Kualitas Iman Kristen (2), 9 Juli 2017

Ef. 4:2-4

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Saudara, di dalam pertemuan dua minggu lalu dan minggu sebelumnya kita telah melihat bahwa sebagai orang Kristen Alkitab tidak pernah menuntut diri kita untuk mengutamakan perbuatan yang kita tampilkan di luar, itu bukan menjadi satu-satunya hal yang sangat penting dalam kehidupan dari pada orang Kristen. Tapi yang sangat menarik sekali pada waktu Paulus berbicara mengenai etika kehidupan dari pada orang Kristen, pertama kali setelah Paulus memberitahu bagaimana kita menjadi orang Kristen itu semua adalah karunia dari Tuhan Allah, maka Paulus tidak mennekankan pada perbuatan-perbuatan yang perlu dilakukan oleh orang-orang percaya. Paulus tidak berkata orang Kristen harus ke gereja, orang Kristen harus membaca Alkitab, orang Kristen harus berdoa, orang Kristen harus menginjili, atau orang Kristen harus menjadi satu saksi bagi orang-orang dunia ini, tetapi yang menarik adalah, ketika Paulus berkata, “Apa yang menjadikan engkau menjadi orang percaya itu adalah perbuatan Allah, tindakan Allah di dalam kehidupanmu yang menebus engkau dari dosa, engkau yang mati secara rohani sebelumnya, sekarang engkau sudah dihidupkan dan diberikan karunia Sorga bersama-sama dengan orang Kristen yang lain di dalam Kristus, “maka Paulus kemudian masuk ke dalam aplikasi atau etika kehidupan orang Kristen. Nah pada waktu Paulus masuk ke dalam etika kehidupan orang Kristen, yang pertama kali Paulus tekankan itu adalah bagaimana sikap hati kita di hadapan dari pada Tuhan Allah. Jadi di situ Paulus mengajak kita melihat apakah engkau memiliki satu kerendahan hati, kelembutan hati, dan kesabaran hati di dalam kehidupanmu sebagai orang Kristen? Itu yang menjadi penekanan dari pada Paulus. Jadi Paulus tidak mengatakan, “Ayo lakukan sesuatu dalam hidupmu yang menyatakan bahwa dirimu adalah orang Kristen,” tetapi Paulus mengajak kita untuk melihat ke dalam hati kita sendiri, bagaimana sikap hati kita sesungguhnya di hadapan dari pada Tuhan Allah. Saudara, saya lihat ini adalah hal yang bukan berarti perbuatan luar yang menyatakan diri kita seorang Kristen itu tidak berguna atau tidak penting, itu adalah hal penting yang harus kita nyatakan dalam kehidupan kita, tapi identitas diri kita sebagai orang Kristen tidak dinyatakan hanya dari apa yang kita lakukan di luar tetapi merupakan sesuatu yang muncul dari pembaharuan atau perubahan hati yang diberikan oleh Tuhan Allah di dalam diri kita.

Kemarin pada waktu saya ikut syawalan di malam hari ada sedikit ceramah dari ustadnya ya, dia kasih dua contoh kehidupan dari pada Muhammad. Dia berkata, pertama, “Muhammad itu orang yang baik lho, dia adalah orang yang tidak suka membalas kejahatan dengan kejahatan.” Dia berkata seperti ini, “Di dalam kehidupan dia, setiap hari ketika dia pergi menuju ke masjid untuk sholat disitu, apa yang akan dia alami? Dia akan dihina, dia akan diludahi oleh seseorang di dalam perjalanan tersebut. Tetapi pada waktu dia mengalami cercaan, hinaan, ludahan yang diberikan oleh orang, dia tidak pernah marah, dia hanya jalan menuju ke masjid lalu sholat di situ, lalu pulang kembali melewati jalan itu kembali lalu dihina lagi. Setiap hari ketika dia lalui jalan itu pasti akan mendapatkan celaan, hinaan dari pada orang yang ada di situ. Tapi pada suatu hari ketika dia pergi menuju ke masjid, dia pergi dengan aman, tidak ada sesuatupun yang terjadi pada diri dia. Pada waktu dia kembali dari masjid juga tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri dia, tidak ada orang itu, tidak ada cercaan, tidak ada hinaan ataupun ludahan yang diberikan kepada diri dia. Lalu Muhammad heran, dia bertanya-tanya kemana orang itu, apa yang terjadi, kenapa dia tidak tammpil di luar lalu menghina diri dia, lalu dia cari tahu. Pada waktu dia tahu bahwa ternyata orang itu tidak melakukan kebiasaan menghina dirinya karena dia sakit, Muhammad buru-buru pulang ke rumah lalu tanya isterinya, “ada makanan apa,” lalu isterinya kemudian, “ahh ada ini, ini, ini.” “Tolong bungkuskan, saya akan bawa ini untuk pergi berkunjung pada orang yang berlaku jahat kepada saya, lalu saya akan berikan makanan itu kepada diri dia.”” Saudara, baik tidak? Saya pikir baik sekali. Satu tindakan yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Lalu kemudian dikasih cerita yang kedua,dia berkata, “Suatu hari dia pergi ke undangan pertemuan warga. Lalu di dalam pertemuan warga itu ternyata memakan waktu yang lama sekali sehingga isterinya di rumah itu ketika menunggu-menuggu tidak tahan lagi karena terlalu malam, dia sudah terlalu mengantuk dan dia ingin tidur. Tapi karena dia khawatir ketika suaminya pulang ke rumah dan mengetok pintu dia tidak bisa dengar karena dia tidur di kamar, akhirnya dia putuskan untuk tidak tidur di kamar, dia tidur mungkin di luar atau di ruang tamu, supaya pada waktu suaminya pulang di malam hari mengetuk pintu dia bisa mendengar ketukan itu dan dia bisa membukakan pintu. Tapi pada waktu dia mulai tertidur ternyata tidurnya begitu nyenyak sekali, begitu lelap sekali, sehingga ketika suaminya pulang, mengetuk-ketuk pintu tetap tidak dibukakan karena dia tidak sadar dan dia tidak mendengar itu, sampai fajar tiba. Ketika fajar tiba, Muhammad masih di luar, setelah semalaman di luar dia pergi ke masjid untuk sholat kembali. Pada waktu isterinya terbangun di fajar itu, lalu dia kemudian cari-cari, “Lho kok saya tidur di sini, kenapa saya tidak tidur di kamar?” Dia baru teringat, “Oh ternyata saya menunggu suamiku pulang, lalu dimana suamiku?” Dia cari-cari suaminya ke ruangan yang satu dan ruangan yang lain, dipikir sudah ada yang mungkin membukakan pintu tetapi tidak ada suaminya di dalam rumah. Dia kemudian pikir, “Ada baiknya saya bertanya kepada tetangga yang bersama-sama dengan suami saya pergi ke dalam pertemuan warga itu, mungkin dia tahu dimana suami saya.” Tetapi pada waktu isterinya ini membuka pintu, melangkahkan kaki ke luar, menginjakkan kakinya di lantai, dia merasakan ada satu kehangatan di lantai itu, kalau ada satu kehangatan di lantai yang seharusnya dingin itu berarti suaminya berbaring di lantai itu, di luar rumah, tidur di situ sampai pagi tiba lalu pergi ke masjid. Lalu setelah dia pulang ke rumah apa yang terjadi?” Bapak, Ibu, kalau yang jadi suami itu ya, kira-kira tindakan apa yang akan dilakukan? Marah? Tetapi dia tidak marah, dia pulang ke rumah, dia sambut isterinya dengan baik dan perlakukan isterinya dengan baik.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, baik nggak? Indah nggak? Jauh lebih baik dari banyak orang Kristen? Kalau kita hanya melihat sikap perilaku di luar begitu saja, mungkin kita akan ngomong dia jauh lebih baik daripada kehidupan orang Kristen. Nah kalau orang Kristen sendiri tidak memiliki satu kehidupan keagamaan yang sebaik ini, satu teladan hidup sebaik ini, ada daya tarik tidak bagi diri kita terhadap orang dunia? Ada satu daya tarik tidak untuk kita membawa mereka mengenal pada Kristus kalau kehidupan kita tidak jauh lebih baik daripada diri mereka? Kalau kita memiliki kehidupan yang sebaik merekapun, saya tanya, ada daya tarik tidak dari pada kehidupan diri kita? Ada nggak, kalau kehidupan kita sebaik kehidupan mereka? Apa yang mereka lakukan, kita juga lakukan; atau apa yang kita lakukan mereka juga bisa lakukan, ada daya tarik nggak? Saya yakin tidak ada daya tarik sama sekali. Lalu apa yang membedakan kita dengan diri mereka? Nah Paulus berkata yang membedakan diri kita dari mereka bukan hanya apa yang kita tampilkan di luar saja, tetapi apa yang menjadi sikap hati kita dihadapan Tuhan Allah dan pada waktu kita melakukan suatu kebaikan? Ketika orang dunia melakukan suatu kebaikan, apa yang menjadi motivasi mereka melakukan kebaikan? Mereka melakukan kebaikan mungkin untuk satu pahala bagi diri mereka sendiri di hadapan Tuhan Allah. Mereka melakukan suatu kebaikan supaya mereka bisa diterima oleh orang lain. Mereka melakukan suatu kebaikan supaya mereka bisa dihormati oleh orang lain dalam dunia ini. Tapi bukankah ada orang yang melakukan kebaikan bagi manusia tanpa ada kepentingan diri sendiri atau suatu kehormatan bagi diri sendiri, tapi karena dia ini rela untuk menolong orang lain?

Saudara, pada waktu dia menolong orang lain demi untuk manusia, itu sama saja dia sedang melakukan suatu kebaikan demi untuk dirinya sendiri karena diapun adalah seorang manusia. Saya ambil contoh seperti ini ya, misalnya kita perlakukan orang dengan baik. Kenapa kita perlakukan orang tidak dengan kejahatan? Karena kita memangingin orang itu mendapatkan pertolongan. Tapi siapa orang itu? Walaupun kita tidak mengharapkan satu pamrih dari pada orang yang kita bantu tersebut, tapi paling tidak pada waktu kita melakukan sesuatu kebaikan pada orang lain, maka ada orang lain yang akan memperhatikan kebaikan kita. Kalau itu terjadi, dan motivasinya tidak ditujukan kepada Tuhan Allah, itu sama dengan kita melakukan kebaikan demi manusia, dan kebaikan itu berarti adalah demi untuk kepentingan diri kita sendiri juga sebagai seorang manusia. Nah itu bukan satu kebaikan. Saudara, pada waktu Alkitab berbicara mengenai kebaikan yang dilakukan oleh orang Kristen, harus ada perbedaan. Kalau orang dunia melakukan satu kebaikan demi untuk pahala, kehidupan yang kekal, kita melakukan kebaikan bukan demi untuk sebuah pahala kehidupan kekal, karena pahala itu sendiri sudah diberikan oleh Tuhan ketika kita beriman kepada Tuhan Yesus. Tapi Saudara, sekali lagi, mungkin saya pernah bahas di sini. Kalau mereka lakukan pahala, satu kebaikan demi sebuah pahala supaya diterima oleh Tuhan Allah, lalu orang percaya, orang Kristen percaya kepada Kristus demi untuk mendapatkan Sorga, sama nggak? Sama atau beda? Orang dunia lakukan kebaikan untuk apa? Masuk sorga. Orang Kristen percaya Yesus untuk apa? Masuk sorga. Sama atau beda? Sama. Lalu kenapa kita klaim kita lebih baik dari orang dunia? Saudara, yang benar bagaimana?

Apa yang membuat seseorang Kristen bisa menerima sorga, apakah karena saya yang mau percaya kepada Kristus? Apa yang membuat kita bisa beriman kepada Kristus? Kita belum tanya ini. Kalau yang membuat kita beriman kepada Kristus adalah karena keinginanku untuk percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka kita tidak ada bedanya dengan orang dunia yang melakukan kebaikan untuk mendapatkan pahala dan diterima oleh Tuhan di sorga. Tapi Alkitab berkata, yang membuat kita bisa beriman kepada Kristus bukan karena kebaikan kita dan keinginan kita dan kemauan kita untuk percaya kepada Kristus, melainkan karena anugerah Tuhan yang diberikan dalam hati kita, kepada diri kita, sehingga kita diberikan karunia untuk bisa percaya kepada Kristus, melihat pada Kristus sebagai Tuhan, percaya bahwa dia adalah Juruselamat manusia. Tanpa anugerah Tuhan, kita tidak mungkin bisa datang dan percaya kepada Kristus. Saudara, itu semua pemberian Tuhan dalam kehidupan kita. Kalau gitu, pada waktu kita percaya kepada Kristus dan menerima sorga, lalu orang lain melakukan perbuatan, percaya untuk menerima sorga, ada perbedaan. Mereka melakukan berdasarkan usaha mereka sendiri, kita menerima itu berdasarkan kasih karunia dan bukan karena keinginan kita untuk menerima sorga, tapi karena pemberian Tuhan bagi diri kita. Itu yang membedakan. Karena itu pada waktu kita melakukan satu kebaikan, bagi orang dunia, kebaikan itu adalah untuk penghormatan diri, untuk pahala, untuk penerimaan dari pada orang lain. Pada waktu kita melakukan kebaikan, kita tidak mungkin bisa melakukan kebaikan berdasarkan sikap hati yang sama seperti orang dunia, demi untuk pahala, demi untuk penghormatan, atau penerimaan dari pada orang lain, karena kita tidak mampu lakukan itu semua. Alkitab bilang, kebaikan kita tidak pernah bersumber dari diri kita sendiri, tetapi itu semua bersumber dari pada pemberian Tuhan dalam kehidupan kita. Karena Kristus hidup di dalam hati kita, ada Roh Allah yang memperbarui hati kita, yaitu sumber kebaikan itu sendiri, itu yang menolong kita bisa melakukan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan kita. Saudara, kalau ini yang menjadi dasar pengajaran firman, adakah sesuatu yang bisa kita banggakan? Adakah sesuatu yang kita bisa membuat diri kita mengatakan aku lebih baik dari pada engkau? Adakah sesuatu yang bisa kita sombongkan dalam hidup kita yang membuat kita membandingkan diri dengan orang lain, dan merendahkan orang lain dalam kehidupan kita? Saya yakin itu semua tidak mungkin bisa kita lakukan karena kita sadar, sebenarnya kita tidak layak, sebenarnya kita pantas dihukum, sama seperti orang-orang dunia itu, hanya kita mendapatkan kasih karunia dari pada Tuhan Allah.

Di dalam kelas katekisasi kemarin, kita membahas mengenai satu tema yaitu unconditional election, pemilihan yang tidak bersyarat. Karena apa? Ketika Allah memilih seseorang menjadi anak-Nya, Allah memilih kita bukan karena ada kualitas-kualitas kebaikan tertentu dalam diri kita, tetapi karena kita semua sama orang berdosa yang harus dihukum Allah. Maka pemilihan yang Allah lakukan adalah berdasarkan kedaulatan Allah, hak sepenuhnya Allah yang tidak bisa dipertanyakan oleh siapa pun di dalam dunia ini. Saudara, lalu saya tanya, pada waktu kita mengerti keberadaan kita sebagai orang Kristen itu adalah sesuatu yang karena kasih karunia Tuhan dalam hidup kita dan bukan karena kebikan diri kita, sikap hati seperti apa yang harusnya muncul dalam kehidupan kita? Ada yang berkata, bersyukur. Saya percaya itu akan terjadi dalam kehidupan kita, dan bersyukur kita akan jauh lebih limpah dari orang yang berkata “aku percaya karena aku ingin percaya kepada Kristus,” daripada orang yang berkata, “aku bisa percaya karena Allah yang anugerahkan itu dalam kehidupanku.” Yang kedua apa? Yosua bilang, berhutang. Saudara, pada waktu kita menerima anugerah, perasaan yang bisa timbul, sikap hati dalam diri kita yang kedua adalah bukan cuma bersyukur, tapi kita merasa berhutang kepada Tuhan Allah. Itu yang benar. Berhutang apa? Karena Allah sudah melakukan satu kebaikan bagi diri kita, kita berhutang satu kebaikan bagi orang lain. Karena Allah telah memberikan Injil-Nya bagi diri kita, satu kabar baik yang membuat kita diselamatkan, maka kita berhutang Injil kepada orang lain. Kenapa? Karena ketika Allah menyelamatkan diri kita dari pada dosa, maka keselamatan yang Allah lakukan dalam kehidupan kita itu memiliki satu rencana tertentu, satu tujuan tertentu yang tidak diberikan secara cuma-cuma begitu saja tanpa ada maksud rencana dibalik dari pada keselamatan yang Tuhan lakukan dalam kehidupan kita. Ada satu kewajiban yang harus kita lakukan sebagai orang-orang yang ditebus oleh Tuhan Allah, karena ini adalah rencana penebusan dari pada Tuhan Allah, yaitu menjadi saksi Tuhan dan menjadi pemberita Injil. Kalau itu yang menjadi sikap, kesadaran kita, kita dipilih berdasarkan kedaulatan-Nya bukan karena kualitas tertentu dalam diri kita yang membuat kita bisa berkenan di hadapan Allah lalu karena tujuan itu Allah memilih kita, karena kasih-Nya Allah memilih diri kita, dan kita bisa menjadi orang percaya, yang kita harus munculkan pasti adalah rasa berhutang Injil untuk dikabarkan kepada orang lain. Untuk menjadi saksi Tuhan dalam kehidupan kita. Jadi pada waktu kita melakukan penginjilan, waktu kita melakukan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan kita, apakah itu untuk menuntut satu pahala di hadapan Tuhan? Walaupun Tuhan berjanji untuk memberikan pahala bagi orang yang melakukan kebaikan dalam dunia ini, mungkin lebih memotivasi kita untuk melakukan satu kebaikan, tapi kebaikan kita tidak pernah muncul dari satu hati supaya kita diterima oleh Tuhan Allah, tetapi justru dari hati yang merasa berhutang kepada Tuhan Allah dan bersyukur kepada Tuhan Allah dan mengasihi Tuhan Allah. Itu yang harus menjadi motivasi hati kita di dalam melakukan satu kebaikan di tengah-tengah hidup kita.

Saudara, ada beda kualitas. Saudara jangan hanya melihat pada permukaan kulit luar kebaikan seseorang. Tuhan menuntut anak-Nya itu untuk memiliki satu standar yang jauh lebih tinggi dari pada standar orang dunia di dalam melakukan satu kebaikan dalam hidup mereka. Dan kebaikannya itu bukan satu kebaikan yang dilakukan di luar tetapi mulai dari hati. Satu kerendahan hati di hadapan Tuhan Allah. Itu yang Tuhan tuntut dari pada hidup orang yang sudah dikaruniakan kerendahan hati oleh Tuhan Allah. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan karena ada anugerah Tuhan dalam hidup kita. Kalau tidak ada anugerah, kita tidak mungkin bisa memiliki kerendahan hati. Saya percaya walaupun kita sebagai orang Kristen sekalipun, kita selalu akan bergelut di dalam masalah ini. Tinggi hati, rendah hati. Begitu kita masuk ke dalam kerendahan hati dan kita merasa kita rendah hati, kita sudah salah lagi dan berdosa, kita menjadi tinggi hati lagi. Jadi, kalau itu bukan karunia daripada Tuhan dalam kehidupan kita, kita tidak mungkin bisa memiliki kerendahan hati di hadapan manusia. Saudara, poin pertama yang Paulus inginkan dari hidup seorang pecaya adalah kualitas hati yang rendah, dihadapan Tuhan yang mengakui segala sesuatu bersumber daripada Tuhan Allah, segala kebaikan bersumber daripada Tuhan Allah. Segala sesuatu yang kita terima, kebaikan-kebaikan yang kita miliki bersumber dari Tuhan Allah, bukan dari diri kita sendiri. Itu akan menjadikan kita seorang yang rendah hati di hadapan Tuhan Allah dan juga di hadapan manusia.

Lalu setelah berbicara mengenai kerendahan hati, Paulus ajak kita untuk masuk ke dalam kualitas hati yang kedua, yaitu lemah lembut. Saudara, lemah lembut itu apa? Saudara, lemah lembut itu adalah suatu kualitas hati yang akan muncul kalau kita memiliki kerendahan hati dalam hidup kita, tanpa ada kerendahan hati terlebih dahulu, kita tidak mungkin memiliki kelemah lembutan di dalam kehidupan kita. Jadi, lemah lembut itu adalah produk daripada kerendahan hati. Saya ambil contoh seperti ini, kalau kita merasa kita adalah orang yang memiliki suatu kemampuan tertentu dalam hidup kita, kita menguasai bidang tertentu dalam hidup kita, lalu ada orang lain, yang kita anggap kurang berkualifikasi seperti diri kita, datang kepada kita lalu kasih masukan atau kasih teguran, dengar nggak? Saya yakin kita nggak dengar, mungkin kita cuma senyum aja, tapi dalam hati,“Kamu tahu apa!” Susah menerima masukan daripada seseorang kalau kita adalah orang yang kaya, kita adalah orang yang memiliki uang yang banyak, kita memiliki sesuatu kehidupan yang dihormati orang karena kekayaan yang kita miliki tersebut disanjung-sanjung oleh orang dunia itu. Lalu pada waktu kita mendengar “jangan hidup bergantung pada kekayaanmu, belajarlah hidup bergantung kepada Tuhan, lalu belajarlah takut akan Tuhan dalam kehidupanmu,” kira-kira kita bisa nggak menerima kalimat-kalimat ini? Saya yakin yang akan terjadi adalah kita akan sulit sekali menerima kalimat bergantung kepada Tuhan, percaya kepada Tuhan, belajar takut kepada Tuhan karena kita memiliki segala macam bentuk kekayaan yang membuat kita aman di dalam kehidupan kita.

Saudara, ini yang membuat ketika bangsa Israel akan masuk ke dalam Tanah Perjanjian, sebelum mereka masuk ke dalam Tanah Perjanjian, Tuhan melalui Musa memperingati orang Israel seperti ini, “Hati-hatilah, supaya kamu ketika masuk ke dalam Tanah Perjanjian yang Aku berikan, yang penuh susu dengan madu itu, jangan sampai kamu melupakan perintah Tuhan, tetaplah berpegang pada perintah itu, peraturan Tuhan, ketetapan Tuhan, yang telah Kusampaikan pada hari ini.” Saudara, kenapa mereka harus melakukan itu? Supaya makanan dan minuman yang mereka terima, dan rumah yang mereka dirikan dalam keadaan yang baik, Tuhan berkata. Untuk apa Tuhan ingatkan ini semua? Karena Tuhan tahu, ketika Israel masuk ke dalam Tanah Perjanjian yang penuh dengan susu dan madu ini, ada satu bahaya. Ketika mereka menikmati kenikmatan hidup dalam dunia ini, kecukupan dan bahkan kelimpahan dalam dunia ini, bahaya yang akan mereka alami adalah mereka akan lupakan Tuhan dan mereka akan merasa semua itu adalah sesuatu yang mereka dapatkan karena usaha kerja keras yang mereka lakukan, atau kebaikan-kebaikan dan usaha yang mereka keluarkan demi untuk mendapatkan itu. Jadi, apa yang mereka peroleh, kekayaan itu, adalah sesuatu yang ‘wajar’, suatu hak mereka. Karena apa? Mereka bekerja kok, mereka mendapatkan kelimpahan itu dalam hidup mereka. Jadi, ini ‘milik-ku’ dan mereka lupa bahwa Tuhanlah yang memberikan semua itu kepada diri mereka. Nah Saudara, pada waktu itu, Tuhan berkata, “Jangan kau katakan dalam hati kekuasaan yang engkau miliki, kekuatanmulah yang menjadikan engkau memiliki segala kekayaan itu, tapi ingatlah itu semua adalah pemberian dari Tuhan, seperti Tuhan ketika memimpin engkau di dalam padang gurun, Tuhan memberikan manna kepada engkau setiap hari.” Saudara, kenapa Tuhan memberikan peringatan ini? Karena Tuhan tahu, ketika seseorang mulai merasa diri penting, diri utama, dan dia bisa mencapai sesuatu, segala sesuatu sepertinya dari usaha dirinya sendiri, dia akan mulai mengesampingkan Tuhan dan tidak lagi mendengarkan perintah Tuhan, hatinya mulai menjadi sempit, hatinya menjadi pelit, dia tidak lagi akan terbuka untuk mendukung apa yang menjadi pekerjaan Tuhan dan dia mulai tidak mementingkan Tuhan.

Saudara, melupakan Tuhan jangan dipikir sebagai suatu tindakan tidak percaya Tuhan itu ada. Melupakan Tuhan bisa percaya tetap Tuhan itu ada, tapi ketika dia hidup dia tidak lagi mencintai Tuhan seperti dia mencintai harta dan kenyamanan hidup yang dia miliki. Dia tidak lagi bisa menikmati Tuhan lebih besar daripada kenikmatan hidup yang dia nikmati ditengah-tengah kekayaan yang dia miliki di dalam kehidupan dia. Itu adalah melupakan Tuhan. pada waktu kita mengajak mereka untuk datang kepada Tuhan, ingat Tuhan, belajar firman, menikmati Tuhan dengan lebih baik mereka akan berkata, “Untuk apa? Aku lebih suka menikmati kesenanganku sendiri, aku punya segala yang bisa aku miliki untuk menikmati kesenangan yang di dalam kehidupan ini, kenapa saya harus susah-susah menundukkan diri, belajar firman dan menikmati Tuhan padahal Tuhankan sudah memberkati diriku?” Saudara, ada bahaya kesombongan seperti ini dan kita harus hati-hati. Pada waktu kita masuk di dalam kesombongan seperti ini, saya yakin kita tidak akan merendahkan diri untuk tunduk di bawah kebenaran dari pada perintah Tuhan atau firman Tuhan dalam kehidupan kita. Tuhan meminta kita memiliki hati yang lemah lembut, lemah lembut berarti apa? Bukan sebuah sikap yang lemah, yang disepelekan orang dan ditindas oleh seseorang, tapi Alkitab memiliki pengertian yang jauh lebih mendalam daripada seperti ini. Kalau kita melihat dari perspektif kuasa, kekuatan, dan orang Kristen yang kurang kekuatan atau kuasa, mungkin kita bisa berkata, “Oh, orang itu bersikap seperti itu karena dia adalah orang yang ditindas dan tidak punya kekuatan untuk melawan balik,” tapi kelemah lembutan yang dimaksudkan oleh Alkitab, adalah suatu sikap kontrol terhadap diri untuk bisa menahan diri tidak membalas orang yang jahat dengan kejahatan. Suatu kekuatan dalam diri, kontrol dalam diri yang membuat kita mampu untuk tidak membalas dosa dengan perbuatan dosa dalam hidup kita, itu adalah lemah lembut.

Saudara, itu apakah itu berarti kita adalah orang yang lemah? Kita adalah orang yang gampang di tindas kalau kita memiliki sikap hati yang lemah lembut? Saya percaya tidak, kita bukan tidak bisa melawan balik, kalau kita diberi kesempatan untuk melawan balik, mungkin kita bisa melawan balik, tetapi kita memilih untuk tidak melawan balik, itu adalah orang yang lemah lembut, orang yang lebih melihat ketika orang berbuat jahat kepada diri dia, dia balas dengan suatu kebaikan dan dia lebih menahan diri untuk melakukan suatu dosa dan berani mengatakan kepada diri sendiri untuk tidak melakukan dosa dan bukan hanya untuk mencegah orang untuk melakukan dosa. Pada waktu dia melihat, apa yang menjadi kebenaran Allah, apa yang menjadi kepentingan Allah itu diabaikan atau disepelekan, maka dia akan bangkit berdiri untuk membela kebenaran Tuhan Allah dalam hidup dia. Saudara, ini adalah orang yang lemah lembut, yang dimaksud oleh Alkitab. Jadi, pada waktu dia dikatakan sebagai orang yang lemah lembut jangan hanya pikir ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan orang lain dan perlakuan orang lain dengan diri kita, tetapi juga ini adalah suatu sikap hati yang kita harus bangun di dalam diri kita sendiri pada waktu kita melihat ada kehendak Allah yang harus kita genapi dalam hidup kita. Apa yang kita lakukan? Saya percaya sebagai orang yang memiliki kelemah lembutan hati, kita akan berjuang, kita akan berusaha untuk bahkan membayar harga demi untuk kebenaran Allah itu tergenapi dalam hidup kita dan kita tidak rela kalau kebenaran Allah itu tidak tergenapi dalam kehidupan kita. Itu adalah orang yang lemah lembut dalam kehidupannya. Saudara, ini adalah hal yang kedua, sikap hati kedua yang Paulus kehendaki dari pada orang percaya. Jadi lemah lembut adalah hasil dari kerendahan hati, tanpa ada kerendahan hati kita tidak akan terbuka hati untuk menerima suatu kebenaran dan hidup dalam kebenara atau menundukkan diri di bawah kebenaran dari pada Tuhan Allah dalam kehidupan kita, dan juga itu pasti berkaitan dengan relasi dengan orang lain.

Dan Saudara, setelah dua hal ini, Paulus kemudian mengatakan kualitas hati yang ketiga, yaitu kamu harus memiliki kesabaran. Dan kesabaran ini kembali adalah satu kualitas hati yang tidak mungkin bisa kita miliki kalau kita tidak sebelumnya memiliki kelemah lembutan dan kerendahan hati dalam hidup kita. Ini semua berkaitan satu dengan yang lain. Lalu kesabaran itu apa? Di dalam bahasa Yunaninya diterjemahkan ke dalam Inggris, ‘kesabaran’ itu diterjemahkan sebagai long-suffering, berarti istilahnya tahan menderita atau menderita yang lama. Ada satu rentang waktu yang lama di dalam kita bertahan terhadap satu keadaan tertentu atau penderitaan tertentu di dalam kehidupan kita. Di dalam Alkitab apa yang dimaksud dengan kita perlu menderita lama? Menderita lama terhadap apa yang harus dimiliki oleh orang Kristen? Di dalam Kolose 1:11 itu Paulus berkata, “dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.” Apa yang kita harus tanggung? Segala sesuatu. Segala sesuatu berarti apa? Itu bisa berarti, pertama, segala keadaan yang kita alami dalam kehidupan kita harus kita tanggung dengan sabar. Saudara, kadang-kadang dalam kehidupan kita ada hal-hal yang kita alami, sesuatu yang buruk, sesuatu yang kita tidak sukai, sesuatu yang bagi kita tidak harus seperti ini tetapi kenapa kita alami itu semua. Dan pada waktu orang Kristen mengalami itu bagaimana sikap kita? Paulus berkata kita harus belajar bersabar di dalam menanggung keadaan itu. Berapa lama? Nggak tahu, pokoknya sabar.

Saudara, itu yang harus menjadi sikap hati orang Kristen dan ini saya percaya adalah kualitas yang dinyatakan oleh orang-orang percaya di dalam Alkitab sendiri. Misalnya saya ambil contoh Abraham. Pada waktu Abraham keluar dari Ur-Kasdim, apa yang membuat dirinya keluar dari Ur-Kasdim? Dia menerima panggilan Tuhan. Lalu dia menerima janji Tuhan, janji yang mengatakan: Engkau akan menerima Tanah Perjanjian, janji yang mengatakan: Engkau akan memiliki keturunan yang seperti bintang di langit dan pasir di pantai banyaknya, janji yang mengatakan bahwa: Nama-mu akan mahsyur di seluruh dunia. Lalu Saudara, ketika dia berjalan… jalan… jalan puluhan tahun dia lalui, ada nggak anak yang dia terima? Ketika dia jalan masuk ke dalam tanah Kanaan, yang katanya Tuhan berikan bagi diri dia, ada nggak dia memiliki tanah itu? Satu-satunya tanah yang dimiliki oleh Abraham semasa hidupnya adalah tanah kuburan untuk menguburkan istrinya, Sarah, itu saja. Yang lain bukan tanah dia. Tapi dia tetap, ketika mengalami itu semua, dia complain nggak kepada Tuhan? Satu-satunya kali dia complain sedikit, mungkin bukan complain-lah, dia bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, siapa yang akan mewarisi semua kekayaan yang aku miliki ini? Aku nggak punya seorang anak lho. Apakah kekayaan ini yang Engkau berkati, aku harus turunkan kepada hambaku?” Lalu Tuhan di situ berkata, “Nggak. Kamu pasti akan punya anak. Coba lihat bintang di langit, betapa banyaknya, dan kamu akan memiliki keturunan yang begitu banyak sekali.”Lalu Saudara, dia punya anak nggak? Dia harus nunggu lagi lho. Tapi dia percaya pada Tuhan. Dia tunggunya berapa lama? Sampai usia dia mau masuk 100 tahun, ketika istrinya itu sudah mati haid, kalau mandul saja mungkin masih haid, masih ada peluang, mungkin ya, pikirannya. Tapi sekarang sudah mati haid, sudah nggak mungkin lagi punya anak. Lalu ketika dia satu tahun sebelum, dia memiliki anak Tuhan datang, sebelum dia 100 tahun, Tuhan berkata, “Abraham, tahun depan engkau akan memiliki anak, seorang anak laki-laki.” Dia percaya lho. Dia nggak, kemudian, mempertanyakan Tuhan, tapi dia menerima itu sebagai janji Tuhan yang pasti Tuhan genapi.

Saudara, ini namanya orang yang sabar. Ketika dia sabar menanti, kesabaran dia didasarkan pada apa? Sesuatu yang Tuhan janjikan. Karena Tuhan ada janjikan sesuatu bagi diri dia, maka dia dengan sabar menanggung segala hal yang, keadaan yang sepertinya tidak mungkin terjadi di hadapan mata dia, bagi manusia dalam dunia ini, melihat istri yang sudah nggak ada haid lagi, itu adalah hal yang mustahil untuk memiliki seorang anak. Kemungkinan tidak mendukung, keadaan tidak mendukung sama sekali. Tapi apa yang Abraham lakukan? Dia tetap sabar untuk menantikan janji yang Tuhan sudah berikan dalam kehidupan dia, termasuk Tanah Perjanjian. Pada waktu dia mati, dia tidak memiliki Tanah Perjanjian. Pada waktu Abraham mati, dia masih memiliki hanya 1 orang anak saja, yang merupakan anak perjanjian. Tapi Saudara, dia tidak pernah kecewa. Alkitab berkata, dia tetap berpegang pada janji Tuhan. Dan sekarang, apa yang kita lihat? Tuhan sudah memberikan Tanah Perjanjian itu kepada Abraham, seperti yang Tuhan janjikan. Tuhan juga telah memberikan keturunan yang begitu banyak kepada Abraham seperti bintang di langit dan pasir di pantai yang tidak terhitung banyaknya.

Sabar di dalam menanggung segala keadaan yang buruk dalam hidup kita, itu adalah kualitas sebagai orang percaya. Saya ambil contoh yang lain, Nuh. Saudara, Nuh itu siapa? Dikatakan, satu-satunya orang benar yang hidup pada zaman dia. Lalu pada waktu dia hidup benar di hadapan Tuhan, sedangkan semua orang lain jahat, apa yang Tuhan katakan padanya? “Nuh, bangun sebuah bahtera, yang besar!” Dimana? Bukan di pinggir pantai, tapi, di atas gunung. Lalu apa yang dilakukan oleh Nuh? Dia mulai bangun bahtera. Pada waktu dia mulai bangun bahtera di atas gunung, orang-orang mulai mencaci dia, menghina dia, seperti itu, ‘Orang gila ya bangun bahtera begitu besar di atas gunung!’ Lalu berapa lama dia bangun bahtera? Saudara, dia berhenti nggak? Dia nggak berhenti. Dia terus bangun. Berapa lama? Mungkin 120 tahun lah kita anggap dia bangun bahtera itu. Dan selama 120 tahun, ada badai nggak? Ada hujan deras? Ada hujan yang bisa membuat satu banjir yang begitu hebat? Kalau pun Tuhan kasih banjir dulu sebagai tanda-tanda, mulai dari 50cm, mungkin naik 1m, lalu naik tinggi lagi, orang mungkin bisa mikir, ‘Oh iya ya, mungkin Nuh itu benar ya.’ Tapi Tuhan nggak kasih banjir seperti ini dan hujan begitu lebat. Sehingga pada waktu dia bangun bahtera yang begitu besar di atas gunung, orang pikir dia gila untuk lakukan itu. Tapi apa yang Nuh lakukan? Dia tetap sabar menanggung hinaan itu, dia tetap sabar untuk membangun bahtera itu, sampai pada waktunya apa yang terjadi? Tuhan berkata: apa yang Tuhan katakan, itu terjadi, persis seperti yang Tuhan katakan 120 tahun yang lalu. Saudara, ini kualitas yang dimiliki oleh orang percaya. Masih banyak lagi kalau kita bisa katakan, misalnya, nabi-nabi Tuhan, demi menjaga kebenaran firman, menyampaikan kebenaran firman, mereka nggak peduli reaksi daripada orang-orang yang melawan diri mereka dan tidak percaya kepada apa yang mereka beritakan, mereka tetap beritakan itu dan dengan sabar menanggung semua hinaan ataupun penolakan yang dialami oleh diri mereka demi untuk berpegang kepada kebenaran itu. Paulus sendiri, ketika dia berada di sebuah tempat dan dia sedang menuju ke Yerusalem, lalu datanglah seorang nabi yang namanya Agabus kepada diri dia dan berkata seperti ini; dia ambil ikat pinggangnya lalu kemudian dia ikatkan itu di tangannya dan kakinya sendiri dan berkata, “Paulus, orang yang memiliki ikat pinggang ini, ketahuilah, kamu akan diikat tangan dan kakimu dan kamu akan diserahkan kepada bangsa asing kalau kamu pergi ke Yerusalem.” Pada waktu Paulus mendengar seperti ini, kira-kira apa yang dia lakukan? Pada waktu murid-muridnya Paulus mendengar berita ini, mereka berkata kepada Paulus, “Paulus, jangan pergi Yerusalem. Kamu pasti akan dipenjarakan. Nanti kamu akan mati oleh tangan orang Yahudi ataupun oleh orang asing.” Kalau Saudara jadi, kita jadi Paulus, kira-kira apa yang akan kita lakukan? Mungkin hal yang pertama kita pikirkan adalah keselamatan bagi diri kita sendiri. Kenapa kita harus cari susah payah lalu korbankan hidup kita seperti itu, itu kan mati konyol. Tapi pada waktu Paulus mendengar kalimat ini, sebelumnya dia sudah mendapatkan satu pesan dari Tuhan, dia akan menderita dan dia akan dibawa kepada bangsa lain. Dan dia berkata seperti ini, “Aku ini rela bukan hanya untuk diikat, tetapi aku juga rela untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Yesus Kristus.” Saudara, ini adalah suatu sikap hati yang sabar untuk menanggung keadaan yang buruk yang menimpa kehidupan kita demi rencana Tuhan, kebenaran Tuhan itu tergenapi dalam kehidupan kita.

Saya percaya sekali, kualitas iman kita itu sesuatu yang tidak bisa teruji atau dinyatakan jika kita memiliki kualitas sebagai orang Kristen dalam waktu yang sesaat, yang sebentar. Saudara, semua orang bisa bertahan kalau waktu yang dia alami itu terbatas. Semua orang bisa tahan untuk menghadapi satu kesulitan kalau dia tahu berapa lama dia harus menghadapi kesulitan itu. Tapi Alkitab tidak pernah mengajarkan orang Kristen itu akan menderita satu waktu tertentu yang sudah ditentukan, yaitu sekian lama, mungkin sekian tahun atau sekian hari atau sekian puluh tahun saja, Tuhan ndak pernah bicara seperti ini. Tapi Tuhan ketika memanggil kita sebagai orang Kristen, Tuhan hanya berkata, “Kamu harus menderita seperti Kristus telah menderita demi kebenaran, demi nama Tuhan. Dan kamu harus sabar menanggung penderitaanmu.” Berapa lama? Tidak tahu. Saudara, tetapi justru dari situ, kesungguhan kualitas iman yang kita miliki, hati yang rendah hati, yang lemah lembut, yang sabar, itu bisa dimunculkan dan membuat kita bisa menjadi orang yang berbeda dari pada orang-orang dunia.

Saudara, orang yang sabar, pertama adalah orang yang sabar terhadap semua keadaan yang dialami. Tapi yang kedua juga, orang yang sabar itu berkaitan dengan apa yang menjadi, sabar terhadap perlakuan yang menimpa diri dia bukan dari keadaan saja tetapi juga Alkitab berkata kemungkinan dari orang lain yang berlaku jahat kepada diri kita, itu ada kemungkinannya. Kalau itu adalah satu keadaan buruk yang menimpa kita karena keadaan, mungkin kita bisa lebih mudah menerima. Saudara, kalau bencana alam menimpa kita, rumah kita hancur, siapa yang mau disalahkan? Tidak ada kan? Kita masih bisa menerima. Kalau kita ada gempa bumi dan yang lain-lainnya, kita bisa terima itu, tapi bagaimana kalau ada seseorang yang mulai mencaci kita, ada seseorang mulai menyinggung perasaan kita, ada seseorang yang mulai mempertanyakan motivasi kita di dalam melakukan pelayanan atau melakukan satu kebaikan dalam kehidupan kita? Saya pikir urusannya itu menjadi beda. Kita akan menjadi lebih sulit untuk menerima keadaan itu dari pada kita menerima keadaan yang buruk karena sesuatu yang tidak berpribadi. Tapi kalau itu pribadi, itu akan menjadikan kita sulit untuk menghadapi situasi itu. Saudara, tapi apa yang harus kita lakukan? Paulus berkata, kita harus sabar juga di dalam menghadapi orang-orang seperti ini. Ada orang yang mungkin akan kemudian, kalau dia punya kedudukan, dia akan membalas itu, tapi kalau dia tidak punya posisi dan kemampuan, dia akan simpan itu dalam hati, mulai memupuk kebencian itu lalu dibakar habis oleh rasa amarah dan kebencian itu dalam hati dia sampai dirinya sendiri rusak, sedangkan orang yang buat kejahatan sama dia lupa kalau dia pernah lakukan kejahatan sama dia atau menyakiti hati dia.

Saudara, di dalam 1 Tesalonika 5:14, Paulus berkata, “Hendaklah kamu bersabar terhadap semua orang.”Nah ini adalah satu kualitas hati dari pada orang percaya. Saya yakin ini juga adalah satu kualitas hati yang dimiliki oleh Tuhan Yesus sendiri. Pada waktu Dia dicerca, dia dipukul, dia dicambuk, dia diludahi, dia disalibkan, Alkitab tidak pernah mencatat ada satu kali tindakan Yesus melawan, Dia menerima itu dengan sabar. Bahkan kesabaran itu membuat dia berdoa bagi orang yang berlaku jahat kepada diri Dia. Saudara, atau istilah lainnya seperti ini, orang yang sabar adalah orang yang mengabaikan hinaan, makian, cercaan, kritikan, fitnahan daripada orang lain, itu namanya orang sabar. Walaupun perkataan itu begitu menyakitkan hati kita. Saudara, saya percaya ini adalah satu kualitas yang penting sekali dalam kehidupan orang percaya. Kenapa? Karena nanti ketika kita baca ayat yang ke-4, disitu Tuhan menuntut ada kesatuan dalam kehidupan orang percaya. Apa yang membuat kita memiliki kesatuan dalam hidup ini? Semuanya hanya mungkin terjadi kalau ada kerendahan hati, ada kelemah lembutan, danada kesabaran dalam kehidupan kita, kalau tidak itu tidak mungkin tercapai. Mudah tidak? Saya yakin sulit. Tapi Saudara, sulit apa pun yang namanya sulit pasti tetep bisa dilakukan, karena kita diberikan karunia itu dalam kehidupan kita, kesabaran itu dalam kehidupan kita, karena ada Roh Allah yang hidup dalam diri kita. Nah ini yang membuat kita bisa menghidupi kesabaran. Lagipula kalau kita berpikir secara lebih positif mungkin, pada waktu seseorang itu mencaci kita atau menghina kita, ada sisi postif nggak yang bisa kita terima? Saya yakin kita bisa terima sih, ada sisi positif. Misalnya, pada waktu dia mengkritik kita, kita bisa menilai diri melalui kritikan itu, betul tidak kita orang yang seperti itu? Kalau kita adalah orang yang seperti itu, kita bisa belajar untuk mengubah diri kita sesuai dengan masukan yang orang berikan. Tapi kalau kita tidak seperti itu bagaimana? Saya pikir, itu juga bisa jadi satu peringatan untuk kita tidak menjadi seperti yang orang itu katakan. Saya pikir itu adalah sisi positifnya. Karena itu, ada hal-hal yang mungkin kita bisa lihat kalau secara positif itu adalah satu kebaikan yang bisa membangun, bukan justru menghancukan diri kita, kalau kita melihat secara benar, apalagi daripada kacamata Tuhan yang benar.Saudara, ini adalah tiga kualitas ya yang harus dimiliki oleh orang percaya, yaitu kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Kita akan lanjutkan minggu depan ya. Mari kita masuk dalam doa.

Kami kembali menyerahkan Firman ini, apa yang kami telah dengar ini dan kami mohon kiranya Engkau boleh memimpin kehidupan kami ya Tuhan, dengan kualitas-kualitas iman yang berbeda daripada orang-orang dunia, kualitas hati yang berbeda daripada orang-orang dunia. Sesuatu yang mungkin kami lihat sebagai hal yang sulit, tapi kami percaya di dalam Tuhan, Engkau telah karuniakan hati yang baru tesebut dalam diri kami, kerendahan hati, kelemahlembutan dan juga kesabaran, sehingga apa yang terlhat sulit, kami memiliki satu kemampuan untuk bisa menjalani di dalam Tuhan. Karena itu, kiranya Engkau boleh karuniakan kehidupan, sikap hati seperti ini, ya Tuhan, dalam kehidupan kami anak-anak-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami bersyukur dan kami berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *