Datanglah Kerajaan-Mu, 26 Juni 2021

Lukas 13:18-21

Pdt. Michael Densmoor

Ini adalah sebuah perumpamaan yang Yesus memberi kepada kita, sangat sederhana tetapi sangat bermakna. Karena saya banyak melihat jemaat-jemaat di seluruh dunia ini – dan saya sudah kunjungi 52 negara – dan di mana saya melayani, di mana saya bertemu dengan jemaat Tuhan, di situlah saya sering bertemu dengan orang yang asal hadir, terus pulang dan tidak berbuat banyak untuk Tuhan. Mengapa kita di Indonesia sejak kemerdekaan sampai sekarang, gereja hampir tidak ada pertumbuhan secara persentase? Dari segi tempat dan jumlah bertumbuh, tetapi dari segi persentase kekristenan di Indonesia hampir tidak ada perubahan selama 70 tahun, mengapa?

Dulu GRII Jogja tidak ada, kemudian buka PRII, jadi MRII, sekarang jadi GRII, kenapa bisa bertumbuh terus? Kenapa jemaat bisa bertambah terus? Karena kita rajin melahirkannya. Karena orang dari gereja lain tidak dapat makanan rohani, pindah ke sini. Karena orang dari luar kota pindah ke sini untuk kuliah. Akhirnya kita lihat dengan mobilitas orang, dengan perkembangan biologis orang, gereja terus bertumbuh secara kuantitatif tetapi secara persentase kekristenan di seluruh Indonesia hampir tidak berubah. Berarti ada something wrong.

Kalau Injil tidak terbelenggu dan maju terus, kenapa kita tidak berdampak lebih luas? Kenapa di Yerusalem setelah Kristus bangkit, hanya beberapa orang saja bisa dalam tiga, empat tahun membuat Yerusalem, kota besar, penuh dengan Injil? Kenapa kita lebih dari pada jumlah murid Kristus, dalam 3 tahun tidak bisa memenuhi kota ini setiap sudut, setiap gang, setiap tempat dengan berita Injil? Saya lihat karena kita tidak memahami apa yang diajarkan oleh Yesus. Kita tidak menghayati, belum menghayati apa yang diinstruksikan Yesus kepada kita mengenai potensi dan tanggung jawab yang ada di setiap kita. Kalau setiap orang Kristen mengambil benihnya, mengambil raginya, dan mereka menaburkan, mereka mengadukkan, mereka mempekerjakan, suatu perubahan drastis akan terjadi bukan hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia.

Maka saya ingin hari ini sebagai suatu jemaat pulang dengan visi baru untuk hidupmu. Karena bukan pelayanan pemberitaan Injil meluaskan Kerajaan Allah bukan pelayanan pendeta semata, tetapi itu adalah pelayanan setiap jemaat, setiap orang yang beribadah di tempat Kristus, dan itu yang kita lihat di sini. Kristus, Dia berkata kepada mereka, “Seumpama apakah hal Kerajaan Allah”? Justru Kerajaan Allah adalah sesuatu yang terus diajarkan oleh Yesus. Ini menjadi topik pembicaraan Yesus sejak Dia mulai pelayanan-Nya sampai Dia di atas salib, Dia masih berkata terhadap penjahat di samping Dia, “Hari ini engkau akan bersama dengan Aku di dalam Firdaus karena Kerajaan-Ku hadir di sini.” Terus bicara mengenai apa? Kerajaan, Kerajaan, Kerajaan, ini menjadi topik pembahasan Yesus. Bahkan kita diajar untuk berdoa, Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah, apa? Kerajaan. Justru Yesus mengajarkan kita untuk berdoa supaya Kerajaan itu datang. Kita melibatkan diri di dalam misi karena nama Allah belum dikuduskan, berarti di bumi Kerajaan-Nya belum datang.

Saya pernah naik travel, saya nggak tahu kenapa zaman dulu kalau naik travel dari Jakarta ke Bandung, selalu sampai ke Bandung keliling kemana-mana. Dan selalu saya diberi berkat istimewa, di dalam travel saya selalu penumpang terakhir waktu turun dari mobil. Berkatnya apa? Saya putar-putar kota Bandung setiap gang, setiap jalan saya bisa lihat semua penumpang tinggal di mana. Akhirnya selalu terakhir saya diturunkan. Saya nggak tahu kenapa tapi begitulah. Suatu kali saya antara sadar dan tidak sadar, satu orang dibawa ke tempat masjid lagi ada khotbah, “Orang Kristen punya tiga Allah: Bapa, Anak, dan Maria.” Loh memang itu tiga Allah, tapi yang benar Bapak, Anak, Roh Kudus, jangan Maria. Saya cuma bisa berdoa, “Tuhan dikuduskanlah nama-Mu di tempat ini, di tempat ini di mana nama-Mu tidak dijunjung tinggi, tidak dihormati, biar nama-Mu menjadi terhormat di sini, tersohor.” Itu adalah doa kami, dikuduskanlah nama-Mu supaya nama Tuhan di tempat ini menjadi besar dan dihormati. Caranya apa? Kerajaan-Nya datang. Kerajaan Allah hadir di bumi akan membuat nama Tuhan kudus.

Jadi ada kaitan selalu dengan misi dan Kerajaan. Dengan fungsi kita di gereja karena kita di gereja dan kemuliaan dan ibadah, ibadah dan misi tidak bisa dipisahkan, ibadah dan firman tidak bisa dipisahkan, kenapa? Karena Kerajaan ini harus datang kembali. Di Alkitab kita lihat di masa lampau ada Kerajaan. Kerajaannya di mana? Di Taman Firdaus. Di Firdaus, Adam dan Hawa diberi mandat oleh Allah untuk memenuhi bumi dan untuk mengerjakan kebunnya, memenuhi bumi dan mengerjakan Taman Eden, Firdaus di sana. Kenapa mandat itu diberikan? Diberikan karena Adam dan Hawa adalah wakil Tuhan untuk mendatangkan Kerajaan Allah di setiap sudut dari seluruh ciptaan Allah.

Dan zaman dulu tidak ada iklan, tidak ada poster yang besar, dan lain-lain. Jadi zaman dulu kalau kita sedang menempati satu tanah, untuk mengetahui tanah ini di bawah kekuasaan siapa, seorang petugas akan meletakkan satu patung, patung raja yang berkuasa di atas tanah ini. Patung itu dibuat supaya rupanya mirip dengan raja yang ada di istana. Dan ini yang Tuhan lakukan dengan Adam dan Hawa. Tuhan ada di istana-Nya dan di istana-Nya Tuhan membuat manusia dalam peta dan teladan Allah supaya setiap kali manusia berkembang memenuhi bumi, mereka pergi ke sudut-sudut bumi yang lain, di situlah mereka hadir mencerminkan Allah atau raja mereka. Berarti di situlah mereka menjadi seperti patung raja, memberi tahu bahwa ini adalah tempat raja kami. Dan waktu mereka mengolah tanah dan mengembangkan, mereka sedang melakukan ibadah mereka sebagai imam besar untuk membawa kemuliaan yang besar kepada Allah.

Maka kita lihat sejak permulaan, rencana Allah adalah agar manusia membawa Kerajaan Allah dan memenuhi bumi ini dengan kemuliaan Bapa. Dan justru hal itu akan digenapi nanti pada saat Kristus datang kedua kalinya, Kerajaan akan ditegakkan, kemuliaan Allah akan diperlihatkan oleh semua orang. Kita baca di dalam Mikha 4:1-2 di sini kita lihat gambaran tentang hari terakhir waktu Tuhan akan mendatangkan kerajaan-Nya kepada setiap sudut, di setiap bagian dari seluruh dunia ini, “Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung rumah TUHAN akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman TUHAN dari Yerusalem.””

Di dalam Mikha kita melihat gambaran Allah mengenai Kerajaan yang akan datang, bangsa-bangsa dari seluruh dunia ini akan berduyun-duyun menuju ke atas gunung. Semua biasanya mengalir ke bawah tetapi di tempat ini kita melihat semua mengalir ke atas, ke gunung Tuhan, untuk apa? Bertemu dengan Tuhan, bersama-sama dengan Dia, untuk mendengar pengajaran dan firman-Nya. Maka di sini kita lihat gambaran mengenai Kerajaan yang dibicarakan oleh Yesus adalah Kerajaan di mana setiap bangsa akan hadir untuk beribadah kepada Tuhan supaya nama Tuhan dikuduskan.

Tetapi waktu Yesus datang, Kerajaan-Nya banyak disalahmengerti. Sejak semula Allah merencanakan Kerajaan begini. Sekarang Allah memberi kita gambaran nantinya Kerajaan jadi begini. Dan waktu Mesias hadir, raja hadir ditengah-tengah kehidupan ini dari Adam sampai kesudahannya, waktu Mesias, Yesus datang, Dia datang, Dia bicara mengenai Kerajaan-Nya, semua tidak bisa mengerti. Setiap hari Yesus keliling dan Dia mengajar Kerajaan Allah sudah datang, bertobatlah Kerajaan seperti ini, dan Dia bukan hanya mengajar dan memberitakan tentang Kerajaan Allah, malah Dia membuktikan kehadiran Kerajaan Allah dengan mujizat-mujizat. Orang yang buta sejak lahir diberi penglihatan. Orang yang tidak ada tangan justru Yesus menciptakan tangan baru bagi dia. Orang yang lumpuh yang diturunkan dari atap di tengah-tengah orang Farisi dan ada Yesus di situ, Yesus bangkitkan dari tilamnya dan dia bisa jalan kaki, dan orang yang mati dibangkitkan oleh Yesus.

Mujizat demi mujizat di samping pengajaran Yesus membuat geger seluruh masyarakat, “Waduh berarti akhirnya Kerajaan Allah ini datang.” Tetapi seluruh Israel salah mengerti Kerajaan. Hampir tidak seorang pun yang bisa memahami betul apa yang dibahas oleh Yesus, murid pun tidak memahami. Setelah Yesus mati kala murid melihat, “Wah Kristus sudah bangkit sekarang saatnya,” sehingga mereka melihat Yesus dan mereka bertanya apakah Yesus pada saat ini akan memulihkan kerajaan bagi Israel? Wah seluruh kalimat itu salah karena Kerajaan Yesus, Kerajaan yang bukan hanya di Israel, bukan saat ini tapi yang akan datang nanti, dan akan datang secara pelan-pelan ke dalam dunia ini. Mereka tidak mengerti.

Israel salah mengerti, murid salah mengerti, dan saya khawatir banyak diantara kita juga salah mengerti. Maka Yesus mengajar kepada kita perumpamaan ini yang penting supaya anda dan saya bisa memahami baik cara Allah mendatangkan Kerajaan-Nya. Waktu kita berdoa dan Tuhan menjawab mengabulkan doa kita, di sini kita melihat cara jawaban doa yang Allah beri tahu kepada kita, tetapi juga kita perlu mengerti peranan kita di dalam Kerajaan ini.

Marilah kita melihat apa yang dikatakan Yesus di sini, Dia berkata bahwa Kerajaan Allah seumpama, “biji sesawi,” biji sesawi. Kenapa Dia pilih biji sesawi? Kenapa tidak pilih seperti biji pohon aras yang tinggi, yang kuat? Atau pohon nangka? Saya heran karena pohon nangka itu buahnya berat sekali, itu buah yang berat tapi itu bisa di atas pohon, tapi rantingnya semua bisa kuat untuk menahan buah yang berat sekali. Tetapi Yesus di sini tidak pilih pohon durian, pohon nangka, Dia tidak pilih pohon aras. Yesus di sini pilih pohon yang seperti bukan pohon, semak, sesawi. Dan Dia berkata Kerajaan Allah seperti biji, biji yang kecil, biji yang tidak dianggap penting, biji yang mudah diabaikan, dan Dia berkata Kerajaan Allah seperti itu.

Di dalam Matius malah Yesus berkata ini adalah biji yang paling kecil dari semua biji. Dan itu bukan kalimat IPA ya, sebenarnya kita tahu ada biji-biji lebih kecil. Maksud Yesus adalah sebuah analogi bahwa dari biji-biji yang ada di Israel, yang dikenal oleh orang pada zaman itu, ini biji yang paling kecil, yang paling tidak dianggap penting, tetapi secara proporsional punya perubahan yang paling drastis, maka Yesus pilih biji sesawi. Dia berkata bahwa dari biji paling kecil akan datang pohon yang paling besar secara proporsional.

Dia ingin kita mengerti satu hal penting di sini bahwa dari hal kecil, hal-hal yang mudah diabaikan, hal yang tidak dianggap, akan datang pekerjaan Tuhan. Jangan anda merasa anda tidak punya sesuatu untuk dibawa kepada Tuhan. Karena Allah berkata bahwa hal yang kita anggap tidak punya bobot, justru dari hal yang kecil seperti ini bisa membawa Kerajaan Allah dalam skala besar di dalam satu situasi.

Kita bersyukur baru selesai BCN (Bible Camp Nasional). Saya tidak tahu apakah anda melibatkan diri mengumpulkan anak-anak untuk menonton bersama. Saya ingat persis anak saya umur 3 tahun, saya punya dua anak perempuan sekarang sudah gadis sudah 25 dan 26 tahun, mereka selisih satu tahun. Waktu mereka 4 dan 3 tahun, saya sama mamanya memberitakan Injil kepada mereka, mereka sedang makan Supermi di meja. Hari Sabtu suka makan Supermi karena giliaran papa yang masak ya, jadi kalau papa yang masak, masak Supermie. Kalau mamanya masak, ada tempe, ada sayur, ada daging semua, papa Indomie aja selesai. Jadi kira-kira saya masak, saya memberi Indomie, kami duduk, menginjili mereka, mereka bilang, “Kami mau percaya Yesus.” Saya bilang, “Marilah kita berdoa.” “Pa, kami tidak mau papa sama mama nonton kami berdoa.” Jadi mereka itu dari meja makan, ke dalam kolong meja, dan mereka terima Yesus di dalam kolong meja makan. Sekarang, 20 tahun lagi, lihat dari biji sesawi yang ditanam di hati mereka, sekarang bertumbuh, mereka menjadi terlibat di dalam pelayanan. Waktu ke Semarang, Pak Tong bawa anak saya nyanyi di sana. Kalau kakaknya, Nicole, waktu BCN membuat video, Kak Ayu, kalau mau lihat di Youtube bisa lihat Suara Sukacita Sekolah Minggu.

Di sini kita melihat bahwa dari hal yang kecil, Tuhan bisa membuat perubahan yang besar. Jangan kita hina hal yang kelihatan tidak penting karena di sini yang penting justru adalah pelayanan menggarap anak-anak punya iman untuk masa depan. Kita perlu berpikir jangka panjang. Kita perlu memikirkan apa yang Tuhan mau kerjakan melalui kita, gereja di tempat ini, untuk kemuliaan-Nya. Bahkan Yesus mulai dengan hal yang paling tidak berarti, sebiji sesawi saja, biji yang paling kecil, kelihatan peranan yang paling tidak berarti. Dan dia berkata bahwa ini, “yang diambil dan ditaburkan seorang di kebunnya,” di dalam asli Yunani di sini seorang laki-laki, tidak ada nama, tidak tahu dia punya okupasi apa, pekerjaannya apa, tidak tahu dia punya kelebihan di mana, kita tidak tahu satu faktor tentang orang ini, berarti dia menggambarkan kita semua. Setiap orang yang percaya kepada Yesus sudah diberi mandat oleh Yesus untuk pergi mengabarkan Kerajaan Allah di tempatmu.

Ini seperti yang kita baca di Yohanes 14 Yesus berkata, “Barang siapa yang percaya kepada-Ku, dia akan mengerjakan pekerjaan yang sama dilakukan oleh Saya, bahkan pekerjaan yang lebih besar.” Karena siapa? Seorang laki-laki. Yesus sedang menggambarkan setiap kita, bahwa setiap orang percaya harus bekerja untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tempat mereka. Tidak ada pengecualian, semua diutus, semua dipilih, semua diberi segala sesuatu untuk mengerjakan tugasnya.

Kemudian orang ini, katanya dia ambil dan dia taburkan. Dia lakukan satu kegiatan yang ini. Kelihatan bahwa ini sesuatu yang tidak sulit, diambil, ditaburkan, satu kegiatan yang bisa dianggap biasa-biasa saja, tetapi justru setiap benih yang tidak dibuang, berfungsi, atau tidak ditanam, tidak pernah akan berbuah. Waktu King Tut di Mesir, mereka menemukan dia punya kuburan di belakang kuburan yang kosong. Jadi kuburan raja sudah dirampas, dan karena dia raja yang tidak begitu penting, karena mati waktu masih muda, dia di belakang, kuburan itu dipakai ulang. Akhirnya orang yang merampas tidak mengetahui ada lagi tempat di belakang. Setelah mereka buka, mereka menemukan biji-biji yang sudah ribuan tahun di situ. Tetapi biji-biji itu ditaruh di kuburannya tidak ada perubahan, tidak berdampak. Tetapi apa yang dilakukan, mereka ambil bijinya, biji gandum, mereka tabur, dan bertumbuh. Setiap biji punya pengaruh untuk mengubah dunia jika itu ditaburkan.

Saya kadang-kadang geleng kepala dengan gereja kita sendiri, saya nggak perlu bicara yang lain. Gereja kita sendiri adalah gereja gila seminar ya. Kita berpikir kalau saya terus buat seminar, akhirnya semua jadi baik, apalagi namanya seminar penginjilan. Saya nanti membuat seminar penginjilan sebenarnya saya sendiri setengah hati, karena seminar penginjilan bukan penginjilan. Seminar penginjilan hanya menambah pengetahuan tentang penginjilan. Kalau saya biasanya seminar penginjilan, saya membuat 2 jam lalu setelah itu saya bawa semua keluar, langsung praktek. Setelah itu kembali, kita diskusi apa masalah yang terjadi. Tapi karena hari ini nggak ada waktu, pandemi, orang tidak mau temui kita di jalan, sulit.

Tapi kita kalau hanya seminar, seminar, itu dampaknya sangat sedikit. Yang berdampak adalah orang yang mengambil benih terus menaburkan, itu baru berdampak. Gereja yang hanya bicara Injil tidak ada gereja yang berdampak. Mengapa gereja di Amerika hampir tidak ada pertumbuhan? Karena gereja Reformed di Amerika, mereka berkata, “Kita harus kabarkan Injil terlebih dahulu kepada diri kita sendiri, sebelum bisa dikabarkan kepada orang lain.” Saya pikir itu kalimat yang salah. Karena kita tidak pernah tuntas menerima Injil. Saya senang dia seharusnya ingat siapakah saya di hadapan Tuhan, saya senantiasa harus bertobat dan yakin akan pengampunan Tuhan, Injil terus, terus, perlu diberitakan kepada saya, tetapi bukan saya lebih dahulu beritakan Injil kepada jemaat di sini supaya bisa beritakan ke luar, justru kalimat yang tepat adalah sambil saya beritakan Injil kepada jemaat, sambil saya mengajar Injil kepada jemaat, mereka sedang memberitakan Injil.

Siapa orang pertama yang diutus oleh oleh Yesus dalam pelayanan? Orang yang pertama diutus Yesus dalam pelayanan itu orang yang kerasukan. Yesus datang, mengusir setan, setelah itu dia memohon, “Boleh saya ikut?” Yesus bilang, “Pulang, beritakan apa yang Saya lakukan dalam hidupmu.” Dia cuma percaya dengan Yesus beberapa jam, hanya ada waktu ketemu sebentar saja waktu sebelum diutus oleh Yesus. Para murid yang lama ikut Yesus, dengar semua ajaran, belum diutus oleh Yesus. Lalu fase berikutnya mereka diutus. Kenapa? Setiap orang sambil belajar, mereka memberitakan Injil. Kita semua harus ambil biji kita dan mulai menaburkan sekarang. Kalau tidak ditaburkan, Injil itu tidak berdampak di sini. Akhirnya itu diambil, diambil dengan apa? Satu langkah iman. Dia yakin bahwa kalau itu ditaburkan, itu akan berhasil, itu akan berbuah, akan berbuat sesuatu yang besar bagi kemuliaan Allah. Yakin akan proses, diambil, satu-satunya biji itu ditaburkan.

Anda sedang menaburkan Injil di mana? Injil yang Allah berikan kepada anda, kesaksian anda, hari ini, itu ditaburkan ke mana? Jangan memikirkan standar terlalu tinggi, kalau misalnya KKR siswa, aku harus belajar contoh penginjilan karena saya tidak gampang bicara di hadapan orang. Saya juga belum siap untuk pergi ke hutan, tinggal di mana-mana, jauh dari pulau Jawa, saya belum siap, saya tidak merasa mampu, kenapa? Kita minta mereka bukan untuk ambil biji sesawi dan ditaburkan, kita minta mereka masuk satu hutan, dibabat dulu hutannya, dibersihkan, diangkut, cari cangkul, minta digali dulu, sistem perairan, baru biji-biji ditabur, terlalu berat. Tapi Tuhan sedang bicara kepada setiap kita, dengan keterampilan yang sesedikit mungkin sampai yang paling besar, setiap orang, lakukan hal yang paling sederhana. Ambil biji sesawimu, lihat tempat yang Allah berikan, tabur, tabur di sini, tabur di keluarga besarmu, tabur dengan tetanggamu, tabur di tempat kantormu, tabur di sekolahmu.

Kerjakan yang gampang dulu, paling praktis. Mulai besok, NRETC, konferensi untuk para remaja. Saya mau bertanya, anda kenal seorang remaja? Ada di tempatnya kamu, di lingkunganmu ada remaja-remaja? Bagaimana kalau anda, mengumpulkan mereka nonton bareng, nonton bersama? Nonton bareng sama mereka, mereka dikumpulkan satu, dua, tiga remaja, karena ini adalah usia di mana orang paling banyak menerima Kristus. Ini adalah usia orang akan dipanggil untuk jadi hamba Tuhan. Ini adalah usia kunci, dan Allah memberi kita kesempatan dengan hubungan alamiah yang telah kita miliki, tinggal kita mengumpulkan, dan kita taburkan Injil ini di dalam hati mereka supaya berbuah di situ. Akhirnya ini biji itu apa, diambil, dan dia taburkan di mana di sini? Di kebunnya, di kebunnya.

31:14 Setiap orang percaya memiliki kebun. Ini berbeda dengan perumpamaan kisah seorang penabur. Di dalam kisah seorang penabur, seorang penabur dia pergi dia melempar benih-benih ke mana pun, ke tanah yang keras, tanah yang berbatu-batu, tanah yang penuh semak duri, tanah yang baik, ke mana pun dia dengan sembarangan dia melempar benih. Waktu saya menceritakan perumpamaan itu kepada staff saya di Lampung, baru Tuhan memberi saya hikmat, saya belum pernah baca ini di tafsiran dulu, Tuhan memberikan saya hikmat satu kalimat ini, Allah boros Injil. Kalau seorang petani dia tahu ini tanah keras, pasti bijinya tidak dilempar di situ, kalau tahu ini tanah yang semak duri, dia pasti tidak lempar biji ke situ. Tetapi di kisah seorang panabur, sembarangan dilempar, ke mana-mana, kenapa? Allah boros Injil.

Allah ingin Injil menjadi boros. Semua orang yang dengar walaupun mereka tidak siap percaya. Tetapi di sini yang diajar bertolak belakang dengan itu, dia ambil biji, dia pergi ke mana? Ke kebunnya. Ke kebunnya. Saya mau bertanya kepada anda, di manakah kebunmu? Setiap orang Kristen diberi kebun oleh Allah, sepetak tanah di dalam Kerajaan Allah. Dan Allah menempatkan anda di kebun itu, di kota Jogja, di gang ini, di sekolah ini, di kantor ini, untuk apa? Untuk digarap. Ini bukan jauh-jauh, ini bukan sembarangan, ini adalah Allah ingin supaya di mana engkau berada, di situlah biji sesawi ditaburkan. Dan apapun jerih hasilmu, itu bertumbuh, “tumbuh dan menjadi pohon.”

Itu bisa bertumbuh kenapa? Karena di dalam setiap biji ada kehidupan ada potensi, di dalam setiap biji ada harapan, dan itu bisa bertumbuh, bertumbuh, bertumbuh menjadi pohon. Dan Yesus sedang mengajarkan kepada kita prinsip di sini, bahwa di dalam Kristus, ada cukup untuk mendatangkan Kerajaan Allah di bumi ini, di setiap tempat, dari bayi di palungan, di Betlehem, dari bayi yang tidak dianggap oleh dunia, justru dari situ bertumbuh kehidupan, bertumbuh satu kerajaan yang memenuhi seluruh bumi. Kenapa? Karena dari hal yang kecil kemudian dinyatakan, datang pohon yang besar.

Saya lihat di dalam pengalaman saya sendiri, saya mengutus seorang Indonesia pergi ke tempat-tempat di seluruh Indonesia, sekarang kami ada ratusan orang kami utus ke daerah-daerah di mana Injil diberitakan. Dan setiap hari mereka keluar, mereka memberitakan Injil. Dan waktu mereka memberitakan Injil, mereka memberitakan Injil dengan penuh harapan, harapan apa? Bahwa Kerajaan akan hadir di situ. Dan waktu dia bertemu, salah satu orang yang saya utus, dia bertemu dengan orang. Orang ini, dia sehat, baik, tetapi dia bawa temannya yang buta, butanya 80-90%. Dia kecelakaan, sejak kecelakaan itu, dia matanya buram, hampir nggak bisa lihat, karena sempat koma waktu itu. Akhirnya seperti biasa, kita mengijili, waktu menginjili, kita selalu berharap yang sehat bertobat, yang buta terserah ya. Karena yang sehat kalau dia bertobat, bisa dipakai oleh Tuhan. Tetapi justru yang bertobat orang yang buta. Tetapi kalau dia bertobat, ya dia yang harus kita layani. Maka kita mulai bantu dia supaya dia melihat biji sesawi dia harus ditaburkan di kebun dia.

Jadi mulai di situ, mulai keluar untuk bersaksi. Dan waktu dia bersaksi, orang mulai percaya. Rekan-rekan dia percaya, istri dia percaya, anak dia masih belum percaya, kemudian orang lain dilayani, akhirnya dari satu orang buta ini, dia sekarang telah menjangkau lebih dari 30 orang. Kenapa? Dia ambil biji sesawi ini, dan dia menaburkan. Di mana kebunmu? Di mana harapan bahwa apa yang engkau lakukan di hati seorang remaja, di hati seorang anak, di hati tetanggamu, akan menjadi pohon besar? Di mana pun kebunmu, bisa datang dan diberkati, kenapa? Karena anda giat melayani.

Perumpamaan yang kedua sedikit berbeda, Yesus berbicara mengenai ragi. Ragi berbeda dengan biji sesawi dalam hal ini. Biji sesawi bicara mengenai pertumbuhan secara kuantitatif, ragi bicara mengenai pertumbuhan secara kualitatif. Kerajaan Allah bukan hanya datang dengan menutupi seluruh dunia dengan gereja-gereja yang dilahirkan melalui pemberitaan Injil, tetapi kerajaan juga datang dengan transformasi hidup dari setiap orang yang percaya kepada Kristus.

Maka di dalam perumpamaan yang kedua, kita menemukan Yesus bicara lagi prinsip yang sama, dari hal yang kecil ada dampak yang besar. Dampak itu bisa secara kuantitatif, tapi juga bisa secara kualitatif. Dan Yesus mengajak kita untuk melihat ragi ini, ragi punya potensi kalau diadukkan, ditaruh di dalam tepung yang lain, bisa terjadi ada satu unleashing of power, bisa ada kekuasaannya dilepaskan untuk membawa transformasi. Waktu itu masuk ke dalam tepung, terjadi ada proses kimia yang terjadi, ada karbon dioksida di mana dari ini keluar gelembung, ada gelembung-gelembung di dalam adonan ini dan membuat adonannya semakin tinggi, semakin tinggi, semakin besar. Dan itu adalah kuasa Injil yang Yesus pernah ajarkan kepada kita. Bahwa setiap orang bukan hanya menghadirkan Allah secara jumlah, tapi kita mau lihat ada transformasi hidup yang terjadi. Dan itu terjadi, sekali lagi, melalui hal yang kecil, hal yang tidak dipandang, hal yang tidak dianggap mungkin oleh dunia.

Dan di dalam perumpamaan dikatakan, “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan.” Yesus itu bicara di sini yang pertama seorang laki-laki di kebunnya, ini seorang perempuan yang juga tidak punya nama, tidak punya keahlian, hanya seorang perempuan. Maka kita lihat bahwa setiap orang Kristen dipanggil oleh Tuhan untuk tugas ini. Dia ambil dan, “diadukkan ke dalam tepung terigu.” Dalam dia punya tepung.

Kenapa biji dan ragi menjadi sesuatu yang berkuasa di situ? Waktu Israel keluar dari Mesir, Israel disuruh langsung segera pergi. Mereka bawa roti yang tidak beragi, mereka membawa roti yang seperti cracker, biskuit, gampang pecah. Apa bedanya dengan roti biasa? Karena waktu ragi itu mulai transformasi, bergelembung, di situ terjadi proses di mana adonannya menjadi besar. Dan Allah sedang berkata di sini bahwa kita waktu adukan ragi ini di dalam dunia ini, kita seperti Israel yang keluar dari Mesir, kita juga mengambil ragi untuk mempengaruhi, karena ragi melambangkan pengaruh dari Mesir.

Israel tinggalkan Mesir, tinggalkan ragi di Mesir supaya waktu masuk di Tanah Perjanjian, ragi ini tidak dibawa, pengaruh Mesir tidak dibawa lari. Ini waktu mereka di padang gurun 40 tahun mereka putar-putar, kenapa? Karena mereka membawa patung, membuat patung dari Mesir dan itu masih ada di dalam hati mereka. Berarti apa? Pengaruh dari Mesir dibawa ke padang gurun 40 tahun sebelum bisa dikikis habis. Pengaruh, ragi adalah proses untuk mempengaruhi sesuatu. And diminta oleh Allah masuk ke tempatmu, ke adonanmu, ke kebunmu, dan mempengaruhi tempat itu untuk kemuliaan nama Tuhan.

Saya waktu bekerja di kantor sebagai seorang insinyur, sering mereka ada lelucon yang porno, yang jelek. Akhirnya mereka lihat saya datang, langsung duduk bungkam semua. Orang berkata, “Kalau Bapak pergi nanti kami teruskan saja.” Saya dengan sukacita merasa bahwa saya hadir di sini membawa transformasi, pengaruh, sehingga mereka terus tidak bicara yang jelek. Grup-grup WhatsAppmu, apakah kehadiranmu di situ membuat grup-grup WA-mu menjadi grup yang bicara hal yang positif atau negatif? Apakah kita bisa membawa pengaruh atau transformasi di dalam situasi ini? Dia ambil lalu dia adukkan, waktu dia adukkan, semua proses, kuasa dari ragi itu mulai bekerja, dan apa yang terjadi di dalam terigu? “Tiga sukat,” kurang lebih 40 liter. Bisa dari ragi yang kecil bisa mempengaruhi 40 liter dari terigu.

Kecilnya pelayanan tidak penting. Kalau Injil ditaburkan, pasti membawa transformasi. Jangan anda lihat besarnya tugas. Ini kelemahan saya sebagai hamba Tuhan. Saya keliling kota-kota besar, saya keliling kota Jakarta, saya datang ke tempat ini, di manapun saya pergi hati saya sulit sekali karena saya lihat banyak orang belum diinjili, banyak tempat penuh dengan dosa. Kapan? Bagaimana? Oleh siapa? Tapi perumpamaan ini ingatkan saya terus, jangan lihat besarnya tugas, jangan lihat jumlah terigu yang harus dipengaruhi, dan kecilnya ragi. Lihatlah kuasa dari ragi itu. Apakah hari ini anda melihat kuasa Injil yang Tuhan percayakan kepada anda? Apakah anda percaya Tuhan akan pakai anda untuk memuliakan nama Dia?

Marilah saya menyimpulkan perumpamaan ini dengan 5 pelajaran singkat buat kita. Yang pertama, dari tindakan penuh pengorbanan muncullah berkat besar? Yesus merendahkan diri, datang ke dunia, hidup seperti kita, dihina, diolok-olokkan, disalibkan, mati sendiri, telanjang, penuh dengan hina dan malu di atas kayu salib. Pengorbanan Kristus besar sekali. Dunia melihat ke Kristus dan tidak menganggap dia orang penting dalam masyarakat. Di dalam tulisan-tulisan sekuler, sangat sedikit ada orang yang bicara tentang Yesus. Tetapi justru dari perubahan Kristus di mana Dia terus menerus rela untuk menjadi hina, datang berkat yang besar sekali bagi dunia ini.

Yang kedua, dari permulaan kecil muncullah Kerajaan besar. Waktu Yesus naik ke sorga, murid Dia, dicatat dalam Kisah Rasul 1, cuma 120 orang. 120 orang ini dalam 3-4 hari sudah memenuhi Yerusalem dan Yudea dengan Injil. Dari dalam 25 tahun, gereja sudah ada di setiap kota besar di seluruh kota besar Romawi. Dari 120 orang, dalam 25 tahun sudah ada ribuan orang percaya di setiap tempat yang penting. Kerajaan Allah datang dari permulaan kecil. Apakah anda punya semangat biji sesawi? Apakah gereja ingin, mau melihat tempat-tempat lain, desa-desa? Dan apakah kita rasa harus hadir di sini Kerajaan Allah? Biar kami walaupun sedikit, kami melihat biji sesawi terus ditanam ke tempat-tempat lain, dan biar Kerajaan besar datang dari permulaan kita kecil di sini.

Yang ketiga, dari perkataan sederhana muncullah transformasi yang besar. From simple words come great transformation. Sebenarnya Injil itu sederhana. Nanti siang saya akan membuat seminar bagaimana menginjili. “Saya akan berusaha mengambil Injil yang sederhana dan dibuat sekompleks mungkin supaya anda bisa lihat”? Bukan begitu. Injil itu sederhana. Dalam 3 menit saya bisa memberitahu pada orang Injil kehidupan yang bisa mengubah seluruh hidup dia dan membawa dia dalam dunia kekal. Kalimat-kalimat, perkataan-perkataan yang sangat sederhana, setiap orang bisa menghafal, orang tidak berpendidikan bisa dipakai Tuhan, orang dengan sarjana S3 bisa dipakai Tuhan. Kenapa? Injil sederhana, tetapi transformasi yang dibawa oleh Injil itu besar sekali.

Jangan kita berpikir semakin kita membuat Injil kompleks, semakin engkau dilihat oleh dunia. Yesus yang punya semua pengetahuan dari sorga, firman yang kekal, otak yang paling hebat, mengerti hikmat Allah yang paling sempurna, justru Yesus mengajarkan dengan hal yang sangat-sangat sederhana, biji, ikan, buah. Injil itu sederhana. Jangan kita merasa kita harus membuat kompleks supaya itu dihargai oleh dunia. Jangan kita menganggap bahwa Injil kita harus pakai istilah-istilah yang hebat, pakai konteks yang berbeda-beda supaya akhirnya orang pikir, “Wah ini yang pembawa berita ini luar biasa.” Kuasa Injil terdapat di dalam pesannya Injil itu, bukan oleh pembawa pesan itu. Injil hanya perlu ditaburkan, diadukan, dan kalau Injil yang sederhana, penuh dengan iman, ditaburkan oleh kita dengan kuasa yang luar biasa. Pesan yang sederhana, dari perkataan yang sederhana, datang transformasi yang besar.

Yang keempat, dari permohonan lemah muncullah karya besar. Yesus mengajarkan kita berdoa, “Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu.”  Permohonan kita lemah. Saya kadang-kadang berdoa, kata-kata yang tepat tidak ditemukan. Mungkin saya merasa dirinya orang yang terlalu sederhana, saya terlalu tidak percaya, saya tidak punya pendidikan yang tinggi, saya begini, saya begitu, tidak penting. Yang penting kita datang dan berdoa dengan pentunjuk dari Yesus ini, dari permohonan kita, “Tuhan hadirkanlah Kerajaan-Mu di sini.” Apakah anda dengan giat mendoakan rumah tanggamu? Orang tuamu? Apakah anda dengan giat berdoa untuk seluruh RT-mu? Untuk kampusmu? Perlu kita percaya perkataan Yesus ini, berdoa, berdoa, “Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu,” karena doa ini permohonan yang lemah datang karya yang besar.

Terakhir, dari orang rendah muncullah hamba besar. Jangan kita menghina pelayanan yang sederhana, jangan kita hina orang yang punya satu biji sesawi yang ditanam, jangan kita menghina orang yang punya kebun yang terbatas. Akan ada orang yang seperti Pak Tong yang kebunnya luas sekali, biji yang banyak, dia harus menaburkan semua. Tapi ada di antara kita yang bijinya cuma dua, bijinya cuma empat, kebunnya kecil, ditabur, ditabur, ditabur, kenapa? Setiap biji punya kuasa untuk menjadi pohon.

Daud menjadi gembala, dia anak yang paling kecil dari ketujuh bersaudara, yang paling kecil dikasih tugas yang paling nggak baik. Akhirnya dia menjadi gembala, di ladang, dingin-dingin, dalam bahaya, tapi di situlah Tuhan angkat Daud menjadi raja yang besar. Gideon, dari keluarga yang kecil, dalam suku Israel yang paling kecil, akhirnya Gideon dipilih oleh Tuhan untuk jadi prajurit yang hebat. Siapa di sini merasa dirinya kecil? Siapa di sini merasa dirinya tidak berbakat? Tidak fasih lidah? Masih belum mengerti Alkitab dengan baik? Hari ini saya ingatkan Saudara, bahwa dari orang rendah muncul hamba Tuhan yang besar, muncul orang yang dipakai oleh Tuhan membuat perubahan yang besar. Kerajaan Allah seperti biji sesawi, seperti ragi yang ada di tangan Saudara. Marilah kita taburkan, marilah kita hamburkan, marilah kita giat di ladang kita bekerja bagi Tuhan. Marilah kita berdoa.

Tuhan Engkau memberikan kesempatan pada kami untuk melayani Engkau di zaman ini. Tuhan kiranya Engkau membawa perubahan besar dalam diri kami untuk percaya benar, sungguh-sungguh akan setiap kalimat yang keluar dari mulut Yesus. Hari ini, Tuhan, kami sadar bahwa kami terlalu mengabaikan pelayanan kecil. Kami berdoa untuk Sekolah Minggu, biar anak-anak punya kesempatan dengar Injil. Kami berdoa, Tuhan, kiranya kami yang mengajar akan dipakai oleh Engkau untuk menabur Injil dalam hati mereka. Kami berdoa, Tuhan, untuk para remaja, biar mereka juga digarap oleh kami di gereja ini. Remaja-remaja yang ada di luar gereja ini, kiranya mereka bisa diajak berkumpul untuk bertemu dengan Kristus satu demi satu. Kami berdoa untuk suku-suku yang sampai sekarang belum bisa dapat Injil. Tuhan, setiap hari Engkau mengantar kami keluar dari rumah kami pergi ke ladang kami. Berilah kami semangat baru untuk lihat ladang yang sudah menguning dan siap untuk dijual. Biar kami berani untuk percaya hal besar dari Engkau, biar pohon yang besar bertumbuh di tempat ini. Biar ragi ditaburkan di dalam adonan-adonan, di dalam terigu, sehingga cukup untuk memberkati banyak orang. Biar mereka bekerja di tengah-tengah kami agar kami menjadi cara Allah mendatangkan Kerajaan-Mu. Tuhan di kota Jogja, di kota Solo, di semua daerah, hari ini kami berdoa kiranya nama-Mu dikuduskan di tempat ini. Datanglah Kerajaan-Mu di tempat ini. Biar kami jadi saluran berkat Injil buat mereka. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *