Karunia untuk Menderita bagi Kristus, 3 Februari 2019

Filipi 1:29-30

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Di dalam dunia ini, ada banyak orang yang mengaku dan menyebut dirinya sebagai Kristen. Namun seperti apakah seorang Kristen yang sejati? Seperti apakah seorang yang bisa dikatakan sebagai seorang Kristen yang sungguh-sungguh telah mengalami kelahiran baru itu? Kita jangan mudah terkecoh dengan orang yang sekedar bilang, “Oh saya Kristen,” atau dia memakai ornamen-ornamen, pernak-pernik Kristen, “Oh dia pakai kalung salib,” atau dia ada tattonya, tulisan “Yesus” dan semuanya. Belum tentu seperti mereka itu adalah orang Kristen sejati. Karena banyak orang yang hanya memakai label-labelnya saja, hanya asesoris saja Kristen, tapi belum sungguh-sungguh mengalami kelahiran baru, belum sungguh-sungguh menjadi orang Kristen sejati. Dan apalagi di zaman sekarang, ada kadang-kadang orang memakai label-label Kristen itu, ataupun datang ke gereja itu katanya ada untuk pencitraan. Lho kita bingung ya, untuk apa pencitraan? Iya, supaya kelihatan bahwa dia itu kudus, kelihatan bahwa dia ini orang yang baik. Dan ada orang-orang, dan bahkan dalam ibadah, bahkan ataupun kalau misalnya ikut kelas-kelas, pembinaan dan katekisasi, “Kenapa mau jadi anggota?” “Oh kalau saya menjadi orang Reformed itu kelihatannya baik. Pandangan orang itu jadi baik.” Jadi, bukan karena sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, bukan karena sungguh-sungguh telah mengalami kelahiran baru, tapi karena ada faktor-faktor yang lain. Tapi karena itulah, di dalam bagian ini, kita akan merenungkan bersama seperti apakah orang Kristen yang sejati itu. Di bagian ini setidaknya kita bisa menemukan ada 2 variable yang dikemukakan Paulus di ayat 29, yaitu bicara aspek percaya dan juga orang menyebut dirinya Kristen juga ada aspek dia menderita bagi Kristus. Bagian sini kita menemukan ketika bicara 2 aspek ini, maka saya bisa membaginya dengan jadi 4 kuadran, seperti kadang juga saya lakukan. Yaitu bicara orang Kristen itu seperti apa? Kita akan menemukan ada 4 macam orang menyebut dirinya Kristen.

Yang pertama itu ada orang yang sebenarnya tidak percaya kepada Kristus dan juga tidak menderita bagi Kristus, tapi dia sebut dirinya Kristen. Dan bagi saya ini adalah tipe kategori pertama yaitu tipe Kristen KTP. Kristen KTP itu adalah hanya sekedar datanya saja Kristen. Kalau kita minta datanya, “Lihat KTP saya.” Oh ditulis itu, dia Kristen. Tapi ditanya, “Kamu ke gereja di mana?” “Oh, di mana ya gerejanya? Oh, ada tuh dekat rumah.” Kadang-kadang saya punya pengalaman, kalau PI ke rumah sakit lalu mengunjungi pasien lalu tanya, “Permisi tanya, biasa ibadah di mana?” nanti itu bisa ketahuan deh kalau orang yang, “Eh… di itu, ada tuh dekat rumah itu.” Terus dia tanya keluarga yang menemani, “Gereja mana ya?” “Ada lah dekat sana.”, gitu. Ya kita tahu, ini sebenarnya orang yang nggak ke gereja. Kalau nggak ditanya, ya dia nggak ke gereja. Bahkan kadang ditanya, dia tetap nggak ke gereja juga. Tapi ya semacam demikian itu banyak. Apalagi di dalam konteks Indonesia ya. Dan konteks Indonesia itu salah satu prasyarat di dalam KTP memang kudu tertulis agamanya jadi kadang-kadang memang orang itu ya hanya Kristen KTP saja. Hanya ditulis KTPnya, ID-nya, identitasnya dia agamanya Kristen, tapi tidak sungguh-sungguh percaya kepada Kristus. Dan juga tidak mungkin mau menderita bagi Kristus. Tapi inilah kenyataannya di sekeliling ada orang yang seperti demikian. Orang yang datanya saja Kristen, tapi tidak sungguh-sungguh percaya dan tidak sungguh-sungguh mau juga menderita bagi Kristus. Tapi inilah tipe pertama. Dan ini sebenarnya adalah orang Kristen palsu, orang Kristen yang hanya ngaku saja tapi tidak sungguh orang Kristen.

Tapi kemudian yang ada juga bentuk kedua, yaitu tipe kedua, yaitu yang saya bilang, orang yang percaya tapi tidak mau menderita bagi Kristus, dan ini saya sebut sebagai orang Kristen yang kanak-kanak. Ya kan? Kalau misalnya, kalau kita seperti sekarang misalnya selesai dari ibadah, kita lihat anak-anak di Sekolah Minggu, wah mereka semua happy, semuanya ceria. Kenapa? Memang mereka sepertinya, ya itu secara alamiah memang hidupnya bahagia, gitu ya, tidak ada kesusahan sama sekali. Ya, kita bisa cukup maklum kalau anak-anak seperti itu. Tapi kalau orang sudah dewasa, tapi dia tetap imannya sama seperti anak-anak ini, maka itu saya bilang, seperti Kristen yang kanak-kanak. Yang percaya kepada Kristus, tapi kalau  muncul penderitaan, dia langsung yang pertama itu mundur. Muncul kesulitan, dia langsung mundur. Dan ini adalah tipe Kristen kanak-kanak. Tipe Kristen yang kalau ditanya, “Apakah kamu percaya kepada Kristus?” “Sungguh percaya kepada Kristus. Tapi oh tunggu dulu, hari ini saya lihat dulu, ibadah di mana? Ibadah lokasinya aman tidak? Kalau lokasinya aman, saya datang ibadah. Kalau lokasinya – wah katanya ini akan kerusuhan, wah saya nggak akan datang ibadah.” Lalu berpikir dan ngomong dalam hati, “Oh yang penting, di mana 2-3 orang berkumpul, di situ Tuhan hadir.” Lalu kumpul dengan keluarganya sendiri, ajak istrinya, anaknya, “Ayo kita berdoa bersama. Ini sudah ibadah.” Jadi, memilih ibadah itu hanya kalau aman saja, baru ibadah. Dan itu kalau kita pikir ya, itu jauh sekali dengan kehidupan jemaat mula-mula. Jemaat mula-mula dimana justru begitu banyak penderitaan kesulitan, tetapi mereka tetap beribadah dan berkumpul di dalam rumah Tuhan, di dalam sejauh yang mereka bisa berkumpul bersama. Tapi inilah kita, bagi saya ini, kategori sebagai Kristen kanak-kanak.

Kembali lagi ya, kalau memang usianya masih anak-anak, lalu dia memang Kristen yang masih kanak-kanak, belum mengerti penderitaan, ya kita juga nggak usah paksa bikin susah-susah, gitu ya. Kita nggak usah paksa seperti itu, karena memang masih level usianya. Tapi kalau badannya sudah dewasa, umurnya sudah gede, apalagi sudah lama sebenarnya mengenal Kristus, sudah lama ngaku Kristen, tapi tetap mentalnya kanak-kanak. Itu adalah suatu yang sangat-sangat menyedihkan, bahkan sebenarnya menjengkelkan dalam kehidupan kita. Ya kan? Anak-anak kita saja, kalau badannya sudah gede, tetap mentalnya anak-anak, kita akan prihatin lihat anak itu. Ada gangguan dalam kehidupan. Tapi kenyataan yang ada tetap, ada orang yang tetap ngaku, Kristen itu seperti ini. Imannya dan mentalnya itu tetap seperti anak-anak saja. Meski, dia bisa ngaku sebagai orang Kristen, tapi tetap adalah Kristen yang kekanak-kanakkan. Ingat ya, kita bedakan, di dalam pembahasan dari Yesus Kristus sendiri mengatakan bahwa kamu kalau tidak seperti anak-anak, kamu tidak bisa masuk pada Surga. Tapi itu bukan bilang untuk kita menjadi kekanak-kanakkan, tapi seperti kanak-kanak Allah. Itu adalah mengertinya dalam Bahasa Inggris bilang “child-like” bukan “childish”. “Child-like” itu seperti anak-anak, ya dia pokoknya, kalau Bahasa Jawanya itu istilahnya “nginthil” aja, dia ikut Tuhan, dia ikut kepada Bapanya, kemana Bapaknya antar, kemana Bapaknya tadi, dia ngikut. Anak-anak kita kan gitu. Pokoknya dia, seperti kadang orang tuanya itu cuma pakai telunjuknya saja, terus anaknya pegang begini, sudah. Di bawa ke mana, dia ngikut saja. Dia ngikut di belakangnya, dia ngikut di mana bapaknya, orang tuanya tuh pimpin dia bawa ke sana. Dia ikut. Itu “child-like”, itu seperti anak kecil yang mengikuti kepada bapaknya. Tapi bukan kekanak-kanakkan. Kekanak-kanakan itu malah misalnya dalam kadang-kadang kejadian di mall, cuma nangis, itu nangis, wahh.. ronta-ronta.. ronta, terus sambil tunjuk itu, mau mainan mobil-mobilan. Kalau nggak dibeliin, nggak pulang. Nah itu kekanak-kanakan. Tapi berapa banyak juga orang Kristen itu mentalnya seperti itu? Heran ya, waktu dia kecil, nangis… minta mobil. Kalau tidak dibeliin, tidak mau pulang. Nanti setelah gede, dia bawa juga ke gereja. Nangis, “Berkat Tuhan, kasih saya kesembuhan, kalau Tuhan tidak sembuhkan, saya tidak mau pulang.” Ini sama mental anak-anak. Minta apa yang dia mau, kalau Tuhan tidak kasih, kalau dia diam-diam claim Tuhan nggak kasih, dia akan terus minta. Jadi dia memaksa, bukan bersandar pada Tuhan. Tapi memaksa Tuhan ikuti yang dia mau. Berapa banyak kita pikir sejatinya, kalau kita percaya pada Tuhan, kita ngikut siapa itu harus jelas. Nah masalahnya, kita ikut Tuhan, bukan Tuhan ikut kita. Kita ikut Tuhan, yaitu kita mengikut apa yang Dia mau, dan kemauan Tuhan itu yang memimpin kemauan kita dan kita belajar sinkron mengikut Dia. Semakin kita sinkron mengikuti kehendak Dia, kemauan Dia, kedaulatan Dia, makin kita tahu, kita itu setia mengikut Dia. Bukan patokan kerohanian itu semakin Tuhan bisa ikuti yang saya mau, semakin saya dapat yang saya mau, maka saya makin rohani. Bukan. Itu kebalik sama sekali. Itu bahkan mentalnya masih kekanak-kekanakan. Orang yang justru dewasa, justru boleh belajar, bahwa kadang ada halnya kita tidak mendapatkan yang kita mau, tapi kita tahu, itu yang terbaik dalam kehidupan kita.

Waktu kita kecil, dulu, saya juga ingat waktu saya masih kecil, kadang sudah sakit batuk-batuk, terus tapi masih minta, “Ma, minta permen. Minta es krim.” Kira-kira kalau kita jadi orang tua yang baik itu kasih gimana? “Oh ini kasih es krim”, gitu ya? Ya nggak. Sampai anaknya nangis pun, nggak kasih. Dan bukannya dikasih es krim, bukan dikasih permen, dikasih obat yang pahit. Terus kita bilang, “Wah orang tua kejam ya?” Tapi Bapak, Ibu, Saudara kalau orangtua kita dulu tidak lakukan itu, kita ini tidak di sini. Sudah sakit batuk-batuk, kalau orang tua melihat, kita pikir apa? “Oh orangtua kan sayang anaknya, kasih saja es krim,” gitu ya? Kita lihat di sini, orangtua yang baik itu tahu kapan, bahkan memberikan yang pil pahit pun pada anaknya tapi untuk kebaikan anaknya. Bukan ikuti apa anaknya mau, tapi apa yang dia butuhkan. Itu dalam kehidupan kita, kita harus belajar. Kita begitu saja, kita pun bahkan yang orangtua tahu bagaimana harusnya ajar kepada anak kita. Terlebih Bapa kepada kita, Dia tahu apa yang kita butuhkan, dan Dia berikan memang yang tepat untuk sesuai yang kita butuhkan, meski belum tentu yang kita ingini.  Itu harusnya kita belajar itu, bagaimana menjadi orang Kristen yang sejati dan bertumbuh dewasa itu seperti itu. Tapi ya kembali, tipe kedua ini kenyataannya ada orang yang percaya, yang tetap kekanak-kanakan, dan tidak mau menderita bagi Kristus.

Lalu yang ketiga, yaitu ada orang yang tidak percaya tapi “dia itu rela menderita bagi Kristus.”. Wah ini tipe yang sebaliknya ya, ini bagian agak aneh ya? Tapi kenyataannya ada seperti ini. Ini bukan cuma permainan 4 kuadran seperti itu, tapi memang kenyataannya ada. Orang yang tidak percaya sungguh pada Kristus, tapi dia rela menderita bagi Kristus. Ini adalah orang Kristen apa? Yaitu bagi saya, ini adalah jenis Kristen yang aktivitas saja, Kristen agamawi saja, atau Kristen Farisi. Dia kalau dikasih pelayanan, “Oh saya akan kerjakan, mati-matian.” Tapi sedalam dirinya, dia sendiri belum sungguh-sungguh mengalami kelahiran baru, belum sungguh-sungguh mengalami apa arti Injil itu sendiri. Tapi kalau dikasih pelayanan, giat. Dikasih kerjaan, wah giat. Kenapa? Itu seperti aktivitas. Mungkin dia, karena di dalam salah satu aspek, itu ada secara psikologis, satu bentuk aktualisasi diri. Makanya dia giat kerjakan itu. Ataupun kadang-kadang itu, kenapa orang lihat bisa kerjakan pelayanan itu giat? Ya karena ada teman-teman. Ada teman-teman ajak, dan dia rasa semangat, semangat kerjakan. Dan di bagian ini, tipe ketiga ini juga sebenarnya bukan orang Kristen sejati. Tapi kenyataannya itu pun ada di sekitar kita. Ya berharap bukan ada di dalam sini, tapi kenyataannya ada di sekitar kita. Saya sendiri waktu saya remaja dulu, saya dulu remaja yang sebenarnya, hmm gimana ya ngomongnya ya. Dulu saya itu ketika remaja, saya tuh sebenarnya cuma senang datang ibadah terus sudah. Saya sangat menikmati, datang duduk ibadah, dan melihat semua ibadah berjalan dengan baik. Saya seperti itu ya dulu, waktu masih remaja, dan saya pikir, “Oh ya begitu indahnya.” Itu waktu itu di gereja asal saya, di Makasar. Lalu pokoknya saya hari ini datang ibadah dan saya menikmati semua pujian dan khotbah dan semuanya dengan baik. Tapi waktu itu kemudian ada teman saya yang ajak, “Ayo, kamu kan Remaja, ayo ikut dalam pelayanan dalam remaja. Ayo ikut di dalam ada pelayanan yang ada.” Terus saya pikir, “Aduh ngapain sih? Repot.” Gitu ya, repot. Tapi teman ini ajak-ajak, akhirnya saya ikut, dengan terpaksa ikut. Ikut.. ikut.. bertahap-bertahap, ikut.. ikut.. ternyata di dalam langkah-langkah yang kecil itu, Tuhan semacam memproses saya setahap demi setahap sampai ya saya sampai sekarang ini sih. Tapi kemudian setelah berapa tahun berjalan, ada hal yang mengherankan dalam kehidupan saya, yaitu teman saya itu, yang dulu ajak saya untuk ikut pelayanan, sekarang udah nggak Kristen lagi. Sekarang sudah nggak ke gereja lagi. At all. Tidak ke gereja lagi sama sekali. Lho dulu yang ajak saya pelayanan. Lho dulu kamu ajak saya pelayanan, sekarnag kamu juga, jangankan pelayanan, ke gereja juga nggak! Jadi dulu kenapa? Dan mungkin itu adalah realita yang beberapa kita juga temukan di dalam kehidupan kita.

Orang-orang yang dulunya aktif, getol pelayanan, tapi kok sekarang nggak ke gereja sama sekali? Ke gereja saja nggak lho ya. Kita bukan bilang dia mundur dari pelayanan dan segala sesuatunya. Ini bahkan sampai nggak ke gereja sama sekali, dan pindah agama dan semuanya. Kenapa? Tapi dulu mereka begitu menggiat. Karena itulah hanya Kristen aktivitas saja. Bisa “rela menderita bagi Kristus”, susah-susah kerjakan pelayanan. Itu masih remaja, jadi sambil juga atur waktunya untuk studi, tetap atur waktunya untuk pelayanan, kerjakan semua. Jadi yang dia layani siapa, manusia? Yang dia layani siapa, oh karena diminta oleh hamba Tuhan, oh karena dari pengurus, oh karena dari kakak pembimbing, dari kakak rohani suruh, “ayo kamu bergiat pelayanan,” jadi dia didorong secara manusiawi saja, belum mengalami secara esensinya, secara rohaninya, siapa yang saya layani? Dalam kehidupan kita, yang ini adalah bagian yang paling dalam kehidupan, itu hanya kita sendiri pribadi yang tahu dan Tuhan yang tahu kita ini sungguh sudah percaya pada Kristus atau belum. Berapa banyak dalam kehidupan kita itu sadar bahwa tidak ada orang yang otomatis percaya pada Kristus, kecuali Roh Kudus saja melahirbarukan, kita sebenarnya tidak sungguh-sunguh percaya pada dia kok. Dan kadang-kadang karena dalam satu konteks tertentu, apalagi kalo kita dibesarkan atau berada dalam lingkungan yang Kristen, entah dari keluarga Kristen atau sekolah Kristen, karena saya asalnya dulu SMP itu di sekolah Kristen, maka nuansa lingkungannya, pergaulannya, peer itu, lingkungan sekitar itu bisa mendorong untuk ke arah kekristenan, tapi nyatanya dari faktor luar tidak bisa membuat orang lahir baru. Bapak, Ibu, Saudara-saudara, yang bisa membuat orang lahir baru itu adalah Roh Kudus sendiri yang mencelikan mata rohani dia sehingga dia bisa sungguh percaya dan melihat siapa yang saya layani. Dan ketika kerjakan semuanya, begitu sulitnyapun, kita itu susah bagi siapa, itu menjadi pergumulan dan jawaban pribadi lepas pribadi masing-masing di hadapan Tuhan. kalau cuma melayani karena ada teman, suatu saat temannya nggak ada ya sudah nggak melayani lagi. Kalau melayani cuma karena ada hamba Tuhan yang memberitahu harus pelayanan, harus bergiat pelayanan, harus terlibat dalam pelayanan, maka ketika suatu saat hamba Tuhannya nggak ada atau dia pindah kota, ya nggak melayani lagi; atau kalau suatu saat bahkan clash, bentur dengan orang yang dalam pelayanan, bahkan kalaupun ada gesekan dengan hamba Tuhan, stop melayani, bahkan bisa stop ke gereja sama sekali, karena apa? Ya selama ini matanya tertuju pada manusia kok, bukan melihat kepada Tuhan sendiri, kalau sudah bentur ya stop pelayanan. Jadi kalau begitu selama ini kamu melayani siapa? Orang ya?

Berapa banyak kita sadar kita sedang berdiri di hadapan Tuhan dan ketika kerjakan pelayanan bukan menyenangkan manusia dan menyenangkan Tuhan saja. Kita itu kerjakan sesuatu kadang-kadang ada suatu pelayanan itu bisa biasa saja, remeh saja, dan kadang-kadang dalam berapa aspek pelayanan ada yang bahkan bagian-bagian itu kalau salah baru di-notice, kalau nggak salah itu kayaknya orang juga nggak perhatian, misalnya bagian audio-video atau bagian pianis, pemusik seperti itu; itu biasanya heran ya, kalau semua berjalan baik, itu nggak ada yang perhatian, tapi kalau ada salah saja satu nada, “Yah kok salah mainnya,” sempet bilang suaranya itu suara dengung, oh langsung orang bilang, “Kenapa ini settingan nya nggak baik,” tapi itulah kadang pelayanan  seperti itu. Tapi biarlah kita lihat yang kita layani bukan manusia, yang kita layani itu Tuhan. Dan biarlah kita melihat bahwa yang kita kerjakan ini adalah untuk kemuliaan Tuhan, biarlah mata Tuhan sajalah yang kita tahunya akan menilai apa yang kita kerjakan bukan menurut pandangan mata manusia.

Kemudian ada tipe ke 4 akhirnya orang yang percaya dan juga menderita bagi Kristus, inilah orang Kristen sejati, sebagaimana Agustinus itu katakan “God has one Son on earth without sin, but never one without suffering.” Agustinus mengatakan Tuhan Allah Bapa mempunyai satu Anak di dunia ini tanpa dosa, tapi tidak satupun anakNya yang tanpa penderitaan. AnakNya yang tanpa dosa itu hanyalah Yesus  Kristus, tapi tidak satupun anak-anakNya, yaitu kita, yang tidak mengalami penderitaan. Kristus saja mengalami penderitaan apalagi kita. Dan biarlah kita sadar realita  penderitaan itu adalah sesuatu yang melekat dalam kehidupan orang percaya dan menjadi pembentukan, menjadi tanda apakah kita memiliki iman yang sejati, yaitu iman yang berani membayar harga apa yang kita imani. Bukan demi untung, tapi kalau sampai buntungpun tetap kita ikut. Itu baru iman sejati. Orang kalau percaya, “O saya mau percaya Kristus,” supaya apa? “Supaya saya kaya.” Ya semua orang juga mau, siapa yang nggak mau kalau saya percaya Kristus habis itu saya jadi makmur, saya sejahtera, yang kantong kering terus jadi tebel, atau jadi hal lainnya, jomblo langsung  bisa dapat pacar dan semuanya. Semuanya juga mau, tapi kalau sampai pernah ikut Tuhan, deposito saya ilang, tetap ikut Tuhan nggak? Kalau demi saya ikut Tuhan, saya akhirnya kesulitan, angka tabungan saya saja merosot, tetap ikut Tuhan nggak? Kalau karena saya ikut Tuhan, saya akhirnya putus dengan pacar saya karena memang beda iman, kita akan tetap ikut Tuhan apa enggak? Itu pertanyaannya, yaitu rela menderita bagi Kristus, karena dari situlah kita tahu bahwa yang percaya kita ini adalah sungguh suatu yang kita alami, suatu yang kita pegang sedalam-dalam hatinya kita, bukan hanya dalam, bukan hanya suatu pengertian saja, tapi masuk kepada persoalan. Sebagaimana Arthur Holmes mengatakan bahwa di dalam bukunya All Truth is God’s Truth, dia mengatakan bahwa di dalam imannya itu ada aspek proposisi, yaitu aspek kebenaran objective itu, tapi juga ada aspek personal yaitu yang kita imani pegang sungguh-sungguh sedalam diri kita, dan yang sedalam hatinya kita tahu ini yang kita pegang menjadi kepercayaan kita dalam kehidupan kita. Dan kalau kita memang sungguh percaya kepada Kristus, biarlah kita ingat Kristus sendiri sudah memperingatkan, “Gurumu sendiri  saja akan dianiaya, bagaimana mungkin murid itu melewati dari gurunya?” Kalau gurunya saja dianiaya bahkan disalibkan sedemikian, bagaimana mungkin kita harap “Oh kita murid akan semuanya lancar pak”? Kita pun akan ikut mengalami penderitaan, pasti akan mengalami penderitaan. Tapi biarlah ketika penderitaan itu tiba kita ngerti ini menjadi tanda sejauh mana memang iman kita itu sejati atau cuma tambalan saja, cuma tempelan saja. Kalau cuma tempelan ketika misalnya kesulitan ya pasti suatu saat akan dilepas. Saya pakai jas ini bukan karena saya seneng seperti ini lho, ini karena ya memang ini cuma ‘asesoris,’ kalau saya kepanasan ya saya lepas tho, lah ngapain saya panas-panas terus pakai jas ini, ya karena ini cuma tambalan di luar. Tapi kalau di dalam yang paling dalam ya nggak sama. Bicara ini iman kita kalau memang sungguh-sungguh di dalam pun kesulitanpun, penderitaan kita tidak akan copot, karena ini suatu yang kita pegang terus. Inilah maksudnya tanda orang Kristen yang sejati , orang Kristen yang bertumbuh secara dewasa imannya, yaitu ketika diuji dalam penderitaan, dia tetap pegang dan memegang teguh hal ini.

Poin kedua adalah bicara, ini adalah menarik, karena bicara penderitaan di sini itu di dalam teks ini, dalam terjemahan Indonesia yang baik, yaitu diterjemahkan seperti ini “Sebab kamu dikaruniakan bukan saja untuk pecaya pada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.” Di ayat 29, jadi dalam kalimat nya itu mengatakan bukan saja percaya pada Kristus tapi juga, nah kalo bicara seperti ini tetapi juga ini kan mengenai sesuatu yang lebih besar, ya kan? Kalau misalnya kita bilang, misal liturgis yang tadi, liturgisi ini bukan saja yaitu orangnya pintar tapi dia juga rohani, karena itu kan kita lihat rohani nya lebih penting, lebih penting dari pada pintarnya. Itu argumen kedua yang akan menaruh lebih besar dari sebelumnya. Tetapi bagian sini menarik, Paulus yang menekankan kita yang diselamatkan oleh iman karena kepercayaan kita, apa poin yang dia taruh lebih besar daripada percaya? Yaitu penderitaan ini, dan bahkan di bagian kedua yaitu ini dikatakan sebagai karunia untuk menderita bagi Kristus, karunia untuk menderita bagi Kristus. Dalam bahasa Yunani istilah ‘charisma’ adalah karunia atau bentuk kata kerjanya karizoma atau mengaruniakan, ini ternyata suatu bentuk anugerah, atau kita bilang second blessing dalam kehidupan kita. Jadi untuk bisa kita percaya pada Kristus itu semata-mata apa? Semata-mata anugerah, karunia dari Tuhan. Kalau kita mau meminta karunia yang lebih lagi, karunia yang lebih besar lagi itu apa? Untuk menderita bagi Kristus. Jadi second blessing, anugerah kedua, berkat kedua itu bukan kaya, bukan makmur, tapi menderita. Ya ini saya pikir menarik berapa banyak dalam kehidupan kita itu, kita lihat padanan, kaitan itu bukan orang percaya bagaimana tandanya dia sejati itu bukan makmur tapi justru dia menderita. Dan ini bukan karena omongan saya tapi karena memang dari Alkitab, teks ini sendiri ngomong, di dalam bagian ini. Tentu ketika kita bicara penderitaan, ada banyak macam penderitaan. Ada juga penderitaan yang terjadi karena dosa dan kesalahan kita, dan di  bagian ini kita harus bertobat atasnya. Ada penderitaan-penderitaan yang kita alami, itu kenapa? Karena memang kita sendiri yang cari ulah, karena kesalahan kita sendiri. Sebenarnya Saudara, dokter itu yang pernah mengatakan bahwa, dari seluruh pasien yang dia temui,dia bilang, seingat saya ya, sekitar 95% atau bahkan lebih itu orang sakit itu karena kesalahannya sendiri kok. Kita suka bilang, “O karena orang lain, karena orang lain,” nggak, salahmu sendiri, makanmu seperti apa? Pola hidupmu seperti apa? Dan akhirnya sakit, ya karena salah sendiri. Dan apalagi juga bicara penderitaaan mungkin juga kita bisa convert di dalam bagian ini prosentasi ya mungkin 95 persen lebih penderitaaan kita juga banyak karena ulah kita sendiri, kesalahan kita sendiri, kelalain kita. Dan dibagian itu sebenarnya ada bagian kita harus bertobat atasnya. Kita belajar mengkoreksi diri supaya kita tidak masuk ke dalam penderitaan yaitu penderitaan yang tidak perlu.

Kembali, Kristus itu mengatakan siapa yang mau mengikut Dia, sangkal diri, pikul salib, dan ikut Aku, tetapi bukan berarti setiap salib harus kita pikul. Kita dipanggil untuk memikul salib tapi bukan berarti setiap salib harus kita pikul, ada salib yang nggak perlu kita pikul. Dan ada bagian yang kita tahu kalau ini masuk dalam kesulitan kita tidak usah sengaja memasukkan diri dalam penderitaan itu. Sama kan orang  kalo misalnya sudah memilih pasangan itu beda iman, “Oh gapapa Pak, ini salib yang saya pikul untuk saya injili dia seumur hidup,” itu cari gara-gara namanya. Dari awal nggak usah, atau kalo mau dari awal doakan, injili dulu, biar percaya baru nanti masuk dalam pernikahan, jangan sudah nikah baru, “Oh saya akan injili dia seumur hidup,” itu akan masuk kepada dalam salib yang harusnya tidak kita  pikul, masuk ke dalam penderitaan yang sebenernya Tuhan tidak ingin kita jalani seperti itu, tapi karena kebodohan kita sendiri masuklah ke situ. Dan kita tahu tidak, selalu akhirnya yang seperti itu akan happy ending? Betul ada kalanya yang akhirnya setelah berapa tahun dia percaya, tapi ada juga yang tidak. Kembali kalau kita ingat orang percaya itu bukan karena aktivitas, tapi karena anugerah dari Tuhan, maka kita lihat itu semata-mata anugerah, semata-mata anugerah, kita tidak bisa paksakan. Kita juga bukan bisa kadang-kadang, “Tuhan tolong lah,” supaya apa ? “Supaya pasangan saya ini bisa jadi orang Kristen,” siapa kita? Memang ada bagian kita bisa doakan, tapi jangan paksa Tuhan, dan itu kalau orang memilih penderitaan seperti itu, ya bodoh sendiri, masuk ke dalam penderitaan, kesulitan yang menurut mau dia sendiri. Dan biarlah kita mengerti bukan penderitaan itu yang dimaksud di sini, tapi penderitaan yang kita bilang di sini bicara karunia untuk menderita bagi Kristus adalah ketika kita sudah sungguh percaya pada Kristus, dan kita menjalankan kehidupan kita yang kudus mengikut Tuhan, bertekun sebaik mungkin dalam kehidupan kita, dalam setiap keputusan-keputusan kita, kita timbang secara matang, kita ambil dengan hati-hati setiap langkah-langkah yang ada, yang terbaik yang kita bisa lakukan toh tetap muncul juga penderitaan.

Hal kedua yang bisa saya katakan, kenyataannya penderitaan juga bisa terjadi sebagai sesuatu memang tak bisa terhidarkan karena kita hidup di dunia yang berdosa. Kembali ya ada penderitaan terjadi itu, karena salah sendiri dan karena itu kita harus bertobat, tapi ada juga penderitaan terjadi meski memang kita sudah melakukan hal yang baik, toh tetap muncul penderitaan. Dan ini memang tidak terhindarkan karena memang kita hidup di dunia yang orang berdosa. Ya kan kita kalau datang dalam misalnya perjalanan kita tadi dari tempat kita ke sini, kita kadang bisa gitu ya membawa kendaraan  sudah dengan hati-hati, eh kok tabrakan juga, padahal bukan salah kita tapi ya orang lain kalo bawanya nggak hati-hati, kita bisa kena tabrak. Dan kadang-kadang hal itu memang bisa terjadi, karena apa? Karena realitanya kita hidup di tengah dunia yang sudah jatuh dalam dosa dan karena itulah realita penderitaan itu sebenarnya sesuatu yang tak terhindarkan. Kadang-kadang kita sudah menjaga kehidupan sedemikian eh ternyata ada suatu hal-hal yang terjadi di luar kendali, kontrol kita, dan kita lihat itu memang izin Tuhan juga, Dia izinkan kita mengalami kesulitan itu. Tapi biarlah kita mengerti jadi itu ada bagian sebenarnya suatu ujian kalau Tuhan izinkan dalam kehidupan kita untuk membentuk kehidupan kita.

Karena di dalam bagian ini, tapi lebih lanjut lagi, yang berikutnya adalah, tapi jika penderitaan itu ada yang kita alami karena Kristus, itu berarti kita belajar menerima ini sebagai karunia. Ada penderitaan yang ada kalanya memang kita masuk ke sana, kita masuk karena pilihan kita, tapi kita tahu karena memang kita tidak mau mengkompromikan iman kita. Sederhana, kadang-kadang di dalam suatu pekerjaan, saya pernah dengar salah satu jemaat kita, bukan di sini, di tempat lain itu, dia pernah katakan di dalam pekerjaan yang dia jalani itu suatu saat itu bosnya itu panggil dia ke kantor. “Oh iya, ada apa Pak? Ada apa?” Terus jemaat kita ini, orang Kristen ya tentu, lalu dia bilang, bosnya itu bilang seperti ini, “Oh kamu selama ini saya lihat kerjanya baik. Saya itu mau itu rencana promosikan kamu naik jabatan ya. Iya, saya lihat pekerjaan selama ini kamu sudah kerja baik. Kamu senang ya, betah kerja sini?” “Oh iya baik Pak, betah. Senang kok bekerja sini.” “Oh iya, saya ingin rencana naikkan jabatan kamu. Tapi ini, saya ada suatu hal ke kamu,” kertas. Terus jemaat kita itu lihat kertas ini apa? Dia lihat, dia baca dalam hati dia pikir, oh ini kalimat syahadat. Terus bosnya suruh, iya kamu baca itu aja. Baca itu aja. Wih cuma di situ. Terus jemaat kita itu dengan kegentaran dia bersandar pada Tuhan, dia bilang, “Oh nggak Pak. Nggak, Pak.” Bosnya bilang, “Oh kamu sombong ya, nggak mau baca ini aja, nggak apa-apa kok.” Jemaat kita itu bilang, “Oh nggak Pak. Nggak usah.” Terus sampai bosnya itu mulai dari halus nadanya, keras, “Kalau kamu nggak mau, saya nggak jadi naikkan jabatanmu.” Dia bilang, “Oh iya nggak apa-apa Pak, saya tetap kerja di sini dengan baik-baik.” Sudah, akhirnya dia keluar dari ruangan seperti itu. Itu realita dalam pekerjaan dan kadang kita bisa bentur, ketemu dengan aneka macam. Kadang-kadang di tempat pekerjaan tertentu yang akan tuntut kita, “Oh kamu itu harus, ini ladangnya basah. Kamu kalo tidak korupsi, nggak bisa jalan. Kamu kalo nggak nepotisme, kamu kalo nggak sogok, nggak bisa jalan.” Nah di bagian itu ketika muncul dan tantangan itu muncul dalam kehidupan kita, kita ingat, saya ini sedang mau ikut Kristus atau nggak, saya mau mengkompromikan iman saya atau tidak. Dan berapa banyak dalam kehidupan kita, sering kali godaan-godaan itu bisa muncul dengan mendadak dalam kehidupan. Tapi biarlah ketika kita memilih untuk tetap setia mengikut Kristus meski tidak dapat naik jabatan, meski kita tidak mendapat fasilitas-fasilitas yang lebih, mungkin pekerjaan kita jadi lebih macet karena kita itu mau murni. Tapi biarlah kita lihat, itulah artinya kita menderita bagi Kristus. Itu artinya kita menderita bagi Kristus, karena kita memang mau jalankan, menyenangkan Dia, bukan menyenangkan manusia. Itu yang harusnya kita sadar dalam kehidupan kita, karena dalam relasi kita, semuanya yang kita lakukan itu kita bertanggung jawab di hadapan Tuhan, bukan di hadapan sesama saja. Lalu jangan kamu bilang, “Oh nggak apa-apa Pak,” misalnya ya kalau kita disodorkan seperti itu, “Oh nggak apa-apa Pak, saya baca aja, nanti saya minta ampun. Oh Tuhan kan maha pengasih.” Jangan lupa ada ayat Alkitab, “Kamu kalau menyangkal Aku di hadapan sesamamu, maka Aku juga akan menyangkal kamu.” Biarlah kita dipanggil itu sadar, ketika ujian itu tiba, tantangan tiba, kita tetap setia ikut Dia, meski mengalami kesulitan.

Tapi mengapa orang Kristen itu, anak-anak Tuhan, kita kan anak Tuhan, kenapa kita mengalami penderitaan? Karena kenyataannya Alkitab mencatat demikian. Seperti saya akan bacakan dari 1 Petrus 1:6-7, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu –yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api –sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” Di bagian sini adalah dalam kenyataannya dalam kehidupan kita, ketika menjalani kehidupan ini memang kita akan mengalami kesulitan, pergumulan, ujian dan pencobaan. Dan kita itu seperti masuk dalam api, dibakar. Tapi tujuannya itu apa? Untuk memurnikan kita. Memurnikan kita. Emas itu bisa sampai 24 karat itu sudah melewati pembakaran. Tanpa pembakaran dia nggak bisa murni. Dan pembakaran bukan satu kali, berkali-kali. Berkali-kali. Dalam pembakaran pertama, bakar mulai itu yang kotoran-kotoran tersingkirkan. Lalu nanti pembakaran berikutnya nanti ada zat, elemen-elemen lain tersingkirkan. Dibakar berkali-kali sampai begitu panasnya, baru bisa murni. Jangan pernah mimpi kita bisa murni ikut Tuhan tanpa melalui api pembakaran itu, tanpa melalui api penyucian, tanpa melalui api penderitaan. Tapi biarlah kita ketika melihat kita mengalami penderitaan di dalam kita bertanya mengapa saya alami ini, berarti di mata Tuhan Dia lihat kita, oh berarti kamu sudah siap untuk dibakar. Berarti kamu sudah siap untuk diuji, karena kamu bukan untuk anak-anak terus. Kembali lagi ya, kembali dalam poin saya sebelumnya, ketika bicara 4 macam orang Kristen, yang poin kedua itu kan saya nggak sebut palsu, tapi saya sebut orang Kristen yang kanak-kanak, yaitu orang yang percaya tapi belum mengalami penderitaan atau belum siap mengalami penderitaan. Tapi Tuhan yang akan memproses kita, tiba waktunya penderitaan tiba, maka Tuhan yang uji kita itulah yang tahu, oh ini sudah waktunya orang akan mengalami pendewasaan.

Sama seperti anak-anak kita. Anak-anak kita kalau masuk sekolah itu kan susah, menderita. Ingat nggak sih? Orang masuk sekolah itu menderita ya. Tapi sambil menderita tetap masuk sekolah, tetap masuk sekolah. Dan dia belajar, belajar, belajar begitu banyak, nanti ujian, PR-nya itu bisa sampai stres, bisa sampai, aduh gurunya. Apalagi ketemu gurunya killer setengah mati, tapi setelah itu dia lulus. Harus memang melewati ujian itu. Dia melewati proses pembelajaran dulu baru ada ujian. Ujian baru dia naik kelas. Itu perlu. Itu memang perlu untuk pendewasaan. Saya pernah sendiri suatu ilustrasi yang pernah dikatakan sendiri, salah seorang jemaat kita, kembali lagi jemaat kita di tempat lain, itu dia ngomong, iya Pak, kita ini pasti mengalami ujian. Ya kan? Sama seperti anak sekolah itu pasti mengalami ujian. Terus, dia bilang, kadang-kadang saya ngomong ke orang lain itu seperti ini. Kalau misalnya anakmu ada ya bisa masuk suatu sekolah. Oh sekolah ini bagus, pokoknya kamu nggak ada ujian, nggak ada PR, tapi tetap bisa naik sekolah. Kamu mau nggak masukkan ke sekolah itu? Langsung orang tuanya jawab, nggak maulah. Oh kenapa nggak mau? Bagus lho itu nggak ada ujian, nggak ada PR, tapi pokoknya belajar situ nanti naik kelas sendiri. Jawabannya itu dari temannya itu dia ngomong, ya nanti kan anak saya nggak pintar. Lho iya, memang. Lho untuk sekolah aja kita tahu kok, sekolah yang bagus itu pasti banyak PR-nya, banyak ujiannya, banyak kesulitan. Tapi, habis itu anaknya jadi. Kalau dikasih naik terus ya nggak jadi apa-apa. Ya jadinya main-main doang. Tapi kalo dia ada bisa hadapi pressure kesulitan, tentu yang sesuai ya, sesuai dengan kapasitas anaknya, maka dia bisa jadi orang, dia bisa jadi anak yang pandai, dia bisa jadi anak yang berguna. Kalau cuma main-main dia akan tetap kekanak-kanakan. Dan terlebih kalau kita mengerti ujian itu yang kasih adalah Tuhan, Allah yang berdaulat, Allah yang berdaulat dan kita manusia secara bertanggung jawab jalani apa yang Tuhan berikan, biarlah kita lihat, berarti Tuhan lihat sudah waktunya kita alami ujian itu. Karena pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa yang tidak melampaui kekuatan manusia. Dan Allah tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita, demikian di 1 Korintus 13. Dan biarlah kita lihat, ujian itu pasti sudah sesuai dengan kapasitas kemampuan kita, dan menjadi titik untuk kita bisa bertumbuh.

Sebenarnya juga di bagian lain dalam Perjanjian Lama, Ulangan 8:16, dikatakan bahwa, “dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya  engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya.” Di bagian sini kita mengerti bahwa ada interpretasi positif atas penderitaan, sebagaimana dikatakan bahwa, ini adalah untuk memberikan semata-mata untuk berbuat baik, yaitu untuk kebaikan kita, apa? Yaitu untuk direndahkan hati kita. Direndahkannya diri kita. Sebagaimana Tim Challies itu pernah mengatakan di dalam suatu artikel yang cukup panjang, berapa banyak tentang penderitaan atau dia bahasnya tentang temptation, godaan. Dia mengatakan ada suatu poin dari artikel itu mengatakan, temptation sends the soul to prayer. Yaitu godaan mengirim jiwa itu kepada doa. Jadi ketika kita mengalami godaan, mengalami ujian, tantangan, penderitaan itu akan membuat kita semakin dekat, berdekat pada Tuhan, akan menghampiri takhta anugerah. Karena kenyataan dalam kehidupan kita itu, kita kalau belum merasa tidak mampu, kita tidak akan berlutut kok. Kalau saya rasa bisa, ya kan, kalau saya rasa bisa kerjakan, saya tidak akan berdoa. Tapi kalau kita sudah mengalami pernah sedemikian kita rasa saya tidak mampu kerjakan ini, maka kita mau tidak mau pasti akan berlutut dan akhirnya takluk kepada Tuhan dan mengaku, “Saya tidak mampu Tuhan jalani ini, kalau bukan Engkau beranugerah pada saya. Oh Tuhan, tolong saya jalani ini, karena saya tidak sanggup kerjakan kalau bukan pertolongan Tuhan.” Dan berapa banyak dalam kehidupan kita, ketika Tuhan izinkan kesulitan bahkan pressure dalam kehidupan kita itu sedemikian untuk merendahkan diri kita ini. Bukan untuk rendah diri, tapi untuk kita rendah hati, mengaku bahwa kita tidak bisa kerjakan semua kalau bukan bergantung pada Tuhan saja. Orang kadang dengan sombongnya rasa semua bisa, berada dalam kontrolnya, sampai satu per satu apa yang dia kerjakan itu lepas dari kendalinya, baru dia sadar, I’m just a man. Saya hanya manusia. Dan biarlah Tuhan itu yang Tuhan, dan saya hanya manusia. Ada banyak hal di luar kendali kita. Tapi kita belajar menaklukkan diri kita kepada Allah yang berdaulat, yang mengatur semuanya. Bukan kita yang mengatur segala sesuatu, Allah yang berdaulat. Allah yang mengatur semuanya. Nah itu menarik ya di dalam pergumulan, kesulitan itu, pressure itu justru menumbuhkan kerohanian kita, karena mengajar kita lebih lagi bersandar pada Tuhan, lebih lagi takut pada Tuhan. Oh kalau semuanya indah, semuanya beres, bukankah begitu indahnya kerohanian seperti itu? Iya. Memang ada kalanya juga kita tidak mengalami kesulitan yang terlalu besar dan ya kita nggak usah cari-cari susah sendiri seperti orang asketisme mau menyiksa diri. Tapi ketika Tuhan izinkan suatu penderitaan, biarlah kita lihat, ya ini Dia sedang mau mengajak kita kembali bergantung kepada Dia, kembali berserah pada Dia. Dan itu kadang dalam kehidupan itu bisa ada momen-momennya sendiri dalam kehidupan kita. Saya nggak tahu Bapak Ibu Saudara sekalian hari ini anda datang beribadah ini dengan suatu pergumulan kah, atau dengan ringan saja. Oh memang sudah harusnya ibadah, saya datang ibadah. Tapi kalau kita ada dalam suatu pergumulan, bahkan mungkin rasanya berat untuk datang ibadah, biarlah kita ingat, ini berarti kita dibentuk Tuhan semakin merendahkan diri, merendahkan hati kita, bersandar kepada Dia. Takluk kepada Dia. Dan terkadang di dalam hal itu, di situlah baru kita lihat ada anugerah Tuhan, belas kasihan Tuhan, yang lebih besar dari kita bisa bayangkan sebelumnya. Lebih besar yang dari kita bisa pikirkan sebelumnya. Dan kita bisa menyelami maksud anugerah Tuhan lebih dari pada sekedar ucapan kata-kata saja.

Dan ketika kita alami penderitaan yang bagi Kristus, biarlah kita belajar itu rela menderita juga bagi Kristus, kenapa? Karena ini bagian dari Kitab Suci. Kita diajak untuk rela, taat di bagian sini juga. Kembali ya, di bagian ini, ini adalah bagian dari Kitab Suci sehingga kita juga bisa belajar, iya, saya sudah menderita nggak bagi Kristus? Ayat Alkitab itu kita jangan cuma baca bagian moralnya bagian 10 hukum, oh iya saya harus taati ini. Betul itu ada bagiannya dan itu pembahasan di waktu lain. Tapi ada juga bagian sini, kita menjadi ketika kita baca ayat 29 ini, pertanyaannya adalah, sudahkah saya juga menderita bagi Kristus? Sudahkah saya juga menderita bagi Kristus? Atau jangan-jangan saya sudah terseret dengan spirit dan arus zaman, dan masuk ke dalam kenyamanan yang ada, dan melupakan bagaimana harusnya hidup sangkal diri, memikul salib, mengikut Tuhan. Kita belajar rela menderita bagi Kristus, karena itu adalah perintah Dia. Dan yang kemudian juga, kalau kita melihat, kalau Tuhan izinkan kita melalui suatu penderitaan, itu berarti secara kapasitas kita itu memang mampu. Secara kapasitas itu mampu. Sederhana ya, kalau misalnya kita punya suatu karyawan yang pandai yang punya kapasitas besar, kita mau kasih kerjaan yang seperti apa? Oh yang ringan-ringan aja? Nggak. Yang paling pinter, yang paling jago pasti dikasi pekerjaan paling berat. Kenapa ya? Karena memang dia jago memang dia pinter. Ini bukan berarti bahwa jadi kuli ya, bukan ndak tentu. Tapi mungkin kasih tanggung jawab yang besar karena memang dia pinter memang dia mampu. Sama ya dalam kehidupan kita Tuhan juga di hadapan Tuhan, ketika kita sudah bertumbuh dalam pengertian iman yang benar, ketika kita sudah ikuti begitu banyak progsif, seminar SPIK yang ada, pembelajaran firman yang ada. Toh ya kita ini sudah banyak, siap atau tidak siap Tuhan akan berikan kemampuan beban penderitaan itu karena semata-mata Tuhan tahu kita sanggup memikulnya. Orang yang pinter pasti dikasih pekerjaan yang lebih berat.

Ya meski ini saya belum alami secara pengalaman tapi yang saya ingat, sharing dari salah satu hamba Tuhan, yaitu dia didik anaknya berbeda. Dia dalam salah satu sharing-nya, saya masih ingat terus detailnya sampai dalam beberapa tahun baru saya juga ngerti lebih jelas. Dia tu anehnya gini, dia didik anak pertamanya itu pokoknya main violin, main violin, main violin. Dan kalau anaknya ini pas mainnya ngasal, disabet. Wah dipukul dia.  Ya tentu bukan disabet mukanya ya, dirotan gitu. Dimarahi ditegur adalah caranya dia hukum anaknya. Tapi dihukum. Tapi kalau anaknya kedua, kalau mainnya violin ngasal dibiarin aja. Nah hamba Tuhan ini dia sharing dia bilang karena saya tahu anak pertama ini memang punya bakat, punya talenta main violin. Kalau yang kedua memang nggak. Harus bisa belajar dengan benar, harus bisa main dengan benar. Jadi kalau dia mainnya ngasal ya disabet. Jadi dia mainnya harus bener. Biarlah dia adiknya mainnya ngasal. Terus terang ini salah satu hal yang positif, biar belajar. Apalagi violin ya, katanya itu salah satu alat musik, yang belajarnya susah kenapa? Karena kalau main nggak bener itu kita dengernya menderita. Kok mainnya gitu ya. Kalau piano masih yaa salah nada gitu ya. Tapi kalau violin itu aduh  yang dengerin juga setengah mati. Ya mainnya fales, kayak ngaco gitu. Tapi kalo bisa mainnya  baru bagus. Dan menarik ya di dalam.. kamu ini kejam sekali sama anakmu ya.. seperti itu. Sampai jalan tahun-tahun berganti, waktu berjalan anaknya terus dididik sedemikian, sampai anaknya yang pertama sesudah dewasa memang anak ini jadi mainnya bagus sekali. Dan beberapa kali terlibat dalam ngiring itu bagus sekali. Nah satu kali itu menarik ya, ada posting dari anaknya, yaitu dia posting di sosial media. Pokoknya dia sharing itu dia ngomong, “Terimakasih Papa selama ini mendidik saya begitu keras. Dari saya kecil kalau saya main nggak bener itu dihukum dan sekarang akhirnya saya jadi. Sekarang akhirnya saya bisa main dengan benar.” Kenapa? Karena memang punya talenta di situ. Harus dididik keras. Orang kalau memang punya kapasitas di situ dia pasti akan dituntut besar. Orang kalau nggak mampu ya sudah nggak usah. Orang-orang bahkan O anaknya bapak yang kedua juga pinter. Tapi dia tahu yang paling bisa yang pertama itu dia treat beda. Dan di situ kita lihat Tuhan pun treat kita seperti itu. Aneh ya memang. Kita mampu di titik itu. Kita harus tekun kerjakan habis-habisan kenapa memang kamu dikasih talenta di situ supaya kamu garap. Supay akamu kembangkan. Bahkan di bagian di Kitab Suci itu dikembangkan sampai sekian kali lipat. Bukan hanya  untuk dijaga, dikubur seperti itu saja tapi kita bertanggung jawab untuk mengkali lipatkan dan meskipun kita mengalami penderitaann karna itu biarlah kita belajar rela. Karena itu berarti pembentukkan sedang terjadi. Pembentukkan sedang terjadi. Dan karena memang setelah beberapa tahun kemudian kita baru bisa lihat buahnya. Apa yang Tuhan bentuk dalam kehidupan kita. Dan beberapa tahun kemudian kita baru bisa mensyukuri dan ternyata Tuhan tidak biarkan kita jadi anak gampangan. Tetapi anak-anak yang dididik, dibina untuk menjadi dewasa secara iman.

Dan kembali ketika bicara tentang penderitaan saya teringat apa yang dikatakan Luther. Luther bicara mengenai three marks of theologian yaitu 3 tanda seorang theolog, atau tiga tanda seorang yang mengerti banyak doktrin. Doktrin. Ya saya rasa kita semua di sini ya seperti seorang theolog lah. Belajar banyak kok seperti itu. Banyak kelas-kelas yangcada tapi ada tiga kata yang dikatakan oleh Luther. Saya rasa ini bisa menjadi salah satu yang bisa kita tarik dalam kehidupan sehari-hari. Pertama dia bilang, sebagai oratio, meditatio, tentatio. Yang pertama itu oratio. Yaitu prayer. Melalui doa, orang belajar bertumbuh mengerti firman. Yaitu ketika kita mau belajar firman, sama seperti tiap kita awal kita berdoa itu bukan cuman sekedar basabasi. Bukan sekedar mantra atau ritual. Tapi dengan sungguh kita sadar kita tidak sanggup percaya,  kita tidak sanggup pahami kalau bukan Roh Kudus yang membukakan itu bagi kita. Dan di dalam beberapa aspek itu sebenarnya kita cuman bisa ngerti data tertulis saja, tapi kita  pegang itu dalam kehidupan kita. Nah ini dia bilang untuk mengerti firman, pertama itu melalui doa. Kita bisa belajar bagaimana berdoa dengan benar itu melalui dan makin belajar bergantung dengan Tuhan. Yang kedua itu adalah meditatio. Yaitu kita merenungkan, menghayati firman Tuhan itu. Bukan hanya dibaca tapi terus direnungkan direfleksikan dalam kehidupan kita. Ketika kita baca alkitab, ketika kita membaca satu renungan, kita renungkan dalam hati. Dalam kehidupan kita itu seperti apa. Dan di situ kita baru belajar mengerti lebih mendalam lagi. Kemudian yang ketiga itu yang dikatakan Luther adalah Tentatio. Yaitu terjemahan Bahasa Indonesianya susah ya ini. Bicara tention atau efliction atau suatu pergumulan, penggocokan yang di dalam suatu kesulitan yang kita alami dalam pergumulan yang kita alami dalam kehidupan kita. Dan dia bilang dalam itu kita semakin bisa mengerti Kitab Suci. Lha kok bisa dalam itu makin bisa mengerti Kitab Suci? Ya itu jelas kalau kita lihat dalam konteks Alkitab itu penulisnya menulis dalam kondisi apa. Sebagian besar kalau kita baca, memang tidak semuanya, itu mereka di dalam pergumulan. Berada di dalam kehidupan yang padang gurun. Mereka bukan di dalam suatu kelas lalu “O saya cobalah ketik atau catat ya gitu,” nggak, mereka justru dalam pergumulan yang sulit. Dan dalam pergumulan yang sulit itu mereka bisa angkat ayat yang nuansa yang dirasakan oleh penulis di bagian Kitab Suci. Kita buka dalam kitab Yesaya misalnya, Yesaya itu bukan tulis diary, tapi dia berada di dalam pergumulan yang bangsa Israel itu meninggalkan Tuhan. Dan masa seperti itu bukan prospek pekerjaan yang baik batgi hamba Tuhan. And yet dia tetap tuliskan bagian Kitab Suci itu.

Kita lihat para nabi kehidupan mereka melalui begitu banyak penganiayaan. Kehidupan nabi itu justru mengalami mati syahid. Mati sebagai martir ya. Heran ya. Para nabi itu dalam Perjanjian Lama itu sebagian besar nggak semuanya itu satu persatu matinya mati martir, ada yang sampai di gergaji. Di dalam ketika orang dalam tradisi tu dikatakan Yesaya itu lari pengejaran dalam Manasye lalu dia sembunyi dalam pohon lalu dia digergaji dalam pohon itu. Itu Yesaya. Permisi tanya yang gergaji siapa? Bangsa Asyur? Bukan. Babel? Bukan. Yang gergaji itu adalah orang  Israel sendiri. Orang Yahudi yang gergaji orang Yahudi sendiri. Itu kita ngerti keadaanya seperti itu. Dan kita bisa bayangkan itu sakitnya seperti apa dianiaya oleh bangsanya sendiri. Sama orang percaya, tapi dalam kategori-kategori yang lain ini bukan orang percaya yang sejati. Dan sama ketika kita bicara dalam konteksnya Paulus. Paulus  sendiri bukan sedang jalan-jalan. Noleh sana-sini lalu tulis surat buat temannya yang di Filipi? Bukan. Tapi dia sedang berada dalam penjara. Dan dia sendiri dalam kehidupannya sedang mengalami penderitaan dan dia menyaksikan begitu banyak orang Kristen satu persatu itu dianiaya. Dan di tengah pergumulan itu dia tuliskan ayat ini. Di tengah kesulitan itu dia tulis surat ini. Paulus dipenjara. Dia dianiaya. Dia sendiri itu nggak tahu nasibnya. Keluar dari penjara apa nggak ya. Jaman itu dia dipenjara tidak seperti zaman sekarang “O berapa tahun penjaranya. Masih bisa daftar remisi keringanan, keluar cepat beberapa bulan dari awal,” nggak sepeti itu. Dia nggak tahu dia keluar atau nggak, dan bahkan langsung dipenggal pun dia sebenarnya nggak mengerti. Tidak ada remisi seperti zaman sekarang. Dan dia diperlakukan itu justru banyak hal itu ada banyak bagian kemungkinan besar penjara Filipi itu bahkan makan pun nggak cukup. Untuk kebutuhan sehari-hari juga nggak cukup. Dia dibuang seperti itu menderita sedemikian. Tapi bagian yang derita kita hadapi itu justru semakin membuat kita semakin mengerti Kitab Suci itu, semakin mengerti apa yang Kitab Suci katakan.

Saya pikir ya ketika kita membaca bagian ini oratio, meditatio dan tentatio di dalam doa dan juga untuk doa dan di dalam refleksi dari bapak-bapak gereja itu sesuatu yang tanda petik bisa ditransfer ke dalam kehidupan kita. Ya nanti kalau kita baca tulisan-tulisan bapak-bapak gereja. Ooo ikuti polanya. Doanya isinya. Seperti apa doanya. Oo saya bisa ikuti. Luther doanya seperti ini. Calvin doanya seperti ini. Tapi tentatio nggak bisa ditransfer. Di dalam salah satu tulisan yang ditemukan ketika bicara Calvin dia ketika melayani di Jenewa, dia pernah alami ketika dia di malam hari tiba-tiba dia sudah tertidur dan tiba-tiba di tengah malam dia mengetuk pintunya lalu dia membuka itu seorang bersimbah darah. Dan Calvin sudah tau apa yang terjadi. Yakni perempuan ini adalah istri vikaris. Istri hamba Tuhan yang baru saja ditahbiskan diluluskan dan kemudian suaminya itu diasasinasi. Diasasinasi oleh Roma Katolik pada zaman itu. Kita bisa bayangkan ya, baru ditahbiskan, baru lulus wisuda. Di zaman itu jadi vikarisnya orang Reformed, siap-siap di asasinasi. Siap-siap dibunuh. Bukan pakai jas keren tapi siap dibunuh. Kapanpun nggak tau lagi. Kita mungkin bisa baca O kita gimana susahnya jadi pendeta yang satu persatu dibunuh. Ketika mau tahbiskan mau berkati mereka kamu sudah lulus  berapa lama hidup ekspetasinya orang ini. Berapa usia yang kira-kira masih Tuhan beri, beda-beda, ada yang langsung mati, begitu dialami oleh para reformator. Itu dalam kedaulatan Allah. Ya di dalam kedaulatan Allah itu juga termasuk mengijinkan satu persatu hamba Tuhan itu yang Reformed yang terbaik lulusan theologinya itu justru diasasinasi dibunuh satu per satu. Kembali ya, kita bisa membaca apa tulisan Calvin. Kita bisa membaca apa pola-pola doanya, kita baca biografinya itu sebenarnya sulit menjalani kehidupan sedemikian. Bahkan konon katanya, Luther  di akhir hidupnya itu dia jadi begitu pesimis karena  tidak berhasil. Dia niat kita hari ini seperti apa. Tapi itulah berada bukan dalam keadaan nyaman tapi berada dalam kesulitan dan begitu sadar begitu panujang. Dan bagian tentatio ini saya pikir itu yang membedakan dengan kita. Kita memang tidak tentu persis mengalami penderitaam seperti mereka tapi tidak tentu challenge nya sama. Saya yakin tantangannya itu sama, yaitu tantangan iman kita. Kita hidup kompromi, atau kita itu hidup tetap teguh dalam iman meski mengalami penderitaan. Itu menjadi tanda apakah kita sungguh percaya apa yang kita katakan kita percaya itu, kalau nggak cuma ngomong doang, “Oh saya percaya kedaulatan Allah,” mau diasasinasi, “Oh tidak saya masih Roma Katolik.” Percaya kedaulatan Allah, percaya tetap akan jadi hamba Tuhan meski akan dibunuh, silakan, saya akan tetap tekun melakukan pelayanan saya, tetap saya akan kerjakan apa yang saya harus kerjakan, tetap saya setia ikut Tuhan sesuai dengan Kitab Suci, karena saya tahu Dialah yang saya layani, bukan Calvin, bukan Luther, tapi Kristus saja yang dilayani.

Sebagaimana dalam Mazmur 115:71 mencatat, “bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu.” Oh Mazmur kita suka baca “Tuhan itu Gembalaku, takkan kekurangan aku,” bagian belakangnya belum, “sekalipun aku masuk di lembah kekelaman,” pokoknya depannya aja “Tuhan adalah Gembalaku, pokoknya nggak kurang.” Nggak kurang apa? Dia baringkan pada rumput hikau, ke air yang tenang. Dan di dalam Mazmur yang lain di bagian yang saya baca bahwa aku tertindaspun itu baik bagiku. Anda mau cek di dalam terjemahan bahasa Inggris? Sama. Kenapa? Supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu, supaya aku belajar firmanMu. Ternyata belajar firman itu bukan cuma bicara apa yang dibahas di dalam kelas-kelas teologi yang ada, bukan saja ketika kita membaca buku-buku teologi, bukan saja di dalam refleksi dan doa kita, tetapi dalam penderitaan, penganiayaan, di situ kita sedang belajar mengerti firman Tuhan, belajar mengerti apa yang Tuhan katakan. Karena Mazmur sendiri mencatat begitu banyak pergumulan dan kesulitan, dan mereka menemukan pertolongan dari Tuhan itu untuk lewati pergumulan kesulitan itu. Seperti di bagian ini sebagaimana John Piper juga katakan bahwa di bagian ini bukan untuk mengajarka kita itu menderita supaya menjadi orang Kristen yang sedih-sedih, pokoknya  sedih, pokoknya iya saya hadapi susah, iya saya sedih. Bukan, karena yang dimaksudkan oleh Luther di sini adalah bukan hanya untuk tahu dan mengerti firman Tuhan but also to experience how right, how true, how sweet, how lovely, how mighty, how comforting that Word is, wisdom beyond all. Yaitu di tengah penderitaan itu adalah untuk kita bukan saja tahu, mengerti firman Tuhan, tapi untuk mengalami betapa benarnya, betapa sejatinya, betapa manisnya, betapa kasihnya, betapa hebatnya, dan betapa menghiburnya firman Tuhan yang adalah bijaksana yang melampaui segalanya. Sampai kita titik terendah itu baru kita tahu memang manusia itu hidup bukan dari roti saja melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Itu bukan hanya bagian yang kita hapal di dalam pencobaan Tuhan Yesus, bukan saja bagian ketika kita di dalam doa, tapi kita ngerti memang kita itu hidup bukan cuma dari roti saja tapi dari setiap firman yang menghidupkan kita, yang akan menopang kita, dan betapa kebenaran firman itu justru membawa kita itu tahu apa yang kita harusnya pegang dalam kehidupan ini.

Dan kita melihat semua penderitaan itu ternyata semata-mata membawa kita, memimpin kita untuk semakin mengerti kedalaman firman Tuhan yang lebih dalam lagi; karena kita tidak mungkin bisa mentaati firman yang tidak sungguh juga kita pahami sedalam-dalamnya. Sampai kita nangkap sedalam-dalamnya sampai kalau pendeta Reformed itu bilang kadang kita dengar khotbah itu bisa dengar poin yang sama tapi itu nggak apa sampai itu benar-benar nempel dalam benakmu, “Oh iya memang beginilah kehidupan jadi orang Kristen,” dan dari situ kita mengerti apa menjadi pengikut Kristus yang sejati, menjadi orang Kristen yang sejati. Di tengah penderitaan itu kita semakin mengerti kenapa saya menderita, untuk apa saya menderita, dan kepada siapa saya rela menjalani penderitaan ini. Biarlah di dalam kesemuanya itu kita mengerti Kitab Suci sudah memperingatkan kita dan Kitab Suci yang mendorong kita, menguatkan kita untuk melewati kesulitan dan tantangan itu. Begitu limpah sebenarnya bagian ini kalau kita mau garap dan gali apa maknanya dalam konteks kehidupannya yang dijalani Paulus. Di bagian ini saya akan mendalami juga poin ketiga yaitu bicara ketika dikatakan Paulus ini menarik, dikatakan juga menderita untuk Dia, menderita bagi Kristus. Ini adalah bagian kalau kita pikir ya, ini adalah bagian yang sangat kental di dalam Kitab Suci, bahwa mereka menderita itu adalah bagi Kristus.

Sehingga poin kita yang ketiga itu bicara identitas Kristus itu sendiri adalah Tuhan. Karena kalau kita tanya mengapa mereka itu rela menderita bagi Kristus? Tidak ada orang yang rela menderita bagi suatu kebohongan atau dongeng, nggak ada. Poin ketiga itu tidak ada orang rela menderita demi kebohongan. Kalau dibilang ini suatu kebohongan, suatu tipuan, orang tidak akan rela menderita demi itu, orang pasti rela menderita demi kebenaran. Misalnya ada orang ngomong ke kita begini, “Oh bumi itu flat, rata.” Terus kita mengerti yang benar itu bulat. Kita pasti akan bela mati-matian, kenapa? Karena kita pegang bumi itu bulat sebagai kebenaran. Berapa banyak kita pegang iman kita itu sebagai kebenaran yang sungguh sehingga meski kita dianiaya, meski kita mengalami kesulitan kita tahu ini tidak bisa ditawar karena ini adalah kebenaran. Dan di situ mereka mengalami penderitaan bagi Kristus karena dia sadar bahwa Kristus adalah Sang Kebenaran itu sendiri. Dan Kristus Sang kebenaran ini tidak terlepas dari apa? karena tidak ada orang rela menderita itu hanya bagi seorang nabi. Kita cek saja di dalam sejarah, tidak ada orang itu sebenarnya rela menderita kalau cuma nabi thok, selalu dimana-mana itu orang rela menderita bagi Tuhan kan. Coba, “Ayo jemaat, rela menderita bagi saya.” Mana mau, kamu siapa? Bahkan mungkin pendeta Dawis pun kita tidak akan rela. Atau kalaupun kita rela menderita cuma sementara dan tidak akan sifatnya itu secara berani. Tapi kenapa ya berkali-kali di dalam Kitab Suci itu ditekankan “bagi Kristus,” “di dalam Kristus,” karena memang Dia bukan cuma nabi, karena Dia itu adalah Tuhan itu sendiri, dan karena kebenaran yang mereka saksika adalah Kristus itu sungguh mati dan bangkit, dan menyatakan bahwa semua klaim-Nya itu adalah kebenaran.

Sebagaimana C.S. Lewis itu mengatakan bahwa Kristus itu hanya ada beberapa kemungkinan, Kristus itu entah Dia itu pembohong, ataukah Dia itu orang yang sedang berdelusi, orang halusinasi, ataukah Dia itu mungkin orang gila, kalau tidak berarti tidak ada kemungkinan lain, yaitu semua yang Dia katakan itu benar bahwa Dia adalah Tuhan. Kristus katakan, “Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup,” coba saya bilang ke Veri, “Veri, akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup.” Veri akan bilang, “Rupamu, baru saja saya lihat nggak benar tadi kok, nanti juga mati kok, bagaimana bisa katakan akulah jalan, kebenaran dan hidup?” “I am the way, the truth, and the life,” itu siapa? “Tidak ada seorangpun dapat datang kepada Bapa jika tidak melalui Aku,” nabi nggak bisa ngomong itu, pemimpin agamapun tidak bisa klaim seperti itu, yang bisa katakan ini tidak lain Dia adalah Tuhan sendiri. Yesus mengatakan, “Dimana dua atau tiga orang berkumpul, Aku hadir di situ.” Di sini ada kumpul, di Solo ada kummpul., di cabang lain ada kumpul, di Semarang, dimana-mana ada kumpul; tadi itu, “Kok bisa?” Itulah Dia mahahadir, itu Dia adalah Tuhan. “Aku akan menyertai engkau senantiasa sampai kepada kesudahan zaman,” siapa bisa ngomong itu kalau bukan Dia adalah Tuhan sendiri? Yang kenal, para rasul itu sadar betul bahwa Kristus ini adalah Tuhan sehingga worth it untuk rela menderita bagi Dia, karena Dia Tuhan; kalau cuma nabi, cuma manusia, tidak worth it sama sekali. Dimana-mana itu kita menderita itu karena bagi Tuhan, hanya bagi Tuhan, tidak ada orang rela menderita bagi nabi, bahkan di dalam kisah Israel, dalam Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru kita temukan para nabi, para rasul itu dianiaya oleh bangsanya sendiri; untuk mereka sajapun tidak ada yang rela menderita bagi mereka. Tapi apalagi kalau bicara Kristus itu sendiri, Kristus itulah Sang kebenaran, dan karena disaksikan nyata oleh para rasul bahwa memang Dia bangkit, memang Dia adalah hidup itu. Kristus sendiri mengatakan, “Akulah kebangkitan dan hidup,” dan benar Dia bangkit. Maka mereka bilang, “Ini memang adalah kebenaran dan memang Dia Tuhan, mari kita taat ikut Dia seumur hidup.” Bukan iman buta tetapi iman Kristen itu dilandaskan pada kebenaran, fakta realita, fakta sejarah.

Kitab Suci ini bukan dilandaskan pada suatu mitos seperti Sangkuriang, tetapi memang pada fakta sejarah. Kebangkitan Kristus itu bukan kebangkitan rohani, “Oh rohaniNya yang naik ke Sorga,” tapi memang kebangkitan jasmani dan mereka lihat, dan Paulus sendiri menyaksikan sehingga memang ini benar. Dan kita, orang percaya sekarang, itu adalah orang yang percaya karena iman adalah seperti dikatakan di dalam akhir Kitab Yohanes mengatakan, “Berbahagialah mereka yang percaya namun tidak melihat,” meski tidak melihat kita tetap percaya. Tapi kita percaya itu bukan karena yang penting percaya, iman buta gitu? Nggak, tapi kita percaya pada kesaksian yang dikatakan, dicatat dalam Alkitab, dan itu benar adanya, dan bahkan mereka rela mati sedemikian karena memang itu kebenaran, dan memang karena yang mereka percaya itu adalah Tuhan. Kembali ya, kenapa banyak juga para rasul itu akhirnya dihukum mati oleh orang Romawi justru karena mereka tahu tidak ada Tuhan yang lain, dan hanya Dia satu-satunya Tuhan. Kalau cuma bilang, “Oh ini adalah nabi,” orang Romawi nggak gubris mau tambah nabi, tambah rabbi, tambah pengajar-pengajar, ya nggak soal lah. Tapi kenapa sampai dianiaya? Karena mereka bilang, “Orang yang kalian salibkan itu Tuhan,” kalau tetap mau percaya ya dibunuh. Kok kamu klaim Dia Tuhan? Bahkan diklaim bahwa Dialah Tuhan yang sejati, dalam banyak hal itu bisa dibaca sebagai sesuatu yang subversif, seperti penentangan kepada kaisar sendiri dan kaisar pasti nggak akan mau. Kita baca kok di dalam ayat Kitab Suci itu tidak ada ayat yang sebenarnya melawan kaisar, tapi kenapa ya? Bahkan Yesus sendiri waktu masih hidup ngomong kan, “Berikan kepada kaisar yang menjadi milik kaisar, berikan kepada Tuhan yang milik Tuhan,” jadi tidak ada kalimat, tidak ada teks yang maksudnya mengganggu secara pemerintahan Romawi. Dalam kitab Roma misalnya juga bahkan dikatakan “tidak percuma pemerintah itu menyandang pedang,” dan justru mendukung orang Kristen untuk bayar pajak. Jadi sebenarnya itu tidak ada pertentangan mau revolusi, mau memberontak pada pemerintahan, tapi kenapa mereka dianiaya? Karena klaim itu bahwa ada Tuhan yang lain, yang bahkan hanya Dialah Tuhan. Tapi sayangnya bagian ini bahkan sampai sudah 2000 tahun berlalu tidak semua orang memahami ini. Kristus itu adalah Tuhan dan Juruselamat, tidak semua orang memahaminya.

Ada satu artikel yang saya baca, ditulis, dilaporkan oleh Ligonier Ministries lalu dimuat dalam website Christianity Today dengan judulnya itu “Christians, what do you believe? Probably a Heresy about Jesus.” Yaitu suatu survei yang dilakukan Ligonier Ministries yang meneliti coba survei orang-orang Amerika yang Kristen Injili, coba survei apa yang mereka percayai. Lalu dalam kuisioner-kuisioner ditanya. Dia menemukan suatu hal yang mengejutkan di sini, yaitu ada dikatakan bahwa dari survei, kembali ini semua orang Kristen lho ya, bukan orang Mormon atau Saksi Yehovah, tapi orang-orang Injili dalam gereja-gereja Injili. Terus dari survei itu ditemukan bahwa lebih dari 2/3 yaitu 69% dari orang Amerika Injili ini tidak setuju bahwa dosa yang kecil itu pantas untuk dihukum dalam neraka. Jadi “Oh kalau orang buat dosa besar, penjahat kelas kakap, nah itu memang dihukum di neraka; tapi kita orang-orang baik yah, kita nggak masuk neraka.” Karena memang mereka percaya most people are basically good, 52% itu bilang kebanyakan orang itu baik kok. Ini orang Kristen yang Injili yang di Amerika lho ya. Dari hasil survei ini dan juga mayoritas lebih 59% itu mengatakan bahwa roh kudus itu hanyalah suatu kuasa dan bukan pribadi ini suatu hasil survei yang memang mengejutkan juga dan juga bahkan 51% mengatakan bahwa Tuhan menerima allah menerima semua penyembuhan  dari semua agama. Oh semua agama menyembah oh semua Tuhan sama,Tuhan menerima semua penyembuhan mereka kalau gitu kenapa jadi Kristen  dan bahkan  78% itu mengerti Yesus sebagai yang pertama dan makhluk yang paling utama yang diciptakan oleh Allah Bapa. Jadi Allah tritunggal nya ngawur semua. Doktrin dasar sekali lho ini. Saya benar-benar kaget dan suprise, saya heran. Saya sendiri persiapan ini bacanya buku-bukunya kan teksnya bahasa inggris semua, kita sebut saja John Piper, Tim Keller, Carson. Semuanya para teolog itu kan pakai bahasa Inggris yang kalau kita kadang bacanya sampai pusing, ya udahlah kita tidur dulu, ini semua di tulis dalam bahasa Inggris. Namun tetap begitu banyak orang tidak mengerti Kristen yang sejati, begitu banyak orang yang masih belum mengerti iman yang sejati. Masih pengertian yang keliru. Dan kita tahu kalau mereka tidak mengerti bahwa Yesus itu adalah Tuhan, mereka juga tidak akan selamat. Mereka cuma mengerti bahwa Kristus itu adalah kayak malaikat yang tertinggi, ciptaan yang paling pertama dari Allah Bapa. Padahal tidak ada satupun dari kita disini yang mengerti secara salah seperti ini.

Tapi berapa banyak kenyataannya. Dan ini hasil survei orang Amerika yang diinjili yang notabene yang mempunyai begitu banyak pengajaran yang baik tapi kenyataannya tetap mereka mengerti yang keliru. Ini hal yang makin saya pikir makin menggentarkan saya, berapa banyak dari kita mengerti dan sadar begitu pentingnya doktrin itu diajarkan? Diajarkan berulang-ulang sampai berulang-ulang pahami dan dia pegang betul apa artinya iman sejati. Kalau nggak dia tidak akan mengerti apa itu iman sejati. Dan kalau nggak dia juga nggak akan masuk surga, dia nggak punya iman sejati. Kita cek sendiri baca alkitab. Orang misalnya itu karena sungguh sungguh percaya pada Kristus mengerti siapakah Kristus itu  sendiri. Sebenernya Kristus sendiri berkata pada Petrus, “Menurutmu siapakah Aku ini?” Lalu Petrus mengatakan, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Itu bicara dua aspek, yaitu bicara Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Mengerti dalam proses perjalanan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mengerti secara lengkap mengerti secara utuh basic dan core inti dari iman Kristen. Siapakah yang di dalam Kristus? Dan bahkan dikatakan bahwa setelah pengakuan dari Petrus itulah dikatakan, “Engkau Petrus dan diatas batu karang ini Aku dirikan Gereja-Ku.” Yaitu dalam pengakuan iman yang benar inilah baru ada keselamatan yang sejati tanpa itu bukan gereja yang sejati. Tapi ya sangat menyedihkannya berapa banyak orang itu yang diluar sana masih tidak mengerti pemahaman yang benar, masih mengerti yang keliru. Saya nggak tau ya, persentase di Amerika begini, kalau di kita itu seperti apa? Mungkin lebih parah lagi, bisa lebih parah lagi. Terus kira-kira respon kita seperti apa? “Oh Pak, yang penting saya mengerti yang benar.” Oh nggak. Biarlah kita mempunyai mata yang mengasihani jiwa-jiwa.

Berapa banyak justru kita pikir berapa banyak orang yang belum mengerti iman yang sejati, hanya Kristen KTP atau hanya Kristen aktivitas, orang-orang yang belum memiliki pengertian yang benar. Yang artinya sambil merasa dirinya sama sebenarnya itu masih keliru. Dan kita perlu menginjili mereka juga, membawa mereka kembali pada Kristus. Kembali injil itu kalau kita sungguh mengalami kita bukan hanya untuk kita berapologetika saja, “Oh Kristus itu sungguh Tuhan,” tapi untuk kita nyatakan dan kita beritakan pada orang sekitar kita. Injili mereka dan bawa mereka, menangkan pada Kristus, karena Inilah satu satunya pengharapan. Kalau pengharapan ada di luar lain, kalau semua orang bisa selamat dengan cara nya sendiri, kalau bisa selamat dengan agama lain, ngapain kita penginjilan? Ngapain para rasul itu getol melakukan penginjilan besar-besaran, sampai habis-habisan, sampai rela mati? Karena mereka tahu this is the only way, inilah satu-satunya jalan, dan kebenaran, dan hidup yaitu melalui Kristus. Tidak ada seorang pun datang pada Bapa tanpa melalui Dia. Dan karena itu sampai mereka menderita pun mereka tetap melakukannya, karena ini satu-satunya, bukan ada banyak jalan lain. Kalau ada banyak jalan lain, para rasul tidak perlu melakukannya sampai sedemikian. Dan mereka tahu hanya ini satu satunya jalan. Dan itu pun saya lihat ini menjadi salah satu wujud kasih kepada sesama. Kasih pada sesama. Mengasihi sesama. Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri gitu kan. Dan hukum kasih ada dua, “Kasihilah Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap perkataanmu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan juga kasihilah sesamu seperti dirimu sendiri.” Salah satu saja aplikasinya dalam bagian ini, kalau kita sudah mengerti kita selamatkan ini melalui iman yang sejati, baiklah kita juga lihat mengasihi sesama kita seperti kita diri kita sendiri, yaitu supaya mereka juga mengerti iman yang sejati itu, supaya mereka juga boleh selamat. Jangan kesannya cuma yang penting kita sendiri yang selamat dan kita lupakan yang lain.

Terakhir di ayat 30, ada Paulus mengatakan, “dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.” Singkat saja, disini saya katakan poin terakhir, keempat, yaitu Paulus menjadikan dirinya sebagai contoh teladan. Dan ini bicara pentingnya kehidupan orang Kristen, christian life. Pentingnya kehidupan orang Kristen, jadi bukan cuma bicara imannya, pendetanya, juga di dalam kehidupannya itu menjadi teladan. Dalam bagian ini saya percaya ketika bicara kehidupan orang Kristen yang sejati yaitu kehidupan yang bisa menjadi teladan, ini bagian bukan untuk kesombongan tapi untuk menyatakan keberanian dan komitmennya, dan untuk hidup berintegritas. Jangan kalau saya bilang, “Teladani saya, ikuti saya,” itu artinya saya siap dinilai, saya siap dinilai sesuai dengan kebenaran firman. Dan berarti saya juga siap berkomitmen dan menyatakan hidup saya berintegritas sungguh setia ikut Tuhan. Kadang kadang ada orang suka istilah “Oh jangan lihat saya, lihat pengajaran saya; lihat Tuhan saja, jangan lihat saya,” itu kadang-kadang bisa memang terkesan “rendah hati” tapi menurut saya itu itu menyatakan sama saja dia tidak siap berkomitmen sih. Karena kenyataannya dalam kehidupan, orang lihat hidup kita. Sederhana saja kalau kita nyontek bagaimana kita mengajak teman kita datang ke gereja. Ya kamu jangan nyontek. Sederhana saja kalau kita juga melacur bagaimana kita mau ajak teman kita datang ke gereja? Dia pikir “Oh nanti dia datang untuk cari siapa pelacurnya.” Kalau kita sendiri hidupnya berkorupsi, kita hidupnya tidak jujur, kita hidupnya tidak kudus, bagaimana kita bisa membawa orang datang kepada Kristus? Karena orang luar lihat kehidupan kita. Dan itulah berapa banyak kita belajar hidup kita itu harus berintegritas, bisa jadi contoh teladan? Kembali bukan untuk kesombongan tapi untuk menyatakan komitmen tekad kita berani hidup bagi Kristus. Dan sebagai mana bagian lain Kitab Suci katakan, kita seperti sebagai kitab yang terbuka, yang dibuka, dan orang lain membacanya, dan adakah dia, “Sungguh Kristus seperti itu. Yang kamu percayai sungguh kamu sungguh hidupi”?

Saya pikir dengan contoh sederhana saja, sama seperti seorang bapak mengajar anaknya menulis huruf A, lalu anaknya tulis A. Oh keliru melenceng, jadinya U atau jadinya lain hurufnya. Lalu bapaknya, “Nak kamu ikuti ini bapak tulis huruf A.” Itu kan bukan sombong, itu menyatakan dia bisa dan dia tulisnya benar. Sama kalau kita memberi contoh teladan kepada orang lain biarlah kita ingat itu adalah bagian tanggung jawab kita dan untuk membawa orang itu mengikuti yang benar seperti apa. Rela menjadi hidupnya dinilai oleh sesama kita. Dan ketika ada jatuh-bangunnya kita, kegagalan dalam kerohanian, biarlah kita tidak patah semangat tapi kita terus maju lagi, terus bangkit lagi. Orang Kristen yang sejati bukan tidak pernah jatuh tapi setelah jatuh dia bangkit. Setelah jatuh dia bangkit lagi, kenapa? Karena Kristus juga setelah mati Dia bangkit. Kita tidak patah semangat, kita memang tidak sempurna tapi kita maju lagi, maju lagi karena Roh Kudus juga tidak pernah tinggalkan kita. Roh Kudus terus menyertai kita, terus memurnikan kita. Dan kita dipanggil memang  juga untuk menjadi teladan bagi sekitar kita, menyatakan seperti apakah Kristen sejati. Di dalam seminar Quo Vadis Sekolah Minggu yang tahun lalu ditayangkan, lalu Pak Tong itu pernah mengatakan satu statement ini bahwa sadar tidak sadar kita itu akan memengaruhi orang lain. Tapi kenyataannya pengaruh seperti apakah yang kita berikan pada sekitar kita? Sama seperti orang tua itu diberikan beban tanggung jawab untuk mendidik anaknya, tapi pertanyaannya didikan seperti apakah yang diberikan kepada anaknya? Bentukan seperti apa yang dia diberikan kepada mereka? Ironisnya kadang-kadang dalam keluarga itu seringkali yang kita didik, itu yang kita ajar berulang-ulang pada anak-anak kita, bukan itu yang mereka pelajari, tapi yang tidak kita didik, yang tidak kita omongkan, itu mereka pelajari. Ya kadang-kadang ketemu ada anak-anak itu kok suka pukul suka pukul adiknya. Terus kita tanya, “Kok kamu itu suka pukul adikmu sih?” Dia bilang, “Iya belajar dari mama.” Dari orangtua, ternyata suka pukul-pukulan di rumah, suka kekerasan dalam rumah tangga, akhirnya anak belajar. kita tidak pernah lho mengajarkan anak kita, “Pukul saudaramu, marahi dia,” tapi heran ya anak anak kita itu kan belajar dari hal-hal kecil. Makanya itu sesuatu dikatakan seperti CCTV melihat kehidupan kita, 24 jam kehidupan kita seperti apa. Dan sadar tidak sadar, anak-anak itu belajar meniru dari orangtuanya sedemikian, bahkan yang negatif. Sehingga saya pikir ya, kitapun bilang mau pakai sembunyi dengan kerendahan hati yang palsu ngomong, “O nggak usah ikuti saya, ikuti Tuhan saja,” ternyata toh orang akan melihat kehidupan kita seperti apa. Kita ngomong atau nggak ngomongpun orang akan lihat, “Oh kayak gini toh Kristen, oh kayak gini toh ikut Tuhan, oh sperti ini ya menjadi orang beriman?” Biarlah kita mengingat bahwa sebagaimana di dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa Yesus adalah terang dunia, tapi juga Sang terang dunia yang sudah datang ke dalam dunia. Dalam Matius, Yesus sendiri mengatakan, “Kamu adalah terang dunia.” Dan kita dipanggil untuk menerangi dunia yang gelap ini, kita dipanggil untuk bersinar, kita dipanggil untuk menunjukkan seperti apakah kehidupan Sang Terang itu. Biarlah kita sadar ini tanggung jawab kita sebagai orang Kristen yang sudah ditebus melalui pengorbanan Yesus Kristus itu sendiri, Sang Terang yang sudah datang ke dalam dunia ini,  Sang Terang yang akhirnya ditolak dunia ini, Sang Terang yang akhirnya mati disalibkan tapi kemudian bangkit juga pada hari yang ketiga menyatakan kemenanganNya atas maut, menyatakan kemenanganNya atas kuasa kegelapan. Dan biarlah kebangkitan, kemenangan Kristus itu juga menjadi kemenangan kita, kita hidupi sebagai orang Kristen sejati yang percaya kepadaNya, yang mengerti Tuhan kita siapa, dan  yang kita rela menderita bagi Dia karena Dialah Tuhan kita. Dan kita dipakai menjadi saksi Dia menunjukkan teladan dalam kehidupan kita bagaimana orang Kristen yang memancarkan terang kemuliaan Tuhan sampai kita bertemu Tuhan kita muka bertemu muka. Soli deo Gloria. Mari kita satu dalam doa.

Bapa kami di dalam surga, kami berdoa bersyukur untuk firman Tuhan yang boleh diberitakan pada pagi hari ini. Kami berdoa bersyukur untuk kebenaranMu yang mengingatkan siapa diri kami. Kami berdoa bersyukur untuk firmanMu yang kembali menegur kami, mengarahkan kami, dan kembali mengingatkan kami bagaimana kami seharusnya mengikut Engkau yang sudah lebih dulu rela menderita, mati untuk menyelamatkan kami melalui pengorbanan Yesus Kristus. Kami berdoa bersyukur ya Bapa karena Sang AnakMu itu sudah menjadi teladan yang sempurna bagi kami, dan yang sudah menjadi Tuan kami, dan yang sudah menyelamatkan kami. Biarlah kami juga boleh belajar menyenangkan Engkau dengan meneladani kehidupan Sang AnakMu itu, karena kamipun adalah anak-anakMu yang diangkat dan diadopsi menjadi anakMu melalui pengorbanan Sang Anak Tunggal Bapa itu. Terima kasih Bapa semua ini, biarlah kami boleh menghidupi apa artinya menjadi orang Kristen yang sejati dalam kehidupan kami sehari-hari, dalam relasi kami, dalam pekerjaan kami, dan setiap keputusan dalam kehidupan kami biarlah kami boleh hidup menyatakan komitmen iman kami itu. Terima kasih Bapa untuk semua ini, kiranya Allah Roh Kudus saja yang menopang kami, yang menguatkan kami, yang memampukan kami menjalani firmanMu. Demi PutraMu yang Tunggal, Yesus Kristus Tuhan, kami berdoa. Amin

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *