Menyatakan Cinta Kasih kepada Sesama, 16 Mei 2021

Kisah Para Rasul 4:32 – 5:11

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika kita berbicara berkenaan dengan bagian ini kita sudah melihat bahwa ini adalah suatu kelanjutan dari suatu peristiwa di mana ketika Rasul Petrus dan Yohanes melayani Tuhan, maka mereka kemudian ditangkap, dipenjarakan lalu diperingatkan untuk tidak boleh memberitakan Injil Kristus lagi di dalam hidup mereka. Mereka tidak pernah boleh menyebarkan kalau Yesus Kristus tidak mati dan terus ada di dalam kubur tetapi bangkit dari pada kubur pada hari yang ketiga dan mereka tidak boleh memberitakan kebenaran itu untuk membawa orang-orang Israel lalu bertobat dan datang kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka, karena mereka tahu kalau di bawah kolong langit ini hanya ada satu nama yang bisa menyelamatkan manusia, yaitu Nama Yesus Kristus. Dan pada waktu mereka diperhadapkan dengan persidangan dari Sanhedrin tersebut dan mereka diancam hal itu, maka Alkitab berkata mereka sama sekali tidak kompromikan atau tidak menerima perintah itu sebagai satu perintah yang berotoritas dari pada pemerintah untuk mereka taati karena pemerintah adalah wakil Tuhan, tetapi mereka berkata coba kamu perhatikan sendiri apakah kami harus mentaati Tuhan atau mentaati kamu? Lebih mentaati siapa yang seharusnya? Kamu punya otoritas dari Tuhan, kan? Kalau kamu punya otoritas dari Tuhan, kamu melawan Tuhan, itu berarti kamu harusnya menjadi orang yang tidak perlu kami taati tapi kami memilih lebih mentaati Tuhan karena itu yang Tuhan kehendaki.

Jadi pada waktu mereka diperhadapkan seperti itu, mereka berbicara seperti ini, memang di dalam bagian ini dikatakan Sanhedrin tidak bisa berbuat apa-apa saat itu tetapi mereka kemudian melepaskan dengan suatu peringatan keras bagi para rasul. Dan di sini kita bisa lihat ini adalah awal dari pada suatu penganiayaan yang dialami oleh gereja Tuhan walaupun bentuknya masih dalam bentuk ditahan di dalam penjara. Tetapi dampak dari pada penganiayaan itu kalau Saudara perhatikan di dalam ayat 32 itu tidak merusak gereja dan tidak menghancurkan gereja, tetapi justru makin mempersatukan gereja dan mungkin memperkembangkan gereja Tuhan.

Makanya ada yang menafsirkan seperti ini, kekuatan luar itu adalah sesuatu yang sebenarnya tidak perlu terlalu ditakuti karena kekuatan dari luar atau aniaya dari luar tidak pernah bisa menghancurkan gereja Tuhan. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, pada waktu gereja ditindas, ditekan, dianiaya, dibunuh mungkin seperti itu, maka gereja akan makin berkembang dan makin tersebar secara luas dan makin bertumbuh. Tetapi yang paling perlu ditakutkan adalah sebenarnya ancaman dari dalam atau dosa yang ada di dalam gereja atau suatu kerusakan yang timbul di dalam tubuh Kristus itu yang akan menghancurkan dari gereja Tuhan.

Bapak, Ibu bisa lihat sebenarnya ini adalah suatu peristiwa yang berbicara berkenaan dengan hal itu makanya walaupun di bagian LAI kelihatannya Ananias dan Safira itu menjadi suatu perikop tersendiri yang terpisah dari pasal yang keempat, tetapi kalau Saudara perhatikan di dalam kata pertamanya di bahasa Inggris, kalimat yang digunakan itu bukan, “Ada seorang yang bernama Ananias,” tetapi kata yang digunakan adalah kata penghubung ‘tapi.’ “But a certain man named Ananias, with Sapphira his wife, sold a possession.” (King James Version). Jadi ini merupakan suatu kelanjutan dari pada pasal 4 ayat 32-37, dan di situ Lukas ingin mengkontraskan apa yang terjadi di dalam jemaat Tuhan pada waktu berita firman itu sedang bertumbuh dan berkembang begitu pesatnya.

Dan di sini kembali Petrus memberikan atau Lukas memberikan kepada kita apa yang ada di dalam kehidupan jemaat sebelumnya untuk sebelum mengkontraskan dengan apa yang terjadi di dalam pasal yang ke-5 di dalam peristiwa Ananias dan Safira. Di sini Lukas berkata ketika firman itu diberitakan, maka di dalam jemaat mereka dengan sehati dan sejiwa dan tidak seorangpun yang berkata bahwa sesuatu yang kepunyaannya adalah miliknya sendiri tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Ada beberapa hal yang timbul di dalam jemaat, yaitu pertama adalah kesatuan. Ada kesatuan hati, ada kesatuan jiwa yang terjadi di dalam jemaat Tuhan.

Saya percaya ini adalah unsur yang penting dari sebuah gereja yang sungguh-sungguh hidup di dalam takut akan Tuhan, kesatuan, bukan perpecahan. Karena Alkitab selalu menggambarkan kalau perpecahan itu bukan dari Tuhan tetapi dari iblis yang bekerja untuk membuat gereja Tuhan atau pekerjaan Tuhan itu terhambat di dalam dunia ini. Nanti kita akan lihat bagaimana Ananias dan Safira itu hatinya dikuasai oleh iblis yang mengakibatkan terjadinya perpecahan atau kerusakan relasi yang ada baik itu jemaat dengan jemaat dan jemaat dengan Tuhan Allah di dalam pasal yang ke-5 ini.

Tetapi kalau Tuhan yang bekerja, saya percaya Alkitab mengajarkan yang terjadi bukan perpecahan melainkan ada kesatuan di dalam gereja Tuhan dan itu kita bisa lihat di dalam misalnya 1 Korintus pasal 12 dan 14 ketika Alkitab berbicara berkenaan dengan karunia Tuhan, di situ Alkitab berkata walaupun umat Tuhan memiliki karunia yang berbeda-beda tetapi karena bersumber dari Roh Kudus yang sama yang memberikan karunia itu kepada masing-masing orang, maka yang harusnya timbul di dalam gereja bukan perpecahan tetapi kesatuan. Saudara juga bisa lihat itu di dalam Surat Efesus, di situ dikatakan hendaklah kamu berjalan sepadanan dengan rohanimu atau dengan imanmu dengan kehidupan sebagai manusia baru dan di situ ada kalimat kamu harus sehati sepikir di dalam Tuhan.

Saudara juga bisa lihat itu di dalam Filipi 2 ketika Paulus berbicara berkenaan dengan inkarnasi Yesus Kristus, Paulus berkata kita harus meneladani apa yang terjadi di dalam inkarnasi Kristus yang tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai sesuatu yang penting yang perlu dipertahankan tetapi Dia kemudian merendahkan diri dan menjadi manusia sama seperti kita dan bahkan naik ke atas kayu salib. Di situ ada dikatakan sehati sepikir. Kita perlu belajar hal itu dan kita perlu bertumbuh di dalam hal itu karena ini menjadi satu karakteristik dari Tuhan Allah kita yang adalah Allah Tritunggal sendiri dan saya percaya kalau gereja adalah gereja yang ditebus oleh Tuhan, maka akan ada karakteristik itu di dalam kehidupan gereja.

Tapi, Saudara kalau kita tanya lagi selain dari pada karakteristik itu dari Tuhan Allah, kenapa gereja harus memiliki karakteristik itu dan haruskah itu ada di dalam gereja? Saya percaya sebagai anak Allah yang menduplikasi Allah Bapanya, itu menjadi karakteristik yang harus ada yang membuktikan kalau kita adalah Anak Tuhan. Tetapi di sisi lain kalau kita mau bicara tentang suatu penjelasan yang bersifat theologis, maka Alkitab berkata setiap orang yang merupakan anak Allah, dia adalah orang-orang yang mendapatkan kasih karunia dari Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus dalam hidup mereka. Kalau ia adalah orang-orang yang memiliki kasih karunia di dalam Yesus Kristus dalam hidup mereka, itu akan membawa mereka masuk ke dalam suatu tahap berikutnya yaitu kerendahan hati di hadapan Tuhan dan suatu hati yang sungguh-sungguh bersyukur atas kasih karunia yang Tuhan limpahkan di dalam hidup mereka.

Nah ini di dalam KTB Pengurus Pemuda kita ketika bicara tentang predestinasi, R.C Sproul bilang predestinasi itu adalah sesuatu yang dia benci sekali sebelumnya karena itu seolah-olah membuat Tuhan menjadi jahat, menampilkan Tuhan sebagai pribadi yang jahat dan membuat manusia seperti seorang robot atau seorang boneka atau seorang yang pasif di dalam hidup dia. Ada 2 kemungkinan, robot, boneka, atau seorang yang begitu pasif dan itu bertolak belakang dengan tanggung jawab manusia. Dia begitu benci sekali akan hal itu karena Tuhan terlihat seperti itu. Tetapi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika dia makin mempelajari tentang predestinasi, dia sadar satu hal bahwa predestinasi bukan membuat Tuhan jahat, tetapi makin menyatakan kedaulatan dan belas kasih kemurahan atau kasih karunia di dalam kehidupan manusia yang berdosa. Dan itu membuat dia makin bersyukur kepada Tuhan, makin mencintai doktrin itu dan makin memuliakan dan bersukacita di dalam hidupnya kepada Tuhan Allah.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, orang yang mengerti kalau dirinya berdosa, Allah suci dan kudus dan berdaulat yang harus menghukum dosa manusia, maka dia akan mengerti kalau dia tidak memiliki hak untuk berkata di hadapan Allah, “Kenapa Engkau menghukum saya? Kenapa Engkau menolak saya? Kenapa Engkau mendatangkan bencana ini di dalam kehidupan saya?” Itu seperti yang dialami oleh Ayub ketika dia berdebat dengan Tuhan, “Mengapa aku adalah orang benar ini, aku yang selalu senantiasa taat kepada Tuhan kemudian ditimpakan malapetaka atau bencana kutukan ini dalam kehidupan saya sehingga membuat teman-teman saya berprasangka kepada saya menganggap saya adalah orang yang berdosa, orang yang munafik dan mereka kemudian mulai merendahkan dan menghina saya, menuduh saya?”

Tapi pada waktu dia berbicara seperti itu, maka Tuhan berkata kepada dia, “Ayub kamu tahu kamu hadir, tidak ketika Aku mencipta dunia? Kamu punya hikmat seperti hikmat yang Aku miliki, nggak? Kamu punya bijaksana seperti bijaksana yang Aku miliki, tidak? Kamu punya kekuatan, kuasa seperti yang aku miliki, tidak? Atau istilah lain, kamu mahatahu tidak, Ayub? Kamu mahakuasa, tidak? Kamu mahahadir, tidak?” Dan pada waktu itu Ayub langsung tertunduk, dia kemudian berkata aku mencabut perkataanku dari hadapan-Mu, aku yang tidak berpengertian seperti ini.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita menyadari siapa diri kita di hadapan Allah yang adalah pencipta kita, lalu bukan hanya menyadari diri kita adalah ciptaan, tapi menyadari kalau kita adalah ciptaan yang telah jatuh di dalam dosa dan telah rusak akibat dari pada dosa itu, dan bukan hanya sampai di situ, tapi kita lagi menyadari kalau orang yang ada di dalam dosa, haknya itu bukan hidup kekal dan keselamatan, tetapi hukuman dari Tuhan Allah secara kekal di dalam neraka, maka saya percaya ketika dia mendapatkan kasih karunia, yang ada di dalam hatinya adalah dia sangat bersyukur sekali dan dia berhutang Injil dan kebenaran kepada Tuhan yang telah mengasihi diri dia. Kita bisa lihat itu di dalam Surat Paulus ketika dia berbicara aku berhutang Injil baik kepada orang Yahudi dan orang Yunani, pada orang terpelajar dan orang yang tidak terpelajar untuk memberitakan Injil kepada mereka.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ini menjadi sikap hati dari orang yang mengerti anugerah. Makanya di dalam Matius 5 saya sering kali berbicara seperti ini, ciri pertama orang yang mendapatkan anugerah Tuhan dan masuk ke dalam Kerajaan Allah dia adalah orang yang merasa dirinya miskin atau menyadari dirinya miskin di hadapan Allah yang hanya bisa memelas dan meminta pertolongan dari Tuhan bagi diri dia, bukan merasa diri dia hebat dan berjasa di hadapan Tuhan yang membuat dia bisa mengklaim hal-hal tertentu di hadapan Tuhan atas jasa yang dia lakukan dan miliki yang dia telah buktikan di hadapan Tuhan. Tetapi yang ada adalah dia punya kerendahan hati yang datang kepada Tuhan memohon belas kasih Tuhan dalam hidup dia dan menyadari kalau hidup dia bisa menjadi seperti ini sebagai orang Kristen yang diselamatkan di dalam Kristus dan bisa ada di dalam suatu kondisi yang dipelihara itu semata-mata adalah karena kemurahan dan belas kasih dari Tuhan Allah dalam hidup dia. Bisa nggak sombong? Pasti tidak. Bisa nggak merasa saya adalah orang yang bisa suka-suka sendiri? Pasti tidak. Karena dia tahu nilai hidup dia ada di dalam Kristus. Dia berarti karena ada Kristus yang menjadi penebus dia.

Ada seorang ketika saya mengajar STRISKA bertanya kepada saya seperti ini, “Pak, kalau kita perhatikan antara Yesus dan diri kita, sebenarnya kasih Allah itu lebih besar kepada kita atau kepada Yesus Kristus?” Lalu saya bilang, “Kenapa?” “Karena bukankah Yesus itu dikorbankan mati di kayu salib untuk menyelamatkan diri kita? Jadi kasih Allah kepada siapa yang lebih besar? Kepada Yesus atau kepada kita?” Saya bilang kepada dia kayak gini, kalau lihat dari perspektif itu mungkin kelihatannya bahwa kasih Allah kepada kita lebih besar dari pada kasih Allah kepada Kristus karena Allah rela korbankan Kristus untuk diri kita. Oke. Tetapi, Saudara harus ingat satu hal. Allah bisa mengasihi kita dengan begitu besar karena ada Kristus yang mati bagi diri kita. Tanpa Kristus, Dia nggak akan menyatakan kasih-Nya yang besar itu kepada diri kita tetapi Dia akan menghukum dan membinasakan kita di dalam hukuman kekal. Itu yang Kitab Suci nyatakan.

Jadi pada waktu kita melihat kepada kasih Kristus yang rela mati di atas kayu salib, kita nggak pernah bisa berbicara kepada orang-orang seperti yang di dalam Kitab Roma berbicara kepada Paulus, bukankah orang-orang Yahudi itu adalah orang-orang yang dipotong dari cabang pohon yang sejati, pohon Zaitun lalu kami adalah orang-orang yang dicangkokkan kepada pohon Zaitun itu karena kami memiliki iman di dalam Kristus? Paulus berkata kepada mereka, baik kalau kamu berbicara seperti itu. Kamu merasa dirimu sombong, kan? Lebih baik dari pada orang-orang Yahudi kan? Kamu tahu kalau cabang pohon yang sejati itu saja Tuhan tidak sayang kan untuk dibuang, apalagi kamu yang cuma dicangkokkan di situ kalau kamu tidak setia dan tidak mentaati apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Saudara, jadi nggak ada tempat bagi kita untuk bisa menyombongkan diri, meninggikan diri. Yang ada adalah kita akan merendahkan diri di hadapan Tuhan karena kita telah menerima kasih karunia dari Tuhan, belas kasih dan kasih karunia dan mungkin saya bisa tambahkan kasih Allah di dalam hidup kita. Dan itu sebabnya pada waktu kita adalah orang yang mendapatkan kasih karunia Tuhan, maka hal berikutnya yang akan tumbuh di dalam hati kita adalah kasih, karena kita telah mendapatkan belas kasih di dalam hidup kita.

Makanya di dalam Efesus kalau Saudara lihat di dalam Efesus 3 ketika Paulus berdoa, Paulus berkata kita hendaknya meminta kepada Tuhan Yesus untuk berdiam di dalam diri kita bukan dalam pengertian ketika mereka sudah percaya kepada Kristus, ada suatu rentang waktu di mana Kristus belum berdiam di dalam diri mereka, lalu kemudian ketika mereka berdoa minta Kristus berdiam dalam diri mereka maka baru Kristus diam di dalam diri mereka, Alkitab tidak pernah berbicara seperti ini karena ketika seseorang bertobat, dilahirbarukan di situ Kristus diam di dalam diri mereka tetapi kalimat itu berarti bahwa kita meminta segala kuasa dan kebenaran Kristus, kesucian dan kekudusan Kristus, kasih Kristus itu diam di dalam diri kita dengan limpahnya yang sebelumnya sudah diam di dalam diri kita. Tetapi ayat berikutnya atau doa berikutnya adalah biarlah kasih Kristus yang begitu panjang, lebar, tinggi, dan dalam itu juga ada di dalam hidup kita. Jadi aspek berikutnya adalah kasih.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ini yang membuat adanya kesatuan. Orang yang tidak mau bersatu itu hanya menunjukkan kalau dia kurang kasih atau tidak memiliki kasih. Perpecahan diakibatkan karena kurang kasih atau tidak memiliki kasih. Tetapi kasih yang akan membuat suatu persatuan di dalam tubuh Kristus. Contohnya apa? Contohnya adalah di dalam kehidupan keluarga misalnya, antara relasi suami istri. Kalau saya tanya ada nggak keluarga yang tidak bermasalah?

Saya pernah cukup kaget ketika bertanya hal ini kepada satu orang lalu dia bilang kayak gini, “Keluarga saya tidak pernah ribut.” Begitu dia ngomong kalimat itu sempat saya dibikin shock, kaya gitu. Hah? Nggak pernah ribut? Anaknya yang mendengar langsung komplain semua. “Nggak seperti itu, Pak. Keluarga kami juga suka ribut, papa mama saya.” Baru dia kemudian ngomong, “Ya tetapi keributan di dalam keluarga kami tidak sehebat dari keributan di keluarga-keluarga yang lain.” Saya langsung ngomong, “Kamu tahu dari mana? Kamu pernah tahu nggak keluarga saya? Dan bagaimana sebagai seorang hamba Tuhan kalau ada ribut di dalam keluarga, sehebat apa keributan itu, kamu pernah tahu nggak? Kok kamu bisa klaim bahwa keluargamu keributannya paling kecil dibanding semua keluarga yang lain?” Tetapi di dalam aspek itu, saya mendapat satu pemahaman bahwa dia berusaha mempertahankan kesatuan di dalam keluarga dia.

Pertanyaannya adalah seperti ini, apa yang membuat ketika seorang suami dan istri ribut, mereka tetap hidup sampai kematian memisahkan? Apa? Kenapa ketika ada suami istri yang ribut, mereka bercerai? Tetapi ada suami yang ribut, tetapi mereka tetap bertahan sampai tua sampai kematian memisahkan. Yang membedakan apa? Selain dari pada penundukan diri kepada kehendak Tuhan, saya percaya cinta. Adanya kasih di antara suami istri itu, adanya suatu membangun perasaan yang mengasihi kembali dari perasaan benci atau sakit hati yang ada di antara satu dengan yang lain, itu membuat keluarga itu bisa bertahan sampai kematian memisahkan.

Jadi kalau ada keributan, ada perpecahan, saya percaya itu hanya menunjukkan kurang cinta dan kurang kasih di dalam relasi itu. Itu sebabnya di sini dikatakan, kenapa mereka memiliki kesehatian dan sejiwa? Karena mereka sungguh-sungguh mengalami cinta kasih Kristus dalam hidup mereka dan mereka berusaha menyatakan cinta kasih itu di dalam kehidupan mereka, buktinya apa? Buktinya adalah mereka melayani satu dengan yang lain dengan apa yang mereka miliki. Apa yang menjadi miliki mereka itu menjadi kepunyaan mereka bersama. Itu yang menjadi bukti kalau mereka adalah orang yang hidup di dalam kasih Kristus dan memiliki kasih yang dinyatakan kepada jemaat mereka yang membuat mereka ada di dalam kesatuan.

Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa sebuah gereja bisa bersatu? Kalau ada kasih di dalam gereja itu, khususnya kasih yang bersumber dari Kristus atau kasih Kristus, tetapi juga kasih itu kemudian harus dinyatakan di dalam kehidupan dari jemaat yang satu dengan yang lain, itu baru menimbulkan satu kesatuan di dalam gereja. Tetapi ada hal yang kedua juga yang penting yang menimbulkan kesatuan di dalam gereja adalah karena jemaat bukan hanya memikirkan apa yang menjadi kepentingan diri mereka sendiri, memikirkan apa yang menjadi kepentingan jemaat, tetapi mereka juga memikirkan apa yang menjadi mandat Tuhan yang harus mereka jalankan dalam hidup mereka, yaitu penginjilan.

Ini adalah dua hal yang dikerjakan oleh gereja mula-mula, satu sisi di dalam menyatakan cinta kasih di antara sesama orang Kristen, di sisi lain adalah kasih kepada orang-orang yang merupakan jiwa yang terhilang melalui mengabarkan Injil kepada mereka untuk mereka bisa mengenal Kristus dan yang bangkit dari kematian dan dibawa masuk ke dalam gereja di mana mereka berbakti bersama-sama dengan orang-orang yang sebelumnya sudah ditebus di dalam Yesus Kristus. Kalau gereja fokus kepada 2 hal ini, saya percaya, gereja akan bersatu. Kalau gereja fokus kepada 2 hal ini, saya percaya banyak sekali keributan yang bisa dihindarkan di dalam gereja Tuhan, dan itu terbukti di dalam gereja mula-mula ini.

Dan Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mungkin kita perlu masuk ke dalam satu aspek lagi, ketika kita berbicara berkenaan dengan kasih ini, Lukas memberikan 1 contoh, bagaimana jemaat Tuhan saling mengasihi, yaitu dengan memberikan persembahan, apa yang mereka miliki, kepada orang Kristen yang lain yang ada di dalam kebutuhan, karena mereka berkekurangan. Nah, pada waktu berbicara hal ini, saya waktu baca komentari, ada orang-orang yang berbicara seperti ini, ini adalah satu prinsip yang kelihatannya nggak bisa diterapkan lagi di zaman kita, mungkin ini adalah suatu idealisme daripada gereja mula-mula, seperti itu, yang belakangan kemudian tidak lagi dijalankan sampai pada zaman kita.

Dan ada yang berkata juga, ini mungkin kelihatannya adalah terjadi di tahun Yobel, tahun Yobel kalau Saudara baca di dalam Perjanjian Lama, itu adalah satu tahun di mana orang Israel tidak boleh bekerja, tetapi mereka harus melepaskan, atau bukan nggak boleh bekerja lah ya, tahun di mana mereka harus melepaskan saudara-saudara mereka yang ada di dalam perbudakan, itu adalah tahun Yobel. Dan itu sebabnya di tahun ini orang-orang Kristen kemudian, di dalam ketaatan mereka kepada hukum Tuhan, mereka kemudian menjual milik mereka, lalu mereka membagikan kepada sesama orang Kristen yang ada di dalam kekurangan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya, ini bukan yang menjadi atau semua itu bukan menjadi satu dasar yang membuat Lukas mencatat bagian ini. Tetapi di dalam pelayanan gereja, di dalam berjemaat, saya percaya prinsip yang ada di balik peristiwa ini adalah kasih dan pengorbanan diri untuk bisa melayani Tuhan melalui melayani sesama dari umat Tuhan, itu adalah unsur yang masih diterapkan sampai pada zaman kita saat ini. Saudara bisa lihat misalnya, ini dalam satu sisi bicara tentang mereka berbagi-bagi harta, tetapi Saudara boleh bandingkan, misalnya, di dalam Efesus 4:28 “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” Pada waktu kita berbicara berkenaan dengan pekerjaan, maka orientasi kita biasanya adalah saya bekerja untuk diri saya, saya mencari uang untuk saya bisa menikmati hidup, mencukupkan keluarga saya, lalu kala ada kelebihan dari uang yang saya tabung maka saya gunakan untuk kesenangan saya pribadi, kalau ada kelebihan lagi baru saya mungkin membagikan atau menolong orang lain yang ada di dalam kekurangan. Tapi Saudara, motivasi yang Alkitab ajarkan berkenaan dengan seseorang Kristen untuk bekerja adalah bukan untuk diri saja tetapi justru untuk orang lain, yang ada di dalam kekurangan.

Saudara boleh bandingkan dengan Kisah Rasul 20:35 “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Paulus bilang untuk apa kita bekerja? Untuk apa? Membantu orang-orang yang lemah, dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, lebih baik memberi daripada menerima. Saudara boleh buka satu bagian lagi dari Yakobus 2:18, “Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” Lalu ada bagian ayat bilang, kalau ada orang datang kepada kamu, lalu berkata saya kekurangan, saya butuh ini, Saudara akan lakukan apa, hanya doakan dia atau Saudara kasih bantuan itu? Yakobus bilang saya akan kasih bantuan itu kepada orang itu, bukan hanya bicara. Lalu Saudara boleh buka Yakobus 1:27 di sini dikatakan, “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”

Jadi, pada waktu kita berbicara berkenaan dengan kasih dan pertolongan yang diberikan kepada orang Kristen yang lain, Alkitab berkata justru kita punya keberadaan harus beda dengan orang-orang dunia, bedanya di mana? Kita punya tujuan di dalam kita bekerja, mencari nafkah, itu bukan hanya untuk kepentingan diri kita, tetapi juga menjadikan kebutuhan orang lain, atau kecukupan dari kebutuhan gereja, atau jemaat Tuhan yang ada di dalam kekurangan sebagai tujuan berikutnya untuk memenuhi apa yang mereka butuhkan. Dan itu harus terlihat di dalam kehidupan gereja yang sejati atau gereja yang sehat.

Nah mengapa ini menjadi tujuan? Kenapa kita harus memikirkan orang Kristen yang lain? Dan siapa yang menjadi orang Kristen yang lain itu yang perlu kita perhatikan? Saya percaya, itu bukan orang yang malas yang kita perlu perhatikan, karena Alkitab berkata jangan kasih makan orang yang malas di dalam gereja, tetapi orang yang sungguh-sungguh membutuhkan itu. Nah, kenapa kita perlu memperhatikan itu? Saya percaya Alkitab mengajarkan satu prinsip seperti ini ya, Alkitab mengajarkan apa yang menjadi milik, Alkitab tidak pernah mengajarkan komunisme, prinsip komunisme dalam pengertian tidak ada seorang pun yang memiliki sesuatu, semuanya adalah milik bersama, seperti itu. Tetapi yang Alkitab ajarkan adalah semua orang Kristen bisa memiliki sesuatu di dalam hidup mereka, Saudara bisa lihat itu di dalam ayat yang ke 32 tadi ya, “tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama,” memang ada di situ, tetapi di awalnya ada kalimat, “bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri,” dan mereka membagikan apa yang menjadi miliknya mereka itu kepada orang lain yang ada di dalam kekurangan.

Jadi Alkitab berkata kalau orang Kristen boleh memiliki sesuatu dan memang punya hak atas apa yang dimiliki dan dijaga oleh hukum Tuhan, misalnya di dalam 10 Perintah Allah, “Jangan mencuri,” itu menjaga kepemilikan dari diri kita, tetapi ada satu hal lagi yang sering kali dilupakan oleh orang Kristen adalah semua yang kita miliki itu adalah milik Tuhan yang diberikan bagi diri kita atau dipercayakan bagi diri kita untuk kita kelola. Contohnya di dalam Amsal ada kalimat susah payah tidak akan menambahkan kekayaan tetapi berkat Tuhan lah yang akan menambahkan kekayaan. Matius 6:33 ada kalimat berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Di dalam doa Bapa Kami ketika Saudara lihat memang ada bagian, “Berilah kami pada hari ini makanan yang secukupnya, jangan bawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskan kami daripada yang jahat, dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami,” tetapi bagian itu diapit oleh 2 hal yang penting yaitu utamakan Kerajaan Allah terlebih dahulu dan kehendak-Nya, dan kembalikan kemuliaan kepada Tuhan Allah, baru Tuhan pelihara hidupmu di tengah-tengahnya.

Jadi, di dalam prinsip ini saya percaya Alkitab mengajarkan kalau kita bisa diberkati Tuhan, dan berkat itu adalah sesuatu yang kita bisa kelola sebagai milik kita, tetapi jangan lupa kalau kita bisa mendapatkan berkat itu karena Tuhan yang memberikan berkat itu kepada diri kita. Karena Dia yang memiliki, tetapi ketika Dia memberikan berkat itu kepada diri kita, Alkitab juga tetap berkata Dia tetap memiliki segala sesuatunya. Saudara bisa lihat itu di dalam Mazmur, Alkitab berkata siapa yang perlu kasih tahu kamu kalau Aku ingin memberi makanan kepada binatang-binatang yang ada di padang, Aku nggak usah bicara kepada kamu karena semuanya ini adalah milik-Ku. Nah ini yang mungkin sering kali dilupakan atau tidak dipahami oleh orang Kristen sehingga ketika ia diberikan suatu kelebihan dibandingkan orang-orang lain, dia anggap ini adalah milik saya, hak saya untuk mengelola itu semua, benar, itu adalah hak kita untuk mengelola itu semua, tetapi dia lupa kalau dia diberikan lebih adalah untuk melayani, bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Dan itu diterapakan di dalam gereja mula-mula untuk hal itu.

Makanya kalau Saudara baca di dalam Kisah Rasul atau di dalam bagian lain dari Injil atau dari Surat Paulus, maka di situ dikatakan supaya terjadi keseimbangan di antara jemaat, tidak ada yang kekurangan, tidak ada yang kelebihan, tetapi semuanya ada di dalam kecukupan. Dan ini adalah satu prinsip bukan hanya di dalam Perjanjian Baru, tetapi itu sudah diterapkan di dalam Perjanjian Lama, di dalam Kitab Musa. Ulangan 15:6 “Apabila Tuhan, Allahmu, memberkati engkau, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, maka engkau akan memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak akan meminta pinzaman; engkau akan menguasai banyak bangsa, tetapi mereka tidak akan menguasai engkau.” Itu berarti, Israel ada di dalam kecukupan, tidak ada yang miskin, tidak ada yang kekurangan di tengah-tengah mereka karena Tuhan memberkati mereka.

Cara memberkatinya bagaimana kalau Saudara teliti lagi di dalam Kitab Musa, maka di situ ada hal-hal yang menjadi pengaturan di mana orang miskin punya kehidupan bisa begitu terpelihara dan orang kaya tidak bisa makin seenaknya sendiri. Contohnya, kalau Saudara perhatikan di dalam Kitab Rut, Rut bisa panen ladang itu kenapa? Karena ada hukum Musa yang mengatur pemilik ladang tidak boleh tuntas habis memanen ladang mereka. Kalau Saudara baca lagi ketika orang panen buah anggur atau buah-buahan di dalam kebun mereka, mereka tidak boleh habiskan dan mereka harus sisakan untuk orang miskin bisa makan di situ. Kalau ada orang yang menjual diri mereka sebagai budak, maka di tahun Yobel mereka harus bebaskan budak itu sebagai orang merdeka, dan mereka tidak boleh menuntut dia menjadi seorang yang terus harus bekerja bagi diri dia, kecuali kalau mereka rela untuk melakukan itu.

Jadi ada pemeliharaan ini, ada hukum ini yang Tuhan atur di dalam umat Tuhan, dan saya percaya prinsip ini juga diteruskan di dalam gereja mula-mula dan seharusnya diterapkan di dalam kehidupan gereja kita sampai saat ini. Pada waktu kita melayani, pada waktu kita beribadah kepada Tuhan, waktu kita dikaruniakan dengan kekayaan, untuk apa? Ingat saudaramu yang lain yang ada di dalam kekurangan. Saya bersyukur tadi, Pak Taufik di awal khotbah dia berkata kepada saya, ketika dia samperin, “Pak, itu di antara kita ada yang namanya orang tuanya Pak Wahyu dan Fani itu rumahnya kebakaran. Gimana Pak, gereja perlu kasih diakonia tidak?” Saya senang kalau ada pengurus punya inisiatif seperti ini karena itu adalah hal yang, saya percaya, satu pelayanan yang harus dijalankan oleh gereja. Waktu itu saya bilang boleh dan gimana kalau ada teman-teman yang lain mau bicara? Boleh, tapi saya sungkan untuk umumkan kepada semua anggota gereja, ya mungkin ada orang-orang yang tergerak saja yang bisa berbagian di dalam hal itu.

Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, gereja kita punya diakonia, gereja kita menjalankan bagian ini untuk memperhatikan jemaat kita yang ada di dalam kesulitan. Kalau Bapak, Ibu ingin berbagian di dalam situ, silahkan menghubungi pengurus atau memberikan persembahan di dalam kantong ke-2 yang berbicara tentang diakonia, itu menjadi satu tugas yang saya percaya gereja harus jalankan. Bukan hanya penginjilan, tetapi memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan dari jemaatnya, supaya semuanya terpelihara.

Tetapi Saudara, ini juga bukan hanya bicara dipukul rata, ketika diberikan itu, tetapi diberikan berdasarkan kebutuhan masing-masing orang. Jadi, ketika seseorang menerima persembahan, saya percaya, di situ jemaat yang menerima persembahan, dia tidak pernah boleh berkata itu hak saya. Karena ada faktor sesuai dengan kebutuhan masing-masing, dan ada faktor bahwa yang dipersembahkan itu adalah milik orang Kristen yang lain, yang merelakan diri untuk memberi persembahan itu. Sehingga kita tidak pernah boleh memiliki mentalitas sebagai seorang pengemis yang berpikir bahwa yang lain yang lebih butuh, yang lain yang lebih mampu harus menolong saya, dan bahkan saya menuntut orang yang lebih mampu untuk menolong saya, kalau dia tidak menolong dia adalah orang Kristen yang tidak baik dan dia mulai memaki-maki.

Saya sering kali didatangi oleh orang yang mengatasnamakan Kristen untuk ‘menodong’ saya untuk memberikan persembahan. Ada yang ngomong, “Pak, saya di gereja anu, orang Kristennya kurang, ini banget, ngomongnya kasih, ngomongnya harus saling memperhatikan satu sama lain, tetapi ketika saya ada di dalam kesulitan saya datang kepada mereka, bicara minta tolong, nggak ada yang mau mengulurkan tangan untuk menolong saya.” Dia ngomongnya di hadapan saya, itu artinya apa? Itu artinya dia minta bantuan saya kan? Ada orang yang Kristen yang lain bilang, “Pak, saya adalah orang Kristen, saya kerja di sini, setelah sekian lama tapi keluarga saya ada di dalam kesulitan dan segala macam,” kayak gitu, minta bantuan, bisa ganti-ganti nama, bisa ganti-ganti pekerjaan, bisa ngomong kaya gitu.

Kita sebagai orang Kristen, saya percaya, nggak bisa seperti itu ya. Kita nggak boleh memiliki mentalitas pengemis dan menipu orang lain untuk kepentingan diri kita. Dan saya percaya bagian ini bukan berarti bahwa kita terus menerima bagi orang yang tidak mampu, karena apa? Karena ada kalimat yang berkata semua mereka itu melakukan hal yang sama, apa yang mereka miliki bisa mereka bagi kepada orang yang lain. OK, Saudara mungkin dari sisi uang saat ini Saudara ada di dalam kelemahan, tapi Saudara punya kelebihan nggak yang bisa dibagikan kepada orang lain? Saya percaya kalau itu adalah mentalitas penipu maka kita akan melihat bahwa saya yang harusnya diperhatikan terus, saya yang menjadi fokus, kalau saya tidak diperhatikan saya adalah korban, tetapi saya tidak perlu memberkati orang lain. Gereja Tuhan yang mendapatkan kasih karunia Tuhan harus saling memberkati, harus saling memperhatikan, nggak pernah bisa yang hanya menerima terus dari orang lain tanpa memperhatikan keberadaan dan kehidupan dari jemaat yang lain, kebutuhan dari jemaat yang lain. Maka yang saya di awal tadi bilang, orang Kristen yang betul-betul mengerti firman Tuhan, dia tidak mungkin berbakti secara individualis, tetapi dia harus datang secara kolektif untuk bersekutu di hadapan Tuhan, karena dia nggak mungkin bisa jadi orang Kristen sendiri dan orang Kristen yang baik di dalam hal itu. Karena di dalam prinsip kasih, dia sendiri sudah tidak bisa lakukan itu dalam hidup dia.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita perlu memperhatikan satu dengan yang lain, tapi hal lainnya yang sering kali kita yang harus kita perhatikan juga adalah seperti ini, pada waktu kita memberi, kita beri ke siapa? Itu penting. Saya pikir kita nggak selesai bahas ini semuanya, waktunya sudah ini, kita beri kepada siapa? Ada orang Kristen yang punya prinsip seperti ini, saya akan keluarkan berapa pun uang yang dibutuhkan selama saya tahu tujuannya untuk apa. Misalnya kalau gereja butuh layar monitor, kita ngomong ke satu orang, dia akan langsung cepat-cepat keluarkan uang untuk beli layar monitor, atau kalau dia liat gereja tidak punya layar monitor dan nggak ada orang yang bicara sama dia, tapi dia lihat gereja butuh layar monitor, dia akan cepat-cepat belikan layar monitor untuk gereja gunakan. Ada orang yang ketika memberi, itu memberi atas dasar dia melihat ada kebutuhan baru dia beri, kalau dia tidak lihat ada kebutuhan dia tidak mau beri.

Ada orang yang memberi perpuluhan sering kali ngomong sama saya seperti ini, “Pak, saya boleh tidak memberikan perpuluhan saya ke gereja yang lain?” Saya langsung ngomong, “Di mana kamu berbakti, harusnya kamu beri perpuluhan di situ, bukan di gereja yang lain.” “Tapi gereja itu banyak uang, sedangkan gereja yang lain itu kekurangan?” Ketahuan kan motivasinya, saya memberi karena saya merasa itu adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh gereja yang lain, tapi kalau di dalam gereja ini pemberian saya nggak ada artinya sama sekali. Makanya ada orang-orang ketika memberikan sesuatu, mereka punya prinsip adalah saya memberi kalau gereja butuh saya memberi, kalau saya tahu itu uang saya tidak di sia-siakan tetapi digunakan untuk suatu keperluan tertentu yang saya tahu untuk apa itu.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab tidak pernah mengajarkan prinsip ini. Karena apa? Karena di balik daripada prinsip itu ada satu pride yang sedang dibangun, ada satu selfishness, keegoisan yang sedang dibangun, yang menganggap diri dia penting dan berjasa ketika dia memberi sesuatu, kalau dia tahu ada kebutuhan dan dia hanya memberi kalau ada kebutuhan itu. Yang Alkitab ajarkan di sini adalah pada waktu jemaat Tuhan melihat keadaan di dalam jemaat, mereka membawa persembahan dan diletakkan di bawah kaki rasul untuk dikelola oleh rasul demi untuk kebutuhan seluruh daripada jemaat sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Jadi ini adalah prinsip pada waktu engkau memberikan persembahan, nggak usah pikirin ini uang untuk apa. Ya bukan nggak totally nggak mikir seperti itu ya. dalam pengertian kenapa saya bilang nggak usah pikirin uang ini untuk apa, maksudnya nggak usah pikirin apakah uang saya itu akan digunakan sesuai dengan apa yang saya anggap penting atau tidak, begitu, tetapi Saudara perlu percaya untuk memberikan uang persembahan itu kepada gereja untuk pengurus gereja kelola itu demi untuk pelayanan Tuhan. Itu prinsip Alkitab. Dan tentunya di balik itu Saudara juga tidak bisa memberikan persembahan kepada sembarang gereja, Saudara harus berada di dalam satu gereja yang memang mendidik Saudara di dalam iman dan kebenaran, dan Saudara bisa bertumbuh di dalam situ, dan Saudara melayani di dalam situ, dan Saudara harus berbagian dan memikirkan pelayanan gereja di situ. Tapi kalau Saudara sudah berada di situ, Saudara harus bisa percaya kepada pengurus gereja yang ada dan menyerahkan untuk dikelola untuk kepentingan pelayanan. Makanya memilih gereja itu penting, tahu visi dari gereja itu penting, apa yang menjadi titik berat dari pelayanan gereja itu penting, apa yang menjadi pengakuan iman dari gereja itu penting, baru kita bergabung di situ, dan Saudara bisa dengan leluasa mendukung pelayanan dari gereja itu. Tapi sekali lagi jangan biasakan untuk memacu ego kita di dalam kita memberi persembahan karena Tuhan tidak suka itu. Itu yang terjadi di dalam Ananias dan Safira.

Saudara boleh buka Amsal 15:8 “Korban orang fasik adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi doa orang jujur dikenan-Nya.” Saudara, kita bisa memberi persembahan sebenarnya bukan dari hati yang tulus dan suci tetapi justru dari hati yang begitu egois dan penuh dengan kepemilikan diri sendiri yang disebut dengan istilah munafik. Saya masuk sedikit saja di Ananias dan Safira ya. Apa yang menjadi dosa Ananias dan Safira? Dosanya bukan menahan sebagian dari persembahan yang mereka berikan kepada Tuhan atau diletakkan di bawah dari kaki Petrus. Tetapi yang menjadi masalah adalah ketika mereka berjanji di hadapan Tuhan, mungkin karena mereka didorong oleh tindakan Barnabas yang memberikan seluruh daripada hasil penjualan ladangnya, mereka kagum dengan tindakan Barnabas ini dan mereka melihat bahwa Barnabas mendapat satu pengakuan di dalam gereja yang begitu tinggi sekali di antara orang-orang Kristen dan mereka ingin memilikinya atau mengalami itu sehingga mereka kemudian berbicara di dalam keluarga, “Gimana ya kalau kita ada tanah kan, kita jual, kita persembahkan, dan uang hasil dari penjualan kita persembahkan bagi Tuhan? Gimana Safira?” Mungkin pada waktu itu Safira bilang, “Oke boleh, suamiku, kita persembahkan untuk Tuhan ya.” Lalu mereka hadap kepada Petrus, hadap kepada seluruh jemaat, mereka berkata, “Kami ada sebidang tanah, kami akan jual dan kami akan berikan seluruh hasil penjualan kepada gereja.” Artinya mereka membuat suatu janji iman atau mereka membuat suatu nazar.

Dan pada waktu itu setelah mereka menjual itu, ada yang mengatakan seperti ini, “Mungkin mereka baru pikir uangnya banyak ya. Sayang kalau kita berikan semua. Sebagian kita tahan deh untuk kepentingan diri kita.” Tapi istrinya mungkin ngomong gini, “Bukankah kita sudah bilang di hadapan Petrus dan seluruh jemaat kalau kita mau berikan seluruh hasil persembahannya?” “Kalau kita nggak ngomong,” suaminya mungkin ngomong, “nggak ada yang tahu kok. Jadi kita kasih saja sebagian dari hasil penjualan itu kepada Tuhan, kepada gereja-Nya, yang sisanya kita simpan. Dengan begitu itu kan bijaksana, satu sisi kita dapat pengakuan dari seluruh jemaat dan rasul, tapi di sisi lain kita ada uang yang kita bisa pegang untuk diri kita.” Saudara, mungkin ada pembicaraan seperti itu. Lalu istrinya ngomong, “Iya, ide yang bagus ya, kita bawa kepada Petrus.”

Tapi Saudara, pada waktu mereka bawa kepada Petrus, mereka lupa Tuhan tahu lho. Mereka lupa kalau persembahan itu bukan mereka berikan kepada seorang manusia, tetapi semua persembahan yang mereka nazarkan di hadapan Tuhan itu mereka berikan di hadapan Tuhan untuk pekerjaan Tuhan. Dan pada waktu itu Tuhan melalui Petrus mengumumkan, “Apakah ini semua hasil daripada penjualan itu?” Mereka bilang iya. Dan seketika itu Petrus bilang, “Kenapa kamu mendustai Roh Kudus? Mendustai Allah?” Dan mereka mati. Nah di dalam bahasa yang digunakan itu ada satu penghakiman yang Tuhan berikan kepada jemaat. Makanya mereka mati. Bukan karena Petrus ingin mereka mati tapi Tuhan melalui Petrus menyatakan hukuman secara langsung kepada Ananias dan Safira. Kenapa? Karena mereka adalah orang yang munafik. Mereka adalah orang yang di depan jemaat bilang aku berikan semua tetapi di dalam hati mereka menahan supaya mereka dihormati dan diakui sebagai orang yang rohani seperti Barnabas yang rohani itu. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Tuhan benci orang seperti ini.

Makanya di dalam surat Petrus kalau Bapak, Ibu, baca, 1 Petrus bagian akhir-akhir, kayaknya Petrus mengingat peristiwa ini lalu dia ngomong kayak gini, penghakiman Tuhan itu dimulai dari mana? Jangan kira penghakiman Tuhan itu dimulai dari dunia, tetapi penghakiman Tuhan itu dimulai dari dalam gereja, dan kalau andaikata orang-orang Kristen sendiri sulit, hampir-hampir tidak lewat dari penghakiman itu, bagaimana nasib orang dunia yang di luar gereja Tuhan? Saudara, jangan pikir kalau kita adalah anak Tuhan maka Tuhan akan memberikan kasih karunia-Nya, maka Dia akan berkompromi dengan diri kita. Ini adalah satu hal yang ironis sekali kalau kita bandingkan dengan nama atau arti nama dari Ananias dan Safira. Ananias itu adalah Tuhan yang berkemurahan, God is gracious. Safira itu adalah beautiful atau cantik. Mereka di hadapan jemaat mungkin terlihat sebagai orang yang begitu penuh dengan kebaikan, begitu mengasihi Tuhan, begitu penuh dengan kemurahan, tetapi Saudara, di hadapan Tuhan, mereka adalah orang-orang yang hanyalah penipu dan ingin meninggikan diri sendiri, dan mereka memberikan persembahan bukan untuk Tuhan tapi untuk nama mereka sendiri, dan Tuhan kemudian menghajar mereka.

Ini bukan satu-satunya peristiwa lho. Ada peristiwa lain kalau Saudara lihat di dalam surat Korintus, ada dua peristiwa dicatat di situ, pertama Tuhan menghukum orang yang percaya kepada Tuhan, yaitu satu ketika jemaat menerima perjamuan dengan sembarangan, Tuhan memberikan ada kelemahan di tengah-tengah mereka dan tidak sedikit yang mengalami kematian. Yang kedua adalah ketika ada seorang jemaat yang hidup di dalam perzinahan, Paulus berkata, “Kenapa kamu biarkan orang itu? Lebih baik kita serahkan tubuhnya kepada iblis tapi jiwanya diselamatkan.” Artinya adalah kalau kita berbicara kenapa Ananias dan Safira bisa memberikan seperti ini lalu mengalami kematian? Kematian mereka tidak membuktikan atau tidak bisa dijadikan dasar berkata mereka orang Kristen palsu. Mereka bisa merupakan orang Kristen sejati, mereka bisa sungguh-sungguh adalah anak Allah, tetapi mereka memelihara hati yang berdosa dan hati yang penuh dengan keinginan duniawi di dalam diri mereka, dan Tuhan menghajar mereka.

Saudara jangan pikir kalau saya adalah anak Tuhan Allah yang sejati, saya punya hidup akan dipelihara oleh Tuhan. Kalau engkau hidup memuaskan kedaginganmu walaupun engkau adalah anak Tuhan yang sejati, Tuhan mungkin akan berkata sudah cukup waktunya engkau tinggal di dalam dunia ini ya. Kamu di dalam dunia di dalam gereja juga tidak menjadi berkat kok. Kamu justru menyesatkan dan merusakkan gereja karena itu Aku cabut saja engkau dari dunia ini. Supaya apa? Menjadi peringatan bagi orang Kristen yang lain supaya tidak hidup di dalam dosa dan macam-macam. Allah kita adalah Allah yang suci, Allah kita adalah Allah yang kudus, dan Dia menjaga kesucian dan kekudusan-Nya itu di dalam integritas dari gereja punya atau orang percaya tubuhnya yang ada di dalam dunia ini. Kalau Saudara berani bermain-main dengan kesucian dan kekudusan Tuhan, lihat saja kalau nanti Tuhan akan hajar engkau. Saudara, Tuhan akan jaga itu karena gereja menjadi tempat di mana nama Dia dinyatakan. Kalau Dia adalah Allah yang suci, gereja hidup di dalam dosa dan gereja klaim mereka adalah gereja yang beribadah kepada Tuhan, saya percaya orang akan lihat itu, Allahmu bukan Allah yang suci kok tetapi Allah yang berdosa. Kalau engkau klaim Allahmu itu adalah Allah yang penuh cinta kasih tapi engkau hidup dalam kebencian, engkau hanya mengklaim kalau Allahmu itu penuh dengan kedengkian. Gereja menjadi saksi itu.

Dan Saudara, saya bersyukur karena ini adalah sesuatu yang dicatat di dalam gereja mula-mula. Maksudnya adalah pada waktu kita bicara tentang gereja yang baik yang sehat itu seperti apa, maka kalau Tuhan tidak pernah masukkan Kisah 5, kita akan pikir bahwa gereja yang baik itu adalah di dalam Kisah 4:32 dan di dalam Kisah 2, itu menjadi idealnya gereja, dan gereja harus mencapai itu, dan gereja bisa mencapai itu tanpa ada kelemahan sama sekali. Tetapi bersyukurnya adalah Tuhan memasukkan Kisah 5 itu berarti di dalam gereja, sampai hari ini, sampai Yesus Kristus datang kedua kali akan terdapat orang-orang munafik yang datang dan berbakti kepada Tuhan. Bentuknya mungkin tidak sama seperti Ananias dan Safira tetapi bisa hal yang berbeda dalam bentuk adakah Saudara pernah berjanji di hadapan Tuhan untuk melakukan sesuatu tapi Saudara tidak lakukan itu? Adakah Saudara berjanji untuk memberikan satu persembahan atau janji iman kepada Tuhan tetapi Saudara tidak penuhi itu dan nggak ada orang yang tahu karena Saudara tidak mencantumkan nama kok di situ. Tapi Tuhan tahu. Saudara, Tuhan benci itu.

Jadi adanya peristiwa ini, itu menunjukkan sebaik-baiknya sebuah gereja, tetap ada cacatnya dan kelemahannya. Nggak ada gereja yang sempurna di bawah kolong langit ini. Kalau mau gereja yang sempurna, nanti pada waktu kita bertemu dengan Kristus kedua kali, baru itu akan sempurna. Makanya Charles Spurgeon itu berkata seperti ini, ada satu jemaat yang datang kepada diri dia bilang gini, “Saya mau pindah gereja.” “Lho kenapa?” “Karena gereja ini tidak sempurna. Saya ingin cari gereja yang sempurna, yang baik. gereja ini penuh dengan kelemahan, saya mau pindah.” Charles Spurgeon seorang yang sangat frontal sekali dia ngomong kayak gini, “Baik tapi saya pesan seperti ini, nanti kalau kamu sudah bertemu satu gereja yang sempurna, tolong kamu jangan masuk jadi anggotanya.” Karena itu membuat gereja itu jadi tidak sempurna dengan kehadiran orang itu. Saudara, nggak ada gereja yang sempurna. Termasuk gereja kita.

Saya ambil kutipan James Montgomery tetapi saya terapkan dalam diri saya ya. James Montgomery berkata seperti ini, “Saya sangat khawatir sekali tiap kali orang berkata dia sudah menemukan gereja yang baik, yang sempurna – yaitu gereja di mana dia melayani – karena andaikata satu waktu untuk mengenal gereja itu lebih baik lagi secara mendalam, apakah itu satu bulan, dua bulan, tiga bulan, atau satu tahun seperti itu, kemungkinan besar dia adalah orang yang akan kecewa dengan gereja itu. Ketika orang lain berbicara berkenaan dengan gereja ini adalah gereja yang sempurna dan baik, keberadaan saya menjadikan gereja ini tidak sempurna.” Saya mau ngomong itu juga saya. Keberadaan saya itu mungkin membuat suatu cacat di dalam gereja karena tidak ada gereja yang sempurna. Tapi ini kalimat bukan membela diri ya. Saya mau bicara tentang satu realita yang Saudara harus bisa hadapi di dalam pergumulan gereja. Tetapi justru di tengah-tengah cacat kelemahan yang ada di dalam gereja, di situ justru Tuhan gunakan dalam bijaksana-Nya untuk membentuk iman kita, karakter kita, kasih kita kepada Kristus seperti kita mengasihi orang-orang yang ada di dalam gereja Tuhan.

Saya waktu persiapkan bagian ini saya bicara sama istri saya lalu saya ngomong kayak gini, ini saya koneksikan dengan khotbah di Masterclass kemarin sedikit, saya pakai istilah pencitraan, “Pencitraan, kita boleh nggak memberikan satu pencitraan dalam hidup kita?” Boleh nggak? Setuju nggak? Kayaknya pencitraan itu negatif sekali ya. Kalau bicara tentang politik, orang memberikan satu pencitraan kepada baik tetapi dia tidak seperti itu karena dia adalah orang yang munafik. Saya percaya pencitraan itu adalah hal yang penting dalam hidup kita. Mau orang berdosa memberikan satu pencitraan apa dan anak Tuhan mau memberikan satu pencitraan apa dalam hidup dia itu menjadi unsur yang penting. Tapi Saudara, pada waktu engkau memberikan satu pencitraan, pernah nggak berpikir kalau andaikata namamu itu adalah bagian di dalam Kitab Suci ini, kalau andaikata Kitab Suci masih ditulis, dan saya percaya di sorga masih ditulis apa yang menjadi perjalanan hidupmu, kira-kira apa yang Tuhan catat tentang hidupmu di dalam buku-Nya? Dosa apa yang Dia catat yang Dia ingin jemaat tahu? Kalau mau bilang, “Nggak ada saya sempurna,” itu bohong karena Alkitab bilang nggak ada orang Kristen yang sempurna yang tidak berdosa. Tetapi paling tidak di dalam bagian hidup kita, kita ada satu perjuangan untuk membuat orang ketika melihat diri kita, Tuhan ketika melihat diri kita, Dia melihat ini adalah anak-Ku yang aku berkenan kepada dia. Ananias dan Safira dicatat di dalam sejarah gereja mungkin mereka orang Kristen yang baik tapi dicatat sebagai orang yang munafik yang berbohong di hadapan semua jemaat untuk jadi pelajaran. Kita mau nggak jadi orang seperti itu? Atau yang berbeda?

Tapi pada waktu berbicara seperti ini saya berpikir mungkin kebanyakan dari orang Kristen yang tidak punya standar harus menjadi orang Kristen yang seperti apa, tidak punya gambaran saya mau dilihat oleh orang sebagai orang Kristen seperti apa, ini bukan dalam pengertian munafik tapi luar dan dalam itu sama, supaya nama Tuhan dinyatakan dan dimuliakan dalam hidup kita. Saya percaya kita harus punya tujuan itu, kita harus punya satu standar saya harus dilihat Tuhan dan manusia seperti orang yang seperti apa atau sebagai orang Kristen yang seperti apa? Kalau nggak kita akan jalan seperti apa adanya, kita tidak punya disiplin, kita tidak punya tujuan, kita tidak bisa jadi berkat tapi yang ada adalah kita terus menuntut berkat orang bagi diri kita. Dan setiap kali kita ada sesuatu kita akan komplain dan melihat diri sebagai korban, bukan belajar untuk memberi tapi belajar untuk menerima terus. Tuhan lebih suka kita belajar bertumbuh di dalam kasih-Nya karena keberadaan kita yang adalah gambar Allah itu mencerminkan siapa Allah yang kita sembah, yang kita wakilkan, yang Dia wakilkan di dalam hidup kita ini.

Terakhir, Saudara, Ananias dan Safira ini juga menjadi satu contoh atau peringatan di dalam kehidupan keluarga. Ada orang yang kembali membuat semacam satu cerita kayak gini, kayaknya pada waktu tadi yang saya kutip sedikit, Safira mendengar peristiwa ini, apakah Safira atau suaminya ya pokoknya antara dua itu, berbicara atau mencetuskan ide untuk menahan satu bagian daripada persembahan itu dan tidak menyerahkan selurunya, yang lain setuju, ini harus menjadi satu peringatan dalam keluarga. Ketika kita membangun keluarga, keberadaan pasangan itu harus menjadi orang yang memberi peringatan kepada pasangan satunya kalau pasangan satunya itu ada di dalam dosa. Keberadaan pasangan kita atau keberadaan diri kita dalam relasi dengan pasangan kita tidak pernah boleh menjadi pendukung suatu perbuatan dosa.

Ingat baik-baik, kalau kita menjadi pendukung perbuatan dosa, maka kita punya keluarga akan dihukum oleh Tuhan, saya dan istri saya, suami dan istrinya akan dihukum oleh Tuhan. Tapi bangun sebuah keluarga itu adalah membangun satu keluarga yang kudus di hadapan Tuhan, dan kekudusan itu berbicara berkenaan dengan masing-masing harus mengingatkan pasangannya kalau pasangannya berdosa supaya pasangan tidak terus hidup di dalam dosa dia. Ananias dan Safira ada yang berkata mungkin mereka adalah sebuah keluarga yang baik. Ananias mungkin adalah seorang suami yang baik sekali yang memperhatikan istrinya, memperhatikan kebutuhan keluarganya, karena dia lebih memilih mejaga sebagian dari hartanya demi kebutuhan istrinya itu. Mungkin karena high maintenance itu ya. Tapi Saudara, akibatnya apa? Di hadapan Tuhan dia bukan jemaat yang baik. Tuhan hukum dia. Kebaikan di hadapan manusia itu nggak ada artinya kalau engkau tidak baik di hadapan Tuhan.

Jadi mari kita sama-sama belajar ketika kita melayani Tuhan kita melayani dengan hati yang tulus, hati yang jujur, hati yang tidak menyimpan kebohongan atau kemunafikan. Ada orang yang mendefinisikan munafik itu kayak gini, di mulut bicara hal rohani, di hati hatinya adalah penuh hal-hal duniawi atau kedagingan. Itu adalah munafik. Apa yang Saudara tampilkan di depan kalau berbeda dengan dirimu itu munafik. Apa yang kau perlihatkan di gereja hari Minggu kalau itu berbeda dengan hari Senin sampai Sabtu itu munafik. Apa yang engkau janjikan di hadapan Tuhan kalau engkau tahan sebagian itu munafik. Kiranya Tuhan boleh menolong kita dan kiranya Tuhan boleh terus menguduskan gereja-Nya untuk makin sempurna dan makin berkenan di hadapan Dia. Mari kita masuk dalam doa.

Kami kembali berdoa bersyukur Bapa untuk satu peringatan yang Engkau boleh berikan kepada gereja-Mu di Kisah Rasul 4 dan 5. Kiranya engkau boleh tolong kami ketika kami berjalan di dalam dunia ini, kami boleh menyadari satu hal, kami adalah orang-orang yang telah Engkau tebus untuk menjadi satu kesaksian di tengah-tengah dunia untuk menyatakan nama-Mu, kebenaran-Mu, kasih-Mu, kuasa-Mu melalui kehidupan kami. Tolong pimpin gereja-Mu ini ya Tuhan walaupun gereja-Mu bukanlah sebuah gereja yang sempurna karena tidak ada gereja yang sempurna di dalam dunia ini tetapi paling tidak Engkau boleh memimpin dan menyertai gereja-Mu ini untuk menjadi sebuah gereja yang terus bertumbuh di dalam kasih Kristus dan kebenaran Kristus dan juga di dalam cinta terhadap jiwa sehingga mereka atau gereja-Mu ini terus boleh menjadi saksi Tuhan dan alat Tuhan yang Engkau pimpin dan Engkau berkati dan Engkaunyatakan buah di dalam pelayanan gereja ini. Kembali kami berdoa bersyukur kiranya Engkau boleh tolong. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *