Hukum Moral Tuhan, 27 Januari 2019

Ef. 5:3-5

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak ibu saudara yang dikasihi Tuhan, di dalam pertemuan dua minggu lalu kita sudah melihat di dalam ayat satu dan ayat kedua pasal yang kelima, di situ dikatakan kita perlu menjadi orang-orang yang mengikuti teladan Kristus dalam kehidupan kita, kita perlu memiliki suatu hidup sebagaimana Kristus Yesus hidup dalam kehidupanNya, yaitu khususnya di dalam hal mengasihi. Dalam bicara mengenai kasih yang Kristus nyatakan, apa yang menjadi ciri-ciri yang ada di dalam kasih Kristus itu sendiri, saya percaya ada tiga hal yang menjadi ciri utama di dalam kasih Kristus yang perlu kita teladani dalam kehidupan kita. Pertama adalah pengampunan. Di dalam Kristus memberikan kasihNya kepada diri kita, pertama-tama Dia perlu memberikan pengampunan terlebih dahulu dalam kehidupan kita, supaya ketika kita diampuni kita boleh menerima kasih dari pada Bapa di dalam Kristus dalam kehidupan kita, dan ini adalah hal yang penting bagi setiap orang yang ada di dalam Kristus. Paulus menghendaki kita juga memiliki pengampunan Kristus dalam kehidupan kita sehingga melalui pengampunanNya itu, suatu pengampunan yang diberikan kepada orang-orang yang bersalah kepada kita, maka disitu cinta kasih Kristus boleh dinyatakan kepada orang itu melalui kehidupan kita.

Tetapi pada waktu kita berbicara mengenai pengampunan dan cinta kasih yang diberikan kepada kita melalui pengampunan. Pertanyaannya adalah? Siapa yang layak menerima pengampuanan itu? Siapa orang  yang pantas untuk menerima perkataan “saya mengampuni engkau” dari kehidupan saya? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di dalam aspek ini kita kembali kepada apa yang menjadi hal yang Kristus lakukan bagi kehidupan kita. Pengampunan yang Kristus yang lakukan itu adalah suatu pengampunan yang tanpa syarat, jadi pada waktu Yesus mau memberikan kasihNya pada kita, Alkitab berkata memang Allah memilih orang berdasarkan kedaulatan Dia, siapa yang akan Dia selamatkan, siapa yang akan Dia biarkan di dalam kebinasaan, atau di dalam dosa yang berujung kepada kematian kekal. Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab berkata itu adalah kedaulatan Allah dalam memutuskan. Saya percaya kedaulatan Allah tidak pernah diberikan atau ditentukan berdasarkan ada aspek-aspek tertentu atau nilai-nilai tertentu di dalam diri manusia atau diri kita yang membuat Allah yang berdaulat itu untuk memutuskan memilih kita dan tidak memilih yang lain. Alkitab berkata itu adalah sesuatu yang  ditentukan di dalam kekekalan, Alkitab berkata itu seperti ketika Allah memilih anaknya Ishak, yaitu Esau dan Yakub, di dalam kandungan. Kenapa Allah memilih Yakub, apakah karena ia lebih baik dari Esau? Alkitab berkata sebelum mereka lahir ke dalam dunia ini Allah sudah mengasihi Yakub terlebih dahulu dan membenci Esau, dalam Roma pasal yang 9. Itu berarti pada waktu Allah memilih Yakub pemilihanNya itu tidak pernah didasarkan perbuatan yang Yakub lakukan terlebih dahulu, atau bukti-bukti yang yang sudah ia berikan di dalam ketaatannya kepada Tuhan, tetapi Allah memilih dia terlebih dahulu, Allah mengasihi Yakub terlebih dahulu daripada Esau. Dan bahkan kalau kita terapkan di dalam kehidupan kita, Allah telah mengasihi kita terlebih dahulu, Allah telah memilih kita terlebih dahulu sebelum kita ada dan terlahir di dalam dunia ini atau bahkan sebelum orangtua kita merencanakan keberadaaan kita ada di dalam dunia ini. Maka itu berarti pada waktu Tuhan memilih kita keberadaaan kita yang dipilih oleh Tuhan tidak pernah ditentukan oleh syarat, tidak ada suatu kebaikan yang kita berikan, tidak ada suatu bukti ketaatan yang kita nyatakan dalam kehidupan kita. Seperti pada waktu Allah juga membawa Israel keluar dari Mesir. Apa yang membuat Allah membawa Israel keluar dari Mesir, apakah karena mereka mengingat akan Allah, apakah mereka berbakti kepada Allah? Saya percaya itu bukan menjadi syaratnya karena pada waktu itu dikatakan mereka turut di dalam penyembahan berhala. Lalu apa yang membuat mereka keluar? Alkitab berkata karena Allah ingat akan janjiNya kepada bapa Abraham untuk mengeluarkan mereka dari Mesir, perbudakan, dan memberikan Tanah Perjanjian kepada mereka, itu yang membuat Allah mengeluarkan mereka dari perbudakan Mesir.

Jadi pada waktu Allah mengasihi, kasih Allah itu adalah suatu kasih yang didasarkan pada kedaulatanNya, tetapi juga kasih itu adalah suatu kasih yang didasarkan pada suatu pemberian Allah yang cuma-cuma tanpa syarat sama sekali. Dan ini menjadi satu hal yang perlu kita terapkan dalam kehidupan kita dan teladani. Siapa yang layak menerima kasih kita? Siapa yang layak untuk menerima pengampunan kita, apakah ketika orang itu sudah berubah, apakah ketika orang itu sudah bertobat dari dosanya, apakah ketika orang itu sudah menyadari kesalahannya, apakah ketika orang itu datang kepada kita dan membuktikan kalau memang dia adalah orang yang layak mendapatkan pengampunan kita, karena kebaikan-kebaikan dan perubahan-perubahan yang ia telah  berikan dalam kehidupan kita di hadapan kita? Saya percaya ini bukan menjadi suatu dasar kita mau mengampuni seseorang, ini bukan menjadi suatu syarat kita menerima seseorang kembali dalam kehidupan kita dan mengampuni dia sebagai saudara kita atau teman kita; tetapi yang menjadi dasar adalah kalau kita mengasihi, belajarlah seperti kasih Kristus, kasih yang tanpa syarat, kasih yang tidak ada catatannya di belakangnya, kasih yang tidak menuntut sesuatu dari orang yang kita kasihi untuk dia terlebih dahulu berbuat sesuatu kepada kita supaya kita bisa memberikan kasih kita kepada diri dia. Saudara, saya percaya ini adalah hal yang penting sekali, ini adalah hal yang harus kita pelajari untuk kita bisa hidupi dalam kehidupan kita, karena ini adalah karakter Allah sendiri. Karakter Allah kita adalah karakter kasih, diri Dia adalah Allah yang kasih itu sendiri. Alkitab berkata yang dinyatakan melalui jiwa Dia yang memelihara baik orang yang baik dan orang yang jahat, yang merawat dan memberikan matahari dan hujan, baik pada orang yang jahat maupun orang yang benar dalam kehidupan dunia ini. Dan kita adalah anak-anak Allah, dan kita mewarisi karakter Allah yang kasih ini dalam kehidupan kita. Cirinya itu adalah kalau kita mengasihi orang yang tidak layak untuk menerima kasih kita, itu adalah orang yang memiliki kasih Kristus dalam kehidupan dia. Dan untuk itu saya percaya butuh orang yang tidak layak. Selama Saudara merasa  bahwa Saudara mengasihi karena ada orang-orang yang layak untuk dikasihi, saya katakan kita belum pernah bisa berkata kita memiliki Kristus. Kasih Kristus hanya baru bisa kita katakan kalau ada orang yang tidak layak dalam kehidupan kita dan tetap kita kasihi dalam hidup kita. Itu baru kita miliki kasih Kristus.

Misalnya kita ambil contoh seperti ini. Pada waktu kita berelasi dengan dua-tiga orang, di dalam relasi diantara dua tiga orang itu ada orang yang semula mereka adalah orang yang baik pada diri kita, ketika mereka memiliki kebaikan dengan diri kita otomatis secara normal kita juga baik sama mereka kan? Pada waktu mereka menyakiti hati kita, secara otomatis bagaimana? Menyakiti dia juga kan, atau paling tidak kita diemin, kita tidak pedulikan perkataan dia, perbuatan dia, kita mulai menjauh dari kehidupan dia, itu yang kita lakukan secara otomatis. Pertanyaan saya, kalau kita lakukan itu apakah kita masih mengasihi? Umumnya yang akan kita lakukan adalah kita akan fokus kepada yang mungkin kalau kita punya 3 temen, kita fokus yang dua ini, yang satu ini kita lupakan. Lalu pada waktu kita melupakan yang satu ini, kita fokus pada dua orang ini yang baik dengan kita dan kita baik dengan mereka, kita berkata, “Saya masih punya kasih dalam kehidupan saya,” umumnya begitu. Kalau kita melakukan ini saya percaya itu bukan kasih, kita belum bisa mengasihi, karena apa kita hanya mendekati orang yang baik dengan kita dan mengasihi orang yang mengasihi kita, sedangkan orang yang satu ini dimana? Kita anggap dia pernah ada di dalam kehidupan kita, sehingga kita tidak perlu memikirkan dia, kita tidak perlu susah hati kita dan juga kita tidak perlu belajar untuk mengasihi diri dia. Padahal Tuhan Yesus berkata kalau kita mau mengasihi fokusnya bukan kepada orang yang baik ini saja. Pada waktu kita dikatakan orang yang mengasihi dengan kasih Kristus, kepada orang yang menyakiti diri kita, bukan yang baik, karena apa karena pada waktu kita fokus kepada orang yang menyakiti kita, baru kita bisa sunguh-sungguh berkata saya punya kasih. Saudara ini adalah hal yang serius, saya selalu walaupun di dalam pergumulan, saya tahu ini adalah hal yang sulit sekali ya, bagaimana kita bisa menerima orang yang sudah menjahati kita. Bagaimana kita bisa belajar mengampuni dan memberikan suatu kebaikan, ampuni saja tidak cukup dan dengan cara kita diami dengan orang itu kita tidak memusuhi orang itu, tetapi kasih selalu aktif. Kasih itu selalu ada kesempatan untuk melakukan suatu kebaikan, kita akan approach untuk kebaikan orang tersebut. Bagaimana kita bisa lakukan itu? Saya percaya nggak mudah, apalagi kalau orang itu sudah melukai hati kita yang paling dalam sekali. Tapi panggilan kita bukan panggilan bagi orang dunia. Panggilan kita itu adalah panggilan sebagai anak-anak Allah yang telah menerima kasih Kristus dalam kehidupan kita. Makanya kita perlu membagi kasih itu dalam kehidupan kita.

Yang ketiga adalah, kasih itu adalah suatu kasih yang self-sarifice. Kasih yang mengorbankan diri. Setiap orang yang mengasihi, cirinya adalah dia pasti mengorbankan diri. Di dalam bimbingan pranikah saya pernah tanya kemarin, “Cinta itu apa sih?” Lalu mereka kemudian buka catatan, wah saya tahu ini jawabannya. Kenapa? Pak Dawis sudah pernah ajarin, cinta itu apa? Perintah. Cinta itu adalah sesuatu yang Tuhan katakan, yang harus kita taati. Itu bukan hanya berbicara tentang perasaan, itu adalah perintah Tuhan Allah. Saya tahu itu, saya bilang. Nggak, jangan gunakan definisi saya. Cinta itu apa sih? Cinta itu adalah… ayo, bagi suami istri, kalau kita ngomong saya mencintai itu artinya apa? Bagi yang pacaran, apa? Saya mencintai itu artinya apa? Apa artinya? Nggak tau ya? Korban? Saya mencintai engkau berarti saya berkorban untuk engkau, begitu? Saya yakin mulai hari itu cinta jadi beban ya. Saya mencintai itu artinya apa? Prioritas? Orang yang kita cintai itu prioritas? Maksudnya apa, semua keinginannya kita dahuluin begitu? Kitanya ke mana? Waktu saya memprioritaskan Tuhan, “aku”-nya di mana? Tuhan-nya di atas, “aku”nya di bawah? Berarti aku menyangkali apa yang jadi kepentinganku demi untuk kepentingan orang itu? Itu cinta? Setuju nggak? Cinta itu memberi kasih, memberi cinta, memberi kasih, memberi sesuatu kebaikan kepada orang lain. Pada waktu kita memberikan satu kebaikan kepada orang lain, yang kita perlu lakukan apa? Saya percaya di baliknya itu ada unsur penyangkalan diri dan pengorbanan diri. Tadi Yudha bilang, kalau kita mencintai, ada prioritas. Berarti orang yang kita kasihi pasti kita akan dahulukan kepentingan dia, kita akan berusaha untuk menyenangkan dia, sesuai dengan siapa punya kesenangan? Apa yang dia pandang baik kan? Tentunya ada di dalam koridor firman, saya percaya seperti itu. Jadi pada waktu kita mendahulukan seseorang, kita memperhatikan orang, khususnya mungkin ibu dan anak lebih terasa ya. Waktu anak sakit sedikit, ibu sudah mulai memperhatikan. Anak nangis sedikit ibu sudah memperhatikan, seperti itu, dan berusaha cari tahu, kenapa ya dia nangis? Apa yang jadi masalah, seperti itu. Dan itu mengatakan, saya mengasihi. Jadi pada waktu saya mengasihi seseorang, yang berubah itu bukan orang yang kita tuntut, tetapi diri kita yang harus berubah demi orang yang kita kasihi. Pada waktu kita berkata, saya mengasihi Allah, yang perlu berubah siapa? Diri kita untuk menjadi serupa dengan Kristus, itu namanya saya mengasihi Kristus. Jadi kalau kita berkata, “Saya anak Tuhan. Tuhan, saya mengasihi Engkau, karena itu maka Tuhan, saya berdoa minta Tuhan memberkati saya punya keinginan, pekerjaan saya dan segala sesuatu yang saya minta, dan Kau harus memberkati itu karena saya mengasihi engkau,” itu salah, itu bukan saya mengasihi Tuhan, tapi saya menuntut Tuhan mengasihi saya.

Jadi Saudara, pada waktu kita mengasihi, saya percaya sekali kasih itu disertai dengan self-sacrifice, pengorbanan diri kita demi orang yang kita kasihi, seperti apa yang Kristus lakukan pada waktu Dia berkata “Saya mengasihi manusia yang berdosa”. Lalu ketika Dia berkata, “Saya mengasihi manusia berdosa” apa yang Kristus lakukan? Dia datang ke dalam dunia, Dia menjadi sama seperti manusia yang berdosa tapi Dia tidak berdosa. Supaya apa? Manusia yang berdosa mengerti kalau Dia mengasihi kita yang berdosa sampai dengan cara Dia harus naik ke atas kayu salib untuk menyatakan cinta kasih Dia. Itu namanya cinta. Jadi Saudara, pada waktu kita berkata “saya adalah orang Kristen, saya adalah orang yang perlu meneladani cinta kasih Kristus,” aspek ketiga adalah kita perlu belajar self-sacrifice. Jangan tuntut orang untuk berubah, tetapi setiap kita harus menuntut diri kita sendiri untuk berubah demi kebenaran, demi kebaikan, demi orang yang kita kasihi. Itu namanya cinta, dan khususnya demi Kristus. Kita harus berubah demi orang yang kita kasihi. Saudara, ini yang Paulus katakan ya. Tiga karakter atau ciri dari pada cinta kasih Kristus yang kita perlu teladani dalam kehidupan kita sebagai orang-orang Kristen, sebagai anak-anak Allah.

Setelah berbicara mengenai hal ini, Paulus mengajak kita melihat pada larangan-larangan yang kita tidak boleh lakukan dalam kehidupan kita. Paulus mengajak kita untuk berkata, kamu jangan terlibat lagi di dalam percabulan. Kamu jangan terlibat lagi dalam rupa-rupa kecemaran, keserakahan, menyebutkan itu saja pun jangan ada di dalam mulutmu. Dan kamu jangan terlibat lagi di dalam kata-kata yang kosong, kata-kata yang sembrono, kata-kata yang tidak ada artinya seperti itu, dalam kehidupan kita. Saudara, kenapa Paulus setelah berbicara mengenai kasih, Paulus tidak berhenti hanya di dalam kasih, tetapi dia membawa kita masuk ke dalam larangan? Bukankah kita cukup hanya mendengar cinta kasih Kristus, lalu ketika kita mengetahui cinta kasih Kristus kita hidup di dalam hal-hal yang baik dalam kehidupan kita itu lebih baik, lebih memotivasi kehidupan kita daripada Paulus berkata jangan lakukan ini, jangan lakukan itu dalam kehidupan sebagai orang Kristen. Perlu tidak hal-hal yang menjadi larangan itu untuk kita mengerti dalam hidup kita? Saya percaya kita perlu mengerti hal ini karena pertama, Alkitab sudah katakan itu. Saya percaya, setiap perkataan yang dicatat oleh Allah di dalam Kitab Suci itu tidak ada yang tidak berguna atau tidak berarti, yang kita boleh buang dari hidup kita. Semuanya punya kepentingan. Semuanya punya tujuan. Dan salah satu tujuan dari pada kenapa Tuhan memberikan larangan-larangan dalam kehidupan kita setelah kita mengerti hal-hal yang baik yang Tuhan sudah lakukan dalam hidup untuk kita lakukan dalam diri kita kepada orang lain, itu adalah supaya kita mengerti kalau kehidupan kita sebagai orang Kristen itu haruslah merupakan kehidupan yang kudus.

Saudara, orang yang mengerti cinta kasih tetapi cinta kasih itu yang tidak dibatasi dengan suatu peraturan moral dalam kehidupan kita atau kebenaran firman Tuhan, maka cinta kasih itu akan menjadi suatu cinta kasih yang kompromi dan cinta kasih yang berdosa. Pada waktu kita berbicara mengenai “saya mengasihi engkau,” maka kasih seperti apa yang harus kita tunjukkan, nyatakan? Kalau kita punya cinta kasih itu di luar dari pada hukum Tuhan, maka saya percaya cinta itu akan berarti “saya bersetubuh dengan engkau, saya melakukan segala sesuatu untuk melampiaskan hawa nafsu saya untuk menyatakan saya suka kamu dan kamu suka saya,” mungkin bisa seperti itu. Tapi Alkitab berkata, tidak bisa seperti itu. Alkitab berkata, kamu punya kasih seperti kasih Kristus kamu perlu berkorban. Benar, kamu perlu memberikan suatu kasih yang tanpa syarat, itu adalah suatu kebenaran, tetapi ingat baik-baik, pada waktu kita mengasihi, jangan jatuh di dalam percabulan, misalnya. Itu berarti apa? Kasih kita tetap harus ada di dalam koridor yang benar. Kasih kita harus di dalam koridor terang dari pada terang Tuhan dalam kehidupan kita. Kalau kita tidak memiliki koridor ini, maka saya percaya kita akan berusaha melampiaskan semua nafsu kita, rasa sayang kita, rasa suka kita pada seseorang, tetapi sebenarnya bukan kasih yang ada di balik itu tetapi hawa nafsu, sesuatu yang berosa. Makanya Tuhan perlu memberikan satu koridor ini, sehingga pada waktu kita belajar mengakui kasih, kita belajar mengenai larangan yang tidak boleh kita lakukan untuk menyatakan cinta kasih itu di dalam kehidupan kita, kita belajar kasih orang Kristen mungkin bisa paling tidak sedikit dimengerti oleh orang dunia. Karena pada waktu Tuhan beranugerah mungkin mereka bisa memiliki satu kasih yang walaupun kasih orang dunia kadang kala umumnya itu adalah tanpa pengampunan dan tanpa anugerah di dalamnya, tanpa kesempatan untuk memperbaiki kelakuan, tetapi mungkin ada orang-orang dunia yang memiliki kasih karunia yang lebih yang mereka bisa mengerti, “Oh kasih itu ada pengorbanan, perlu ada self sacrifce.” Tetapi, pada waktu kita melihat ada kasih orang Kristen yang ada di dalam Kristus dan kasih orang dunia, bagaimana kita mengasihi? Boleh tidak kita menyatakan kasih seperti orang dunia menyatakan kasih yang tanpa batas itu? Boleh tidak kita menyatakan kasih seperti orang dunia yang berkata, “Aku suka kamu, kamu suka aku, ya silahkan lakukan apa yang kita inginkan”? Saya percaya tidak, tetep ada batasan dimana kita perlu mengerti melalui larangan itu sehingga kita bisa ketika menyatakan kasih. Kasih kita ada perbedaannya dengan kasih orang dunia. Ada sesuatu kekudusan. Ada suatu pemisah antara kasih orang dunia  dengan kasih yang ada di dalam Kristus.

Hal lainnya, kenapa kita perlu peringatan ini adalah karena melalui peringatan ini kita diajak untuk melihat kalau firman Tuhan itu adalah firman yang bukan untuk sesuatu keyakinan kita hafalkan. Sesuatu yang kita katakan sebagai sebuah teori mengenai Tuhan, mengenai perkataan Alkitab, tetapi pada waktu kita melihat pada larangan itu maka kita mengerti ketika kita mempelajari firman, ada suatu tindakan yang harus kita lakukan. Ada satu aplikasi yang harus kita jalankan dalam kehidupan kita. Kita nggak bisa berkata, “Oh firman Tuhan itu berbicara mengenai sesuatu perbuatan yang kudus,” tetapi kita berkata, “Kudus itu apa?” Kudus itu jangan hidup dalam suatu kecemaran, jangan hidup dalam pencabulan, jangan hidup dalam keserakahan, maka itu berbicara mengenai engkau memiliki suatu kehidupan yang kudus. Jadi pada waktu kita mengerti mengenai larangan itu kita dibawa untuk melihat bahwa “saya tahu firman itu membuat saya hidup sebagai anak Allah.” Tapi Tuhan melalui Paulus berkata, “Kalau engkau adalah anak Tuhan, coba lihat hidupmu, apakah engkau menunjukkan hidupmu adalah anak Tuhan?” Melalui apa? Larangan yang Tuhan berikan yang kita jalankan dalam kehidupan kita. Jadi Saudara, iman itu adalah sesuatu yang harus kita tunjukkan. Iman itu adalah sesuatu yang harus kita perlihatkan kepada dunia. Memperlihatkan iman itu berarti harus memperlihatkan perbedaan antara apa yang saya percayai dengan apa yang dunia percayai, apa yang kita lakukan dengan apa yang dunia lakukan dalam kehidupan mereka. Itu semua harus bisa ada bukan dari hal-hal yang positif yang Tuhan berikan pada kita, cinta kasih yang Tuhan berikan pada kita, tetapi larangan. Kita belajar untuk membedakan diri kita dari orang dunia yang berdosa. Saudara, itu sebabnya larangan adalah suatu hal yang penting, supaya apa? Kita tahu arah kehidupan kita itu kemana? Supaya kita ingat kembali apa yang menjadi tujuan Tuhan di dalam menebus kita, apa yang menjadi tujuan Tuhan di dalam memilih kita.

Kalau kita kembali ke Efesus 1:4, Alkitab berkata, ketika Allah memilih kita tujuannya apa? Supaya kita hidup kudus dan  tak bercacat cela di… ? Haloo..? Saudara jadi Kristen kenapa? Ikut-ikutan? Orang tua jadi Kristen saya jadi Kristen? Saudara kenapa jadi Kristen? Supaya diselamatkan? Dapat hidup kekal? Kenapa kita jadi Kristen? Semuanya buka Efesus 1:4 ya. Sudah dapat? Efesus 1:4 kita baca sama-sama ya, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan.” Kita stop di sini ya.. yang penting itu bukan cuman “memilih kita sebelum dunia dijadikan,” yang belakangnya itu penting juga lho. Kita lanjutkan ya, “Supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Saudara, kita harus ingat ini baik-baik, Tuhan memilih kita, Tuhan memberikan anak-Nya untuk mati di kayu salib, tujuan utama itu bukan supaya kita menerima surga, itu adalah satu konsekuensi dari pada kehidupan yang sudah dikuduskan oleh Tuhan melalui darah Kristus, tetapi tujuan utama Tuhan memilih kita, menebus kita melalui Kristus adalah supaya kita memiliki suatu kehidupan yang kudus dan tidak bercacat di hadapan Tuhan. Ini harus menjadi tujuan hidup orang Kristen. Kenapa Tuhan memberikan larangan-larangan bagi kita? Tujuannya supaya kita hidup di dalam kekudusan dan tak bercacat cela di hadapan Tuhan Allah. Tanpa ini saya percaya hidup kita menjadi sia-sia. Tanpa ini semua, semua perbuatan semua iman yang kita percaya, saya percaya kepada Kristus, itu tidak menjadi sesuatu yang berarti di hadapan Tuhan karena kita tidak memiliki kekudusan, karena kita tidak memiliki satu kehidupan yang tidak bercacat di hadapan Allah. Kalau kita kaitkan dengan pasal 5, kita bisa katakan kudus dan tidak bercacat dalam hal apa? Dalam  hal cinta kasih yang kita nyatakan dalam kehidupan kita. Seperti cinta kasih Kristus yang Kristus nyatakan dalam kehidupan kita atau bagi kita. Atau kita nyatakan bagi orang lain.

Jadi Saudara, larangan adalah hal yang sangat penting. Larangan perlu kita perhatikan supaya kita bisa memiliki satu kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan, satu kehidupan yang kudus dan tak bercacat di hadapan Tuhan, itu yang dikatakan Paulus dalam ayat 3-5. Tuhan ingin kita, atau Paulus ingin kita betul-betul bisa memiliki cinta kasih Kristus dalam kehidupan kita, betul-betul punyai suatu kehidupan dalam pengudusan yang tidak bercacat di hadapan Tuhan Allah, yang berkenan di hadapan Tuhan Allah. Tapi Saudara, sebelum kita membahas bagian hal ini, kita harus memberikan satu cacatan yang terlebih dahulu supaya kita diingatkan kembali. Pada waktu Tuhan memberi kan perintah kepada kita jangan lakukan ini, jangan lakukan itu dalam kehidupan kita, satu hal yang harus kita ingat baik-baik adalah perintah larangan tersebut tidak pernah diberikan kepada semua manusia. Perintah yang diberikan untuk tidak boleh jatuh dalam percabulan, kecemaran, ataupun di dalam keserakahan itu adalah satu perintah yang Paulus hanya berikan kepada orang Kristen, hanya kepada gereja, hanya kepada gereja-gereja Efesus atau semua gereja yang ada dalam dunia saat itu sampai kepada dunia saat ini. Maksudnya apa Paulus memberikan perintah ini hanya kepada gereja bukan kepada semua dunia? Saya katakan, ini maksudnya adalah pada waktu kita melihat pada perintah, jangan melihat ini adalah  suatu peraturan moral yang  diberikan pada semua manusia supaya manusia bisa mentaati hukum itu sehingga merekapun bisa hidup dalam satu hidup yang kudus dan tak bercacat seperti orang Kristen hidup kudus dan tak bercacat di hadapan Tuhan. Hukum moral yang Paulus berikan itu adalah suatu hukum yang hanya diberikan kepada gereja, maksudnya adalah hanya orang Kristen yang punya kemampuan untuk bisa mentaati itu, hanya orang Kristen yang menerima kasih karunia Allah, anugerah keselamatan dari pada Yesus Kristus  yang baru bisa memiliki satu kehidupan yang berkenan di hadapan Allah. Itu tidak pernah dimaksudkan untuk semua manusia. Karena itu pada waktu kita melihat hukum moral jangan pernah memiliki suatu pemikiran, “Oh itu berarti kalau saya melakukan ini saya bisa berkenan di hadapan Allah maka karena itu saya juga ceritakan ini kepada orang lain yang bukan Kristen supaya mereka juga hidup dalam kekudusan, mereka tidak jatuh dalam percabulan, mereka tidak hidup dalam rupa-rupa kecemaran, mereka tidak hidup dalam keserakahan, maka mereka bisa menjadi orang yang berkenan di hadapan Allah.” Jawabannya tidak, tidak mungkin. Itu hanya bisa terjadi kalau seseorang sudah diperbaharui dari dalam hati terlebih dahulu oleh Roh Kudus, atau kita telah diubahkan terlebih dahulu oleh Tuhan menjadi manusia yang baru, baru kita bisa menjadi seseorang yang hidup sesuai dengan hukum moral yang Tuhan berikan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu sebabnya di dalam bagian ayat yang kedua kalau kita baca ada hal yang penting di sini dikatakan, pertama, Kristus telah menyerahkan diriNya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah; dan di dalam ayat yang satu kita adalah orang-orang yang disebut sebagai anak-anak yang terkasih. Maksudnya adalah, kalau kita adalah orang yang bisa menjadi anak, anak itu bukan sesuatu yang kita bisa usahakan, itu sesuatu yang diberikan kepada kita karena persembahan Kristus yang harum itu, yang sudah diperkenan oleh Allah Bapa, baru bisa membuat kita bisa menjadi anak Allah, tanpa itu kita nggak mungkin bisa menjadi anak-anak Allah seperti Kristus yang kudus, Kristus yang tidak bercacat itu di hadapan Allah. Saya harap, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita akan lihat satu persatu dari bagian ini. Hal pertama yang perlu kita jauhi dalam kehidupan kita adalah percabulan. Percabulan di dalam bagian ini kata Yunaninya adalah porneia, porneia itu artinya apa? Porneia ini sangat luas sekali artinya, ini bukan saja sebagai suatu tindakan yang berkaitan dengan hubungan seksual, tetapi ini adalah suatu tindakan berdosa dalam kaitan dengan segala jenis dosa seks. Jadi pada waktu seseorang terlibat di dalam segala jenis persetubuhan yang tidak wajar maka dia sudah jatuh di dalam dosa percabulan. “Segala sesuatu” itu maksudnya adalah ketika seseorang berhubungan dengan binatang itu sudah percabulan, ketika seseorang berhubungan dengan laki-laki lain atau perempuan lain yang sesama seks, dia sudah jatuh dalam percabulan. Pada waktu seseorang akhirnya menikah dengan saudara yang memiliki aliran darah yang dekat, Alkitab juga bahkan ngomong dia sudah jatuh di dalam percabulan. Menikah antar saudara saja tidak boleh. Ketika seseorang itu hidup dalam kehidupan seks paedophillia, kepada anak-anak, itu sudah jatuh dalam percabulan. Dan bahkan Alkitab berkata ketika seseorang bersetubuh dengan isteri orang lain, suami orang lain, dia sudah jatuh di dalam dosa percabulan. Jadi dosa percabulan atau istilahnya dosa porneia ini adalah segala hal yang berkaitan dengan jenis dosa seks tetapi secara khusus itu berbicara mengenai hubungan seks antara suani dengan pelacur atau suatu tindakan perzinahan yang kita lakukan dalam kehidupan kita. Dan Paulus berkata semua itu tidak boleh ada dalam kehidupan orang Kristen. Bukan cuma tidak boleh kita lakukan, Paulus juga berkata semua itu bahkan tidak boleh kita ucapkan dalam kata-kata kita, hal-hal yang bersifat mengenai dosa percabulan. Jadi Saudara, jangan biasakan untuk berbicara tentang hal-hal yang bersifat seksual. Bukan salah bicara masalah seks ya, saya percaya ada bagiannya dalam kehidupan orang Kristen. Tetapi ketika kita membicarakan itu sebagai sesuatu yang cabul, sesuatu yang berdosa, sesuatu yang mungkin menggerakkan hasrat kita, napsu kita pada seseorang atau pikiran kita yang membuat kita ingin melakukan dosa itu dalam kehidupan kita, Paulus bilang jangan pernah sekali-kali katakan itu dalam kehidupan orang Kristen.

Bahkan Alkitab berkata dengan begitu keras sekali, Paulus bertindak kepada orang-orang seperti ini, kalau Saudara baca di dalam 1 Korintus pasal yang ke-6 dan pasal yang ke-5 kita bisa lihat bagaimana Paulus itu menegur orang-orang Korintus dengan begitu keras sekali. Pada waktu Paulus melihat pada orang-orang Korintus yang hidup di dalam perzinahan, hidup dengan pelacur, Paulus berkata, “Kamu tahu tidak, orang Kristen, pada waktu engkau bersekutu dengan seorang pelacur engkau menjadi satu dengan diri mereka, padahal engkau itu siapa? Engkau itu adalah anak Allah yang telah dipersatukan dengan Kristus. Mungkin tidak sesuatu yang kudus itu bisa bersatu dengan yang berdosa?” Itu tidak mungkin, dan kita nggak boleh lakukan itu. Tapi di bagian pasal yang ke-5 Paulus berkata dengan lebih keras lagi, “Ketika engkau hidup di dalam dunia ini sebagai orang Kristen, engkau lihat diantara engkau ada orang yang berzinah, hidup dalam percabulan, dimana ada anak yang menikah dengan isteri dari papanya sendiri, hidup serumah dengan isteri papanya sendiri, bersetubuh dengan isteri papanya sendiri, lalu apa yang engkau lakukan? Engkau diam saja.” Paulus bilang, “Engkau tidak bisa diam, engkau harus menegur mereka dan engkau harus berdukacita karena tindakan yang dia lakukan.” Saudara, orang Korintus diam melihat tindakan berdosa itu di hadapan mereka, Paulus bilang nggak bisa seperti itu, kamu harus menegur, bahkan teguran saja tidak cukup, kita harus bersatu di dalam Roh, berdoa menyerahkan orang itu untuk diserahkan kepada iblis supaya tubuhnya binasa tetapi rohnya atau jiwanya diselamatkan. Saya percaya masalah percabulan itu menjadi suatu masalah yang serius. Pada waktu kita mengikut Kristus, kenapa gereja itu selalu digambarkan sebagai mempelai dari Kristus? Saya percaya ini bicara mengenai suatu relasi yang erat, intim antara orang Kristen dengan Kristus yang adalah Mempelai pria. Kita adalah mempelai wanita, kita adalah milik Kristus, yang berhak menguasai kita hanya Kristus, dan kalau kita serahkan dalam kecemaran itu seperti seorang perempuan yang memiliki lelaki simpanan dalam kehidupan dia, yang bagi suaminya itu adalah hal  yang sangat tercela sekali, yang tidak bisa diterima sama sekali. Saudara, itu yang harusnya kita miliki. Pada waktu bercabul itu seperti kita memiliki ilah-ilah lain dalam kehidupan kita dan Tuhan tidak suka hal ini, makanya Tuhan berkata tidak boleh ada percabulan sama sekali. Tuhan sudah memberikan wadah yang benar dalam kehidupan kita, yaitu pernikahan. Makanya di dalam 1 Korintus 7 juga dikatakan kalau Saudara tidak tahan hidup selibat, dan jangan pernah berpikir mungkin mencoba-coba Saudara mungkin kuat di dalam kehidupan selibat, selama Saudara berusaha hidup selibat tapi Saudara terus digerakkan oleh napsu untuk bisa bersetubuh dengan pasangan yang lawan jenis, maka mungkin Saudara tidak kuat selibat. Kalau dalam kondisi ini bagaimana? Paulus bilang menikahlah, cari pasangan hidup, kawin, dan jangan hidup dalam dosa seks di luar pernikahan, tetapi hiduplah di dalam wadah yang benar di dalam pernikahan karena itu adalah sesuatu yang Tuhan akan berkati di dalam kita mengikuti apa yang Tuhan katakan. Saudara, jauhkan percabulan. Jangan biarkan percabulan ada di dalam pikiran kita, jangan biarkan percabulan bahkan ada di dalam hidup kita karena Tuhan tidak suka akan dosa itu.

Yang kedua adalah kecemaran. Kecemaran di dalam bahasa Yunani adalah akatharsia. Akatharsia atau kecemaran maksudnya apa? Kalau kita lihat di dalam konteks dari ayat yang ke-3 mungkin kita bisa berkata, “Oh kecemaran itu adalah berkaitan dengan sesuatu yang bersifat seksual seperti percabulan.” Memanng di dalam Alkitab ada bagian-bagian yang mengkaitkan antara kecemaran dengan percabulan, sehingga pada waktu kita bilang “sesuatu yang cemar” itu berbicara mengenai sesuatu yang berkaitan dengan suatu persetubuhan yang tidak wajar atau yang berdosa dalam kehidupan kita, mungkin bisa seperti itu. Tetapi pada waktu Paulus bilang “Jauhkanlah dari pada rupa-rupa kecemaran,” ada kata “rupa-rupa” itu yang maksudnya adalah kecemaran yang Paulus maksudkan itu melampaui dari pada dosa seksual. Misalnya kalau kita Baca dalam efesus 4:19, “Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.” Kecemaran itu maksudnya apa? saya percaya disini bukan berbicara mengenai dosa percabulan atau dosa yang berkaitan dengan seksualitas saja. Tapi segala hal yang berkaitan dengan hawa nafsu itu adalah kecemaran. Dan kalau kita kaitan dengan Galatia 5:19, “Perbuatan daging telah nyata, yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu,” maka kita bisa ngomong kecemaran adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan keinginan daging. Jadi Saudara, pada waktu Paulus bilang “Jangan kamu hidup di dalam kecemaran,” maksudnya adalah jangan kamu ikuti keinginan dagingmu atau keinginan hawa nafsumu, segala sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat duniawi dalam pemikiranmu, jangan ikuti itu karena itu adalah hal yang cemar. Bahkan Tuhan Yesus menggunakan istilah yang lebih menjijikan lagi. Pada waktu dia berbicara dengan orang-orang Farisi, Dia menegur orang Farisi dengan begitu keras dengan kalimat seperti ini, “Hai orang Farisi, engkau itu seperti kuburan yang dilabur putih di luarnya itu tampak baik, bersih, putih tetapi di dalamnya itu ada tulang belulang yang busuk yang bau ulat yang menggrogoti semua,” sesuatu yang cemar. Jadi maksud Yesus adalah pada waktu bicara mengenai kecemaran itu adalah suatu yang begitu menjijikan sekali dihadapan Tuhan. Dan Tuhan ingin itu tidak boleh kita lakukan. Pada waktu kita menuruti keinginan daging kita,  pada waktu kita mengikuti pemikiran pemikiran kita yang berdosa, pada waktu kita melakukan tindakan perilaku yang tidak bermoral dalam kehidupan kita, pada waktu kita mengikuti hasrat hati kita yang berdosa, pada waktu kita mengikuti pikiran pikiran yang tidak sesuai dengan pemikiran Alkitab, pada waktu kita hidup di dalam pesta-pora di dalam dunia ini, dan yang lain lain yang tidak sesuai dengan Kitab Suci, Alkitab berkata kita hidup didalam kecemaran. Dan kecemaran itu adalah sesuatu yang sangat menjijikan sekali dihadapan Tuhan dan Tuhan tidak ingin kita lakukan itu dalam kehidupan kita dan bahkan untuk mengatakannya saja pun kita tidak boleh dalam kehidupan kita. Saudara, hal yang sangat serius sekali.

Jadi orang Kristen itu enak tidak? Saya pikir banyak hal yang mungkin kita harus belajar membatasi diri. Saya bukan berbicara mengenai legalis, tapi ambil contoh saja seperti ini kalau hal yang bersifat percabulan itu tidak boleh katakan saja dari mulut kita, kira-kira aplikasi hidupnya apa ya? Nonton film bentar bentar ada hal cabul muncul didepan muka kita, baca majalah banyak sekali majalah yang tidak baik, buka internet hal hal itu bisa kita liat di internet dengan begitu gampang sekali. Ini aplikasinya bagaimana? Saya pikir kita perlu bikin batasan sebagai orang Kristen. Ada hal hal yang perlu kita katakan pada diri kita sendiri. Saya nggak bukapun, saya nggak lihatpun saya nggak rugi kok. Kenapa saya harus buka dan lihat itu daripada akhirnya itu semua akan masuk kedalam pikiran saya membuat saya mengingat terus berfikir terus berimajinasi terus berdosa dalam kehidupan saya? Kenapa saya harus lakukan itu? Lebih baik saya tidak sentuh itu sama sekali, itu lebih baik. Jadi terlihat seperti orang yang akhirnya kayaknya kuperkurang pergaulan, ya? Saya pikir nggak juga ya. Saudara bedakan pendidikan sama yang bersifat nafsu ya. Saya pikir kalau dokter belajar hal hal seperti itu, mereka bukan berbicara soal hal-hal yang berkaitan dengan nafsu tapi mereka berbicara mengenai permasalahan yang berkaitan dengan medis penyakit untuk pengobatan seseorang. Ini saya pikir nggak masalah. Tapi kalau kita melihat itu untuk melampiaskan nafsu kita dan kedagingan kita, lebih baik kita hindari itu. Jangan bermain-main di dalam hal tersebut karena Tuhan tidak suka. Jadi enak nggak hidup sebagai  orang Kristen? Baik ngggak? Baik nggak bisa keluar dari itu? Saya pikir semua orang yang pernah terlibat dalam pornografi mungkin akan berkata, “Lebih baik saya tidak terlibat didalam aspek itu.” Tetapi masalahnya adalah mereka tidak bisa keluar lagi, sulit sekali lepas dari pada hal hal itu. Kita yang masih muda kita mungkin yang masih belum pernah terlibat jangan pernah masuk ke situ. Apalagi Paulus berkata, “Kita sekarang sudah dibebaskan dari pada dosa yang sebelumnya kita terikat, jangan sekali-kali kita main-main masuk dalam kondisi seperti itu lagi, karena Tuhan tidak berkenan akan hal itu. Ini hal yang kedua ya kecemaran.

Dan yang ketiga adalah dosa keserakahan. Saudara Keserakahan maksudnya apa? Kalau kita perhatikan bahasa aslinya. Maka Keserakahan ini bisa satu sisi berarti Keserakahan TeTapi di sisi lain bisa berarti mengingini apa yang bukan menjadi milik kita atau mengingini suatu yang menjadi milik daripada saudara kita seperti yang dicatat didalam hukum yang ke 10. Jadi pada waktu kita melihat kepada istri orang lain atau suami orang lain  dan kita mengingini itu artinya kita sudah jatuh di dalam Keserakahan. Pada waktu kita melihat barang barang milik orang lain yang kelihatannya baik dan kita mengingini milik mereka itu berarti kita sudah jatuh dalam dosa Keserakahan atau dosa mengingini milik orang lain. Saudara dan Tuhan berkata kita tidak boleh melakukan itu. Kita harus jaga mata. Dan saya percaya apa yang ayub katakan itu ada benarnya ya. Ia berkata : Saya berjanji dengan mata saya sendiri untuk membatasi apa yang boleh saya lihat dan apa yang tidak boleh saya lihat. Dan mungkin itu berbicara mengenai saya juga membatasi hati saya sendiri hal hal apa boleh saya ingini dan apa yang tidak boleh saya ingini dalam kehidupan kita. Saudara saya percaya ini adalah hal yang kalau kita ikuti itu akan membawa kita jatuh ke dalam suatu kehidupan yang menyalahkan sesuatu. Percabulan mungkin suatu dosa. Kecemaran adalah suatu dosa dihadapan Tuhan. Tetapi ketika saudara sudah memutlakan itu maka saudara sudah jatuh kedalam dosa Keserakahan. Saudara sudah begitu mengini itu saudara ketika mengingini itu saudara sudah tidak perduli lagi akan segala sesuatu yang lain. Saya kadang kadang kalau melihat orang yang sudah punya sesuatu hasrat yang besar sekali akan sesuatu, ia akan buang segala sesuatu yang lain. Dia sudah tidak perduli lagi anaknya bagaimana dia tidak perduli istri nya seperti apa suaminya bagaimana dia tidak perduli relasi pertemanan itu akan rusak atau tidak bahkan dia tidak perduli rumah tangga nya hancur sekalipun dia akan kejar itu mati matian dan dia harus dapatkan itu. Saudara apakah ini sesuatu yang benar. Saya percaya kalau kita bertanya kepada orang itu mereka akan bilang ya saya punya hati disitu kok saya punya hasrat disitu saya mengingini itu. Bagi saya itu adalah sesuatu yang baik. Tapi Saudara saya percaya apa yang dilarang Tuhan itu gak ada yang baik. Apa yang dilarang Tuhan itu semua adalah fantasi manusia kalau kita bisa melihat itu sebagai sesuatu yang baik. Pada waktu kita melihat keluar seorang perempuan lebih berharga daripada istri sendiri yang mulai mengakibatkan rumah tangga hancur dan bahkan anak sendiri berantakan semua kehidupan mereka. Itu bukan sesuatu yang baik itu semua fantasi imajinasi akan hal hal yang kita pikir baik tapi sebenarnya itu membawa kita ke dalam kehancuran. Realitanya darimana ? Keluarga kita semuanya kita korbankan demi orang itu. Makanya orang yang sudah jatuh di dalam dosa ini, saya pikir dia akan sulit sekali untuk melihat kebenaran. Dia akan terjerat dan melihat kepada hal hal yang kelihatannya begitu indah begitu memberikan kesenangan ke dalam kehidupan dia begitu memberikan kepuasan bagi diri dia. Tapi semua itu Saudara, saya katakan, Alkitab bilang, semua itu adalah hal yang jijik di hadapan Tuhan dan semua itu adalah hal yang berdosa yang harus kita tinggalkan karena tidak pernah membawa manfaat yang baik dalam kehidupan bagi keluarga kita, dan bahkan bagi diri kita sendiri.

Itu sebabnya pada waktu kita baca ayat yang ke-5. Paulus berkata, “Tahu tidak, orang-orang Kristen, pada waktu engkau hidup di dalam sebuah keserakahan itu”. Keserakahan ini saya secara khusus kaitkan dengan dosa percabulan, karena dalam konteks ini adalah bicara mengenai dari percabulan, kecemaran, dan bahkan sampai keserakahan. Paulus bilang, tidak ada bagian sama sekali bagi orang sundal, orang cemar, atau orang serakah, dan bahkan akhir penyembah berhala untuk bisa memiliki bagian dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Saudara, kalau Saudara tetap hidup di dalam percabulan, kalau Saudara hidup dalam kecemaran dan hidup di dalam keserakahan dan tetap peliharan itu, saya yakinkan itu berarti Saudara tidak ada di dalam Kerajaan Allah. Karena Kerajaan Allah tidak hidup di dalam hal-hal seperti ini. Ini bukan berbicara mengenai, kalau kita melihat Bahasa kata kerjanya, ini bukan bicara mengenai: Suatu hari nanti Saudara tidak akan ada di dalam sana. Tapi ini berbicara mengenai pada waktu kita hidup sekarang ini saja, di dalam segala percabulan, kecemaran dan keserakahan, itu berarti Saudara juga dalam proses menuju kepada hal yang merupakan hukuman kekal dari Tuhan Allah. Saat ini Saudara sudah ada di dalam hukuman itu, Saudara bukan lagi ada di dalam Kerajaan itu, dan suatu hari nanti Saudara benar-benar akan ada di luar dari Kerajaan Allah, kalau kita tetap mempertahankan kehidupan seperti ini.

Saudara, saya percaya ini adalah perkataan yang keras sekali dari Kristus melalui Paulus, tetapi di balik dari perkataan yang begitu keras sekali ada perasaan kasih yang begitu besar sekali dari Tuhan supaya kita tidak hidup di dalam segala kecemaran. Karena tidak ada sesuatu percabulan, kecemaran, dan keserakahan yang baik bagi diri kita. Tidak ada sesuatu yang bisa membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Tidak ada sesuatu yang bisa memberkati orang lain dari kehidupan kita. Tidak ada kasih di dalam hal-hal seperti ini,  yang ada adalah egoisme diri. Ini adalah cinta orang dunia. Coba perhatiin, semua rumah tangga yang berantakan karena mereka ingin dipuaskan demi kepentingan diri mereka dan perasaan mereka sendiri. Padahal Tuhan berkata, cinta itu bukan hanya sesuatu yang berkaitan dengan perasaan. Tapi cinta itu adalah perintah Tuhan yang harus kita taati. Itu bukan soal saya suka nggak suka, bukan soal saya melampiaskan kedagingan saya, itu bukan soal saya tidak mampu mengontrol perasaan saya. Tapi ketika kita berbicara mengenai perintah itu berarti, cinta adalah sesuatu yang kita pasti bisa kendalikan, pasti kita bisa belajar untuk mengasihi dan mencintai karena itu adalah perintah Tuhan. Perasaan kita yang katanya tidak bisa kendalikan, pasti bisa kita singkirkan demi kita mentaati apa yang menjadi kehendak Tuhan. Jangan jatuh ke dalam keserakahan, karena kita jatuh, kita sudah membuang Tuhan dari kehidupan kita, yaitu berarti kita membuang segala sesuatu yang baik dari kehidupan kita. Saudara, belajar kontrol diri, saya percaya itu adalah buah Roh Kudus. Pada waktu kita hidup dalam percabulan, sebenarnya percabulan itu adalah kurangnya atau tidak adanya kontrol terhadap nafsu seks yang kita miliki. Dan ini bicara tentang binatang, saya percaya. Tapi manusia itu bukan binatang, manusia itu adalah gambar Allah. Dan terlebih lagi, kita adalah gambar Allah yang sudah Tuhan tebus dan Tuhan pulihkan. Saya percaya, buah yang Tuhan akan munculkan itu adalah penguasaan diri. Dan ini yang harusnya muncul dalam kehidupan kita. Belajar menguasai diri di dalam hal nafsu seks.

Terakhir, apa yang bisa, kalau kita tidak boleh melakukan itu semua, lalu kita perlu lakukan apa? Di dalam ayat yang ke-4, Paulus bilang, yang kita perlu lakukan adalah ucap syukur. Saya percaya ini hal yang kita perlu belajar. Ucap syukur, yang mungkin seringkali kita lupa untuk mengucap syukur. Apalagi kalau hidup kita sudah semuanya terpenuhi, mungkin kita akan sulit sekali mengucap syukur. Tapi Saudara, melatih mengucap syukur itu hal yang baik. Dan bahkan di dalam Roma, Paulus mengaitkan mengucap syukur itu dengan seseorang yang sudah dilahirbarukan. Jadi kalau seseorang itu adalah manusia yang baru, dia akan dari hatinya itu belajar bersyukur kepada Tuhan di dalam segala sesuatu yang dia terima dalam kehidupan dia. Dan saya percaya, pada waktu kita belajar mengucap syukur, itu akan melepaskan kita dari hal-hal ikatan dalam dunia seperti katak dalam tempurung. Dan bawa kita melihat kepada cinta kasih Allah, anugrah Allah dalam kehidupan kita. Jadi membuat kita terlepas dari hal-hal yang merupakan system yang tertutup, dan membawa kita melihat kepada sesuatu yang di luar itu ada intervensi Tuhan dan kuasa Tuhan untuk memimpin kehidupan kita. Dan memberkati kehidupan kita. Dan dari situ, saya  percaya, itu bisa melepaskan kita dari semua dosa percabulan, kecemaran dan keserakahan. Misalnya, ambil contoh kaya gini, kita lihat perempuan lain, kita lihat istri kita. Yang kita lakukan apa? Komparasi atau bersyukur? Coba kalau kita lihat: “Iya ya, perempuan itu dia kayanya lebih cantik dari istri saya, dia juga lebih lembut dari istri saya. Istri saya itu di rumah kaya singa. Dia kayanya, kaya apa ya, kaya domba kaya gitu, bisa dielus-elus, nurut, dituntun sini sana mau. Di rumah, diomongin, langsung meledak kaya gitu.” Tapi kalau kita berkata, misalnya, “Oh iya ya, saya punya istri, Tuhan sudah karuniakan istri, saya bersyukur kepada Tuhan, walaupun agak galak, tapi galaknya itu untuk mengingatkan saya, misalnya, supaya saya jangan terlalu mau nyaman di dalam hidup ini, misalnya. Supaya saya bisa dikoreksi dalam kehidupan saya. Saya bersyukur dengan pasangan saya.” Saya percaya, pada waktu kita bersyukur, kita diajak untuk menerima dia, keberadaan dia. Dan kita diajak untuk menghargai dia dan melihat ada kebaikan dari pasangan kita. Yang mungkin selama ini kita tertutup, karena kita jarang bersyukur. Tapi pada waktu kita bersyukur, kita bisa melihat, oh Tuhan memberi orang ini dalam hidup saya, dan dia pasti yang terbaik dalam kehidupan saya untuk kebaikan saya dan kebaikan dia di dalam Kerajaan Tuhan. Dan saya percaya ini bisa menghindari kita dari dosa percabulan. Jadi bersyukur itu penting dalam segala sesuatu. Orang yang suka complain, orang yang suka mengkritik orang, kemungkinan besar dia jarang sekali bersyukur.

Saudara, saya percaya, ini adalah suatu perkataan yang sangat bermanfaat sekali, sesuatu yang bisa menolong kita keluar dari keadaan yang berdosa dalam kehidupan kita. Karena ucapan syukur memiliki kuasa untuk membawa kita melihat kepada pemeliharaan Tuhan dalam kehidupan kita. Saya akan akhiri khotbah saya di sini dan mari kita sama-sama masuk dalam doa.

Kami bersyukur Bapa, untuk firman yang boleh Engkau berikan bagi kami. Kami bersyukur, karena tidak ada sesuatu pun daripada firmanMu yang tidak bermanfaat untuk membentuk hidup kami, membimbing kami, menguduskan kami, dan menjadikan kami semakin serupa dalam Kristus. Walaupun seringkali di dalam kedagingan kami melihat bahwa, apa yang menjadi tuntutan Tuhan adalah sesuatu yang berat dan memberatkan kehidupan kami. Tapi, ya Bapa, tolong kami untuk bisa melihat, itu adalah keinginan daging dan bukan keinginan roh, itu adalah keinginan yang penuh dengan kecemaran yang membawa kami ke dalam suatu kehidupan keserakahan, penyembahan berhala yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Tapi biarlah kami boleh datang kepada Engkau, melihat kepada hukum-hukumMu, dan melihat kepada hukum-hukum itu sebagai sesuatu yang benar, sesuatu yang manis, sesuatu yang indah yang boleh kami lakukan dalam kehidupan kami. Karena hukum itu akan membawa kami dalam pengudusan, dan makin menyatakan siapakah identitas kami di hadapan sesama kami, bahwa kami adalah anak-anakMu. Tolong pimpin kami ya Bapa, tolong sertai kehidupan kami anak-anakMu. Dan biarlah hidup kami boleh makin diproses dalam pengudusan. Hanya dalam nama Tuhan Yesus Kristus, yaitu Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *