Cinta Kasih Kudus, 13 Januari 2019

Ef. 5:1-2

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak ibu yang dikasihi Tuhan , pada waktu kita bicara mengenai kasih, maka di dalam pertemuan yang  lalu minggu lalu saya mengajak kita melihat bahwa kasih yang kita miliki kepada seseorang dan kepada Tuhan itu dilihat dari besarnya pemahaman kita akan kasih yang Allah berikan pada kita di dalam Kristus. Dan juga, tahap kedua adalah dilihat dari kesadaran berapa besar kita melihat  pada diri yang sebagai orang berdosa yang mendapatkan pengampunan  dari pada Yesus Kristus. Kalau kita tidak bisa melihat besarnya cinta kasih yang Allah berikan dalam kehidupan kita, maka saya percaya kita tidak akan mudah untuk mengasihi orang lain karena kita merasa bahwa kurang dikasihi oleh Tuhan Allah. Tapi kalau kita juga merasa kurang diampuni karena kita merasa diri kita benar, dan sepertinya jauh lebih baik dari orang lain , saya percaya  kita juga jadi sulit sekali untuk mengampuni orang yang bersalah pada diri kita.

Karena itu di dalam ayat yang pasal yang ke-4 ayat yang ke 31 dan 32, lalu pasal 5 ayat yang ke-1 dan ke-2, yang kita bahas minggu lalu, di situ kita melihat bahwa perlu untuk seorang Kristen itu melihat pada cinta kasih Allah dan  sungguh-sungguh meresapi dan melihat berapa besarnya cinta kasih itu seperti yang Paulus doakan di dalam Efesus pasal  yang ke- 3 supaya kita bisa mengerti betapa  lebarnya, panjangnya, tingginya dan dalamnya  cinta kasih  daripada Kristus itu tapi juga saya percaya melihat kedalam diri, melihat diri kita yang adalah orang yang dikomparasikan dengan hukum Tuhan untuk betul-betul menyadari bahwa kita adalah orang yang tidak layak menerima cinta kasih itu, yang tidak layak menerima pengampunan itu, atau orang yang memang harus menerima pengampunan dari Tuhan karena dosa kita yang begitu besar dan begitu tidak layak di hadapan Tuhan, atau begitu jahat di hadapan Tuhan, itu yang membuat kita pasti memiliki suatu kehidupan yang penuh dengan kemurahan kepada orang lain. Ini menjadi dasar sekali. Tetapi pada waktu kita melihat pada ayat ini juga saya mau ajak kita melihat secara lebih jauh sedikit.

Pada waktu kita melihat pada kehidupan yang mengasihi, dasarnya apa? Apa yang membuat kita harus mengasihi? Saya percaya Paulus mengajak kita lebih jauh sedikit di dalam melihat hal itu. Kita harus mengasihi dasarnya adalah karena kita adalah anak-anak Allah. Saudara, saya percaya ini adalah hal yang serius sekali pada waktu kita hidup sebagai orang Kristen. Alkitab tidak pernah mengajarkan kita hanya orang yang diampuni oleh, kita hanya orang yang dikasihi oleh Tuhan, kita kemudian menjadi orang Kristen karena kita mendapatkan kasih karunia Allah dengan kematian Dia di atas kayu salib; tetapi Alkitab mengatakan kita bukan hanya dibenarkan melalui penebusan Kristus tapi kita juga diadopsi menjadi anak Allah, nah ini adalah hal yang serius. Maksudnya adalah pada waktu kita menjadi seorang Kristen, Roh Kudus datang ke dalam kehidupan kita, melahirbarukan kita lalu membuat kita diangkat menjadi bukan lagi anak-anak iblis tetapi kita menjadi anak Allah. Seriusnya dimana? Saya percaya pada waktu Alkitab berkata “kita adalah anak Allah,” satu hal yang harus sungguh-sungguh tercermin dalam kehidupan kita adalah kita harus mencerminkan siapa yang menjadi Bapa kita. Saya percaya di dalam kehidupan keluarga, semua dari pada manusia dan anak-anak Tuhan, kita memiliki anak, kita bisa lihat anak itu milik siapa itu tercermin dari sifatnya, karakternya, bahkan mukanya dan mungkin suaranya mirip dengan orangtua dan saudara-saudara mereka yang lain. Saya percaya ini juga akan terjadi dalam kehidupan anak-anak Tuhan. Barangsiapa mengatakan dan berani mengatakan dirinya adalah anak Allah, mohon tanya kepada diri kita sendiri, adakah karakter Allah di dalam kehidupan kita, Bapa kita? Adakah cinta kasih dari Bapa kita di dalam kehidupan kita? Adakah cinta kasih dari Kristus, yang adalah saudara sulung kita, di dalam kehidupan kita? Itu yang mencirikan kalau kita sungguh-sungguh bagian dari pada keluarga Allah, atau Gereja Tuhan, atau kita layak untuk disebut sebagai anak-anak Allah.

Tetapi Paulus ketika berbicara mengenai hal ini dia tidak stop hanya sebagai anak Allah karena kita mencerminkan karakter atau sifat dari Allah sendiri, tetapi Paulus juga mengatakan kita sebagai anak Allah diberikan satu contoh atau satu terladan di dalam kehidupan kita, yaitu Kristus sendiri sebagai yang sulung ketika datang ke dalam dunia itu bukan untuk menebus dosa kita saja tetapi Dia menjadi contoh bagaimana hidup di dalam mengasihi satu dengan yang lain. Ini dicatat oleh Yohanes di dalam 1 Yohanes 2:6, “Barang siapa mengatakan bahwa ia hidup dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” Jadi kalau kita mau berkata “saya mengasihi Allah, saya mengasihi Kristus, saya anak Allah,” Yohanes bilangkita wajib hidup seperti Kristus hidup. Saya percaya ini adalah suatu pengertian dimana Kristus datang ke dalam dunia untuk menjadi teladan bagi  kita. Dan ketika Dia memberikan teladan itu dalam kehidupan kita suatu hal yang menjadi tanggung jawab kita sebagai orang Kristen yaitu untuk meneladani apa yang menjadi kehidupan Kristus dalam dunia ini. Dan Kehidupan seperti apa yang perlu kita teladani?Saya percaya kehidupan yang paling besar yang Tuhan nyatakan bagi kita adalah kasihNya kepada kita orang berdosa ini. Alkitab berbicara tentang suatu kehidupan kasih yang total berbeda daripada kehidupan kasih dari orang-orang dunia. Kehidupan kasihnya dalam aspek apa? Saya percaya kalau orang dunia mengasihi satu dengan yang lain umumnya ada sesuatu yang menguntungkan diri dia, yang bermanfaat bagi diri dia, dan dibalik itu ada kepentingan pribadi yang dia miliki baru dia menjalani suatu relasi dengan orang lain. Termasuk didalamnya ketika seseorang mencintai seseorang sebagai suami atau istri dia. Saya bukan berkata bahwa orang Kristen tidak memiliki sifat ini, karena kita adalah manusia juga. Pada waktu kita berelasi dengan seseorang saya percaya didalam relasi itu ada saling menguntungkan, saling memberi, saling menerima satu dengan yang lain. Pada waktu kita bertemu dengan pasangan kita, kita menerima suatu manfaat dari pasangan kita atau cinta kasih dari mereka, dan kita juga memberikan cinta kasih kepada mereka. Dan dari situ kita memiliki suatu perasaan bahwa dia bisa layak atau dia pantas untuk menjadi pendamping dari pada kehidupan kita.

Tapi Bapak,Ibu,Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita menjadi anak Allah, saya pikir kehidupan cinta kita itu melampaui dari pada suatu kehidupan yang hanya memiliki interes pribadi dibaliknya, atau sesuatu yang bersifat egois demi kepentingan diri kita baru kita mengasihi seseorang. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa cinta kasih Kristus dalam kehidupan kita adalah suatu cinta kasih yang tidak bersyarat,unconditional. Artinya apa? Itu berarti cinta kasih yang Kristus berikan kepada kita adalah suatu cinta kasih yang tidak pernah menuntut bukan tidak pernah menuntut sebelumnya, mungkin bisa dikatakan tidak pernah menuntut adanya sesuatu kebaikan yang terlebih dahulu diberikan oleh seseorang kepada diri kita atau diri dia baru dia memberikan kasihnya kepada seseorang. Itu unconditional. Tetapi bukan berarti setelah dia memberikan kasihNya maka kita boleh hidup sembarangan dalam kehidupan kita. Itu yang saya tadi bilang tidak menuntut tapi juga sekaligus menuntut. Jadi pada waktu kita melihat apa yang Kristus berikan dalam kehidupan kita, Alkitab bilang adakah sesuatu yang layak yang bisa kita berikan kepada Tuhan?Tidak ada. Adakah kebaikan yang membuat kita layak untuk dikasihi oleh Tuhan? Nggak ada. Sama sekali tidak ada itu dalam kehidupan kita. Tapi Tuhan tetap datang, Tuhan tetap mengasihi kita. Dan pada waktu Dia memberikan kasih yaitu Dia memberikan diri Dia dengan totalitas hidup Dia kepada orang yang Dia kasihi.

Jadi pada waktu kita kembali pada Alkitab, maka di situ dikatakan: Kasih Allah di dalam Kristus itu adalah satu kasih yang unconditional, dan unconditional itu menuntut satu self-sacrificed di dalam diri kita untuk orang yang kita kasihi. Atau istilah lainnya adalah kalau kita sungguh-sungguh memiliki cinta kasih dari Allah dalam kehidupan kita, seperti yang Kristus nyatakan dalam kehidupan kita, maka kasih kita kepada seseorang itu, adalah suatu kasih yang tidak pernah akan menuntut satu syarat dari orang: Dia harus bertobat dulu, dia harus berbuat baik dulu, dia harus datang kepada saya minta pengampunan dan maaf dari diri saya terlebih dahulu. Tetapi kita memiliki suatu kehidupan mengasihi yang tidak bersyarat, tetapi juga sekaligus untuk bisa memiliki kehidupan kasih yang tidak bersyarat, itu membutuhkan pengorbanan dari diri kita sendiri.Kristus, demi untuk mengasihi diri kita, Dia bukan cuma ngomong: “Dosamu diampuni, Aku mengasihi engkau.” Tetapi Alkitab mencatat, Dia rela meninggalkan kemuliaanNya di Sorga, Dia rela menjadi sama seperti manusia ciptaanNya, Dia rela untuk merendahkan diri lebih rendah lagi daripada manusia ciptaanNya, dengan lahir di dalam palungan, di kendang domba. Tapi tidak sampai di situ, Dia lebih rendahkan diri lagi untuk rela dicerca, dihina, ditolak oleh umatNya yang menjadi ciptaanNya sendiri. Tetapi Alkitab juga berkata, Dia tidak sampai di situ, Dia rela bahkan disalah mengerti bahwa Dia bukan Allah, tetapi Dia dikatakan hanya sebagai satu manusia biasa saja, dan bahkan menghujat Allah dan bahkan sampai dinaikkan ke atas kayu salib.Saudara, saya percaya kalau kita sungguh-sungguh melihat kepada Allah yang benar itu, Allah yang kudus itu, Allah yang dengan segala kemuliaanNya —  itu adalah hal yang tidak pantas sekali dilakukan oleh manusia kepada diri Dia. Dan saya percaya, Allah juga sebenarnya tidak perlu melakukan itu semua untuk bisa menebus kita dari dosa. Tapi itu yang Dia lakukan. Dia datang, Dia rendahkan diri. Karena apa? Kasihnya kepada diri kita. Dia datang, lalu Dia demi mengasihi kita, Dia tidak tuntut sesuatu apapun dari diri kita. Dan Dia datang, Dia mengasihi kita dengan cara memberikan diriNya menjadi korban.

Saya percaya ini adalah dasar yang harusnya kita teladani dalam kehidupan kita. Semua persoalan dalam hidup manusia, itu umumnya adalah diakibatkan karena egoisme dari diri kita. Semua perselisihan yang ada dalam kehidupan kita, karena kita merasa diri kita yang jauh lebih utama daripada orang lain. Alkitab pernah menyatakan satu peristiwa dalam Yohanes pasal 13, ketika Yesus mau disalibkan, lalu murid-murid mulai ribut satu dengan yang lain, bukan meributkan tentang mengapa Yesus disalibkan, kenapa Allah yang harus jadi manusia ini harus mati di kayu salib, tapi yang menjadi keributan adalah siapa yang paling besar diantara kita.Lalu pada waktu Yesus bicara mendengar itu, Yesus bicara pada mereka bahwa yang terbesar itu bukan seperti orang dunia melihat siapa yang paling besar, yang punya kekuatan, yang punya kuasa, yang punya kedudukan dalam dunia; tetapi orang yang melayani satu dengan yang lain. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu sebabnya dalam Yohanes 13, ketika Yesus melihat itu semua dan ketika mereka ada di dalam perjamuan malam terakhir, Yesus dengan murid-muridNya, murid-murid nggak ada satu sama lain yang membasuh kaki mereka, tetapi dikatakan Alkitab adalah Yesus mengambil air dan mengikat pinggangNya dengan kain, lalu Dia datang dengan satu persatu ke kaki muridnya dan membasuh kaki mereka. Allah membasuh kaki dari pada ciptaanNya, seorang Raja membasuh kaki dari seorang hamba.Saya percaya ini adalah sacrifice, pengorbanan diri, bukan mementingkan diri kita sendiri.

Bapak,Ibu,Saudara yang dikasihi Tuhan, saya harap kita mempunyai kehidupan sebagai anak Tuhan, tidak lagi mencari keuntungan bagi diri kita sendiri. Pada waktu kita berelasi dengan orang lain, saya harap relasi kita dengan orang lain itu tidak lagi didasarkan pada apakah orang itu layak menjadi teman saya, apakah orang itu layak untuk mendapatkan pengampunan saya dan cinta kasih saya atau tidak, atau pertolongan saya atau tidak. Pada waktu kita berelasi sebagai suami-istri saya harap kita juga mementingan berelasi satu dengan yang lain, kita tidak lagi mengatakan, “Oh kamu mau baik sama saya, ada syaratnya terlebih dahulu baru saya mau baik dengan suami-saya atau istri saya,”tetapi kita boleh belajar menyatakan karakter Kristus dalam kasih di dalam kehidupan kita.Saudara, saya percaya keluarga di dalam Efesus pasal yang ke-enam, kelima, nanti kita bahas tentang cinta kasih dalam keluarga, keluarga di dalam kehidupan orang Kristen itu adalah suatu kesaksian yang Tuhan ingin pakai untuk menyatakan kasih Allah pada kehidupan kita. Dan saya percaya juga kehidupan keluarga Kristen itu adalah suatu kehidupan yang sungguh-sungguh Tuhan pakai untuk kita belajar satu dengan yang lain untuk mencerminkan cinta kasih Allah dan Kristus dalam kehidupan kita. Saudara mau dibentuk oleh Tuhan? Mau tidak? Saudara ingin punya cinta kasih Kristus dalam kehidupan Saudara? Kalau Saudara ingin punya cinta kasih Kristus dalam kehidupan Saudara, Saudara harus berani bayar harga, bukan harga orang, bukan pengorbanan orang, tapi pengorbanan diri kita, demi  untuk kita bisa bertumbuh di  dalam cinta kasih Kristus.

Terakhir, pada waktu berbicara  tentang cinta kasih Kristus, cinta kasih itu bukan sesuatu yang tanpa standar.Cinta kasih itu bukan berarti kita boleh melakukan segala sesuatu yang baik menurut pandangan kita; tetapi Alkitab berkata, cinta itu tetap punya standar. Standarnya apa? Kalau engkau mengasihi, engkau jangan hidup dalam kecemaran. Kalau engkau mengasihi, jangan hidup dalam percabulan satu dengan yang lain. Kalau engkau mengasihi, jangan ada kata-kata yang jahat, yang kosong, yang keluar dari pada mulutmu. Itu saya percaya adalah satu kebenaran yang harus tetap menyertai kasih yang kita berikan kepada seseorang. Dunia sering kali berkata, kalau kita mengasihi, nggak perlu katakan kebenaran. Kalau kita mengasihi, bagaimana? Maka kita boleh berhubungan dengan pasangan kita sebelum kita diberkati dalam pernikahan. Itu bukan kasih, itu nafsu. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita mengasihi, saya percaya kita akan menjaga standar-standar kekudusan Allah di dalam kehidupan kita. Norma-norma yang Allah sendiri hidupi, Kristus hidupi di dalam dunia, yang tidak bercabul, yang menjaga kata-katanya, yang berbicara yang berarti, yang membangun seseorang, itu menjadi sesuatu yang Dia nyatakan di dalam relasinya dengan manusia. Dan saya percaya, ini juga menjadi hal yang kita perlu miliki dalam kehidupan kita. Kalau Saudara sungguh-sungguh adalah orang yang mengasihi Kristus karena Kristus sudah mengasihi kita, saya harap kita boleh menyatakan cinta kasih itu di dalam cinta kasih yang kudus, bukan cinta kasih yang berdosa. Cinta kasih yang berdosa itu tidak pernah bersumber dari Tuhan, tapi dari kedagingan, mungkin dari iblis. Tapi cinta kasih dari Tuhan selalu merupakan cinta kasih yang kudus. Saya akhiri khotbah saya di sini, mungkin kita akan sambung lagi di dalam pertemuan berikutnya ya. Mari kita masuk dalam doa.

Kami kembali bersyukur Bapa untuk waktu pagi ini, untuk firman yang boleh Engkau nyatakan bagi diri kami. Kami mohon dalam belas kasih-Mu Engkau boleh sungguh-sungguh menyatakan cinta kasih itu dalam kehidupan kami sebagai anak-anak-Mu, dan kehidupan kami boleh menjadi suatu kehidupan yang mengorbankan diri seperti Kristus yang telah mengorbankan diri dan menjadi suatu persembahan yang harum di hadapan Tuhan. Pimpin kami ya Bapa, mulai hari ini kami tidak lagi mementingkan apa yang menjadi kepentingan hidup kami, diri kami pribadi, tapi kami boleh mementingkan apa yang menjadi kepentingan Allah di dalam Kristus. Sekali lagi kami berdoa, bersyukur hanya dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *