Keburukan Natal, 16 Desember 2018

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu saya menggumulkan mengenai apa yang menjadi tema Natal tahun ini, saya akhirnya jatuh kepada satu tema, yaitu mengenai keburukan Natal. Apa yang dimaksud dengan keburukan Natal? Nanti kita akan bahas. Tapi sebelum kita membahas mengenai tema tersebut, saya ingin sampaikan satu hal: Keburukan Natal kelihatannya memberi kesan negatif, keburukan Natal sepertinya membawa kita melihat kepada hal yang tidak ada sukacita, hal yang menyedihkan, hal yang jelek, atau hal yang buruk dari hari Natal tersebut. Tapi mungkin memang benar. Di satu sisi, Natal itu adalah sesuatu yang indah. Tapi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di satu sisi yang lain, Alkitab juga menyatakan, Natal itu ada hal-hal buruk yang ada di dalamnya. Dan kalau kita tidak melihat kepada hal-hal yang buruk ini, maka kita akan lebih kurang menghargai makna Natal dalam kehidupan kita. Kita akan kurang menghargai kelahiran Kristus yang datang ke dalam dunia ini, dan itu membuat mungkin Hari Natal kita itu menjadi kurang bermakna dan kurang bisa memuliakan Tuhan dalam kehidupan kita.

Itu sebabnya, ketika kita membahas mengenai Keburukan Natal ini, saya memiliki suatu tujuan supaya kita bisa semakin mengerti apa yang telah Kristus lakukan dalam kehidupan kita, kita boleh semakin mengerti apa yang merupakan kondisi daripada diri kita masing-masing di hadapan Tuhan Allah yang membuat kita bertambah di dalam sukacita Natal kita, ketika kita masuk di dalam bulan Desember atau mengenang kembali akan Hari Natal tersebut. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita melihat kepada Natal, bulan Desember, saya percaya gereja-gereja mulai masuk ke dalam satu masa di mana mereka mulai mendandani, mendekorasi, dan berusaha menyusun acara-acara yang menarik di dalam hari Natal tersebut. Bahkan kalau kita melihat kepada jalan-jalan, mungkin di Indonesia kurang terlalu terlihat. Kalau ke Luar Negri, atau khususnya ke mall-mall, ke tempat-tempat perbelanjaan, di situ penuh dengan hiasan-hiasan Natal dengan pohon-pohon Natal, dengan lampu-lampu yang begitu indah, dengan hadiah-hadiah, dengan orang-orang yang sepertinya bermurah hati untuk memberikan hadiah di Hari Natal tersebut. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apakah Natal itu adalah penuh dengan hal-hal seperti ini? Saya percaya, adanya perayaan Natal, adanya lampu yang kelap-kelip, adanya pujian-pujian yang indah mengenai Hari Natal yang dinaikkan atau dilantunkan di dalam Gedung gereja atau pun di dalam mall-mall – itu menyatakan satu sisi daripada Hari Natal. Yaitu ketika Kristus lahir, kedatangan Kristus itu membawa satu sukacita, kedatangan Kristus itu membawa suatu damai ke dalam dunia ini, dan kedatangan Kristus itu membawa suatu kebahagiaan bagi manusia.

Tetapi pada waktu kita melihat pada bagian ini, apakah sungguh-sungguh Natal itu hanya dipenuhi dengan sukacita, kebahagiaan, kemeriahan seperti itu? Saya percaya, pada waktu kita melihat kepada Alkitab, kita akan melihat, sebenarnya itu hanya sebagian saja dari Hari Natal yang kita rayakan. Tapi makna Natal yang sesungguhnya tidak sepenuhnya seperti itu. Ada bagian lain yang merupakan sisi buruk dari Hari Natal, yang mungkin ketika kita masuk ke dalam Hari Natal, itu kita mulai abaikan, atau kita tidak terlalu memperhatikan itu, tahu.. tahu.. tetapi tidak terlalu fokus ke dalam bagian itu karena bagian itu telah dikamuflasekan atau diselubungi dengan segala keindahan yang kita lihat dan kita rasakan di dalam Hari Natal yang kita rayakan. Apa yang menjadi sisi buruk daripada Natal tersebut? Saya percaya kalau kita membaca Alkitab ada contoh-contoh yang menyatakan Natal itu sebenarnya tidak seindah yang kita rayakan pada hari-hari dan tahun-tahun yang kita lalui dalam kehidupan kita. Natal pertama tidak penuh dengan keindahan, Natal pertama penuh dengan keburukan. Misalnya ambil contoh, memang satu sisi malaikat ketika Yesus Kristus lahir, malaikat memuji memuliakan nama Tuhan, dan mengatakan, “Ada damai sejahtera bagi manusia dalam dunia ini.” Tetapi di sisi lain, pada waktu kita melihat kelahiran Kristus, kelahiran Kristus adalah satu kelahiran yang betul-betul saya percaya tidak ada seorang ibu pun dalam dunia ini yang ingin mengalami atau mengulangi Hari Kelahiran Yesus Kristus dalam dunia ini.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mana ada ibu yang mau anaknya lahir di dalam sebuah kendang. Mana ada seorang ibu yang mau anaknya lahir di tengah-tengah bau busuk atau bau pesing daripada pipis binatang dan kotoran binatang. Tetapi Alkitab mencatat, pada waktu bayi Yesus lahir ke dalam dunia ini, Dia lahir di dalam sebuah kandang, dan ketika Dia dibaringkan oleh mamanya, Dia baring di atas sebuah palungan, yaitu tempat binatang makan makanannya. Tempat yang kotor. Tetapi di situlah Yesus Kristus lahir, tempat yang bau, tempat yang busuk. Hal lainnya yang dikatakan oleh Alkitab adalah, pada waktu Yesus Kristus lahir ada keburukan yang lain, yaitu di mana ketika Herodes mendapatkan kabar bahwa ada seorang Mesias lahir dalam dunia ini, dari orang-orang Majus yang datang dari Timur, dia kemudian sepertinya begitu tertarik sekali akan kedatangan itu, kabar itu. Lalu dia kemudian berbicara kepada orang-orang Majus dan berkata kepada mereka, “Tolong ketika kamu menemukan bayi itu, kabari saya. Sekarang saya kasih tau kalian di mana bayi itu lahir. Saya panggil ahli-ahli Taurat untuk memberitahu kalian.” Dan Ahli Taurat berkata, “Bayi itu lahir di kota Betlehem.” – karena di dalam Kitab Mikha, itu sudah dikatakan, bahwa ketika Mesias lahir, Dia akan lahir di Kota Betlehem. Itu adalah suatu nubuat yang dikabarkan 400-500 tahun sebelum Yesus Kristus lahir ke dalam dunia ini. Dan orang-orang ahli Taurat, para pastor, para pendeta tersebut secara spesifik tahu jelas-jelas Yesus Kristus lahir di kota Betlehem tersebut. Dan mereka bisa beritahukan itu kepada orang-orang Majus, yang merupakan orang asing, yang bukan orang Yahudi, yang jauh-jauh mungkin dari Persia datang kepada Yerusalem untuk mencari bayi Yesus Kristus itu. Tapi pada waktu mereka mendapatkan kabar itu, mereka tidak pergi ke sana, tidak ikut orang Majus untuk menengoki bayi itu, tidak menyambut kedatangan Mesias mereka. Dan Raja Herodes pada waktu mendengar itu, dia berkata, “Ayo kamu pergi, lihat. Nanti setelah kamu lihat, kabari saya. Saya akan menyambut kedatangan bayi it uke dalam dunia ini.” Tapi Saudara, Alkitab mencatat, di balik daripada sepertinya niat baik dari Kerajaan Herodes tersebut, untuk mau menyambut bayi Mesias itu, ternyata di baliknya ada kebencian, ada ketakutan, ada kekhawatiran yang begitu besar sekali untuk melihat bahwa kalau bayi ini menjadi besar, “bagaimana nasib saya, kerajaan saya, kekuasaan saya? Jangan-jangan dia bisa merebut itu sehingga saya tidak lagi memiliki lagi kekuasaan dalam kehidupan saya. Kalau begitu apa yang harus saya lakukan? Setelah saya mendapatkan kabar di mana bayi itu lahir, maka hari itu saya akan membunuh bayi itu dan dia tidak boleh ada di dalam dunia ini.” Dan ketika orang-orang Majus menemukan bayi itu, mereka diingatkan dalam mimpi kalau mereka tidak boleh menghadap Herodes, tetapi mereka harus menyingkir karena Herodes akan membunuh bayi itu – apa yang akan dikatakan Kitab Suci dan apa yang terjadi. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab mencatat dan sejarah mencatat, pada waktu Herodes tahu dia telah diperdaya, maka dia memerintahkan prajuritnya untuk pergi menyusuri wilayah tersebut lalu membunuh semua anak yang berusia 2 tahun ke bawah, dari 2 tahun sampai bayi yang baru lahir, semuanya dibunuh semua. Begitu kejamnya. Di mana ketika Natal tiba, ketika Yesus Kristus lahir dalam dunia ini, bukan keindahan, bukan perayaan yang diterima, tidak ada satu orang pun yang menyambut diri Dia. Yang menyambut hanya malaikat di sorga, yang menyambut hanya domba gembala-gembala di padang yang dianggap sebagai orang-orang najis. Yang menyambut dirinya Dia hanyalah orang-orang asing yang datang dari jauh-jauh dari Timur, tapi tidak ada satu umat pun yang datang menyambut diri Dia, orang-orang yang mengatakan mereka adalah anak Allah, Allah adalah Bapa mereka, yang menyambut kehadiran dari pada Mesias mereka. Yang terjadi adalah justru pembantaian terhadap bayi-bayi yang berusia 2 tahun ke bawah. Ini adalah hal yang kedua mengenai keburukan Natal.

Tapi hal yang lain daripada keburukan Natal, kita juga bisa melihat, pada waktu bayi itu mau lahir, waktu Maria dan Yusuf tiba di kota Betlehem, karena menurut perintah daripada Kaisar Agustus, mereka harus pulang ke kota kelahiran mereka masing-masing supaya dilakukan pencatatan, dan herannya adalah Tuhan bisa begitu mengatur dunia ini dan mengatur waktu dari kelahiran Mesias tersebut tepat di kota Betlehem, dan tepat pada waktu pencatatan kependudukan daripada Kaisar Agustus. Sehingga pada waktu mereka tiba di dalam kota Betlehem. Waktu mereka tiba di situ, tiba-tiba perut Maria merasa sakit, dia mulai merasa ada kontraksi dan dia harus melahirkan; dan pada waktu itu mungkin Yusuf , dengan kekhawatiran, dengan kepanikan mulai mencari penginapan satu persatu dan mengetuk pintu-pintu penginapan, “Tolong buka kamar, tidak istri saya mau melahirkan, tolong sediakan satu tempat saja, yang kecil gak masalah seadanya nggak apa-apa, yang penting ada tempat yang cukup layak untuk kelahiran itu.” Tetapi  dalam Alkitab mencatat tidak ada satu penginapan pun yang membuka pintu buat Maria bisa melahirkan anaknya di dalam rumah mereka atau penginapan mereka karena pada waktu itu semua tempat begitu penuh karena pada waktu itu raja Herodes sudah memberitakan semua orang harus kembali ke kampung halaman untuk pencatatan terhadap diri mereka di kota-kota kelahiran mereka. Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, satu hal yang menyedihkan mungkin bisa kita lihat tidak ada satu pun dari pelanggan hotel itu yang mau memberikan kamar hotelnya untuk Yesus bisa lahir. Bukan hal yang indah, hal yang buruk , hal yang penuh dengan kesusahan, kesedihan, mungkin kepahitan di dalam diri Maria dan Yusuf untuk melahirkan anak mereka. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apakah ini keburukan-keburkan yang digambarkan di dalam Kitab Suci mengenai hari Natal? Saya percaya ini adalah sebagian dari pada keburukan itu yang kalo kita lihat sebenernya juga ada di dalam hal-hal yang kita temukan di zaman kita di mana kita melihat makna Natal dengan sesuatu yang indah, pesta dan kemeriahan, tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita lupa esensi di balik itu semua maka sebenarnya kita tidak lebih baik dari pada orang-orang yang menyambut kelahiran kristus di malam Natal yang pertama. Kita sudah melupakan makna dan esensi yang sesungguhnya dari pada hari Natal tersebut.

Apa yang menjadi keburukan Natal? Apa yang dikatakan oleh Kitab Suci yang merupakan esensi dari hari Natal ketika Yesus Kristus lahir ke dalam dunia ini? Ada beberapa bagian dari Kitab Suci yang kita bisa lihat dan buka untuk melihat inti dari bagian ini. Mari kita bersama-sama membuka Matius 1 : 21, “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan dia Yesus, karena Ialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa.” 1 Yoh 3:5 kita baca bersama-sama, “Dan kamu tahu bahwa Ia telah menyatakan diri Nya supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.” Dan satu Bagian lagi, 1 Tim 1:15, “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya Kristus Yesus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan diantara mereka akulah yang paling berdosa.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasih Tuhan, jika kita lihat 3 bagian Kitab Suci ini dan masih banyak lagi bagian-bagian Kitab Suci yang berbicara mengenai hal yang sama, apa yang menjadi makna Natal , apa itu Natal? Saya percaya definisi Natal itu adalah kedatangan Kristus, kedatangan Mesias Juru Selamat manusia ke dalam dunia ini untuk menebus dosa manusia, itu adalah makna Natal yang sesungguhnya. Makna Natal bukan perayaan, makna Natal bukan kemeriahan, makna Natal bukan ditandai dengan pujian yang indah, tetapi makna Natal itu adalah kedatangan Kristus ke dalam dunia demi untuk menebus dosa manusia atau demi untuk menghilangkan keburukan dari pada Natal, itu adalah makna Natal yang sesungguhnya. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan , kalau kita tidak bisa melihat pada kebenaran ini saya yakin sekali maka kita tidak akan bisa melihat kepada apa yang menjadi penebusan Kristus dan apa yang telah dikerjakan Allah yang paling indah sekali dalam kehidupan kita manusia yang berdosa ini. Itu sebabnya kita akan melihat pada dua hal yang penting di dalam pembahasan pagi hari ini. Pertama adalah kita akan melihat apa itu dosa, kuasa dosa, dan apa yang telah diperbuat dosa terhadap kehidupan manusia; tapi hal yang kedua kita akan melihat pada apa yang dikerjakan Kristus melalui kelahiranNya, kematianNya, dan kebangkitanNya dari pada kematian, dan kuasa Nya itu yang telah mengalahkan dosa.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita tanya dalam kehidupan kita , apa yang menjadi sebab adanya peperangan, apa yang menjadi sebab adanya kebencian, apa yang menjadi sebab adanya penderitaan dalam dunia ini, apa yang menjadi sebab adanya perkelahian, apa yang menjadi sebab adanya kekhawatiran, apa yang menjadi sebab adanya rasa takut, adanya penyakit, adanya penyakit adanya kelaparan, gempa bumi, bencana alam, pencemaran lingkungan yang ada di dalam dunia ini? Saya percaya jawabannya cuma satu, kalau kita kembali kepada Alkitab, kita tahu bahwa itu semua terjadi bukan karena dari awal semua itu sudah ada, semua dicipta seperti itu, tetapi semua itu adalah dikarenakan dosa masuk ke dalam dunia ini. Di dalam Kejadian pasal ke-3 Tuhan memberikan begitu jelas sekali akan apa yang menjadi akibat ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Alkitab berkata pada hari itu relasi antara manusia dengan manusia mulai rusak. Manusia tidak lagi bisa memuji manusia yang lain, manusia tidak lagi bisa menghargai manusia yang lain, tetapi manusia mulai memandang rendah, manusia mulai mempersalahkan manusia yang lain. Ini kita bisa lihat dari Adam mulai menyalahkan Hawa, dan juga Kain yang kemudian membunuh Habel, dan dosa telah mengakibatkan adanya relasi yang rusak diantara manusia. Tapi bukan hanya antara relasi manusia, dosa juga mengakibatkan kerusakan relasi antara manusia dengan ciptaan Tuhan. Kita tahu dari mana? Alkitab berkata pada waktu Adam berdosa dia tahu dirinya telanjang, dia merasa dingin, lalu apa yang dia lakukan? Dia mulai mengambil daun, dan menyemat, menjadikan daun itu pakaian bagi diri dia. Banyak commentary yang berkata ini adalah satu tanda manusia mulai merusak lingkungan, kalau ia menjadikan pakaian itu dari daun berapa banyak daun yang harus dikorbankan, berapa banyak pohon dan tanaman yang harus dimatikan demi untuk menutupi tubuhnya. Sesuatu yang tidak mungkin bertahan lebih dari 3 hari  mungkin atau 2 hari, jadi setiap hari harus merusak lingkungan demi untuk membalut tubuhnya yang telanjang tersebut. Tetapi Alkitab juga berkata ada bagian lain ketika manusia jatuh dalam dosa, Allah berkata, “Mulai hari ini susah payah engkau akan bekerja demi untuk sesuatu, untuk bisa melangsungkan kehidupan, dulu pada waktu engkau di Taman Eden, engkau tidak perlu susah payah bekerja, engkau memang harus bekerja, tetapi tidak perlu berkeringat; engkau menabur sedikit , bekerja sedikit hasilnya begitu berlimpah sekali,” tetapi manusia sudah jatuh dalam dosa, walaupun dia berkeringat, dia membanting tulang, yang ada adalah semak duri , yang ada adalah hasil yang tidak terlalu limpah untuk bisa dinikmati oleh mereka. Kenapa? Relasi manusia dengan ciptaan sudah rusak, akibat manusia sudah jatuh dalam dosa.

Tapi di sisi yang ketiga, ada hal yang lebih utama, terjadi kerusakan relasi manusia manusia dengan Allah. Bapak-Ibu yang dikasihi Tuhan, pada waktu Adam menyadari ia telah melakukan pelanggaran terhadap hukum Tuhan, pada waktu ia mendengar Tuhan berjalan-jalan di Taman Eden untuk mencari diri dia, yang dilakukan Adam dan Hawa adalah bersembunyi, dia takut bertemu dengan Tuhan. Pada waktu Allah bertanya, “Adam, dimana engkau?” Dia jujur menjawab, “Tuhan, aku dengar langkah kakiMu, aku tahu Engkau ada di dalam Taman ini, tetapi Tuhan, aku takut bertemu dengan Engkau,” dan itu membuat Tuhan berkata, “Engkau pasti sudah makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, manusia yang jatuh dalam dosa itu telah terputus di dalam relasi dengan Tuhan Allah. Dan pada waktu Allah mengkonfrontasi Adam, “Adam kenapa kamu makan buah itu?” Jawab nya apa? “Tuhan, wanita yang kau taruh di sisiku lho, dialah yang membuat aku makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu.” Maksudnya apa? Maksudnya adalah “Tuhan, kalau Engkau tidak berikan wanita itu mungkin aku tidak akan jatuh dalam dosa, tapi Engkau berikan wanita itu maka dialah yang membuat aku jatuh ke dalam dosa.” Kalau dia yang membuat Adam jatuh dalam dosa, maksud Adam itu apa? Yang paling benar itu adalah, “Tuhan kamu yang salah, dengan Kau berikan seorang wanita mendampingi aku, Kau membuat aku berdosa. Engkau membuat aku melawan diri-Mu.” Jadi siapa yang salah? Bukan Adam, tapi Tuhan. Saudara, ini yang terjadi pada hari manusia jatuh di dalam dosa. Dan kalau kita bisa simpulkan adalah, pada waktu manusia jatuh dalam dosa, manusia mulai merusak ciptaan Allah yang indah. Manusia mulai berusaha keras untuk menutupi dosa-dosanya. Manusia mulai berusaha mendapatkan pengobatan-pengobatan, bukan mendapatkan pengobatan, berusaha mencari jalan untuk membuat diri dia tidak terlihat sebagai orang yang berdosa atau orang yang sakit, tetapi mereka berusaha untuk menutupinya daripada untuk mengakui kalau diri mereka adalah orang berdosa. Ini yang terjadi di Taman Eden ketika Adam jatuh dalam dosa. Dia tidak mau mengakui dirinya telah berdosa, dia berusaha menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam, walaupun jelas-jelas fakta berkata, dialah yang turut berbagian di dalam kejatuhan itu karena dia ada di sisi Hawa pada waktu Hawa mengambil buah pengetahuan yang baik dan jahat tersebut.

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa Kristus lahir di dalam dunia ini? Saya percaya kalau kita tidak memahami makna dosa ini, apa yang sudah ada di dalam kehidupan manusia dan terjadi pada manusia, maka kita akan hidup di dalam perayaan Natal, tetapi sebenarnya kita sudah merayakan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang Alkitab katakan. Kita sedang merayakan sesuatu yang merupakan tradisi manusia, tetapi esensi dari pada Natal itu sendiri, adanya dosa di dalam dunia, dan itu yang membuat Kristus datang, itu sudah mulai dihilangkan. Dan ketika kita merayakan Natal mungkin kita akan merasa, “Oh kita manusia yang baik, kita manusia yang mengasihi, kita memiliki tradisi yang baik, suatu tradisi yang saling memperhatikan, saling mengasihi, saling memberi hadiah satu sama lain,” dan itu menjadikan kita manusia yang baik tapi kita lupa kalau sebenarnya kita sudah berdosa dan akibat dosa itu ada hal lain yang lebih mengerikan, lebih jahat yang telah merusak diri manusia, yang membuat manusia sebenarnya tidak bisa melakukan kebaikan apa pun dalam kehidupan mereka kecuali Kristus datang untuk menebus kita. Ini yang akan kita lihat. Kenapa kita merayakan Natal? Karena kalau tidak ada dosa, Kristus tidak datang. Atau istilah lain, kenapa merayakan Natal? Karena manusia berdosa. Hari apa kita merayakan Natal? Secara tradisi mungkin 25 Desember. Tetapi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya itu hanya tradisi. Itu hanya sesuatu perkiraan atau penetapan yang dilakukan oleh gereja, karena pada dasarnya mereka tidak pernah tahu hari Natal itu hari apa. Suatu hari pernah dicatat, di abad ke-4, orang-orang pemimpin agama Kristen yang ada di Yerusalem, kemudian mereka merasa ada yang kurang. Kita memiliki Tuhan sebagai Juruselamat kita, kita tahu Dia datang ke dalam dunia untuk menebus hidup kita dari pada dosa, kita setiap tahun melewati tahun-tahun kita, tapi kita tidak pernah tahu kapan Yesus Kristus lahir. Lalu kita tidak pernah tahu kapan kita harus merayakan hari kelahiran Yesus Kristus itu. Lalu pada waktu itu mereka menulis surat ke Roma lalu meminta Roma menentukan satu hari untuk dirayakannya hari Natal. Lalu pada waktu itu Roma mengatakan, dia mengutus utusan kembali ke Yerusalem dan berkata, kita akan tetapkan kalau hari Natal itu adalah tanggal 25 Desember. Dan mulai hari itu gereja merayakan Natal di tanggal 25 Desember. Saudara, apakah 25 Desember adalah hari kelahiran Kristus? Saya bilang, tidak. Kalau itu bukan hari kelahiran Kristus, apakah kita tidak perlu merayakan hari Natal dalam kehidupan kita? Saya juga berkata tidak. Karena apa? Karena Yesus sungguh-sungguh lahir dalam dunia. Itu adalah suatu fakta sejarah, setiap orang yang lahir ke dalam dunia ada hari kelahirannya. Dan pada waktu kita merayakan Natal, sebenarnya kita sedang merayakan hari di mana Yesus datang untuk menebus dosa manusia dan kita mengakui kedatangan Kristus dalam sejarah untuk menebus manusia berdosa. Dan kita tahu, bahwa tidak mungkin ada penebusan kalau tidak ada kelahiran Yesus dalam dunia ini. Jadi Saudara, saya percaya bukan masalah tanggal di sini. Kalau kita hanya terpengaruh tanggal lalu kemudian dari tanggal itu kita merasa kita tidak perlu merayakan Natal karena tanggal itu bukan menunjukkan hari kelahiran Kristus sama sekali, saya takut satu hal, kita tidak mengakui Yesus sungguh-sungguh lahir ke dalam dunia ini. Dan kalau kita tidak mengakui Yesus sungguh-sungguh lahir dalam dunia ini, itu sama dengan mungkin kita tidak mengakui kita membutuhkan seorang Juruselamat atas dosa kita. Itu sebabnya, walaupun gereja berkata bahwa Natal tidak harus 25 Desember, kita tetap merayakan Natal, hari kelahiran Kristus.

Saudara, apa bukti bahwa manusia itu sudah berdosa? Saya pikir, salah satu ayat yang dengan jelas sekali mengatakan bahwa manusia sudah jatuh dalam dosa ada di dalam Roma 6:23. Dikatakan bahwa, sebab upah dosa ialah maut. Itu menunjukkan kalau pada waktu kita melihat adanya fakta orang-orang mati di dalam dunia ini, dan tidak ada satu pun orang yang bisa melarikan diri dari pada kematian, itu menunjukkan bahwa manusia itu sudah jatuh dalam dosa. Pada waktu kita melihat bahwa ada anak-anak kecil yang kelihatan lucu, yang sering kali begitu dipuji oleh orang tuanya dan begitu disayang, begitu dibela oleh orang tuanya seakan-akan anak itu betul-betul polos, baik, nggak ada cacat cela sama sekali, Alkitab berkata anak juga mati, bahkan bayi yang masih dalam janin itu juga mati. Artinya apa? Manusia sudah jatuh dalam dosa. Anak kecil juga berdosa. Bayi pun yang belum lahir sudah berdosa. Pak Tong pernah mengeluarkan satu kalimat yang saya anggap lucu tapi benar. Bapak Ibu, khususnya ibu-ibu, ketika engkau melihat anakmu yang masih kecil dan lucu, jangan pernah menganggap mereka adalah bayi polos yang tanpa dosa. Tahu tidak, mereka adalah monster-monster kecil yang lucu. Kalau Bapak Ibu lihat mereka sebagai anak yang lucu, polos, baik, nggak ada dosa sama sekali, hati-hati, mungkin engkau sudah diperdaya oleh mereka dengan mengadu domba dirimu; yang mengakibatkan perepecahan di dalam keluarga, penipuan yang engkau pikir anakmu masih baik tapi sebenarnya dia sudah berdosa begitu jahat sekali. Hati-hati sekali. Anak juga sudah berdosa. Dan bahkan dikatakan, penyakit pun yang mengakibatkan kematian, sakit jantung, kanker, segala sesuatu yang lain, itu ada karena manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Siapa yang bisa melarikan diri dari kematian? Nggak ada. Dokter bisa menolong nyawa seseorang? Untuk memperpanjang sesuatu waktu mungkin bisa, dengan alat-alat medis yang canggih. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, begitu dompetnya habis, kering, nyawanya juga melayang. Nggak ada orang yang bisa memperpanjang usia manusia dengan kemajuan medis yang begitu hebat sekali seakan-akan manusia bisa hidup bertahun-tahun, beratus-ratus tahun tanpa ada kematian sama sekali. Itu adalah saya nggak percaya itu akan terjadi karena manusia adalah orang yang berdosa, dan Alkitab sudah katakan, fakta dosa ialah maut, yaitu kematian.

Termasuk di dalamnya, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Bapak-Ibu harus sadar, kenapa ada keributan di dalam keluarga? Kenapa ada perselisihan, ketidaksependapatan di dalam pelayanan, di dalam organisasi, di dalam pekerjaan? Kenapa ada pikiran-pikiran yang jahat dalam pikiran kita? Kenapa ada keinginan-keinginan yang berdosa, yang ingin merusak orang lain? Kenapa ada satu kata-kata yang tidak baik yang keluar dari mulut kita yang menyakiti orang, yang memfitnah orang, yang, istilahnya apa itu, bicara-bicara, gosipin orang. Kenapa itu semua bisa keluar? Jawabannya cuma satu, karena manusia sudah jatuh dalam dosa dan dirusak oleh dosa. Dan sekecil apa pun dosa yang kita lakukan, jangan pikir kita bisa lolos dari hukuman Tuhan, karena Alkitab secara jelas sekali berkata, tanpa kekudusan, nggak mungkin ada orang yang bisa menghadap Tuhan. Tanpa kebenaran, nggak ada orang yang bisa berdiri di hadapan Tuhan dan dibenarkan oleh Tuhan Allah. Ini dicatat di dalam Yosua 7. Kalau Bapak Ibu perhatikan, ketika Yosua memimpin Israel memasuki tanah kanaan, pada waktu pertempuran pertama mereka bisa menang telak terhadap apa itu yang dikelilingi, Yerikho, menang telak tanpa ada usaha; hanya mengelilingi. Lalu pada hari yang ketujuh mereka teriak kuat-kuat lalu runtuh semua dinding tembok yang menutupi Yerikho, dan mereka bisa mengalahkan Yerkho dengan begitu mudah sekali. Tetapi pada waktu mereka kemudian merasa mulai sombong, merasa mulai hebat, merasa bisa mengalahkan Yerikho yang merupakan kota begitu besar, melihat kota Ai yang kecil sekali mereka berkata, “Nggak usah seluruh orang Israel, cukup beberapa saja yang pergi dan mengalahkan Ai tersebut.” Tetapi yang terjadi adalah mereka kalah total dan banyak diantara mereka yang mati. Lalu sebabnya kenapa? Pada waktu Yosua mulai berteriak-teriak kepada Tuhan dan bertanya, “Tuhan, kenapa Engkau izinkan ini terjadi? Lebih baik Engkau tidak bawa kami masuk ke dalam tanah Kanaan kalau Kau biarkan kami kalah. Sekarang bangsa-bangsa lain akan menghina kami, mereka merasa mempunyai kekuatan untuk mengalahkan kami. Apa yang harus kami lakukan?” Tuhan mengeluarkan satu kalimat, “Yosua, kamu nggak usah marah-marah. Kamu tahu tidak kenapa engkau kalah? Itu karena ada dosa diantara kamu, ada ketidak tulusan. Kalau engkau ingin menang, besok semuanya harus hadir di hadapanKu dan semuanya sebelum hadir harus menguduskan diri di hadapanKu, baru besok engkau bisa berdiri di hadapan pengadilan Tuhan dimana Tuhan akan menunjukkan siapa yang berdosa yang telah mengakibatkan Israel tidak kudus.” Dan saat itu mereka menemukan Akhan yang telah mengakibatkan Israel berdosa, dan saat itu Tuhan menghukum Akhan dengan hukuman mati, dia dan seluruh keluarganya. Saudara, artinya apa? Nggak ada satu dosa yang sekecil apapun, tidak ada satu kekudusanpun yang bisa berdiri di hadapan Allah. Kalau engkau masih memelihara dosa yang kecil dan engkau bisa merasa baik-baik saja di hadapan Tuhan, maka Dia akan berkata, “Enyahlah engkau dari hadapanKu, masuk dalam kebinasaan.” Kita nggak bisa hidup dengan dosa dan merasa diri baik di hadapan Tuhan dan merasa masih bisa diterima oleh Tuhan, ini mustahil. Bagi Tuhan itu tidak mungkin bisa terjadi. Itu sebabnya Tuhan adakan Natal, itu sebabnya Tuhan mengirim Anak Tunggal-Nya untuk menebus dosa kita supaya kita bisa berdiri di hadapan Allah sebagai orang yang kudus, orang yang benar, orang yang tanpa cacat, tapi bukan karena kita kudus, kita benar, dan kita tidak cacat dari dalam diri kita sendiri tapi karena kekudusan Kristus, kebenaran Kristus, dan ketidak cacatan Kristus yang membuat kita bisa berdiri di hadapan Allah yang kudus tersebut.

Saudara, dosa begitu mengerikan sekali, tapi sebenarnya dosa itu apa? Kalau kita tanya apa itu dosa, apa jawabannya? Saya percaya definisi yang paling sederhana tapi yang begitu tepat sasaran sekali itu adalah di dalam 1 Yohanes 3:4, “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah.” Jadi kalau kita tanya dosa itu apa? Pelanggaran terhadap hukum Allah, atau istilahnya adalah suatu kehidupan yang tanpa mau tunduk kepada hukum itu adalah dosa, atau kehidupan yang tanpa hukum itu adalah dosa. Kehidupan yang tidak mau tunduk di bawah sebuah otoritas dalam kehidupan kita itu adalah dosa. Jadi pada waktu Allah berbicara misalnya, “Hai anak-anak, hormatilah orangtuamu.” Lalu anak-anak berkata, “Aku nggak mau menghormati orangtuaku, aku mau mengakali mereka, aku mau membohongi mereka,” Alkitab berkata engkau sudah melanggar hukum Tuhan dan itu berarti engkau melanggar otoritas Tuhan yang Tuhan tetapkan di dalam keluargamu untuk mewakili Tuhan, dan hari itu engkau sudah berdosa di hadapan Tuhan. Pada waktu kita melihat pada pemerintahan kita merasa kita tidak perlu tunduk tapi kita memberontak, kita melawan pemerintahan yang baik, Alkitab berkata engkau sudah melawan wakil Tuhan di dalam dunia ini dan engkau telah berdosa. Jadi pada waktu kita melanggar peraturan-peraturan negara yang ditetapkan oleh pemerintah untuk kita lakukan, Saudara hati-hati, kau sudah berdosa di hadapan Tuhan kemungkinan; kecuali kalau peraturan itu melanggar hukum Tuhan, bentrokan dengan hukum Tuhan maka Alkitab juga mencatat kita tidak perlu tunduk dan taat pada hukum negara dan harus lebih taat pada hukum Tuhan Allah.

Apa itu dosa? Dosa itu adalah melanggar hukum Tuhan. Siapa yang melanggar hukum Tuhan, apakah sebagian orang? Alkitab mencatat semua orang. Tahu dari mana? Bukan hanya orang Yahudi saja tapi bukan orang Yahudipun melanggar hukum Tuhan. Tahu dari mana? Kita tahu dari Alkitab yang berkata ketika Tuhan memberikan hukum, hukum itu memang diberikan kepada orang Yahudi dengan hukum-hukum yang tertulis, 10 Perintah Allah yang tertulis, tetapi jangan lupa hukum yang tertulis itu juga Tuhan berikan di dalam hati semua manusia yang tidak memiliki hukum yang tertulis. Kalau Bapak, Ibu, Saudara berkata apa dasar Tuhan menghukum manusia yang berdosa? Apa dasar Tuhan membuang orang ke dalam neraka? Kalau Tuhan hanya memilih orang Yahudi, memberikan hukum pada Yahudi, tapi orang-orang bangsa lain tidak memiliki hukum lalu Tuhan menjatuhkan hukum bagi mereka tapi menyelamatkan orang Yahudi yang memiliki hukum, itu wajar karena mereka tahu kehendak Tuhan, tapi bangsa lain bagaimana, mereka nggak tahu kehendak Tuhan. Jadi adilkah Tuhan? Jawabannya pasti tidak adil kalau Tuhan menghukum bangsa yang lain. Tapi Alkitab tidak berkata seperti ini, Alkitab berkata semua manusia dalam dunia ini, baik Yahudi yang memiliki hukum tertulis maupun orang yang tidak memiliki hukum yang tertulis, memiliki perintah Tuhan dalam hati mereka. Di dalam Roma 2:14 di situ dikatakan orang-orang non-Yahudi ketika melakukan apa yang tertulis di dalam Taurat Tuhan itu berarti ada Taurat di dalam hati mereka yang membuat ketika mereka melanggar itu mereka juga telah berdosa di hadapan Tuhan Allah. Kalau tidak percaya, nanti waktu kita menghadap Tuhan kita akan percaya itu adalah kebenaran.

Saudara, siapa yang menjalankan hukum harus beribadah kepada Tuhan. Apakah orang Yahudi saja dan orang Kristen? Tidak kan, semua manusia di dalam dunia ini beribadah kepada Tuhan apapun wujudnya tetap beribadah. Apakah di dalam dunia ini orang yang hati-hati menyebut nama Tuhan itu hanya orang Kristen dan orang Yahudi? Alkitab juga ngomong tidak, dan kita lihat fakta dalam dunia ini tidak seperti itu. Banyak orang yang begitu takut dan gentar di hadapan tuhan mereka. Apakah di dalam dunia ini hanya orang-orang Kristen dan Yahudi yang mentaati dan menghormati orangtua? Jawabannya tidak, orang dunia juga tahu menghormati orangtua, bahkan ada yang mengatakan sorga itu ada di bawah telapak kaki ibu, begitu menghormati orangtua. Apakah hanya orang Yahudi dan Kristen saja yang tidak boleh membunuh orang, tidak boleh berzinah, tidak boleh bersaksi dusta, tidak boleh mencuri, tidak boleh mengingini apa yang menjadi milik sesamanya? Saya berkata itu juga kita temukan di hati orang lain dan kehidupan masyarakat yang tidak pernah memiliki hukum Tuhan atau Alkitab dalam kehidupan mereka, mereka  tetap menjalankan itu semua. Walaupun hati nurani mereka sudah tercemar dan itu membuat kesadaran akan dosa itu berbeda dari budaya masyarakat yang satu dari masyarakat yang lain tergantung dari pada tradisi atau budaya yang dibiasakan di dalam masyarakat itu. Misalnya ambil contoh, kalau Saudara terlahir di dalam lingkungan yang suka mencuri, saya pikir Saudara merasa mencuri itu baik-baik saja, walaupun orang lain yang terlahir dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa tidak boleh mencuri itu melihat bahwa mencuri itu dosa tapi Saudara mungkin akan merasa itu baik-baik saja. Kalau Saudara besar di dalam lingkungan yang makan orang, Saudara akan ngomong otak manusia itu lezat sekali, mungkin lebih lezat dari otak monyet; dan Saudara nggak merasa berdosa ketika membunuh orang. Tapi ketika Saudara hidup dalam lingkungan yang lain mungkin Saudara akan berkata membunuh orang itu dosa. Jadi hati nurani manusia itu sudah tercemar, tercemar yang dipengaruhi oleh tradisi dan budaya setempat juga. Tapi itu bukan berarti bahwa manusia tidak berdosa, dan itu tidak berarti bahwa manusia tidak dalam hukum Tuhan. Ada bagian dari hukum lain yang mereka tetap langgar dan mereka tahu mereka telah melanggar hukum Tuhan yang Tuhan berikan di dalam hati mereka.

Jadi kalau mau ditanya ada tidak orang yang tidak melanggar hukum Tuhan? Nggak ada, semuanya melanggar, semuanya sudah berdosa. Kenapa Tuhan memberi hukum Tuhan? Saya percaya pada mulanya ketika Tuhan memberi hukum Tuhan itu ada sesuatu untuk kebaikan dari manusia. Pada waktu Allah memberi hukum kepada Adam dan Hawa di Taman Eden, apakah itu sesuatu yang buruk? Saya percaya tidak, itu adalah hal yang baik untuk mengarahkan hidup mereka, untuk mengajarkan mereka untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh Tuhan yang membuat mereka kemudian menerima berkat Tuhan dalam kehidupan mereka dan upahnya adalah suatu kehidupan yang kekal. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, setelah manusia jatuh dalam dosa Alkitab mencatat dan fakta membuktikan kalau tidak ada seorangpun yang bisa mentaati hukum Tuhan, semua manusia melanggar. Sekecil apapun pelanggaran, Alkitab tetap berkata itu adalah pelanggaran. Dan pelanggaran itu upahnya apa? Maut, kematian yang dibuktikan oleh kematian manusia dalam dunia ini. Jadi Saudara, fungsi hukum untuk apa? Satu sisi memang untuk memberkati. Makanya kalau kita baca Perjanjian Lama, Alkitab mengatakan kalau kau taat hukum Tuhan kau dapat berkat, kalau engkau tidak mentaati hukum Tuhan engkau mendapatkan kutuk. Tapi Saudara, ketika manusia jatuh dalam dosa jangan lihat hukum itu sebagai berkat yang bisa menyelamatkan Saudara, tetapi lihatlah hukum itu sebagai berkat untuk menyadarkan Saudara adalah orang berdosa, untuk membuat Saudara sadar engkau butuh Kristus dan mendorong engkau datang kepada Kristus dan bukan menampilkan diri Saudara sebagai orang yang benar di hadapan Tuhan tapi mencari pertolongan dan obat bagi dosa Saudara, itu hanya melalui Yesus Kristus. Itu tujuan hukum diberikan, dan ini dicatat di dalam Roma pasal yang ketiga.

Jadi dosa itu apa? Dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah. Siapa yang melanggar? Saya percaya tidak ada satupun orang yang tidak melanggar, semua manusia sudah melanggar. Dan kalau begitu apakah dosa itu sesuatu yang baik? Saya percaya tidak, dosa tidak baik, dosa itu sesuatu yang jahat. Tapi Saudara, kita yang jatuh di dalam dosa, hati-hati, mungkin akan selalu melihat dosa itu hal yang baik. Kenapa orang tetap mencuri kalau tahu mencuri itu buruk? Kenapa orang tetap mau maki-maki orang lain kalau tahu memaki-maki itu buruk? Kenapa orang masih mau terus hidup di dalam dosa kalau tahu dosa itu buruk? Mungkin dalam pikiran mereka itu hanya suatu konsep yang dikatakan secara pengetahuan dosa itu jahat, tapi dalam kesungguhan hati yang terdalam mereka tidak mau mengakui dosa itu jahat. Maka mereka hidup terus dalam dosa, hidup dalam penipuan, hidup dalam kebohongan, kehidupan yang mencelakakan orang lain, tapi mereka merasa diri mereka baik-baik saja. Dosa itu jahat. Ketika kita hidup dalam Kristus kita dapat melihat dosa itu jahat. Dosa itu menyedihkan hati Tuhan. Dosa itu ujungnya adalah murka Tuhan bukan kehidupan kekal tapi kematian kekal karena Tuhan murka melihat dosa. Alkitab banyak memberi contoh dimana Israel begitu banyak berbuat dosa, Tuhan menghukum mereka satu persatu. Bahkan bila kita membaca Bilangan ada satu bagian ketika Israel begitu mulai jahat dalam penyembahan dewa dewa Baal Peor maka pada hari itu Tuhan menghukum beribu-ribu orang mati dari antara mereka. Lalu ada satu kalimat Tuhan berkata, “Tuhan menghukum supaya menunjukkan bahwa di luar Tuhan tidak ada satupun kehidupan kekal, tapi di dalam Tuhan mereka bisa hidup,” karena orang yang bersekutu dengan Baal Peor akan binasa semua tapi yang menyembah Tuhan akan memperoleh hidup yang kekal. Tuhan itu bukan jahat, Tuhan itu baik. Tuhan tidak membatasi kita punya hak asasi. Tuhan justru mau memberikan upah yang kekal bagi kehidupan kita. Namun kita terus mau melanggar perkataan Dia, “Ini hak saya, ini adalah hak asasi saya untuk memutuskan sesuatu bagi hidup saya sendiri, apa yang saya lakukan untuk kehidupan saya. Lalu dengan begitu saya melanggar perintah Tuhan.”

Saudara yang dikasihi Tuhan, itu adalah dosa dan upahnya bukan sesuatu yang baik dan tidak pernah baik tapi yang ada adalah kematian kekal. Saya berharap kita mengerti ini baik-baik karena ketika kita hidup di dunia ini walaupun kita telah ditebus dalam Kristus jangan pernah berpikir bahwa kita hidup sempurna di hadapan Tuhan tanpa dosa. Kita tetap orang berdosa, Tuhan tetap melihat kita adalah sebagai orang berdosa. Tuhan tidak menghilangkan natur lama kita tapi memberikan kita natur yang baru dalam kehidupan kita supaya ada suatu pergumulan dalam hidup kita, ada suatu pertentangan dalam diri kita untuk memberikan kita pilihan memperjuangkan yang mana. Saudara mau tahu Saudara manusia baru atau tidak? Ada nggak anda memperjuangkan untuk mengutamakan Kristus, apa yang menjadi kehendak Tuhan, atau anda mengutamakan kepentingan Saudara sendiri dan semua kepentingan yang bersifat dosa dalam kehidupan Saudara? Bila tidak ada pertentangan itu dalam diri anda, hati hati mungkin anda belum menjadi manusia baru. Peperangan kita adalah peperangan rohani untuk membunuh setiap dosa yang ada dalam hati kita yang membuat kita dimurkai Tuhan, yang membuat Tuhan menangis melihat perbuatan kita yang berdosa tersebut. Saudara, dosa tidak pernah baik, dosa itu selalu membuat kita berada dalam kondisi akan dihukum Tuhan.

Tapi Saudara, hati-hati, bukan hanya kita tidak bisa melihat dosa itu sebagai suatu dosa ketika kita berdosa, Alkitab juga mencatat bukti lain akibat dosa kita tidak pernah bersyukur di hadapan Tuhan. Saudara, Alkitab begitu jelas sekali, dan saya berharap kita bisa melihat secara jelas seperti Alkitab melihat jelas apa yang membuat kita hidup, kenapa kita bias bergerak, bernafas? Karena kita hidup dalam Kristus yang membuat kita punya harta kekayaan bisa makan dan minum agar bisa menikmati hidup dalam dunia ini. Apakah itu semua karena usaha saudara yang keras yang berjuang dari pagi-malam untuk bekerja? Alkitab berkata tidak, karena “susah payah takkan mendapatkan kekayaan seseorang tapi berkat Tuhan yang bisa mendatangkan kekayaan seseorang.” Maka Matius menyatakan bahwa Tuhan memberikan matahari dan hujan untuk orang yang baik dan yang jahat. Kenapa matahari bisa membuat tumbuhan bisa tumbuh, ada hujan yang membuat tumbuhan tidak layu dan kering? Kenapa kita bisa ada air minum, jemur pakaian kita kering? Kenapa kita bisa tidak kekurangan kalsium atau vitamin D? Karena ada sinar matahari yang menyinari kita. Saya dengar adea suatu penyakit ibu ibu sering mengalami kekurangan vitamin D atau keropos tulang belakang karena jarang keluar rumah atau kantor. Saudara, Tuhan sudah berikan yang terbaik bagi kita tapi akibat dosa adalah kita tidak bisa melihat matahari dan hujan adalah berkat. Akibat dosa kita tidak bisa melihat bahwa kesehatan dann kekayaan yang kita miliki adalah berkat dalam kehidupan kita. Tapi yang kita lihat itu adalah usaha saya, kerja saya dari hari ke hari siang dan malam banting tulang untuk mendapatkan semua itu. Lalu siapa yang layak mendapatkan ucapan syukur? Bukan Tuhan tapi diri kita sendiri. Siapa yang layak mendapatkan penghormatan dan penghargaan? Bukan Tuhan tapi diri kita. Makanya Saudara, kita sering kali lupa misalnya Minggu itu adalah hari dimana kita harus beribadah pada Tuhan, kita sering kali lupa ketika ada pelayanan atau panggilan untuk melayani Tuhan dengan panggilan pekerjaan kita akan memilih pekerjaan karena kita merasa itu adalah hasil usaha dan perjuangan saya, hal itu yang membuat saya begitu baik. Kita lupa bahwa kita telah diberikan kehidupan yang baru. Dosa membuat kita lupa dan dosa membuat kita tidak pernah merasa bersyukur. Inilah faktanya dosa. Kecuali Tuhan membawa kita kembali kepada Dia, Tuhan mengubah kita, memperbaharui diri kita yang berdosa menjadi manusia baru oleh kematian Kristus.

Di Hari Natal ini saya berharap kita tidak hanya melihat kemeriahan dan perayaan hadiah, makanan, dan minuman yang ada dalam gereja atau yang diterima dari orang tua dan keluarga, tapi saya berharap anda merenungkan bahwa ada keburukan natal. Dosa dalam diri setiap kita manusia yang membuat kita tidak bisa berdiri di hadapan Tuhan tanpa Kristus. Dan ini akan membuat sukacita besar dalam hidup kita. Dan ini yang membuat ucapan syukur akan limpah muncul dalam hati kita kepada Tuhan yang telah begitu baik kepada kita. Itu yang menjadi tujuan Tuhan dalam kehidupan kita. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita. Mari kita msuk dalam doa.

Kami bersyukur Bapa untuk apa yang telah kau perbuat bagi kami yang berdosa ini di dalam Kristus anakMu yang tunggal. Kami sadar tanpa Dia, tanpa kematianNya di kayu salib, tanpa kebangkitanNya dari kematian yang terlebih dulu ditandai dengan kelahiranNya ke dalam dunia ini, maka tidak mungkin ada pengampunan dosa dan penebusan dosa, maka kami tidak mungkin bisa berdiri di hadapan Allah dengan suatu keberanian, dan tidak mungkin kami bisa disambut untuk masuk ke dalam kerajaan Allah di mana Engkau berada. Biarlah makna Natal tahun ini boleh membuat kami mengingat kembali pentingnya Kristus datang sebagai Juruselamat manusia berdosa. Biarlah Natal tahun ini kiranya hanya membuat kami ingin diperdamaikan dengan Kristus. Dan biarlah hidup kami juga boleh menjadi hidup seperti Yohanes Pembaptis yang membuka jalan bagi Kristus untuk masuk ke dalam hati orang orang yang lain yang masih belum mengenal Kristus, dan yang masih hidup di dalam dosa. Tolong kami ya Bapa, biarlah esensi Natal ini tidak hilang dari gerejaMu dan biarlah esensi Natal ini tidak hilang dari kehidupan kami anak-anakMu, dan dimanapun kami berada bairlah itu boleh menjadi Natal bagi kami hingga orang orang boleh melihat Kristus sudah lahir dan hidup dalam kehidupan kita. Hanya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus Juruselamat kami yang hidup kami berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *