Menjinakkan Lidah (2), 20 November 2022

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di negara Indonesia ini kita bersyukur punya salah satu pulau yang cukup besar di dunia ini, seluruh alam semesta ini, salah satunya adalah pulau Kalimantan. Dan pulau Kalimantan adalah salah satu pulau yang juga memiliki hutan yang luas dan lahan kosong yang banyak sekali. Kita mungkin berpikir bahwa hutan yang banyak dan lahan kosong yang melimpah berarti itu suatu kondisi yang indah, suatu kondisi yang udaranya bersih, suatu yang nyaman dan juga enak seperti itu ya. Namun ketika kita melihat perspektif dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mereka mengemukakan bahwa kebakaran hutan dan kebakaran lahan gambut di Kalimantan Barat itu mencapai 13,300 hektar sepanjang tahun 2021. Jadi kebakaran itu bukan terjadi satu hari atau dua hari seperti di kota atau di desa, tetapi kalau kebakaran hutan terjadi itu bisa terjadi sepanjang tahun; bisa berhari-hari, terus kemudian padam, terus kemudian berapa lama kemudian muncul lagi kebakaran yang menimbulkan kerugian yang begitu besar di hutan tersebut. Jadi kebakaran terus terjadi sepanjang tahun 2021 saja sudah mencapai 13,300 hektar. Dan juga pemerintah belum memiliki solusi yang efektif, efisien dalam mencegah kebakaran hutan. Kebakaran hutan itu terjadi karena apa? Entah karena ada orang yang membakar lahannya atau membakar sampah tapi kemudian secara sembarangan sehingga api itu menyebar ke tumbuhan-tumbuhan dan hutan pun menjadi kebakaran. Entah juga karena musim kemarau yang berkepanjangan sehingga hutan itu panas dan sangat mudah ketika ada api bisa menyebar. Lahan dan hutan yang luas bukan berarti tenang dan tanpa masalah tetapi juga banyak resiko. Bukan saja resiko yang kecil melainkan resiko-resiko yang begitu besar.

Sulit untuk memantau dan menanggulangi masalah jika lahan dan hutan itu begitu luas. Dan jika ada api kita tidak tahu di mana api itu ada dan sudah menyebar sampai ke mana. Namanya juga hutan ya, lahan yang begitu luas, bagaimana manusia secara umum untuk bisa mencegah atau memantau seluruh hutan tersebut. Itu bukanlah hal yang mudah. Nah inilah hal yang dihadapi oleh pemerintah. Pemerintah menghadapi permasalahan yang sulit mengenai kebakaran hutan yaitu bagaimana mencegah api itu muncul. Berarti harus menjaga hutan tersebut, ada yang patroli, ada yang menyusuri hutan secara rutin, dan lain-lain. Dan juga bukan saja ketika api itu belum muncul, melainkan ketika api sudah muncul, bagaimana bisa memadamkan api tersebut. Entah dengan air, entah dengan tanah, entah dengan bahan-bahan kimia untuk memadamkan api yang sudah muncul, yang bisa membakar hutan tersebut. Ini sudah dikerjakan tapi buktinya sepanjang tahun pun belum selesai di dalam memadamkan kebakaran hutan ini.

Lalu setelah api muncul, kemudian mulai dipadamkan, efek yang muncul dari api tersebut yang membakar hutan adalah kabut asap yang bisa menyebabkan polusi udara. Beberapa kota di Kalimantan Barat itu sedang mengalami kabut asap di tahun yang lalu ya. Mereka sampai kesulitan untuk sekolah, sampai kesulitan untuk bekerja, bahkan juga mereka pakai masker bukan untuk pandemi melainkan untuk kabut asap yang mereka alami karena kebakaran hutan. Nah inilah efek yang mengganggu dari suatu yang namanya api yang membakar hutan. Kehidupan sehari-hari, pendidikan, sekolah, itu bisa sangat terganggu. Kalau di Jogja, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, berapa tahun yang lalu itu, kita ingat ada hujan abu dari Gunung Merapi. Waktu hujan abu kita akan sulit beraktifitas dan lain-lain, kita mengalami banyak masalah. Nah adanya kebakaran, akibat api, itu menimbulkan kerugian yang sangat banyak, baik kerugian materi, lingkungan, waktu, tenaga, bahkan nyawa kita sendiri bisa terancam.

Nah Bapak, Ibu, Saudara sekalian, itulah gambaran bagaimana api yang membakar hutan, yang sampai menimbulkan kebakaran. Begitu mengerikan dan yang ada hanyalah malapetaka dan kerugian. Hutan yang begitu luas dapat dibakar oleh api yang begitu kecil saja. Yakobus katakan di ayat 5b ini, “Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” Nah di sini Yakobus sedang menasihati orang-orang Kristen di zamannya bahwa hati-hati menggunakan kata-katamu, hati-hati menggunakan mulutmu, hati-hati menggunakan lidahmu yang mengeluarkan kata-kata. Karena apa? Itu ibarat api yang membakar hutan. Lidahmu ini bahaya, bisa mengancam nyawa orang dan menimbulkan kerugian kalau kata-kata kita diucapkan dengan sembarangan, diucapkan dengan tidak takut akan Tuhan. Yakobus menasihatkan kepada pembacanya bahwa ada kebahayaan besar yang harus diwaspadai setiap orang, yaitu kita selalu menggunakan kata-kata kita setiap hari dan kita tidak tahu apa dari efek kata-kata kita yang menyakitkan atau kasar atau berdosa itu ternyata merusak kehidupan banyak orang. Kewaspadaan akan bahaya itulah yang digambarkan melalui api yang membakar hutan, ada suatu kuasa yang besar, kuasa yang tidak bisa dihentikan kalau api itu sudah membakar. Dan juga dampak buruk yang diberikan oleh api tersebut. Ini adalah suatu kuasa yang merusak, kuasa yang merugikan bahkan kuasa untuk membunuh. Yaitu dengan apa? Dengan lidah kita, dengan kata-kata kita. Mungkin tidak membunuh nyawa seseorang tetapi membunuh semangat orang. Mungkin tidak membunuh banyak orang tetapi membunuh orang-orang di dekat kita, di mana orang tersebut sehingga kehilangan jati dirinya, tidak menghargai dirinya sebagai manusia. Jadi kita bisa lihat bahwa api ini digambarkan sebagai masalah yang besar yang harus dihindari, demikian dengan lidah yang tidak terkendali, dengan kata-kata yang tidak terkendali, dengan kata-kata yang sembarangan, kita tidak memikirkan dulu apa yang akan kita katakan itu bahayanya sangat-sangat besar dan harus kita hindari.

Manusia, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, pada naturnya kita tahu natur manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Seluruh aspek kehidupan manusia itu tidak ada yang lepas dari dosa, kecendurangan kita akan terus ingin melakukan kejahatan. Namanya manusia yang berdosa, berarti Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sebenarnya sumber masalah utama itu bukan dari luar ya melainkan dari diri kita sendiri. Bukan dari situasi dan kondisi yang ada tetapi sering kali yang membuat masalah dalam kehidupan kita adalah dari diri manusia sendiri. Inilah yang dijelaskan oleh Yakobus, yaitu Yakobus mengatakan salah satu musuh yang memberikan masalah dalam hidup kita sendiri adalah hidup kita sendiri, yaitu di dalam lidah atau kata-kata kita yang keluar dari hati kita. Itulah masalah yang besar yang harus kita kendalikan, yaitu apa sih? Lidah kita. Lidah ini unsur yang eksternal yang bisa terdengar oleh orang tetapi sebenarnya apa yang dikatakan oleh lidah itu muncul dari hati kita. Jadi masalah apa yang Yakobus soroti ketika dia katakan gambaran lidah itu seperti api? Itu menggambarkan tentang hati kita, hati kita ini sangat berbahaya.

Kita sudah tahu bahwa di dalam Alkitab menjelaskan bahwa musuh-musuh rohani dari orang-orang Kristen atau manusia pada umumnya adalah ada 3, iblis, kedagingan kita, dan juga gaya hidup atau lingkungan yang sudah jatuh ke dalam dosa. Itu musuh-musuh kita. Tapi musuh yang paling dekat adalah diri kita, hati kita yang berdosa. Sehingga dari mana kita tahu hati kita itu berdosa, penuh dengan kebencian, penuh dengan suatu hal yang jahat atau buruk? Itu ketika kita lihat dari kata-kata kita yang muncul keluar tersebut. Masalah-masalah besar seperti kebakaran hutan itulah yang ditimbulkan dari lidah yang kita tidak mau kendalikan atau lidah yang liar. Kata-kata yang menyakiti, kata-kata yang sembarangan, bahkan kata-kata yang menipu, kejam, bahkan juga kata-kata yang ambigu. Kadang-kadang kita bingung ya, orang ini ngomong apa, banyak artinya kita bisa tafsirkan sendiri. Kata-kata yang jahat, kata-kata yang memicu pertengkaran, terutama apalagi waktu kita berelasi dengan orang yang kita kasihi, karena orang yang kita kasihi itu sangat kita kenal dan kita tahu di mana trauma dia atau luka hatinya kita sengaja berkata-kata yang jahat sehingga orang tersebut makin luka, makin sakit. Kita seperti itu ya, lidah itu bahaya sekali, bisa memicu pertengkaran, kata-kata kotor, kasar, dan lain-lain. Ini bisa menjadi masalah yang besar.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, tanda-tanda dari masalah yang besar itu muncul yaitu apa? Ketika kita mengalami dosa lidah ini. Ketika kita sering kali berkata-kata kasar, berkata-kata menyakiti, bahkan berbohong, itu adalah suatu tanda awal di mana kita akan mengalami kebakaran. Banyak masalah yang ditimbulkan karena kita berkata-kata dengan sembarangan. Makanya Yakobus katakan, “jinakkan lidahmu.” Itu berarti apa? Menjinakkan hatimu yang liar, hatimu yang sudah jatuh ke dalam dosa, jangan membuat masalah sendiri. Lidah adalah api, a tongue is a flame, a tongue is a fire. Lidah kita ini sangat bahaya maka perlu sangat berhati-hati dalam berkata-kata. Itu sangat krusial sekali, khususnya di dalam pemberitaan Firman Tuhan. Makanya Yakobus di ayat sebelumnya yang sudah kita bahas mengatakan, “Janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru yang mengajar Firman Tuhan.” Dalam arti bukan berarti Yakobus melarang orang-orang Kristen mengajar Firman, memberitakan Firman, melainkan kamu harus hati-hati ketika kamu dipercayakan untuk menjadi bagian untuk memberitakan Firman Tuhan; pengkhotbah, guru sekolah minggu. Dan juga bukan saja itu, kita pemberita Injil, kita mengabarkan Injil kepada teman kita kan kita menggunakan selain dengan perbuatan kita, kita gunakan kata-kata yang jelas, kita perlu berikan.

Selama kurang lebih 3 hari ini Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di Solo kan kita sudah tahu ya, ada sedang acara yang besar, ada Muktamar yang ke-48 tahun. Kita berpikir di Solo bahwa wah nanti akan banyak orang yang akan hadir, Solo akan menjadi macet, kurang lebih 2-3 juta orang akan hadir. Tetapi Bapak, Ibu, Saudara sekalian, itu yang namanya target ya, target itu bisa banyak tapi realisasinya juga tidak sebanyak targetnya 2-3 juta orang ya, mungkin 1 juta yang hadir di Solo pun tidak ada. Tetapi mereka berkumpul ya, itu Muktamar itu istilah kongres ya, sebenarnya secara umum itu kongres pertemuan para pemimpin-pemimpin dari suatu agama Islam untuk mengambil keputusan penting. Dan itu juga mengundang Presiden Jokowi untuk memberi pidato singkatnya. Di dalam kongres tersebut, Presiden Indonesia memberikan pidato. Bayangkan Bapak, Ibu, Saudara sekalian kalau pidatonya tidak dipersiapkan dengan baik-baik, akhirnya salah ngomong kepada puluhan ribu orang yang berkumpul di stadion. Akan menimbulkan apa? Kekacauan. Akan menimbulkan efek yang parah bagi presiden itu sendiri, bagi negara Indonesia bahkan, itu di dalam konteks pertemuan besar, kongres. Tetapi di dalam pidatonya, saya mendengar juga ya, beliau dengan hati-hati ada teks yang dibaca, teks pidato presiden tersebut, beliau memberikan semangat, ucapan syukur atas hal-hal baik di dalam pendidikan di Indonesia yang dibuat oleh Muktamar tersebut, atau kalangan Muhamadiyah tersebut, sekolah-sekolah yang sudah didirikan, segala kebaikan, vaksin yang sudah diberikan juga, berapa banyak yang sudah diberikan kepada negara Indonesia ini, masyarakat Indonesia dan lain-lain. Nasihat yang baik. Dan ketika diresponi kata-kata tersebut, orang biasanya meresponi dengan apa? Tepuk tangan. Aneh ya, kita mendengar kata-kata, ada responsnya bertepuk tangan. Tapi ada juga responsnya membenci. Nah di situlah kita bisa melihat kata-kata kita manusia itu punya kuasa, punya suatu pesan yang bisa mempengaruhi orang yang lain.

Kalau pada akhirnya orang yang menjadi pemimpin penting malah mengatakan yang kasar, kita langsung tidak suka. Banyak sekali orang tidak suka dengan Pendeta Stephen Tong karena dinilai kata-katanya kasar, terlalu keras, terlalu galak, dan lain-lain. Itu karena apa? Karena ya seperti itu, ditanggapi dengan respons yang kurang dewasa atau dengan salah penafsiran, kata-kata pun menjadi pesan yang sebenarnya kita tanggapi dengan berbeda dengan maksud si pembicara. Ini sangat sulit ya, kata-kata itu bisa menjadi kebakaran, tetapi juga bisa menjadi sebuah api yang terarah. Kebakaran itu apinya tidak terarah. Tetapi kalau kata-kata itu tepat, baik, takut akan Tuhan, api itu menjadi terarah dengan baik. Itu yang kita katakan sebagai api Roh Kudus. Roh Kudus itu memberikan api dan semangat yang baik dalam kehidupan kita, itu lewat kata-kata yang dipenuhi dengan Roh Kudus.

Lidah ini bisa membakar seluruh hidup kita, dan lidah ini seperti api yang merusak dan melahap segala sesuatu. Tadi saya sudah jelaskan bahwa ketika kita merenungkan lidah bisa ada 2 fungsi, yang baik, yang buruk. Ketika kita merenungkan metafora dari lidah, yaitu api, kita juga sadar bahwa ada sisi yang positif dari api. Api itu bisa memberikan kehangatan, api itu bisa membuat hal yang mentah jadi masak, masakan misalkan atau sayur-sayur, daging-daging bisa jadi masak juga, dan juga bisa membersihkan. Dengan demikian, lidah pun sebenarnya bermanfaat sekali. Buktinya ketika pemberitaan Firman Tuhan pun memakai lidah. Bahkan Firman Tuhan mengatakan bahwa, “Iman itu timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan.” Jadi lidah yang bersuara, kata-kata yang dikeluarkan, itu bisa kita tangkap pesannya dengan lebih baik, lebih jelas, dan itu pun Tuhan bisa bekerja memberikan pertumbuhan iman dalam kehidupan kita. Maka yang dimaksudkan Yakobus adalah lidah ini bisa memberikan kuasa, memberikan pertumbuhan iman di dalam kehidupan kita.

Tetapi yang dibahas oleh Yakobus pada hari ini, Yakobus sedang menjelaskan tentang kebahayaan lidah. Mari kita lihat Yak.3:6, di situ dikatakan, “Lidah pun adalah api” jadi namanya juga lidah pun, berarti sebelumnya dijelaskan tentang manfaat juga, tentang lidah. Ada juga manfaat positifnya. Terus ditambahkan, “ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.” Setidaknya, di sini Yakobus memberikan 6 definisi tentang lidah. Yang pertama, lidah adalah api. Ams. 16:27, mari kita baca bersama-sama, Ams. 16:27, di situ dikatakan ya, “Orang yang tidak berguna menggali lobang kejahatan, dan pada bibirnya seolah-olah ada api yang menghanguskan.” Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya itu dianggap oleh peng-Amsal sebagai seseorang yang tidak berguna dan sedang menggali lubang kejahatan yang bisa mencelakakan dirinya sendiri. Di sini dikatakan bahwa orang yang tidak terhormat, worthless, orang yang tidak berhormat, tidak berharga, tidak berguna, adalah orang yang sedang merencanakan kejahatan bagi dirinya sendiri dan kata-katanya itu seperti api yang menghanguskan. Atau api yang menghanguskan itu adalah api yang sangat panas. Jadi ada suatu levelnya di dalam tentang api, tentang kata-kata kita juga.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian kalau api itu kecil, api itu tidak besar, itu tidak akan terlalu panas, bahkan kita bisa matikan dengan tangan kita atau dengan jari kita, api yang sangat kecil. Tetapi api yang sangat panas berarti itu apinya sangat besar, dan juga apinya itu sangat kencang. Kalau kita lihat penjual nasi goreng, kompornya itu ada pengencang, supaya apinya itu semakin keras, semakin kencang menyemburnya, itu semakin panas. Makin kencang api, makin bergerak, makin disemburkan, itu panas sekali karena ada tekanan angin tersebut. Lidah penjahat digambarkan sebagai api yang sangat panas. Jadi betul-betul api yang menyakitkan, kata-katanya sangat tajam dan efeknya itu sangat buruk sekali. Itulah yang sering kali terjadi juga ya di dalam kasus-kasus penipuan. Kasus-kasus penipuan sebenarnya dia memunculkan kalimat-kalimat yang baik. Semua baik, semua ramah, semua itu kelihatannya benar, semua itu kelihatannya itu membangun, tetapi ternyata setelah pada akhirnya kita tahu motivasi penipu, ternyata mencuri uang kita atua mencelakai kita, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, itulah api yang sangat panas.

Jadi bukan serta merta, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kata-kata yang langsung kelihatan jahat langsung kita anggap wah ini orangnya jahat, dan lain-lain. Penipu itu kata-katanya sangat baik, sangat halus, sangat indah tetapi justru itu memberikan motivasi yang salah sekali dan dampaknya itu sangat buruk. Nah di situ kita akan semakin sakit hati lagi. Berarti semua kata-kata yang dia ucapkan itu adalah kata-kata yang berbohong, menipu, meski pun terdengar dengan baik. Itu efek yang sangat panas, sangat mengerikan. Dan itu seringkali juga terjadi di dalam persidangan-persidangan. Di Indonesia juga sedang terjadi persidangan yang begitu banyak. Kita rumit ya, kadang kita benci melihat orang-orang yang memutar-balikkan fakta dengan kata-kata yang manis, kata-kata yang benar, padahal tidak sebenarnya terjadi. Itulah orang-orang yang bekerja sebagai pengacara atau jaksa itu sangat sulit ya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, karena mereka itu harus mengendalikan lidah mereka tetapi di satu sisi mereka harus bekerja untuk mendapatkan uang. Sehingga banyak sekali pengacara atau jaksa orang-orang Kristen bahkan ya, orang Kristen pun akhirnya memutar-balikkan fakta di dalam persidangan. Makanya Pendeta Stephen Tong pernah berkata pengadilan itu adalah tempat yang justru banyak terjadi ketidak-adilan. Karena apa? Kata-kata itu lho. Kata-kata itu sering kali diputarbalikkan, sering kali menjadi kata-kata yang sangat panas diucapkan tidak benar, motivasinya buruk.

Lalu definisi yang ke-2 dari lidah adalah dunia kejahatan, world of unrighteousness. Lidah itu dalam arti apa, kenapa Yakobus katakan dunia kejahatan? Karena balik lagi ya, Yakobus itu melihat lidah itu sebuah eksternal atau fenomena dari hati yang jahat itu, hati yang berdosa. Jadi Bapak, Ibu, Saudara sekalian jangan pikir dunia itu jahat di luar sana. Di luar sana memang betul jahat, iblis itu kejahatannya paling murni ya, itu adalah iblis. Dunia ini masih ada anugerah umum. Dan diri kita juga sebenarnya ada anugerah umum, tetapi dunia kejahatan itu bukan di luar sana melainkan di dalam diri kita. Makanya Yakobus ini katakan lidah ini adalah dunia kejahatan. “Yang jahat itu kamu kok. OK dunia di luar sana jahat, tetapi kamu sendiri jahat. Jangan pikir kamu itu sudah baik, sudah hebat, sudah lebih kudus daripada yang lain. Tidak! Hati kamu itu selalu memproduksi berhala-berhala.” Itu kata-kata John Calvin ya, “Human heart adalah pabrik berhala.” Itu Calvin katakan demikian. Hati kamu itu, hati manusia berdosa itu adalah pabrik-pabrik yang memproduksi berhala-berhala. Itu dikatakan maka Yakobus mengatakan hatimu atau lidahmu ini adalah dunia kejahatan.

Kok bisa? Kok bisa sih lidah adalah dunia kejahatan? Karena apa? Karena lidah ini bisa membuat kejahatan itu terlihat menarik dan seolah-olah apa yang dilakukan itu tidaklah kejahatan melainkan kebenaran. Itu dari apa? Dari lidah. Ketika ada orang Kristen mengatakan, “LGBT itu adalah sebuah perbuatan dosa”, ya kan, itu statement kita dari lidah. Tapi kemudian sekelompok orang mengatakan yang lain, yang sudah punya komunitasnya, kemudian sudah punya Whatsapp groupnya, sudah ada jadwal pertemuan setiap minggu sekali mereka kumpul, orang-orang yang setuju dengan LGBT, mereka langsung sanggah dengan sebuah statement apa, “LGBT itu boleh, tidak berdosa.” Sekarang satu statement dengan satu statement bagaimana ya dibenturkan seperti ini? Justru kelihatannya yang ini kuno, kaku, “LGBT berdosa, tidak boleh.” Yang satu, “Boleh, yang penting ada kasih. Yang penting kita nyaman satu dengan yang lainnya. Ini adalah kebebasan hidup kita. Hidup kita ini hidup kita. Tubuh kita tubuh kita kok. Kok orang lain atur-atur kita.” Kurang lebih seperti itu ya. Padahal yang mengatur kan bukan kita, kita itu cuma menjadi pengantara. Firman Tuhan berkata LGBT dosa, kita nggak mau ngatur dia ya, ngapain ngatur dia, pusing ngatur orang berdosa ya. Kurang lebih seperti itu ya. Gambarannya itu kita selalu perhadapkan kepada Firman Tuhan. Firman Tuhan boleh mengatur manusia yang lain, karena Tuhan pemilik manusia. Kita memang ada batasnya, masa kita ganggu orang-orang yang sedang berpacaran kita ganggu, usik-usik ya. Ya kita nggak bisa ya, itu ada ranahnya mereka sendiri. Tetapi Tuhan itu penguasa, Tuhan boleh ikut campur terhadap milik-Nya sendiri, yaitu manusia yang sudah diciptakan.

Maka ketika dikatakan demikian, suatu hal-hal yang membuat kejahatan itu menarik ya, indah lho ya, mereka saling mengasihi, mereka bisa kerjasama dengan baik, pertengkarannya juga bisa diminimalisasi, terus juga itu yang membuat akhirnya lidah itu adalah dunia kejahatan. Mereka bisa membungkus kejahatan mereka dan itu dirasa baik, dirasa benar. Retorika yang dipoles membuat kejahatan itu terdengar bagus. Mencuri, seperti Robin Hood, kita mencuri saja uang dari orang kaya kasih ke orang miskin. Indah kah? Indah! Ada keadilan dan semua mendapat sukacita. Padahal itu ya nggak adil. Itu bisa saja, kita memoles suatu kejahatan kita, kita poles itu atau ubah itu dengan kata-kata kita. “Kenapa kamu akhirnya misalkan tidak ke gereja?” Kita poles, “Wah ada suatu acara penting yang saya tidak bisa tinggalkan.” Bisa, jadi nggak berdosa, kurang lebih seperti itu ya. Kita bisa cari-cari alasan untuk membenarkan dosa kita. Itu karena apa? Lidah, karena hati kita yang berkata-kata dengan baik. Yang paling mudah adalah menutupi kesalahan dengan cara berbohong, itu sering kali dilakukan oleh siswa-siswi di sekolah-sekolah ya. “Kenapa datang telat?” Misalkan ya, kesalahannya kan. Tapi dengan satu lidah, itu jadi baik, nggak masalah. Lidah itu bisa dipakai untuk merencanakan kejahatan, pembunuhan, dan juga kejahatan-kejahatan lainnya. Jadi satu kejahatan itu dimulai dari lidah. Suatu kejahatan besar terutama, misalkan kejahatan yang menggerakkan massa, kerusuhan, tawuran, itu gara-gara ngomong ya. Kita ngomong, ngomong, ngomong. Kalau kita semua diam, nggak akan terjadi masalah kan. Akan lebih minimal masalahnya. Tapi karena lidah ini, dunia kejahatan bisa menimbulkan kejahatan di dalam dunia ini.

Lalu yang ke-3, lidah adalah anggota tubuh. Jadi memang lidah ini dipasangkan di dalam tubuh kita, jadi ini adalah suatu hal yang penting dan memegang peranan penting di dalam tubuh ini supaya kita bisa bekerjasama dengan baik, khususnya dengan orang lain. Kalau kita sendiri kan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita berkata-kata itu di dalam hati kita nggak masalah ya. Kita berelasi dengan diri kita sendiri, kita ngomong kepada diri kita itu mempengaruhi diri kita. Tetapi lidah juga bisa mempengaruhi orang lain, kita bisa bekerja sama dengan orang lain itu karena ada lidah atau kata-kata ya. Kata-kata ini bisa membantu kita berkomunikasi dan juga pengaruhnya besar dalam tubuh kita sebagai manusia. Itu hati kita juga ya. Ini lidah, adalah anggota tubuh di dalam tubuh manusia yang memegang peranan penting.

Lalu yang ke-4, lidah juga dijelaskan anggota tubuh yang dapat menodai seluruh tubuh. Nah ini adalah fungsi lidah ketika kita melakukan dosa sebenarnya yang tercemar adalah seluruh tubuh kita dari kata-kata kita. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, waktu kita berelasi dengan orang, satu dengan yang lainnya, kita kan berelasi minimal dengan kata-kata dulu ya, kata-kata, ngobrol dulu. Kemudian kita bisa mulai tidak suka dengan orang tersebut karena apa? Karena kata-katanya. Lho, kita kan nggak suka karena kata-katanya, kata-katanya menyakiti, kata-katanya itu aneh, suatu kalimat-kalimat yang menurut kita tidak cocok. Tapi setelah kita tidak suka dengan kata-katanya, kita tidak suka dengan pribadinya juga. Di sinilah dikatakan oleh Yakobus, lidah ini anggota tubuh yang dapat menodai seluruh tubuh atau seluruh kepribadian diri orang tersebut. Kata-katanya ketus, kata-katanya tidak enak, jahat, dan itu menodai pribadi kita juga. Jadi kita itu diwakili pertama-tama dengan lidah ya. Tentu satu sisi kita harus mengasihi semua orang, tetapi secara umum, kita tidak suka dengan orang-orang yang berkata-kata secara tidak benar, dan tidak menghormati sesamanya. Kita lebih akrab, lebih mau berelasi itu dengan orang yang berkata-kata dengan baik.

Lalu yang ke-5, definisi yang ke-5 adalah lidah sebagai sumber penggerak kehidupan kita. Kata yang dipakai itu adalah setting on fire the entire course of life. Jadi membuat api bagi seluruh kehidupan kita atau kata yang suka dipakai juga istilahnya adalah will generation, makanya disebut sebagai sumber penggerak, atau roda kehidupan kita ya, roda dari generasi kita. Kenapa? Penggerak karena apa? Karena lidah itu memberikan pesan dan arahan, dan kata-kata itu punya kuasa yang mendorong kita untuk bergerak sesuai dengan kata-kata yang kita ucapkan. Lidah itu punya kuasa dan punya pengaruhnya atas hidup kita. Maka waktu kita mendengarkan Firman Tuhan, misalkan ya, tentang cinta kasih, tentang bagaimana kita harus mengendalikan diri, bagaimana kita harus menjinakkan lidah, kita perlu berkomitmen. Berkomitmen itu caranya bagaimana? Ya berkata-kata di dalam diri kita sendiri. Ketika kita berkata-kata dari kita sendiri, itu akan lebih efektif daripada kita dengar kata-kata dari orang lalu hanya setuju, hanya setuju saja. “Ya betul. Apa yang dikatal betul, betul dan betul.” Tapi kita sendiri tidak berkomitmen atau tidak ada keinginan untuk mengatakan kepada diri sendiri atau bertekad untuk melakukan apa yang sudah diberitakan. Itu dampaknya pasti kurang karena kita lupa.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita seringkali lupa kan ya kata-kata orang. Tapi kalau kata-kata kita sendiri, harusnya kita lebih ingat. Kata-kata orang boleh lupa, tapi kalau kita berkata-kata ke sendiri ya, saya berkomitmen apa, saya belajar apa hari ini, saya dengar khotbah apa hari ini, itu akan lebih masuk. Akan lebih mengerti. Maka, ada 1 metode pembelajaran, Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, itu yang seringkali digunakan, ketika saya tidak ditanya, saya anggap saya mengerti. Ya kan? Tapi ketika saya ditanya, nah, barulah saya sadar, saya itu tidak mengerti. Jadi, mulai dengan pertanyaan itu menunjukkan kita itu mengerti atau tidak. Maka biasanya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, kalau lagi diskusi apa, lagi habis dengar khotbah atau pemberitaan Firman Tuhan, kita bisa bertanya kepada diri kita atau kepada orang lain. “Kamu khotbahnya bagaimana?” gitu kan OK. “Bagaimana” itu masuk ke dalam pendapat pribadi kita. Tetapi, “Khotbahnya tentang apa?” Nah, itu kita bisa jelaskan dan itu juga kita bisa muncul dari apa yang sudah kita terima. Nah, ketika kata-kata itu dikeluarkan, oh, kita baru tahu ya, pengertian kita sampai ke mana.

Lalu kata-kata itu bisa memiliki kuasa, dalam arti bagaimana? Okelah, kita sebenarnya saat ini tidak ingin makan karena kita sudah makan pagi, misalkan. Tapi kalau kita katakan terus, “Saya ingin makan, saya ingin makan,” kita pengen makan juga ya. Lama-lama kita kepengen makan, kepengen ini, karena kita katakan. Padahal belum tentu kita inginkan dengan sungguh-sungguh. Nah, itu seringkali itu jadi sebuah sugesti, tetapi sugesti ini tidak sekekal kebenaran Firman Tuhan yang tertanam dalam diri kita. Itu hanya sementara saja. “Saya ingin makan, saya ingin tidur,” dan lain-lain. Ya, makanya kita juga perlu katakan, “Sebenarnya kita itu cinta Tuhan nggak?” Yang paling penting kan ini. Perintah Tuhan Yesus adalah yang utama, “Kasihilah Allahmu dengan segenap hatimu, segenap pikiran, segenap tenagamu, segenap akal budi.” Itu adalah hukum yang terutama dan juga perintah yang utama yang lain adalah mengasihi sesama manusia. Maka dari itu, kita perlu katakan ya atau bertanya dulu lah, supaya mengecek diri kita itu seperti apa. Pemahaman atau hati kita itu seperti apa. “Saya itu sudah cinta Tuhan belum ya? Saya itu benar-benar percaya Yesus nggak ya sebagai Tuhan dan Juru Selamat? Saya itu benar-benar sudah mengasihi sesama saya manusia belum ya? Atau menganggap mereka sebagai object yang harus kita perlakukan harus seperti itu?” Nah, ini ya. Kita bisa memberikan pesan, maka itu menjadi sumber penggerak hidup kita.

Waktu sebelum prajurit sebuah kerajaan mau berperang, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kenapa harus ada selalu speech dulu ya? Speech. Si panglima perangnya itu memberikan speech singkat. Paling 3 menit, 5 menit. Terus kemudian setelah speech singkatnya, pidato singkat, atau pemberi semangat, si prajuritnya itu bisa wah, semangatnya jadi full. Keberaniannya jadi full, terus rela matinya sampai full, dan akhirnya bisa memenangkan pertempuran yang besar itu. Karena apa? Speech-nya. Atau kata-katanya. Ya itu, karena kata-kata ini punya kuasa. Kuasa itu ada yang sugesti sebentar saja, ya tentu itu tidak menjadi sumber kebenaran karena itu hanya sugesti. Karena kita berarti maunya sementara. Tetapi kata-kata Firman Tuhan ini menjadi sumber yang utama yang menggerakkan rohani kita. Rohani kita pun dibentuk oleh Firman Tuhan. Maka Yesus katakan bahwa,”Manusia tidak hidup dari roti saja.” Roti ini menggerakkan tubuh kita kan ya. Kalau nggak ada roti, kita malas kerja, malas beraktivitas, lapar kok. Capek ya. Tapi, “Manusia hidup juga dari setiap Firman Tuhan yang keluar dari mulut Allah.” Ini bahasa antropomorfis ya. Bahasa manusia seolah-olah Allah itu yang adalah Roh punya mulut, punya lidah, dan kita hidup dari perkataan Firman Tuhan. Nah, itulah yang menggerakkan kehidupan kita. Firman Tuhan. Dasarnya Firman Tuhan. Apa-apa kita lakukan karena terpusat pada Firman Tuhan. Nah, kita harus ada basic atau dasar bahwa apa yang kita lakukan itu ada ayatnya, ada perintahnya, ada prinsip yang Alkitab nyatakan. Nah, itulah orang Kristen. Roda kehidupan kita itu digerakkan karena Firman Tuhan. “Kalau Firman Tuhan, saya mau taat.  Meskipun saya tidak suka menaati atau melakukan kasih kepada orang tersebut,” kayak gitu ya. Karena Firman Tuhan kok. Kalau bukan Firman Tuhan, ya sudah ya, kita bisa tidak lakukan.

Yang ke-6, lidah adalah hal yang dibakar oleh neraka. Set on the fire by hell. Ini adalah istilah juga yang unik ya dari Yakobus. Yakobus suka kasih metafora-metafora dan dia katakan bahwa lidah ini bisa memberikan suatu suasana neraka. Ya tentu, lawan fungsinya bisa memberikan suasana surgawi, seperti itu ya. Neraka adalah suatu kondisi di mana tidak ada cinta kasih Tuhan, tetapi hanya ada penghakiman Tuhan dan juga penghukuman Tuhan. Tidak ada kehadiran Tuhan yang Mahabaik, tetapi ada kehadiran Tuhan yang Maha Menghukum, Mahaadil, Mahakudus. Lidah dapat membuat suasana seperti neraka. Neraka itu adalah gambaran dari segala hal yang buruk, yang tidak baik. Di neraka, ada iblis dan ada orang-orang yang jahat, yang menolak Kristus. Itu adalah tempat bagi mereka di neraka. Jika tidak bisa kendalikan lidah kita, kita itu adalah mirip mereka. Ya, jika kita tidak bisa kendalikan hati kita, kita itu seperti iblis yang suka berbohong dan disebut sebagai “bapa segala dusta”. Jika kita tidak hati-hati dengan dosa lidah, itu sangat mungkin kita itu mirip atau menjadi pengikut iblis. Sangat mudah berbohong. Apa-apa bohong, apa-apa sembarangan ngomongnya, apa-apa tidak hormat. Jangan-jangan kita itu lebih mirip iblis daripada mirip dengan Yesus Kristus. Kita sudah terpengaruh iblis dengan sangat besar, maka hati-hati kalau kita sudah mulai kompromi dengan lidah kita. Hati-hati bahwa itu bisa menimbulkan suasana di neraka dan kita pun mirip dengan iblis. Itu dari kata-kata ya.

Dalam pembacaan kitab Amsal, ada ayat-ayat yang memberikan nasehat bahwa “Hati-hati dengan orang yang memiliki lidah yang dibakar oleh neraka.” Ternyata satu sisi, Tuhan juga kasih hukum umum ya di dalam relasi manusia. Kita itu tidak suka dengan orang yang memang ngomongnya selalu mau bertengkar, kayak gitu ya. Bagaimana kita bisa nyaman ngomong atau ngobrol atau mendengar orang yang rasanya pengen perang terus, pengen bertengkar terus, pengen lawan banyak orang, dan anggap dirinya benar? Misalnya ambil contoh dalam Amsal 21:9. Mari kita baca ya. Ini adalah pembacaan Firman Tuhan di GRII Yogyakarta bersama-sama ya. Amsal 21:9, saya akan bacakan untuk kita semua. Amsal 21:9, “Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah dari pada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar.” Kalimat ini tentu bukan menyudutkan perempuan ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Tetapi maksudnya adalah bila seseorang tidak bisa kendalikan lidahnya, lalu menimbulkan pertengkaran, ya memang sebaiknya orang itu dijauhi. Kita nggak hadir di sana. Kita tidak dekat dengan dia.

Lalu juga ayat yang ke-19 kita baca. “Lebih baik tinggal di padang gurun dari pada tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar dan pemarah.” Ini adalah sekali lagi ya, bukan menyudutkan perempuan. Berarti perempuan itu suka bertengkar atau suka marah ya. Atau lidahnya seperti nyala api neraka, kayak gitu. Bukan, melainkan bahwa kita lihat bahwa orang yang tidak bisa kendalikan lidah, tidak bisa kontrol ya, tidak bisa diam, tidak bisa menahan diri untuk menghindari pertengkaran, orang itu ya dijauhi. Lebih baik diam di padang gurun, terus di teras rumah. Ya di teras rumah kan sepi. Di sudut teras itu sepi, nggak ada siapa-siapa. Tidak ada yang ditempatkan di situ kan ya? Terus juga di padang gurun ya. Lebih-lebih panas-panas, hanya lihat ular, hanya lihat pasir gitu. Kurang lebih kok jadi salah juga ya. Tetapi itu gambaran ya. Gambaran memang kita tidak baik kalau kita itu sukanya melawan atau bertengkar atau cari masalah atau bahkan pemarah, Saudara sekalian ya. Bukan hanya perempuan yang seringkali suka bertengkar atau pemarah, tapi laki-laki juga bisa ya. Laki-laki itu pun bisa. Hanya saja mungkin ya, mungkin perempuan yang seringkali lebih banyak terjadi pada umumnya dibandingkan dengan laki-laki sehingga ada peribahasa seperti ini di dalam Amsal. Itu juga memang penulis Amsalnya adalah laki-laki, dan laki-laki biasa seringkali menutupi masalah atau menyelesaikan masalah, tapi perempuan justru bertengkar. Nah, mungkin seperti itu ya.

Dan kita lihat juga, baca bersama-sama Amsal 22:24-25 itu bicara soal kata-kata ya. Nasehat dari orang yang berhikmat. Mari kita baca bersama-sama dengan buka suara Amsal 22:24-25, ”Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah, supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri.” Nah, inilah kenapa kita itu punya 1 alasan kita menjauhi teman kita. Bukan berarti kita tidak mengasihi dia, tetapi kita lebih menjaga diri kita supaya kita tidak terbiasa dengan perilakunya, tidak terbiasa dengan sikapnya. Karena kalau kita semakin lihat, semakin sering melihat teman kita yang suka marah-marah, suka bertengkar, atau suka merokok, minum minuman keras, kitanya tidak. Kitanya tidak suka. Tapi karena sering bertemu, ngumpul, lama-lama juga kita bisa terpengaruh kok. Lama-lama kita akan menjadi biasa dan menganggap itu bukan hal yang salah. Itu bukan hal yang berdosa juga, kalau kita bergaul dengan orang-orang yang memang tidak bisa mengendalikan diri atau tidak bisa mengendalikan lidah. Jadi kita bisa jauhi, supaya kita tidak terpengaruh dengan pola hidup mereka yang berdosa. Tetapi tarafnya menjauhi atau memberkati itu, kita gumulkan masing-masing di hadapan Tuhan. Ya, kita tetap mengasihi sahabat kita, teman kita, tetapi juga ada batasannya. Itu paling bagus ya. Itu kita bisa jaga batasan, tapi terus mengasihi dia. Kita bisa menolak, kita bisa menerima, kayak gitu ya. Nah, itu relasi yang sehat.

Dan di ayat 7, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Yakobus melanjutkan dengan perumpamaan kerajaan binatang atau hewan. Di ayat 7, Yakobus 3:7 mengatakan, “Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia.”  Yakobus kemudian memikirkan ya, ketika seseorang manusia paling sulit untuk menjinakkan lidahnya sendiri atau menjinakkan hatinya sendiri. Tetapi Yakobus berpikir bahwa di dalam kitab Kejadian, di dalam penciptaan Tuhan atas seluruh alam semesta, Tuhan itu sudah memberikan otoritas kepada manusia untuk bisa berkuasa atas alam. Ya, berkuasa atas alam itu hal yang sulit sebenarnya. Tapi tetap bisa dilakukan oleh manusia, karena Tuhan yang menguatkan. Nah, ini point-nya ya. Kita bisa menjinakkan lidah, menjinakkan hati itu karena Tuhan yang memberikan anugerah, kemampuan, otoritas supaya kita bisa mengendalikan hati kita.

Nah, sekarang kita lihat perintah Tuhan ya, otoritas yang Tuhan berikan kepada Adam dan Hawa ya, kepada Adam untuk berkuasa. Kejadian 1:26 dan 28, “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia  menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa  atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”” Lalu ayat ke-28, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah  banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas  ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”” Jadi manusia diberi otoritas dan perintah oleh Tuhan untuk berkuasa atas alam. Ya, menguasai alam ini perlu latihan, perlu pelajaran, ilmu pengetahuan, perlu juga pembelajaran yang panjang.

Nah, binatang liar, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, itu seperti apa? Singa. Singa itu naturnya liar. Tetapi kita banyak lihat di video-video itu, banyak yang bisa tidur dengan singa, ya main dengan singa, itu berarti apa? Bisa menjinakkan. Betul-betul dari buas menjadi jinak, kayak gitu ya. Kemudian burung-burung bisa apa? Bisa diternakkan, lalu dijual. Jadi hobi, jadi penghasilan juga. Terus ada binatang yang menjalar. Menjalar seperti reptil itu bisa juga. Memang sih pada taraf tertentu, ada yang memang selalu buas, tapi ada reptil yang bisa jinak, ular yang bisa jinak. Andai pun tidak bisa jinak, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, manusia bisa menjinakkannya dengan kasih kandang. Jadi kasih kandang seperti aquarium, jadi terarium seperti itu. Terus kemudian ditaruh ular di sana, dan akhirnya ya bisa dilihat, bisa dimainin, bisa dijahilin ya ularnya dan lain-lain. Bisa dikasih makan juga. Ya itu adalah suatu hal yang kita bagaimana menjinakkan ya.

Sifat manusia ini memang sifat yang pintar dan juga bisa beradaptasi dengan alam dan juga menundukkannya. Nah, kita tahu mana yang aman, mana yang bahaya, lalu kita bagaimana bisa mengurungnya, bisa mengendalikan hewan-hewan tersebut. Kita pelajari naturnya, lalu bagaimana kita manfaatkan hewan tersebut. Entah dengan jadi hobi, jadi penghasilan ya, bisa dijual, dan lain-lain. Nah, itu manusia ya, bisa mengendalikan. Tetapi di dalam ayat 8, Yakobus mengatakan, Yak. 3:8, “Tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.” Nah, biasanya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di dalam ayat-ayat Firman Tuhan, orang-orang yang jahat, orang-orang yang suka menipu itu selalu diidentifikasi atau dikasih istilah ya, dikasih sebutan bahwa lidahnya itu seperti racun yang mematikan. Racun ular tedung, racun ular-ular yang lain, seperti itu ya. Dan itu menjadi sebuah hal yang ternyata ya, kata-kata itu bisa membuat hancur karakter orang maupun rohani seseorang. Racun atau bisa ular itu bisa menghancurkan sel atau jaringan dalam tubuh kita selama beberapa jam ya. Ya dipatuk ular, digigit ular, itu akhirnya orang harus diamputasi supaya racunnya tidak menyebar, mematikan organ-organ di dalam tubuh. Tubuh menjadi rusak, dan akhirnya juga bisa mati, seperti itu ya. Itu adalah racun atau bisa dari ular.

Lalu di dalam Roma 3:13, mari kita lihat Roma 3:13. Di situ dijelaskan juga tentang manusia yang berdosa itu seperti apa ya? Kalau kita baca dari ayat yang ke-12, Roma 3:12-13, mari kita sama-sama membaca bersama-sama ya, “Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa.” Ini juga disebutkan oleh Rasul Paulus, bahwa manusia yang naturnya berdosa itu hati-hati bahwa lidahnya atau bibirnya itu mengeluarkan racun. Bisa yang begitu berbahaya. Jadi lidah kita kalau kita gunakan secara salah, itu seperti racun ular. Menjinakkan ular itu 1 hal yang sulit ya. Tetapi untuk mengatasi racun ular, itu ada racun yang memang tidak ada penawarnya bahkan ya. Ada yang bisa ada penawarnya langsung, ada obatnya ya supaya netralisir racunnya, tetapi ada juga yang tidak bisa ada penawarnya. Inilah lidah yang penuh dengan dosa, yaitu lidah yang bisa mematikan seseorang. Ini gambaran orang yang betul-betul tidak stabil hatinya dan menggunakan kata-katanya dengan tidak bijaksana. Racun itu bisa sangat mengerikan ya. Mematikan ya. Itulah yang didapatkan dari pergaulan yang saat ini mulai banyak juga ya, pem-bully-an atau perudungan atau kata-kata kasar menghina seperti itu. Itu bisa membuat orang yang tidak kuat itu menjadi mati.

Nah, kita bersyukur, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, bahwa meski pun di dunia ini semua lidah kita, semua lidah manusia, semua kata-kata kita itu sudah tercemar oleh dosa, hati kita sudah jatuh ke dalam dosa, tapi bersyukur ada 1 lidah, ada 1 kata-kata, ada seseorang yang tidak pernah berdosa, yang perkataannya selalu membangun, seperti madu yang menyehatkan, bukan racun, yaitu adalah pribadi Yesus Kristus sendiri. Yesus Kristus, dari mulutnya itu tidak pernah ada kata-kata kasar, kata-kata jahat, kata-kata mem-bully, kata-kata menghina, tidak ada. Dari kata-kata Yesus itu selalu mengeluarkan madu yang baik, yang sehat, yang manis. Tuhan Yesus tidak pernah berkata-kata seperti api yang sangat panas, api yang menghancurkan, atau seperti racun ular yang mematikan. Tidak ada. Perkataan Yesus adalah perkataan yang membangun dan yang baik, yang menyadarkan orang-orang berdosa itu bisa kembali kepada Tuhan, yang memberi kekuatan kepada yang lemah, memberikan semangat kepada yang letih lesu, memberikan penopangan kepada orang yang letih lesu dan berbeban berat. Jadi kita bersyukur, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di tengah-tengah manusia itu lidahnya seperti api, lidahnya seperti racun yang berat, racun ular seperti itu, yang begitu mematikan. Tetapi kita punya 1 contoh di mana ada seseorang, Yesus Kristus yang tidak berdosa ini memperkatakan hal yang baik.

Dalam menghindari dosa lidah, kita terus perlu bergantung kepada Yesus Kristus yang tidak pernah mengatakan hal yang buruk, hal yang berdosa, hal yang sembarangan, yang tidak pernah menghancurkan kehidupan seseorang, dan itulah artinya kita menjadi seorang murid Kristus. Yaitu apa? Kita memiliki lidah seorang murid. Nah, mari kita buka Yesaya 50:4. Di sini, Yesaya pernah menggambarkan dirinya ya sebagai orang pengikut Tuhan, pengikut Kristus kita harus memiliki lidah seorang murid. Yesaya 50:4. “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” Nah, sekarang Bapak, Ibu, saudara sekalian, Yakobus katakan, “Hati-hati, jangan sembarangan menjadi guru,” sebelumnya ya, di dalam ayat sebelumnya. Dan sekarang, Yakobus juga katakan, “Kamu harus belajar sungguh-sungguh untuk menjadi seorang murid.”  Menjadi seorang murid itu nggak usah hati-hati lah. Harus langsung jalankan. Tapi kalau menjadi seorang guru itu harus hati-hati, jangan sembarangan. Jangan langsung, “Ayo, saya mau!” Menjadi pengajar Firman Tuhan, menjadi pemberita Firman Tuhan, sembarangan ya, tidak persiapan dengan baik. Tapi kalau mau menjadi seorang murid itu harus langsung segera mau. Hal ini pun menjadi doa kita. Seperti Yesaya berdoa, “Tuhan memberikan aku lidah seorang murid.” yaitu dengan cara apa? Kita belajar mendengar dengan baik juga sehingga kita bisa memperkatakan dengan baik juga. Ini juga menjadi doa kita, kita mau supaya Tuhan itu memberikan kita itu hati seorang murid ya. Hati seorang murid berarti lidah kita atau kata-kata kita memberi semangat. Bukan yang menghancurkan atau melemahkan, tapi yang membangun. Hati seorang murid berarti kata-kata kita itu membangun. Hati seorang murid berarti telinga kita itu mendengar dengan baik segala Firman Tuhan yang Tuhan berikan kepada kita. Maka dari itu, kita harus memiliki hati seorang murid. Lidah kita harus kita gunakan untuk menjawab sesuatu yang menjadi masalah dan kebutuhan orang yang ada.

Ini di dalam Masterclass, Pdt. Jimmy Pardede menjelaskan juga ya hal ini bahwa kita itu punya lidah ya. Lidah kita itu harus kita gunakan dengan bermanfaat. Ada suatu masalah, kita jangan memperbesar masalah. “Nanti begini, nanti begitu, bagaimana?” Solusinya apa? Masalah itu di dalam kedaulatan Tuhan, Tuhan yang izinkan ada masalah itu, kalau memang di luar kendali kita. Tetapi setelah itu, lidah kita itu bukan memperbesar masalah, menakut-nakuti. Tetapi solusi yang terbaik yang kita bisa lakukan apa? Yang menjadi kebutuhan bagi sesama kita itulah yang kita arahkan, itulah yang kita berikan kepada sesama kita. Mari Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita berhati-hati dalam menggunakan lidah kita. Kita belajar kendalikan lidah, berarti itu kita kendalikan hati kita.

Yakobus juga mengatakan bahwa, “Mari kita berperilaku seperti seseorang yang di dalam penghakiman atau persidangan.” Jadi berperilaku hati-hati, ya hormat, nggak sembarangan ngomong-ngomong, nggak sembarangan bersikap. Tetapi juga kita bisa gambarkan orang yang sangat berhati-hati itu adalah ketika kita menjadi pelayan yang mendoakan pasien di rumah sakit. Ya, jadi Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di dalam pelayanan rumah sakit itu selalu ya kita itu berhati-hati terus. Jangan sampai kata-kata kita itu malah menyakiti orang yang sedang sakit. Sudah sakit, tambah sakit lagi ya. Malah emosi lagi, dan lain-lain. Nah, kita jadi sikap itulah yang kita pelajari ya. Ternyata situasi dan kondisi juga Tuhan pakai untuk menolong kita berkata-kata dengan hati-hati. Seperti dalam persidangan, seperti kita mau dihakimi orang, seperti orang itu siap untuk berpikiran negatif kepada kita, dan juga ketika kita berhadapan dengan orang yang sedang lemah tubuh. Kita pasti ingin memberikan kata-kata yang membangun, yang menguatkan, menghibur mereka. Kita akan berhati-hati otomatis. Itulah gunanya juga ya, kita kalau ada pelayanan rumah sakit, kita terlibat di dalamnya.

Terakhir, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Thomas Watson mengatakan bahwa, “Tuhan telah memberi kita 2 telinga. 2 telinga, 1 lidah, untuk menunjukkan bahwa kita harus cepat mendengar, tetapi lambat berbicara.” Ini juga Yakobus sudah ingatkan ya kepada kita semua. Terus, Thomas Watson melanjutkan bahwa, “Tuhan telah memasang pagar ganda di depan lidah kita.” Ya,lidah kita kan di dalam ya. Ada pagar ganda katanya ya. Yaitu apa? Gigi dan juga bibir. Ada gigi menahan lidah kita. Kalau kita giginya ditutup ya, lidah kita tidak akan terlalu jelas ngomong sesuatu. Mulut kita ditutup apalagi ya. Kenapa ada 2 pagar ganda ini? Watson mengatakan bahwa, “Untuk mengajar kita agar berhati-hati, agar kita tidak membuat orang tersinggung dengan lidah kita.” Lidah kita ini adalah otot yang paling kuat yang ada di seluruh tubuh kita. Ya tenaganya itu kuat sekali ya. Jadi kalau kita membersihkan makanan di gigi kita, kan kita suka pakai lidah itu ya, mengeluarkan makanan. Itu tenaganya sangat kuat sekali ya. Dan tenaga itu ya menjadi simbol atau lambang bagaimana kita itu bisa mempengaruhi orang dengan lidah ini juga. Dengan kata-kata kita yang keluar. Maka harus ada 2 pagar supaya menjaga kita itu tidak berkata-kata dengan sembarangan.

Maka marilah pakai kata-kata kita atau lidah kita ini untuk memajukan kerajaan Allah di bumi ini selama hidup kita. Jangan lupa bahwa kita punya tujuan, bahwa kita itu harus memiliki lidah seorang murid. Kata-kata seorang murid itu pasti mengasihi sesama murid lainnya, dan juga pasti pada orang yang sebagai guru itu pasti menghormati. Seorang guru pasti tidak suka dengan murid yang tidak sopan, kata-katanya sembarangan. Pasti ditegur oleh seorang guru. Nah, lidah seorang murid berarti kata-kata nya baik, kata-katanya sopan, hormat, dan juga bisa mengasihi dengan yang lainnya. Kiranya Tuhan menolong kita untuk bisa mengendalikan hati kita yang utama untuk kita persembahkan kepada Tuhan, yaitu hati seorang murid. Hati seorang yang ingin motivasinya tulus melakukan Firman Tuhan, belajar melayani Tuhan, dan juga betul-betul ingin memberikan semangat atau pun hal yang membangun pada orang lain. Kalau orang ketemu kita, kita ingin agar orang itu merasa ditolong atau diberi semangat, bukan akhirnya kita menjadi beban bagi mereka. Itulah sifat misionaris juga ya. Sifat misionaris seperti Rasul Paulus itu. Paulus seringkali katakan bahwa “Aku berjerih lelah kepada kamu, melayani kamu, memperhatikan kamu, dan aku itu sangat tidak ingin menjadi beban untuk kamu.” Nah, demikian ya, kita sebagai orang Kristen punya sikap atau prinsip bahwa “Aku ingin menjadi berkat, bukan menjadi beban,” seperti itu ya. Salah satunya dengan apa? Dengan kata-kata kita, sikap kita. Kiranya Tuhan menolong kita. Mari kita sama-sama berdoa.

Bapa kami yang di surga, terima kasih Tuhan atas Firman Tuhan yang boleh kami dengar pada pagi hari ini yang mengingatkan kami bahwa kami perlu menjaga hati kami, menjaga kata-kata kami yang keluar dari mulut kami. Karena kata-kata yang Tuhan berikan kepada kami memiliki kuasa. Entah kuasa untuk menghancurkan kehidupan seseorang atau kuasa untuk membangun kehidupan seseorang. Pimpinlah Tuhan kehidupan kami dan ampunilah jikalau sekiranya kami seringkali sembarangan terhadap Tuhan sendiri dan juga terhadap bagaimana kami menggunakan kata-kata kami. Tuhan tolonglah, ampunilah dosa-dosa kami. Kami yang seringkali berkata-kata secara sembarangan, Tuhan boleh ubahkan sehingga kami mengeluarkan kata-kata yang membangun sesama kami dan juga memberkati sesama kami. Pimpinlah hidup kami, Tuhan. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan penebus kami, kami sudah berdoa dan bersyukur. Amin. (HSI) 

 

 

 

Scroll to Top