Menghidupi Iman yang Rasuli, 8 Maret 2020

Flp. 3:17-21

Vic. Leonardo Chandra, M. Th

Dalam bagian ini ada suatu statement yang menarik ya dari Paulus, dia mengatakan untuk “ikutilah teladanku dan perhatikan mereka yang hidup, sama seperti kami menjadi teladanmu.” Ini suatu statement yang mirip seperti ini pernah beberapa tahun yang lalu. Saya dengarkan Pak Tong kadang-kadang juga ngomong sperti ini, “Ikuti saya, ikuti teladan saya.” Nah di satu sisi mungkin kita berfikir, “Wah ini statementnya sombong sekali, “ikuti saya.” Bukankah kita hanya ikuti Tuhan? Bukankah kita hanya ikut Tuhan dan bukan ikut manusia?” Sebagaimana pun rohani orang tidak ada yang sempurna, sebagaimana pun pemimpin gereja tidak ada yang mutlak sempurna. Kalau begitu kita ikut Tuhan saja ya jangan manusia, bagaimana? Tapi bagaimana kita men-sikron-kan dengan ada bagian sini? Tentu pertama-tama, bagian ini mengikuti teladan Paulus itu mau menyatakan sebagaimana dia mengikuti teladan Kristus ya. Ini bukan hanya mengikuti Paulus tok, semata-mata berhenti di Paulus, tapi ikutilah sebagaimana Paulus itu meneladani Kristus. Jadi fokusnya sebenarnya ke Kristus. Tapi di dalam bagian ini ketika mengatakan “ikutilah teladanku” itu berbicara bahwa kenyataan di dalam kehidupan kita manusia kita memang mengerti mentaati perintah Tuhan dalam aspek vertikal, tapi dengan keseharian kita memang membutuhkan aspek horizontal itu, yaitu dalam artian saya membutuhkan contoh yang konkret, contoh yang real seperti apakah mengikuti Kristus itu ya? Dan karena itulah ada sebenarnya menarik gitu ya kalau seperti Pak Tong katakan juga simbol salib itu simbol yang sederhana tapi sudah menggambarkan dalam sekali ada aspek vertikal dan ada aspek horizontal. Aspek vertikal itu sangat utama tapi bukan berarti membuang semua aspek horizontal, aspek vertikal menjadi dasar horizontal. Dan horizontal itu dibutuhkan juga dalam kehidupan kita.

Bahkan di dalam satu sisi ketika orang bilang, “Pokoknya saya mau ikut Kristus,” seperti apa itu Kristus? “Saya enggak mau ikut orang sama sekali,” itu ada sangat kebayang orang jatuh kedalam ajaran ajaran yang sesat, bahkan bisa masuk pada bidat. Kenapa? Karena orang bilang “saya itu Kristus,” seolah-olah dia bisa klaim ya bahwa setelah ribuan tahun Tuhan memimpin dan menyatakan kebenaran firman-Nya, “Saya lah orang pertama yang benar-benar ikut Kristus, dan saya tidak bisa belajar dari orang-orang lain.” Bisa nangkap ya? Kalau saya bilang, “Saya pokoknya ikut Kristus. Saya enggak mau baca bapa-bapa gereja. Oh saya mau ikut Kristus saya enggak mau baca tulisan orang lain. Saya pokoknya mau baca Alkitab.” Seolah-olah Tuhan itu eksklusif hanya berbicara ke kita saja pribadi, ke satu personal. Kenyataannya tidak. Kenyataannya Tuhan berbicara kepada banyak hamba Tuhan, kepada para bapa gereja. Kembali lagi, tidak ada yang sempurna, tapi semua itu memproses kita dan menjadi alat Tuhan yang konkret, yang fisik, yang real kita lihat seperti apakah hidup meneladani Kristus, seperti apakah kita menaati firman Tuhan. Kita bisa ketemukan ada pandangan ini di dalam bukan saja di masa era postmodern ini ya, karena orang sudah anti kebenaran, semua mengikuti jalannya masing-masing, tapi kita temukan sebenarnya penggambaran itu sudah dari Alkitab. Dari masih jaman Kitab Suci dituliskan sudah ada yang demikian. Kalau tadi seperti saya katakan itu sebenarnya mirip zaman Hakim-hakim ya, yang dimana semua orang berbuat apa yang baik menurut pandangannya sendiri. Zaman itu belum ada raja, orang berbuat apa yang baik di dalam matanya sendiri. Itu adalah konotasi yang negatif sekali. Orang merasa baik apa yang menurut perbuatannya aja. Makanya kita menemukan tulisan di dalam kisah Hakim-hakim itu, kok Yefta persembahkan anaknya? Kok ada Simson berbuat ada begini dan begitu? Itu mau menggambarkan situasi zaman yang tidak ideal, dimana orang berbuat apa yang baik menurut pikirkannya sendiri dan bukan berdasarkan kebenaran firman.

Nah kalau kita masuk pun di dalam Perjanjian Baru ada ketemu ada orang yang semacam ini juga, yang berfikir misalnya, Saya ini aliran Paulus, saya ini aliran Kefas, saya ini aliran Apolos,” atau bahkan, “oh saya ini aliran Kristus,” itu bicara ada banyak aliran-aliran seperti itu. Satu sisi itu membukakan kita ada diversitas di dalam Kekristenan bahkan sejak dari jemaat mula-mula; tapi di aspek lain adalah karena orang itu cuma me-nyemplung masuk ke grup-grup tertentu. Bahkan kalau bilang, “oh saya aliran Kristus,” wah ini paling tinggi kan, iya kan? “Saya ini alirannya Kristus,” jadi bukan Paulus, bukan Apolos, bukan Kefas, Kefas itu Simon Petrus, atau juga saya bukan Calvinist ya, bukan Lutheran, atau bukan juga ikut Pak Tong . “Oh saya ini aliran Kristus,” wah ini paling tinggi dari semua. Hati-hati Bapak, Ibu, Saudara sekalian, karena kayak orang klaim seperti ini pengertiannya seperti apa? Kalau dia bisa mengerti bahwa “Oh iya pokoknya Kristus langsung ngomong ke saya, tidak pakai yang lain-lain, pokoknya saya baca Alkitab saja.” Sola scriptura dalam pengertian solo scriptura ya. Hanya saya baca Alkitab, tidak ada yang lain. Itu ada masalah, karena seringkali ketika orang membaca seperti itu bukan Alkitab yang berbicara kepada dia, dia memasukkan ide, identitas pada Kitab Suci. Itulah sebabnya kadang-kadang ya ketika ketemu orang yang pikirannya sudah agak ngawur, mungkin malah sudah lama malang-melintang di ajaran-ajaran yang ngawur, terus kita pikir bagaimana solusinya? Kasih dia buku. Kasih dia buku T.U.L.I.P. misalnya, kasih dia buku-buku Kristen Pak Tong punya. Ya itu tentu hal yang baik kita bisa berikan seperti demikian. Tapi kadang-kadang saya temukan di dalam beberapa konteks, orang yang baca demikian maka ketika di kasih buku, dikasih bukunya benar lho, T.U.L.I.P. kan? Itu ya yang dari Edwin Palmer misalnya, ataupun dari misalnya buku Pak Tong “7 perkataan salib” dan seterusnya, kita kasih dan dia sudah baca dari awal sampai akhir, kok tetap bisa pemikirannya keliru? Karena itu masalah konsep cara bacanya itu sudah salah, kerangka berfikirnya salah, dikasih data dia akan mencocokkan dengan cara berfikirnya. Ini paling-paling masalah.

Saya sendiri, kalau kita mau fair saja ya, di dalam satu kesempatan itu saya ngomong ya, sebenarnya kalau kita ngomong-ngomong contoh gitu ya, terus terang gitu ya, rekan-rekan kita, saudara-saudara kita di gereja Kharismatik ya, perhaps ya, mungkin, mereka itu lebih rajin baca Alkitab daripada kita yang di Reformed, setuju enggak? Ya. Beberapa ya, memang tidak semua begitu ya. Tapi ada sebagian besar itu bisa bacanya itu sudah bolak-balik dari awal sampai akhir itu sudah berkali-kali. Tapi kok lantas kita klaim kita alirannya yang benar mereka ada yang keliru? Satu sisi itu ada bagian corporate-nya ya. Kita yang belajar sudah mengerti benar kok malas baca Alkitab. Itu question mark. Kita harus belajar berbenah diri. Tapi aspek lain ya, kok mereka sudah baca berulang-ulang enggak juga menjadi pengertian yang benar, malah makin lama makin ngawur? Nah dibagian ini masanya bukan “oh kalau gitu saya stop baca Alkitab,” bukan di situ. Kerangka berfikirnya sudah diajarkan salah, presaposisinya sudah salah, cara berfikirnya, pandangannya sudah salah. Dia baca Alkitab tapi tafsirnya ngawur. Itu permasalahan yang paling esensial ya. Atau mungkin secara dalam aspek sederhananya saya jelaskan begini, presaposisi itu adalah sekumpulan asumsi, kerangka cara berfikir, karena kenyataannya orang ketika membaca data itu tidak pernah ada dalam ke-vakum-an, tidak ada dari titik nol, tiap kita sudah punya seperangkat asumsi tertentu, pemikiran-pemikiran tertentu misalnya. Ini di dalam tatanan sebenarnya secara teoritis ya, di dalam tatanan pemikiran ideologi. Tapi dalam keseharian mungkin saya kasih contoh itu sama seperti misalnya di dalam keseharian ya. Misalnya liturgis ketika nyanyi gitu kan, “Oh nyanyi, saya akan nyanyikan lagu kedua dan ketiga setelah itu saya persilahkan kepada Vikaris Leo,” gitu. Lalu seperti saya lihat, “Ini kenapa sih, lama ya, kenapa ndak langsung,” misalnya, atau bagaimana gitu, dan seterusnya. Kok kita lihat ya di bagian itu, kalau misalnya saya punya prejudice gitu ya, tahu ya istilah ini ya, prejudice terhadap misalnya liturgis kita, saya rasa kayaknya dia ini mau ngerjain saya, dia ini mau bikin susah saya, dan seterusnya. Sebelum dia keluarkan satu statement apapun, saya pasti sudah akan menangkap yang aneh-aneh. Bisa nangkep ini ya? Dalam keseharian, kita ada seperti itu. Kadang statement kita itu ndak salah, tapi karena orangnya itu sudah apa ya, prejudice dengan kita, sudah anggap kita itu seperti apa, statement apapun salah. Dikasih yang baik pun, “Oh ini, ini mau baikin saya, dia pikir saya bisa jadi baik dengan dia hanya dengan dikasih gini.” Kadang-kadang ya, orang kalau sudah konflik secara relasi, kita terus mau buat baik terus misalnya kita juga sudah belajar memaafkan dan sebagainya, kita kasih, “Ini ada buku untuk kamu,” ada orang bisa mikir, “Oh dia pikir dia bisa beli saya, saya dikasih buku ini mau dibeli.” Ada orang mikir kayak gitu ya. Bisa nangkap ya? Apakah pemberian buku itu salah? Tidak. Apakah ketika liturgis untuk persilahkan saya pada lagu ketiga itu baru naik itu salah? Itu sudah benar. Tapi kalau saya punya asumsi dari awal itu sudah keliru, sudah curiga, wah itu apapun mau dibikin itu sulit sekali. Dalam relasi seperti itu, ini prejudice, dan ini makanya ketika kita mengerti kebenaran firman juga orang ada punya asumsi-asumsi yang keliru itu bermasalah sekali, dan karena itulah sebenarnya di dalam kehidupan kita, bagaimanapun juga kita butuh semacam patron, contoh dulu seperti apa yang konkret, baru kita bisa acuan, oh mengikut Kristus bisa lebih terarah. “Ikutilah teladanku,” ikutilah teladan Paulus. Lalu seperti pak Tong bilang, “Ikutilah teladanku,” teladan dari hamba Tuhan, pendeta Stephen Tong, itu menjadi guidance kita kira-kira seperti apa ikut Tuhan, seperti apa taat pada perintahNya, seperti apa kecintaannya akan firman Tuhan, itu menjadi tuntunan bagi kita. Kembali lagi, bukan untuk kita sembah orangnya, tentu bukan, tapi menjadi guidance kita, arahan, oh seperti ini ikut Tuhan, dan di dalam jalan yang lebih sehat, yang lebih clear.

Dan seperti itulah makanya dikatakan ikutilah teladan Paulus, sebenarnya dia bilang mengikuti teladan Kristus, dan saya pikir juga menarik ya, Paulus itu tidak pernah tarik ke dirinya sendiri tok. Makanya seperti ini muncul yaitu, “Ikutilah teladan ku dan perhatikanlah mereka yang hidup sama seperti kami menjadi teladan,” berarti ada juga yang lain. Ada orang yang lain, dan di bagian sini saya, menurut beberapa commentary ya, mungkin mengikuti, bicara Timotius dan Epafroditus. Dan makanya kita juga menjadi Kristen itu bukan ikuti satu bapak Gereja, tapi bapak-bapak Gereja. Ikuti itu bukan satu bapak Gereja, pokoknya misalnya Iraneus, ini tidak ada salahnya sama sekali, ndak mungkin. Tadi pak Tong sudah ngomong bahkan diakui ya, tidak ada orang yang suci mutlak, lho termasuk ya pak Tong sendiri kan? Loh kalau gitu ngapain kita ikut dia? Tetep kita bisa ikut, karena kita lihat, di dalam ketidaksempurnaannya pun dia dipakai Tuhan untuk menunjukkan kita jalan yang benar seperti apa. Dan sama, bapak-bapak Gereja tidak ada yang sempurna tapi dalam perjalanan waktu, ujian waktu, akan membentuk, melihat yang mana kah, bagaimana mereka bergumul mau setia pada kebenaran firman. Dan ada bagian yang ternyata, yang ketika di dalam perjalanan waktu, teruji, tidak sesuai dengan kebenaran firman, tidak konsisten, bagian itu kita singkirkan. Tapi ada sumbangsih-sumbangsih mereka yang setahap demi setahap mereka nyatakan, dan ini tidak sendiri, tidak satu, tunggal, menyatakan “Oh saya ini lah menjadi representatif bagi Kristus untuk semuanya,” ndak, banyak. Dan ini makanya menarik Paulus mengatakan “Aku maupun juga mereka.” Mereka ini, bisa Timotius, Epafroditus, itu dalam konteks dekat sini, ataupun di dalam yang lain-lain. Maka dalam Kitab Ibrani juga menyatakan ada banyak saksi iman, ada yang lain-lain, itu menjadi teladan kita. Apakah mereka sempurna? Tidak. Tapi dengan mengikuti mereka punya perjalanan hidup, iman kita itu bisa lebih stabil, lebih mengikuti ajaran yang sehat ya.

Dan itulah menjadi poin saya berikutnya ini dalam pengertian mengikuti teladan Paulus itu apa? Terjemahan LAI ini pakai istilah “ikutilah teladanku yang hidup sama seperti kami menjadi teladanmu,” ya masih di ayat 17, ‘hidup’ ya, terjemahan LAI itu ‘hidup.’ Sebenarnya di dalam teks Yunaninya itu lebih, lebih letterlijk-nya itu ngomong ‘jalan’ ya. Jadi jalan, ya, jalan yang mengikuti jalan kami. Saya pikir menarik ketika berbicara jalan, maka kita temukan di dalam Perjanjian Lama, dikatakan Henokh juga berjalan bersama Tuhan, meski terjemahan LAI di situ malah pakai bergaul ya, Henokh bergaul bersama dengan Tuhan. Bagian sini kita ngerti seperti apa sih mengikuti jalan dari Rasuli, saya percaya di dalam bagian ini kalau kita lihat di dalam Alkitab, maka ini berbicara ortodoksi dan ortopraksi; berbicara ajaran yang sehat dan praktek kehidupan yang sehat ya. Tapi memang di dalam Alkitab, penekananan selalu terutama itu bicara ke prinsipnya, prinsip ajaran itu sendiri. Sehingga ada yang pernah mengatakan begini ya, kalau kita bandingkan Kekristenan dengan agama-agama lain, agama-agama lain itu sangat kuat penekanannya itu di ortopraksi, right practice gitu ya, praktek kehidupannya itu seperti apa. Tapi Kekristenan sebenarnya tidak, titik tolak paling pertamanya itu bicara ortodoksi, yaitu the right teaching, atau doxa gitu ya, glory, yaitu bicara pengajaran yang sehat, prinsip ajaran yang sehat itu seperti apa ya. Makanya kalau kita temukan di dalam agama-agama lain itu cenderung lebih menekankan prakteknya, yaitu praktek agamawi ataupun ritual-ritual yang benar itu seperti apa. Entar bilang, “Oh kalau saya ibadah, kalau mau berdoa kepada Tuhan, itu kepada Allah itu, arah kiblatnya ke mana,” ya, “itu arah nya situ.” Bicara prakteknya, arahnya ke mana. “Oh saya harus melakukan pembasuhan” ya itu penekanan-penekanan agama-agama yang di luar Kekristenan itu banyak ke arah praktikanya. “Oh saya harus bisa baca kitab sucinya, ngerti ndak ngerti tidak masalah, yang penting kamu bisa baca.” Karena itu bicara ke praktikanya. Ke praktikanya, yang penting kamu lakukan praktikanya, ngerti ndak ngerti tujuannya mana, ajarannya seperti apa, nanti ada konflik teks nya seperti apa, oh ndak masalah, yang penting kamu penekanan otopraksi, penekanannya itu kamu ngerti prakteknya ya sudah, kira-kira seperti itu.

Tapi kalau kita melihat Kekristenan, penekanannya itu bukan di otopraksi, meski tentu itu penting ya, tapi yang paling pertama itu adalah ortodoksi, yaitu ajaran yang benar, ajaran yang sehat seperti apa, ajaran Rasuli. Dan itu sebenarnya menjadi ciri khas Kekristenan di mana pun ya, secara umum, biar kita ketemu orang Kristen denominasi mana pun, nanti bolak-balik tanya itu praktek kaitannya itu ke ajaran. “O gerejaku begini, begini. O hamba Tuhanku khotbah begini, begini. O ajarannya begini, O ada khotbah tentang ini, katanya begini, katanya begitu,” karena memang kita sebenarnya, iman kita itu banyak ke arah prinsipnya, kepada pengajaran yang sehat, yang menjadi landasan kehidupan orang Kristen. Sehingga orang ketika pertama kali jadi Kristen, begitu bertobat, bukan diajar, “O kamu hafal ini, seperangkat doa, kamu hafal ini, pada jam-jam ini kamu lakukan itu,” enggak, tapi mulai diajar katekisasi, mulai diajar hadir dalam ibadah, lalu dengar apa ? Khotbah, ya. Bukan masalah “O saya tahu ini, kapan berdiri, kapan duduk.” Tahu ya, di dalam beberapa gereja-gereja tradisi itu ada, ada sampai apa ya, dia punya liturginya agak lebih kompleks ya, ada berdiri, duduk, nanti ada berlutut, dan seterusnya. Bukan masalah di situnya, tapi terutama adalah di sentralitasnya itu di khotbah justru, yaitu mendengarkan firman Tuhan, semakin mengerti apa yang diimani, dan memang penekanan kita itu justru di sana, kepada pengajarannya yang sehat. Dan itulah, makanya kita lihat di dalam Kekristenan tidak ada misalnya ngomong seperti apakah menjadi orang Kristen yang saleh? Lalu kita pikir, Yesus itu ada berkali-kali suruh para murid itu tangkap ikan, berarti makanan yang paling disukai Yesus itu ikan, mulai sekarang kita makan ikan, makan ini lebih rasuli, kira-kira gitu ya. Seperti kita tahu aliran yang lain, ada makanan tertentu bahkan cara makannya pakai tangan, jarinya berapa jari itu, ini lebih rasuli gitu. Tapi kita enggak seperti itu lho karena kita bukan ke orthopraksi, ke orthodoksinya, pengajaran yang sehat. O seperti apa mengikuti jejak rasul, mengikuti seperti Rasul Paulus, O bajunya itu seperti apa, pakai sorban gitu dan semuanya, ya. Saya ini saja sudah “ndak rasuli ini” karena pakai sepatu, mereka pakai kasut ya. Harusnya pakai itu, kayak sepatu gunung, gitu ya. Wah itu lebih rasuli. Nah, kenapa kita ada beda? Karena di sini bicara kita tarik prinsipnya. Dan ibadah, kenapa saya pakai jas? Para rasul ndak ada pakai jas, Yesus juga enggak pakai jas lho. Oh ini Western, Barat ya, tapi ini penggambaran resmi, sopan, ya. Itu berbicara situ, yaitu saya mengerti posisi saya mewakili Tuhan menyampaikan kebenaran firman, dan bukan menyatakan pikiran manusia semata gitu. Saya gumulkan segala, kami hamba Tuhan itu menggumulkan kebenaran firman secara personal, tapi tidak pernah boleh masuk, khotbah berbicara agenda pribadi ndak boleh. Nah ini memang ada suatu kesulitan dan tension di situ, di mana kita personal bergumul di dalam situ, tapi kita tidak masukkan pikiran kita sendiri, tapi dipakai Tuhan menyampaikan kebenaran firman. Dan itu bicara kembali lagi juga di dalam pengajaran, pengajaran, pengajaran.

Dan menariknya bahkan di dalam bicara ortopraksi, praktek-praktek kehidupan yang benar, sudah dari dulu Kekristenan itu memang cenderung diversitas di situ, cenderung memang ada kemajemukan, ya. Diberikan prinsipnya, prinsipnya Sepuluh Hukum misalnya ya, Sepuluh Hukum kita tahu, tapi sampai implementasi bagaimana detailnya? O itu diberikan kebebasan masing-masing sampai detailnya yang lebih minor, ya silakan masing-masing, yang penting sesuai dengan prinsip yang ada, kenapa? Sebab kita penekanannya itu sebenarnya pada prinsipnya, pada ajaran yang sehat itu. Apa yang menghubungkan kita dengan rasuli, dengan para rasul dan jemaat mula-mula itu bukan karena pakaiannya, bukan karena kiblat arah ibadahnya, juga bukan karena gedungnya, atau seterusnya, bahkan Kitab Suci kita sudah diterjemahkan. Ini pada aware ya? Mereka itu bukan baca Alkitab berbahasa Indonesia, itu obvious sekali, mereka baca yang bahasa Yunani. Tetapi apa yang menghubungkan kita dengan jemaat mula-mula itu adalah pengertian yang sama, iman yang sama, pengajaran yang sama. Dan seperti kita bacakan pengakuan iman rasuli, pengakuan iman rasuli, yaitu iman yang sama, pengertian yang sama, basic pengertian yang sama, dan itu yang menyatukan gereja di sepanjang segala zaman, di segala tempat, yaitu imannya itu, pengakuan iman yang sama. Dasar pemikiran yang sama meski konteks kehidupan kita beda, meski dalam perhatian ada detil-detil yang berbeda. Dan menarik ya, bahkan kalau kita baca di dalam Alkitab “sangat minim” menjelaskan detil-detil kehidupan itu sampai apa, lain lagi tentu kalau kita baca tales(?) ya, khususnya di 5 Kitab Musa itu karena khususnya ada hukum sipil dan ritual-ritual yang akan digenapi oleh Kristus. Tapi kalau kita baca seperti apa sih mereka hidupnya? Atau kalau kita mau tanya berapa kali seharusnya gereja itu melakukan Perjamuan Kudus saja misalnya, seberapa rutin seharusnya? Kita tidak temukan di dalam Alkitab dan juga dari bapa-bapa gereja yang memberikan penjelasan, ada yang setiap minggu, atau kalau kayak kita misalnya 4 kali setahun ya, kadang bisa lebih kalau ada live relay dan seterusnya, tapi tidak ada aturannya, pakemnya bagi kita. Tapi yang penting setiap kita merayakan sakramen Perjamuan Kudus kita tangkap maknanya, tujuannya apa, pemberitaan firman-Nya itu seperti apa, dan makanya setiap Perjamuan Kudus itu ada pemberitaan firman lagi yang menjelaskan Perjamuan Kudus itu seperti apa. Belum lagi kalau nanti ada yang bilang, “Pak kadang-kadang kita itu pakainya grape juice, bukan anggur beneran Pak, saya maunya anggur beneran, saya mau yang asli.” Dan kadang-kadang saya ketemu juga dengan Perjamuan Kudus itu malah teh ya, karena kalau ada jemaat yang ada gangguan pencernaan dia minumnya teh. “Oh rotinya kan beda Pak, zaman para rasul itu bukan roti kepingan-kepingan seperti ini, itu cetakan pabrik.” Sama, intinya roti dan anggur, tetapi yang terutama adalah kita mengerti ini melambangkan Kristus dikorbankan untuk kita, tubuhNya dan darahNya dipecahkan untuk kita makan. Dan di dalam Perjamuan Kudus kita mengingat apa yang Kristus telah kerjakan dan rohani kita diangkat untuk melihat Kristus hadir di dalam perjamuan ini. Jadi dalam pengajaran, bukan masalah “Oh ini kayaknya kurang gede, bentuknya kayaknya mereka dulu kotak bukan bundar,” bukan itu, karena kita bukan di prakteknya seperti apa tetapi pengajarannya itu yang harus setepat mungkin sesuai apa yang diajarkan oleh Alkitab. Dan itu artinya kita setia mengikuti ajaran rasul, ini yang dikatakan di bagian ini.

Dan biarlah kita sadar ketika menghidupi apa yang dikatakan dalam Kitab Suci, apa yang dihidupi oleh para rasul, ini ada ayat 18 dan 19 yang memberikan suatu counter argument, memberikan orang yang tidak mengikuti pengajaran rasul, orang yang “Oh enggak apa-apa saya jalan sendiri,” itu akhirnya jatuh. Di dalam ayat 18 dan 19 memberikan gambaran adanya Kristen yang kedagingan atau Kristen duniawi, yaitu orang yang “Oh saya bisa sendiri tidak ikuti pengajaran rasuli,” karena dia pikir seolah-olah dirinya netral, “Saya bisa belajar sendiri, saya baca firman sendiri nanti Roh Kudus yang berbicara kepada saya langsung sendiri.” Itu di dalam bagian ini sangat diingatkan bahwa, “Hei kamu harus mawas, jangan pikir dirimu itu netral dan bisa ketemu yang benar dengan kekuatan kamu sendiri.” Kenyataannya ketika orang tidak mau mengikuti pengajaran yang sehat, ngaku Kristen tapi tidak mau mengikuti pengajaran Kitab Suci itu akan jatuh seperti apa yang dikatakan di sini menjadi Kristen yang Kristen kedagingan. Dan tajamnya di sini dikatakan Paulus, “Mereka adalah seteru salib Kristus.” Kalau di ayat 18 kita baca, “Karena seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu dan yang kunyatakan pula sekarang sampai  menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.” Ada beberapa komentator yang bergumul ‘seteru salib Kristus’ ini apakah orang di luar Kristen ataukah di dalam Kristen? Dan beberapa commentary akhirnya mereka lihat kalau kita mau konsisten, setia pada teks, ini ngomong seteru salib Kristus yang di dalam. Itulah sebabnya Paulus menangis. Apakah di luar sana ada banyak yang belum mengenal  Kristus? Ada banyak. Apakah Paulus tidak menangis untuk mereka? Ada tentu. Tapi bagian sini, penekanannya kalau kita lihat, dan juga di dalam teks aslinya, penekannya itu bicara ada suatu pilu, ada suatu kesedihan yang  mendalam, kenapa? Bukan saja karena orang yang di luar tidak mengenal Tuhan tapi orang yang sudah di dalam, ibadah rutin, dengar khotbah, tapi belum  mengenal Kristus yang sejati dan itu menjadi seteru salib Kristus.

Nah ini yang ditekankan di bagian ini, orang Kristen kedagingan. Orang yang mengaku dirinya Kristen tapi tidak sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, orang yang bisa rutin ibadah tapi tidak sungguh-sungguh mengerti siapa sih yang saya per-Tuhan-kan, saya ibadah itu untuk apa sih? Orang yang di KTP-nya itu bisa Kristen  tapi sebenarnya ya memang cuma Kristen KTP, tidak  menjadi sungguh-sungguh percaya kepada Kristus. Dan di bagian ini Paulus mengatakan mereka menjadi seteru salib Kristus. Kristen yang duniawi, Kristen kedagingan, Kristen yang akhirnya menjadi batu sandungan di dalam kehidupan ini. Dan  dikaitkan bahwa ketika mereka menjadi seteru salib Kristus karena memang mereka adalah Kristen yang tidak mau mengikut salib. Menarik ya, seteru salib Kristus. Kita pikir oh ini seteru  salib Kristus tapi dia pro-Kristus. Bisa saja orang ngomong gitu ya, “Saya setuju Kristus,” tapi bisa seteru salib Kristus. Kenapa sih harus bilang seteru salib Kristus, memang salib Dia itu apa sih? Masalah batang kayunya? “Yang penting kan saya pro-Kristus.” Tapi di bagian ini saya percaya bicara salib Kristus adalah mereka adalah orang-orang Kristen kedagingan yang tidak mau sangkal diri, pikul salib seperti apa yang dinyatakan oleh Kristus. Itulah kenapa dibilang seteru Kristus. Orang  Kristen lah di mana pun, ada  yang nominal, kita tanya, “Kamu percaya Kristus?” “Lha iya dong. Namanya juga sudah Kristen. Percaya Kristus.” Tapi kamu mau nggak taat memikul salib Kristus? Nah itu yang belum tentu. Banyak orang kalau senang mau datang pada Tuhan, tapi kalau sudah susah, “wah tunggu dulu, nanti lah, saya ngumpet lah. Oh Tuhan Maha Pengampun nanti Dia ampuni saya. Kalau susah saya tinggalkan,” Itu adalah seteru salib  Kristus. Maksudnya apa? Hanya mau Kristusnya tidak mau penderitaannya, tidak mau kesulitannya, tidak mau ada tantangan, hanya suka misalnya baca Alkitab, “oh Yesus itu tokoh yang baik, Dia mengucapkan ucapan bahagia, “Berbahagia lah orang yang miskin di hadapan Allah.” Oh ya saya suka itu.” Tapi ada bagian Yesus mengatakan, Sangkal diri, pikul salib, kalau engkau mau ikut Aku. Barang siapa yang mengasihi ayahnya, ibunya, istrinya, suaminya, anaknya, lebih daripada Aku, ia tidak layak menjadi murid-Ku.” Oh bagian itu ndak mau. Tapi ucapan bahagia, ucapan yang senang, “Oh apa yang kamu kuatir? Bukankah burung pipit dipelihara Tuhan?” Cuma suka bagian ini. Ini adalah Kristen yang parsial, cuma suka akan hal-hal yang positif, berkat  yang diberikan Tuhan tapi tidak melihat  ada bagian kutukan, ataupun hardikan, teguran keras yang juga Tuhan berikan.

Nah sebenarnya kalau kita mau lihat lebih fair, orang yang cuman lihat sebelah ini itu sebenarnya mengambil Kristus versi dirinya sendiri bukan mengikuti Kristus yang sebenarnya dikatakan di  Kitab Suci. Nah ini selalu masalah. Orang yang menafsir cuma sebagian, selalu memilih ayat-ayat yang dia suka, tidak lihat bagian-bagian yang sulit. Dan ini makanya kenapa di Reformed itu khotbah eksposisi. Khotbah eksposisi itu  bukan supaya hamba Tuhannya tidak bingung hari ini kotbah apa ya karena sudah ada, eksposisi saja gitu, bukan, tetapi ada kamipun diajar setia tunduk kepada Alkitab. Bukan pilih tema-tema kesukaan saya sendiri ataupun tema-tema kesukaan Bapak Ibu sekalian. Dan bahkan di dalam eksposisi seperti saya lakukan di Kitab Filipi, maupun juga Pendeta Dawis melakukan di Kitab Efesus, dan mungkin dalam kesempatan-kesempatan lain nanti dalam Kitab-kitab lainnya, kita boleh belajar Kitab ini sehingga kita bisa belajar seperti apakah Alkitab itu menyatakan dirinya dan bukan menurut versi pikiran kita sendiri. Kenyataanya banyak orang  kalau baca itu bisa ngikutin pikiran sendiri kok. Ini di dalam, saya ndak tau seberapa kita aware gitu ya, ada satu istilah dalam bahasa Inggris itu bilang rabbit hole gitu ya, orang baca satu paragraf lalu terus mikir kemana-mana. Nggak baca bukunya, kemana gitu ya. Apalagi cuman baca sendiri. Lain kalau baca untuk ujian karena kalau baca untuk ujian kan kudu mengerti beneran, karena kalau salah ngerti ya ujiannya nol. Tapi kalau untuk  baca-baca sendiri bisa baca satu paragraf, pikir kemana, baca paragraf kedua, pikir kemana, nggak ngikutin sebenarnya bahasnya apa. Karena memang ada kecenderungan kita sendiri itu masuk kedalam pikiran kita sendiri, bukan mengikuti pikiran Tuhan. Dan ini, ada Kristen-kristen begini disebut Kristen duniawi. Kristen yang menjadi seteru salib Kristus.

Dan dilanjutkan, Paulus katakan kesudahan mereka, atau bisa kita artikan akhir hidup mereka, adalah kebinasaan.  Bagian  ini saya percaya ketika menjadi statement begini ya, mungkin kita pikir ini sombong sekali, keras sekali ya, tapi saya percaya justru dalam banyak hal, kita jangan luput big picture-nya. Surat Filipi ini adalah surat sukacita, surat kepada sahabat. Ini adalah ucapan yang  kasih. Justru kalau ada seseorang  kita tegur dia, kita koreksi apa yang bisa dikoreksi. Saya melihat di dalam kehidupan itu harusnya kita melihat begitu ya. Kalau, seperti Pak Tong juga katakan kita harus bersyukur masih ada hamba Tuhan yang berani tegur dosa, mengoreksi kita kepada kebenaran, membawa kita kembali kepada kebenaran Kitab Suci dan meski lewat teguran yang keras, itu untuk kebaikan kita. Untuk kebaikan kita. Terus terang Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau kami mau sekedar menyenangkan anda, menyenangkan pendengar, juga bisa kok. Bisa banget malah. Tapi kami sadar, kami hamba Tuhan di sini bukan unyuk menyenangkan manusia tetapi untuk menyenangkan Tuhan. Sehingga meski ada ayat-ayat yang sulit, kalimat-kalimat yang keras, biarlah kita belajar menggumulkannya dan kami pun belajar takluk di bawahnya. Dan di balik itu, kalau mau pakai perumpamaan, pahit dahulu baru nanti manis kemudian, susah dulu baru bersenang-senang kemudian, itu lebih baik daripada manis-manis semua akhirnya masuk neraka. Ayatnya kita bisa temukan di dalam Matius Pasal 7 ayat 15 – 23. Saya mengajak kita untuk  membaca bagian ini dengan sikap  penuh hormat dan penghayatan mendalam ya. Setiap bagian-bagian ini adalah suatu teguran  dan peringatan akan adanya nabi palsu, bukan saja untuk kita pikir orang di luar sana, tapi kita juga pikir untuk diri kita seperti apa? Bagian ini seringkali orang cuma cuplik bagian atasnya: “Oh dari buahnya, kamu akan tahu,” gitu ya. Dan dari, ya lihat dari buahnya lah kamu akan mengenal mereka. Lalu habis itu ditafsir sendiri, buahnya tuh apa? Pokoknya buahnya baik-baik, orangnya baik-baik, berarti dia itu pohonnya baik, dst. Tapi definisi penjelasan ‘baik’ itu bukan cuma sekedar baik moral, bukan juga baik secara ramah atau sopan santun, karena setan itu justru sangat sopan santun.  Kalau kita lihat waktu Yesus dicobai di padang gurun, setan itu datang sangat care, dia itu ‘gembala,’ paling baik. Yesus lapar? “Ubahlah batu ini jadi roti,” oh itu care lho! Sangat peduli, tapi menyesatkan. Bisa nangkap ya? Makanya di dalam banyak ayat terakhir itu mengingatkan setan itu bisa datang sebagai, menyamar sebagai malaikat terang. Kita dalam kehidupan aja nggak tentu lihat malaikat terang. Siapa yang pernah malaikat terang? Tapi dia bisa datang punya maksudnya apa? Dia menipu. Karena memang setan itu menipu. Dan yang menipu itu ya harus caranya halus. Mana ada orang nipu itu, dari awal itu ngomong langsung bongkar, gitu ya, bongkar yang jeleknya. Mana ada setan datang begitu, wah misalnya, misalnya datang ke Artde di Kranggan ya, “Wah… Artde,” dia sambil pegang garpu kaya ada api-apinya, ada tanduknya, “wah ayo ikut saya!” – ya Artde pasti nggak mau. Karena dalam kehidupan kita, kalau muncul seperti itu, itu terlalu mudah untuk memang kita singkirkan.

Tapi bagian ini ketika bicara buahnya, dijelaskan lebih lanjut bahwa, “Tidak semua orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam ke dalam Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Dalam bagian ini, kalau kita bilang kehendak Bapa itu dimana? Ya di dalam Kitab Suci, itu paling clear. Kehendak Bapa yang secara umum, secara general, bagi semua orang Kristen di sepanjang segala zaman, yaitu ya dalam Kitab Suci. Jadi tunduk pada Kitab Suci. Darimana semua tahu kehendak Tuhan secara particular, secara spesifik dalam kehidupan saya? Selalu, prinsipnya itu adalah yang umum, prinsip umum memimpin yang prinsip khusus. Bagaimana saya ngerti apa rencana Tuhan dalam kehidupan saya? Pasti didasarkan pada prinsip umum! Dan kehendak Bapa di dalam prinsip umumnya, ya ada dalam Kitab Suci. Yaitu buahnya adalah dia tidak menghasilkan buah yang sesuai dengan kehendak Bapa itu. Lebih lanjut lagi, di dalam ayat berikutnya, yang lebih tegas lagi ya, pakai gambaran orang Kristen itu yang bisa: “Bukankah kami bernubuat demi namaMu? Bukankah kami sudah mengusir setan demi namaMu? Dan melakukan banyak mukjizat demi nama-Mu?” Bagian sini ya, bagi saya itu orang-orang Kristen yang jelek, jelek gitu ya. Jadi dia pikir, dia itu… “Tuhan, ooh, saya sudah lakukan banyak mukjizat-mukjizat ini, banyak semua perbuatan yang dahsyat!” Eh terakhir, terakhir banget, baru tahu, “Aku tidak mengenal kamu!” Oh ini bagian, sebenarnya, teguran yang keras sekali, baik bagi para murid maupun setiap kita. Dan menarik sebenarnya bagian ini masih di dalam peranan bicara khotbah di bukit. Kita semua suka khotbah di bukit, awal bagian sini kita lupa lihat. Bagian sini itu, bagian ini mengingatkan apa? Bahwa bukan tanda-tanda lahiriah, bahkan sampai mukjizat, perbuatan-perbuatan yang dahsyat, fenomena seperti itu bukan menjadi tanda itu orang sungguh percaya kepada Kristus yang sejati. Dan di dalam terjemahan di sini, kalau Indonesia bilang, “Aku tidak pernah mengenal kamu. Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan.”  – terjemahan Indonesia: pembuat kejahatan ya. Di dalam Bahasa Yunani-nya, itu berbicara “antinomi.” “Anti-nomos” – anti pada hukum, anti pada perintah hukum. Jadi, orang yang bisa ngaku, “Oh saya ikut Tuhan,” tapi tidak suka pada Alkitab. “Oh ini ada tahayul baru, ada pemikiran baru, dst.,” tapi tidak mau ikuti pada Alkitab! Nah ini sebenarnya adalah Kristen-kristen kedagingan, orang yang merasa diri ikut Tuhan tapi tidak pernah mau crosscheck Tuhan menyatakan diriNya seperti apa.

Sama seperti seorang yang gombal pada pasangannya, “Oh, saya mencintai kamu.” Tapi apapun pasangannya katakan, dia tidak pernah mau dengar, jadi cuma sepihak. Itu kita lihat saja sudah sangat tidak fair, apalagi ketika bicara pada Tuhan. Berapa banyak dalam kehidupan kita mau tunduk, belajar mengerti kebenaran firman? Berapa banyak, kalau kita katakan, “Oh saya mencintai Tuhan” – di dalam banyak persekutuan-persekutuan, kadang saya dengar dalam persekutuan kampus atau yang lain, oh nyanyi: “Aku mengasihi Engkau, Yesus. Aku mengasihi Engkau, Yesus. Sungguh mengasihi…” – wah menggebu-gebu. Waktu mau dengar firman Tuhan, hoamm (nguap), ngantuk, bobok, gitu ya. Lho ini mengasihi atau tidak sih? Halo? “Oh aku mengasihi Tuhan Yesus.” Lalu ketika firman Tuhan dipaparkan, dijelaskan dengan dalam supaya masuk dalam kehidupan kita, oh orang tidur, cuek, ah cek handphone, pikirnya, “Habis ini, berapa lama sih khotbahnya? Saya sudah lapar, mau makan, dst.” Ya itu bukan mengasihi, itu cuma omong kosong, itu cuma gombalan saja, karena tidak mau tunduk pada apa yang Tuhan katakan. Makanya menarik, Pdt. David Tong pernah mengatakan, “Sangat berbeda dengan kritikan-kritikan terhadap gereja Reformed, gereja Reformed itu justru sangat menundukkan dirinya kepada Roh Kudus. Bicara tentang Roh Kudus, yaitu ketika kita tunduk kepada otoritas Alkitab, karena Alkitab sendiri diwahyukan oleh Allah Roh Kudus. Ini posisi kita sebenarnya. Saya kasih saja suatu ilustrasi ya. Misalnya ada seorang bapak, meninggal, lalu bapak itu meninggal, lalu anaknya kumpul datang dalam kedukaan. Lalu setelah selesai semua upacara kedukaan, dan semuanya. Lalu setelah semua beres, sudah beres semua ya. Lalu akhirnya tiba waktunya kuasa hukumnya datang, yang ditunjuk itu datang, kuasa hukum dari almarhum ya. Datang membawa surat wasiatnya, testamen-nya. Lalu bawa surat wasiatnya, dari bapaknya. Lalu dibacakan, “Jadi anak-anakku, aku mengasihi kamu, dst.. seterusnya gitu.” Lalu bilang, “Rumah kita yang di Malioboro itu akan bapak wariskan kepada anak pertama.” Wah… lantas anak kedua protes, “Wah nggak bisa, waktu papa masih hidup, dia ngomong, ‘Rumah di Malioboro itu untuk saya, anak kedua.’” Eh yang bener yang mana? Belum lagi anak ketiga ngomong, “Oi, nggak bisa. Itu cuma tulisan kertas. Anak kedua itu, “Ah cuma dengar dari bapak, mungkin bapak salah ngomong, atau kamu salah dengar! Saya kemarin dapat mimpi, dapat mimpi bapak ngomong, wah kamu anakku yang ketiga, rumah Malioboro itu untuk kamu,” hayo, kita mau dengar yang mana nih? Suratnya, surat wasiatnya tulis, “Rumah Malioboro itu untuk anak pertama,” tapi anak kedua ngomong, “Waktu Papa masih hidup dia pernah ngomong, dia itu kasih ke saya.” Hayo, yang mana? Tapi anak ketiga ngomong, “Oh saya semalam dapat mimpi nih, bilangnya kasih ke saya,” waduh bagaimana ini? Ayo kita dengar yang mana? Bagian ini ya, kalau kita compare pada ujungnya itu kembali, ya kita percaya malah ya kembalilah percaya apa yang dituliskan ini ya, karena ini objektif, ini yang sah memang dituliskan kepada anak pertama.

Di dalam kehidupan kita, kita bisa pakai pengalaman atau tradisi, “Oh dulu pernah papa cerita ini, pernah bapak ngomong gini,” bisa saja bapaknya keliru kan, berubah pikiran di kemudian hari, dan seterusnya. Bisa juga orang pakai pengalaman-pengalaman, “Oh dapat mimpi,” tapi bisa keliru. Patokannya entah pengalaman, entah pembicaraan secara oral tradisi ya, tradisi oral, ataupun pengalaman mimpi-mimpi apapun, cek sesuai nggak dengan Kitab Suci, karena Kitab Suci lah yang tidak bisa salah. Pengalaman kita bisa salah? Ya. Tradisi, kebiasaan kita secara tradisi oral bisa salah? Ya bisa salah. Ada kekeliruan, kelemahan Bapa-bapa gereja? Iya. Tapi standar penentu titik akhirnya yang final itu apa? Kitab Suci. Dan itu sebenarnya kita harus mengerti seperti itulah juga dalam kehidupan kita, dalam kita mengenal Tuhan, kembali pada Kitab Suci. Semanis apapun pengalaman kita, semanis apapun kebiasaan tradisi kita kita sukai, tapi kalau kita lihat itu tidak sesuai dengan Kitab Suci, kita harus belajar tanggalkan. Kita harus belajar tanggalkan. Bahkan pun misal karena pengalaman itu membawa saya datang kepada gereja ini. Kadang-kadang ya di dalam anugerah dan kedaulatan Allah yang sulit kita selami, Dia akan izinkan hal-hal itu untuk membawa kita pada Tuhan, kadang-kadang memang seperti demikian. Tapi poinnya adalah, biarlah kita datang pada Tuhan, kembali pada kebenaran Kitab Suci, dan bukan berdiam kepada tanda-tandanya, bukan berdiam kepada hal-hal yang lahiriah itu yang bisa keliru dan tidak mutlak. Seberapa pun manisnya tradisi, tradisi itu tidak mutlak, itu relatif. Kenyataannya tradisi satu tempat tempat lain beda. Semanis apapun pengalaman, ingatlah pengalaman itu tidak tentu bisa terulang dan pengalaman satu sama lain beda. Tapi yang bisa menjadi titik acuan sama bagi semua orang Kristen di sepanjang segala zaman, segala tempat, itu adalah Kitab Suci, dan itu harusnya kita kembali ke sana.

Tapi kembali di bagian ini Paulus mengatakan orang yang tidak mau taat pada Kitab Suci, orang yang hanya mengikuti keinginannya sendiri, Kristen duniawi, Tuhan mereka adalah perut mereka. Jadi fokusnya kesenangan sendiri ya. Tuhan mereka adalah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka. Kemuliaan mereka itu menjadi nanti banggakan “Oh pokoknya orang Kristen harus kaya, orang Kristen pasti sehat.” Oke, sekarang kalau ada satu jemaat corona kita tumpang tangan ramai-ramai, mau nggak? Ayo siapa yang mau? Iya to? Kalau ada satu yang kena COVID-19 itu, ayo kita tumpang tangan ramai-ramai, doain, sembuh semuanya, supaya dia sembuh, iya kan? Makin banyak doain, pasti sembuh. Atau kalau nggak, disuruh pulang ya? Ini zaman sekarang seperti itu. Kita lihat ya, teologi yang menyimpang itu kenyataannya tidak bisa match dengan realita. Tidak bisa sesuai dengan realita. Tapi yang bisa pasti match dengan realita itu adalah Kitab Suci sendiri, karena yang tulis adalah Tuhan, bukan manusia saja. Bukan hanya para rasul, para nabi, tapi mereka dipimpin Allah Roh Kudus menyampaikan kebenaran Kitab Suci. Pengalaman-pengalaman kita bisa benar terjadi? Iya, tapi tidak pernah sempurna, harus kita tundukkan pada Kitab Suci. Tapi kemudian ada orang-orang itu yang tuan mereka itu adalah perut mereka. Menarik ini bagian satu teguran yang tajam sekali ya. Jadi orang-orang pengajar yang palsu, orang yang pengertian imannya itu keliru, bukan menyembah pada Allah yang sejati, lantas ngapain mereka ibadah? Ngapain mereka beragama? Ternyata sebenarnya pikiran mereka semata-mata tertuju pada perkara duniawi saja. Bagian ini sebenarnya bagi kita ya, kita lihat jelas sekali. Ajaran-ajaran yang tidak sehat, ajaran tidak sesuai yang rasuli akhirnya adalah pikirannya memang tertuju pada perkara duniawi. “Oh kita anak Tuhan dapat berkat, yes, yes, yes amin.” Bagaimana bukti dapat berkat? Hari ini saya naik motor, besok naik mobil ya? Oh pakai begitu. Hari ini saya masih jomblo, besok saya akan menikah. Hari ini saya sudah nikah satu istri, besok? Oh nggak boleh nambah ya, sayangnya nggak boleh nambah seperti itu. Jadi pikir bertambah, bertambah, seperti itu, itu sebenarnya bicara apa? Perkara duniawi. Ini sementara. Bahkan pernikahan pun kematian memisahkan. Kita di sorga itu tidak ada kawin mengawin lagi. Mobil kita seberapa mewahnya, tidak dibawa ke sorga, tidak dibawa, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Asapnya itu yang ada di langit-langit, tapi mobilnya nggak dibawa ke sorga. Seberapa pun kekayaan kita tidak pernah dibawa ke sorga. Tapi makanya ini bagian sini memperingatkan orang yang seperti demikian, tuan mereka adalah mulut mereka, mencari kesenangan mereka sendiri. Kemuliaan mereka banggakan, “Oh saya ini pendeta, saya ini top.” Apa? Punya naik Mercedes ya. Top class, yang seri S dan seterusnya, oh pakai mobil paling mahal. Kalau kita lihat ini apa yang dimuliakan itu sebenarnya menjadi aib mereka. Bayangkan di zaman orang kesulitan dia itu bisa naik semua pakai uang jemaat seperti itu.

Makanya di dalam bagian ini ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, saya harus, meski saya kurang suka sebenarnya ngomongkan, tapi saya harus ingatkan dan ngomong ya, berikanlah persembahan dan perpuluhan anda kepada gereja ini. Memang tidak mutlak ya di sini, tapi saya harus bilang di gereja ini, kenapa? Karena berapa pun yang anda berikan, tidak satu sen pun akan menambah honor kami hamba Tuhan. Oh jemaat memberikan persembahan banyak pada gereja, perpuluhannya masuk hamba Tuhan? Nggak, kami tetap dihonor seperti biasa. Dan bukan cuma itu, kami masih minus ada janji iman. Anda janji iman, kami pun janji iman. Tapi semua uang yang diberikan jemaat di dalam persembahan, di dalam perpuluhan itu dipakai untuk apa? Masuk ke kas gereja, bukan untuk memperbesar rumah hamba Tuhan, tapi memperbesar rumah Tuhan. Dan itu makanya kita terus doakan bagaimana pergumulan kita untuk membangun gedung gereja di Jalan Bener itu. Itu bisa dibangun karena apa? Ya karena selama ini uang kita bukan masuk ke kasnya Pak Dawis. Tahu ya? Bukan masuk ke kas kami, Vik. Leo, nggak. Kami pun dihonor tetap seperti yang diset standarnya itu dari pusat, seperti demikian. Dan bahkan kami pun berbagian dalam janji iman. Masih minus lagi di bagian situ. Tapi ingatlah di bagian ini, ketika kita berjuang, berbagian di dalam pekerjaan Tuhan, berikan yang terbaik, terbanyak yang kita bisa berikan, ingatlah itu adalah untuk pekerjaan Tuhan dan kemuliaan nama-Nya. Yang dibangun itu bukan oh rumahnya pastori itu jadi mewah. Lho nggak. Pasti selalu yang paling megah, paling besar kapasitasnya semua ya rumah Tuhan. Pastori itu ya cuma tambahan. Kadang kontrak, bisa pindah dan seterusnya. Gerejanya jangan ngontrak, kalau bisa fix dibangun gedung gede, supaya apa? Jadi berkat lebih banyak orang bisa datang hadir beribadah di situ ya. Tentu saya tahu juga ada gereja-gereja lain yang secara sistem itu juga sudah diatur dengan rapi, tapi ada gereja-gereja yang itu ya, justru masuk ke hamba Tuhan, dan akhirnya kemuliaan mereka sebenarnya aib mereka. Bayangkan ya, kalau dia dorong, “ayo jemaat berikan persembahan.” Maksudnya apa? Supaya saya nambah. Ya iya tho? Ini saya nggak tahu, bagaimana ya, secara hati nurani itu ya? Berikan perpuluhanmu, maksudnya apa? Supaya masuk ke kas saya. Kenapa? Karena saya mau ganti HP. Bagaimana ya logikanya itu ya? Yang saya ngomong fair apa adanya. Tapi ketika kami hamba Tuhan berikan perpuluhan itu tidak masuk nama kami. Tetapi ketika nama kas gereja oh berarti ada kekuatan untuk bangun gedung gereja. Kita urus izin, urus banyak hal, persiapan, untuk hal itu. Kita beli tanah dan semuanya, untuk pekerjaan Tuhan bukan untuk kesenangan kami. Tapi itulah ada orang-orang yang melangsungkan agama ketika tidak berpaut pada kebenaran maka itu menjadi yang dipaparkan di sini: Tuhan mereka bukan Allah yang di surga tapi perut mereka, kesenangan mereka. Kemuliaan mereka ialah aib mereka karena pikiran mereka semata-mata tertuju pada perkara duniawi.

Menarik ketika saya merenungkan bagian ini, saya teringat ada di dalam bagian dari 10 Hukum Taurat. 10 Hukum Taurat, kita ngerti ini 10 hukum itu hukum moral ya. Tapi menarik ya kalau 10 Hukum Taurat itu kita melihat 4 hukum pertama biasanya kita lebih cenderung pikir ini hukum spiritual ya kan? Jangan ada padamu Allah lain di hadapanKu, jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa yang ada di langit di atas di bumi di bawah maupun yang di bawah air dan seterusnya, jangan kamu sujud menyembah padanya, lalu jangan mengucapkan jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan, ingat dan kuduskanlah hari Sabat. Bagian ini ketika kita lihat 4 hukum ini kita secara moral pikir ini hukum ibadah, ini hukum spiritual gitu kan? Tapi menarik ya ini kan bagian dari rentetan 10 hukum dan ini 10 hukum moral. Saya akan meng-highlight 1 saja yakni hukum ke-3 itu ya: Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan. Kalau kita pikir, “Oh ini aspek spiritual ya.” Lalu di dalam beberapa tafsiran itu mengatakan, “Oh itu sama seperti orang Yahudi itu setiap mereka tulis menyalin Kitab Suci muncul bagian ‘Yahweh,’ wah mereka itu akan berhenti sejenak sebelum tulis itu, mereka berdoa, cuci tangan, kalau perlu berpuasa baru tulis. Itu supaya tidak menyebut dengan sembarangan, tidak menuliskan namaNya dengan sembarangan. Jadi dengan sikap hormat seperti itu.” Ya memang ada satu penafsiran demikian ya bahwa kita menyebut nama Tuhan dengan taat, dengan penghormatan, bukan di dalam sembarangan ya makannya jangan ada maki-makian apa-apa, apa ya orang dikagetin latah gitu, “O Tuhan,” gitu ya, “O Lord,” kayak gitu kita ndak setuju yang begituan karena kita harus menyebut nama Tuhan dengan jangan dengan sembarangan, jangan dengan latah gitu ya. Kita nama orang tua kita aja masak apa orang latah, “Mami!” lalu atau sebut nama ibu kita gitu ya, “Ibu!” ibu siapa gitu misalnya. Nggak demikian, karena itu bicara akhirnya nggak menghormati. Tapi kemudian kembali saya sorot kenapa ini masuk di dalam buku moral? Di bagian sini karena kenyataannya kalau kita mau jujur, kenyataannya orang bisa melakukan tindakan paling imoral justru dengan mengatasnamakan Tuhan. Dan itu yang bagi saya yang memicu banyak ateisme untuk went out sampai zaman ini. Tindakan yang paling imoral justru karena mengatasnamakan Tuhan. Dan itulah tindakan yang paling jahat, paling imoral. “O Tuhan perintahkan saya untuk bom kamu. O Tuhan perintahkan saya untuk menghina kamu. O Tuhan perintahkan saya untuk melakukan yang ini, ini,” tapi Tuhan tidak berbicara demikian. Tuhan tidak berbicara demikian. Tapi dia menyebut nama Tuhan dengan sembarangan dan itu adalah tindakan yang imoral. Dan kita lihat di dalam bagian ini, pandangan kaitannya apa? Tidak sesuai dengan Kitab Suci. Tidak sesuai dengan Kitab Suci dan itu disebut tindakan yang imoral. Makannya kita jangan sembarangan ataupun kita harus berhati-hati ketika orang menyebut nama Tuhan, nama Tuhan begini, begini, itu sesuai nggak dengan apa pribadi Tuhan itu sendiri? Kalau tidak, itu adalah tindakan imoral. Bayangkan kalau saya mau ngomong kepada anda, “Ayo,” misalnya Yudha di sini, “Ayok Tuhan kemarin malam itu saya mimpi ketemu Tuhan. Dia ngomong, “Leo, Vikaris Leo, beritahu Yudha bahwa dia harus berikan motornya ke kamu.”” Wah gitu ya, jadi kamu pulang bawa masing-masing 1 motor gitu ya suami istri. Lho itu kalau memang Tuhan misalnya suruh gitu saya benar lakukan itu, tapi kalau tidak, saya melanggar hukum ke-3 lho. Ini ndak main-main lho. Dan itu ada banyak sekali tindakan imoral dari bagian itu. Pakai atas nama Tuhan ya, itu paling otoritatif iya tho? Kalau Yudha bilang, “O nggak mau Vikaris Leo ini kan saya butuh.” Tuhan lho yang ngomong Yud, Tuhan yang ngomong lho, bukan saya. Itu imoral sekali. Dan berapa banyak orang mempermainkan nama Tuhan dengan cara demikian dan berbuat kekejian, dan ini disebut orang-orang Kristen yang duniawi. Tuhan mereka adalah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka tertuju pada perkara duniawi semata.

Saya masuk ke poin terakhir, bicara lalu seperti apakah kita harusnya menjadi orang Kristen yang surgawi, orang Kristen yang sejati, orang Kristen yang di bagian ini dikatakan Paulus sebagai orang yang kewarganegaraan kita adalah di dalam surga? Yaitu kita sadar status keanggotaan kita itu adalah warga Kerajaan Surga. Di zaman itu status kewarganegaraan yang paling top, paling populer, yang paling dijunjung tinggi itu adalah WNR, Warga Negara Romawi, gitu ya. Itu adalah status yang paling tinggi. Dan kalau kita pelajari secara fair ya, kita akan bisa perkirakan sebagian besar jemaat Filipi ini mungkin tidak punya status kewarganegaraan Romawi itu. Tapi Paulus di dalam Kisah Para Rasul 16:37-38 mencatat bahwa dia memiliki status kewarganegaraan Romawi itu. Tapi Paulus mengkaitkan di dalam bagian ini mengingatkan bahwa seberapapun berharganya status kewarganegaraan dunia itu, kewarganegaraan Romawi, ingatlah bahwa status kita yang lebih besar, yang jauh lebih tinggi adalah warga negara surga. Bukan WNR tapi WNS, Warga Negara Surga. Dan kita harus lebih setia menjaga dan menghargai status kewarganegaraan surga daripada warga negara dunia ini. Dalam kehidupan kita, saya nggak tahu apa lika-liku yang kita hadapi, apa tantangan yang kita hadapi di dalam dunia ini, di dalam kehidupan kita sebagai warga negara Indonesia, tapi biarlah kita ingat yang paling paling utama itu kita jaga dan kita hargai itu adalah status kewarganegaraan surga. Peliharalah bagian itu. Orang katanya ya saya ndak alami sih tapi saya berapa kali dengar orang misalnya punya green card ya, itu green card di negara barat sana, o demi menjaga green card-nya itu bela-belain harus terbang pesawat, stay di negara itu berapa lama nanti balik lagi supaya tidak kehilangan green card-nya itu. Akan bela-belain demi pertahankan itu. O orang yang punya status PR (Permanent Residency) di negara-negara tertentu akan pertahankan itu supaya tidak kehilangan. Saya mau tanya, untuk mempertahankan status kewarganegaraan surga, apa yang sudah anda kerjakan? Apa yang sudah kita berikan? Apa yang sudah kita perjuangkan? Apa yang mungkin orang akan bilang, “Ngapain sih buang-buang waktu terbang sana, tinggal situ, balik lagi sini, ngapain sih?” Ya karena kita tahu seberapa berharganya. Ini Paulus bilang demi kalau di zaman itu orang mengerti, “Wah warga status warga negara Romawi orang pertahankan mulia sekali, bernilai tinggi sekali,” tapi dia ingatkan status warga negara surga itu yang harusnya yang kita terus lihat bernilai jauh, jauh lebih tinggi dari apa yang ditawarkan dunia. Dan itu yang kita pertahankan. Dan ini bagian bicara aksiologi, yaitu bicara tentang konsep nilai sih. Kita benar-benar merasa itu worth it atau nggak, itu ndak lepas dari respon kita di hadapan Tuhan. Orang kalau bilang itu memang suatu barang berharga, nggak usah disuruh dia akan otomatis lakukan, ya kan? Bahkan nanti kalau itu ya misalnya wah batas green cardnya sudah muncul, kalau bisa singkirin semua jadwal atau untuk terbang ke sana, dia bilang gitu, bela-belain. Itu enggak usah kita suruh, enggak usah kita perintah, orangnya sadar sendiri. Sama, kita sebagai warga negara surga, ketika datang ibadah, ketika hadir dalam berbagai pertemuan, kesempatan berkumpul bersama saudara seiman, adakah kita punya juga seperti eagerness, adanya suatu kita perasaan kerinduan karena memang inilah status kita, kita ibadah di sini merayakan itu. Dan sebagaimana James Moffatt mengatakan, “We are a colony of heaven,” kita merayakan kita adalah koloni surga yang ada di dunia ini, dan kita merindukan kehendak Bapa terjadi di bumi seperti di surga. Karena kita adalah mahkluk sorgawi, kita yang ditempatkan melihat akan kelak kita ke sana, dan kita adalah koloni dari surga yang untuk sementara memang berdiam di bumi ini.

Lalu lanjut ayat berikutnya itu kalo bicara kewarganegaraan surga itu bicara sudah present, already, sudah kita nikmati sekarang. Poin berikutnya mengatakan bahwa kita menantikan Juruselamat kita Tuhan Yesus Kristus. Itu bicara yang future, yang not yet, yang belum, kita menantikan suatu yang akan datang. Tapi di bagian sini biarlah kita melihat kita bukan menantikan sesuatu yang tidak pasti, tapi ada suatu kepastian, karena apa? karena Kristus sudah datang satu kali, ya ini titik kita ya. Dari mana kita tahu pasti Kristus akan datang kedua kali? Karena Dia sudah datang pada kedatangan pertamaNya, Dia yang sudah menggenapai dalam waktuNya rencanaNya yang sempurna, datang berinkarnasi menjadi manusia, datang untuk mati menebus dosa kita, maka Dia pasti datang akan kedua kalinya untuk menghakimi dunia ini. Ada suatu kepastian. Sehingga di sini kita bukan menantikan pada suatu yang tidak pasti, seolah seperti orang bergumul gitu ya, atau beginilah kalau dalam kita bergumul misalnya bicara kiamat, bayangan kita itu apa sih? entah kiamat universal ataupun kiamat kita pribadi ya, mati maksudnya, kita pikirnya itu apa sih? Oh takut gitu ya, ndak tahu gimana nasib saya gitu ya. Tapi dibagian sini mengatakan ada suatu kepastian di dalam Tuhan karena Tuhan itu sudah mengasihi kita, Dia sudah mati berkorban bagi kita selagi kita masih berdosa. Lho memang selagi kita masih berdosa, bukan cuma ngomong selagi masih berdosa, sebelum kita bisa ngerti apa-apa tentang firman Tuhan, sebelum kita bisa memberikan satu sen pun uang kita pada Tuhan, darahNya sudah dialirkan untuk menebus dosa kita. Berapa banyak kita mengerti itulah kasih Allah, itulah keputusan kasih Allah yang diberikan kepada kita. Bukan cuma sekedar perasaan tetapi komintmen Dia untuk menyelamatkan kita, menebus kita, itu kasih yang luar biasa. Dan itu kalau memang kita sungguh hayati secara personal, pribadi di hadapan Tuhan, kita tahu itu yang menguatkan kita dan terus mengarahkan kita untuk mengasihi Dia. Dia sudah lebih dahulu mengasihi kita sedemikian, Dia sudah lebih dulu berkorban bagi kita, Dia lebih dulu mati bagi kita, maka kita belajar juga membalas kasihNya dan hidup bagi Dia, menyenangkan Dia. Itu yang kita jalani dalam kehidupan ini dan mengerti kita menantikan Juruselamat kita yang akan datang yaitu Tuhan Yesus Kristus, dimana Kristus akan mengubah tubuh kita yang kini, akan menjadi serupa dengan tubuh KemuliaanNya. Ini juga bicara not yet, yang masih akan datang. Sebagaimana Anathasius itu mengatakan Kristus itu menjadi serupa dengan kita, supaya kita menjadi serupa dengan Dia, God became men so men become God. Tentu bagian ini bisa disalah arti, “Oh kita menjadi Tuhan,” bukan, tapi dia ngomong sebagaimana Kristus merendahkan diriNya sedemikian supaya kita bertumbuh dengan aspek-aspek itu semakin serupa dengan Allah, sebab kita ini dicipta menurut gambar rupaNya, bahkan kita ditebus di dalam darah pengorbanan Yesus Kristus, ada penyertaan Roh Kudus yang dimateraikan di dalam kehidupan orang percaya, untuk apa? Untuk kita semakin serupa dengan Dia, semakin serupa Kristus, dan Dia tumbuhkan sehari demi sehari, proses, proses tapi kita digerakkan.

Saya mau tanya, sudah berapa lama Bapak, Ibu, Saudara sekalian mengenal Kristus? Saya enggak tahu seberapa lama Bapak, Ibu, Saudara sekalian sudah beribadah di tempat ini atau menjadi orang Kristen sebelum bergereja di sini, tapi pertanyaan, adakah kita refleksikan, adakah kita makin bertumbuh semakin serupa Kristus, adakah kita bertumbuh semakin mengasihi Kristus, adakah kita bertumbuh semakin mengerti cinta kasih, belas kasih Tuhan dalam kehidupan kita? Nah itu yang mendorong kita, menggerakkan kita mau berjuang bagi Dia. Dan adakah kita bertumbuh semakin mengerti betapa bernilainya status kita sebagai warga negara surga itu? Dan ditutup di akhir karena dikatakan, “Kristuslah yang memiliki kuasa untuk menaklukan segala sesuatu pada diri Nya.” Itu bicara juga not yet, dimana Dia akan menaklukan semua di bawah kakiNya, yaitu pada akhir nanti semua akan takluk kepada Kristus. Sebagaimana Filipi 2:10-11 katakan, “Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit, yang ada di atas bumi, dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa.” Orang Kristen beriman ke arah yang future, yang pasti, yang akan datang, yang akan tiba. Iman itu adalah sebelum terjadi kita sudah percaya dulu, itu orang bijak. Sebelum faktanya tiba, sudah mengantisipasi terlebih dahulu, sudah beriman, sudah memperkirakan berdasarkan dasar yang pasti dan itu beriman. Tapi orang biasa sampai sudah terjadi baru tahu, “Ooo, begini,” yang mana sudah terlambat. Tapi nanti ada lagi orang bebal, sudah terjadi masih ndak mau tunduk kepada Kristus, masih tidak bisa terima fakta, itu orang bebal. Orang bebal sudah terjadi masih ndak mau mengaku, masih ndak ngeh, ya itu orang bebal. Orang biasa sudah terjadi baru tahu, sudah cerita tentang Covid-19 baru kita itu jaga bersih-bersih, tapi kalo orang bijak sebelum itu menjaga kesehatan, menjaga kebersihan. Atau jangan-jangan ada yang pikir, “Oh sebelum corona, kalau saya tahu sebelumnya, saya borong masker, supaya bisa jualan,” dasar otak dagang. Tapi orang bijak itu sebelum tiba dia sudah mengantisipasi, itu orang bijak. Dan sebenarnya di dalam bagian ini bagaimana kita mengerti sebagai orang Kristen yang bijak sebelum Kristus datang menghakimi seluruh dunia ini, kita sudah menaklukan diri kita dibawah Kristus, pada akhirnya semua lutut akan bertelut dan lidah akan mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa, tapi kita yang mendapat anugerah Tuhan bisa mengerti, mulai kita bertekuk lutut, dan mulai dengan lidah kita mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa, itulah bijaksana sebagai orang Kristen, bijaksana sebagai anak-anak Tuhan, mengahadapi masa depan yang ada suatu kepastian di akhir nanti, meski di tengah proses ini ada banyak lika-liku pergumulan yang tidak menentu, tetapi pengharapan kita pada yang akan datang. Dia akan datang, dan biarlah kita dari lubuk hati kita yang terdalam, kita berseru, “Maranatha, Kristus segera datang!” Adakah Kristus yang demikian yang anda imani dan anda nantikan seumur hidup anda? Mari kita bersatu di dalam doa.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *