Bertumbuh Menuju Kesempurnaan, 5 November 2017

Ef. 4:12

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Di dalam kita membahas mengenai ayat 10, 11, dua minggu lalu, kita telah melihat bahwa Tuhan ketika naik ke tempat-Nya yang tinggi, Tuhan bukan hanya memberikan pemberian-pemberian karunia kepada jemaat, tetapi juga Tuhan memberikan jemaat orang-orang yang menjabat posisi-posisi penting di dalam jemaat atau di dalam gereja. Nah orang-orang ini adalah rasul, nabi, penginjil, gembala dan guru di situ, untuk memperlengkapi jemaat Tuhan. Pada waktu Tuhan mengutus mereka ke dalam dunia ini, kita juga sudah melihat 4 atau 5 jabatan ini adalah suatu jabatan yang tidak semuanya bersifat permanen ada di dalam gereja, tetapi ada jabatan yang bersifat temporal. Temporal atau sementara itu adalah jabatan rasul dan nabi; orang-orang yang diberi kesempatan, karunia untuk menyaksikan Kristus datang ke dalam dunia ini dengan mata kepala sendiri, dengan indera mereka sendiri, itu adalah orang-orang yang melihat Kristus yang disebut sebagai rasul. Pada waktu Yesus Kristus sudah naik ke sorga, maka semua rasul itu mengalami kematian, maka jabatan itu menjadi suatu jabatan yang bersifat tidak ada lagi di dalam gereja. Lalu mengenai nabi, nabi juga adalah orang-orang yang membantu rasul untuk menjabarkan, menjelaskan firman Tuhan. Tapi firman Tuhan yang dijelaskan oleh nabi adalah firman yang diajarkan oleh para rasul di dalam Perjanjian Baru. Itu sebabnya ketika orang-orang yang lebih permanen menetap ada di dalam gereja, maka jabatan nabi ini juga sudah tidak ada lagi di dalam gereja Tuhan. Tetapi pada waktu kita melihat kepada jabatan sebagai penginjil, gembala, pengajar, seperti itu, maka ini adalah jabatan yang bersifat permanen di dalam gereja. Saya nggak akan jabarkan lagi karena kita sudah jabarkan cukup panjang di dalam pertemuan 3 minggu yang lalu mengenai keempat atau lima jabatan yang ada di dalam gereja Tuhan ini.

Saudara, pada waktu kita melihat adanya jabatan-jabatan penting yang menjadi pemimpin di dalam gereja yang Tuhan tempatkan di dalam gereja ini, tujuannya untuk apa? Alkitab berkata, untuk memperlengkapi jemaat untuk supaya jemaat itu bertumbuh menuju kepada kesempurnaan. Nah apa yang membuat kita perlu bertumbuh ke dalam kesempurnaan itu? Pada waktu kita membahas, juga pernah, kita berbicara mengenai orang yang kudus, yang ditebus oleh Kristus, maka kita adalah orang yang sudah dikuduskan oleh Kristus di awal hidup kita sebagai orang Kristen. Pada waktu kita berhadapan dengan Tuhan di dalam kematian atau di dalam kedatangan Kristus kedua kali, kita juga dikatakan sebagai orang yang kudus, orang yang sempurna di hadapan Tuhan Allah. Ini membuat ketika kita berjalan dari orang yang percaya menuju kepada kita ke sorga menghadap kepada Tuhan, maka harus ada suatu pertumbuhan dalam kekudusan kehidupan dari pada orang-orang percaya, karena apa? Karena nantinya kita adalah orang-orang yang sempurna, orang yang kudus, orang yang tidak bercacat lagi; sehingga pada waktu kita berjalan sebagai orang Kristen dalam dunia ini pasti arah kita, grafik kita itu menanjak ke atas dan bukan turun ke bawah atau bukan datar terus menerus. Ada satu pertumbuhan di dalam kekudusan, ada pertumbuhan di dalam kedewasaan iman, itu pasti ada di dalam kehidupan setiap orang yang percaya.

Tetapi saya mau ajak kita melihat dari perspektif yang lain kenapa kita harus kudus. Itu bukan hanya karena nantinya kita kudus dan karena sekarang kita adalah orang yang kudus, tetapi juga karena Allah kita itu adalah Allah yang sempurna dan kudus. Saudara, ini adalah satu aspek yang harus kita lihat sendiri dan kita anggap sebagai sesuatu yang penting, karena pada waktu Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini, maka Dia berkata, “Hendaklah kamu semua sempurna atau kudus sama seperti Aku adalah kudus atau sama seperti Bapamu yang di sorga adalah kudus.” Ini menjadi penekanan Tuhan bagi setiap orang yang menjadi murid-Nya. Kita diminta kudus karena apa? Yang menjadi Bapa kita itu kudus. Kalau kita sungguh-sungguh adalah anak-anak Tuhan yang memiliki Bapa yang kudus, saya percaya kehidupan kita akan menuntun kepada sesuatu yang sempurna, sesuatu yang kudus, sesuatu yang berbeda daripada dunia ini. Saya lihat sering kali problem yang ada di dalam gereja adalah anak-anak Tuhan lupa akan identitasnya ini sebagai orang yang kudus. Kenapa kita hidup dalam dosa? Kenapa ketika ada satu persoalan terjadi dalam hidup kita, kita hidup seperti orang-orang yang ada di dalam dunia? Padahal kita dikatakan oleh Kitab Suci, memang pada waktu kita percaya kepada Tuhan kita bukan orang yang sempurna, orang yang betul-betul tidak berdosa lagi. Kita masih bisa jatuh dalam dosa, tetapi ada satu hal yang Alkitab juga katakan: pada waktu kita menjadi orang percaya Tuhan sudah memisahkan kita dari pada dunia.

Nah ini menjadi identitas kita yang penting, yang saya percaya, setiap anak-anak Tuhan harus memegang teguh pada identitas ini. Saya kalau ditanya, atau Bapak-Ibu kalau ditanya siapa Bapak-Ibu? Kita sering kali umumnya memperkenalkan diri sebagai orang Kristen? Anak Tuhan? Mungkin waktu kita memperkenalkan diri kayak gini orang akan melirik kita dengan pandangan yang aneh gitu ya? Bahkan anak-anak Tuhan sendiri kalau kita kenalkan diri, saya orang Kristen, saya anak Tuhan, saya pikir orang Kristen sendiri akan lihat kita sebagai orang yang aneh. Lebih baik kalau kita kenalkan diri “Saya Dawis, saya dari Palembang, saya dari keluarga apa mungkin, orang tua saya ini dan itu, tempat saya itu tinggalnya di mana.” Saya nggak berkata kita nggak boleh kenalkan diri kita sebagai orang yang ada menurut identitas yang ada di dalam KTP kita atau seperti umumnya orang memperkenalkan diri. Itu nggak salah. Tapi kadang-kadang, yang saya mau angkat adalah, pada waktu kita memperkenalkan diri sebagai “Saya Dawis, asal saya dari kota anu, pulau ini, saya keluarga dari sini,” di dalam pikiran kita ada tidak pemikiran bahwa saya orang Kristen juga lho. Saya anak Tuhan yang sudah ditebus oleh Kristus, yang sudah dipisahkan dari pada dunia. Saya pikir kalau kita nggak punya pemikiran seperti ini, nggak heran kalau kita berelasi dengan orang, kita tidak ada bedanya dengan orang dunia. Tidak ada heran kalau kita menghadapi suatu masalah kita lupa akan identitas kita sebagai orang Kristen, anak Tuhan yang kudus, yang dipelihara oleh Tuhan Allah dan dituntut oleh Tuhan untuk memiliki suatu kehidupan yang kudus dalam hidup kita. Akibatnya kita kembali hidup seperti orang-orang dunia.

Saudara, status kudus, keberadaan yang kudus, itu adalah, saya percaya itu adalah suatu karunia yang sangat istimewa sekali yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita sebagai orang-orang percaya, supaya dari kehidupan yang lama kita dipimpin untuk menjadi orang-orang yang berbeda dari Tuhan, yang terpisah dari pada dunia seperti Bapa kita yang ada di sorga; seperti Kristus sebagai saudara sulung kita yang Tuhan berikan dalam dunia ini untuk menjadi pola dan teladan dalam kehidupan kita. Nah ini yang saya mau kita lihat, kenapa saya harus hidup kudus dalam dunia ini? Sebabnya karena Bapa kita adalah Bapa yang kudus. Ada beberapa ayat yang menyatakan hal ini; bukan hanya dari pada perkataan yang Yesus katakan untuk menyatakan bahwa Allah itu kudus. Saudara kalau perhatikan, misalnya di dalam Kitab Bilangan 15:28, di dalam Bilangan 15:28 ada satu kalimat seperti ini, orang yang melakukan dosa yang tidak disengaja, apa yang dia harus lakukan? Kalau orang yang melakukan dosa yang disengaja, pada dia pasti ditimpakan hukuman. Tapi bagaimana kalau seseorang itu melakukan dosa yang tidak disengaja? Apa yang dia harus lakukan? Nah Musa berkata, dia nggak bisa dibiarkan begitu saja. Dia harus tetap membawa seekor kambing betina lalu dibawa ke hadapan imam untuk yang berumur 1 tahun untuk dipersembahkan sebagai korban penghapus dosa; dan seorang imam harus menerima kambing itu dan mengadakan suatu kebaktian pendamaian di hadapan Tuhan bagi dosa-dosa orang yang tidak sengaja lakukan dosa tersebut. Supaya apa? Dia mendapatkan pengampunan dari pada Tuhan Allah. Kita buka Bilangan 15:28 ya, saya dari 27 ya, “Apabila satu orang saja berbuat dosa dengan tidak sengaja, maka haruslah ia mempersembahkan kambing betina berumur setahun sebagai korban penghapus dosa; dan imam-imam haruslah mengadakan pendamaian di hadapan Tuhan bagi orang yang dengan tidak sengaja berbuat dosa itu, sehingga orang itu beroleh pengampunan karena telah diadakan pendamaian baginya.” Jadi orang yang harus mengadakan pendamaian siapa, apakah orang yang berbuat dosa saja? Musa berkata, tidak. Orang yang tidak sengaja pun di dalam melakukan suatu dosa, yang bagi kita itu sesuatu yang wajar untuk dimaafkan, diampuni tanpa ada suatu tuntutan tertentu dalam hidup dia, bagi Tuhan tidak bisa.

Kamu berbuat dosa yang tidak disengaja, tetap harus ada korban pengampunan dosa bagi dirimu. Nah ini juga dicatat di dalam Lukas 12:47-48. Memang konteksnya itu adalah suatu konteks penghakiman terakhir yang Tuhan akan kerjakan. Tapi dari situ kita juga bisa lihat, di dalam Lukas 12:47-48 itu Tuhan Yesus berkata, “seorang hamba yang tahu akan kehendak tuannya, maka dia ketika tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, itu akan mendatangkan hukuman yang banyak. Tapi bagaimana dengan orang yang tidak tahu kehendak tuannya, sehingga dia tidak bisa melakukan apa yang menjadi kehendak tuannya? Apakah dia melewati hukuman atau dia tidak menerima pukulan? Yesus berkata apa? Dia pun menerima pukulan tetapi pukulannya lebih sedikit dibandingkan orang yang tahu kehendak tuannya tetapi tidak melakukan apa yang menjadi kehendak tuannya. Jadi, ini menunjukan, saya lihat, kenapa orang yang berdosa dengan tidak sengaja harus mempersembahkan korban binatang, kalau tidak dia akan dihukum. Kenapa orang yang hidup seperti orang yang tidak tahu kehendak tuannya, tidak mengerti apa yang menjadi kehendak Allah mungkin, tetapi ketika berada di hadapan penghakiman Allah tetap harus dihukum, walaupun tidak setimpal dengan orang yang tahu kehendak Allah? Saya lihat dibalik itu semua ada suatu pengertian karena Allah kita adalah Allah yang sempurna dan Dia menuntut kehidupan yang sempurna dari manusia, dan Dia tidak bisa menerima suatu cacat atau dosa yang kecil dari pada kehidupan manusia.

Nah, sekarang Saudara, kalau semua manusia akan diperlakukan seperti ini di hadapan Allah, bagaimana dengan kita yang sudah dikuduskan, ditebus oleh Kristus, yang mengerti kalau Allah kita itu adalah Allah yang kudus, Allah yang sempurna? Saya percaya kita akan memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk memiliki suatu kehidupan yang kudus di hadapan Tuhan Allah, dan menuntut diri untuk bertumbuh di dalam kekudusan di hidup kita ini, untuk bisa disaksikan bagi orang-orang berdosa di tengah-tengah dunia ini. Saudara, untuk inilah maka Tuhan memberikan baik itu rasul, nabi, penginjil, gembala pengajar ke dalam gerejanya, untuk apa? Untuk memperlengkapi gereja-Nya, supaya gereja-Nya itu bertumbuh kepada kesempurnaan, untuk memperlengkapi Gereja-Nya atau tubuh Kristus ini, sehingga tubuh ini bisa dibangun menjadi tubuh yang lebih sempurna. Nah, ini yang menjadi peran orang-orang penting dan jabatan yang penting, yang Tuhan berikan dalan gereja Tuhan.

Saudara, ini juga mengindikasikan satu hal, pada waktu kita berkata kita adalah orang kudus yang ada di dalam gereja, yang perlu dibekali, diperlengkapi untuk bertumbuh menuju kepada kedewasaan, itu berarti pada waktu kita hidup dalan dunia ini, kita sudah sempurna atau belum? Secara status sudah, secara keadaan kita belum sempurna, yang perlu bertumbuh kepada kesempurnaan itu. Tapi saya mau ajak kita juga lihat, kenapa kita harus dibekali, kita harus bertumbuh dari sisi pertama kali kita menjadi orang Kristen? Saudara, kadang-kadang ketika kita menjadi orang Kristen, mungkin ya, sering kali adalah kita lupa keadaan kita itu masih bayi rohani; pada waktu kita menjadi orang Kristen, kadang-kadang ada orang-orang berpikir seperti ini, “saya menjadi orang Kristen, dulu saya bukan orang Kristen, sekarang saya menjadi orang Kristen,” artinya apa? “Artinya adalah, saya sekarang sudah mencapai akhir dari pada kehidupan saya, tujuan dari hidup saya. Dulu saya tidak percaya, dulu saya adalah orang berdosa, sekarang saya menjadi orang Kristen, saya sudah diselamatkan, hidup saya aman, lalu saya boleh melakukan semua kegiatan yang saya inginkan seperti biasanya karena saya sudah dijamin oleh Tuhan di dalam keselamatan dan saya tidak perlu lagi khawatir akan keselamatan itu.” Ini kemungkinan pertama dari orang yang menjadi orang Kristen sehingga dia tidak memikirkan apa yang menjadi aspek rohani dari pada kehidupan dia.

Ada hal kedua yang terjadi mungkin seperti ini, “saya pada waktu menjadi orang Kristen, saya dulunya adalah orang yang pintar, orang yang memiliki posisi yang penting dalam masyarakat orang yang memiliki karakter yang kuat, yang baik dalam masyarakat. Lalu sekarang saya menjadi orang Kristen,” saya menjadi orang Kristen yang bagaimana? Yang pintar, yang baik, yang punya posisi yang penting, saya adalah orang yang berkarakter kuat, yang baik di dalam gereja, begitu? Ada kemungkinan seperti ini nggak? Umumnya, kadang-kadang, ketika kita beralih menjadi orang Kristen, kita berpikir bahwa statusku sebelumnya yang baik itu adalah juga menjadi sesuatu yang baik di dalam gereja. Kalau kita dari orang yang berdosa, yang jahat, ketika menjadi orang Kristen mungkin kita bisa lebih rendah hati sedikit dan mengatakan, “iya, aku baru menjadi orang Kristen, bayi rohani yang masih perlu banyak belajar,” tapi bagaimana kalau saya punya status itu sudah baik, apa yang saya lakukan itu baik, yang diterima masyarakat, ketika saya menjadi orang Kristen, saya menjadi orang Kristen yang bagaimana? Ada godaan, kemungkinan kita akan pikir orang itu adalah orang Kristen yang baik yang sudah dewasa di dalam iman; dan bahayanya adalah kalau kita kemudian melihat hal ini, kita kemudian langsung mempercayakan suatu pelayanan tertentu bagi diri dia maka dia mungkin akan membahayakan atau menjadi suatu masalah di dalam gereja.

Saudara, saya lihat pada waktu Paulus berkata, “Tuhan memberikan pemimpin-pemimpin di dalam gereja, untuk memperlengkapi gereja menuju pertumbuhan kepada kedewasaan yang lebih sempurna,” maka kita sebagai gereja ketika melihat ada orang yang baru percaya masuk ke dalam gereja, sikap gereja adalah harus tetap memperlakukan orang itu sebagai bayi rohani terlebih dahulu, jangan perlakukan dia sebagai orang yang dewasa secara rohani. Yang kedua adalah diri kita sendiri ketika masuk ke dalam suatu gereja, walaupun kita adalah orang yang baik sebelumnya, diterima dimana-mana, orang yang pintar, tapi ketika kita masuk ke dalam gereja, kita pun harus cukup rendah hati berkata, “aku masih bayi rohani, bukan sebagai orang yang dewasa, [atau] lebih baik dari orang Kristen yang lain yang ada dalam gereja.” Kalau  tidak, ini menjadi suatu bahaya yang besar sekali. Nah Saudara, kalau kita menempatkan diri sebagai orang yang bayi, itu berarti kita menempatkan diri sebagai orang yang masih bisa dididik, masih akan bertumbuh menuju kepada kesempurnaan, masih terbuka untuk hal-hal yang merupakan kehendak Allah yang akan diajarkan kepada kita melalui pemimpin yang ada di dalam gereja Tuhan. Ini akan baik bagi pertumbuhan kerohanian kita, untuk menjadi orang yang semakin hidup sesuai dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan atau karakter Kristus dalam kehidupan kita. Sekali lagi saya ingatkan, menjadi sempurna itu adalah sesuatu yang dikehendaki Allah dalam kehidupan orang percaya karena Allah kita adalah sempurna. Menjadi sesuatu yang kudus dalam hidup kita, itu adalah sesuatu yang dikehendaki Allah karena Allah kita adalah Allah yang kudus.

Tapi Saudara, pada waktu kita  menuju kepada kehidupan yang kudus itu, saya mau ingatkan, apakah itu berarti kita bisa menjadi orang yang hidup tanpa dosa sama sekali dalam dunia ini, bisa nggak? Nggak bisa. Kalau nggak bisa, artinya apa? Saya harap kita lebih besar hati dan lebih punya kesabaran dan kasih kepada orang Kristen lain yang ada dalam gereja. Walaupun kita tidak bisa mentoleransi keberadaan dosa, tapi kita sadar orang itu bisa  berdosa, saya juga adalah orang Kristen yang bisa jatuh ke dalam dosa; kita sama-sama adalah orang kudus, betul, tetapi bukan berarti saya adalah orang yang seperti Allah yang bisa hidup tanpa dosa sama sekali dalam dunia ini. Makanya dalam gereja itu perlu belajar saling mengampuni, saling menerima satu sama lain, tapi dasarnya adalah apa? Saya tahu dulu, saya orang berdosa, pertumbuhan kekudusan yang saya alami itu adalah suatu pertumbuhan yang tidak mungkin bisa tanpa dosa sama sekali, sehingga kita sama-sama belajar bertumbuh melalui dosa yang saya lakukan, maupun dosa yang orang lain itu lakukan supaya menuju kepada kesempurnaan.

Tapi, kalau menjadi kudus itu, menjadi sempurna itu adalah suatu kehidupan yang  tidak terlepas dari dosa, pertanyaan saya adalah apa yang dimaksud menjadi orang Kristen yang sempurna dan kudus? Menjadi orang Kristen yang dewasa dan kedewasaan itu di tandai dengan suatu kehidupan yang berusaha seserupa mungkin dengan Kristus ketika kita ada di dalam dunia ini. Saudara, kita tidak mungkin menjadi seperti Kristus yang tidak berdosa selama kita hidup di dalam dunia ini, tetapi kita bisa berusaha untuk menjadi orang yang semakin serupa, semakin serupa dengan Kristus yang tidak berdosa tersebut, itu namanya menjadi orang yang sempurna, yang kudus. Jadi, ada suatu pertumbuhan, progres, dari pada kehidupan kita, pertama menjadi bayi rohani orang Kristen menuju suatu kehidupan yang semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat dengan karakter dari pada Kristus di dalam dunia ini. Nah itu yang Tuhan kehendaki dari pada kehidupan kita sebagai orang percaya tengah-tengah dunia ini. Dan para rasul, nabi, guru, atau penginjil, gembala dan guru, ketika Tuhan utus dalam dunia ini, Tuhan panggil, Tuhan berikan karunia itu dan jabatan itu ke dalam gereja Tuhan, Tuhan menghendaki melalui mereka, umat Tuhan itu dididik, diberikan pengertian firman untuk membuat mereka bisa bertumbuh menuju kepada kedewasaan. Firman yang bukan hanya sebagai suatu pengetahuan, tapi firman yang mentransformasi akal budi mereka, cara mereka berpikir, cara mereka berprilaku dalam dunia ini, apa yang mereka rasakan dalam hati supaya semakin serupa dengan Kristus. Itu menjadi tanggung jawab daripada orang-orang yang memiliki jabatan, pemimpin di dalam gereja Tuhan.

Nah Saudara, selain dari pada pertumbuhan secara individu masing-masing orang menuju kepada Kristus, ada satu hal lagi yang Paulus tekankan bagi kita yang kita nggak boleh abaikan. Pada waktu Paulus berkata: Kita diperlengkapi untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pembangunan tubuh Kristus. Maka memperlengkapi itu juga memiliki satu kandungan pengertian sebagai sesuatu yang bersifat tulang-tulang tubuh yang sebelumnya dislokasi, kemudian diposisikan kembali ke tempatnya. Itu maksud memperlengkapi atau katartismos. Maksudnya adalah apa? Itu berarti, ketika kita diperlengkapi untuk tumbuh menuju kepada kedewasaan, maka kedewasaan orang Kristen, masing-masing itu, itu tidak bisa terlepas daripada kesatuan gereja. Pada waktu kita makin dewasa, maka posisi kita yang semula itu bergeser dari posisi sebelumnya, itu akan kembali ke dalam posisi sebelumnya. Kalau tulang-tulang itu yang semula dislokasi, lepas dari engselnya, lalu ditaruh di dalam posisinya kembali, apakah itu berarti orang Kristen bisa terpisah dari pada tubuh? Kan tidak. Berarti ketika orang Kristen semakin dewasa, semakin dewasa dalam kehidupan imannya, maka hal yang akan terlihat jelas di dalam gereja bukan perpecahan tapi kesatuan. Jemaat Korintus kenapa begitu banyak perselisihan, keributan di dalam mereka? Paulus berkata, karena mereka masih bayi rohani; mereka masih harus minum susu, mereka belum bisa makan makanan keras dalam hidup mereka, maka ada perpecahan, ada pengelompokkan, ada keterpihakkan dengan orang-orang tertentu, para pemimpin tertentu yang ada di dalam gereja. Padahal Paulus berkata, semua pemimpin itu diberikan dalam gereja untuk mempertumbuhkan gereja dan mempersatukan gereja. Bukan untuk memecah gereja.

Saudara, ini menjadi satu hal yang kita perlu lihat dalam pertumbuhan kita sebagai orang Kristen. Dan saya percaya juga, ini menjadi sesuatu yang kita perlu terus-menerus diingatkan mengenai pentingnya kesatuan pertumbuhan menuju kedewasaan yang satu ini di dalam gereja. Petrus di dalam surat Petrus itu berkata, “Kita, saya tidak akan pernah bosan-bosan memperingati jemaat untuk bertumbuh dalam iman. Tapi saya juga tidak akan bosan-bosan memperingati jemaat untuk bisa bertumbuh menuju kepada kesatuan ini.” Saudara, itu yang menjadi hal yang kita perlu perhatikan sebagai orang-orang percaya. Tuhan memberikan karunia bagi gereja. Dan pada waktu gereja itu menjalankan fungsi karunianya masing-masing, apakah itu bersekutu bersama, apakah itu saling memperhatikan, apakah itu saling berbagi, saling mendoakan satu sama lain, saling memperingatkan akan dosa satu dengan yang lain, semua itu karunia tidak menjadikan orang Kristen yang satu dengan orang Kristen yang lain justru menjadi jauh jaraknya. Tetapi seharusnya semakin erat di dalam kesatuan antara satu dengan yang lain. Nah Saudara, inilah yang menjadi tujuan dari pada Tuhan memberikan jabatan-jabatan tertentu untuk melayani di dalam gereja Tuhan.

Sekarang saya mau ajak kita lihat sesuatu yang lebih jauh lagi. Pada waktu Tuhan memanggil, saya langsung masuk aja ke dalam 3 posisi yang tetap di dalam gereja ya, seorang penginjil, gembala dan pengajar ada di dalam gereja, tujuannya adalah untuk memperlengkapi siapa? Jemaat, orang kudus ya. Memperlengkapi jemaat atau orang kudus, untuk apa? Boleh dibaca ayat 12, “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.” Saya ulangi ya, Tuhan memanggil orang tertentu yang memiliki jabatan penting dalam gereja, tujuannya untuk memperlengkapi siapa? Jemaat, atau orang Kristen, orang kudus. Pada waktu jemaat itu diperlengkapi, tujuan memperlengkapi itu untuk apa? Untuk apa? Untuk pekerjaan pelayanan. Mengerti? Saya tanya, di dalam gereja, siapa yang harus melayani? Jemaat, atau pendeta penginjil? Ayo.. gapapa ngomong aja. Konsep kita selama ini bagaimana? Gereja memanggil hamba Tuhan untuk melayani dalam gereja. Begitu ya? Gereja membayar hamba Tuhan untuk menggembalakan jemaat, begitu ya? Gereja membayar hamba Tuhan untuk penginjilan, begitu ya? Gereja membayar hamba Tuhan untuk memberikan pengajaran firman, begitu? Jadi apa tugas hamba Tuhan? Tugas hamba Tuhan adalah melakukan semua tugas pelayanan yang harus dilakukan oleh gereja, begitu? Mulai dari ngajar firman, menggembalakan jemaat, lalu menginjili, lalu apa lagi? Mengunjungi orang sakit, bezuk, terus apa lagi? Mendoakan, terus mendengarkan keluhan-keluhan dari jemaat. Apa lagi? Semua yang ada di dalam gereja, tugasnya siapa? Pendeta atau hamba Tuhan kan?

Tapi di sini Paulus ngomong apa? Tugas siapa ya? Jemaat, bukan pendeta atau penginjil. Tugas pendeta atau penginjil apa? Ringan? Saya pikir nggak lebih ringan sih. Di dalam satu kejadian di dalam Kisah [Para Rasul] 6, itu ada catatan seperti ini: pada waktu jemaat makin bertumbuh besar di dalam jemaat mula-mula, lalu ada jemaat-jemaat dari orang-orang Yahudi yang tidak bisa berbahasa Yahudi tetapi bisa berbahasa Yunani dan orang-orang Yahudi yang bisa berbahasa Yahudi, Ibrani. Tapi ketika jemaat itu makin bertumbuh besar, makin besar, maka terjadi ketidakseimbangan di dalam pembagian jatah atau bekal bagi para janda daripada jemaat orang Yahudi yang tidak berbicara Bahasa Yahudi. Sehingga yang lebih diperhatikan itu adalah orang Yahudi, janda-janda yang bisa berbahasa Ibrani. Yang tidak bisa berbahasa Ibrani kurang diperhatikan, sehingga mereka timbul keributan tengah-tengah jemaat itu. Lalu pada waktu para rasul, 12 rasul melihat kehidupan daripada jemaat yang mulai ribut satu sama lain itu, akhirnya mereka berkata: “Kami nggak puas dengan keadaan ini. Ayo semua jemaat kumpul!” Orang-orang, mungkin tua-tua juga kumpul di situ. Lalu apa yang para rasul ini lakukan? Mereka kemudian memilih ada 6 orang pelayan diakonia di dalam jemaat untuk melayani jemaat yang berkebutuhan itu. Dan apa yang menjadi tugas para rasul itu? Kita buka aja Kisah [Para Rasul] 6:3-7, “Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.” Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka. Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.” Saudara, apa yang menjadi tugas pendeta, penginjil, pengajar dalam gereja, menurut Kitab Suci ya, untuk apa tugasnya? Mengajar firman dan berdoa. Saudara, saya lihat ini bukan sesuatu tugas yang mudah. Bagi Saudara yang pernah membawakan firman, saya yakin mempersiapkan firman itu bukan sesuatu yang mudah; kita perlu mengerti apa yang menjadi perkataan Alkitab, kita patut mengerti apa yang menjadi message yang Tuhan ingin sampaikan kepada jemaat, kita harus gumulkan itu dalam kehidupan kita baru kita bisa sampaikan kepada jemaat. Nah itu bukan sesuatu yang mudah. Nah Saudara, ini yang menjadi tanggung jawab seorang pendeta atau penginjil dalam gereja.

Jadi pada waktu kita datang kepada sebuah gereja, kita harus mengharapkan gereja yang baik itu memiliki hamba Tuhan yang sungguh-sungguh mengajar, mendidik firman Tuhan bagi jemaat. Gereja yang bukan hanya memikirkan bagaimana kita bisa berlaku baik kepada masyarakat, merencanakan organisasi atau kegiatan-kegiatan sosial seperti itu, tapi seorang hamba Tuhan yang baik adalah mendidik jemaat sungguh-sungguh mengerti firman, bertumbuh di dalam kebenaran, dan bertumbuh di dalam kesatuan jemaat, atau kedewasaan yang penuh di dalam Kristus, itu menjadi tanggung jawab pendeta. Tetapi pada waktu jemaat sudah memperoleh bekal itu, diperlengkapi dengan kebenaran firman dan kedewasaan di dalam iman, tujuannya adalah setiap jemaat Tuhan harus melayani. Saudara, sekali lagi saya katakan, tanggung jawab pelayanan itu bukan hanya menjadi milik hamba Tuhan, tapi tanggung jawab pelayanan itu justru fokus yang Kitab Suci ajarkan adalah tanggung jawab dari setiap jemaat Tuhan. Saya tanyakan lagi ya, siapa yang Tuhan berikan karunia dala gereja, apakah hanya pendeta, penginjil, rasul, dan nabi yang diberikan karunia? Paulus berkata tidak, pada waktu Yesus naik ke tempat yang tinggi itu maka Yesus memberikan pemberian-pemberian kepada siapa? Kepada seluruh orang Kristen, kepada setiap orang Kristen yang ada dalam gereja, atau kepada Gereja, kepada Tubuh Kristus. dan berdasarkan 1 Korintus 12 dan 14, di situ dikatakan “karunia yang Tuhan berikan kepada jemaat-Nya itu adalah sesuatu yang bertujuan untuk bukan kepentingan diri sendiri.”

Nah ini yang seringkali saya lihat orang salah paham mengenai karunia, mereka pikir ketika Tuhan memberikan satu karunia maka karunia itu adalah sesuatu untuk membangun diri mereka dan kerohanian mereka sendiri, padahal Alkitab bilang karunia yang Tuhan berikan tidak pernah bertujuan untuk membangun diri sendiri, tetapi untuk membangun jemaat; dan setiap orang Kristen punya karunia itu, berarti setiap orang Kristen, saya percaya, harus terlibat di dalam pelayanan gereja. Tetapi untuk dia bisa terlibat dalam pelayanan gereja ada satu syarat, dia sudah bertumbuh belum dalam kerohanian? Dia dewasa tidak dalam kerohanian, atau dia masih anak-anak? Kalau dia anak-anak, saya percaya dia tidak akan melayani; tapi kalau dia menjadi dewasa, dari yang diperhatikan dia akan menjadi orang yang memperhatikan orang lain. Ini dikatakan di dalam Surat Yohanes, di situ ketika rasul Yohanes menulis, dia berkata seperti ini, “Aku menulis surat ini kepada anak-anak… aku menulis surat ini kepada orang muda… aku menulis surat ini kepada bapa-bapa dalam gereja.” Siapa yang dimaksud dengan anak-anak, orang muda, dan bapa-bapa itu? Saya percaya di satu sisi mungkin kita bisa mengerti itu sebagai orang-orang berdasarkan usianya, statusnya di dalam gereja; kalau dia masih usia belasan atau masih usia berapa tahun, dia masih anak-anak; tapi ketika dia masuk ke dalam usia 20-an dia menjadi orang yang anak muda; ketika dia masuk ke dalam usia 30-an, mungkin sudah berkeluarga, dia menjadi bapa-bapa dalam gereja. Tapi Saudara, ada makna yang lain, makna ini bersifat rohani: di dalam gereja ada anak-anak secara rohani, ada orang muda secara rohani, ada orang dewasa secara rohani. Seorang anak pasti membutuhkan perhatian, tetapi bagaimana dengan orang dewasa? Orang dewasa secara rohani harus belajar memberikan perhatian kepada anak-anak yang ada di dalam gereja tersebut. Nah ini semua adalah suatu pelayanan.

Sehingga, pada waktu kita melihat pelayanan di dalam gereja, jangan kira yang melayani itu hanya yang menjadi liturgis, pianis, song leader, violinis, atau penyambut tamu, usher, kolektan, itu baru melayani, itu hanya bagian kecil dari pelayanan. Pada waktu Saudara datang ke dalam gereja, saya tanya, tahu nggak siapa yang duduk di sebelah kiri-kanan Saudara, depan-belakang Saudara? Mungkin kita nggak kenal. Saya percaya kita masing-masing harus belajar siapa orang-orang, memperhatikan orang-orang yang ada di dalam gereja tempat kita berbakti. Berbagian dalam hal apa? Paling tidak, mungkin memperhatikan satu dengan yang lain, menggembalakan satu dengan yang lain. Mungkin kalau dia melihat ada jemaat yang belum mengerti injil, menginjili orang itu untuk mengenal Tuhan. Lalu kalau ada jemaat yang harus dikunjungi, dia pergi mengunjungi mereka untuk memperhatikan jemaat itu. Kalau ada pelayanan rumah sakit yang mungkin kita akan lakukan, pergi untuk pelayanan di dalam rumah sakit. Kalau tidak, setiap hamba Tuhan punya hanya 2 kaki dan 2 tangan, dan di dalam gereja hamba Tuhannya juga nggak banyak, bagaimana bisa melayani semua jemaat, itu nggak mungkin. Jadi hal yang paling baik Tuhan sudah kasih tahu, hamba Tuhan membekali jemaat; ketika jemaat bertumbuh dan dewasa maka jemaat akan otomatis melayani satu dengan yang lain. Tapi untuk bisa menjadi dewasa bagaimana? Tanggung jawab hamba Tuhan adalah mengajarkan firman baik-baik kepada jemaat, lalu ketika Bapak, Ibu, Saudara mendengar firman itu, Roh Kudus menggunakan firman untuk mempertumbuhkan Bapak-Ibu punya iman dan menuju kepada kedewasaan, maka saat itulah Tuhan akan gerakkan hati untuk melayani dan memperhatikan orang lain. Bapak, Ibu, Saudara, saya ajak mulai hari ini jangan cuma pikir “apa yang orang bisa berikan pada diriku,” jangan cuma pikir “orang harus memperhatikan diriku,” tapi mulai sekarang coba belajar memikirkan apa yang menjadi kebutuhan orang yang ada di sebelah kita, depan kita, dan belakang kita yang ada dalam gereja; mulai pikirkan apa yang menjadi kebutuhan dari orang-orang yang belum mengenal injil Tuhan, injil Kristus; dan mulai memikirkan bagaimana bisa mengajak mereka untuk datang dan berbakti kepada Tuhan; lalu setelah itu menggembalakan mereka, melayani mereka supaya mereka juga bisa bertumbuh di dalam iman. Kalau gereja menjalankan ini, saya percaya akan terjadi suatu pertumbuhan yang besar dalam gereja, seperti dalam gereja mula-mula, tapi kalau tidak, kita akan selalu berjalan terseok-seok satu dengan yang lain.

Saya akan stop di sini untuk pemberitaan firman ini. Sekali lagi saya katakan, masing-masing kita punya tanggung jawab masing-masing, dan Tuhan ingin kita bertumbuh menuju kepada kedewasaan. Ini bukan kehendak hamba Tuhan saja, tetapi ini menjadi kehendak Tuhan Allah kita sendiri yang kudus dan sempurna itu. Dan saya harap kita bisa melihat ini sebagai sesuatu kebenaran yang harus kita gumulkan, yang harus kita kejar dan pertumbuhkan dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Mari kita masuk dalam doa.

Kembali kami bersyukur Bapa, untuk firman dan kebenaran yang boleh Engkau nyatakan bagi kami. Kembali kami bersyukur ya Bapa, ketika kami mendengar firman ada begitu banyak hal yang mungkin jauh dari pada kebenaran firman-Mu, tapi Engkau boleh bukakan itu bagi kami untuk kami mengerti dan kami pahami. Kami sungguh mohon kiranya Engkau boleh berikan suatu hati yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan dalam kehidupan kami, mengasihi Engkau dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi kami; sehingga ketika kami melihat kebenaran firman, kami mengerti kebenaran firman, kami boleh melakukan kebenaran firman itu dalam kehidupan kami. Tolong kami ya Bapa, masing-masing, di dalam pelayanan yang boleh dikerjakan dalam gereja-Mu, supaya Tubuh-Mu boleh bertumbuh menjadi Tubuh yang sempurna, baik gereja-Mu ini, orang-orang kudus-Mu, boleh menjadi orang-orang yang dewasa dalam iman; supaya setiap dari pada pribadi orang percaya yang ada dalam gereja-Mu ini boleh semakin serupa seperti halnya Anak Tunggal-Mu, Tuhan Yesus Kristus. Kami mohon belas kasih-Mu ya Bapa, sehingga setiap dari pada Gereja-Mu ini, orang-orang kudus-Mu, boleh berjalan sesuai dengan karunia yang telah Tuhan berikan dalam kehidupan kami untuk mempertumbuhkan, mendewasakan, dan membangun Tubuh Kristus. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur dan berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *