Persembahan yang Memiliki Nilai Pengorbanan, 28 Maret 2021

Filipi 4:18-23

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Dalam bagian ini kita melihat ya, kita bisa kembali mengingat, konteks dari Kitab Filipi ini, ya, Surat Filipi ini sendiri dicatatkan ketika Paulus berada dalam penjara ya, sehingga kita jangan lupa konteksnya itu seperti demikian, dia berada dalam situasi yang sebenarnya sangat sulit dan sampai satu titik di tengah kekurangannya semua, sebelumnya ada jemaat Filipi itu ada tidak bisa mengirimkan bantuan pada dia, tapi setelah mungkin berapa bulan, atau mungkin bahkan tahun, barulah kemudian itu mereka bisa mengutus Epafroditus untuk mengirimkan ada kiriman bantuan mungkin makanan atau mungkin apa bantuan yang untuk dia mencukupkan kebutuhannya di sana, ya, mungkin juga ada beberapa pakaian ya, atau mungkin cuma satu dua pakaian yang hangat untuk bantu menyelimuti dirinya, seperti itu. Nah, menarik ketika kita lihat di sini, di akhir dari bagian ini dikatakan, “Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus,” dan seterusnya ya.

Menarik di dalam bagian ini ada yang mengatakan, “Wah ini kok sudah di bagian akhir-akhir sekali ya baru dia menyebut tentang adanya kiriman bantuan, support dari jemaat Filipi kepada dia.” Kadang-kadang ada yang mengatakan seolah-olah inilah konteks atau alasan kenapa Paulus menuliskan surat ini. Kita melihat tentu dari satu sisi secara aspek manusianya, ada memang ucapan terima kasih yang Paulus nyatakan di dalam Surat Filipi ini. Tapi kalau kembali seperti saya bahas juga sebelumnya, ucapan terima kasih itu seperti disisikan terakhir, saya percaya bagian ini bukan Paulus itu gengsi untuk ucapan terima kasih seperti itu, tapi karena dia sadar bahwa terutama ketika dia menuliskan Surat Filipi ini, bukan saja sekedar sebagai ucapan terima kasih, tapi menjadi suatu kesempatan untuk dia dipakai Tuhan untuk menyampaikan kebenaran firman di dalam suratnya ini. Dan khususnya adalah pengajaran dari awal itu dipaparkan, dan melalui pimpinan dari Allah Roh Kudus, inspirasi dari Allah Roh Kudus memampukan Paulus menuliskan Surat Filipi ini. Baru di bagian akhirnya, baru dia aspek horizontalnya, dan bicara dia terimanya itu, dan menarik dia katakan berkelimpahan.

Kadang-kadang kalau kita baca sepintas gini, “Wah kehidupan ini ternyata ada kelimpahannya,” kalau kita baca sekilas itu, “wah dia sampai berkelimpahan,” lalu kita pikir, “wah ini seperti alat theologi sukses, hidup itu berkelimpahan.” Betul ya, sebenarnya ada banyak bagian itu Alkitab mengatakan kita itu hidup berkelimpahan, tapi saya rasa yang perlu kita teliti maksud berkelimpahannya itu seperti apa. Maksud berkelimpahannya ketika kita masuk lebih mendalam, secara bertanggung jawab, studi bertanggung jawab kepada Alkitab, ternyata bukan seperti digambarkan theologi sukses seperti bahwa hidup kaya raya, hidup yang misalnya apa ya kita bayangin itu, pokoknya saya hidup kaya, ada jet pribadi, ke mana-mana itu ada, ada supir pribadi, ada yang antar dan seterusnya, tidak seperti itu. Dan bahkan apalagi konteksnya bagian ini ketika Paulus katakan berkelimpahan itu pasti bukan yang banyak sekali, karena ya dia sampaikan surat ini dia tetap masih berada dalam penjara. Dan di dalam konteks yang ya masih semua terbatas ya kalau mau dibilang bahkan dalam satu artian ya ini berkekurangan sebenarnya di sana. Cuma setelah kekurangan sekian lama, kita kembali lagi ndak mengerti berapa lama dia itu kekurangannya itu, dan ini fisik sekali kalau mau dibilang dia itu kelaparan, keroncongan perutnya itu sekian lama, barulah dia bisa dapat bantuan ini ya. Dan kita lihat, sehingga pengertian kelimpahannya itu pasti bukan kaya ala jetset selebriti, orang kaya raya dan seterusnya.

Tapi saya menarik, ketika saya renungkan ini ya, istilah kelimpahan ini dipakai Paulus, saya pikir adalah karena tidak lepas dari adalah yang dia paparkan di sebelumnya yaitu dia memiliki konsep yaitu prinsip kecukupan yang tepat. Yaitu dia bisa lihat di mana standar cukup, sehingga ketika ada diberikan suatu lebih, ya dia mengerti itu limpah. Kalau kita mengerti bagian sebelumnya adalah dia mengerti bagaimana segala sesuatunya itu dia itu cukup di dalam Kristus. Dia mencukupkan dirinya di dalam Kristus, dia merasakan ada suatu kecukupan di sana. Sehingga di sini kita melihat berkelimpahan itu karena mengerti batasan cukup itu di mana. Sehingga melihat ketika ada ternyata kemudian hari bisa diberikan lebih dari itu, maka dia sebut ini kelimpahan, bisa lihat di sini ya.

Kembali lagi ya ini situasinya sebenarnya, mungkin ya kalau kita hari, bisa, apa ya, kita bisa melihat keadaan Paulus di waktu itu, kita akan lihat bahwa ini serba kekurangan sekali. Pakaiannya itu pun terbatas sekali, sampai mau dibawa oleh Epafroditus baru mungkin ada dapat pakaian yang hangat. Baru ketika Epafroditus datang baru bisa ada dia makanan yang dia makan lebih cukup gitu. Kita mungkin lihat, “Wah ini melarat sekali.” Tapi dari perspektif Paulus, dia melihat ini kelimpahan. Kenapa? Karena dia mengerti seperti apa kecukupan itu sendiri.

Kalau kita, saya pikir ketika merenungkan bagian ini saya ndak lepas teringat apa yang Paulus memberikan definisi cukup itu di 1 Timotius 6:8, granted memang surat ini ditulis di kemudian hari, tapi menarik di 1 Timotius 6:8 Paulus memberikan kita definisi cukup itu yang ringkas sekali yaitu asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Kalau mau dibilang ayat hafalan, ini ayat hafalan yang coba kita hafal, jangan kalah dari anak-anak Sekolah Minggu bisa hafal lebih panjang, kalau orang gede gitu terus kita hafalin cuma apa, Yohanes 3:16. Kalau mau hafal, ada ayat hafalan yang ringkas, padat, jelas, ini lho, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Inilah definisi cukup itu sendiri ya. Sederhana sekali bagian sini ya cuma asal ada makanan dan pakaian, tidak disebut makanannya sampai banyak, pakaiannya sampai berapa banyak ya di dalam rak dan seterusnya, tapi asal ada makanan, ada pakaian, ya sudah, cukup gitu. Pakaian apa ya? Ya udah yang dia pakai saja. Makanan yang secukupnya kalau mau dibilang dalam doa Bapa kami ya. Dalam bagian ini ya cukup.

Bahkan bagian ini kalau kita, saya ingat sekali dulu pelajaran masih di sekolah itu kan sandang, pangan, papan. Tapi di sini kok nggak ada papannya? Jadi kalau kita bisa bilang dalam bagian ini ternyata definisi Paulus yang paling minim itu ya istilah cukup itu ya di sini, yaitu ada sandang, ada pangan, ya sudah cukup, papan ndak harus ada. Mungkin kita bilang, “Iya Pak, soalnya dia kan KKR ke mana-mana, dia bolak balik itu pergi ke tempat-tempat, ya dia nggak perlu rumah menetap.” Mungkin istilah kalau hamba Tuhan zaman sekarang tinggalnya di pastori aja, nggak punya rumah pribadi ya nggak apa-apa. Atau mungkin Paulus juga berkali-kali toh juga bolak-balik masuk penjara, ya papannya itu ya di papan penjara kira-kira seperti itu. Tapi kita lihat ya, menarik bagian ini adalah dia katakan asal ada makanan dan pakaian cukuplah karena Paulus itu belajar mencukupkan dirinya itu sedemikian, dan dia belajar puas asal ada makanan dan pakaian, ya cukup. Jadi dia tidak mudah, kalau mau dibilang itu, komplain atau rasa kekurangan dan disulitkan dengan berbagai rasa kekurangan-kekurangan itu.

Kalau kita lihat di dalam bagian ini kita bisa belajar nggak – ya kita kembali ya kalau kehidupan modern ndak harus lah sampai sebegini-gininya ya kira-kira – tapi kita berani nggak sih kalau kita jujur di hadapan Tuhan dengan terbuka di hadapan Tuhan, kita set diri kita di mana titik cukup kita itu. Di mana sih titik yang kita lihat ya udah ini cukup di sini, cukup di sini lho. Ataukah kita akan terjebak seperti apa yang diajarkan dunia itu ya memang selalu tidak pernah merasa cukup. Karena memang dunia itu tidak pernah rasa cukup. Selalu ada kaya pikirannya itu, “Just a little bit more,” nambah dikit lagi, “aduh Pak ini saya gajinya itu baru 5 juta gitu, aduh itu masih kurang, tambah dikit lagi, tambah dikit lagi berapa, 5.5 juta.” Eh, syukur-syukur ternyata naik gaji 6 juta gitu. Udah naik gaji 6 juta, “Yah masih kurang lah Pak karena ini ada inflasi ya, zaman susah, sekarang harus pakai masker dan semuanya,” nambah lagi, nambah lagi, akhirnya nggak pernah merasa di mana sih cukup itu.

Kita bisa nggak sih melatih diri kita itu mencukupkan diri kita, dan men-set diri kita itu sedemikian ya saya cukupnya di mana. Dan ketika kita berani dengan, ini kembali lagi ya dengan kita tentu kembali pribadi lepas pribadi kita bergumul di hadapan Tuhan secara personal, ya di mana titik cukup kita dan ya ketika kita mengerti ada yang Tuhan berikan – dan tentu dalam janji Tuhan, Tuhan memberikan ada suatu yang cukup dalam kehidupan kita – kita bisa lihat ya yang ini sudah cukup. Sehingga ketika kemudian hari misalnya Tuhan kemudian tambahkan berikan ada berkat yang lebih, ya kita baru bisa nilai itu sebagai kelimpahan.

Kembali lagi ya, kalau kita tidak bisa tahu di mana benchmark cukup kita, maka tidak ada yang kita bisa merasakan kelimpahan itu juga kan? Karena selalu rasa ya kurang, kurang, kurang, mau berapa ditambah tambah, tetap rasa kurang, tetap rasa kurang. Tapi kalau kita bisa lihat di mana akhirnya definisi cukup, bahkan kalau Paulus di sini cuma asal ada makanan dan pakaian, wah itu minim sekali ya. Saya pernah di dalam suatu pembahasan ini terus ada di cabang kita yang lain, lalu ada seorang Bapak itu komentar, “Wah ndak cukup lah Pak, karena butuh juga biaya untuk pendidikan untuk anak. Wah di sini ini ndak ada seperti itu,” dan seterusnya dan kita bisa tambah-tambahkan lagi ya yang kita rasa ini masih kurang, masih kurang. Tapi kalau kita lihat sebenarnya yang Tuhan janjikan itu Tuhan memberikan kecukupan dalam kehidupan kita, dan sebenarnya adakah kita memang bisa bertumbuh secara dewasa dan juga belajar bersyukur atas apa yang Tuhan berikan. Dan lihat ada batasnya itu ya memang di sini cukup sebenarnya, dan terutama aspek-aspek materi itu, terutama aspek-aspek materi.

Menarik di dalam buku nya Pak Tong, Pengudusan Emosi, dia bilang sering kali kita itu untuk hal-hal materi itu kita rasa ndak puas, ndak puas, selalu rasa kurang. Tapi hal yang rohani selalu rasa cukup, “Wah Pak ini saya sudah denger khotbah panjang gini, ya cukup lah, ndak usah lah datang PA, PD, atau apa lagi, SPIK, aduh cukup lah Pak, cukup.” Heran ya, kalau hal-hal rohani itu kita cepat puas, cepat rasa cukup, tapi kalau hal materi itu bisa rasa ndak puas, ndak puas, terus menerus dan kejar, kejar terus. Kalau Pak Tong bilang itu sebenarnya terbalik. Kita seharusnya belajar itu lebih cepat puas ya kalau mau dibilang itu rasa cukup untuk hal materi, tapi sebaliknya hal-hal yang rohani kita justru terus ada suatu eagerness, juga ada suatu hunger, ada suatu kelaparan, kehausan untuk mau belajar lebih-lebih. Karena apa? Karena itulah yang harusnya kita mengerti, kita kejar dalam kehidupan kita. Untuk rindu semakin mengenal Tuhan kita, untuk semakin mengenal Allah kita yang mengasihi kita, yang bahkan sudah menyelamatkan kita dengan jalan mengorbankan anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Itu karunia besar sekali. Kita renungkan bagian itu saja ndak habis-habis lho ya. Apa sih yang pernah kita berikan kepada Tuhan yang sampai itu bisa benar-benar kita korbankan? Tapi Allah sudah korbankan lebih dahulu bagi kita. Dan itu kalau kita mau renungkan, hayati lebih dalam, itu ndak habis-habisnya, ndak habis-habisnya. Dan saya kembali ke sini, dan sebenarnya ada aspek-aspek materi itu kita belajar ya cukup, ada hal-hal yang kalau Tuhan sudah kasih sampai titik sini ya cukup.

Saya tidak menyangkali kadang-kadang dalam kehidupan kita bisa mengalami kekurangan karena ya ada masa kesulitan ataupun seperti pandemi seperti saat ini, tapi sebenarnya kalau dari titik pertama kita memang tidak bisa set di mana memang dasar angka atau batasan cukup kita, ya akan memang selalu rasa kurang. Mau sampai kapan pun juga akan terus merasa kurang. Dan menarik di bagian ini ya, Paulus bisa mengatakan kelimpahan itu karena di tengah kekurangan, kekurangan mungkin perspektif kita, waduh ini melarat sekali, tapi dia belajar mencukupkan diri di dalam Kristus. Sudah belajar cukup diri di dalam Kristus, ketika akhirnya dapat ada pertolongan di sini, dia akhirnya bisa rasa, “Wah ini sudah berkelimpahan,” dan akhirnya diresponi dengan rasa syukur.

Kembali lagi ini saya sudah singgung di berapa waktu, khotbah-khotbah yang sebelumnya, ada suatu masa, entah kenapa, itu jemaat Filipi itu tidak bisa memberikan bantuan kepada Paulus sehingga dia itu benar-benar kelaparan di sana, keroncongan di sana, ndak tahu berapa lama, dan mungkin kedingininan, dan keterbatasan semua di sana, tapi kemudian kok waktu dikirim bantuannya, dia tidak ngomong, “Ah akhirnya kamu kirim juga!” Dia tidak komplain atau marah-marah seperti itu, tapi malah dia bisa bersukacita. Kembali lagi karena dia bisa punya prinsip dasar kecukupan itu di mana. Kalau kita bisa mengerti di mana cukup, kita bisa lebih menghargai kelebihan itu, kita bisa lebih menghargai ternyata kenyataannya memang Tuhan memberikan suatu kelimpahan. Kembali ya, kelimpahan ini bukan bicara ala material dunia, tapi kalau kita bisa melihat cukup, akhirnya kita bisa mengerti, loh ternyata Tuhan kasih lebih, Tuhan kasih lebih. Dan ini baru kita dengan mata kedewasaan rohani baru kita bisa menilai ya inilah kelimpahan itu, inilah kelimpahan itu.

Mungkin kalau kita bicara dalam aspek lain ya, mungkin dalam kehidupan kita, ini berapa kita yang sudah berkeluarga ya, kita bisa nggak sih – kalau saya mau kaitkan di aspek lain – kita bisa nggak sih rasa puas dengan pasangan kita? Ini yang sudah nikah ya, kalau yang belum nikah ya hal lain lah, ya. Kita bisa puas nggak sih dengan pasangan kita yang sudah Tuhan hadirkan dalam kehidupan kita? Atau selalu rasa, “Ah kurang ini, kurang itu,” selalu kurang, kurang, kurang, atau bisa nggak sih kita belajar puas, bahkan sebenarnya, Tuhan sudah kasi lebih. Ya iya lah, dia sudah mau nikah sama kamu gitu, beryukurlah, kadang-kadang ya.

Heran ya, orang itu kadang-kadang waktu awal jatuh cinta itu, “Wah saya beryukur sekali kamu mau pacaran dengan saya,” terus akhrinya kamu mau nikah dengan saya, senang sekali. Tapi after a while, setelah berapa lama itu kok jadi kurang menghargai, taken for granted, yah cuma ini, cuma gini. Dulu, “Wah dimasakin senangnya, wah istri saya bisa masakin,” setelah berapa lama, “ah masaknya cuma begini, coba dong masak yang kaya Masterchef atau apa gitu.” Ya ndak bisa lah. Tapi kalau kita bisa lihat di mana batas cukup, maka ada kelimpahannya itu atau pertumbuhannya, kita bisa menghargai di sana. Tapi kalau orang terus memang apa ya, rasa ndak pernah puas, atau selalu rasa rumput tetangga itu lebih hijau, ini ya memang akhirnya ndak pernah merasa puas itu.

Sederhana makanya kembali ke dalam kehidupan keluarga kita ya, kita bisa puas nggak sih dengan pasangan yang Tuhan hadirkan dalam keluarga kita? Ya ada kelemahannya betul, tapi bukankah Kristus pun mati untuk menebus dosa dia? Kalau Kristus pun mau terima dia, kita bisa terima nggak? Nah itu definisi cukup itu di situ. Tentu tidak menutup untuk pertumbuhan, tidak menutup untuk bagian kita itu berproses di dalam pengudusan yang bertahap, bertingkat, tapi ya kita belajar menerimanya. Kita belajar karena ya ini cukup. Definisi cukup di situ. Kita belajar puas di situ nggak.

Ataupun kalau bicara dengan relasi dengan anak-anak kita baik kita yang sudah berkeluarga dan punya anak-anak, kita bisa puas nggak sih dengan anak kita? Waktu dulu belum punya anak terus bergumul kapan ya Tuhan kasih, berdoa minta Tuhan kasih, waktu akhirnya dapat wah sukacita. Tapi kalau sudah lama-lama, yah, gini aja, kok kamu nggak kaya itu lho anak tetangga. Atau itu ya kamu kok nggak pinter kaya David Tong. Mungkin anak kita bisa jawab, “Ya papa saya bukan Stephen Tong. Masalahnya gitu, jadi ya jangan heran saya levelnya nggak kaya David Tong.” Ya tapi kita bisa belajar puas nggak ya?

Ada suatu pepatah dalam peribahasa orang Inggris, familiarity breeds contempt, yaitu kalau makin familiar itu kita bisa jadi contempt itu ya, kurang ajar. Ya itu kadang-kadang kita dalam kehidupan kita gitu kan, kalau baru awal kenal, baru awal relasi, wih, wih ini gimana, dan karena ndak dekat gitu kan. Mungkin entah ya, baik dalam dengan hamba Tuhan atau mungkin dalam gerakan ini pun, wih pertama datang, wih ini semuanya keren ya, semuanya ini theologinya gini, gini gini. Tapi kalau sudah masuk dalam-dalam, mulai terlibat pelayanan, bahkan masuk lagi, belajar sini, ketemu dengan ya kita semua orang berdosa. Nah itu lama-lama, sudah makin familiar akhirnya contempt, mulai rasa kok cuma begini, kok kaya gini ya, mulai ngedumel, karena itu, familiarity breeds contempt. Katanya itu adalah makin kita familiar itu sebenarnya itu kita makin rasa yah kok cuma gini, kita rasa ringan, mengabaikan, akhirnya kita tidak menghargai lagi, ya ada pekerjaan Tuhan juga, memang gereja kita nggak sempurna, memang gerakan kita tidak sempurna, tapi kenyataannya dipakai Tuhan juga ya. Dan di situ kita bisa belajar menghargai, mencukupkan diri dengan ya, anugerah Tuhan yang Dia nyatakan sekarang ini. Kembali lagi, tidak untuk menutup untuk adanya pertumbuhan, dikoreksi, evaluasi, dan seterusnya, tapi adakah kita bisa menikmati, melihat itu dengan perspektif kecukupan, sehingga ketika kemudian Tuhan memberikan suatu kelimpahan, ya kita benar-benar melihat ini ya kelimpahan, ya.

Saya kadang-kadang renungkan di dalam bagian ini ya, ketika di sini saya tahu jemaat kita di Jogja sedang bergumul dalam izin pengurusan pembangunan ya, dan ya saya nggak tahu ya Bapak, Ibu, yang tentu sudah lebih lama beribadah di tempat ini, ya, mungkin sudah alami dari pindah-pindah hotel, ya itu satu hal, atau sebelumnya sudah alami bagaimana dulu di Kranggan atau bahkan mungkin pernah ada pakai tempat sebelumnya, dan seperti apa susah-susahnya, terus bergumul untuk urusan izin. Terus nanti, suatu saat, ah akhirnya, kita doakan terus ya jika memang Tuhan berkehendak itu untuk kita dapat izinnya di tahun ini, dan kalau setidaknya bisa mungkin mulai dari konstruksi, apa, dari tahun ini.

Tapi nanti kalau sudah mulai bangun ya, kita awalnya akan lihat, “Wah bersyukur, akhirnya kita ada tempat yang tetap.” Tapi kalau kita ndak ada ini ya rasa kecukupan itu ya, itu bahkan sampai nanti gedungnya sudah jadi, kita akan bolak-balik komplain, ngomel, ah ini kurang ini, kurang ini, kurang ini. Lupa ya dulu itu kurang sekali, dulu kita itu harus gonta ganti tempat, cari gimana bisa tempat tetap. Saya ngomongkan ini bukan untuk menghina atau apa ya, tapi saya temukan itu memang simtom yang kenyataannya itu muncul di berapa cabang-cabang kita yang sendiri sudah established. Mungkin bayangan kita sekarang, “Wih Pak kalau sudah ada tempat itu bagus banget.” Tapi itu ya, kalau kita nggak jaga kerohanian kita, bisa lihat di mana level cukup dan bisa lihat kenyataannya Tuhan kasih lebih, kita akan ya, akan selalu rasa lacking, akan selalu rasa kurang, kurang, kurang, dan komplain di situ.

Tapi kalau kita lihat, kembali lagi ya, bersyukur bahwa misalnya, paling basic sederhana, kita bersyukur ada gereja kita, di mana kita bisa bersekutu bersama di dalam kebenaran firman yang disampaikan hamba Tuhan. Hamba Tuhan tidak sempurna tapi kalau mau dibilang ya kami pun dituntut untuk harus memberitakan firman yang doktrinnya Reformed yang setia pada Alkitab, dan itupun ada satu berkat Tuhan. Saya katakan ini bukan untuk puji-puji kami, tapi ini sebagai pengalaman saya juga pribadi, saya pun berasa dari gereja non-Reformed dari saya kecil ya gereja Injili biasa. Sampai terus kemudian hari ketika saya di masa pemuda itu baru ketemu ada doktrin Reformed, ada gereja Reformed baru, ada pengajaran Alkitab yang lebih mendalamnya seperti ini. Dan bersyukur. Tidak menambah keselamatan memang, dalam satu artian karena itu percaya pada Tuhan yang sama, tapi mengerti kelimpahan firman Tuhan yang luar biasa dinyatakan dan memberikan kita kepastian keselamatan itu karena keselamatan tidak akan hilang, dan di dalam bagian itu ada berkat-berkat Tuhan. Sebenarnya banyak sekali, limpah sekali lho.

Kadang-kadang di dalam bagian ini saya bicara kadang-kadang saya bertemu dengan aneka macam orang. Kadang-kadang orang itu kok kurang bisa menghargai kayaknya bilang komplain ada ini ada itu. Kembali lagi tentu bukan untuk kita menutup telinga dan untuk tidak mengevaluasi diri untuk bertumbuh mengoreksi dan seterusnya, tapi ada nggak sih kita itu tetap bisa bersyukur di tengah kekurangan yang lain? Bahkan ini sebenarnya sudah kelimpahan. Berapa banyak cabang-cabang kita lain nggak ada hamba Tuhannya. “Oh Pak itu kok nggak ada hamba Tuhannya?” Ya memang nggak ada hamba Tuhannya di sana, nggak ada hamba Tuhan yang menetap. Ada berapa cabang kita bahkan untuk ibadah rutin tidak ada tempat untuk dia bisa rutin beribadah. Ada berapa tempat cabang-cabang kita yang lain itu harus untuk ibadah saja ngumpet-ngumpet seperti itu dan seterusnya. Seperti di China ataupun tempat-tempat lainnya.

Waktu kita melihat bahwa apakah berarti kita lihatnya mereka itu begitu kekurangan dan seterusnya? Ada juga kecukupan yang Tuhan berikan kepada mereka. Dan apalagi kalau kita lihat dalam perspektif kita sebenarnya Tuhan sudah berikan suatu yang lebih dan ini kita belajar mensyukurinya, kita belajar melihat karena kita ada perspektif kecukupan ini.

Dan lebih lanjut adalah yang di dalam teks ini dia katakan apa yang kiriman dari Epafroditus itu dikatakan sebagai, “Suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.” Yaitu poin saya kedua adalah bagaimana melihat pelayanan yang boleh dikerjakan Epafroditus saya percaya dalam bagian ini Paulus karena belajar menghargai ada dalam keterbatasan yang ada, sehingga ketika apa yang dikerjakan Epafroditus itu dia bisa melihat dengan mata iman, ini ada nilai pengorbanannya. Karena memang apa yang dikerjakan oleh Epafroditus itu bukan sekedar persembahan, tapi persembahan yang memiliki nilai pengorbanan.

Nah menarik ya dalam pelayanan Epafroditus ini disebut, ada theolog yang menyebut ini sebagai priestly ministry. Yaitu suatu pelayanan yang ada nilai keimamannya. Nilai keimammannya apa, karena dia mempersembahkan suatu yang ada nilai pengorbanannya. Di bagian ini mengingatkan kita minimal saja secara sederhana, pertama tidak semua persembahan itu adalah pengorbanan. Tidak semua persembahan itu adalah pengorbanan, ada persembahan ya sekedar kasih. Sama, maaf ya kasarnya kalau kita seperti lampu merah terus ada yang minta uang terus kita kasih berapa koin. Ya kita kasih saja, nggak merasa berkorban. Nggak tahu ada orang berkorban, “Kasih 500 ini rugi, seharusnya 200.” Yaelah gitu banget. Tapi kok sebenarnya seringkali ya itu cuma sekedar uang sisa, uang yang kita kasih bahkan nggak mikir. Ada itu nggak kasih juga kita nggak pikir. Tapi kalau kita berikan persembahan pada Tuhan baik itu dalam bentuk uang, kadang bentuk tenaga, waktu, pelayanan, semua jerih lelah kita, adakah itu suatu nilai pengorbanannya? Nilai pembebanan di mana kita lihat kita persembahkan terbaik. Dan memang kalau mau dibilang itu kita memberikan suatu yang lebih dari yang sebenarnya kita rasa, kalau mau dibilang ini ada lukanya, ada sakitnya.

Ada kakak rohani saya ada bilang, “Kalau kamu kasih persembahan nggak ada sakitnya, itu cuma uang sisa. Tapi kalau kamu kasih itu ada rasa sayang ngasih, ya memang kasih, ada kamu korbankan. Ya itu baru kamu mengerti apa itu pengorbanan. Karena yang kamu tahu kamu kasih itu mahal. Ya saya butuh tapi saya kasih juga. Kenapa? Untuk pekerjaan Tuhan.” Dan ya seperti kita mengerti sistem di dalam gereja kita, persembahan masuk itu tidak masuk ke kantong saya, juga bukan ke kantong Pak Dawis, juga bukan ke pengurus, tapi ada dikasih gereja. Dan itu sebenarnya ada bagian kita memberikan persembahan kita, perpuluhan kita, janji iman kita karena itu adalah bagian Tuhan. Di itu ada bicara tanggung jawab kita secara pribadi di hadapan Tuhan ya. Kami hamba Tuhan hanya bisa mendorong, meng-encourage kita memberikan janji iman, berkorban, tapi pada akhirnya berapa angkanya atau berapa persennya itu adalah kita bergumul di hadapan Tuhan.

Kalau saya bilang kadang-kadang kalau kita sudah bisa, masih ingat ya poin saya sebelumnya bicara definisi cukup di mana, terus kita rela nggak turunin dikit? Turunin dikit aja, lifestyle kita, kita turunin dikit. Misalnya biasa itu ngopi yang mana, ganti sekarang ngopinya giling sendiri. “Oh itu berkorban sekarang saya giling sendiri, dulu saya digilingin orang.” Ya okelah itu kecil, tapi ya itu setelah kita berani nggak berikan? Kita berani persembahan ya meskipun setidaknya melatih, mendidik kita.

Saya ingat di dalam bagian itu kisah di berapa tahun lalu ketika di GRII Karawaci untuk pengerjaan pembangunan, lalu ada janji iman di situ, terus saya dulu di Karawaci kan cuma jemaat, saya banyak terlibat di pelayanan pemuda dan remaja, tapi kemudian hari saya baru dengar bahwa di pelayanan Sekolah Minggu mereka bikin ada celengan, terus anak-anaknya disuruh kasih persembahan, ada persembahannya, ada janji iman. Di dalam celengan itu dikumpulkan sampai satu titik itu dipecahkan untuk persembahan ke gereja. Dan saya pikir itu satu sisi saya pikir, “Ngapain sih. Sudah lah toh itu dari orang tuanya yang kasih. Orang tuanya saja yang transfer susah amat sih.” Tapi saya percaya dalam bagian itu mau mendidik anak itu bahwa dari mereka kecil, kamu juga berbagian dalam janji iman itu.

Maafkan ya saya ngomong fair saja memang berapa sih nilainya, cukup untuk bangun apa sih? Bukan itu poinnya tapi mereka berani berkorban sejak kecil. Kasih. Apalagi kalau berapa orang tua itu yang mendidik anaknya dengan tepat, bukan cuma sekedar, “Ini uangnya untuk persembahan, yang ini untuk janji iman,” bukan cuma sekedar itu tapi semacam mereka mendidik bahwa ini bisa mungkin dipotong uang jajannya, ini untuk Tuhan, anak itu belajar dari kecil untuk berkorban bagi Tuhan. Kenapa berkorban bagi Tuhan? Simpel, karena memang Dialah yang layak kepadanya kita mendedikasikan seluruh hidup kita, kita berhutang keberadaan diri kita pada Tuhan. Itu sebenarnya basic sekali. Itu sama seperti kalau anak itu membangkan orang tuanya itu kita sebut durhaka. Kenapa? Sederhana sekali karena kamu memang berhutang keberadaanmu itu ya dari orang tuamu, tanpa orang tuamu kamu nggak ada. Makanya kita sebut ketika anak melawan orang tua kan durhaka. Apalagi ketika kepada Tuhan, Dialah pencipta kita. Kepada Dialah seluruh jerih lelah kita akhirnya kita curahkan kepada Dia. Memang Dia layak terima. Dan terlebih lagi di dalam terang Perjanjian Baru karena Allah sudah berkorban juga bagi kita.

Itu menarik ya kita menemukan ada reciprocity, ada kesalingannya di sana, kita berkorban bagi Allah yang, pertama-tama memang Allah layak terima semuanya, tapi terutama lebih mendalam Dia sudah terlebih dahulu berkorban bagi kita. Bukankah Dia yang lebih dahulu mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal untuk mati di kayu salib, menebus, menyelamatkan kita. Allah itu tidak ada lho kewajibannya menyelamatkan kita. To be fair Allah itu tidak ada kewajiban. Setelah manusia itu jatuh dalam dosa harus Dia selamatin? Nggak harus tuh. Tapi toh Dia mau selamatin, dan selamatin sampai di mana? Bahkan karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, Ia rela mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal itu sampai Dia tidak menyayangkan Anak-Nya, kalau di dalam pembahasan saya di Kitab Roma, “Dia tidak menyayangkan Anak-Nya,” maksudnya Dia tidak spare, Dia tidak menyayangkan Anak-Nya itu, hanya demi menyelamatkan kita. Di situ kita lihat Dia yang rela berkorban bagi kita. Adakah kita juga belajar mengerti kasih Allah itu seperti apa sih.

Ada orang kadang mengerti kasih Allah itu pokoknya nyanyi aku mengasihi Engkau Yesus dengan segenap hatiku, nyanyi mendayu-dayu sampai nangis. Tapi pernah nggak sih benar-benar berkorban, bukan hanya sentuhan-sentuhan nyanyi, kadang-kadang orang nyanyi itu sebenarnya sentuhan emosi nyanyi buat diri sendiri, tapi memang benar-benar kita berkorban kasih, berikan terbaik, kenapa? Karena ya memang Tuhan yang layak terima. Dan terlebih lagi berapapun yang kita kasih nggak bisa bayar ganti harga darah Kristus sendiri yang akan kita peringati di Jumat Agung yang akan datang ini. Berapapun yang kita kasih.

Menarik kemarin Pak Tong di Masterclass dia ngomong, “Kita itu jangan ngomong kita sudah kasih jerih lelah kepada Tuhan, itu sudah seharusnya.” Berapa banyak Tuhan itu kasih kita lebih banyak. Dan bahkan Dia telah rela berkorban menebus, menyelamatkan kita. Seberapakah kita menghayati ini? Dan kalau kita belajar, biarlah itu mendorong kita lebih bisa memberikan kepada Tuhan. Bukan karena sekedar beauty, tapi menjadi suatu delight, kalau saya pakai istilah dari Tim Keller, bukan sekedar karena suatu kewajiban tapi adalah kesukaan. Karena apa? Karena memang sudah sepantasnya Tuhan terima itu. Dalam kehidupan keseharian saja kita temukan kok kadang-kadang anak itu karena begitu mau membalas budi orang tuanya itu sampai memberikan kelimpahan apa. Ya lumrah lah orang tuanya kan? Kalau bukan orang tuanya kan kita rasa aneh. Tapi ya kita pikir ya lumrah lah orang tuanya. Terlebih lagi kalau kita bicara pada Allah, bukankah memang dia yang sepatutnya dan selayaknya menerima semua pengorbanan kita?

Dan biarlah kita lihat di dalam bagian ini poin selanjutnya dia katakan itu menjadi satu pengorbanan yang harum yang disukai dan berkenan pada Allah. Di sini kita bisa lihat saya bagian ini coba renungkan ini kita belajar merasa cukup untuk apa yang kita terima, sekaligus itu kita belajar merasa tidak cukup untuk apa yang kita beri. Itu kan makanya Kristus katakan lebih berbahagia orang yang memberi daripada menerima. Kita bacanya itu apa? Ya itulah pengajaran Kristus, seperti apa kita belajar lebih bahagia itu, yaitu memberikan itu. Dan terutama kita memberikan kepada Allah. Bukan untuk kita tuntut orang lain untuk kasih lebih tapi tuntut diri kita itu untuk memberi lebih lagi, tuntut diri kita memberi lebih lagi, lebih lagi, dan terutama kepada Allah itu. Dan nanti dalam bagian aspek lain juga dalam tanggung jawab pada sesama kita belajar memberikan pada sama itu sebagai aspek tanggung jawab kita. Kalau kita bisa lihat secara dalam kaitan reciprocity, kesalingan, itu ada keindahannya di sana. Karena memang saling mutual, satu sisi, tapi terlebih juga adalah karena memang Allah yang lebih dulu berinisiatif memberikan kita, menyelamatkan kita, menebus kita sebelum kita bisa melakukan suatu ketaatan apapun.

Dan di bagian ini kita juga bisa mengerti spirit-nya itu, jadi bukan bicara hak-hak saya, saya terima ini, tapi pikirkanlah apa tanggung jawab kita, apa yang harusnya kita lakukan, apa yang harusnya kita berikan pada Allah, dan kemudian apa yang harusnya kita berikan pada sesama. Dan itu harusnya kita bertumbuh juga di bagian ini. Kalau kita bilang kita mengasihi Allah, kita sudah pernah belum sih berkorban bagi Dia? Kalau kita mengatakan kita mengasihi sesama kita, bahkan dikatakan, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri,” kita sudah pernah belum sih berkorban bagi sesama kita? Karena di situ baru kita mengerti seperti apa pengorbanan yang harum, yang disukai, dan berkenan pada Allah itu.

Dan terutama kita lakukan adalah bagian relasi kita di hadapan Allah, kita lakukan ini untuk menyenangkan Tuhan bukan untuk menyenangkan sesama. Kalau kita cuma lakukan di dalam aspek sekedar untuk menyenangkan sesama, misalnya aspek kita mengasihi sesama kita berkorban bagi sesama, ketika dia memberikan respon yang tidak kita sukai misalnya, kita pasti bilang, “Wah percuma dong selama ini saya kasih kamu.” Tapi kalau kita mengerti bahwa sebagaimana Paulus juga katakan di bagian lain, “Apapun yang kamu lakukan baik kamu makan atau minum atau apapun juga, lakukanlah bagi Tuhan bukan bagi manusia,” ya di sini kita mengerti spirit-nya kita lakukan itu untuk apa.

Contoh sederhana saja seperti kalau kita bilang di dalam 10 Hukum itu kan ada hukum ke-5, “Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang dijanjikan Tuhan Allahmu padamu.” Itu satu sisi ya itu kan dia menghormati orang tua, itu kan aspek horisontal. Kalau dibilang ya horisontal sesama manusia. Tapi ketika kita menaati itu, kita menjalani itu, menghormati orang tua itu, biarlah kita lihat itu adalah bagian kita menaati perintah Tuhan. Karena itu bukan cuma bentukan budaya harus menghormati orang tua, tapi adalah karena kita menaati Tuhan sehingga ada bisa berparalel, berjalan bersama. Ketika kita menghormati orng tua, itu berarti kita sedang menaati Tuhan, menaati perintah-Nya karena Tuhan perintahkan demikian.

Dan ada bagian-bagian seperti itu juga harusnya kita bisa lihat sampai di dalam titik-titik kalau kita bertumbuh dewasa kita bisa mengerti memberikan lebih, kita bisa mengerti berkorban, nah di situ kita mengerti itulah menjadi satu pengorbanan yang harum yang disukai, yang berkenan pada Allah. Karena kembali lagi selalu dalam konteks kembali itu pelayanan di dalam keimaman, priestly ministry, itu kan kental dengan unsur nuansa pengorbanan. Iya to? Para imam itu kerjanya apa? Ya korban. Aneka macam binatang disembelih tiap berapa lama, nggak tahu lah itu berapa banyak itu kambing dombanya itu dibunuh, berapa banyak mereka harus persembahkan nggak habis-habis. Itu korban benar-benar. Dan bahkan kalau kita mengerti persembahan yang dipersembahkan adalah domba yang terbaik, domba yang tidak ada cacat celanya, domba yang sulung dan yang tambun, yang baik.

Itu kalau di dalam kalau kita baca literatur Yahudi kita temukan bahwa biasanya domba yang seperti ini mereka pelihara betul-betul. Sudah lahir yang sulung, “Wih lahirnya ini bagus, dia punya bulunya bagus, kakinya bagus, matanya juga bagus, giginya bagus.” Dari awal mereka lihat ini yang baik kita harus rawat jaga. Konon katanya dirawat jaga lebih ketat daripada anak sendiri. Karena ya itu kalau sampai nanti dia keplecok kakinya, wah ini sudah bercacat. Tapi harus dirawat, dirawat sampai sedemikian mungkin disayang itu sedemikiannya. Sudah dirawat sampai satu tahun, sampai sudah bagus sekali, cuma untuk apa? Nanti dibawa ke Bait Suci untuk disembelih. Di situ langsung Israel mengerti saya kalau berdosa maka saya harus bayar mahal, domba ini yang saya rawat satu tahun ini, yang kasarnya saya jaga lebih jaga daripada anak sendiri, tapi itulah yang jadi persembahan yang mahal, yang satu sisi itu bersukacita dosa saya diampuni tapi sisi lain ada rasa pengorbanan itu.

Dan itu memang merupakan bayang-bayang apa yang digenapi Kristus sendiri. Ketika kita lihat kematian Kristus kita bersukacita karena kita dapatkan keselamatan, pengampunan dosa bagi kita. Namun kita mengerti juga itu adalah satu pengorbanan bukannya murahan tapi yang begitu mahal. Dan bahkan tidak sanggup kita bayar karena itu bicara ketaatan dan kesempurnaan apa yang Kristus kerjakan. Tapi itulah konsep pengorbanan. Kalau kita mengerti persembahan sudah mungkin bertahun-tahun kita memberikan persembahan, baik uang, tenaga, pelayanan, semuanya, ada nggak kita mengerti itu kita berikan sebagai bentuk pengorbanan juga? Dan ini yang dikatakan di sini jadi satu pengorbanan yang harum dan berkenan pada Allah.

Dan kemudian ketika sudah sampai bagian itu, Paulus melanjutkan juga. Sudah kita berikan pengorbanan yang terbaik pada Tuhan, dilanjut bahwa ada berkat Tuhan di sana yaitu, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Bagian ini bicara adalah ketika kita sudah berusaha memberikan yang terbaik sampai kita mengorbankan untuk berikan yang terbaik pada Allah, di situ kita lihat ada juga ternyata janji Tuhan yang mencukupkan keperluan kita.

Dalam kita perlu ingat ini janji Tuhan itu adalah Dia akan mencukupkan apa yang kita perlukan, bukan apa yang kita inginkan. Ada hal yang kita inginkan, ternyata tidak kita perlukan. Ada hal yang kadang kita perlukan, kita tidak ingin karena kita nggak sukai tapi kita perlu. Orang yang berdosa perlu mendengar berita Injil meski kita nggak suka. Orang yang perlu dengar firman Tuhan meski nggak suka. Dan itu adalah bagian di bagian itu tapi kemudian ketika kita bertumbuh, maka kita belajar menginginkan yang kita perlukan itu. Dan kita belajar mencukupkan diri, dan kita percaya Allah mencukupkan itu apa yang menjadi keperluan kita.

Kadang-kadang kembali lagi di poin pertama kita belajar mencukupkan diri, tahu di mana titik cukup kita, lalu setelah itu kita belajar berkorban menurunkan level kita, turun lifestyle. Ada yang bilang naikin lifestyle itu gampang tapi menurunkan lifestyle itu susahnya bukan main. Kita rela turun, wah sudah rasa suffer, menderita di sana, terus baru kita bisa lihat ada anugerah Tuhan mencukupkan itu. Baru kita tahu cukupnya itu di mana sebenarnya. Dan ada kadang mungkin kita bisa oh ternyata yang segini itu cukup. Seperti apa ini cukup. Kita bisa lihat ternyata ada Tuhan berikan kecukupan di sana. Setelah kita sudah berkorban bagi Tuhan itu begitu besar, biarlah kita bisa mengingat itu bukan untuk kita hitung berapa besarnya pengorbanan kita tapi didorong karena Tuhan yang berkorban lebih dahulu. Karena di situ masih ada janji Tuhan di situ Dia akan cukupkan.

Menarik ya bagian ini. Sebenarnya nggak usah lho kata-kata ini, kalau mau dibilang tanpa ayat ini ya sudah seyogianya ya, sudah sepantasnya kok kita kasih berkorban bagi Tuhan. Tapi ternyata Tuhan tahu keterbatasan dan kelemahan kita. Ada janji Tuhan juga bahwa Dia akan mencukupkan keperluan kita itu. Dan di situ ada indahnya. Bukan kita set ini cukup atau malah tidak terlalu rasa kekurangan akhirnya nggak pernah berikan kepada Tuhan, tapi kita mengerti dimana cukup terus kita berkorban sampai kita tahu memang ini minus, lalu karena kita sudah kasih pada Tuhan, Tuhan yang akan mencukupkan bahkan dalam berapa bagian yaitu nanti limpahkan baru kita, “Oh seperti ini ya.”

Tentu bagian ini bukan kita lihat dalam kacamata itu ya kaya orang bilang itu, “Kasih perpuluhan kamu kasih 10 dapat 100,” itu terbalik. Perpuluhan itu Tuhan kasih 100 kamu kasih 10, itu perpuluhan. Dan kembali perpuluhan itu bukan suatu untuk pancingan. Karena orang kan kalo pancing itu ya pakai teri tangkap kakap gitu. Ya iya dong masa dibalik. Tapi kita mengerti adalah ketika kita berkorban bagi Tuhan biarlah kita lihat itu kita lakukan dengan tulus, dengan murni ya. Bukan untuk dapat menjadi pancingan, juga bukan untuk dapat surga karena Tuhan sudah berikan juga. Tapi kemudian ada janji Tuhan, Dia akan cukupkan dengan cara-Nya sendiri. Dan dibagian itu kita makanya ketika sudah kita persembahkan, kita minta kepekaan rohani dari Tuhan untuk melihat seperti apakah anugerah Tuhan itu yang Dia cukupkan di dalam proses-proses itu.

Di dalam bagian ini saya sendiri bergumul dalam banyak hal itu melihat menyaksikan adalah dalam berbagai kehidupan kadang-kadang kita itu kesulitan ya dalam banyak hal terus sampai minus seperti itu, tapi kalau sudah sampai minus ya di situlah bagaimana kita berjalan dengan iman, kita berjalan dengan iman ikut Tuhan terus nanti Tuhan cukupkan, ada caranya Tuhan sendiri. Itulah baru kita mengerti bagaimana berjalan bersama dengan Tuhan melangkah bersama dengan Tuhan di tengah, kalau pakai istilah Luther itu dengan satu kaki itu menapak tanah, satu kaki itu melayang di udara ya. Ini bukan kaya orang di hukum, distrap ala di sekolah, tapi itu bicara adalah karena kita nggak bisa punya sure, pasti ini pijakan di dunia tapi kita makanya bersandar pada Tuhan disana. Dan pertanyaannya itu adakah kita bertumbuh di dalam bagian ini juga? Kita dipanggil untuk ke sini.

Kenapa kita lakukan ini karena pada akhirnya memang seluruh hidup kita itu adalah untuk kemuliaan Tuhan, “Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin.” Bagian sini dikatakan mengingatkan bahwa menarik itu ya Paulus di dalam banyak suratnya itu kadang-kadang dia sudah pasrah eh muncul doksologi disana ya. Di Kitab Roma juga muncul di situ ya, nanti bagian pasal apa eh muncul doksologi, eh ternyata belum selesai, dia lanjut bahas. Ini apa Paulus lupa potongnya di mana, kurang tahu dimana ending-nya, tapi saya percaya bagian sini adalah karena Paulus juga tentu dia dipimpin oleh Roh Kudus, dia mengingatkan kita bahwa karena seluruh hidup kita dan tindakan kita memang adalah bagi kemuliaan Tuhan.

Semua ketika bicara pengorbanan kita, apa yang kita persembahkan bagi Tuhan, dan ketika ada janji Tuhan juga mencukupkan kebutuhan kita dalam bentuk seperti apa, kita melihat dinamikanya dalam kehidupan kita, itu semua adalah bagi kemuliaan Tuhan. Goalnya itu semua adalah kemuliaan Tuhan. Sehingga kita itu bukan jadi, kalau mau ekstrim lain ya seperti dibilang kalau Pdt. Eko di minggu yang lalu, dia ngomong di Solo sih, dia bilang itu supaya kita itu bukan jadi tanding-tandingan. Misalnya kami hamba Tuhan, “Wah saya untuk khotbah hari ini saya cuma tidur 4 jam, ayo Yudha kamu persiapkan itu berapa jam?” Terus ngadu-ngadu makin banyak suffering-nya, mana lebih menderita oh ini lebih unggul kerohaniannya, nggak. Kita nggak ke sana. Karena semuanya ini bukan untuk kita mengadu elitist di situ ya, tapi adalah kita mengerti kita lakukan bagi kemuliaan Tuhan, goalnya adalah kemuliaan Allah.

Semua pembahasan theologis kita kalau mau dibilang dari awal, itu makanya Gordon Fee katakan didalam komentarinya bahwa, “True theology is doxology, and doxology is always the proper response to God.” Bahwa theologi yang sejati itu adalah selalu doksologi, adalah untuk kemuliaan Tuhan, dan doksologi itu sendiri selalu adalah suatu respon yang sepantasnya bagi Tuhan. Kalau kita sudah belajar banyak theologi ya baik di dalam ibadah kita, baik perenungan kita pribadi, ada nggak sih kita itu melihatnya itu goalnya itu ya untuk kemuliaan Tuhan? Kalau kita nggak mengarah ke sana ya cuma mengarah ke diri ya akhirnya kita gagal justru mengerti theologi itu sendiri, goalnya itu apa, tujuannya itu kemana. Kita belajar banyak hal ya karena kalau kita lihat ini sudah di akhir dari Kitab Filipi, semua pembahasan yang ada itu tujuannya bukan sekedar, “Oh saya sekarang mengerti, saya mengerti juga bagaimana apa pembahasan Kristus mengosongkan diri-Nya dan semuanya dalam kelimpahan theologisnya,” tapi adakah kita mengerti saya makin mengerti bagaimana saya itu hidup memang bagi kemuliaan Tuhan.

Makanya tidak heran dari pertanyaan pertama dari Katekismus Singkat Westminster “Apakah tujuan utama manusia?” Memang adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya. Bagian itu bukan untuk bolak-balik kita kutip ingat, oh cuma ingat pertanyaan pertama tapi kita ingat semua pembelajaran kita, semua apapun yang kita kerjakan goalnya di sana, tujuannya itu ke situ. Tujuannya itu ketika kemuliaan Tuhan itu makin dinyatakan dalam kehidupan kita, dalam pelayanan kita, dalam apapun pengorbanan kita, itu kita mengerti ya itu baru capai targetnya itu ya. Karena kalau tidak mencapai target kemuliaan Allah di situ baru kita mengerti itu hamartia itu loh, missing the target.

Dosa ya di dalam bahasa aslinya itu kan bicara hamartia itu meleset dari sasaran. Meleset dari sasaran, sasarannya apa? Kemuliaan Allah. Kita tidak mencapai kemuliaan Allah itu karena itu adalah bagian lain di Kitab Roma katakan karena kita sudah semua manusia itu telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, ya itu, kurang dari kemuliaan Allah, tidak mencapai sasaran seharusnya. Tapi kemudian ketika kita dipulihkan, kita ditumbuhkan dan ada pertolongan Tuhan dalam semua kita kerjakan dari Allah Roh Kudus mampukan kita sini, kita mengerti adalah untuk menarget kemuliaan Allah itu, kemuliaan Allah. Dan di situlah juga akhirnya memberikan kesukaan ya, memberikan sukacita kita bisa menikmati Allah ketika kita memuliakan Allah itu.

Dan karena itu setelah dibagian itu saya rasa kalau menarik ya teksnya Paulus, sudah dibilang ini doksologi disitu ya terus dia kayak belum selesai itu dia tambahkan ayat 21-23 itu, “Sampaikanlah salamku kepada tiap-tiap orang kudus dalam Kristus Yesus. Salam kepadamu dari Saudara-Saudara, yang bersama-sama dengan aku. Salam kepadamu dari segala orang kudus, khususnya dari mereka yang di istana Kaisar. Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai rohmu!” Bagian ini saya lihat adalah dia bisa bersyukur atas buah pelayanan yang ada juga ya.

Salam ini unik ya. Kalau kita perhatikan ini salam ini unik ya. Dikatakan itu kan, “Salam dari segala orang kudus, khususnya dari mereka yang di istana Kaisar.” Loh kok Rasul Paulus, mereka ini kan, orang-orang di istana Kaisar ini yang penjarain kamu? Menarik ya. Tapi dia bisa sebut mereka sebagai orang-orang kudus. Atau mungkin saya pikir kalau analoginya bahasa zaman sekarang kalau misalnya saya sebut bayangkan ya kalau saya bilang, “Salam dari klaster di Petamburan,” kita responnya ini apa? “Salam dari orang-orang kudus di klaster Petamburan,” ini kirain apa.

Tapi Paulus di sini saya percaya ketika dia bilang dia bersyukur ya dan salam sini dia bukan bersyukur atas pemenjaraannya, dia bersyukur ini adalah orang-orang yang penjarakan dia, tapi dia bersyukur karena melalui pemenjaraannya ada orang-orang lain, umat pilihan Allah yang bisa dimunculkan melalui dia. Penderitaan itu memang suatu inevitable dalam kehidupan ya. Penderitaan itu memang hal yang tak terhindarkan tapi adakah kita mengerti memaknai penderitaan kita itu karena apa? Penderitaan kita itu karena apa? Ataukah cuma karena kalau zaman sekarang karena COVID, ataukah kita menderita karena Kristus? Dan di dalam bagian ini Paulus mengerti dia menderita bagi Kristus, dia menderita dalam pelayanannya sehingga itu menjadi sesuatu yang bisa menjadi membuahkan sesuatu yang manis pada akhirnya yaitu menghasilkan buah-buah pelayanan, yaitu ada orang-orang kudus yang dimenangkan dari istana Kaisar itu.

Kita bisa lihat di bagian ini ya Paulus itu sudah dalam kesulitannya dia tetap bisa bersyukur dan mengatakan ada salam dari orang-orang kudus yang di istana Kaisar itu ya. Berapa banyak dalam kehidupan kita juga bisa ada menikmati manisnya buah pelayanan itu juga ya asal kita belajar bersyukur itu, asal kita belajar adalah kita melakukan bagi kemuliaan Tuhan, nanti Tuhan akan menbukakan mata rohani kita untuk bisa melihat ada buah manisnya itu yang Tuhan juga munculkan dari pelayanan yang ada dan kita belajar bersyukur, belajar bersyukur.

Paulus mungkin ya di dalam sebelum-sebelumnya nggak ada kebayang Oh saya akan pertobatkan sana. Dia mungkin cuma pikir saya mau layani jemaat Filipi ya, jemaat yang di mana, jemaat yang di mana, mungkin kalau zaman itu sudah ada penatua, diaken juga bikin program gereja untuk menangkan itu ada orang-orang miskin, orang-orang kasihan disana. Tapi ternyata melalui pemenjaraannyalah konteks itu baru dipakai Tuhan untuk juga menangkan orang-orang di istana Kaisar. Itu kan kalau kita lihat itu melampaui akal, melampaui program-program gereja yang pikir bisa menangkan orang istana Kaisar. Tapi itulah yang Tuhan nyatakan, dan itu yang Tuhan bukakan dan Paulus belajar bersyukur untuk hal itu juga.

Saya nggak tahu ya Paulus ketika di pemenjaraannya kembali dalam ketika penulisan suratnya ini mungkin dia di penjara Roma atau mungkin di penjara di Efesus atau ada berapa perdebatan lah. Tapi kita mengerti dia pasti ada rencana tadinya kan sebenarnya pelayanan ke tempat mana. Tapi akhirnya untuk berapa waktu dia stuck kalau mau dibilang, dia dikarantina di penjara sana, terus dia mungkin masih mengidam-idamkan memikirkan, “Aduh saya rindu pelayanan di sana,” mungkin misalnya di Makedonia, “aduh saya rindu pergi lagi membesuk jemaat di Makedonia, saya rindu untuk memenangkan orang-orang disana. Eh ternyata Tuhan bukakan malah memenangkan orang-orang di istana Kaisar.”

Nah di bagian ini kita lihat menarik ya di dalam apa yang Paulus sampaikan dan saya percaya di pengajaran kita, kita belajar bersyukur juga disitu karena saya pikir seperti pujian yang dikarang oleh Pdt. Dr. Stephen Tong ya “Kemana saja ‘ku telah sedia pimpinan Tuhan tak pernah bersalah…” terus semua jiwa karena kita mencintai semua jiwa itu berharga di mata Tuhan, semua jiwa. Kita mungkin lagi pikir, “Saya mau melayani yang ini eh Tuhan bukakan yang ini,” kita belajar bersyukur juga. Bisa nangkap ya. Ini secara prinsip mungkin sederhana ya tapi kadang kita itu nggak bisa menyukuri bagian ini. Oh berapa lama kita sudah mendoakan untuk si anu, doa untuk dia mengenal Tuhan tapi kemudian dalam proses doanya itu eh Tuhan bukakan yang lain. Kita bisa bersyukur juga nggak ketika Tuhan bukakan? Yang ini Saya berikan, yang ini buah pelayananmu yang sekarang. “Wah Tuhan saya maunya melayani yang ini, yang ini, yang ini.” Mungkin belum dikasih atau bahkan tidak, kita nggak tahu, ada waktu Tuhan, rencana Tuhan. Tapi kemudian apa yang Dia bukakan kita bisa bersyukur.

Dan menarik ya di bagian ini dia bisa bersyukur ya dan dia katakan ada suatu nuansa sukacitanya di situ dia katakan, salam ya dari saudara-saudara bersama dengan aku, ini apa? Kalau mau dibilang itu orang-orang worthless, orang-orang aduh tidak ada nilainya, orang-orang penjara sama dia kok, preman-preman, saya nggak tahu ya kita rasanya ini bertumbuh jemaatnya, bertambah apa? Tambah ini preman, preman A, preman B ya, tukang jagal dimana, perampok di mana. Tapi ya itu buah pelayanan Paulus, plus itu tentara-tentara Romawi yang di istana Kaisar lagi. Yang pernah memenjarakan orang-orang Kristen juga dan mungkin beberapa pernah bunuh orang Kristen juga. Tapi kembali kalau kita lihat sama bahwa kita ini sama statusnya itu dimenangkan, kita diselamatkan oleh Kristus itu semata-mata anugerah, kita belajar mensyukurinya.

Dan di bagian ini juga mengajarkan kita bahwa semua umat Tuhan itu adalah orang kudus. Mungkin ya kalau kita lihat di dalam bagian ini aduh ini preman-preman orang para tawanan ya mungkin sampah-sampah masyarakat yang bersama dengan Paulus itu, juga ada tentara-tentara Romawi itu, aduh ini kan mungkin kita pikir orang yang dosa berat. Tapi mereka pun disebut sebagai orang kudus yang sama dengan jemaat Filipi yang mungkin notabene ya secara tampilan luarnya mungkin moralnya jauh lebih baik. Tapi sama mereka pun orang kudus.

Dan sini mengajarkan apa? Yaitu minimal paling basic-nya mengajarkan memang di dalam rumah Tuhan itu tidak ada kasta-kastanya, tidak ada beda kastanya. Oh kalau di dalam Kitab Roma itu ya, “Oh ini Yahudi, lebih keren dong daripada Yunani. Yunani sekunder ya, kami Yahudi.” Dan kadang ada juga di dalam kehidupan itu orang muncul, “Saya Reformed kamu apa? Kamu cuma Kristen ya? Ah cupu kamu. Saya ini Reformed,” nggak. Kita ini semua umat Tuhan adalah orang kudus adanya. Tidak ada kasta-kastanya disana. Makanya juga tidak ada pemisahan masalah rasial ataupun masalah ini kaya atau miskin, itu masalah cuma secara ekonomis. Atau ini orang sudah anggota bertahun-tahun, ini orang baru, nggak ada. Di hadapan Tuhan itu sama adanya karena Tuhan tidak membedakan jemaat-Nya seperti itu kita semua disebut orang kudus, kenapa? Karena kita sama-sama membutuhkan pengorbanan Kristus yang menyelamatkan kita dan kita menerima Roh Kudus yang sama yang menguduskan semua orang percaya.

Kalau mau pakai istilah Bavinck yang teliti dalam membaca Alkitab dia bilang, “Pembedaan didalam Alkitab itu juga bukan membagi antara ada itu ya kasta misalnya Imam dan juga orang awam, kasta apa ini pendeta dengan orang awam gitu, sakral dan sekuler seperti itu, nggak. Tapi kita lihat adalah pembagian di dalam Alkitab cuma membedakan kalau mau dibilang jemaat itu antara yang masih kanak-kanak dengan dewasa.” Kalau kita kembali pada Alkitab ya dan menarik itu ada Bavinck bahas di Wonderful Works of God itu ya dia katakan pembagian yang dibuat seperti kaya Roma Katolik oh ada kasta apa ya orang-orang suci, orang-orang para monestry, orang-orang biara dengan jemaat awam itu ada pembagian yang keliru. Karena tidak ada pemisahan sakral dan sekuler itu, semuanya itu di hadapan Tuhan kudus adanya ketika kita apapun kita lakukan bagi kemuliaan nama Tuhan. Tapi di dalam Alkitab memang membedakan antara orang yang masih kanak-kanak dengan yang sudah dewasa ya.

Bicara kanak-kanak itu ada tidak selalu negatif ya, ada kanak-kanak yang memang ya orangnya baru lahir baru namanya juga baru lahir baru ya, newborn. Born again, orang yang baru mengalami regenerasi dilahirbarukan oleh Roh Kudus. Ya mungkin secara fisiknya itu sudah dewasa, akal pengetahuannya itu tinggi tapi rohaninya itu masih kanak-kanak, lho baru lahir baru. Makanya ada bagian Alkitab itu kemudian ada dikatakan jangan percayakan pelayanan kepada orang yang baru bertobat. Itu bukan karena kita menghina, masih kanak-kanak, tapi bicara memang mereka masih kanak-kanak belum stabil, belum stabil. Ya karena kita lihat ya kanak-kanak salah satu paling sederhana kanak-kanak itu nggak stabil ya. Satu titik bisa nangis, nanti berapa menit kemudian kadang detik eh bisa ketawa-ketawa saya kadang heran juga. Karena unstable, tidak stabil dan di dalam bagian lain katakan itu gampang digoyangkan oleh rupa-rupa angin pengajaran yaitu memang masih kanak-kanak.

Kembali lagi ada kanak-kanak yang dibilang ya memang baru lahir baru tapi ada bagian-bagian lain Alkitab juga menegur karena sebenarnya kalau ditinjau menurut dari Kitab Ibrani ya kalau ditinjau dari umur, dari waktu, kamu itu sebenarnya sudah bisa dewasa, kamu itu sudah bisa makan keras tapi masih terus minum susu. Itu bicara itu kaya itu ya adult infant, bayi tua. Sebenarnya sudah dewasa, sudah bisa dewasa tapi dia masih kekanak-kanakan, itu masalahnya. Tapi kemudian didalam bagian lain makanya kita diarahkan dari firman Tuhan itu mengarahkan kita bertumbuh dewasa, bertumbuh dewasa, bertumbuh dewasa itu apa? Ya kembali ke teks yang tadi saya bilang ya. Jangan percayakan pelayanan kepada orang yang baru bertobat. Nothing is wrong, orang baru bertobat kita bersukacita loh bagian lain Alkitab katakan satu orang bertobat sukacita sorgawi itu begitu luar biasa. Tapi kemudian kita lihat jangan terlalu cepat percayakan pada dia, dan artinya juga adalah percayakanlah pelayanan pada orang yang sudah dewasa, yang sudah matang, yang sudah secara kerohanian itu kuat hadapi banyak tantangan dan banyak hal dia itu bisa lebih stabil ya.

Dalam bagian ini bukan bilang tidak ada kesulitan, ada. Tapi disitu kita mengerti kalau sudah ada kedewasaan rohani di sana dan bukan cuma sekedar knowledge di situ, bukan sekedar pengetahuan semata, yaitu bisa lebih stabil dalam ikut Tuhan ya dan tidak gampang digoyangkan oleh rupa-rupa angin pengajaran. Karena di situ kita mengerti orang itu makin dewasa, makin matang baik di dalam aspek pengertian dan juga afeksinya juga dalam kehidupannya, dia menaati kehendak Tuhan dan boleh semakin dipakai bagi kemuliaan nama Tuhan. Dan ditutup dengan adanya anugerah penyertaan dari Yesus Kristus sendiri ya. Bahwa di dalam ketika kerjakan ini dewasa ini, bukan dia independen juga ya, secara kelihatan kita sih mungkin ah ini orang sudah dewasa lah ya. Kadang-kadang saya heran juga ya ketemu jemaat wah Bapak mah nggak usah persiapan lah langsung bisa khotbah. Rupamu kami juga persiapan nggak semudah itu. Tapi meski mungkin kadang-kadang ya dari aspek, dari yang lain bisa lihat, “Ah ini orang sudah dewasa,” tapi dari kehidupan kita, ketika bertumbuh dipakai Tuhan, kita mengerti ada penyertaan Kristus, ada pertolongan Roh Kudus yang terus memurnikan kita, yang terus memurnikan kita, dan itu yang memberikan pertolongan hari demi harinya.

Di bagian ini ditutup didalam suatu ungkapan yang begitu indahnya sampai-sampai ya kalau kita lupa bahwa ini ditulis di dalam penjara kita mungkin pikir wah ini Paulus sedang sukacitanya seperti apa. Dia tutup dengan begitu manisnya dan begitu bahagianya. Tapi biarlah kita ingat ini sebenarnya dia bisa dia tuliskan ketika dia masih berada dalam penjara, namun dia bisa tuliskan demikian juga karena memang dalam pimpinan Roh Kudus, karena ada kasih karunia dari Tuhan Yesus Kristus yang menyertai roh dari Paulus ini, dan kiranya itu jugalah yang terus menyertai setiap kita yang mendengarkan firman Tuhan pada hari ini. Mari kita satu dalam doa.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *