Mandat Budaya

1 Corinthians 10:31

Whether therefore ye eat, or drink, or whatsoever ye do, do all to the glory of God. — KJV

So whether you eat or drink or whatever you do, do it all for the glory of God. — NIV

Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. — LAI

 

Suatu ketika ada orang yang sesudah membaca ayat di atas lalu merasa telah mendapatkan pengertian yang jelas akan bagaimana caranya memuliakan Tuhan. Sehingga setiap kali akan makan dan minum, dia berpikir, “Aku akan memuliakan Tuhan.” Maka setiap kali merasa lapar, dia berkata, “Aku harus memuliakan Tuhan sekarang.” Dan sebelum makan, dia berkata, “Sekarang waktunya aku memuliakan Tuhan. Dan ketika perutnya terisi, dia pun berkata, “Ahh, aku sudah selesai memuliakan Tuhan. Bukankah kita seperti gambaran orang tersebut? Kita hanya mengingat harus memuliakan Tuhan ketika saat makan, di mana kita perlu berdoa mengucap syukur. Tetapi di dalam kegiatan kita yang lain yang memakan waktu lebih banyak, kita malah terlelap dan lupa bahwa tugas dan panggilan kita adalah untuk memuliakan Tuhan di dalam segala hal yang kita kerjakan.

Secara pemikiran kita sering pula terjebak dengan menganggap hanya kegiatan-kegiatan tertentu dan waktu-waktu tertentu saja yang dapat kita pakai untuk memuliakan Tuhan. Sebagian berpikir, ketika aku mengerjakan pelayanan gerejawi, maka saat itulah aku sedang memuliakan Tuhan. Sebaliknya, ada pula yang berpikir, pekerjaan/studiku sajalah pelayananku. Maka sesudah enam hari lamanya bekerja melayani Tuhan di bidangku, biar orang lain yang mengerjakan tugas gereja. Aku datang untuk beristirahat, menikmati Sabat Tuhan dan berbakti. Maka orang tersebut selalu menolak diberikan tugas pelayanan gerejawi apapun, datang paling lambat dan pulang paling cepat.

Kegagalan kita memuliakan Tuhan adalah disebabkan kegagalan kita melihat kehidupan kita secara utuh yang sudah sepatutnya dipakai untuk memuliakan Tuhan. Bukan hanya pada saat-saat tertentu saja dalam kehidupan kita, kita dipanggil untuk memuliakan Tuhan. Dalam keadaan sehat, sakit, kuat, lemah, sibuk, santai, stress, rileks, kita senantiasa dipanggil untuk memuliakan Tuhan. Kehidupan yang tersegregasilah yang menjadi batu sandungan terhadap orang lain dan mengakibatkan celaan muncul dari orang fasik yang ditujukan kepada Tuhan penebus kita. Pengertian akan kehidupan yang integratiflah yang akan menjadi kunci keberhasilan mengerti dan menjalankan mandat budaya di dalam kehidupan orang percaya.

Di sinilah timbul paradoks, orang yang merasa sudah dan layak melayani dan memuliakan Tuhan justru belum benar- benar memuliakan Tuhan. Sebaliknya, orang yang tetap melayani Tuhan dan terus merasa diri tidak layak untuk melayani adalah orang yang senantiasa memuliakan Tuhan dan akan terus dipakai Tuhan. Pengertian akan anugerah (Sola Gratia), kembali menjadi fondasi dasar dalam kehidupan orang benar.

Pembahasan mengenai mandat budaya, pertama-tama harus dimengerti bahwa hanya manusialah satu-satunya makhluk yang dicipta yang mampu berbudaya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat berbudaya karena manusia dicipta menurut peta dan teladan Allah. Allah menciptakan alam dan manusia, sehingga manusia pun seturut teladan Allah mencipta dengan mendayagunakan alam yang Allah ciptakan memakai potensi yang Allah telah berikan terhadap masing-masing individu. Tidak ada ciptaan lain yang mampu menghasilkan suatu kebudayaan dalam bentuk apapun. Sarang yang dibuat oleh laba-laba sekalipun begitu indah secara desainnya namun bukanlah suatu hasil kebudayaan karena sejak zaman Adam sampai sekarang dan terus sampai akhir zaman nanti tetap saja tidak akan pernah mengalami perubahan dalam desainnya. Tidak ada suatu perkembangan kebudayaan dalam sejarah hewan dan tumbuhan. Maka adalah suatu kebodohan luar biasa dalam teori evolusi dengan menganggap manusia sebagai spesies tingkat tinggi yang merupakan kelanjutan dari monyet sebagai spesies tingkatan yang lebih rendah. Tidak ada perkembangan dalam kebudayaan monyet dalam hal yang paling dasar sekalipun yaitu makan. Sebaliknya manusia dalam keberagaman kebudayaannya menghasilkan berbagai macam cara dan etika makan. Ada yang makan memakai sumpit, ada yang dengan sendok dan garpu, dengan pisau dan garpu, ada pula yang dengan tangan secara langsung. Dalam mempersiapkan makanan juga begitu beragam, ada Indianfood, Chinese food Japanese food, Western food. Monyet belum pernah sekalipun mengolah makanannya dan membuka usaha restoran untuk mendaya gunakan hasil invensinya dalam masakan untuk dicicipi oleh monyet-monyet lainnya.

Kedua, setiap hal yang manusia kerjakan tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan yang dia telah ketahui dan juga warisi. Yang dikerjakan manusia yang telah dipengaruhi kebudayaan akan kembali berpengaruh terhadap perkembangan kebudayaan selanjutnya, baik itu dengan menerima, menentang, mengkoreksi ataupun memperkembangkan kebudayaan yang sebelumnya. Budaya yang ditanamkan dan diajarkan dari generasi satu ke generasi berikutnya memberikan suatu identitas pengenalan diri yang melekat di dalam diri manusia. Akan tetapi, belum pernah ada satu kebudayaan pun yang mampu membawa manusia mengenal dirinya sebagai peta dan teladan Allah yang sejati. Sehingga kebudayaan pun pada akhirnya membawa kepada kebuntuan di dalam pengenalan akan diri yang sejati. Kecuali manusia menerima wahyu khusus yang Tuhan Allah berikan, manusia tidak dapat mengenal dirinya dalam persepsi yang benar sebagai peta dan teladan Allah. Maka pengaruh budaya di dalam perkembangan kebudayaan selanjutnya haruslah membawa kita pada suatu sikap kewaspadaan supaya bukan hanya mewarisi dan menerima kebudayaan yang ada tetapi berani mengkoreksi kebudayaan yang berlawanan dengan kebenaran yang Tuhan telah wahyukan. Kekurangsungguhan kita dalam menggumuli masalah budaya dapat mengakibatkan kita melestarikan dosa di dalam kebudayaan yang melawan wahyu kebenaran Tuhan. Maka teologi Reformed menjadi teologi yang bertanggung jawab karena menyadarkan manusia untuk boleh hidup bertanggung jawab dalam menjalankan mandat budaya. Dengan mengatakan kita mempunyai mandat budaya, kita mengakui bahwa kita menerima suatu tugas untuk melaksanakan sebaik-baiknya mandat/perintah yang diberikan. Di sinilah perbedaan teologi Reformed dengan teologi lainnya yang hanya menekankan akan mandat penginjilan. Mandat penginjilan tanpa adanya dukungan mandat budaya akan mengakibatkan ketimpangan, menjadikan hidup seseorang menjadi suatu kesaksian yang buruk dan batu sandungan bagi diri orang lain. Penekanan agama adalah akan kehidupan yang akan datang, akan tetapi tanpa mempunyai pengaruh dan sumbangsih apapun terhadap dunia yang sekarang ini, nilai- nilai keagamaan itu patut dipertanyakan.

Mandat budaya hanya dapat dijalankan dengan sesungguh- sungguhnya oleh orang yang sudah mengenal Tuhan. Orang yang belum mengenal Tuhan tidak akan menundukkan dirinya untuk memuliakan Tuhan di dalam setiap hal yang dikerj akannya. Segala hal yang dikerjakan semata-mata adalah kejahatan di mata Tuhan. Bagaimana orang seperti demikian dapat menjalankan mandat budaya? Menjalankan mandat budaya berarti menjalankan rencana Allah sesuai dengan desain yang Tuhan mula-mula telah rencanakan. Kebudayaan yang manusia berdosa kerjakan akhirnya bertujuan menggantikan posisi Allah dengan hal yang lain. Karena posisi yang salah di dalam diri manusia berdosa yang tidak mau berada di bawah Allah yang memberikan mandat tersebut, manusia berusaha dengan kuasanya sendiri melawan Allah dan meng-ilah-kan kekayaan, kuasa, diri, kesehatan, dan ilah-ilah lainnya. Sebaliknya, orang percaya, di dalam makan dan minumnya pun bertujuan hanya untuk memuliakan Tuhan (Soli Deo Gloria). Tetapi orang fasik senantiasa merancangkan rencana-rencana jahat di dalam hatinya.

Dalam penciptaan yang Allah kerjakan, Allah memiliki tujuan, desain, suatu keteraturan, suatu kesinambungan dan bijaksana yang terkandung. Manusia di dalam kebudayaannya pun memiliki tujuan, pemikiran dan maksud di belakang yang mendasari penampakan yang terlihat dalam kebudayaannya. Tujuan penciptaan oleh Allah adalah untuk menggambarkan kemuliaan Allah. Setiap hal yang Tuhan Allah kerjakan adalah untuk kemuliaan diri-Nya dan untuk dinikmati oleh-Nya, termasuk diri manusia, puncak ciptaan Allah. Akan tetapi kebudayaan yang manusia hasilkan dan kerjakan, banyak yang tidak membawa kemuliaan kembali kepada Tuhan. Ini dikarenakan kejatuhan manusia di dalam dosa.

Kejatuhan inilah yang turut membawa kejatuhan di dalam kebudayaan manusia. Banyak manusia yang berbudaya bertujuan bukan untuk memuliakan Allah sebaliknya mengembangkan diri dan potensi di dalam dirinya untuk boleh menggantikan dan memainkan peranan sebagai Allah. Maka sesungguh-sungguhnya, tujuan manusia berbudaya, dalam hubungannya terhadap Allah, adalah untuk memuliakan Tuhan Allah.

Sekarang, mari kita belajar mengenai menjalankan mandat budaya dalam contoh hidup Yakub. Mengapa Yakub? Mengapa tidak Yusuf ataupun Daniel yang jelas-jelas menjadi contoh teladan di dalam menjalankan mandat budaya? Seringkali Alkitab begitu rapat menyimpan rahasia sorgawi yang hanya dapat ditemukan dengan pertolongan Roh Kudus sebagai pengajar di dalam diri orang percaya. Pernahkah Saudara berpikir, apakah Yakub melakukan mandat budaya secara benar di dalam hidupnya? Sejak masa mudanya, Yakub bukanlah orang yang sungguh-sungguh jujur maupun berbuat baik. Sejak di dalam rahim ibunya, dia sudah bertengkar dengan Esau, saudara kembarnya yang menjadi kakaknya. Yakub adalah seorang penipu. Dia menipu Esau, kakaknya. Dia menipu Ishak, ayahnya. Dia menipu Laban, pamannya. Tetapi di balik semua kegagalan Yakub, Allah tetap berkenan memperkenalkan diri-Nya dengan pribadi Yakub. Allah berkenan dikenal sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan juga Allah Yakub.

Yakub bukanlah orang yang bodoh. Seorang penipu kalau bodoh, tidak akan berhasil menipu orang yang ditipunya. Yakub adalah penipu ulung. Kita tentu mengalami kesulitan besar ketika belajar dari kehidupan Yakub tentang bagaimana menjalankan mandat budaya. Sebaliknya, jikalau kita belajar dari kehidupan Yusuf, Salomo, Daniel, orang-orang yang berhasil di dalam kehidupannya, kita bisa mengatakan inilah contoh kehidupan orang percaya yang berhasil menjalankan mandat budaya dengan baik.

Kehidupan Yakub sangat bertolak belakang dengan apa yang diajarkan Tuhan baik di dalam Firman-Nya maupun menurut conscience yang Tuhan telah tanamkan di dalam hati setiap manusia. Yakub telah dipilih Tuhan Allah untuk mewarisi janji berkat dari ayahnya Ishak. Tapi berkat ini diambilnya dengan cara mengelabui Ishak ayahnya dan juga Esau saudara sulungnya. Kekayaan yang diperoleh Yakub, domba dan kawanan ternak kepunyaannya juga diperolehnya dengan cara tidak jujur dengan mengelabui pamannya. Mungkin banyak dari kita yang bergumul tentang bagaimana menjalankan mandat budaya di dalam kehidupan kita, khususnya di dalam pekerjaan kita. Kita senantiasa memikirkan bagaimana caranya mengaitkan iman kita dengan bidang yang kita gumuli. Tapi seringkali kita juga gagal, karena kita tidak mengetahui bagaimana caranya ataupun ketidakkonsistenan kita dalam memikirkan hal tersebut. Tapi secara jujur di dalam hati kita yang terdalam, apa sebenarnya tujuan kita di dalam kerinduan untuk menjalankan mandat budaya? Apakah supaya kita bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik dari orang-orang lain sehingga kita beroleh posisi dan pangkat dan kepercayaan yang lebih tinggi dalam jenjang karir kita? Seringkali kita menipu diri kita dengan mengatakan kita ingin memuliakan Tuhan padahal dalam kenyataan sehari-hari, ambisi pribadilah yang kita kejar. Kita berkata ingin memuliakan Tuhan sebagai dalih untuk meraih keinginan kita sendiri. Kita adalah Yakub-Yakub masa kini yang sekalipun dijanjikan berkat dari Tuhan tapi meraihnya dengan cara kita sendiri.

Kita sering melakukan mandat budaya dengan jasa kita, usaha dan perjuangan kita. Lupakah kita kalau kita harusnya mengamini Sola Gratia dalam seluruh aspek kehidupan kita? Jangan kita membandingkan diri kita dengan Yusuf atau Daniel. Karena mereka sekalipun belum menduduki posisi yang penting telah terlebih dahulu memuliakan Tuhan. Yusuf ketika masih berada di dalam penjara telah belajar memuliakan Tuhan ketika dia berusaha mengartikan mimpi juru roti dan juru minuman Firaun. Tapi seringkali dalam kenaifan kita berpikir, kita hanya bisa mempermuliakan Tuhan nanti ketika kita berhasil. Ketika kita menduduki jabatan yang penting, ketika kita memiliki uang yang banyak, barulah kita ‘layak’ memuliakan Tuhan dengan apa yang kita miliki. Benarkah begitu? Apakah itu berarti Tuhan tidak layak dipermuliakan sejak sekarang? Sedari kita berjuang dari nol, di dalam kemiskinan. Bisakah kejujuran dipertahankan dan tidak dikompromikan ketika berjuang melawan dunia yang korup ini? Kita takut mengiyakan, iman kita jauh lebih kecil dibandingkan keinginan kita untuk memuliakan Tuhan di dalam seluruh aspek kehidupan kita.

Yakub pada akhirnya menjadi orang yang sungguh-sungguh memuliakan Tuhan. Dia bukan lagi dikenal sebagai penipu. Dia dengan sungguh-sungguh hidup di hadapan Tuhan yang mengetahui segala sesuatu. Ini terbukti ketika dia menyuruh kesepuluh anaknya untuk mengembalikan uang pembelian makanan yang ditaruh kembali oleh Yusuf di dalam karung saudara-saudaranya. Yakub menyuruh anak-anaknya membawa uang dua kali lipat, seandainya kalau-kalau orang Mesir khilaf dan lupa mengambil uang pembayaran sebelumnya. Sudahkah Saudara rindu memuliakan Tuhan? Hiduplah jujur di hadapan-Nya dan berhenti berbuat dosa. Orang yang tidak takut akan Tuhan yang akan terus menipu baik Tuhan dan juga dirinya sendiri.

Menjalankan mandat budaya belum tentu harus selalu berada di tempat terbaik. Musa meninggalkan Istana Firaun. Lot justru sebaliknya, memilih tinggal di Sodom dan Gomora. Saudara bisa terus hidup suci seperti Lot di tengah-tengah keadaan sekitar yang kotor, najis, dan menjijikkan. Tetapi apakah Saudara benar-benar meyakini itu sebagai pimpinan Tuhan dalam hidup Saudara? Lot setelah hidup sekian lama dengan penduduk kota tersebut tetap tak dapat membawa sepuluh orang untuk takut akan Tuhan di dalam kota itu. Malahan sebaliknya, istri, anak-anaknya dan kedua calon menantunya menjadi orang-orang yang tidak mempunyai standar moral yang jelas. Apakah istri Lot menjadi tiang garam karena semata-mata menoleh ke belakang, melihat kota yang dihujani bara dalam penghukuman Tuhan? Tidak. Karena Abraham pun saat itu sedang melihat penghakiman yang sama yang Tuhan Allah kerjakan bagi kota Sodom dan Gomora. Hati yang terpikat oleh harta duniawilah yang membawa malapetaka bagi dirinya sendiri. Hati yang sedih, tapi kesedihan karena kehilangan harta benda. Sebaliknya Abraham mempunyai hati yang sedih, tapi kesedihan karena sekalipun dirinya telah bersyafaat bagi kota itu, tetap penghakiman Tuhan turun karena terlalu sedikitnya orang yang hidup benar di hadapan Tuhan.

Dalam contoh hidup Musa, Musa pergi meninggalkan istana Firaun. Kalau memang mandat budaya lebih penting daripada mandat Injil, kalau benar kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, filsafat begitu signifikan dan bernilai kekal, maka Musa seharusnya menjadi profesor di Mesir dan bukannya pergi memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, negara yang kebudayaannya paling maju saat itu. Posisi-posisi penting yang Tuhan berikan kepada anak-anak-Nya memang menjadi kesaksian akan pentingnya mandat budaya untuk dijalankan, tetapi itu tidak pernah terlepas akan pentingnya penggenapan rencana keselamatan yang Tuhan Allah kerjakan di dalam sejarah. Yusuf menjadi orang penting di Mesir adalah untuk menyelamatkan kaumnya, bangsa pilihan Tuhan, Israel, dari bahaya kelaparan 7 tahun yang melanda daerah tersebut. Ester menjadi ratu di pemerintahan Raja Ahasyweros adalah untuk menggagalkan rencana pemusnahan massal terhadap bangsanya oleh siasat Haman. Nehemia, Daniel, dan orang- orang penting lainnya di Perjanjian Lama sadar akan pentingnya menjalankan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidupnya, yaitu untuk menggenapi rencana keselamatan Allah yang kekal.

Lalu salahkah kalau seandainya kita menjadi musisi atau filsuf atau akuntan atau engineer atau profesi-profesi lainnya? Tidak. Sebab apa yang Tuhan sudah berikan kepada Saudara, Saudara harus mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan. Talenta, bakat dan juga waktu yang Tuhan berikan, wajib Saudara kembangkan, pakai, dan kembalikan berlipat ganda kepada Tuhan. Kalau Saudara menyia-nyiakan maka talenta itu akan diambil dari Saudara. Karena prinsip Firman Tuhan mengatakan, setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Kiranya setiap kita dapat mengucapkan doa yang Tuhan kita sendiri pernah ucapkan, “I have glorified thee on earth; I have finished the work thou gavest me to do.” We can never glorify God unless we finish the work God gave us nor can we finish our work unless we glorify God. Mari kita sekali lagi mengingat dan mengikut teladan Tuhan kita. Yang ingin memuliakan Tuhan dengan makan dan minum, ingatlah perkataan Tuhan Yesus: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Amin.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *