Kehidupan yang Dikuduskan, 3 Maret 2019

Ef. 5:6-8

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita berbicara mengenai pasal yang kelima, bahkan mungkin pasal yang keempat sampai pasal yang kelima, maka tema yang menjadi pembahasan kita itu adalah tema mengenai kehidupan yang benar dan kehidupan yang pantas sebagai seorang Kristen seperti apa, atau istilah lainnya kita sedang berbicara mengenai suatu kehidupan yang dikuduskan. Istilah yang kerennya itu adalah sanctification. Jadi pada waktu kita hidup sebagai orang Kristen, ada hal-hal yang Tuhan Allah kerjakan dalam kehidupan kita dan setiap anak Tuhan ada mengalami berkat-berkat yang pasti diterima oleh semua anak Tuhan dan juga ada berkat-berkat yang sebagian anak Tuhan akan alami itu, tapi sebagian lain tidak mengalami hal itu atau kurang mengalami hal itu dalam kehidupan mereka? Tapi kalau kita berbicara, sebagai anak Tuhan, maka semua anak Tuhan pasti mengalami berkat yang sama, dan berkat yang sama ini dimiliki oleh Anak Tuhan itu adalah tiga hal: Pertama adalah, mereka akan mengalami pembenaran dari Tuhan, kedua mereka akan diadopsi menjadi anak-anak Allah dan ketiga mereka akan dikuduskan di dalam kebenaran Firman.

Saudara, pada waktu kita percaya di dalam Kristus maka pada waktu itu kita punya status bukan lagi sebagai status orang yang berdosa, orang yang bersalah, orang yang harus dihukum oleh Tuhan Allah. Tetapi kita akan menjadi orang-orang yang dibenarkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus atau oleh kebenaran dari Yesus Kristus. Pada waktu kita, menjadi orang yang benar di hadapan Allah, maka tindakan Allah selanjutnya di dalam kehidupan kita adalah tidak membiarkan kita dalam posisi sebagai orang-orang yang merupakan anak-anak Iblis, tetapi Dia akan memindahkan kita dari kerajaan kegelapan kepada kerajaan terang atau kerajaan Allah. Dan kita ada di dalam kerajaan Allah. Dan bukan hanya sebagai wakil di dalam kerajaan Allah tetapi Alkitab  juga berkata, kita kemudian baru bisa diadopsi menjadi anak-anak Allah. Jadi pada waktu kita hidup sebagai orang Kristen, kita hidup bukan lagi memanggil Allah dengan sebutan Allah, Tuhan, tetapi Alkitab berkata karena ada Roh Kudus yang tinggal di dalam diri, yang bersaksi bersama-sama roh kita, itu yang membuat kita bisa memanggil Allah itu dengan sebutan “ya Abba ya Bapa.” Jadi, panggilan Abba, panggilan Bapa, suatu panggilan yang mengandung unsur relasi yang begitu intim sekali, yang dekat sekali antara kita dengan Allah. Itu karena apa? Karena kita tidak lagi merupakan orang-orang yang harus dimurkai tetapi sekarang kita adalah anak-anak yang dikasihi oleh Bapa kita yang ada di Surga, karena pekerjaan dari pada Kristus, dan kelahiran baru yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri kita. Ini adalah kebenaran yang harus dimiliki oleh semua orang Kristen. Kebenaran hidup atau status yang benar di hadapan Allah; kedua adalah status sebagai anak-anak AllahYang; ketiga adalah status dikuduskan.

Dikuduskan berarti pada waktu kita menjadi Anak Allah, kita punya kehidupan pasti tidak lagi di dalam dosa, tetapi hidup di dalam kebenaran. Kita hidup di dalam suatu kehidupan yang terpisah dari dunia, karena kita adalah orang yang kudus. Sepeti Kristus dengan Allah adalah kudus, maka kita pun menjadi orang yang kudus, baru di situ kita bisa menghampiri Allah yang kudus tersebut. Saya percaya di dalam Perjanjian Lama sudah begitu banyak contoh yang diberikan bagaimana seseorang itu menghadap Tuhan. Mereka tidak boleh sembarangan dalam menghadap Tuhan. Tetapi ketika mereka mau menghadap Tuhan, mereka harus membasuh diri mereka, menyucikan diri mereka, tidak boleh bergaul dengan pasangan hidup lalu pada waktu itu ketika mereka menghadap Tuhan mereka harus membawa seekor binatang. Darah binatang itu harus dicurahkan di atas mezbah baru mereka bisa masuk dan menghadap Tuhan Allah. Ini mencirikan apa? Pada waktu kita menghadap Tuhan Allah yang kudus, orang berdosa tidak akan mungkin bisa menghadap Allah yang Kudus kecuali dia terlebih dahulu telah dikuduskan oleh Tuhan Allah. Sehingga pada waktu kita bicara mengenai tiga aspek status yang dimiliki oleh orang percaya, bahwa kita dalah anak, orang yang telah dibenarkan, diadopsi dan dikuduskan oleh Tuhan Allah, ada satu pra-anggapan yang mungkin muncul di dalam kehidupan kita, kalau kebenaran itu adalah status, kalau pengadopsian itu adalah status yang Tuhan berikan bagi kita di hadapan Dia, bagaimana dengan pengudusan? Apakah pengudusan juga adalah status? Maksud status ini adalah Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita, nah kalau itu merupakan yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita, maka kita nggak perlu lakukan apapun dan karena kita memang nggak memiliki bagian apapun di dalam pengudusan itu, sehingga pada waktu kita hidup di dalam keadaan yang berdosa, maka apa yang harus kita lakukan keadaan itu. Kekudusan caranya adalah kita memandang kepada Kristus. Pada waktu kita memandang kepada Kristus, maka Kristus akan menguduskan kita, maka kita akan ditransformasi kehidupan kita, tanpa kita perlu lagi melakukan suatu tindakan untuk menguduskan diri kita di hadapan Tuhan.

Saudara, saya lihat satu sisi Alkitab memang mengajarkan pada waktu kita pengudusan itu adalah sesuatu yang tidak mungkin kita bisa capai atau kita usahakan dalam kehidupan kita, pengudusan itu adalah sesuatu yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita. Nanti kita lihat itu di dalam pembahasan kita. Mungkin kita bisa lihat di dalam ayat yang kedelapan di dalam bagian ini ya, “Memang dulu kamu adalah kegelapan tetapi sekarang kamu adalah terang. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.” Dahulu kamu adalah kegelapan, sekarang kamu adalah terang. Kenapa sekarang kita bisa menjadi terang? Dulu ada di dalam kegelapan? Alkitab kalau kita baca maka dikatakan karena Tuhan  mengubah kita  dulu hidup di dalam terang baru dari situ kita bisa memiliki suatu kehidupan yang sepadan dengan terang  yang kita miliki tersebut. Jadi kalau bicara mengenai terang tersebut karena kita adalah terang yang sebelumnya, maka terang yang sebelumnya kita terima itu adalah sesuatu yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita baru dari situ kita bisa hidup di dalam terang. Jadi pada waktu kita berbicara mengenai pengudusan maka pengudusan itu adalah hal yang dikerjakan oleh Tuhan. Tapi Bapak Ibu sekalian yang dikasihi Tuhan, celakanya adalah kadang kala kita melihat pengudusan itu adalah sesuatu yang hanya dikerjakan oleh Tuhan  seperti ilustrasi ketika kita ketika ada di dalam dunia ini,  seperti kita ada di dalam sebuah ruangan  yang gelap gulita. Pada waktu kita di dalam ruangan gelap gulita, kita nggak bisa lihat apa pun dalam ruangan itu. Bagaimana caranya supaya kita bisa lihat sesuatu dan bagaimana kita supaya tahu ada apa yang ada dalam ruangan itu? Maka jawabannya adalah kita harus membuka gorden atau kita menyalakan lampu. Maka pada waktu lampu dinyalakan, gorden dibuka, ada cahaya yang masuk, maka pada waktu cahaya masuk, apa yang terjadi? Seluruh kegelapan itu sirna dari pada ruangan ini. Nah ilustrasi ini kadang-kadang, atau pemikiran seperti ini membuat kita menerapkan itu, mengaitkan itu dengan sifat pengudusan yang kita terima dari Tuhan Allah.

Jadi pada  waktu kita hidup dan sebagai anak Tuhan, kita jatuh dalam dosa, lalu kita kemudian pada waktu jatuh dalam dosa, kita menyesal, kenapa saya jatuh dalam dosa. Saya mungkin merasa diri saya adalah orang yang betul-betul adalah orang yang telah menyedihkan Tuhan Allah. Lalu apa yang harus saya lakukan untuk menguduskan diri? Kalau kita melihat ilustrasi ini bahwa terang yang datang itu membuat ruangan menjadi terang, kegelapan itu tersingkir dari dalam ruangan tersebut, mungkin kita akan berkata, cara untuk kita bisa kudus di hadapan Tuhan atau memiliki kekudusan dalam hidup kita adalah berpalinglah kepada Kristus yang adalah terang itu. Sehingga pada waktu kita berpaling pada Kristus, kita melihat wajah Kristus, terang dari wajah itu akan menerangi kehidupan kita sehingga kita menjadi orang yang kudus dalam hidup kita. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau ini adalah suatu kebenaran, pertanyaannya adalah, pada waktu setiap kali kita lakukan dosa, kita melihat kepada Kristus, kita masih hidup di dalam dosa tidak? Kemungkinan kita masih melakukan dosa dalam kehidupan kita. Saya bukan berkata kita akan menjadi orang yang 100% bisa hidup tanpa dosa sama sekali dalam dunia ini. Tidak seperti itu. Tetapi paling tidak pada waktu kita telah dipanggil dan dikuduskan oleh Kristus, maka kehidupan kita harus sepadan dengan kekudusan yang Tuhan telah berikan dalam kehidupan kita atau bagi diri kita. Ada nggak pengudusan itu? Tiap kali saya berpaling pada Tuhan, saya jatuh dalam dosa, ada tidak pengudusan yang makin diri kita makin diproses untuk makin hidup dalam ketaatan kepada Tuhan? Jawabannya mungkin tidak. Atau ada sebagian. Tetapi kurang kuat untuk membawa kita hidup di dalam pengudusan. Sebabnya karena apa? Karena kita lupa ada satu bagian lagi dari pada pengudusan, yaitu pengudusan itu adalah sesuatu yang kita harus usahakan juga ketika kita telah dikuduskan oleh Tuhan dalam kehidupan kita. Dan ini dikatakan oleh Paulus begitu banyak sekali di dalam Surat Efesus dan surat-surat yang lain. Misalnya pada waktu kita menjadi orang yang disebut sebagai manusia baru, apa yang harus kita lakukan? Paulus bilang, hiduplah sebagai manusia yang baru.

Lalu kehidupan sebagai manusia yang baru itu bagaimana? Misalnya, kamu tidak boleh memelihara kemarahanmu sampai matahari terbenam. Kamu harus menjaga perkataanmu. Kamu tidak boleh berkata sesuatu yang jahat dalam kehidupanmu. Pada waktu kamu hidup dan berelasi dengan orang lain, kamu harus menyatakan cinta kasih Kristus dalam kehidupanmu, menjadi penurut-penurut Kristus. Karena seperti Kristus yang mengasihi kita dan mati bagi diri kita, kita juga perlu belajar mengasihi orang dengan suatu pengorbanan dalam kehidupan kita. Jangan kamu hidup dalam percabulan. Jangan hidup di dalam kecemaran. Jangan hidup di dalam segala hal yang mendukakan Tuhan atau perkataan kosong, penyembahan berhala, dan yang lain-lain yang mendukakan Tuhan dalam kehidupan kita. Semua itu harus kita singkirkan dan kita jauhi dalam kehidupan kita. Kenapa? Karena tindakan hidup yang menjauhkan hal-hal itu, ini berkaitan dengan suatu panggilan hidup untuk menguduskan diri di hadapan Tuhan. Jadi kalau kita hidup di dalam suatu pengertian, Tuhan menguduskan saya dan itu adalah tindakan Allah, maka apa yang harus saya lakukan kalau saya berdosa? Yang penting saya datang kepada Tuhan dan meminta tolong Tuhan untuk menguduskan saya,dan setiap kali saya jatuh dalam dosa saya datang kepada Tuhan minta tolong Tuhan menguduskan saya. Memang benar harus seperti itu, tetapi saya yakin, di dalam kehidupan kita tidak akan ada progress yang terlalu signifikan dari diri kita yang makin bertumbuh di dalam kekudusan, karena kita lalai di dalam melakukan apa yang menjadi bagian perintah Tuhan atau yang menjadi bagian dari pada kehidupan kita yang diperintahkan oleh Tuhan supaya kita hidup di dalam pengudusan juga. Di dalam Surat 2 Petrus 1:3, Petrus berkata, setiap orang yang percaya kepada Kristus, itu diberi kuasa untuk hidup seturut dengan apa yang menjadi kehendak Allah. Kita buka sama-sama ya, Surat 2 Petrus 1:3. “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” Pada waktu seseorang percaya kepada Kristus, apa yang kita terima? Petrus berkata, Tuhan telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh, oleh pengenalan kita akan Dia yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Jadi,

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita berbicara mengenai pengudusan hidup atau sanctification, maka ada poin yang tidak boleh atau syarat yang kita tidak boleh tinggalkan atau abaikan. Yang pertama apa? Yaitu pengudusan yang kita alami itu adalah suatu pengudusan yang harus berkaitan dengan kebenaran firman yang dikatakan oleh Yesus sendiri misalnya dalam Yohanes 8:31. Kalau kamu tetap tinggal di dalam firman-Ku, atau tetap dalam firman-Ku, maka kamu akan benar-benar merupakan murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Di Yohanes 17;17 dikatakan kuduskanlah mereka dalam kebenaran, firman-Mu adalah kebenaran. Jadi pada waktu kita berbicara mengenai pengudusan, pengudusan itu tidak pernah bisa dipisahkan dari pada firman Tuhan, karena dari firman itulah kita mendapatkan kebenaran, dan kebenaran itu yang memerdekakan kehidupan kita. Tetapi di sisi lain, Alkitab juga berkata, setiap orang yang ada di dalam firman Tuhan ada di dalam Kristus, dia juga diberikan kuasa ilahi untuk hidup di dalam kebenaran dan hidup di dalam kemerdekaan dari pada kuasa dosa. Dan kita tidak boleh menekankan hanya satu sisi saja, “Yang penting saya punya firman, dan firman itu menguduskan saya, dan pengudusan itu adalah secara status saya alami dalam kehidupan saya lalu secara realita, secara fisik nggak masalah, karena apa? Pengudusan itu adalah seperti kebenaran dan pengadopsian yang adalah status di hadapan Tuhan, kita masih mungkin bisa salah mengerti, mungkin kita masih bisa hidup di dalam suatu kehidupan yang tidak seperti anak-anak Tuhan tetapi secara status bukankah kita dikatakan bahwa sekali selamat tetap selamat, orang yang ada di dalam Kristus tidak ada lagi penghukuman bagi diri dia, karena itu nggak masalah saya bisa hidup memiliki kebenaran yang sungguh-sungguh benar atau tidak, tidak masalah kalau saya hidup sebagai anak Tuhan yang sungguh-sungguh seperti anak Tuhan atau tidak, tidak masalah saya memiliki kehidupan yang kudus atau tidak dalam kehidupan saya karena kebenaran saya di dalam Kristus tidak akan membuat saya terhilang di dalam iman saya, jaminan keselamatan saya”? Kita bilang tidak. Saudara, memang secara kebenaran itu status, memang secara pengadopsian itu status, memang secara sanctification itu adalah status, tetapi jangan lupa keberadaan kita sebagai anak Allah, Alkitab bilang, itu nggak mungkin terlepas dari suatu kehidupan yang tanpa memberi kesaksian: kita memang hidup di dalam terang. Kalau kita cuma bicara status dan status semua, lalu mungkin orang akan bertanya, “Apa bedanya engkau dengan kami?” Lalu orang dunia akan berkata, “Mungkin kamu itu adalah orang-orang munafik yang hanya berkata bahwa kamu hidup dibenarkan oleh Tuhan, hidup di dalam kasih Tuhan, tapi kehidupanmu penuh dengan kebencian dan kejahatan, penghinaan, dan dosa segala macam, bahkan lebih buruk daripada orang-orang dunia. Lalu bagaimana kamu bilang kamu adalah anak Allah padahal kalau kamu berkata kami anak setan, ternyata anak setan lebih baik daripada anak Allah.”

Saudara, saya percaya kita tidak bisa berkata seperti ini, karena pada waktu kita mengklaim diri kita adalah anak Allah yang dibenarkan dan dikuduskan maka kebenaran dan kekudusan itu harus nyata dalam kehidupan kita. Atau istilah lainnya adalah kebenaran yang kita terima itu adalah sesuatu yang harus diaplikasikan dalam kehidupan kita yang dinyatakan dalam rupa pengudusan. Setiap orang yang hidup di dalam kebenaran firman dia adalah orang yang dimerdekakan, dimerdekakan dari apa? Saya percaya dimerdekakan dari dosa, dan dimerdekakan untuk memiliki kehidupan yang bisa taat kepada Tuhan Allah, bukan selalu diperbudak oleh dosa. Dosa membelenggu, dosa mengikat, dosa tidak memberikan kita kebebasan untuk bisa mentaati Tuhan; tapi pada waktu kita memiliki firman, memiliki Kristus, Tuhan membebaskan kita dari dosa sehingga kita tidak lagi terbelenggu untuk lakukan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan, tetapi kita menjadi orang yang bisa melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan dengan bebas dalam kehidupan kita. Ini yang Tuhan kerjakan. Karena itu, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab selalu menekankan “jadilah penurut-penurut Kristus yang adalah Kasih itu, hiduplah di dalam kasih.” Dan pada bagian ini Paulus tidak hanya berhenti di situ, Paulus ajak kita melihat lebih jauh lagi, yaitu kita harus hidup di dalam terang bukan di dalam kegelapan; atau istilahnya Paulus ajak kita lihat dari perspektif terang dan gelap. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa Paulus menekankan hal-hal seperti ini? Sepertinya dia tidak segera keluar dari suatu pengajaran mengenai kehidupan manusia yang baru, tetapi Paulus mengajarkan kita begitu detil, begitu rinci satu persatu kehidupan sebagai manusia baru, yaitu suatu kehidupan di dalam kehidupan yang tidak berdosa, kehidupan di dalam kasih.

Lalu setelah bicara mengenai itu, Paulus nggak berhenti di situ tetapi dia mengajak kita melihat lagi suatu kehidupan yang ada di dalam manusia baru adalah suatu kehidupan yang ada di dalam terang. Saya percaya karena terang sendiri dan kegelapan, di dalam Kitab Suci, itu memiliki suatu signifikansi yang penting atau yang besar bagi orang-orang percaya, dan ini membuat kita bisa mengerti bahwa kehidupan kita sebagai orang yang ada di dalam Kristus itu haruslah merupakan kehidupan yang sungguh-sungguh terpisah dari pada kegelapan. Karena apa? Setiap kali Alkitab berbicara mengenai terang dan gelap maka Alkitab selalu mengkontraskan terang dengan gelap; dimana gelap tidak mungkin bisa ada berbagian di dalam terang. Dan kita juga tahu di dalam realita kehidupan kita setiap kali terang ada pasti kegelapan itu menyingkir dari pada terang tersebut. Ada contoh-contoh Kitab Suci yang berbicara mengenai hal ini, misalnya Yohanes 8:12, Yesus berkata, “Akulah terang dunia, barangsiapa mengikut Aku ia tidak berjalan dalam kegelapan melainkan ia akan mempunyai terang hidup. Yohanes 1:4-5, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” Matius 5:14, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” Ayat-ayat ini, masih banyak lagi ayat-ayat yang lain, tetapi paling tidak ketika saya mengutip ayat-ayat ini, suatu ayat yang mungkin kita semua sudah tahu dan seringkali dengar, di situ saya ingin menunjukkan bahwa ketika kita berbicara mengenai terang, maka terang itu adalah sesuatu yang pasti terlihat, terang itu adalah sesuatu yang tidak mungkin ada bagian kegelapan di dalamnya, terang itu pasti memisahkan kita dari kegelapan di dalam kehidupan kita. Jadi bicara tenttang terang berarti kita harus memiliki suatu kehidupan yang dikontraskan daripada kegelapan. Atau islitah lainnya Paulus berkata, “Hai orang-orang Kristen, hai jemaat Efesus, hai semua orang-orang percaya, kalau engkau adalah orang yang mengatakan berada di dalam cinta kasih dari Kristus, maka milikilah suatu kehidupan yang mutlak harus berbeda dari orang-orang bukan Kristen, milikilah kehidupan yang berbeda dengan mereka yang hidup di dalam dosa, atau istilah lainnya kita harus benar benar hidup di dalam kekudusan ketika kita berada di dalam Kristus.

Lalu selain dari pada prinsip ini hal apa yang harus kita perhatikan sebagai orang yang ada di dalam kerangka yang membedakan kita daripada kehidupan orang orang dunia. Saya percaya hal yang paling mendasar sekali yang membuat perbedaan itu adalah bukan dari apa yang kita kenakan bukan dari apa yang kita katakan bukan dari apa yang menjadi pakaian atau aksesoris yang menempel pada tubuh kita ini dan bukan dari kegiatan yang kita lakukan dan siapa yang menjadi orang orang yang ada di dalam perkumpulan kita tetapi yang paling dasar yang membedakan antara orang yang hidup di dalam terang dan kegelapan adalah orang yang ada di dalam terang adalah orang yang mengalami kelahiran baru dari roh kudus. Saudara, pada waktu saudara berkata saya ada di dalam terang atau tidak pertanyaan nya bukan pada apa yang saya telah lakukan untuk membuat saya berbeda dari orang dunia yang meyakinkan saya ada di dalam terang atau tidak tapi mungkin pertanyaan pertanyaan saudara harus tanyakan pada diri adalah saya ada di dalam terang atau tidak tandanya apa, saudara sudah dilahir baru kan oleh Roh Kudus atau belum. Karena setiap orang yang belum dilahirkan Roh Kudus dia ada di dalam kegelapan dan selalu ada dalam kegelapan dan upahnya adalah pasti kebinasaan. Dan yang bisa membuat kita hidup di dalam terang hanya pekerjaan Allah sendiri. Makanya di dalam efesus 2 ayat nya yang ke 10, Paulus berkata ” kita adalah orang yang dicipta barukan, dicipta barukan untuk pekerjaan yang baik yang Tuhan sudah sediakan bagi diri kita. Itu adalah anak anak Tuhan.”

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, coba lihat kepada diri, uji dalam hati, sungguhkah kita berkata kita punya iman di dalam Kristus, sungguhkah kita sudah dipisahkan dari dunia melalui suatu kehidupan baru yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita karena iman yang kita miliki di dalam Kristus? Kalau tidak, saya percaya hal yang paling mendasar ini kalau kita tidak memiliki hal yang paling mendasar seperti ini kita nggak perlu berbicara mengenai terang dan gelap. Karena yang pasti adalah kita pasti ada di dalam kegelapan dan kegelapan tidak mungkin bisa hidup dalam terang. Yang kedua adalah pada waktu berbicara mengenai signifikasi terang dan gelap yang berkaitan dengan, yang pertama adalah berkaitan dengan kelahiran baru yang kedua adalah yang tadi saya bilang antara terang dan gelap alkitab Mau mengatakan ini adalah dua kontras hidup yang bertolak belakang satu dengan yang lain. Kita bisa baca ini dalam 2 Korintus 6:14 , “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimana kah terang dapat bersatu dengan gelap?”. Saudara kadang kadang kita sering mengutip ayat ini di dalam kaitan kehidupan pernikahan. Orang yang percaya kepada Tuhan katanya tidak mungkin bisa sepadan dengan orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Terang tidak mungkin bersatu dengan kegelapan maka anak Tuhan harus menikah dengan anak Tuhan. Betul tidak? Saya percaya ada benarnya kalimat ini. Tetapi pada waktu kita lihat pada konteks 2 Korintus 6:14 maka Paulus tidak sedang berbicara mengenai pernikahan tapi Paulus sedang berbicara mengenai suatu kehidupan dari orang-orang percaya yang ada di dalam terang yang seharusnya tidak bisa bersatu dan bersekutu dengan orang-orang yang ada di dalam kegelapan. Atau istilah lainnya orang percaya tidak mungkin bisa bergaul dengan orang yang berdosa dan tidak boleh bergaul dengan orang-orang yang berdosa karena gelap dan terang tidak mungkin bersatu. Dan ini kalau Saudara baca di dalam Efesus 5:7 disitu dikatakan oleh Paulus dengan kalimat “Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.” Mereka itu siapa? Orang orang yang hidup di dalam percabulan, hidup di dalam kecemaran, hidup di dalam Keserakahan, hidup di dalam penyembuhan berhala. Kita tidak boleh bergaul dengan mereka. Karena apa, terang tidak mungkin bersatu dengan gelap.

Tapi pada waktu berbicara seperti ini, mungkin Bapak, Ibu, Saudara mengatakan, “Wah kalau begitu teman kita semuanya orang Kristen ya? Kalau teman kita semua nya orang Kristen bagaimana kita bisa bersaksi kepada orang dunia dan menyatakan bahwa kehidupan kasih di dalam Kristus itu adalah sesuatu yang indah, sesuatu yang benar, sesuatu yang harus mereka terima juga di dalam kehidupan mereka? Bagaimana kita bisa menjadi orang yang membawa jiwa kepada Tuhan kalau kita hanya bergaul dengan orang-orang yang ada di dalam terang?” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Paulus juga tahu hal ini dan ia juga sebenarnya sudah memberitahu kita maksudnya bukan berarti kita tidak bergaul atau tidak punya teman orang-orang yang tidak percaya. Kalau kita tidak punya teman yang orang-orang tidak percaya, Paulus berkata, bagaimana kita bisa menyaksikan injil kepada mereka? Kalau begitu maksudnya apa kita tidak boleh berkawan dengan mereka? Terang tidak bisa bersatu dengan gelap, kita tidak boleh berkawan dengan mereka tapi di sisi lain dikatakan kita harus berkawan dengan mereka supaya kita bisa menjadi saksi bagi mereka. Saya lihat ini berkaitan dengan bukan kita tidak boleh berkawan atau tidak, tetapi ini berkaitan dengan apakah kita memilih untuk memiliki suatu kehidupan sesuai dengan gaya hidup orang dunia atau tidak. Kalau kita ada anugerah anak Allah, gaya hidup kita haruslah gaya hidup yang ada di dalam terang dan kekudusan. Kalau mereka adalah orang-orang dunia, maka gaya hidup mereka adalah gaya hidup dalam pencemaran dan dosa. Dan sebagai anak Tuhan yang ada di dalam pengudusan, mungkin tidak hidup dalam dosa kecemaran? Kalau sebagai anak Tuhan yang harus setia kepada pasangannya, mungkin tidak dia boleh hidup di dalam percabulan dengan orang-orang dunia seperti orang-orang dunia? Kalau dia adalah orang yang harusnya hidup di dalam ketaatan kepada Tuhan dan tidak mengikuti apa yang menjadi nafsu daging, boleh tidak dia hidup di dalam keadaan yang dipenuhi oleh nafsu daging? Jawabannya: Tidak bisa, karena terang dan gelap tidak mungkin bersama-sama.

Jadi pada waktu Paulus berkata, “Kamu harus menjadi orang yang tidak berkawan dengan orang-orang dunia!” – bukan berarti kita tidak boleh punya teman orang dunia, tetapi ketika engkau berteman dengan orang dunia, hati-hati, jangan sampai engkau dipengaruhi oleh gaya hidup mereka. Seharusnya yang benar adalah engkau mempengaruhi mereka untuk memiliki suatu gaya hidup yang baik. Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tidak boleh berhenti di situ karena kita tahu gaya hidup saja tidak membuat seseorang itu diselamatkan, dan gaya hidup saja tidak pernah mentransformasi seseorang menjadi orang yang percaya kepada Kristus dan diperdamaikan dengan Allah. Tapi kelahiran baru, melalui iman kepada Kristus, itu yang membuat seseorang bisa menjadi anak Allah. Jadi pada waktu kita berbicara mengenai terang dan gelap, Paulus mau menekankan: Coba lihat dirimu. Engkau adalah orang yang seperti apa? Ada tidak hal-hal dulu dalam kehidupan kita dan hal-hal sekarang dalam kehidupan kita yang kita bisa katakan, “Oh iya ya, dulu saya seperti itu tapi sekarang saya tidak lagi seperti itu.” Kalau Saudara tidak pernah bisa menemukan perbedaan itu, saya percaya Saudara harus betul-betul berdoa di hadapan Tuhan, minta pertolongan Tuhan. Tapi pada waktu kita berbicara mengenai perbedaan ini juga, jangan jatuh ke dalam suatu pengertian: “Oh kalau dulu kita ada dalam kegelapan, sekarang adalah terang, maka itu adalah sesuatu yang dikerjakan oleh Allah dalam kehidupan kita, maka perubahan dari gelap dan terang itu adalah suatu perubahan yang drastis, yang seketika dalam kehidupan kita, tetapi kehidupan saya ternyata tidak ada perubahan yang seketika itu. Lalu bagaimana? Apakah saya ada dalam kegelapan, bukan dalam terang?” Saudara, hati-hati ya! Persoalan terang dan gelap, mungkin di antara yang satu dengan yang lain ada suatu perbedaan. Ada orang-orang tertentu, ketika dia melihat kepada Kristus, bertobat dan percaya kepada Kristus, seketika itu dia bisa meninggalkan perbuatan dosanya dan hidup dalam kekudusan yang tidak lagi mengulangi dosa-dosa masa lalu. Ada orang-orang seperti ini. Tetapi juga hati-hati, itu tidak pernah menjadi dasar untuk berkata: Dia adalah anak Tuhan, saya yang tidak mendapatkan perubahan seketika itu bukan anak Tuhan atau kurang dikasihi oleh Kristus. Karena kebanyakan dari orang Kristen, ketika dia menjadi orang yang percaya kepada Tuhan, Tuhan tidak memberikan perubahan seketika, tetapi Tuhan memberikan perubahan yang bersifat progresif, setahap demi setahap, pelan-pelan untuk membentuk kita menjadi seperti Kristus yang kudus.  Persoalannya bukan di dalam persoalan waktu proses yang kita alami. Tetapi persoalannya adalah: Kita adalah terang atau kita adalah gelap, itu yang menjadi persoalan. Tadi poin yang pertama, kita dilahirbarukan atau kita belum dilahirbarukan, itu yang penting.

Kalau saya ke Solo, belakangan ini saya biasanya naik kereta pergi ke Solo. Suatu hari, karena ada urusan, saya pergi agak mepet-mepet ke stasiun kereta. Karena saya belum terbiasa pakai aplikasi KA access itu ya, katanya bisa beli dari situ, saya belum pernah coba pembayarannya segala macam. Akhirnya saya tetap ngantri biasanya. Lalu karena mepetnya waktu, biasanya kadang-kadang ada orang di depan kita. Saya biasanya kalau datang ke stasiun itu 15 menit, lalu beli tiket lalu masuk. Tapi hari itu, saya sampai di stasiun itu kurang dari 5 menit, atau 5 menit lah. Pikir biasanya 5 menit baru tiket tutup kan? Waktu saya sampai di situ, eh, ternyata ada orang di depan saya. Saya antri, lama lagi dia, tapi untung.. kadang-kadang lama, untung kali ini agak cepat. Dia akhirnya sudah beli, dia pergi, lalu saya sampai ke counter, saya tanya, “Mbak, saya mau tiket Sancaka pergi ke Solo, bisa nggak?” Mbak-nya lihat jam, langsung dia ngomong, “Pak, saya nggak berani deh pak, ini waktu sudah kurang dari 2 menit.” Akhirnya saya nggak bisa beli tiket, saya akhirnya naik kendaraan pergi ke Solo. Saudara, pada waktu kita berbicara mengenai terang dan gelap, kehidupan yang dikuduskan atau tidak. Mungkin kita bisa gunakan ilustrasi ini. Saudara pada waktu mengantri untuk membeli suatu tiket tertentu, untuk bisa masuk ke dalam kereta, mungkin Saudara sudah sampai ke depan loket tiket, berapa lama mengantrinya? Nggak tahu. Mungkin bisa 5 menit, mungkin bisa 10 menit, tapi persoalannya adalah pada waktu Saudara sudah sampai ke depan loket untuk beli tiket, Saudara nggak dapat tiket, yang mengakibatkan apa? Kita tidak masuk ke dalam kereta. Persoalan terang dan gelap itu seperti ini. Bukan masalah lama waktunya kita bergumul untuk hidup di dalam pengudusan, bukan soal itu adalah sesuatu yang seketika kita alami atau sesuatu yang di dalam proses, yang bagi orang lain seperti membalikkan telapak tangan dia langsung jadi kudus, bagi orang lain dia harus jatuh bangun jatuh bangun, mungkin 10 tahun kemudian baru dia bertumbuh sedikit sebagai orang Kristen yang kudus, seperti itu. Tapi persoalannya adalah, kita adalah orang yang ada di dalam kereta itu atau tidak? Kita adalah orang yang merupakan orang yang terang atau orang yang gelap? Kita ada di dalam Kerajaan Allah atau tidak? Itu yang lebih penting. Karena ketika kita ada di dalam Kerajaan Allah, saya percaya status kita dalam Kerajaan Allah, itu yang menentukan bagaimana kita hidup di dalam proses pengudusan. Tidak peduli berapa lama proses itu akan terjadi dalam kehidupan kita.

Saudara jangan pernah lihat kepada lamanya waktu Saudara diproses. Walaupun itu juga kadang dongkol ya, kok saya jatuh lagi, saya jatuh lagi sebagai orang percaya. Tapi lebih utamakan Saudara adalah anak Tuhan atau bukan? Itu yang lebih penting. Karena pada waktu berbicara mengenai natur terang dan gelap, natur terang dan gelap – ini berbicara mengenai siapa yang menjadi identitas diri kita, siapa yang menjadi identitas diri kita, apa yang menjadi identitas diri kita. Paulus gunakan istilah yang menarik di sini ya, kalau dalam bahasa Indonesia Paulus gunakan kata “dahulu kamu adalah kegelapan tapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan”, di dalam bahasa Inggris dikatakan “you were,” sama “you are.” Ada kata kerja were dan ada kata kerja are untuk present, sekarang ini, tetapi dua-duanya diterjemahkan adalah, “Berarti pada waktu kita berkata dahulu saya adalah kegelapan sekarang saya adalah terang,” maksudnya apa? Maksudnya adalah, kegelapan itu bukan sesuatu yang di mana saya ada di dalamnya dulu, tetapi kegelapan sebenarnya yang sesungguhnya adalah ada di dalam saya, diri saya adalah kegelapan dulu, ketika saya ada di luar Kristus tetapi sekarang saya ada di dalam kristus ada di dalam terang maka terang itu bukan sesuatu yang ada di sekitar saya tetapi sekarang saya adalah terang itu karena Kristus ada di dalam diri saya.” Jadi pada waktu Paulus berkata dahulu kamu adalah kegelapan sekarang adalah terang, Paulus membicarakan mengenai natur kita atau identitas diri kita itu siapa. Orang yang ada di dalam kegelapan wajar kalau yang dilakukan selalu kegelapan; orang yang ada di dalam terang, wajar kalau dia lakukan terang dalam kehidupan dia; orang yang hidup dalam dosa dan dikuasai dosa, wajar hidup di dalam kecemaran, percabulan, dan segala macam penyembahan berhala; orang yang ada di dalam kehidupan yang takut akan Tuhan, wajar untuk hidup di dalam suatu kehidupan yang kudus dan meninggalkan segala pecemaran, pecabulan, dan keserakahan, atau penyembahan berhala dalam kehidupan mereka. Identitas atau natur diri kita itu menentukan siapa dan apa yang akan kita lakukan dalam kehidupan kita, dan itu lebih utama dan lebih penting. Walaupun apa yang menjadi identitas kita, tidak mungkin kita  bisa sembunyikan, karena terang tidak  mungkin taruh di bawah gantang, terang selalu pasti taruh di atas, dan seluruh orang pasti bisa melihat terang itu dari kehidupan kita yang adalah orang yang kudus.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya harap kita boleh gumulkan ini baik-baik, siapa diri kita? Apa yang menjadi identitas kita? Sudahkah kita mengalami pengudusan? Pengudusan itu apakah sesuatu yang bersifat moralitas di permukaan yang kita lakukan dalam kehidupan kita, atau pengudusan adalah itu sesuatu yang merupakan ekspresi dari pada natur kita yang adalah kudus dan ada terang itu dalam diri kita, yang sudah mengalami kelahiran baru dan ciptaan baru dalam kehidupan kita? Kalau tidak, saya percaya kita yang telah mendengar kebenaran ini, kita harus merendahkan diri kita di hadapan Tuhan, dan minta pertolongan Tuhan, dan pengampunan Tuhan, dan iman dalam Kristus ,serta anugerah pengudusan. Tapi di sisi lain, orang yang ada di dalam kegelapan, kita juga mengerti, tidak mungkin bisa mengenal terang dari diri mereka sendiri, dan tidak mungkin bisa hidup dalam terang oleh kuasa mereka sendiri. Perlu ada firman yang mereka dengar, perlu ada Roh Kudus yang bekerja dalam diri mereka, dan itu tanggung jawab siapa? Saya percaya itu adalah tanggung jawab dari setiap orang Kristen untuk mengasihi mereka, memikirkan iman mereka, kehidupan mereka, bukan dalam dunia ini saja, tapi dalam kekekalan. Dan kalau itu adalah karya dari Roh Kudus dalam hidup mereka, maka tanggung jawab kita bukan hanya memberitakan injil dan kebenaran saja, tetapi tanggung jawab kita adalah mendoakan mereka, sampai kita tidak bisa mendoakan mereka lagi, karena kita percaya hanya Tuhan yang bisa mengubah hati seorang dari gelap menjadi terang. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kesempatan ini saya mau bicara hidup orang Kristen nggak boleh terpisah dari doa. Hidup orang Kristen dimaknai dengan suatu kehidupan yang senantiasa berdoa di hadapan Tuhan, karena ini menyatakan suatu sikap kerendahan diri dan kebergantungan yang total yang kita berikan kepada Tuhan Allah yang kita miliki dalam Tuhan. Berdoalah baik secara pribadi atau secara kolektif dalam gereja, datang sama-sama kita menggumulkan apa yang menjadi pekerjaan Tuhan dalam kehidupan dunia ini. Dan kita sama-sama merendahkan diri dan mengharapakan bagaimana Tuhan boleh ikut campur di dalam pekerjaanNya di gereja ini, dan di dalam kota ini melalui gereja ini, atau setiap orang Kristen yang ada di dalam kota ini dan di Indonesia dan bahkan dunia. Saya percaya ini adalah hal yang harus kita gumulkan dan harus kita perjuangkan, karena pengudusan salah satu aspek yang bukan hanya perubahan tingkah laku itu yang dari dalam dan luar tetapi juga perendahan diri kita dihadapan Tuhan dan kerendahan diri untuk meminta senantiasa  pertolongan dan pemeliharaan Tuhan di dalam kehidupan kita yang diwujudkan dan dirubah. Mari kita masuk di dalam doa.

Bapa, kami kembali bersyukur untuk firman kebenaran yang boleh Engkau nyatakan bagi kami. Kami bersyukur ya Bapa, terlebih lagi akan terang yang telah Engkau berikan dalam hidup kami, dalam hati kami melalui kelahiran baru di dalam Kristus oleh Roh Kudus, sehingga kami boleh menjadi orang-orang yang ada di luar kegelapan dan kami adalah orang-orang yang ada di kerajaan Tuhan. Tolong pimpin kami ya Bapa, untuk senantiasa memiliki suatu kehidupan yang bertumbuh di dalam pengudusan, dan biarlah ini menjadi suatu tanda dari siapakah identitas diri kami, yaitu kami adalah orang-orang yang berasal dari terang dan bukan dari kegelapan. Berikan kami hati yang rindu akan hal ini, beri kami kesadaran untuk keluar dari segala pergumulan yang selama ini sebenarnya tidak perlu kami alami dalam kehidupan kami, yang membuat kami senantiasa jauh dari pada kehidupan dalam terang atau berat untuk memiliki kehidupan  yang dalam terang, tetapi biarlah kami boleh dilepaskan dari segala hal itu dan boleh dibangunkan dan disadarkan akan kehidupan yang ada di dalam terang. Tolong pimpin anakmu masing-masing ya Bapa, sertai mereka, dan berkati mereka. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami bersyukur dan berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *