Mendengar dan Melakukan Firman (1), 10 November 2019

Yak. 1:21-25

Pdt. Stephen Tong (VCD)

Saudara-saudara, bagaimanapun kita membaca seluruh Yakobus jangan lupa dua hal. Pertama, ini sudah pertama-tama ditujukan kepada orang Yahudi, ini kuncinya. Kedua, ini sudah ditujukan kepada orang Kristen supaya tidak melupakan kelakuan. Nah dua poin ini terus mengikat kita di dalam membahas seluruh Kitab, karena ini bukan Kitab menyangkut doktrin tentang kepercayaan, tetapi ini adalah kitab tentang bagaimana mengaplikasikan yang sudah kita percaya melalui apa yang kita dengar dan kita imani ke dalam hidup sehari-hari. Saudara-saudara sekalian, jikalau kita menekankan kelakuan begitu penting sehingga akhirnya kita melupakan keselamatanlah yang memberikan hidup kepada kita, maka kita sudah menyeleweng dari pada doktrin yang sebenarnya, tetapi jikalau kita mementingkan iman kepercayaan mendatangkan keselamatan lalu sama sekali melalaikan kelakuan sebagai kewajiban, kita akan menyianyiakan anugerah. Sola gratia, sola scriptura, sola fide, ini memang membawa kita di dalam gerakan Reformed, khususnya setelah Martin Luther kita mengetahui bukan melalui perbuatan, bukan melalui jasa, bukan melalui Taurat kita diselamatkan, kita diselamatkan justru karena anugrah Tuhan di luar Taurat tetapi tidak melawan Taurat, melampui Taurat, tetapi didukung oleh Taurat. Kita diselamatkan karena iman, kepercayaan kepada Tuhan, yang telah menjanjikan hidup yang kekal kepada orang-orang terpilih sejak Abraham dan seterusnya. Saudara-saudara sekalian, Abraham dibenarkan sebelum Taurat diberikan, Abraham menjadi orang benar sebelum sunat dilakukan, bahkan 430 tahun sebelum orang Israel mengenal Taurat yang diberikan Tuhan melalui Musa, Abraham sudah dibenarkan, dan dia dibenarkan sebelum Tuhan mengatakan, “Engkau dan anak keturunanmu semua harus disunat,” dia sudah dibenarkan. Berarti pembenaran keselamatan Tuhan melampui Taurat, melampaui sunat, melampaui syariat agama, melampaui segala jasa kelakuan manusia. Bible leaves no room for human merit inheriting the salvation, di dalam kita menerima keselamatan Alkitab tidak memberikan tempat kepada jasa manusia, kelakuan manusia. Itulah sebab orang-orang Farisi yang menganggap melalui menjalankan Taurat mereka boleh diselamatkan salah, orang-orang ahli Taurat menganggap mereka melakukan semua Taurat, 612 butir seluruh dijalankan mereka akan masuk surga salah, dan akhirnya mereka menghafal semua, tetapi kelakuan mereka semua berlawanan dengan apa yang mereka hafal.

Sehingga Yesus Kristus seharusnya memberikan teguran yang paling keras di dalam dunia ini paling banyak secara khotbah Dia kepada satu macam orang: pemimpin-pemimpin agama. “Celakalah engkau orang Farisi, celakalah engkau orang ahli Taurat, celakalah engkau yang menulis Kitab Suci, karena engkau mengerti firman, tetapi engkau hidup di dalam kepura-puraan; celakalah engkau orang munafik karena engkau tidak menjalankan apa yang kau ngerti sebagai firman.” Itu sebab kelakuan tidak menyelamatkan dan kelakuan menjadi satu kecongkakan manusia untuk menghitung jasa diri, untuk melawan Tuhan dan itu dibuang oleh Tuhan Yesus. “Aku datang bukan mencari orang yang benar, aku datang mencari orang yang berdosa supaya mereka boleh bertobat,” orang berdosa, semua, bukan sebagian. Tuhan Yesus seolah membagikan dua macam orang, orang benar, orang berdosa, “Aku datang bukan untuk mencari yang ini, mencari yang lain ini,” bukan, semua berdosa, tetapi yang berdosa dibagi dua, semacam yang sadar dia berdosa, semacam yang tidak sadar dia berdosa. Celakalah mereka yang berdosa dan tidak bersadar dia berdosa, berbahagialah mereka yang berdosa dan sadar dia orang berdosa. Orang yang sadar ia berdosa akan datang kepada Tuhan, seperti orang yang tahu dia sakit dia datang kepada dokter yang benar, orang yang tidak rasa diri sakit tapi dia sakit keras, dia akan mati mendadak tapi diketahui dia sendiri. Orang yang sadar dia berdosa, sadar dia sakit, dan datang kepada dokter, datang kepada Juruselamat, “Tolong aku Tuhan, tolong aku dokter,” karena dia rasa dia perlu. Kepada orang yang sadar ini Yesus Kristus berkata, “Aku datang bukan memanggil orang yang benar, memanggil orang berdosa supaya bertobat.” Dengan demikian kita melihat orang-orang Israel ada yang diselamatkan jikalau diantara mereka, mereka tidak bersandarkan syariat, tidak bersandarkan kelakuan, tidak bersandarkan jasa, tidak bersandarkan perbuatan mereka yang baik, dan mereka sadar mereka berdosa. Itu sebab Tuhan Yesus berkata dua orang datang ke bait Allah, yang satu adalah seorang Farisi, dia berkata, “Ya Allah, aku berterima kasih kepadaMu karena aku lebih baik dari orang lain, aku tidak berzinah, aku tidak tamak, aku tidak merugikan uang orang lain, dan aku berpuasa dua kali setiap minggu, aku memberikan perpuluhan,” ini semua baik, ndak ada satu yang tidak baik. Dan dia berkata, “Saya lebih baik dari orang lain, saya juga tidak seperti pemungut cukai,” dia menuduh, dia mengadu, dia memproklamirkan kebolehan diri, dan Tuhan paling benci mereka membenarkan diri. Jadi Tuhan mengatakan dia berbicara kepada diri sendiri, terjemahan Indonesia, dia berbicara di dalam hati, terjemahan Mandarin. “Dia berbicara kepada diri sendiri” artinya Tuhan tidak dengar, doa dia tidak sampai kepada Tuhan, dia berbicara sama diri sendiri kok. Tetapi pemungut cukai mengatakan, “Tuhan,” dengan teriakan, dengan kesedihan, dengan air mata sambil menepuk dada sendiri, “Ya Allah, kasihanilah saya orang berdosa,” Tuhan Yesus berkata orang ini pulang dibenarkan, karena apa? Dia sadar dia tidak layak, dia sadar dia berdosa, dia sadar dia membutuhkan Tuhan.

Saudara saudara, “Aku datang bukan untuk mencari orang yang benar, sudah bertobat. Aku datang mencari orang berdosa supaya bertobat.” Ini adalah kalimat yang penting sehingga Surat Yakobus mempunyai suatu ciri khas yang berlainan dengan seluruh 65 jilid yang lain. Surat Yakobus adalah Surat dimana memberitahu kepada orang Yahudi, “Engkau mempunyai kelakuan, tapi kelakuan yang apa? Kelakuan sebelum diselamatkan supaya boleh menjadi sesuatu  kualifikasi atau kelakuan setelah diselamatkan menjadi manifestasi?” Not a qualification but manifestation. Kualifikasi adalah, “Ini lho syaratku. Tolong melalui syarat saya dikasih keselamatan.” Tuhan bilang, “Enyahlah, semua syaratmu tidak cukup.” Tapi engkau mengatakan, “Tuhan, setelah aku diselamatkan untuk memanifestasikan hidupku yang baru,” nah itu kelakuan yang benar. Ini yang dikatakan oleh Yakobus. Kedua, Yakobus ditulis supaya memberitahu ke orang-orang Kristen, “Jangan kira engkau sudah diselamatkan lalu engkau tidak perlu kelakuan yang baik.” Bagi orang Yahudi supaya mereka mengetahui bukan kelakuan mereka yang baik yang cukup syarat membikin mereka diselamatkan. Bagi orang Kristen yang sudah mengerti, kita tidak bersyarat kita dianugerahi Tuhan. Jangan lupa anugerah Tuhan bukan untuk dipermainkan dan disia-siakan, harus dimanifestasikan ke dalam kelakuan. Kedua kunci ini kita pegang terus. Maka terus ikut kita sampai 5 pasal habis, baru kita mengerti apa pentingnya Yakobus. Saya sekali lagi berkata, saya tidak mau hanya memberikan arti ayat-ayat seperti mengajar anak SD. Saudara cari kamus, mengerti, engkau sudah tahu, “Oh ngerti.” Pengertian firman bukan begini. Pengertian firman adalah pengertian seluruh organik, seluruh sistem hidup, karena ini firman hidup, The word of life, The living word of the Living God. Sehingga dari kata sama kata ada kaitan hidupnya, relasi integratif yang relevan satu dengan yang lainnya menjadi satu pengungkapan Pemberi hidup itu sendiri, dari Tuhan, dan akan melengkapi hidup kita yang akan memilih Tuhan.

Maka minggu lalu kita telah bicara cepat-cepat dengar, pelan-pelan bicara, dan pelan-pelan marah. Cepat-cepat dengar bukan speedo seperti orang yang belajar speedy reading, wah bacanya satu menit bisa berapa puluh halaman. Orang yang pintar baca cepat tidak ada satu yang menjadi pemimpin pikiran di dalam dunia, cuma lomba pintar saja. Banyak orang yang saya kenal yang betul-betul pemikir bacanya pelan luar biasa. Saya sendiri bacanya pelan, baca satu kalimat pelan, pikir, kadang satu kalimat saya pikir 10 tahun lalu saya mengerti seputar-putarnya. Slow reading. Jadi cepat-cept dengar bukan bersangkut-paut dengan speedo. Cepat-cepat dengar bersangkut-paut dengan 2 hal; pertama, kesempatan ada, ambil, dengar baik baik; kedua, sedini mungkin mengerti firman Tuhan pengaruh seumur hidup akan berlainan. Banyak orang bicara sama saya, “Sayang sekali waktu saya mengerti firman Tuhan bagian ini saya sudah umur 50, kesempatan mendidik anak sudah hilang, saya didiknya salah semua, sekarang saya mau didik lagi mereka sudah dewasa sudah tidak mau dengar. Saya mengerti firman Tuhan ini terlalu pelan.” Nah kalimat itu betul karena di situ pelan sama cepat bukan mengenai speedo. Yang disebut pelan sama cepat itu kesempatan yang ada dipakai pada saat Tuhan berkata dengar. Pada ada kesempatan dengar, dengar. Saya sekali lagi menyatakan kecewa MRII-MRII di seluruh tempat yang ikut kebaktian sama yang ikut SPIK di malamnya presentasenya jauh lebih besar dari di Pusat. Kita membuka sekolah teologi malam untuk anda boleh studi, tetapi yang di Pusat paling sedikit yang mau belajar. Yang datang gereja majelis, pendeta gereja lain datang, mereka rindu gerakan Reformed, rindu pikiran Reformed. Selain mendengarkan seminar 1 tahun satu dua kali pembinaan Kristen. Mereka merasa begitu indah, mereka belajar lagi. Yang paling malas orang Pusat, saya sangat malu. Harus bagaimana bekerja supaya Saudara mengerti kalau Saudara perlu belajar lebih banyak? Besok kita menghadap Tuhan, Tuhan akan bertanya, “Saya memberikan kesempatan begitu banyak firman, begitu banyak hal yang boleh mendidik engkau, kau telah imbok(?) di dalam beberapa kesempatan. Sekali lagi, dengar cepat-cepat bukan berarti pintar dengar banyak-banyak. Dengar yang benar dengan teliti, ambil kesempatan. Kedua, sedini mungkin mengerti firman Tuhan, lalu bicaralah pelan-pelan. Bicaralah pelan dan marahlah pelan-pelan, artinya reaksimu ke dalam firman Tuhan harus bertanggung jawab. Ini kalimat tidak ada kaitannya dengan dengar apapun, ini khusus kaitannya dengan dengar firman.

Minggu lalu saya sudah katakan, the only thing relevant is reaction to the word of the God you listen to. Setelah mendengar firman Tuhan bagaimana reaksinya? Baru dengar langsung tolak, begitu dengar langsung hina, begitu dengar langsung ketawa, begitu dengar langsung marah, itu orang bodoh karena firman Tuhan bersifat paradoks sehingga waktu pertama kali engkau dengar rasa lucu, engkau rasa lain, engkau rasa tidak cocok. Berapa banyak orang pernah ikut kebaktian di sini, setelah masuk datang dua kali, pergi. Jawabannya kenapa tidak datang lagi? Terlalu sulit, tidak mengerti. Itu reaksinya. Datang lagi, pergi, “Oh Pak Stephen Tong terlalu sombong. Saya ndak mau dengar khotbah seperti ini.” Dia lebih suka pendeta yang taat sama dia, jadi pegawainya dia, dia tidak mau pendeta yang berani menegur dia maka dia reaksinya adalah, “enggak cocok.” Ada yang dengar pergi karena karena khotbahnya terlalu panjang, dia maunya khotbahnya pendek-pendek, yang lucu-lucu, yang guyonan tok, itu yang dia seneng, maka dia pergi. Ini adalah satu mimbar yang tidak bertanggung jawab kepada Tuhan. Semua yang kita ajarkan kita harus setia kepada Alkitab, dan bukan tempat untuk entertaintment. The church and the Sunday service is not a place for entertainment. Kalau Saudara mau cari entertainment, pergi ke lain tempat, pergi ke club. Kalau Saudara mau berbakti kepada Tuhan, mendapatkan pendidikan pengajaran dari Tuhan, duduk baik-baik, dengar firman Tuhan dengan penuh kehormatan, dan siapkan hati. Dan pada waktu dengar, reaksinya pelan sedikit Saudara-saudara, dan jangan cepet marah. Saya baca buku dari Nietzche yang melawan Kristus, melawan Alkitab, melawan Gereja. Baca dia usutnya menyangkut apa yang dia katakan tentang Kristus. Aduh saya baru tahu, orang pintar seperti dia bodohnya luar biasa karena salah mengerti Kitab Suci sama sekali. Orang kalau sudah salah mengerti, sudah ndak bisa reaksi dengan objektif. Orang kalau sudah salah ngerti, sudah ndak berhak untuk menasehati. Orang kalau sudah salah ngerti, kritikannya itu semua tidak bernilai, itulah dia.

Saudara melihat banyak hal yang bermutu, permulaan itu tidak diterima dengan baik, khususnya musik sama lukisan. Saudara mengerti tidak lukisan dari Moreau, Chagall, Matisse? Saudara mengerti tidak lukisan dari pada Lautrec, lukisan dari pada Picasso, Pissarro, Sisley, Gauguin, van Gogh? Itu waktu lihat langsung jengkel, langsung ndak senang, begitu lihat engkau langsung, “Ah ini apa ini,” karena tidak cocok dengan konsepmu tentang lukisan yang indah yang pernah engkau tahu. Musik sama, waktu engkau dengar The Rite of Spring, atau di dalam bahasa Latinnya itu Le Sacre du printemps, yang ditulis oleh seorang yang bernama Stravinsky, begitu dengar, “Wah ributnya, ndak cocok ya,” langsung engkau bilang, “Tutup, saya ndak senang musik ini.” Yang senang apa? Dangdut. Yang senang apa? Keroncong. Yang senang apa? Lagu anak-anak, enak, enak didenger. Tetapi di dalam musik-musik yang besar seperti itu, mengandung revolusi, mengandung satu inovasi, mengandung semacam pemikiran yang menerobos, menerobos, sehingga sebelum itu ndak ada orang seperti dia. Stravisnsky di dalam Petrushka, dia satu baris ada yang 7 beat, ada yang 13 beat, biasanya kita satu, dua, tiga, empat, dia nanti 7, nanti 13, nanti 4, nanti 5, jadi yang conduct itu kalap karena terlalu sulit. Tetapi pada waktu dia mementaskan musik pertama, semua orang melempar sepatu ke atas, dan semua itu memecahkan kursi, dilempar, “Ini penipu, musik apa ini, bikin sampai saya hari ini buang waktu, buang uang akhirnya dengarnya sesuatu begitu tidak cocok dengan telingaku,” mereka keluar. Dan hari itu semua yang main musik itu dihina, diketawakan, dan Stravinsky sendiri berada di tengah-tengah tempat itu, di kota Paris, wah dia bilang, “Cilaka, musikku ternyata tidak cocok dengan semua orang, saya akan mati dikeroyok oleh mereka.” Dia ketakutan, keluar melarikan diri dari jendela yang kecil, dan dia lolos, tidak dianiaya. Dia satu malam putar-putar di kota Paris seorang diri, ndak bisa tidur sepanjang malam sampai pagi dengan air mata, “Habislah hari depanku.” Tetapi Saudara-saudara, musik yang tidak diterima baik dan dihancurkan, dihina seperti ini, 30 tahun kemudian diakui, pemelopor musik abad ke-20 yang paling agung, dan dia sendiri baru, setelah mengalami kesulitan besar, baru dia terima, “Saya ada kedudukan di dalam dunia.”

Demikian orang-orang yang besar di dalam sejarah kebudayaan. Yesus Kristus di dunia sama, apa yang Dia katakan tidak diterima orang-orang Farisi. Orang-orang Farisi menganggap mereka mengerti Kitab Suci, “Lu siapa? Musa mengatakan ndak boleh minum darah, kenapa Engkau mengatakan, “Minum darah-Ku, kalau tidak minum darah-Ku tidak ada hidup?” ini melanggar firman, ini bidat,” ditolak. Saudara-saudara, demikian Martin Luther pada waktu dia kembalikan kepada Alkitab dianggap bidat. “Withdraw everything you write or you will be punished.” Jawaban Martin Luther adalah, “Hear, here I stand on the word of God, except you can prove everything I write is opposed to the Bible, and contradictive with my conscience, I will never withdraw anything from my writing.” Dia harus dihukum, karena mereka tidak bisa terima, karena apa? Firman Tuhan itu tidak gampang didengar, yang gampang didengar kalimat setan, yang gampang didengar adalah “Hei engkau makan, setelah makan, matamu akan gede, seperti bintang film si anu, ndak usah di operasi pun akan cerah,” itu kalimat yang enak-enak itu tidak perlu ditangkap karena terlalu gampang didengar. Tetapi firman Tuhan itu begitu sulit, sulit, sulit, sulit, sehingga setelah Yesus mengatakan akan hal itu, Alkitab mengatakan, banyak orang pada hari itu meninggalkan Dia, karena perkataan-Nya yang sulit. Waktu Yesus memberi makan kepada 12 ribu orang, ini ukuran saya, kalau laki 5 ribu, perempuan 5 ribu, anak 2 ribu, 12 ribu orang, setelah itu, waktu Yesus bicara tentang “Daging-Ku harus dimakan, darah-Ku diminum, supaya engkau bisa hidup dan tidak mati,” mereka semua pergi, sisa 12 orang. Dari 12 ribu menjadi 12 orang, ini namanya bukan Church growth, Church decadence. Sesuatu penyusutan, sesuatu erosi, sehingga Gereja itu menyusut. Yesus tidak peduli, “Silakan pergi, asal yang sisa ini mengerti kenapa di sini.” Dan Petrus berkata, “Aku tidak akan pergi, aku akan terus mengikut Engkau, karena Engkau punya firman hidup.” Because you have the Word of the eternal life. Gereja ini didirikan karena ini, kita tidak mau saing dengan gereja lain. Kita bukan bikin tempat entertainment, kita bukan mencari gampang, memberikan khotbah yang enak didengar, kita memberikan firman, firman, firman, sehingga engkau ditumbuhkan di dalam kebenaran Tuhan.

Saudara-saudara, ditumbuhkan untuk apa ? Untuk sendiri sehat, gemuk, ganteng, untuk difoto menjadi model? Ditumbuhkan untuk melayani orang lain, ditumbuhkan untuk memberi. Lebih berbahagia orang memberi daripada yang menerima. Saya tahu sebagai hamba Tuhan, saya harus memberi sesuatu yang cukup, yang penuh, yang lengkap, yang sempurna sesuai kehendak Tuhan, sehingga barangsiapa masuk ke dalam gereja ini dipuaskan. Tetapi saya bukan orang yang mengenyangkan kamu lalu mendidik orang egois, karena kau mendapat berapa, kau harus dituntut berapa dari Tuhan.  Ini firman, ini prinsip firman, yang banyak diberi, banyak dituntut. Kalau kau sudah diberi banyak di sini, Tuhan tuntut, bagaimana jawabmu? Itu sebab, jangan cepat-cepat bicara, cepat-cepat dengar, jangan cepat-cepat bicara. Jangan sembarangan reaksi, jangan sembarangan menggumulkan kepada Tuhan. Tuhan adalah Tuhanmu, Tuhan adalah pemilikmu, Tuhan penciptamu, Tuhan penebusmu, Tuhan penguasa hidupmu, Tuhan pemegang napas terakhirmu. Jangan sembarang bicara sama Tuhan. Be slow in reacting to God. Sudah bertahun-tahun, berkali-kali saya berkata kepada Saudara, Saudara anggap sepi. Man is not what he thinks, man is not what he eats, man is not what he gains, man is not what he behave, man is not what he feels, man is what he react before God. Ini kalimat terlalu besar, sehingga seluruh psikologi dunia tidak mengerti kalimat ini.

Saudara, jangan kira engkau belajar, engkau sudah dapat pengertian banyak. Banyak psikologi, termasuk banyak sekolah teologi, yang di dalam sekolah teologi, tidak sesuai dengan Alkitab. Banyak pendidik, cara mendidik, metodenya tidak sesuai dengan prinsip Alkitab. Kembali kepada Alkitab, tetapi apakah benar kita sudah kembali? Tidak. Saudara-saudara sekalian, “Man is what he eats,” itu manusia sama dengan apa yang dia makan, itu adalah interpretasi orang materialisme. “Man is what he thinks,” ini interpretasi orang rasionalisme. “Man is what he feels,” ini suatu perasaan psikologi, pendidikan atau pengajaran dari pada orang seperti ini. “Man is equal to what he behaves,” ini adalah semacam definisi dari pada orang behaviorisme di dalam psikologi. “Man is what he reacts,” ini Alkitab, manusia nilainya tergantung bagaimana dia bereaksi kepada Tuhan. Tuhan berkata, “Aku memanggil, engkau menolak.“ Tuhan berkata, “Aku telah memanggil engkau sepanjang hari, tetapi engkau mengabaikan Aku,” ini adalah firman Tuhan di dalam Yesaya pasal 65. “Aku berkali-kali mau mengumpulkan engkau, tetapi engkau tidak rela,” ini kalimat Yesus Kristus pada waktu berada di bukit, memandang ke bawah, Yerusalem. Ia di Bukit Zaitun, mengatakan : “Yerusalem, Yerusalem, berkali-kali Aku menginginkan engkau berkumpul, seperti seekor ayam, induk, yang mengumpulkan anaknya di bawahnya, tetapi engkau tidak rela.” Karena apa? Reaksi manusia berada di dalam kebebasan yang salah. Wrong, false freedom akan menghasilkan wrong reaction to God. Kita bereaksi kepada Tuhan dengar firman-Nya bagaimana, mari kita belajar.

Sebenarnya di dalam pikiran saya ada 7 hal yang membikin orang memberontak kepada firman Tuhan. Saya tidak akan menjelaskan satu persatu, bisa bikin seminar. Pertama, konsep firman Tuhan berbeda dengan konsep yang selama ini kita dibentuk. Kedua, karena kebudayaan telah mewariskan kepada kita semacam sistem pikiran yang berlawanan dengan firman Tuhan. Ketiga, karena dosa, kita ditegur di dalam satu khotbah langsung kita reaksi menolak dan tidak mau terima firman. Keempat, karena semacam ideologi yang anti Kristen terbentuk di masyarakat, meracuni kita sehingga kita menolak hal yang berlawanan dengan arus di dalam zaman. Kelima, orang reaksi kepada firman Tuhan karena kesalahan gereja, kesalahan anggota gereja. Kalau ada majelis menjadi penipu, kalau ada orang Kristen yang makan uang orang lain, maka orang-orang yang diajak ke gereja sebelum mendengar firman mereka sudah bersifat mau melawan, karena mereka dirugikan. Maka ini adalah kesalahan gereja sendiri. Keenam adalah sifat-sifat pengkhotbah yang sangat tidak masuk akal mengakibatkan yang dengar khotbah lawan Kekristenan. Dan ketujuh, jikalau seseorang yang mata pencahariannya itu adalah tidak sesuai dengan firman Tuhan, waktu difirmankan itu salah, dia terganggu, dia melawan gereja, membela usahanya. Nah ini terjadi di Alkitab, pada waktu Paulus mengatakan kembali kepada Allah yang sejati, mereka yang bikin patung-patung berhala untuk dijual, cari makan dari situ, mereka rasa usahanya diganggu oleh firman. Langsung mereka membentuk suatu ikatan untuk melawan, berteriak-teriak mengatakan Paulus adalah pengacau dunia, sudah datang ke kota Efesus. Nah ini semua sebabnya reaksi, reaksi kepada firman Tuhan. Kalau yang kau dengar itu benar dan kau bereaksi dengan melawan, berarti engkau membenci kebenaran. Kalau yang engkau dengar adalah benar firman Tuhan dan engkau tidak suka, berarti engkau memihak musuh dari pada Tuhan, itu bahaya sekali.

Maka Yakobus mengatakan, “Cepat-cepat dengar, pelan-pelan bicara.” Ini bukan tentang reaksi conversation, ini bicara teantang reaction to God, bagaimana berespon kepada Tuhan. Saudara-saudara sekalian, dan jangan cepat marah. Orang yang marah menyatakan kebenaran diri akan membela kesalahan itu sehingga ia tidak mungkin obyektif mendengar apa yang dia dengar. Orang yang marah kepada Kristus tidak bisa lagi mendengar baik-baik apa yang dikatakan oleh Kristus. Imam besar tanya, “Apakah Engkau Anak Allah?” Nah ini satu  kesempatan pertemuan antara old traditionalist thought and new revolutionary thought of Christ. Kristus di dunia mempunyai seluruhnya firman yang bersifat revolusioner. Kristus pada waktu mengajar memberikan kalimat-kalimat yang akan membawa seluruh Perjanjian Lama menuju kepada suatu versi yang baru sehingga kontradiktori ini dianggap suatu hal yang mengancam dan memusnahkan kebudayaan Yahudi. Maka mereka ambil jalan di tengah-tengah pilhan hanya dua: kalau menyelamatkan kebudayaan Yahudi, musnahkan Yesus; kalau menerima Yesus Kristus akan musnahlah kebudayaan Yahudi. Siapa mau melihat kebudayaan yang selama ini membesarkan mereka, yang diwariskan di rumah mereka dimusnahkan? Maka semua orang akan berusaha membela apa yang paling penting, lalu menghina yang baru, melawan mereka. Itulah mereka di  dalam pilihan di tengah alternative dua ini, mereka mengambil keputusan musnahkan Yesus, salibkan Dia, tidak peduli apa yang Dia katakan. “Apa faedahnya dengan kita? Pokoknya kita mempertahankan kebudayaan Yahudi.” Di situ kita melihat Yesus harus dipaku di atas kayu salib karena mereka marah. Marah kepada apa? Kepada firman yang didengar, sehingga Yesus Kristus mengatakan, “Aku menyatakan kebenaran kepadamu, itulah sebenarnya engkau mau membunuh Aku.” Ini kali saya di Medan gereja lagi pecah. Ada orang tulis buku terus memakai kalimat ini menjadi judul, “Aku membicarakan kepadamu maka engkau membunuh kita kah?” Waktu mereka cari saya bilang, “Siapakah kamu berhak menulis ini? Kalimat ini hanya mulut Yesus, bukan kamu. Apa kira kamu sudah mengkritik gereja lalu kamu sudah benar? Gereja sendiri tidak benar, kamu lebih benar, maka Engkau seperti Yesus? Engkau benar? Hanya Yesus kebenaran.” Saudara sekalian, kadang-kadang kita pakai ayat bukan untuk mengerti Alkitab. Orang yang  baca Alkitab untuk menyerang orang lain, celakalah dia. Orang yang memperalat  Alkitab untuk menjadi memihak diri, celakalah dia. Karena kita harus memihak Alkitab bukan meminta Alkitab memihak kita. Kita harus berdiri di pihak Tuhan, bukan minta Tuhan berdiri di pihak saya, baru kita betul-betul adalah orang yang bereaksi benar kepada Tuhan. Dengar cepat-cepat, bicara pelan-pelan, marah pelan-pelan. Karena waktu engkau marah, waktu engkau bicara, engkau kritik, engkau melawan, engkau sedang bereaksi kepada Tuhan dengan sikap yang sangat bahaya sekali. Ini adalah satu hal yang sangat krisis, satu hal yang crucial, crucial moment. In the cruicial moment is the moment when you should be responsible in reacted to God be spoken to you. Firman Tuhan yang sudah bicara kepada engkau dan engkau harus memberikan tanggung jawab untuk memberikan reaksi, saat itu saat krusial, saat yang sangat menakutkan karena itu membentuk kerohanianmu seumur hidup.

Saudara-saudara, setelah kalimat ini semua dikatakan dan saya telah memberikan tujuh poin mengenai lawan yang didengar, saya tuliskan seperti ini, selain engkau dengar engkau harus menjalankan. Sudah dengar, jangan reaksi dulu, jalankan. Nah sekarang saya mau tanya, ini satu hal yang mengenai filsafat, yang dibahas di dalam filsafat Tionghoa abad 20 yang sangat sengit. Akhirnya ada dua pikiran: lebih gampang tahu atau lebih gampang melakukan? Hal yang saya tahu waktu saya lakukan aduh susahnya, susahnya. Tahu gampang, lakukan sulit. Hal-hal yang saya tahu, waktu saya lakukan aduh susahnya-susahnya. Jadi ada orang mengatakan tahu  gampang lakukan sulit. Lalu dilawan oleh filsafat aliran yang lain, “Tahu sulit, jalankan gampang.” Okay hari ini semua sudah sikat gigi? Sudah. Semua sudah sikat gigi? Sudah melakukan. Siapa yang tahu tapal gigi bikinnya dari bahan apa? Oh pasti ada yang tahu. Apalagi ada pabrik tapal gigi yang pemiliknya  di sini, tahu pasti. Yang tahu sedikit yang jalankan banyak. Jadi lebih gampang jalankan daripada mengetahui, betul enggak? Siapa yang punya mobil? Angkat tangan. Yang lain naik becak ya? Males banget kamu. Bawa mobil gampang, bikin mobil gampang nggak? Reparasi gampang nggak? Beli gampang nggak? Lebih gampang jual ya. Engkau bawa mobil? Yang bawa mobil 100 juta orang, yang mengerti teori bakar bensin tidak banyak, yang mengerti reparasi lebih tidak banyak. Jadi ini dua teori, pertama, gampang tahu tidak gampang jalankan. Yang melahirkan anak banyak, mengerti bagaimana anak itu dibesarkan dalam perut sampai sembilan bulan lebih akhirnya bisa lahir? Itu teorinya banyak yang tidak tahu. Jadi, melakukan banyak, yang mengetahui sedikit. Teori lain mengatakan mengetahui gampang, menjalankan susah. Yang mengetahui firman Tuhan banyak, yang melakukan sedikit. Mau belajar, gampang. Kalau jadi pendeta baik mesti gini, gini, gini, ayo hafal. Jadi pendeta baik, oh susah dong. Jadi lebih gampang tahu atau lebih gampang jalankan?

Saudara-saudara, mengerti secara rasio, gampang! Mengerti secara eksperimen, tidak gampang! Mengertipun itu bisa gampang, bisa tidak gampang. Mengerti bagaimana berenang, gampang, tangannya gini, kakinya gini, model kodok. Coba masuk air, langsung tenggelam, kalah sama kodok di situ. Mengerti secara teori, mengerti secara rasio itu gampang. Mengerti setelah bagaimana mengatasi sampai tekanan air itu dibawah kita dan jenis berat saya yang lebih tinggi daripada air tidak tenggelam, itu bagaimana mengatasi? Itu harus sesuatu pengertian setara terjunkan hidup di dalam bahaya. Nah Saudara dengar kalimat ini: Terjunkan hidup di dalam bahaya untuk mengetahui sesuatu yang lain daripada hanya mengerti gerak gerik teori di dalam pengertian kognitif lain. Itu sebab mari kita mengerti, di dalam pengertian itu berbeda-beda. Mengerti pengertian teoritis, mengerti pengertian di dalam pergumulan, mengerti pengertian di dalam bahaya bagaimana kita tetap memperjuangkan kelestarian hidup. Ini semua berbeda-beda, beda.. beda.. beda.. beda.. yang paling gampang pengertian teori kognitif. Saudara-saudara, itu sebab, pada waktu tahun 1969, saya pertama kali ke Berlin. Di situ orang mengatakan kepada saya, terlalu sedikit pemuda yang mau jadi pendeta. Karena terlalu sedikit pemuda yang mau jadi pendeta, akhirnya mereka cepat-cepat mentahbiskan pendeta, asal lulus sekolah teologi. Begitu dapat ijazah, 2 bulan lagi ditahbis jadi pendeta, karena kurang pendeta. Saya bilang, “Akhirnya, side effect apa?” Saya memang orang terus pikirkan side effect. Side effect-nya orang-orang komunis yang tidak percaya Alkitab, cepat-cepat kirim pemuda-pemudi masuk sekolah teologi supaya mereka jadi pendeta, dengan begini tidak lama kemudian ambil alih seluruh Kekristenan, pemimpinnya semua tidak percaya Tuhan, tapi lulus sekolah teologi. Wah saya kaget luar biasa. Inilah caranya orang luar gereja lebih pintar daripada gereja karena gereja sendiri tidur dan tidak sadar. Semua orang di dalam gereja merasa diri diberkati oleh Tuhan, anugerah Tuhan, mereka tidak taktik dari musuh gereja sudah jauh lebih pintar secara duniawi. Memang sih, akhirnya tetap karena pemeliharaan Tuhan, karena kuasa kedaulatan Tuhan, Tuhan tidak memperbolehkan gereja begitu jatuh dalam tangan musuh, Tuhan masih ada cara khusus untuk bikin sesuatu terbalik. Namun demikian, Saudara jangan pikir orang di luar tidak ngerti. Orang-orang di luar gereja mempunyai teori-teori, mempunyai cara-cara, siasat-siasat yang luar biasa karena mereka takut perkembangan Kristen. Tapi orang gereja sendiri tidak tahu, tidak tahu. Cuma tahunya, saya urus saya sendiri, gereja mati-hidup tidak peduli. Saudara-saudara sekalian, maka Sekolah teologi mengerti gampang. Tapi mengerti di dalam perjuangan, sulit. Mengerti untuk melawan kehancuran yang tiba kepada kita, mengerti untuk berada di dalam terjun, di dalam berperang dan kesulitan-kesulitan yang menjadi krisis gereja, itu pengertian yang lain lagi.

Jadi, what kind of understanding? To understand is easy, what kind of understanding? To apply is very difficult. What kind of application? Jadi tidak peduli, apply gampang atau dengar gampang? Satu kalimat yang penting untuk mensinkronisasikan kedua ini dari kalimat Yesus di dalam Yohanes 7:17. Yesus berkata, “Barangsiapa berniat mau menjalankan kehendak Allah, pasti dia mengertinya!” Wah, waktu saya menemukan ayat itu, saya kagum luar biasa karena apa yang diperdebatkan ratusan tahun dalam filsafat Tionghoa yang tidak terselesaikan, di dalam 1 kalimat Yesus, semua selesai. Jadi Yesus tidak katakan, “Jalankan dulu, lalu engkau akan tahu.” Yesus tidak katakan, “Tahu dulu, lalu engkau jalankan!” Yesus tidak katakan, “Jalan lebih gampang, tahu lebih susah.” Yesus tidak katakan, “Tahu lebih gampang, jalan lebih susah.” Yesus mengatakan, “Niat melakukan dulu, lalu engkau akan tahu sendiri!” – wah ini kalimat nggak pernah muncul. Saudara-saudara, kalimat-kalimat Alkitab yang kelihatan begitu sederhana, seolah-olah tidak ada kesulitan apa, kita boleh mengetahui, itu mempunyai arti-arti yang lebih dalam daripada semua sistem filsafat dan semua aliran-aliran filsuf yang pikirannya begitu rumit, Saudara-saudara. You determine, you make decision to obey the will of God, you want to do it! And you will surely understand after! Saudara-saudara, jadi pengertian di sini, sama kelakuan di sini, semua dikuasai oleh niat, will, niat obedience, obedience, niat submissive. “Allah aku terjunkan diri, aku mau, aku mau melakukan, aku berniat untuk melakukan.” Tuhan bilang, “Orang begini Saya kasih tahu, bagaimana mengetahui kehendak Allah.” Banyak orang ingin mengetahui kehendak Allah. Tanya enak saja, “Pak Tong, bagaimana mengerti kehendak Allah?” Dia maunya pengertian kognitif, dia maunya saya kasih rumusan poin satu, poin kedua, poin ketiga, langsung dia ngerti. Nggak mungkin. Orang mengerti kehendak Allah hanya mungkin kalau dia sudah berniat sungguh-sungguh, berjanji kepada Tuhan, I want to do Your will, then he will understand. Itu sebabnya Saudara-saudara, ini prinsip yang luar biasa. Prinsip di dalam Kitab Suci lebih tinggi dari filsafat apa pun. Dan jangan lupa, dunia dimenangkan oleh mereka yang berniat, berjuang, yang mau korban, yang mau mati, mereka yang memiliki dunia, bukan dimiliki oleh orang akademis. Beri tahu dan selidikilah di dalam sejarah, orang yang begitu banyak mempunya gelar-gelar tinggi, sumbangsihnya kepada dunia sedikit sekali. Mereka hanya saling mengakui, “Engkau pintar, saya pintar.” Mereka saling mengakui secara taraf akademis yang sudah diterima secara dunia-dunia akademis. Tapi yang betul-betul terjun ke dunia, mati-matian membikin bangsa kuat, membikin manusia pintar, yang bikin manusia yang miskin diubah nasibnya adalah mereka yang terjun, mereka yang submisif, mereka yang berniat mati-matian mau korban untuk jadikan, sukseskan sesuatu. Di sini will berperanan penting. Saya kagum kalau Schopenhauer mementingkan the word as a phenomenon of the will, lalu buku itu mempengaruhi Friedrich Nietzsche, lalu Nietzsche mengatakan “the will to power di situlah menentukan sejarah dari pada seluruh masyarakat manusia, bagi saya itu semua ada di dalam Alkitab. Mereka hanya menemukan secara di dalam dunia yang disebut itu common grace saja, Alkitab sudah tulis. Waktu saya umur 20 lebih, saya baca Nietzsche, saya mengatakan, “I am the one will to power, not you. The power of Holy Spirit, not the power of man. The power of eternity, not the power of contemporary.” Saya bukan memgambil kuasa dunia yang sementara, saya mau kuasa kekekalan dari Tuhan, melakukan sesuatu yang kekekalan, sesuatu kuasa dari pada Tuhan.

Setiap orang Kristen harus mempunyai will to power, tapi power-nya power Tuhan, power of The Spirit. Dan Tuhan sudah janjikan Spirit will be come more, will be pouring down upon you, and you’ll gain the power to bear witness from Jerusalem to the outmost part of the world. Roh akan turun kepadamu, kamu akan berkuasa, menjadi saksiKu dari Yerusalem sampai ujung bumi. Ini sudah dijanjikan. Tetapi apakah engkau mengatakan, “Oh Tuhan, ini janji-Mu, now I submit, now I decide, now I belong to you, and now I surrender myself with my will for the power in Your purpose. Aku berlutut, aku menyerahkan diri, aku sekarang menyerahkan diri untuk mendapatkan dengan niatku mau untuk mendapatkan kuasa yang Engkau janjikan kepadaku. Will to power. Bukan orang-orang seperti Nietzsche, bukan orang Jerman, bukan Adolf Hitler. Saudara-saudara, selama 100 tahun, Jerman timbulkan seorang namanya Hitler, dan timbulkan ribuan doktor teologi. Doktor-doktor teologi yang tidak ada kekuatan atau niat mau berjuang untuk Tuhan, tapi satu Hitler berjuang untuk nama dia sendiri. Akhirnya dia mengacaukan seluruh dunia. Tapi banyak pendeta membikin gereja kosong. Akademik kuat, tapi nggak ada will. Itu sebab pada waktu saya bertemu dengan nyanyi Francis Schaeffer sebelum saya naik kapal terbang dia mengatakan sekalimat, Pray for us. We United States produce thousands of thousands of Ph.D, Ph.D every year, but not even one hero working hard for the kingdom of God. Istri Schaeffer berkata, “Doakan kami Amerika. Setiap tahun menghasilkan puluhan ribu doktor-doktor teologi, nggak ada satu yang menjadi pahlawan di dalam Kerajaan Allah.” Seorang doktor, Dr. Howard yang berada di Adelaide jemput saya di lapangan kapal terbang. Dia mengatakan, “Berdoa bagi kota Adelaide. Ini adalah kota di Australia Selatan yang dulu disebut the city of churces, sekarang gereja sudah menjadi kasino. Sekarang walikota adalah orang homoseks. Kita sekarang sedang menunggu kebangunan.” Siapakah orangnya? Siapa orang mengatakan, “Tuhan, pakailah saya, saya terjun. Saya sibuk, saya mau korban diri demi my will return to Your will, berkait dengan rencana-Mu untuk dipakai, lakukan.” Lakukan lebih gampang atau tahu lebih gampang? Tahu lebih gampang atau lakukan lebih gampang? Dua tidak jadi soal. Soal adalah, niat mau melakukan, engkau pasti tahu. Untuk mengetahui kehendak Allah, rahasianya cuma satu: betul-betul jujur mau melakukan kehendak Allah. Barangsiapa yang tidak mau melakukan kehendak Allah, tidak dikasih tahu. Sekarang kesulitannya apa? Kesulitannya siapa yang sudah bayar sudah boleh masuk kuliah teologi. Siapa yang bisa bayar uang sudah bisa belajar teologi. Sudah belajar, pengetahuan sudah ada, tidak lakukan. Karena apa? Enggak perlu kok, enggak dituntut kok. Begitu banyak teologi, mau terima siapa saja asal bisa bayar. Saya tidak, saya akan betul-betul lihat, kalau tidak benar, tidak usah banyak-banyak masuk, keluar aja. Engkau yang tidak mau menjalankan, cuma mau ambil pengetahuan dari sini, ini bukan tempatmu. Kita dirikan ini semua adalah untuk mereka yang betul-betul mau terjun, betul-betul mau korban, betul-betul mau melakukan, bukan hanya mau tahu.

Saudara-saudara, pedagang-pedagang besar sekaligus mengetahui pengetahuan teologi, baik nggak? Baik, karena teologi tidak dimonopoli oleh seminari. Itu sebab kita buka STRIJ, supaya orang boleh ikut. Tetapi setelah mereka mengetahui, tidak melakukan, apa? Menjadi pengkritik-pengkritik pendeta, menjadi orang yang hebat diri dan menghina gereja Tuhan. Itu celaka. Saudara-saudara, ini semua kalimat dicatat, didengar, dan dipikir baik-baik. Saudara bukan mau menerima sesuatu, tapi tidak mau melakukan. Engkau bukan dengar saja firman, lakukan firman Tuhan. Apalagi firman-firman untuk koreksi kita. Saudara-saudara, firman Tuhan bagian mengerti doktrin tentang Allah dan tentang hal-hal yang tidak perlu dilakukan itu tidak banyak kaitan dengan kelakuan. Maka saya membagi beberapa lapisan. Firman yang sulit dilakukan tapi perlu pada saat tertentu dilakukan dengan ketat, ini semua beda. Misalnya, kita doktrin Allah Tritunggal. Sudah dengar, bagaimana lakukan Allah Tritunggal? Ndak bisa kan? Dengar doktrin Allah Tritunggal, dengar Kristologi, itu firman. Sudah dengar firman, melakukan. Allah Tritunggal bagaimana bisa dilakukan? Ndak bisa kan? Tetapi apa yang menjadi semangat kerjasama antara Tritunggal, tiga Oknum itu, itu menjadi suatu dasar komunitas manusia, itu bisa dilakukan. Coba dianalisa, analisa. Kristus dwi-sifat. Dwi-sifat kita ndak bisa lakukan, kita bukan Kristus, kita tidak sifat ilahi, kita hanya mempunyai sifat manusia, Dia mempunyai sifat ilahi dan manusia. Tetapi di dalam prinsip ini dari Allah menjadi manusia, semangat inkarnasi yang mengkorbankan diri itu bisa dilakukan. Jadi bagian yang bisa dilakukan, lakukan. Bagian yang tidak bisa dilakukan, imani saja. Ini adalah tahap-tahap yang berbeda. Tapi kelakuan itu masih mempunyai sesuatu aspek, yaitu melakukan sambil berjuang yang bagi saya itu fighting. Ya, you apply in your fighting spirit, in your fighting experience, in your fighting warfare spiritually for the kingdom of God.

Nah saya sebagai seorang Kristen, saya tidak lebih daripada anda, tapi saya diberi lebih dari anda oleh Tuhan, bahkan yang banyak saya harus pertanggungjawabkan. Saya diberi pengertian visi yang harus mencakup begitu besar yang saya terus kerja, kerja terus. Sudah umur begitu tua, 60 lebih saya melihat banyak yang belum dikerjakan. Itu yang bikin saya gelisah. Tetapi semua yang diberikan oleh Tuhan menuntut dari saya. Saya mendapatkan banyak, saya harus serahkan banyak. Ini saya semua mengerti. Ini adalah keadilan Alkitab. The biblical justice is a justice of responsibility, bukan justice of quantity given. Bukan diberi banyak, semua sama, itu namanya keadilan. Tetapi ada keadilan di dalam reaksi kepada Tuhan. Yang diberi banyak, kembalikan banyak. Yang diberi banyak, dituntut banyak. Yang diberi sedikit, tuntut sedikit. Ini namanya keadilan Alkitab. Berbeda dengan keadilan dari pada Plato, keadilan daripada filsafat grika, kelihatan dari semua pikiran orang biasa tentang kuantitas. Engkau kasih dia 2000, kasih saya 2000, kasih orang lain 2000, semua 2000, itu melambangkan keadilan. Itu sama rata kuantitas, bukan keadilan. Keadilan ada yang diberi 5000 harus kembalikan 5000. Yang diberi 1000 cukup memberikan 1000 kembali, sudah cukup. Karena yang dituntut banyak sebab telah diberi banyak. Itu sebab yang pintar jangan sombong, yang kaya jangan sombong, yang waktunya banyak jangan sombong. Karena kau pintar lalu kau menghina orang lain, kau hamba Tuhan yang jahat. Kau kaya, kau gengsi hebat, kau berdosa. Karena kalau Tuhan marah, kekayaanmu di dalam 1 hari hancur semua. Masih ingat kira-kira 8 tahun yang lalu, bank yang sangat kuno di Inggris bisa hancur di dalam 1 hari. Jangan sombong. Kita diberi banyak hanya karena kita dipercaya. Tetapi untuk itu kita harus kembali memberikan tanggung jawab kepada Tuhan. Itulah. Saudara-saudara sekalian, lakukan dengan niat. “Saya mau..mau..”

Nah sekali lagi saya berkata kepada Saudara, begitu banyak orang mengatakan ‘Saya tidak ada beban, saya tidak beban,” bukan tidak ada beban, tidak dapat keuntungan maka tidak rela. Celakalah engkau! “Saya tidak beban kerjakan ini,” tetapi kenapa hal lain engkau buang waktu begitu banyak? Karena itu lebih interest, karena itu lebih banyak dapat profit. Kalau begini engkau hidup bukan untuk Tuhan, engkau hidup tetap untuk profit, engkau hidup tetap untuk diri, engkau hidup tetap untuk interest, tetap hidup untuk hobi. Saudara-saudara, orang yang paling tidak jujur adalah orang yang mengatakan, “Saya tidak ada waktu.” Orang berani mengatakan kalimat itu dia sedang memakai waktu 2 detik untuk membicarakan dia tidak ada waktu, ndak malu! Kita harus jujur kepada Tuhan bagaimana mengatur hidup kembali sehingga kita secara maksimal mempergunakan semua anugerah Tuhan yang besok kita harus bertanggung jawab untuk menghitung kira-kira pada waktu pengadilan itu dihadapkan kepada kita. Saudara-saudara sekalian, dan hal mengenai melakukan, tentang koreksi moral engkau dengar, “Harus suci,” engkau tetap hidup najis. Engkau dengar tidak boleh berzinah, engkau tetap pergi melacur. Orang yang mengetahui firman tapi tidak melakukan di sini dikatakan sebagai apa? Seperti orang yang di depan kaca melihat diri sudah rapi. Begitu sudah lihat tahu di sini kotor, sini tidak rapi, di sini tidak beres, di sini kainnya rusak. Setelah dia tahu semua itu dia pergi melupakan apa yang dia baru lihat tentang dirinya. Nah ini orang dengar khotbah tidak mau bertobat, sama. Saya kadang-kadang ingin tanya lho, Saudara sudah dengar khotbah di sini 2 bulan, 2 tahun, atau sudah 5 tahun, 10 tahun. Apa sih perubahanmu? Jangan bilang sama saya berapa lama saya sudah di sini dengar khotbah, saya mau tanya berapa perubahanmu? Sebelum engkau ikut GRII dan sesudah, berapa banyak? Berubah di dalam hal apa? Hal kebiasaan yang jelek, tabiat yang jelek, sifat yang jelek, keinginan yang jelek? Sudah buang berapa banyak? Bikin PR, nanti pulang tulis: “Selama saya ikut kebaktian di sini, sampai hari ini, saya berubah dari apa menjadi apa.” Kalau betul-betul hidup kita berubah, terus berubah, terus diperbaharui, maka ini gereja diberkati oleh Tuhan.

Saya bilang kepada pendeta-pendeta di dalam rapat jemaat, berjam-jam, gereja ini sekarang mengalami kebahayaan paling sedikit 2 hal: pertama makin banyak pendeta. Dulu cuma saya satu orang. Lalu saya panggil ini, panggil itu, makin banyak sekarang pendeta banyak, makin sedikit yang dibaptiskan. Ini tandanya apa? Kedua, makin banyak dengar khotbah, makin sedikit yang rela korban untuk menjadi majelis. Ini 2 gejala yang tidak sehat yang membahayakan gerakan Reformed. Kita perlu bertobat. Kita perlu minta pengampunan dari Tuhan. Apa yang anda dengar, jalankan! Apa yang kita belum ngerti, belum jalankan, berniat mau dipakai oleh Tuhan. Itu sebab sekarang saya minta semua berlutut semua berlutut sekarang, kita berdoa.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *