Kawan dan Lawan yang Sejati, 15 Juli 2018

Flp. 1:6-8

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Kalau kita melihat di dalam Kitab Suci, secara khususnya saya bicara di dalam Perjanjian Lama, apa menjadi suatu ciri, karakter yang berkali-kali ulang muncul di dalam kisah Perjanjian Lama? Misalnya orang bilang, oh itu Pak, ada satu kisah yang luar biasa, begitu besarnya bangsa Israel itu dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Oh, ada kisah yang besar dengan Kerajaan Israel. Oh ada kisah-kisah seperti ini yang luar biasa, penuh mujizat. Tapi kalau kita perhatikan dengan teliti kisah Israel sebenarnya ada satu pattern yang kalau kita mau jujur lihat, bahwa sebenarnya ada satu pola yang berulang yaitu sebenarnya apa? Yaitu pola kegagalan Bangsa Israel. Kita melihat Israel itu berkali-kali itu bergerak mau maju, mau berkembang, tapi mau bergerak-gerak maju, macet lagi. Bergerak mau bergerak maju, mundur lagi. Mau maju, berkembang, sudah berkembang lebih baik, eh malah stop lagi, berhenti lagi. Dan berkali-kali gagal, gagal, gagal, dan itulah kegagalan yang berulang-ulang dialami oleh Bangsa Israel. Kalau kita lihat Bangsa Israel itu, oh begitu hebatnya mereka itu dibebaskan dari perbudakan di Mesir, oh begitu luar biasanya mereka menyaksikan bagaimana Laut Teberau itu terbelah, dan mereka bisa melewatinya. Tapi setelah mereka lewati, oh sukacita ada berkat dari Tuhan, ada mujizat begitu luar biasa; setelah lewati lalu singkat jalan cerita berapa lama lalu apa yang terjadi? Bersungut-sungut lagi, bersungut-sungut lagi, mengeluh lagi, complain lagi. Dan akhirnya kayaknya itu ya, kayaknya sudah Tuhan membuka jalan, eh mereka itu mundur lagi. Selalu setiap ketika Tuhan sudah beranugerah memimpin kita untuk melangkah ke depan, malah kita berpikir, kita sendiri yang justru berpikir mau melangkah ke belakang lagi. Jadi sudah didorong maju, eh kita ini malah mau mundur. Itu ada yang mengatakan, sangat menarik itu ada yang pernah mengatakan seperti misalnya oh ini babi bagaimana memasukkan dia dalam kandang? Kalau ada yang pernah pelihara babi mungkin tahu, gitu ya. Bagaimana caranya babi itu dimasukkan dalam kandang? Oh caranya gimana? Kita dorong, dorong ,nggak bisa. Dia nggak mau gitu ya. Kita kalau dorong, dorong, dari belakang dia nggak mau. Gimana caranya supaya dia masuk kandang? Kita Tarik ekornya ke belakang, malah dia maju. Gitu ya. Aneh ya? Memang babi itu gitu ya. Disuruh maju dia nggak mau malah mundur, mundur, mundur, nggak mau. Kita tarik ke belakang malah dia maju.

Nah itulah sebenarnya gambaran kehidupan orang berdosa. Disuruh maju nggak mau dan akhirnya berkali-kali kembali kepada pattern, pola kehidupan yang salah justru demikian. Mereka sudah harusnya berkembang ke depan, heran ya, sudah lewati itu Laut Teberau, malah mereka pikir, oh lebih enak di Mesir. Nggak lihat apa di Mesir itu sudah hancur-hancuran seperti itu? Nggak lihat apa sudah sepuluh tulah itu berlangsung di Mesir? Dan habis-habisan semua tentara dan serdadu eh malah mereka mau pikir kembali ke Mesir, pikiranya itu, kalau kita baca Alkitab itu, unik ya. Ditulis, oh rindu dengan ada bawang prei, ada aneka macam apaan itu pikir di sana, pikir sana lebih indah, lebih indah. Mereka ndak melihat sebenarnya Tuhan sudah tuntun mereka ke depan itu, ke tanah Kanaan. Dan akhirnya ketika kita melihat mereka gagal untuk mau taat kepada Tuhan, yang Tuhan lakukan akhirnya menghukum mereka. Dan akhirnya generasi pertama itu dibiarkan putar-putar di jalan itu 40 tahun dan tidak bisa masuk ke tanah Kanaan. Kalau kita lihat jarak tempuh sebenarnya dari Mesir ke Kanaan itu berapa lama sih? Nggak lama sebenarnya. Mungkin bisa tempuh hanya di dalam, mungkin ya oke 2-3 bulan atau let’s say karena mereka itu perjalanannya banyak orang, gitu kan, melihat jutaan, oh mungkin pelan-pelan, pelan-pelan, jadi mungkin juga ya paling setahun. Tapi kok jadi 40 tahun? Itu bukan karena Tuhan memang sengaja suka bikin mereka putar-putar, tapi karena memang mereka tidak taat, karena mereka itu tidak mau suruh maju, akhirnya ya Tuhan tarik mundur sekalian. Sekalian, kamu memang nggak masuk ke situ. Dan akhirnya singkat cerita kalau kita temukan di dalam kitab Musa justru generasi pertama itu semua dibabat habis, dan akhirnya hanya generasi kedua yang masuk ke tanah Kanaan itu. Dan sebenarnya itu sebenarnya jadi gambaran kehidupan kita juga orang percaya. Kalau kita bayangkan ya, generasi pertama itu kan generasi yang adalah saksi mata kan? Merekalah saksi mata yang melihat, oh bagaimana 10 tulah itu terjadi, mereka menyaksikan bagaimana mulanya tulah pertama itu air sungai Nil berubah menjadi darah, bagaimana mereka juga melihat itu Laut Teberau itu terbelah seperti itu dan mereka nyeberang, dan setelah mereka nyeberang, ketika dikejar oleh pasukan dari tentara Mesir, malah tutup kembali. Jadi mereka melihat mujizat-mujizat itu begitu banyak, tapi malah merekalah yang tidak masuk ke tanah Kanaan. Yang masuk ke tanah Kanaan apa? Justru generasi kedua yang kalau kita perhatikan ya, mereka hanya punya kesaksiaan, cerita bagaimana mujizat yang lampau. Mereka tidak alami mujizat itu sendiri.

Dan saya pikir itu sebenarnya menjadi gambaran kehidupan kita juga orang percaya, orang Kristen, Israel masa kini. Kita pun hanya punya catatannya, kita nggak lihat langsung. Kadang-kadang kita pikir, oh betapa enaknya kalau kita lihat dulu semua mujizatnya itu sendiri. Biarlah kita lihat kenyataannya, mujizat tidak memastikan seseorang itu percaya. Bahkan, kalau kita lihat, banyak sekali justru orang-orang dalam Kitab Suci, orang di zaman yang paling banyak mujizat, justru adalah zaman yang paling banyak orang itu tidak mau ikut taat ikut Tuhan. Dan yang kemudian akhirnya ikut Tuhan adalah generasi yang setelahnya, generasi yang cuma berdasarkan catatan, kesaksian, memori sebelumnya. Dan itu yang sebenarnya kita lihat kehidupan kita juga masa kini dan di situ kita mengerti kegagalan-kegagalan Israel yang berulang, oh sampai sudah akhirnya masuk Kanaan, tanah Kanaan, hore, dipimpin Yosua masuk tanah Kanaan. Lalu kita lihat, setelah Kitab Yosua itu habis selesai, generasi Yosua itu sudah berakhir dan juga para tua-tua itu sudah yang beserta Yosua itu mati, itu masuk kitab berikutnya apa? Oh iya ada kitab Rut, gitu ya, tapi setelahnya itu zaman Hakim-hakim kan? Dan Hakim-hakim itu kita lihat pola ini bahkan berulang-ulang lagi dan lebih parah lagi. Israel itu berkali-kali kalau kita lihat di dalam Hakim-hakim ya itu berkali-kali polanya itu seperti itu. Mereka itu jatuh ke dalam dosa dan akhirnya Tuhan hukum mereka dengan membiarkan mereka dihantam oleh bangsa asing, Bangsa Filistin terutama di situ, lalu mereka kalah, lalu mereka di tengah penderitaan berteriak, berseru, “Tuhan, tolong kami, ampuni kami,” lalu Tuhan kirim hakim, hakim itu lalu bebaskan mereka, sukacita, hore sudah lepas dari penjajah. Setelah lepas itu lalu apa? Mulai lagi. Kembali lagi jatuh dalam dosa. Jatuh dalam dosa lagi, akhirnya Tuhan hukum lagi, dan Tuhan hukum lagi lalu mereka minta ampun lagi. Sudah minta ampun, Tuhan kasih kelepasan lagi. Setelah dapat kelepasan, sudah enak, jatuh dalam dosa lagi; dan itu berputar, putar-putar ulang itu. Itu ya ngomong sudah maju, maju, maju, eh macet lagi. Sudah macet, didorong maju lagi, dikasih kelepasan dan untuk dia berkembang maju, eh malah mundur lagi. Mundur terus, mundur terus, kayaknya kok nggak bisa maju seperti itu? Dan itu kita lihat karena kedegilan dari Bangsa Israel itu, karena memang mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk, dan sebenarnya gambaran itu bukan cuma untuk mereka tapi itu menjadi peringatan bagi gereja masa kini, bahwa kegagalan yang dialami oleh Bangsa Israel itu tidak boleh diulang lagi dalam gereja masa kini. Jangan sampai terulang.

Dan kita lihat itulah menjadi pengharapan Israel dari mereka setelah zaman hakim-hakim masuk ke zaman raja-raja, mereka pun melihat raja mereka pun gagal, baik seperti Saul, yang awalnya dipikir oh ini yang bisa memimpin kita, malah gagal. Oh muncul Daud. Oh Daud bagaimana perjalanan dia panjang, bersabar sampai dia menjadi raja. Oh itu begitu baik, begitu berhasil, tapi malah gagal. Gagal lagi. Kalau kita lihat menarik itu dalam kisah Daud gitu ya, Daud itu dalam peperangan itu seperti apa sih kegagalannya? Oh Daud itu kita lihatnya dia berperang hadapi Goliat, musuh yang begitu besar, berhasil, menang. Dengan iman Tuhan akan beri saya kemenangan. Dia menang. Dia hadapi atasannya, kalau mau dibilang gitu ya, Saul, itu kan raja atasan dia itu yang menekan dia, menekan dia, menekan dia, dia juga menang karena tidak ambil posisi untuk mau membunuh, melawan atasannya. Dia taat menanti waktunya Tuhan. Jadi hadapi musuh menang, hadapi konflik internal itu dia juga menang. Tapi dia gagal di mana? Batsyeba kan? Gagal di perempuan. Itulah kadang kita itu ya, itu sebenarnya jadi peringatan sebenarnya bagi kita. Itu kadang-kadang orang pakai alasan, oh Daud aja bisa gagal apalagi saya. Bukan begitu. Kalau Daud saja bisa gagal, apa lagi saya. Dan itu adalah menjadi peringatan kita untuk berwaspada dan tidak jatuh pada keyakinan, kemampuan diri kita sendiri, tapi kembali bersandar pada Tuhan.

Saya kembali ketika berbicara bagian ini kita melihat minimal ada beberapa poin yang kalau kita menggambarkan kehidupan kegagalan Israel dan kegagalan mereka secara bangsa, mereka gagal itu kenapa sih? Yaitu masalah confidence itu lho. Dia menaruh confidence, keyakinan pada apa? Dari bagian ini kita temukan di dalam sejarah Israel ada, minimal ya dari pembahasan saya ini, saya pikir ada 3 hal yang sering kali mereka menaruh confidence-nya ini dan bukan kepada Tuhan. Mereka bukan menaruh keyakinannya pada Tuhan tapi kepada hal lain, yang pertama kepada berhala-berhala; kepada dewa-dewa seperti Baal, Asytoret, dan yang lain-lainnya. Dulunya pertama ketika saya baca gitu ya, berkali-kali baca Alkitab, ini kok mereka bolak-balik sembah Baal, sembah Baal, dulunya saya pikir, ini mereka pindah agama gitu ya, ganti agama, bertobat, kembali lagi jadi Kristen, kira-kira gitu. Bukan begitu, Saudara. Kalau kita perhatikan yang terjadi itu bukan mereka pindah agama, tapi mereka itu campur, mix, sinkretisme itu terjadi di situ. Sambil menyembah Tuhan, menyembah di Bait Suci, menyembah dengan hadap tabut perjanjian, sambil juga menyembah Baal. Nah itu yang terjadi. Kalau kita mempelajari di dalam, seperti teolog Perjanjian Lama itu biasa katakan, sebenarnya ini karena mungkin pergumulan mereka itu melihat mereka masuk ke fase yang berbeda dari sebelumnya; yaitu mereka mungkin berpikir, oh YHWH ini adalah Allah peperangan, Allah dewa perang yang bisa menyelamatkan kami, karena begitu gagah perkasa kan kalahin musuh-musuhnya. Oh ini dewa perang, dewa perang. Ketika mereka akhirnya sudah masuk, landing gitu ya, masuk ke tanah Kanaan, oh sini tempatnya sudah akhirnya dikuasai juga ketika dari zaman Yosua diduduki berbagai wilayah tanah Kanaan. Setelah itu, next-nya apa? Masuk ke dalam fase berikut kan? Fase berikut dalam pergumulannya bisa berubah; yaitu mereka masuk ke dalam tanah Kanaan itu, yaitu dalam perjalanan ini tanah Kanaan bukan untuk diperangi tanahnya, tapi untuk dipelihara kan tanahnya? Jadi mereka masuk kepada fase dari sebelumnya itu fase berperang, kira-kira seperti itu, setelah mereka menduduki tanah Kanaan, mereka mulai memikirkan bagaimana bercocok tanam; sehingga mereka mulai berpikir yang kita butuhkan ini bukan lagi dewa perang tapi juga membutuhkan dewa kesuburan. Nah ini kalau kita pikir logikanya masuk akal begitu ya? Oh kita butuh dewa kesuburan dan dewa kesuburan itu apa? Ya sama seperti orang-orang Filistin lainnya. Mereka sembah Baal ya kita sembah juga Baal. Nah itu mereka masuk kepada penyembahan berhala itu karena sebenarnya kalau kita pikir ada logikanya memang, tapi mereka gagal melihat bahwa Allah YHWH yang memimpin mereka, yang memberikan kebebasan kepada mereka, juga adalah Allah yang sama yang mampu memeliharakan kehidupan mereka. Tetapi mereka malah berpikir, “Ah kita andalin yang lain aja.”

Sama kan dalam kehidupan kita juga kadang demikian. Kalau di gereja iya sembah Tuhan, hanya Tuhan. Saya saja kalau hari ini khotbahnya saya bicara yang lain pasti pikir, oh kok ini sesat, gitu ya. Kok ini ngomongnya bukan dari Alkitab, misalnya seperti itu. Kita semua sama-sama kalau di gereja setuju, pasti harus sembah Tuhan. Tapi pertanyaan saya ketika di luar sana, bagaimana? Ketika kita ada di dalam lingkungan kerja kita gimana? “Oh, kalau di dalam gereja harus Tuhan yang ditinggikan; Kristus saja ditinggikan.” Tapi sering kali kita ketika masuk dalam ranah pekerjaan misalnya, “Oh iya, Pak. Kalau sudah pekerjaan ya nggak bisalah, Pak. Harus ikuti kata bos. Oh zaman sudah berubah, Pak. Kita harus adaptasi ikuti dunia.” Dan itu yang sering kali jadi kegagalan kita dalam kehidupan. Di dalam gereja kita berteriak, bersorak, dan menyanyi, memuji memuliakan Tuhan, tapi berapa banyak, sungguh juga Tuhan ditinggikan dalam kehidupan kita sehari-hari? Dan ini sebenarnya jadi gambaran kegagalan Israel di situ. Mereka campur kepercayaan itu. Mereka sambil menyembah Allah sambil juga mencari, mengandalkan, menaruh keyakinannya kepada hal -hal yang lain. Dan itu yang menjadi kegagalan mereka. Mereka lihat, “yah, sambil andalkan Tuhan, ya juga andalkan yang lain.” Sepertinya baik kan? Plus, kan, tambahan? Oh nggak. Itulah kalau kita melihat kenapa di dalam Hukum Pertama dari sepuluh Hukum Taurat itu, “Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku.” Itu bicara “Jangan ada yang menjadi Allah; yang menjadi penguasa, menjadi tuan atas hidupmu,” selain pada Tuhan kita Yesus Kristus. Yang mana Allah yang lain? “Jangan ada tuan yang lain dalam hidup kita”. Sebabnya Kristus katakan, “Karena kamu hanya bisa memilih di antara dua tuan. Entah kamu menyembah kepada Tuhan yang Sejati atau kamu menyembah kepada Mamon. Kamu nggak bisa memilih keduanya. Kamu hanya akan memilih salah satu.” Dan di situ kita lihat, menjadi suatu teguran peringatan bagi setiap kita juga.

Dan yang kedua mereka menaruh pembebasan kepada apa? Yang kedua adalah saya di sini melihat bahwa kepada kekuatan militer mereka sendiri; kepada kemampuan mereka. Nah ini juga, kadang-kadang orang jatuh ke dalam hal ini. Oh, pertama kali percaya kepada Tuhan, pertama kali menjadi Kristen, “Oh ya memang saya orang berdosa, saya nggak bisa apa-apa. Tuhan, tolong saya, Tuhan. Tolong saya. Saya cuma orang berdosa, saya membutuhkan keselamatan dari Yesus Kristus dan saya bergantung sepenuhnya pada-Mu, Tuhan.” Betul. Tapi setelah itu jadi Kristen berapa lama, setelah mulai akhirnya bisa mempraktekkan perintah Tuhan, setelah akhirnya bisa melayani, pertanyaannya kita masih andalkan Tuhan nggak? “Oh, saya sudah bisa, sudah tahu, sudah tahu. Oh, sudah bisa kok, sudah biasa.” Berapa banyak kita, akhirnya, mengalami apa yang dilakukan juga Israel ini? Yaitu mereka gagal karena, yang kedua adalah mereka akhirnya bergantung mengandalkan kekuatan mereka sendiri, kekuatan militer mereka. Oh, dulunya ini kan kelompok budak yang memang nggak bisa perang. Tapi generasi setelahnya kan sudah belajar, ada pengalaman, belajar tentang teknik berperang seperti apa. Lalu, akhirnya mereka kegagalannya apa? Ya karena andalin kemampuan mereka itu. Kita lihat situ ya. Itu makanya ada bahayanya di dalam achievementyang kita dapat itu. Kalau kita sudah mencapai suatu titik di mana kita berhasil, pertanyaannya kita menaruh tetap andalan kita kepada Tuhan atau justru kepada kesuksesan ini? Ini jangan dibalik, “Iya, Pak. Kalau gitu kita gagal aja terus.” Ya enggak gitu. Tapi ketika kita berhasil, adakah kita tetap mengandalkan Tuhan, dan bukan mengandalkan kesuksesan keberhasilan kita?

Kadang-kadang kita melihat di dalam kisah peperangan di dalam yang dialami oleh Yosua dan rekan-rekannya pada zaman itu, ketika mereka berperang dengan Yerikho, “Oh, kota yang begitu besar, begitu kuat. Ini tidak mungkin bisa dikalahkan dengan sendiri.” Dengan kekuatan mereka, mereka gentar ini gimana kalahkan kota yang begitu besar ini punya benteng begitu hebat? Maka mereka bergumul bersama Tuhan, taat mutlak sepenuhnya ikuti apa yang Tuhan mau. Suruh kelilingi, kelilingi itu ya Tembok Yerikho 7 kali gitu kan kelilingi. Mungkin ada orang-orang Tembok Yerikho bilang, “Ini apa sih? Kamu mutar-mutar?” gitu ya. Terus misalnya gendut, “Woy, gendut-gendut, woy, kamu ngapain sih putar-putar?” kayak gitu ya. Mereka diledek, dihina, tapi ya udah mereka tahan aja; tahan, tahan, sampai akhirnya kita tahu singkat cerita Yerikho itu temboknya rubuh dan mereka perang dan mereka menang. Tapi peperangan berikutnya di kota Ai mereka gagal. Kenapa mereka gagal? Selain memang karena ada dosanya Akhan, tapi kalau kita lihat ada satu kalimatyang menarik itu mereka katakan gini, “Ah, sudahlah. Nggak usah pergi semuanya berperang sana. Ai itu kota kecil. Udah, cukup beberapa ribu orang yang pergi sana dan kita pasti bisa menang.” Dan kita lihat mereka malah dipukul habis-habisan dan mereka gagal total di situ. Kenapa ya di Yerikho itu, kota yang begitu besar dan hebat, mereka bisa menang di situ, tapi malah Ai yang kota kecil, yang istilahnya Ai itu kayak puing-puing, itu mereka gagal. Karena mereka mengandalkan kekuatan mereka sendiri. Dan mereka nanti waktu peperangan di Ai justru Tuhan perintahkan semuanya pergi. Dan ada diatur strateginya dan saya pikir itu ironi yang menarik; menarik kalau kita pikirkan. Di Yerikho katakan, hancurkan, musnahkan semua, jangan ada ambil apa pun yang ada di situ. Dan gagalnya si Akhan malah curi barang yang harusnya dimusnahkan. Tapi waktu di Ai, “Oh, kamu boleh ambil.” Nah itu ya. Itu, Tuhan seperti mau ngomongnya itu, “Ya, Saya bisa kasih kamu berkat tapi kudu tunggu. Sabar.” Tunggu waktunya Tuhan, itu ada; ada waktunya. Nah terus mereka gagal di sana karena termasuk mereka mengandalkan kekuatan militer mereka sendiri. Kita lihat pattern yang sama – pola sama – itu terulang juga yang dialami oleh Raja-Raja. Mereka gagal juga karena hal itu: mengandalkan kekuatan mereka sendiri.

Dan yang ketiga adalah kegagalan mereka sebagai bangsa Israel itu adalah karena mereka melakukan aliansi politik dengan bangsa-bangsa asing. Ketika Tuhan sudah perintahkan, “Kamu nggak usah andalkan lagi bangsa asing, kamu andalkan Saya. Saya pasti akan memberikan kelepasan kepada kamu.” Di dalam Kitab Suci menarik kalau kita temukan itu ya, di dalam Kitab Raja-Raja itu mencatat antara ada raja dibilang yang baik, ada yang jahat, kalau kita bandingkan ini baik, rajanya ini berbuat baik, benar di mata Tuhan atau berbuat yang jahat di mata Tuhan itu patokannya apa sih? Bukan karena oh yang satu lebih pintar atau satu lebih bodoh, tapi mereka mengandalkan Tuhan atau enggak. Di sini kalau kita lihat bahkan beberapa di dalam catatan Alkitab itu – di dalam Raja-Raja yang mencatat – raja-raja yang takut akan Tuhan itu, tidak tentu orang yang pandai di dalam politik. Tidak tentu pandai di dalam berperang. Tapi kenyataannya Tuhan memberikan mereka kemenangan. Kenapa? Justru karena mereka tidak mengandalkan aliansi dengan politik dengan bangsa asing. Berkali-kali mereka mau dihancurkan, seperti Yosia, seperti Hizkia, yang lainnya itu, mereka mau dihancurkan tapi Tuhan bilang, “Kamu tenang. Kamu nggak usah cari aliansi yang lain. SAYA yang akan membebaskan kamu.” Dan singkat cerita dengan cara-cara yang di luar perkiraan kita, mereka dibebaskan dari kepungan dari musuh itu. Dan di sini sebenarnya menjadi pelajaran bagi kita juga, gereja. Saya pikir ya, secara sederhana kita juga dalam kehidupan masa kini kita memikirkan ke depan akan membangun gereja kan? Tapi pertanyaannya kita andalin siapa? Kita andalin siapa? Itu pertanyaan yang lebih penting ketimbang kebangun gerejanya. Kita mulai dari titik itu dulu: kita mengandalkan siapa? Adakah kita dengan berlutut, bertelut sungguh andalkan Tuhan dan lihat waktunya Tuhan, Dia akan bukakan. Atau kita mulai pikir, “Oh, sudahlah pakai trik-trik. Oh, Pak, aduh. Di gereja itu ya, harus jujur-jujur. Aduh kalau dunia nggak bisa, Pak. Harus pakai cara-cara curang. Oh memang dunia begitu.” Kalau gitu saya tanya, buat apa kita bangun gereja yang seperti itu? Buat apa? Tapi biarlah kembali kita lihat yang Tuhan berkenan adalah jika kita memang taat perintah-Nya, dan menantikan waktu-Nya.

Dan bukan mengandalkan yang lain. Di sini justru gereja dipeliharakan Tuhan justru oleh karena kita dipanggil untuk menaruh keyakinan kita pada pemeliharaan Tuhan dan ini yang dikatakan oleh Paulus di sini. Dia menaruh keyakinannya dengan jelas, di ayat 6 bahwa, “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Di sini Paulus di tengah pemenjarannya dia lihat sepertinya dia macet kan? Tidak bisa berjalan, berkembang. Tapi dia tetap bisa confidence. Confidence-nya apa dia dipenjara? Karena dia menaruh confidence-nya bukan pada diri, bukan pada, “Oh, mungkin bisa sombong ini pada serdadu Romawi,” tapi karena pada Tuhan. Bahwa Tuhan-lah yang memeliharakan gereja-Nya. Meski dia dipenjarakan, meski banyak orang-orang Kristen lainnya dianiaya, tapi Tuhan yang akan memeliharakan gereja-gereja-Nya, sedemikian terus berjalan sampai kedatangan Kristus yang kedua. Kenapa? Karena itu janji Tuhan sendiri; itu janji Tuhan sendiri. Dan di situlah kita menaruh confidence kita, bukan kepada apa yang kasat mata, tapi justru melihat pada apa yang Tuhan nyatakan di dalam firman-Nya. Saya pikir ini sama ya ketika saya menemukan bagian ini saya teringat kadang-kadang, dan cukup sering sebenarnya, ketika saya pelayanan penginjilan di Rumah Sakit, itu ada satu hal yang biasanya saya ingat gitu. Ketika saya penginjilan kepada pasien di rumah sakit, lalu untuk sebelum doakan dan kita beritakan Injil, sharing Firman singkat pada pasien, itu ada satu yang saya ingat itu selalu, mengajarkan, saya beritakan seperti ini yaitu, “Ingatlah, bahwa kita menaruh confidence kita terutama kepada Tuhan dan bukan kepada peralatan dan obat-obatan yang ada di sini (Rumah Sakit – red). Biarlah kita melihat justru Dialah persandaran kita lebih utama dari pada semua yang ada di sini.” Tentu, saya bukan mengatakan, “Iya, kamu bersandar, percaya kepada Tuhan,” lalu cabut aja infusnya?Ya bukan. Tetap pakai, pasang infusnya. Tetap kalau ada operasinya, harus jalani operasi, jalani operasi. Tapi kita menaruh keyakinan kita bukan pada dokternya, bukan pada obatnya, tapi pada Tuhan yang akan memakai semuanya ini, untuk memberikan semua kesembuhan pemeliharaan pada kita. Dan terutama kalau sudah sembuh mau buat apa? Kadang-kadang juga orang kalau nggak tahu ya, dia sembuh itu umur diperpanjang mau buat apa? Dia malah, panjang umurnya, malah hidupnya lebih kacau lagi. Dan kisah Alkitab juga mencatat demikian kan? Ada raja diperpanjang umurnya, diperpanjang umurnya, setelah itu hidupnya benar? Enggak. Justru membawa malapetaka bagi bangsa Israel sendiri. Dan di situ makanya pertanyaannya sebenarny kita menaruh keyakinan kita kepada apa? Kepada Tuhan-kah atau kepada yang lain? Dan di situ kembali kita lihat kita justru dipanggil untuk bertumbuh, untuk semakin bergantung kepada Dia, dan bersandar kepada pemeliharaan Tuhan. Itu baru kita bertumbuh. Sehat atau sakit itu satu hal; kaya atau miskin itu satu hal. Tapi adakah di tengah pergumulan itu kita terus bersandar pada Tuhan atau nggak? Itu baru pertumbuhan iman. Itu baru berarti kita memang telah – kalau mau dikatakan itu – sukses di mata Tuhan, bukan di mata dunia.

Dan yang berikutnya Paulus juga katakan bahwa dia menaruh keyakinannya, apa, pertama kepada pemeliharaan Tuhan sendiri. Dia akan memeliharakan, meneruskan gereja-Nya sedemikian sampai akhirnya. Dan juga dia menaruh keyakinannya kepada Injil, karena Injil itulah, seperti yang dikatakan di dalam Surat Roma, bahwa Injil itulah Kuasa Allah yang menyelamatkan orang berdosa. Pertama-tama orang Yahudi, kemudian juga orang Yunani, dan itu berarti bicara berarti semua orang. Dan itulah keyakinan Paulus. Bahwa yang diberitakan dan juga diimani oleh jemaat Filipi itu, yang penting itu. Kita percaya pada Injil yang Sejati. Dan itu yang akan memelihara keberlangsungan gereja itu sendiri. Kadang-kadang kita berada di zaman sekarang ya, orang menaruh keyakinan gereja ini berlangsung dengan kepada apa? Kita yakin gereja ini bisa terus berjalan karena apa? “Oh, Pak. Ituloh Pak. Ada orang kaya itu lagi datang. Ayo kita pelihara ya; jaga mereka tetap di sini, tetap di sini.” Berapa banyak kita menaruh keyakinankita, gereja itu jatuh-bangunnya, bukan karena ada satu-dua orang kaya, atau banyak orang kaya tapi kepada Injil yang sejati diberitakan atau enggak. Karena itulah tanda gereja yang sejati. Gedung bisa dibangun bagus-bagus, dan begitu megah. Tapi kalau bukan Injil sejati beritakan, itu kosong, itu kosong.

Biarlah kita melihat yang terutama bagi kita, kenapa gereja ini harus dan boleh terus berjalan? Adalah jika semata-mata kita masih terus bersandar pada pemeliharaan Tuhan dan masih, Injil sejati itu terus diberitakan. Dan itu yang berarti gereja itu akan masih terus berjalan. Jatuh bangunnya gereja, justru terletak pada berita Injil itu sendiri. Karena itulah seperti di ayat 5 dikatakan itu, dia katakan bahwa, “Aku mengucap syukur kepada Allah karena persekutuanmu dalam berita Injil.” Mulai dari hari pertama sampai sekarang ini, yaitu bicara bahwa di dalam persekutuan dengan Injil itulah, menjadi jati diri identitas gereja. Kadang-kadang kita cuma pikir, “Oh yang penting kita bersekutu bersama dengan teman-teman sini, oh kita bisa akrab satu sama lain.” Tapi adakah kita berpikir, justru persekutuan yang paling intim, yang paling inti di dalamnya, adalah persekutuan dalam berita Injil itu. Persekutuan dalam berita Injil yang sama, yang diberitakan oleh Paulus di sini. Dan itulah yang membuat kita punya koneksi dengan sampai pada jemaat mula-mula, sampai dalam sejarah keselamatan itu dari permulaan, yaitu Injil yang sama yang diberitakan oleh Paulus, itu juga yang kita beritakan dan kita pegang hari ini. Adakah keyakinan kita itu di sini? Atau kepada yang lain?

Kadang-kadang saya ketemu juga orang-orang yang, misalnya di dalam Pemuda gitu ya, terus suka berpikir, “Kenapa sih pak kita harus itu nyanyinya lagu hymne? Kenapa ya kita nggak pakai tuh nyanyi lagu yang POP, atau lagu-lagu yang masa sekarang lah, yang kayanya lebih seru, gitu, yang lebih ramai, gitu ya.” Kita tentu bukan anti sepenuhnya dengan lagu kontemporer, karena ya sederhananya lagu pak Tong itu juga lagu kontemporer, lagu masa kini. Tapi poinnya adalah, pertanyaannya adalah, adakah gereja itu berfungsi menerangi dunia atau malah kita yang diterangi oleh dunia, kalau mau tanda kutip di sini (“diterangi” oleh dunia). Adakah gereja yang justru mengubah dunia, atau malah dunia yang mengubah gereja? Nah di sini kita harus mengerti, prinsip kita di mana, posisi kita di mana? Dan biarlah kita menaruh keyakinan kita, confidence kita kepada Injil itu sendiri. Karena Injil itulah kuasa Allah, dan karena itu berarti kuasa itu kekal dan yang terus berbicara sampai masa kini, sampai zaman berubah kapanpun, tetap keyakinan kita kepada Injil yang sama, karena Injil itulah yang memberikan keselamatan, dan bukan yang lain.Dan kemudian nanti, di bagian berikutnya, itu Paulus menyatakan bahwa: Ingatlah status kita, identitas gereja adalah apa? Kita adalah warga Kerajaan Surga. Kita adalah warga Kerajaan Surga, kita hidup di dunia tapi warga negara kita, itu kalau mau bilang warga negara apa, warga negara Surgawi. Kitalah yang hidup di dalam intersection ini, di dalam irisan ini. Sambil kita hidup di tengah-tengah dunia, sambil kita sadar, kita bukan dari dunia ini. Rumah kita itu bukan di dunia ini, ini hanya kemah sementara, rumah kita di sana. Kita menantikan pulang.

Saya pikir menarik, Jonathan Edwards di dalam salah satu komitmennya, dia menyatakan hal ini, yaitu “Lord, stamp eternity on my eye balls; Tuhan, capkanlah kekekalan itu pada bola mataku.” Ya itu maksudnya apa? Ya itu untuk terus dia memandang kepada kekekalan, terus memandang kepada kekekalan, terus memandang bahwa, “Ya rumah saya di sana, rumah saya bukan di sini.” Dan yang di sini berarti apa? Ini semua hanyalah sarana yang Tuhan sediakan untuk kita garap, persiapkan untuk kelak kita pulang. Itu yang harusnya  kita lihat. Berapapun talenta yang anda diberikan, berapapun kekayaan ataupun hal-hal yang lain, posisi, kekuasaan yang Tuhan izinkan anda miliki sekarang, biarlah kita melihat, itu untuk bukan kita nikmatin untuk kita sendiri, tapi untuk kita pakai bagi kemuliaan Tuhan, karena kita adalah warga negara sana, bukan warga negara dunia ini. Dan di sini kita mengerti, bagaimana hidup kita itu difokuskan kepada Tuhan, di mana seluruh pekerjaan dan pelayanan kita bersifat berpusat kepada Tuhan. Theosentris itu. Berfokus kepada Tuhan, dan bukan kepada diri kita. Inilah identitas dan jati diri dan bahkan kekuatan gereja yang sejati. Bukan mengandalkan dunia tapi justru mengandalkan Tuhan. Dan jatuh bangunnya justru terletak pada hal yang inti ini. Hal yang begitu subtle, hal yang begitu tersembunyi. Tapi sebenarnya kita di dalamnya tuh tahu, kita sedang andalkan siapa. Dan biarlah kita sungguh mengandalkan Tuhan, karena Dialah yang akan menopang gereja, dan Dialah yang menentukan justru berhasil atau gagalnya gereja.

Selanjutnya ketika kita berbicara gereja, maka tentu kita ngerti, gereja itu bukan pribadi 1 orang, gitu ya. Tapi ini bicara kumpulan umat Tuhan. Dan ketika berbicara kumpulan umat Tuhan, maka kita ngerti tuh, yang melibatkan banyak orang, kan? Bukan cuma 1, tapi ada teman-teman yang lain. Tapi siapakah teman kita? Kalau kita lihat di dalam ayat 7 dan 8 ini, berbicara kepada kita, memberikan prinsip-prinsip. “Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil.Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.” Di dalam gereja, kita bersekutu bersama-sama juga dengan orang lain. Bersekutu dalam berita Injil itu pertama, lalu kemudian bersekutu dengan teman-teman yang lain. Tetapi pertanyaannya siapakah teman kita? Mao Zhe Dong itu pernah mengungkapkan suatu istilah yang menarik, dia katakan, “Siapa lawan, siapa kawan – ini adalah pertanyaan paling penting pertama ketika berbicara tentang revolusi.” Dan saya pikir konsep ini menarik dengan pemikiran yang diutarakan oleh Sun Tzu, yaitu dia mengatakan, tentang ketika berperang, itu mengenali lawan dan mengenal diri, membuat kita dalam 100 pertempuran pun akan terhindarkan dari malapetaka. Tapi masalahnya, sayangnya banyak orang itu, terutama orang-orang besar justru gagal mengenali dan membedakan siapa kawan, siapa lawan. Belum lagi kita, kadang-kadang masuk ketemu ada orang-orang, ada istilahnya itu “friend and enemy” – temen tapi kaya lawan juga. Kadang-kadang kita, sayangnya dalam kehidupan kita itu, kita mungkin punya teman-teman akrab dan sebenarnya justru itu sebenarnya menjadi musuh kita. Dalam artian adalah, teman-teman yang ketika kita sudah jatuh melakukan kesalahan, dia akan katakan: “Oh gapapa, gapapa, gapapa.” Lho kita terus dibiarkan terus di dalam kesalahan kita. Kita satu sisi pikir, oh seneng ya, ini teman tiap saya buat salah apa, dia bilang gapapa, gapapa, gapapa – itu yang menjerumuskan kita. Tapi teman sejati, justru akan memperingatkan kita, di dalam kebenaran itu seperti apa.

Tapi itulah di dalam gambaran dunia itu, siapa kawan siapa lawan seringkali kabur, seringkali nggak jelas. Dan seringkali kayaknya bisa berubah-berubah sewaktu-waktu. Di dalam politik ada istilah itu bahwa hari ini bisa musuh, besok juga bisa jadi teman. Jadi, orang berkira, “Oh berarti tidak ada musuh abadi.” Baik gitu ya? Tapi berarti sekaligus juga, tidak ada teman yang abadi kan? Karena yang abadi itu apa? Yang abadi itu hanyalah kepentingan partai. Nah itu. Itu yang abadi, nggak berubah. Kalau seperti kaya itu kan, sering nanti, ya nanti memang kalau pilkada, itu pemilihan: Oh sisa tiga kandidat ini, sisa 3 partai besar. Lalu dari 3, wah yang kalah neh yang nomor 3 ini kalah, sisa 2. Nah, mulai yang ketiga mulai pikir, temanan sama siapa? Dan itu bisa jadi menjadi, tadinya musuh malah menjadi teman. Kenapa? Karena ada pepatah pun mengatakan: Enemy of my enemy is my friend. Nah itu koalisi sementara tuh, jadi temanan, “Oh kita sama-sama nggak suka nih, si ini. Ya sudah kita temanan aja.” Kenapa? Karena enemy of my enemy is my friend. Dan saya pikir, kalau pertemanan yang didasarkan dan diikat oleh nilai kebencian seperti ini dan bukan kasih, itulah pertemanan yang sebenarnya sifatnya sangat rapuh dan sementara sekali. Karena suatu saat kalau hilang musuhnya, ya sudah bentur lagi satu sama lain. Karena dari awal bukan diikat karena sepikiran, sehati dan sevisi. Tapi memang karena hanya demi berjuang melawan musuh yang sama saja.

Tapi siapakah teman sejati kita? Biasanya dalam sehari-hari kita mengerti, teman itu adalah yang punya kesenangan yang sama dengan kita kan? Oh punya kesenangan yang sama, sama-sama doyan senang naik sepeda. “Oh ini teman saya.” Kenapa? “Teman sama-sama hobi, sama-sama senang naik sepeda, oh ini teman saya.” Oh punya hobi yang sama, punya kesenangan yang sama. “Yuk.. yuk.. nonton film.” Nonton film yang sama. “Yuk kita ada kerjaan ini.” “Oh, kamu juga mau kerjain? Yuk kita kerjain sama-sama.” Tapi kalau kita melihat, apa yang diutarakan di dalam Paulus, di dalam Filipi 1:7-8, dia mengatakan: Teman sejati adalah apa? Adalah teman yang berbagian di dalam penderitaan dan proklamasi berita Injil itu sendiri. Ini yaitu, in suffering and for the truth – yaitu di dalam penderitaan dan di dalam berjuang bagi kebenaran itu.

Saya pikir menarik ya, seperti yang saya pernah juga katakan di khotbah saya yang lalu, bahwa ketika kita mengalami penderitaan, seperti yang Petrus katakan, justru itu akan memperkenalkan kita, menyatakan siapa diri kita. Kadang-kadang ketika kita susah tuh baru tahu, oh saya itu seperti apa. Sederhananya seperti kita dalam ruangan ini kan, “Oh ini semua nyaman, ini enak.” Oh ya, ini karena memang masih nyaman, coba kalau misalnya AC nya mati, ini mikrofonnya tidak berfungsi terus suara saya misalnya terbatas, ya cuma kecil-kecil gitu, kita masih di sini nggak? Nah itu, karena ketika dalam kesulitan penderitaan, mau memperkenalkan diri kita itu sebenarnya seperti apa. Ketika kita masuk dalam kesulitan, sebenarnya baru kita tahu, siapakah diri kita. Dan hal yang sama ketika kita masuk pembahasan ini, hal yang sama juga menariknya adalah dalam penderitaan itu juga memperkenalkan pada kita siapakah teman kita. Bukan hanya orang yang: Ayo kerja, lagi untung, untung, untung, kita kerja sama-sama, sama-sama. Iya kalau lagi untung, kalau bunting, masih sama-sama nggak? Atau malah saling salahkan satu sama lain. Nah teman sejati justru menariknya, dalam penderitaan itu satu sisi memperkenalkan diri kita, siapakah kita. Dan kemudian juga memperkenalkan pada kita, siapakah teman kita yang sejati. Karena teman sejati tuh justru juga dalam penderitaan terus bersama dengan kita. Dan bukan hanya karena kesenangan, karena untung, wah itu hanya teman yang sehobi yang sementara saja.

Dan saya ketika memikirkan lagi, kembali ya, 2 variabel ini bicara tentang in suffering and for the truth. Maka saya pikir ini, ketika berbicara teman, saya coba pikirkan ini menjadi suatu berbagai macam teman yang kita bisa miliki dan saya coba pikirkan dari 2 variable ini menjadi 4 kuadran. Dan saya mulai dari kuadran yang negatif-negatif dulu. Yaitu ada teman-teman yang kita miliki adalah teman-teman not in suffering and no for the truth – yang tidak bersependeritaan dengan kita tapi juga sama-sama dan dia juga tidak sama berjuang untuk kebenaran. Dan saya pikir teman-teman yang seperti ini ya, ada kan kita punya teman-teman gitu kan? Kalau sudah selesai ibadah, oh ya udah, pergi teman senang-senang saya ajak main situ. Tapi kalau kamu susah, dia juga nggak datang. Ke gereja? Dia juga nggak sama-sama gereja, nggak ibadah juga bukan Kristen. Nah, harusnya kita pikir teman-teman yang ini, yang not in suffering and not for the truth, harusnya kita batasi dan kita saring relasinya dengan mereka. Saya bukan bilang kita putus dengan mereka tapi kita harus saring. Karena ini adalah teman-teman yang sebenarnya tidak sependeritaan dengan kita juga bahkan tidak sama-sama berjuang bagi kebenaran yang sama. Ini sebenarnya adalah irisan yang lebih luar dan harus kita batasi relasi kita dengan mereka. Teman di irisan yang lebih dalah seharusnya kita mengerti adalah teman-teman kuadran kedua adalah teman-teman yang in suffering but not for the truth, nah ini kita juga punya teman-teman yang demikian kan? Sependeritaan dengan kita, tahu kesulitan kita, tahu pergumulan kita, tapi sayangnya dia tidak Kristen, sayangnya dia nggak percaya kepada Tuhan Yesus. Nah saya pikir bagian ini kita harus mengerti, kuadran kedua ini, adalah harusnya teman yang adalah target untuk kita injili karena dia sependeritaan dengan kita, kita tahu kalau dia ini kawan baik, bukan hanya teman kala senang saja tapi juga kala susah. Tapi kita ingat, bukan hanya waktu menderita saja, biarlah kita injili mereka supaya mereka mengerti kebenaran itu. Itu kuadran kedua, dan kuadran ketiga adalah not in suffering but for the truth, kebalikan dari yang kedua ya, yaitu orang-orang yang tidak sependeritaan dengan kita, mungkin tidak mengerti pergumulan dan penderitaan kita, tapi kita tahu mereka berjuang untuk kebenaran yang sama dengan kita. Dan saya pikir kita seharusnya melihat orang-orang inilah yang berpotensi menjadi rekan sepelayanan kita, berpotensi menjadi kawan akrab kita. Dan bagian ini, kuadran ketiga, itu yang bagi saya adalah yang kita temui di gereja. Sama-sama dengar khotbah hari ini, sama-sama tahu program di dalam gereja, sama-sama tahu bahwa kita ini berjuang demi injil yang sama, tapi mungkin belum mengerti pergumulan kita. Nah orang-orang bagian ini harusnya kita lihat berpotensi jadi teman akrab kita, sangat potensial, karena meski mereka belum tahu kesulitan, penderitaan kita tapi minimal kita tahu mereka sudah punya visi yang sama dengan kita.

Saya pikir menarik ketika saya merenungkan bagian ini, saya teringat apa yang pernah diutarakan oleh Pendeta Ivan Kristiono ketika dulu saya masih mahasiswa dan praktek di pusat. Lalu suatu ketika Pendeta Ivan kumpulkan kami mahasiswa yang praktek di pusat lalu ngobrol-ngobrol, sharing tentang pelayanan dia yang dia kerjakan di Sekolah Kristen Calvin dan juga ada diputarkan video untuk universitas. Lalu dia cerita seperti ini, dia ingat sekali waktu awalnya itu Pak Tong ngomong ke dia, “Ivan, kamu siapkan sekolah ya, kamu cari guru-gurunya.” Ya kalau kita disuruh Pak Tong itu jawabnya apa? Dan dia pikir, “OK saya siap Pak Tong, tapi terus mau cari gurunya dimana?” Lalu mulai coba cari guru. Lalu dalam sharing itu Pak Ivan cerita kepada kami gini, menariknya adalah dia ketemu ada 2 macam orang, yaitu dia ketemu orang-orang yang semacam sudah punya pengalaman, sudah mengajar lama, sudah mengajar di sekolah-sekolah mana begitu, ada guru yang skill-nya itu matang sekali, sudah sangat ahli, tapi bukan orang kita, bukan orang Reformed, bukan orang di dalam GRII, ini macam yang pertama. Tapi ada lagi macam yang kedua, dia ketemu ada orang-orang yang ya jemaat kita, sudah mengerti prinsip-prinsip Reformed tapi ya itu masih se kia gitu ya, masih anak-anak, baru lulus S1, punya skill? Nggak punya. Pernah punya pengalaman ngajar mana? Ya ngajar Sekolah Minggu. Ini mau mengajar kurikulum lho ya, ya saya bukan mau menghina pengalaman di Sekolah Minggu, tapi ini daily bukan cuman mingguan. Lalu ini bagaimana? Nah saya pikir menarik yaitu Pak Ivan katakan kalau kamu dihadapkan pada 2 pilihan ini, satu punya skill tapi beda pandangan, yang satu lagi ini sudah sevisi dengan kita tapi belum punya skill; pilihlah yang kedua. Selalu pilih yang kedua. Kenapa? Dia bilang skill itu bisa dilatih, karakter itu bisa diasah, tapi kalau visinya beda siapa yang bisa mengubahnya? Orang kalau punya pandangan imannya berbeda siapa yang bisa ubah? Tidak ada yang bisa ubah selain Tuhan kan, terus kita mau tunggu kapan dia mengerti visi gerakan Reformed Injili, mau tunggu sampai kapan? Pak Ivan bilang, “Lebih baik saya pilih ini semua orang yang nggak berpengalaman, terus saya latih.” Ya prosesnya memang jadi lebih sulit, tapi minimal mereka sudah punya visi yang sama, mau berjuang demi injil yang sama, dan mereka tahu kenapa mereka kerjakan ini. Dan biarlah di dalam skill dan kemampuan itu bisa dilatih dalam berjalannya waktu. Visi itu nggak bisa dilatih Saudara. Orang kalau punya pandangan beda itu kita mau bagaimana melatihnya, diputarkan VCD Pak Tong belum tentu masuk, karena itu anugerah, itu bicara anugerah. Skill itu kan secara manusia kita bisa latih, bisa diasah, bisa ada sekolahnya; kalau ini nggak bisa.

Maka kembali bicara kuadran ketiga ini harusnya kita lihat justru kita memilih. Mungkin ada juga pemuda di sini yang berpikir mencari pasangan hidup, carilah justru yang sama-sama sudah berjuang untuk kebenaran yang sama, dan nanti area-area lainnya kita bisa asah. Dan yang terakhir tentu adalah kuadran keempat, adalah in suffering and for the truth, yaitu teman-teman yang sama-sama sependeritaan dengan kita dan juga berjuang untuk injil yang sama, untuk kebenaran injil yang sama. Dan inilah teman-teman yang paling sejati, yang paling berharga, yang paling bernilai dalam hidup kita. Harusnya kita lihat inilah irisan yang paling dalam. Teman-teman yang sama dengan kita, yang sama-sama mengerti pergumulan kita setidaknya seperti apa, dan juga sama-sama berjuang untuk injil yang sama. Ini lingkaran yang paling dalam. Sehingga ketika kita mengerti dalam pertemanan dan relasi kita satu sama lain itu seperti irisan bawang, ada irisan yang lebih luar, ada irisan yang lebih dalam. Nah irisan yang paling dalam itu harusnya seperti ini. Dan biarlah kuadran satu itu yang not in suffering and not for the truth itu irisan yang paling luar. Dan yang paling dalam adalah justru yang in sufferings and for the truth. Tapi sayangnya saya lihat kadang-kadang dalam realitanya kita malah kebalik-balik kan? Justru seringkali kita malah bisa lebih trust, lebih percaya kepada yang justru irisan paling luar ini, orang-orang yang yah sama-sama senangnya dengan kita tapi kita tahu mereka tidak sependeritaan dengan kita, juga tidak berjuang demi kebenaran yang sama. Harusnya kita lihat itu adalah bagian irisan yang lebih luar dan kita jangan terlalu trust, terbuka kepada mereka, terbukalah dengan yang lebih dalam.

Dan itulah yang juga dialami oleh Paulus di sini. Ditengah penderitaan yang dialami, kesulitan yang dialami, dipenjarakan di Filipi. Tidak ada enaknya dipenjara Saudara, bahkan penjara zaman dulu itu lebih menderita daripada zaman sekarang. Zaman dahulu itu Paulus dengan jelas katakan diapun dirantai dan bahkan makanannya sendiri tidak tentu cukup sehingga butuh Epafroditus dan Timotius untuk membawakan makanan untuk mencukupkan kebutuhan ini, jadi bukan nikmat di dalam sana. Tapi menariknya, ditengah kesulitan itu dia bisa menemukan sukacita. Sukacita kenapa? Karena ditengah kesulitan itu dia menemukan, “Oh teman saya yang sejati ada di luar sana dan mereka tidak dipenjarakan, dan berarti Tuhan masih memelihara Gereja-Nya.” Menariknya di sini Paulus dalam kehidupannya sendiri juga sudah alami berkali-kali dikecewakan dan mungkin ditinggalkan oleh yang sama-sama orang yang mengaku Kristen tapi ternyata bukan, dipikir kawan malah lawan. Tapi ditengah kesulitan itulah dia juga bisa sukacita karena ketemu “Oh ternyata teman-teman di Filipi ini, yang masih terus setia, itulah teman saya yang sejati.” Dan karena itulah tidak heran dia bisa mengungkapkan kalimat-kalimat seperti itu, bahwa “Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku,” dia berpikir keluar dan berpikir “Oh inilah teman-teman saya.” Bahwa “kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil,” dan itulah dia menemukan suatu sukacita yang besar di situ. Adakah kita juga mengalami sukacita ini? Di tengah penderitaan kita temukan ternyata Tuhan masih memelihara kita, bukan saja dengan iman kita masih dipeliharakan, masih ada teman-teman kita, sependeritaan dengan kita tapi juga berjuang injil yang sama dengan kita, itu memberi sukacita. “O saya susah,” tapi juga ada orang-orang lain yang juga sama susahnya dan berjuang demi injil yang sama; itu menguatkan kita di tengah kesendirian dan kesulitan yang kita hadapi, bahwa perjuangan ini tidak sia-sia dan bahwa ada rencana Tuhan ke depan yang lebih besar dari yang bisa kita bayangkan di masa kini. Dan saya pikir, makanya ini kadang-kadang kalau ada orang bilang, “O itu ada konspirasi gereja mula-mula,” aduh itu teori yang isapan jempol, teori yang murahan sekali. Nggak lihat apa, ini kondisi gereja mula-mula yang suram sekali, madesu, masa depan suram, itu hidupnya susah sekali. Mereka bisa strive, struggle, berjuang terus itu survived seperti ini kenapa? Hanya karena ada yang sama-sama mau menderita bersama dan sama-sama mau berjuang bagi injil yang sama, dan ini yang memberikan suatu sukacita bagi Paulus.

Dan terlebih lagi saya yakin percaya, bukan saja dia melihat secara horisontal, teman-teman itu, tetapi kembali dia lihat kepada vertikal, kepada Kristus karena Kristuslah sebenarnya yang adalah teman kita yang sejati, sahabat kita yang sejati. Joseph Scriven itu menuliskan suatu syair lagu What a Friend We Have in Jesus, sungguh Yesuslah sahabat sejati kita karena di tengah penderitaan, kesulitan kita itulah kembali kita ingat bahwa Kristuspun telah melewati penderitaan, kesulitan yang sama, bahkan lebih dari kita. Kita dalam pergumulan mentaati kehendak Bapapun tidak sampai meneteskan darah, tetapi Kristus yang bergumul mentaati kehendak Bapa sampai meneteskan darah. Yang Dia lakukan itu bukan demi diri-Nya tetapi demi kita. Tidak banyak orang yang mau menderita bersama dengan kita, tapi Kristus itu rela menderita bersama dengan kita, bahkan menderita bagi engkau dan saya. Maafkan saya katakan kalimat ini, hamba Tuhanpun belum tentu rela menderita bagi anda, tapi Kristus sudah lebih dahulu rela menderita bagi setiap kita. Dialah Gembala jiwa, sudahkah Dia menjadi Gembala jiwamu? Mari kita satu dalam doa.

Bapa kami dalam Sorga, kami bersyukur untuk kebenaran firman-Mu yang diberitakan hari ini. Kami berdoa ya Tuhan, biarlah di dalam pergumulan, dan tantangan, dan ujian yang kami hadapi, biarlah itu membentuk kami justru semakin menaruh keyakinan kami bukan pada diri kami sendiri atau pada yang lain, tapi menaruh keyakinan kami kepadaMu saja. Dan biarlah ditengah tantangan yang kami hadapi justru membawa kami untuk lebih lagi percaya dan bersandar padaMu. Dan sungguh menemukan bahwa Kristuslah, yang sudah rela mati menebus dosa kami, yang adalah Sahabat sejati kami, yang sungguh begitu mengasihi kami. Bersyukur Bapa untuk semua ini, dan biarlah setiap kebenaran firman mendorong kami juga untuk boleh semakin mengenal dengan tepat siapakah kawan, siapakah lawan yang sejati dalam kehidupan kami. Hanya dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Scroll to Top