Menerima untuk Memberi, 13 Agustus 2017

Ef. 4:4-10

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, orang Kristen adalah orang yang harus hidup di dalam satu kesatuan. Tetapi di dalam kita berbicara mengenai kesatuan, Paulus berkata ada dua catatan yang harus kita pegang dengan baik di dalam prinsip kesatuan itu. Pertama adalah, kesatuan itu bukan sesuatu yang berarti suatu kesamaan yang tanpa ada perbedaan di dalamnya, kesatuan yang Kitab Suci katakan itu bukan terdiri dari kumpulan orang-orang yang seragam satu sama lain tetapi justru terdiri dari perbedaan-perbedaan, orang yang berbeda satu dengan yang lain yang Tuhan persatukan di dalam Kristus, yaitu di dalam Gereja Tuhan. Paulus gunakan ilustrasi mengenai tubuh manusia untuk menggambarkan perbedaan yang satu itu. Apakah semua manusia itu adalah kepala? Apakah semua manusia itu adalah tangan? Apakah semua manusia itu adalah mata? Apakah semua manusia itu adalah telinga? Paulus bilang nggak mungkin, kalau semuanya adalah tangan, pasti bukan tubuh, bukan kesatuan dan keutuhan tubuh. Justru adanya perbedaan, adanya kepala, tangan, kaki, dan yang lain-lain, baru itu bisa dikatakan sebagai satu tubuh yang sempurna. Begitupun juga dengan Gereja, ketika kita ingin gereja harus satu maka ‘satu’ itu jangan dilihat sebagai satu hal yang sama semua; termasuk di dalamnya ketika Allah memberikan karunia-karunia kepada Gereja maka karunia yang Paulus katakan di dalam Efesus maupun di dalam Korintus dan Roma antara yang satu dengan yang lain itu berbeda satu dengan yang lain. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, karunia adalah sesuatu yang Tuhan berikan berdasarkan otoritas kedaulatan Allah dan apa yang Allah pandang baik untuk Gereja-Nya, bukan apa yang kita pandang baik. Dan kalau karunia adalah sesuatu yang Tuhan berikan bagi gereja dan setiap orang diberikan karunia-karunia oleh Tuhan berdasarkan kedaulatan Tuhan, apa yang Tuhan pandang baik untuk pertumbuhan Gereja, dan itu merupakan sesuatu yang seperti tubuh yang berbeda-beda, berarti setiap orang itu adalah orang yang berbeda satu dengan yang lain, karunia seseorang adalah karunia yang berbeda satu dengan yang lain, dan itu berarti kita tetap walaupun satu kita pasti memiliki fungsi dan peran masing-masing di dalam Gereja Tuhan. ini hal yang pertama ya, kesatuan tidak meniadakan keragaman, kesatuan yang sesungguhnya justru adalah kesatuan di tengah keragaman, di tengah perbedaan yang ada di dalam Gereja Tuhan.

Karena itu ada tiga hal yang menjadi hal utama yang harus kita pegang baik-baik ketika kita bicara mengenai kesatuan. Pertama, satu itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan kesatuan tubuh; kedua adalah, satu itu berarti ada orang lain yang berbeda dengan diri kita; ketiga, perbedaan itu adalah sesuatu yang tidak boleh memecah kesatuan dari pada tubuh ini. Kita harus pegang prinsip ini baik-baik. Dan Tuhan memanggil kita sebagai orang Kristen untuk hidup di dalam kesatuan yang dinyatakan kepada dunia ini. Tapi pada waktu kita bicara mengenai kesatuan adalah panggilan dari pada orang Kristen, kesatuan adalah sesuatu yang dikerjakan oleh Tuhan untuk kehidupan dari pada orang-orang Kristen di dalam dunia ini untuk menyatakan kesatuan dari pada Allah Tritunggal, maka di dalam kesatuan itu kita jangan anggap sebagai sesuatu yang menjadi tujuan utama dari kehidupan orang Kristen. Kalau kita berkata, “Kalau Tuhan mempersatukan gereja, kalau kesatuan itu adalah panggilan hidup dari orang Kristen, maka di dalam kehidupan orang Kristen kita betul-betul harus menyatakan kesatuan, yang utama adalah keatuan,” akibatnya apa? Kalau kita menjadikan yang utama, yang mutlak adalah kesatuan, kita akan mengorbankan segala sesuatu yang merupakan kebenaran, bahkan Kristus untuk mencapai kesatuan dari gereja Tuhan.

Saudara, Paulus di sini mengatakan pada waktu kita bersatu, kesatuan itu tidak boleh mengorbankan kebenaran. Dari mana kita tahu? Ada beberapa ayat yang mengatakan hal ini, misalnya bagaimana kita bisa dipersatukan dalam Tubuh Kristus? Paulus katakan kita bisa dipersatukan dalam Tubuh Kristus hanya karena Kristus, kita ada di dalam Kristus baru kita bisa disatukan di dalam Tubuh Kristus; tanpa Kristus maka itu berarti kita tidak berada di dalam Tubuh Kristus. Lalu di dalam pasal 4 ini sendiri Paulus berkata di dalam ayat 5, “Karena kita memiliki satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,” itu berbicara mengenai satu kesatuan yang ada batasan-batasannya, ada pagar-pagarnya yang kita tidak bisa langgar, begitu kita langgar batasan-batasan ini maka itu pasti bukan satu kesatuan yang bersumber dari Tuhan Yesus, atau Kristus, atau Tuhan Allah dalam kehidupan kita. Batasannya itu apa? Kita dikatakan memiliki satu Tuhan yaitu Kristus, atau di dalam Kristus; batasan yang lain adalah kita memiliki satu iman, satu iman yang menyatakan bahwa kita adalah orang-orang yang memiliki satu kepercayaan berdasarkan anugerah karya keselamatan yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita; lalu satu hal lagi adalah satu baptisan, satu baptisan itu bukan berbicara mengenai “Oh semua orang Kristen harus dibaptis dengan percik; semua orang Kristen harus dibaptis dengan selam baru baptisan itu menjadi satu baptisan yang sah dalam gereja.” Saudara, ‘satu baptisan’ tidak pernah bicara mengenai mode baptisan itu seperti apa atau cara baptisan itu seperti apa, tapi yang utama adalah kita dibaptis dengan ‘satu baptisan’ berarti kita memiliki satu pengakuan iman yang sama di dalam Kristus. Itu berarti ketika sebuah gereja bisa dikatakan sebagai Tubuh Kristus maka gereja yang disebut sebagai Tubuh Kristus itu bukan semua gereja. Kita mungkin berkata, ada kadang-kadang satu kecondongan adalah di dalam zaman sekarang semua orang yang mengatakan dirinya Kristen itu adalah saudara seiman, semua orang yang membangun gereja lalu beribadah dalam gereja itu adalah saudara seiman, betulkah mereka adalah saudara seiman? Saudara, kalau mereka tidak berpegang pada Kristus adalah Tuhan, Kristus adalah Juruselamat, kalau mereka tidak hidup dalam kebenaran yang Kitab Suci nyatakan sendiri mengenai Alkitab adalah firman Allah, Kristus adalah Allah yang menjadi manusia untuk menebus dosa manusia, dan kita adalah orang yang bergantung penuh kepada Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, bukankah itu berarti kita memiliki pengakuan iman yang berbeda, kesaksian yang berbeda, kalau begitu bisakah kita disebut sebagai bagian dari pada Tubuh Kristus? Saya percaya ini adalah hal yang tidak mudah, sesuatu yang mungkin bisa mengakibatkan istilahnya ‘perpecahan’ tapi Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, kalau kita membuat satu kesatuan yang mengorbankan kebenaran Kristus, pengajaran firman, mungkin itu bukan dari Tuhan. Tapi kalau kita mengadakan suatu perpecahan dengan satu Tubuh Kristus yang sejati, yang sungguh-sungguh ada pengakuan yang benar akan firman, ada satu kebanaran mengenai Kristus yang diutamakan dan ditinggikan di dalam gereja Tuhan itu, maka kita mungkin sedang dipakai menjadi alat iblis untuk memecah pekerjaan Tuhan di dalam dunia ini.

Jadi bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kesatuan itu adalah sesuatu yang bersifat kristologis dan teologis. Pada waktu kita mau bicara mengenai kesatuan, di situ keutamaan Kristus menjadi penting; bicara mengenai kebenaran firman Tuhan, kebenaran Allah itu menjadi penting. Tapi kalau ini yang menjadi penting dan ini yang harusnya mempersatukan, kenyataan yang kita seringkali temukan di dalam gereja adalah ada orang-orang yang seringkali memisahkan diri dari pada kebenaran ini bukan dikarenakan kristologi atau bukan dikarenakan kebenaran mengenai teologi. Apa yang seharusnya membuat kita bergabung di dalam sebuah gereja? Apa yang membuat kita seharusnya memisahkan diri dari sebuah gereja? Saya percaya ini bukan satu pertanyaan yang gampang dijawab, tetapi kita sebagai orang Kristen ketika mengerti bahwa kesatuan itu tidak bersifat seragam, kesatuan itu bukan sesuatu yang bersifat mengkompromikan kebenaran, maka di situ kita perlu meneliti apa yang membuat kita harusnya bergabung dan bersatu di sebuah gereja karena gereja itu disebut sebagai gereja Tuhan dan Tubuh Kristus yang sejati atau bukan dari pada Tubuh Kristus. Alkitab berkata yang utama adalah gereja itu menegakkan firman yang benar atau tidak; gereja itu mengajarkan mengenai Kristus yang sejati, yang adalah Allah yang harus ditinggikan dalam kehidupan kita atau tidak; dan gereja itu mengatakan bahwa keselamatan itu hanya di dalam Kristus atau tidak; bahwa kesatuan itu hanya bisa terjadi oleh karena penebusan Kristus atau tidak. Memang ada perbedaan-perbedaan tapi gereja yang sejati juga mengandung banyak persamaan-persamaan dalam hal ini. Jangan hanya urusan hal-hal yang kecil kita mengabaikan kesatuan dari pada gereja. Orang yang sungguh-sungguh belajar teologi yang baik, yang mendalam, saya percaya dia akan mengerti diantara gereja ada banyak hal yang merupakan kebenaran yang tetap terpelihara dengan baik, tapi orang yang kurang mengerti justru dia yang biasanya mencari masalah dan ribut sana-sini seakan-akan semua orang itu menjadi musuh dalam kehidupan ini. Kesatuan bukan keseragaman, kesatuan tidak meniadakan perbedaan di dalam Tubuh Kristus, dan kesatuan itu adalah satu kesatuan yang ada batasan-batasan di dalamnya.

Nah Saudara, kalau kita melihat bahwa kesatuan itu adalah sesuatu yang ragam, kesatuan itu adalah sesuatu yang tidak meniadakan perbedaan, kesatuan itu adalah satu kesatuan yang ada di dalam batasan tertentu, maka ada beberapa hal yang harus kita lihat. Apa hal penting yang membuat kita ada di dalam kesatuan itu? Kenapa yang beragam bisa menjadi satu, kenapa yang berbeda-beda itu bisa menjadi satu di dalam yang dikatakan sebagai Tubuh Kristus? Maka Alkitab mengatakan yang membuat satu itu adalah karya Tuhan di dalam kehidupan bergereja. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, memang di dalam ayat 2-3 Paulus ada katakan kita perlu hidup di dalam kerendahan hati, kita perlu hidup di dalam kelembutan, kita perlu hidup di dalam kasih, kita perlu hidup di dalam satu kehidupan yang sabar, kita perlu hidup dalam satu kehidupan yang saling tolong menolong satu dengan yang lain, tapi pada waktu kita menjalankan itu, apakah itu berarti sebagai gereja Tuhan kita perlu menciptakan satu kesatuan di dalam Roh? Maksudnya adalah, apakah itu berarti kesatuan itu adalah sesuatu yang bisa diusahakan oleh orang-orang Kristen untuk mencapai itu dengan kekuatan kita sendiri? Alkitab bilang tidak, kesatuan yang diadakan di dalam gereja itu bukan sesuatu yang kita bisa capai dengan usaha kita sendiri, yang kita bisa cipta dengan kemampuan kita sendiri, yang sebelumnya tidak pernah ada lalu kita dengan kekuatan sendiri berkumpul dengan orang Kristen lalu berkata, “Ayo kita harus memiliki kerendahan hati; ayo kita harus hidup dalam kelemahlembutan; ayo kita harus hidup di dalam satu kesabaran; ayo kita harus hidup dalam kasih dan hidup saling menolong supaya ada terpelihara kesatuan; ayo kita berjuang untuk itu karena itu semua tidak ada maka kita perlu tumbuhkan itu dalam hati kita supaya kita bisa memiliki kesatuan.” Saudara, Paulus bilang ini bukan menjadi dasar yang diajarkan oleh firman Tuhan. Kesatuan itu ada di dalam Gereja karena Allah kita itu satu, kesatuan itu ada di dalam Gereja karena kita memiliki Roh Allah yang satu itu, kesatuan itu ada di dalam Gereja karena Tuhan yang menyebabkan adanya kesatuan dalam Gereja. Lalu tugas kita sebagai orang percaya apa? Paulus berkata tugas kita adalah untuk memelihara kesatuan yang sudah Tuhan karuniakan di dalam Gereja atau Tubuh Kristus. Itu yang harus menjadi hal yang kita utamakan atau kita perjuangkan dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Karena itu Paulus katakan ada satu Tubuh, ada satu Roh, ada satu Tuhan, ada satu Allah dan Bapa dari segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Tuhan kita adalah Allah yang satu. Allah yang satu itu mengakibatkan satu kesatuan. Kalau kita adalah orang yang memecah atau memisahkan diri dari kesatuan yang sejati yang Tuhan adakan dalam Gereja, itu yang saya tadi katakan, itu berarti maka kita adalah orang-orang yang mungkin dipakai oleh iblis untuk menyebabkan perpecahan atau menghambat pekerjaan Tuhan di dalam kehidupan kita. Jadi ini adalah hal yang kita bisa tarik dari pengertian kesatuan itu.

Tapi di sisi lain, kesatuan yang ada di dalam keragaman yang diakibatkan oleh Tuhan dan disebabkan oleh Tuhan ini juga kita harus mengerti hal yang lain, yaitu setiap orang Kristen yang beriman kepada Tuhan itu haruslah merupakan iman bersama, bukan iman individual saja. Pada waktu Tuhan menarik kita dari dunia lalu memasukkan kita ke dalam Tubuh Kristus yaitu Gereja yang terdiri dari orang yang berbeda-beda tetapi satu itu, maka kita harus mengerti bahwa di dalam rencana kekal Tuhan, Tuhan ingin orang-orang Kristen itu bersatu dan berkumpul di dalam sebuah gereja lokal melalui penebusan yang sudah Kristus lakukan untuk mempersatukan kita semua. Jadi orang Kristen itu tidak bisa menjadi orang Kristen yang individualis, maksudnya adalah orang Kristen yang tahunya “Saya beriman kepada Kristus,” lalu saya beribadah bagaimana? “Saya cuma tinggal buka TV, dengar khotbah di TV, lalu dengar radio di rumah, atau baca buku-buku rohani, lalu memuji Tuhan sendiri di rumah, baca mungkin buku pujian, lalu di situ berdoa sendirian dan tidak mau bergabung dengan sebuah gereja lokal yang ada,” itu nggak bisa terjadi karena kita adalah orang Kristen yang ditebus untuk dipersatukan dalam Tubuh Kristus. Karena itu untuk bisa bergabung di dalam sebuah gereja Tuhan itu adalah hal yang Tuhan kehendaki. Dan kita sebagai orang Kristen kita perlu belajar untuk menundukkan diri di dalam apa yang menjadi kebenaran firman, bergabung dalam sebuah gereja lokal, dibaptiskan di dalam nama Kristus, menerima Perjamuan Kudus, itu adalah hal-hal yang Tuhan perintahkan sendiri untuk kita lakukan di dalam kehidupan kita dan merupakan rencana Tuhan dalam kekekalan dalam kehidupan orang Kristen. Karena itu kita perlu berbicara sebagai satu orang yang hidup di dalam kesatuan melalui tindakan kita yang bersatu dengan sebuah gereja lokal di dalam dunia ini.

Dari situ, hal yang ketiga adalah, kita menjadi orang yang baru bisa bertumbuh. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, dapatkan kita bertumbuh ketika kita hidup seorang diri tanpa berelasi dengan orang lain atau khususnya umat Allah? Saya bilang sangat sulit atau mungkin tidak bisa, karena apa? Pada waktu kita belajar firman, firman itu bukan sesuatu yang kita perlu ketahui saja, kebenaran-kebenaran Tuhan, tapi kebenaran-kebenaran Tuhan adalah satu kebenaran yang kita perlu nyatakan dan hidupi, dan nyatakan kepada dunia bahwa saya adalah orang yang beriman kepada Kristus. Lalu bagaimana kebenaran firman itu bisa terasah dalam hidup kita kalau kita sendiri tidak mau bergabung dalam sebuah gereja lokal, tidak mau bersekutu dengan orang Kristen yang lain, lebih nyaman dengan kehidupan orang-orang dunia? Saya pikir kita tidak akan bertumbuh. Kita lebih bersifat seperti orang dunia daripada orang Kristen. Tapi pada waktu kita bergabung dalam gereja, terdiri dari orang-orang yang berdosa, yang sama-sama memiliki pengakuan iman yang sama, sama-sama memiliki Tuhan yang sama, sama-sama memiliki Allah yang sama, yang telah memilih kita dan mempersatukan kita, di situ kita belajar satu hal, Tuhan telah mempersatukan kami, karena itu mereka adalah saudara seimanku. Dan kesatuan itu adalah sesuatu yang bertujuan untuk mempertumbuhkan imanku. Maka saya harus mengikatkan diri dalam gereja itu, apa pun risikonya, kalau selama itu gereja yang benar, hal-hal yang bersifat pribadi, egoisme diri, budaya yang berbeda, karakter yang berbeda, itu seharusnya tidak menjadi persoalan untuk menggabungkan dan menyatukan diri saya dengan orang Kristen yang lainnya. Dari situ Tuhan mendidik saya untuk memiliki kualitas-kualitas iman, karakter-karakter dari pada Kristus atau Tuhan Allah sendiri dalam kehidupan saya.

Saudara, kita perlu belajar untuk melihat kesatuan dalam keragaman itu berbicara mengenai satu anugerah Tuhan untuk mempertumbuhkan rohani kita, iman kita, menuju rohani yang lebih dewasa dalam kehidupan kita. Dan kalau kita berbicara mengenai kesatuan dari iman, kesatuan dari keragaman tetapi memiliki satu Tuhan, satu pengakuan iman, satu baptisan, maka itu juga berarti sebenarnya kita bisa tarik kesimpulan, orang yang Kristen tidak mungkin bisa bersatu dengan orang non-Kristen, yang terang tidak mungkin bisa bersatu dengan kegelapan. Saudara yang masih single, Saudara perlu memilih orang-orang yang takut akan Tuhan yang menjadi pasangan Saudara, karena ketika Tuhan ingin kita bersatu, maka kesatuan itu haruslah terjadi di dalam kesatuan terang, bukan terang dengan gelap. Kalau Saudara sudah nikah, ya bohwat ya. Jangan pisahkan yang gelap, tapi pertobatkan yang gelap untuk masuk ke dalam yang terang. Tapi itu butuh satu penyangkalan diri yang besar sekali, saya percaya, karena keputusannya yang salah untuk memilih orang yang salah dan bersatu dengan orang yang salah. Saudara, kesatuan di dalam Tuhan, di dalam terang, itu mempertumbuhkan kerohanian, mendewasakan iman kita di dalam Tuhan, karena itu kita tidak boleh mengabaikan itu.

Lalu yang hal terakhir adalah, ketika kita berbicara mengenai kesatuan, maka kesatuan itu menyatakan di dalam keragaman.Itu membuat kita mengerti setiap orang Kristen itu adalah orang Kristen yang memiliki peran yang khusus, yang unik di dalam gereja, yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Saudara, ini juga berarti bahwa kita tidak bisa menjadi orang Kristen yang pasif. Saya kadang-kadang berbicara dengan beberapa orang itu adalah, mereka berkata seperti ini, salah satu contoh ya, “Kami sudah tua. Karena kami sudah tua, lebih baik anak-anak muda saja yang melayani Tuhan.” Saudara, betul nggak kalimat ini? Bisa nggak kita berkata, yang muda saja melayani, yang tua tidak perlu melayani, karena kami sudah tua, generasi beda, cara pikir beda, prinsip beda, lalu kita serahkan saja pada orang muda untuk lihat mereka lebih aktif melayani Tuhan? Saudara, kalau kita mengerti Tubuh Kristus itu adalah unik, karunia Tuhan itu adalah unik, maka setiap orang di dalam gereja itu tidak ada orang yang bisa menggantikan posisinya. Setiap orang dalam gereja itu memiliki peran yang penting dalam Kerajaan Allah. Saya tahu orang yang sudah senior itu nggak muda lagi, mungkin banyak sakit-sakitan, banyak kelemahan tubuh; dan kita yang muda memiliki kesempatan yang lebih besar di dalam melayani; tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya mau tanya, kalau yang tua saja bilang, “kita tidak perlu melayani,” yang harusnya memiliki kerohanian yang lebih dewasa dari orang Kristen berkata, “kami sudah tidak sanggup lagi melayani, biar kalian saja yang melayani, kami hanya menonton kalian melayani,” saya tanya, orang muda akan melayani atau tidak? Kemungkinan tidak, karena dia mendapatkan contoh yang tidak mau melayani, yang tahunya cuma merintah-merintah saja. Saudara, memang ada keterbatasan, tapi keterbatasan itu bukan berarti kita tidak perlu melayani lagi. Keterbatasan itu membuat kita boleh melayani dalam keterbatasan yang kita miliki, tapi bukan berarti kita menjadi orang Kristen yang pasif di dalam gereja. Orang Kristen adalah unik. Karunia-karunia yang Tuhan berikan itu berbeda satu dengan yang lain. Karena itu, kita perlu gunakan karunia itu untuk sama-sama bertumbuh sebagai Tubuh Kristus untuk menuju kepada kesempurnaan dalam kehidupan kita.

Nah Saudara, sekarang ketika Paulus katakan di dalam ayat 7, “Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus,” pertanyaannya adalah, kasih karunia apa yang Tuhan karuniakan kepada gereja, menurut ukuran pemberian Kristus itu? Kalau ktia baca ayat ini, saya tadi ajak kita baca sampai ayat 10, tapi kalau kita baca sampai ayat 11 seharusnya kalimat Kristus itu langsung lompat ke dalam ayat yang ke-11, seperti ini ya, “Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus,” lalu ayat 11, “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,” dan seterusnya. Kalau kita baca seperti ini, kelihatannya kalimat Paulus itu lebih nyambung bicara mengenai kasih karunia, pemberian, lalu Tuhan memberikan baik itu rasul, nabi, pengajar, penginjil, penggembala, pengajar kepada gereja untuk memperlengkapi gereja Tuhan tersebut. Tetapi yang menarik adalah, Paulus tidak langsung lompat ke ayat yang ke-11, tetapi Paulus kemudian membahas terlebih dahulu mengenai Kristus di dalam ayat 8, 9, dan 10. “Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia. Bukankah ‘Ia telah naik’ berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? Ia telah turun, Ia pula, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari segala sesuatu.” Saudara, kenapa Paulus lompat ke dalam bagian ini terlebih dahulu baru kemudian Paulus berbicara mengenai pemberian yang Tuhan Yesus berikan kepada gereja, yaitu rasul, nabi, penginjil, gembala, dan guru? Saya percaya ini bukan sesuatu yang tidak berkaitan sama sekali, tetapi ini adalah hal yang penting yang Paulus lihat, bukan hanya sebagai sesuatu tindakan Paulus ketika dia berbicara mengenai Kristus, dia tidak bisa menahan diri dia lagi untuk memuji Kristus itu lalu dengan satu pujian yang begitu tinggi dan begitu mulia saja, tapi Paulus ingin memberi tahu kita Gereja Tuhan, apa yang menjadi dasar hak dari pada Kristus untuk bisa memiliki kuasa memberikan karunia-karunia bagi Gereja Tuhan.

Saudara, apa yang membuat Kristus memiliki otoritas untuk disebut sebagai Kepala gereja? Lalu sebagai Kepala gereja Dia bisa memberikan segala hal yang dibutuhkan oleh gereja-Nya berdasarkan keinginan Dia dan kehendak Dia sendiri. Apa yang menjadi dasar itu? Nah Saudara, untuk menjawab ini, maka Paulus kemudian mengutip apa yang dicatat di dalam Mazmur 68. Kita coba buka ya, ini adalah satu rahasia yang sangat agung sekali yang Tuhan bukakan bagi kita dalam bagian ini, “Engkau telah naik ke tempat tinggi, telah membawa tawanan-tawanan; Engkau telah menerima persembahan-persembahan di antara manusia, bahkan dari pemberontak-pemberontak untuk diam di sana, ya Tuhan Allah.” Satu kutipan yang Paulus ambil dari Kitab Mazmur yang ditulis oleh Raja Daud sendiri. Saudara, apa maksudnya Paulus ketika berbicara mengenai Kristus lalu dia kembali ke dalam Perjanjian Lama? Saya percaya ini mengandung beberapa hal penting yang Paulus ingin ajarkan kepada kita melalui firman Tuhan ini, yaitu pertama adalah, ketika kita datang kepada Kristus, melihat kepada Kristus, dan menjadikan Kristus sebagai Kepala dari pada gereja, maka tindakan gereja untuk menjadikan Kristus sebagai Kepala dari pada gereja yang berkuasa dan berotoritas atas gereja itu bukan sesuatu tindakan yang baru direncanakan kemudian atau dimunculkan pada zaman Yesus Kristus atau pasca dari pada Yesus Kristus, tetapi tindakan itu adalah sesuatu yang sudah dikatakan oleh Kitab Suci seribu tahun sebelum Yesus datang ke dalam dunia ini. Apa yang dilakukan oleh Kristus ketika Dia mati di kayu salib, ketika Dia kemudian naik ke tempat yang tinggi, itu adalah sesuatu yang sudah dinubuatkan oleh rasul dan juga, oleh nabi dan oleh Raja Daud di dalam kitab Perjanjian Lama, jauh hari sebelum Kristus datang ke dalam dunia. Berarti itu menunjukkan, rencana keselamatan Allah di dalam Kristus bagi manusia berdosa, menurut Daud, menurut Paulus, itu bukan satu rencana yang kemudian tiba-tiba muncul, tapi itu adalah satu rencana yang bersifat kekal yang selalu ada di dalam diri Allah, dan itu adalah satu rencana yang memang menjadi rencana Allah untuk dijalankan dalam dunia yang Tuhan Allah cipta ini.

Saudara, Kristus adalah kegenapan dari pada kitab para nabi dalam Perjanjian Lama. Kristus sungguh-sungguh adalah pribadi yang merupakan pribadi yang dijanjikan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama. Ini berarti bahwa kita ketika datang kepada Kristus, kita bukan datang kepada orang yang salah, kita betul-betul datang kepada orang yang benar, pribadi yang benar, yang sudah dijanjikan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama. Dan itu adalah iman yang Tuhan ajarkan juga bagi orang-orang kudus yang dalam Perjanjian Lama untuk percaya kepada Kristus dan mengharapkan kehadiran Kristus ini dalam dunia. Saudara, apa yang dinantikan Perjanjian Lama itu adalah sesuatu yang akan terjadi di depan. Tapi apa yang dinantikan oleh orang-orang yang hidup dalam Perjanjian Baru itu adalah sesuatu yang sudah terjadi di masa lampau mengenai diri Kristus yang merupakan penggenapan dari pada nubuat nabi-nabi Perjanjian Lama. Saudara, ini adalah satu hal yang sangat agung sekali, yang sangat besar sekali. Dari sini kita tahu, pada waktu Alkitab berbicara mengenai Kristus, ini semua adalah satu kebenaran yang kita tidak salah beriman kepada diri Dia. Lalu siapakah pribadi Kristus ini sendiri? Apakah Dia adalah seorang manusia yang terlahir dari seorang manusia, yang hidup sebagai seorang manusia yang sama seperti kita, lalu yang kemudian dipertuhankan oleh orang-orang Kristen dan para rasul? Alkitab juga berkata, itu bukan satu kebenaran. Kita bersyukur sekali, pada waktu Paulus mengutip Mazmur 68, Paulus bukan hanya berkata Dia adalah seperti seorang raja yang telah menaklukkan tawanan-tawanan sehingga Dia berhak duduk di posisi yang tinggi, tapi Paulus, Daud juga berkata, raja itu yang menaklukkan tawanan-tawanan itu, Dia juga adalah Allah sendiri yang turun ke dalam dunia untuk menaklukkan tawanan-tawanan. Kita tahu dari mana? Di dalam Mazmur 68:8,9, dan 10, di sini dikatakan, “Ya Allah, ketika Engkau maju berperang di depan umat-Mu, ketika Engkau melangkah di padang belantara, bergoncanglah bumi, bahkan langit mencurahkan hujan di hadapan Allah; Sinai bergoyang di hadapan Allah, Allah Israel. Hujan yang melimpah Engkau siramkan, ya Allah; Engkau memulihkan tanah milik-Mu yang gersang,” dan seterusnya. Kalau Bapak Ibu baca, begitu masuk ke ayat yang ke-19, “Engkau telah naik ke tempat tinggi,”‘Engkau’ itu adalah Allah sendiri yang telah naik ke tempat yang tinggi. Jadi, siapakah Kristus itu yang menjadi penggenap nubuat kitab dari pada para nabi? Daud mau berkata, Kristus itu adalah Allah sendiri yang telah turun ke dalam dunia. Dia adalah Yahwe yang turun dalam dunia, yang dikenal oleh orang-orang dalam Perjanjian Lama sebagai Tuhan Yahwe, Dialah yang datang ke dalam dunia, turun ke dalam tempat yang rendah sehingga Dia bisa naik ke tempat tinggi untuk membawa tawanan-tawanan beserta dengan diri Dia.

Saudara, dan memang Alkitab Perjanjian Lama berbicara dalam banyak hal mengenai ketika umat Allah pergi berperang, yang berperang itu bukan umat Allah yang sendiri dengan kekuatan dan kemampuan mereka untuk melawan musuh, tetapi Tuhan Allah sendiri yang turun dalam dunia untuk memimpin peperangan itu bagi umat Allah, atau Dia yang berperang bagi umat Allah. Saudara bisa lihat di dalam peristiwa ketika Israel keluar dari pada Mesir. Apa yang membuat Israel keluar dari Mesir? Apakah karena Israel latih berperang dengan senjata yang lengkap dengan kemampuan militer yang hebat, dengan Musa sebagai strategi militer yang hebat untuk memimpin bangsa Israel karena dia memang pemimpin militer yang hebat? Saudara, bagaimana bisa menaklukkan Mesir dengan kekuatan yang begitu besar walaupun Musa adalah seorang pemimpin yang hebat dengan prajurit yang tidak punya pengalaman perang sama sekali melawan prajurit pengalaman perang yang begitu hebat?  Itu tidak mungkin. Karena itu pada waktu Israel bisa keluar dari Mesir, itu bukan peperangan orang-orang Israel, tapi itu adalah peperangan Allah sendiri melawan Mesir, Firaun, kuasa dewa-dewa yang ada di sana untuk merebut orang Israel keluar dari pada Mesir, perbudakan di Mesir. Lalu selama dalam perjalanan di padang gurun, di situ dikatakan Tuhan memimpin orang-orang Israel itu dan pada waktu mereka menghadapi musuh-musuh yang ada di dalam padang gurun itu, Tuhan sendiri yang menaklukkan setiap musuh yang ada di dalam padang gurun itu. Bahkan ketika Israel masuk ke dalam tanah Kanaan, dikatakan Tuhan sendiri yang memimpin Israel dan berperang bagi Israel untuk menaklukkan musuh-musuhnya ketika masuk ke dalam Tanah Kanaan.Saudara, ada satu peristiwa dimana ini adalah kemampuan kami untuk berperang melawan musuh dan menaklukan musuh dan Tuhan mendidik mereka dengan suatu hajaran yang begitu keras sekali untuk mau menyadari ‘itu bukan kemampuanmu’ di dalam berperang melawan musuh, yaitu pada waktu Israel mengalahkan Yerikho, kota yang besar itu, mereka pikir mereka adalah bangsa yang kuat, yang bisa menaklukan benteng yang begitu besar dan mereka sendiri bisa kalah dengan kemampuan umat Israel yang begitu mungkin terbatas waktu itu, mereka pikir mereka adalah yang bisa berjasa untuk mengalahkan lalu mereka kemudian berkata kepada Yosua sebagai pemimpin, ketika mereka memata-matai Ai, “Yosua ini kota yang kecil, nggak banyak penduduknya, mungkin seper-berapa dari pada Yerikho. Kita saja bisa mengalahkan Yerikho dengan begitu besar. Ini kota yang kecil, sudah, kita kirim saja beberapa ratus orang prajurit untuk datang ke situ, mengalahkan kota Ai, kita pasti bisa kalahkan. Nggak perlu kirim semua pasukan atau orang Israel dan menyulitkan mereka untuk mengalahkan kota Ai.” Saudara, saya pikir ini mereka sudah jatuh ke dalam suatu kesombongan. Mereka pikir yang melakukan peperangan itu adalah diri mereka sendiri, tapi akibat dari tindakan ini Tuhan kemudian membiarkan orang Israel kalah melawan kota yang kecil itu dan banyak dari antara mereka yang mengalami kematian. Bapak-Ibu, saudara yang dikasihi Tuhan, dari sini Israel baru belajar ternyata yang berperang itu bukan hanya Israel, tetapi yang memberi kemenangan kepada Israel itu adalah Tuhan Allah sendiri.

Saudara, Allah kita itu adalah Allah yang mengatakan bahwa diri-Nya adalah Allah yang sanggup menjalankan rencana-Nya dengan satu kepastian, itu pasti terjadi. Dari mana kita tahu? Apa yang terjadi pada diri Kristus? Itu adalah sesuatu yand dinubuatkan 1000 tahun sebelum Yesus Kristus lahir ke dalam dunia ini. Kalau Allah kita bukanlah Allah yang sanggup memelihara hal-hal yang kecil dalam dunia ini, yang berjalan dalam dunia ini, maka Dia nggak mungkin bisa memastikan hal yang besar sungguh-sungguh terjadi seperti apa yang Dia kehendaki. Kalau Dia adalah Allah yang bisa memimpin hal-hal yang kecil dalam dunia ini, dalam kehidupan kita sehari-hari dan bahkan mengarahkan hati manusia, baru itu yang menjamin apa yang Tuhan kehendaki yang besar dalam suatu rencana besar Allah yang Agung itu, itu bisa terjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Saudara, Tuhan kita itu adalah Allah yang Mahakuasa, Allah yang betul-betul berkemampuan untuk menjadikan apa yang Dia rencanakan terjadi persis seperti apa yang Dia rencanakan tanpa ada orang atau ciptaan yang lain yang sanggup mengintervensi itu atau mengalahkan, membatalkan itu, termasuk iblis juga. Tetapi, Alkitab juga berkata Allah kita adalah Allah yang sendiri memimpin peperangan dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, Dia sendiri yang hadapi musuh-musuh bagi diri kita. Itu sebabnya Saudara, sebagai orang Kristen saya percaya kita perlu belajar dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Perjanjian Lama. Pada waktu kita menghadapi kesulitan dalam hidup ini, kita harusnya tahu ada Tuhan Allah yang sanggup memelihara, ada Tuhan Allah yang sanggup memimpin kita keluar dari kesulitan itu atau memiliki kekuatan untuk melewati kesulitan itu dalam kehidupan kita. Pada waktu kita jatuh dalam suatu pencobaan, kita dicobai oleh iblis, kita ingin digoda untuk melakukan suatu tindakan dosa, dengan kekuatan apa kita melawan itu? Saudara, Alkitab berkata jangan gunakan kekuatan sendiri untuk melawan itu. Kita memang perlu menjaga kekudusan tetapi ingat kekudusan itu hanya bisa dipelihara kalau kita menggunakan kuasa Allah dan kekuatan Allah untuk melawan dosa dalam kehidupan kita. Kalau Saudara tidak pernah berpaling kepada Tuhan Allah untuk meminta Tuhan menolong kita keluar dari pada dosa, saya yakin kita tidak akan mungkin pernah bisa menang terhadap pencobaan dalam hidup kita. Tuhan sudah mengajarkan ini kepada orang Israel dan orang Israel harus bayar dengan harga yang begitu mahal sekali supaya mereka bisa mengerti Tuhan itu segala-galanya dalam kehidupan mereka, baik itu dalam merencanakan segala sesuatu, baik itu dalam menghadapi musuh depan mereka, baik itu dalam menikmati berkat dari pada kehidupan ini, Tuhan itu adalah segala-galanya yang memberikan itu bagi diri mereka dan mereka harus menyerahkan hidupnya secara total bergantung kepada berkat dan pimpinan Tuhan dalam hidup mereka. Saudara, ini adalah bayaran yang begitu mahal yang dilakukan oleh orang Israel, sehingga mereka harus berulang kali jatuh bangun, banyak yang menjadi korban keadilan dari pada Tuhan Allah, dan bahkan mereka harus dibuang oleh Tuhan Allah dari Tanah Perjanjian sendiri karena mereka tidak pernah belajar hal ini.Saudara, saya percaya kita perlu belajar untuk mengerti kebenaran ini dan belajar hidup sebagai anak-anak Tuhan untuk mentaati kebenaran ini melalui kesalahan-kesalahan yang orang Israel alami dan berikan berkat untuk kita pelajari sebagai orang-orang Kristen dalam kehidupan kita.

Jadi, apa yang Paulus kutip di dalam Mazmur 68:19 itu mengisahkan suatu tindakan Allah yang menyatakan bahwa memang Kristus itu adalah merupakan penggenapan dari pada nubuat Tuhan, dan bahwa Kristus itu adalah Pribadi Allah sendiri yang inkarnasi dalam dunia untuk membebaskan tawanan dan membawa tawanan-tawanan ke tempat yang tinggi pada waktu Dia naik ke tempat yang tinggi itu. Nah, Saudara, sekarang yang menjadi permasalahan adalah pada waktu kita melihat kutipan Paulus di dalam ayat yang ke-8, lalu membandingkan dengan ayat yang ke-19 dari Mazmur 68, Bapak-Ibu bisa menemukan perbedaan atau persis sama dalam kutipan itu? Ada beda atau sama? Bedanya dimana? di dalam Mazmur dikatakan apa, “engkau telah naik ke tempat tinggi..” itu sama nggak? “Takala dia naik ke tempat tinggi.” Ya, sama ya. Lalu “telah membawa tawanan-tawanan”? “Ia membawa tawanan-tawanan..” sama ya.Lalu bagian berikutnya apa? “Engkau telah menerima persembahan-persembahan di antara manusia bahkan dari pemberontak-pemberontak untuk diam di sana, Ya Tuhan Allah.” “Engkau telah menerima..” lalu di dalam Efesus dikatakan apa, “Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.” Saudara, sama atau beda? Beda ya. Saudara boleh cek bahasa Ibraninya, saudara boleh cek terjemahan dalam bahasa Septuaginta, semuanya itu berbicara Ia menerima pemberian-pemberian, bukan Ia memberikan pemberian-pemberian, bagaimana kita sinkron-kan ini? Saudara, ada orang-orang yang mengatakan ini bukti Kitab Suci kita salah, Paulus salah kutip, seharusnya ‘menerima’ kok sekarang dikatakan ‘memberi’? Memang bagian atas itu sama, tapi pada waktu masuk ke dalam poin soal pemberian-pemberian itu, Paulus kemudian mengganti apa yang ada dalam Perjanjian Lama soal menerima menjadi memberi. Saudara, apakah ini menyatakan bahwaKitab Suci kita itu ada kesalahan di dalam pengutipan yang dilakukan oleh Paulus terhadap Perjanjian Lama?

Saya percaya ini bukan suatu kesalahan, tetapi ini adalah dua-duanya merupakan kebenaran yang Tuhan ingin nyatakan kepada diri kita. Kebenarannya dari mana? Salah satu ayat yang bisa men-sinkron-kan kedua pengertian ini adalah terdapat di dalam Kisah 2:33, “Dan sesudah Ia dintinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang di janjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.” Saudara, ayat ini menurut Petrus berbicara mengenai ketika Kristus naik ke Sorga, Dia menerima pemberian Roh Kudus, lalu pemberian yang Dia terima itu kemudian Dia bagikan dan berikan kepada  orang-orang Kristen. Makanya, pada hari itu terjadi peristiwa Pentakosta. Jadi, pada waktu mengutip dalam Perjanjian Lama,“Dia naik ke tempat tinggi, membawa tawanan- tawanan. Lalu Dia menerima pemberian-pemberian,” lalu di dalam Kisah [Para Rasul] 4:8 itu dikatakan; “Dia naik ke tempat tinggi,…. Membawa tawanan-tawanan, lalu memberikan pemberian-pemberian..” kita bisa mengerti dibalik istilah ‘memberikan pemberian-pemberian’ ada terkandung pengertian secara implisit ‘Dia sebelumnya menerima pemberian-pemberian’ dan penerima pemberian-pemberian itu untuk membagikan pemberian-pemberian itu kepada umat-Nya atau Tubuh Kristus, ini yang kita bisa mengerti. Jadi, pada waktu ada perbedaan di dalam Perjanjian Lama atau di dalam Perjanjian Baru di dalam hal nubuatan di dalam pengutipan ayat tertentu, jangan kita hanya berpikir “Oh, perbedaan itu berarti salah satu benar, salah satu salah pasti,” ada kemungkinan justru dua-duanya itu benar, dimana kita perlu menggabungkan 2 kebenaran itu untuk mendapatkan pengertian yang lebih komprehensif mengenai apa yang Tuhan ingin kita mengerti dari kebenaran firman Tuhan. Nah, ini salah satu bagian itu.Kita jangan hanya pikir “Oh, kalau bukan ini pasti bukan itu,” ada kemungkinan dua-duanya adalah sesuatu yang harus disatukan untuk menyatakan kebenaran dari pada firman Tuhan.

Nah, Bapak-Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, inilah yang menjadi prinsip kenapa di dalam minggu lalu kita berkata ketika kita berbicara mengenai injil, ketika kita berbicara mengenai anugerah, maka anugerah atau berita injil itu selalu berbicara mengenai bukan apa yang kita bisa berikan, tetapi sesuatu yang kita bisa berikan karena kita terlebih dahulu berespon untuk menerima apa yang kita terima dari pada Tuhan Allah. Saudara bisa membagikan kasih injil kepada orang lain kalau Saudara terlebih dahulu menerima injil dan penebusan Kristus dalam diri Saudara. Saudara bisa bermurah hati kepada orang lain kalau Saudara sendiri telah terlebih dahulu telah menerima kemurahan hati dari pada Tuhan Allah. Saudara bisa memiliki suatu kehidupan dalam kasih karena Saudara terlebih dahulu menerima kasih dari pada Tuhan Allah. Saudara bisa mengampuni orang lain karena Saudara terlebih dahulu menerima pengampunan dari pada Tuhan Allah. Makanya, di dalam injil Matius Tuhan berkata, “Barangsiapa yang tidak bisa mengampuni saudaranya, itu berarti dia belum menerima pengampunan  dari Tuhan Allah.” Dan ini juga dikutip di dalam doa Bapa kami. Saudara, karunia Tuhan itu adalah sesuatu yang merupakan pemberian bersifat memberi. Orang yang menerima karunia Tuhan, itu berarti harus menjadi orang yang bersifat memberi juga karena sifat karunia adalah menerima untuk memberi. Ini harus menjadi suatu kebenaran yang kita hidupi sebagai orang-orang Kristen, untuk menyatakan kita adalah orang-orang yang hidup di dalam karunia Tuhan atau anugerah Tuhan dalam diri kita. Jadi, Bapak-Ibu, saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang membuat Kristus memiliki hak untuk memberikan karunia, pemberian-pemberian bagi jemaat? Apa yang membuat Kristus memiliki hak untuk menjadi Kepala dari Tubuh Kristus? Sebenarnya karena Dia sendiri adalah Tuhan Allah dan Dia sendiri yang telah memenangkan peperangan melawan musuh-musuh-Nya dan membawa tawanan-tawanan itu kembali kepada Allah ketika Dia naik ke tempat yang tinggi, dan Dia adalah yang berhak untuk memberikan pemberian itu karena Dia memang dikaruniakan Allah untuk memberikan pemberian itu kepada manusia atau Gereja-Nya.

Nah, sekarang adalah siapa yang dimaksud dengan tawanan-tawanan itu? Saudara, saya akan bahas ini dalam pertemuan berikutnya ya. Ini adalah hal yang menarik sekali, pada waktu kita berbicara mengenai siapa yang Kristus bawa sebagai tawanan kepada TUHAN.Saya kasih selentingan sedikit aja ya, bocorannya. Ada orang yang menafsirkan seperti ini, “tawanan itu adalah orang Kristen sendiri, yang dibawa oleh Kristus kepada Bapa atau kepada Allah,” karena apa? Di dalam Perjanjian Lama ada hal-hal yang dikatakan Alkitab ketika seorang raja berperang, peperangan itu adalah suatu peperangan yang kadang-kadang untuk merebut kembali umat Allah yang ditawan oleh musuh, hingga ketika mereka merebut tawanan itu kembali dengan mengalahkan musuh-musuhnya, lalu membawa tawanan itu kembali, itu dikatakan sebagai raja yang membawa tawanan-tawanan. Lalu dalam kebiasaan itu kadang raja-raja kemudian setelah menang dalam peperangan, mereka naik atas bukit gunung lalu disitu mereka beribadah kepada Tuhan dengan membawa tawanan-tawanan itu bersama-sama dengan mereka. Jadi, itu berbicara mengenai tawanan, lalu tawanan itu siapa? Ada penafsir yang mengatakan itu adalah orang Kristen. Lalu, bagaimana diaplikasikan ke peristiwa Kristus membawa tawanan-tawanan? Mereka berkata seperti ini, “Orang Kristen dalam Perjanjian Lama, pada waktu mereka mati, mereka tidak langsung masuk ke Sorga, tetapi mereka turun ke dalam hades, satu tempat dimana orang-orang Kristen itu menunggu di situ, lalu ketika Kristus memenangkan penebusan itu maka Dia turun ke hades untuk memberikan pengumuman itu kepada orang percaya yang ada di hades dan membawa mereka ke Sorga.” Makanya, di dalam surat 1 Petrus ada yang menafsirkan ketika Kristus mati, maka Dia pergi kepada roh-roh yang ada di dalam penjara. Nah, Saudara, apa maksud tawanan-tawanan di sini? Siapa yang dibawa Kristus sebagai tawanan-tawanan itu dan bagaimana kita mengerti kebenaran ini? Apakah itu berarti Kristus ketika mati, turun ke hades untuk memberitakan itu dan membawa orang-orang itu kembali dan mereka yang ada dalam Perjanjian Lama dikumpulkan disatu tempat terlebih dahulu? Kita akan bahas ini dalam pertemuan berikutnya ya.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *