Iman, Pengharapan, dan Kasih, 9 Mei 2021

1 Tesalonika 1:1-3

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Di beberapa tahun yang lalu saya pernah pergi ke kebun binatang ya, lalu dari masuk di kebun binatang itu ada beberapa section-section dari yang di kerangkeng, oh binatang jenis apa, nanti ada bagian yang section yang burung-burung, dan seterusnya. Lalu, saya ingat di fasenya itu lalu masuk ada suatu section yang itu dia bukan di kerangkeng binatangnya, tapi di bikin mereka bebas di pohon-pohonan. Dan di area situ, oh ini bagian atraksi melihat monyet-monyet, jadi melihat mereka dalam kehidupan alam bebas, jadi nggak dikerangkeng, mereka nggak di rantai, oh ya, di pohon-pohon saja gitu. Tapi kalau menariknya saya ingat ketika mau masuk sana itu, dan mungkin kalau kita ada pengalaman pernah seperti itu, itu akan ditulis, “Dilarang bawa HP, kamera, kacamata,” dan lain-lain. Wah, gimana, saya kan orang berkacamata ya, itu gimana, lepas kacamata ya burem, nggak lihat monyetnya terus ngapain. Tapi terus bilang, “Iya simpen aja Pak, atau kantongin. Nanti kalau diambil itu monyetnya itu bahaya, karena monyetnya liar, dia berkeliaran,” seperti itu.

Ya singkat cerita akhirnya juga lihat atraksi itu, tapi kemudian saya tanya kepada penjaga kebun binatangnya ya, “Itu kalau misalnya sampai diambil monyetnya itu gimana ya?” Bilang, “Oh ya, kita ada pengalaman Pak, bisa sih ambil, bisa sih balik lagi, tapi repot panjang cari-carinya,” gitu. “Gimana caranya?” Dia bilang, “Pancing Pak, pakai kacang.” Jadi kalau kacamata diambil monyet, terus gimana cara dapat balik kacamatanya? Pancing pakai kacang. Kasih kacang, ini nanti dia lepas kacamatanya kita kasih kacangnya. Nah ini kita bisa melihat gini ya, karena memang monyet itu lebih memilih makanan daripada benda berharga. Lebih memilih kacang, daripada kacamata, lebih memilih pisang daripada emas. Memang itu kita tidak terlalu heran karena memang mereka tidak memiliki konsep nilai, konsep apa yang berharga, apa yang tidak berharga. Ini biasanya di dalam keilmuan kita mengerti dengan istilah aksiologi. Aksiologi itu studi tentang nilai, apa yang berharga, apa yang tidak berharga. Tapi dalam kehidupan kita, kita mengerti kita manusia itu akan selalu mengerti dan bergumul dengan apa yang bernilai itu.

Kita ya, ambil contoh ketika Bapak, Ibu memutuskan dari pagi ya, ketika bangun bersiap-siap, untuk datang ibadah, minimal anda mengerti bahwa untuk ibadah secara fisik itu sebagai suatu yang bernilai, bukan? Sebagai sesuatu yang berharga, entah seberapa kita mikirnya, entah sebarapa kita susun kata-katanya. Tapi dalam benak kita, kita mengerti itu sesuatu yang berharga maka worth it kita jalankan. Meski dengan kita tahu segala macam resiko dan tantangannya yang ada dalam situasi sekarang. Tapi itulah, karena kita tergerak oleh suatu nilai, ya. Tentu ada lagi cabang yang lain itu epistemologi yaitu bicara kebenaran, apa yang benar. Itu ada masing-masing lagi bagiannya ya. Tapi saya hari ini khusus membahas tentang konsep nilai, apa yang berharga, apa yang tidak berharga itu, ya. Dan ini akan sangat mempengaruhi kehidupan kita. Kita kalau mengerti sesuatu itu berharga, kita akan kejar. Sama seperti seorang pemuda itu lihat, “Wih itu cewek cantik, baik,” wah dia kejar. Ya kenapa? Dia lihat jadi pacar, punya pacar seperti sang wanita itu, itu begitu berharga, dan seterusnya.

Dan di dalam bagian ini saya ingat ilustrasi yang pernah disampaikan seorang hamba Tuhan di berapa tahun lalu ya, dia bilang ada pernah kisah sekumpulan pencuri masuk ke toko berlian. Jadi pencuri itu ya, ya tahu lah kalau pencuri itu kan lagi malam-malam atau waktu tempatnya lagi kosong lalu mereka tahu gimana waktu jaganya itu yang mereka bisa jebol, mereka masuk ke toko berlian itu, lalu mereka masuk ke sana. Wah sudah masuk kumpulan itu, berhasil ya, bagaimana lolos dari sekuritasnya, bagian kameranya dan segala sesuatunya.

Singkat cerita mereka masuk, sudah masuk sampai dalam, lalu pemimpin pencuri itu kasih aba-aba, kode, kepada anak buahnya ya, dia bilang ini, yang anak buah pertama, “Kamu cari berlian yang paling mahal di toko ini, cari, ambil itu,” ya kira-kira size-nya ada size berapa, dia sudah jelaskan. “OK baik bos,” dia cari. Lalu anak buah ke dua dia bilang gini, “Kamu cari berlian yang paling murah di toko ini tapi ukurannya juga yang sama.” “Oh ya, baik bos.” Ya, sudah, singkat cerita mereka nyari, nyari, nyari, kembali datang, “Ini Pak bos, ini yang paling berharga, ini yang paling mahal, berlian yang paling mahal.” Lalu yang anak buah ke dua juga kasih, “Ini berlian yang paling murah.” Dia liat ukurannya sama, terus dia bilang, “Tukar posisinya lalu, dikembalikan ke tempat masing-masing.” “Loh, dikembalikan? Bukannya kita mau curi ini?” “Nggak, balikin, taruh ke tempatnya masing-masing, exactly di mana kamu ambil ya, taruh di situ.” “Hah? OK, OK ya, taruh ya.” Anak buah pertama taruh ya, berlian murah di posisi yang mahal, lalu anak buah yang ke dua itu balikin yang berlian yang mahal di slot, tempat, taruhnya yang murah. “Nah sudah itu apa lagi yang kita lakukan bos?” “Kita pulang.” “Loh kok pulang? Katanya kita mau nyolong?” “Udah, pulang,” “Hah kok kayak gini ya?” “Udah, kamu taat saja saya ya, saya kan bosmu. Udah, kita pulang.” Waduh udah masuknya repot, cuma tukar posisi berlian, ngapain? “Udah, udah, pulang.”

Kalau Bapak, Ibu bisa tebak kira-kira apa yang terjadi ya? Esok paginya si bapak bos itu, dari buka toko itu dia sudah di depan pintu. “Selamat pagi Pak,” kata penjaganya, kan nggak tahu ini orang pencuri gitu kan. “Pagi, saya ingin beli berlian di sini, tapi ini buat ulang tahun istri saya. Tapi ya uang saya nggak banyak, saya mau beli yang murah aja.” Lalu dia jalan, jalan, nah dia sudah tahu ini, “Yang ini ni, saya mau beli ini.” “Oh yang ini ya Pak?” “Iya, nggak apa-apa lah, untuk hadiah istri, murah aja ya, harganya berapa ini?” “Oh ya, harganya 500 ribu Pak.” “Oh ya, 500 ribu, beli lah.” Padahal aslinya itu yang mahal. Aslinya yang sebenarnya nilainya itu milyaran ya, seperti itu.

Kita lihat ya, kenapa dia lakukan itu, ya itu ada ide dia sendiri ya, tapi kita lihat itu kalau nilainya ketukar, barang yang sebenarnya berharga, ternyata jadinya orang salah menilai, ya dia rugi di situ. Ya itu satu penipuan yang dia mau lakukan, kayak dia mau bilang, “Saya valid lho, saya sah punya berlian ini, saya beli, harganya gini, ada notanya.” Tapi kita lihat ya, itu sesuatu yang berharga ya, itu menjadi, ya kita bisa bilang satu kecolongan besar dari toko itu adalah dia menjual berlian yang begitu mahal dengan harga murah. Maupun juga kalau sebaliknya, kalau ada orang yang beli sebaliknya, pikir itu berlian mahal dia beli tapi aslinya itu palsu ya, itu, itu ada berlian palsu.

Di sini kita lihat ya, apa yang berharga kalau dianggap tidak berharga itu menjadi suatu yang celaka sekali ya, ataupun sebaliknya. Dan ini, apalagi kalau kita anggap itu sesuatu yang berharga tapi ternyata tidak berharga, terus kita bangga-banggakan. Misalnya penjaganya tokonya bilang, “Ini lho, kita berlian yang paling mahal lho, ini lho,” padahal sudah diganti, itu yang palsu, masih kita bangga-banggakan, masih kita bilang ini yang berharga. Nah itu permasalahan aksiologi itu. Permasalahan konsep nilai.

Dan di bagian ini saya harap untuk kita memikirkan gini ya, karena pembicaran tentang konsep nilai ini adalah hal yang tak terhindarkan dan memang perlu dalam keseharian kita, apapun yang kita lakukan itu sebenarnya itu berpengaruh juga dalam kita menilai. Tapi pertanyaannya mungkin adalah standar apa kita menilai sesuatu itu? Posisinya apa? Standarnya valid atau tidak? Benar atau salah? Absolut atau relatif? Ya, itu yang harus kita gumulkan, supaya kita menjalani kehidupan ini sesuai dengan standar, tolok ukur yang benar, yang valid, ya.

Apalagi kalau, mungkin kalau mau pinjam istilahnya dari finance ya, kadang-kadang orang menilai itu sesuatu itu berharga atau nggak berharga itu bukan dari fundamentalnya tapi dari sentimen pasar. Ini kalau bahasa finance. “Oh, pakai sentimen pasarnya lagi rame Pak, wah ini lagi rame di sini, lagi gorengannya ini,” padahal nilai fundamentalnya aduh remeh sekali. Tapi kalau kita lihat ya apa benar-benar berharga itu kembali ke intrinsik value, bukan kepada ekstrinsiknya, bukan kepada label luarnya. Kembali kayak berlian yang tadi, nilai aslinya itu bukan di label harganya itu karena label harganya kalau ketukar, keliru, ya salah. Tapi nilai aslinya adalah pada diri berlian itu sendiri. Nah, itu bagaimana kita mengerti konsep menilai ya.

Dan ini menarik, karena apa, karena ketika saya membahas ini, di dalam bagian ini kita menemukan bagaimana Paulus itu memberikan pujian dalam suratnya, pujian kepada jemaat di Tesalonika. Nah bagian ini menarik ya, Paulus memang sangat umum sering memberikan pujian dalam suratnya, tapi kenyataannya juga tidak selalu dia sertakan pujian itu. Kita temukan seperti surat Galatia atau 2 Korintus itu tidak ada pujian di sana, dan mungkin ada surat-surat lainnya di Lodike, ya kita nggak tahu ya, itu ada seperti itu. Sehingga ketika dituliskan ini, saya percaya, kenapa Paulus bisa mengucap syukur di sini dan memuji, ya karena dia lihat betapa berharganya dan pertumbuhan iman dari jemaat Tesalonika itu sendiri, ya.

Nah ini saya coba masuk di dalam bagian ini ya, kalau kita lihat bagaimana dia mengucap syukur karena orang lain itu, dari Paulus ya, dan sering menjadi suatu pelajaran yang sederhana, tapi kita pernah nggak sih belajar itu memuji orang lain? Sederhana ya. Kita bisa puji apa ya karena kita lihat itu sesuatu berharga, sesuatu yang bernilai. Ada orang itu kadang-kadang sulit memuji atau mengakui kelebihan orang lain. Terutama untuk aspek atau di ranah yang dia ahlinya di situ ya. Kadang-kdarang pemusik juga kayak gitu ya misalnya katanya ya, sama-sama pemusik, “Wah ini orang nggak bagus,” kenapa? “Ya saya juga tahu musik.”

Kadang-kadang saya pernah ketemu teman saya misalnya kaya ngomong, “Oh ini lho teman saya ini, bagus dagangannya, dia jual elektronik itu bagus sekali.” Jadi sebut saya misalnya Budi puji Iwan, gitu, “Ini lho Iwan itu teman saya, dagangannya dia elektroniknya bagus.” Ya bisa cek tanya Budi itu jualan apa? Kalau dia ternyata jualannya barang perabot rumah tangga, maksudnya adalah ya dia sebenarnya nggak paham elektronik jadi dia puji-puji aja. Jadi puji-pujian bisa terjadi kita memuji bukan berdasarkan pengertian kita, bukan berdasarkan kelebihan kita, tapi memang kekurangan kita. Nangkap ya? Saya memang nggak paham elektronik, teman saya ini pakar, dia mengerti aneka macam elektronik, jadi saya akui dia hebat. Tapi sebenarnya saya nggak begitu bisa mengerti sana, jadi saya puji.

Nah sebaliknya, ketika yang sepantaran sama, wah sulit ya. Akhirnya saingan, ya. Ini saingan, kompetisi gitu ya. Berapa banyak dalam kehidupan kita, kadang-kadang seperti itu ya. Dan menjadi pertanyaannya memang kita gampang memuji untuk dari kekurangan kita, tapi bisakah kita memberikan apresiasi atas kelebihan orang lain itu dengan orang-orang yang punya kemampuan sepantaran atau mirip-mirip dengan kemampuan kita.

Kalau dalam kehidupan itu sering kali guru itu sulit sekali mengakui kelebihan muridnya. Ataupun kalau dia bilang, “Ini murid yang pintar. Iya dong, saya gurunya,” ya to. Tapi dia bisa nggak bilang, “Oh ya, murid ini pintar, bahkan kepintarannya melebihi saya,” kalau memang objectively memang dia lebih pintar. Termasuk juga orang tua, kadang-kadang sulit mengakui kelebihan anaknya. Ini kalau kita dalam dunia pekerjaan itu kadang-kadang, sudah diserahkan usaha ini kepada anaknya, tapi orang tuanya masih, “Ck, nggak bisa, gini, gini, gini terus ya, aduh kamu itu sistemnya gini, gini.” Kayaknya sulit mengakui kalau memang, memang meski bisa juga anaknya itu lebih bodoh ya, tapi kalau ada kelebihan anaknya, diakuilah, memang kamu lebih pintar dalam manage ini, misalnya. Dan ini adalah bagian dalam kehidupan yaitu bisakah kita mengakui kelebihan orang yang memang ya apa adanya kita mengakui kelebihan dan apresiasi ya, kelebihan orang lain itu.

Ini juga menarik kalau kita renungkan hal ini di dalam bagian lain ya, di dalam Kitab Suci misalnya seperti dari Kitab Kidung Agung. Kidung Agung itu kan, ya OK itu penafsirannya ada berapa, tapi kita lihat itu bagaimana dalam Surat Kidung Agung itu, itu bukan kitab porno ya, orang bilang, ada pendeta yang ngomong itu kita kalau mindset-nya sudah porno ya kita baca jadi porno, tapi kalau kita mengerti ini adalah bagian dari Kitab Suci, ini berbicara keintiman hubungan suami istri. Dan menarik dalam Kitab Kidung Agung, itu yang ditulis apa? Saling memuji. Nah minimal dari saya, saya nggak bahas Kidung Agung ya, tapi minimal dari sini kita mengerti, ternyata dalam pernikahan itu ada pentingnya itu saling memuji, saling memuji kelebihan pasangan. Itu masih kita jalani nggak? Itu masih kita lihat, kita lakoni nggak, seperti itu ya.

Jadi bukan saja waktu, “Saya naksir ni, ini nih, cewek ini, cantik, saya naksir, pengen,” baru puji dia, “Wah dia cantik, cantik banget.” Ya itu lah waktu nguber-ngubernya gitu, tapi kalau sudah dapat, pacaran, “Ya biasa aja lah,” gitu. Apalagi sudah nikah, “Ah, kamu ngapain sih??” Tidak mengakui lagi dan tidak bisa lagi mengapresiasikan lihat kelebihannya. Ini sayang sekali, sayang sekali, karena memang bagian dari kehidupan kita itu justru memuji. Tentu ini bukan ini kita puji sembarangan ataupun membual, bukan, tapi kita mengakui, dan belajar menikmati kelebihan orang lain itu lho. Tiap-tiap kita itu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing yang berbeda, tapi kalau kita bisa melihat dengan spirit-nya itu bukan kompetisi, tapi komplementasi ya, itu bukan untuk saling mengadu, tapi saling melengkapi, itulah keindahannya dalam kehidupan bergereja.

Dan menarik di dalam bagian ini ya, Paulus itu, kalau mau dibilang ‘kurang’ apa sih? Waduh theolog iya, penginjil iya, dia kerjakan penginjilan, pengajaran, penggembalaan, kerjanya pelayanannya itu luar biasa. Tapi dia bisa tetap memuji pelayanan dan kehidupan dari jemaat Tesalonika. Ini lho simple ya, sederhana, tapi itu ada nggak dalam kehidupan kita? Kembali ya, Paulus ini kurang pakar apa ya, theologinya dalam sekali. Tapi dia tetap bisa meng-appreciate dan mengakui untuk kelebihan orang lain, dan akhirnya dia bersyukur untuk hal itu. Ini saya buat step step-nya gini ya, untuk kita mengerti. Melihat dulu itu berharga, mengakui dan menikmati kelebihan orang itu, kalau nggak bisa situ ya kita memang sulit bersyukur atas kelebihan orang lain itu. Lah kita rasa kurang melulu, “Ah tidak ada nilainya, cuma begitu. Apa to cuma bisa nyanyi nadanya gitu-gitu doang, ah fals, salah.” Nggak, kita bisa lihat nggak ada bagian ya kalau memang kita lihat kelebihannya ya kita akui dan kita menikmati itu.

Karena dalam kehidupan bergereja, itu ya memang melibatkan banyak orang. Kita bersentuhan dengan banyak orang, dan apalagi seperti kaya pelayanan yang dihadapi Paulus ini, karena konteks Tesalonika itu karena satu lain hal dia harus meninggalkan Tesalonika lebih awal dari rencana semula, tapi ada orang-orang di sana yang tetap take care, melayani jemaat di Tesalonika, bagaimana jemaat juga tetap mau belajar, bertumbuh di dalam kebenaran firman meski di tengah tantangan yang ada, di mana absennya, kalau mau dibilang ya, “absennya” dari rasul, mereka tetap mau bersekutu, belajar mencintai Tuhan dan seterusnya, itu di apresiasi oleh Paulus. Dan ini kita lihat itu bagian dari Kitab Suci. Kembali ya ini bukan cuma sekedar surat commendation, surat kasih referensi atau apa, CV, bukan, ini semua bagian dari Kitab Suci.

Jadi saya percaya ini bagian juga menjadi pengajaran kita, bisa nggak kita mengakui kelebihan orang lain, menikmati kelebihan orang lain, karena dari situlah dorongan kita untuk kita bisa bersyukur untuk kelebihan orang lain itu. Karena ini masuk di dalam ucapan syukur Paulus. Paulus itu, kasarnya ya, itu bukan bilang gini, “Saya akui kamu imannya begini, begini, imannya, pengharapannya, kasihmu begini, tapi, belum…” Itu kayak, nangkap ya, kadang-kadang orang itu, apa ya, pasif agresif atau apa, “Bagus sih, tapi, wah aku lebih bagus,” atau apa, tidak mau. “Bagus si, tapi masih kurang, gini, gini, gini.” Kayak nggak bisa terima ya sudah, ini akui kelebihannya sudah. That’s it gitu, nggak usah selalu di counterbalance, kadang-kadang itu nggak perlu. Ya dia bersyukur dan dengan sincere, dengan jujur dia bersyukur hal itu.

Bersyukur akan kelebihan orang lain itu, dan bahkan dia bersyafaat bagi mereka juga. Menarik di dalam bagian ini, karena kita temukan ini ucapan syukurnya, pujiannya, tapi juga dia sambung dengan dia itu mengatakan, saya masuk ke poin ke-2 yaitu Paulus itu terus bertekun berdoa bagi mereka, ya. “Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami.” Ini berarti apa? Dia bukan saja mengakui ya, bisa menikmati itu lho kelebihan orang lain. Saya kadang simple sih, kita kadang-kadang kalau lihat kelebihan orang lain kita bisa menikmati nggak sih? Mensyukuri bukan cuma kritisi, cari celahnya mana, oh itu, kurang di situ, dasinya kurang penot dikit atau apa. Bisa nggak sih kita nikmati, dan bersyukur anugerah Tuhan ada kelebihan dan talenta masing-masing, orang beda-beda, dan kita bisa menikmatinya, semuanya untuk kepentingan jemaat ya, untuk kehidupan pertumbuhan iman kita bersama.

Dan di bagian ini lanjut ada Paulus itu berdoa syafaat bagi mereka. Nah ini menarik ya jadi ini natural, bisa kalau kita bisa mengikuti ya itu akan natural, secara alamiah. Jadi ini bukan, maaf ya kalau mungin saya khotbahkan dengan versi lain, “Ini Paulus berdoa syafaat bagi jemaat, ayo kita harus berdoa, berdoa bagi sesama kita.” Ya bisa sih ada bagian itu ya. Tapi ada nggak sih di bagian ini kita lihat ada konteksnya itu kita mensyukuri itu. Kalau kita bersyukur, lebih mudah kita doakan. Kalau kita bisa melihat sesama kita apalagi sesama saudara seiman sebagai rival, tantangan, lawan, tapi sebagai kawan, rekan sekerja dalam pekerjaan Tuhan, kita bisa belajar lebih mengapresiasi dan juga berdoa bagi mereka. Kembali lagi memang ada bagiannya ketika kita itu sulit bergumul untuk orang lain atau satu lain hal kita semacam paksa diri kita, “Kita mau berdoa karena apa? Ini duty, memang kewajiban kita berdoa untuk pekerjaan Tuhan.” Tapi ada nggak sih kalau kita bisa munculkan, kalau istilahnya Tim Keller itu delight, ada satu kesukaan dalam doa, kenapa? Ya kita menikmati dan mensyukuri akan kelebihan dan pertumbuhan itu.

Dan ini saya pikir dalam satu konteks dulu kita bisa lihat banyak hal baik dalam secara personal ataupun kalau kita bilang misalnya pertumbuhan dari gereja kita di sini di Jogja. Ini levelnya sudah bukan MRII tapi GRII, ya memang nanti akan ada lebih resminya pedewasaannya, tapi kita bisa nggak sih meng-appreciate dan melihat bersyukur akan kelebihan itu? “Wah bersyukur lho.” Mungkin sih tetap ada yang bilang, “Wah lambat Pak, sudah berapa tahun MRII, baru tahun ini GRII, lambat.” Anyway, kita bisa koreksi dan evaluasi bagian itu. Tapi ada pertumbuhan ini kita bersyukur nggak? Dan kalau kita bisa bersyukur akan pertumbuhan ini, itu akan secara alamiah memudahkan kita juga berdoa bagi pertumbuhan gereja ini. Nangkap ya? Di bagian sini. Kenapa? Karena kalau nggak jadinya cuma kayak imperatif saja, “Pokoknya berdoa untuk gereja, berdoa untuk gereja!” Aduh kita kayaknya tidak bisa meng-appreciate pertumbuhan gereja lalu lihat kayaknya suntuk tapi paksa, paksa. Tapi kalau kita bisa lihat, iya ya meski di tengah berbagai situasi sekarang, dengan COVID, tantangan kita juga pribadi lepas pribadi dalam pekerjaan, keluarga kita, dalam lain hal ada kesulitan, tapi toh Tuhan masih topang gereja-Nya, kita masih bisa jalankan ibadah ini, itu kita syukuri nggak? Kalau kita bisa syukuri ya akan lebih mudah untuk kita mendoakan.

Karena di bagian itu kita akan bisa melihat bersyukur atas kelebihan itu, dan di bagian ini juga makanya masuk lebih dalam, yaitu bagaimana doa-doa Paulus itu bukan concern kepada dirinya semata tapi ya bagi pekerjaan Tuhan, bagi orang lain. Kita bisa bersyukur nggak sih melihat ada kelebihan orang lain? Kita bisa bersykur nggak sih atas apa yang Tuhan tumbuhkan dalam kehidupan orang lain, bukan hanya di kitanya. Itu bicara dalam sisi lain itu juga aspek kedewasaan rohani. Kalau orang concern-nya cuma diri, kapan saya bertumbuh, kapan saya hidup lebih suci, itu nggak bisa lihat ya Tuhan ada bekerja di dalam kehidupan orang lain, ya dia juga nggak bisa bersyukur akan hal itu.

Di sini kita melihat bukan hanya berfokus juga kebutuhan kita tapi juga kebutuhan orang lain. Bukan hanya berfokus kepada apa yang Tuhan berikan kepada kita, itu tentu kita syukuri, tapi adakah juga kita bersyukur atas apa yang kita lihat Tuhan berikan pada orang lain dan ya kita nikmati kelebihan itu? Kembali ya kita kalau semuanya itu, apa ya kadang-kadang karena di zaman sekarang dengan banyak tantangan itu highly competitive, kita berjuang susah, “Ih itu lho orang itu yang dapat tender.” Waduh iri, cuma tahu iri saja, cuma lihat kompetisi saingan. Ya dalam pekerjaan kadang-kadang tak terhindarkan, tapi kalau saya bilang dalam kehidupan kita sesama orang Kristen masa sih kita lihatnya cuma kayak kompetisi seperti itu? Bisa nggak kita lihat ya bersykur yang dapat dia ya orang Kristen juga, sama-sama anak Tuhan, berarti ada pekerjaan Tuhan yang boleh dia kerjakan dan seterusnya.

Dan ini menjadi satu doa syafaat yang kontinu, yang berkelanjutan, bukan hanya satu kali, karena di bagian sini dikatakan, “Kami senantiasa,” kalau dalam bahasa Indonesianya itu, “kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu.” Di dalam bagian ini kalau terjemahan Inggrisnya itu ada konotasi ke always, selalu, constantly mentioning you in our prayers, selalu secara konstan itu kontinu terus mengingat kamu dalam doa. Dan saya percaya di dalam bagian ini bukan karena Paulus punya checklist doain Tesalonika, doain jemaat Korintus, doain jemaat Roma. Ya kadang bisa sih ada chekclist supaya nggak lupa. Tapi saya percaya di dalam bagian ini bukan sekedar checklist dia makanya selalu concern doakan jemaat Tesalonika tapi itu, dia bersykur. “Wah pertumbuhan di sana seperti apa meski saya tidak ada lagi di Tesalonika, tapi saya lihat jemaat bertumbuh, saya bersyukur, dan saya utarakan itu pada mereka, dan saya tetap mendoakan kamu.” Nah kembali lagi ya kita lihat spirit seperti ini harusnya yang kita belajar cultivate dan tumbuhkan dalam kehidupan kita. Kita ada nggak bersyukur di situ?

Kita kalau lihat jadi misalnya atau mungkin aspek lainnya dalam kita berkeluarga, kalau kita lihat anak jemaat yang lain yang ‘lebih’ pintar hafal ayat hafalan dari anak kita. Kita bisa bersykur nggak? Sederhana itu ya. ini berapa kalau di Sekolah Minggu, “Wah ini lho anak saya suruh belajar hafalal ayat hafalan malasnya, gini, gini, gini.” Terus kita mau kadang-kadang saya lihat dalam prakteknya orang tua kadang-kadang, “Itu dong kamu kayak si itu, si ini, rajin, kamu jangan gitu.” Ya oke kadang-kadang bisa mungkin kita pakai just celetuk untuk men-trigger dia. Tapi sisi lain kita bisa nggak sih bersykur, oh iya ya meski dalam banyak kesulitan, ada lho anak lain itu bisa hafal. Dan kita bersyukur itu. Anak dari kecil meski bukan anak kita ya bertumbuh dalam kebenaran firman, mencintai firman, kita bersyukur itu nggak? Dan kita mendoakan itu juga? Karena itu bagian dari kehidupan ini yang dinyatakan Paulus di sini.

Lalu kemudian masuk ke lebih dalam ke ayat 3, apa sih yang disyukuri Paulus atas jemaatnya? Apa sih isi pujian dan isi doanya? Nah ini kita ketemu 3 elemen yang sebenarnya sangat common karena dalam kehidupan orang Kristen ada yang sebut ini sebagai the three core christian values, tiga kebajikan inti dari orang Kristen sebagaimana dicatat dalam 1 Korintus 13 juga, yaitu yang disebut dalam kalau terjemahan Indonesia itu adalah, “Pekerjaan imanmu, usaha kasihmu, dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.” Jadi ini yang disyukuri dan dipuji Paulus.

Pertama saya pikir menarik dia pakai istilah pekerjaan imanmu. Nah kalau dalam doktrin Reformed itu kan suka kontra ya iman dan works, faith and works, wah itu kontra. Pekerjaan dan iman itu kontra. Kalau kita diselamatkan oleh iman saja bukan karena perbuatan, bukan karena pekerjaan, bukan perbuatan saya. Ya itu betul di situ. Tapi kadang-kadang kalau kita receptive-nya keliru, kita kontra sekali di sini, sampai ceraikan. Nggak, harusnya nggak. Kita melihat itu dasar pijakannya adalah iman, tapi ketika iman itu sejati dan sungguh bisa bertumbuh, maka dia akan menghasilkan buah atau action berupa good works.

Jadi kita bisa lihat di sini pekerjaan imanmu atau work of faith itu adalah apa, yaitu bicara itu fruit atau action of faith is good works. Jadi dari mana makanya kita jangan heran ketika dalam Surat Yakobus katakan iman tanpa perbuatan mati adanya. Ya itu bukan bilang kamu diselamatkan harus iman terus buat baik, kalau berbuat baiknya kurang, nggak selamat. Bukan, bukan di situ. Tapi adalah iman yang sejati akan menunjukkan perbuatan itu. Iman yang sejati menunjukkan ada real-nya karena itu iman yang sejati. Sehingga good works itu untuk menyatakan the genuineness of faith, sebegitu genuine, autentik, aslinya dari iman itu, sehingga akan muncul perbuatan. Perbuatan-perbuatan yang baik yang lahir dari iman itu sendiri.

Di bagian ini bukan masalah kita bisa tulis paper atau ujian di kelas saja, tapi kita mengerti seperti pujian tadi yang kita nyayikan, pujian ke-3 tadi, “Dengarlah Juruselamat berseru ikutlah ikutlah pada-Ku, siang malam terus berseru ikutlah ikutlah pada-Ku, ‘Ku tinggalkan takhta bagimu.” Ini Kristus ya, Dia tinggalkan takhta bagi kita, darah-Nya tercurah bagi kita, bagi kita Dia rela menderita, ya ikutlah Dia. Itu pasti iman, makanya iman sejati itu pasti akan menunjukkan perbuatan. Maksudnya ya Kristus sudah begitu baik pada kita, begitu beranugerah besar pada kita, pasti kita akan membalas cinta kasih-Nya dengan berbagai hal yang bisa kita lakukan. Baik dalam kalau mau dibilang sederhana, ibadah kita, dalam pelayanan, dalam doa kita, dalam kita merenungkan firman, itu bukan cuma karena diwajibkan oleh hamba Tuhan atau diajarkan ya memang orang harus baca Alkitab, tapi adalah memang muncul kecintaan di sana, Alkitab yang berharga. Karena apa? Yang tulis ini adalah Allah yang rela mati buat saya, rela menderita buat saya.

Itu, does itu even trigger kita? Itu menggugah kita nggak sih? Atau cuma data ya Dia mati, saya suka-suka sendiri. Kalau seperti itu, itu mengerti itu bukan iman yang genuine ya, bukan iman yang asli, iman yang sebenarnya cuma sangat berfokus pada diri bukan kepada Tuhan sendiri, iman yang pokoknya dengan saya iman saya dapat untung, saya dapat jadi kaya, yang jomblo langsung dapat pacar entah turun dari sorga atau mana. Bukan seperti itu. Kalau iman seperti itu iman yang sangat selfish karena sangat berfokus pada diri, “Yang penting saya untung.”

Maafkan ya kalau saya ngomong di sini tapi apa adanya, iman demikian tidak ada bedanya orang beriman pada dukun. Seriously. “Pak Dukun, minta jodoh.” Diteplek-teplek, “Nah dapat jodoh. Saya percaya pada Pak Dukun.” Ya itu fokusnya pada diri kan. Pakai bayar saja. Terus sudah dengan sebutan ini, Pakai stempel, kita stempel ini pakai namanya Yesus, bukan lagi dukun tapi Yesus. Itu iman yang berfokus pada diri. Kalau kita mengerti di dalam bagian ini spirit-nya kembali lagi ya ini iman yang sejati itu justru kita menengadah pada Tuhan, itu ada aspek kita persandaran kepada Allah. Dan itu akan menghasilkan perbuatan-perbuatan baik itu. Perbuatan baik itu kenapa? Ya karena Allah itu begitu mengasihi kita. Allah sudah begitu berkorban, berjerih lelah bagi kita, kalau pakai ada istilahnya itu berjerih lelahlah bagi Allah yang telah berjerih lelah bagi kamu. Tentu bagian ini kita harus pahami dengan tepat ya itu bukan Tuhan keringatan, capek, tapi kita mengerti apa yang terutama dinyatakan oleh Kristus sendiri.

Saya lanjut dan ini yang kita lihat ketika Paulus sebut bagian ini, dia bisa mengapresiasi, “Wah iman yang bertumbuh, iman jemaat ini makin bertumbuh dan makin mereka nyatakan dalam perbuatan-perbuatan baik mereka.” Dan ini Paulus berikan ucapan syukur dan mendoakan mereka. Lalu apa lagi yang kedua yang dipuji Paulus? Yaitu tentang usaha kasihmu, demikianlah terjemahan Indonesia ya. Terjemahan Inggris itu pakai istilah labor of love. Kadang-kadang kita lihat ini love and labor itu kontras juga kan. Kalau cinta bukan jerih lelah. Kalau kita jerih lelah ya bukan cinta. Tapi kalau kita lihat di bagian ini kembali lagi sebenarnya skemanya sama karena fruit or action of love is labor. Buah atau tindakan aksi nyata dari kasih itu sendiri adalah bekerja keras, jerih lelah, berjerih lelah karena didorong oleh kasih.

Sehingga di bagian sini meski pembahasan kasih apalagi kasih agape yang dikatakan oleh Alkitab itu bisa banyak, tapi kita lihat mengerti kasih itu bukan cuma masalah romantic feeling, perasaan romantis, “Saya tuh mengasihi kamu, romantis.” Ya bisa dibayangkan saya perjalanan dari Solo bersama istri saya kayak gitu, unyu unyu. Ya nggak juga. Perjalanan biasa, saya nyetir. Kadang-kadang istri saya bilang, “Mau ganti nggak nyetir?” Saya bilang, “Nggak usah saya saja.” Ya itu act of love. Capek, iya capek, itu tindakan kasih. Di bagian ini kita mengerti kasih itu makanya bukan cuma romantic feeling tapi true love itu adalah kasih yang sejati yang mengorbankan dirinya bagi orang lain.

Sebaliknya, kasih yang palsu, cinta yang palsu itu adalah mengorbankan orang lain bagi kepentingan dirinya. Ini sebenarnya kutipan ini dari Pdt. Dr. Stephen Tong. Dia bilang, “Kalau kamu tahu kasih yang sejati itu ya kasih yang sejati akan mengorbankan diri demi yang dikasihi. Tapi kalau cinta yang palsu, dia akan korbankan yang lain demi kepentingan saya. Saya cinta kamu maka kamu harus mati buat saya, kamu harus berkorban buat saya. Itu adalah cinta yang egoistik.” Kalau Pak Tong pernah bilang itu kayak kalau orang bilang, “I love crabs. Saya suka kepiting. Maka sejak saat itu banyak kepiting dimatiin. Karena saya suka kepiting, dimatiin, dimasak.” Itu cinta yang sebenarnya lebih ke arah like, “Saya suka, saya senang ini untuk menjadi milik saya, untuk kesenangan saya.”

Tapi kalau kita lihat bukan itu pengajaran cinta, bukan itu pengajaran kasih yang diajarkan Kitab Suci. Agape itu sendiri adalah mengasihi orang lain, berarti kita rela belajar mematikan diri kita, mematikan ego kita, I-nya kita itu demi yang dikasihi. Dan itu paling real makanya kita mengerti di dalam Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Dan kita mengerti istilah Dia memberikan, mengaruniakan yang Tunggal itu sampai untuk bahkan mati di kayu salib itu. Demi apa? Demi kita, dunia, dan dunia ini tentu kita mengerti sebagai orang gereja-Nya, umat-Nya, yang ditebus dan diselamatkan itu. Rela mengorbankan diri-Nya demi kebaikan dan kepentingan yang lain.

Di sini kita lihat bagaimana pengertian kasih yang sejati itu. Dan ini bukan cuma perasaan romantis. Memang labor, memang jerih lelah, memang ampun-ampunan, tapi kita lihat semua misi Yesus, kalau saya bilang apa adanya, secara permukaan, itu misi yang menderita, begitu susah hati, begitu dengan satu artian itu seperti gagal. Sudah punya pengikut begitu banyak, terakhir akhirnya semua tinggalkan Dia kan? Yang tadinya teriak, “Hosana! Hosana!” terakhir teriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” itu kalau mau dibilang gagal lho, fail total. Habis itu murid-murid, rasul-rasul, ada bagian rasulnya ada satu yang menjual dia, yang lain juga menyangkal Dia seperti Petrus, dan yang lain juga meninggalkan Dia. Itu bagian itu gagal. Tapi kalau kita lihat apa yang menjadi dorongan Kristus mengerjakan semuanya itu, berjerih lelah ini, bukan patok situ, tapi karena kasih. Kasih-Nya untuk keselamatan kita. Itu yang Dia kerjakan. Capek nggak? Capek pasti. Makan ati? Oh lebih dari makan ati, makan ampela, makan lain-lain, jeroan lain. Itu berat sekali. Tapi karena kasih, dikerjakan juga. Dan terutama ketaatan-Nya pada kehendak Bapa, menggenapi rencana Bapa, tapi kita lihat di dalamnya itu kasih, untuk menebus kita itu lho.

Di dalam bagian itu kita mengerti karena kasih-Nya. Itulah mengapa pernyataan Kristus di Getsemani, “Ya Bapa jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku, tapi biarlah bukan kehendak-Ku yang terjadi melainkan kehendak-Mu.” Bagian ini bicara apa? Itu bicara makanya ada dua, kadang memang perbedaan kehendak Ilahi dan kehendak manusia, tapi kita mengerti adalah bagian itu juga bicara adalah Kristus bergumul di dalam bagian ini, tapi memang kalau ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan kita ya, kalau mau dibilang dalam bagian itu, penebusan ini sampai Dia harus mencicipi kematian itu, ya itulah kehendak Bapa. Dan Dia akhirnya harus minum cawan pahit itu juga.

Itu jelas sekali loh kontrasnya bukan kehendak-Ku, tapi kehendak-Mu. Dan kehendak Bapa ketika terjadi apa? Ya Kristus sampai dipertontonkan, diperolok seperti itu. sampai harus mengalami kalau biasanya kita mengerti sebagai Dia mencicipi neraka itu ketika Dia berseru, “Eli, Eli, lama sabakhtani? Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Di situ kita mengerti dalam suatu misteri bagaimana Dia karena Kristus sedang menanggung dosa kita maka itu seolah-olah itu Allah Bapa itu memalingkan wajah-Nya dari Kristus dan Dia mengalami kegelapan neraka itu, mengalami penderitaan ditinggalkan Bapa itu seperti itu ya.

Kembali lagi ini suatu misteri yang tidak bisa kita pahami secara tuntas ya tetapi kita lihat pilunya, getirnya sampai di situ. Kenapa sih? Ya demi selamatin kita ini. Itu labor. That’s labor of love. Itu jerih lelah kasih. Nah pertanyaannya, kita yang mengerti ini, kita jalankan juga nggak? Kita nyatakan juga nggak? Kalau kita tahu Tuhan sudah berjerih lelah dalam kita, kita juga cultivate, tumbuhkan itu dalam kehidupan kita nggak? Lalu kita nyatakan juga nggak kepada sesama kita, khususnya kepada sesama orang-orang percaya ya? Sama saudara seiman kita, karena itulah bagian yang Tuhan tempatkan juga untuk kita sungguh-sungguh nyatakan dan bersaksi bagi sesama kita.

Poin ketiga yang disyukuri dan dipuji oleh Paulus itu adalah karena ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita. Dan bagian ini juga sama, ini kalau tekun dan berharapkan kadang juga kontras ya. Kalau orang harap ya udah nggak usah tekun. Kalau tekun ya mungkin karena pikir nggak ada harapan. Tapi kita lihat bagian sini bukan kontras ya, tapi fruit or action of hope is steadfastness, endurance, perseverance. Buah atau aksi dari pengharapan itu adalah ketekunan ya, kita bisa endure, tahan ya atau ada yang pakai istilah long suffering, tahan dalam penderitaan yang panjang dan bertekun sampai akhir itu, bertekun di tengah-tengah penderitaan itu bukan karena kita itu bisa prediksi sesuatu, tahu segala situasinya dan nyaman, nggak. Tapi justru ketika kita mengerti situasi ini berada di luar kontrol kendali kita, masihkah kita berharap?

Kadang-kadang kan orang sulit, saya bertekun kalau saya tahu ada kepastian. Saya ada kepastian ini bagaimana ya kalau saya tahu ini sudah saya lakukan ini ini ini akan jadi gini ya, saya mau lakukan. Tapi kalau masih ngarep, kalau belum itu masih harap ya, itu kok kayanya susah ya. Tapi bagian ini dibawa ke perspektif yang lain untuk melihat justru karena ada pengharapan yang pasti di depan, yaitu kita menaruh pengharapan kita bukan pada sesuatu yang kabur, bukan kepada mitos dan segala sesuatunya, bukan kepada takhayul, tetapi berakar kuat kepada kedatangan Kristus kedua yaitu pada akhirnya Dia lah pemenang dari sejarah itu dan Dia akan put things right, pada akhirnya akan mengoreksi segala sesuatunya itu pada akhirnya di penghakiman terakhir, maka kita menaruh pengharapan kita ke sana, makanya tidak sia-sia. Bisa nangkap ya? Kita bertekun ya kita tahu pada akhirnya pengharapan kita kepada Kristus bukan kepada hal ini. Hal ini ya cuma sarananya ataupun konteksnya kadang-kadang bisa berubah ya.

Menarik ya kalau kita mau telusuri di dalam bagian ini, Bapak, Ibu kalau pergi perjalanan misalnya apa ya, studi banding ke Eropa sana atau ke daerah Turki sekitar terus misalnya mau lihat oh itu tujuh gereja yang ditulis oleh Rasul Yohanes atau itu mau lihat itu gereja-gereja Korintus ya, Tesalonika, terus kita akan ketemu dari guide-nya akan tunjuk apa? Puing-puing beberapa itu jadi masjid, apa adanya saya ngomong ya. Loh jadi gitu? Ya iya. Mungkin ya kalau dalam suatu artian, oh Paulus sudah kirim surat pada Tesalonika ujung-ujungnya mereka gini, buat apa? Ya setidaknya mereka bertekun sejauh yang mereka lakukan dalam pertanggung jawaban di hadapan Tuhan di saat momen itu. Tapi kadang memang nggak selama-lamanya. Bisa nanti ya kalau memang Tuhan berkehendak lain ya itu ditunggang balikkan ya hilang.

Itu ya berapa itu gereja-gereja yang kita bilang gereja Filipi, gereja Efesus, itu puing-puing, berapa itu malah ya udah jadi masjid sudah.  Dan ini apa adanya ya kita lihat realitanya seperti itu. Kadang kehidupan fakta bisa berubah. Tapi bagian ini kita melihat makanya kita bertekun itu dan bertanggung jawab di hadapan Allah setidaknya dalam bagian itu, part itu yang bagi sejauh mana kita dipertanggung jawabkan, dipercayakan, bagian sejauh mana kita dipercayakan itulah kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Dan di dalam bagian ini ketika kita menaruh pengharapan pada Kristus, itulah kiranya sungguh menguatkan kita dalam menghadapi penganiayaan dan penderitaan di masa kini.

Jadi menaruh pengharapan pada Tuhan itu bukan pasif ya kadang-kadang orang bilang, “Berharap ah pada Tuhan,” maksudnya apa? Pasif ya toh. Kadang-kadang anak-anak ya kalau ditanya, “Gimana ujian besok? Bisa nggak?” “Wah nggak bisa, Pak. Saya harap pada Tuhan aja.” Maksudnya apa? Saya nggak belajar karena bocah ya, saya belajar nggak belajar kayaknya hasilnya sama. Nggak. Bertekunlah belajar dan tetap berharap pada Tuhan. Bertekunlah di dalam pengharapan itu ya, ketekunan pengharapan itu justru kita melihat berjalan bersama. Kenapa? Kita menaruh kepada Tuhan dan hasilnya memang bisa di luar dari ekspetasi kita tapi memang kita pertanggung jawabkan di dalam prosesnya di hadapan Tuhan itu.

Dan menarik ini adalah kita mengerti sebagai 3 kebajikan inti dari kekristenan itu sendiri ya. Ada sekolah yang bahkan pakai ini jadi namanya ‘Iman, Pengharapan, Kasih’ itu. Dan inilah yang harusnya kita terus tumbuhkan dalam kehidupan kita karena inilah kebajikan atau kualitas inti dari karakter Kristen. Dan ini harusnya menjadi dasar pinjakan kekuatan kita, iman, pengharapan, dan kasih. Di dalam iman kita terus percaya bersandar pada Tuhan, di dalam pengharapan kita terus berharap menantikan Tuhan bahwa dalam kita kerjakan semua ini, tidak sia-sia karena apa? Karena ada Tuhan yang menilai, yang menilai pada akhirnya adalah Tuhan. Pada akhirnya adalah Tuhan. Paulus ketika tulis surat pada jemaat Tesalonika, jemaat Tesalonika sambut dengan baik dan seterusnya penilai akhirnya ada Tuhan. Di saat itu kamu bertanggung jawab nggak? Pun kemudian hari di berapa abad kemudian lantas gerejanya roboh, runtuh ya, habis ya, ya itu urusan yang bagian lain, itu sesuai dalam kedaulatan rencana Tuhan juga ketika Dia izinkan ya hal itu terjadi.

Dan saya percaya bagian ini harusnya inilah yang menjadi kekuatan kita, kekuatan kita yang di mana perlu dinyatakan keluar supaya menjadi kesaksian. Bukan untuk kita pamer, show off kepada orang lain, tapi kita bukan bersikap pasif dalam hal ini ya. Dan apalagi kalau kita lihat ya ketika dinyatakan ini, sedemikian nyatanya sampai Paulus itu juga bisa puji. Tentu bukan untuk kita cari-cari pujian, saya nggak tahu juga ya kalau ada yang bilang saya pelayanan biar dipuji Pak Tong. Itu missconception, salah nangkap. Kita itu menantikan pujian dari Tuhan atau ya perkenanan Tuhan karena memang kita pertanggung jawabkan semua talenta kita di hadapan Tuhan, supaya biarlah ketika kita kembali pada Dia, Dia akan menyambut kita dengan mengatakan apa? “Baik sekali pekerjaanmu, hai hamba-Ku yang baik dan setia. Engkau telah setia pada perkara-perkara kecil, masuklah ke dalam sukacita Tuhanmu dan aku akan mempercayakan engkau pada perkara besar.” Ya itu di dalam perumpamaan talenta dan harusnya kita lihat ya ke arah sana ya. Tujuannya itu di situ ketika kita kerjakan ini, dan biarlah kita lihat inilah yang sesuatu yang berharga, ini yang bernilai bertumbuh dalam kehidupan kita.

Orang zaman sekarang mungkin ya dalam bagian ini suka itu mengukur apa sih yang berharga? “Itu, Pak harga, nilai ya, uang, uang.” Apa-apa itu uang. Tapi kalau kita lihat di sini ya yang berharga itu 3 ini, iman, pengharapan, kasih. Sederhana, dalam kehidupan kita kalau kita tanamkan pada anak-anak kita, kita kalau orang tua ya bisa sampai rasa oh sudah lega lah anak saya itu gimana, ada nggak kita lihat karena iman di dalam Kristus, pengharapan kepada Kristus dan kasih kepada Kristus itu kasih Kristus sudah nyata dalam hidupnya, itu modal dia menjalani kehidupan. Bukan masalah modal uang. Saya bukan bilang uang tidak penting tentunya, tapi adalah bukan segala-galanya. Yang terutama itu imannya dia punya nggak? Pengharapan yang dia taruh pengharapan pada uang atau kepada duitnya? Kasih dia didorong apa, kasih yang rela berkorban atau untuk mengorbankan orang lain? Dan ini kalau nggak sejati ya, itu kita cuma menumbuhkan orang yang ada mengatakan itu cuma menumbuhkan orang yang kaya tapi yang fasik ya di dalam bagian itu.

Kalau seperti di dalam pendidikan seperti kalau C.S. Lewis katakan kalau kita cuma di dalam pendidikan kalau kita cuma didik anak-anak kita untuk pintar tok, itu cuma menghadirkan monster-monster yang pintar karena nggak bertobat, imannya, kerohaniannya tidak berubah, masih pintarnya buat apa? Supaya dapat duit ya. Ini juga saya ingat dalam beberapa tahun lalu itu pernah ada seorang hamba Tuhan itu ya dia dalam pelayanan dia didik anaknya itu susah sekali ya. Jadi ya ini suatu sharing dia ngomong pada anaknya, “Nak rajinlah belajar,” sebut aja namanya misalnya Charlie. “Charlie, rajinlah belajar supaya kamu bisa semakin dipakai Tuhan, supaya hidupmu ketika nanti dewasa kamu bisa memuliakan Tuhan.” “Males, nggak mau,” anaknya, “Ah ngapain memuliakan Tuhan? Apa itu?” Nggak masuk ya. Masuk telinga kiri, keluar telinga kiri juga. Ini apa? “Charlie, kerjakan talentamu semaksimal karena itulah memuliakan Tuhan artinya di sana, kamu bisa dipakai menjadi kesaksian.” “Ah males,” tetap males ya. Males gitu, tidak mau, ngapain sih, malas-malas ogah-ogahan.

Selang berapa waktu kemudian, suatu saat kemudian si Bapaknya ini pulang ketemu anaknya. Wih, hari ini Charlie berubah loh. Pulang rumah biasanya dia nonton ya atau main, ih dia belajar. “Oh Charlie ada apa? Besok ada ujian ya?” “Nggak.” “Terus ini belajar?” “Ya saya belajar aja, mereview apa yang diajar Bu Guru.” Wih rajin ya, bagus. Wih, dalam hati sudah bersyukur ya anaknya sekarang bisa berubah juga ya bagaimana giat untuk hidup menyenangkan Tuhan. Tanya, “Wih, kenapa ya kamu sekarang sudah rajin ya, bagus ya sekarang kamu sudah rajin gitu?” Terus anaknya ngomong gini, “Iya Pah soalnya tetangga ngomong ke saya dek, kamu kalau rajin itu bisa jadi kaya. Jadi rajin wae nanti kamu kaya, kamu kaya bisa beli apa yang kamu mau. Makanya saya rajin, Pah.” Wah itu kita lihat aduh itu bapaknya, “Hah?” Waduh ini motivasinya ini, dorongannya duit ya, apa-apa duit ya, sembahnya dewa Mamon.

Tapi saya ngomong apa adanya dalam realita ya kadang-kadang kita kalau dipacu, dipicu ya dengan Mamon ya, dengan uang itu mudah sekali termotivasi semangat. Tapi kalau demi Tuhan, aduh malas-malas, aduh gini-gini. Tapi ada kah kita tumbuhkan itu di dalam bagian ini? Iman, pengharapan, dan kasih yang sejati di dalam Tuhan. Di mana motivasi kita adalah untuk menyenangkan Tuhan saja karena sudah selayaknya lah Dia menerimanya itu. Dia lah pencipta kita, keberadaaan kita kita berhutang kepada Dia, semua apa yang kita miliki itu cuma titipan yang kita akan pertanggung jawabkan pada Tuhan.

Dan lebih lagi Dia bahkan sudah begitu rela berkorban untuk menebus kita. Tuhan tidak ada loh kewajiban menyelamatkan kita. Sekali lagi saya ulang ya, Tuhan tidak ada kewajiban menyelamatkan kita. Itu bukan SOP Tuhan, wah manusia jatuh dalam dosa SOP, Saya harus berkorban untuk mati menebus dia. Nggak. Tidak ada ilmu SOP Tuhan itu, bukan karena kewajiban tapi karena kasih-Nya Dia rela juga mengaruniakan anak-Nya yang tunggal sampai lihat Kristus itu mati sedemikian tapi karena memang there is no another way, karena tidak ada jalan lain kecuali itu untuk penebusan kita, untuk keselamatan kita dan itu didorong oleh kasih ya.

Dalam bagian ini adakah kita mengerti sedemikian itu dan inilah makanya kita makanya sudah apa ya kalau mau dibilang itu sampai berlimpah-limpahnya tidak ada habisnya itu kita memuji Tuhan. Bukan saya karena pertama-tama memang Dia pencipta kita, itu betul, dan memang Dia adalah mulia, Dia besar, iya betul. Tapi maaf kata ya, non-Kristen juga bisa memuji Tuhan karena alasan demikian. Tapi keunikan khususnya dalam iman Kristen kita memuji Tuhan bersyukur tidak habis-habisnya pada Dia karena anugerah keselamatan itu. Makanya tidak layak kita puji Dia.

Pak Tong katakan kalau kita sampai di sorga itu ada orang bilang, “Wah di sorga itu bosan ya tiap hari memuji nama Tuhan,” Pak Tong bilang nggak bosan. Kenapa? “Tiap kita lihat Tuhan, kagum sembah Tuhan. Lihat lagi Allah Bapa, wah kagum. Lihat Allah Anak, wah kagum. Lihat Allah Roh Kudus, wah kagum.” Bersyukur terus, bersyukur dengan tidak habis-habisnya selama kekekalan begitu. Itu karena luapan betapa berharganya Tuhan kita, betapa bernilainya Dia dan menyelamatkan kita yang sebenarnya tidak ada nilainya ini namun Dia tebus juga, Dia mau selamatkan juga, bayar dengan mahal juga ya. Dan inilah biarlah kita patut sungguh memberikan pengabdian kita, komitmen kita, seluruh jerih lelah kita kepada Dia karena memang Dia pantas dan selayaknya lah terima itu.

Dan saya percaya di dalam bagian ini kadang kalau misalnya kita bergumul ya bagaimana dengan iman, pengharapan, dan kasih ini bertumbuh, ya didoain. Itu bukan di gas-gas doang ya, paksa-paksa, iman-iman tumbuh, gimana? Ya didoakan. Didoakan dan doakan juga untuk orang lain. Ini kita lihat dalam surat Paulus ini, dia terus bertekun doa dan dia bersyukur loh ini kita lihat ya pararelin ya dia memuji iman mereka, pengharapan mereka, kasih mereka sekaligus dia terus doakan untuk iman mereka, pengharapan mereka, kasih mereka juga bertumbuh. Karena ini bukan suatu stagnan ya, ini bukan suatu level, “Sudah tahu, Pak lulus paper-nya gitu selesai.” Nggak. Tapi harus terus di-cultivate, terus harus ditumbuhkan dalam kehidupan kita, harus memang dikelola apalagi kita mengerti tantangan kehidupan ini terus bertambah dan kadang konteks kehidupan kita juga sangat pasti berubah-ubah.

Bagaimanakah iman, pengharapan, dan kasih kita itu dinyatakan bukan saja kondisi nyaman, tapi ketika kondisi tidak nyaman? Bukan saja iman, pengharapan, kasih itu kita nyatakan ketika ada di gereja, bagaimana kalau di luar gereja? Bagaimana dalam konteks pekerjaan? Bagaimana juga ketika kita dipanggil untuk bersaksi di hadapan orang-orang yang tidak percaya? Adakah kita menunjukkan juga kasih Tuhan kepada mereka? Kristus sendiri mengatakan kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Itu jelas-jelas kamu punya musuh. Tapi bagian itu bukan karena kita sengaja musuhin tapi kita dimusuhi karena kita lakukan kebenaran ya mereka musuhi. Itu biasa kan paling kesel ya saya nggak bikin salah kok kamu benci saya. Itu kan aduh paling ngeselin, kok kaya gini. Tapi ya kasihilah musuhmu, itu maksudnya. Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Ini kalau kita lihat dalam kehidupan Kristen ya memang ditumbuhkan bagian ini ya. Apalagi dalam kehidupan kita sesama orang percaya kita kerjakan bagian ini, kita terus doakan, dan kalaukah ada bagian-bagian yang mungkin ya karena pergumulan atau background kita, kita sulit melihat apa karunia Tuhan di dalam kehidupan komunal secara gereja ya kita doakan itu. Tuhan, tumbuhkanlah kasih saya akan gereja-Mu, tumbuhkanlah pengharapan saya kepada Engkau dalam saya menjalani kehidupan sebagai jemaat-Mu, tumbuhkanlah iman saya terus bersandar pada Kristus di dalam saat yang sama saya berelasi bersama dengan sesama orang percaya, sesama dengan orang beriman. Itu bagian itu harus terus kita tumbuhkan, kita garap, dan di situ kita lihat itulah yang patut dipuji, itulah yang berharga dan ada kah itu yang juga kita sungguh doakan bagi kita dan bagi juga sesama kita? Mari kita satu dalam doa.

Bapa kami dalam sorga, kami berdoa bersyukur untuk kebenaran firman-Mu. Kami berdoa bersyukur apabila di kesempatan bagian ini kami kembali boleh diingatkan apa yang berharga dan kami berdoa ya, Bapa biarlah dalam kehidupan kami Engkau terus mengoreksi hati pikiran kami, cara berpikir kami, konsep-konsep nilai kami yang seringkali masih keliru dan belum sesuai dengan firman-Mu. Biarlah kami boleh bertumbuh semakin kagum akan firman-Mu, kami boleh bertumbuh semakin kagum akan Engkau dan kami boleh bertumbuh semakin mengasihi Engkau yang sudah lebih dahulu mengasihi kami. Topanglah iman kami ya, Tuhan untuk terus boleh senantiasa berharap mengikut Engkau saja. Hanya dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *