Buah Roh yang Sejati, 24 Maret 2019

Ef. 5:9-10

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, salah satu hal yang Tuhan berikan di dalam kehidupan kita yang penting sekali itu selain dari pada jantung kita yang memompakan darah ke seluruh tubuh dan asupan makanan ke dalam seluruh tubuh, itu adalah pikiran kita. Dan ketika kita berbicara mengenai pikiran, salah satu daya kemampuan di dalam berpikir yang kita miliki itu adalah mengingat apa yang telah terjadi di dalam kehidupan kita. Dan pada waktu kita berbicara mengenai kemampuan mengingat yang dimiliki oleh manusia sebagai suatu memori, yang saya pikir itu adalah suatu memori yang bagi beberapa orang gampang dilupakan sekali, tapi saya percaya ada memori memori yang kuat yang akan terus bertahan di dalam kehidupan kita. Hal apa yang ingin kita masukan ke dalam otak kita atau memori kita dan kita ingat terus di dalam kehidupan kita? Apakah itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan nostalgia masa lalu yang indah-indah yang merupakan kenangan-kenangan manis yang kita pernah alami dalam kehidupan kita masa kecil kita, masa dewasa kita, masa remaja pemuda, masa di waktu kita berpacaran dan yang lain lain seperti itu? Pada waktu kita masuk menjelang usia tua atau waktu muda kita mengenang kembali hari-hari yang indah bersama dengan keluarga kita. Ataukah itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan dosa yang kita lakukan? Atau itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan kejahatan-kejahatan orang yang pernah terjadi dalam kehidupan kita? Atau kebaikan-kebaikan yang kita pernah lakukan kepada orang lain? Saya percaya setiap memori kita itu mungkin mengandung hal-hal itu, tetapi tujuan yang Tuhan inginkan dari memori yang diberikan kepada kita atau ingatan yang kita miliki saya percaya itu berkaitan dengan untuk mengingat kembali apa yang telah Kristus lakukan dalam kehidupan kita. Mengingat kembali siapakah diri kita sebelum kita ada di dalam Kristus atau sebelum kita ada di dalam terang sebagai anak anak terang. Bahwa kita dulu adalah orang-orang yang ada di dalam kegelapan tetapi karena cinta kasih dan anugerah Kristus itu membuat kita sekarang tidak ada lagi ada di dalam kegelapan, kita sekarang ada di dalam terang dan ada di dalam Kerajaan Allah.

Ini yang dikatakan oleh Paulus di dalam ayat yang ke 8, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hidup lah sebagai anak anak terang.” Saya percaya ini adalah unsur penting di dalam menggunakan memori yang Tuhan karuniakan untuk kita miliki di dalam kehidupan kita. Di Persekutuan Pemuda Sabtu kemarin kita membahas suatu tema mengenai kerinduan akan Allah, pertumbuhan kerinduan akan Allah di dalam kehidupan kita. Dan pada waktu berbicara mengenai pertumbuhan rohani, pertumbuhan kerinduan akan Allah dalam kehidupan kita, sesuatu yang dikerjakan Allah di dalam diri orang orang percaya, maka salah satu poin yang digunakan oleh Tuhan untuk memfasilitasi pertumbuhan itu adalah memori yang Tuhan berikan untuk mengingat akan hari-hari indah bersama dengan Tuhan yang pernah Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita. Hingga pada waktu kita menjalani kehidupan kita saat ini dengan segala pergumulan yang berat dan kita mengenang kembali apa yang Tuhan pernah kerjakan dalam kehidupan kita, itu boleh memberikan kerinduan bagi kita untuk mau makin mendekatkan diri kepada Tuhan. Mau makin mengenal Allah itu bukan mengenai apa yang Allah bisa kerjakan atau hal-hal yang berkaitan dengan Allah, tetapi kita mau mengenal Allah itu secara pribadi dalam kehidupan kita karena Dia adalah Pribadi. Saudara, saya percaya ini adalah hal yang Kitab Suci senantiasa ingatkan kembali kepada kita, atau bahkan Paulus di bagian ini mungkin kalau kita lihat sudah muncul dua kali atau bahkan lebih dari dua kali dalam Efesus mengenai “kamu ingatlah, dahulu kamu adalah orang orang yang bukan berbagian di dalam janji Allah, kamu tidak memiliki Allah, kamu tidak memiliki Mesias, kamu tidak memiliki pengharapan di dalam Tuhan, tapi sekarang kamu ada di dalam pengharapan pada Kristus atau ada di dalam sesuatu kehidupan kekal karena kamu memiliki Kristus dalam kehidupan mu. Kamu memiliki Allah yang sejati. Kamu dahulu adalah orang yang berdosa sekarang kamu adalah orang yang benar di hadapan Tuhan. Atau kamu adalah terang di hadapan Tuhan.” Itu semua adalah hal yang penting yang kita tidak boleh abaikan. Dan ini adalah hal yang positif yang membangun iman kita kalau kita gunakan memori itu secara benar.

Dan pada waktu kita berbicara mengenai kemampuan mengingat ini. Dan itu adalah berbicara sesuatu yang akan membangun kerohanian kita, baik itu pengenalan kita akan Allah, saya percaya ini juga berkaitan dengan pertumbuhan di dalam kemampuan kita untuk dapat membedakan mana yang merupakan kehidupan Kristen dan mana yang bukan kehidupan Kristen. Jadi pada waktu Saudara diberikan kemampuan untuk mengingat kembali masa lalu kita yang bukan Kristen, dan mengingat kembali akan keadaan kita yang sekarang adalah Kristen, maka itu membuat kita memiliki suatu kemampuan bisa membedakan apakah perbuatan saya sekarang ini adalah sesuatu perbuatan yang muncul dari kehidupan seorang yang sudah di lahirbarukan sebagai anak Allah atau kehidupan saya sekarang ini adalah masih seperti masa lalu saya yang di luar Kristus yang ada di dalam kegelapan tetapi saya hidup dengan moralitas-moralitas yang sepertinya baik, yang Kristiani, tapi sebenarnya saya bukan orang Kristen. Di dalam seminar pelatihan penatalayan di Rabu lalu, Pak Ivan pernah bicara seperti ini ya, dia bilang, “Seseorang yang melayani, sibuk-sibuk pelayanan, dia belum tentu pelayanan kepada Tuhan.” Jangan lihat pelayanan itu adalah sesuatu yang dikaitkan dengan kesibukan-kesibukan yang begitu banyak yang kita kerjakan, karena tidak semua orang yang sibuk-sibuk di dalam gereja itu melayani; karena belum tentu itu adalah muncul dari suatu hati yang memang menerima panggilan Tuhan untuk pelayanan dalam kehidupan kita. Mengerti prinsip pelayanan itu yang adalah anugerah Tuhan. Tapi mungkin kita melayani berdasarkan sikap hati yang ingin menolong Tuhan.

Nah begitu juga dengan keadaan ini. Pada waktu Paulus mengajak kita untuk mengingat kembali akan masa lalu, saya percaya ada bagian yang ingin Paulus ajak kita lihat karena ini berbicara mengenai kehidupan Kristen adalah kita bisa membedakan mana yang merupakan kehidupan Kristen yang sejati,  mana yang merupakan kehidupan yang bukan Kristiani tapi kelihatannya seperti kehidupan Kristiani. Karena ini merupakan musuh yang besar di dalam gereja atau bagi orang-orang Kristen. Ada sekelompok orang yang memiliki moralitas yang begitu baik, yang begitu tinggi, bahkan mungkin lebih baik dari banyak orang Kristen, seperti itu, tetapi masalahnya adalah dia bukan orang Kristen tetapi dia adalah orang yang beragama dalam kehidupan dia. Tadi saya bicara mengenai musuh yang ada di dalam lingkup kita sendiri, atau diri kita sendiri. Tetapi juga ada bahaya yang lain adalah kita bisa mengira ada orang-orang yang memang baik dan bisa melakukan sesuatu kebaikan dalam kehidupan mereka yang tidak harus Kristen, atau tidak harus menjadi anak Allah terlebih dahulu, tapi mereka bisa melakukan kebaikan di dalam kehidupan yang dia lakukan di tengah-tengah dunia ini. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ini adalah hal yang serius sekali, karena Paulus sudah mengangkat ini di dalam poin ayat yang ke-9, di mana dia katakan, “Karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran.” Ada satu istilah yang Paulus gunakan, selain istilah “terang”, adalah istilah “berbuah” – yang akan kita lihat nanti di belakang. Yaitu terang pasti berbuahkan. Yang dikomparasi dengan ayat ke-11, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang.” “Janganlah kamu turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa. Tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Suatu kata yang simple, yang sederhana. Satu bicara mengenai buah, satu bicara mengenai perbuatan-perbuatan. Tetapi Paulus di bagian ini mengkontraskan dua hal ini, kalau kita ada di dalam terang, kita berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran, tapi kalau kita ada di dalam kegelapan kita melakukan perbuatan-perbuatan dalam kehidupan kita, tetapi ujungnya adalah suatu kesia-siaan.

Tapi sebelum kita masuk ke dalam bagian tersebut, saya ingin kita melihat kenapa seseorang yang ada di dalam terang, dialah yang ditujukan kata-kata ini untuk mengingat kembali akan keadaan dia ketika dia ada di dalam kegelapan. Nah saya percaya, kenapanya itu adalah berkaitan dengan natur dari pada terang itu sendiri. Pada waktu kita mendapatkan terang kasih dari pada Kristus, maka Tuhan akan melakukan sesuatu dalam kehidupan kita, yang pertama-tama adalah membuka pikiran kita dan pengertian kita akan kebenaran dari pada firman Tuhan, dan kebenaran daripada Tuhan Allah sendiri. Sehingga pada waktu kita percaya kepada Kristus, mendapatkan karunia kelahiran baru, maka hal pertama yang Tuhan kerjakan adalah mentransformasi pikiran kita. Semula kita ada di dalam kegelapan, yang maksudnya adalah kita adalah orang-orang yang tidak peduli dengan apa yang menjadi kepentingan Allah atau hal-hal yang berkenaan dengan Allah, yang kita pikirkan dalam Kitab Suci dikatakan: Kita lebih banyak berpikir tentang makan dan minum. Karena kita berpikir besok kita akan mati, lalu apa yang harus kita lakukan? Ya, ini kita hidup di dalam dunia, yang kita bisa lihat adalah dunia, yang real itu adalah suatu dunia, masa depan kita tidak tahu apa yang akan terjadi, karena itu hidup kita yang penting adalah sekarang. Itu yang kita kejar terus menerus, pada waktu kita mengenal Allah di dalam Kristus, karena anugrahNya itu. Maka konsep berpikir kita dan pengertian kita, itu berubah, dari urusan yang duniawi, yang utama itu adalah kepentingan-kepentingan makan dan minum dalam kehidupan kita, kita mulai berpikir: “Apakah yang kita kerjakan ini adalah sesuatu yang betul-betul berkenan di hadapan Tuhan, atau tidak? Apakah Tuhan memang ingin kita mengerjakan ini? Apakah ini adalah sesuatu yang menyedihkan hati Tuhan atau tidak dari perbuatan yang kita lakukan tersebut, atau perkataan yang kita katakan tersebut, atau tidak?”

Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini berbicara mengenai natur dari terang, itu akan membawa kita bisa membedakan mana yang merupakan kehendak Tuhan, mana yang bukan; mana yang merupakan urusan yang berkenan di hadapan Tuhan, yang Tuhan ingini, yang Tuhan senangi, mana yang Tuhan benci; dan saat pikiran itu diberikan, kita mulai peduli akan hal-hal tersebut, yang sebelumnya kita tidak pernah peduli atau pentingkan itu dalam kehidupan kita. Paulus di dalam Roma pasal yang ke-7, dia bukan hanya berbicara: “Saya mulai peduli terhadap hukum Tuhan dalam kehidupan saya – mengenai perbuatan yang berkenan di hadapan Tuhan atau tidak,” tetapi juga Paulus menyatakan “Ketika pengertian dan pengetahuan akan Tuhan itu dibukakan, maka fakta akan dosa itu juga menjadi sesuatu yang real dalam kehidupan kita.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apakah orang-orang bukan Kristen mengerti atau tahu istilah “dosa”? Saya percaya mereka tahu istilah “dosa”, tetapi seberapa mereka memahami dampak dosa dan penetrasi dosa atau pengaruh dosa dalam kehidupan mereka? Saya percaya itu tidak mungkin sedalam dan selengkap dan sejelas dari pada orang-orang Kristen yang telah melihat pada terang Kristus tersebut, atau mengalami anugrah Kristus. Mereka paling-paling melihat bahwa kejahatan yang terjadi di dalam kehidupan manusia atau kehidupan diri mereka, itu adalah dampak dari hal-hal yang ada di luar lingkungan, di luar diri mereka. Sesuatu yang diakibatkan oleh pendidikan atau salah asuhan, sesuatu yang diakibatkan oleh faktor ekonomi atau keturunan yang mereka miliki, itu yang mengakibatkan seseorang melakukan sesuatu hal dalam kehidupan mereka yang tidak baik itu. Tetapi sebagai orang yang mendapatkan karunia Tuhan, kelahiran baru dari Tuhan, dia tidak akan melihat kejahatan-kejahatan itu di dalam dunia, hal-hal yang tidak baik yang dilakukan oleh manusia itu adalah dampak lingkungan terhadap diri dia, atau sesuatu di luar yang mempengaruhi, atau pendidikan yang salah terhadap diri dia. Tapi dia akan melihat bahwa semua itu berkaitan karena dia sudah dicemari oleh dosa, dan pencemaran tersebut adalah sesuatu yang begitu dalam begitu menyeluruh sehingga hal itu mengubah seluruh cara dia menilai dan mencondongkan hatinya kepada arahnya yang lain selain dari pada Tuhan. Secara teologis ini namanya kerusakan total yang dialami oleh semua orang berdosa, sehingga pada waktu kita melihat apa yang menjadi pertimbangan kita, cara hidup kita, apa yang harus kita katakan, respon yang harus kita berikan pada orang lain, ketika kita mendapatkan suatu stimulasi atau sesuatu ransangan dari pada orang atau tindakan dari orang terhadap kehidupan kita, maka kita tahu pertimbangan kita tidak bisa seratus persen diandalkan diri untuk memberikan respon yang benar tetapi kita harus konsul dulu terhadap Alkitab, terhadap perkataan Tuhan, apakah ini sesuatu yang benar di hadapan Tuhan atau tidak, dan kenapa? Karena kita tahu bahwa penilaian kita sudah dicemari oleh dosa, dan upah dosa adalah maut, nah ini yang Paulus katakan di dalam Roma 7, pada waktu dia mengerti akan kebenaran itu dia juga mengetahui kalau di dalam diri dia ada kedagingan yang separuh bergejolak untuk membawa dia ke sisi lain, untuk tidak melakukan apa yang menjadi kehendak Allah dalam kehidupan dia, tetapi melakukan apa yang menjadi keinginan dosa di dalam hati dia. Ada semacam peperangan gejolak di dalam diri dia yang membuat dia akhirnya dia berkata “ Puji Tuhan, bersyukur kepada Allah karena ada Yesus Kristus” dan Dia adalah jalan keluar terhadap pergumulan antara kebenaran dan dosa yang dia lakukan dalam kehidupan dia, sesuatu yang sebelumnya ia tidak bisa lakukan ,tetapi karena ada Kristus, ia bisa mendapatkan damai bersama dengan Tuhan.

Saudara, jadi pada waktu Tuhan memberikan pengertian bagi kita, mencelikan bukan mata jasmani kita saja tetapi mencelikan mata rohani kita untuk melihat kebenaran dari pada Tuhan, kebenaran dari diri kita yang adalah berdosa dan Allah yang suci, dan kita adalah orang yang sudah diberikan suatu terang menjadi orang yang baru atau manusia baru, maka saya percaya di dalam diri kita akan selalu ada gejolak peperangan di dalam hati kita antara terang dan gelap, keinginan Tuhan dan apa yang menjadi keinginan daging kita, dan kita selalu punya suatu jalan keluar, bahwa ada Kristus Yesus, dia bukan manusia, bukan hanya nabi saja tetapi dia adalah Tuhan yang inkarnasi untuk menebus dosa kita, dan memberikan solusi bagi masalah yang kita alami dalam kehidupan kita, dan itu membuat kita ingin dan ingin lagi mengenal cinta kasih Allah di dalam Kristus, itu di dalam kehidupan kita, dan ingin mengetahui seberapa agung-Nya karakter Allah atau pribadi Allah tersebut dalam kehidupan kita. Jadi bukan hanya pengetahuan yang akan muncul, terang akan membuat ada sesuatu keinginan hati di dalam diri kita untuk mengingini yang terang itu, yang baik itu, yang benar itu dalam kehidupan kita. Saudara, hati-hati, satu sisi Alkitab berkata pada waktu kita mengikut Kristus perlu  ada penyangkalan diri demi untuk bisa kita menjalankan apa yang menjadi kepentingan Tuhan atau mengikut Kristus dalam kehidupan kita, tetapi saya juga percaya penyangkalan diri ini bukan berbicara mengenai sesuatu kehidupan yang selalu berada di dalam keadaaan yang terhimpit, yang tidak menyenangkan, yang terbelenggu, yang tidak ada kebebasan di dalam mentaati Tuhan, sesuatu yang menjadi beban di dalam hati kita; tetapi saya percaya pada waktu Tuhan memberikan hati yang baru dalam diri kita selain dari pikiran yang baru, cara penilaian yang baru, ada sesuatu kerelaan di dalam diri kita untuk mau melakukan apa yang merupakan penyangkalan diri tersebut.

Bagi yang kita yang sebelumnya melihat ikut Tuhan tidak ada suatu kebebasan tetapi itu adalah “sesuatu yang membebani hidup saya dan sepertinya tidak ada suatu sukacita dimana keindahan kalau saya harus menyangkali diri saya dan kepentingan saya demi untuk kepentingan Tuhan,” kita mulai melihat, “Oh ternyata tidak seperti itu ya, ternyata ketika saya menyangkali diri, itu yang benar, ketika saya mengikuti Tuhan itu yang lebih baik dalam kehidupan saya,” karena apa? Ketika saya menyangkali diri saya, melakukan menyangkali kehidupan saya yang jahat, yang berdosa, yang tidak menyenangkan Tuhan, ketika saya melakukan yang apa yang Tuhan kehendaki itulah yang sebenarnya yang benar yang menjadikan saya menjadi sebagai manusia yang sejati yang sesuai dengan gambar Allah; tapi pada waktu saya mengikuti keinginan saya, itu menjadikan saya lebih mirip iblis daripada gambar Allah dalam kehidupan saya. Sehingga kita melihat pada waktu melihat kebenaran-kebenaran yang Tuhan nyatakan dalam kehidupan kita, pada waktu kita melihat pada karakter-karakter Kristus yang harusnya kita teladani dalam kehidupan kita, kita melihatnya itu sebagai sesuatu yang baik yang harus saya miliki, yang harus saya bertumbuh di dalamnya, bukan sesuatu yang terpaksa harus saya lakukan karena sebenarnya itu tidak menyenangkan, tapi karena saya berhadapan dengan Allah yang suci, yang kejam, yang menghukum orang berdosa, yang tidak ada kesempatan untuk pengampunan lagi ketika saya menghadapi tahta penghakimanNya kalau saya hidup di luar dari kehendak Tuhan, tetapi saya tahu bahwa itu keinginan Tuhan yang Tuhan senangi dan saya juga menyenangi apa yang Tuhan senangi itu. Itu yang akan terjadi dalam kehidupan kita. Jadi ada hati yang baru, tetapi ada juga suatu keinginan yang baru, di dalam diri kita, untuk melakukan hal-hal yang baik, yang berkenan di hadapan Tuhan, atau istilahnya adalah berbuahkan kebaikan keadilan dan kebenaran dalam kehidupan kita.

Dan kali ini saya akan masuk ke dalam bagian yang kedua tadi, sesuatu yang sangat kontras sekali yang Paulus nyatakan di bandingkan dengan orang-orang yang tidak percaya. Pada waktu kita adalah orang percaya itu adalah sebuah buah yang dikatakan oleh Tuhan, tetapi pada waktu kita belum menjadi orang Kristen, apa yang kita lakukan itu mungkin kita tidak lihat sebagai suatu buah tetapi itu adalah suatu perbuatan yang kita usahakan dalam kehidupan kita, untuk kita bisa miliki. Dan pada waktu bicara mengenai hal ini, apa yang dimaksudkan dengan buah, dan apa yang dimaksudkan dengan perbuatan, saya percaya ini adalah hal yang perlu kita perhatikan. Buah berarti pada waktu kita melakukan kebaikan, keadilan dan kebenaran, maka kebaikan keadilan dan kebenaran itu menjadi sesuatu yang natural, yang mengalir keluar dari dalam, keluar dari pada kehidupan orang yang sudah ada di dalam terang. Saudara boleh lihat Mazmur 104 mengenai hal ini. Kalau Saudara perhatikan, segala yang diucapkan oleh pemazmur itu adalah segala yang dikembalikan kepada Tuhan, dan dia melihat dari perspektif Tuhan dalam kehidupan dia. Ini adalah sesuatu yang saya percaya menjadi karakter dari orang-orang yang dilahirbarukan oleh Tuhan di dalam kehidupan dia. Ketika dia melihat segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini, matanya tidak melihat di dalam kegelapan tetapi matanya melihat di dalam terang. Dan pada waktu ia melihat di dalam terang, apa yang dia lihat? Dia melihat bahwa dunia ini milik Tuhan, diri dia milik Tuhan, segala kehidupan yang ada di dalam dunia ini adalah sesuatu yang ada di dalam pemeliharaan Tuhan, termasuk diri dia, binatang-binatang, segala sesuatunya tidak ada yang di luar dari pada pemeliharaan Tuhan, di dalam kehidupan dia. Dia memiliki mata yang bisa melihat ini. Dan itu apakah sesuatu yang bisa diusahakan? Saya percaya itu bukan sesuatu yang bisa diusahakan. Buah menyatakan kalau kehidupan Kristen itu adalah sesuatu kehidupan yang tidak mungkin bisa diusahakan. Tetapi itu adalah suatu kehidupan yang dihasilkan oleh karena suatu kehidupan yang diubahkan oleh Tuhan dari dalam yang dinyatakan di luar.

Kalau kita mau ibaratkan, kita bisa ibaratkan seperti sebuah semacam pohon. Pertama adalah pohon yang hidup, yang kedua adalah pohon natal. Bedanya apa? Yang lebih indah yang mana? Yang hidup atau yang natal? Yang lebih bagus yang mana? Kayaknya natal ya? Dengan hiasan-hiasan. Saya lebih natural sih, saya lebih suka pohon yang hidup. Tetapi kadang-kadang kita  ketika masuk ke dalam bulan Natal, kita bisa siapin pohon natal yang kita bisa senang sekali mau hias pohon itu seindah mungkin, sebagus mungkin. Dan ada bola buah seperti bunga yang digantung di situ. Tapi Saudara, apa yang membedakan pohon natal yang berbuah-buah itu dengan segala hiasan yang bagus dengan pohon yang hidup yang memberikan buah? Saya percaya yang pohon natal itu walaupun indah tetapi itu buahnya tidak alami. Itu adalah buah yang ditaruh di situ yang sebenarnya tidak ada di situ. Tetapi buah yang muncul seperti buah yang hidup adalah buah yang alami yang keluar dari pohon itu. Karena pohon yang hidup bukan pohon mati. Jadi pada waktu kita bicara mengenai perbuatan Kristen, kelakuan, kebaikan, kemurahan, kebenaran yang kita lakukan dalam kehidupan kita ataupun keadilan, itu bukan sesuatu yang bisa kita usahakan, tetapi pasti muncul atau lahir dari seorang yang rohaninya dihidupkan oleh Tuhan atau seorang yang ada di dalam terang bukan di dalam kegelapan. Jadi kalau kita mau bicara hal ini, pada waktu kita, seorang telah ditebus oleh Kristus, pada waktu dia dilahirbarukan oleh Kristus, maka yang pasti ada sesuatu yang pasti terjadi dalam kehidupan dia atau sesuatu yang konsisten, yang tetap, yang tidak berubah, yaitu dia akan terus bertumbuh sampai pada suatu titik dia akan berbuah di dalam kehidupan dia.

Dan ini adalah kontras sekali di suatu kehidupan yang ada di dalam kesemuan atau sesuatu yang ada di dalam suatu kegelapan. Di dalam sebuah Korintus 11:14 Paulus pernah berkata iblis pun bisa menyamar sebagai malaikat terang. Itu artinya apa? Pada waktu kita melihat kepada iblis, mungkin ada sesuatu penipuan yang bisa terjadi atau sesuatu kesalahpahaman dalam diri kita, kita lihat ternyata Iblis itu malaikat dengan segala kebaikan atau segala terang yang dia bisa nyatakan di dalam kata-kata dia atau perbuatan diayang kita pikir dia adalah malaikat Tuhan yang tapi ternyata dia adalah iblis. Dan pada waktu kita melihat pada orang-orang Kristen, mungkin kita bisa berpikir bahwa yang dia lakukan yang kita lihat itu  dengan kebaikan-kebaiakn yang dinyatakan dia adalah orang yang baik, orang Kristen yang sejati, atau orang yang mendapatkan Tuhan walaupun dia di dalam iman Kristen, karena kebaikan yang mereka lakukan. Tapi Saudara, kalau kita sungguh-sungguh menegerti mengenai prinsip buah tersebut, maka kita akan berkata, identitas seseorang memang berkaitan dengan buah yang dia tampilkan atau buah yang dia nyatakan dalam kehidupan dia, tetapi perbuatan itu tidak pernah menjadi penguji 100% akan identitas orang itu siapa. Dan pada waktu kita berbicara mengenai identitas yang harus diubah terlebih dahulu dari dalam baru dinyatakan keluar, maka itu berarti apa yang ditampilkan di luar selain itu bukan sesuatu yang semu, tetapi pasti adalah sesuatu yang di dalam keseragaman, tidak ada perbedaan. Saudara boleh perhatikan misalnya kalau kita lihat buah jeruk ya, dari pohon jeruk. Dia tumbuh, pada waktu dia tumbuh, dia karena dia hidup akhirnya dia keluarkan bunga, dari bunga kemudian menjadi bakal buah, lalu dari bakal buah tumbuh makin lama makin besar, makin besar, akhirnya jadi buah yang matang. Saudara, pernah perhatiin nggak, jeruk yang satu dengan jeruk yang lain itu adalah jeruk, tetapi jeruk yang satu tidak persis sama dengan jeruk yang lain. Bahkan daun pun nggak ada yang sama antara satu daun dengan daun yang lain, semuanya ada perbedaan.

Dan kalau itu adalah sesuatu yang dihasilkan oleh Roh Kudus dalam diri kita yang menghasilkan buah, buah Roh itu, saya percaya pada waktu kita melihat kehidupan orang Kristen, kita bisa melihat ada kesamaan di antara kehidupan anak-anak Tuhan, tetapi kita juga bisa melihat ada perbedaan dalam kehidupan anak-anak Tuhan. Tetapi kalau sesuatu buah itu adalah sesuatu hasil kamuflase, sesuatu yang dipaksakan, dibuat-buat seperti itu, mungkin kita akan lihat ada keseragaman di dalam gereja. Dalam pelayanan, di dalam cara menyambut orang, atau di dalam melayani satu dengan yang lain, itu ada keseragaman. Termasuk di dalam kita berbicara mengenai karunia Roh Kudus, ada keseragaman di dalamnya. Tapi kalau berbicara itu adalah buah dari Roh, atau sesuatu yang Tuhan munculkan dari dalam hati kita, masing-masing orang individu berbeda-beda, dan berdasarkan rencana Tuhan dalam hidup kita yang berbeda-beda, di dalam keseragaman itu pasti ada perbedaan, keunikan di dalam masing-masing kehidupan orang. Buah yang tidak terlalu akan sama dan tidak boleh dipaksakan sama. Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, buah itu adalah sesuatu yang bukan sesuatu yang bisa dibuat, tetapi sesuatu yang mengalir secara natural dalam kehidupan kita, yang merupakan proses pembentukan dari Tuhan. Karena apa? Karena kita hidup, kita sudah dilahirbarukan, kita menjadi manusia yang adalah terang itu, karena kita telah menerima terang dari pada Kristus. Jadi artinya apa? Artinya adalah, setiap orang Kristen cepat atau lambat pasti berbuah. Bukan sesuatu yang bisa ditentukan berdasarkan waktunya kapan. Itu bukan urusan kita, itu adalah urusan Tuhan. Tetapi yang pasti adalah setiap orang Kristen kalau dia sungguh-sungguh adalah orang yang ada di dalam terang, dia pasti berbuah. Mau cepat atau lambat. Dan Saudara, ini berarti pada waktu kita melihat kepada pelayanan, pada waktu kita melihat kepada keterlibatan kita di dalam sebuah pekerjaan Tuhan, atau pada waktu kita melihat akan kehidupan kita yang harus diubahkan, karakter yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, saya katakan, itu semua adalah hal-hal yang tidak pernah boleh kita paksakan kepada orang lain. Kita punya kecenderungan untuk mendesak orang berbuat sebelum waktunya. Karena apa? Kita merasa orang Kristen harus seperti ini, seperti itu, kita menjadi standar orang Kristen yang baik itu, lalu ketika kita melihat orang lain yang malas melayani atau kurang terlibat di dalam pelayanan atau kehidupan dia belum mencerminkan suatu kehidupan yang penuh dengan api yang berkobar untuk Tuhan lalu kita merasa ini pasti nggak benar, nggak boleh seperti itu, lalu yang kita lakukan adalah apa? Mendesak orang itu bahkan kemudian muncul dari hati yang mulai menghakimi orang itu, yang menyatakan engkau pasti bukan orang Kristen yang baik. Kita tidak mau terlalu dekat dengan dia. Atau terlalu melibatkan dia karena dia belum waktunya atau dia belum mendapatkan karunia Tuhan dan kalau dia mau melayani dia harus berubah sikapnya dan standarnya adalah seperti ini. Saudara, kita punya kecondongan seperti itu.

Tapi kalau kita mengerti bahwa buah itu, kesempatan pelayanan, kesadaran untuk berbagian di dalam sebuah pekerjaan Tuhan itu adalah sesuatu yang Tuhan kerjakan dalam hati kita, saya yakin yang kita akan lakukan adalah, kita tidak akan mendesak seseorang sebelum waktunya untuk mereka terlibat. Dan bahkan kita bisa berkata, kita tidak akan mendesak diri kita atau memaksa diri kita untuk terlibat di dalam sebuah pelayanan karena dorongan orang lain atau karena sesuatu yang merupakan kebutuhan yang kita lihat atau kebutuhan yang ditawarkan kepada kita untuk kita berbagian di dalamnya. Saudara, kita harus hati-hati di dalam aspek ini karena, sebelumnya ya, saya bukan berkata, “Oh kalau gitu mulai hari ini gereja tidak boleh menuntut saya atau Hamba Tuhan menuntut saya lagi untuk berubah dan berbuah dalam kehidupan saya?” Bukan seperti itu ya. Atau “hamba Tuhan nggak boleh mengajak-ajak saya lagi atau pelayan gereja yang lain tidak boleh mendorong-dorong saya untuk terlibat di dalam, misalnya.” Baru-baru ini kita akan ada KKR Paskah, ada paduan suara di situ. Mungkin saudari Fany mendorong Saudara, “Ayo ikut paduan suara, ikut paduan suara,” seperti itu. Atau Pak Veri bilang, “Ayo daftarkan diri ikut pelayanan yang lain.” Oh nggak, mulai hari ini saya nggak akan, jangan dorong saya, karena apa? Saya belum tergerak oleh Tuhan. Saya tunggu waktunya Tuhan menggerakkan saya. Hati-hati. Nggak seperti itu juga ya. Saudara, waktu saya bilang itu adalah sesuatu yang dari hati, muncul keluar, dorongan seperti itu, bukan berarti buah itu atau pelayanan yang kita lakukan itu tidak ada suatu beban atau visi yang di luar atau panggilan dari luar yang diberikan kepada kita untuk kita berbagian di dalamnya dan itu tidak boleh ada. Boleh saya yakin. Dan harus, mungkin. Tetapi masalahnya adalah, pada waktu Saudara melibatkan diri di dalam pelayanan itu, itu karena Saudara tahu betul-betul itu adalah dorongan Tuhan untuk Saudara ada bagian di situ atau tidak.

Banyak orang hanya karena tidak merasa enak atau kurang nyaman kalau menolak seseorang yang terlalu akrab dengan diri dia, maka dia terlibat pelayanan. Atau sesuatu karena sudah relasi dekat sekali sehingga ketika dia dipercayakan sesuatu dia merasa, atau dia punya posisi tertentu dalam gereja, sehingga ketika dia dipercayakan sesuatu, dia merasa, “Aduh, masak saya dengan posisi saya seperti ini saya menolak? Tidak baik sepertinya, saya harus menerima,” sehingga dia lakukan hal-hal itu tetapi sebenarnya dia tidak punya kerelaan hati dan dia tidak mengerti bahwa itu semua adalah pelayanan yang harus dilakukan dan akhirnya menjadi beban, tetapi di hadapan orang lain mungkin dia dianggap sebagai orang yang baik. Dan mungkin juga dia akan berpikir kalau diri dia adalah orang yang baik, sudah terlibat dalam pelayanan dan saya adalah orang Kristen yang baik, sehingga yang terjadi apa? Dia tidak memikirkan yang lebih penting adalah kualitas dalam diri, buah yang dihasilkan karena kualitas bukan karena kuantitas banyaknya pelayanan yang kita terima. Tidak heran Saudara, kalau kita melihat gereja ada gereja yang begitu aktif sekali, kegiatan ini dan itu banyak sekali, tetapi rohani dari pada orang-orang yang ada di dalamnya itu begitu masih anak-anak, tidak bertumbuh. Ada ketimpangan yang begitu besar sekali antara seorang yang harusnya melayani Tuhan dengan hati yang dari dalam, yang diubahkan oleh Tuhan, dengan kasih yang sesungguhnya, dengan perhatian yang sesungguhnya, dan dengan sesuatu yang dibuat-buat. Bisa sih dipoles. Saya kemarin juga ngomong, penyambut tamu bisa sih berdiri di depan pintu, di-training, “kalau kamu bersalaman harus digenggam jangan salam tempel, harus senyum, sapa orang,” bisa seperti itu, tetapi pada waktu dia melakukan itu apakah dia adalah orang Kristen yang baik? Apakah gereja itu sudah bertumbuh, memiliki kasih Tuhan, kasih persaudaraan yang sesungguhnya? Mungkin kita bisa ketika datang ke sini kita tergoda untuk mengatakan, “Oh iya benar, gereja ini baik, gereja ini punya kasih, hangat, kasih persaudaraan luar biasa sekali,” tapi ternyata kasih itu bukan sesuatu yang dari hati yang muncul secara natural tetapi karena dia di-training oleh hamba Tuhan dan majelis gereja.

Saya percaya kita perlu memperhatikan kalau berbicara mengenai buah itu berarti suatu hal yang dari dalam yang diubahkan, yang bertumbuh secara konsisten, secara bertahap, secara pasti, dan akhirnya betul-betul dinyatakan di luar melalui kehidupan kita yang sungguh-sungguh diubahkan karena sesuatu yang Tuhan kerjakan di dalam, bukan hasil polesan. Tetapi dosa dan kehidupan dalam kegelapan itu adalah satu kehidupan yang melakukan suatu perbuatan karena hasil polesan di luar. Bisa tampil seperti orang yang lahir baru, mungkin bisa, tetapi Alkitab berkata tetap tujuannya adalah sia-sia karena dia sebetulnya memperhatikan hal-hal yang bersifat eksternal bukan sesuatu yang dari dalam hati yang diubahkan oleh Tuhan. Saudara, saya peringatkan sekali lagi, hati-hati. Saya harap firman ini boleh menjadi suatu renunngan dan introspeksi diri kita kembali: selama ini saya orang Kristen yang baik atau tidak? Selama ini buah yang saya tampilkan itu karena saya menjaga muka saya di hadapan orang atau sesuatu yang muncul secara natural dari hati saya yang sudah dilahirbarukan oleh Roha Kudus, sesuatu kehidupan yang sehat dari kerohanian saya yang membuat perbuatan itu, sikap tersebut atau karakter itu muncul dari kehidupan saya? Dan kalau Saudara bisa melihat ini saya harap Saudara mengerti langkah apa yang harus Saudara lakukan dalam kehidupan Saudara.

Nah Saudara, kalau ini berbicara mengenai buah, saya juga ajak Saudara lihat berarti unsur yang penting harus apa yang dikeluarkan, aspek apa yang harus kita pertumbuhkan? Kalau perbuatan kita dan pelayanan itu adalah buah yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita, hal apa yang harus kita tumbuhkan? Relasi kita dengan Tuhan kan? Kedewasaan iman kita, pengenalan kita akan Tuhan. Kalau Saudara tidak pernah bertumbuh di dalam aspek ini, kerinduan kepada Tuhan, mengerti karakter Tuhan, kehendak Tuhan dalam kehidupan Saudara, Saudara tidak sungguh-sungguh bertumbuh di dalam suatu kedewasaan rohani atau takut akan Allah, jangan pikir Saudara akan bertumbuh di dalam buah, itu nggak mungkin. Tuhan Yesus pernah bilang kita itu adalah carang yang dicangkokkan kepada pokok anggur. Kalau kita tidak pernah ditempelkan ke pokok anggur kita tidak mungkin mendapatkan asupan makanan dan kalau kita tidak mendapatkan asupan makanan bagaimana kita bisa hidup dan bagaimana kita bisa berbuah? Atau kalau tempelan itu adalah suatu tempelan yang tidak sempurna, saya yakin batang itu tidak akan sehat. Jadi tempelan itu harus baik, sambungan kita dengan Kristus itu harus baik, relasi kita dengan Kristus itu harus dibangun, baru dari situ kita bisa menghasilkan buah yang baik dan sehat dalam kehidupan kita. Ini yang saya harap kita boleh gumulkan dari firman pada hari ini. Kita adalah terang, kalau kita adalah terang maka seharusnya kita menghasilkan kebenaran, kebaikan, keadilan, dan itu bukan sesuatu perbuatan yang kita usahakan tetapi itu adalah buah yang dihasilkan oleh Tuhan di dalam hati kita karena kita adalah terang bukan kegelapan. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita ya. Mari masuk dalam doa.

Kembali kami bersyukur Bapa untuk firman kebenaran yang boleh Engkau nyatakan bagi kami. Kami seringkali, ya Bapa, melihat segala sesuatu atau menilai segala sesuatu dari aspek yang kelihatan di mata kami. Tapi ya Bapa, biarlah firman pada hari ini boleh meluruskan pikiran kami, pengertian kami, bahwa yang lebih utama bukan apa yang kami tampilkan di depan, walaupun itu adalah sesuatu yang penting, tetapi yang lebih utama adalah perubahan yang terjadi di dalam hati kami karena kami bukan lagi ada di dalam kegelapan tetapi kami ada di dalam terang. Kiranya perubahan ini, kehidupan yang berdasarkan kualitas yang ada di dalam diri kami yang dikerjakan oleh Tuhan sendiri di dalam kehidupan kami itu boleh menjadi hal yang kami kejar, yang kami utamakan, sehingga kehidupan kami pasti berbuah. Tolong kami ya Bapa, pimpin kehidupan anak-anakMu ini. Biarlah kami menjadi orang-orang yang tidak memikirkan hal-hal yang bersifat superficial, yang bersifat kamuflase, tetapi kami boleh sungguh-sungguh menjadi orang yang memikirkan apa yang menjadi esensi dari kehidupan baru yang telah Engkau karuniakan bagi kami di dalam Kristus Yesus. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, yaitu Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami telah berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *