Penghiburan Sejati dalam Hidup dan Kematian, 14 April 2019

Pdt. Ir. Andi Halim, M.Th.

Nah Saudara-saudara, sekarang saya di radio saya membahas suatu tema yang judulnya adalah, tema ini dari suatu buku yang namanya Katekismus Heidelberg. Yang lebih terkenal mungkin diantara kita Katekismus Singkat Westminster ya, tapi Katekismus Heidelberg juga diterbitkan oleh Momentum dan itu juga suatu pelajaran yang sangat baik dan berkualitas. Dan Saudara-saudara, di dalam buku ini ada suatu pertanyaan yang saya ingin ajukan juga kepada Saudara untuk ini menjadi perenungan bagi kita semua. Pertanyaannya adalah, apakah penghiburan satu-satunya, ya saya ulangi, apakah penghiburan satu-satunya di dalam kehidupan Saudara baik itu di dalam kehidupan maupun di dalam kematian? Saya ulangi, apakah penghiburan satu-satunya, bagi Saudara dan saya, baik itu di dalam kehidupan maupun dalam kematian? Pertanyaan ini agak aneh, anehnya adalah biasanya pertanyaannya begini, apakah satu-satunya penghiburan bagimu dalam kehidupanmu? Tapi ini anehnya adalah apakah satu-satunya penghiburanmu di dalam kehidupan dan kematian. Nah karena biasanya nggak ada kamus penghiburan dalam kematian betul nggak? Yang kita sering kali pahami penghiburan itu ya dalam kehidupan, kalau dalam kematian apanya yang merupakan penghiburan? Kematian itu suatu yang sangat jelek, sangat negatif, sangat apa ya, pokoknya menyedihkan. Itu merupakan malapetaka, musibah, sesuatu yang kita nggak suka tentang kematian, bukan kah begitu ya. Sampai semua orang menganggap seperti itu, entah dari suku apa, entah dari kebudayaan apa, entah juga dari agama apapun, semua menganggap kematian adalah sesuatu yang sangat negatif, dan sangat buruk, dan harus dihindari. Dan itu juga kalau terjadi dalam kehidupan Saudara dan saya, kita anggap itu sesuatu yang sangat jelek. Kalau kematian itu terjadi dalam hidup saya, kalau saya divonis dokter umur saya tinggal tiga bulan saja, dan kamu sudah terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan lagi, dan itu menjadi suatu malapetakan dan kegelapan dalam kehidupan kita. Coba Saudara bayangkan dan renungkan, meskipun saya, kita semua, tidak berharap itu terjadi dan saya juga tidak mendoakan anda mengalami itu, tetapi nggak ada satu orangpun yang luput dari masalah kematian. Saudara suka nggak suka, Saudara benci atau senang, Saudara mau mengindar atau Saudara mau mendatangi hal itu, tetap kematian itu tetap terjadi dalam setiap manusia, siapapun. Di dalam Alkitab ditulis Henokh dan Elia mereka diangkat ke surga, itu sudah, selain itu nggak ya, semua mengalami kematian Saudara-saudara.

Dan kembali kepada pertanyaan tadi, apakah yang merupakan penghiburanmu satu-satunya, dalam kehidupanmu dan dalam kematian? Saudara-saudara, saat saya merenungkan pertanyaaan ini dan saya juga menyiarkan di radio tentang diskusi ini, saya kemudian makin menemukan jawaban-jawaban yang luar biasa. Saya sambil baca buku Katekismus Heidelberg ini, dan sambil merenungkan, dan sambil meyiarkan di radio, sambil tanya-jawab, saya semakin menemukan hal-hal yang luar biasa dari pertanyaan ini. Ya ternyata jawaban dari pada buku ini juga jawaban yang nggak lazim dijawab oleh manusia di dalam menjawab pertanyaan ini, yaitu apakah satu-satunya penghiburanmu, baik dalam hidupmu maupun dalam kematian mu? Ya kalau kita sering kali ditanya, apakah penghiburanmu? “Oh penghiburan saya  kalau saya sembuh dari penyakit, saya sudah divonis dokter, hidupmu akan tinggal tiga bulan lagi, tiba-tiba setelah saya menjalani satu dua bulan saya sembuh total dari penyakit saya, wah ini kebahagiaan yang bener-bener luar biasa bagi hidup saya,” biasanya begitu ya ceritanya. Lalu misalnya orang yang mungkin cari pekerjaan sangat sulit, berbisnis juga sulit, “Wah kebahagiaan saya yang luar biasa bagi saya adalah, saya dulu cari kerjaan di mana-mana, berbisnis selalu gagal,tapi tahu-tahu Tuhan buka jalan, saya sekarang jadi sukses, kaya raya, luar biasa.” Ya mungkin bagi yang orangtua yang mungkin anaknya sudah, yaa lumayan umurnya, “Wah kebahagiaan saya adalah saya kalau bisa menikahkan anak saya ya, ya itu kebahagian luar biasa.” Mungkin yang sudah menikahkan anak, “Kebahagiaan saya yang luar biasa adalah kalau saya punya cucu, ya.” Ini anak saya baru, ya promo sedikit-sedikit ya, dua yang baru saja menikah, di tahun yang sama dua anak saya menikah, semua kaget, semua, “Wuih dua ya pak?” Ya iya, memang dua menikah dalam satu tahun, lalu sekarang bolak-balik ketemu teman, “Sudah ada isinya ya pak, sudah ada isinya?” Terus saya bilang, “Belum, belum,” dan bagi saya itu anugerah Tuhan sih. Tapi seringkali orang, “Ah rasanya kalau sudah punya cucu, wah itu bahagia luar biasa.”

Jadi kebahagiaan itu macam-macam Saudara. Tapi intinya kalo saya lihat, kebahagiaan, ukuran kebahagiaan bagi tiap orang itu adalah kalau dia mendapat sesuatu yang diharap-harapkan. Seringkali ukuran kebahagiaan adalah kalau saya mendapat sesuatu yang amat sangat saya harapkan. Tapi ternyata apa Saudara jawaban dari pada buku Katekismus Heidelberg? Nanti Saudara mungkin kalau mau baca , bisa juga beli. Iya jawabannya adalah penghiburanku satu-satunya baik dalam kehidupan maupun dalam kematian adalah saya bukan milik saya sendiri. Wah ini  jawaban yang sangat aneh sekali kan? Saya bukan milik saya sendiri, hidup saya bukan milik saya lagi. Kenapa itu menjadi suatu ukuran kebahagiaan baik dalam hidup maupun dalam mati? Saudara-saudara, saya harap Saudara juga merenungkan kebenaran ini menjadi kebenaran yang hakiki, dalam kehidupan Saudara dan saya, bahwa “hidup kita bukan milik kita lagi,” itulah kebahagiaan yang paling sejati. Lalu bagian ini tidak dipengaruhi oleh segala keadaan; entah sakit entah sembuh; entah kaya entah miskin; entah sukses entah gagal; entah masih muda entah sudah tua; kebahagiaan yang sejati adalah bahwa hidupku bukan milik aku lagi. Saudara-saudara, ini suatu hal yang tidak lazim sama sekali dan sangat-sangat juga tidak mungkin dijawab oleh orang yang mengikuti teologi sukses, teologi kemakmuran, teologi kesembuhan, dimana apa pun yang kita minta Tuhan pasti mengabulkan apa pun yang saya inginkan. Karena hidupku bukannya aku lagi, itu menunjukkan suatu hal yang sangat inti, yang sangat penting dan sangat mendasar dalam kehidupan Saudara dan saya sebagai orang percaya. Dan keberadaan ini tidak dapat digoncangkan oleh segala keadaan, baik sakit sehat, baik kaya miskin, baik sukses gagal, semuanya tidak bisa menggoyahkan prinsip “hidupku bukan milikku lagi.”

Saudara, mari kita membaca bagian dari pada firman Tuhan yang memang amat sangat mendasar ini dan mungkin juga Saudara dan saya sudah banyak yang tahu. Mari kita membaca dari 1 Korintus 6:19-20, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Saudara-saudara, saya ajak Saudara untuk memerhatikan kalimat terakhir dari ayat 19, setelah ada straight datar itu, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri. Mari kita baca sama-sama kalimat ini, “dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri”. Saudara, Alkitab menegaskan, dalam kehidupan Saudara dan saya sebagai orang yang sudah percaya, Saudara dan saya adalah bukan milik kita sendiri. Hidup kita  bukan milik kita sendiri. Kenapa ini menjadi suatu kebahagiaan? Bukankah ini justru menyedihkan, kalau hidup kita bukan milik kita sendiri? Seharusnya hidup kita adalah milik kita, kita yang menguasai hidup kita, kita yang menentukan hidup kita menurut kemauan kita, kebahagiaan kita, kesenangan kita, itulah kebahagiaan. Tapi kebahagiaan itu ternyata aku bukan milikku sendiri. Saudara, kenapa seperti itu? Jawabannya sebenarnya sangat juga mendasar dan sangat sederhana, jawabannya adalah, kalau hidupmu milik kamu sendiri, hidup kita ini milik kita sendiri, maka justru malapetaka yang terjadi dalam hidup Saudara dan saya. Hidup milik diri sendiri, hidup milikku sendiri, berarti aku justru nggak tau masa depanku. Karena siapa yang bisa menjamin kehidupan di masa depan? Kalau hidup Saudara adalah milik Saudara sendiri, siapa Saudara yang berani mengatakan, aku menjamin hidupku sendiri, masa depanku, nasibku, yang akan datang pasti terjadi ini, ini, ini, ini, menurut kemauanku? Siapa yang bisa menjamin? Tidak ada satu pun di antara Saudara dan saya yang bisa tahu masa depan, nasibmu. Justru kalau hidup milikmu sendiri, kamu akan menerima malapetaka yang besar. Kenapa? Ya karena manusia tidak berkuasa atas hidupnya sendiri, dan manusia juga tidak berkuasa atas masa depannya, dan manusia juga tidak berkuasa atas seluruh bumi dan alam semesta ini. Tidak ada yang bisa menjamin.

Jadi, ini sesuatu yang sebenarnya ironis dan sederhana sekali sebetulnya. Manusia ingin dia memiliki hidupnya sendiri, tapi dia nggak sadar, ingin memiliki hidupnya sendiri itu adalah malapetaka besar. Jadi kalau begitu, bagaimana hidup Saudara dan saya bisa sungguh-sungguh merupakan jaminan? Yaitu kalau hidupku bukan milikku lagi. Sebenarnya nggak pernah ada, Saudara-saudara, hidup milikku, itu nggak pernah ada. Oh bahwa hidup itu adalah milikku. Aku berkuasa atas hidupku. Tidak pernah ada. Tidak pernah manusia bisa menguasai hidup menjadi miliknya sendiri. Tidak pernah. Itu hanya suatu mitos, itu hanya suatu dongeng, itu hanya suatu percaya diri yang palsu dari pada manusia yang di dalam kehidupan kebutaan rohani, merasa “aku berhak atas hidupku sendiri. Aku yang menguasai hidupku sendiri. Aku adalah tuan atas diriku sendiri.” Ini adalah tipuan iblis dan justru ini sering kali diyakini oleh kebanyakan orang yang hidup di dunia ini, yang merasa hidupku adalah milikku. Padahal itu adalah tipuan iblis. Kenapa? Karena nggak ada orang bisa menguasai hidupnya. Kalau begitu, siapa yang menguasai? Cuma ada dua kemungkinan. Yang menguasai kalo nggak iblis, ya Tuhan. Saudara-saudara, ini semua adalah suatu basic, suatu yang mendasar yang saya khotbahkan, tapi sering kali dilupakan oleh kehidupan Saudara dan saya dalam menjalani hidup sehari-hari. Saudara, saya yakin Saudara dan saya jarang merenungkan hidupku bukan milikku sendiri. Coba, setiap kali Saudara berbisnis atau setiap kali Saudara punya rencana, tiap kali Saudara punya planning, tiap kali Saudara juga mencari pekerjaan atau mencari teman hidup atau mencari sesuatu, apakah Saudara selalu sadar hidupku bukan milikku sendiri? Saudara-saudara, ini sudah dijawab juga oleh Rasul Paulus sebenarnya ya, di ayat yang berikutnya. Kita perhatikan sekarang ayat yang ke-20, 1 Korintus 6:20, dikatakan “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.” Saudara-saudara, kamu sudah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Saudara kalau punya barang, Saudara jual barang itu lalu dibeli sama orang lain maka begitu barang itu sudah dibeli sama orang lain barang itu bukan milik Saudara lagi, barang itu milik orang yang sudah membeli. Ini hukum yang sangat sederhana dan sangat jelas.

Dan ternyata kehidupan orang percaya, Saudara dan saya, itu digambarkan seperti itu. Saudara itu diperjualbelikan, sepertinya begitu, ini hanya analogi bahwa kehidupan Saudara ini sepertinya sudah dibeli, maksudnya bagaimana sih hidup dibeli? Karena Saudara sebelum dibeli Saudara adalah dikuasai oleh sesuatu. Semua orang yang lahir, lahir dalam kutuk dosa; semua orang yang lahir, lahir dalam perhambaan dosa; semua orang yang lahir, lahir di dalam kematian rohani. Itulah keberadaan Saudara dan saya sebelum di dalam Kristus. Maka itu dengan kata lain Saudara diperhamba, yaitu menjadi hamba dosa, ini Alkitab semua yang mengatakan. Saudara semua adalah hamba dosa. Dan pada saat seseorang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dia telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar dari hamba dosa diubah statusnya menjadi hamba Allah. Jadi Saudara-saudara, dari 2 status ini, dari hamba dosa menjadi hamba Allah, dua-duanya adalah perhambaan. Maka orang Kristen tidak pernah adalah orang yang benar-benar bebas, “Saya bukan hamba siapapun, saya adalah tuan atas diri saya sendiri,” itu kata-kata Nietsche, seorang filsuf atheis yang menganggap God is death, Allah sudah mati, kita manusia adalah tuan atas diri kita sendiri. Ini adalah statement yang boleh dikatakan paling gila dari semua para filsuf, mengatakan God is death. Saudara-saudara, tetapi orang yang seperti ini nggak sadar bahwa dirinya bukan tuan atas dirinya sendiri, itu adalah tipuan iblis, dia sedang diperbudak oleh dosa. Kalau ada orang bilang, “Saya merdeka, saya nggak mau ikut siapapun, saya tidak percaya kepada Kristus, saya tidak percaya kepada Buddha, saya tidak percaya kepada semua agama, saya percaya kepada diri saya sendiri,” dia merasa dia yang paling bebas, dia tidak mau ikut dan diperhamba oleh apapun tapi dia nggak sadar dia sedang diperhamba oleh dosa, dia sudah diperbudak oleh hawa napsunya sendiri, dia sudah tertipu oleh jebakan iblis. Nah Saudara-saudara, Alkitab menegaskan kepada Saudara dan saya, pada saat orang sebelum menerima Yesus dia hamba dosa, pada saat orang setelah menerima Kristus dia hamba Allah. Maka tidak pernah ada status “saya bukan hamba siapapun, saya bukan hamba dosa, saya bukan hamba Kristus,” nggak pernah ada status netral. Kita kalau bukan hamba dosa, kita hamba Allah. Kenapa? Karena kita memang tidak pernah berkuasa atas diri kita sendiri. Mari kita lihat Saudara-saudara, satu ayat dari Roma 6:17-18, “Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Perhatikan, “Dulu hamba dosa,” tapi setelah dimerdekakan “menjadi hamba kebenaran.”

Nah sekarang perhatikan di ayat 20-22, Roma 6:20-22, “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran. Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian. Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Perhatikan, “dulu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran, tetapi sekarang,” ayat 22,”kamu setelah dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah.” Saudara-saudara, justru inilah penghiburan yang paling sejati bagi setiap orang percaya: “Kamu dari hamba dosa sekarang menjadi hamba Allah; kamu dulu diperbudak dan kamu bebas dari kebenaran,” artinya di luar kebenaran, hidupmu di luar kebenaran, “tetapi setelah kamu menjadi percaya kamu dimerdekakan dari dosa,” artinya kita dibebaskan dari kutuk dosa tapi bukan bebas semaunya sendiri, tapi kamu begitu dibebaskan kamu menjadi hamba Allah. Saudara, saya nggak tahu apakah Saudara benar-benar menghayati ini sebagai penghiburan yang sejati dalam hidup Saudara dan kematian Saudara: saya boleh menjadi hamba Allah, hidup saya bukan milik saya sendiri tapi hidup saya sudah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Saudara-saudara, kita sudah menjelang Jumat Agung dan Paskah. Kita memperingati akan kematian Kristus dan juga kebangkitan-Nya. Mungkin perlu dipertanyakan kepada Saudara dan saya lagi, sebetulnya inti dari pada Paskah ini apa? Ya sudah tahu memang inti Paskah adalah Kristus mati menebus dosa Saudara dan saya dan pada hari yang ketiga Dia bangkit menunjukkan kuasaNya atas kematian. Kita hanya mengerti sampai disitu, tapi kita belum sungguh-sungguh menghayati bahwa “hidupku bukan milik aku lagi. Hidupku adalah milik Kristus.” Kenapa ini menjadi penghiburan? Iya Karena saya tahu waktu sebelum saya menjadi milik Kristus saya dalam kebinasaan, tapi saya sekarang telah menjadi milik Kristus, saya boleh mengerti arti hidup yang benar-benar bernilai. Arti hidup yang bernilai adalah bukan hidup untuk dirinya sendiri. Arti hidup yang bernilai adalah hidupku adalah bagi Allah.

Saudara-saudara, apakah Saudara menganggap ini suatu yang nggak indah, sesuatu yang biasa-biasa aja? Mestinya bagi orang percaya, kalau aku sadar aku hidup tidak lagi untuk diriku tapi aku hidup bagi Allah, itu adalah kebahagiaan yang luar biasa, kebahagiaan yang tak terhingga. Hidup bagi Allah adalah kebahagiaan yang melebihi seluruh kebahagiaan yang ada di dunia ini. Saudara-saudara, seringkali yaitu tadi bagi kita yang namanya kebahagiaan adalah kalau saya luput dari kematian itu kebahagiaan, kalau saya luput dari penyakit yang mematikan itu namanya kebahagiaan, kalau saya luput dari kecelakaan, musibah, ya mungkin musibah kecelakaan pesawat, musibah gempa bumi, tsunami, lalu saya luput dari pada musibah itu kebahagiaan luar biasa. Tapi bagi orang percaya itu bukan kebahagiaan, itu hanya ya kebahagiaan yang sementara saja, tapi kebahagiaan yang kekal adalah bahwa hidup Saudara sudah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Mari kita lihat lagi Roma pasal 14:7-9 ini ayat ayat yang sudah sering dibaca tapi juga belum menjadi sungguh-sungguh penghayatan Saudara dan saya, ” Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” Saudara, perhatikan ayat ini, bolak-balik yang diulang adalah hidup dan mati. Hidup, mati, hidup, mati. Tidak ada seorang pun yang hidup untuk dirinya sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Kalau dia hidup, dia hidup untuk Tuhan. Kalau dia mati, dia mati untuk Tuhan, jadi baik hidup atau mati dia adalah milik Tuhan. Jadi sebab itulah Kristus telah mati dan bangkit kembali supaya Ia menjadi Tuhan baik atas orang-orang hidup maupun atas orang-orang mati. Saudara hidup-mati, hidup-mati, hidup-mati, nggak ada yang mengisi di antara hidup dan mati. Nggak ada. Kalau nggak hidup, ya mati. Tidak ada setengah hidup, tidak ada setengah mati. Ya orang yang namanya setengah mati masih hidup, ya belum mati. Orang yang benar-benar mati nggak setengah mati, benar-benar mati. Jadi Saudara2 kalau nggak hidup ya mati.

Di dalam hal ini dikatakan bahwa tidak ada seorang pun yang hidup untuk dirinya sendiri. Tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Kalau dia hidup, hidup bagi Tuhan. Kalau dia mati, mati bagi Tuhan. Berarti tidak ada yang bagi diri sendiri. Saudara, renungkan baik-baik, apakah Saudara waktu menentukan tujuan hidup Saudara, menentukan hidup untuk Saudara sendiri atau untuk Tuhan? Coba kalau Saudara mencari pekerjaan, Saudara cari pekerjaan untuk Tuhan atau untuk diri sendiri? Saudara mencari teman hidup, teman hidup untuk Tuhan atau untuk diri sendiri? Saudara mau makan dan minum untuk Tuhan atau untuk diri sendiri? Saudara-saudara, Alkitab berkata kepada Saudara dan saya, kita makan dan minumpun adalah untuk Tuhan. Mari kita baca 1 Korintus 10:31, ” Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Paulus mengatakan kebenaran ini karena dia menyadari hidupnya untuk Tuhan, matinya untuk Tuhan, dan diantara perjalanan hidup ini sampai mati kalau aku makan-minum dan melakukan sesuatu yang lain, semuanya adalah untuk kemuliaan Allah. Ini namanya integrated Saudara-saudara. Hidup orang percaya yang tidak terpecah belah. Anda tidak hanya di gereja memuliakan Allah, tapi  di luar gereja anda tetap anak Tuhan yang hidupmu bukan milik kamu sendiri. Dan hidupmu adalah milik Allah karena itu muliakanlah Allah dalam hidupmu. Karena itu kerjakan segala sesuatu demi kemuliaan Allah. Saya kuatir menjadi orang Reformed masih pengikut dualisme, kalau di gereja memang untuk Tuhan tapi untuk bisnis untuk saya sendiri. Kalau saya melayani di gereja memang itu untuk Tuhan tapi kalau saya melakukan kegiatan lain itu untuk keluargaku, untuk kepentinganku. Saudara, Alkitab bilang semuanya untuk Tuhan. Kenapa? Hidupmu bukan milikmu sendiri. Kenapa? Kamu sudah dibeli. Kenapa? Harganya telah lunas dibayar. Kenapa? Karena kamu sekarang bukan lagi menjadi hamba dosa tapi kamu adalah hamba Allah. Maka tidak ada sedikit pun sebetulnya untuk diri kita sendiri, nggak ada rumus hidup untuk dirinya sendiri. Itu adalah hoax. Rumus hidup untuk dirinya sendiri, itu adalah hoax, berita palsu! Tidak ada hidup untuk diri sendiri. Kalau nggak hidup untuk iblis, hawa nafsu iblis, diperhamba oleh dosa, ya hidup bagi Allah. Sekarang musimnya hoax, ya? Tapi ternyata banyak orang Kristen sudah kena hoax. Dia pikir hidup adalah untuk diri sendiri. Tidak! Dan semua manusia di muka bumi ini banyak yang berpikir untuk hidup untuk dirinya sendiri. Semua orang kena hoax. Ada orang yang dicelikkan mata rohaninya oleh Alkitab, oleh Roh Kudus, sadar: Hidupku, bukan milikku lagi, hidupku adalah milik Kristus.

Saudara-saudara, ini adalah penghiburan yang sejati, yang tidak tergoyahkan. Saya setelah makin menghayati kebenaran ini: Tuhan, Engkau persiapkan aku menghadapi apapun yang terjadi, hidupku bukan milikku lagi! Biarlah aku belajar mau mengatakan seperti rasul Paulus di Filipi 1:21. Ini ayat yang juga sangat terkenal, tapi juga sering dilupakan oleh orang percaya. Filipi 1:21, kita sudah sering dengar ini, tapi dalam praktek hidup kita seringkali tidak melakukan ini. Mari kita baca, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Saudara, siapa yang bisa mempunyai rumus hidup seperti ini? Bukan hanya rasul Paulus. Saudara kalau bilang, “Oh ini hanya untuk rasul Paulus saja, untuk kita-kita semua kan awam. Kita ya hidup, ya… yang normal-normal ajalah. Jangan yang abnormal!” Tapi sekarang musimnya abnormal ya? Ada restoran abnormal, gitu ya? Justru ini yang normal, Saudara-saudara! Hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan –  ini yang normal. Kalau Hidup untuk diriku sendiri, mati adalah sial – itu yang nggak normal, ini yang nggak benar. Concern hidup orang percaya seringkali ya itu tadi: Hidup adalah untuk diriku, mati adalah sial! Tanpa sadar, kita seringkali mengatakan seperti itu. Misalnya kalau kita ada orang kematian, entah teman kita, entah mungkin family kita, keluarga kita, kita selalu pikir yang mati adalah, “Lu kasian ya yang mati.”
Nah kata-kata “kasian dia mati” – kita sudah anggap mati namanya apa? “Kasian ya dia mati,” berarti mati itu adalah nggak baik, kasihan. Orang mati itu apes, sial, nggak  untung mati itu. Kasian, yang mati itu kasian. Padahal itu salah menurut iman Kristen! Kalau orang percaya mati, mati bukan sial, mati adalah keuntungan. Lho kenapa  kok untung? Ya karena dia kembali ke rumah Bapa di sorga. Itu kebahagiaan yang tak terhingga. Jadi mulai sekarang jangan bilang: yang mati kasian. Yang kasian itu yang masih hidup, betul nggak?

Nggak sadar ya? “Aduh kasian lho aku ini masih hidup. Yang mati sudah untung.” Amin?

Amin tapi sedih gitu aminnya. Ya toh? Kita bilang: Yang mati sudah untung, yang hidup masih sial – oh nggak! Itu tuh juga salah. Ya toh? Yang mati untung, yang hidup? Hidup bagi Kristus! Amin? Itu jawaban Alkitab.

Saudara juga jangan bilang, wah sekarang diajarin pak Andi: yang mati untung, yang hidup sial! Oh salah, ya, pak Andi Halim tidak pernah mengajarkan: yang hidup sial. Yang hidup, hidup bagi Kristus, yang mati adalah keuntungan. Berarti tidak ada sial bagi orang percaya. Nggak ada sial! Apapun yang terjadi, saya percaya itu yang terbaik karena Tuhan selalu juga memberikan yang terbaik bagi setiap anak-anakNya.

Mari kita terapkan, Saudara-saudara, kebenaran seperti ini. Kita seringkali antara teori dan praktek masih beda. Ya memang itu lumrah. Saya sendiri pun, kalau ngomong kaya gini bukan berarti saya sudah berani mati, siap mati. Semua orang yang mungkin sudah divonis dokter: “Hidupmu nggak lama lagi!” – pasti shock! Tapi lebih baik punya pengertian yang benar, daripada punya pengertian yang salah. Saudara sudah dipersiapkan untuk mengerti: Hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan. Kenapa? Aku mati bukan sial, aku mati kembali ke rumah Bapa yang sangat bahagia dan luar biasa, Kristus sudah menyediakan rumah bagi kita. Kenapa home sweet home menjadi malapetaka? Home sweet home – adalah kebahagiaan yang paling bahagia bagi orang yang percaya. Karena itu dikatakan:

“Apa penghiburanmu satu-satunya bagi setiap hidupmu, maupun matimu?”

Kebahagiaan satu-satunya adalah aku bukan milikku lagi, tapi aku adalah milik Kristus. Puji Tuhan! Ini adalah satu jaminan, Saudara-saudara, tidak ada jaminan yang seperti ini, jaminannya di dalam semua agama. Tidak ada, Saudara-saudara. Ini jaminan yang sangat luar biasa. Hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan. Amin. Mari kita berdoa

Bapa yang di sorga, kami sungguh bersyukur karena firmanMu mengingatkan pada kami bahwa Kristus mati bagi kami supaya hidup kami menjadi hidup yang berarti. Kristus sudah membeli kami dengan darah yang mahal, supaya hidup kami tidak lagi menjadi hamba dosa, kami boleh menjadi hamba Allah. Terima kasih karena kami sudah diberi pengertian, bahwa hidup kami bukan hidup untuk diri sendiri, tapi hidup kami adalah hidup bagi Allah. Dan mati adalah keuntungan, karena kami boleh kembali ke rumah Bapa yang di sorga. Karena kami sudah dibeli, harganya sudah lunas dibayar. Kami di dalam jaminan yang terjamin, yaitu hidup kami di tangan Kristus, bukan di tangan iblis. Terima kasih atas penghiburan yang sejati ini. Dan biarlah kami terus menjalani hidup, selama kami masih diberi hidup, biarlah hidup kami adalah hidup bagi Kristus. Dan waktu Tuhan panggil kami, itu adalah keuntungan bagi kami. Terima kasih Tuhan, terima kasih untuk kematian dan kebangkitanMu yang menjamin seluruh hidup kami. Dari hidup sampai mati. Inilah penghiburan yang sejati. Kami serahkan doa kami, kami serahkan semua firman Tuhan yang sudah diberitakan, biarlah tidak lagi kami dikuasai oleh pengertian-pengertian yang salah tapi kami boleh kembali kepada kebenaran firman Tuhan. Dalam nama Tuhan kami, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami berdoa, Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperika oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *