Memanggil Allah dengan Sebutan Bapa, 19 Maret 2017

Ef. 3:14-15

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Saudara, di dalam ayat ini kita telah melihat bahwa ada dua hal yang penting, yang kita tidak boleh abaikan dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Pertama adalah pengetahuan akan firman Tuhan, itu adalah satu hal yang harus ada di dalam kehidupan orang percaya. Yang kedua adalah doa dari pada orang percaya kepada Tuhan Allah. ini adalah dua hal yang tidak bisa kita anggap salah satu lebih penting daripada yang lain atau dua-duanya sama sekali tidak penting dalam kehidupan kita. Firman tidak bisa lebih penting daripada doa, doa tidak bisa lebih penting daripada firman; atau dua-duanya tidak ada gunanya sama sekali. Itu harus menjadi suatu penekanan yang ada di dalam kehidupan dari pada orang percaya.

Di dalam Surat Kolose 3:10, disitu Paulus berkata kita adalah orang-orang yang sudah dilahirbarukan, kita adalah orang-orang yang maksudnya sudah menjadi manusia yang baru, yang diciptakan oleh Allah untuk suatu perbuatan yang baik. Pada waktu kita menjadi orang yang baru, manusia yang baru, apa yang terjadi di dalam kehidupan kita? Apa bedanya antara manusia yang baru dengan manusia yang lama dalam kehidupan kita? Nah di sini Paulus memberikan beberapa alasan atau beberapa bukti perbedaan antara manusia yang baru dengan manusia yang lama. Bapak-Ibu boleh bandingkan di dalam Kolose 3:10 ya. Sebagai orang lama, Paulus berkata, orang lama dipenuhi oleh kuasa akan napsu, keinginan dagingnya; dia akan hidup dalam percabulan; dia akan hidup di dalam napsu jahat; dia akan hidup dalam kehidupan yang najis dalam kehidupan dia; dia akan dikuasai oleh keserakahan atau serakah menjadi allah dalam kehidupan dia; dia adalah orang yang akan dipenuhi dengan kemarahan, kegeraman, fitnah, kata-kata kotor yang keluar dari mulutnya, dan hidup yang saling mendustai satu dengan yang lain. Ini semua terjadi dalam kehidupan orang-orang yang belum ada di dalam Kristus. Mereka hidup di dalam kebohongan, dan mereka ingin membohongi dan memanipulasi orang lain. Tapi Saudara, pada waktu kita dari manusia yang lama berubah menjadi manusia baru, apa yang terjadi dalam kehidupan kita? Adakah sesuatu yang berbeda dalam kehidupan kita? Nah Paulus berkata, pada waktu kita menjadi manusia baru di situ kita akan menggantikan napsu jahat dengan napsu yang baik, napsu yang benar, satu karakter yang baik dalam kehidupan kita. Semula mungkin kita hidup dalam kebencian, hidup dalam satu tindakan kekerasan terhadap orang lain, melakukan yang jahat, ketika kita menjadi orang Kristen maka Tuhan memberikan hati yang penuh belas kasih kepada kita terhadap orang lain, hati yang penuh dengan kemurahan, hati yang merendahkan diri di hadapan Tuhan, yang tidak menyombongkan diri, hati yang penuh dengan kelemah lembutan, kesabaran, dan kasih kepada orang lain.

Itu semua akan kita alami sebagai orang-orang yang hidup di dalam kebenaran, yaitu hidup di dalam Kristus. Kenapa kita bisa menngalami itu? Karena ketika kita menjadi manusia baru Tuhan menciptabarukan kita, di dalam Efesus 2:10, Tuhan menjadikan kita sebagai ciptaan baru yang tidak lagi berkaitan dengan ciptaan lama harusnya, tetapi ciptaan baru yang dicipta untuk tujuan-tujuan atau perbuatan-perbuatan yang baik di dalam kehidupan kita. Sehingga kalau kita adalah orang-orang yang sudah betul-betul dilahirbarukan menjadi manusia yang baru dalam hidup kita harusnya ada satu keinginan, dorongan dari hati untuk melakukan hal-hal yang baik, yang bermanfaat, yang berguna bagi kemanusiaan ataupun dalam gereja Tuhan. Jadi Saudara, ini yang pertama, sebagai manusia lama menjadi manusia baru harus ada penggantian sifat-sifat, napsu yang jahat, yang tidak baik dalam kehidupan kita, menjadi yang baik sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki.

Yang kedua adalah, pada waktu kita menjadi manusia yang baru maka di situ terjadi satu kesatuan diantara suku bangsa yang ada. Kita tidak lagi hidup di dalam perselisihan antara suku bangsa yang satu dengan suku bangsa yang lain, antara ras yang satu dengan ras yang lain, itu adalah sesuatu yang bersifat duniawi. Paulus di dalam Kolose berkata pada waktu kita ada di dalam Kristus maka ‘di dalam Kristus’ itu menjadikan kita bukan manusia-manusia yang baru, yang lain antara satu dengan yang lain, yang berbeda satu dengan yang lain. Memang ada perbedaan, suku bangsa nda bisa dihilangkan. Kita tetap orang Batak, orang Chinese, orang Jawa, orang-orang yang lain, Sulawesi, Dayak, dan yang lainnya, tetapi pada waktu kita ada di dalam manusia baru itu bukan lagi menjadi hal  yang terlalu penting yang membuat pembedaan, pemisahan, perpecahan di dalam kehidupan manusia, tetapi justru di dalam manusia baru itu Paulus berkata kita menjadi satu manusia baru, satu Tubuh Kristus, itu adalah gereja Tuhan dimana orang-orang percaya ada di dalamnya. Jadi pada waktu  kita ada di dalam Kristus kita melihat semua manusia, walaupun berbeda suku, tidak lagi dalam hal derajat tingkatan yang ada, bukan berdasarkan kedudukan, bukan berdasarkan kebangsaan, bukan berdasarkan kekayaan yang dimiliki, bukan berdasarkan posisi yang ada di dalam masyarakat yang membuat seseorang itu berharga. Tetapi kita berharga karena kita adalah manusia yang dicipta oleh Tuhan, kita berharga karena kita adalah anak-anak Allah yang sudah ditebus oleh Kristus, kita berharga karena Tuhan menghargai kita, Tuhan menghormati kita dan Tuhan mengasihi diri kita. Saudara, ini yang membuat kita harus bisa menerima orang lain yang berbeda dari pada kita. Jadi Paulus berkata di dalam Kristus, ketika kita ada di dalam Dia, Kristus menjadi utama, segala-galanya dalam kehidupan kita, dan kalau itu yang menjadi utama maka akan ada kesatuan di dalam gereja Tuhan, bukan perpecahan.

Nah yang ketiga adalah, pada waktu kita ada di dalam Kristus sebagai manusia yang baru, apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita? Di dalam Kolose 3:10 itu dikatakan pada waktu kita menjadi manusia baru maka Tuhan mengerjakan sesuatu yang baru dalam hati kita, pengenalan kita akan Tuhan itu Tuhan akan perbaharui dalam kehidupan kita, dan ini terjadi bukan sekali-sekali dalam kehidupan kita tetapi Paulus berkata secara terus menerus di dalam kehidupan kita. Kita sama-sama baca dari Kolose 3:10, “dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.” Sebagai orang yang sudah diciptabarukan, Paulus berkata kita akan diperbaharui. Diperbaharui dalam hal apa? Pengetahuan kita akan firman Tuhan. Sampai sejauh mana? Sampai kita betul-betul memiliki kebenaran “sesuai dengan gambar Khaliknya.” Jadi di dalam pembaharuan itu Tuhan menuntut ada satu ketepatan di dalam pengenalan kita akan Tuhan, Dia tidak senang kalau kita hanya tahu asal sekedar tahu saja mengenai diri Dia, mengenai rencanaNya, mengenai pekerjaan yang Dia lakukan dalam hidup manusia, dan juga mengenai apa yang menjadi peran hidup manusia dalam dunia ini. Kita harus bertumbuh, bertumbuh searah gambar Khaliknya, yaitu Yesus Kristus. Kita harus bertumbuh secara tepat ke arah situ. Itu berarti kalau kita ingin bertumbuh secara tepat, kita harus memiliki pengetahuan yang tepat, yang benar sesuai dengan gambar Khaliknya. Kalau kita nda memiliki pengetahuan ini kita nda mungkin bisa bertumbuh kepada Kristus secara tepat dalam kehidupan kita, secara benar dalam kehidupan kita. Nah apa yang membuat kita bertumbuh ini? Di sini Paulus berkata yang mengakibatkan pertumbuhan itu adalah Allah sendiri yang memberikan pertumbuhan pengenalan itu dalam kehidupan kita.

Saudara jangan pikir ketika Saudara ingin belajar firman itu adalah dari keinginan kita sendiri, kemauan kita sendiri yang mencari Tuhan Allah, yang beribadah, yang mendapatkan firman dalam hidup kita. Tuhan di sini berkata kalau bukan Tuhan yang membuka itu, kalau bukan Tuhan yang memberi pengertian itu, pewahyuan itu dalam hidup kita, kita nda mungkin akan bertumbuh di dalam kebenaran dan memiliki pengetahuan yang benar dalam kehidupan kita menuju kepada gambar Khaliknya. Di sini Tuhan yang berinisiatif membukakan semua pengertian itu dalam kehidupan kita, tapi sebagai manusia yang sudah dibukakan pengetahuan itu oleh Tuhan Allah, apakah kita bisa berdiam diri, tidak menyambutnya, tidak mengingininya, tidak ingin terus bertumbuh di dalam pengetahuan itu? Paulus bilang nda bisa, pada waktu Tuhan memberikan pertumbuhan itu secara terus menerus dalam kehidupan kita maka dalam diri kita akan ada satu perasaan haus untuk ingin mengenal kebenaran, semakin mengenal kebenaran dalam kehidupan kita sesuai dengan apa yang Tuhan sudah wahyukan dan bukakan kepada diri kita.

Saudara, sekarang pertanyaannya, pada waktu kita menjadi orang Kristen, seorang manusia yang baru, Tuhan memberikan pertumbuhan di dalam pengenalan akan Tuhan Allah, pada waktu itu kita akan bertumbuh sesuai dengan pengenalan yang kita terima, yang dianugerahkan Tuhan dalam kehidupan kita, kita ingin menyelidiki, ingin mendalami, betul-betul ingin mengerti apa yang menjadi firman Tuhan dalam hidup kita; pertanyaannya, cukupkah itu? Cukupkah kita hanya memiliki pengetahuan akan firman Tuhan? Cukupkah kita hanya bertumbuh di dalampengetahuan akan firman Tuhan? Cukup tidak? Nggak? Kurang apa? Kok bingung? Ketaatan nggak? Hati-hati ya, kita itu sering kali mengidentikkan atau menyamakan pengetahuan akan firman Alkitab sama dengan ketaatan. Itu beda. Makanya Paulus bedakan, ketika orang lama menjadi orang yang baru, di situ harus ada penggantian yang harus terjadi dalam kehidupan kita. Pada waktu kita bertumbuh di dalam firman, kita harusnya semakin limpah di dalam kehidupan sebagai manusia yang baru dalam hidup kita. Kita tidak bisa tahu firman banyak, hidup sebagai manusia lama, ini tidak sinkron. Sebagai manusia yang baru, sudah diperbaharui oleh Tuhan Allah berdasarkan firman yang kita ketahui, itu harus membawa perubahan dari manusia lama menuju kepada manusia yang baru. Itu yang harus terjadi. Karena itu pengetahuan firman harus disertai dengan ketaatan kepada firman yang kita ketahui dalam kehidupan kita.

Pertanyaan berikutnya, cukupkah itu?Kita seringkali dengar, sebagai orang Kristen, kita harus trust and obey. Kita harus percaya dan taat. Satu sisi saya sangat setuju dengan prinsip ini, karena kalau kita tidak memiliki kepercayaan bahwa firman ini adalah satu kebenaran, maka kita akan menggunakan berbagai alasan dalam kehidupan kita, yang kita bisa logikakan, untuk membela diri kita dan perasaan kita, untuk membela keinginan kita untuk melawan kehendak Tuhan dan tidak mau taat kepada Tuhan. Kita akan berkata, ‘Yang aku pikirkan, yang aku rasakan, itu lebih benar dari yang firman Tuhan katakan, sehingga aku akan lebih memilih apa yang aku inginkan daripada apa yang firman Tuhan katakan.’ Karena itu pada waktu kita berbicara mengenai kebenaran, satu hal yang kita harus tahu, ketika Tuhan berkata A, kita tidak perlu beralasan untuk membenarkan diri kita yang dengan segala macam alasan dan perasaan yang kita anggap itu masuk akal dan berlogika, kita harus tunduk kepada firman Tuhan dan taat kepada firman Tuhan itu. Tetapi Saudara, itu bukan berarti kita boleh mengabaikan pengetahuan. Maksudnya, pengertian akan firman, atau saya boleh berkata, kalau kita tidak punya pengetahuan akan firman, pengertian akan firman, mungkinkah ada ketaatan dalam hidup kita? Yang pasti, tidak mungkin. Kita tidak tahu apa yang Tuhan inginkan, kita tidak tahu apa yang Tuhan firmankan, bagaimana kita bisa mentaati Dia? Karena itu firman itu begitu penting dan utama sekali dalam kehidupan orang percaya.

Tapi yang saya mau tanyakan lagi, ketika saya mengetahui firman Tuhan, ketika saya sudah mentaati firman Tuhan dalam kehidupan kita, cukupkah itu? Cukup nggak? Nggak. Kurang apa? Hmm? Melakukan? Melakukan maksudnya mentaati firman? Saya tahu firman, saya melakukan firman atau mentaati firman, cukup nggak? Cukup ya? Makanya ya, kita masih hidup dalam satu perasaan yang seringkali perasaan terbeban di dalam mentaati firman Tuhan. Makanya kita masih seringkali menganggap firman Tuhan itu kurang baik dalam kehidupan kita. Makanya kita masih mungkin seringkali menomorduakan Tuhan atau yang ke-sekian dalam kehidupan kita. Saudara, tahu dan taat itu nggak cukup. Alkitab bilang, kita perlu bertumbuh di dalam kesukaan kepada firman Tuhan, itu harus ada dalam kehidupan orang Kristen. Pada waktu kita semakin mengenal firman, mengenal Tuhan secara pribadi, rasa suka terhadap firman dan Tuhan itu harus tumbuh. Rasa menginginkan Allah yang sejati itu harus tumbuh.Di dalam Persekutuan Pemuda kemarin, saya ada bahas: salah satu dari ciri seorang yang sudah dilahirbarukan oleh Tuhan Allah, di dalam satu kehidupan sebagai manusia yang baru, yang sejati, dia harus mengingini apa yang menjadi kekudusan Allah dalam kehidupannya. Saudara, jangan pikir orang-orang berdosa yang belum dilahirkan baru, itu tidak mengenal yang namanya kuasa Allah, tidak mengenal yang namanya keadilan Allah, tidak mengenal apa yang namanya kekudusan Allah. Kemarin saya ada bahas, seorang yang bernama David Koresh, seorang bidat, seorang yang menyesatkan orang Kristen, orang yang nggak lulus sekolah menengah dan bahasanya begitu kacau sekali, Bahasa Inggris, merusak bahasa. Tetapi ketika dia menjadi seorang pemimpin, dia bisa mempengaruhi puluhan orang yang terpelajar untuk tunduk kepada diri dia. Lalu apa yang dia ajarkan? Dia bilang, ‘Aku adalah Mesias. Kamu harus taat, kamu tidak boleh tidak taat kepada aku. Kalau engkau tidak taat kepada aku, maka engkau akan mendapatkan ancaman hukuman daripada neraka.’ Salah satu ciri daripada nabi palsu adalah suka berbohong, dan suka menipu, dan membatasi pengetahuan orang akan firman Tuhan dan mendukung posisinya dengan ancaman: ‘Kalau engkau melawan aku, engkau akan dihukum oleh Tuhan Allah. Aku adalah wakil Tuhan, aku adalah orang yang ditunjuk oleh Tuhan, aku punya otoritas dalam hidupku atas engkau, engkau harus taat karena aku mengajarkan firman. Kalau engkau melawan, engkau akan dihukum oleh Tuhan Allah.’ Dia akan gunakan itu. Padahal Yesus di dalam pelayanan-Nya, nggak pernah menggunakan otoritasnya untuk mengancam orang lain untuk mengikut diri Dia, padahal Dia adalah Hakim atas segenap makhluk hidup. Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita melihat kehidupan David Koresh, dia adalah orang yang tahu keadilan karena dia tahu orang yang melawan dia, akan dihukum oleh Tuhan. Lalu dia mengajarkan, pada waktu para pengikut itu menjadi murid dia, yang ditemui oleh Roh Kudus, dia juga berkata seperti, ‘Engkau harus memiliki kuasa untuk melakukan mukjizat, yang dilakukan oleh para rasul, maupun membangkitkan orang mati. Kalau engkau nggak bisa melakukan mukjizat itu dalam hidupmu sebagai orang Kristen, maka engkau tidak memiliki Roh Kudus. Walaupun engkau adalah orang yang sangat dekat sekali, dan setia sekali dengan aku, tapi akibatnya adalah engkau akan dihukum dalam neraka. Karena apa? Bukti hidupmu, ketaatanmu itu, tidak disertai dengan kuasa Roh Kudus yang melakukan satu kesembuhan ataupun satu kebangkitan bagi orang yang mati.’

Nah Saudara, pertanyaannya, orang seperti ini yang di luar Tuhan, mengertikah akan kuasa Allah? Dia ngerti, dia tahu kuasa Allah, dia tahu apa itu yang dia katakan, yang keadilan Allah. Tetapi Saudara, dia mungkin tahu kekudusan, tetapi dia tidak menginginkan kekudusan atau mencintai kekudusan dalam kehidupan dia, itu bedanya. Saudara, kita harus bertumbuh di dalam rasa suka akan firman. Kita harus bertumbuh akan rasa suka atau cinta terhadap kekudusan Allah. Kekudusan Allah yang bersifat moral itu, kebaikan-kebaikan hukum daripada Tuhan Allah yang sudah dinyatakan oleh Kitab Suci, terutama di dalam 10 perintah Allah. Itu menjadi suatu kerinduan hati kita untuk memilikinya, menghidupi itu dalam kehidupan kita. Harus ada. Kenapa begitu ya? kenapa kita harus bertumbuh dalam kesukaan? Sebabnya tadi saya sudah katakan, kalau kita tidak bertumbuh dalam kesukaan, kita punya kecondongan sebagai seorang manusia yang masih memiliki tubuh dan daging ini, adalah hidup di dalam kesukaan diri kita, kesukaan keinginan kita. Pada waktu kita dibenturkan dengan apa yang menjadi kebenaran firman Tuhan, kalau itu dosa, mungkin kita mikir-mikir mau ikut yang mana. Tapi kalau itu adalah sesuatu yang tidak berdosa, tetapi waktunya, saatnya berbenturan dengan apa yang kita inginkan, milih yang mana?

Saya ambil contoh saja ya. contohnya apa? Pelayanan KKR misalnya. Kita diminta untuk pelayanan KKR, ada pelayanan dari tanggal sekian sampai tanggal sekian. Yang kedua adalah, hari itu hari libur mungkin. Atau misalnya, seminar. Tanggal 1 April lah ya, hari apa itu? libur kan? Eh nggak ya, Sabtu ya? Anggaplah Sabtu itu hari libur. Atau Jumat lah, seminar itu, karena Jumat adalah tanggal merah. Lalu kita lihat tanggal, Jumat, Sabtu, Minggu – libur panjang kan? Saudara akan planning ikut seminar, atau rencana untuk pergi jalan-jalan? Yang mana? Saya nggak ngomong ini ya, kita harus apa itu, tidak boleh jalan-jalan, bukan seperti itu. Tapi saya pengen tahu, pada waktu kita lihat satu sisi ada satu kesempatan untuk belajar firman, sisi lain ada kesempatan untuk liburan. Kita pilih yang mana? Liburan dosa nggak? Nggak. Belajar Firman dosa nggak? Nggak. Tapi kita lebih suka yang mana? Hmm, pasti liburan kan?  Apalagi kalau rumahnya jauh ya, apalagi kalau disini kos, disini bertamu, lebih baik kita jalan pulang ketempat kita untuk bisa bertemu dengan keluarga. Lalu apa yang kita lakukan? Untuk membenarkan diri biasanya ada alibi kan? Alibinya apa? Ah Firman, setiap minggu juga denger. Seminar, nanti ada VCD nya kok, bisa dibeli bisa diputar ulang, gitu ya? Atau ada internet, di-download saja. Begitu kan? Pertanyaan saya adalah, kenapa kita lebih memilih untuk liburan daripada untuk belajar Firman? Hmm? Jawabannya kenapa? Karena saya lebih suka liburan daripada saya belajar Firman. Nda perlu dosa, tetapi kadang-kadang pilihan kita itu tidak didasarkan karena rasa cinta dan kesukaan kita pada Tuhan, dan itu tidak perlu ada pergumulan dalam hidup kita, seringkali. Kita langsung memutuskan untuk menjalankan itu dalam kehidupan kita. Makanya saya berkata tadi, kita perlu bertumbuh di dalam satu kesukaan terhadap Firman Tuhan. Kalau tidak ya Saudara, pada waktu kita menjalani Firman, tau-taat, tau-taat, jadinya apa? Kewajiban. Sesuatu yang berat, sesuatu yang kayanya bukan aku, aku terpaksa harus taat pada Firman ini. Padahal aku merasa dagingku nda suka itu, sehingga itu menjadi satu beban dalam kehidupan kita. Tapi kalau kita suka akan ada satu kerelaan dalam hati kita untuk mentaati Tuhan. Kenapa kita hidup di dalam dosa? Hmm? Padahal Tuhan sudah ngomong jelas-jelas. Jangan berbohong, jangan berzinah, jangan menyakiti orang lain, jangan memfitnah orang lain, dan lain-lainnya seperti itu. Kenapa kita masih mau hidup di dalam hal itu? Karena kita suka. Dagingku suka hidup dalam dosa. Sehingga kita ngga bisa melihat kekudusan Tuhan, Firman Tuhan itu sebagai sesuatu yang menyenangkan. Makanya kita hidup di dalam dosa dan melawan terhadap Tuhan.

Saudara, saya harap kita bertumbuh di dalam kesukaan pada Firman. Kita bertumbuh di dalam satu cinta akan kekudusan Tuhan dalam kehidupan kita. Dari situ kita akan bertumbuh di dalam kekudusan pada waktu dosa menggoda di depan mata kita. Pada waktu kesenangan-kesenangan yang mungkin tidak berdosa menggoda di depan mata kita. Paling nda ada satu pegumulan kalau untuk kesenangan itu, untuk memilih mana yang harus kita utamakan. Kita nda lagi sembarangan langsung memutuskan apa yang menjadi kesenangan itu yang kita jalankan. Kalau itu adalah satu dosa kita mulai bisa melihat, ini dosa, senangnya cuma sementara, tapi akibatnya hukuman kekal. Kalau saya adalah anak Tuhan saya harusnya lebih senang pada Tuhan, kekudusan Tuhan. Kenapa? Karena ini adalah realita, ini adalah yang semu. Kesenangan di dalam kekudusan Tuhan itu adalah hal yang betul-betul menyenangkan. Ini kesenangan dalam dosa adalah kesenangan yang sementara yang akan membawa kepada kehancuran. Kita harus punya bisa melihat kebenaran ini dalam kehidupan kita. Nah itu, semua adalah satu pertumbuhan yang Tuhan karuniakan dalam hidup kita sebagai orang Kristen tapi juga sesuatu yang akan membuat kita berespon untuk bertumbuh ke arah situ dalam kehidupan kita dan mengingini hal itu dalam kehidupan kita.

Paulus pada waktu melihat kepada apa yang Tuhan lakukan, berdasarkan firman yang Tuhan wahyukan dan nyatakan dalam kehidupan dia, dia mulai  mengerti bahwa apa yang Tuhan lakukan bagi gereja itu adalah hal yang terlampau besar sekali. Pada waktu Saudara masuk ke dalam firman Tuhan, semakin mengenal Tuhan Allah, firman itu akan membawa Saudara semakin lihat kepada kekudusan dan kemuliaan Allah dalam kehidupan kita. Kita akan semakin mengerti apa yang menjadi peran kita sebagai orang-orang yang telah Tuhan tebus, untuk ada di dalam dunia ini. Kita akan semakin mengerti kenapa Tuhan menempatkan diri kita sebagai umat Allah. Kita akan semakin mengerti kenapa Tuhan mau beranugerah dalam kehidupan kita dengan mengaruniakan Kristus mati dalam kehidupan kita. Kita semakin mengerti betapa berharganya karunia Kristus itu, penebusanNya yang tidak mungkin bisa dibayar oleh apapun juga dalam kehidupan kita. Kita semakin mengerti, kalau karunia penebusan Kristus, itu hanya semata-mata karunia Tuhan yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma, dan bukan sesuatu yang kita bisa peroleh karena kita cukup baik memperoleh ini. Saudara, saya nda tau ini semua kebenaran adalah hal yang mungkin kita terima dari kecil, satu hal yang kalau kita dibesarkan di dalam iman Kristen dari Sekolah Minggu kita sudah diajarkan anugerah Tuhan, anugerah Tuhan, anugerah Tuhan yang menebus hidup kita. Tapi Saudara, apakah anugerah itu menjadi satu yang betul-betul memenuhi kehidupan kita, kita pahami dalam hidup kita, kita mengenalnya dengan baik dalam kehidupan kita? Saya pikir sesuatu yang kita sulit untuk pahami kalau kita nggak suka bergaul dengan firman Tuhan, denganTuhan Alah.

Dan kalau bukan Tuhan yang karuniakan kebenaran itu bagi kita, kita nda mungkin bisa memiliki pemahaman yang begitu mendalam akan firman Tuhan dan kebenaran itu. Makanya pada waktu Paulus mendengar, mengingat kembali apa yang Tuhan sudah kerjakan di dalam kehidupan gereja, satu-satunya hal yang dia bisa lakukan adalah dia jatuh bersujud di hadapan Allah dan menaikan doa dia di hadapan dari pada Tuhan Allah. Bapak-Ibu yang dikasihi Tuhan, pengenalan akan firman itu akan membawa kita kedalam satu doa dihadapan Tuhan. Kebenaran Firman yang kita pahami sejak, dalam kemuliaan yang sesuai apa yang Tuhan nyatakan itu akan membuat kita bersujud di hadapan Bapa dan merendahkan diri di hadapan Bapa. Makanya tadi saya berkata, antara firman dan doa itu dua hal yang nda bisa dipisahkan. Semua kebenaran yang kita pahami harus membawa kita kedalam doa, maksudnya apa? Semakin kita tahu Tuhan itu mulia dan besar, kita semakin merendahkan diri dan tidak mungkin bisa menyombongkan diri. Semakin kita tahu bahwa dia adalah Allah yang begitu mengasihi diri kita yang begitu murah dalam kehidupan kita, kita nda mungkin akan menjauhkan diri dari Allah, tetapi justru akan semakin mendekati Tuhan Allah. Semakin kita tahu dia adalah Allah yang memelihara kehidupan kita dan menopang seluruh hidup kita, kita nda mungkin semakin merasa diri kita mampu menjalankan segala sesuatu, kita pasti akan datang kepada Tuhan dan memohon pertolongan Tuhan, untuk menolong kita menjalani kehidupan kita. Karena itu, pada waktu kita semakin mengenal Allah, itu akan membawa kita semakin berdoa di hadapan Tuhan Allah. Semakin kita jauh dari Allah, mungkin doa, kita juga berdoa, tetapi doanya berbeda daripada doa orang yang mengenal Tuhan Allah. Mungkin kita akan doa dengan satu anggapan kita adalah orang yang benar, kita adalah orang yang baik, kita sudah cukup baik memberikan kontribusi kepada Tuhan, sehingga Tuhan perlu mengembalikan kontribusi itu kepada diri kita, dan memberkati diri kita. Tapi orang yang percaya kepada Tuhan, ketika dia bersujud di hadapan Tuhan, dia tahu, itu sebenarnya keadaan kita sekarang saja di dalam Kristus sebagai orang yang diselamatkan, itu adalah berkat yang luar biasa sekali yang Tuhan karuniakan bagi kita. Yang dimana kita akan dibawa mengucap syukur dan bersyukur, dan bersyukur di hadapan Tuhan tanpa ada habis-habisnya.

Saudara, Paulus di sini berkata kenapa dia berlutut di hadapan Tuhan dan berdoa? Karena dia sadar akan kehormatan Allah, dia sadar akan kemuliaan Allah dan kebesaran Allah; dia sadar akan kebutuhan dia terhadap Allah; dia sadar bahwa Allah adalah segala sesuatu dalam kehidupan dia. Jadi, yang utama dalam kehidupan doa, bukan pada sikap tubuh, tapi dalam sikap hati kita yang mempengaruhi sikap tubuh kita kepada Tuhan Allah. Itu yang utama. Jangan hanya terpaku pada postur yang luar, tapi coba lihat hati kita saat berdoa, apa yang kita fokuskan. Apakah ada hormat, perendahan diri dihadapan Allah, dan takut akan Allah dalam kehidupan kita? Nah Saudara, Paulus menaikkan doa di hadapan Tuhan, pertanyaannya, kepada siapa Paulus tujukan doanya itu? Di sini dikatakan, Paulus berdoa kepada Bapa, yang dari padaNya semua turunan di dalam Sorga dan di atas bumi menerima namaNya. Siapakah Bapa itu? Kenapa Paulus memanggil Allah dengan sebutan Bapa? Apakah Bapa itu memiliki satu arti tertentu yang bisa mempengaruhi kehidupan kita? Apakah yang dimaksud dengan turunan itu? Yang ada di sorga maupun ada yang di bumi, yang memperoleh segala namanya? Kenapa Paulus memanggil Allah dengan sebutan ini? Saudara, saya harap ini menjadi satu kebenaran yang kita gumulkan ketika kita membaca firman Tuhan. Karena setiap wahyu Tuhan yang Tuhan nyatakan kepada kita, setiap kata-kata yang dipakai  di situ bukan sesuatu yang sia-sia. Sesuatu yang penuh dengan makna dan tujuan untuk Tuhan, kita semakin mengenal siapakah Tuhan itu. Nah, pertanyaannya, siapakah Bapa ini yang Paulus sujud kepada Dia?

Nah di dalam tafsiran saya melihat ada dua kemungkinan tafsiran. Saya lagi pikir apakah perlu dipilih salah satu daripada kemungkinan ini, tapi saya pikir-pikir lagi, mungkin kita perlu mengenal dua-duanya.Walaupun ada orang yang memecah antara yang satu dengan yang lain yang lebih benar itu seperti apa, tapi saya pikir dua-duanya mungkin ada kebenarannya, ya. Pertama, Bapa itu maksudnya apa? Bapa adalah sebagai sumber, Sang Pencipta dari segala sesuatu. Kenapa bisa begitu? Pada waktu Paulus bilang Dia adalah “Bapa yang dari padaNya segala sesuatu itu berasal, segala sesuatu yang ada di sorga maupun di bumi menerima namaNya,” maka Bapa itu jangan dipanggil hanya sebagai Bapa saja, tapi Bapa itu dikaitkan dengan kalimat berikutnya di mana “semua turunan baik yang di bumi maupun yang di sorga itu menerima namaNya.” Maksudnya adalah apa? Dia adalah bapa dari semua turunan. Maksud ‘Bapa dari semua turunan’ berarti Dia adalah sumber asal keberadaan dari semua turunan yang ada di dalam dunia ini. Di dalam Alkitab dikatakan, manusia yang banyak bersumber dari satu pasang manusia yaitu Adam dan Hawa, maka dari situ turun anak, anak, anak, akhirnya punya banyak sekali orang. Nah pada waktu kita berkata Bapa adalah sumber dari semua turunan, itu berarti apa? Yang ada di sorga dan ada yang di bumi. Berarti dari Dialah ada keberadaan yang namanya malaikat di sorga maupun yang adalah manusia yang ada di dalam bumi ini dan segala makhluk yang lain, termasuk di dalamnya adalah malaikat yang kemudian jatuh dan menjadi malaikat yang jahat yang disebut Iblis. Itu semua bermula daripada Tuhan Allah.

Saya bukan berkata Tuhan mencipta dosa dan kejahatan, ya. Di dalam pelajaran mengenai providensi Allah, Alkitab berkata, di dalam Allah memelihara, Allah memiliki 3 karakter yang utama. Dia adalah Allah yang apa? Dia adalah Allah yang kudus. Dua, Dia adalah Allah yang bijaksana, mahabijaksana. Dan tiga, dia adalah Allah yang mahakuasa. Ini tiga karakter yang melibatkan pemeliharaan Allah dalam dunia ini. Maksudnya, Dia adalah Allah yang tidak mungkin melakukan kejahatan dan merencanakan kejahatan tetapi Dia punya rencana itu pasti sepenuhnya sempurna, karena Dia adalah Mahabijaksana. Jadi apa yang Dia rencana pasti seluruhnya baik dan pasti seluruhnya sempurna nda perlu diubah dan dikoreksi sama sekali. Yang ketiga adalah, Dia sanggup untuk menjadikan apa yang DIa rencanakan, yang baik itu, terjadi dalam kehidupan ciptaan-Nya. Karena itu dia Mahakuasa. Nah pada waktu Allah mencipta, kita boleh tahu satu hal, Dia mencipta segala sesuatu baik adanya, di dalam Kejadian 1. Dia tidak pernah menciptakan iblis. Dia menciptakan malaikat yang baik akhirnya malaikat itu jatuh dalam dosa. Tetapi, sumber dari malaikat dari mana? Dari Tuhan Allah, nda pernah keluar daripada keinginan Tuhan Allah dan kuasa Tuhan Allah di dalam menjadikan mereka. Makanya di sini Paulus bilang, apa pun yang ada di sorga maupun yang ada di dalam bumi ini, semuanya bersumber daripada Tuhan Allah. Eksistensi kita, keberadaan kita bersumber daripada Tuhan Allah. Nda ada yang berada di luar daripada Tuhan Allah. Nah ini adalah hal yang penting sekali, ya. Pada waktu kita berkata segala sesuatu ada di bawah Tuhan Allah dan bersumber daripada Tuhan Allah, itu berarti segala sesuatu dalam dunia ciptaan yang tidak kelihatan maupun kelihatan itu ada di bawah kuasa dan otoritas daripada Tuhan Allah. Nda ada satu pun makhluk di dalam dunia ini yang tidak ada di bawah kuasa dan otoritas daripada Tuhan Allah. Jadi Saudara, pada waktu kita berkata Allah itu adalah Bapa, Bapa itu maksudnya apa? Dia adalah sumber dari segala sesuatu. Dia adalah yang memiliki otoritas atas segala sesuatu.

Dan satu lagi, Dia adalah Allah yang memberikan peran yang tepat di dalam kehidupan dari segala yang Dia ciptakan. Kita boleh buka beberapa ayat, ya. Coba Mazmur 147:4, “Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya.” Kemudian, Yesaya 40:26, “Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satu pun tiada yang tak hadir, dan oleh sebab Ia mahakuasa dan mahakuat.” Saudara, pada waktu Tuhan berkata “Aku memberi nama,” nama itu bukan hanya sekedar sesuatu tanda pengenal, label, yang membedakan yang satu daripada yang lain tetapi nama yang diberikan oleh Tuhan itu memiliki makna untuk menunjukkan kepada natur asli daripada yang diberi nama tersebut. Misalnya di dalam surat Samuel ada kalimat seperti ini, ketika Abigail datang bertemu dengan Daud yang ingin memusnahkan seluruh daripada keluarga Nabal, dia bilang apa? “Seperti namanya Nabal, dia adalah orang yang bebal [1 Sam. 25:25, red.].” Jadi nama itu menunjukkan ciri khas, karakter dari orang itu, natur daripada orang itu. Nah pada waktu Tuhan berkata,“Aku memberi nama atas segala sesuatu, segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit itu bersumber dari Aku, nama mereka  adalah dari Aku yang menentukan itu,” itu berarti segala sesuatu itu memiliki urutan asal usul dari Tuhan Allah. Dan segala sesuatu itu memiliki fungsi masing-masing, peran masing-masing, kedudukan masing-masing, bersumber daripada Tuhan Allah.Dan yang ketiga, Tuhan punya otoritas dan kuasa atas segala sesuatu itu. Makanya di dalam Yesaya 40:26 ketika Tuhan berkata,“Aku memanggil mereka,” maka tak ada satu pun yang mungkin absen dari hadapan Tuhan Allah. Semuanya pasti hadir, termasuk iblis pun pasti hadir di hadapan Tuhan Allah. Karena apa? Tuhan memiliki kuasa dan otoritas akan mereka semua.

Nah Saudara, apa aplikasi daripada pengenalan akan Tuhan seperti ini dalam kehidupan kita? Kenapa kita boleh mengerti Allah yang kita tujukan Bapa itu adalah Bapa yang memiliki otoritas dan kuasa serta yang memberikan peran terhadap semua alam semesta dan ciptaan ini? Kenapa Paulus bisa tujukan doanya seperti ini? Supaya kita bisa mengerti Allah kita itu adalah Allah yang berkuasa atas kuasa jahat, Allah kita adalah Allah yang berkuasa atas segala sesuatu. Kita nda perlu khawatir ketika kita berdoa kepada Tuhan, maka doa kita itu kemudian disabotase oleh iblis, dan Tuhan tidak memiliki kuasa untuk bisa menjawab doa kita. Saya kadang dengar, aneh dan lucu tapi menyedihkan, kenapa orang berdoa bahasa roh? Salah satu alasannya adalah supaya iblis nda ngerti yang didoakan apa ya. Prihatin ya. Kalo kita berdoa bahasa roh supaya iblis nda ngerti doa kita, pertanyaannya, iblis itu apa? Roh bukan? Lalu kita menggunakan bahasa roh supaya roh nggak mengerti, kan lucu. Dan Alkitab berkata, pada waktu kita berdoa kepada Tuhan, justru di sini digunakan, selalu digunakan ayat-ayat atau kata-kata yang dimengerti oleh manusia. Nda[hanya, Red.] dimengerti oleh Tuhan Allah. Kenapa begitu ya? Pertama, karena kita tahu pada waktu kita berdoa kita nda perlu takut iblis tahu rencana kita, apa yang kita minta, dan kita nda perlu takut iblis sanggup untuk menggagalkan itu karena Tuhan lebih berkuasa dan Tuhan bisa menggenapi apa yang kita minta. Salah satu contohnya adalah Ayub, dia doa, gumul, iblis ingin dia jatuh, kalau seandainya ada rahasia-rahasia tertentu untuk menjaga iman Ayub supaya dia nda jatuh ke dalam dosa maka artinya Ayub nda ungkapkan semua apa yang menjadi pergumulannya dihadapan Tuhan dengan terang-terangan, ada hal-hal tertentu mungkin yang dia doa secara rahasia di hadapan Tuhan supaya Tuhan menajaga dia dan iblis nda tahu, tetapi justru Ayub itu buka segala sesuatunya dihadapan daripada Tuhan, dihadapan teman-temannya dan termasuk dihadapan iblis. Hasil akhirnya bagaimana? Ayub tetap dibawa kepada suatu keadaan yang mengerti kemuliaan Allah dan kedaulatan Allah, pengenalan yang akan semakin bertumbuh dan semakin limpah dalam kehidupan dia. Yang kedua, justru melalui peristiwa itu, saya lihat, Tuhan ingin menunjukkan kepada iblis, dia tetap harus tunduk dan ikut memuliakan Tuhan Allah dalam kehidupan dia, kuasa dia tetap ada di bawah otoritas daripada kuasa Tuhan Allah, kita nda usah takut akan semua hal ini.Itu aplikasi yang pertama ya. Dia adalah Allah Pemilik segala sesuatu, yang dimana segala sesuatu bersumber daripada diri Dia, dimana nama segala sesuatu itu berasal daripada Allah ini yang adalah Bapa kita.

Yang kedua adalah ketika Paulus memanggil nama Allah itu dengan sebutan Bapa, Bapa di sini kita bisa mengerti sebagai satu relasi antara Bapa dan anak.Satu relasi yang bukan hanya antara Pencipta dengan ciptaan, tetapi relasi yang kita bisa miliki  sebagai Bapa-anak dikarenakan Yesus Kristus. Nah ini berkaitan dengan Efesus 2:18, “karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.” Jadi, ‘oleh Dia’ berarti oleh Kristus, kita kedua pihak, Yahudi dan non-Yahudi itu, beroleh jalan masuk kepada Bapa; berarti relasi antara manusia, gereja dengan Allah itu tidak lagi di dalam relasi Pencipta dengan ciptaan tetapi relasi antara  Bapa dengan anak karena di dalam Kristus kita baru bisa memanggil Allah dengan sebutan Bapa dalam pengertian relasi kedekatan yang begitu intim sekali. Nah, Saudara, kalau Dia adalah Bapa kita, yang kita dapat panggil dikarenakan Kristus, lalu bagaimana kita mengerti ‘yang daripada-Nya semua turunan yang ada di Sorga dan yang di Bumi mendapatkan nama-Nya’? Nah di sini, penafsir kedua ini berkata ‘semua turunan yang ada di Sorga dan di Bumi’ itu berbicara mengenai semua orang percaya yang sudah ada di Sorga bersama dengan Tuhan atau pun yang masih hidup di dalam dunia itu bisa ada sebagai orang percaya, gereja, karena bersumber daripada Allah yang memilih mereka dan menebus mereka di dalam Yesus Kristus.Makanya Paulus ketika menghadap Allah, dia bisa menghadap Allah dengan panggilan Bapa dan suatu keberanian untuk memanggil ‘Abba, ya Bapa’ dan berdoa kepada Allah seperti ini.

Saudara, saya juga lihat ini ada signifikansi yang penting sekali dalam kehidupan iman kita, berarti apa? Kita adalah anak-anak Allah, kita adalah orang-orang yang bernilai dihadapan Tuhan Allah, kita adalah orang yang dikasihi Tuhan Allah dengan suatu kasih yang begitu besar sekali, yaitu nyawa Anak-Nya sendiri Dia korbankan demi untuk keselamatan diri kita. Saya seringkali bilang, “Siapa kita?Kita layakkah untuk dikorbankan, atau kita layakkah untuk ditebus?” Yang bener adalah kita layak untuk dikorbankan oleh Tuhan dan Tuhan cipta manusia yang baru sebagai pengganti kita yang tidak berdosa.Tetapi kenapa Tuhan justru korbankan Anak Tunggal-Nya demi untuk keselamatan kita? Itu bukankah suatu cinta kasih yang begitu luar biasa sekali yang Tuhan karuniakan bagi kehidupan kita? Kita betul-betul bernilai, berharga dihadapan Tuhan Allah sebagai orang-orang yang karena itu Tuhan tebus daripada kehidupan kita yang berdosa yang harusnya dihukum oleh Tuhan Allah.Nah Saudara, pada waktu kita berdoa ingat Dia adalah Bapa yang sudah lakukan semua ini dalam kehidupan kita. Karena itu pada waktu kita berdoa mungkinkah kita datang dengan suatu keraguan, mungkinkah kita datang dengan suatu kekhawatiran yang nda akan menjawab doa dan permohonan kita? Di dalam Roma itu ada suatu kalimat “kalau Allah sendiri sudah memberikan hal yang paling berharga dalam kehidupan kita, mungkinkah Dia tidak meneriman kita?” Dia pasti menerima kita, apa yang menjadi permohonan kita, karena kita adalah anak-Nya yang dekat dengan Dia dan Dia akan menjawab itu sesuai dengan apa yang terbaik menurut Tuhan Allah. Dia pasti dengar, kita nda perlu takut dan kita nda perlu menjauhkan diri, dan kita nda perlu khawatir Tuhan tidak mendegar apa yang menjadi doa kita.

Tapi di sisi lain, pada waktu kita memanggil Allah dengan sebutan ‘Bapa yang dari pada-Nya semua turunan mendapat nama-Nya’ itu juga harusnya memberi suatu kekuatan dan penghiburan dalam kehidupan kita dan nilai diri kita di hadapan Tuhan dan dihadapan manusia. Saudara, orang-orang dalam dunia ini mungkin menyepelekan kita, orang-orang dunia ini mungkin menganggap remeh kita sebagai orang percaya, orang-orang dunia ini juga mungkin bisa melihat kita sebelah mata terhadap kehidupan kita.Orang-orang dunia mungkin bisa menjelekkan kita, menganggap kita tidak ada artinya sama sekali dalam kehidupan kita. Nah itu semua bisa membawa kepada keputusasaan dan dukacita, tapi coba pada waktu kita mendapatkan semua perlakuan yang tidak baik, renungkan kembali siapa diri kita dihadapan Tuhan Allah?Kita adalah anak-anak Allah, kita adalah orang yang dihargai oleh Tuhan yang dianggap bernilai sekali dihadapan Tuhan.Dan Tuhan ini siapa? Bukan cuma Bapa kita tetapi Pencipta segala sesuatu, dimana segala sesuatu bersumber daripada diri Dia. Kalau orang dunia yang melawan Allah, menghina Allah, menolak diri kita, mereka bukan berurusan dengan diri kita tetapi mereka berurusan dengan Bapa kita yang dari pada-Nya kita berasal sebagai orang yang sudah ditebus dan milik Dia, dan daripada-Nya Dia mencipta segala sesuatu. Saudara itu adalah hal yang menakutkan sekali. Kalau begitu perlu nda kita putus asa? Perlu nda kita merasa minder? Perlu nda kita merasa tidak berarti? Perlu nda kita merasa tidak dihargai oleh dunia ini? Tidak perlu, karena apa? Bapa menghargai kita, Bapa memberi arti kepada kehidupan kita.Kalau Saudara ingin memiliki arti dalam kehidupan, dekatkan diri kepada Tuhan dan jalani rencana Tuhan, tujuan-Nya, bukan jalani rencana kita sendiri karena rencana kita nda akan dianggap berarti oleh Tuhan Allah kecuali kita menjalankan segala sesuatu demi untuk kepentingan daripada Tuhan Allah.Ini rancangan Tuhan dalam kehidupan kita sebagai orang percaya.Nah, saya harap ini boleh memperkaya akan makna doa kita dan pengertian kita pada waktu kita memanggil Allah dengan sebutan Bapa dalam kehidupan doa kita. Mari kita masuk ke dalam doa.

Kami kembali bersyukur Bapa untuk segenap hal yang boleh Engkau kerjakan dalam kehidupan kami anak-anak-Mu. Engkau adalah Allah Pencipta, Engkau adalah Allah yang menguasai segala sesuatu, Engkau adlah Allah yang menjadi sumber dari segala keberadan yang ada di dalam dunia ini, yang boleh memberikan kepada kami suatu keyakinan akan kuasa-Mu, kekuatan dan kemampuan-Mu, untuk menggenapi apa yang Engkau rencanakan dan Engkau rancangkan dalam kehidupan dunia maupun di dalam kehidupan kami secara pribadi. Kami juga bersyukur Bapa, karena ketika kami memanggil Engkau dengan sebutan Bapa, bukan hanya sebagai Pencipta tetapi juga sungguh-sungguh suatu kedekatan yang ada di dalam Anak Tunggal-Mu Yesus Kristus, karena Engkau adalah sungguh-sungguh Bapa kami, dimana Engkau memiliki suatu rencana yang baik dalam kehidupan kami, dimana kami boleh menghampiri Engkau dengan suatu keberanian dan kedekatan, tetapi juga dengan suatu sikap yang penuh dengan hormat kepada Engkau. Kiranya apa yang kami doakan, apa yang menjadi kebenaran firman-Mu yang Engkau nyatakan, dimana kami boleh berharap kepada Engkau, kami boleh sepenuhnya bergantung dan percaya kepada Engkau yang adalah Pencipta dan Penguasa atas seluruh alam semesta ini, boleh menjadi suatu hal yang sungguh-sungguh kami mengerti dan dalam kehidupan kami dan dalam doa kami, dan juga dalam panggilan kami sebagai orang percaya yang hidup di tengah-tengah dunia ini. Terima kasih sekali lagi ya Tuhan untuk segala sesuatu yang boleh Engkau karuniakan, kerjakan dalam kehidupan kami. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus yaitu Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami telah berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *