Kualitas Iman Kristen (1), 25 Juni 2017

Ef. 4:2-3

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak-Ibu, Saudara, yang dikasih Tuhan, untuk apa seseorang dipanggil untuk menjadi orang Kristen? Kalau kita tanya pertanyaan ini, kadang-kadang orang Kristen pikir “saya ikut Kristus, tujuannya adalah untuk keselamatan saya, untuk suatu kehidupan kekal yang Tuhan sudah janjikan dalam hidup kita.” Sehingga, pada waktu dia beriman kepada Tuhan, imannya itu sangat egois sekali, imannya itu hanya berkaitan dengan relasi pribadinya dengan Tuhan Allah saja dan dia tidak perduli dengan urusan lain dalam dunia ini yang berkaitan dengan orang-orang berdosa yang belum mengenal kebenaran dan dia juga tidak perduli dengan bagaimana cara hidupnya dalam dunia ini karena dia pikir: “aku sudah aman, di dalam Kristus, aku percaya kepada Yesus Kristus, aku sudah diselamatkan, apa pun yang aku lakukan, aku tidak perduli dan hasilnya bagaimana, penilaian orang bagaimana, yang penting aku ada di dalam Kristus itu adalah suatu jaminan keselamataan yang Tuhan sudah berikan dalam kehidupanku.” Tapi Alkitab berkata beda sekali dengan hal ini ya. Pada waktu Tuhan memanggil kita, memang panggilan itu diberikan dan mengakibatkan kita memiliki kehidupan yang kekal bersama-sama dengan Tuhan, tetapi Tuhan menempatkan kita masih hidup dalam dunia ini beberapa puluh tahun. Ada orang yang satu hari mungkin, ada orang yang tidak sampai satu hari, tapi ada orang yang memiliki waktu beberapa tahun, belasan tahun, sampai puluhan tahun dalam kehidupan mereka, untuk apa? Tuhan biarkan kita hidup di dalam dunia ini  dengan waktu yang cukup panjang tersebut, walaupun ada batasannya di dalam dunia yang sementara ini, saya percaya itu dengan tujuan supaya kita memperhatikan bagaimana hidup sebagai orang Kristen di tengah-tengah dunia ini untuk menyatakan kemuliaan dari pada nama Tuhan, atau istilah lainnya adalah ada suatu kaitan yang sangat erat sekali antara panggilan Tuhan dalam kehidupan sebagai orang Kristen dengan bagaimana cara kita menjalani kehidupan kita di dalam dunia ini. Karena Tuhan ketika memanggil kita, Tuhan memberikan karunia, anugerah dalam kehidupan kita untuk menjadikan kita sebagai manusia yang baru dan pada waktu kita sudah dilahir barukan sebagai manusia yang baru ini, Tuhan ingin kita menyatakan kehidupan yang sesuai dengan kehidupan kualitas manusia yang baru dalam dunia ini untuk disaksikan oleh manusia-manusia yang belum mengenal Tuhan Allah ditengah-tengah dunia ini.

Karena itu, pada waktu kita menjadi seseorang yang berkata ‘aku orang Kristen’, kita harus menghindari suatu kehidupan yang bersifat superficial. Maksudnya apa dengan superficial? Makanya di dalam, seperti misalnya dikatakan oleh Paulus kepada Timotius di dalam 2 Tim 3:7, Paulus berkata, “diantara jemaat,” memang di sini Paulus bilang ada sekelompok perempuan tapi saya percaya ini bukan hanya bicara perempuan, ini adalah salah satu contoh yang Paulus katakan kepada Timotius yang ada di dalam jemaat Efesus pada waktu itu, dan pelayanana dari pada Timotius. “Diantara jemaat-jemaat ada sekelompok orang yang walaupun ingin selalu diajar tapi mereka tidak pernah mengenal kebenaran.” Jadi, Bapak-Ibu, pada waktu orang-orang datang ke dalam gereja, orang-orang Kristen harus memiliki suatu kerinduan untuk bertumbuh di dalam kebenaran, saya percaya di dalam satu sisi, kerinduan hati mereka untuk mau diajar, dididik  adalah suatu kualitas yang penting dalam kehidupan orang Kristen. Kita perlu bertumbuh. Paulus berkata, di dalam surat-suratnya, ketika seseorang menjadi percaya dia pasti akan diperbaharui secara terus menerus di dalam akal budi dan pengetahuannya akan Tuhan Allah, dan di dalam Roma 12 sendiri berkata, “bagaimana kita bisa mengetahui apa yang baik, bagaimana kita bisa mengetahui apa yang  berkenan kepada Allah, bagaimana kita bisa mengetahui apa yang sempurna, apa yang menjadi kehendak Allah dan mana yang bukan kehendak Allah? Satu-satunya cara adalah kita bertumbuh di dalam pembaharuan budi, atau bertumbuh di dalam pengetahuan akan kebenaran firman dan pengenalan kita akan Tuhan Allah,” tanpa pertumbuhan kita tidak mungkin bisa mengenal apa yang menjadi kehendak Allah. Tanpa pengertian yang benar tidak mungkin mengerti apa yang baik dan apa yang tidak baik dalam kehidupan kita, apa yang sempurna, apa yang Tuhan sukai dan Tuhan tidak sukai dalam kehidupan kita, kita tidak mungkin akan mengetahui hal itu. Sehingga pertumbuhan itu menjadi hal yang penting dan kualitas yang harus ada dalam setiap diri dari pada orang Kristen.

Kalau pertumbuhan itu sesuatu yang penting, harus ada, harus terjadi secara terus menerus, lalu masalahnya di mana dengan orang-orang Kristen yang dilayani oleh Timotius ini? Saudara, masalahnya adalah pada waktu orang-orang Kristen ini diajar dan menerima pengajaran itu, mereka tidak pernah dapat mengenal kebenaran yang mereka pelajari itu. Itu yang menjadi masalah. Maksudnya adalah pada waktu kita memiliki hati untuk belajar dan jujur mau belajar firman sepertinya, digerakan untuk belajar firman, selalu ingin menyerap pemikiran-pemikiran Kristen yang baru, yang mereka belum mengerti sepenuhnya di dalam kehidupan mereka, tapi mereka tidak percaya kepada firman yang mereka terima tersebut sebagai suatu kebenaran. Mereka selalu berada di  dalam kondisi yang ragu-ragu terhadap kebenaran yang mereka terima dan mereka pelajari tersebut. Mungkin dalam hal “betulkah firman ini kalau saya taati bisa memberikan kebahagiaan dalam hidup saya, betulkah firman ini kalau saya lakukan itu bisa memberi, ini adalah suatu kebenaran yang sejati, betulkah firman yang saya pelajari adalah sesuatu yang bisa memberikan damai sejahtera dalam hati saya sesungguhnya, betulkah firman yang saya pelajari ini bisa memberikan suatu jaminan yang pasti sesuai seperti apa yang dikatakan oleh perkataan firman ini?” Saudara, selalu ada keraguan hati untuk bisa percaya pada apa yang mereka pelajari dan berpegang teguh pada firman yang mereka ketahui sebagai suatu kebenaran yang perlu dihidupi dalam kehidupan mereka. Salah satu sebab kenapa orang-orang Kristen mungkin atau non-Kristen juga tetap hidup di dalam kehidupan yang berdosa, itu mungkin karena mereka tidak melihat ada suatu kebahagiaan, kesenangan hidup ketika mereka meninggalkan dosa ini dan beralih untuk hidup taat di hadapan Tuhan Allah. Maksudnya adalah pada waktu mereka hidup dalam dosa dan terus bergelut di dalam dosa, apa yang menyebabkan? Mungkin dalam pemikiran mereka: “kalau saya tinggalkan dosa, maka saya tidak bisa hidup senang-senang lagi. Kalau saya tinggalkan dosa, saya tidak lagi memiliki kenikmatan hidup,” karena apa? Seolah-olah mengikut Tuhan itu adalah sesuatu kehidupan yang tidak menyenangkan, yang memberatkan, yang menyulitkan kehidupan kita. Sehingga, saya tidak mau lepas daripada masa lalu saya yang hidupnya dalam dosa sekarang ini untuk beralih kepada kehidupan yang benar.

Saudara, ini adalah suatu pergumulan yang di alami oleh Santo Agustinus. Pada waktu dia ingin bertobat dari seorang yang pezinah, hidup kumpul-kebo, menjadi seorang anak Tuhan. Pada waktu dia hidup di dalam dunia ini, di dalam pengakuannya sendiri, dia berkata, “aku adalah orang yang dikuasai oleh hawa nafsu, nafsu terhadap seks dan terhadap perempuan.” Hidupnya itu betul-betul dikuasai oleh nafsu itu. Lalu di dalam keadaan seperti ini, beberapa tahun sebelum pertobatannya, dia menyadari dalam hatinya bahwa kuasa nafsu itu adalah sesuatu yang tidak baik. Hidup bisa terlepas daripada kekuasaan hawa nafsu itu adalah sesuatu yang lebih baik daripada hidup yang bawah kuasa nafsu. Tapi, pada waktu dia menyadari ini, apa yang dia doakan? Dia doa seperti ini, “Tuhan tolong beri aku kekuatan untuk terbebas dari hawa nafsu ini, tapi Tuhan, jangan sekarang!” Saudara, seberapa sering kita berdoa seperti ini? Mungkin dalam doa kita meminta Tuhan menolong kita keluar daripada dosa, mungkin secara kata-kata, kita tidak berani sefulgar dari pada Agustinus, “Tuhan, tolong beri aku kekuatan untuk meninggalkan dosa ini, tapi jangan sekarang!” Mungkin kata-kata kita ngomong “Tuhan,  tolong berikan aku kekuatan untuk tidak jatuh dalam dosa ini, atau tidak bergelut, keluar dari dosa ini,” tapi dalam hati kita memungkiri kata-kata kita sendiri, kita ngomong, “Tuhan masih enak lho hidup dalam dosa ini, tolong jangan sekarang ya untuk membuat saya mematikan dosa ini dan meninggalkan dosa ini.” Ini yang terjadi dalam Agustinus punya kehidupan. Jadi, pada waktu Agustinus bergumul dalam kuasa nafsu itu, dia diikat dan dibelenggu oleh kuasa itu, dia ingin keluar, dia tahu ada sesuatu yang lebih baik pasti kalau saya terlepas dari kuasa ini. Tapi, pada waktu dia ingin lepas, dalam pemikirannya adalah “kalau saya sampai meniggalkan nafsu seks ini, nanti saya hidup sebagai orang Kristen, mungkin harus bertarak demi Tuhan Allah, maka itu akan membuat saya tidak bisa menikmati kehidupan seks yang menyenangkan ini lalu bagaimana?” Cara yang terbaik adalah jangan sekarang saya dibebaskan daripada kehidupan itu.

Tapi, Saudara, beberapa tahun kemudian dikatakan, pada waktu Agustinus sedang santai-santai, lalu dia mendengar suara yang berkata, “Ambil dan baca, ambil dan baca.” Lalu pada waktu Agustinus mendengar suara ini, dia mulai tergerak, dia menghubungkan itu mungkin adalah suatu panggilan Tuhan untuk membuka Alkitab dan membaca. Sehingga, dia kemudian bangun, dia mengambil Alkitab yang ada di dekatnya, Alkitab Perjanjian Baru. Lalu dia membuka Kitab Suci itu, pada waktu dia buka, dia membaca firman, atau kata-kata firman pertama yang ada di depan mata dia, yaitu Roma 13:14, disitu dikatakan,”Janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” Pada waktu dia membaca ini, lalu seketika dia merasa kelegaan dari Tuhan yang begitu besar yang menyelimuti hatinya. Ada sesuatu yang membuat dia punya kegelisahan selama ini itu hilang karena anugerah daripada Tuhan Allah itu. Sehingga apa yang menjadi bayang-bayang keraguannya untuk meninggalkan dosa kehidupan lamanya itu, itu bukan lagi menjadi sesuatu yang menghambat diri dia untuk beralih bertobat, mengikut Tuhan dalam hidup dia. Nah Saudara, pada waktu dia menjadi orang Kristen, pada waktu dia menyerahkan hidup sebagai seorang hamba Tuhan dalam melayani, apakah itu meniadakan kesukacitaan dia? Dia berkata, “ketika aku hidup sebagai seorang hamba Tuhan, seorang Kristen, aku telah dibebaskan daripada kehidupan nafsu lamaku dan itu adalah suatu sukacita kebebasan yang jauh lebih besar daripada penderitaan akibat tidak atau akibat menuruti hawa nafsu yang aku miliki.”

Saudara, pada waktu kita hidup sebagai orang Kristen, pada waktu kita dibebaskan oleh ikatan dosa, itu adalah satu sukacita yang lebih besar. Jangan pikir pada waktu kita dikuasai oleh dosa, oleh nafsu, oleh segala keinginan daging, itu adalah sukacita kenikmatan. Itu bukan sukacita. Mungkin sementara kita bisa menikmati hidup tetapi itu semua akan berujung kepada maut. Itu adalah sesuatu yang akan membawa kita terbelenggu dan tidak mungkin bisa keluar. Itu bukan sukacita. Saudara, yang bisa membuat kita sukacita adalah kita bisa berkata “Tidak” kepada apa yang kita sukai. Itu adalah satu sukacita yang besar. Kalau kita inginkan sesuatu, kita bisa menikmati itu, tapi pada waktu kita mau tidak mau melakukan itu, kita bisa ngomong “tidak”, itu adalah satu sukacita. Saya ambil contoh kayak gini, minum alkohol itu enak atau nggak? Bagi orang pemabuk mungkin enak, tapi sebenarnya nggak juga. Coba deh berhenti, bisa nggak? Sampai keluarganya hancur berantakan semua, tetap dia tidak bisa lepas daripada minuman-minuman keras tersebut. Itu bukan satu sukacita, itu menghancurkan dan merusak.

Saudara, di dalam Tuhan, kita punya satu kebebasan terhadap dosa. Nah itu adalah sukacita terbesar karena Tuhan karuniakan itu dalam kehidupan kita. Nah Agustinus bertobat dari keraguannya, dia semula ragu terhadap Tuhan, kebenaran Tuhan, yang bisa memberikan kebahagiaan dan sukacita, dan sekarang dia sudah menyadari dan mengalami sukacita dan kebahagiaan yang sesungguhnya di dalam kebenaran daripada firman Tuhan. Tapi orang-orang yang dilayani oleh Timotius ini belum. Pada waktu mereka mendengar firman, kebenaran Tuhan, mereka tetap tidak mau bertobat daripada dosa mereka. Mereka walaupun mengerti kebenaran, mereka tetap hidup di dalam satu kehidupan yang ragu-ragu terhadap kebenaran itu dan dikuasai oleh hawa nafsu dalam kehidupan mereka. Bapak, Ibu kalau baca ayat-ayat sebelumnya di dalam 2 Timotius itu, di situ bisa kita membaca, mereka tetap tidak mau menahan diri, mengekang diri, mereka tetap hidup di dalam nafsu kemarahan yang garang, mereka tetap memilih satu kehidupan yang tidak mau berdamai dengan orang lain, berselisih satu dengan yang lain. Saudara, intinya adalah mereka tetap memilih hidup di bawah, dikuasai hawa nafsu daripada hidup menuruti apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam, sesuai dengan firman yang mereka telah terima dan diajarkan kepada diri mereka. Nah ini adalah hal yang bahaya sekali dalam kehidupan orang Kristen.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mengerti firman, itu satu hal. Tetapi menundukkan diri di bawah kebenaran firman Tuhan, itu adalah hal yang lain. Mengerti firman dan mempedulikan firman itu adalah sesuatu hal yang berbeda. Ada orang-orang Kristen yang ketika mengerti firman, tahu firman, mereka abaikan kebenaran itu, mereka anggap itu adalah sesuatu pengetahuan yang tidak perlu menundukkan diri di bawah kebenaran itu. Dan mereka tidak terus mau digoyahkan terhadap kebenaran yang mereka telah terima sebelumnya. Itu adalah hal yang berbahaya sekali. Kalau ini kita lakukan, kita akan menjadi orang yang seperti Paulus katakan: Walaupun kita rajin beribadah kepada Tuhan, walaupun kita dibaptiskan di dalam Tuhan, walaupun kita sering tidak pernah absen di dalam kebaktian kepada Tuhan, walaupun kita aktif di dalam pelayanan kita di dalam gereja, tapi semua itu menjadi sesuatu yang tidak ada gunanya sama sekali. Saudara, itu hanya menjadikan kita hidup di dalam satu kehidupan munafik dalam dunia ini, di dalam gereja Tuhan dan Tuhan akan melihat itu sebagai sesuatu yang tidak bernilai di dalam kekekalan. Semuanya sia-sia. Karena apa? Paulus berkata: kita sedang beribadah tetapi kita memungkiri kuasa ibadah. Kuasa ibadah itu adalah sesuatu perubahan yang Tuhan lakukan dalam hati. Dan kalau kita hidup tidak sesuai dengan perubahan yang Tuhan karuniakan dalam kehidupan kita berarti ibadah kita tidak ada gunanya sama sekali. Itu seperti orang-orang yang beragama, yang beribadah kepada Tuhan tetapi ibadah mereka hanya dari luar yang lahiriah, yang dinyatakan dalam ibadah mereka tetapi bukan sesuatu pertobatan, kelahiran baru yang diakibatkan Tuhan di dalam hati mereka.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, dari apa yang Paulus katakan kepada Timotius dalam surat Timotius ini, kita dapat simpulkan ada orang-orang yang walaupun mereka memiliki agama dan beribadah kelihatannya kepada Tuhan, tetapi mereka tetap memiliki hati yang buruk, hati yang jahat di hadapan Tuhan. Dan kita sebagai orang Kristen bagaimana? Kita harus mejauhi orang-orang seperti ini, ini namanya disiplin gereja. Dan kita sendiri sebagai orang Kristen, yang mengerti kebenaran, kita tidak boleh hidup seperti orang yang hidup dengan cara seperti ini. Yang melayani Tuhan seperti menampilkan sesuatu yang baik di hadapan orang tetapi dalam hati tetap memelihara kejahatan dan dosa dan keburukan dalam hidup kita. Itu adalah hal yang sangat-sangat berbahaya sekali, sesuatu yang sangat-sangat dibenci oleh Tuhan Allah, apalagi kalau kita mengerti kebenaran pekerjaan Tuhan, yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Karena itu, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu Paulus masuk ke dalam Efesus pasal yang keempat, Paulus berkata: Sebagai orang Kristen, hal yang pertama kali kita harus lakukan setelah kita mengenal kebenaran dan menjadi orang Kristen itu apa? Menarik sekali ya, perkataan Paulus.  Paulus tidak berkata seperti ini: kalau engkau akan menjadi Kristen, maka mulai Minggu, engkau pergi ke gereja. Paulus juga tidak berkata: ketika engkau menjadi Kristen, maka mulai sekarang engkau harus rajin membaca Alkitab. Paulus juga tidak berkata, ketika engkau menjadi Kristen, maka sekarang engkau harus menjadi saksi Tuhan memberitakan Injil. Paulus juga nggak berkata, mulai sekarang kamu harus rajin-rajin berdoa di hadapan Tuhan. Saudara, saya bukan berkata, ini semua nggak penting. Maksudnya adalah, ‘Oh kalau Paulus nggak berkata kita perlu pergi ke gereja, kita nggak perlu baca Alkitab, nggak perlu berdoa atau memberikan saksi pemberitaan Injil, maka kita sekarang menjadi orang Kristen nggak perlu pergi lagi ke gereja lalu nggak perlu baca Alkitab, tidak perlu berdoa kepada Tuhan dan menyaksikan Injil’? Bukan seperti itu. Tapi Saudara, pada Paulus memanggil kita untuk menjadi orang Kristen, hal pertama yang Paulus ingin kita hidupi adalah, satu kehidupan yang diubahkan dari hati kita. Bagaimana sikap hati kita di hadapan Allah? Itu yang dituntut oleh Paulus. Makanya di dalam Efesus 4:2, Paulus berkata seperti ini, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera”

Saudara, rendah hati, lemah lembut, sabar, itu adalah sikap yang seperti apa? Saya percaya itu adalah satu sikap hati yang baru, yang Tuhan berikan bagi seorang yang sudah ditebus oleh Kristus. Paulus ingin kita memulai praktika kehidupan Kristen kita bukan dari apa yang kita tampilkan di luar pada orang tapi apa yang Tuhan ubahkan di dalam hati kita. Itu yang harus dialami terlebih dahulu. Saudara, kenapa Paulus tidak mengatakan, ‘Sekarang kamu sudah kenal kasih Tuhan, kamu sudah tahu bahwa engkau adalah orang-orang yang dipilih, kamu sudah tahu engkau adalah orang yang dulu berdosa, yang kemudian dilahirbarukan oleh Tuhan, dihidupkan kembali oleh Roh Kudus, dan sekarang kamu menerima karunia keselamatan dalam hidupmu, kamu dipersatukan dalam gereja Tuhan sebagai orang-orang Kristen dan non-Kristen di dalam Tuhan, itu adalah misteri Tuhan, kuasa Tuhan yang betul-betul Maha Kuasa, yang bekerja di dalam dirimu, karena itu mulai sekarang pergi ke gereja, nggak boleh bolos, berbakti kepada Tuhan, memuji Tuhan, melayani Tuhan dalam gereja, berdoa, baca Alkitab.’ Kenapa Paulus nggak katakan ini? Sebabnya karena pada waktu dia tekankan kepada hal-hal yang bersifat lahiriah ini, ada kemungkinan orang Kristen bisa mengira dirinya orang Kristen dengan melakukan hal-hal yang bersifat lahiriah itu. Saudara, tidak semua orang yang ke gereja adalah orang Kristen. Nggak semua orang yang baca Alkitab adalah orang Kristen. Nggak semua orang yang berdoa adalah orang Kristen. Dan nggak semua orang yang menyaksikan Injil adalah orang Kristen.

Di dalam surat Paulus kepada Filipi, di situ ada dikatakan: Ada orang-orang yang memberitakan Injil karena mereka memang percaya kepada kebenaran Injil. Tetapi ada orang-orang yang memberitakan Injil bukan karena mereka ingin memperluas Kerajaan Allah, karena mereka percaya, Injil adalah kekuatan Tuhan yang menebus dosa manusia, melepaskan manusia dari belenggu dosa, tetapi mereka memberitakan Injil untuk kecelakaan diriku, memperberat hukumanku di dalam penjara. Jadi adalah satu realita yang kita akan hadapi di dalam gereja Tuhan yang ada di dalam dunia ini. Nah Saudara, itu sebabnya, pada waktu Paulus memanggil orang percaya, dan meminta menasehatkan mereka untuk hidup sesuai dengan panggilan yang mereka miliki dan terima, hal pertama itu bukan kelakukan luar yang diperhatikan tetapi bagaimana sikap hati di dalam diri kita, itu yang diperhatikan dan diutamakan. Karena Tuhan ketika bekerja, Dia bukan bekerja untuk hanya mengubah luar tanpa memperhatikan dalam. Manusia di dalam bekerja selalu memperhatikan apa yang diperhatikan oleh manusia lain, tidak memikirkan kualitas yang ada di dalam hati itu seperti apa. Tetapi pada waktu Tuhan bekerja, Dia memikirkan dan melihat apa yang menjadi kualitas hati, apa yang menjadi motivasi seorang melakukan sesuatu tindakan, perbuatan, pelayanan di dalam hidupnya. Kalau Dia lihat hatinya jahat, walaupun pelayanan di hadapan manusia sepertinya baik, Tuhan tetap tidak akan perhitungkan itu sebagai satu kebenaran. Makanya di dalam Matius 5:20, kita baca sama-sama ya, Tuhan kasih satu peringatan yang keras sekali bagi orang-orang Kristen, murid Tuhan. Matius 5 ayat 20, “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Maksudnya apa Saudara?

Orang Farisi itu orang yang sangat ketat sekali di dalam   menjalankan hukum Tuhan. Mereka bahkan menambahkan peraturan-peraturan pada Taurat Musa sampai ratusan peraturan dan mereka berjalan untuk mentaati semuanya itu, menjaga itu semua. Saudara, dan kita dituntut untuk memilki hidup yang melampaui kesalehan hidup mereka, bagaimana caranya? Minggu orang Kristen suka jalan-jalan kan? Bahkan bekerja, mereka nggak lho. Orang yang suka menjahit, bawa jarum jahit aja itu dianggap melanggar Sabat. Orang yang mengalami kecelakaan di hari Sabat kalau itu tidak membahayakan nyawanya, dia nggak boleh ditolong, sampai hari berikutnya baru boleh ditolong. Saudara bisa tidak hidup seperti ini? Orang hari Sabat tidak boleh jalan lebih berapa langkah. Harus jalani perpuluhan, kalau belanja sesuatu mereka bukan hanya mikirkan gajiku yang aku berikan perpuluhan. Kalau mereka belanja sesuatu, hasil belanja itu mereka sisihkan sepuluh persen lebih untuk dibayar perpuluhan, kenapa? Takut kalau orang yang jualan itu nggak bayar perpuluhan. Saudara, coba hidup seperti ini ya. Boro-boro bayarin perpuluhan orang, bayar perpuluhan sendiri saja mungkin bolong-bolong. Ini mau bayarin perpuluhan orang. Dan Tuhan berkata, kalau engkau punya kehidupan keagamaan tidak lebih baik, tidak lebih benar dari kehidupan keagamaan daripada orang-orang Farisi engkau tidak akan masuk dalam Kerjaan Surga, maksudnya apa? Saya percaya ini bukan berbicara mengenai sesuatu perilaku luar yang harus kita tampilkan jauh lebih baik daripada orang-orang Farisi, walaupun itu juga harusnya menjadi kualitas kehidupan dari pada orang Kristen. Karena perilaku perbuatan bukan menjadi dasar seseorang itu dibenarkan dihadapan Tuhan Allah. Tapi Saudara, yang Tuhan Yesus ingin tegur adalah pada waktu orang-orang Farisi dan ahli Taurat itu menjalankan kehidupan kegamaan mereka, yang saleh itu, yang ketat itu, yang taat kepada peraturan-peraturan Tuhan itu, sebenarnya peraturan yang mereka taati itu bukan peraturan Tuhan, tetapi peraturan tambahan kepada hukum Tuhan, pertama. Kedua, pada waktu mereka menjalankan peraturan-peraturan yang merupakan peraturan-peraturan yang merupakan tambahan hukum Tuhan itu, mereka menjadi bangga dalam hati, mereka menjadi sombong di dalam hati, dan mengaku bahwa diri mereka adalah orang yang saleh, orang yang benar bahkan di hadapan Tuhan Allah sendiri. Ini yang menjadi masalah.

Kita bisa lihat ini dalam Matius 23, Tuhan mengecam kehidupan dari pada orang-orang Farisi ini ya, Matius 23:5, “Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang, mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang,” ayat 23, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” 25 sampai 28, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan ini maka sebelah luarnya juga akan bersih. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi disebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.” Saudara, pada waktu Tuhan Yesus berkata, kamu punya kehidupan keagamaan harus lebih benar daripada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, bukan dari hal luar yang kita tampilkan saja, tapi Tuhan Yesus ingin kita melihat kedalam hati kita. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka pikir mereka taat itu bisa mendapatkan satu manfaat penghormatan diri, penghargaan ke semua untuk memuasakan nafsu mereka. Orang Kristen tidak boleh seperti ini, orang Kristen harus melayani Tuhan, hidup di dalam ketaatan kesalehan didasarkan oleh pembaharuan yang dialami dari dalam hati. Itu baru berarti kita punya kehidupan keagamaan jauh lebih benar atau melampaui kehidupan kebenaran kehidupan keagamaan daripada orang-orang Farisi dan ahli Taurat.

Karena itu Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hal pertama bagi seorang Kristen untuk bisa memiliki kehidupan Kristen yang berjalan bersama dengan Tuhan yang berkenan di hadapan Tuhan, itu adalah sesuatu yang bukan dari kesombonga hati, tetapi dari kerendahan hati di hadapan Tuhan. Kerendahan hati untuk apa? Kerendahan hati untuk mau mengakui bahwa kita adalah orang yang memang tidak layak di hadapan Tuhan, dan kita adalah orang yang berdosa di hadapan Tuhan. Kerendahan hati untuk mau mengakui bahwa sepenuhnya kita memiliki kehidupan yang membutuhkan Tuhan dalam hidup kita. Kita tidak mungkin bisa hidup dengan baik, dan bahkan hidup dalam dunia ini sedetikpun kalau Tuhan tidak menopang kehidupan kita. Kita harus punya kerendahan hati untuk mau mengakui bahwa kekekalan pun itu adalah sesuatu karunia Tuhan bukan sesuatu yang kita bisa usahakan melalui kemampuan kita. Kita harus punya kerendahan hati untuk mau mengakui hak Tuhan atas ciptaan-Nya, hak Tuhan atas diri kita, atau kita harus mau menjadikan Dia sebagai Allah atau Raja, Tuan yang berkuasa atas hidup kita, baru disitu kita memiliki kehidupan yang rendah hati di hadapan Tuhan. Di dalam Matius 25, Tuhan Yesus ada berikan bocoran mengenai apa yang akan dilakukan Tuhan pada hari penghakiman terakhir nanti. Pada waktu hari penghakiman terakhir Tuhan akan duduk di atas tahta penghakiman-Nya. Lalu apa yang akan Tuhan hakimi? Saudara, perhatikan baik-baik. Pada waktu Tuhan menghakimi, Dia menuntut sesuatu daripada orang-orang percaya dan tidak percaya, Dia tidak pernah menuntut berdasarkan apa yang sudah kita lakukan dalam hidup kita, pencapaian-pencapaian seperti berapa banyak gelar yang engkau miliki. Tuhan tidak akan menuntut dari apa yang sudah engkau, karunia-karunia seperti apa atau talenta-talenta sehebat apa yang engkau miliki dalam dunia ini, yang tidak dimiliki oleh orang lain tapi engkau miliki itu. Tuhan juga tidak akan menuntut seberapa banyak bahasa yang engkau kuasai dalam dunia ini. Tuhan juga tidak akan menuntut seberapa banyak pengetahuan yang engkau miliki akan dunia yang Dia cipta ini. Tapi apa yang Tuhan tuntut, pada waktu kita berdiri di hadapan daripada pengadilan Tuhan? Saya percaya semua yang tadi dikatakan itu adalah hal yang dianggap penting oleh manusia, yang diutamakan oleh manusia. Berapa gelar kesarjanaan yang aku miliki, berapa banyak besar gaji yang aku terima, berapa banyak kemampuan yang aku miliki dalam dunia ini yang membedakan aku dari orang lain, berapa banyak pengetahuan yang aku miliki atau kecerdasan yang aku miliki, itu hal-hal yang sangat diutamakan sekali oleh manusia.

Tapi Saudara, pada waktu kita berdiri di hadapan tahta pengadilan Tuhan, Tuhan tidak akan menghakimi kita seperti manusia menghakimi kita. Tuhan akan menghakimi kita dengan cara yang berbeda dan itu semua yang dipandang penting manusia tidak akan diperhitungkan Tuhan dalam penghakiman terakhir. Lalu apa yang Tuhan perhitungkan? Tuhan berkata, apa yang engkau hidupi berdasarkan iman yang engkau nyatakan dalam kasih, itu yang akan diperhitungkan oleh Tuhan. Di situ kalau Saudara baca di dalam ayat 35, Tuhan Yesus berkata, “ketika Aku lapar engkau memberi Aku makan, ketika Aku haus engkau memberi Aku minum, ketika Aku sebagai orang asing engkau memberi Aku tumpangan,” itu yang akan diperhitungkan oleh Tuhan Allah. Tapi ada yang menarik, orang-orang ini berkata, “aku tidak pernah lakukan itu, kami tidak pernah lakukan itu kepada Engkau.” Lalu Tuhan Yesus berkata, “apa yang engkau lakukan bagi seorang anak yang kecil ini, engkau sudah lakukan bagi Aku.” Saudara, saya percaya ini adalah satu sikap iman, yang dinyatakan dalam kasih, karena ada satu pembaharuan yang Tuhan lakukan dalam kehidupan hati seseorang. Kenapa begitu? Karena kalau Saudara bandingkan dengan orang yang kambing-kambing, kelompok kambing itu, mereka melihat perbuatan mereka itu sebagai sesuatu yang bisa diandalkan, ditinggikan, dan dikemukakan sebagai satu pembelaan di hadapan Tuhan Allah, sedangkan orang-orang Kristen ini, yang baik, umat Allah ini, tidak pernah menggunakan itu, kebaikan yang mereka lakukan sebagai satu pembelaan di hadapan Tuhan Allah. Berarti pada waktu mereka lakukan satu kebaikan, kebaikan itu adalah didasari oleh satu perubahan hati, hati yang rendah hati di hadapan Tuhan, bukan hati yang menyombongkan diri di hadapan Tuhan.

Saudara, Ini dikatakan di dalam Matius 19 dan Matius 18. Pada waktu Tuhan Yesus sedang berjalan, lalu ada orang-orang tua yang membawa anak-anaknya kepada Tuhan Yesus Kristus untuk ditumpangkan tangan dan didoakan. Pada waktu murid-murid lihat orang banyak membawa anak-anak, mereka mungkin merasa risih ya, lalu mereka berkata, “Jangan dekat-dekat Tuhan, tidak boleh engkau dekat-dekat Tuhan.” Tetapi pada waktu Yesus melihat itu, Yesus berkata, “Jangan halangi mereka untuk datang kepada-Ku, karena orang-orang yang seperti inilah yang empunya kerajaan Allah.” Lalu yang dimaksud ‘orang-orang seperti inilah, anak-anak inilah, yang empunya kerajaan Allah’ itu apa? Kita dapat jawabannya di dalam Matius 18:2-4. Di situ pada waktu murid-murid bertanya kepada Yesus, “Siapa yang terbesar di dalam kerajaan Allah?” Yesus memanggil seorang anak kecil datang lalu menempatkan anak ini di tengah-tengah mereka, lalu apa yang Yesus katakan? “Jika kamu tidak bertobat dan tidak menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan Sorga,” lalu di dalam ayat 4 bilang apa? “Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam kerajaan Sorga.” Jadi pada waktu Tuhan memanggil seorang anak kecil lalu mengatakan menjadi seperti anak kecil inilah baru kita bisa masuk ke dalam kerajaan Sorga, maksudnya adalah menjadi orang seperti apa? Bukan seperti anak kecil yang jiwanya kecil itu, tetapi menjadi seorang anak kecil yang dikatakan sebagai orang yang rendah, orang yang lemah, orang yang tidak berarti, orang yang selalu bergantung kepada orang lain atau orangtuanya baru bisa hidup dalam dunia ini. Saudara, coba lihat anak kecil, bisa nggak dia hidup sendiri tanpa pertolongan orangtua? Saya yakin tidak bisa, dia butuh pertolongan orangtua, dia butuh belas kasih orangtua, diabutuh bantuan dari orangtua baru dia bisa memiliki kehidupan dalam dunia ini. Waktu kita lihat anak kecil, mampukah mereka melakukan sesuatu yang dilakukan orang dewasa? Pasti tidak mungkin, mereka lemah kok. Kadang-kadang saya lihat anak saya sudah besar mengangkat galon air saja masih belum kuat, masih kecil walaupun tubuhnya besar karena otot itu belum terbentuk semua. Saudara, mereka betul-betul lemah dan bergantung kepada orangtua. Dan sebagai anak kecil bagaimana? Coba perhatikan, apa yang dikatakan orangtua mereka pasti dengar dan lakukan, ikuti, mereka percaya apa yang dikatakan orangtua itu sebagai sesuatu kebenaran. Saudara, Tuhan ingin kita menjadi seorang anak Tuhan yang seperti anak kecil ini, maksudnya adalah kalau kita mengikut Tuhan lalu di dalam kehidupan kita tidak ada satu kerendahan hati untuk mengakui firman Tuhan itu kebenaran dan percaya total pada firman Tuhan itu sebagai sesuatu kebenaran maka kita tidak akan masuk ke dalam kerajaan Sorga. Kalau kita dalam kehidupan kita, kita merasa diri kita kuat, kita mampu, kita tidak butuh pertolongan Tuhan sama sekali, kita pasti bukan anak Tuhan yang berada di dalam kerajaan Sorga. Kalau kita adalah orang-orang yang merasa diri kita adalah orang yang bisa terlepas dari bantuan Tuhan untuk kita bisa menjalani hidup di dalam dunia ini, dan termasuk kehidupan kekal, maka kita bukan orang yang ada di dalam kerajaan Sorga. Saudara, “jadilah seperti anak kecil,” Tuhan Yesus berkata, milikilah kerendahan hati di hadapan Tuhan, jangan gantungkan diri dengan kemampuan dirimu, kekuatan dirimu, dan hawa napsumu, hal-hal yang dipentingkan oleh manusia, tapi pentingkanlah suatu perubahan penundukan hati di hadapan Tuhan Allah daripada yang lain. Ini adalah kunci hidup sebagai orang Kristen. Ini bisa dikatakan sebagai standar pengukur seorang itu adalah seorang Kristen atau tidak, karena Yesus Kristus sendiri berkata, “Aku adalah Seorang yang lemah lembut dan rendah hati,” ini adalah kualitas dari pada Tuhan.

Saudara, tapi disamping itu, kerendahan hati bukan hanya sikap kita di hadapan Allah saja, saya yakin orang yang punya kerendahan hati dia punya kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Orang yang sombong akan mengakibatkan perpecahan dalam kehidupan ini, tetapi orang yang rendah hati mempunyai kualitas untuk menyelesaikan masalah. Saya tanya, relasi manusia umumnya, perselisihan yang ada di dalam keluarga, di dalam hubungan suami-isteri, di dalam hubungan berelasi dengan teman atau orang lain itu karena apa? Kenapa ada masalah? Kadang-kadang kita cuma lihat masalah ada tetapi kita tidak selidiki akar masalahnya itu apa, apa yang menjadi akar masalah perselisihan di dalam hubungan suami-isteri, apa akar masalah perselisihan di dalam keluarga antara ayad dan anak atau antara anak dengan anak, apa akar perselisihan antara seorang dengan orang yang lain, apa yang jadi akar masalah? Ayo coba akui dengan jujur. Mau diakui kan? Mau dihargai lebih dari orang lain, mau dihormati lebih daripada orang lain, nggak mau mengakui diri berdosa dan kalau kita salah. Istilah lainnya adalah egoisme diri, kesombongan diri, itu yang menjadi akar permasalahan di dalam kehidupan manusia pada umumnya. Itu sebabnya kalau orang mengerti kerendahan hati dia mengerti mendahulukan orang lain, dia mengerti segala sesuatu dalam hidup ini adalah karena belas kasih dari pada Tuhan Allah dan anugerah Tuhan Allah dalam kehidupan dia, bukan sesuatu yang berarti yang ada dalam diri dia, saya yakin dia tidak akan meninggikan diri dan mendahulukan diri daripada orang lain, tapi dia akan lebih mengutamakan orang lain daripada kepentingan diri dia sendiri. Nah itu adalah akar penyelesaian masalah. Saya lihat terhadap film Blue Blood, ada seorang detektif, satu keluarga semuanya polisi, dari komisaris polisi sampai detektif, ada yang jaksa penuntut, ada polisi yang patroli di jalan. Lalu ada detektif ini yang berkata, dia ada masalah keluarga, “aku adalah orang yang pekerjaannya adalah menyelesaikan masalah, ada masalah apa aku akan selidiki, aku akan cari solusinya itu apa dan aku bisa menyelesaikan semua masalah dari pekerjaanku, tapi terus terang untuk masalah keluargaku aku tidak tahu cara menyelesaikannya itu bagaimana.” Saudara, kadang kita mahir untuk menyelesaikan urusan-urusan di luar karena apa? Tidak berkaitan dengan harga diri kita. Tapi begitu kita berelasi dengan orang lain, pasangan kita, saudara kita, teman kita, harga diri ini bicara, nah itu yang seringkali menghalangi kita untuk memperbaiki suatu relasi yang rusak dengan orang lain. Saudara, kualitas pertama sebagai anak Tuhan adalah memiliki kerendahan hati, dan itu berdampak pada kesatuan, bukan perpecahan. Itu yang pertama.

Kedua adalah lemah lembut. Paulus di sini dikatakan kita perlu memiliki sikap lemah lembut. Lemah lembut itu apa? Saya pikir kalau kita berbicara mengenai lemah lembut, hal yang mungkin terlintas pertama kali dala pemikiran kita, walaupun kita adalah orang Kristen, adalah: “bagaimana mungkin saya memiliki sikap lemah lembut dalam dunia ini, dunia ini keras, dunia ini penuh dengan kepentingan diri, egoisme diri, dunia ini adalah dunia yang memanfaatkan celah sekecil apapun dari pada diri orang lain untuk kepentingan mereka, kalau saya bersikap lembut, saya bersikap lemah lembut itu maka saya bisa-bisa dimanfaatkan oleh orang lain dan saya akan ditindas, ditekan oleh orang lain demi untuk kepentingan orang lain, bagaimana seorang yang lemah lembut bisa hidup di dalam dunia yang keras ini, yang egois ini, yang mementingkan diri?” Saudara kalau kita pikir bahwa lemah lembut itu sama dengan lemah, lemah lembut itu berarti saya adalah orang yang mudah ditindas dan ditekan, lemah lembut itu berarti saya adalah orang yang mudah dimanfaatkan oleh orang lain, saya percaya kita punya satu konsep pemahaman yang salah dan berbeda dari Alkitab. Karena Alkitab tidak pernah menyamakan lemah lembut itu sama dengan lemah, sama dengan suatu sikap yang mudah ditekan dan ditindas oleh orang lain. Kalau begitu apa itu lemah lembut? Istilah lemah lembut itu sendiri dalam bahasa Yunani itu adalah praus, praus itu artinya apa?

Kita bisa mengerti dalam dua hal. Pertama adalah dalam pengertian yang digunakan oleh Aristoteles, Aristoteles berkata praus itu adalah suatu sikap kebajikan yang ada di tengah dua sifat lain yang ekstrim kiri dan ekstrim kanan, ekstrim lebih dan ekstrim yang kurang. Kualitas kebajikan yang ada di tengah-tengah itu adalah lemah lembut. Contohnya dalah seperti ini, kalau seorang pemberani, siapa yang dikatakan sebagai pemberani? Aristoteles berkata pemberani itu adalah orang yang punya sikap diantara penakut dan keberanian yang membabi buta, itu adalah orang yang berani. Lalu siapa orang yang pemurah? Pemurah itu adalah orang yang memiliki sifat diantara orang yang kikir dengan orang yang tidak menghargai harta miliknya, yang memfoya-foyakan itu, itu adalah orang yang pemurah. Lalu siapa orang yang lemah lembut? Orang yang lemah lembut itu adalah sifat diantara orang yang sama sekali tidak bisa marah dengan orang yang pemberang, maksudnya apa? Aristoteles berkata maksudnya adalah orang yang lemah lembut adalah orang yang marah pada keadaan yang benar, orang yang marah kepada orang yang benar, orang yang marah pada momen yang benar, dan orang yang marah untuk lama waktu yang benar. Bisa nggak Saudara? Orang yang marah pada keadaan yang benar, orang yang marah pada orang yang benar, orang yang marah pada waktu yang benar, orang yang marah sesuai dengan lama waktu yang benar. Saya pikir ini ada bagian kebenaran yang seturut Kitab Suci, misalnya Tuhan berkata engkau boleh marah, tapi hendaklah kemarahanmu jangan engkau simpan sampai matahari terbenam. Jadi ada waktunya itu, saya pikir ada kebenarannya di situ.

Dan William Barclay itu menambahkan seperti ini, “kalau segala sesuatu itu dikatakan sesuai dengan waktu yang benar, keadaan yang benar, pertanyaannya adalah, kapan waktu yang tepat untuk kita marah, dan kapan waktu itu salah untuk kita marah? Kapan itu?” Dia berkata seperti ini, “Kalau kita marah ketika seseorang menghina kita dan melukai kita, maka kemarahan kita itu adalah selalu tidak benar. Tapi kalau kita marah karena perlakuan orang lain yang melukai orang lain dan menyakiti orang lain, menghina orang lain, maka kemarahan kita itu hampir selalu benar.” Maksudnya adalah, kenapa? Kalau kita marah untuk diri kita maka kemarahan kita itu biasanya bersifat kemarahan egois. Betul nggak? Ulangi ya. Sama-sama ya. Marah untuk diri adalah marah yang egois dan itu adalah dosa, marah untuk orang lain, adalah marah yang benar, karena itu bukan marah yang egois. Jangan cuma dengar ya, jangan cuma tahu, tapi coba terapkan itu karena ini adalah kebenaran firman. Segala sesuatu yang kita lakukan untuk kepentingan diri pasti salah. Umumnya salah. Tapi kalau kita lakukan untuk kepentingan orang lain itu bukan sesuatu yang muncul dari kepentingan diri, egoisme diri, tapi untuk kebaikan orang lain. Biasanya seperti itu, dan itu baik dipandang oleh Tuhan Allah. Ini pengertian pertama, praus berarti sifat yang ada di tengah-tengah antara dua sifat yang ekstrim, baik itu yang lemah, ataupun yang lebih baik.

Lalu yang pengertian kedua praus itu adalah satu sikap yang seperti seekor hewan yang sudah dijinakkan, seekor hewan yang tunduk di bawah kontrol dari pada tuannya, seekor hewan yang berperilaku baik, itu adalah praus. Atau kadang-kadang juga praus itu digunakan untuk menggambarkan para bangsawan yang duduk di dalam satu posisi yang tinggi di dalam sebuah kedudukan masyarakat. Saudara kalau perhatikan para bangsawan bertingkah laku biasanya lembut, sopan. Kita bukan ngomong hati ya, tapi paling tidak penampilan di luar seperti itu, beretika, seperti itu. Dan Tuhan ingin kita punya hati seperti ini yang sopan, yang lembut, yang beretika itu. Itu adalah praus. Ini pengertian yang kedua. Tapi Alkitab juga di dalam berbicara mengenai kelemah lembutan ini, Alkitab memberikan satu konteks untuk memberikan kita pengertian arti lemah lembut itu apa, yang merupakan pengertian yang ketiga, yaitu pada waktu Tuhan berkata engkau harus menjadi seorang yang lemah lembut, maka lemah lembut itu lebih merupakan sikap yang kita nyatakan secara vertikal kepada Tuhan Allah, bukan kepada manusia. Maksudnya adalah, pada waktu kita dikatakan sebagai orang yang lemah lembut, itu berarti kita haruslah menjadi orang yang mau menundukkan diri kepada Allah dan percaya kepada Allah. Kita haruslah menjadi orang yang terbuka hati kita untuk mau menerima teguran dari pada firman Tuhan dan belajar dari pada teguran firman Tuhan, itu adalah orang yang lemah lembut. Tapi pada waktu dia adalah orang yang lebih memilih menundukkan diri di hadapan Allah, membuka diri terhadap teguran firman Tuhan dalam kehidupan dia dan disiplin Tuhan dalam kehidupan dia, dia juga sekaligus menjadi orang yang begitu tegar terhadap orang lain dan begitu berani bisa terhadap orang lain.

Saudara, ada contoh yang Alkitab katakan, misalnya dalam kehidupan Musa. Di dalam kitab Bilangan 12, pada waktu Musa itu di-komplain oleh saudaranya sendiri, Miriam dan Harun, mereka bukan cuma meng-komplain ya, mereka melakukan pemberontakan terhadap Musa karena Musa mengambil seorang perempuan Kush untuk menjadi isterinya. Mereka berkata seperti ini, “siapa yang berkata hanya Musa saja yang menerima perkataan Tuhan? Kami juga adalah orang-orang yang Tuhan berkata-kata kepada kami.” Maksudnya adalah, “kami seperti Musa. Tuhan berbicara dengan kami seperti Tuhan berbicara kepada Musa. Kenapa kamu harus mendengarkan Musa saja? Dengarkan diri kami juga.” Pada waktu Musa mengetahui hal ini, apa yang dilakukan oleh Musa? Pada waktu itu Musa tidak bela diri, dia cuma diam, lalu dia serahkan perkara itu kepada Tuhan Allah. Makanya di situ dikatakan Tuhan ketika mengetahui perkataan ini, apa yang Tuhan lakukan? Tuhan berkata Musa itu adalah orang yang memiliki hati yang paling lemah lembut dibandingkan semua orang yang lain. Saudara, orang yang lemah lembut adalah orang yang mau menyerahkan perkara dia di hadapan Tuhan dan meminta pembelaan itu dari pada Tuhan Allah dalam kehidupan dia, dia nggak akan bela diri. Tetapi di saat yang sama, apakah dia gampang ditindas? Saudara tahu, dia bukan orang yang begitu gampang ditindas, dia bahkan berani berdiri di hadapan seorang raja yang merupakan penguasa dunia terbesar pada waktu itu, Firaun, untuk mengatakan pada dia, “bebaskanlah umat Allah dan biarkan mereka untuk pergi berbakti kepada Tuhan Allah.” Saudara, ini adalah orang yang lemah lembut. Jadi lemah lembut itu jangan diidentikkan dengan satu sikap yang lemah, gampang ditindas, yang tidak berani, mudah dimanfaatkan oleh orang lain. Bukan. Tapi lemah lembut itu adalah satu kelembutan sikap hati kita yang mau berdiam diri di hadapan Allah, yang mau mendengarkan suara Tuhan dalam kehidupan kita, mau mendengarkan teguran Tuhan dalam kehidupan kita, dan mau mengubah diri kita seturut dengan apa yang Tuhan kehendaki. Itu adalah lemah lembut. Mirip dengan rendah hati. Orang yang rendah hati akan menuju kepada kelemah lembutan di dalam  kehidupan dia. Dan pada waktu dia adalah orang yang lemah lembut sekaligus dia adalah orang yang demi mempertahankan iman, dia akan berani berdiri di hadapan orang lain, bukan dimanfaatkan dan ditekan oleh orang lain.

Tapi Saudara harus hati-hati. Jangan mengira kalau begitu saya boleh mengatasnamakan kebenaran untuk menyalahkan semua orang. Jangan berarti saya boleh menggunakan, mengatasnamakan firman Tuhan untuk menjatuhkan orang lain atau menghakimi orang lain. Orang yang lemah lembut adalah orang yang akan lebih melihat pada keberanian untuk mempertahankan iman di hadapan orang atau musuh atau lawan, bukan di dalam menekan orang lain dengan kebenaran. Tapi orang yang lemah lembut akan merendahkan diri dia seperti orang yang berdosa yang lain untuk membawa mereka ke dalam kebenaran Tuhan. Itu orang yang lemah lembut. Saudara kalau lihat orang berdosa, apa yang kita akan lakukan biasanya? Kalau Saudara lihat ada orang yang melanggar perintah Tuhan, apa yang kita biasa lakukan? Mungkin kita akan langsung hakimi ya? “Kamu dosa lho. Tidak boleh lakukan itu. Itu salah. Kamu harus bertobat.” Saya tanya, orang itu bertobat nggak? Biasanya nggak, kan? Biasanya dia akan ngerasa kita kok jahat sekali, ya. Walaupun kita ngomong kita atas nama kebenaran, di mana kasihnya? Saudara, tapi bagaimana kalau kita belajar untuk memposisikan diri bukan sebagai orang yang ada di atas orang itu, tapi kita memposisikan diri sama seperti orang itu yang sama-sama berdosa di hadapan Tuhan, yang sama-sama membutuhkan karunia Tuhan Allah, pada waktu kita memposisikan diri seperti ini dan kita berelasi dengan orang itu, apa yang kita akan lakukan? Saya pikir kita akan lebih berbelas kasih kepada orang itu dari pada kita menghakimi orang itu dan kita akan bisa membawa untuk mengerti kesulitan dia kepada Tuhan Allah dari pada kita menghakimi orang itu, dan ini sering kali bisa lebih memenangkan orang dari pada kalau kita hanya menunjukkan kesalahan-kesalaha orang. Saudara, lemah lembut itu bukan berbicara dengan kemampuan kita untuk menghakimi orang, tetapi keberanian kita untuk menyatakan diri kita berdosa dan butuh pertobatan. Itu adalah orang yang lemah lembut.

Saudara, saya harap ini menjadi satu firman yang boleh membawa kita melihat kembali keadaan hati kita sebenernya yang bagaimana di hadapan Tuhan Allah. Selama ini kita merasa diri kita orang yang benar, tapi dalam hati kita sering kali menyangkali firman Tuhan, kebenaran-Nya, atau kita belajar untuk menggunakan hati kita di hadapan Tuhan untuk menundukkan diri kita di bawah kebenaran Tuhan demi untuk dinyatakan di kehidupan kita di hadapan manusia yang lain atau tidak. Itu adalah satu kualitas yang harus kita miliki sebagai anak-anak Tuhan. Saya stop di sini, ya. Kita akan lanjutkan dengan kualitas yang lain di dalam pertemuan berikutnya. Mari kita masuk dalam doa.

Kami bersyukur kembali untuk firman yang boleh Engkau beritakan. Kami bersyukur kembali, Bapa, untuk kualitas-kualitas iman yang Engkau boleh nyatakan dalam hidup kami. Sesuatu yang kami sadari tidak mungkin kami capai dengan kekuatan dan kemampuan diri kami sendiri, tetapi sesuatu yang hanya bisa kami miliki karena anugerah Tuhan. Dan pada waktu kami berusaha hidup, berjalan sesuai dengan kualitas iman itu, kami juga menyadari bahwa kami sering kali jatuh di dalam dosa, jatuh di dalam satu kehidupan yang bertolak belakang dengan kualitas iman yang Engkau nyatakan ini, tapi itu kembali, Tuhan, menyadarkan kami, kalau bukan karena anugerah-Mu, bukan karena pertolongan-Mu, bukan karena cinta kasih dan kekuatan Engkau, kami tidak mungkin bisa memiliki kualitas-kualitas Kerajaan Allah di dalam kehidupan kami. Tapi tolong kami, ya Tuhan, beri kami kekuatan, beri kami kemampuan, beri kepada kami hati yang rendah hati, hati yang lemah lembut untuk mau dibentuk oleh Tuhan Allah, untuk bisa berjalan dalam tengah-tengah kehidupan dunia ini, seturut dengan apa yang Tuhan kehendaki, sehingga nama Tuhan boleh dipermuliakan. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami bersyukur dan berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *