Kemurnian Ibadah, 15 September 2019

Flp. 3:1-3

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Kalau kita membaca dengan seksama apa yang tertulis di dalam Alkitab kita dari Perjanjian Lama kepada Perjanjian Baru, maka setiap orang Kristen pasti setuju bahwa memang kita tidak bisa sangkali bahwa ada perubahan yang besar, ada Mesias, itu Kristus ya. Karena istilah “Mesias” itu artinya orang yang diurapi, dan itu bahasa Ibrani, lalu “Kristus” di dalam bahasa Yunaninya orang yang diurapi. Yesus Kristus setelah Dia datang menggenapi hukum Taurat, menggenapi nubuatan dalam Perjanjian Lama, maka dia membuat ada suatu perubahan di masa itu, ada suatu perubahan yang cukup besar dan siginifikan karena ada penggenapan yang dikerjakan Mesias, tapi juga tetap menyisakan ada beberapa pertanyaan penting yang berkaitan dengan hukum Taurat itu sendiri. Beberapa misalnya seperti “lantas setelah hukum Taurat itu digenapi oleh Mesias, maka apakah kita masih harus melakukan hukum Taurat?” Ataupun kalau ditanya, “Oke kita masih harus melakukan hukum Taurat, karena hukum Taurat tidak dibatalkan tetapi digenapi,” lalu pertanyaannya “Hukum Taurat yang mana, atau mengapa dan dalam kondisi seperti apa kita melakukan Hukum Taurat itu?” Nah ini menjadi suatu pertanyaan yang penting dan ini pertanyaan bagi orang Kristen sendiri di zaman itu ya, orang-orang Kristen di abad pertama itu bertanya-tanya seperti ini.

Dan menarik di dalam bagian ini Michael Bird di dalam bukunya yaitu dia menuliskan bahwa  kalau kita melihat dalam Perjanjian Baru maka setidaknya ada empat kelompok orang, entah baik dari background-nya Yahudi Kristen, ataupun bagi orang Yahudi Kristen maupun non-Yahudi Kristen maka ada empat kelompok orang yang memperdebatkan masalah ini. Yang pertama dia sebut sebagai kelompok yang menekankan harus melakukan seluruh hukum Musa termasuk sunat. Jadi itu kelompok pertama, bahwa melihat semua hukum Musa yang dalam Perjanjian Lama. Mereka ngerti, kembali Kristus bilang Dia tidak datang untuk meniadakan Hukum Taurat tetapi menggenapinya , maka semua harus tetap dilakukan dan termasuk sunat itu harus dilakukan juga. Mereka akan menekankan bagian situ dan itu harus dilakukan, yaitu kelompok pertama. Lalu ada kelompok kedua yang tidak menekankan sunat tetapi dia mewajibkan beberapa pertaturan yang unik. Nah di situ ya jadi mereka melihat, ada kelompok kedua ini bilang, “Oh kalau untuk sunat itu nda perlu, karena tandanya sekarang mungkin di bagian situ menandakan berarti tandanya diganti menjadi babtisan,” tetapi mereka tetap mewajibkan beberapa pertauran Yahudi ya. Nah ini menarik kalau kita baca terutama dalam Perjanjian Baru itu kan bicara tentang sunat itu kok menjadi hal yang krusial sekali, menjadi hal yang diributkan seperti itu. Lalu kelompok ketiga itu disebut Michael Bird sebagai kelompok yang tidak menekankan sunat maupun ketaatan pada peraturan makanan orang Yahudi. Jadi kelompok ketiga ini lebih, ya kalau kita mau ukur, jadi kelompok yang pertama ini kayak saklek banget semuanya, yang kedua ini tidak terlalu menekankan sunat, sunatnya itu nda terlalu tetap mewajibkan beberapa pertauran yang unik , yang ketiga ini tidak menekankan sunat maupun ketaatan dalam masalah peraturan makanan, yaitu ada yang bagian itu. Tapi nanti ada lagi kelompok empat yang tidak menekankan sunat maupun ketaatan dalam peraturan makan, maupun masalah hari raya orang Yahudi, karena orang Yahudi itu juga ada banyak hari rayanya. Dan di bagian ini kalau kita melihat saja ada perdebatan dan kelompok-kelompok yang berbeda yang mungkin kalau sebagian kita mungkin akan berpikir “Ah gampanglah itu mah dulu, sekarang sudah tidak berlaku,” apa maksudnya tidak berlaku? Apa maksudnya kalau kita mengatakan Alkitab Perjanjian Lama itu sudah tidak berlaku karena kita sekarang sudah Perjanjian Baru?

Di dalam bagian ini saya pikir di dalam banyak kehidupan kita kadang-kadang kita jatuh juga dalam pengertian yang kita menggampangkan dan pikir tidak berlaku. Pertanyaannya itu tidak semudah itu. Oke kalo saya mungkin coba mau tarik di dalam kita bisa kira-kira nangkap konteks pergumulan zaman itu dan kira-kira argumen sederhana ini saja ya. Kalau misalnya kita ngomong, “Ah sebenarnya itu nda berlaku, oh peraturan makanan Yahudi dan semua hari raya itu nda berlaku,” okey saya tanya sederhana saja ya, anda percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan? Anda percaya Dia sebagai Mesias? Ya anda percaya. Sekarang tahu nggak ya kalau Mesias itu tidak makan babi? Argumen sederhana sekali ya, Yesus itu tidak makan babi. Dan bukan cuma masalah babi ya yang tidak dimakan, yaitu juga tidak makan kerang, unta , kelinci, dan ada ada berapa perturan-peraturan dalam Perjanjian Lama memang melarang makanan itu. Lantas mengapa engkau makan? simple ya argumennya, simple tapi jelas sekali juga masalah mereka peraturan makan itu. Ambil contoh saja, ada banyak gitu ya aturan orang Yahudi itu, bukan cuma masalah jenis makanan daging apa yang ga boleh dimakan, tapi sampai salah satu saja disini, kalau anda membaca dalam Perjanjian Lama dalam Kitab Musa akan ketemu bahwa merekapun tidak mencampur daging dengan susu ketika memasak gitu ya, yaitu itu juga nda dicampur. Nah sederhana, jadi argumennya “Mesias itu nggak makan kok, lantas kamu makan?” Argumennya dimana kalau kita bilang, “Oh semuanya boleh dimakan ya”? Lalu tidakkah tentang sunat ya, kita tahu nggak ya, bahwa Mesias itu disunat? Itu jelas, bahkan bukan cuma Mesias, bahkan semua nabi Perjanjian Lama, para penulis Alkitab, itu semuanya disunat lho. Kembali didalam bagian ini, itu dari Perjanjian Lama saja itu, itu semua para nabi ya bahkan kalau kita mau include di sini para rasul, semuanya itu disunat. Dan waktu itu tentu Perjanjian Baru belum selesai digenapi penulisannya, tapi semua para rasul semua disunat lho, lantas kamu nggak disunat? Nah kita kalau menggumulkan bagian ini, maka kita mengerti di bagian sinilah itu penting sekali ada wahyu Tuhan yang baru di dalam Perjanjian Baru yang menjawab permasalahan ini. Bisa nangkap bagian sini ya? Kita kalau cuma bisa ngomong, “Gampang pokoknya, itu semua tidak berlaku,” tidak sesimpel itu ya. Dan bahkan kenyataannya sampai hari ini ada kelompok-kelompok denominasi Kristen tertentu yang masih menekankan Perjanjian Lama sedemikian saklek-nya  dan akhirnya melihat ya kita tetap persis melakukan yang ada dalam Perjanjian Lama itu.

Tapi di bagian ini makanya ini permasalahannya yang dijawab ya, ini permasalahaannya yang dijawab oleh Paulus dalam surat-suratnya. Dan kalau kita membaca konteks perjanjian, oh ini hal yang penting. Kembali lagi, kita perlu belajar mementingkan apa yang firman Tuhan katakan, penting kita harus belajar pentingkan itu. Dan ada bagian-bagian sebaliknya yang kadang-kadang dalam kehidupan ini ada pertanyaan-pertanyaan kita yang lain yang kita rasa penting tapi tidak dibahas oleh Kitab Suci, kita belajar mungkin itu bagian yang tidak terlalu penting untuk dibahas. Nah bagian sini menarik ketika membahas tentang ini, inilah kita menemukan, kalau kita mengerti ya konteksnya, dari seperti ini makanya itulah surat surat Paulus itu banyak dituliskan. Dan di bagian ini ketika dia menuliskan bagian ini bahwa adalah, “hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja jahat, terhadap penyunat-penyunat palsu,” ini dia sedang menekankan bahwa dimanakah sunat yang asli itu sendiri, bagaimanakah ibadah yang sejati yang berkenan kepada Allah, bagaimanakah prinsip sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Dan kita itu belajar itu mengerti prinsip kebenaran firman Tuhan itu bukan “saya suka apa lalu berarti ini yang benar,” nggak, tapi apa yang Tuhan katakan itu yang benar dan itu yang kita lakukan. Start dari situ, bahwa apa yang Tuhan katakan, firman Tuhan yang prinsipnya seperti apa, itu yang kita taati. Kita belajar mencocokkan diri kita dengan Kitab Suci, dan bukan sebaliknya Kitab Suci kita diskon, kita potong mengikuti, mencocokkan dengan kesukaan kita, tradisi dan kebiasaan kita. Nah ini adalah bagian prinsip yang penting sekali dan meski sederhana sekali tetapi biarlah kita selalu ingat seperti demikian. Jadi ibadah yang benar itu apa bukan menurut konsep saya tetapi apa menurut Tuhan sendiri. Sebenarnya kalau kita benar-benar mengasihi seseorang, ketika kita ingin memberikan hadiah kepada dia maka hadiah yang terbaik itu adalah menurut apa yang orang itu sukai bukan menurut apa yang kita sukai. Yang kita sukai tidak tentu disukai oleh orang itu tapi yang dia sukai ya pastilah itu yang dia sukai, itulah yang objektif penilaiannya memang menurut standar, menurut kesenangan orang itu. Dan ketika kita berbicara mengenai Kitab Suci, lebih jelas lagi ibadah yang benar seperti apakah yang Tuhan senangi, dan kesenangan Tuhan itu tidak arbitrer, tidak suatu yang acak, liar seperti itu, tapi itulah prinsip yang benar dan kita belajar menyesuaikan diri kita dengan prinsip kebenaran firman.

Saya kembali ke dalam pembahasan ini. Di dalam commentary dari Richard Melick, dia menyatakan ada sekiranya tiga karakteristik yang penting yang digariskan di bagian sini, yaitu bicara worship, glory, dan confidence. Yaitu tentang worship, penyembahan; lalu glory bicara kemuliaan; dan confidence, kepercayaan atau keyakinan kita itu di mana. Dan di dalam commentary Grant Osborne, ini saya gabungkan pemikiran mereka, yaitu dia bilang di bagian ini berbicara dua macam orang yang berbeda. Pertama saya kasih penjelasan dulu untuk kita lebih mengerti seperti apa sih kita seharusnya beribadah dengan benar, seperti apa sih beribadah itu yang berkenan di hadapan Allah? Apalagi kalau kita mengingat di dalam bagian lain dalam Kitab Suci, Matius pasal 7 jelas mengatakan, Kristus sendiri, Kristus sendiri mengatakan, “Tidak setiap orang yang berseru kepadaKu, “Tuhan, Tuhan,” akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa.” Jadi ada banyak orang bisa ngomong, “Oh saya beribadah kepada Tuhan, saya beribadah kepada Tuhan, Tuhan pasti terima.” “Padal hari akhir Aku akan menyatakan dengan terus terang, Aku berkata, “Aku tidak pernah mengenal engkau, enyahlah dari padaKu pembuat kejahatan.” Orang-orang itu yang mungkin kita pikir “oh tulus” tetapi tidak sesuai dengan prinsip firman Tuhan, dan kenyataan Tuhan tidak berkenan. Dan saya rasa bagian ini juga cukup banyak dibahas di kesempatan-kesempatan lain, tapi biarlah kita kembali ingat ibadah yang benar itu bukan menurut apa yang saya suka, menurut apa yang biasanya, menurut apa yang saya mau, tapi berdasarkan apa yang Tuhan mau dan apa yang Tuhan mau itu jelas ada tercatatkan semua prinsipnya dalam Kitab Suci, kita belajar mengikutiNya dari situ.

Di sini tiga karakteristiknya, yang pertama saya kasih contoh dari yang salahnya dulu gitu ya, yaitu “penyunat-penyunat palsu” itu, yaitu bicara orang-orang yang sebenarnya bicara dari tampilan secara lahiriah ya. Maka di sini kalau kita bisa lihat dari worship-nya, penyembahannya itu maka mereka ibadah itu menurut tradisi dan adat istiadat, di bagian ini itu yang ditekankan. Mereka itu beribadah, ibadahnya itu menurut tradisi dan adat istiadat. Jadi kalau kita melihat ya di dalam banyak bagian ini maupun juga di dalam kehidupan kita masa kini, kadang-kadang kita masih ketemu orang orang seperti ini. Orang-orang yang ketika bicara ibadah itu harus mengikuti patron, yaitu tradisi sudah seperti ini, “Oh adat istiadat, kebiasaan kita begini.” Saya tentu bukan mengatakan semua tradisi kita buang, semua adat istiadat kita buang, bukan itu poin-nya, tapi pertanyaannya yang menjadi krusial adalah bukan menurut tradisi tapi menurut firman Tuhan itu seperti apa? Menurut firman Tuhan itu seperti apa? Tapi kenyataanya ada orang-orang yang berpatron ibadahnya itu berdasarkan tradisi dan adat istiadat ya. Saya juga kadang-kadang di dalam bagian ini ketemu ada orang-orang yang berkata, “Kenapa kamu beribadah seperti ini?” “Oh ini tradisinya sudah lama, ini tradisinya kuat.” Kenapa kamu menyanyikan lagu itu? “Oh karena ini ini adalah hal yang sangat kuat secara tradisi, ini kita sudah terbiasa melakukan ini.” Jadi menurut kebiasaan, saya sudah terbiasa ini dan saya melakukan itu. Di sini, di bagian ini Paulus mengatakan suatu koreksi yang tajam sekali, dia mengatakan itu berarti ibadahnya hanya mengikuti tradisi bukan beribadah kepada Tuhan. Kembali lagi ya, tradisi itu sekuat apapun, seberapapun sepertinya banyak orang lakukan, tapi kalau kita lihat tradisi itu bertentangan dengan Kitab Suci coret bagian tradisi itu dan ikutilah firman Tuhan. Tapi kenyataanya, saya kembali tetap ke sini ya, penyunat penyunat palsu itu mereka beribadahnya itu penekanannya mengikuti tradisi dan adat istiadat dan itu yang mereka utamakan.

Dan karakteristik keduanya itu adalah kemegahannya atau glory-nya itu ya, kemuliannya, kemegahan mereka itu ada pada pencapaian manusia menaati Taurat. Jadi mereka kebaktiannya itu melihat kepada pencapaian, kepada pencapaian, mereka melihat bahwa lihatlah apa yang sudah manusia capai, terutama sini bicara tentu sangat dekat dengan orang Yahudi, yang mereka sudah capai dengan menaati hukum Taurat itu sendiri. Yang salah itu di sini tentu bukan kita bilang, “Oh kalau begitu coret hukum Tauratnya,” nggak, yang salah itu kebanggaannya, kemegahannya kepada pencapaian itu sendiri ya. Dan mereka bermegah menyombongkan itu ke-yahudian-nya itu dengan cara seperti itu, mereka menaruh kebanggannya kepada hal yang demikian.

Saya lanjut, lalu yang karakter yang ke tiga, yaitu mereka menaruh percaya, confidencenya, keyakinannya kepada hal-hal yang bersifat lahiriah, yang bersifat daging. Dan bicara daging ini apa? Ya banyak hal memang kalau bicara orang Yahudi, yaitu daging itu ya bicara sunat, ya karena itu adalah secara daging juga, secara sunat dan mereka menaruh kebanggaannya, “Wah saya ini di sunat.” Dan sunatnya itu bukan seperti orang-orang lain, cuma sunat seperti biasa atau mungkin seperti setelah dewasa, mereka itu disunat pada hari kedelapan. Dan secara tradisional yang lebih, hari kedelapan itu dia disunat, di saat itulah baru dia memperoleh nama. Jadi mereka menaruh kebanggaannya, “Itu loh, saya punya ini tanda sunatnya, yang sah.” Dan mereka menaruh kepercayaan kepada daging itu apa, bicara silsilah, garis keturunan. Saya pikir ini menarik ya, kalau kita pikir bagian ini. Mereka itu punya garis silsilah itu memang kuat sekali ya, karena bagaimanapun kita lihat ketika bicara Yahudi itu bukan bicara cuma suku, atau etnis Yahudi, tapi itu bicara suatu identitas sebagai bangsa dan keseluruhan itu. Ini menarik kalau kita ambil contoh kita saja yang di hari ini ya, kita bangsa Indonesia, ya, etnisnya kan beda-beda, ada yang etnisnya Chinese, ada Jawa, lalu ada Sunda, dan Batak, dan seterusnya dan lain-lain, itu kita ada banyak identitas etnisnya. Tapi kalau Yahudi itu, itu satu bangsa yang unik, karena memang dia dikunci secara etnisnya juga satu etnis ya. Etnisnya itu Yahudi, mereka itu dari satu garis silsilah keturunan yang sama, yaitu keturunan bapa Abraham. Dan mereka itu melihat di dalam bagian itu, itu keturunan mereka menyebut mereka sebagai umat pilihan, sebagai keturunan dari bapa Abraham, ya itu memang secara daging. Kita kan kalau ngomong, “Oh kita ini mewarisi iman Abraham,” ya kita kan bukan keturunan Abraham, ya iya toh, kita kalau mau ngomong jujur ya, apa adanya, secara ini ya tampilannya ya, kita ini kan bukan keturunan Abraham, ya kita ini dari suku mana gitu kan. Kita ini lebih mirip ya memang suku gentiles, kalau mau pakai bahasa kasarnya itu sekarang, kafir, memang bukan orang Yahudi. Tapi bagi orang Yahudi, dia lihat, “Kami ini garis keturunannya itu jelas, kalau mau pakai mungkin istilahnya orang Jawa, bibit, bebet, bobotnya itu jelas, saya ini orang Yahudi yang sah, saya ini garis keturunan dari Abraham yang jelas, Abraham adalah bapa kami,” dan itu menjadi kebanggaan mereka. Mereka bisa tarik garis keturunannya, dan itu bukan suatu karangan, itu bukan cuma ini, itu tercatat dalam Perjanjian Lama. Kalau kita baca dalam Perjanjian Lama ya, itu ada bagian-bagian yang kalau bagi kita kan bikin ngantuk gitu ya. Kalau kita baca itu, oh, garis keturunan ini ini ini, ini siapa sih? Ga ada urusan dengan kita, bagi orang Yahudi sederhana, saya tau jelas saya ini garis keturunan mana dan bisa ditarik sedemikian sampai ke Adam. Jelas, saya ini keturunan orang pilihan, dari Abraham dan seterusnya.

Dan ini, tapi di bagian sinilah yang Paulus katakan, dikritik sini keras dengan Paulus bahwa meski itu adalah hal yang baik, tapi jangan itu menjadi kebanggaan kita. Karena itu bicara penampilan luar, itu bicara eksternal, hal yang secara daging, dan bukan bicara hal yang sejati. Dan di sini bicara kelompok kedua, ditekankan di sini adalah bagaimanakah pengertian sunat sejati. Sunat sejati itu adalah sunat dalam arti yaitu beribadah oleh Roh Allah, ya ini yang kita lihat dalam bagian sini, berbicara ibadah yang sejati itu apa, beribadah oleh Roh Allah itu, yaitu bicara bagaimana ibadah yang sejati bukan masalah gedungnya, bukan masalah tradisinya, adat istiadatnya, tapi bicara dipimpin oleh Roh Allah atau tidak itulah arti ibadah yang sejati. Saya pikir menarik ya, ketika kita buka bagian ini saya kadang-kadang ketemu jemaat yang berpikir seperti ini, “Wah, kalau ibadah di GRII itu kadang-kadang ya, ada yang merasa kok kurang afdol ya.” Kenapa? Ya ibadahnya itu di hotel ya, seperti hari ini, atau kita cabang-cabang yang lain itu di ruko gitu ya, ada yang memplesetkan GRII itu Gereja Ruko Ini Itu gitu ya, pokoknya ruko mana ya itulah ibadah di situ. “Kita maunya ibadah ke mana, ada gedungnya, ada gedung gereja dong,” dan seterusnya. Tapi kalau kita lihat ya, apa yang dikatakan dalam Kitab Suci ya, dan kalau kita selalu kembali apa yang memang dialami jemaat mula-mula, justru mereka itu ibadah di rumah. Kebanyakan mereka itu ibadah itu memang nggak ada gedung. Lah gimana mau punya gedung, kalau mereka punya gedung ya dibakar mati semuanya gitu ya. Mereka dalam persembunyian, mereka dalam penganiayaan, dan mereka memang tidak memiliki gedung. Kembali lagi ya, bukan masalah gedung itu sendiri salah, ya, dan bahkan kita juga doakan bagaimana kita ke depan memiliki gedung, tapi jangan menaruh kebanggaan kepada aspek fisik itu, lihatlah bahwa kesejatian ibadah itu bukan pada gedungnya, bukan di dalam kebiasaan adat istiadatnya, tapi apakah dipimpin oleh Roh Allah atau tidak, dan itu menjadi kunci penyertaan Tuhan, kunci ibadah yang sejati itu sendiri.

Sehingga sama, saya juga tetap melihat, saya bukan bagian ini, cuma mau bicara “oh kita benar, kita benar” saja seperti itu, tapi cek hari ini ketika kita beribadah, kita datang, kita sendiri bergumul benar-benar melihat kita dipimpin Roh Allah atau tidak? Dan ketika kita memang dipimpin oleh Roh Allah, Roh Kudus bekerja menginsyafkan hati nurani kita, untuk kita bisa mengerti Kitab Suci dengan benar, lihatlah, baru itulah ibadah yang berkenan di hadapan Allah. Ibadah sejati itu bukan masalah pakaiannya, bukan masalah semua tatanan di atur dengan baik, meski itu penting kembali lagi ya, ini penting, ini semua yang mempersiapkan ini penting, tapi biarlah kita lihat yang men-sah-kan atau menjadi ibadah itu berkenan pada Allah, bukan hal di sini, tapi adakah secara rohani kita sungguh kita itu dipimpin Roh Allah atau tidak? Sungguhkan setiap pemberitaan firman yang berbicara di atas mimbar ini, dipimpin oleh Roh Kudus atau tidak? Itu baru firman Tuhan, itu baru pemberitaan itu sah adanya. Dan itu yang ditekankan Paulus di sini. Menarik ya, makanya Kristus itu mengatakan juga di dalam Injil ada tercatat ya, bahwa “di mana dua tiga orang berkumpul, Aku hadir di situ.” Lihat ya, dua tiga orang berkumpul itu berapa sih? Ya itu kan kaya keluarga, kira-kira papa, mama, lalu anak, dua tiga orang berkumpul, ya Tuhan hadir di situ. Satu sisi tentu berbicara keIlahian Dia ya. Saya kan nggak bisa mengatakan gitu ya kepada jemaat sini: “Dua, tiga orang berkumpul, saya hadir,” saya belum tentu ada di sini, gitu ya, saya di Solo, atau di Magelang, atau kota lain gitu ya. Saya tidak maha hadir, bisa nangkap ya? Itu adalah bagian yang sudah jelas menyatakan keIlahian Kristus. Tapi bagian lain itu juga mensahkan bahwa kehadiran Kristus itu dinyatakan bukan di gedung, bukan di adat istiadat, bukan tradisi, bahkan bukan di liturgi, tapi terutama adalah orang-orang yang dengan kesejatian sungguh mau taat pada firman Tuhan, di situ Allah akan hadir. Dan berapa banyak kita melihat kehadiran Tuhan itu jauh lebih penting daripada gedung-gedung ini sendiri, daripada semua tampilan luar yang ada, karena sunat dalam hati itu yang lebih penting. Sunat dalam hati itu yang lebih penting. Ibadah yang sejati itu adalah di mana kita sungguh-sungguh dipimpin oleh Roh Kudus dan menjadi orang-orang yang memuliakan Tuhan.

Nah, karakter kedua bicara kemegahannya di mana? Kemegahannya itu pada Kristus sendiri. Bermegah dalam Kristus Yesus ya, ini dikatakan sini kan, “Beribadah oleh Roh Allah,” di ayat 3 ya. Beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus. Yaitu di sini, jadi kemegahan kita di mana? Selalu melihat itu bukan pada manusia, tapi pada Kristus sendiri. Ibadah yang sejati itu adalah apa? Yaitu di dalam pemberitaan firman, di dalam setiap puji-pujian yang kita nyanyikan, kemegahannya itu bukan pada orangnya, bukan pada pendetanya, bukan pada sinodenya, tapi kemegahannya pada Kristus Yesus, yaitu melalui kesaksian keberadaan ibadah kita, gereja kita, Kristus sungguh ditinggikan. Ya itu mau cek ya, di mana gereja yang sejati? Ya di situ, yaitu adakah kemegahannya itu dalam Kristus Yesus sendiri? Tapi ada orang yang kemegahannya itu pada pencapaian manusia, lihatlah apa yang sudah kami kerjakan, lihatlah pada apa yang bisa dicapai oleh entah dalam bicara kesalehan dari hamba Tuhannya, pendetanya, dan seterusnya, tapi tidak melihat bahwa kemegahan itu hanya pada Kristus sendiri. Saya pikir menarik ya, di dalam suatu kesempatan, Pak Tong itu ketika share itu ya, sharing visi, memang banyak yang dia kerjakan. Saya pikir menarik di dalam usianya itu, yaitu di beberapa tahun lalu, dia pernah ngomong bahwa dalam dia kerjakan KKR, kerjakan KKR ya, seperti tadi juga menjadi salah satu pokok doa-doa syafaat kita. Kita terus doakan pelayanan Pak Tong, dan ini ada dikerjakan di luar negeri ya, di.., kemarin..apa.., barusan ini juga di Vancouver, dua ribu lebih orang yang hadir, dan masih akan jalan di beberapa kota ya. Tapi saya terkesan sekali, saya ingat sekali dalam satu kesempatan, Pak Tong mengatakan, “Saya dalam mengerjakan pelayanan itu, saya bukan lihat saya bekerja, tapi saya melihat Tuhan yang bekerja dan saya hadir di situ melihat bagaimana saya dipanggil menyaksikan pekerjaan Tuhan.” Menarik ya. Kita, bagi kita, lihat Pak Tong yang kerja, Pak Tong yang khotbah, Pak Tong yang keliling. Nggak, Pak Tong mengatakan, “Saya di dalam semua pelayanan yang saya kerjakan bertahun-tahun, saya cuma bisa lihat Tuhan yang bekerja, dan saya menyaksikan.” Nah itu ya, itu memang paradoks di dalam kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia. Kita kerjakan bagian kita, tapi biarlah kita lihat di dalam semua itu sebenarnya Allahlah yang bekerja, dan itulah yang mensukseskan ibadah itu. Itulah yang memberikan sungguh  kebangunan rohani, yaitu ketika Allah yang bekerja dan akhirnya yang dimegahkan dan ditinggikan itu adalah Kristus Yesus sendiri, bukan manusia.

Dan ini yang bisa salah karena tipis sekali ya, karena ini bicara motivasi kita ke dalam. Biarlah kita lihat setelah semua kita kerjakan biarlah kemuliaan itu hanya bagi Kristus Yesus sendiri, bukan bagi kita. Kita ini hanya hamba-hamba yang tidak berguna, yang hanya mengerjakan yang seharusnya kita kerjakan. Tapi biarlah kita lihat yang kita kerjakan adalah ketika Kristus ditinggikan that’s enough. Ketika saya kerjakan pelayanan orang lihat Kristus ditinggikan itu cukup, bukan untuk saya ikut-ikut bermegah di situ, bukan untuk saya dapat, apalagi kadang-kadang orang bilang, “Oh dapat juga imbasannya,” gitu, ya bukan. Biarlah kita lihat dalam kita kerjakan pelayanan selelah apapun, secapek apapun kita, semua kita kerjakan kita bukan menuntut applause dari manusia, bukan, tapi kita lihat Kristus ditinggikan, jadi berkat rohani bagi banyak orang, ya sudah itu sudah cukup. Kita bisa dilupakan, dan memang kita nggak penting kok, suatu saat kita dilupakan tidak apa-apa tapi Kristus diingat itu menyukseskan pelayanan kita. Cek pelayanan yang kita kerjakan, orang lebih ingat kita atau lebih ingat Kristus? Hati-hati ya. Di dalam banyak pelayanan, saya bukan mau menghina, tapi dalam beberapa gereja-gereja Injili, “Oh pelayanan itu, penggembalaan, Oh kita penjangkauan,” akhirnya orang berkesan, “Ya itu kan si ini yang menjangkau, ini gembalanya, gembalanya di gereja ini si itu,” nggak melihat Kristus lah Gembala dari gereja itu sendiri. Kembali ya, saya tidak katakan pembezukan tidak penting, saya juga melakukan pembezukan, saya juga mendoakan jemaat dalam sakit penyakitnya, tapi biarlah kita ingat dalam semua pelayanan penggembalaan itu kita hanyalah sarana yang membawa orang melihat Gembala agung itu, yaitu dalam pergumulan setiap orang untuk bisa melihat Kristus lah Gembala jiwanya. Dan ketika sudah sampai sana itu cukup, justru sukses kita pelayanan di sini karena yang dimegahkan Kristus, bukan saya. Makanya di dalam bagian ini biarlah kita melihat di dalam pelayanan itu seperti kita bisa dilupakan tidak apa-apa, tetapi yang penting Kristus itu yang terus dimegahkan dan dimuliakan, itu yang penting. Dalam kita KKR-KKR, banyak hal, ya memang selain dalam KKR itu yang dikerjakan biasanya orang ingat, “Oh ini KKR-nya Pak Tong,” dan seterusnya, tapi saya contoh sederhana saja dalam kehidupan, kita kalau pernah ikut KKR, sebagai peserta ya, kita pernah nggak sih, “Oh saya berkesan nih, saya ikut KKR Pak Tong yang di tahun berapa gitu ya”? Tapi kita pernah nggak sih terpikir, “Oh saya ingat saya ikut KKR itu ketuanya si siapa gitu,” nggak ingat ya, “Oh humas nya si itu,” nggak ingat ya, tapi saya mau melihat itu baru berhasil pelayanan Saudara sekalian, itulah pelayanan yang berhasil, bukan panitia yang diingat, bukan panitia yang dibanggakan, bukan choir-nya, tapi lihat di dalam ibadah itu menjadi berkat bagi banyak orang dan Kristus ditinggikan. Ya kalau nama Pak Tong kenapa bicaranya nggak luput? Ya karena orang ingat itu, tapi mengalami kebangunan rohani itu sendiri adalah orang ingat bukan masalah pelayannya tapi Kristusnya itu dimuliakan. Dan kita kalau kerjakan itu sudah capek-capek, dimaki-maki lagi kadang-kadang ya di dalam pelayanan itu, diprotes, “Ini kok begini,” tapi ingatlah memang kita ini bukan siapa-siapa kok, kita ini cuma hamba, yang penting orang ingat Kristusnya. Kalau orang ingat Kristus ya itu sudah cukup, itu sudah berhasil. Dan memang itu adalah bagian kita justru bersembunyi di balik salib Kristus, karena Dialah kemegahan kita.

Saya lanjut poin berikut, yaitu yang ketiga tidak menaruh percaya confidence, keyakinan bukan pada hal-hal yang sifatnya lahiriah, melainkan hal-hal yang rohani. Di sini kita menaruh kepercayaan keyakinan kita itu pada Kristus semata. Sehingga pencapaian di dalam pelayanan itu bukan melihat sukses “O banyak orang yang hadir,” itu penting kita kerjakan, tetapi biarlah kita terus ingat yang kita doakan itu adalah banyak orang mengalami kebangunan rohani. Apa gunanya  banyak yang hadir tetapi tidak ada kebangunan rohani? Apa gunanya orang kumpul semua banyak, “Oh ini banyak, sukses ribuan, puluhan ribu hadir,” tapi bukan firman Tuhan sejati yang diberitakan? Itu hanya akan melihat pada manusia. Atau apalagi di dalam beberapa yang marak dalam teologi sukses hanya bicara kesembuhan-kesembuhan, itu ndak bicara Kristus sama sekali. Lha iya to. Orang kalau kesembuhan rohani itu datang cari apa sih? Cari sembuh tho? Dan kalo nggak sembuh ya udah, cek toko sebelah gitu ya? Kalau ini ndak kasih sembuh ya coba cek aja, kalau ndak sembuh ya cek di dukun sebelah. Orang ndak cari Kristus, orang cuman cari sembuh itu, cuma cari untuk kesenangan  dirinya sendiri, untuk pergumulan dirinya, tetapi tidak melihat kepada Kristus sendiri itu Siapa. Dan  di sini kita melihat kepercayaan orang yang sunat sejati itu akhirnya adalah dia menaruh kepercayaannya, confidencenya sendiri kepada hal-hal yang rohani, bukan apa yang tampak pada mata. Meski kita tetap bersyukur ketika Tuhan memberikan kesuksesan secara tampilan luar itu, tetapi biarlah kita ingat, jebakan rohani itu adalah  kita belajar untuk tidak memindahkan keyakinan kita pada apa yang tampak  di luar itu. Biarlah kita terus mengingat seumur hidup kita, kita menaruh keyakinan kita pada Kristus. Bahwa Kristus Dia ditinggikan, bahwa Dialah memang harus dimuliakan, dan selama kita berjalan hidup kita dalam track hidup memuliakan Kristus, kita berada dalam track yang benar. Cek kerohanian kita ya, kita bertumbuh semakin mengenal Kristus atau tidak ya, kita bertumbuh semakin meninggikan Kristus atau tidak, atau cuma secara tampilan luar dan gagal melihat esensinya?

Saya kembali di dalam bagian ini, dan ini adalah pergumulan yang sangat rumit ya, sangat berat. Kembali, di dalam bagian ini Paulus itu bukan sedang berbicara, “semua berhenti itu semua tradisi,” tapi kuncinya itu orang menaruh keyakinan pada apa? Dan ini menjadi poin saya selanjutnya ya, mungkin bisa dibilang poin ketiga, yaitu bicara ya biarlah kita lihat keselamatan kita itu hanya bersandar pada apa yang dikerjakan oleh Kristus. Tapi kenyataannya kita berada baik di dalam zaman dulu maupun zaman sekarang orang itu selalu melihat bahwa Kristus saja tidak cukup, Kristus harus plus sesuatu yang lain. Kristus plus sunat, ya itu yang mereka tekankan. Bukan masalah sunatnya itu sendiri, karena ya bagaimanapun juga Paulus itu juga disunat, itu sebagai tanda permanen, saya tidak perlu lagi lebih eksplisit lagi dari ini, itu kan tidak bisa dibatalkan. Kembali, permasalahannya bukan pada sunatnya itu per se, sendiri, tapi kita tidak menaruh kepercayaan pada itu, dan kita melihat keselamatan kita pada Kristus itu cukup. Cukup pada Kristus itu. Tetapi kenyataannya dari zaman dulu ya, makanya ditentang Paulus dalam bagian itu, dia bukan bilang, “Mulai sekarang ayo orang Yahudi ayo makan babi, makan babi sebanyaknya itu baru bisa jadi Kristen,” bukan. Thats not the point.

Di dalam bagian ini saya ingat, di dalam saya pelayanan, di dalam salah satu jemaat kita, bukan di sini, di cabang kita yang lain, itu ada oma-oma. Dia itu bertahun-tahun itu dia muslim, dia itu dia muslim, lalu sampai dia itu umurnya sudah lanjut, seingat saya dia punya cucu malah, memang sudah oma-oma, baru dia menjadi Kristen. Nah setelah dia menjadi Kristen, dia tetap nggak mau makan babi. Ini contoh  sederhana ya, nggak mau makan babi. Kenapa? Ia bertahun-tahun dididiknya gitu ya, ndak mau makan babi. Ya nggak apa-apa memang, karena bukan berarti anda makan babi anda jadi Kristen gitu lho. Tapi bisa nangkep ya bagian ini ya? Ada kebiasaan orang masing-masing karena memang sudah kebentuk, tapi yang penting dia mengerti saya ndak mau makan babi bukan karena kalau saya makan babi itu lebih suci, tapi memang ini preverensi saya, ini pilihan, tapi saya mengerti dalam keselamatan itu Kristus, dan hanya Kristuslah yang memberi keselamatan. Bukan karena masalah makanan ini, bukan masalah sunat, bukan karena adat istiadat dan tradisi semuanya. Kristusnya tetap diutamakan. Saya jadi ingat dalam pelayanan oma-oma itu ya, meski dia sudah umur lanjut, KKR Regional itu dia begitu semangat untuk pergi. Ya. Kadang-kadang malah kami yang sedikit kuatir karena sudah oma-oma, jalannya pakai tongkat, ya memang sudah tua kan. Itu  bisa pergi KKR itu sampai ke Papua, sampai ke Nias, pelosok-pelosok itu dilewati jalan-jalan ya memang pematang, itu lewati jembatan kecil itu kerjakan KKR. Kenapa ya? Karena dia lihat memberitakan injil apanya? Ya bicara Kristus, bukan bicara jangan makan babi.

Dan itu bagaimana kita melihat meskipun itu hal yang tipis, biarlah Kristus yang tetap kita utamakan dalam kehidupan kita. Tapi kenyataannya banyak orang tetap mementingkan adat tradisinya sedemikian kentalnya sehingga ia “iya sih saya percaya Kristus, tapi..” hah ‘tapi’ itu, “tapi ini juga penting, tapi ini harus diutamakan, tapi kalau nggak gini nggak jalan.” Selalu eksepsi ini ya, pengecualian itu selalu jadi masalah. Saya kasih contoh saja, di dalam beberapa aliran yang berkembang di masa kini ya, kita menemukan ambillah contoh misalnya di dalam aliran Karismatik. Aliran Karismatik berbicara Kristus, ya Kristus, tapi lalu kita harus bisa bahasa Roh, padahal sebenarnya bahasa lidah. “Kamu harus bisa bahasa lidah, kalo nggak belum selamat,” lho berarti Kristus ndak cukup ya? Mereka ndak berani klaim begitu. “Kalau kamu percaya Kristus kamu harus punya, minta-minta bahasa Roh, klaim sampai bisa itu punya bahasa Roh, kalau nggak berarti kamu belum selamat.” Nah itu gagal melihat di dalam bagian itu. Karena itu sebenarnya ada banyak aspek. Pertama ya, bicara tentang karunia bahasa lidah itu, itu sendiri karunia, dan bicara karunia itu ya nggak merata. Yang sana diberikan karunia ini, yang lain diberikan karunia lain, ya karena orang beda-beda. Tapi biarlah kita melihat itu tidak mutlak, ya bukan berarti nggak penting, itu nggak mutlak. Tapi biarlah kita melihat yang keutamaannya itu adalah Kristus sendiri. Hal yang utama itu Kristus saja, dan bukan yang lain. Dan banyak orang akan memutlakkan itu, area-area di situ, dan apalagi memang itu masalah bicara area pengalaman ya. Nanti ngomong, “Oh kamu nggak alami sih! Kamu nggak alami sih! Saya alami, jadi ini penting.” Ingatlah, seperti pak Tong sendiri berkali-kali juga ingatkan: Pengalaman kita itu, semanis apapun, kalau tidak sesuai dengan Alkitab, coret! Kita berani nggak ngomong ini? Dan bukan cuma ngomong ke luar, ngomong ke diri kita sendiri. Pengalaman kita semanis apapun itu, kalau tidak sesuai dengan Alkitab, coret! Karena Kristus yang lebih penting, firman Tuhan lebih penting daripada pengalaman saya. Dan banyak orang terjebak di dalam bagian itu, lebih mengarahkan hidupnya kepada pengalaman, bukan kepada kebenaran. Padahal pengalaman itu selalu tidak mutlak. Saya alami tidak tentu kamu alami. Dan saya alami pun belum tentu bisa terulang. Ada banyak pengalaman kita nggak tentu bisa berulang, lho! Dan seterusnya…

Saya lanjut kepada berikutnya, tapi ada kemudian juga seperti kelompok lain dari misalnya: Katolik, Roma Katolik. Roma Katolik itu sebenarnya kalau secara prinsip doktrin paling dasarnya, itu sebenarnya masih ortodoks, dalam artian ya diajarkan juga Allah Tritunggal, Yesus itu sungguh 100% Allah, 100% manusia. Ya dia benar secara doktrinalnya itu. Tapi permasalahnnya dari Roma Katolik itu sendiri ada selalu begini: Alkitab + tradisi. “Oh itu kan Maria tidak diajar itu dalam kitab untuk sembah doa!” “Iya… tapi tradisinya,” nah itu. Kita lihat ya, jadi selalu plus yang lain. Di sini saya melihat kalau ada Karismatik itu, bentuknya lain. Karismatik itu dia: Kristus + pengalaman. Tapi kalau Katolik itu: Kristus + tradisi. Akan menekankan tradisi sedemikian pentingnya, sampai mereka lihat “ya ini yang penting, dan yang ini jadi,” bukan cek apa kata Alkitab.  Coba kalau kita tanya orang Katolik, “Itu di mana sih bicara ada purgatori? Di mana sih Alkitab ada tulis?” Dia selalu pasti akan bilang, “Tradisi begini.. tafsirannya begini.. baca saja buku bapak-bapak gereja!” Kembali lagi ya, bukan kita coret semua bapak gereja, kami pun para hamba Tuhan baca tulisan bapak-bapak gereja. Tapi biarlah kita lihat standar kebenaran itu Alkitab, yang memberikan akhir, memberikan tafsiran itu Alkitab yang mutlak. Bapak-bapak gereja itu hanya, ketika kita baca,mereka seturut setia kepada Alkitab, kita baca dan kita ikuti. Dan di dalam praktek-praktek pengertian mereka tidak bertentangan Kitab Suci,kita ikuti. Tapi kalau berbeda, biarlah kita buang bagian ini. Tradisi, kebiasaan itu, sebagus, semanis apapun, kalau tidak sesuai dengan Kitab, kita juga harus coret. Itu baru artinya kita memang sungguh ikut Tuhan.

Dan saya lanjut kemudian dari kalangan liberal itu akan pakai apa? Logika. Kristus + Logika. “Iya, pake logika dong!” Ya, pake logika, tapi ingat ini tidak sejajar. Ini ada perdebatan yang lain tentang masalah orang liberal gitu ya, dan mereka selalu akan melogikakan segala sesuatu dan gagal melihat kenyataannya Alkitab itu meski ada logikanya, tapi dia juga supra logika, dia melampaui dari logika yang ada. Nah di sini yang saya mau gariskan dalam bagian ini, makanya kita penting untuk mengerti seperti ini, seperti juga dikatakan pak Tong kita mengakui pentingnya empirical, kita mengakui pentingnya itu pengalaman rohani, tapi kita tidak menjadi empiricist. Kita mengakui pentingnya tradisi, tapi kita bukan traditionalist. Kita mengakui pentingnya rasio tapi kita tidak menjadi rationalist. Yaitu kita melihat Alkitab ini yang menjadi prinsip utama, yang mutlak, dan yang lain itu tunduk pada prinsip firman Tuhan itu sendiri. Sehingga semua itu ya, pengalaman kita semanis apapun biarlah kita ingat: tunduk kepada Alkitab. Karena, meski ini adalah hal-hal yang baik, jangan menukar hal yang baik itu dengan hal yang ultimat, dengan hal yang utama. Yang first thing first, yang utama itu seperti apa? Dan masalahnya itu kembali ya, banyak orang menaruh imannya kepada hal-hal yang aspek di bawah ini, “Pengalaman saya begini, jadi saya ikuti. Oh tradisinya begini, jadi saya ikuti gini. Oh logikanya begini, jadi saya ikut ini.” Nggak! Cek, Alkitablah yang harusnya memimpin pengalaman, Alkitablah yang memimpin tradisi, Alkitab yang memimpin logika kita dan aspek-aspek lain, budaya, kebiasaan. Dan kita harus berani dengan radikal, sebagaimana yang dikatakan John Stott , radical disciple, menjadi murid yang radikal, maksudnya radikalnya adalah bukan jadi ekstrim dan seperti membunuh diri. Tapi kita berani merubah diri kita mengikuti apa kata firman Tuhan. Dan di dalam bagian-bagian kebiasaan itu, kalau memang tidak sesuai dengan Alkitab, kita harus buang, kita harus berani buang.

Dan terutama bicara, saya masuk aspek berikutnya, poin keempat, ketika bicara budaya, kenyataannya tuh tidak ada budaya netral. Tidak ada budaya netral. Tidak ada manusia yang netral, sehingga itu memang kita bisa salah. Kita bisa salah. Menarik di dalam bagian ini ya, ketika saya merenungkan bagian ini, itu kita biarlah ingat bagaimana pun kita itu ada semacam cultural bias, gitu ya. Sehingga orang yang paling tulus pun, itu ada muatan budayanya, filsafat, dan interpretasinya, atau paradigma konsep berpikirnya itu sendiri, dan itu bisa salah. Saya ambil contoh makanya, seperti dalam berapa kesempatan lain saya sudah pernah katakan ya, seperti dalam Keluaran 32 mencatat ketika orang Israel membuat patung lembu emas, ya kita sudah tahu spoilernya itu salah, gitu kan? Tapi kalau mau kita cek konteks yang mereka alami, salahnya itu di mana sih? Kalau kita cek, perhatikan baik-baik apa yang ditulis ya, mereka itu bukan beribadah kepada allah lain. Mereka bilang, “Besok siapkan untuk Hari Raya kepada Tuhan.” Di dalam teks Alkitab menulis TUHAN huruf besar, itu terjemahan dari YHWH, itu adalah The LORD, itu berarti mereka sedang menyembah kepada Allah yang menyelamatkan mereka, membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Tapi masalahnya itu apa? Bukan mereka sembah pindah agama, tapi caranya salah, dan Tuhan tidak berkenan. Dan malah Tuhan murka sekali kepada mereka di situ. Makanya perhatikan sini, kita tidak bisa, “Oh yang penting saya tulus, tulus.” Kita ini orang berdosa, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Kita sudah jatuh dalam dosa. Dan ketulusan setulus-tulusnya pun kita bisa salah ya. Kita bisa salah. Karena itu, kembali lagi ya, apa yang jadi kegagalan dalam bangsa Israel bagian itu? Karena mereka itu memang sudah keluar dari Mesir ya, tapi teolog itu menarik katakan, tapi Mesir belum keluar dari mereka. Gitu ya. Mereka sudah keluar dari Mesir, tapi Mesirnya belum keluar dari mereka. Ini, tertawan 400 tahun paradigmanya, cara berpikirnya, world view-nya itu semua Mesir semua. Sehingga setelah keluar memang dari tanah Mesir, tapi cara berpikirnya persis orang Mesir, makanya buat patung lembu emas. Kenapa? Karena ini menggambarkan keperkasaan. Tapi ternyata bertentangan dengan Kitab Suci, bertentangan dengan firman Tuhan, bertentangan dengan hukum kedua. Kembali ya, mereka tulus, tulus. Tapi ketulusan itu nggak cukup. Harus benar ya. Ini jangan dibalik ya, “Oh yang penting benar”. Nggak. Kita juga harus kemurnian di dalam hati kita, sepenuhnya bagi Tuhan dan ini harus berjalan tetap.

Dan kenyataannya, dan saya bicara ini terutama ini lebih ke kritik zaman ya. Zaman ini semua orang suka bilang, “Ikuti kata hatimu, ikuti kata hatimu.” Kenyataannya kata hati kita kadang salah ya. Ada hamba Tuhan kita itu pernah membedakan ada istilah itu ya, antara suara hati dengan hati nurani. Menarik dia bilang membedakan antara hati nurani dengan suara hati. Dia bilang, kalau hati nurani itu sebenarnya lebih mengingatkan kita ketika kita mau buat dosa, itu suara hati nurani. Jadi, seperti, mungkin di sini ada beberapa mahasiswa ya. Ketika pertama kalinya mau nyontek, nah itu hati nurani akan tegur, “Wah ini salah lho. Nggak boleh. Nggak boleh. Ada yang ngelihat nggak? Ketahuan nggak?” Itu suara hati nurani. Itu suara hati nurani. Itu memang adalah sesuatu yang memang anugerah umum yang Tuhan berikan dalam setiap manusia untuk menegur dia, memberikan semacam kompas dalam kehidupan kita itu mengikut Tuhan ya. Tapi meski juga kita ngerti hati nurani itu ada batasannya, karena orang kalau, sederhana ya, kalau misalnya orang mau nyontek pertama kalinya dia kan ditegur hati nurani, oh terganggu ini, gimana? Tapi setelah berhasil, wah, nggak ketahuan, berikutnya nyontek, masih tertegur, ada, tapi sedikit. Yang ketiga, oh ada sisa sedikit. Berikutnya oh justru langsung rasa saya langsung lakukan aja, lebih mahir lagi, lebih canggih lagi, dan hati nurani itu kenyataannya bisa diam, bisa mati. Kalau kita matikan, kalau kita diamkan, akhirnya memang bisa mati, sehingga di situ kita lihat itu tidak netral. Hati nurani itu tidak netral. Kita bisa gagal di situ dalam kenyataannya, orang kalau sudah lakukan kejahatan, kembali ya, dosa yang sama berulang-ulang, dia tidak akan ditegur lagi hati nuraninya bagian situ. Lho sudah berulang-ulang kok. Dan jangan terus, oh saya ikuti kata hati saya. Di situ bagian ini, hamba Tuhan itu ada pernah mengatakan itu karena lebih mengikuti sebenarnya suara hati ketimbang hati nurani ya. Suara hati itu beda dengan hati nurani. Saya kasih contoh saja sederhana ya, seperti misalnya di sini beberapa yang laki-laki ya, terutama laki-laki, di sini misalnya kalau anda pagi-pagi ya, misalnya ketika ada, mau datanglah misalnya ibadah ke sini, anda sudah bangun pagi-pagi, lalu naik motor, jalanan sepi ya, lalu di tengah itu wah ketemu lampu merah ya. Lalu sudah lagi tunggu gini ya, terus ada countdown lagi itu mundur gitu kan, zaman sekarang itu. Terus muncul motor di samping kita. Terus motor sampingnya itu, ini nih brrrm brrm brrmm, ngegas-ngegas gitu ya. Terus dia noleh kita sambil ngegas-ngegas gitu. Lalu lampu merahnya hitung mundur, tiga, dua, satu. Wah setelah satu itu apa yang anda lakukan? Wah langsung ngegas gitu kan? Kenapa? Itu suara hati. Bukan hati nurani. Itu suara hati kita ingin, “wah gua juga ingin ngebut-ngebutan.” Perhatikan di sini ya. Paginya tidak merasa gitu kan? Tapi bisa terpicu, terdorong, dan memang bisa salah. Akhirnya kebut-kebutan seperti itu, dan kelirunya apa? Ya itu karena ikuti kata hati saya.

Kembali lagi ya, kata hati kita itu bisa salah. Dan apalagi di dalam banyak hal kalau saya menarik dan merenungkan bagian ini, kata hati kita itu dibentuk dari culture, budaya kita. Dan kenyataannya budaya kan nggak pernah netral. Budaya itu ada kesalahannya, ada kekeliruannya. Kebiasaan-kebiasaan kita itu bisa salah. Dan apalagi kalau kita melihat secara penempatannya tidak boleh lebih penting dari Alkitab. Di dalam misalnya merenungkan bagian ini, saya teringat apa yang Pak Tong katakan ya di dalam bukunya Roh Kudus, Suara Hati Nurani, dan Setan, dia katakan, ada beberapa bagian ini ya. Seperti dia katakan, hati nurani itu tidak netral ya. Hawa di Taman Eden saja itu bisa makan buah terlarang. Itu ikuti kata hatinya kan? Karena apa? Pertama hati nurani tegur, tegur, oh nggakpapa. Saya pengen. Ikuti kata hati kok itu. Di Taman Eden saja itu bisa salah. Dan saya kembali sini ya, karena bicara hati nurani ini Pak Tong katakan, hati nurani itu juga bisa tercemar oleh berbagai hal termasuk kebudayaan. Menarik ya di dalam bukunya Pak Tong itu dia banyak bahas dalam bagian ini, tapi saya mencuplik saja beberapa bagian yang saya rasa menarik ya untuk kita pertimbangkan di dalam bagian ini. Dia bilang, di dalam kebudayaan Chinese yang kuno, itu suami itu bisa mencerai istrinya yang tidak kasih keturunan, tapi anehnya kalau suaminya yang mandul nggak boleh cerai. Wah nggak fair ya ini? Nggak fair. Tapi ya budayanya begitu. Kembali lagi ya, budayanya begitu ya. Lalu di dalam itu juga dia menuliskan, di Tiongkok ya, kalau seorang laki-laki, seorang suami itu punya 2 istri, dia itu masih bisa senyum-senyum, “Perkenalkan, oh ini istri pertama, ini istri kedua,” tapi kalau ada seorang istri punya dua suami, wah bisa dicaci maki seluruh kota. Ini nggak fair sama sekali gitu ya. Tapi ini kebudayaan. Ini kebudayaan. Di India pernah ada tradisi bahwa di suatu kota tertentu, bahwa kalau suaminya mati ya, maka istri itu harus ikut mati juga dengan suaminya. Dan itu disebut sebagai upacara mengubur diri untuk mendampingi suaminya yang mati. Itu baru dianggap setia ya. Tapi kalau istrinya mati, ya nikah lagi, gitu ya. Ini nggak fair sama sekali ya? Tapi yang saya mau jelaskan, ini budaya.

Dan bisa bayangkan, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, kalau kita berada dalam konteks budaya itu kita akan ditegur bagian situ kan? Kita akan ditegur, orang akan bilang, “Oh biasanya begini, sudah harusnya begini. Kok kamu nggak ikut?” Jangan lupa bahwa kita meski kadang tidak mengerti dalam bagian ini, tapi kebudayaan itu selalu mencengkeram kita, kita bahkan tenggelam di dalamnya dan rasanya benar, itu tidak berarti benar-benar benar karena itu beda dan budaya itu membentuk kita. Tapi pertanyaannya kita mau belajar nggak kita lebih taat pada firman Tuhan, atau terima budaya? Kembali lagi ya budaya itu sekuat apapun, pengajaran sebagus apapun, lebih cocok dengan kebudayaan setepat apapun, banyak orang yang ikuti, tapi kalau salah tetap salah, nah itu prinsip di Reformed. Salah itu salah, meski semua orang lakukan itu kita ikuti apa Alkitab katakan, kalau Alkitab katakan salah ya salah. Meski tidak lepaskan kita dari kesulitan dan pergumulan tapi kita belajar hidup kita itu dinilai sesuai dengan Kitab Suci atau tidak. Banyak orang itu bisa mengatakan, “O saya cinta Tuhan cinta Tuhan,” Kitab Suci saja tidak pernah membaca, tidak pernah mau bertumbuh sendiri. Saya heran sekali orang ini bahkan bukan cuma ngaku sudah Kristen bertahun-tahun tidak bertumbuh dalam pengertiannya. Pendeta Antonius Un itu pernah mengatakan ada orang kalau kerja sudah puluhan tahun sebagai misalnya tukang mesin, maka dalam puluhan tahun dia pasti sudah ngerti semua tentang mesin. Orang kalau kerja buka toko tentang kue puluhan tahun dia pasti bertahun-tahun dia pasti bisa mengerti semua apa tetang seluk beluk tentang kue. Tapi orang Kristen ngaku Kristen berpuluh puluh tahun tetap tidak mengerti Kekristen itu seperti apa, masih ngaku Kristen. Dan lebih lagi ngomong, “O aku cinta Tuhan,” baca Alkitab saja tidak, mengerti Kitab Suci saja nggak. Saya lihat itu semua cuma banyak kemunafikan dan omong kosong. Tapi biarlah di bagian ini ketika kita mendengarkan firman Tuhan hari ini, ini bukan bagian untuk kita masalahkan kita salah-salahkan siapa tapi kita belajar dan bersyukur apabila firman Tuhan itu mengoreksi kita mengubahkan kita kembali melihat apa yang Kitab Suci katakan. Dan ada bagian-bagian yg lain dalam kehidupan kita ketika itu tidak benar kita harus bisa coret itu. Semanis apapun, sekuat apapun tradisinya, kembali kita harus buang kebiasaan kita kita harus berani koreksi kalau tidak sesuai dengan Kitab Suci.

Francis Schaeffer pernah mengatakan, “I do what I think, I think what I believe.” Saya ulang ya, Francis Schaeffer pernah mengatakan, “I do what I think, I think what I believe.” Saya melakukan apa yang saya pikirkan dan saya pikirkan menurut apa yang saya percaya. Ketika kita mengerjakan sesuatu itu berdasarkan pemikiran kita, konsep berpikir kita dan kesalahannya, masalahnya adalah cara berpikir kita memang bisa keliru, kebiasaan-kebiasaan kita bisa salah, dan kenapa? Karena pemikiran kita itu dibentuk dari belief kita, kepercayaan kita itu pada siapa. Kita semua itu bisa ngomong, “O saya percaya Kitab Suci,” ngerti nggak Kitab Suci seperti apa prinsipnya? Di dalam sini ada berapa mahasiswa ya? Kalian saja ya kalau sudah kuliah sudah jalan ya satu semester, dua semester, tiga semester pasti sudah bisa menjelaskan jurusanmu dengan lebih baik kan? Pasti kan? Tapi coba cek kamu berapa tahun Kristen, lebih ngerti nggak Kitab Suci? Lebih ngerti nggak? Kalau kita nggak lebih ngerti kita ini Kristen atau bukan? Tapi biarlah kita melihat semua ini, bagaimana kita bertumbuh, itu bukan saja bertumbuh secara badannya saja, fisiknya, secara absensinya kita datang dalam ibadah, tapi rohaninya itu penting, penting sekali. Dan ini yang dibagian sini Paulus makannya tegur keras sekali bagi orang Yahudi. Kembali lagi ya. Ini suatu kritik internal, ini suatu kritik yang mendalam, karena Paulus sendiri orang Yahudi. Dan apalagi dia sangat kental Yahudinya, dia background-nya orang Farisi sehingga ini mengoreksinya nggak sembarangan. Tapi dia mengerti seketat apapun biarlah kita lihat kalau itu menggeser posisi Kristus maka itu kita buang. Kalau itu menggeser posisi Kitab Suci dalam kehidupan kita maka itu kita buang. Sehingga di sini dalam kehidupan kita, kita belajar kita menjalani kehidupan ini di sini. Bagaimana kita mengerti kita mejadi Kristen? Yaitu kita bertumbuh semakin hidup kita sesuai dengan Kitab Suci. Kita berani koreksi semua ada bagian-bagian dalam kehidupan kita yang memang tidak sesuai dengan prinsip Alkitab. Dan ketika kita lihat dalam kehidupan kita akhirnya setelah semua dicoret, apa yang tersisa? Biarlah kita lihat Kristus yang ditinggikan dan dimuliakan.

Seumur hidup kita, kita hidupnya itu akan dihakimi oleh firman. Tapi biarlah kita juga bersyukur di dalam Kitab Suci juga menyatakan bahwa Firman yang menghakimi kita itu akhirnya juga yang menjadi manusia. Firman itu yang berinkarnasi menjadi manusia yang kita kenal dengan nama Tuhan kita Yesus Kristus dan Dialah yang matinya menebus kita. Sehingga di sini memang rahasia iman Kristen itu luar biasa. Firman yang menghakimi sekaligus juga menebus. Firman yang menegur kita, menyatakan kita seharusnya dihukum dalam neraka tapi sekaligus juga memberikan kabar keselamatan, injil penebusan, pengharapan kita, yaitu dalam Kristus sendiri. Karena Sang Firman yang kemudian akhirnya menjelma jadi manusia dan yang akhirnya mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita. Orang-orang tidak sanggup menaati kepada Firman itu sendiri. Tapi inilah rahasia ibadah kita, inilah fokus, center dari ibadah kita. Dan pertanyaannya adalah adakah kita melihat kehidupan kita semakin meninggikan Kristus, semakin mengenal Kristus, semakin bertumbuh dalam kebenaran Kitab Suci? Dan jika itu yang sudah terjadi, itulah kita mengerti itu cukup dan itulah kita mengerti kita sudah melakukan bagian kita sebagai orang-orang yang sudah ditebus oleh pengorbanan Kristus Yesus sendiri. Dia sudah mati bagi kita. Apa yang kita sudah korbankan bagi Dia?  Mari kita satu dalam doa.

Bapa kami dalam Sorga kami berdoa bersyukur untuk kebenaran-Mu kami berdoa bersyukur untuk firman-Mu yang pada hari ini boleh mengingatkan kami bagaimana prinsip kebenaran-Mu yang lebih utama daripada kebiasaan kami, daripada kebudayaan kami, daripada apa yang kami pegang secara lahiriah. Kami berdoa, ya Bapa, biarlah setiap kebenaran firman-Mu itu sungguh boleh mengubahkan kami, menuntun kami untuk menghidupi kebenaran-Mu. Dan kami sadar Bapa kami sungguh tidak sanggup melakukan semua ini jika bukan pertolongan dari Allah Roh Kudus saja. Sehingga biarlah kami menjalani kehidupan kami, baik dalam ibadah kami di hari Minggu di sini, maupun di dalam pekerjaan, studi, dan hal-hal lain yang kami lakukan di hari-hari lain, biarlah semua itu bagi kemuliaan nama-Mu saja dan Kristus saja yang ditinggikan. Terima kasih Bapa untuk semua ini. Hanya dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *