Motivasi dalam Pelayanan, 14 Oktober 2018

Flp. 1:15-18

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Dalam bagian ini, saya melihat perikop ini adalah bagian yang sulit untuk kita pahami, tapi ya mau nggak mau kita memang perlu membahas di bagian ini. Bagian ini berbicara tentang 2 macam kelompok orang, ini saya temukan di beberapa commentary, baik seperti dari O’Brien, Gordon Fee, Osborne, berbicara hal yang sama, ada 2 macam kelompok orang. Saya mulai dari kelompok yang mudah dulu, kelompok yang pro Paulus, gitu kalau mau dibilang ya, yang gampang di sini. Karakteristiknya seperti apa? Yaitu pertama, kelompok pertama ini adalah kelompok yang karakteristik dan motivasinya memberitakan Kristus itu seperti apa? Kita temukan di ayat 15 bagian b, dikatakan bahwa “orang-orang yang memberitakan Kristus dengan maksud baik” – gitu ya, dengan goodwill, terjemahan Inggrisnya. “Orang-orang yang memberitakan Kristus dengan maksud baik”, berarti memang di dalam, ini menjadi pengajaran bagi setiap kita: Ketika kita memberitakan Kristus, biarlah kita punya motivasi juga yang murni, motivasi yang tulus, dengan maksud baik memang memberitakan Kristus itu. Dan disitu baru kita lihat bagaimana menilai sesuatu perbuatan itu baik, itu bukan hanya dari actionnya tapi juga dari memang maksudnya itu juga harus baik, dari maksud tujuan kita.

Kadang-kadang ada orang bertanya, apa sih bedanya ketika, misalnya, kita kerjakan pelayanan dengan misalnya orang misalnya di sini ada yang bisa main musik lalu ada yang bisa juga pentas gitu ya, atau seperti artis main musik dan juga disaksikan banyak orang. Saya lihat ya berbeda itu di motivasinya kan. Yaitu motivasinya kalau orang memang pentas, begitu ya, pentas seni atau di mana tempat yang lain, itu kan fokusnya kepada diri, semua orang melihat dirinya, dan dia memang di situ berdiri sebagai seorang yang diperhatikan semua orang. Kira-kira seperti itu. Sehingga maksud motivasinya pasti ya, memang untuk orang memperhatikan saya, gitu ya. Tetapi ketika kita kerjakan pelayanan di sini, kalau kita lihat itu, di dalam pelayanan itu malah kalau mau dibilang gitu ya, kadang-kadang orang seperti pemusik atau pun di bagian auvi itu mengalami hal yang serupa, gitu ya, bagi saya itu yang: kalau semua berjalan baik, orang justru nggak notice. Nanti kalau something wrong, baru “Kenapa tuh ada salah tuh?” itu paling umum gitu dalam pelayanan gitu ya. Kalau sudah main [musik], biasa orang nggak ada perhatiin. Tidak ada kan yang perhatiin: ‘Hari ini siapa sih pianisnya?’ – nggak ada gitu ya. Paling lihat, ‘Siapa sih yang khotbah? Ini siapa?’ Jarang orang perhatiin, siapa song leader, siapa penatalayan. Nggak ada yang perhatiin. Tetapi kalau orangnya melakukan kesalahan, “Kenapa sih itu? Nggak bener , ya?” atau apa gitu – jadi itu memang pelayanan yang kasian, kalau mau dibilang gitu ya. Kalau salah, baru orang tanya. Tapi ya, kalau baiknya justru orang nggak perhatian. Tapi in any case, ketika kita kerjakan itu, kita ngerti itulah pelayanan, karena bukan fokus ke kita, tapi membawa jemaat fokus kepada Tuhan. Dan kita tetap kerjakan dengan maksud baik itu, dengan good will. Karena kita tahu justru itulah artinya pelayanan. Jadi bukan fokus ke kita, bukan fokus pada diri. Tapi justru kepada Kristus. Dan kita terus mau giat kerjakan itu. Dan ini pun banyak tantangan yang dalam kehidupan kita, kadang di dalam kesibukan pelayanan, itu bisa membuat kita itu jadi kecapean kelelahan ataupun di dalam kesibukan pekerjaan kita, gitu ya.

Saya teringat di dalam berapa waktu yang lampau, ketika saya masih pemuda. Ya sekarang juga masih muda sih, tapi maksudnya waktu belum jadi hamba Tuhan, gitu ya. Waktu itu saya ingat dalam satu kesempatan itu dipercayakan saya kerjakan suatu pelayanan. Lalu dibilang, “Oh ya kerjakan ini ya.” Terus saya bilang, “Oh ya tenang ko, bisa.. bisa..” “Kenapa?” “Karena memang saya juga waktunya lagi longgar, gitu ya, lagi senggang.” Terus langsung di-comment, gitu ya, itu salah satu yang lebih senior, dia ngomong ke saya, “Oh, jadi pelayanan cuma karena waktu senggang, gitu ya? Terus kalau sibuk, masih mau pelayanan nggak?” Terus saya pikir, saya cuma pikir, ya saya cuma bilang seadanya memang saya lagi santai, gitu ya, tapi oh ya sudah. Tapi dalam perjalanan waktu, ketika singkat cerita lalu kemudian memang saya bertambah kesibukannya, lalu masuk pekerjaan, di situ saya baru teringat apa yang dikatakan oleh kakak rohani saya itu. Jadi memang pengingatnya itu: ya kamu pelayanan itu bukan hanya karena ada waktu luang saja, tapi pertanyaannya kamu mau meluangkan waktu atau nggak? Itu berbeda. Bukan cuma: ‘Oh saya memang lagi ada waktu kosong, ya sudah saya kasih waktu untuk pelayanan, begitu.’ Itu saya cuma berikan suatu karena memang ada luang, tapi mau nggak kita meluangkan waktu ketika kesibukan yang ada. Nah itu, di situ baru kita belajar ada nilai pengorbanannya di situ. Dan ada bagian kita belajar memberikannya yang terbaik bagi Tuhan. Nah itu baru kita belajar apa itu pelayanan dan memang melakukan dengan maksud baik, kita kerjakan itu. Dan di bagian ini kita temukan itu karakteristik pertama dan diajarkan bagi setiap kita: Ketika mengerjakan pelayanan, kerjakanlah dengan maksud yang baik itu, dan kita mau berani meluangkan waktu bagi Tuhan, berkorban bagi Dia.

Kemudian, karakteristik kedua dari kelompok ini, yang pertama adalah juga dilakukan karena kasih. Dilakukan karena kasih. Bagian ini biasanya kita langsung melihat, ‘Oh dia melakukan karena kasih. Kasih kepada Tuhan.’ Betul itu pasti kasih vertikal, pertama-tama dan dasarnya. Tetapi kemudian di beberapa commentary mengatakan, kalau melihat teks ini secara apa adanya, maka kemungkinan besar yang dimaksud adalah kasih secara horisontal, yaitu kasih kepada Paulus. Gitu ya. Kasih kepada Paulus, gitu ya. Jadi ini kita nggak usah terus, ‘Kok kasih kepada Paulus?’ Ya kasih horisontal. Saya bilang, ‘Ya, ada tempatnya.’ Seperti itu. Dan toh kadang ada kali kita mengerjakan pelayanan begitu kan? Karena misalnya kita lihat, misalnya, ‘Oh teman kita kok sudah berlelah kerjakan satu pelayanan ini, terus kita juga tergerak untuk berbagian.’ Kadang-kadang ada memang tempatnya seperti itu. Di dalam pelayanan ataupun mengerjakan sesuatu, ada faktor dorongan dari secara horisontal juga. Dan terutama di dalam kelompok yang pertama ini, melihat bahwa karena sekarang Paulus itu dipenjarakan, dia tidak bisa memberitakan Injil, maka mereka itu tergerak untuk: ‘Iya, ayo kita lebih giat lagi kerjakan pelayanan karena hambaNya sekarang ini sedang berada dalam posisi yang terkunci di penjara, dia nggak bisa bebas keluar pelayanan. Ya sudah kita yang gantiin, terusin pekerjaan yang ada.’ Nangkep ya? Di dalam relasi ini, kita melihat mereka didorong oleh kasih yang horisontal itu. Dan memang ada tempatnya. Ada tempatnya, seperti itu. Di dalam pelayanan, seperti itu. Kita kerjakan pelayanan ketika misalnya kita lihat rekan kita nggak bisa kerjakan. Misalnya, sederhananya, dan itu kadang-kadang di dalam secara praktis itu muncul kan dalam kehidupan. Misalnya ada jadwal pelayanan hari ini, harusnya misalnya siapa yang sebagai bagian penatalayan, misalnya. Lalu kebetulan ‘Oh temen kita tuh yang seharusnya bertugas sakit. Ya sudah kita gantiin.’ Ketika kita gantiin seperti itu, mungkin kita pikir sebenarnya ya itu pendorongnya karena kita mengerti juga ada area kasih horisontal itu. Dan tetap kita bisa kerjakan pelayanan itu secara itu. Dan terutama bagian ini ketika mereka melihat Paulus yang memang dihambat, dia masuk dalam penjara. Dan selama dia dipenjarakan, dia dipenjarakan diperkirakan ini cukup lama dia di penjara sana. Mereka lihat, tujuan misi Paulus yang mulanya mau pergi pelayanan ke satu tempat itu akhirnya nggak bisa ke sana. Dan karena itu mereka yang support, yang gantian pergi ke tempat yang dituju itu. Nah itu ada bagian yang memang kita kerjakan pelayanan itu. Jadi pelayanan itu bukan cuma melihat, okay betul pertama faktor vertikal, relasi kita pada Tuhan. Tapi ada bagian di dalam praktisnya ketika kita bertemu, ‘Iya, ada teman kita nggak bisa.’ Ya kita gantikan. Supaya pelayanan itu tetap jalan. Itu memang ada tempatnya di situ. Dan pada konteks ini ada, dialami oleh jemaat mula-mula juga. Nangkep ya? Oh Paulus sudah kerjakan pelayanan ke mana-mana, sampai terhambat untuk trip berikutnya. Ya jemaatnya, yang bukan cuma berdua pikir: kapan Paulus keluar? Ya sudah kalau gitu tetap kita yang gantikan kerjakan pelayanan ini. Ya itu ada bagian memang butuh kita melihat, yang penting pekerjaan Tuhan terus jalan. Yang penting pekerjaan Tuhan terus jalan. Itu yang mereka tuju, yang mereka kerjakan sini. Itu karakteristiknya.

Dan karakter ketiga, karakter dan motivasi mereka memberitakan Kristus itu yang pertama maksud baik, kedua karena kasih, ketiga itu karena mereka tahu bahwa Paulus dipenjara untuk membela Injil, in defence on the gospel, di dalam ayat 16 berkata itu. Jadi mereka tahu Paulus ini, mereka kerjakan pelayanan ini, mereka memberitakan Kristus karena mereka tahu Paulus itu sudah bertekun beritakan ini sampai akhirnya dia itu dipenjara demi memberitakan Injil. Nah ini saya lihat memang kembali di dalam pembahasan saya yang lampau bahwa, di dalam mengerjakan pelayanan dan kita sampai kepada satu penderitaan. Tetapi ketika memang, ketika penderitaan itu yang kita alami itu memang sesuai dengan rencana Tuhan, maka Allah bisa memakainya menjadi kebaikan bagi yang lain. Penderitaan yang kita alami karena kita kerjakan pelayanan orang, bahwa memang Paulus ini sungguh menyangkal diri, memikul salib, melayani Tuhan, mengikut Tuhan dengan setia, sampai dia terhambat pun, justru meng-encourage orang lain untuk mengerjakan pelayanan. Bisa nangkep ini? Jadi itu ya kalau pembahasan saya lalu ada berbagai macam orang penderitaan yang dialami di dunia. Tapi ada penderitaan yang worthed dan ada yang tidak. Ada yang penderitaan yang ketika dialami memang karena hal dosa atau kebodohan itu justru hanya akan menjadi mempermalukan Tuhan. Tetapi ketika orang kerjakan sungguh demi kemuliaan Tuhan dan dia mengalami hambatan, gencetan terhadap dunia, justru rekan seiman kita itu justru bisa dikuatkan dan diberanikan memberitakan Injil itu.

Ini kita lihat, itu yang dialami juga oleh orang-orang ini, yaitu orang-orang yang mereka tahu bahwa sebenarnya Paulus ini dipenjarakan bukan karena salah dia, tapi karena memang dia justru berani mempertahankan Injil itu. Dan bagi saya ini berarti mereka punya right interpretation, punya interpretasi yang benar ketika Paulus kerjakan ini, eh sampai mengalami penderitaan, oh ini memang sudah konsekuensi (? Menit 10:48) Injil. Bisa nangkap? Ini kan semua masalah interpretasi dalam kehidupan kita dan memang sebenarnya di dalam doktrin Reformed itu banyak mengajarkan pola pikir kita, cara berpikir kita itu seperti apa? Ada kadang-kadang orang melihat ketika kerjakan pelayanan, oh ya saya akan kerjakan pelayanan selama apa ya? Selama… oke, ada waktu. Tapi nanti, oke saya mau belajar lagi, saya mau luangkan waktu. Tapi ada sampai satu titik, orang mau kerjakan pelayanan apa? Selama semuanya fine, selama semuanya itu baik. Ketika akhirnya macet, ketika akhirnya bentur dengan misalnya pihak yang berwenang dalam hal ini, karena Paulus dipenjarakan itu ya, pihak yang berwenang. Itu orang bisa mengkritisi, mungkin caranya terlalu keras sih, mungkin kamu tuh terlalu frontal, seperti itu. Ada orang-orang kan bisa mempertanyakan juga, mungkin metode Paulus yang salah atau pilih pendekatannya yang salah atau seperti apa dia bicaranya yang salah. Tapi kelompok yang pertama ini melihat bagaimanapun juga Paulus dipenjarakan itu demi membela Injil, in defence of the gospel. Dan karena itu mereka lihat dengan teliti, ini sebenarnya bukan Paulus yang salah, tapi memang ini adalah tantangan yang dihadapi dalam pelayanan yang real, di jaman itu apalagi, di hadapan Kaisar Roma.

Karena bagaimana pun kita tidak bisa lupa, bahwa permulaannya Kekristenan itu dilihat sebagai religio licita, yaitu agama yang illegal, agama yang kalau mau dibilang mulanya itu dianggap “Oh cuma bagian sekte dari Yahudi, oh Yahudi ini agama yang di-approved, gitu ya, religio licita, agama yang diakui dan karena masih bagian dari sekte Yahudi, ya nggak soal.” Nangkep ya? Itu sama kalau kita tahu berapa waktu yang lalu ketika di negara kita, di Indonesia itu ada gereja saksi Yehova seperti itu. Dan bagi kita, “Oh itu bidat, kok bisa masuk seperti ini?” Nah mereka masuknya secara status pemerintahan dilihat sebagai bagian dari sekte Kristen. Bisa nangkap ini ya? Mereka bukan masuk ke Indonesia itu berdiri sebagai agama baru, kalau kaya berdiri gitu, pasti nanti proses panjang. Mereka bilang, “Oh kami ini Kristen, saksi Yehova.” Kaya gitu, misalnya. Dan karena itu statusnya di dalam pemerintahan secara legal sah. “Oh ini kan cuma urusan denominasi baru, nggak soal,” pemerintah nggak pusingin yang begitu, cuma tambah sekte baru dari agama yang sudah diakui, itu secara status legal sah. Nah kira-kira seperti itu juga saat kita melihat Kekristenan itu mulanya cuma dilihat sebagai bagian dari sekte Yahudi sehingga secara korelasi dengan pemerintah Romawi, “Oh iya tidak soal, ini cuma sekte tambahan,” denominasi gitu ya, pemerintah nggak ngurusi lah, nggak soal; tapi kemudian Kekristena makin lama dia juga di dalam rasul mula-mula itu terus mau menjangkau orang Yahudi tapi justru kenyataannya makin sengit dengan orang Yahudi, dan makin Yahudi itu menyatakan split, berbeda, Kristen ini bukan Yahudi tapi agama yang lain, agama baru, agama ilegal. Dan makanya mereka itu semakin kontra, dan mungkin [Kristen] mendapat status perlawanan bukan saja dari pihak Yahudi yang tidak setuju tapi juga dari pemerintah Romawi. Dan permasalahannya itu di dalam Kekristenan menekankan bahwa Jesus is Lord, hanya Kristuslah Tuan, Tuhan, dan bukan kaisar; nah itu juga dilihat sebagai subversif, tindakan yang mau menentang pemerintahan, nggak boleh ada kaisar yang lain. Jadinya posisi Kekristenan itu sulit sekali, dan kita lihat Paulus-pun getol memberitakan injil dan tetap berani mengambil posisi. Di sini kita lihat ini bukan cuma permasalahan teologis, mereka tahu dalam permasalahan teologis ini ada konsekuensinya yaitu akan mendapat tentangan dari sekitar, baik dari Yahudi, bahkan dari Romawi. Dan kembali, mungkin ada orang-orang yang, “Ya sudahlah, kamu itu terlalu frontal, lunak sedikit lah, jangan ngomongnya itu terlalu blak-blakan.” Tapi ketika Paulus dengan berani tetap memberitakan injil itu, yang sejati, karena dia setia kepada panggilannya, dia mendapat pemenjaraan itu. Tapi nggak apa-apa, bagi kelompok pertama ini melihat nggak apa-apa, ini justru Paulus menyatakan komitmen dan integritas dia untuk tidak kompromi.

Kembali, ini kelompok yang pertama, tapi terus kemudian ada kelompok kedua yang justru kita bisa lihat kalau kelompok pertama ini pro Paulus, maka ada kelompok kedua yang sebenarnya menjadi rival atau lawannya Paulus, tentangan, musuhnya Paulus. Dan saya lihat ini bagian yang sebenarnya sulit untuk kita bahas dan pikirkan, tapi ini kenyataan yang terjadi, yaitu ada kelompok yang menjadi lawannya Paulus dan mereka memberitakan Kristus dengan ada karakteristiknya sendiri. Yaitu kita temukan di dalam ayat 15a, mereka memberitakan Kristus dengan maksud apa? Dengan motivasi apa? Dengan motivasi dengki dan perselisihan. Ini kelompok kedua, Mereka memang memberitakan Kristus tapi dengan maksud envy dan rivalry, dengki dan perselisihan, yaitu mereka memang iri terhadap Paulus terus dia kerjakan itu. Kenyataannya ada yang kayak begini ya? Iya ada kelompok yang seperti kedua ini. Orang memberitakan Kristus, dia memberitakan injil, dia mengerjakan pelayanan tapi dengan maksud apa? Saingan. Saya nggak tahu berapa dari kita saat pelayanan muncul seperti tadi ya, “Oh itu anak Kristen nyanyi,” terus kita dorong nyanyi juga anak kita, tapi jangan sampai kita punya niat, maksud kompetisi. “Masak anaknya dia bisa nyanyi, anak saya juga bisa,” itu maksudnya iri gitu ya. Ini permasalahan motivasi, motivasinya itu juga saya mau tampil, saya juga ingin muncul di depan, dan dia iri kepada pelayanan Paulus. Dia lihat, “Oh Paulus bisa kerjakan pelayanan ini, Oh saya juga mau kerjakan.” Kenapa? Karena mau saingan, karena mau berkompetisi. Dan di bagian ini berbicara ini kelompok kedua ini, yaitu kelompok yang melayani tapi sambil malayani motivasi di dalamnya sebenarnya adalah iri, motivasinya adalah dengki dan perselisihan, yaitu ingin memecah gitu ya. Seperti, “Oh Paulus kerjakan ini, kami bisa kerjakan lebih kuat,” nanti terus ada membagi-bagi jemaat, “Ayo kamu ikut saja saja, nggak usah ikut Paulus.”

Ini adalah kelompok kedua, ada karakteristik seperti ini. Dan bahkan mereka kerjakan pelayanan itu dikarenakan kepentingan sendiri, selfish ambition, punya ambisi demi diri. Jadi supaya namanya ditinggikan, supaya ya mereka itu bolak-balik fokusnya pada diri ya, kepentingan sendiri. Kenapa kerjakan pelayanan? “Oh karena saya suka pelayanan,” jadi bukan karena Tuhan tapi memang karena suka, jadi ada ambisi pribadi, mengejar persaingan. Kadang-kadang makanya dalam kehidupan ini kita dipacu seolah-olah hidup itu harus berkompetisi satu dengan yang lainnya. Dan sayangnya dalam banyak hal itu juga masuk bahkan di dalam kehidupan bergereja. Orang berkompetisi satu sama lain. Kompetisi nyanyi lagu Kristen misalnya, lho jadi ini mereka nyanyi memuji Tuhan atau supaya bisa dapat piala? Tanda tanya kan? Kompetisi nyanyi, oiya kompetisi nyanyi versi Kristen, OK kalau gitu nyanyinya lagu-lagu himne, nyanyinya haleluya puji Tuhan, amazing grace, tapi nyanyi untuk apa? Supaya dapat piala itu kan? Ya kalau begitu, dia nyanyi itu untuk memuji Tuhan atau supaya dapat approval dari juri? Tapi kenyataannya kok ada yang seperti itu. Melayani dengan kepentingan sendiri, dengan motivasi supaya dirinya itu bisa tampil di depan. Dan bahkan Paulus katakan itu melayani dengan tidak tulus, not sincere, tidak murni di hadapan Tuhan ketika kerjakan pelayanan itu, mereka motivasinya sudah bercampur, mixed motivation di sini selalu ada masalah. Kadang-kadang ketika kita mengerjakan pelayanan kita bisa bilang, “Oh saya kerjakan pelayanan bagi Tuhan, bagi kemuliaan Tuhan,” betul, OK, good. Tapi kemudian ketika terjadi bentur kita masih kerjakan atau nggak? Ketika terjadi hal yang tidak mengenakkan kita, kita masih mau kerjakan nggak? Tapi ada orang ketika kerjakan memang campur yang lain itu. Misalnya, saya pernah dengar orang KKR Regional, ke satu daerah terpencil, ternyata setelah KKR bisa lakukan apa, bisa cek mungkin ada obyek juga untuk bisa buka usaha gitu ya. Oh ternyata sambil menyelam minum air katanya gitu ya, ini sambil menyelam minum air atau kelelep? Sambil pelayanan pergi ke sana, tapi ternyata memang ada obyek ketemu rekan kerja di situ dan coba cari peluang bisnis. Saya juga bingung, ini orang pelayanan motivasinya itu ketika beritakan injil, “anak-anak bertobatlah,” sambil pikir “selesai ini saya ketemu rekan saya,” mixed motivation. Dan selalu orang kalau bercampur seperti ini menjadi motivasinya itu tidak tulus. Dan nanti kelihatan ketika akhirnya, “sudah sore, pelayanan sudah selesai kan, ayo kita meeting.” “Jangan lah Pak karena saya mau ketemu rekan bisnis saya.” “Oh nggak, kita harus meeting bahas untuk esok.” Nah ini conflict of interests, di situ baru tahu muncul konflik kepentingan. Dan kadang dalam kehidupan kita itu kita kalau men-set pelayanan itu cuma satu segmen bagian dari kehidupan, bukan dari segala sisinya, kita nanti ketika disuruh tambah, atau harus meeting, atau harus bahas, nah konflik dengan kepentingan diri.

Dan kenyataannya ada kelompok yang seperti ini, kelompok yang melayani dengan tidak tulus dan mereka berasumsi, bahkan di ayat 17 mengatakan berasumsi “mereka dapat memperberat bebanku.” Jadi mereka itu mengerjakan pelayanan dengan asumsinya berpikir bahwa mereka akan bisa memperberat beban Paulus dalam penjara, bagi saya itu interpretasi yang salah. Yaitu maksud mereka kira-kira begini, Paulus mungkin kerjakan dengan gayanya sendiri, terus mereka bilang, “Nggak setuju, nggak setuju, style-nya Paulus beda.” Akhirnya Paulus dipenjara, nah mereka lihat, “Ini saatnya kita tampil, dia berhenti, kami getol lebih maju supaya pimpinan kami yang lebih populer,” misalnya. Jadi mereka berpikir dengan mereka itu bisa terus jalan nama mereka akan lebih populer, akan lebih top sambil Paulus ini mandeg. Nah ini yang Paulus katakan asumsi mereka ketika mereka makin maju pelayanannya justru Paulus itu nanti makin berat. Dan kadang-kadang ternyata ada orang yang pelayanan seperti ini mentalnya. Dan saya pikir karena dalam kehidupan kita kalau kita nggak mawas diri kita juga masuk ke situ. Misalnya kenapa kita dirikan GRII? “Oh itu supaya kita saingan dengan yang di luar”? Bukan itu, poinnya adalah kita harus berjuang bagi Kerajaan Tuhan, itu fokus utama kita. Tapi kenyataannya ada orang memang berasumsi seperti itu sehingga ketika yang di luar itu mengalami kesulitan kita makin happy. Terus kalau gereja yang beda denominasi dengan kita ditutup, oh kita makin sukacita berarti GRII yang bisa maju? Ya nggak begitu caranya. Tapi kenyataannya memang ada yang seperti ini, berasumsi bahwa mereka dapat memperberat beban Paulus saat di penjara, dan mereka kerjakan pelayanan memang dengan motivasi demikian. Tapi mungkin poin berikutnya adalah kira-kira siapa sih rival atau lawan Paulus ini? Menarik memang, Paulus tidak menyebutkan siapa orangnya, kelompoknya seperti apa, tapi yang pasti kita tahu ketika Paulus menuliskan ini kepada jemaat Filipi mereka langsung tahu “Oh itu yang dia maksud. Ini nih yang dimaksud oleh Paulus.”

Dan di bagian ini saya pikir menarik kalau kita membahas bagaimana sih sebenarnya karakter dari sifat Paulus sendiri. Kalau kita temukan di dalam Paulus, karena ketika dia bersikap terhadap lawannya ini kita temukan, seperti Osbourne katakan, ini adalah kelompok ini sebenarnya adalah ciri-ciri orang berdosa. Osbourne melihat di dalam bahasa Yunaninya ini mirip padanan kata untuk bicara orang-orang yang di luar Tuhan. Bahkan Paulus di dalam Roma 1:28-29 ataupun di dalam Galatia 5:20-21, ! Timotius 6, itu mencatat sebenarnya itu adalah Paulus menuduh keras orang-orang yang bagian ini, yang punya sifat seperti ini. Kembali kalau kita membaca di dalam Kitab Galatia 1:6-10 kita temukan dimana Paulus dengan keras menegur orang yang memberitakan injil yang palsu. Eksplisit sekali dia katakan bahwa “jikalau ada orang, baik rasul bahkan malaikatpun memberitakan injil yang berbeda dengan injil yang aku beritakan, terkutuklah orang itu.” Ini statement yang besar sekali dan berat sekali dari Paulus. Berani sekali dia katakan, Paulus dengan eksplisit sekali keras menentang kelompok orang yang memberitakan injil palsu. Kalau kita membaca di dalam Galatia itu ada, karena injil yang palsu itu adalah injil yang bukan cuma Kristus tapi Kristus plus tradisi. Dari mana tahu ada injil yang palsu? Itu bukan cuma masa kini, dari dulu, dari zaman rasul-rasul sudah muncul. Injil palsu apa? Injil Kristus plus tradisi, berarti apa? Mensejajarkan hal itu. “Oh kamu percaya Kristus? baik, baik, bagus, tapi sunat juga.” Kenapa? “Karena itu tradisi, itu ada di Perjanjian Lama.” “Oh memang sudah sistemnya ini harus pelihara hari-hari baik,” itu jadi disejajarkan, dan itu Paulus sangat kontra dan keras sekali di bagian itu ketika dia menegur di Kitab Galatia. Dan kita lihat Paulus itu secara terbuka tantangan dia katakan kalaupun ada malaikat yang beritakan injil berbeda, terkutuklah dia. Di dalamnya no second chance, langsung dia bilang, “terkutuklah dia.” Injil plus perbuatan baik, plus tradisi, plus pengalaman, plus sesuatu yang lain, itu adalah injil yang palsu. Kembali saya jelaskan di bagian ini masalahnya adalah karena mensejajarkan hal itu, bukan karena kita itu anti tradisi, anti pengalaman, anti perbuatan baik, bukan, tapi posisinya itu yang salah. Yaitu harusnya kita melihat injil itu yang utama, Kristus yang diutamakan, dan itu yang otoritas utama, tradisi itu di bawah.

Nah ini berapa banyak dalam kehidupan kita itu seperti itu ya, kita ada tradisi, kita punya background masing-masing di dalam keluarga kita ataupun di dalam pendidikan kita, latar belakang kita, tapi adakah kita lihat tradisi itu jangan sejajar dengan Kristus, dia harus tunduk di bawah injil, di bawah otoritas firman sehingga kita lebih taat Kitab Suci daripada mengikuti tradisi itu. Nah itu posisinya, Paulus keras sekali dalam hal ini. Nangkap ya, bukan masalah orang disunat atau nggak, dia juga orang Yahudi disunat kok. Poinnya adalah ini kalau kamu tekankan sunat itu sebagai apa, harus, mutlak? Berarti sejajar dengan injil dan itu adalah tidak boleh. Yang mutlak biarlah mutlak, seperti Pak Tong katakan, yang mutlak jangan direlatifkan; sebaliknya, yang relatif jangan dimutlakkan. Yang memang mutlak itu adalah Kitab Suci, firman Tuhan, dan itu jangan ditawar menawar. Masalah tradisi, ya itu hal sekunder. Mau ikut, selama tidak bertentangan dengan firman, silahkan. Perbuatan baik? Ya itu juga adalah hal yang perlu, tapi kalau itu pengertian kita menggantikan posisi keselamatan atau harus sejajar dengan keselamatan maka itu menjadi injil yang palsu. “Oh pengalaman Pak, saya mengalami pengalaman-pengalaman rohani yang saya tidak bisa jelaskan.” Pertanyaannya, cek di Alkitab, apa yang Alkitab katakan tentang pengalaman rohani itu? Dan kalau pengalaman itu bertentangan dengan prinsip Alkitab, kita mau buang nggak? Kadang-kadang ada orang bilang, “Pak, saya mengalami pengalaman seperti misalnya bahasa lidah, bahasa roh gitu ya, dan seperti apa saya dipuaskan.” Coba cek kembali kepada Kitab Suci, apa yang Paulus katakan dalam 1 Korintus pasal 12, pasal 14, dia bicara banyak hal, coba baca dan lihat posisinya bahasa lidah itu dimana. Dan ketika ketemu, “Oh beda ya dengan yang bahasa lidah sekarang,” pertanyaannya pengalaman ini kita berani buang nggak, atau ngotot tetap ini saya pegang? Dan kalau begitu akhirnya menyamakan itu kan. Kembali, saya sendiri berada pada posisi bicara tentang bahasa lidah, saya percaya tetap bisa masih ada sampai sekarang, tapi bahasa lidah yang benar. Ada bahasa lidah yang benar, ada bahasa lidah yang keliru. Sederhana, itu namanya adalah bahasa, bahasa seperti beberapa hari yang lalu itu saya lagi makan di suatu tempat ada orang lain berbicara bahasa asing, nggak tahu dia ngomong bahasa apa, tapi saya menyadari itu bahasa. Yaitu dia nggak labalabalaba, itu bukan bahasa gitu ya. Misalnya saja saya ngomong, “Yesusyesusyesus,” ini ngomong apa. Bahasa itu ada intonasinya yang berganti, ada kata-katanya yang berganti, dan bukan cuma mengutarakan sesuatu lampiasan emosi yang tanpa makna, cuma 2 atau 3 kosa kata yang diulang-ulang seperti itu. Nah bahasa lidah yang asli itu sebenarnya ada artinya, ada maknanya, dan bukan cuma pengulangan satu dua kata yang terus menerus. Dan kembali, di bagian ini ketika ada orang mensejajarkan, “Oh kamu percaya Kristus plus harus juga bisa bahasa lidah,” itu kan mensejajarkan. Kita temukan di dalam Kitab Suci apakah semua orang harus bisa bahasa lidah baru bisa diselamatkan? Tidak, itu adalah pengalaman rohani, dan pengalaman rohani kembali lagi perlu kita kritisi, bisa benar, bisa salah. Dan kalau salah kita harus singkirkan, kalaupun benar tidak pernah boleh sejajar dengan Kristus.

Perbuatan baik sama, penting nggak? Penting, penting sekali, iman tanpa perbuatan adalah mati adanya, seperti yang Yakobus katakan, tapi kalau orang mensejajarkannya, “saya diselamatkan sambil percaya Kristus plus saya harus berbuat baik,” berarti di situ masuk andil kita, berarti Kristus kematianNya tidak final. Dan itu yang ditentang Paulus keras di dalam Kitab Galatia. Tidak boleh ada yang lain, harus kita lihat Kristus itu sendiri itu sudah final. Buktinya apa? Penjahat di samping Yesus ketika dia percaya Tuhan Yesus, terus Yesus bilang apa? “O hari ini juga kamu akan masuk purgatory, masuk api penyucian dulu soalnya kamu terlalu jahat sih jadi dibakar-bakar dulu lah sampai cukup matang nanti baru masuk Sorga”? Nggak. “Hari ini juga engkau akan bersama dengan Aku di Firdaus.” Apakah dia disuruh baptis? Nggak. Disuruh melakukan perbuatan baik dulu? Nggak. Disuruh, “ayo bahasa lidah dulu lah”? Nggak ada, kenapa? Karena iman itulah yang menyelamatkan. Kuncinya itu percaya kepada Kristus, itulah dasar keselamatan kita. Kembali lagi, lalu hal-hal lain itu otoritasnya adalah di bawah dari Alkitab, dan bukan penentu keselamatan kita. Nah di sini saya kembali, di dalam Kitab Galatia Paulus keras sekali ketemu orang yang menyimpang, bukan injil yang sejati dia tegur dengan keras. Dan di tempat lain, itu dia secara eksplisit, di tempat lain ada seperti di dalam Kitab Roma 1:16-17 yang kalau terjemahan Indonesianya dia tulis, “aku punya keyakinan kokoh akan injil.” Sebenarnya literalnya, dan terjemahan bahasa Inggris juga pakai itu, yaitu “aku tidak malu akan injil, karena injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan orang berdosa, pertama orang Yahudi lalu juga orang Yunani.” Di bagian ini saya pikir menarik dalam Kitab Roma Paulus memberikan saya rasa sebagai suatu teguran implisit kepada jemaat Roma. Yaitu dia bilang, “aku tidak malu akan injil,” karena ya orang-orang di Roma ini mungkin ada yang malu memberitakan injil. Meski mereka tahu injil yang sejati seperti apa tapi mereka itu takut, malu beritakan injil yang sejati itu. Kadang-kadang saya lihat dalam kehidupan juga gitu kan, ketika misalnya kita beritakan injil terus ada teman kita bisa bilang, sesama Kristen lho ya, “kamu jangan terlalu frontal lah,” bahasanya diperhalus, halus sekali sampai kayak kamu dimana penginjilannya. Pokoknya halus banget supaya tidak frontal, supaya orangnya itu tidak tersinggung. Nah kalau kayak gitu ya bagi saya itu orang memang malu akan injil sih. Kalau kita ibadah hari ini, atau kita ada kegiatan nanti KKR Natal, atau ada HUT, terus misalnya kita mau ngajak orang, kita malu nggak sih akan injil? Bukan cuma kalau kita kumpul di sini berani, semua orang Reformed di sini. Di hadapan orang luar kita tetap teguh pegang injil itu atau malah kita malu? Ketika kita berbicara denga orang-orang yang tidak percaya, adakah kita tetap mengatakan, “Ya saya diselamatkan oleh anugerah, semata-mata dengan percaya Tuhan Yesus.” “Hanya dengan percaya Tuhan Yesus? Nggak usah lakukan yang lain?” Iya, karena itulah anugerah. Pertanyaannya kita malu nggak mengatakan itu? Berapa banyak dalam kehidupan kita justru malu akan hal itu, dan hanya puas dengan lingkup kita sendiri. Kita tidak sadar bahwa harusnya kita berani menyatakan keluar, dan mengajak justru kepada orang-orang yang belum mengenal injil, dan itu harus kita beritakan. Dan di bagian sini kita ketemu pribadi dari Paulus sendiri, dia bisa ibaratnya bisa tegur orang yang secara eksplisit memberitakan injil yang palsu ataupun secara implisit dia menyatakan keberaniannya memegang teguh injil.

Jadi kita bisa menarik kesimpulan pribadi Paulus ini adalah orang yang sangat vocal dan secara terbuka berani berjuang demi injil, dan dia tidak pandang bulu dalam hal ini, beritakan injil yang sejati. Tapi bagaimana dia menghadapi orang yang berbeda dengan dia, kelompok kedua ini? Di dalam bagian ini ketika kita masuk melihat teks ini dengan jujur apa adanya, kita menemukan bahwa ternyata rival Paulus ini, lawannya Paulus ini bukanlah orang yang memberitakan injil yang palsu tetapi adalah orang yang tetap memberitakan Kristus. Dan bagi saya rival Paulus ini adalah bukan bicara orang di luar Kristen tapi justru sesama orang percaya, dan dia juga berani beritakan injil, berarti mereka juga sesama pelayan ataupun mungkin sesama hamba Tuhan. Karena Paulus tegaskan mereka itu beritakan Kristus yang sejati. Kita menemukan suatu gambaran skandal jemaat mula-mula. Kadang kita pikir “Oh jemaat mula-mula itu semua saling menyayangi satu sama lain,” tetapi ternyata juga ada konflik internal terjadi. Dimana buktinya? Bukan karangan saya, kembali di dalam teks ini. Dan di bagian ini kita temukan Paulus bisa katakan, “aku bersukacita untuk itu.” Kok bisa sukacita? Di Galatia dia tegur keras, di Roma itu dia juga katakan, “aku tidak malu akan injil.” Jadi ini apa? Ini adalah kelompok orang yang meski tidak setuju dengan Paulus tetapi mereka tetap memberitakan Kristus yang sejati dan karena itulah Paulus bisa bersukacita. Menarik memang kalau kita pikirkan kok bisa Paulus tetap bersukacita meski orang ini melakukan pelayanan dengan dengki, dengan perselisihan, karena kepentingan sendiri, tidak tulus, dan bahkan dengan maksud memperberat pelayanan Paulus. Bagi saya nggak lepas itu karena memang bicara kebenaran firman itu bukan cuma bicara kebenaran prepositional tapi juga adalah kebenaran personal. Di bagian hal ini saya mengambil pembahasan dari Arthur F. Holmes dalam bukunya All truth is God’s truth, segala kebenaran adalah kebenaran Allah, di dalam bab 3-nya anda dapat baca sendiri kalau mau lebih lengkapnya. Yaitu dia bicara begini, ketika kebenaran firman itu diberitakan, injil yang sejati itu diberitakan, itu bukan cuma masalah preposisinya yang benar, statement-nya ya, kalimatnya benar, itu satu hal; tapi kebenaran pernyataan Alkitab itu juga bergantung, bersandar kepada firman Allah yang memberitakan itu sendiri, kepada Allah yang sejati, reliable-nya itu bukan bergantung kepada orangnya tapi kepada Allah sendiri. Yaitu selama firman yang diberitaka itu adalah injil yang sejati maka kalimat itu bukan bergantung pada pembicaranya tapi pada Tuhan yang menyampaikan isi firman itu. Saya ulangi ya, dalam kehidupan kita kadang kita kalau missed itu kita jadi melihat ke situ, “Oh saya akan dengar beritanya ini karena saya lihat orangnya, hamba Tuhannya kayak apa, hamba Tuhannya OK ya saya ikut, kalau hamba Tuhannya nggak OK saya nggak mau ikut.” Kalau begitu, kita pelayanan itu lihat orang atau lihat Tuhan?

Kembali ya, Arthur Holmes ini bilang di dalam semua statement-statement proposisi dalam kalimat pemberitaan injil itu bukan bersandar pada kemampuan orangnya, tapi injil itu bersandar kepada Tuhan yang mewahyukan itu di titik pertama, dan karena itulah akhirnya tidak bisa dibatalkan, dan karena itulah sangat berkuasa dalam menyelamatkan orang yang berdosa, meski yang memberitakanpun adalah orang yang rada rapuh atau lemah, dan mungkin tidak bisa diandalkan; dan memang andalan kita bukan mau ke situ. Sederhana saja dalam kehidupan saya sendiri saya temukan, saya dulu pertama kali datang ke GRII itu diajak seseorang, “Oh gereja yang benar itu di sini,” terus, “kamu ikut.” Saya pergi ke situ. Terus singkat waktu, dalam perjalanan waktu, lho dia nggak ke GRII lagi. Saya bingung, “saya masih di GRII kok kamu keluar?” Lalu dalam perjalanan waktu lagi ada orang yang ajak saya, “ayo terlibat dalam pelayanan.” Saya kerjakan pelayanan, terlibat pelayanan-pelayanan, dan dalam perjalanan waktu sambil saya kerjakan pelayanan itu, lho orang yang ajak saya pertama sudah nggak ke gereja lagi. Lalu saya juga bingung, “lho kok malah kamu yang keluar? Kamu yang dulu ajak saya untuk pelayanan, sekarang kamu yang keluar, kamu yang tinggalkan.” Bukan itu saja, Hamba Tuhan yang dulu pernah juga ajak saya, dorong untuk pelayanan, akhirnya juga keluar dari GRII. Terus saya juga bingung, kok saya masih di sini gitu ya? Mungkin kapan saya keluar juga gitu ya. Tapi kalau kita kerjakan pelayanan itu cuma lihat siapa yang ajak, akhirnya cuma lihat orang kan? Tapi kalau kita lihat sebenarnya mereka hanya alat Tuhan yang Tuhan pakai untuk memberitakan Injil yang sejati atau mengajak kita terlibat dalam panggilanNya, dalam pelayanan, dan dalam rencanaNya, kita tetap fokus kepada Tuhan itu dan bukan pada manusianya. Hamba Tuhan bisa diganti, tapi adakah kita lihat yang penting Kristusnya itu yang tidak diganti? Itu yang membuat kita terus setia dan jatuh bangunnya gereja bukan berdasarkan hamba Tuhannya, bukan berdasarkan pelayannya, bukan berdasarkan pengurusnya, bukan berdasarkan majelisnya, tapi berdasarkan Injil itu masih diberitakan atau tidak. Dan ketika itu tetap ada, itu yang membuat gereja itu langgeng dan terus berjalan sampai generasi ke generasi. Itulah yang dilihat dalam bagian ini.

Dan berarti meski mereka itu sungguh-sungguh memberitakan Kristus, tapi mereka punya, di bagian ini yang penting Injil yang sejati diberitakan. Dan bagi Paulus nggak apa-apa. Meski dia punya konflik kepentingan dengan Paulus, itu adalah personal issue. Tapi bagi Paulus, yang penting Injil yang sejati diberitakan. Jadi dia melihat secara objektif di sini. Dan dia bisa bersukacita atas pelayanan mereka. Bayangkan ya, ada orang ini kelompok ya, jelas-jelas lawan Paulus, jelas-jelas beritakan dengan motivasi yang buruk seperti ini, terus kok Paulus itu bisa lihat, “Oh iya sudah, yang penting dia beritakan Injil yang sejati. Terus meskipun dia itu masih musuhan dengan saya ya biarkan seperti itu.” Saya ingat apa yang dikatakan, diajarkan oleh guru saya Ibu Inawati Teddy, yaitu dia mengatakan bahwa God can strike a stright blow with a crocked stick; bahwa Tuhan bisa memukulkan pukulan yang lurus dengan memakai tongkat yang bengkok. Itulah Allah yang berdaulat. Itulah Allah yang bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Dan itulah yang membuat Paulus itu tetap bersukacita karena meski ada musuhnya, orang yang against dengan dia, bertentangan, konflik dengan dia, tapi dia lihat tetap Tuhan bisa pakai dia kelompok ini beritakan Injil yang sejati. Nggak apa-apa, saya sukacita karena itu. Saya bukan sukacita karena, oh kamu saudara saya. Bukan. Saya sukacita karena Tuhan tetap bisa pakai, yang penting Injilnya tetap jalan. Itulah sukacita Paulus. Sukacita bukan karena konflik itu sendiri, juga bukan karena ada lawannya, tapi karena Tuhan tetap bekerja di tengah-tengah kesulitan ini. Itu yang membuat Paulus tetap dapat sukacita di tengah pemenjaraannya. Di tengah pemenjaraannya. Saya lihat ya di sini kembali seperti Gordon Fee mengatakan, dia mengatakan ini menyatakan kebesaran hati Paulus untuk menerima dan mengakui orang yang berbeda pandangan dengan dirinya; karena memang realitanya dalam kehidupan demikian. Kita kalau tidak aware itu ya, kita terlalu naif masuk dalam pelayanan, kita kadang bisa, mau ngapain itu sudah sakit hati, sudah pelayanan. Karena apa? Kenyataannya di dalam pelayanan, kita deal dengan orang-orang yang berdosa juga, termasuk saya; karena kita semua orang berdosa yang ditebus melalui pengorbanan dan anugerah dari Yesus Kristus; bukan karena kebaikan kita, kita kerjakan pelayanan ini. Bukan karena kebaikan kita, tetapi karena memang anugerah itulah yang masih menopang kita dan menyelamatkan kita. Dan di sini menyatakan kebesaran dari Paulus melihat itu.

Kita konflik dengan satu sama lain bahkan sesama pelayanan, kembali saya selalu melihat itu sebagai hal yang sangat disayangkan karena terjadi. Tapi biarlah kita lihat, nggak apa-apa, yang penting pekerjaan Tuhan terus jalan; daripada mungkin suatu pelayanan yang semuanya indah, semuanya baik, “Saya nggak pernah konflik pak, di gereja itu. Saya pergilah di gereja sana sini semua di gereja lain tuh semua sama-sama baik,” tapi coba cek, Kristus yang sejati diberitakan atau tidak? Michael Horton pernah mengatakan di dalam bukunya, Christless Christianity, Kekristenan yang tanpa Kristus, terus dia katakan di dalam bukunya itu mencatat , kalau kita bisa bayangkan ada satu kota yang di mana itu Kristus tidak diberitakan, kota itu seperti apa sih? Oh, mungkin banyak kejahatan gitu ya, banyak pelacuran gitu. Terus Michael Horton mengatakan suatu statement yang menarik; dia katakan, mungkin kota itu damai, kota itu tenang, kota itu semua orang rajin ke gereja, kota yang semuanya mungkin pelacuran juga sepi dan toko perjudian itu pun sepi. Kenapa? Karena, lho tapi bagi dia, dia bilang, itulah kota yang dikuasai setan. Kota yang dikuasai setan semua orang tenang, tenang, tenang, dan semuanya sukacita, tapi tidak pernah satu pun orang melihat kepada Kristus. Itu di dalam bukunya Christless Christianity. Kita pikir itu kekristenan yang tanpa Kristus itu seperti apa sih? Oh ribut satu sama lain? Nggak. Justru banyak itu kalau kita lihat sendiri, kerajaan setan itu tetap kukuh kan? Tetap kokoh. Nggak pernah kan setan itu bertobat. Jadi dia bisa kompak, dia bisa harmonis satu sama lain, ya kenapa? Kompak di dalam dosa. Justru ketika di dalam kehidupan ini kita temukan bahwa situasinya sepertinya harmonis, aman, damai sejahtera ini, tapi bisa itu adalah justru adalah harmonis yang palsu, kesehatian yang palsu, kesehatian yang bukan dari Kristus. Dan itu Horton katakan itu adalah Christless Christianity, Kekristenan yang tanpa Kristus, yang bisa sepertinya semuanya baik, yang sepertinya semua orang di dalam tidak ada konflik. Tapi hanya satu saja tidak pernah mereka bahas, yaitu Kristus. Bahas semua kasih, semua baik, semua sayang, semua tolong menolong, tapi nggak pernah membahas Kristus. Itu adalah kekristenan yang kehilangan intinya. Sebaliknya, mungkin gereja kita di tempat ini mungkin ada konflik, mungkin ada pertentangan, mungkin ada kesulitan dalam pergumulan. Tapi biarlah kita lihat, yang penting Kristus itu yang diberitakan, dan karena itulah tetap kita kerjalan pelayanan ini.

Dan itulah yang membuat Paulus dia bilang, aku tetap bersukacita, dan Gordon Fee mengatakan, berarti memang suatu passion dari Paulus itu adalah punya single minded, punya pikiran yang fokusnya hanya satu, yang penting Kristus diberitakan. Itu aja yang lain. Situasi yang ada di dunia ini hanya sementara. Bisa konflik, bisa nggak, toh sekarang di sorga mereka nggak konflik. Itu yang penting. Berapa banyak dalam kita relasi itu ya, kadang-kadang juga gitu kan? Saya mungkin contoh sederhana aja ya, relasi kita satu sama lain mungkin dengan ada orang-orang di luar kekristenan atau di luar iman kita, itu bisa relasi kita baik-baik kan? Coba sampai anda mulai buka suara beritakan Kristus. Konflik kan? Karena memang itulah maksudnya ketika Kristus katakan, jangan kamu sangka Aku datang membawa damai. Aku justru datang membawa pedang yang memisahkan suami dari istrinya, ayah dari anaknya, dan semuanya itu bicara dan memang Kristus itu justru menjadi titik konflik pemisah antara orang yang percaya dengan yang tidak percaya. Dan memang akan ada titik konflik di situ. Kembali ya, bukan kita sengaja mencari  gara-gara atau sebenarnya mencari konflik demi konflik itu sendiri. Bukan itu poinnya; Paulus juga bukan begitu orangnya. Tapi ketika konflik itu terjadi, tapi yang penting Kristus diberitakan, tetap jalankan. Di situ baru kita belajar ini adalah pekerjaan Tuhan dan bukan pekerjaanku. Bukan menurut caraku, tapi menurut cara Tuhan. Dan di sini Paulus menundukkan interest pribadi kepada interest-nya Tuhan. Yang penting itu interest-nya Tuhan, kepentingan Tuhan jalan. Kepentingan saya nggak jalan, ya sudah. Yang penting kepentingan Tuhan terus jalan. Banyak dalam pelayanan, banyak dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen kalau kita mau jujur realistis saja apa adanya, lebih berjalan seperti itu toh? Sambil kepentingan Tuhan jalan, justru di situ ada bagian, kok tidak berjalan sesuai dengan maksud kita? Tapi makanya mata kita tetap tertuju pada ini, kepada kehendak Tuhan itu yang jalan. Seperti yang Jonathan Edwards mengatakan, Lord, stamp eternity to my eyeballs. Tuhan, capkanlah kekekalan di dalam bola mataku. Artinya apa? Untuk saya lihat ke sana, kepada kekekalan, pada yang sorgawi, bukan pada duniawi ini yang sementara. Di dunia ini bisa banyak konflik, bisa banyak pertentangan, banyak penderitaan, tapi adakah hidup kita itu terus berjalan sinkron, in tune dengan maksud rencana Tuhan? Itu yang kita tuju. Itu yang terus kita pandang.

Paulus di sini bukan sedang berbicara suatu yang ngawang-ngawang sepertinya di udara dan tidak realistis dalam kehidupan dunia, tapi dia lihat, ya memang kehidupan pelayanan seperti ini. Dan di situlah kita juga belajar menundukkan diri kita di bawah kehendak Tuhan, di mana ego kita mulai kita kikis, mulai kita matikan, mulai kita asah, mulai kita bersihkan, murnikan lagi. Dan kita baru mengerti apa yang Kristus katakan, kalau kamu mau mengikut Aku, sangkal diri, pikul salib, dan ikutlah Aku. Kalau kita pelayanan semuanya lancar, semuanya fine, kita tidak bisa belajar apa itu menyangkal diri. Tapi ketika hal itu terjadi, di situlah kita belajar, apa artinya kita belajar menyangka diri itu. Kerjakanlah pelayanan justru ketika kesulitan ada. Kerjakanlah pelayanan meski kamu sibuk. Kerjakanlah pelayanan meski kamu sudah habis lelah sampai habis-habisnya. Tapi kamu melihat, tetap saya mau kerjakan, karena di saat itu kamu tahu, ini bukan kesenangan saya, bukan karena waktu luang saya, tapi karena Kristus, maka saya kerjakan pelayanan ini. Juga bukan karena saya lihat hamba Tuhan, bukan karena lihat orang pengurus atau siapa pun yang kita lihat di hari ini; tapi fokus kita kepada Tuhan saja. Dan barulah kita tahu, sambil kita kerjakan, itulah artinya memikul salib kita, mengikut Tuhan, yang mana sudah lebih dulu menyangkal diri, memikul salib, dan akhirnya mati di Golgota itu untuk keselamatan kita. Untuk keselamatan kita. Adakah Kristus itu yang terus kita pegang? Adakah Kristus itu yang terus kita imani? Dan adakah kepada-Nya saja kita arahkan seluruh pandangan kita, iman kita, dan jerih lelah pelayanan kita? Dari situ baru kita belajar apa artinya kita belajar mengasihi Tuhan, yang sudah lebih dahulu mengasihi kita. Mari kita satu dalam doa.

Bapa kami dalam sorga, kami berdoa, bersyukur untuk kebenaran-Mu. Kami berdoa menyerahkan setiap diri kami, ya Tuhan, dalam pergumulan kami masing-masing. Kiranya Engkau mampukan saja, dan kiranya Engkau ingatkan dan layakkan kami di dalam kesulitan, pergumulan yang kami hadapi di dalam pelayanan, biarlah kami boleh melihat bahwa yang terutama dan yang paling penting adalah maksud rencana-Mu itu saja yang terus kami kerjakan. Kami berdoa ya Tuhan, kiranya visi kerajaan sorga itu yang menjadi pendorong kami mengerjakan misi pelayanan kami di dunia ini dan bukan visi kami secara manusia yang mendorong kami mengerjakan pelayanan. Kami berdoa kiranya Engkau yang murnikan kami dan kiranya Engkau yang bentuk kami melalui firman-Mu, melalui konteks kehidupan yang ada, dan biarlah Allah Roh Kudus saja yang menopang kami sedemikian supaya kami bertekun hingga akhirnya, sampai kami bertemu dengan Engkau, muka dengan muka. Terima kasih Bapa untuk semua ini, kiranya nama-Mu saja ditinggikan dan dimuliakan. Hanya dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *