Identitas orang Kristen, 18 April 2021

1 Tesalonika 1:1

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Ada yang mengatakan bahwa semua makhluk di dalam kehidupan ini, makhluk hidup, itu adalah makhluk yang berkomunikasi. Berkomunikasi satu sama lain. Namun menarik kalau kita bandingkan ya, di antara range-range binatang ya, selain tentu ada juga tumbuhan, katanya ada yang bilang tumbuhan juga ada komunikasinya gitu ya, saya juga nggak paham gitu ya bagaimana mungkin Pak Dawis yang mungkin lebih paham gitu ya. Antar tumbuhan itu ada komunikasinya, tentu bukan dengan bersuara ya, tapi ada semacam saling mengkomunikasikan. Tapi yang paling umum kita temukan misalnya binatang itu saling komunikasi satu sama lain ya, seperti kalau anjing biasanya akan menggonggong ketika dia lihat ada musuh ataupun dia akan menggonggong ketika misalnya untuk, nggak tahu ya, kayak misal contoh memberi kode dengan binatang, dengan saudara-saudaranya yang lainnya, dan seterusnya.

Tapi menarik ketika kita bandingkan manusia, manusia juga makhluk yang berkomunikasi, tapi kita itu berkomunikasi bukan dengan seruan suara saja, bukan cuma dengan bunyi-bunyian seperti itu, dan masing-masing binatang ada pita suaranya masing-masing, tapi kita itu berkomunikasi bukan hanya dengan suara, bukan hanya dengan tinggi rendah nada, tapi dengan bahasa. Dan bahkan, pada perkembangannya, dalam cara berkomunikasi yang berbeda dari binatang.

Sederhana saja ya, binatang seperti misalnya anjing, ya, dia akan menggonggong. Itu dari zaman Adam, sampai zaman sekarang ya sama, ya. Mungkin nadanya ada naik turun sedikit gitu ya tergantung size-nya atau apa, tapi seperti itu saja. Tapi manusia itu kita berkomunikasi itu dengan memakai bahasa. Dengan memakai bahasa, dan bahkan kalau masuk ke filsafat bahasa itu ada perkembangan bahasa ya. Dari satu zaman ke zaman yang lain, dan dalam perkembangan bahasa yang, nanti lain lagi kalau orang masuk ke body language ya, itu bahasa tubuh, itu juga bahasa. Ada seperti ini. Misal dari gerak, mimik, ekspresi kita gitu ya, tapi juga ya dengan kata-kata itulah kita juga berbicara.

Kadang-kadang ada yang mengatakan karena sudah kompleksitasnya di dalam bahasa itu, kata-kata yang sama kalau diucapkan dengan tone yang berbeda, nah menghasilkan suatu yang berbeda. Tapi kita melihat di dalam bagian ini ada banyak keragaman dan kekayaan di dalam kita berkomunikasi, dan khususnya itu karena kita bisa memakai bahasa ya. Sehingga bukan cuma suara nyaring, suara kecil dan seterusnya, dan geraknya itu kayak apa ya, kalau anjing itu lihat musuh itu kayak mau terkam, kayak dia posisinya, mengambil sigap seperti itu, siaga, tapi lebih lagi kalau kita itu menggunakan bahasa dan di bagian itu kita berkomunikasi ya.

Dan ini bagian itu menarik kalau kita renungkan tentang Tuhan juga berbicara kepada kita juga dengan memakai bahasa. Tuhan berkomunikasi dengan kita dengan memakai bahasa, yaitu dalam Alkitab, ya. Bisa kita kaitkan di dalam seluruh bagian Alkitab sebenarnya dalam berbagai bagian, kenyataannya itu Tuhan berbicara dengan kita melalui ada komunikasi, bahasa, dan ketika kita mengerti sebagai bahasa itu ada pengertiannya, ada maknanya di situ. Itu bukan cuma bunyi-bunyian seperti itu, tapi masuk kepada ada suatu yang mau dikomunikasikan, ada pengertiannya di sana, ada maknanya, dan juga ada strukturnya ya kalau mau dibilang dalam tata bahasa gitu ya. Bahkan di dalam tata bahasa yang kebudayaan yang paling kuno sekalipun, dia tetap meski gramatikanya ya, tata bahasanya sederhana sekali, tapi tetap ada strukturnya, ada cara berpikirnya.

Nah ini menarik ketika kita renungkan ternyata Tuhan berbicara dan berkomunikasi, berelasi dengan umat-Nya, Dia bukan cuma pakai sense, perasaan, seperti kayanya dipenuhi Tuhan atau apa, oh ini tempat sakral atau angker dan seterusnya, tapi Dia memakai bahasa itu. Sehingga kita mengerti adalah kita berelasi dengan Tuhan melalui kata-kata yang ditulis dalam Alkitab, kita mengerti apa yang Tuhan mau dalam kehidupan kita.

Menarik di dalam bagian ini, ketika kita baca khususnya di ayat 1, sebab ada dalam bagian ini, atau kalau kita mau kaitkan dalam komunikasi, pertanyaannya hubungannya adalah lantas apa yang mau kita komunikasikan? Dalam apa yang kita komunikasikan, itu akan mengekspresikan atau menyatakan siapa diri kita. Termasuk bagaimana kita meng-address orang yang kita tuju itu.

Kadang-kadang juga ada masalah di situ ya, atau saya nggak tahu ya kita pernah alami nggak ya, pernah saya temukan ada jemaat, berapa tahun lalu panggil saya, “Pak, kenapa ya, ada satu pengertian theologis yang kadang-kadang itu kalau saya denger dari Pak Tong itu saya bisa terima, tapi kalau di ngomong oleh hamba Tuhan yang lain,” dia nggak sebut nama, “saya susah terima?” gitu ya. Ini masalah yang di kata-katanya atau apa gitu ya. Mungkin ini mengkomunikasikannya yang kurang tepat atau apa, dan seterusnya, jadi kita mengerti itu ada ranah-ranah di sana dan menjadi, apa ya, suatu yang keseharian kita temukan.

Nah kembali kepada sini, ketika saya lihat, di ayat 1 ini, penekanannya adalah kepada berbicara identitas mereka, terutama jemaat Tesalonika sebagai jemaat Tuhan atau literalnya sebenarnya sebagai gereja milik Kristus, sebagai gereja milik Tuhan. Dan di bagian ini kita mengerti sebenarnya Kitab Tesalonika ini ada berapa, pandangan di Alkitab katakan kemungkinan besar Paulus itu sempat main di Tesalonika beberapa saat, lalu karena satu lain hal, dia terpaksa harus, kayak secara cepat, secara cepat itu dia pergi meninggalkan, belum selesai, belum cukup lama di Tesalonikanya, dan karena itu dia kirim surat ini untuk memberikan suatu afirmasi dan juga menguatkan mereka di tengah banyak tantangan-tantangan yang ada. Sehingga kalau kita mengerti secara latar belakang ini, bagi saya itu surat ini adalah suatu yang Paulus tuliskan untuk menerangkan mereka punya identitas mereka sebagai umat Tuhan itu seperti apa.

Menarik ya, di dalam bagian ini juga, surat ini yang dipakai pada orang yang lain gitu ya. Jadi kalau kita temukan dalam ayat 1 kita temukan dikatakan, “Dari Paulus, Silwanus dan Timotius.” Kalau lihat surat-surat lain itu ada, “Paulus Rasul Kristus,” ada juga dari, “Paulus, hamba Yesus Kristus,” dan seterusnya. Tapi di sini kita dapat temukan ada bentuk yang lain yaitu dari Paulus, Silwanus, atau ada berapa penafsir katakan Silwanus ini adalah nama Latin dari Silas, jadi dari Paulus, Silas – memang lebih terkenal dari Silas ya – Paulus, Silas atau Silwanus, dan Timotius. Ini seperti surat ini jadinya berkesannya dari jemaat gitu ya, nggak terlalu dari saya sendiri untuk kamu, tapi dari kita bersama-sama.

Bagian ini kita temukan, minimal sebagai kalau kita lihat ini sebagai suatu jendela untuk melihat bahwa dari surat ini, Paulus itu dalam pelayanannya itu memang selalu ada bersama dengan hamba-hamba yang lainnya. Dia di sini tentu adalah salah satu pendiri gereja Tesalonika, tapi bukan satu-satunya. Ini makanya kalau kita lihat di sini, meski banyak sekali pelayanan Paulus itu, “Oh dia pergi pelayanan,” seperti yang paling menonjol di dianya.

Tapi setidaknya dari surat ini maupun juga di dalam bagian-bagian lain, kita temukan Paulus itu bukan one man show. Bukan satu orang yang, “Yak saya sendiri yang mendirikan gereja ini dan gereja ini bergantung kepada saya. Kalau saya nggak ada, bubar, kalau saya nggak ada, nggak jadi, dan seterusnya,” nggak. Pekerjaan Tuhan itu adalah bergantung kepada Tuhan itu pertama-tama, dan kemudian dalam kehidupan ini, itu melibatkan berbagai orang di dalamnya.

Karena itulah sebenarnya pelayanan umum itu kita mengertinya dalam mendirikan gereja itu ada founder, ada co-founder, dan seterusnya, bersama-sama mengerjakannya. Timotius ini sebenarnya hanya menemani Paulus, tapi ternyata bersama-sama dengan Paulus di sini, juga menjadi kalau mau dibilang pengirim surat ini, dan juga ia menggembalakan jemaat di Tesalonika seperti itu. Meski kemudian hari setelahnya Timotius lebih banyak di Efesus, tapi kita lihat, itulah yang sebenarnya kalau kembali kalau kita melihat ini sebagai jendela, kita akan melihat, oh kehidupan jemaat mula-mula ya seperti itu. Paulus itu pergi pelayanan ke mana-mana, tapi ya dia bukan itu untuk dia sendiri, saya dirikan semuanya sendiri, tapi melibatkan bersama rekan-rekan sepelayanan. Dan ini harusnya kita melihat ini keindahan iman Kristen itu di sana.

Saya tidak menyangkali dalam kehidupan ini ada bagiannya itu kadang-kadang ya, Tuhan itu panggil orang khusus, ya, memang dia sebagai nabi, dia berdiri sendiri berteriak menyuarakan suara kenabian di tengah semua, tidak ada pengikut, itu kadang-kadang ada dan memang ada, tetapi itu kita bisa lihat itu kasus langka. Itu bukan satu orang sendiri, dia berdiri, terus, dialah sang gereja itu, nggak. Tapi kadang bersama-sama. Makanya di dalam mengerti pelayanan, itu ada bersamanya, ada memang pelayanan kita personal, pribadi, tapi juga komunal, pelayanan bersama-sama. Dalam ibadah itu seperti itu, dalam kehidupan kita.

Dan kembali dalam bagian ini kalau kita lihat dalam diri kita juga demikian. Paulus itu rasul? Iya, secara personal dia itu sadar, tahu betul dia itu adalah rasul, tapi juga kan keindahannya bukan dia sendiri ngaku sebagai rasul, tapi ada bersama-sama mengakui kerasulan, bersama-sama melayani, menjalankan misi kerasulan yang dipercayakan kepada dia, dan di situ kita melihat keindahannya ya. Jadi secara identitas itu ada personal, dan juga ada secara komunal, atau kadang-kadang kalau di dalam sosiologi itu pakai istilah kolektif, secara kolektifnya ini.

Dan saya percaya di dalam hal ini kita bisa lihat, dan kita mengerti identitas diri kita juga ada faktor-faktor seperti itu. Jadi kalau kita bilang misalnya saya orang Kristen, ya saya orang Kristen, itu ada saya secara personal, tapi juga secara komunal atau secara bersama-sama. Maksudnya apa? Ya sederhana kalau saya bilang Kristen, OK, benar-benar saya ini Kristen, saya tahu jati diri saya sebagai Kristen, lantas, saya ini juga senang berkumpul nggak bersama-sama dengan orang Kristen? Atau definisi Kristen saya itu berdasarkan siapa gitu ya? Setidaknya, paling umum ya tentu berdasarkan Alkitab, ya, dan di antara kita ya ada komunalnya. Tapi yang paling mudah dalam kehidupan kita, sama dengan umat Tuhan lainnya, bersama-sama berkumpul dan beribadah seperti ini, ya sama-sama Kristen. Plain and simple seperti itu.

Kita lihat kadang-kadang ada orang yang, apa ya, semacam bilang nggak penting gitu ya, pentingnya ekstensial gitu, pentingnya dia punya identitas pribadi, personal, pokoknya saya Kristen. Terus sampai sedemikiannya, saya nggak ke gereja, tapi saya tahu saya Kristen. Nah ini kayak macam gini kan aneh, gitu. Dia menganggap sendiri Kristen, misalnya saya ini Reformed, saya ini Reformed, tapi terpisah dari yang lainnya. Itu yang seperti itu bagi saya itu cuma ngaku-ngaku dhewe, cuma GR (gede rasa) gitu ya, GR aja, saya Reformed gitu ya, menurut definisi siapa? Menurut definisi saya sendiri. Saya Reformed menurut saya gitu ya, itu malu.

Kita lihat itu kembali ini saling melengkapi. Tapi juga memang ada sebaliknya orang menemukan identitasnya secara komunitas, nah itu ada masalah lain. Yaitu orang yang cuma menemukan dia itu Kristen ketika kumpul rame-rame, Kristen. Kalau sudah pulang, di rumah, ya, atau di kantor, kerjaan, wah hilang Kristennya, kenapa? Kristennya ketinggalan di Grand Pacific, ketinggalan di sini, ketinggalan di sini, nanti saya balik lagi Kristen waktu hari Minggu itu datang, atau waktu ikut PA atau persekutuan apa yang di Kranggan misalnya. Itu jadinya dia cuma kalau kolektif, kumpul bersama, komunitas, dia baru keluar jati diri, nah ini masalah lain gitu.

Mungkin dalam bahasa sederhana kadang-kadang kehidupan gitu ya, saya temukan aneh juga, ada macam orang yang kayak gitu. Kalau kumpul bersama teman-temannya, sama-sama orang Reformed, oh dia Reformed. Begitu dia ketemu dengan teman yang lain, hilang, hilang Reformednya gitu ya. Nggak ngerti hilangnya ketinggalan di mana gitu ya. Atau kalau kumpul dalam satu persekutuan, mindset-nya Reformed, tapi ketika nggak kumpul dengan ini, langsung mindset-nya ikut dunia.

Di bagian ini, saya tidak hari ini bahas tentang worldview lebih banyak, tapi ini banyak terjadi identitasnya itu sebenarnya dia ada nggak sih secara personal, mengerti dirinya itu sebagai siapa. Kadang-kadang itu saya temukan ada pendekatan seperti itu ya, misalnya, kenapa nggak ke gereja? Ini tentu di luar masalah COVID ya. Kenapa nggak ke gereja? “Iya, Papa larang. Jadi nggak ke gereja.” Atau papanya bilang, “Oh kamu ke gereja yang itu aja, nggak usah ke GRII ya,” kadang-kadang ada juga seperti itu. Terus saya garuk-garuk kepala gitu ya, karena terus terang saya ngomong apa adanya, kalau anak ini masih memang SD bahkan sampai remaja, saya masih bisa tolerirlah, pahamlah. Ini ada anak, sudah kuliah, sudah mahasiswa, bahkan bukan cuma itu, sudah bekerja, tapi identitas dia itu masih tidak ada secara personally mengerti dia itu sebagai orang Kristen. Masih kayaknya gampang sekali diombang-ambing, tidak ada mengerti jati dirinya itu apa sih. Nangkep ya?

Saya tentu berharap itu tidak diri kita ya, tapi kenyataannya ada seperti itu. Kalau nanti lantas selanjutnya kadang-kadang ada gitu ya, orang itu dingomong atasannya begini, ya dia ninggalin. Makanya kita juga, meski tetap kita sayangkan, tapi ada orang juga macam itu. Eh dia Kristen Kristen Kristen, katanya itu mengerti theologi, bisa bahas dengan baik, tapi begitu dapat pacar yang dari agama lain, pindah dia. Jadi ini apa ya, dia nggak ada jati diri secara personal-nya, secara dia pribadi identitas siapa. Dan itu masalah.

Kembali lagi ya, bukan kita pilih salah satu, tapi dua-duanya ada. Dan ini sebenarnya kalau kita lihat dalam kehidupan itu saling melengkapi. Ada kalanya ketika kita lemah, lebih baik jangan sendiri, ketika yang satu lemah, yang lain bisa menguatkan, ada bagian itu. Dan ini sebabnya juga kita berkumpul bersama dalam ibadah ya. Tapi juga bukan akhirnya kita cuma ingat identitas kalau kumpul ibadah. Nah itu masalah lagi. Kita harusnya itu saling mengisi, bagaimana di dalam kita bertumbuh semakin kuat mengerti identitas kita sebagai umat Tuhan, baik secara personal, maupun secara komunal. Nah itu ada di situ, dan kita harusnya kita bertumbuh di sana, bertumbuh bersama-sama di situ tapi juga kita mengerti identitas kita secara pribadi itu seperti siapa.

Dalam bagian ini, ketika, dalam kaitannya saya pikir menarik ya, Paulus itu dia di dalam berbagai situasi, ya situasi status dia, itu ada sendiri, tapi juga ada bersama-sama dengan yang lain. Dan itulah ketika kita masuk di dalam berikutnya kepada gereja, gereja orang-orang Tesalonika kira-kira begitu ya. Mungkin karena terjemahannya kurang enak gitu, jadi terjemahan Indonesia mengganti menjadi, “Jemaat orang-orang Tesalonika.” Tapi sebenarnya teks aslinya itu bicara gereja ya. Kalau dalam bahasa Inggis Church of the Thessalonians.

Di bagian sini menarik, kenapa, karena dia kemudian mengingatkan identitas dari orang Tesalonika ini, bahwa kamu adalah gereja, kamu adalah ekklesia. Dan secara katanya, ekklesia itu berasal dari ekkaleo, dipanggil keluar, meninggalkan dari yang lama itu. Itu kayak saya bilang itu, kalau kita mau literal gitu ya, kamu adalah orang Tesalonika, kepada orang-orang yang dipanggil keluar dari Tesalonika, kira-kira seperti itu. Bisa nangkep ya kalau diliteralkan seperti itu. Kamu adalah Church of Thessalonians, kamu adalah gereja dari orang-orang Tesalonika. Ini maksudnya apa ini? Itu maksudnya adalah kamu adalah orang yang dipanggil keluar dari orang-orang Tesalonika itu sendiri. Itu masih ngomong ya saya juga tahu ya dari generasi kamu adalah orang Tesalonika, kamu adalah orang yang berdiam, bertinggal di daerah Tesalonika, yang menetap di sekitar Makedonia sana, tapi kamu, status kamu, identitas kamu, kamu dipanggil keluar dari itu.

Nah ini menarik karena kita mengerti identitas kita itu demikian, dipanggil keluar. Kalau ini kita mengerti lebih pada secara spiritual ketimbang physical gitu ya, oh saya keluar Tesalonika kalau gitu tinggalin kota gitu ya. Tidak seperti itu, tapi kita mengerti adalah memang kamu adalah orang-orang Tesalonika, memang kamu itu mengikuti kebiasaan orang-orang Tesalonika, dan latar belakangmu seperti demikian, ada tradisi dan seterusnya, tapi ingatlah status kamu dan identitasmu yang baru di dalam Tuhan itu adalah kamu dipanggil keluar meninggalkan itu.

Nah penting kalau dalam konteks kita keseharian, kita sendiri, karena ini kaitan dengan identitas gitu ya, itu kita mengingat dalam identitas itu, kita itu siapa dan apa, mungkin kalau mau dibilang. Kalau saya mengutip dari perkataan Agustinus, Agustinus ketika ditanya, apa itu waktu? Lalu Agustinus bilang, “Wah, saya pikir saya itu tahu apa itu waktu, tapi sekarang kamu tanya, saya jadi bingung apa itu waktu,” atau, “saya baru tahu bahwa saya tidak tahu apa itu waktu, bagaimana itu definisinya.” Dan ini sebenarnya bagian juga kita gumulkan dalam kehidupan kita ya, siapa diri kita, identitas kita itu siapa.

Ini penting sekali, karena ini, apa ya, kadang-kadang sih kalau dalam kehidupan atau psikologi modern biasa bilang ini pergumulan orang masih masa kanak-kanak atau masa-masa remaja galau. Pergumulan identitas gitu ya. Atau kadang-kadang juga mengalami krisis identitas, dan seterusnya. Tapi nanti kalau pemuda, sudah fix. Tapi kadang ada orang itu malah di kemudian hari bahkan ada orang itu sudah umur 40an atau 50an itu masih kayak galau identitasnya siapa. Maksudnya itu dia masih belum bisa definisikan atau memang pastikan dirinya itu siapa. Ini bukan kayak orang apa ya, amnesia atau hilang ingatan, lupa nama dia, bukan, tapi mengerti siapa dirinya di hadapan Tuhan.

Nanti, kalau nanti saya kaitkan dengan bicara profesinya, panggilan dia seperti apa. Dan di dalam bagian ini saya pikir kalau saya mau kaitkan dalam kehidupan sehari-hari ya, misalnya saya pakai, atau saya pakai saya lah. Saya Chinese rasnya, itu rasnya. Saya orang Indonesia. Oh itu ya nationality-nya. Tapi adakah kita lihat lebih dalam saya pengikut Kristus, saya pengikut Kristus, saya adalah Kristen, saya adalah orang Reformed. Memang secara kronologis, saya duluan Chinese, kalau mau dibilang, atau saya adalah orang Indonesia, atau dulu statusnya masih WNA waktu lahir karena ikut orang tua. Ada status itu, tapi adakah kita kemudian hari memikirkan mendalam meski ada background saya demikian, first thing first saya adalah orang Kristen, saya adalah pengikut Kristus, identitas saya didefinisikan berdasarkan Alkitab, bukan berdasarkan konteks budaya saya. Dan itu adalah satu yang menurut kita bergumul selalu karena kita ngerti kita dipanggil itu keluar dari itu.

Kembali lagi ya, kembali bicara pemahamannya itu bicara secara spiritual bukan secara lokasi ya, nggak harus. Dan memang, memang kita tinggal di dunia ya, bekerja sesuai dengan tempat kita, tapi kita ingat kita itu memang dipanggil keluar, sehingga ada bagian yang kita meninggalkan dari tradisi atau kebiasaan atau mitos-mitos, yang lama, yang memang berakarkan dalam dunia. Dan ini diingatkan Paulus di sini, kamu adalah orang yang dipanggil keluar, dari orang Tesalonika gitu ya, karena mereka statusnya kalau, kalau ada KTPnya zaman itu, orang apa? Tesalonika. Tapi ingatlah bahwa kamu dipanggil keluar dari sana. Untuk apa? Untuk dipersatukan dengan Tuhan. Meski berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda juga, karena kita mengerti dalam bagian ini mungkin ada sebagian orang yang Yahudi, ada sebagian orang Yunani, mungkin di bagian lainnya, tapi ini mereka tinggal di Tesalonika, mungkin mengerjakan usahanya di sana. Tapi biarlah mereka mengerti mereka dipanggil keluar dari situ. Dipanggil keluar dari situ.

Dan itu akan memang menghasilkan penolakan dari dunia sekitar kita. Karena kita mau memang tampil beda dari dunia ini. Tentu saya diingatkan di sini ya, kita bukan eksentrik gitu ya, aneh. “Oh, Pak, itu orang dunia itu pakai kolornya di dalam, saya pakainya kolornya di luar.” Itu lain gitu ya, kita bukan ke sana. Tapi ini mengerti kembali secara spirit-nya, secara rohaninya, adakah kita mengerti identitas kita itu sebenarnya itu di dalam Tuhan. Dan karena itulah menarik dikatakan kamu adalah orang yang dipanggil keluar, kamu adalah orang yang dipanggil keluar dari orang-orang Tesalonika, yaitu di dalam Allah Bapa, dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kemudian diaplikasikan tentu dengan Allah Roh Kudus juga.

Bagian ini ada bicara identitas kita, jati diri kita, kita mengerti gereja itu adalah milik Allah Tritunggal. Gereja baik secara komunal, kita mengerti bersama-sama ya, maupun juga kita secara personal, kita adalah milik Allah Tritunggal, yaitu di dalam Allah Bapa kita. Di dalam Allah Bapa ini apa? Kita bisa mengerti, pertama adalah relasi kita dengan Allah itu Dia adalah Bapa kita. Kalau misalnya saya ngomong ya, Bapak, Ibu Saudara sekalian, oh misalnya ya, ada jemaat tanya saya, “Oh Pak Leo, orang tuanya tinggal di mana?” “Makassar.” “Oh, apa kabar mereka?” “Oh saya nggak tahu.” “Kenapa nggak tahu?” “Karena nggak tanya. Zaman COVID pak,” “Iya zaman COVID tapi ini kan ada sekarang teknologi, bisa Whatsapp, bisa WA, bisa telpon, dan seterusnya ya. Masa nggak ada kabar sama sekali gitu ya?” Terus saya masih bilang, “Oh iya, Papa saya itu,” saya bisa sebut namanya, dia tinggalnya di mana, demikian, tapi saya tidak pernah komunikasi dengan dia. Apakah itu suatu yang kita pikir iya ini nggak bener.

Dan sama dalam bagian ini ketika bicara kita itu dalam Allah Bapa, itu bicara kita punya relasi dengan Tuhan dan kita mengakui Dia sebagai Bapa kita sehingga ada kedekatan, sebagai pelindung, sebagai sosok yang kepada-Nya kita bernaung dan Dia yang berotoritas dalam kehidupan kita. Dan itu kita mengerti demikian. Dan ini kalau mau dibilang ini di dalam komunikasi kita bukan hanya berkomunikasi pakai WhatsApp, memang siapa yang tahu nomor WA-nya surga? Tidak ada. Tapi dalam pemberitaan firman kita mendengar perkataan Tuhan, dan kemudian dalam doa kita menyatakan perkataan kita pada Tuhan. Paling umum biasanya kita mengerti itu seperti R.C. Sproul katakan yaitu di dalam doa, kita itu mengutarakan isi hati kita kepada Tuhan, tapi kemudian dalam pemberitaan firman ketika kita mendengarkan kebenaran secara komunal sama seperti ini, kita mendengarkan perkataan Tuhan tidak? Dan itu ada satu kerinduan berelasi dengan Dia karena ya itu Bapa kita. Dan ya personally dia Bapa saya, Bapa surgawi secara personal dalam artian di situ. Adakah kita punya pertumbuhan, relasi dengan Dia? Pertumbuhan relasi ketika kita makin mengenal Bapa kita. Dan sebagaimana kita tahu Dia mengenal kita, tapi mungkin ada hal-hal yang kita kurang itu kita memohonnya. Ada nggak kita bertumbuh dalam bagian itu? Itu bicara relasi dengan Allah. Sehingga betul kita bisa deskripsikan apa yang diajarkan Kitab Suci tapi ada ketika kita berelasi yang real dengan Dia, di hadapan Tuhan, karena ya Dia Bapa kita.

Menarik ya Perjanjian Baru itu, meski ada juga dalam Perjanjian Lama, tapi konotasi bagaimana melihat Allah sebagai sosok Bapa atau relasi dengan Bapa itu memang paling real dan mendalam memang dari Perjanjian Baru. Dalam ungkapan Bapa ini, pernah ada psikolog bilang problematis karena orang jadinya kalau, karena istilah bapa itu kan terjemahan umum, nangkap ya? Istilah bapa. Misalnya kalau saya bilang Yahweh kan memang lain, totally different, memang Dia adalah Allah yang transendental, jauh dari kita, tapi ungkapan bapa kan saya mengerti, kesannya saya tahu. Dan kata psikolog itu bilang ini agak bermasalah karena akhirnya orang kalau dia berelasi dengan bapanya itu agak masalah, dengan bapanya di dunia, dia nanti akan melihat kalau dengan bapa surgawi itu kayak begitu. Nah ini saya harap ketika ngomong ini tentu saya concern juga, kita ada pergumulan masing-masing dan seterusnya, tapi adalah untuk tujuannya adalah untuk kita coba mengulik diri kita karena kadang-kadang kita salah menggunakan bapa itu karena apa, karena pengaruh dan sangat lumrah, sangat manusiawi pengenalan kita berdasarkan pertama, dari bapa duniawi kita.

Maksudnya kadang ada orang mengatakan begini, ada orang itu relasinya itu dia lihat bapanya itu kayak jendral. “Ke kiri, kiri. Kanan, kanan. Duduk, duduk.” Ini anjing atau apa ya, “Gonggong!” Dia lihat relasi dengan bapanya itu cuma command and answer, command and obey gitu ya. Jadinya dia mengertinya relasi dengan Bapa surgawi kayak gitu. Ya kalau melawan dihukum, kalau taati saya dapat permen. Ya cuma relasi di situ. Karena ini kembali lagi kita melihat ke belakang, masing-masing, dan kadang-kadang memang itu jadi blind spot, titik buta kita. Tapi kadang-kadang akhirnya mengaburkan, kecampur dengan ketika kita menghayati apa yang bagaimana Alkitab katakan ketika memperkenalkan Allah sebagai Bapa kita.

Karena kalau kita lihat di dalam kasus Lee Strobel, kisahnya yang diangkat dari buku The Case for Christ, itu dia mengatakan dalam dia cari-cari dan seterusnya, ada security ngomong kalau kamu lihat para orang ateis yang kalau mau dibilang itu, background mereka itu memang punya problem dengan father figure. Entah bapanya itu meninggalkan dia atau abuse ke dia dan seterusnya, dan memang mereka jadi ateis. Kembali karena father figure-nya itu dia merasa papa jahat kayak gini. Dia lihat Allah itu Bapa, dia langsung konotasinya lihat dia itu jahat.

Dalam bagian ini kita bisa lihat seperti dari Bertrand Russel ataupun seperti Freud, orang-orang ateis itu sebenarnya kalau kita lihat telusuri biografinya, heran ya, ya itu kata psikolog itu bermasalah dengan father figure. Sangat bermasalah di situ, dan akhirnya mereka jadi ateis yang begitu mati-matian berkata tidak ada Allah karena mereka sulit menerima ada sosok yang berotoritas di atas dia, dan dia lihat kejam, kejam, jahat, tidak peduli saya. Ah sudah lah saya sudah muak, capek, dan berontak. Tidak bisa lihat bahwa di dalam Alkitab katakan Allah kita adalah Allah yang kasih adanya. Seperti yang terkenal itu Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Itu bicara Bapa yang berotoritas penuh tapi juga Bapa yang kasih dan bahkan rela memberikan Anak-Nya, Kristus disalibkan untuk menebus dosa kita supaya kita tidak binasa.

Jadi kita bisa melihat bagaimana sosok ayah yang menjalankan keadilan tapi juga kasih. Dia yang berotoritas tapi Dia bukan sekedar, “Ini jalanin!” tapi menunjukkan teladan itu. Tentu melalui Kristus, tapi kalau kita mengerti secara Tritunggal, ini bukan Allah yang terpisah, dan ketika Kristus dikorbankan itu sesuatu yang juga memilukan Bapa begitu dalamnya kita tidak bisa bayangkan. Sederhana saja kadang-kadang kita lihat anak kita sakit, kadang-kadang kita berpikir lebih baik saya yang sakit daripada dia. Kadang-kadang ada orang dihina, diledek, culun. Tersinggung dia, bisa berantem, “Kenapa ngomongin anak saya?” Itu bicara sebenarnya itu karena kasih kepada anak kita itu. Dan apalagi kalau kita mengerti bagaimana Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus, 3 pribadi Allah Tritunggal dengan 1 esensi menikmati relasi kasih sampai kemudian Anak-Nya dibegitukan, tapi itulah karena kasih-Nya untuk membebaskan kita.

Kalau ngomong apa adanya berdasarkan pandangan orang non-Kristen atau orang ateis, ya itu kebodohan. Orang tua biar anak sendiri mati, untuk apa? Orang-orang yang durhaka. Itu mau gobloknya segoblok apa? Tapi kalau kita mengerti betul itu adalah anugerah, kita mengerti inilah anugerah Tuhan yang diberikan pada kita orang-orang. Itu adalah bijaksana Tuhan yang melampaui manusia sehingga engkau bertobat. Karena memang saya harusnya mati, butuh diselamatkan, dan itu satu-satunya cara, ya itu yang Allah pilih. Bukan karena Dia benci kepada Anak tapi karena kasihnya kepada kita pun sampai Dia tidak menyayangkan anak-Nya itu, itu kalau dalam Kitab Roma.

Kadang-kadang dalam kehidupan ini kalau bicara misal kita beri persembahan, kita kasih persembahan, kita suka pikir apa? Kalau Pak Tong bilang semua orang suka pikir bukan cuma berapa yang dia kasih tapi berapa yang sisa. Saya kasih begini sisanya berapa? Oh sisanya segini, nggak apa-apa lah kasih segini. Tapi kalau kita mengerti di dalam bagian ini, Allah yang tidak menyayangkan Anak-Nya, Dia yang tidak menahan Anak-Nya itu, diberikan juga untuk menebus kita dan itu juga menjadi identitas kita. “Di dalam Tuhan Yesus Kristus,” ini bicara ya status kita di dalam mana. Dan bahkan makanya kita mengerti kita bisa menghampiri Bapa, bisa bahkan berdoa kepada Bapa, itu hanya karena dilayakkan dan sudah dilayakkan oleh pengorbanan Sang Anak.

Makanya kita lihat selalu ada relasi itu yang tidak terpisahkan di sini, dan ada beda peran tapi tidak terpisahkan satu sama lain. Kita bisa datang kepada Allah Bapa karena apa? Tidak lain karena di dalam Anak, yaitu di dalam Tuhan Yesus Kristus. Itulah sebabnya ketika kita berdoa, kita berdoa di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Dan itu bukan sekedar mengulang ya dalam Nama Tuhan Yesus kalau tidak begitu salah ya, tapi itu adalah bicara karena hanya melalui pengorbanan Kristus lah baru kita bisa layak menghampiri Bapa yang Suci itu.

Kalau kami KKR Regional itu ada lagu, “Dosa tak boleh masuk, dosa tak boleh masuk, surga tempat yang tinggi, ada Bapa yang Suci, dosa tak boleh masuk…” Iya lho, Bapa itu Suci, dosa tak boleh masuk, saya orang berdosa itu nggak bisa masuk sebenarnya. Memang nggak bisa masuk sebenarnya tapi hanya melalui Anak itulah, di dalam Kristus itulah sehingga kita bisa menghampiri Bapa, sehingga kita bisa beribadah kepada Dia, sehingga kita berdoa Dia bisa dengar, itu karena di dalam perantaraan Sang Anak. Dan ini makanya kita bilang satu-satunya perantara Allah dan manusia itu adalah melalui Kristus itu sendiri. Karena melalu pengorbanan Kristus, bukan kita. Bukan karena kita saleh tapi karena kesalehan Kristus, apa yang Kristus lakukan, dan ini menjadi identitas kita.

Kita ketika berbicara kepada Allah, Dia transenden jauh di sana, Dia suci, kita berdosa, Dia Maha Mulia dan kita terbatas. Tapi sekaligus juga imanen, dekat, karena Dia kita sapa dengan Bapa. Kenapa bisa? Karena itu di dalam Yesus Kristus. Kita kembali mengingat apa yang Kristus kerjakan itulah menjadi dasar kita bisa datang kepada Tuhan. Sederhananya seperti tadi liturgis katakan sebelum kita mulai doa syafaat, kita berdosa untuk mengaku dosa. Kita berdoa mohon ampun atas dosa kita. Kita doa minta ampun itu pakai apa? Dasarnya apa? Pokoknya tutup dalam Nama Tuhan Yesus? Tapi itu mengingatkan kita, kita ini lagi berdosa. Bagaimana kita bisa beres baru bisa ngomong kepada Bapa? Bisa nangkap ya? Kita ini sedang berdosa, kalau kita berdoa mohon ampun, itu seperti apa? Di dalam kepercayaan-kepercayaan lain bagaimana kamu bisa mengampuni? Ya kamu pembasuhan, pembersihan, kamu dibersih bersih bersih, baru bisa menghadap Tuhan. Nggak. Kita mengerti kita bisa diampuni dan kita bisa naikkan doa permohonan dosa itu karena di dalam Anak, di dalam Yesus Kristus, bahwa pengampunan itu sudah disediakan karena sudah dikerjakan oleh Allah Anak di dalamYesus Kristus, dan ini menjadi jati diri dari kita.

Dalam korelasinya dengan kehidupan sehari-hari, kadang-kadang saya temukan ada jemaat yang berpikir, “Pak saya ini kadang-kadang jatuh dalam dosa.” Lalu pikir, “Jangan dulu lah datang gereja, nanti saya beresin dulu, baru datang. Saya kalau sudah beres, saya datang.” Lho itu nggak mengerti iman Kristen, sama sekali serius, meski tidak garansi selamat, tapi itu berarti ngomongnya saya bisa beres dengan usaha saya sendiri, dan kalau saya beres saya bisa datang kepada Tuhan. Berarti kebenaran saya yang menyebabkan saya datang kepada Tuhan. Tapi kalau kita mengerti saya ini memang nggak beres, saya memang berdosa, tapi yang membenarkan saya itu adalah Kristus dan itu artinya membuat saya bisa memberanikan datang ibadah dan seterusnya. Bahkan dalam kita menaikkan doa-doa kita, kalau kita berdosa misalnya saja kita sedang jatuh dalam dosa apa, terus apa yang membuat kita berkenan sama Allah? Kadang-kadang kita berpikir kasih amal atau kasih persembahan, transfer janji iman, itu jadi kompensasi ya. Salahnya di mana, kompensasinya di mana. Nggak. Kita mengerti yang membereskan kita, melayakkan kita bisa menghampiri Bapa kita, berdoa pada Dia, kita bisa datang ibadah pada Dia adalah karena Kristus sudah menebus dosa kita dan sudah genap pengerjaan keselamatan itu di atas kayu salib, sudah diyakini penebusannya di situ. Sehingga bukan tunggu saya benar dulu.

Kalau di dalam tradisi Roma Katolik akhirnya tidak bisa datang ya. Kalau masih berdosa bagaimana? Ya makanya pengakuan dosa dulu baru masuk. Kalau sudah diampuni pastor baru datang. Tapi kalau kita mengerti perantara kita yang membawa kita kepada Bapa itu adalah Kristus melalui apa yang Kristus lakukan, karena Dia telah membayar pinalti dari dosa kita. Dan ini kita temukan identitas kita di dalam Kristus, yaitu dalam banyak hal, ketika pun kita bergumul dengan dosa kita, kita ingat Kristus sudah mati untuk dosa itu juga. Dan sebaliknya, seberapapun kemampuan kita dalam melayani Tuhan, dalam pengudusan kita, ingat, kita tidak bisa selamat daripada dosa kita sendiri. Kita tetap membutuhkan anugerah Kristus menopang kita seumur hidup, sehingga identitas kita itu di dalam Yesus Kristus, di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Kadang-kadang ada yang theolog yang bicara theology of Lordship, bagaimana ketuhanan Kristus itu dalam kehidupan kita. Christ if not the Lord of all, is not the Lord at all. Kalau Kristus bukanlah tuan, Tuhan, tuan atas seluruh hidup kita, Dia bukan Tuhan atas hidup kita sama sekali. Sehingga ini bicara dalam berbagai aspek, Kristus mati menebus dosa hidup kita. Sehingga Kristus bukan cuma menebus bagian masalah theologis, dosa kita itu ada di dalam berbagai hal, ada di bagian aspek moral, ada yang di bagian paling dalam relasi, keuangan, studi kita, atau dalam bagian pekerjaan, hal-hal lain, dan kita membutuhkan pengampunan di semua ini dan kita perlu pertobatan di semua bagian itu. Tapi kita mengerti itu bukan karena kemampuan pertobatan kita atau kerendahan hati kita sedemikian itu kita berdosa sehingga kita mengaku lalu kita dilayakkan, tapi karena Kristus telah membayar pinalti atas nama kita, nah ini kita mengerti status identitas kita di dalam Kristus.

Dan juga kemudian dia katakan bahwa di sini terimplikasikan, implied ini di dalam Allah Roh Kudus tentunya, karena ketika bicara anugerah yang dicurahkan pada gereja, itu juga melalui Allah Roh Kudus yang diberikan ketika Pentakosta itu sendiri. Dan kita melihat makanya dalam bagian ini pengertian Allah Tritunggal yaitu Allah Roh Kudus yang dicurahkan pada gereja-Nya secara komunal dan juga secara personal, dan kita melihat itu adalah menjadi identitas kita yang baru. Makanya bagian dalam Kitab Roma itu mengatakan makanya kita bisa berseru oleh Roh Kudus itu bisa mendengar kita untuk berseru kepada Allah itu ya Abba. Maksudnya apa? Untuk kita bisa melihat Dia sebagai Bapa. Itu karena Roh Kudus yang tidak meninggalkan kita. Bukan kita lagi baik, lalu dia datang, kalau kita lagi jatuh dalam dosa, oh bye bye. Nggak lho. Justru Roh Kudus menginsafkan kita akan dosa kita. Demikian di dalam Yohanes katakan Roh Kudus menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Dan ketika kita bisa sadar akan dosa kita, itu adalah karena karya Roh Kudus. Dan itu diberikan pada gereja-Nya. Roh Kudus memang diberikan kepada gereja.

Ada orang theolog yang mengatakan hal terbesar yang diberikan kepada dunia itu adalah Allah Anak. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini Dia mengorbankan Anak-Nya yang Tunggal. Bukan kepada Saturnus, Jupiter, galaksi-galaksi lain, tidak, kepada dunia ini. Karunia terbesar Allah kepada dunia ini adalah Allah Anak. Tapi kemudian karunia terbesar kepada gereja-Nya yaitu Allah Roh Kudus. Ini identitas kita.  Setiap kali kita mendengarkan firman Tuhan baik secara komunal maupun personal, kita melihat dalam bagian ini kita bukan cuma mau dengar hari ini Dia ngomong apa, tidak ada interest dengan saya pribadi dan seterusnya, tapi kita bersama-sama termasuk saya, adakah kita mendengarkan apa kata-kata isi hati Tuhan? Itu yang harusnya kita gumulkan. Saya pun sebagai hamba Tuhan.

Sehingga di bagian ini ketika disampaikan ini bukan cuma sekedar slogan atau formalitas, tapi ini merupakan identitas dan merupakan bagian inti dari iman Kristen dan identitas kita yang sejati, yaitu status kita, jati diri kita di dalam Allah Tritunggal. Dan bagian ini makanya kita bertumbuh semakin mengenal Allah kita, semakin mengerti Allah Tritunggal, bagaimana makin mengenal Kristus, bagaimana makin mengenal Allah Roh Kudus secara kesatuan, kita bertumbuh dalam kebenaran itu. Karena di dalam Alkitab, seperti kata theolog Gerald Bray, kamu baca Alkitab itu untuk apa sih? Ya untuk mengenal Allah. Ada orang yang baca Alkitab, “Wah saya jadi tahu lho kehidupan Daud seperti apa,” atau, “saya jadi tahu Musa kayak begini lahirnya,” atau, “kamu tahu itu siapa orang yang paling tua umurnya dalam Alkitab?” Trivia gitu ya. Nggak ada itu. Kita baca Alkitab itu untuk makin mengenal Allah. Itu tujuannya. Jadi tujuan theologis di sana. Tujuan untuk semakin mengenal Allah kita. Dan sebenarnya kalau semakin kita bertumbuh dalam kebenaran firman itu semakin mengenal Allah kita dalam relasional dan dalam pengertian, dan ini kita bertumbuh di dalam situ.

Dan sebagaimana Calvin katakan semakin kita mengenal Allah, semakin mengenal diri. Mengenal Allah, mengenal diri, ini berkorelasi. Semakin kita mengenal Allah, semakin kita mengenal diri kita. Dan ada bagian-bagian lain dalam kehidupan, kalau kita melihat diri kita, kita akan makin mengenal Tuhan kita. Kita akan makin mengenal Tuhan dan terutama dari firman-Nya, kita makin mengerti siapakah Tuhan kita, dan itu selalu berkait dengan kita mengerti diri kita sendiri. Kembali lagi ya identitas diri kita siapa, jati diri kita siapa.

Lalu kemudian Paulus katakan yaitu dengan ungkapan bahwa, “Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu.” Ini ungkapan yang, ada katakan itu sebenarnya mengambil dari orang kebiasaan salam dari orang Yunani khaire, diterjemahkan menjadi istilah charis, jadi kasih karunia, jadi grace di situ. Lalu ada yang bilang ini kombinasi dengan salam orang Yahudi. Orang Yahudi suka salamnya itu shalom. Khaire itu terjemahan greeting atau rejoice gitu ya, itu diubah jadi charis, kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu.

Bagian ini ada biasanya beberapa komentator bahkan berkata ini tipikal Paulus, dia ngomong tanda dan damai diberikan padamu. Iya kasih karunia dan anugerah, kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu. Tapi saya percaya dalam bagian ini seperti di awal saya katakan itu bukan sekedar kebiasaan, grace and peace to you, tapi adalah menjadi suatu yang dikomunikasikan Paulus ini kehidupan kita memang berada dalam anugerah dan damai sejahtera itu. Makanya dalam teks yang lain itu biasanya varian yang lain itu katakan anugerah dan damai sejahtera di dalam Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus. Itu ada juga yang seperti itu. Karena ini bukan sekedar kata-kata di sini tapi ada yang dikomunikasikan di sini yaitu berkaitan identitas kita, yaitu kita adalah orang yang membutuhkan anugerah itu sendiri.

Di bagian ini kita bisa mengerti kalau istilah maksudnya anugerah itu sendiri ya itu bagaimana pekerjaan Allah melalui Kristus yang dianugerahkan kepada kita, ini adalah anugerah keselamatan. Ini yang paling umum kan. Kita mengerti menjadi orang Kristen karena mendapatkan anugerah keselamatan itu. Sehingga ketika bicara anugerah ini bukan cuma sekedar sebutan seperti itu, tapi mengkomunikasikan ya itu jati dirimu itu kamu itu sudah diberi anugerah.

Saya tidak bahas lebih detail tentang pergumulan mereka seperti apa, tapi saya kaitkan dalam kehidupan. Kadang-kadang saya temukan orang ketika menggumulkan bagian-bagian firman, “Wah Pak susah ya.” Betul susah. Lalu ada lagi yang ngomong, “Kayaknya Alkitab terlalu ideal ya? Nggak realistis.” Lho memang Alkitab ngomong sesuatu yang ideal, tapi bukan untuk tidak terealisasi. Kenapa? Karena memang susah kalau secara daging, memang susah kalau cuma secara natur alamiah kita. Tapi kalau kita mengerti ada anugerah Tuhan, ya itu akan mampukan menjalankan itu. Dan ini harusnya kehidupan kita seperti itu. Kita jalani, beginilah kalau kita bisa jalan dengan sendiri, kerjain apapun ya kita sebut saja ya, mungkin kita tidak perlu anugerah lagi. “Oh, Pak saya bisa bertumbuh, saya bisa bertumbuh ya mengikut Tuhan itu dengan sendiri, ya saya nggak perlu anugerah. Ngapain doa? Kalau saya bisa kerjakan pelayanan ini dengan kekuatan saya sendiri, saya juga nggak butuh anugerah kan? Ngapain doa? Oh basa basi di depan.” No. Kita memang membutuhkan anugerah itu setiap harinya, bahkan setiap detiknya dalam kehidupan kita dan ini berkaitan dengan identitas kita itu, kita membutuhkan anugerah itu.

Ada kalanya ketika kita mengerjakan suatu pelayanan betapa sulit sekali, saat itu kita mengerti butuh anugerah Tuhan.  Saya tidak tahu ya ketika kita berbicara ada pengerjaan pembangunan, saya yakin tim di bagian sini itu ada kesulitannya. Tapi karena itulah kita mengerti kita bersandar kepada anugerah. Anugerah itu dimana? Dalam waktu Tuhan, rencana Tuhan, bentuknya seperti apa itu nanti dalam kedaulatan Tuhan. Itulah namanya kita melangkah dengan iman. Lah iya. Kalau semuanya sudah siap, dikerjain, ya doanya cuma kaya basa basi dong, loh ini sudah jalan kok. Coba saya ngomong ya, waktu ini nyala mic, emang kita doakan? “Oh Tuhan tolong supaya mic ini nyala.” Ya nggak lah dipencet aja, kenapa? Apa adanya kan keseharian. Loh ini kalau saya doa, “Oh Tuhan tolonglah supaya gelas ini nggak jatuh.” Saya lepas, ya ini jatuh. Ini alamiah. Ini artinya kalau cuma nature, alamiah ya kita akan bisa ukur dimana bisanya dari sana gitu ya. Tapi kalau kita melihat dari perspektif anugerah, kita bergumul kalau memang ini kehendak Tuhan, rencana Tuhan, bentukan Tuhan dalam kehidupan kita, kita lihat anugerah ada Tuhan memang menopang makhluk hidup di dunia ini.

Sebagaimana Pak Tong katakan ya ketika Tuhan memberikan perintah-Nya, Dia pasti juga berikan janji-Nya. Juga ini bisa sebaliknya dikatakan ketika Tuhan berikan janji-Nya, janji-janji Tuhan itu juga pasti ada yang dia anugerahkan. Jadi ada, kalau mau dibilang hak dan kewajiban yang seimbang di situ ya. Jadi ketika kita mendengarkan bagian-bagian perintah Tuhan dalam kehidupan kita, itu kita mengerti ada janji Tuhan, penyertaan Tuhan juga dan anugerah Tuhan. Bukan kalau lulus ya kasih nilai lulus, kalau nggak ya udah kamu gagal, gugur. Nggak, Tuhan menyertai dalam prosesnya itu. Dan kadang-kadang dalam jatuh bangunnya itu juga ya memang itu tidak terhindarkan.

Kita kadang-kadang berpikir gitu ya. Oh kalau saya jatuh berarti Tuhan lagi off, nggak ya. Kadang-kadang bisa seperti itu, tapi kalau kita lihat dalam Doktrin Roh Kudus bukan berarti lagi off ya. Mungkin lagi di tempat lain gitu ya, nggak. Dia tidak pernah off. Tapi, di dalam kalau kita mengerti dari bagian ini, kesabaran Tuhan atau kalau mau pakai istilah toleransi Tuhan, Dia mengizinkan juga itu terjadi. Supaya apa? Ya supaya kita belajar. Ya iya toh. Kadang kita belajar dalam kehidupan sehari-hari, belajar firman Tuhan kadang-kadang ada juga yang ngomong, “Wah, Pak untuk saya lakukan susah, jangankan lakukan, Pak, untuk mengerti ini saja susah.” Tapi kita mengerti ada Tuhan yang proses bentuk kita, dan ketika kita mengertinya keliru, ketika kita gagal, itu bagian proses pembelajaran. Makanya sebenarnya istilah toleransi ya, Tuhan itu bertoleransi loh, tapi bukan kompromi. Toleransi masuk dalam pengertian itu ketika Dia mengizinkan kita ada jatuh juga, meski tidak terlepas dari kedaulatan Allah, bukan untuk Dia menyetujui tapi mentolerir dalam satu artian di situ, bukan karena Dia juga off di sana, tapi memang Dia memproses kita belajar karena ada bagian-bagian memang kita gagal, jadinya belajar. Ya iya kan dalam kita mengikut Tuhan, kita bisa jatuh bangun. Tapi Tuhan bukan on off ikut kita, sori bukan Tuhan ikut kita tapi kita ikut Tuhan, tapi Tuhan bukan on off menyertai kita, tapi adalah ketika itu diizinkan terjadi ya menjadi proses pembelajaran bagi kita.

Mungkin contoh sederhana ya, disini ada pemuda, sebagai orang Kristen siapa yang nggak pernah salah jatuh cinta misalnya gitu ya, contoh paling umum ya. “Oh Roh Kudus langsung kasih tau jodohku ini, langsung tepat gitu ya.” Nggak juga. Nggak juga lho. Saya juga pernah ditolak beberapa kali gitu ya. Ya kehidupan memang begitu. “Oh Tuhan tolong kasihani saya,” ternyata dia nggak mau. “Oh Tuhan tolong saya dia balik ke saya,” ya nggak tentu langsung bisa. Tapi kalau dipikir ya itu proses pembelajaran karena Tuhan itu tidak coercive, Dia tidak paksa kita kaya gitu. Tuhan itu pimpin kita dan proses kita. Kalau saja kita mau memiliki kelembutan hati untuk mau belajar taat meski di masa-masa sulit ini. Ya contohnya orang patah hati. Loh itu saya juga alami, oh itu memang kehidupan demikian. Terus apa? Roh Kudus salah pimpin? Loh kita yang salah mengerti, kita yang salah memahami. Dan kembali dalam bagian yang kalau Roh Kudus izinkan memproses kita mengerti, kadang-kadang ya kehidupan itu di dalam proses itu ya mungkin untuk minimal kita melihat adakah kita tetap ikut Tuhan meski dalam kesulitan itu. Itu ada bagian-bagian seperti itu.

Tentu ini bukan untuk merayakan tiap orang patah hati ya. Saya juga sedih ketika ada teman saya patah hati dan seterusnya, tapi ya ada bentukan Tuhan disana. Itu ada teman saya cerita, “Le,” dia panggil saya gitu ya, “saya sudah kejar dia berapa lama akhirnya sia-sia dong.” Saya juga nggak ada jawaban sih. Tapi saya mengerti adalah Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, kebaikan yang mungkin memang kamu belum lihat sekarang dan it’s okay. Taat Tuhan, kita dipanggil percaya. Itu satu. “Oh Allah bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan, oh ini baik?” Iya itu bicara memang dari perspektif Allah, Dia yang tahu totalitasmu itu seperti apa bentukannya. Kita di saat itu ya nggak tentu tahu dan kadang-kadang memang nggak tahu untuk beberapa saat. Tapi pada akhirnya akan tahu entah di dunia atau mungkin di dunia yang akan datang. Ada bagian juga begitu.

Ada bagian-bagian kesulitan dalam kehidupan yang kita nggak mengerti loh kenapa Tuhan izinkan ada kesulitan itu ada. Tapi kita mengerti Dia tetap memproses kita, ada tujuan kebaikan itu. Tujuan kebaikan itu karena ada anugerah-Nya yang terus tidak meninggalkan kita dan memproses kita, dan anugerah-Nya juga dalam pemeliharaan-Nya itu yang terus berkelanjutan akan mampukan kita melewati semuanya itu dan untuk kita semakin bertumbuh melakukan kebaikan.

Contoh ya kadang-kadang dalam kehidupan kita temukan ini kan, misalnya orang pernah jatuh dalam narkoba lalu dia bertobat, benar-benar bertobat, dan dia bersaksi bagaimana dia bebas dari narkoba. Wah dipakai Tuhan. Ada juga bergumul jatuh dalam homoseksualitas wah bergumul di hadapan Tuhan, sampai parah sekali seperti Christopher Yuan. Tapi terus dilepaskan, dan bisa jadi kesaksian. Tapi kalau mau kondisi tadi ya, waktu dia alami proses kesusahan ini ya, maaf ya direhabilitas atau di penjara, atau lagi digebukin kepala penjaranya dan seterusnya, jadi saya lihat itu baik. Saya ngomong apa adanya aja ya. Kita baru bisa lihat baik itu ya waktu dia kasih kesaksian itu. Dan bahkan habis itu mungkin dia tetap bergumul ya, cuma tiap-tiap orang kalau sudah jatuh ke dalam itu ada pergumulan sendiri kita juga nggak lihat. Tapi dia dipakai Tuhan untuk menggenapi rencana Tuhan, karena ada anugerah Tuhan juga yang menopang dia di dalam kuasa-kuasa seperti itu meski dia belum bisa pahami.

Loh memang kita tidak dipanggil untuk mengerti semuanya. Iya toh kita tidak maha tahu. Allah yang Maha Tahu. Kita juga tidak maha kuasa, makanya kita serahkan kepada Dia. Dan menariknya ketika kita mengerti Dia adalah Bapa kita, dan Dia bahkan menebus kita melalui pengorbanan Kristus dan akan terus menyertai kita menjadi identitas di dalamnya. Kita mengerti adalah meski kita mungkin nggak mengerti total, tapi dalam proses waktu Tuhan akan bukakan itu. Nanti baru, “Oh dulu begini tuh karena Tuhan mau jadiin ini. Kenapa Tuhan izinkan ini?” Ya seperti misalnya Christopher Yuan, kenapa Tuhan izinkan dia jatuh dalam homoseksualitas? Kemudian hari Tuhan bisa pakai dia menjadi hamba Tuhan di mana kesaksian dia dipakai dengan kuasa Tuhan. Itu cara Tuhan.

Tapi ingat kita tidak pakai satu metode ini tiru semua. Loh iya kan. Itu bicara pengalaman hidup dia. Loh ada orang-orang yang jatuh homoseksualitas itu tidak kuat loh, dan tidak semua bisa bersaksi seperti ini dan juga kita jangan coba-coba gitu ya. Ini bisa bangun nggak ya? Ada orang jatuh dalam narkoba, wah bisa lepas. Kalau gitu kita pikir, “Oh saya dipakai Tuhan, saya narkoba,” gitu ya. Nggak tentu. Itu namanya jangan mencobai diri sendiri dan juga jangan mencobai Tuhan. Tapi ada bagian tertentu ketika Tuhan izinkan jatuh ke situ, dan termasuk lagi dosa-dosa kita bolak-balik di situ kok, tapi adakah kita lihat, itulah kita membutuhkan anugerah Tuhan day by day, hari demi hari.

Kalau kita masih bisa jalankan pelayanan kita, kita masih bisa ibadah kepada Dia, kita masih mau bertumbuh mengenal Dia, kita masih boleh menyembah Dia, itu karena semata-mata anugerah. Dan ini diingatkan kepada jemaat Tesalonika. Paulus berkata saya mau meninggalkan kamu tapi anugerah Tuhan dan identitas kamu itu di dalam Kristus, bukan di dalam saya. It is unfortunate gitu ya, sangat disayangkan kalau jemaat Tesalonika harus saya tinggalkan, tetapi ingatlah, Allah Tritunggal tidak tinggalkan kamu, dan khususnya Allah Roh Kudus yang dicurahkan pada gereja, dimateraikan melalui gereja itu tidak pernah meninggalkan kamu, dan identitas kamu tidak bergantung kepada saya, rasul, dan Silwanus dan Timotius.”

Kembali lagi ya di dalam saya sharing-kan di sini secara keseluruhan kerangka berpikirnya itu kita mengerti identitas kita itu di situ. Ada waktu kita bersyukur ketika kita bisa menikmati suatu fellowship bersama dengan orang kudus, dengan orang-orang rohaniawan, kakak-kakak rohani dan seterusnya. Tapi ada kah ketika kita berpisah, biarlah kita ingat tetap pelayanan kita itu di dalam Tuhan dan identitas kita tetap ada di hidup kita personally bukan hanya ketika komunal saja.

Dan kemudian dikatakan diberikan damai. Damai seperti tadi saya katakan shalom ya. Itu damai yang dikatakan adalah suatu relasi yang harmonis ya itu kalau mau bicara damai dengan Tuhan. Damai yang dengan Tuhan ini makanya dikatakan berkait dengan anugerah itu. Apakah anugerah yang Tuhan berikan? Yaitu kita diperdamaikan dengan Allah, yaitu di dalam Tuhan Yesus Kristus yang mati menebus dosa kita dan melalui Allah Roh Kudus menjadi materai dalam kehidupan kita memastikan keselamatan tidak hilang jadi kita tetap punya peace ya, damai.

Damai ini bukan kayak apa ya, tenang-tenang gitu ya nggak ngapa-ngapain ya. Ada teman saya pernah bilang, “Oh damai itu kalau saya bangun pagi-pagi, lihat matahari terbit, lalu di atas meja itu ada koran dan di sampingnya itu ada pisang goreng, ada kopi wah itu damai.” Tapi ini bukan bicara poin-poin seperti itu tapi bicara kita diperdamaikan dengan Allah karena sebelumnya kita adalah seteru Allah. Dan mengerti damai ini bukan karena kita mau berdamai tapi karena Allah yang menyediakan jalan pendamaian itu melalui pengorbanan Kristus ya. Dan Roh Kudus memimpin kita, tidak meninggalkan kita sehingga kita bisa damai dengan Allah itu. Dan dasar damai daripada Allah inilah yang menjadi dasar kita bisa berdamai dengan orang lain, sesama kita.

Nah ini bagian yang kita lihat bicara kalau kita bicara damai kepada Allah ya pasti akan goyah. Ini yang vital ya, paling utama, dasar paling penting dalam kita berdamai dengan Tuhan, tapi juga ini menjadi pengertian kita bisa berdamai dengan sesama. “Kalau kayak gini, sulit nih Pak. Gimana kita berdamai dengan semua orang?” Tapi menarik ya kalau kita melihat perjalanan Paulus dalam surat lainnya itu dikatakan usahakanlah berdamai dengan semua orang dan kadang-kadang juga gimana berdamai dengan semua orang gitu ya. Apalagi loh jemaat itu kan, dalam satu artian ya, jemaat-jemaat Paulus itu in conflict dengan pemerintahan, in conflict dengan sekitar. Tapi kok tetap dia bisa ngomong mengusahakan berdamai dengan semua orang yang kita tahu.

Sebenarnya kata kunci itu sedapatnya jika itu bergantung padamu, usahakan berdamai dengan semua orang. Maksudnya apa? Misalnya, ini misalnya. Saya konflik sama Pak Hendra, misalnya, saya konflik gitu, terus misalnya saya nggak mau damai. Misalnya ya. “Kenapa dia?” “Liturgisnya Pak Hendra, saya nggak mau.” Terus yang lain gimana ini Vikarisnya. Mengusahakan perdamaian itu adalah ya sudah datangi aja, mengusahakan berdamai itu. Tapi kan misalnya saya tetap nggak mau, ya itu masalah saya dengan Tuhan. Bisa nangkap sini ya? Kita yang membuka jalan untuk merestorasikan konflik itu, memulihkan dari menyelesaikan masalah itu. Kita berusaha berdamai. Tapi ketika yang sana, “Pak, saya benci kamu. Tetap saya itu, wah sudahlah lu keluar aja,” kira-kira gitu ya. Ya sudah itu masalah dia. Itu maksudnya kita mengusahakan berdamai dengan semua. Sedangkan itu bergantung pada kita, kita mengusahakan itu.

Dan itulah sebabnya ketika kita ada di dalam bagian ini ya ketika Paulus berbicara kepada jemaatnya di dalam bagian-bagian lain juga, damainya ini bukan untuk, ya kamu kompromi, yang kedua juga bukan untuk pokoknya kamu damai dengan pemerintah. Kalau damai dengan pemerintah, mereka stop jadi Kristen. Loh itu damainya. Karena Pax Romana itu, zamannya kaisar Roma, semua ikuti aturan Roma. Tapi makanya di dalam bagian ini ya kalau kita melihat bahwa posisi pokoknya against, pokoknya betul saja di situ, kita gagal mengerti karena ada bagian-bagian Alkitab mengatakan bukan menurut jemaat itu anarkis, juga bukan menurut jemaat jadi revolusi, kudeta gitu ya kepada pemerintah, tapi mengusahakan damai dan makin hari itu taat tetap kepada pemerintah, taat kepada ordo yang di atas meski sulit.

Kalau saya mau ganti misalnya di sini ya, “Kasih karunia dan kuasa menyertai kamu.” Kita bisa berevolusi mungkin, kita bahkan mungkin bisa kudeta melawan dia. Namun dimampukan dari yang jahat itu berdamai, terutama dengan Allah dan dari pendamaian dengan Allah itulah kamu bisa berdamai dengan sesama. Sedapat mungkin kita mengusahakan itu jika itu bergantung pada kita. Kita membuka pintu untuk apa ya, merestorasi relasi itu.

Ketika kita sedang menjalani itikat baik, orangnya nggak mau.  Bagaimana? Ya sudah. Tapi kalau memang masih bergantung pada kita, ya kita usahakan dulu. Dan kembali ya bagian-bagian lain saya mau ngomong apa adanya ya tentang kadang-kadang ada pergumulan dengan berbagai situasi ya, kadang-kadang kompleks ya. Belum bisa berdamai ya setidaknya mungkin kita datangi dulu. “Wah ini kan COVID. Susah berdamainya Pak. Mau datang nanti bawa virus.” Minimal kita datang, dan kita punya hati mengusahakan itu dan meminta belas kasihan Tuhan karena memang itu dalam anugerahnya kita bisa berdamai dengan Tuhan dan juga bagaimana shalom itu, damai itu kita nyatakan pada sesama. Dan itu yang menjadi identitas kita. Dan itu biarlah kita mengerti juga menjadi vocation kita, panggilan kita dalam kita mengikut Tuhan.

Tiap-tiap orang ada panggilannya masing-masing. Entah menjadi hamba Tuhan seperti yang tadi diumumkan ya ada Retret Khusus Hamba Tuhan, iya tapi kalau bukan menjadi hamba Tuhan secara full-time terus mau jadi hamba siapa? Hamba setan secara full-time? Ya nggak dong. Terus iya saya juga hamba Tuhan, tapi nggak full-time, contoh. Kalau bukan hamba Tuhan, hamba siapa? Menarik ya kemarin pendeta Rudi ngomong itu ya kita itu sebenarnya semua orang itu adalah hamba Tuhan, kalau nggak hamba setan. Kita semua hamba Tuhan dan kita juga melayani full-heart ya. Full-heart dan full-time di dalam satu artian di dalam semua waktu kita.

Tapi kalau saya mau bilang dalam pembahasan minggu kemarin jelas ya tapi tidak semua orang memang memiliki panggilan untuk menjadi jabatan Hamba Tuhan itu. Itu beda. Tapi ketika memang misalnya kita, “Oh saya tahu Pak, panggilan saya tidak di sana.” Ya nggak apa-apa. Tapi di dalam bagian lain kita tahu nggak panggilan kita itu seperti apa? Kalau memang saya tidak dipanggil jadi hamba Tuhan, terus kontranya ya hamba setan? Tetap hamba Tuhan. “OK saya bukan penuh waktu. Iya harus penuh waktu dan penuh hati dan seterusnya, tapi saya tidak dipanggil di jabatan gerejawi.” Kalau kamu tidak di jabatan gerejawi, panggilanmu di mana? Ini yang harus kita gumulkan, vocation kita di sana.

Ya itu kalau mau dibilang kita itu sebenarnya di dalam Roh Kudus kita kembali lihat secara komunal dan ada secara personal, Tuhan tempatkan kita itu di posisi yang mana? Kalau dalam artian tertentu kalau mau pinjam bahasa marketing, position-nya apa? Selling point-mu apa? Kira-kira gitu ya bahasa pemasaran. Mau pakai kamu untuk jualan apa? Kira-kira di situ ya kalau mau pakai bahasa marketing gitu ya. Tapi ya bukan, bukan untuk jualan, tapi adakah kita ketika berfungsi nggak sih di dalam Kerajaan Tuhan itu seperti apa. Contohnya seorang sales di dalam suatu company, dia berfungsi ketika dia menjalankan salesnya itu. Simple kan. Ya itu mungkin vocation-nya secara di dalam perusahaan itu. Tapi dalam gereja Tuhan kita mengerti nggak panggilan kita di mana? Peran kita di mana? Tuhan tempatkan kita itu untuk mengerjakan apa?

Kalau kita cuma bisa ngomong, “Oh Pak yang penting saya sudah percaya Tuhan Yesus, saya selamat, nanti mati masuk surga.” Itu betul, keselamatan itu bukan end, bukan akhir dari pekerjaan Kristus. Dan apalagi ketika Roh Kudus diberikan pada gereja-Nya itu adalah untuk pertumbuhan kerohanian kita, pertumbuhan juga dalam moral kita, tapi dalam banyak hal untuk menjalankan apa maksud Tuhan dalam kehidupan kita di dunia. Untuk apa kita ada di dunia? Dan itu berkaitan identitas kita, vocation kita, panggilan kita itu seperti apa.

Mungkin saya akan tutup saja dengan suatu ilustrasi di sini ya karena itu bagian personal sekali kita harus gumulkan dan tanyakan di hadapan Tuhan. Serius. Saya diselamatkan dan masih dikasih hidup ini sampai hari ini itu buat apa? Bukan cuma tunggu nanti mati, masuk surga. Kalau gitu di surga saja. Lah iya kan? Tapi untuk apa kalau saya masih ada di sini?

Saya pakai ilustrasi yang tadi sempat disebut oleh Pak Hendra ya tentang lagu kedua ini, dalam kertas lagu kita, yang digarap oleh Fanny Crosby. Fanny Crosby ini adalah orang yang buta, tapi dia bisa dipakai menuliskan syair-syair yang indah. Benar ya. Ini kan mungkin sederhana ya. Tapi kalau mau dibilang ya itulah vocation dia. Kalau kita sejaman dia, sezaman dengan Fanny Crosby kita tahunya dia itu sebagai perempuan yang buta, simple ya. Ini perempuan buta. Tapi ketika dia kerjakan panggilannya, dia tulis syair itu, ya itulah panggilan dia. Bahkan menariknya sampai zaman sekarang ya maaf kata ya apa adanya saya ngomong kalau bukan karena dijelaskan liturgis kalau dia buta, kita juga nggak tahu. Tapi syairnya, pujiannya sudah bertahun-tahun bahkan dari saya kecil saya tahu beberapa lagunya. Itulah menjadi vocation dia, menjadi panggilan dia, dia menjadi saluran berkat Tuhan. Dia bukan cuma, “Oh saya ini buta, bisa apa?” Tapi saya kerjakan. Yang menarik ketika di dalam waktu Tuhan, Tuhan bisa pakai sedemikian luar biasanya, dinyanyikan bahkan sampai ratusan tahun. Nah itu vocation dia.

Kita mengingat Fanny Crosby itu bukan sebagai si buta itu, tapi orang yang penyair itu, menuliskan lagu-lagu Kristen yang begitu indah. Dinyanyikan dan dipakai Tuhan di berbagai kesempatan, KKR beberapa kali dinyanyikan. Uniknya, kalau tidak kita baca biografinya, kita nggak mengerti dia itu sebenarnya buta. Tapi itulah kita mengerti dia menjalankan panggilan dia

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kehidupan kita di dunia ini sementara tapi ketika kita kembali pada Dia, kira-kira kita dipakai untuk dikenal seperti apa? Kita akan ingat sebagai apa? Identitas kita akan dikenal sebagai siapa? Dan apakah kita sungguh boleh dipakai menjadi alat Tuhan, menjadi saluran berkat menyatakan kasih Tuhan, karunia berkat Tuhan, damai sejahtera pada sesama kita, karena kita pun dipanggil sebagai gereja-Nya yang memang dipanggil khusus untuk memuliakan kerajaan-Nya. Mari kita satu dalam doa.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *