itu. Lalu pada waktu kita membuat pangbon itu ceritanya, itu gimana ya? Kita mau ikuti cara mereka nggak? Pertama, memang sulit karena butuh orang yang sangat kreatif, butuh orang yang punya kemampuan komputer yang baik, butuh orang yang bisa membuat ilustrasi yang baik seperti itu.

Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di situ kita disadarkan satu hal, yaitu apa? Kita nggak mungkin gunakan cara mereka, kita nggak mungkin gunakan cara dialog untuk mengajar anak-anak kebenaran firman karena pada waktu kita ingin mengajar kebenaran firman, Alkitab selalu mengajarkan itu adalah otoritas dari satu orang yang dipanggil oleh Tuhan untuk mendidik dan mengajarkan firman Tuhan. Nah itu yang terjadi di dalam Kisah Rasul pasal yang ke-2, itu yang terjadi didalam Kisah Rasul berikutnya ketika Bapak, Ibu, Saudara, perhatikan Petrus, Yohanes, atau Stefanus ataupun Rasul Paulus di dalam memberitakan firman mereka pasti berdiri, mereka akan memberitakan satu orang satu arah pemberitaan firman Tuhan itu. Dan pada waktu mereka memberitakan firman itu secara satu arah, mereka ada poin-poin penting yang menyertai pemberitaan itu.

Nah kita akan lihat itu satu persatu, tapi yang saya mau katakan satu hal, kalau kita betul-betul melihat kepada firman Tuhan, Kitab Suci sebagai suatu kebenaran yang berotoritas, saya yakin yang terjadi adalah gereja pasti mempertahankan khotbah, pemberitaan firman yang satu arah kepada jemaat. Kalau jemaat tanya, “Tapi ada hal-hal yang perlu kami mengerti yang kami tidak pahami di dalam pemberitaan firman lalu bagaimana? Kami nggak bisa berdialog di situ, kayanya lebih baik kalau ada dua arah kalau kita memberitakan firman jadi ada tanya jawab seperti itu.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada bagiannya yaitu di PA. Kalau engkau ingin belajar lebih mendalam firman Tuhan, datang ke PA, belajar di situ. Kita bisa komunikasi, kita bisa tanya jawab, kita bisa buka Alkitab secara lebih detail untuk membahas kebenaran firman Tuhan. Tetapi coba perhatikan, mereka yang tidak terlalu mengutamakan kebenaran lagi secara mutlak biasanya mereka tidak terlalu mementingkan firman atau khotbah secara satu arah.

Nah lalu berikutnya adalah apa yang Petrus beritakan di dalam pasal 2 ayat 14 dan seterusnya? Dan bagaimana cara Petrus memberitakan hal itu? Saya mungkin hari ini memberikan secara garis besar terlebih dahulu supaya kita ada gambaran lalu baru kita masuk ke dalam lebih detail didalam pembahasan berikutnya ya. Pada waktu Petrus berkhotbah, yang menjadi berita utama kalau Saudara perhatikan, berkenaan dengan siapa? Kristus Yesus Orang Nazaret itu. Itu yang menjadi berita utama yang Petrus kabarkan dan rasul-rasul yang lain termasuk Paulus beritakan di dalam khotbah mereka. Kita nggak punya waktu, Bapak, Ibu boleh bandingkan itu di dalam Kisah 3 dan seterusnya ya. Tapi, selalu Kristus yang ditinggikan, yang utama. Nah ini yang berkaitan dengan apa yang saya ajak Bapak, Ibu baca di dalam Yohanes tadi ya, ketika Roh Kudus bekerja maka orang itu akan menyaksikan siapa? Kristus. Ketika Bapak, Ibu memiliki Roh Kudus dan tunduk di dalam suatu kehidupan yang dipenuhi oleh Roh Kudus, buktinya dari apa? Buktinya adalah dari siapa yang Bapak, Ibu tinggikan dalam hidupmu, yang saksikan di dalam hidupmu, apakah Kristus atau bukan. Itu ciri dari seorang dipenuhi oleh Roh Kudus.

Nah itu yang membuat Petrus di dalam berkhotbah, ia berkata atau kita bisa pelajari, khotbah yang baik adalah pertama, ia adalah seorang yang harus mengkhotbahkan berkenaan dengan Mesias, berkhotbah berkenaan dengan Kristus dan meninggikan Kristus, apa yang Kristus kerjakan, itu yang disampaikan kepada orang-orang yang membutuhkan untuk mendengar itu. Nah apa yang disampaikan itu? Yaitu pekerjaan Kristus yang adalah Allah yang inkarnasi jadi manusia lalu ketika Dia dalam dunia ini, apa yang Dia lakukan? Dia mengajar firman, Dia melakukan mujizat, tetapi mujizat itu bukan sekedar untuk menyembuhkan orang sakit. Petrus berkata itu adalah tanda, itu adalah kekuatan Allah, itu adalah mujizat, itu adalah tanda yang dilakukan oleh Bapa melalui perantaraan Dia di tengah-tengah kamu. Artinya pada waktu Yesus melakukan mujizat, kalau kita berpikir tujuannya adalah cuma untuk menyembuhkan orang sakit, orang yang lumpuh, orang yang buta, orang yang sakit kusta, kita nggak sampai kepada pengertian yang sesungguhnya. Karena di dalam Kitab Suci dikatakan ketika Yesus menyembuhkan orang sakit, tujuannya adalah untuk memberikan tanda untuk orang-orang melihat ternyata Yesus adalah Mesias, Yesus adalah yang dijanjikan Tuhan datang sebagai Penyelamat.

Jadi, pada waktu Petrus berkhotbah dia beritakan ini, tetapi dia tidak sampai kepada apa yang terjadi di kayu salib. Dia juga mengangkat peristiwa kebangkitan dari Kristus. Saya percaya inilah berita Injil yang komplit ya, yang baik, yang harus didengar oleh manusia yang berdosa. Dan Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita lanjut sedikit lagi, bagaimana Petrus membuktikan kalau Yesus itu adalah sungguh-sungguh Mesias? Caranya gimana? Coba perhatikan James Boice ada bicara soal ini ia berkata, ada tiga bagian kutipan besar yang dilakukan oleh Petrus. Pertama adalah dari Yoel 2 yaitu itu Saudara bisa lihat dari ayat 17-21 di bawahnya itu ada nunjuk Yoel 2:28-32. Lalu setelah itu ayat 22-23 itu bicara penjelasan dari ayat 17-21. Lalu kemudian kutipan yang kedua adalah dari ayat, ada yang di sini LAI bilang ayat 24 juga itu adalah kutipan dari Matius, lalu ayat 23 itu juga dari Matius ya. Tapi dari Perjanjian Lama ada dikutip dari ayat 25-28 dan itu dikutip dari Mazmur 16:8-11. Lalu ayat 29 dan seterusnya itu adalah penjabaran dari ayat 25-28. Kutipan ketiga adalah diambil dari Mazmur pasal 110:1 itu di dalam ayat 34-35. Dan setelah itu ayat 37 dan seterusnya adalah penutup, tantangan untuk orang percaya kepada Kristus, bertobat dan percaya kepada Kristus.

Yang saya mau katakan adalah ketika seseorang membuktikan Kristus, hal pertama adalah pembuktian itu harus didasarkan pada Kitab Suci. Tapi ketika kita berbicara berkenaan dengan Kitab Suci, hal itu bukan hanya berbicara berkenaan dengan kutip-kutip ayat, tetapi kutipan-kutipan ayat itu adalah suatu kutipan yang bisa dijabarkan atau dieksposisikan – yang membuat kita sampai hari ini mengkhotbahkan eksposisi adalah dasar ini ya – ada ayat kebenaran firman, kita kutip itu kita jabarkan tapi jabaran yang kita berikan atau eksposisikan itu harus saling mendukung satu dengan yang lain, nggak boleh saling bertentangan.

Jadi pada waktu kita mengutip bukan hanya sekedar, “Oh kalau orang itu adalah orang yang begitu kuasai banyak sekali ayat Alkitab di dalam khotbahnya dia kutip begitu banyak ayat Alkitab berarti dia mengkhotbahkan firman Tuhan.” Belum tentu. Setan juga kutip ayat waktu mencobai Yesus Kristus dan dia dikatakan Setan. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, jadi pada waktu kita mau menilai apakah sebuah khotbah itu baik atau tidak, maka dasar pertama adalah apakah dia mengkhotbahkan firman Tuhan atau tidak? Apakah dia sungguh-sungguh menjelaskan firman Tuhan atau tidak?

Misalnya ambil contoh saya baca dari ayat 17 ya. “Akan terjadi pada hari terakhir – demikianlah firman Allah – bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu.” Petrus bilang apa? “Hai, orang-orang Israel,” Ayat yang ke-22 “dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.” dan seterusnya.

Kok Petrus bisa khotbahkan itu ya? Pada waktu orang Yahudi baca ayat 17-21, maka Orang Yahudi punya suatu pengertian ini berbicara tentang zaman akhir di mana Mesias akan datang. Dan di dalam pemikiran Yahudi ketika Mesias datang akan terjadi penghakiman, walaupun di bagian ini Petrus kemudian tidak langsung membawa ke dalam penghakiman tetapi dia membawa ke dalam suatu keselamatan yang dikerjakan oleh Kristus dan di situ ada simbol-simbol seperti ‘matahari yang gelap’, ‘bulan yang gelap’, yang menjadi simbol hari penghakiman itu tiba, tapi sebelumnya ketika ‘anak-anak bernubuat’ dan yang lainnya, itu menunjukkan bahwa hari akhir itu telah tiba dan ketika hari akhir telah tiba maka hari akhir itu akan berbicara berkenaan dengan Kristus atau Mesias.

Dan pada waktu hari akhir itu tiba dan berbicara berkenaan dengan Mesias, Petrus baru masuk, “Menurut kamu siapa Mesias itu? Siapa Kristus itu?” Dan menurut pandangan orang Yahudi pasti bukan Yesus Kristus. Karena apa? Dia adalah Orang Nazaret. Orang Nazaret, siapa mereka? Orang yang nggak terkenal. Dari kampung yang kecil, yang nggak ada namanya, nggak ada sesuatu yang istimewa, nggak ada nabi yang bersumber dari situ. Yang namanya Nazaret adalah tempat yang seharusnya tidak muncul Mesias, tapi Mesias harusnya muncul dari Betlehem, Yerusalem. Kota Daud atau Betlehem tempat kelahiran Daud. Itu Mesias harusnya bersumber. Tapi Yesus ini adalah dari Nazaret, Dia nggak mungkin Yesus Kristus. Maka ketika Dia datang ke Nazaret, Yesus langsung bicara, “Aku tahu nabi nggak pernah diterima di kotanya sendiri.”

Dan Saudara, itu sebabnya dikatakan pada waktu Petrus mengutip Yoel, di situ Petrus mengajak orang-orang Yahudi melihat ini adalah hari di mana Mesias tiba melalui penggenapan Yoel itu tetapi yang menjadi soal, siapa Mesias itu? Nah makanya Petrus kemudian berkata, langsung dibalik seperti dia berkata, “Yang menjadi Mesias adalah Yesus dari Nazaret itu, yang kau salibkan, tetapi Dia disalibkan dan diserahkan menurut maksud dan rencana Allah.” Jadi, itu adalah bagian contoh, bagaimana seseorang mengkhotbahkan firman, atau kita bisa pelajari dari khotbah yang Petrus berikan.

Contoh lain misalnya, kalau Bapak, Ibu, baca ayat 25-28, sebenarnya itu bicara tentang siapa? Kayanya bicara tentang Daud ya, “Sebab Daud berkata tentang Dia,” ini Dia itu Yesus di sini dikutip. Tapi kalau Bapak, Ibu baca dari Mazmur 16 maka di situ seolah-olah Daud sedang berbicara mengenai pengalaman yang dia alami dan dicurahkan di dalam Mazmur ini. Dia berkata, “Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.”

Wajar nggak kalimat ini? Sangat wajar kan. Bicara tentang siapa? Tentang Daud. Lalu kalau kita mengklaim orang kudus tidak akan melihat kebinasaan, boleh nggak, walaupun kita mati? Ya boleh saja kayak gitu ya, karena kita tahu orang-orang Israel percaya bahwa setelah kematian ada kebangkitan, seperti orang Farisi, ada hidup dalam Tuhan. Jadi, ‘Dia tidak akan membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan’, atau bisa juga dalam pengertian Dia akan menyelamatkan orang-orang kudus-Nya dari kemalangan, dari kesusahan, dari ancaman, dari musuh-musuhnya, mungkin bisa seperti itu. Tapi Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, pada waktu Petrus khotbahkan ini, dia ngomong apa? Khususnya di bagian terakhir dari ayat 27, dia berkata, “Coba kamu lihat, Daud yang berkata Orang Kudus-Mu tidak akan melihat kebinasaan, kalau dia bicara tentang diri dia, perhatikan sampai hari ini, makamnya masih ada, tulang-tulangnya masih ada di dalam kuburan itu. Jadi ayat ini bicara tentang siapa? Daud kah?” Petrus bilang bukan. Tetapi, ini bicara tentang Yesus yang dibangkitkan.

Begitu juga dengan ayat 34 Daud berkata, “Tuhan telah berfirman kepada Tuanku.” Nah ini menarik Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Tuhan di situ kalau di dalam bahasa Ibrani yang pertama itu adalah Yahweh, tuanku yang kedua adalah Adonai, dan Daud berbicara berkenaan dengan dua orang, dua pribadi ini, Yahweh berbicara kepada Adonai. Tapi di dalam bahasa Yunaninya diterjemahkan tuan yang pertama adalah Kurios telah berfirman kepada Kurios. Menunjukkan bahwa yang pertama itu adalah Tuhan Yahweh, yang kedua juga adalah Tuhan yang setara dengan Yahweh. Lalu yang berkata ini siapa? Daud. Daud berkata kepada tuannya. Tuannya itu siapa? Mesias, Mesias duduklah di sebelah kananku, Yahweh berkata seperti itu. Dan itu yang membuat kemudian diterjemahkan atau ditafsirkan bahwa Allah telah membuat Yesus yang kamu salibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus.

Bapak, Ibu, kenapa kita berkata Kurios itu bukan hanya berbicara dia adalah manusia, tuan biasa, seperti seorang bos atau tuan, dan kita membuat Yesus yang adalah manusia menjadi Tuhan? Jawabannya ada di sini ya, karena ketika berbicara mengenai Yesus yang adalah Kurios itu, Kurios di situ disetarakan dengan Kurios yang adalah Yahweh di dalam Perjanjian Lama, dan dikatakan Dia memang adalah Tuhan dan Kristus. Jadi pada waktu seseorang mengutip ayat, ada satu kesinambungan yang harus ada di dalam pengertian firman itu. Dan ada penjabaran yang tidak lari daripada konteks kebenaran dari firman itu. Itu baru namanya memberitakan firman atau eksposisi firman. Bukan hanya sekedar kutip-kutip ayat Kitab Suci ya. Dan Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, dia membuktikan kalau Kristus adalah sesuatu yang sudah dinubuatkan di dalam Kitab Suci.

Jadi, pada waktu kita memberitakan Kristus, saya percaya ini adalah prinsip yang penting sekali. Boleh nggak menggunakan argumentasi? Saya yakin sangat, sangat boleh sekali, dan harus menggunakan argumentasi atau logika kita. Saya kadang-kadang kalau denger khotbah itu jengkel juga, kadang ngomong A, nanti kesimpulannya B, atau lari nya lompat-lompat nggak jelas seperti itu, argumentasinya nggak kuat sama sekali cuma keluarkan statement-statement begitu. Saya percaya khotbah yang baik, itu ada argumentasi. Khotbah yang baik itu ada unsur meyakinkan orang untuk percaya kepada Kristus. Saudara bisa buka itu di dalam bagian ayat 37 dan 38 dan seterusnya ya di situ. Di situ Petrus berusaha meyakinkan mereka, atau ayat 40 ya, “Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: ”Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”

Atau intinya di balik ini adalah dia sungguh-sungguh meyakinkan mereka, Bapak, Ibu, bisa bandingkan dalam kisah yang lain atau khotbah yang lain, coba buka Kisah 19:8 aja ya supaya lebih jelas. Ini bicara tentang Paulus di Efesus, “Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah.” Di sini dikatakan mengajar, tapi bahasa Inggrisnya menggunakan reasoning and persuading. Dia berargumentasi, dan dia berusaha meyakinkan orang-orang yang ada di Efesus untuk percaya kepada Kristus. Itu adalah bagian dari khotbah. Jadi khotbah yang baik, saya percaya, ada aspek logika yang harus masuk, tapi aspek logika itu harus tertata untuk bisa meyakinkan dan menaklukkan pikiran orang di bawah kebenaran Kritsus. Bukan sekedar menggerakkan emosi, bukan sekedar fasih di dalam berbicara, tetapi harus ada pembuktian dan harus ada peyakinan yang diberikan untuk membawa orang ke dalam Kristus.

Tapi Saudara, itu nggak cukup. Saudara buktikan berdasarkan apa? Saudara yakinkan orang berdasarkan apa? Petrus gunakan itu berdasarkan Kitab Suci. James Boice berkata seperti ini ya tadi saya ada bilang di awal, dia bilang kalau kita bandingkan antara kutipan yang dilakukan oleh Petrus dengan penjabaran yang dilakukan oleh Petrus dan aplikasi maka Saudara akan menemukan satu keseimbangan. Petrus kutip 13 ayat Kitab Suci, dia menjabarkan di dalam 10 atau 11, dan dia mengaplikasikan itu dalam 2 aplikasi, 2 ayat. Jadi James Boice berkata ada keseimbangan di antara ayat yang dikutip, penjabarannya, dan aplikasinya. Penjabaran dan aplikasi itu satu bagian, ada keseimbangan dengan kutipan daripada firman Tuhan itu.

Artinya adalah pada waktu kita ingin memberikan satu bukti kebenaran, maka bukti kebenaran kita bukan berdasarkan hal-hal yang ada di dalam dunia ini seperti yang dipikirkan orang-orang dunia. Kemarin waktu saya lagi persiapan ini, istri saya buka Youtube di situ dia bilang ditemukan kubur Yesus di bawah Gereja tersebut. Tapi ada yang aneh juga, kemungkinan kita ndak pernah bisa membuktikan itu adalah kubur Yesus yang sesungguhnya, tapi dia ngomong ini adalah kubur Yesus, kayak gitu. Sekarang pertanyaannya, mau buktikan itu kubur Yesus atau bukan dari mana? Yesus masih di situ atau nggak? Pakai tes DNA? Tahu dari mana DNA itu DNAnya Yesus? Nggak bisa. Tapi di dalam logika pikiran manusia, mereka berusaha mencari jalan yang lain, arkeologi dan yang lain-lain, untuk membuktikan kalau Yesus mati, misalnya, Yesus ndak bangkit dari kematian. Atau mungkin mau buktikan Yesus bangkit dari kematian, ayo gimana caranya buktikan Yesus bangkit dari kematian? Ilmu pengetahuan? Nggak mungkin bisa. Kecuali kita datang kembali kepada Kitab Suci dan mengutip apa yang Tuhan janjikan, nubuatkan selama 1500 tahun berkenaan dengan Kristus. Dan semuanya tergenapi di dalam pribadi yang namanya Yesus Kristus, bagaimana Dia akan datang, inkarnasi, apa yang Dia lakukan ketika Dia ada di dalam dunia ini, lalu Dia disalibkan, mati, hari yang ke-3 bangkit dari kematian, semua itu dijabarkan di dalam Perjanjian Lama bagi kita dan juga di dalam 4 Injil, yang membuktikan kalau yang kita bicarakan tentang Kristus itu sungguh-sungguh seperti yang Kitab Suci, Perjanjian Lama, sampaikan bagi diri kita. Dan saya percaya, inilah yang membuat orang bertobat.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau engkau ingin meyakinkan orang untuk datang kepada Kristus, jangan gunakan kepintaran kita dan bukti-bukti di luar Kitab Suci. Kita sedang adakan peperangan rohani dengan orang dan Alkitab sudah memberikan satu persyaratan atau cara kerja, kalau engkau ingin Roh Kudus bekerja untuk mempertobatkan orang, melahirbarukan orang untuk datang kepada Kristus: beritakan firman. Sampaikan kebenaran firman seperti yang Kitab Suci nyatakan, nggak usah lebih, nggak usah ditambahi, nggak usah dikurangi, beritakan itu, maka Tuhan akan bekerja di dalam hati orang itu untuk membawa orang itu datang kepada Kristus dan bertobat. Tinggikan Kristus, itu menjadi poin yang penting di dalam pemberitaan kita.

Lalu cara memberitakannya, selain berlogika, atau argumentasi dan meyakinkan di situ, ada aspek lagi, apa lagi? Saya percaya ada satu keberanian yang diperlukan di dalam pemberitaan Injil, dan ini yang sering kali menjadi penghalang kita untuk memberitakan Injil. Saya kadang ketika ada orang nanya ke saya ya, “Pak, gimana sih caranya menginjili? Pak, kapan ada pelatihan penginjilan?” Saya sih garuk-garuk kepala kaya gitu ya. Kalau Bapak, Ibu, jawab yang ditanya, ya kenapa orang tidak menginjili? Pertama mungkin karena dia ndak tau caranya penginjilan, OK sih ada aspek itu perlu diperlengkapi. Tapi pertanyaan berikutnya adalah, orang yang sudah dilengkapi menginjili ndak? Belum tentu kan. Lalu yang dia tuntut apa lagi? Saya kayaknya masih kurang belajar, saya perlu belajar lagi cara menginjili itu seperti apa.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, yang dIbutuhkan untuk menginjili itu cuma satu kok, apa? Keberanian untuk berbicara tentang Kristus. Saya yakin orang yang datang ke gereja Reformed paling nggak ketika ditanya pasti bisa jelasin tentang siapa Kristus. Cuma masalahnya adalah untuk mulai itu susah. Untuk mulai itu kurang berani. Dan untuk mulai itu takut menyinggung perasaan orang lain. Tapi kalau Bapak, Ibu, perhatikan khotbah Petrus ini sangat, saya percaya, sangat bikin orang Israel itu shock berat sekali ya. Kok bisa ya? Pertama dia bilang, dia pakai istilah Yesus dari Nazaret aja sudah shock lho. Lalu dia bilang apa? Dia bilang, “Kamu tahu, kamu tahu, kamu yang salibkan Dia, kamu yang bunuhkan Dia, pemimpin agamamu yang menyerahkan Dia, kamu juga tau semua peristiwa yang terjadi ini, dan kamu ada bagian di dalam nya untuk menyalibkan Kristus.” Lalu di situ dia tantang. Itu yang membuat orang-orang merasa hati mereka tertusuk lalu bertanya apa yang harus kami perbuat. Berani sekali untuk memberitakan kebenaran. Tetapi bukan hanya kebenaran keselamatan yang dipekerjakan oleh Kristus bagi orang yang berdosa, tetapi Petrus juga menyampaikan penghakiman Tuhan yang akan dialami oleh orang yang menolak Kristus.

Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mungkin saya akhiri di sini karena kita ndak banyak waktu ya, khotbah yang baik itu adalah khotbah yang meninggikan Kristus. Khotbah yang baik itu adalah khotbah yang disampaikan dengan berdasarkan pembuktian Kitab Suci. Khotbah yang baik itu adalah khotbah yang bukan hanya memberitakan sukacita, keselamatan, kabar baik Injil, tetapi juga penghakiman yang Tuhan akan berikan bagi manusia berdosa. Kalau kita dengar orang hanya menyampaikan hal-hal yang baik, nggak pernah bicara tentang dosa, tidak pernah berbicara tentang penghakiman, Saudara boleh baca di dalam Perjanjian Lama, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, bahkan di Musa atau 5 Kitab Musa, semua itu adalah bicara tentang nabi palsu. Tetapi kalau Saudara dengar tentang penghakiman terus, ini juga tidak ada pengharapan di situ ya. Jadi khotbah yang baik itu adalah satu khotbah yang memberitakan berkenaan dengan Kristus, dengan menggunakan kata-kata atau argumentasi yang logis yang meyakinkan berdasarkan Kitab Suci, dan dengan tujuan untuk membawa orang berdosa bertobat dan datang kepada Kristus, dan mengakui Dia adalah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup, dan terhindar dari penghakiman Tuhan. Itu khotbah.

Jadi, saya harap ketika Bapak, Ibu mendengarkan ini, paling tidak ada satu panduan dalam diri Bapak, Ibu, mengenai khotbah yang baik itu sentralitasnya pada siapa, apa yang menjadi poin penting yang harus dibahas di situ. Dan ketika Bapak, Ibu, harus menyaksikan Injil Kristus, Bapak, Ibu, juga Saudara, tahu bagaimana caranya berbicara berkenaan dengan Injil seperti yang telah diajarkan oleh atau diteladankan oleh Petrus di dalam Kisah Pasal 2 ini ya. Kiranya Tuhan boleh berkati kita semua ya. Mari kita berdoa.

Kami berdoa, bersyukur Bapa untuk teladan yang telah Engkau berikan kepada kami melalui orang-orang kudus-Mu, yang tentunya mereka bisa meneladankan karena mereka belajar firman dan tunduk di bawah pimpinan Roh Kudus di dalam hidup mereka dan bekerja melayani Tuhan berdasarkan apa yang Engkau karuniakan bagi mereka. Kiranya segala kebenaran firman yang kami boleh baca dan pelajari di dalam Kitab Suci itu boleh menjadi satu kebenaran yang turut menguatkan kami, memberikan keberanian, dan memperlengkapi kami untuk menjadi saksi Kristus di tengah-tengah dunia ini. Berkati kami semua ya Bapa, tolong dan pimpin kehidupan iman kami. Dalam nama Tuhan Yesus yaitu Tuhan dan Jurus Selamat kami yang hidup, kami telah berdoa. Amin

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *