Kesempurnaan dan Kedewasaan Iman, 26 Nov 2017

Ef. 4:13

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu Tuhan mengaruniakan para gembala dalam gereja, waktu Tuhan mengaruniakan para hamba Tuhan, baik itu rasul, nabi, penginjil, gembala, pengajar dalam gereja, mereka ada dalam gereja itu memiliki tujuan tertentu yang Tuhan ingin capai melalui diri mereka; dan tujuan itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan dari pada tubuh Kristus, pembangunan dari pada Gereja, atau setiap dari kehidupan orang-orang Kristen yang ada di dalam Yesus Kristus. Pada waktu kita berbicara mengenai orang Kristen akan dibangun, orang Kristen harus bertumbuh di dalam tubuh Kristus itu, apa yang menjadi alat yang Tuhan sediakan atau karuniakan dalam gereja untuk bisa membangun pertumbuhan dari pada gereja itu?

Paulus berkata di dalam Kisah [Para Rasul] 20:32, ketika dia berada di Miletus, dia ingin pergi ke Roma dan mungkin tidak bisa kembali lagi melayani dari pada jemaat yang ada, dia kemudian memanggil orang-orang yang merupakan tua-tua gereja dari Efesus untuk datang ke Miletus dan di situ Paulus berbicara kepada tua-tua gereja itu. Lalu yang Paulus sampaikan itu adalah seperti ini, dia berkata, “Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya.” Jadi pada waktu Paulus harus pergi meninggalkan tua-tua jemaat, pada waktu Paulus harus pergi meninggalkan jemaat yang dia layani selama ini dalam kehidupan dia, Paulus sadar satu hal, dia nggak bisa berbuat apapun lagi kepada jemaat tersebut, lalu bagaimana dia melihat jemaat ini, bagaimana dia bisa hidup dengan satu ucapan syukur terhadap jemaatnya, bagaimana dia bisa memiliki suatu kedamaian untuk meninggalkan jemaatnya tersebut? Paulus berkata dia menyerahkan jemaat itu ke dalam firman Tuhan, kasih karunia firman; dan dari kasih karunia firman jemaatnya itu diserahkan baru dia sadar jemaat itu bisa bertumbuh.

Jadi pada waktu kita mau mengalami suatu pertumbuhan di dalam iman maka pertumbuhan di dalam iman itu tidak mungkin bisa terlepas dari firman Tuhan, firman itulah yang memberikan karunia kedewasaan di dalam kita mengikut Kristus, kedewasaan di dalam gereja, kedewasaan di dalam setiap pribadi dari pada anak-anak Tuhan, kita tidak boleh abaikan itu sama sekali. Dan ini juga yang membuat Paulus kemudian berkata seperti ini: setiap hamba Tuhan yang baik, setiap hamba Tuhan yang setia di hadapan Tuhan, dia harus memiliki kesadaran akan pentingnya firman, pentingnya doktrin, pentingnya suatu kerinduan untuk bertumbuh di dalam kehidupan diri dia sendiri. Jadi dia bukan hanya menuntut orang lain untuk bertumbuh, bukan hanya menuntut orang lain untuk mengenal firman, tetapi dia sendiri harus memiliki kerinduan yang besar akan firman Tuhan dan kerinduan yang besar untuk mempertumbuhkan imannya di dalam kebenaran firman atau kedewasaan di dalam iman dia berdasarkan firman yang dia mengerti itu. Tetapi tidak hanya sampai di situ, Paulus kemudian berkata kitapun harus hidup di dalam kebenaran dari pada firman yang Tuhan sudah wahyukan dan kita mengerti di dalam kehidupan kita sebagai seorang pelayan Tuhan. Jadi pada waktu seorang gembala atau seorang pemimpin gereja mengajarkan kebenaran firman, maka Paulus berkata kita juga harus berani untuk dinilai oleh orang; dan kita ketika harus berani dinilai oleh orang disitu juga pasti ada suatu tuntutan terhadap diri yang menuntut diri untuk hidup sesempurna mungkin, sebaik mungkin di dalam iman yang kita ajarkan kepada jemaat yang adalah domba-domba Allah. Ini adalah sesuatu yang Paulus sendiri terapkan di dalam kehidupan dia. Pada waktu dia menulis surat kepada jemaat Tesalonika, Paulus berkata seperti ini, “Kamu adalah saksi, dan Allah juga adalah saksi bahwa aku adalah seorang yang hidup dengan kehidupan yang betapa saleh, betapa adil, betapa tak bercacatnya, dan kami berlaku diantara kamu orang-orang percaya dan kamu bisa menilai akan kehidupan yang kami miliki itu yang begitu berusaha untuk kudus di hadapan Tuhan.”

Saudara, Paulus dengan begitu beraninya menantang jemaat untuk menguji kehidupan yang dia lakukan di dalam Tuhan. kenapa Paulus begitu berani menantang jemaat untuk menguji kehidupan dia sendiri? Saya pikir ini bukan sesuatu yang berbicara mengenai seseorang hamba Tuhan yang sombong bisa hidup kudus seperti orang Farisi, saya percaya ini bukan sesuatu yang untuk dibanggakan di hadapan manusia supaya kita dihormati, dihargai, dibenarkan, dan kita punya posisi itu disanjung begitu tinggi sekali; tetapi yang Paulus inginkan kita mengerti adalah ketika dia hidup kudus, saleh, tidak bercacat sama sekali, dia ingin jemaat dari para tua-tua gereja, pengurus gereja, majelis gereja, dan seluruh jemaat meneladani kehidupan dia yang kudus dan tidak bercacat sama sekali. Nah ini yang Paulus katakan ketika dia menulis surat kepada Titus, dia memberi pesan kepada Titus, “Kamu harus membangun jemaat, baik itu tua-tua, suami, isteri, di dalam Tuhan, dan kamu sendiri harus hidup secara tidak bercacat di hadapan jemaat dari pada Tuhan Allah. Kita buka bersama ya, Titus 2:7-8, kalau Bapak-Ibu bacca dari ayat 1-6 di situ ada nasehat-nasehat yang Tuhan berikan kepada jemaat yang Titus layani melalui Paulus dengan mengatakan, “Kamu harus memberikan ajaran yang sehat, laki-laki yang tua hendaknya hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih, dan dalam ketekunan. Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baikdan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang. Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal,” dan ayat 7 dikatakan, “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Saudara, saya lihat ini adalah sesuatu yang Tuhan kehendaki dari kehidupan anak-anak Tuhan. Dimulai dari seorang pemimpin yang menjaga kehidupan yang kudus, yang tidak bercela sama sekali, untuk membuat orang tidak bisa menghina nama Tuhan Allah kita; lalu kemudian diteladani oleh majelis, pengurus dari pada gereja, pemimpin dari pada gereja untuk memiliki kehidupan yang sungguh-sungguh tidak bercacat sehingga tidak bisa dikecam atau dicela oleh orang-orang dunia; lalu seluruh jemaat Tuhan juga harus memiliki suatu kehidupan yang sama seperti teladan yang diberikan oleh seorang pemimpin dari pada gereja Tuhan.

Saya percaya ini adalah hal yang Tuhan sendiri kehendaki untuk ada di dalam gereja, dan kalau itu adalah sesuatu yang Tuhan kehendaki sendiri untuk dimiliki oleh setiap anak-anak Tuhan, dengan mengaruniakan para pelayan, orang-orang yang menjadi pemimpin dalam gereja untuk memperlengkapi iman kita, saya percaya kita sebagai anak-anak Tuhan juga harus memiliki satu kerinduan untuk memiliki suatu kehidupan yang kudus dan tak bercacat sama sekali, dan mennjadikan diri kita teladan bagi orang lain di dalam mengikut Kristus. Saudara, saya lihat seringkali kita sebagai orang Kristen adalah orang yang suka berkata, “Kamu harus percaya Kristus,” tapi pada waktu kita mengajak mereka untuk percaya Kristus, mereka tidak bisa melihat satu kehidupan yang sungguh-sungguh bisa menjadi teladan dalam diri kita sendiri, lalu bagaimana kita bisa membawa orang kepada Kristus? Saya seringkali merenungkan satu hal, pada waktu kita mengajak seseorang kepada Kristus, pernah tidak kita berpikir, kenapa ya kadang-kadang sulit sekali membawa orang kepada Kristus atau membawa orang kepada gereja? Sulit sekali memperkenalkan mereka kepada Allah yang sejati dalam kehidupan kita, apa yang menjadi masalah di situ? Apakah karena memang orang itu tidak dipilih oleh Tuhan? Saya pikir itu adalah satu jawaban yang sangat membela diri supaya kita bisa membenarkan diri kita, orang yang kita ajak untuk mengenal Kristus tidak bisa percaya, tidak mau datang, karena dia tidak dipilih oleh Tuhan. Tetapi coba kita pikirkan lebih baik, pada waktu kita membawa seseorang kepada Tuhan, kita pernah berpikir tidak, orang itu juga melihat kehidupan kita sebagai orang Kristen bagaimana; apakah kita punya kehidupan itu memiliki integritas sebagai orang Kristen? Apakah kita punya kehidupan itu bisa dipercaya? Di dalam Persekutuan Doa kita membahas “apa yang engkau katakan iya itu adalah iya, dan apa yang tidak engkau katakan tidak dalam kehidupanmu” misalnya. Pada waktu kita hidup sebbagai orang Kristen apakah perkataan kita sungguh-sungguh bisa dipegang oleh mereka sebagai suatu kebenaran yang dibuktikan melalui kehidupan kita yang sesuai dengan perkataan kebenaran yang kita beritakan? Kalau mereka tidak bisa melihat semua kebenaran itu dalam kehidupan kita, kita mengajak mereka untuk hidup mengasihi Tuhan, hidup di dalam satu kesucian, hidup dalam suatu ketaatan, tapi mereka lihat kita sendiri tidak terlalu menngasihi Tuhan, tidak menuntut hidup yang kudus, yang tidak bercacat, dan ketaatan tidak ada dalam kehidupan kita, bagaimana kita bisa membbawa orang mengenal Kristus dan hidup di dalam takut akan Tuhan Allah? Ini yang membuat Paulus menekankan kepada pemimpin gereja, Paulus tekankan pada Titus, Paulus tekankan pada hamba-hamba Tuhan, dan pada pengurus dan seluruh jemaat Tuhan untuk bisa memiliki integritas hidup sehingga orang dunia tidak memiliki alasan untuk menghina atau menghujat Tuhan Allah kita dan mengatakan kita adalah orang yang tidak bisa dipercaya, atau nggak usah ikut Kristus yang menjadi Tuhan Allah kita.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau Tuhan ingin kita tumbuh menuju kepada kekudusan, saya pikir kita harus mempunyai kerinduan untuk tumbuh kepada kekudusan; kalau Tuhan ingin kita bertumbuh di dalam pengenalan kita akan Kristus yang semakin limpah dengan doktrin yang semakin benar, tepat seperti yang Tuhan inginkan, kita harus punya kerinduan untuk bertumbuh di dalam kebenaran firman sesuai yang Tuhan nyatakan bagi diri kita, kalau itu tidak kita kejar dalam kehidupan kita, itu berarti kita tidak memiliki hati seperti hati Tuhan dalam kehidupan kita sebagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Dan sekali lagi saya katakan, Tuhan ingin kita bertumbuh kepada kesempurnaan. Tapi pada waktu kita diminta bertumbuh pada kesempurnaan, yang menjadi pertanyaan adalah sempurna seperti apa? Apakah setiap orang ketika bertumbuh menuju kesempurnaan maka setiap orang itu akan bertumbuh menuju kepada sesuatu posisi yang sama, derajat yang sama dalam kehidupan mereka yang satu dengan yang lain. Saya percaya sekali pada waktu Alkitab menggambarkan umat percaya, orang Kristen itu sebagai Tubuh Kristus; Tubuh yang memiliki anggota yang berbeda-beda satu dengan yang lain dan gambaran karunia yang berbeda-beda dalam kehidupan kita.

Kita sudah bahas karunia orang Kristen satu dengan yang lain itu tidak sama, itu menunjukkan bahwa pertumbuhan masing-masing orang Kristen menuju kepada kesempurnaan itu pasti berbeda antara satu dengan yang lain. Semuanya menuju harus bertumbuh. Semuanya harus bertumbuh kepada satu kesempurnaan; tetapi kesempurnaan yang satu dengan yang lain itu berbeda antara orang Kristen satu dengan orang Kristen yang lain. Misalnya ambil contoh seperti ini. Tuhan memberikan kemampuan kepada orang Kristen yang satu tapi tidak kepada orang Kristen yang lain. Tuhan menugaskan orang Kristen yang satu untuk melakukan suatu fungsi tertentu, tugas tertentu dalam kehidupan dia, orang Kristen yang lain tidak melakukan tugas itu; tidak dikasihkan tanggung jawab itu dalam kehidupan mereka. Lalu bisa tidak orang yang diberikan tanggung jawab menuntut kepada orang yang tidak diberikan tanggung jawab untuk melakukan hal yang sama dengan diri dia? Saya percaya itu tidak bijaksana sekali. Nah orang yang tidak diberi tanggung jawab juga tidak bisa menuntut diri untuk melakukan apa yang menjadi tanggung jawab orang lain; tapi masing-masing belajar bertumbuh sesuai dengan karunia yang Tuhan berikan kepada masing-masing orang dan belajar mempertumbuhkan diri menuju pada satu kedewasaan sesuai dengan tanggung jawab masing-masing yang Tuhan berikan dan membentuk diri orang-orang itu sesuai dengan Tuhan bentuk diri dia. Nah ini adalah apa yang Tuhan ingin capai dalam kehidupan orang Kristen. Kita tidak bisa menuntut keseragaman di dalam gereja, karena memang Alkitab berkata orang Kristen yang satu dengan yang lain tidak mungkin seragam satu sama lain. Kalau ada satu gereja yang mengajarkan kita harus bertumbuh menuju kepada keseragaman, itu pasti bukan ajaran Alkitab.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita bertumbuh menuju kepada kesempurnaan itu, saya mau tanya, yang menjadi poin utama yang harus kita kejar itu apa? Kalau Tuhan menghendaki kita bertumbuh dalam kesempurnaan, maka poin utama yang harus kita capai dalam kehidupan kita itu apa? Saya percaya yang harus kita capai itu adalah kesempurnaan itu sendiri, bukan pada hal-hal lain yang Tuhan karuniakan di dalam gereja; apakah itu adalah karunia-karunia yang ada di dalam diri orang Kristen atau pemimpin-pemimpin yang ada di dalam gereja yang Tuhan berikan dalam gereja. Tetapi semua yang ada itu, apakah karunia, pemimpin yang ada di dalam gereja yang Tuhan berikan, itu semua hanya sebagai sarana untuk kita bertumbuh menuju kepada kedewasaan iman. Saya ulangi lagi ya, di dalam catatan Kitab Suci, Tuhan sudah memberikan ada umat-umat Kristen yang jatuh di dalam kesalahan menekankan sesuatu hal; apa yang mereka anggap penting ternyata itu bukan sesuatu yang penting menurut Tuhan, tapi apa yang Tuhan anggap penting itu menjadi sesuatu yang tidak penting dalam kehidupan mereka.

Misalnya ambil contoh, pada waktu kita melihat kepada jemaat Korintus, jemaat Korintus itu begitu mengagungkan pemimpin yang ada di dalam gereja. Ada yang berpihak pada Petrus, ada yang berpihak pada Paulus, ada yang berpihak pada Apolos, ada yang bahkan berkata kami adalah kelompok dari pada Kristus sendiri. Maksudnya apa? Mereka mau mengatakan dengan pemimpin-pemimpin yang mereka ikuti di dalam dunia ini, di dalam gereja, itu mengindikasikan status rohani atau derajat kerohanian mereka di dalam dunia atau di dalam gereja. Kalau mereka melihat pemimpin itu begitu hebat, begitu dipakai Tuhan, maka itu menunjukkan saya punya kerohanian atau gereja itu punya kerohanian lebih tinggi dari pada pemimpin lain yang mungkin kurang begitu hebat dibandingkan pemimpin yang kita ikuti. Lalu pada waktu mereka melihat kepada karunia yang mereka terima dari Tuhan, yang mereka lakukan apa? Mereka tidak melihat karunia itu sebagai satu sarana pertumbuhan bagi jemaat, tapi mereka melihat karunia itu adalah milikku; maka aku berfokus pada karunia itu dan pada waktu aku berfokus pada karunia itu aku makin mengejar karunia yang berkaitan dengan kepentingan diri dan bukan berkaitan dengan kepentingan seluruh jemaat. Makanya di dalam Korintus itu dikatakan, orang-orang Korintus berpusat pada berbicara bahasa roh, padahal Paulus berkata itu adalah karunia yang paling rendah karena itu lebih banyak fokus pada diri dari pada fokus pada jemaat. Tapi kenapa engkau tidak mengejar karunia untuk bernubuat, karena itu lebih fokus pada keseluruhan dari pada jemaat Tuhan dan tidak hanya memikirkan diri sendiri. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini yang terjadi di dalam jemaat gereja mula-mula.

Pada waktu Tuhan memberikan karunia, Tuhan memberikan pemimpin dalam gereja, tujuannya adalah supaya kita memakai karunia itu, supaya kita memakai pemimpin yang Tuhan berikan dalam gereja untuk kita bisa bertumbuh secara rohani menuju pada kedewasaan di dalam iman, kesempurnaan di dalam iman kita dalam Kristus; bukan menjadikan mereka atau karunia kita itu menjadi hal yang membuat kita bisa menyombongkan diri dan meninggikan diri kita. Mereka semua adalah sarana; tapi kalau kita tidak bisa melihat tujuan utama kehidupan orang Kristen adalah untuk kesempurnaan iman, pertumbuhan di dalam kedewasaan kita di dalam Kristus, maka mungkin kita bisa terjebak di dalam hal yang terjadi di dalam jemaat Korintus; kita tidak tahu arah, kita tidak tahu tujuan kehidupan kita, kita tidak tahu kenapa kita hadir di dalam gereja untuk berbakti, kita tidak tahu kenapa kita harus bergabung dan masuk ke dalam satu gereja lokal tertentu. Yang kita pikir adalah kita ada di sini karena kita memang mungkin penting di situ. Memang kita penting; Alkitab berkata setiap orang Kristen itu punya peran masing-masing di dalam gereja, dan peran itu tidak bisa digantikan oleh orang Kristen yang lain yang ada di dalam gereja itu, sehingga itu berarti kita penting.Dan lebih lagi adalah, Kristus sendiri menjadikan keberadaan kita itu adalah sesuatu yang sepertinya membuat diri Dia bergantung kepada kita yang adalah jemaat gereja. Maksud saya adalah, bukan Dia bergantung kepada kita, tapi Dia membuat diri-Nya sepertinya terikat dengan diri kita dan membutuhkan diri kita dan melalui apa yang kita pertumbuhkan dalam kehidupan iman kita, kita bisa memberi sesuatu kepada Kristus. Dari mana ini kita lihat? Dari gambaran Dia adalah kepala dan kita adalah tubuh. Berarti kepala itu tidak bisa terlepas dari pada tubuh, dan tubuh ini memiliki satu peran tertentu di dalam bagian pekerjaan yang kepala kehendaki. Nah ini yang saya katakan, Tuhan sendiri yang sebenarnya tidak membutuhkan manusia, membuat diri Dia sendiri sepertinya terikat kepada jemaat, tubuh Kristus, orang-orang percaya; sehingga dari situ orang-orang percaya bisa turut berbagian di dalam apa yang Tuhan kehendaki dalam dunia ini, yaitu bertumbuh menuju kedewasaan seperti yang Tuhan kehendaki.

Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya lihat ini harus menjadi sesuatu yang sekali lagi dikatakan, kita rindukan dalam kehidupan kita, kita ingin kejar, kita ingin capai dalam kehidupan kita. Kita harus tahu sasaran itu adalah pertumbuhan iman. Jangan alihkan itu kepada hal-hal yang lain. Saya katakan sering kali gunakan juga contoh dalam keluarga. Pada waktu suami istri menikah, yang ingin dibangun dalam keluarga itu apa? Ayo, pernikahan itu yang ingin dibangun apa? Saya dipuaskan karena saya punya keinginan akan orang yang saya cintai itu bisa terkabulkan dan apa yang menjadi kekurangan saya itu bisa dipenuhi oleh orang itu yang merupakan pasangan saya? Apa yang menjadi tujuan dalam sebuah pernikahan? Yang mau dicapai? Saya yakin yang mau dicapai itu adalah, seperti yang Tuhan katakan yang nanti kita bahas dalam Efesus pasal 5; menjadikan keluarga kita sebagai gambaran dari pada cinta kasih Kristus kepada jemaat dan ketaatan jemaat kepada Kristus. Itu yang harus kita capai dalam pernikahan. Nah kalau itu berbicara mengenai cinta kasih Kristus kepada jemaat dan ketaatan Kristus kepada jemaat, itu berbicara mengenai relasi yang ada di dalam kehidupan keluarga. Suami mewakili Kristus, istri mewakili jemaat. Kalau ini menyatakan cinta kasih Kristus kepada jemaat dan ketaatan jemaat kepada Kristus, itu menyatakan bahwa suami dan istri harus memiliki relasi yang intim, relasi yang erat satu sama lain dan tidak boleh diganggu oleh orang ketiga. Orang ketiga itu siapa? Anak pun orang ketiga. Banyak orang tua yang melihat, saya tujuan pernikahan adalah punya anak lalu setelah punya anak adalah cintaku kepada suami dan istri beralih kepada anak semua. Akibatnya apa? Biasanya hubungan keluarga itu menjadi retak. Relasi suami istri ndak akrab satu sama lain. Yang mempertahankan mereka tetap ada bukan karena mereka punya kualitas cinta kasih seperti yang Kristus inginkan, tetapi karena ada anak di dalam keluarga. Itu nggak sehat sama sekali. Saudara, kita harus mengerti yang menjadi tujuan itu apa. Baru dari situ kita bisa fokuskan kepada yang menjadi tujuan itu. Dan kita bisa melihat apa yang menjadi sarana yang kita disediakan Tuhan bagi kita untuk mencapai tujuan itu, dan kita tidak akan menjadikan sarana itu sebagai tujuan dalam kehidupan kita. Yang dilakukan oleh jemaat Korintus adalah dia nggak bisa melihat sarana yang Tuhan berikan, karunia pemimpin untuk mencapai pertumbuhan menuju kedewasaan, tetapi mereka melihat sarana dan pemimpin itu menjadi tujuan yang harus mereka kejar dan mereka miliki dalam kehidupan mereka. Makanya mereka kemudian mengejar itu dan ketika mereka mendapatkan itu mereka kemudian meninggikan diri lalu menyombongkan diri di atas kehidupan orang Kristen yang lain. Saudara, ini semua adalah hal yang bertentangan dengan firman Tuhan.

Ingat baik-baik, Tuhan adalah kepala kita, kita adalah tubuh. Di dalam tubuh ada yang tangan, ada yang jari, ada yang kaki, ada yang jari kaki. Lalu di dalam tubuh itu ada darah yang mengalir untuk menghidupi seluruh bagian dari pada organ tubuh kita, yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Nah Tuhan ingin kita memiliki pengertian ini. Maksudnya adalah, setiap bagian itu punya peran masing-masing, punya fungsi masing-masing, punya pertumbuhan masing-masing yang tidak bisa digantikan oleh orang lain yang harus bertumbuh sesuai dengan kehendak dari pada kepala yaitu Yesus Kristus sendiri menuju kepada kesempurnaan. Saudara, saya ambil contoh mungkin seperti ini ya. Rambut kita kan bisa tumbuh panjang, sampai meteran panjangnya. Mungkin tidak kita meminta bulu hidung kita tumbuh seperti rambut kita? Itu namanya kelainan genetik ya, cacat. Kalau kita punya bulu hidung itu tumbuhnya cuma beberapa centi, ya sudah stop di beberapa centi itu; dan kalau rambut kita bisa tumbuh sampai meteran ya sudah, biarlah tumbuh sampai meteran. Dan yang namanya bulu hidung nggak bisa komplain kepada rambut, kenapa kamu tumbuh begitu panjang; yang rambut nggak bisa komplain kepada bulu hidung, kenapa kamu begitu pendek, kamu harusnya jadi seperti saya. Bulu hidung bilang, nggak, kamu yang harus jadi seperti saya. Maka itu mengakibatkan keributan di dalam tubuh Kristus. Kita masing-masing punya kesempurnaan sendiri. Kesempurnaan kita itu dari mana penentuannya? Dari Kristus yang memberikan itu dalam kehidupan kita; dan kita harus mengejar menuju kepada kesempurnaan itu, dan ini baru namanya kesempurnaan.

Saudara, kalau saya ilustrasikan lagi mungkin seperti kalau kita melihat ini ya, lautan yang luas, lalu pada waktu kita lihat lautan luas kita ingin membawa wadah untuk mengisi air laut itu. Ada orang yang bawa wadah seperti segelas cangkir ini yang kecil, ada yang satu botol aqua yang satu liter. Ada yang mungkin satu jirigen yang 4 galon itu. Lalu ketika mereka bawa air itu masukkan ke dalam wadah itu, air itu penuh ngggak? Yang cangkir penuh, yang botol aqua penuh, yang galon juga penuh, masing-masing penuh, bahkan bisa meluber keluar dengan suatu karunia berkat yang begitu limpah, tapi masing-masing penuh sesuai dengan porsi mereka masing-masing, ini namanya sempurna. Jadi, pada waktu kita mengerti ini, saya yakin sekali orang Kristen yang satu dengan orang Kristen yang lain mulai bisa menghargai peran masing-masing orang, mereka bukan menimbulkan iri hati dalam kehidupan mereka, tetapi mereka bisa justru menerima keberadaan orang Kristen lain untuk bisa melengkapi hidup mereka, dan diri mereka melengkapi kehidupan daripada orang lain, Kristen lain, sehingga sama-sama bertumbuh menuju kepada kesempurnaan itu. Makanya, Paulus di dalam bagian tentang menuju kepada kesempurnaan, saya nggak akan bosan ulangi ini ya, Paulus selalu tekankan ‘kesempurnaan itu nggak mungkin bisa terlepas dari tubuh,’ kesempurnaan itu nggak mungkin bisa terlepas daripada komunitas orang percaya. Kalau kita melepaskan bagian dari komunitas orang percaya, itu berarti kita tidak mengerti kesempurnaan yang Tuhan kehendaki melalui sarana gereja Tuhan atau tubuh Kristus yang lain, atau orang percaya yang lain yang ada dalam gereja Tuhan.

Nah, ini membuat kita bisa berkata seperti ini; kalau orang mau ke gereja harus diingatkan terlebih dahulu oleh hamba Tuhan, kalau orang mau melayani harus dibujuk-bujuk terlebih dahulu untuk suatu pelayanan dalam kehidupan dia maka itu artinya apa? Kemungkinan besar orang ini tidak mengerti dia adalah orang yang berbagian di dalam tubuh atau gereja Tuhan, dia tidak mengerti mungkin bahwa dia adalah orang yang terikat dengan Tubuh sebagai anak Tuhan, dia pikir diri dia bisa terlepas  dari Tubuh, tetapi pada waktu dia terlepas dari Tubuh dia masih berpikir bahwa dia adalah orang yang penting, yang harus dihargai dan dihormati, padahal Alkitab bilang keberadaan kita yang penting dan berharga adalah suatu keberadaan yang tidak mungkin terlepas dari dan tanpa Tubuh, tetapi ada di dalam Tubuh. Kalau kita melepaskan diri dari tubuh lalu kita menganggap kita penting, maka kita jatuh ke dalam kesalahan jemaat Korintus yang pikir bisa ada sendiri, nda perduli dan tidak perlu orang Kristen yang lain dalam kehidupan mereka tetapi mereka punya karunia yang besar dari Tuhan yang bisa menolong mereka bertumbuh di dalam iman dan punya peran penting di dalam gereja Tuhan, ini bukan sesuatu yang Alkitab ajarkan. Sekali lagi, Tuhan ingin kita bertumbuh di dalam tubuh, bukan diluar tubuh dan dari situ baru kita bisa mendapatkan sesuatu apa yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan kita seperti yang Tuhan kehendaki.

Saudara, kalau ini yang menjadi tujuan kita, ini yang menjadi pengertian kita, saya percaya kita akan melihat posisi dan jabatan di dalam  gereja bukan sesuatu yang sangat utama sekali. Menjadi pemimpin, orang yang ditunjuk sebagai hamba Tuhan, dipanggil Tuhan, atau majelis gereja perlu tidak? Perlu, untuk apa? Pertanggungjawaban pelayanan. Tetapi, pada waktu kita melihat pada posisi itu, kita juga harus mengerti satu hal, posisi dan jabatan tidak menjadi sesuatu yang utama sekali yang harus kita kejar di dalam sebuah gereja Tuhan, karena pertumbuhan kita tidak pernah di dasarkan pada jabatan atau posisi kita di dalam gereja, tetapi kita harus bertumbuh di dalam masing-masing sesuai dengan porsi yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita, nah ini yang harus kita capai di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen di dalam dunia ini.Dan kalau kita mengerti hidup kita harus bertumbuh di dalam kesempurnaan itu, saya tanya; mungkin tidak kita mensia-siakan waktu kita dalam dunia ini? Saya yakin sekali, kita akan lihat waktu itu begitu berharga sekali yang Tuhan karuniakan dalam kehidupan kita, dan setiap waktu yang kita dikaruniakan itu berusaha untuk kita pertumbuhkan di dalam iman kita, itu yang akan terjadi. Pada waktu kita melihat ini adalah tujuan Tuhan, mungkin tidak, kita tidak memiliki kerinduan akan firman Tuhan? saya yakin itu juga tidak mungkin. Kita akan belajar untuk bertumbuh berdasarkan firman dan menggumulkan firman Tuhan  dalam kehidupan kita.

Dan makanya di dalam bagian ini, Efesus 4:13, ketika Paulus berkata; “sampai kita semua telah mencapai kesempurnaan dan kedewasaan iman,” kesempurnaan dan kedewasaan iman itu tidak bisa lepas dari 2 hal:pertama adalah kesatuan iman dan kedua adalah pengetahuan yang benar tentang Anak Allah. Saudara, ini adalah 2 hal yang harus kita miliki, kesatuan iman berarti apa? Kesatuan pasti itu tidak terlepas dari tubuh. Iman berarti apa? Iman saya lihat, itu berkaitan dengan ketaatan kita kepada apa yang kita percayai. Di dalam kita Yakobus itu ada kalimat, “iman tanpa perbuatan, pada hakikatnya adalah mati.” Jadi, kalau kita berkata ‘saya percaya kepada Kristus, saya percaya kepada setiap ajaran yang Kristus ajarkan dalam kehidupan saya,’ tapi saya tidak lakukan itu lalu beralasan ‘saya nggak mampu melakukan itu,’ Saudara, jangan sekali-sekali gunakan itu sebagai alat untuk membenarkan diri dan mengatakan diri kita sebagai tetap anak Tuhan. Saya di dalam Persekutuan Pemuda kemarin dan juga di dalam KTB di Atmajaya, saya bilang seperti ini: kita berani mengaku saya percaya Tuhan, Kristus, begitu kan? Pertanyaan adalah apakah iblis juga mengaku percaya kepada Kristus? Alkitab berkata “iya.” Saya percaya Kristus, sebagai orang Kristen, iblis percaya pada Allah juga atau kepada Kristus, dia tahu dia beriman, tetapi kenapa yang satu disebut sebagai iblis dan kenapa yang satu disebut sebagai anak Allah? Apa yang membedakan kita sebagai anak Allah, yang punya iman sebagai anak Allah dan iblis yang punya iman tetapi disebut sebagai iblis, apa yang membedakan? Alkitab bilang iblis adalah bapa pendusta yang tidak pernah tundukan diri dibawah kehendak Tuhan Allah yang selalu ingin berontak kepada Tuhan Allah. Tapi saya bagaimana? Kita bagaimana sebagai orang Kristen? Ada ketaatan tidak? Saya pikir ketaatan kita seringkali dinilai berdasarkan apa yang bisa kita lakukan, bukan apa yang Tuhan ingin bentuk dari kehidupan kita yang tidak bisa kita lakukan dan pada waktu kita ingin dibentuk oleh Tuhan dari sisi yang yang kita tidak bisa lakukan, umumnya adalah kita berontak, kita mggak mau tunduk, kita tidak mau ijinkan Tuhan dan firman-Nya itu mengubah bagian daripada kehidupan kita yang tidak mau, yang Tuhan ingin bentuk tersebut.

Saudara, pada waktu ini terjadi, pertanyaan saya adalah kita masih berani tidak mengatakan kita anak Allah? Saya tahu, selama keselamatan itu anugerah, saya juga bukan berkata dengan begitu gampang ‘orang yang tidak bisa menundukan diri pasti bukan anak Allah.’ Tetapi kita punya hak untuk membenarkan diri kita dengan memikirkan apa yang kita bisa lakukan untuk mengatakan saya anak Allah, lalu berusaha menutupi apa yang kita tidak bisa lakukan dan anggap itu seperti tidak ada dalam kehidupan kita. Ingat Yakobus itu mengkomparasi kita dengan iblis, anak Tuhan atau orang Kristen dengan iblis, lalu yang dikomparasi berdasarkan apa? Apa yang dilakukan oleh anak Kristen sebagai buah iman, perbuatannya itu yang dilihat untuk mengkomparasikan kita dengan iblis. Kalau iblis memberontak melawan Tuhan, kita nda mau tundukan diri kita di bawah apa yang jadi perintah Tuhan, berarti kita ini juga pemberontak. Berarti kita juga nggak mau tundukan diri di bawah Kristus, padahal anak-anak Allah adalah orang-orang yang mengasihi Kristus atau mengasihi Allah dan kasih kepada Allah itu ditandai dengan ketaatan pada peraturan Tuhan, ini adalah hal yang sangat serius sekali dan Paulus ingin kita sebagai orang Kristen itu bertumbuh menuju kepada kesatuan iman, berarti bahwa kita sama-sama di dalam tubuh Kristus, kita belajar untuk menundukan diri kita di bawah kebenaran daripada hukum Tuhan dalam kehidupan kita. Kita belajar menundukan ego kita, keinginan kita apa yang bertentangan dengan Tuhan dalam kehidupan kita di bawah apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam kehidupan kita, dari situ kita baru bertumbuh di dalam kesatuan iman dan dari situ kita baru bisa bertumbuh kepada kesempurnaan di dalam iman dan di dalam Kristus sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan kita.

Ada satu hal lain yang saya bisa katakan, berkaitan dengan tubuh dan kehidupan Kristen kita pribadi dan kenapa kita harus ada di dalam Tubuh.Karena kita setiap manusia itu punya blind spot, saya yakin kita punya blind spot, maksudnya adalah ada sisi dari kepribadian kita yang kita pikir baik atau yang kita tidak lihat sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan firman Tuhan dan karakter Kristus tapi ada dalam diri kita yang kita nggak bisa lihat tetapi orang lain lihat.Lalu pada waktu itu dilihat oleh orang lain, disitulah mungkin pemrosesan Tuhan bagi kehidupan kita itu menjadi sesuatu yang lebih penting melalui orang lain itu dalam kehidupan kita. Nah, Saudara, untuk bisa menjadi lebih dewasa adalah kita butuh orang Kristen lain, kita butuh terang firman, dan kita butuh kerendahan hati.Kalau saya tahu kebenaran, saya merasa saya nggak butuh orang lain, pasti nggak berubah. Kalau saya tahu kebenaran, saya tahu saya butuh orang lain, tapi saya ngggak mau rendah hati untuk mengakui kesalahan saya dan kekurangan saya berdasarkan orang lain yang ada di dalam kehidupan kita yang Tuhan ijinkan ada dalam kehidupan kita, kita juga pasti nggak akan bertumbuh. Jadi, saya percaya ini adalah 3 hal yang harus ada dalam kehidupan Kristen: Kebenaran firman supaya kita tahu arah kita bertumbuh ke arah mana; orang Kristen yang lain untuk menolong kita untuk bisa bertumbuh melalui diri mereka yang Tuhan pakai untuk mengubah karakter kita, menunjukan karakter kita yang tidak baik, yang tidak sesuai dengan Kristus dalam kehidupan kita, perlu bertumbuh di dalam kesatuan iman.

Yang kedua adalah perlu bertumbuh di dalam pengetahuan akan anak Allah.Nah ini bicara mengenai tadi, kebenaran. Kalau kita tidak pernah mengerti siapa itu Yesus Kristus, kalau kita tidak pernah tahu Dia adalah Allah yang sejati, Tuan diatas segala allah yang ada, kalau kita nggak pernah tahu bahwa Dia adalah Yang datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita, untuk mengambil rupa yang sama seperti diri kita yang adalah manusia, mungkin tidak kita bisa datang kepada Kristus dan mengharapkan keselamatan daripada diri Dia? Saya yakin kita nggak mungkin akan melakukan itu. Nah, kalau kita juga tidak mengerti bahwa Dia adalah Allah yang inkarnasi dan mengerti seluruh dari kesulitan kita, kelemahan kita, kekurangan kita, dosa-dosa kita, bagaimana kita juga bisa datang dan mengharapkan pertolongan dari pada Dia?Jadi kita perlu mengerti Dia adalah Allah yang Mahakuasa yang memang sanggup menolong kita, tapi kita juga perlu mengerti bahwa Dia adalah Allah yang mengerti kekurangan kita dan kesusahan hidup kita, kelemahan kita dan dosa-dosa kita untuk membuat kita bisa datang kepada Dia dan percaya Dia mampu menolong kita dan Dia paling mengerti apa yang menjadi kebutuhan kita, kita nggak mungkin datang kepada Dia dalam iman.

Tapi, Saudara, Alkitab juga berbicara, pada waktu kita mengenal Allah yang di dalam Kristus itu, misalnya kita juga perlu mengenal apa maksudnya Dia adalah Raja kita, Nabi dan Imam kita. Ini adalah bagian yang harus kita mengerti. Dia sebagai Nabi, berarti di dalam mulutNya ada kebenaran firman Tuhan; Dia sebagai Imam, berarti Dia harus membawa diri sebagai korban persembahan untuk mempersembahkan hidup Dia yang benar dan kudus di hadapan Allah sehingga kita bisa dibenarkan di dalam Dia; Dia sebagai Raja berarti Dia memiliki hak atas kehidupan kita. Kalau kita nggak mengerti ini, mungkin nggak kita mau tundukkan diri kita di bawah Kristus – yang sudah memberi kita dengan bayaran nyawanya sendiri supaya kita tidak perlu lagi dihukum oleh dosa atau di bawah kuasa maut untuk bisa taat kepada Dia sebagai Raja kita? Pasti itu nggak mungkin kita lakukan.

Nah Saudara, yang ketiga adalah, pada waktu kita belajar mengenai pengetahuan tentang Allah, saya lihat, pengertian yang penting yang perlu kita pertumbuhkan di dalam jemaat bukan suatu kehidupan yang dimuliakan saja seperti Kristus dimuliakan, tetapi kehidupan inkarnasi Kristus sendiri itu harus menjadi sesuatu yang kita mengerti dalam hidup kita dengan baik. Saya ada bahas ini di dalam kelas STRIY ya. Pada waktu kita berbicara, Allah inkarnasi menjadi manusia, maka apa yang dilakukan oleh Tuhan Allah? Dia pertama adalah, yang adalah Allah, Dia mengambil rupa sama seperti manusia, yang Dia sebenarnya tidak perlu ambil rupa seperti manusia. Yang kedua adalah Dia kemudian merendahkan diri untuk memilih lahir di dalam kandang domba. Padahal Dia sebagai Allah dan Raja tidak perlu memilih lahir dalam kendang domba, tapi Dia memilih untuk lahir di tempat yang paling rendah, yang ditolak dan tidak diinginkan oleh manusia. Lalu apa yang Dia lakukan lagi? Dia yang adalah Allah, yang membuat hukum peraturan yang harus ditaati oleh ciptaan, menundukkan diri Dia di bawah peraturan dan hukum yang Dia buat sendiri. Saya yakin ini bukan sesuatu yang mudah. Lalu setelah itu, Dia bukan hanya menundukkan diri di bawah hukum yang Dia buat sendiri, Dia kemudian merelakan diri Dia untuk menderita ditolak oleh umatNya sendiri. Lalu apa yang Dia lakukan lagi? Dia kemudian nggak cukup sampai situ, Dia rendahkan diri Dia lagi sampai harus menanggung murka Allah di kayu salib, demi kita umat yang Bapa-Nya pilih untuk diselamatkan.

Saudara, saya lihat ini adalah unsur yang harus kita betul-betul mengerti sebagai orang percaya. Dan kita perlu, mungkin, merenungkan itu satu bagian demi satu bagian supaya kita bisa sungguh-sungguh memiliki karakter Kristus dalam kehidupan kita. Kita umumnya berkata, “Saya tahu Tuhan inkarnasi.” Untuk apa? “Untuk menyelamatkan saya dari dosa saya.” Tapi mohon tanya, apa arti inkarnasi? Yesus jadi manusia, begitu? Betul. Inkarnasi itu adalah Allah jadi manusia. Tapi apa arti sesungguhnya inkarnasi? Kalau Bapak, Ibu mau tahu, penjabaran daripada step-step perendahan diri yang Kristus lakukan, itu artinya inkarnasi. Kalau Tuhan menjadi manusia, supaya kita bisa mengerti apa yang menjadi, kita tahu bahwa Tuhan mengerti diri kita, saya tanya: bagaimana kita menerapkan kehidupan seperti ini? Saudara lebih banyak membuka mulut untuk berbicara supaya orang dengar kita? Atau kita lebih buka telinga kita untuk mendengar dan mengerti orang lain? Ini satu contoh ya, inkarnasi. Lalu kemudian, pada waktu Yesus memilih untuk merendahkan, memilih lahir dalam dunia ini, Dia banyak choice kok! Dia bisa lahir di dalam satu kehidupan yang layak sebagai anak Raja, Dia bisa lahir dalam satu rumah sakit yang terbaik saat itu, Dia bisa memilih untuk lahir dalam kehidupan kaya saat itu, tapi yang Dia lakukan adalah milih lahir di dalam kendang domba, milih lahir dari keluarga Yusuf dan Maria yang miskin itu, dan Dia harus hidup setengah mati sebagai seorang tukang kayu sampai Dia pelayanan.Saudara, itu berarti Dia punya kebebasan untuk milih apa yang Dia inginkan. Tapi inkarnasi mengajarkan: Dia memilih untuk membatasi diri Dia, merendahkan diri Dia untuk bisa menggenapi apa yang menjadi kehendak Bapa dalam kehidupan Dia. Apa yang kita pelajari dalam bagian ini? Kita punya kebebasan, pasti. Kita punya hak, pasti. Tapi Saudara rela nggak, melepaskan hak itu dan kebebasan itu untuk bisa tunduk, untuk kebaikan orang lain, orang yang kita kasihi. Membatasi diri supaya kita bisa menjadi seperti Kristus.

Lalu yang ketiga misalnya, pada waktu Dia datang ke dalam dunia, Dia menundukkan diri di bawah perintah dan hukum-hukum Dia sendiri. Mudah nggak? Bapak, Ibu yang punya anak, kalau buat hukum, saya tanya, Bapak Ibu jalani nggak hukum yang buat untuk anak itu? Kemungkinan besar tidak. Misalnya, anak harus tidur pukul 10 malam, paling malam, papa mama tidur pukul berapa? Yang kita buat peraturan itu untuk orang lain, bukan untuk diri kita. Tapi Allah kita beda ya. Allah kita itu adalah Allah yang selain membuat hukum, Dia sendiri menundukkan diri Dia di bawah hukum yang Dia buat tersebut ketika Dia inkarnasi menjadi manusia. Dan Dia ingin mengatakan kepada kita: “Saya sebagai Anak Allah sendiri,  Saya adalah Allah sendiri, Saya merelakan diri Saya untuk tunduk pada apa yang menjadi kehendak Bapa dalam kehidupan saya. Saudara, kita sebagai orang yang sudah ditebus dan dibeli oleh Kristus, ada nggak kerelaan itu untuk tunduk di bawah kehendak Tuhan melalui ketaatan kita pada hukum Tuhan? Atau kita selalu memilih: “Nggak! Saya tahu hukum Tuhan, tapi saya nggak mau kehidupanku diatur oleh hukum Tuhan. Saya punya peraturan saya sendiri dan keinginan saya sendiri yang saya ingin jalankan.” Ingat! Anak Tuhan yang sejati pun merelakan diri Dia tunduk di bawah hukum. Kita bagaimana?

Lalu menderita, ditolak oleh manusia, dihina oleh manusia, disakiti oleh manusia. Bapak, Ibu. Saudara yang dikasihi Tuhan, ini juga berkaitan sama khotbah kita di dalam persekutuan doa kemarin. Orang yang menampar pipi kirimu, beri pipi kananmu. Orang yang meminta kamu berjalan 1km, ikuti dia 2km. Orang yang ingin mengambil barang berharga milikmu satu-satunya, bukan cuma berikan, tapi berikan yang berharga dari yang kau miliki. Orang ingin berhutang kepada engkau, berikan hutang itu kepada mereka. Tuhan memilih kita, memilih untuk menderita bagi kebaikan kita karena kasihNya bagi diri kita. Saudara, kalau kita mengasihi orang, kata Alkitab, kita mengasihi suami kita, kita mengasihi istri kita, kita mengasihi saudara kita, kita mengasihi anak-anak kita, kita mengasihi orang Kristen yang lain, saya tanya: kita rela nggak menderita demi untuk kebaikan mereka? Itu namanya inkarnasi – saya lebih memilih untuk menahan diri saya, saya lebih memilih untuk kesulitan diri saya, menanggung itu demi untuk orang yang saya kasihi bisa menjadi orang yang betul-betul menikmati satu kehidupan yang baik dalam kehidupan mereka. Itu namanya inkarnasi.Lalu yang ketiga adalah, Dia sampai mati di kayu salib, itu berarti penderitaan saja nggak cukup. Kita harus rela sampai mati, kalau perlu, untuk menderita demi kebaikan orang dan kebenaran Kristus bisa tergenapi dalam kehidupan kita.

Saudara, saya percaya ini semua adalah satu pengertian firman yang kita harus pahami daripada Anak Allah, yaitu Yesus Kristus. Dan kalau kita berani merendahkan diri kita, maka saya percaya juga Tuhan pasti akan meninggikan diri kita. Karena apa? Kristus sebagai yang sulung itu, yang merendahkan diri Dia dengan sukarela, itu ditinggikan oleh Kristus, oleh Bapa-Nya dan didudukkan di sisi kanan daripada Allah Bapa. Kalau kita merendahkan diri kita secara aktif, pak Tong katakan, kita pasti akan ditinggikan oleh Kristus. Tapi kalau kita meninggikan diri kita secara aktif, kita pasti akan direndahkan oleh Kristus dalam kehidupan kita. Ini semua adalah suatu hukum, satu prinsip kebenaran yang kita nggak bisa sangkal. Dan saya percaya orang yang lebih banyak menderita dalam kehidupan Dia, Dia akan menghasilkan hal-hal yang lebih berharga dan bernilai dalam kehidupan Dia daripada orang yang hidupnya hanya senang-senang dan tahunya suka melampiaskan apa yang Dia inginkan.Kualitas iman yang baik, kedewasaan iman – itu ditandai dengan: apakah dia pernah mengalami penderitaan dalam kehidupan dia atau tidak? Dan penderitaan itu bukan hanya penderitaan, tapi penderitaan demi Kristus Tuhan Allah kita, dan meneladani penderitaan Dia. Dan ini membuat pengetahuan akan Allah, itu bukan hanya sekedar pengetahuan, dimaksud oleh Paulus, tetapi itu berkaitan dengan adanya suatu relasi yang kita bangun secara pribadi dengan Tuhan.

Saudara, waktu kita belajar firman, jangan seperti anggap kita sedang belajar Matematika: Oh, segitiga sama sisi itu apa, berarti setiap sudutnya itu sama Panjang, dengan derajat daripada setiap sudut segitiga itu berapa derajat, misalnya. Lalu tanya lagi, apa yang kamu tahu tentang pengetahuan segitiga itu mempengaruhi hidupmu tidak? Nggak. Jangan belajar firman Tuhan itu seperti belajar Matematika. Tapi pada waktu kita belajar firman, firman itu harus membentuk kita, firman itu harus mengubah kita, firman itu harus menjadi sesuatu yang kita percayai sebagai satu kebenaran dan kita lakukan dalam kehidupan kita. Ini membangun relasi dengan Tuhan. dari situ kita semakin bisa bertumbuh mengenal Allah, dari pengetahuan yang Tuhan karuniakan bagi kita melalui firman Tuhan. Nah ini semua adalah sarana untuk kita bisa bertumbuh menuju kepada kesempurnaan, dan Tuhan ingin kita mengalami pertumbuhan itu dalam kehidupan kita.

Saudara, kenapa kita di dalam gereja? Kenapa Tuhan kasih kita saudara seiman yang lain, tujuannya untuk apa? Untuk kita bertumbuh menuju pada kesempurnaan di dalam iman kita dan pembangunan daripada tubuh Kristus menuju kepada kesempurnaan itu. Dan saya harap, ini menjadi tujuan yang kita kejar dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan, karena Tuhan kita menghendaki pertumbuhan itu ada dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan. Mari kita masuk dalam doa.

Kami saat ini kembali bersyukur, Bapa, untuk firman dan kebenaran yang boleh Engkau karuniakan bagi kita. Walaupun seringkali kami mungkin masih hidup sesuai dengan apa yang kami kehendaki, kami inginkan, dan bukan apa yang Tuhan inginkan. Tapi kami mohon yang Bapa, Engkau boleh terus memberikan ke dalam hati kami suatu kerelaan untuk mau tunduk di bawah kehendak daripada Tuhan Allah, untuk menuntut diri kami bertumbuh di dalam kedewasaan iman dan karakter Kristus. Dan bawa kami semakin disempurnakan di dalam Kristus, di dalam tubuhMu, yaitu gereja. Kami mohon, Bapa, Engkau boleh berikan kelembutan hati dalam setiap hati kami supaya mau dididik, diajar oleh Kristus sendiri melalui orang-orang seiman kami yang lain, saudara kami juga, yang ada di sekitar kami. Kami mohon belas kasihMu, ya Bapa, sehingga melalui kehidupan kami yang semakin disempurnakan di dalam Kristus, kami boleh semakin menuntut diri kami dalam kehidupan yang kudus dan tidak bercatat, sehingga tidak ada dalih, tidak ada alasan bagi orang lain untuk menghina, merendahkan, menghujat kehidupan kami yang tidak sesuai dengan Tuhan sehingga namaMu sendiri direndahkan oleh orang. Tolong kami masing-masing, ya Bapa, sebagai anak-anak Tuhan yang hidup di dalam dunia sebagai orang yang pernah Engkau tebus untuk bisa hidup seturut dengan apa yang menjadi kehendakMu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur dan berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *