Bersukacita dalam Pencobaan, 4 Juli 2021

Yakobus 1:1-4

Vik. Nathanael Marvin, M. Th.

Bagi kita yang suka olahraga tinju, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, pasti tahu petinju yang bernama Evander Holyfield asal Amerika, dia berkebangsaan Amerika, badannya begitu kekar, kulit hitam, botak, kumisnya sedikit, begitu besar. Dialah Evander Holyfield. Banyak orang yang tahu tentang dia? Banyak. Tetapi sedikit orang yang tahu tentang kunci keberhasilannya menjadi petinju profesional kelas dunia. Apa yang membuat dia begitu giat dan berhasil dalam olahraga tinju yang dia geluti itu? Ada satu kalimat dari pelatihnya, itulah kunci keberhasilan dia.

Kisahnya begini Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Holyfield memulai olahraga tinju itu ketika dia berumur 8 tahun, masih sangat kecil sekali. Dia suka tinju ya mungkin apapun di depannya ditinju sama dia. Masih sangat kecil, dan di umur yang masih sangat kecil itu, dia sudah dilatih oleh seorang pelatih, coach. Pelatihnya mengatakan satu kalimat seperti ini, “Jika kamu, Holyfield, terus menerus mengikuti instruksi-instruksi dari pelatih, dan juga kamu terus bekerja keras dari diri kamu sendiri, maka suatu hari kamu akan menjadi juara dunia.” Holyfield yang masih sangat kecil itu menghafal kalimat tersebut. Pelatih saya mengatakan bahwa kalau kamu terus ikuti instruksi-instruksi pelatih dan juga aku bekerja keras, maka satu hari nanti aku akan menjadi juara dunia.

Bertahun-tahun selanjutnya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Holyfield menjadi pentinju Olimpiade juara kelas berat-ringan, dan dengan cepat menjadi juara dunia kelas berat. Jadi pentinju kan ada kelas-kelasnya ya, ada yang berat-ringan, ada yang berat. Nah ketika petarung terkenal ini ditanya tentang kalimat pelatihnya yang dulu, Holyfield mengatakan bahwa, “I believe him.” Aku percaya kata-kata dari pelatihku, aku beriman, aku percaya. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, dengan percaya satu kalimat saja dari pelatihnya, Holyfield punya pengharapan yang besar dalam olahraga yang dia geluti yaitu tinju. Percaya pada kata-kata pelatihnya. Bahkan dia dapat memenangkan berbagai pertandingan, berbagai pukulan dari lawan, berbagai sakit, berbagai tinju dari petarung-petarung yang lain.

Apa yang dimiliki Holyfield, Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Dua hal yang dimiliki Holyfield yaitu adalah iman dan ketabahan. Kepercayaan dan ketahanan, iman dan ketabahan. Iman kepada kalimat pelatihnya yang begitu sederhana yang bahkan bisa dihafal oleh anak-anak, dan juga ketabahan ketika bekerja keras membentuk ototnya, mengalami tinju dan meninju di ring tinju. Holyfield percaya pada kalimat pelatihnya, dia dapat menang menghadapi petarungan-petarungan yang berat di ring tinju.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, setiap profesional, setiap orang yang berhasil pasti menghadapi pencobaan dan ujian. Bukan hanya pencobaan dan ujian yang satu dua saja, tapi sangat banyak ujian dan pencobaan yang dihadapi oleh orang-orang yang berhasil, oleh orang-orang yang profesional, oleh orang-orang yang bertekun, orang-orang yang berhasil. Bahkan Bapak, Ibu, Saudara sekalian, bukan hanya pencobaan dan ujian yang silih berganti, mungkin pencobaan dan ujian itu malah langsung datang bertubi-tubi. Bukan hanya antri ya satu selesai, lalu satu selesai, tidak. Pencobaan dan ujian itu bisa datang bertubi-tubi dan berbarengan. Bagaimanakah kita bisa melaluinya, bagaimanakah para profesional bisa melaluinya, bagaimanakah setiap orang yang mau berhasil mau berkarya baik untuk Tuhan maupun untuk sesama melaluinya? Selain karena anugerah Tuhan, kita butuh iman, kita butuh ketabahan.

Nah bagaimanakah kita dengan diri kita sebagai pengikut Kristus, apa yang kita hadapi Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Apakah kita hadapi ring tinju saja? Ring tinju masih aman, ada wasitnya. Kalau sampai pingsan, dihentikan tinjunya. Apa yang kita hadapi sebagai orang Kristen, Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Yang kita hadapi sebagai orang Kristen bukanlah ring olahraga tetapi medan pertempuran, peperangan rohani, medan perang. Tidak ada wasit di medan perang, tidak ada protokol keamanan, mati ya mati. Ditembak ya ditembak, ditusuk pedang ya ditusuk pedang, mati ya mati, resiko besar.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Alkitab menggambarkan rohani kita bagaikan di dalam peperangan rohani, tidak mudah, sangat sulit, lebih besar dari ring tinju. Apa kekuatan kita untuk bisa memenangkan pertempuran-pertempuran yang ada di dalam peperangan rohani tersebut? Yaitu iman dan ketaatan di dalam Kristus Yesus. Iman kepada perkataan Yesus Kristus yang adalah coach kita, yang adalah pelatih kita. Ketabahan ketika Tuhan memang izinkan pencobaan dan ujian itu datang.

Kenapa kita ada COVID Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Tuhan yang izinkan sebagai ujian dari Tuhan. Tetapi dari iblis, COVID ini adalah pencobaan yang menjatuhkan kita, melemahkan iman kita, bahkan membunuh iman kita. Ya kita harus kuat, kita harus bergantung pada firman Kristus, kita harus bergantung pada pertolongan Tuhan supaya kita tabah menjalani hidup penuh dengan cobaan dan ujian ini. Setiap orang Kristen punya firman Tuhan, tetapi hanya sedikit orang Kristen yang benar-benar beriman kepada firman Tuhan. Setiap orang Kristen punya firman Tuhan, setiap orang Kristen ada Alkitab di rumahnya, tetapi tidak banyak orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman, sungguh-sungguh percaya, sungguh-sungguh bersandar pada Kristus yang memberikan ketabahan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Di ayat pertama ini Yakobus memperkenalkan dirinya sebelum memberikan pesan yang sangat penting bagi dua belas suku di perantauan. Yakobus di ayat pertama itu menjelaskan tentang dirinya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, “Salam dari Yakobus, hamba Allah (servant of God) dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.” Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita akan membahas Surat Yakobus. Siapa sih penulis Surat Yakobus ini? Kita mungkin bisa salah, apa itu rasul, rasulnya Yesus Kristus? Apa orang Kristen yang lain? Nah Bapak, Ibu, Saudara sekalian, nama Yakobus itu nama yang umum di dalam Perjanjian Baru saat itu. Di lingkungan Galilea itu sangat umum nama Yakobus. Kalau di Indonesia nama yang umum adalah misalkan Agus, itu umum ya. banyak orang namanya Agus juga. Ya hamba Tuhan kita ada yang namanya Agus, jemaat ada yang namanya Agus, pengurus ada yang namanya Agus juga gitu ya. itu nama yang umum. Yakobus juga sama seperti itu, nama yang sangat umum. Di Perjanjian Baru Yakobus, kalau di Perjanjian Lama itu Yakub, Jacob. Yakub itu Yakobus.

Nah ada tiga pemikiran, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, siapa Yakobus ini, penulisnya. Pertama Rasul Yakobus yaitu anak Zebedeus, kakaknya Rasul Yohanes. Pemikirannya demikian, mungkin Rasul Yakobus kakaknya Rasul Yohanes, rasulnya Yesus Kristus. Ternyata apakah betul Rasul Yakobus? Tidak, karena Rasul Yakobus sudah dibunuh oleh Herodes Agripa I dan diceritakan di Kisah Rasul 12:2. Jadi Rasul Yakobus sudah mati duluan, mati martir oleh Herodes Agripa I.

Yang kedua kemudian ada pemikiran, Rasul Yesus Kristus ada 12 kan ya, yang namanya Yakobus ada dua; satu Yakobus anak Zebedeus, satu Yakobus anak Alfeus. Mungkin ini rasul juga. Ada rasul-rasul tertentu yang dipilih Tuhan untuk menulis kitab Perjanjian Baru. Paulus itu rasul, mungkin itu Rasul Yakobus yang anak Alfeus. Apakah betul anak Alfeus? Tidak. Karena tidak ada informasi tentangnya setelah zaman awal-awal gereja itu baru muncul. Andai pun dia menulis surat ini, Rasul Yakobus anak Alfeus ini, maka harusnya dia tulis, “Aku ini dari Yakobus, salam Yakobus anak Alfeus.” Karena di Alkitab diceritakan bahwa dia itu dikenal sebagai anak Alfeus.

Akhirnya kepada siapa kita berpikir kemungkinan tulisan Surat Yakobus ini? Yaitu pemikiran yang ketiga, yang paling tepat, yaitu Yakobus pemimpin gereja di Yerusalem yang tidak lain adalah saudara tiri dari Yesus Kristus. Kenapa kita sebut saudara tiri? Karena mereka memang satu ibu tapi beda benih. Yesus dikandung oleh Roh Kudus di dalam rahim Maria, tetapi Yakobus saudara tiri Yesus Kristus ini dikandung Maria, benihnya Yusuf. Maka dari itu, Yakobus ini adalah saudara tiri Yesus Kristus dan tercatat di dalam Kisah Rasul 12:17 yang lalu disebutkan oleh Paulus dalam Galatia 1:19, “Tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus,” disebutkan oleh Rasul Paulus. Lalu Paulus memanggil memang memanggil Yakobus ini sebagai saudara Tuhan Yesus.

Kemudian namanya juga tertulis di Markus 6:3, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.” Nah ini adalah Yakobus, Yakobus dikenal sebagai saudara Tuhan Yesus Kristus. Jadi Surat Yakobus yang kita miliki itu adalah tulisan dari Yakobus saudaranya Tuhan Yesus Kristus. Dia adalah seorang pemimpin gereja di Yerusalem. Jadi kita bisa sebut bahwa Yakobus ini adalah penatua. Bolehlah sebut sebagai penatua gereja. Penatua gereja, memimpin gereja, mengatur pelayanan dengan baik.

Tetapi kita lihat dalam ayat 1 ini, Yakobus justru memperkenalkan dirinya dengan cara yang berbeda. Kalau mau keren-kerenan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau mau keren-kerenan, mau lebih diakui otoritas tulisannya, Yakobus memperkenalkan dirinya sebagai apa? “Aku memberikan salam kepadamu, dua belas suku perantauan, aku ini saudara Tuhan Yesus Kristus. Bukan hanya saudara Tuhan Yesus, aku ini adalah pemimpin gereja di Yerusalem. Kamu tahu Yerusalem itu apa? Pusat gereja.” Kalau mau terkenal-terkenalan, mau keren-kerenan, Yakobus bisa demikian. Tetapi Yakobus tidak keren-kerenan, tidak sombong, dia itu rendah hati, dia itu menyatakan bahwa aku ini hamba Allah, aku ini hambanya Yesus Kristus.

Kata yang dipakai dalam kata ini, kata hamba ini doulos Yunaninya. Mengacu pada apa? Budak. Posisi terendah dalam masyarakat Yahudi. Aku ini budak. tetapi bukan budak manusia melainkan budaknya Allah. Aku ini hanya taat saja. Ini menarik ya, Yakobus sangat rendah hati, dia tidak perkenalkan dirinya secara berlebihan, dia perkenalkan dengan hormat, dengan sungguh-sungguh, ia dengan rendah hati, dia tidak menganggap dirinya lebih besar daripada orang-orang yang dia tuliskan suratnya.

Yakobus menulis Surat kepada siapa, Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Sudah jelas ya di ayat satu ini, kepada dua belas suku di perantauan. Istilahnya itu diaspora, sudah tercerai-berai atau sudah terserak ke mana-mana. Kita tahu umat Kristen di abad pertama itu mereka pun terserak ke mana-mana, tercerai-berai, memang karena satu alasan yang negatif yaitu penganiayaan, tetapi satu alasan lagi yang positif yaitu apa? Penyebaran Injil. Itulah kenapa orang Kristen di Yerusalem sebagai pusat kekristenan pada waktu itu berpencar, dan yang berpencar ini ya dua belas suku Israel. Bermacam-macam, ke berbagai daerah, daerah Samaria, daerah sekitarnya, daerah orang-orang yang bukan Yahudi, dan lain-lain, mereka berpencar.

Tetapi Yakobus hatinya begitu besar ingin memberikan pesan kepada semuanya. Surat Yakobus ini bukan hanya kepada orang Kristen yang unik di satu tempat saja misalkan seperti Surat Rasul Paulus kepada jemaat Efesus, jemaat Kolose, itu kan satu surat untuk satu kota atau satu gereja saja, tetapi Yakobus ini memiliki hati kepada semua gereja. Semua gereja yang ada, tolong baca suratku ini baik-baik, suratku ini begitu penting, bisa diterima oleh siapapun gerejanya, siapapun orang Kristen.

Nah waktu dalam tradisi Yahudi Perjanjian Lama, kaum diaspora itu memang mengacu kepada orang Israel yang sudah tercerai-berai, mengalami penjajahan misalkan di negeri Babel dan lain-lain. Tetapi pada zaman Yakobus ini, siapakah suku perantauan itu? Siapakah kaum diaspora itu? Semua orang Kristen yang ada, baik orang Kristen yang Yahudi sebelumnya, maupun orang Kristen dari non-Yahudi, tolong perhatikan pesanku ini. Pesanku ini sangat penting, pesanku ini tentang iman di dalam pencobaan. “Iman tanpa perbuatan itu mati,” itu kalimat terkenal dari Yakobus. Jadi ini adalah untuk orang Kristen sepanjang seluruh zaman dan untuk kita juga, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, untuk kita sebagai orang Kristen.

Dan apa yang disampaikan oleh Yakobus di dalam perikop atau ayat-ayat yang kita bahas hari ini? Ada dua nasihat dan dua alasan kenapa mengikuti nasihat ini. Inilah pesan yang akan kita renungkan hari ini Bapak, Ibu, Saudara sekalian, yaitu dua nasihat dan dua alasan kenapa kita harus mengikuti dua nasihat itu.   Ayat 2 di situ Yakobus mengatakan bahwa, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan,” joy, anggaplah sebagai suatu sukacita, “apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.”

Dari ayat ini kita dapat menemukan 2 nasihat. Memang kelihatannya cuma satu kalimat, tetapi dari ayat ini kita bisa menemukan 2 nasihat. Yang pertama adalah dalam perjalanan kehidupan manusia, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, dalam perjalanan kehidupan kita, kita pasti akan bertemu yang dinamakan dengan pencobaan, itu pasti ya, maupun ujian. Itu pasti. Namanya kehidupan itu ada pencobaan dan juga ujian. Nanti kita ketemu suatu hari nanti akan bertemu. Namanya juga hidup di dunia yang berdosa ya.

Dulu saja dunia sebelum jatuh ke dalam dosa sudah ada pencobaan dan ujian. Iblis masuk ke dunia ini dalam bentuk ular, dunia belum jatuh ke dalam dosa, Adam dan Hawa belum jatuh ke dalam dosa, ada pencobaan dan ujian. Apalagi dunia sudah jatuh ke dalam dosa, apa yang kita harapkan? Masa kita harapkan Tuhan, saya ingin menjalani hidup ini dengan nyaman, tenang, senang tidak ada pencobaan dan ujian? Itu harapan palsu. Dunia yang belum jatuh ke dalam dosa, taman Eden sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa saja sudah ada pencobaan dan ujian kok, kenapa kita harapkan dunia ini lega-lega saja, nggak ada pencobaan dan ujian? Itu harapan palsu.

Nasihat Yakobus di sini mengatakan bahwa suatu hari nanti kita akan bertemu dengan pencobaan dan ujian. Ada ancaman, ada musuh bagi setiap makhluk hidup karena memang dunia ini sudah jatuh ke dalam dosa. Karena dosa maka dunia ini ada sakit penyakit, karena dosa dunia ini ada penderitaan, karena dosa dunia ini ada kematian, dan bukan hanya karena dunia sudah jatuh ke dalam dosa makanya ada pencobaan, tapi kita tahu bahwa ada iblis yang seperti singa mengaum, berkeliling-keliling mencari mangsa yang siap dia telan. Dunia ini hostile, dunia ini penuh bahaya. Ada pencobaan, ada iblis. Bayangkan ada singa di depan kita, kita waspadanya seperti apa? Ada orang yang kena COVID di dekat kita, kita langsung waspadanya seperti apa? Dunia ini ada pencobaan, dunia ini ada bahaya. Maka sangat penting kita perlu berjaga-jaga setiap saat, kita perlu berjaga-jaga setiap saat memakai masker kalau zaman COVID ya. Tapi kalau ketemu singa, kita berjaga-jaganya bagaimana ya? Nggak bisa ya. Kita harus lari, kabur.

Dua solusi dalam menghadapi pencobaan ya lari. Kalau bisa bertahan, bertahan. Kabur karena kita lemah, tetapi Alkitab menjelaskan bagaimana kita berjaga-jaga dalam pencobaan ketika menghadapi pencobaan supaya tidak jatuh, yaitu caranya dengan apa? Dengan berdoa. Dosa dilawan dengan doa. Hilangkan ‘s’nya. Kalau kita ingat cobaan dosa ya, hilangkan ‘s’ saja harus berdoa. Harus berdoa. Maka sangat penting, Bapak, Ibu, Saudara sekalian untuk bersaat teduh pagi hari ya. Pagi hari harus bersaat teduh, berdoa kepada Tuhan, ada kesulitan? Ada. Capek? Capek. Ngantuk? Ngantuk. Males? Males. Tapi itulah awal proteksi kita ya. Perlindungan pertama kita menjalani hari ini adalah doa. Berdoa kepada Tuhan.

Adanya pencobaan mengingatkan kita untuk berdoa kepada Allah, kepada Yesus Kristus yang sudah menang atas cobaan. Kita punya teladan kok. Yesus Kristus pernah bertubi-tubi dicobai, pernah mengalami banyak pencobaan, dan Dia berhasil. Dia berhasil sebagai manusia ketika menghadapi pencobaan, Dia bukan berhasil sebagai Tuhan. Tuhan nggak perlu berhasil, pasti berhasil. Ketika Yesus dicobai untuk jatuh ke dalam dosa, Dia berhasil sebagai manusia, bukan Tuhan. Memang Yesus adalah Tuhan sekaligus manusia. Tapi Tuhan tidak mungkin berdosa karena Dia Mahakuasa, tetapi manusia bisa saja berdosa karena manusia. Yang tidak bisa berdosa bukanlah manusia ya, yang tidak bisa berdosa hanya Allah dan malaikat pilihan-Nya. Iblis bisa berdosa, bahkan dosanya besar. Kita manusia berdosa bisa berdosa. Yang tidak berdosa hanya Allah dan malaikat-malaikat pilihan-Nya yang tidak bisa berdosa gitu ya.

Yang kedua nasihat kedua, ‘anggaplah.’ Ini penting ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kata ini, ‘anggaplah’ sebagai suatu sukacita bila jatuh dalam berbagai pencobaan. Kok Yakobus nasihatnya aneh gini ya? Jatuh ke dalam pencobaan senyum, tertawa. Kena COVID, tertawa. Aneh kan? Oh bukan gitu ya, salah. Salah. Itu penafsiran yang salah. Yakobus bukan mengajarkan kita untuk menjadi orang yang masokis ataupun asketis. Masokis itu ya Bapak, Ibu, Saudara sekalian adalah puas, sukacita, senang kalau menderita, kalau sakit. Ada yang sakit COVID suka, mungkin ada. Namanya orang masokis atau orang asketis. Bisa aja. Asketis orang yang pantang kenikmatan dan kesenangan demi tercapainya pertumbuhan rohani. Ini bedanya antara masokis sama asketis ya. Sama-sama suka menderita, sama-sama suka sakit, tapi orang masokis ini demi sakit itu sendiri dia puas. Tetapi orang asketis ini suka sakit, suka menderita supaya meningkat kerohaniannya. Itu ya.

Yakobus bukan mengajarkan kita seperti ini. Yakobus mengajarkan kita itu seperti apa? Seperti ini Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalimat yang lebih tepat dari ayat ini adalah di dalam bahasa Inggrisnya, “Count it all joy (hitunglah sebagai sukacita) when you meet trials (ketika kamu bertemu dengan pencobaan) of various kinds (yang berbagai macam).” Bukan jatuh, bertemu ya, masih belum jatuh, tapi kita bertemu dengan pencobaan. Anggaplah itu kebahagiaan, bukan ketika jatuh dalam pencobaan, bukan ketika sakit, bukan ketika kita menderita kita sukacita, bukan. Pasti sedih. Pasti mengeluh. Tapi yang dimaksudkan oleh Yakobus adalah saudara-saudara kalau kalian mengalami bermacam-macam cobaan, hendaklah kalian merasa beruntung. Wah maksudnya apa sih Yakobus? Hendaklah merasa beruntung kalau bertemu dengan pencobaan. Jangan merasa susah, jangan merasa rugi kalau bertemu, menghadapi, masuk ke dalam pencobaan.

Di ayat ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ayat 2 ini dimulai dengan kata apa? Anggaplah. Kata ini menjelaskan soal apa, Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Sudah, anggaplah ini rancangan Tuhan yang baik untuk kamu. Sudah, anggaplah ini semua adalah ujian dari Tuhan yang menguatkan kamu. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, anggaplah di sini adalah bicara soal respon, soal respon kita sebagai manusia ketika menghadapi apa? Pencobaan. Sudah, tabah ya. Ya anggap sebuah keuntungan, sukacita kalau kita mengalami pencobaan, menghadapi pencobaan. Ketika kita berespon terhadap pencobaan, apakah kita tabah atau kalah? Apakah kita kuat bertahan ataukah kita mundur imannya? Udah, nggak peduli. Saya jadi tidak setia sama Tuhan, males berdoa, males baca Alkitab, percuma ibadah, saya sakit COVID. Datang ibadah kok sakit?

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, lebih bahagia mana kena COVID di gereja atau di restoran? Lebih sukacita mana sukacita dari Tuhan, sama-sama kena COVID tapi kena COVIDnya satu di gereja, satu di restoran atau di pesta? Ya lebih berharga kena di gereja dong ya meskipun tentu kita tidak ingin kena di mana-mana. Tetapi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita harus belajar merespon dengan baik dan dari segala situasi dan kondisi yang ada. Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan satu kalimat begini, “Man is not what he thinks, man is not what he eats, man is not what he gains, man is not what he behaves, man is not what he feels. But man is what he reacts before God.” Kutipan ini Pak Tong menjelaskan soal apa? Respon. Anggaplah, ya. Berespon.

Manusia itu bukan soal apa yang dia makan, bukan soal apa yang dia pikir, bukan soal apa yang dia dapatkan/peroleh, bukan apa yang dia lakukan, bukan apa yang dia rasa, tetapi manusia adalah bagaimana dia bereaksi kepada Allah, berespon kepada Allah. Ini manusia. Manusia didefinisikan oleh respon kita kepada Allah, respon terhadap situasi dan kondisi. Itu baru manusia. Bukan apa yang dia makan, apa yang dia pikir, yang dia rasa, apa yang dia peroleh. Ini nasihat Yakobus yaitu berespon dengan tepat ketika kamu menghadapi pencobaan dan responnya apa? Sukacita. Sukacita. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, apakah penyakit COVID bisa mengalahkan sukacita di dalam Tuhan? Apakah pandemi ini mengalahkan sukacita kita dalam Tuhan? Kalau kita kalah ya berarti kita gagal dalam memahami Tuhan. Kita butuh pertolongan Roh Kudus, kita perlu minta pertolongan Roh Kudus karena kita lemah, kita berdosa. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, apa respon kita terhadap COVID ini sebagai orang Kristen? Apakah sudah tepat atau malah tidak tepat?

Teman saya pernah sharingkan suatu ekstrim di dalam pandemi ini yaitu ekstrim dua orang. Satu sisi kanan, satu sisi kiri. Yang kiri itu sangat cuek sekali dari COVID, tidak peduli, bahkan sampai sekarang, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, saya lihat berita masih ada yang katakan, “Oh COVID itu ada ya? Ah COVID itu hoax.” Bayangkan. Sampai sekarang masih ada aja orang yang kayak gitu, yang baru tahu, cuek deh, nggak pakai masker kemana-mana, jalan-jalan. Udah COVID itu bisa sembuh langsung, udah nggak usah peduli, nggak usah vaksin. Wah bayangkan. Ekstrim yang satu cuek habis. Ekstrim yang satu lagi, ekstrim kanan ketakutan luar biasa, khawatir, paranoid. “Orang yang datang fisik ke gereja orang bodoh semua, kan bisa online. Di rumah aja ibadah. Nggak usah ke gereja. Bodoh. Di rumah terus. Ngapain pergi ke restoran? Bisa Gofood. GoFood, masukin oven, microwave, panasin, mati semua virus.” Wah begitu hati-hati semua harus semprot. Takut luar biasa sampai mengandalkan bahwa kesehatan itu karena usahaku.

Ini dua ekstrim Bapak, Ibu, Saudara-saudara. Cuek habis dan takut habis. Responnya orang Kristen bagaimana kita berespon terhadap situasi dan kondisi yang ada? Ya harus seimbang, harus bergantung sama Tuhan, kita harus jaga protokol dengan ketat, dengan sungguh-sungguh, dengan baik siap sedia, melayani Tuhan dengan takut akan Tuhan. Tetapi kalau tugas dan panggilan dari Tuhan, kita harus hadir. Kalau Tuhan tidak minta kita hadir harus istirahat, ya istirahat. Siap melayani Tuhan ketika kita sehat tetapi siap juga kalau Tuhan izinkan kita sakit. Kalau sakit, nggak bisa melayani. Udah, terima saja ya. Saya juga sama Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Bagaimana sebagai pengkhotbah bersiap-siap kalau saya kena COVID? Ya udah anggap aja libur dua minggu gitu ya. Tapi memang ya, tapi memang bisa kekurangan penghasilan, kekurangan perhatian, bisa kesendirian, itu kita butuh orang. Butuh sesama. Butuh teman ya. Kita perlu berdoa minta bijaksana, minta iman kepada Tuhan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, respon kita lebih penting dari situasi dan kondisi yang ada. Respon kita lebih penting dari pada situasi dan kondisi yang ada di luar kita, yang di sekitar kita yang kita alami, respon itu penting. Beberapa hari yang lalu Bapak, Ibu, Saudara sekalian, saya dengar kabar dari jemaat di Semarang ambulan tidak berhenti lewat, kota menjadi sepi, rumah sakit penuh. Itu yang kita alami juga baik di Jogja maupun di Solo, sama. Hari kemarin, tempat makan itu mulai take away semua kan. Jalanan mulai sepi.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ketika kita melihat peristiwa ini yang terjadi akhir-akhir ini, bagaimana kita berespon terhadap peristiwa itu, itu lebih penting dari pada situasi dan kondisi yang terjadi ya. Sudah kah kita berdoa bagi kota-kota itu? Minimal berdoa aja. Sudahkah kita dukung program pemerintah menekan COVID dengan baik? Ya kita dukung oke. Kita perketat supaya COVIDnya turunlah minimal, terus kita yang belum vaksin coba vaksin supaya efeknya tidak terlalu parah ketika kita sakit COVID. Ya kalau ada kesempatan vaksin kita kasih tahu teman kita yang lain kamu vaksin nggak? Di Barat Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di barat orang-orang barat Amerika kayak gitu ya, semua vaksin. Barengan. Datang ke pertemuan banyak orang nggak pakai masker karena semua sudah vaksin kok ya. Itu mereka. Mereka sudah melewati kesulitan itu, kenapa kita nggak belajar sama mereka? Mereka udah lebih percaya diri, kita udah vaksin semua sudah dua kali, sudah oke, kuat, sudah, datang tidak pakai masker, berkumpul, karena sudah vaksin semua. Sedangkan kita, ada yang vaksin sudah, ada yang belum, ada yang malas, ada yang mendorong, kurang kompak, ya, kurang kompak.

Beberapa hari yang lalu juga saya dapat kabar papa saya kena COVID di kantornya, di Jakarta, umur 66. Jakarta lagi parah-parahnya, zona hitam, banyak sekali COVIDnya. Apa respons saya sebagai anak yang jauh dari ayah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Sekarang papa saya lagi isolasi mandiri di hotel, belum bisa pulang ke Bandung, harus isolasi sendirian, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya saya sebagai hamba Tuhan, ya, sebagai anak juga ya paling cuma bisa video call, ajak mama bertoga video call, ngobrol-ngobrol, doain papa saya, sudah. Kita hanya bisa berdoa kok menghadapi pencobaan dan ujian. Atau saya ajak saudara kandung yang lainnya, ayo, kalau sempat, kita video call, temenin papa, sakit, sudah tua. Memang papa saya sudah vaksin 2 kali tetapi efeknya sama, sakit kepala, pusing, sekarang, gitu ya. Lagi, isolasi sendirian. Apa yang kita bisa berespons terhadap situasi dan kondisi yang ada? Berdoa. Ya, berdoa, supaya jangan jatuh ke dalam pencobaan, itu seperti doa Bapa Kami, “Lepaskanlah kami dari yang jahat, jauhkanlah kami dari pencobaan.”

Respon kita sebagai orang Kristen, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sangat perlu kita perhatikan ketika kita berhadapan dengan segala peristiwa. Ada yang masuk ke dalam pencobaan jadi marah, kesal, komplain ke Tuhan, tidak beriman, hancur, kecewa sama Tuhan, semakin jadi beban bagi orang lain. Ada yang seperti itu. ketika berhadapan dengan pencobaan, malah jadi beban, marah. Tetapi ada yang masuk ke dalam pencobaan, justru semakin kuat, semakin bergantung sama Tuhan, minta tolong sama Tuhan, semakin menjadi berkat bagi orang lain. Orang yang mengetahui bagaimana berespons dengan benar, dan sesuai dengan kehendak Tuhan terhadap peristiwa, dan situasi, kondisi yang ada itu adalah orang yang bijaksana. Orang yang bisa tahu bagaimana berespons dengan tepat sesuai dengan yang Tuhan mau, ketika situasi dan kondisi begitu kacau, itu adalah orang yang bijaksana.

Yakobus mengatakan “Saudara-saudara, ayolah, kalau kalian mengalami pencobaan, anggaplah kalian beruntung, bersukacitalah, karena Tuhan menguatkan, Tuhan menyertai.” Karena kita tahu, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, dua belas suku di perantauan itu, apalagi abad pertama, sangat susah. Mereka pencobaan itu bukan COVID, mereka pencobaannya pedang, singa, pemerintah. Kamu Kristen? Penjara, bunuh, bakar. Itu pencobaan yang mereka alami. Itu alasan yang kedua.

Yang selanjutnya, yang akan kita renungkan dua alasan kenapa kita harus ikut nasihat ini. Alasan pertama di ayat 3, “sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Testing of your faith produces steadfastness. Keuntungan ketika masuk ke dalam pencobaan adalah kita boleh semakin dibentuk menjadi dewasa, lebih dewasa. Bila orang-orang Kristen terus bergantung sama Tuhan, terus setia, terus percaya kepada Tuhan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, maka orang-orang Kristen akan memperoleh apa? Ketabahan, endurance, ketekunan ini terjemahan lainnya adalah steadfastness. Steadfastness itu artinya kesetiaan, ketekunan, ketabahan, ya, kita akan mendapatkan ketabahan melalui segala pencobaan yang kita hadapi. Inilah yang Yakobus harapkan, ya, yang Yakobus kasih tahu ke kita.

Dan dalam ayat ini, Yakobus menjelaskan bahwa pencobaan itu adalah bagian dari ujian terhadap iman. Pencobaan itu adalah bagian ujian dari terhadap iman kita. Apa perbedaan pencobaan dan ujian? Tadi saya sudah sebut, jelaskan secara singkat, bahwa pencobaan itu datangnya dari iblis untuk menghancurkan kita, membuat kita tidak beriman, membuat kita hopeless, tidak berpengharapan. Tetapi ujian itu datangnya dari Tuhan membuat kita lebih bergantung sama Tuhan, dan Tuhan juga menginginkan kita untuk naik kelas, naik semakin dewasa sebagai pengikut Kristus.

Pencobaan dan ujian peristiwanya sama, di baliknya berbeda, yang mendoakannya berbeda, Tuhan mendoakan kita supaya berhasil, iblis mendoakan kita supaya gagal, ya. Makanya kita, sederhananya, pencobaan itu dari iblis, ujian itu dari Tuhan. Tapi, di belakangnya lagi kita tahu iblis bisa mencobai kita pun seizin siapa? Ingat kisah Ayub. Iblis bisa mencobai kita itu seizin Tuhan. Maka kita bisa katakan juga baik pencobaan ataupun ujian, ya dari Tuhan. Peristiwanya bisa sama? Sama. COVIDnya bisa sama? Sama. Itu bisa sebagai ujian, bisa juga sebagai pencobaan, ya.

Iman yang sejati harus diuji, harus dicobai, itu iman, ya. Iman yang murni adalah iman yang lulus pencobaan dan ujian. Makanya Yakobus katakan ‘berbahagialah,’ berarti iman kamu itu sudah siap dicobai dan diuji. Supaya kamu sadar bahwa kamu itu imannya murni, nggak palsu. Supaya kamu nanti di sorga nanti, di hadapan Tuhan nanti, jangan ngomong lagi gini, “Tuhan, bukankah aku sudah bernubuat bagi nama-Mu? Bukankah aku melakukan mujizat demi nama-Mu? Bukankah aku menggunakan nama Yesus demi nama-Mu? Berbuat baik demi nama-Mu? Tetapi kenapa Engkau menyangkal aku dan Engkau mengatakan aku sebagai pembuat kejahatan?” Itu karena imannya tidak diuji, itu karena imannya nggak murni. Maka Yakobus katakan bersuka citalah imanmu itu diuji oleh Tuhan, berarti kamu semakin mengenal imanmu.

Deklarasi terbaik dari Surat Yakobus adalah, “Iman tanpa perbuatan itu mati.” Wah ini sangat penting ya. Kita memahami iman dan perbuatan, ini tema besar dari Surat Yakobus. Saya ingin kita merenungkan tentang iman. Theologi Luther itu sama dengan Yakobus. Luther itu sangat menekankan sebenarnya tentang iman, tetapi Yakobus pun tekankan iman sebenarnya, karena iman tanpa perbuatan mati. Memang Yakobus menjelaskan banyak perbuatan, perbuatan, perbuatan, tetapi perbuatan yang didasarkan iman. Jadi, baik Luther, Martin Luther, dan Yakobus, itu sebenarnya menekankan iman juga. Luther pernah menjelaskan dalam pengantarnya di dalam Kitab Roma, menyatakan bahwa, iman yang sejati itu merupakan sesuatu yang hidup, sibuk, aktif, perkasa (Real faith is a living, busy, active, mighty thing),” itu kata Luther.

Iman ini mustahil untuk tidak melakukan perbuatan baik, iman ini tidak pernah menanyakan apakah pekerjaan baik itu harus dilakukan atau tidak. Ya, iman yang sejati itu nggak pernah tanya, “Eh, ini harus saya lakukan nggak?” Kalau memang pekerjaan baik, langsung lakukan, jangan mengeluh. Kalau perbuatan jahat, baru pikir ulang. Itu iman yang sejati. Kalau memang pekerjaan baik, lakukan, lakukan, dengan bijaksana tentunya ya. Kalau perbuatan jahat, baru mikir, gitu dong. Kita kan sering kebalik, mau pelayanan, mikir ulang, mau berbuat jahat, langsung. Luther katakan iman yang sejati itu mustahil untuk tidak melakukan perbuatan baik, nggak pernah tanya-tanya. Kalau memang perbuatan baik, saya lakukan. Itu iman, ya, iman. Siapapun yang tidak melakukan pekerjaan seperti itu, adalah orang tidak percaya. Wah ini Luther marahin bener-bener ya, orang Kristen, “Kalau kamu nggak punya iman kepada Yesus, malas berbuat baik, bukan orang Kristen.”

Jadi tidak mungkin memisahkan perbuatan dari iman. Sama mustahilnya memisahkan panas dan cahaya dari api. Iman itu layaknya api, ada api, ada cahaya dan panas. Ada iman, ada perbuatan baik, ada perbuatan kasih. Yakobus katakan ujian terhadap imanmu akan menghasilkan ketabahan, ketekunan. Ketabahan, ketekunan untuk apa? Untuk bisa terus bergantung kepada Allah dan juga hidup dalam kekudusan. Nah ini alasan pertama. Kenapa kamu harus bersukacita ketika hadapi pencobaan? Karena kamu imannya diuji, dan kamu bisa mengerti iman kamu, bahwa kamu itu semakin kuat.

Alasan terakhir, alasan kedua, di ayat 4, “Dan biarkanlah ketekunan (steadfastness) itu memperoleh buah yang matang (full effect), supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.” Jadi, Yakobus katakan biarlah ketabahan itu memperoleh buah yang matang, supaya jadi sempurna, utuh, dan tak kekurangan suatu apapun. Ini alasan kedua. Jadi dari ketabahan, dari ketekunan itu, kamu akan menghasilkan buah yang matang, bahasa Inggrisnya itu adalah full effect. Efek yang penuh dari hidupmu yang berkenan di hadapan Tuhan, ya, jadi berkat intinya. Maka buah-buah iman itu banyak bermunculan, itu maksud Yakobus.

Alasan kedua ini sesuai dengan Roma 5:3-5, ini sesuai ya dengan nasihat Rasul Paulus, “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Jadi Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kenapa kita berbahagia, bersukacita, ketika berhadapan dengan pencobaan? Karena berarti iman kita diuji, satu, alasan yang kedua adalah, kita akan memperoleh buah yang matang, kita akan merasa lengkap, iman kita itu lengkap ketika kita itu diuji. Kita akan merasa tak kekurangan apapun karena apa? Karena Allah memberikan pengharapan, karena Allah memberikan berkatnya. Kita akan menjadi berkat bagi banyak orang. Matius 7:20 mengatakan, “Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Dari hasil perbuatan kita, sebagai orang Kristen lah, kita dikenal, perbuatan kita, bukan iman kita. Meskipun kita tahu, iman kita itu menghasilkan perbuatan, tapi kita itu dikenal dari apa? Buahnya, perbuatan baiknya. Itulah orang Kristen dikenal.

Mari kita sama-sama berespons dengan lebih tepat, dengan lebih bijaksana dalam situasi dan kondisi yang kita hadapi. Mari kita sama-sama lebih tekun berdoa, khususnya yang menghadapi pencobaan. Mari kita terus beriman kepada Tuhan di dalam kondisi yang memang tidak mudah ini. Kita berdoa pada Tuhan seperti yang diminta oleh Jim Elliot yang meninggal pada usia yang sangat muda, yaitu umur 29 tahun, Jim Elliot pernah memohon begini, “Lord, give me firmness without hardness, steadfastness without dogmatism, love without weakness,” “Tuhan, berikan aku keteguhan tanpa kebebalan atau kekerasan,” kepala ya, keras kepala, “berikan aku keteguhan tanpa hati yang bebal, berikan aku ketabahan tanpa” dogmatisme itu adalah kekakuan ya, tidak peduli pendapat orang, itu dogmatisme, cuek, saya percaya iman saya sudah, nggak perlu debat, tidak ya, “berikan ketabahan tanpa kekakuan, dogmatisme, dan juga kasih, tanpa kelemahan.”

Kiranya kita boleh tabah menghadapi situasi dan kondisi yang tidak mudah, kiranya kita juga bisa tabah menghadapi sakit penyakit, kesulitan hidup, bersama dengan Kristus. Sebab di dalam Kristus lah kita bisa menanggung segala perkara. Kiranya sebagai orang Kristen kita punya karakter yang tabah, seperti Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat kita, yang sudah dicobai terlebih dahulu, dan Dia menang. Mari kita sama-sama berdoa.

Tuhan, Bapa kami yang di sorga, kami mengucap syukur Tuhan, pada pagi hari ini kami boleh mendengarkan firman Tuhan, kami boleh dikuatkan kembali oleh firman Tuhan, bagaimana kami berespons terhadap situasi dan kondisi yang tidak mudah ini. Ampuni kami Tuhan jika kami sering kali berespons dengan cara yang salah, marah-marah ke Tuhan, berkeluh kesah tidak berkesudahan, menyakiti hati Tuhan, ampuni jika kami seringkali berespons secara salah dan kurang bijaksana. Kami mohon anugerah-Mu Tuhan, kiranya kami bisa lebih bijaksana lagi dalam meresponi segala sesuatu, karena kami dinilai Tuhan dari bagaimana kami berespons kepada Tuhan, kepada situasi dan kondisi yang Tuhan izinkan dalam kehidupan kami. Kami menyerahkan Tuhan hidup kami ke dalam tangan Tuhan, kiranya kami bisa kuat, bisa tabah menghadapi segala pencobaan dan ujian dari Tuhan. Kiranya Roh Kudus boleh menolong kami, karena kami ini lemah, tapi Roh Kudus adalah pribadi yang kuat. Roh Kudus lah yang menolong kami untuk semakin kuat di dalam Tuhan. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami sudah berdoa dan mengucap syukur. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *