Pemilihan Matias, 13 Desember 2020

Kisah Para Rasul 1:12-26

Pdt. Dawis Waiman, M. Div.

Pada waktu kita melihat pada bagian ini, saya mau ingatkan kembali kalau bagian ini merupakan bagian yang transisi, bagian transisi antara masa akhir dari Perjanjian Lama untuk masuk ke dalam Perjanjian Baru yang ditandai dengan baptisan dari Roh Kudus atau hari Pentakosta yang akan dialami oleh orang-orang Kristen, atau anak-anak Tuhan dan murid-murid Yesus Kristus. Dan pada waktu masa transisi itu, apa yang dilakukan oleh murid-murid untuk menantikan hari Pentakosta tersebut seperti yang Tuhan perintahkan untuk mereka tinggal di sana. Ada beberapa poin yang sudah kita bahas sebelumnya, saya review sedikit tetapi saya tidak akan membahas satu per satu, Bapak, Ibu bisa lihat di dalam pembahasan firman sebelumnya.

Yang pertama adalah murid-murid belajar untuk tunduk dan taat kepada perintah Tuhan. Maksudnya adalah kalau Bapak, Ibu perhatikan, dari kehidupan para rasul sebelumnya, kita sering kali menemukan mereka adalah orang-orang yang membantah Yesus Kristus, mereka adalah orang-orang yang mempertanyakan, mungkin apa yang menjadi pengajaran dari Yesus Kristus. Yang paling, paling menonjol adalah pada waktu Yesus mengajarkan berkenaan dengan penderitaan yang Dia akan alami yaitu kesusahan, penganiayaan, lalu disalibkan dan mati, lalu bangkit pada hari yang ke tiga, Petrus yang sangat frontal sekali kemudian menarik Yesus pergi ke samping lalu berkata, “Sekali-kali hal itu tidak akan terjadi kepada Engkau, Guru.” Tapi Yesus kemudian menegur Petrus dan berkata, “Enyahlah engkau iblis,” dan mengajarkan bahwa apa yang dikatakan itu bukan merupakan kehendak Tuhan. Dan yang berikutnya adalah ketika Yesus Kristus mati di atas kayu salib, padahal Yesus memberikan perintah kepada murid-murid, “Kamu tunggulah di Yerusalem,” atau, “Kamu tunggulah di Galilea, kamu jangan kemana-mana.” Tetapi yang terjadi adalah dikatakan murid-murid itu kemudian pergi kembali kepada tugas mereka masing-masing atau pekerjaan mereka masing-masing, atau ke rumah mereka masing-masing.

Tapi pada waktu Yesus telah bangkit dari kematian, lalu Yesus menyatakan diri Nya kepada murid-murid, lalu Dia mengajarkan kepada murid-murid selama 40 hari berkenaan Kerajaan Allah dan berkenaan dengan apa yang harus terjadi kepada diri Dia, sebelum Dia naik ke Surga, Dia memberi perintah kepada murid-murid, “Mulai hari ini kamu jangan pergi, ke mana-mana, jangan pergi ke Galilea, jangan kembali ke rumahmu masing-masing, tunggulah di Yerusalem, sampai Roh Kudus diberikan,” maka di situ dikatakan mereka tunduk dan taat untuk tinggal di Yerusalem menantikan Roh Kudus diberikan kepada diri mereka. Jumlah mereka berapa? Awal tidak terlalu banyak, paling hanya 11 orang, lalu ditambah dengan ibu dari Yesus, saudara-saudara dari Yesus, dan beberapa perempuan lain, tetapi Saudara temukan setelah itu mereka punya jumlah bertambah jadi 120 orang. Jadi ada suatu ketaatan yang muncul di dalam diri para murid-murid dan itu adalah satu tanda, saya percaya, yang penting sekali, dari seseorang dikatakan sebagai anak Tuhan, atau umat Tuhan, yaitu melalui ketaatan dan penundukan diri di bawah otoritas dari Yesus Kristus.

Yang kedua adalah mereka bukan hanya menundukkan diri, tetapi mereka juga belajar untuk bersekutu, ada persekutuan yang mereka bangun di antara mereka. Nah, dalam hal ini kalau Saudara perhatikan, nama-nama yang dicantumkan, itu ada sesuatu yang menarik dan unik di dalamnya. Kalau Saudara komparasikan dengan Injil Matius, Markus, dan Lukas, ada satu perbedaan yang ada di dalam urutan, atau di dalam pasangan daripada nama-nama itu. Biasanya kalau Yakobus selalu dipasangkan dengan Yohanes, biasanya kalau Petrus itu selalu dipasangkan dengan Simon, saudaranya. Itu menjadi kelompok orang yang dekat satu dengan yang lain. Tetapi ketika Yesus bangkit, naik ke surga, lalu ketika mereka diperintahkan ke Galilea, di sini dicatat, pasangan yang mereka miliki kemudian berganti. Saya percaya ini satu-satunya yang boleh terjadi, kalau kita pasangan suami istri ndak boleh seperti itu ya, tapi pertemanan dan persahabatan, persaudaraan di dalam gereja, kita perlu belajar hal ini. Di sini dicatat bahwa Petrus tidak lagi bersama dengan Simon, tetapi Petrus bersama dengan Yohanes, Yakobus tidak lagi bersama dengan Yohanes, tetapi Yakobus bersama dengan Andreas, FIlipus dengan Thomas, Bartolomeus dengan Matius, Yakobus bin Alfeus dengan Simon orang Zelot and Yudas bin Yakobus.

Nah Saudara, itu menandakan di antara mereka, saya percaya, mungkin mereka sudah mulai belajar apa itu kerendahan hati. Di antara mereka, mereka sudah mulai belajar apa itu melayani satu dengan yang lain, mereka sudah mulai belajar bagaimana mereka harus mendahulukan yang lain lebih daripada kepentingan diri mereka sendiri. Dan semula mereka berkelompok-kelompok, berdasarkan satu mungkin kehormatan yang ada di antara mereka, pilihan yang Tuhan berikan atau yang sebenarnya tidak layak mereka terima tapi mereka anggap itu adalah hak mereka, yang membuat diri mereka lebih baik, dan lebih ternama dibanding dengan murid-murid yang lain, tetapi sekarang, mereka mengerti bahwa semua yang dimiliki dan diterima itu adalah suatu anugerah yang Tuhan percayakan bagi mereka, bukan karena mereka layak, tapi karena Tuhan yang menganggap mereka layak menerima itu. Makanya di sini, mereka kemudian belajar bersekutu dengan orang yang sebelumnya mungkin tidak terlalu dekat dengan diri mereka.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya di dalam gereja, ada kelompok-kelompok. Saya percaya tidak semua orang Kristen itu nyaman berbicara dan bergaul dengan orang Kristen yang lainnya. Ada orang-orang yang senang dengan kelompok tertentu dan nyaman dengan kelompok itu di dalam persahabatan. Boleh tidak? Nggak masalah sebenarnya. Itu adalah hal yang wajar. Tetapi Saudara, pada waktu kita memiliki kelompok itu, atau pertemanan yang lebih dekat daripada saudara Kristen yang lain, persoalannya adalah apakah satu kelompok itu menjadi kelompok yang ekslusif, yang membuat kita ndak bisa menerima teman yang lain? Atau menolak teman yang lain? Kalau itu terjadi, saya percaya kita belum mengerti yang namanya persekutuan di antara orang percaya, dan kita belum mengerti prinsip dari Kristus yang mengajarkan tentang kasih yang ada di antara orang percaya satu dengan orang percaya yang lain. Walaupun ada temen yang mungkin lebih erat, tapi kita harus bisa menerima kelompok yang lain, orang yang lain sebagai teman kita, saudara seiman di dalam Kristus, karena merekalah orang-orang yang akan bersama-sama dengan kita sampai ke dalam kekekalan. Nah itu dipelajari oleh Petrus, itu dipelajari oleh Yakobus, Yohanes, orang-orang yang dikatakan sebagai orang yang begitu keras, yang punya satu, mungkin karakter dan tabiat yang berbeda sekali dengan rasul-rasul yang lain, tapi mereka belajar untuk tidak mementingkan diri lagi, dan kelompok mereka, tapi mereka bisa menerima saudara yang lain di tengah-tengah mereka.

Yang ketiga adalah kita juga melihat pada waktu mereka berkumpul dan bersekutu, mereka tidak hanya duduk diam lalu gosip, lalu bicara tentang keburukan-keburukan dari Yudas, mungkin seperti itu, yang telah mengkhianati Yesus, lalu kemudian timbul dendam di dalam hati dan kebencian kepada diri dia, atau orang -orang yang mengkhianati Yesus Kristus, tetapi Alkitab mencatat ada dua hal yang mereka lakukan berikutnya, yaitu mereka berdoa dan mereka bertekun di dalam pembelajaran firman Tuhan.  Saudara bisa lihat mereka di situ dikatakan mereka berkumpul bersama dan berdoa bersama, saya nggak akan tarik aplikasi lagi karena kemarin sudah saya sampaikan pentingnya doa. Lalu yang berikutnya adalah mereka belajar firman.

Kita tahu dari mana mereka belajar firman? Dari apa yang Petrus kemudian katakan, di dalam perikop ayat yang ke 15 dan seterusnya. Misalnya ambil contoh, ayat yang ke 16, “Hai Saudara-Saudara, haruslah genap nas Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu.” Lalu dikatakan juga, “Yudas ini telah membeli sebidang tanah dengan upah kejahatannya,” ayat yang ke 18, “lalu ia jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar. Hal itu diketahui oleh semua penduduk Yerusalem, sehingga tanah itu mereka sebut dalam bahasa mereka sendiri ”Hakal-Dama”, artinya Tanah Darah-. Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur: Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya: dan: Biarlah jabatannya diambil orang lain,” dan seterusnya.

Saudara, Petrus pada waktu berkumpul bersama dengan rasul-rasul yang lain, saya percaya, melalui ayat ini ditunjukkan kalau mereka kemudian menekuni firman Tuhan, mereka kemudian memperdalam pengertian mereka berdasarkan firman Tuhan, mungkin atas petunjuk dari Yesus Kristus juga pada waktu Yesus bangkit dari kematian selama 40 hari tersebut, Yesus mengajarkan kepada murid-murid yang ada berkenaan dengan apa yang harus terjadi dengan diri Dia untuk menggenapi apa yang menjadi kehendak Tuhan, lalu setelah itu Petrus dan yang lainnya kemudian kembali memperdalam pemahaman tersebut, dan ketika mereka belajar apa yang dikatakan oleh Kitab Suci, mereka mendapat satu konfirmasi yang makin meneguhkan iman mereka kalau ternyata apa yang terjadi kepada diri Yesus Kristus, pemberontakan yang dilakukan oleh Yudas Iskariot, atau pengkhianatan yang dilakukan oleh Yudas Iskariot itu bukan sesuatu yang terjadi di luar kontrol dari Tuhan Allah. Tetapi, semua itu adalah hal yang ada tetap di dalam kontrol dari Tuhan.

Ayat 16 di situ dikatakan apa yang dikatan Kitab Suci harus genap, dan yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud, tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu memang sungguh harus terjadi. Dan sejak kapan hal itu sudah direncanakan di sini? Petrus menemukan, itu terjadi, atau sudah dinyatakan sejak dari zaman Daud. Jadi kalau Saudara perhatikan itu, maka Saudara bisa melihat kapan Daud berbicara hal ini? Yaitu sejak di dalam, atau ada dicatat di dalam Kitab Mazmur. Misalnya Saudara boleh buka Kitab Mazmur ke 41:10 “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.” Saudara, mungkin kalau kita lihat konteksnya, ini berbicara mengenai Daud yang ada di dalam kondisi yang sakit, lalu mungkin dikhianati oleh sahabatnya, tetapi ketika kita membaca bagian ini, atas pimpinan Roh Kudus, kita tahu bahwa ini adalah satu kisah yang digenapi pada waktu Yesus di malam Paskah terakhir Dia, sahabatnya sendiri, orang yang dekat dengan diri Dia. Murid-murid Yesus adalah orang-orang yang bukan dikatakan sebagai teman lagi, bukan dikatakan sebagai murid lagi, tetapi dikatakan sebagai sahabat dari Yesus Kristus, karena Yesus membuka apa yang menjadi isi hati-Nya, rahasia yang selama ini, Dia mungkin simpan terlebih dahulu, dan semua itu dibukakan kepada murid-murid-Nya, sehingga murid-murid-Nya itu disebut sebagai sahabat, dan salah satu daripada mereka itu mengkhianati Yesus pada malam di mana Yesus akan disalibkan. Lalu Saudara boleh buka Mazmur 55:13 “Kalau musuhku yang mencela aku, aku masih dapat menanggungnya; kalau pembenciku yang membesarkan diri terhadap aku, aku masih dapat menyembunyikan diri terhadap dia. Tetapi engkau orang yang dekat dengan aku, temanku dan orang kepercayaanku,” dan semua itu bicara tentang siapa? Yudas Iskariot, orang yang dekat dengan Yesus yang mengkianati Yesus Kristus.

Lalu Saudara boleh buka Yohanes 6, banyak murid mengundurkan diri, lalu tolong perhatikan ayat yang ke 64, saya baca dari ayat 63, “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata: ”Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” Jawab Yesus kepada mereka: “Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis. Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu.”

Jadi pada waktu kita melihat pada peristiwa penyaliban dari Yesus Kristus, dan khususnya pada waktu murid-murid mempelajari Kitab Suci kembali, mereka menemukan satu hal, mungkin pada waktu sebelum mereka menyelidiki, mereka berpikir bahwa, “Waduh, bagaimana mungkin ya Yudas bisa mengkhianati Yesus Kristus, kita ndak nyangka lho, sahabat kita, orang kepercayaan yang memegang keuangan dari antara murid-murid itu menjadi seorang pengkhianat. Apa yang mendorong dia berkhianat?” Lalu pada waktu Petrus menyelidiki bersama murid-murid yang lain, dia thau semua itu sudah direncanakan oleh Allah. Sejak kapan? 1000-an tahun yang lalu ketika Allah menyatakan itu kepada Daud, dan bahkan bisa dikatakan sebelum langit dan bumi dijadikan, di dalam rencana Allah, Allah sudah tentukan Yudas akan mengkhianati Yesus Kristus.

Jadi, peristiwa yang dicatat di dalam kehidupan Kristus bukan suatu peristiwa yang di luar kontrol Allah. Bapak, Ibu, harap ingat ini baik-baik dan walaupun itu menjadi satu pengetahuan yang mungkin kita telah ketahui, tapi saya juga tetap katakan, ingat ini baik-baik, karena nggak gampang menerima kebenaran ini. Pada waktu Yesus disalibkan, peristiwa itu sudah ada di dalam rencana Allah, dan selalu ada di dalam kontrol dari Tuhan Allah bahwa Yudas ditentukan untuk mengkhianati Yesus Kristus. Tapi Saudara, saya tetap percaya begini ya, berdasarkan terang firman Tuhan, bukan berarti bahwa Tuhan itu ingin atau memiliki satu rencana yang jahat bagi Yudas. Apa yang dilakukan oleh Kristus, saya percaya, karena Dia adalah Allah, dan Alkitab berkata, Allah pada diri-Nya tidak ada kegelapan, bayang-bayang sama sekali, kegelapan, yang ada sepenuhnya adalah terang, maka itu berarti setiap dari rencana Allah itu pasti baik dan pasti benar. Allah tidak pernah merencanakan atau merancangkan satu kejahatan. Yang membedakan pencobaan yang datang dari Allah dan pencobaan yang datang dari iblis adalah sumbernya Allah dan iblis, itu menjadi unsur yang penting. Nah kenapa ini menjadi yang penting? Karena pencobaan yang datang dari Allah itu akan selalu baik untuk membangun iman, tetapi pencobaan yang datang dari iblis itu akan selalu jahat untuk menjatuhkan iman kita. Saya pakai iseng aja, pakai istilah yang sama, pencobaan, karena memang bahasa aslinya peirasmos itu sama untuk diterjemahkah sebagai pencobaan atau ujian, tergantung dari konteksnya seperti apa dan dari sumbernya siapa yang memberikan pencobaan tersebut.

Jadi pada waktu Allah merancangkan Yesus akan dikhianati oleh satu dari 12 rasul, itu adalah satu rancangan yang pasti baik. Yudas seharusnya menjadi satu sarana untuk menyerahkan Yesus, dan memang harus menjadi sarana untuk menyerahkan Yesus disalibkan dalam rencana dari Tuhan Allah, tetapi yang membuat Yesus kemudian disalibkan dengan satu hati yang mencintai uang dan lebih condong untuk mengikuti apa yang menjadi rencana imam besar dan orang-orang Farisi, dan yang merancangkan kejahatan itu adalah dari keinginan Yudas yang jahat dan cinta uang, bukan dari rencana Tuhan yang jahat. Saudara, contohnya di mana? Seperti hal nya pada waktu Petrus menyangkal Yesus 3 kali, apakah itu adalah sesuatu yang di luar dari rencana Tuhan?  Saya percaya, penyangkalan yang dilakukan oleh Petrus, 3 kali itu ada di dalam rencana Tuhan juga, karena Yesus berkata itu sebelum Dia disalibkan, dan Yesus berkata itu sebelum Petrus menyangkal Yesus 3 kali. Tetapi Petrus bertobat dan kembali kepada Tuhan.

Yudas berbeda. Yudas dirancangkan oleh Allah untuk menyerahkan Yesus Kristus. Dan di dalam rancangan yang Tuhan berikan kepada Yudas untuk menyangkal Yesus Kristus, menjual Dia sampai Dia disalibkan, saya percaya Yudas sebenarnya sudah mendapatkan begitu banyak sekali anugerah dari Tuhan Allah untuk mengerti siapakah Yesus Kristus. Dan dia begitu banyak kesempatan-kesempatan untuk ada di dalam terang yang ada di hadapan matanya untuk mengerti kebenaran-kebenaran berkenaan dengan Yesus Kristus dan apa yang harus dikerjakan Yesus Kristus. Tapi yang terjadi adalah dia tetap tinggal dalam kegelapan. Ini saya bahas di Pembinaan Pemuda kemarin berkenaan tentang orang buta yang dicelikkan matanya. Saudara boleh buka. Orang buta yang dicelikkan matanya dari Injil Yohanes pasal 9:40-41. Saya baca dari ayat 39, “Kata Yesus: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.” Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.””

Saudara, saya percaya Yudas Iskariot menjadi orang yang sama dengan orang-orang Farisi itu. Orang Farisi ada Kitab Suci, orang Farisi menyelidiki firman Tuhan, Yudas Iskariot ada Kitab Suci, Yudas Iskariot ada Yesus di depan matanya, Yudas Iskariot menerima pengajaran langsung dari Yesus Kristus, orang Farisi punya Alkitab dan juga ketika mereka bertemu dengan Yesus mereka bertanya dan berusaha mencari tahu apa yang menjadi pengajaran Kristus. Tetapi yang menyamakan adalah mereka sama-sama tidak pernah terbuka matanya untuk melihat kebenaran Kristus, dan yang membedakan dari murid-murid yang lain adalah murid-murid terbuka matanya untuk melihat kebenaran Kristus. Atau dipakai Yohanes tadi, orang buta itu yang buta justru bisa melihat siapakan Kristus sedangkan orang yang melihat, tidak melihat siapakah Yesus Kristus.

Memang di balik itu ada pengertian bahwa apa yang membuat seseorang datang kepada Kristus dan dapat memahami firman itu adalah anugerah Tuhan, nggak ada orang yang terpapar dengan firman bisa dari dirinya sendiri tercelik matanya untuk bisa mengerti firman dan mengerti Kristus. Itu seperti orang buta yang walaupun dia ada di tengah-tengah terang matahari yang begitu benderang, tetap dia tidak bisa melihat ada terang karena matanya buta. Tapi yang lebih menyedihkan sekali yaitu orang yang ada di dalam terang, yang tragisnya adalah dia tidak bisa melihat terang. Saudara, Yesus berkata kalau andaikata dia buta dan dia tidak melihat maka dia tidak berdosa, tapi persoalannya adalah orang-orang ini mengatakan dirinya tidak buta, mereka melihat dan mereka mengerti, tapi realitanya mereka tidak mengerti apa yang Yesus ajarkan. Saya sangat takut sekali, gentar sekali kalau saya sendiri dan keluarga yang melayani Tuhan, yang mengajarkan firman, ternyata sebenarnya tertutup matanya daripada kebenaran firman dan ada hal-hal yang saya tidak mengerti dan sengaja saya keraskan hati untuk tidak mau tunduk di bawah kebenaran firman atau bahkan saya tahu tapi tidak mau melakukan itu. Dan saya juga gentar sekali dan selalu berdoa setiap orang yang dilayani di dalam gereja ini juga beroleh bertumbuh di dalam cinta kasih Kristus, kelembutan hati dengan mengerti kebenaran.

Saya pernah bicara kalau Bapak, Ibu, masih ingat, bicara kepada orang berdosa yang mengenal Tuhan mungkin kesulitannya sama seperti berbicara dengan orang Kristen yang belum dilahirbarukan. Karena pada waktu seseorang kita ajarkan kebenaran, mereka itu tidak mungkin bisa menerima kalau bukan karena kasih karunia Tuhan. Tetapi bagaimana ketika kita berbicara dengan orang Kristen yang belum dilahirbarukan? Saya percaya yang terjadi adalah tadi saya bilang bicara kepada orang Kristen dengan bicara kepada orang bukan Kristen itu mungkin kesulitannya sama, tetapi saya mau tambahkan berbicara kepada orang Kristen yang tahu kebenaran mungkin bisa jadi lebih sulit lagi dibandingkan kepada bicara kepada orang yang bukan Kristen. Lalu kalau mau tarik lebih lanjut, bicara di antara orang Kristen yang merasa tahu kebenaran dengan orang Reformed, mungkin jauh lebih sulit lagi bicara kepada orang Reformed. Karena biasanya kita memiliki satu arogansi berdasarkan pengertian saya sudah tahu firman, maka itu identik dengan saya tahu kebenaran. Padahal sebenarnya belum tentu seperti itu.

Makanya Saudara, ini menjadi satu kegentaran dalam hati saya ketika tiap kali mengajarkan firman, jangan-jangan saya klaim klaim kebenaran kebenaran ini firman Tuhan, harus taat, tapi sendiri dalam hati saya tidak punya ketaatan terhadap kebenaran itu. Itu adalah hal yang tragis dan mencelakakan sekali dalam hidup kita. Dan itu hanya menyatakan kalau kita mungkin belum dilahirbarukan, walaupun juga bisa berarti kalau orang Kristen yang sudah dilahirbarukan kadang-kadang bisa jatuh dalam kondisi seperti itu tapi yang membedakan adalah mereka ada pertobatan, tapi orang yang belum dilahirbarukan belum ada pertobatan di dalamnya. Atau ada pertobatan, tetapi pertobatannya berbeda arah.

Contohnya kayak gini, pada waktu Yudas Iskariot itu menyerahkan Kristus, ada pertobatan tidak? Pada waktu Petrus menyangkal Kristus, ada pertobatan tidak? Alkitab bilang ada dua-duanya, pertobatan. Petrus menyesal, dia lari, tapi ketika itu dia tidak putus asa, dia tidak bunuh diri karena mungkin ada dari doa dari Kristus yang mengatakan ketika engkau sadar, engkau kembali kuatkanlah saudara-saudaramu yang lain, dan dia terus bertahan sampai Yesus bangkit dari kematian. Tetapi Yudas Iskariot bagaimana? Saudara boleh bukan Matius 27:3, “Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua,” ada penyesalan? Ada. Ada kesadaran kalau dia sudah melakukan suatu kesalahan? Ada. Pertobatan bukan? Orang dunia bisa bilang itu pertobatan, tapi Saudara boleh lanjutkan lagi ya ayat 4, “Dan berkata: “Aku telah berdosa,” ini bukti lagi dia bertobat ya, “karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Tetapi jawab mereka: “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!” Maka iapun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.”

Jadi Yudas Iskariot ada pertobatan nggak? Kita bisa bilang dari sisi manusia ada pertobatan, ada penyesalan, ada pengakuan dia sudah melakukan suatu kesalahan. Tetapi coba perhatikan dia melakukan kesalahan kepada siapa? Ayat ke-4 bilang dia melakukan kesalahan kepada ‘orang yang tak bersalah.’ Petrus mengakui dia bersalah kepada Mesias, Anak Allah. Saudara, dan lebih celaka lagi kalau Saudara baca seterusnya ya, kita dapatkan kayak gini, ayat 6, “Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan berkata: “Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan, sebab ini uang darah.” Sesudah berunding mereka membeli dengan uang itu tanah yang disebut Tanah Tukang Periuk untuk dijadikan tempat pekuburan orang asing.” Saudara, Yudas dapat uang 30 dari siapa? Dari imam. Imam dapat uang dari mana? Mungkin dari perbendaharaan Bait Allah. Lalu setelah dia berikan kepada Yudas lalu Yudas kemudian sadar yang dia serahkan itu bukan orang yang salah, dia kembalikan uang itu lalu imam ngomong kami nggak boleh terima ini. Celaka nggak? Itu betapa munafiknya orang-orang itu, padahal mereka adalah orang-orang yang mengerti kebenaran tapi mereka bersikap seperti ini.

Saya percaya satu sisi adalah kegagalan dari agama, tapi saya juga mau peringatkan kita kalau kita sampai seperti itu, celakalah kita. Hati-hati, setelah kita ikut Kristus sekian lama, apa yang kita lihat dari Yesus Kristus? Apakah Dia hanya seorang manusia yang baik yang memiliki moralitas di atas kita, karena itu menjadi suatu teladan yang baik dalam hidup kita, atau Dia adalah seorang yang memiliki otoritas mutlak atas diri kita? Beda sekali ya, Saudara. Guru yang baik boleh diteladani boleh tidak diteladani. Orang pribadi yang memiliki otoritas mutlak atas diri kita tidak boleh tidak diteladani dan tidak boleh tidak dilakukan perkataannya, karena tidak melakukan sama dengan pemberontakan yang mengakibatkan pada hukuman kekal. Ini yang membedakan antara orang yang mengenal Kristus, orang lahirbarukan dengan orang yang tidak mengenal Kristus, tahu orang yang tidak mendapatkan kasih karunia kelahiran baru.

Mungkin kalau saya singgung sedikit dari orang buta itu, Saudara perhatikan apa yang membedakan dia dengan orang Farisi pada waktu Tuhan mencelikkan matanya? Waktu Tuhan berkata Akulah Mesias, Akulah Anak Manusia itu, dia langsung dikatakan tersungkur di hadapan Tuhan Yesus dan menyembah Yesus dan berkata, “Aku percaya kepada Engkau.” Ada satu sikap yang tunduk di bawah otoritas Kristus, bukan hanya dalam pengertian kita datang berbakti memuji Dia, berdoa kepada Dia, lalu melakukan ritual-ritual tertentu di dalam liturgis itu berarti saya menyembah Dia, bukan begitu. Tetapi menyembah yang dikatakan oleh Alkitab adalah menundukkan diri, sujud kepada Kristus, dan mengakui segala otoritas Dia atas kehidupan kita, dan perkataan Dia terjadi dalam hidup kita. Yudas tidak seperti itu, tapi ketika lihat Petrus dalam bagian ini, dia berkata di dalam ayat 16 yang tadi kita kutip ya, “”Hai Saudara-Saudara, haruslah genap nas Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu.”

Ada suatu perubahan di dalam diri Petrus, dia sadar bahwa apa yang dikatakan oleh Kitab Suci sepenuhnya harus terjadi dan diri dia yang mengerti kebenaran itu harus memastikan bahwa kebenaran itu harus terjadi. Itu adalah anak Tuhan. Itu sebabnya ketika dia belajar dari Perjanjian Lama, dia menemukan ternyata Yudas memang harus menyerahkan Kristus, dan dia menyerahkan atas kejahatannya sendiri, maka Petrus kemudian berkata di ayat ke-20, “Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya: dan: Biarlah jabatannya diambil orang lain.” Artinya adalah Petrus mengetahui ketika Yudas menyerahkan Kristus, dia tidak mungkin atau posisinya tidak akan diambil oleh orang lain, dia memang harus ada, dia menyerahkan Yesus berdasarkan kejahatan dia yang ada di dalam hatinya, dan tidak ada pertobatan di dalamnya, dan dia memang layak untuk dihukum karena kejahatan yang dia lakukan.

Tetapi di sisi lain Petrus juga sadar ada bagian lain yang mengatakan, “Biarlah jabatannya diambil orang lain.” Nah Saudara, ini menjadi suatu yang timbul perdebatan di dalam gereja berkenaan dengan siapa orang lain itu. Kalau kita lihat di sini, kita ketahui bahwa itu adalah Matias yang kemudian menjabat rasul yang ke-12. Tetapi ada beberapa yang menafsirkan seperti ini, ‘diambil orang lain’ itu bukan Matias, ini adalah kesalahan dari Rasul Petrus, tapi yang menjadi rasul ke-12 itu adalah Paulus. Saudara, betul tidak Paulus itu adalah rasul Tuhan? Saya percaya betul dia adalah rasul Tuhan. Berdasarkan apa dia dikatakan sebagai rasul Tuhan? Berdasarkan kriteria yang Tuhan berikan juga di dalam Kisah Rasul pasal 1 ini.

Saya lompat sedikit dulu baru saya jelaskan berkenaan pemilihan ini. Petrus di sini ada memberikan kepada kita apa yang menjadi kriteria dari seorang rasul. Kalau Saudara baca dari ayat yang ke-23 dan seterusnya, di situ ada diberikan 3 kriteria seorang untuk bisa menjadi jabatan rasul. Pertama adalah dia harus ada bersama-sama dengan Kristus sejak dari baptisan Yohanes Pembaptis. Lalu yang kedua adalah dia harus menyaksikan Yesus yang bangkit dari kematian. Lalu yang ketiga adalah coba buka ayat yang ke-24, “Mereka semua berdoa dan berkata: “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini,” atau istilah lainnya adalah Yesus sendiri yang harus memilih orang tersebut. Jadi ini adalah 3 kriteria seorang menjabat sebagai rasul. Ada bersama dengan Yesus sejak baptisan Yohanes, menyaksikan kematian dan kebangkitan Kristus, dan dipilih oleh Yesus sendiri.

Paulus bagaimana? Paulus masuk ke dalam 2 kriteria: dia melihat Yesus yang bangkit dan Yesus sendiri yang memanggil diri dia. Jadi dia rasul bukan? Saya percaya dia adalah rasul karena Yesus sendiri memanggil dia dan memberikan jabatan rasul itu kepada diri dia. Bahkan sebelum dia melayani, dia ada 3 tahun di Arab yang dididik secara pribadi oleh Yesus Kristus, Saudara bisa baca itu dari Surat Galatia. Jadi Yesus yang memanggil pribadi Paulus sendiri. Tetapi yang dimaksud dengan kerasulan di sini, ada suatu perbedaan daripada kerasulan Paulus. Dia dipanggil dalam era yang berbeda dengan 12 rasul ini, yang menyaksikan Kristus dari baptisan Yohanes sampai pada kebangkitan dari Yesus Kristus. Jadi dengan begitu, Paulus memang rasul, tetapi apa yang dikatakan oleh Petrus di sini itu juga bisa dikatakan sebagai sesuatu yang tidak salah.

Saudara bisa perhatikan juga sejak dari peristiwa ini, maka bilangan 12 itu kembali ada. Misalnya di dalam Kisah Rasul 6 pada waktu terjadi keributan di antara janda dari orang-orang Yahudi dengan janda dari orang-orang Kristen non-Yahudi, maka di situ dikatakan bilangan yang 12 itu merasa tidak puas dengan keadaan itu lalu mereka memilih diaken-diaken untuk bisa mengatasi persoalan itu. Di dalam Kisah Rasul pasal 6:1, “Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari. Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.” Itu berarti di tengah-tengah gereja sendiri diakui pemilihan terhadap Matias sebagai rasul yang ke-12 itu merupakan suatu pemilihan yang sah.

Tapi bagaimana dengan argumentasi orang juga berkata Matias bukan orang yang dipilih, harusnya Paulus karena dia tidak kerja banyak hal. Dia punya nama cuma dicatat di bagian Kisah Rasul 1 itu, habis itu tidak pernah dicatat di bagian lain. Jika itu yang menjadi dasar, saya percaya banyak rasul yang lain juga nggak dicatat namanya. Yang menonjol itu Petrus, Yohanes, Yakobus, Paulus di situ, lalu mungkin ada diaken yaitu Stefanus, ada Filipus juga diaken yang menjadi penginjil saat itu. Tetapi rasul-rasul yang lain ke mana? Nggak terlalu dicatat lagi. Tetapi menurut sejarah, dia betul-betul mengabarkan Injil dan dia juga adalah seorang yang mati martir bagi nama Kristus. Ketika dia berkhotbah dengan suatu kuasa akhirnya orang nggak tahan akhirnya merajam dia sampai mati atau memenggal dia. Yang pasti dia adalah orang yang mati martir bagi Kristus. Jadi dari sini kita bisa katakan pemilihan dari Matias menjadi rasul yang ke-12 itu adalah sesuatu yang ada di dalam pimpinan dari Tuhan atau dari Roh Kudus di tengah-tengah murid-murid tersebut.

Tapi bagaimana dengan caranya? Nah Saudara, ini yang menarik, mungkin menjadi satu godaan bagi diri kita juga ya. Petrus di sini dengan cara undi pemilihannya. “Oh apakah itu berarti undian itu masih berlaku sampai hari ini?” Ketika kita ada di dalam suatu kebingungan untuk memutuskan sesuatu lalu kita melempar undi untuk kita menemukan jawaban dari pimpinan Tuhan? Karena di dalam Amsal 16:33 ada bilang seperti itu, kita boleh lempar undi tetapi berapapun nilai yang jatuh disitu, itu adalah ketetapan Tuhan? Kita buka aja ya, Amsal 16:33 “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN.” Apakah itu menjadi sesuatu yang sah untuk dilakukan? Saudara untuk bisa mengerti ini tolong ingat kembali tadi di awal saya bilang, Kisah Rasul pasal yang pertama itu adalah masa peralihan dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Jadi pada waktu Petrus di dalam keputusannya setelah meneliti Kitab Suci lalu dia menemukan peristiwa mengenai Yudas di situ dan dia menemukan ayat yang berbicara mengenai mengganti posisi dan jabatan Yudas, maka dia tetap ada di bawah hukum dari pada Perjanjian Lama untuk menetapkan bagaimana pemilihan itu terjadi.

Dan di dalam hukum Perjanjian Lama, untuk tahu kehendak Tuhan dan bertanya itu biasanya menggunakan urim dan tumim. Urim dan tumim itu adalah dua benda warna hitam dan warna putih, ada tulisan “urim” dan “tumim” di situ, lalu benda itu dilempar untuk dilihat jatuhnya warna apa. Dan dari situ mereka menentukan apakah misalnya ketika Raja Daud mau pergi berperang ditanya, “Saya harus perang atau tidak?” Lalu lempar itu lalu dikatakan, “Pergi perang,” berarti pergi perang atau. “Tidak pergi perang,” berarti tidak pergi perang berdasarkan membaca itu. Jadi, di dalam Perjanjian Lama pasca dari Musa meninggal, maka kita menemukan ketika Yosua memimpin, mulai dari saat itu ketika mereka ingin melakukan sesuatu keputusan tertentu, maka mereka harus bertanya kepada imam besar yang memegang urim dan tumim. Tetapi pada zaman Musa, Tuhan berbicara kepada Musa secara langsung untuk menentukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Nah itu terus berlanjut sampai kepada zaman ketika Petrus ini hidup dan memilih Matias.

Jadi apa yang dilakukan oleh Petrus itu bukan sesuatu yang salah, tetapi kita bisa bilang itu adalah hal yang benar karena Petrus di dalam memilih, dia menyerahkan kembali kepada Tuhan berdasarkan apa yang diajarkan di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Tuhan sendiri yang menentukan siapa yang akan menjadi pengganti dari Yudas Iskariot itu. Tapi setelah peristiwa itu, Saudara, Alkitab tidak pernah mencatat undi menjadi dasar penentu kehendak Tuhan lagi. Saudara boleh baca dari Kisah pasal 2 dan seterusnya sampai pada surat-surat para rasul, Saudara tidak akan pernah menemukan mereka menggunakan cara undi untuk menentukan kehendak Tuhan. Itu hanya berhenti di sini. Kenapa? Ada yang mengatakan di dalam zaman Perjanjian Lama sebelum Pentakosta, murid-murid atau pengikut Tuhan atau umat Tuhan dipimpin oleh Roh Kudus dari luar. Tetapi setelah Pentakosta terjadi, Roh Kudus diberikan, murid-murid percaya kepada Kristus, dibaptis dengan Roh Kudus, maka mulai detik itu Roh Kudus tinggal di dalam diri mereka dan memimpin secara internal dan membawa mereka masuk ke dalam segala kebenaran Tuhan. Itu yang menjadi dasar.

Saudara bisa melihat bahwa Tuhan sudah singkapkan semua kebenaran Dia, kehendak Dia yang kita perlukan untuk menuntun hidup kita, dan apa yang boleh kita lakukan dan tidak boleh kita lakukan, prinsipnya apa, semua sudah Tuhan berikan bagi diri kita di dalam Kitab Suci secara komplit. Saudara nggak percaya, itu ayat yang terkenal sekali dalam 2 Timotius 3:16, salah satunya, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Berarti Tuhan sudah memberikan petunjuk-Nya secara tuntas kepada kita dan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk menjalani hidup ini dan melakukan pemilihan-pemilihan, Tuhan sudah berikan bagi diri kita. Ada Roh Kudus yang akan menolong kita untuk memutuskan hal itu, jadi nggak perlu lagi melalui undian.

Terakhir, siapa Matias dan siapa Yustus, Barsabas itu? Kita nggak pernah tahu siapa mereka. Ada yang mengatakan mungkin Barsabas itu dicantumkan di awal dan punya tiga nama julukan karena dia lebih terkenal dari Matias. Tapi, Saudara, dengan hanya dicantumkan nama mereka, itu berarti mungkin seterkenal-terkenalnya Barsabas, dia bukan siapa-siapa. Matias juga bukan siapa-siapa. Tetapi mereka dipilih oleh Tuhan untuk menjabat salah satu dari rasul, yaitu Matias. Saya mau angkat ini karena ini menjadi hal yang penting ya. Dan juga perhatikan respon dari Barsabas sendiri, setelah dia tidak terpilih dia juga tidak menggugat sama sekali lalu berkata pemilihannya tidak fair, tapi dia menerima keadaaan itu. Saya mungkin ulangi sedikit yang saya katakan didalam doa dan juga di PA kemarin terakhir ya karena ini penting sekali ya. Berdasarkan Saudara boleh buka Surat Timotius ya. 1 Timotius 1:12 kita baca sama-sama ya, “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku.”

Paulus ketika melayani sebagai seorang rasul atau melakukan pelayanan yang begitu luar biasa yang lebih mungkin melampaui dari rasul-rasul yang lain, di satu sisi dia berkata, “Aku tidak kalah dibandingkan rasul-rasul yang lain.” Tetapi apa yang menjadi motivasi dia berkata seperti itu? Mungkin kalau kita cuma baca dari bagian lain dia bilang, aku tidak kalah dengan rasul-rasul yang lain, kita bisa ngomong, “Wah, Paulus mungkin sombong ya,” seperti itu. Tetapi Saudara, di dalam bagian ini dia bilang kasih tahu kita apa yang ada di dalam hatinya bukan karena dia sombong, tapi dia punya hati dia melihat kalau apa yang dia kerjakan itu dan kebesaran yang dia capai di dalam pelayanan itu bukan karena dia mampu melakukan itu tapi karena Tuhan menganggap dia setia untuk mempercayakan pelayanan itu kepada diri dia. Saudara, yang membuat kita besar itu bukan diri kita, yang membuat kita terpilih itu bukan diri kita, yang membuat kita memegang satu jabatan tertentu itu bukan karena kita memang layak untuk menerima jabatan itu, tetapi karena Tuhan melihat kita setia makanya Dia mempercayakan satu jabatan tertentu atau satu pelayanan tertentu dalam hidup kita.

Jangan dibalik ya karena Tuhan melihat saya punya kemampuan, maka Tuhan mempercayakan jabatan itu kepada saya karena Tuhan melihat saya setia maka Tuhan mempercayakan jabatan itu kepada saya. Itu salah. Yang membuat kita bisa setia karena Tuhan menopang kita, memelihara kita, dan menganugerahkan kesetiaan itu kepada diri kita, yang membuat kita mampu melayani Dia karena Tuhan memberikan kita kemampuan untuk bisa melayani Dia. Itu yang benar. Ada suatu bagian misalnya dalam 1 Korintus pasal 1 Saudara bisa lihat siapa orang yang datang dan percaya kepada Kristus? Paulus berkata bukan orang yang ternama. Nggak banyak orang yang ternama, nggak banyak orang yang terkemuka, nggak banyak orang yang kaya, tetapi orang yang kecil, yang rendah itu, yang nggak terlalu banyak karunia itu atau talenta itu, itulah yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi anak Tuhan dan dipercayakan pelayanan oleh Tuhan untuk berbagian di dalam pekerjaan-Nya, untuk apa? Untuk merendahkan orang-orang yang merasa diri mereka layak dan pandai dan mampu sehingga kemuliaan Tuhan yang lebih dinyatakan melalui orang-orang kecil itu.

Saudara, ini yang membuat saya terus gentar dalam hati untuk dalam mengambil keputusan, karena ketika seseorang dipilih itu adalah karena Tuhan, anugerah Tuhan. Ketika kita mundur, mungkin satu sisi karena Tuhan nggak berkehendak kita melayani di situ lagi, tapi juga mungkin karena kekerasan hati kita. Karena itu saya percaya nggak ada satu momen pun di dalam diri kita yang  bisa membuat kita berkata gereja kehilangan seseorang atau gereja tidak akan berkembang tanpa saya. Tetapi di sisi lain pada waktu kita dipercayakan suatu pelayanan tertentu, kita juga jangan pernah meninggikan diri kita dan berkata, “Saya lebih mampu dari yang lain.” Karena semua orang bertanggung jawab di hadapan Tuhan untuk melayani. Mari kita masing-masing ketika melayani di dalam gereja, gumulkan itu, bandingkan itu berdasarkan karunia yang Tuhan berikan dalam hati kita masing-masing di hadapan Tuhan, bukan dengan cara seperti yang Petrus lakukan ketika dia melihat Yohanes dan berkata, “Guru, orang itu nasibnya bagaimana?” atau menghakimi orang tersebut dan berkata bahwa dia kurang ini dan kurang itu dan semuanya menghina. Ingat baik-baik, seorang bisa menjabat sebuah pelayanan tertentu, dia dipilih oleh Tuhan sendiri. Biar dia bertanggung jawab di hadapan Tuhannya sendiri atas apa yang dia lakukan, bukan hak kita untuk menghakimi motivasinya.

Matias yang dipilih, dan kita bisa melihat memang nggak dari Kitab Suci, tapi dari sejarah dia melayani Tuhan sampai dia mati mengorbankan hidup dia. Nanti kita bisa lihat Paulus juga dipilih oleh Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan itu ya. Tapi satu sisi dia bukan orang yang penting, dia bukan orang yang terkemuka mungkin, tetapi mungkin dia adalah orang yang baik di dalam kerohaniannya. Dan saya percaya untuk Tuhan bekerja memberkati, yang paling penting itu adalah bukan seberapa Saudara punya banyaknya pengetahuan, walaupun itu penting juga, tetapi seberapa Saudara setia di dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan. Itu yang lebih penting. Istilah lainnya adalah seberapa Saudara membuat diri Saudara mau tunduk dan taat terhadap pimpinan Tuhan di dalam hidupmu, itu yang lebih penting. Karena kalau Saudara lihat, murid-murid awal-awal itu, itu hanya 120 orang. Tetapi di dalam waktu berapa puluh tahun, 30 tahun, mereka sudah menjadi ribuan orang banyaknya, puluhan ribu, dan sampai sekarang jutaan orang. Kenapa? Saya percaya karena sikap hati yang mau tunduk dan taat dan menjadikan kehendak Tuhan terjadi, tergenapi melalui kehidupan mereka, itu yang lebih utama.

Kadang saya bergumul di dalam hati, kenapa ya menggembalakan jemaat sulit sekali? Kenapa ya pertumbuhan jemaat lamban sekali? Satu sisi mungkin karena Tuhan belum berkenan untuk kita berkembang, mungkin ada rencana Tuhan yang lain. Tetapi Saudara, dari peristiwa ini saya juga menggumulkan seperti ini, di antara kita sudah tidak kita mempersiapkan diri untuk hari itu? Di antara kita sudah tidak ada penundukan diri seperti yang terjadi pada Petrus dan 120 orang ini? Di antara kita sudah tidak memegang pada prinsip-prinsip yang tadi kita bahas dari ayat yang ke-12 ulai dari ketaatan, doa, persekutuan, lalu pemilihan dari orang pemimpin yang ada di dalam gereja yang tepat yang dituju, sudahkah itu kita jalankan?

Saya baru beberapa hari ini, ini bukan pembelaan diri ya. Saya baru beberapa hari ini ada orang yang WA kaya gini ya, “Saya berharap hamba Tuhan kita itu seperti John Piper dan John Stott.” Saya dalam hati pikir ya amin lah ya itu pengharapan jemaat ya kaya gitu, ya. Tapi Saudara, tolong lihat secara seimbang ya. Pada waktu seorang hamba Tuhan melayani, pernah nggak kita berpikir, “Saya itu seperti siapa?” Pada waktu kita mendengar firman Tuhan, pernah nggak berpikir ada nggak penundukan diri dan ketaatan? Pada waktu hamba Tuhan teriak, “Ayo melayani! Ayo belajar firman! Ayo berdoa!” Ada nggak penundukan diri untuk mau melakukan hal itu? Itu nggak pernah bisa sepihak tuntut dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin menyampaikan firman, seorang pemimpin menjadi Wakil Tuhan untuk mendidik Saudara untuk mengerti kebenaran tetapi perhatikan baik-baik, Saudara bertanggung jawab sendiri di hadapan Tuhan terhadap kebenaran yang Saudara terima. Kalau saya menyembunyikan kebenaran, hamba Tuhan menyembunyikan kebenaran atau prinsip-prinsip Alkitab dari Saudara sehingga Saudara tidak mengerti apa yang menjadi rencana dan kehendak Tuhan dalam hidupmu, itu saya salah. Tapi kalau seorang Hamba Tuhan itu telah memberitakan apa yang dia mengerti dengan sungguh-sungguh dengan hati yang setia kepada Tuhan, tapi yang terjadi adalah jemaat tetap tidak mau mendengarkan dan terus mengeraskan hati dan terus suam-suam kuku, yang salah adalah, yang akan dituntut oleh Tuhan adalah jemaat Tuhan, bukan hamba Tuhan itu.

Jadi perhatikan ini baik-baik, saya rindu sekali kita bisa sama-sama punya kerendahan hati dan taat, bukan untuk menyenangkan hamba Tuhan, bukan untuk menyenangkan orang-orang tertentu yang menjabat di dalam gereja, bukan untuk menyenangkan Ketua Sinode kita atau pemimpin dari GRII, Pdt. Stephen Tong yang melihat bahwa cabang-cabang tertentu itu menjadi cabang yang berkembang. Tapi Saudara, milikilah hati untuk mau menyenangkan Tuhan. Ketika Saudara bekerja lebih rajin dari orang lain, jangan komparasi dengan orang yang malas lalu membuat diri sendiri malas. Tetapi lihatlah dari perspektif, Tuhan percayakan ini kepada saya, apa yang harus saya kerjakan dengan setia karena Tuhan sudah percayakan ini dan biarlah saya bertanggung jawab di hadapan Tuhan untuk apa yang Tuhan sudah percayakan, sehingga dari situ saya pikir kita sama-sama akan terus maju sama-sama dengan kesehatian untuk melayani Tuhan di dalam gereja ini. Dengan begitu Tuhan akan memberkati kita. Kalau nggak, saya pikir Tuhan akan sulit memberkati kita walaupun Dia ingin memberkati kita. Kiranya Tuhan boleh tolong kita masing-masing dan kiranya Tuhan boleh berkati kita semuanya. Mari kita berdoa.

Kami kembali bersyukur, Bapa untuk firman-Mu, untuk prinsip-prinsip kebenaran yang boleh Tuhan bukakan bagi kami. Tolong kami yang seringkali malas, tolong kami yang seringkali lamban, tolong kami yang seringkali tidak bisa melihat kepada kebenaran-Mu dan sulit untuk percaya kepada perkataan-Mu sebagai suatu kebenaran. Tapi biarlah melalui hari ini kami boleh kembali diajak untuk menguji hati kami di hadapan Engkau, ketaatan kami di hadapan Engkau, kerendahan hati kami di hadapan Engkau, dan kerelaan kami untuk menjalankan perintah-Mu di hadapan Engkau. Ketika kami melayani kami tahu siapa yang menjadi Tuan kami, bukan manusia, tetapi Tuhan sendiri, Allah yang telah mencipta kami dan menebus kami dari hukuman kekal melalui kematian Putra Tunggal-Mu, Yesus Kristus, dan yang telah mempercayakan kesempatan melayani atau pelayanan di dalam kehidupan kami dan menganggap kami setia untuk melakukan itu. Tolong kami ya, Bapa. Berkati gereja-Mu ini, berkati setiap anak-anak-Mu ini dan apa yang menjadi kehendak-Mu biarlah itu terjadi didalam gereja-Mu ini. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, yaitu Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup kami telah berdoa. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *