Menjadi Penurut-penurut Tuhan, 6 Januari 2019

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Ef. 5:1-2

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita berbicara mengenai pasal 4 dan pasal 5 dari Surat Efesus, kita telah melihat kalau pasal 4 dan pasal 5 dan yang selanjutnya sampai pasal ke-6 ini adalah pasal-pasal yang berbicara mengenai praktika kehidupan dari pada orang-orang Kristen. Sedangkan pada pasal 1-3 itu berbicara mengenai hal-hal yang bersifat doktrinal, pengajaran yang Paulus berikan pada gereja di Efesus, tapi begitu masuk pasal 4-6 Paulus berbicara mengenai hal-hal yang bersifat praktis. Namun pada waktu kita melihat pada hal yang bersifat praktis kita bisa diajak kembali untuk melihat ternyata Paulus tidak hanya berbicara mengenai etika, moralitas, dan perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen saja, tetapi di dalam setiap bagian dari pada perbuatan yang Paulus kehendaki orang Kristen untuk lakukan di situ Paulus sisipkan doktrinal kembali. Saya percaya ini berbicara mengenai suatu kehidupan Kristen yang tidak mungkin terlepas dari pada kebenaran firman Tuhan atau kebenaran yang bersifat teologis dalam kehidupan kita. Termasuk di dalam bagian pasal ke-5 ayat pertama dan ayat yang kedua ini. Paulus berkata sebagai orang Kristen jadilah penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Kenapa kita perlu memiliki kehidupan yang baik? Kenapa kita perlu memiliki kehidupan yang mengasihi? Kenapa kita harus meninggalkan kemarahan kita, fitnah dan segala sesuatu yang ada di dalam hati kita, kegeraman? Alasannya karena kita harus menjadi penurut-penurut dari Allah. Istilah ‘penurut dari Allah’ di bagian ini adalah sebenarnya lebih tepat diartikan sebagai imitator atau peniru. Siapakah orang Kristen itu? Orang Kristen adalah orang yang diminta untuk mengimitasi, orang Kristen adalah orang yang diminta untuk meniru Allah di dalam kehidupan dari diri kita. Ini adalah dasar dari pada kehidupan orang-orang Kristen. Ada bagian-bagian lain di dalam Alkitab yang bisa membicarakan hal ini ya, misalnya di dalam Matius 5:48, Tuhan berkata, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna,” misalnya juga di dalam 1 Petrus 1:15-16, Petrus berkata, “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Jadi pada waktu kita hidup sebagai orang Kristen, siapakah orang Kristen itu? Apa yang harus dilakukan oleh orang Kristen? Alkitab berkata orang Kristen adalah orang yang memiliki kehidupan yang meniru Allah di dalam kehidupan mereka, atau istilah lainnya dari imitator itu adalah seseorang yang mengimitasi atau meniru bukan hal-hal yang bersifat umum tapi hal-hal yang bersifat khusus dari orang yang ditiru. Atau istilah lainnya kalau kita terjemahkan dari kehidupan orang Kristen, kita adalah orang-orang yang mengimitasi, meniru karakter dari Allah di dalam kehidupan kita.

Saudara, saya percaya ini adalah panggilan kita sebagai orang yang harus bersaksi di tengah-tengah dunia ini, yaitu menyatakan karakter Allah di dalam kehidupan diri kita. Dan kalau kita harus menyaksikan karakter Allah, hal apa yang harus ada di dalam kehidupan kita? Saya percaya hal yang paling penting adalah kita tidak mungkin bisa menyaksikan Allah atau meniru apa yang menjadi karakter Allah kalau kita tidak pernah mengenal siapakah Allah kita tersebut. Karena itu di dalam kehidupan kita sebagai orang yang diminta untuk meniru Allah, hal yang perlu kita ketahui adalah kita perlu mengerti karakter Allah kita itu seperti apa. Dan untuk bisa mengerti karakter Allah kita itu seperti apa maka kita harus bisa mempelajari karakter Allah kita melalui Kitab Suci. Kita bersyukur sekali karena orang-orang Kristen adalah orang-orang yang dikaruniakan firman Tuhan dalam kehidupan kita. Pada waktu Bapak, Ibu, Saudara ingin mengenal Tuhan, saya percaya pengenalan akan Tuhan itu tidak mungkin bisa dimengerti oleh seseorang melalui mereka mengamati alam, melalui mereka menyelidiki apa yang menjadi keberadaan Allah yang ada di dalam alam semesta ini. Mungkin alam bisa mencirikan Allah sebagai Allah yang adil, mungkin alam bisa mengatakan Allah kita itu adalah Allah yang memiliki kekuatan yang begitu besar sekali melalui peristiwa-peristiwa alam yang terjadi di dalam dunia ini, tapi untuk bisa mengenal Allah secara pribadi, untuk bisa mengerti apa yang sudah Allah lakukan di dalam kehidupan kita, manusia yang berdosa ini, untuk bisa mengerti apa yang menjadi rencana Allah bagi dunia ini, dan untuk mengerti apa yang dikehendaki Allah dari pada kehidupan manusia dan orang-orang yang sudah ditebus oleh Dia di dalam Kristus, saya percaya itu semua kita tidak bisa dapatkan dari alam tetapi kita hanya bisa dapatkan itu dari wahyu khusus Allah yaitu firman Tuhan. Karena itu untuk bisa mengerti firman, mempelajari firman, mengenal Allah melalui firman itu adalah hal yang penting yang harus kita selidiki dan kita teliti karena Tuhan sudah mengkaruniakan itu dalam kehidupan kita.

Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, satu hal lagi yang perlu kita pahami baik-baik, pada waktu kita diminta untuk menjadi seperti Allah, dapatkah kita sungguh-sungguh menjadi seperti Allah atau meniru Allah dalam kehidupan kita? Lalu pada waktu kita diminta untuk menjadi dan meniru Allah, aspek apa dari pada diri Allah yang kita bisa tiru dalam kehidupan kita? Saya pernah berbicara dengan satu orang yang berkata seperti ini, “Saya seringkali mendengar pendeta bicara bahwa kita harus menjadi serupa dengan Allah, bisakah kita menjadi serupa dengan Allah, apa yang Allah lakukan kita lakukan dalam kehidupan kita?” Lalu orang ini kemudian berkata, “Kita nggak mungkin bisa menjadi serupa dengan Allah, apalagi kita hidup di dalam dunia yang berdosa ini, kita nggak mungkin bisa memiliki suatu kehidupan seperti Allah yang memiliki kehidupan yang kudus.” Saya percaya keserupaan dengan Allah ini berkaitan dengan 2 atribut Allah: pertama adalah atribut yang tidak dikomunikasikan dan kedua adalah atribut yang dikomunikasikan. Kalau Bapak-Ibu mempelajari teologi maka kita akan membahas ini dan kita akan begitu terbiasa dengan 2 pengertian ini. Apa yang dimaksud dengan atribut yang tidak dikomunikasikan? Tidak dikomunikasikan itu berarti sesuatu yang menjadi milik Allah yang tidak ada pada manusia ciptaanNya, gampangnya seperti itu. Jadi pada waktu kita melihat pada diri Allah dan manusia ciptaanNya, ada suatu perbedaan kualitatif yang besar sekali antara Allah dengan manusia, dimana manusia ketika berusaha untuk menjadi seperti Allah dia tidak akan pernah bisa menjadi seperti Allah seumur hidup dia atau selama-lamanya dalam kehidupan dia. Karena ada perbedaan antara Allah dengan manusia.

Nah perbedaan itu apa? Misalnya Alkitab berkata Allah itu ada pada diriNya sendiri, Allah adalah Pribadi yang tidak tergantung pada apapun yang ada di dalam dunia ini. Allah bisa ada tidak perlu butuh dari subyek lainnya membuat Dia ada. Allah adalah Allah yang ada tidak tergantung dari pada obyek kasih atau manusia yang Dia ciptakan di dalam dunia ini. Allah tetap Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Dia adalah Allah dan Dia tidak butuh apapun dalam kehidupan Dia. Beda dengan manusia, kita ada karena apa? Kita bisa ngomong kita ada karena orangtua kita melahirkan kita, kita ada karena Allah mencipta kita melalui orangtua kita. Apakah kita bisa ada karena dari diri kita sendiri? Alkitab berkata kita tidak mungkin ada dari diri kita sendiri, kita membutuhkan orang lain untuk bisa hidup dalam dunia ini, kita bahkan membutuhkan Allah untuk bisa berjalan di dalam dunia ini. Satu detikpun dalam kehidupan kita untuk kita bisa hidup kita butuh penopangan dari Tuhan Allah. Ini perbedaan antara Allah dengan ciptaan atau dengan manusia yang dikatakan sebagai perbedaan keberadaan. Allah ada pada diriNya sendiri, manusia adalah suatu makhluk yang selalu bergantung kepada pribadi yang namanya Pribadi Allah. Misalnya contoh lain dari atribut yang tidak dikomunikasikan adalah Allah adalah Allah yang maha hadir, Allah adalah Allah yang kekal. Saudara, kekal itu maksudnya apa? Kekal itu adalah suatu keberadaan yang ada di luar waktu, keberadaan yang selama-lamanya, keberadaan yang tidak berubah. Manusia begitu tidak? Saya percaya manusia ada bagian kekal, dimana kekekalan manusia berbicara mengenai suatu keberadaan yang tidak ada akhirnya tetapi ada mulanya. Allah berbeda, Allah itu adalah suatu keberadaan yang tidak ada mulanya, Dia yang mengakibatkan segala sesuatu ada di dalam dunia ini, dan Dia adalah akhir dari segala sesuatu, tapi Allah sendiri tidak ada di dalam segala sesuatu yang diciptakan walupun Dia bisa bekerja di dalam ciptaan, Dia da di luar dari pada ciptaanNya. Nah Saudara, kalau kita bicara Allah itu kekal, kekekalan Allah bagaimana dengan kekekalan manusia, itu berarti ada suatu perbedaan yang besar. Kekekalan manusia adalah suatu kekekalan yang senantiasa, saya percaya, ada di dalam waktu walaupun waktunya tidak ada akhirnya tetapi kekekalan Allah adalah kekekalan yang ada di luar dari waktu. Bagaimana kita bisa pahami ini? Saya percaya ini adalah sesuatu yang sulit sekali, tetapi saya pelu katakan ini supaya kita bisa memahami kalau Allah itu berbeda dari diri kita. Jangan pernah berpikir kalau kita ini adalah kekal. Kita paling tidak bisa mandiri hidup dalam dunia ini, itu berarti kita adalah pribadi yang bisa menjadi seperti Allah? Itu tidak mungkin. Adam mengira dia bisa menjadi seperti Allah tetapi akibat dari pada tindakannya yang ingin menjadi seperti Allah, Allah kemudian membuang dia dari Taman Eden  dan menghukum dia karena dia ingin menjadi seperti Allah yang tidak mungkin dia bisa menjadi seperti Dia. Satu karakter Allah yang tadi saya katakan Kemahahadiran, itu juga menyatakan suatu perbedaan dari ciptaaan yang tidak mungkin bisa dimiliki oleh ciptaan. Allah bisa ada dimana-mana, kapanpun. Di detik yang sama Dia ada disini, Dia ada di seluruh dunia dalam keberadaan Dia yang utuh, pribadi Dia yang utuh. Sedangkan kita adalah pribadi yang tidak mungkin bisa ada ditempat yang berbeda-beda  pada waktu yang sama. Saudara, ini adalah atribut Allah yang tidak dikomunikasikan dengan ciptaanNya atau dengan manusia.

Tetapi di sisi lain Alkitab juga berkata ada atribut-atribut yang Allah bisa dikomunikasikan dengan manusia. Atribut itu apa? Atribut itu berupa misalnya kekudusan, kebijaksanaan, kesatuan yang nanti kita akan lihat, kerendahan hati misalnya. Ini adalah sesuatu yang Tuhan bisa komunikasikan bagi kita dan kita bisa memiliki itu dalam kehidupan kita dan kita bertumbuh dalam kehidupan kita. Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, walaupun ada atribut yang Allah komunikasikan kepada kita ada satu hal lagi yang perlu kita perhatikan baik baik. Semua sifat Allah dan karakter Allah yang dinyatakan di dalam atribut Allah yang dikomunikasikan itu tetap adalah sesuatu yang Alkitab katakan satu sisi tidak mungkin bisa kita  lakukan dalam kehidupan kita. Tapi disisi lain Alkitab juga memerintahkan untuk memiliki itu atau untuk meniru atribut-atribut itu dalam kehidupan kita. Misalnya kita ambil contoh, di dalam Matius pasal yang ke-5, di dalam Ucapan Bahagia, Tuhan Yesus berkata, “Berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Alllah karena merekalah yang empunya kerajaan Surga, Berbahagialah orang yang berduka cita karena mereka akan dihibur, berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki bumi, berbahagialah mereka yang haus dan lapar akan kebenaran karena mereka akan dipuaskan,” dan seterusnya. Seorang pengkhotbah, Martin Lloyd Jones berkata ini adalah ucapan yang sangat sangat indah sekali, suatu karakter yang dikatakan di dalam ucapan ini adalah suatu karakter yang menjadi milik orang-orang yang ada di dalam kerajaan Allah. “Tetapi ada satu hal,” Martin Lloyd Jones berkata, “Walaupun ini adalah karakter dari pada anak-anak Allah, orang-orang yang ada didalam Kerajaan Allah, tetapi tahu tidak, bahwa tidak ada satu manusiapun yang bisa melakukan khobah di bukit dalam kehidupan mereka.” Saya percaya ini adalah suatu ucapan yang benar. Siapa yang bisa berdiri di hadapan Allah di dalam Kerajaan Sorga? Alkitab berkata Mereka adalah orang yang miskin, miskin secara rohani di hadapan Tuhan. Saya percaya manusia berdosa tidak akan mengakui hal ini. Manusia berdosa akan merasa bahwa dirinya  adalah orang yang mampu dan layak di hadapan Tuhan, manusia berdosa akan merasa dirinya adalah orang yang bisa hidup benar di hadapan Tuhan dan bisa mendapatkan upah dari Tuhan yang yang baik bagi kehidupan dia. Tapi Alkitab berkata orang yang ada di dalam Kerajaan Sorga bukan orang yang mampu tapi orang yang miskin, orang yang miskin secara rohani, orang yang sadar akan dosanya, orang yang sungguh-sungguh memilki kelembutan hati terhadap apa yang menjadi perkataan Tuhan. Siapa yang bisa memiliki itu? Saya percaya sulit sekali, bahkan kita sebagai orang Kristenpun ketika hidup di dalam dunia ini sering kali kita bukan melembutkan hati di hadapan Tuhan tetapi kita mengkeraskan hati kita terhadap apa yang menjadi perkataan Tuhan dalam kehidupan kita. Jadi siapa yang mampu menjalankan Khobah di Bukit? Saya percaya tidak ada satupun orang yang mampu menjalankan Khotbah di Bukit dalam kehidupan dia, atau satu orangpun yang bisa memiliki karakter Allah di dalam kehidupan dia.

Tapi kalau kita tidak mungkin memiliki karakter Allah, kenapa di dalam Efesus 5:1 di sini dikatakan oleh Paulus, “Hendaklah kamu menjadi penurut-penurut Allah”? Kenapa di dalam Matius 5:48 Tuhan Yesus sendiri berkata, “Hendaklah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna”? Kenapa di dalam 1 Petrus 2:15-16 kita dituntut untuk memiliki kekudusan dalam kehidupan kita karena Allah itu adalah kudus? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ini bukan berbicara mengenai pengajaran yang  bertentangan di dalam Kitab Suci, tetapi ini berbicara mengenai suatu paradoks. Ada suatu kebenaran yang terkandung dibalik dua hal yang kelihatannya salah dan bertolak belakang tetapi sebenarnya ada suatu kebenaran yang lebih mendalam yang Tuhan ingin nyatakan bagi diri kita. Dan kebenaran itu apa? Alkitab berkata pada waktu seseorang hidup dalam dunia ini, yang tidak mampu untuk mentaaati Tuhan, memiliki karakter Tuhan dalam kehidupan dia bisa menjadi orang yang memiliki karakter Tuhan kuncinya adalah ada kuasa lain yang bekerja di dalam diri orang tersebut yang membuat orang itu bisa melakukan apa yang menjadi karakter Tuhan dalam kehidupan dia. Ini dikatakan Paulus di dalam Efesus 3:16-17, Paulus berdoa kepada Tuhan, ia berkata, “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaanNya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh rohNya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.” Apa yang membuat seseorang bisa berdasar di dalam kasih? Apa yang membuat seseorang bisa memiliki karakter kasih Allah di dalam kehidupannya? Paulus berkata Roh kudus yang berdiam di dalam diri kita, itu yang membuat kita mampu  memiliki kehidupan yang mengasihi. Atau di dalam ayat 19 dikatakan, “Suatu kehidupan yang mengenal kasih itu sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita tidak mungkin menjadi orang yang penuh di dalam seluruh kepenuhan Allah dari diri kita sendiri, hanya Roh Kudus yang mampu untuk membuat kita menjadi seorang yang penuh di dalam seluruh dari pada kepenuhan Allah.

Jadi kalau dari ini kita bisa menarik suatu kesimpulan, apa yang membuat seseorang itu bisa hidup benar di hadapan Tuhan? Apa yang membuat seseorang itu bisa memiliki kekudusan di dalam diri dia? Alkitab berkata semua itu adalah pekerjaan Allah yang Allah kerjakan di dalam diri kita dan ini membuat kita harusnya bergantung total kepada pertolongan dari Allah Roh Kudus. Atau kalau saya mau tarik lebih lanjut adalah seperti ini ya. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita melihat kehidupan yang baik, yang jujur, yang berusaha menolong orang lain, apakah itu adalah suatu kehidupan yang hanya dilakukan oleh orang Kristen saja atau orang yang di luar Kristen juga melakukan itu? Saya percaya orang di luar Kristen juga melakukan hal itu bukan? Mereka melakukan kebaikan-kebaikan di dalam kehidupan mereka; dan orang Kristen juga melakukan kebaikan-kebaikan di dalam kehidupan mereka. Kalau begitu ada tidak perbedaan antara orang Kristen bila melakukan kebaikan dengan orang bukan Kristen di dalam melakukan kebaikan? Bisa tidak kita melihat perbedaan itu? Dan kalau ada dan bisa, perbedaannya terletak pada apa? Coba bandingkan dengan yang tadi kita bahas sebelumnya ya, bahwa seseorang bisa melakukan karakter Kristus atau kebaikan yang menjadi kebaikan Allah, Alkitab bilang Itu bukan dari diri tetapi itu adalah pekerjaan Allah melalui Roh KudusNya di dalam diri kita.

Kalau begitu ada tidak perbedaan antara orang Kristen dengan orang yang bukan Kristen melakukan di dalam melakukan kebaikan? Saya percaya ada perbedaan itu ya. Paling tidak ada 3 perbedaan kalau Bapak, Ibu, Saudara ingin mengetahui kehidupan orang Kristen dengan orang yang bukan Kristen. Hal pertama adalah, perbedaannya, orang Kristen yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan, yang mengalami kelahiran baru dalam kehidupan dia, mereka adalah orang yang cinta atau bersukacita akan standar kekudusan atau kesucian dari Tuhan. Ini yang pertama. Kalau Allah itu adalah Allah yang bekerja di dalam hati kita untuk mengubah sesuatu yang dari manusia lama menjadi manusia baru, manusia yang membenci dosa menjadi manusia yang mengasihi Allah dan mengutamakan Allah dalam kehidupan dia, karena dia memiliki Roh yang kudus itu, maka hal pertama yang akan dilihat dalam kehidupan orang Kristen adalah apa? Kita pasti bersukacita terhadap standar Allah yang kudus. Saudara, tapi ini bukan sesuatu yang diinginkan oleh orang dunia. Orang dunia, ketika melihat standar tuntutan Allah yang kudus, mereka merasa itu adalah suatu beban, “itu memang baik, tetapi itu bukan sesuatu yang sepertinya yang saya inginkan, itu bukan sesuatu yang harus saya lakukan, walaupun kelihatannya itu baik.” Tetapi bagi orang-orang Kristen, pada waktu mereka melihat tuntutan Allah yang suci, hukum Tuhan yang suci, ada satu kerinduan dalam hati kita, kita ingin memiliki kehidupan yang suci tersebut. Ini perbedaan yang pertama. Karena apa? Ada Roh Kudus Tuhan yang bekerja dalam hati kita, memberikan satu hati yang baru dalam kehidupan kita.

Yang kedua adalah, pada waktu kita melakukan sesuatu tindakan, dalam diri kita, orang Kristen yang sungguh-sungguh pasti dipenuhi dengan ucapan syukur di dalam hati mereka. Karena apa? Khususnya di dalam keselamatan yang Tuhan karuniakan bagi diri kita. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab berkata, kita tidak mungkin diselamatkan melalui perbuatan kita, tetapi itu adalah pemberian Allah. Kita bisa hidup di dalam dunia ini, Alkitab berkata, itu bukan karena usaha yang kita lakukan, tetapi karena Tuhan memberkati diri kita. Kita bisa hidup dalam dunia ini dengan suatu kesehatan, suatu kehidupan yang berumur panjang mungkin, itu bukan karena kita bisa mengusahakan itu, tetapi itu adalah penopangan dari Tuhan Allah. Kalau kita melakukan segala sesuatu dalam dunia ini, menurut kacamata Tuhan, bahwa itu semua bisa kita nikmatin karena pemberian Tuhan yang baik dalam kehidupan kita, mungkin tidak kita tidak bersyukur? Saya percaya kita akan bersyukur dalam kehidupan kita. Tapi beda dengan orang dunia. Pada waktu mereka melakukan segala sesuatu, mungkin satu sisi ada bagian itu sedikit, tetapi saya percaya di bagian yang paling besar adalah mereka merasa itu adalah jasa mereka. Dan pada waktu mereka berbicara mengenai suatu kehidupan di dalam kekekalan, mereka akan berkata. “Saya akan lakukan segala sesuatu untuk bisa mengambil hati Tuhan dalam hidup saya supaya saya bisa diterima oleh Tuhan.” Tapi orang Kristen tidak. Mereka berkata: “Itu adalah pemberian Tuhan, itu bukan hasil usahaku, yang bisa membuat aku mengambil hati Tuhan dalam kehidupanku.”

Tapi ada bagian yang ketiga, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan. Pada waktu kita hidup sebagai orang Kristen yang sungguh-sungguh pada Tuhan, setiap kali kita berusaha melakukan yang baik dan bahkan yang terbaik yang kita bisa lakukan dalam kehidupan kita, apa yang kita rasakan, apa yang kita sadari? Saya percaya hal yang terbaik sekalipun, yang kita lakukan, itu adalah sesuatu yang tetap tidak pernah bisa memenuhi apa yang menjadi tuntutan standard Tuhan yang baik. Saya mengasihi orang, Alkitab: tetap dalam hati saya, saya tetep sadar, kasih saya tetep tidak mungkin menjadi seperti kasih Kristus yang sempurna itu. Saya menolong orang lain, saya tetap sadar, pertolongan saya tetap tidak mungkin sesempurna daripada pertolongan yang Tuhan berikan kepada seseorang. Saya melakukan keadilan dalam kehidupan saya, saya tetap menyadari bahwa keadilan saya masih penuh dengan kekurangan. Apa yang kita lakukan, sebaik apapun itu, tetap kita tahu bahwa ada satu standard yang paling sempurna itu, tetap kita tidak mungkin  bisa mencapai  itu. Dan ini membuat kita memiliki kerendahan hati. Tetapi bagi orang di luar Kristus, mereka akan merasa: saya bisa lho, saya cukup baik, saya bisa melakukan hal-hal yang membuat saya diterima oleh Tuhan. Tapi orang Kristen berkata, saya tidak mungkin mencapai standard yang sempurna itu.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa bisa seperti ini? Karena sekali lagi, untuk bisa memiliki karakter Kristus, itu bukan sesuatu yang kita bisa usahakan. Hanya karena Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita, yang membuat kita bisa melakukan itu. Dan tindakan itu adalah suatu proses yang terus menerus akan terjadi dalam kehidupan kita, sampai kita menghadap Tuhan. Saya percaya poin yang terakhir ini adalah hal yang penting ya. Kalau kita tahu bahwa kehidupan kita yang bisa meniru Tuhan, itu adalah hasil dari pekerjaan Roh Kudus di dalam diri kita. Apa yang akan terjadi? Saya percaya ini akan membuat kita, pertama, memiliki kerendahan hati. Bahwa kita menyadari, kita membutuhkan Tuhan. Hal yang kedua adalah kita pasti akan berproses di dalam kekudusan. Tidak ada seorang Kristen pun yang bisa mandek dalam hidup mereka. Tidak ada seorang Kristen pun yang bisa berkata, “Aku tetap akan melakukan dosa dalam kehidupanku.” Tidak ada seorang Kristen pun bisa merasa puas dengan hal-hal yang jauh daripada kehendak Tuhan. Karena apa? Ada Roh Kudus di dalam hati dia yang akan terus menegur, terus memperbaharui keinginan hatinya untuk menjadi serupa dengan apa yang menjadi keinginan Tuhan. Dan akan terus menguduskan diri dia untuk melakukan hal-hal yang menjadi kehendak Tuhan dalam kehidupan dia.

Makanya dikatakan, kalau Roh Kudus itu bekerja di dalam hati, saya percaya orang Kristen tidak akan berhenti di dalam pertumbuhan, di dalam proses, tetapi dia akan terus berproses sampai seperti apa yang Tuhan kehendaki ada di dalam kehidupan dia. Itu yang akan terjadi. Makanya di dalam pasal yang ke-5, ayat yang pertama, Paulus berkata, “Kamu harus menjadi peniru-peniru Allah,” atau, “Kamu harus menjadi imitasi atau penurut-penurut Allah, atau imitasi daripada Tuhan Allah.” Dan ini adalah suatu perintah. Kenapa? Sebabnya karena Tuhan bekerja dalam diri kita, tidak mungkin kita hidup tidak sesuai dengan apa yang Roh Kudus kerjakan di dalam diri kita. Itu adalah 2 hal yang harus sinkron satu dengan yang lain. Tapi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di bagian ini, Paulus ajak kita melihat secara lebih spesifik. Hal apa dalam hidup kita yang harusnya kita turuti dari diri Allah? Hal apa yang harus kita tiru dari Tuhan Allah dalam kehidupan kita. Kalau tadi saya membahas hal-hal yang bersifat umum, bahwa Allah itu kudus maka kita harus kudus. Dalam bagian ini, Paulus memberikan suatu hal yang spesifik yang harus kita lakukan. Atau kalau kita mau tarik kembali ke belakang sedikit, Paulus memberikan beberapa hal yang spesifik, yang harusnya kita lakukan dan tiru daripada Tuhan Allah. Misalnya, di dalam ayat 1-3 dari pasal 4, Paulus berkata, “Hendaklah kita memiliki kerendahan hati.” Di dalam pasal 4 ayat 4-16, di situ Paulus katakan, “Hendaklah hidupmu ada di dalam kesatuan.” Di dalam ayat 17-32 dari pasal 4, dikatakan hidup  dalam perbedaan. Di dalam pasal 5, ayat yang ke-2, yaitu pasal yang kita bahas, yaitu hidup di dalam kasih. Di dalam ayat yang ke-8 dari pasal 5, kita hidup dalam terang. Di dalam ayat yang ke-15, dari pasal 5, kita hidup dalam kebijaksanaan dan kearifan. Dalam ayat yang ke-18 dari pasal 5, kita hidup dalam Roh. Dan ayat yang ke-10 dari pasal 6, kita hidup dalam peperangan. Ini adalah suatu kehidupan yang Tuhan ingin kita tiru.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa kita harus lakukan itu semua? jawabannya adalah karena Tuhan adalah Tuhan yang rendah hati maka kita harus memiliki kerendahan hati. Karena Tuhan adalah Allah Tritunggal yang satu, maka kita harus memiliki kesatuan di dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan. Karena Tuhan adalah Allah yang kudus, yang berbeda daripada yang jahat, maka kita harus memiliki kehidupan yang berbeda daripada manusia lama atau kehidupan yang jahat. Karena Allah itu adalah Allah yang kasih, maka kita pun harus memiliki kasih di dalam kehidupan kita. Ini adalah tiru, peniru hal-hal yang harus kita tiru di dalam karakter Allah di hidup kita ini. Dan saya kembali kepada bagian ini. Dalam ayat yang ke-2, pasal 5, Tuhan meminta kita untuk meniru satu hal yaitu karakter kasih daripada Allah dalam kehidupan kita. Kasih, kasih itu apa sih? Saya pikir kalau kita lihat di dalam ayat 31 dan 32, Paulus memberikan kepada kita perilaku-perilaku dari tindakan yang tidak mengasihi dan tindakan yang kasih. Mungkin ini bisa menolong kita untuk mengerti definisi kasih. Di dalam ayat 31, Paulus berkata, “Hal-hal yang merupakan kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, itu adalah tindakan atau perilaku yang bisa dikatakan tidak mengasihi,” tapi tindakan yang kasih itu adalah apa? keramahan seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengagumi. Jadi Bapak, Ibu atau saudara nanya, apa itu tindakan yang tidak mengasihi, hal pertama adalah kalau kita menyimpan rasa kemarahan, kegeraman, kebencian, dendam itu berarti kita tidak memiliki kasih, tetapi orang yang mengasihi itu adalah orang yang ramah terhadap seorang yang lain penuh kasih mesra, terutama adalah orang yang mengampuni orang lain, itu adalah orang yang memiliki kasih, mengapa begitu ya? Sebab dasar seseorang membenci, atau marah , memiliki kepahitan, kegeraman, itu adalah  sesuatu yang timbul dari kegagalan kita untuk mengasihi, jadi kalau kita mau mengatakan sifat yang mengasihi itu seperti apa, saya percaya sifat-sifat yang muncul dari hati seorang yang mengasihi adalah dia memiliki keramahan, dia memiliki kasih mesra, terutama dia memilik hati yang suka mengampuni orang lain. Itu adalah orang yang kasih, tapi nanti saya akan di akhir akan kasih definisi kasih itu sendiri apa, tapi paling tidak ini adalah hal yang Paulus katakan mengenai  kasih itu sendiri , dan bapak ibu saudara yang dikasihi Tuhan dari mana kita bisa mengetahui apakah kita itu mengasihi atau tidak, dan seberapa besar kasih yang kita miliki terhadap seseorang, itu ditentukan oleh apa. Saya percaya kalau kita tanya, kita memiliki kasih atau tidak? Coba tanyakan kepada diri kita, ada tidak seseorang dalam kehidupan kita yang kita benci? Ada tidak seseorang dalam kehidupan kita yang kita marah kepadanya? Ada tidak seseorang dalam kehidupan kita yang kita sering kali katakan hal-hal yang buruk mengenai diri dia? Ada tidak dalam kehidupan kita orang-orang yang kita sering kali fitnah dan sebarkan hal-hal yang jelek mengenai diri dia? Kalau itu ada berarti mungkin kita adalah orang yang kurang kasih dalam kehidupan kita dan kita harus segera tinggalkan itu dan tanggalkan itu karena itu adalah kehidupan manusia yang lama.

Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hal yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa memiliki kasih dalam kehidupan kita, dan besaran kasih kita itu didasarkan pada apa? Saya percaya besarnya kasih kita itu didasarkan pada dua hal. Pertama adalah kesadaran akan kebesaran kasih Allah dalam kehidupan kita. Kita bisa membagikan kasih yang besar kepada seseorang karena apa? Karena kita bisa melihat berapa besar kasih Allah yang Allah sudah berikan dalam kehidupan kita. Ini dicatat di dalam ayat yang ke-2 dari pasal yang ke-5, “Hiduplah di dalam kasih sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan dirinya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” Paulus mengajak kita melihat kasih Allah pada kita itu dalam Kristus, dan bahkan Kristus sendiri menyatakan kasih itu dengan menyerahkan hidupNya bagi hidup kita. Saudara, kalau kita tarik ke dalam Yohanes 3:16 itu berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang Tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kalau kita lihat pernyataan kasih Allah, Allah begitu mengasihi dunia ini, Allah begitu mengasihi manusia, caranya bagaimana? Alkitab tidak pernah berkata, Allah begitu mengasihi manusia dengan memelihara kehidupan manusia, dengan memberkati manusia dengan apa yang hal-hal yang menjadi keinginan diri dia, tetapi Alkitab mengkaitkan kasih Allah itu dengan pengorbanan yang Allah lakukan dalam kehidupan manusia atau bagi manusia, atau istilah lainnya adalah, kalau kita ingin melihat kasih Allah yang begitu besar sekali, lihatlah pada kematian Kristus itu, itu adalah kasih Allah yang besar. Saya percaya besarnya pengorbanan seseorang terhadap orang lain, itu menyatakan besarnya kasih seseorang itu kepada orang lain. Misalnya kalau kita melihat ada seseorang yang rela menanggung bilur-bilur untuk membela diri kita, menanggung memar atau pukulan demi untuk membela kita, saya pikir kita akan berkata orang itu pasti orang yang baik, orang yang mengasihi kita. Tetapi kalo orang yang menanggung kasih itu bagi diri kita sampai mati, bagaimana? Saya pikir kita akan berkata dia adalah orang yang lebih menghasihi kita dari pada orang yang menanggung pukulan bagi diri kita. Jadi besarnya pengorbanan yang diterima atau ditanggung seseorang itu menyatakan besarnya kasih yang ia berikan kepada orang lain.

Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya pikir kalau kita berbicara seperti ini, ini adalah hal yang sangat mulia sekali tetapi seberapa besar kita bisa menyadari kemuliaan itu? Saya pikir kadang-kadang kita di dalam keberdosaan kita ya, membuat diri kita sulit untuk bisa melihat kepada kemuliaan Allah yang besar itu dan menganggap itu adalah hal yang biasa, tetapi mungkin ketika melihat hal yang sederhana yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari itu bisa membantu kita melihat kemuliaan Allah yang besar itu. Saya ambil contoh seperti ini, Chuck Colson pernah menceritakan suatu kisah, dia bilang di dalam peperangan dunia yang ke-2, pernah terjadi prajurit-prajurit Amerika itu tertawan oleh musuhnya, lalu mereka dimasukan di dalam suatu penjara, dan diminta untuk bekerja rodi, lalu mereka dibagi menjadi kelompok-kelompok. Dan pada waktu mereka dibagi menjadi kelompok, masing-masing kelompok itu diserahkan sebuah sekop untuk menggali tanah, dan setiap hari mereka harus pergi dari pagi sampai malam bekerja baru pulang ke dalam penjara; dan pada waktu mereka pulang ke dalam penjara, mereka akan menyerahkan sekop mereka kepada prajurit yang menjaga, dan prajurit yang menjaga akan menghitung satu persatu sekop tersebut. Dan suatu hari di dalam barisan dari tawanan itu yang kembali ke dalam penjara itu untuk menyerahkan sekop, ada satu kelompok yang terdiri dari 20 orang itu menyerahkan sekop mereka kepada seorang prajurit. Lalu prajurit ini ketika menghitung satu persatu dari sekop itu dia mendapatkan hanya ada 19 sekop yang diserahkan kembali, lalu prajurit ini marah sekali, dia berkata, “Siapa yang telah menyembunyikan sekop yang tidak mengembalikan sekop, cepat menghadap maju kedepan dan mengakui perbuatan mu!” Tapi diantara kelompok itu, tidak ada satu orangpun yang maju ke depan untuk mengakui perbuatan mereka, semuanya diam. Akhirnya ketika prajurit melihat tidak ada satupun yang menyerahkan, mengakui tersebut, ia kemudian mencabut pistolnya dan menodongkan pistolnya kepada orang-orang tawanan ini berkata, “Kalau tidak ada yang mengakui, aku akan membunuh lima orang dari antara kalian.” Saudara, semuanya diam. Tapi kemudian ketika mendengar ancaman ini ada seorang anak muda yang berusia 19 tahun mungkin baru masuk kuliah seperti itu, anak itu maju ke depan dan dia berkata, “Akulah yang menyembunyikan sekop itu,” sambil tertunduk ia maju kedepan. Lalu prajurit ini langsung ambil dia kesamping, dia todongkan di kepalanya, dan langsung tembak mati. Tapi ketika semua peristiwa itu telah terjadi, orang-orang tawanan ini yang kehilang satu orang muda diantara mereka kemudian mereka hitung kembali sekop yang ada, betul nggak hanya 19? Pada waktu mereka hitung kembali, ternyata yang ada disitu bukan 19 tapi 20. Prajurit ini sudah salah hitung, salah hitung satu sekop, tetapi akibatnya itu adalah satu anak muda mengalami kematian.

Pertanyaannya adalah kira-kira bagaimana perasaan prajurit-prajurit lain yang lihat anak muda ini yang mati bagi mereka? Kalau kita diantara prajurit itu yang ditodongkan pistol, yang meresikokan nyawa kita, melihat ada satu orang mau berkorban, seorang muda bagaimana kira-kira kita punya perasaan? Saya rasa pikir kita akan merasa ini anak muda yang luar biasa sekali, dia betul-betul mengasihi diri kita, kenapa? Coba bandingkan ya dengan orang tua yang maju ke depan mengorban diri. Misalnya kita bayangkan dua orang ya, satu orang muda 19 tahun, satu orang yang sudah tua 80 tahun atau 60-70-an yang berkata aku yang menyembunyikan itu. Lalu yang tua itu ditembak mati, dengan yang muda ini ditembak mati, kira-kira ada perbedaan tidak? Perbedaannya di mana? Usia, kalau yang tua, mungkin kita akan hargai, “O dia mati,” tapi nggak terlalu rugi ya. Kalau yang muda rugi besar ya, karena masa depannya masih panjang, dia belum menikah, dia belum bekerja, mungkin bisa mencapai kehidupan yang sukses, dia belum menikmati hidup ini, mungkin kita bisa ngomong seperti itu, tapi dia sudah mati demi untuk menjadi korban menggantikan teman-temannya yang lain. Saudara, terharu tidak? Saya pikir kita terharu. Menghargai tidak? Saya pikir kita akan menghargai tindakan anak muda ini. Tapi kalau kita bicara Kristus mati bagi dosa kita, terharu nggak? Sulit ya? Tapi coba bayangin ya, Kristus itu saya percaya beda sekali dengan anak muda ini, tetapi ada kesamaan. Kesamaannya apa? Yesus kapan mati? Alkitab berkata, Dia mati bukan di usia tua, tapi Dia adalah seorang yang mati di usia muda ketika dia berusia 33 tahun. Berarti Dia mati di dalam kondisi saat dia yang paling perkasa, paling kuat, dan paling berpotensi dalam kehidupan Dia untuk mencapai hal-hal yang besar dalam hidup Dia. Baru mulai pelayanan, Dia sudah mengalami kematian. Lalu yang kedua adalah, Dia mati sebagai seorang anak sulung dari seorang janda. Bisa bayangin? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Dia bukan anak bungsu, Dia bukan anak yang tengah-tengah, tapi Dia anak yang sulung. Dan bahkan anak sulung ini bukan dari keluarga yang utuh, tetapi keluarga yang tinggal satu ibu saja yang membesarkan mereka dan merawat mereka. Kita tahu dari pada waktu Yesus di atas kayu salib melihat pada Maria ibunya, dan Dia lihat di samping Maria ada Yohanes, Dia berkata, “Mulai hari ini ibu, inilah anakmu; dan Yohanes, inilah ibumu.” Saya percaya kalimat ini menunjukkan kalau saat itu Yusuf sudah tidak ada lagi bersama-sama dengan mereka. Tapi seorang anak muda, seorang yang menjadi pengharapan keluarga ini, Dia tidak mempertahankan nyawa Dia tetapi justru Dia mengorbankan nyawanya untuk mati. Saudara, saya percaya itu menyatakan bahwa Dia mengorbankan semua harapan dari keluarganya yang diletakkan pada diri Dia.

Tapi ada hal lain yang kita juga perlu pertimbangkan. Anak muda yang mati ini, itu dikatakan sebagai anak muda yang penuh dengan kesempurnaan. Dia adalah anak muda yang tidak punya cacat, Dia adalah anak muda yang sepenuhnya benar, Dia adalah anak muda yang betul-betul sempurna di dalam kehidupan Dia, tidak pernah melakukan dosa, tidak pernah melakukan kejahatan, tapi Dia mati di kayu salib. Saudara, artinya apa? Saya percaya, di dalam dunia ini, dari Adam sampai hari ini, atau sampai Yesus Kristus datang kedua kali, satu-satunya orang yang layak untuk hidup dalam dunia ini itu adalah Yesus Kristus, bukan kita. Saudara pernah dengar orang suka berbicara kan, “Aduh, kasihan ya, kenapa orang sebaik itu cepat mati, harusnya orang yang jahat itu yang mati, bukan orang yang baik itu.” Tapi inilah yang terjadi pada Yesus Kristus. Pada waktu kita melihat kepada manusia, kita bisa ngomong, orang yang baik itu padahal dia punya banyak sekali dosa mungkin, yang kita tidak perhitungkan. Tapi Yesus tidak ada dosa sama sekali, Dia betul-betul sempurna dan Dia betul-betul tidak ada kesalahan dan kejahatan. Wajar nggak Dia hidup? Saya pikir sangat wajar. Layak nggak? Sangat layak sekali, tidak seperti kita yang tidak layak. Tapi Dia mau mati bagi kita. Kalau kita tambah lagi, bisa ditarik lagi, Dia adalah Anak Allah yang dikasihi oleh Allah. Dan kalau mau tarik lagi, kita mungkin bisa lihat, kalau Dia adalah pribadi yang begitu dikasihi Allah sehingga ketika Dia mengorbankan diri Dia yang sempurna itu, Alkitab mencatat, persembahan Dia menjadi satu persembahan yang harum di hadapan Allah; atau diterima Tuhan. Tapi tidak sampai di situ. Persembahan itu juga membuat diri kita yang tidak layak ini, turut memiliki atau mewarisi warisan yang seharusnya diberikan kepada Kristus. Itu yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita. Saudara, bisa tidak kita lihat betapa besarnya kasih Allah dalam kehidupan kita? Bisa tidak kita melihat pada besarnya kasih Kristus dalam kehidupan kita? Sesuatu yang Dia berikan bukan karena paksaan juga, tapi karena kerelaan yang Dia berikan bagi diri kita. Mungkin untuk hal ini saya bisa ambil contoh seperti ini ya. Misalnya, kalau Bapak Ibu biasa ikuti asuransi jiwa ya, lalu misalnya keluarga kita yang mengikuti asuransi itu mengalami kecelakaan lalu meninggal, dan pihak asuransi memberikan ganti rugi, misalnya, berapa ratus juta. Bapak-Ibu bersyukur nggak? Nggak kan? Kenapa nggak bersyukur ya? Karena sudah kewajiban asuransi kan untuk memberi ganti rugi itu, betul nggak? Tapi bagaimana kalau ketika kita ditinggal orang yang kita kasihi lalu ada orang dari gereja yang datang ke rumah kita, mengunjungi kita, lalu mereka menelpon kita dan menanyakan keadaan kita, dia menemani kita di dalam melewati kesulitan kita, tidak terlalu banyak bicara tapi dia menemani dan mendampingi kita dalam melewati kesulitan kita itu, kesedihan kita, kita akan ngomong apa? Saya pikir kita akan berkata, “Dia adalah orang yang sungguh-sungguh mengasihi diri kita.” Tapi pihak asuransi kita nggak akan pernah berkata, “Mereka adalah perusahaan yang sangat mengasihi kita.” Jadi di dalam kasih ada kebebasan. Makin bebas seseorang di dalam melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan, di situ kita bisa melihat besarnya kasihnya yang dia berikan pada diri kita. Saudara, ini yang dilakukan oleh Kritus. Dia bukan hanya berikan nyawaNya bagi kita, di saat usia yang paling muda yang seharusnya tidak, yang penuh dengan pengharapan ke depan; dan di saat Dia sebenarnya tidak perlu memberikan nyawaNya bagi diri kita, tapi Alkitab berkata, Dia memberikan nyawanya bagi kita berdasarkan kerelaan-Nya sendiri untuk memberikan nyawaNya bagi kita, supaya kita bisa memiliki warisan yang seharusnya Dia terima, tapi kita bisa menerima itu dalam kehidupan kita. Saya percaya kalau kita sungguh-sungguh memahami hal ini, maka kita akan memiliki suatu kehidupan yang lebih mudah mengampuni seseorang yang tidak layak untuk menerima pengampunan itu; atau kita lebih mudah mengasihi seseorang, karena apa? Karena kita telah melihat pada kebesaran kasih Allah yang Allah nyatakan dalam kehidupan kita itu.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di dalam Amsal 10:12 itu ada kalimat seperti ini ya, “Kasih menutupi segala pelanggaran.” Kalau kita adalah orang yang mengasihi, maka yang terjadi adalah, kita pasti tidak suka mengungkit-ungkit apa yang menjadi kesalahan orang terhadap diri kita, tapi kita akan menutupi. Saya bukan berkata, orang lain nggak pernah bersalah sama kita, saya percaya orang ada yang bersalah pada diri kita, tetapi sebagai orang yang mengasihi, kita tidak perlu ungkit-ungkit kesalahan mereka. Dan saya percaya ini adalah hal yang benar ya. Kalau Bapak-Ibu mau bertumbuh secara rohani, khususnya di dalam aspek kasih, yang kita perlu pedulikan adalah bukan bagaimana jahatnya seseorang melakukan sesuatu kepada diri kita, dan bagaimana bersalahnya seseorang terhadap diri kita, tetapi yang kita pedulikan adalah bagaimana kita bisa mengampuni mereka. Pada waktu kita tidak mempedulikan orang lain punya kesalahan pada diri kita dan kita belajar mengampuni orang lain itu, di situlah kita akan mengalami pertumbuhan rohani. Karena kuncinya itu bukan pada orang yang baik pada kita atau orang tidak baik kepada diri kita, tetapi kepada diri kita yang mau mengampuni mereka atau tidak, atau mau mengasihi mereka atau tidak dalam hidup kita. Kuncinya di situ. Karena kasih menutupi pelanggaran seseorang. Jadi hal pertama, kalau kita ingin mengasihi, belajarlah melihat betapa besar kasih Allah itu dalam kehidupan kita.

Tapi yang kedua juga, ini nggak bisa lepas dari pengampunan. Seseorang yang bisa mengasihi seseorang, itu adalah seorang yang menerima, menyadari berapa besar pengampunan yang sudah dia terima dari Tuhan. Kalau dia tidak pernah bisa menyadari diri dia adalah orang yang sudah diampuni, maka dia sulit sekali mengampuni seseorang dan menyatakan kasihnya kepada orang lain. Dan ini dikatakan oleh Alkitab dengan cerita-cerita yang unik ya. Kalau kita perhatikan, banyak sekali Alkitab berkata, misalnya, ada orang Farisi, ada orang berdosa. Orang Farisi adalah orang yang merasa diri benar di hadapan Tuhan. Dan orang berdosa adalah orang yang menyadari dirinya berdosa dan membutuhkan pengampunan dari Kristus. Lalu Alkitab berkata apa? Orang Farisi dan Ahli Taurat tidak pernah membawa orang kepada Kristus tetapi orang yang berdosa itu selalu membawa orang lebih banyak lagi untuk datang kepada Kristus. Dan di dalam Lukas 7 ada satu kisah yang menarik juga seperti ini, pada suatu hari ada seorang Farisi bernama Simon itu mengundang Yesus datang ke rumahnya. Lalu ketika Yesus datang ke rumahnya, Dia duduk di dalam rumah itu menerima jamuan dan berbicara dengan Simon. Lalu pada waktu mereka sedang bercakap-cakap itu ternyata ada seorang perempuan yang berdosa yang berdiri di belakang Yesus, lalu kemudian dia merunduk, dia menangis lalu tangisannya itu membasahi kaki Yesus, dan kemudian dia menyeka kaki itu dengan rambutnya. Lalu bukan hanya sampai di situ, dia kemudian menuangkan minyak wangi kepada kaki  itu dan menciumi kaki tersebut. Pada waktu Simon si Farisi ini melihat kejadian ini dia dikatakan bertanya, “Kalau andaikata dia ini sungguh-sungguh seorang nabi, Dia harusnya tahu siapa perempuan yang sudah memegang kakinya dan menciumi kakinya tersebut. Dan membasahi kakinya itu dengan air matanya.” Tapi pada waktu dia berkata seperti ini, Tuhan Yesus tahu apa yang ada di dalam hatinya dan bertanya, “Simon kalau ada dua orang yang berhutang, satu berhutang 500 Dinar, satu berhutang  50 Dinar, dan kedua-duanya itu tidak bisa mengembalikan uang itu kepada penghutang dan penghutang ini kemudian berkata karena mereka tidak bisa mengembalikan uang itu dan berkata kalau begitu saya hapuskan hutang, kira-kira siapa yang paling bersyukur ya?” Simon berkata, “Kemungkinan besar mereka yang berhutang 500 Dinar yang akan paling bersyukur.” Dan Yesus berkata, “Tahu tidak, Simon, Saya datang kemari engkau tidak berikan air untuk Saya cuci kaki, Saya datang kemari engkau tidak cium Saya, Saya datang kemari engkau tidak tuangkan minyak wangi di kepala Saya. Tapi perempuan ini dari Saya datang, begitu menangisi Saya, membasahi kaki Saya dengan air matanya, menyeka kaki Saya yang kotor dengan air matanya, meminyaki kaki Saya dan menciumi kaki Saya, karena itu Saya katakan dosamu sudah diampuni, hai perempuan.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, orang yang tidak bisa menyadari berapa besar dosanya dia nggak mungkin memiliki kesadaran untuk mengampuni orang lain. Karena apa? Dia sendiri belum pernah menerima pengampunan. Orang yang bisa mengampuni orang lain itu adalah orang yang sudah mengalami pengampunan dari Kristus sendiri. Kalau kita lihat didalam Matius juga ada kalimat, perumpamaan tentang orang yang berhutang 10.000 dinar dan orang yang berhutang 300 Dinar ya. Orang yang berhutang 30 Dinar itu ketika melihat temannya yang berhutang kecil kepada dia langsung menangkap dia, menyiksa dia tapi kemudian ketika rajanya mengetahui hal itu memanggil orang ini kembali dan dia berkata, “Saatnya engkau yang sudah dihapus hutangnya 10 Dinar itu engkau harusnya bisa memberikan penghapusan hutang kepada saudaramu  yang berhutang hanya 300 Dinar. Tapi mulai sekarang engkau akan kumasukkan  ke dalam penjara, diserahkan kepada algojo dan disiksa sampai engkau bisa membayar 10.000 Dinar.” Saudara, seseorang yang tidak pernah bisa memberikan pengampunan hanya ada satu sebab, karena kemungkinan besar dia tidak pernah menerima pengampunan dalam kehidupannya. Seseorang yang tidak pernah bisa mengasihi seseorang hanya satu sebab, karena dia belum pernah melihat besarnya kasih Allah yang diberikan di dalam kehidupan dia.

Kasih itu apa? Kalau tadi dikatakan kasih itu bukan suatu tindakan yang penuh dengan kegeraman dan lain-lain, tapi saya mau kasih satu definisi. Kasih, menurut Alkitab itu tidak pernah berkaitan dengan perasaan. Lalu kasih itu apa? Kasih itu adalah suatu perintah dari Tuhan untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain dengan cara mengorbankan diri kita. Itu adalah kasih. Dan Saudara, Tuhan memerintahkan kita untuk menyatakan cinta kasih orang lain, karena apa? Karena Kristus telah mengasihi kita terlebih dahulu; dan Tuhan meminta kita mengampuni orang lain karena Kristus sudah mengampuni diri kita terlebih dahulu. Tetapi ada satu hal, pegang ini baik-baik, di dalam relasi kita dengan semua manusia dan semua anak Tuhan, ada satu komitmen kasih yang Tuhan ingin kita pegang teguh dan tidak pernah boleh diabaikan dan ditinggalkan yaitu komitmen kasih kita kepada pasangan. Saudara, suami-istri adalah suatu pasangan yang Tuhan minta kita belajar saling mengasihi dan perintahkan kepada kita untuk mengasihi mereka seumur hidup kita sampai kematian memisahkan, hanya suami istri. Semua yang lain mungkin Tuhan bisa agak ampuni, tetapi Saudara, kepada pasangan kita itu adalah satu-satunya orang yang Tuhan perintahkan kamu harus belajar mengasihi mereka sampai kematian memisahkan. Karena apa? Kasih adalah komitmen. Dan Tuhan ingin kita belajar menunjukkan kasih Allah dalam kehidupan kita, dan pengampunan Allah dalam kehidupan kita untuk kita berikan kepada pasangan kita. Orang lain mungkin kita bisa abaikan, orang lain mungkin  kita bisa hindari, tapi Tuhan tidak mau kita hindari dan abaikan pasangan kita. Kalau kita sampai berkata mereka tidak layak untuk kita kasihi, saya pikir Tuhan pun akan berkata engkau tidak layak untuk saya kasihi. Karena di dalam Alkitab, khususnya di dalam kitab Maleakhi itu ada kalimat, “Tuhan akan menghukum suami-istri yang meninggalkan pasangannya yang muda itu di hari muda mereka. Dan Tuhan tidak akan membuka pintu berkatNya terhadap doa yang diminta oleh orang-orang yang menceraikan istri masa mudanya,” karena ini adalah satu komitmen yang Tuhan ingin lihat dari kehidupan anak-anaknya. Kasih dari Tuhan sendiri yang ingin Tuhan kita nyatakan dalam kehidupan kita kehidupan keluarga kita.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, jadilah penurut Tuhan. Jangan jadi penurut iblis tapi jadilah penurut Tuhan. Dan penurut Tuhan adalah hidup yang rohani, hidup yang saling mengasihi dan mengampuni, hidup dalam kekudusan dan perbedaan, hidup dari perbedaan di antara orang dunia, dan hidup di dalam kesatuan. Tetapi yang terutama adalah hidup di dalam cinta kasih. Karena Alkitab berkata, ciri dari anak Tuhan adalah saling mengasihi satu dengan yang lain. Kiranya ini boleh menjadi satu kehidupan yang kita nyatakan senantiasa dalam kehidupan keluarga kita dan kehidupan sepanjang satu tahun ini. Mari kita masuk kedalam doa.

Kami kembali bersyukur ya Bapa, untuk firman yang boleh Engkau nyatakan bagi kami. Seringkali kami mendengar akan cinta kasih Kristus dalam kehidupan kami, seringkali kami mendengar akan pengorbanan yang telah Engkau berikan mati di atas kayu salib. Sehingga karena keseringan itu kami seringkali pula lupa akan betapa mulia tindakan yang telah Engkau kerjakan bagi kami di atas kayu salib, tidak bisa mengerti betapa besarnya kasih yang telah Engkau nyatakan bagi diri kami. Tapi ya Bapa, saat ini kami mohon biarlah kebenaran ini, kemuliaan cinta kasihMu, pengorbananMu, kerelaanMu untuk menebus dosa kami itu boleh sungguh-sungguh menjadi suatu kebenaran yang dapat kami lihat secara jelas di depan mata kami sehingga kami juga dapat menyatakan itu dalam kehidupan kami. Tolong pimpin kami ya Bapa, sebagai anak-anak yang hidup di dalam kasih antara seorang dengan yang lain yang menyatakan bahwa kami adalah anak-anakMu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, yaitu Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami telah berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *