Berpegang pada Kebenaran di dalam Kasih, 4 Febuari 2018

Ef. 4:15

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita lihat di dalam ayat yang ke-14, maka di dalam ayat 14 Paulus memberikan kepada kita ciri-ciri dari seorang Kristen yang masih bayi rohani. Di dalam ayat 14 tersebut Paulus berkata orang yang masih bayi rohani itu adalah orang yang tidak memiliki kestabilan di dalam mengerti apa yang menjadi pengajaran yang benar dan salah itu seperti apa; yang terjadi dalam kehidupan dia adalah dia akan selalu diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran yang ada di dalam gereja dan yang ada di dalam dunia ini. Bagi dia firman Tuhan itu adalah sesuatu mungkin kebenaran, tetapi begitu dia mendengarkan sesuatu pengajaran yang lain dia dengan begitu gampang akan beralih kepada pengajaran yang lain dalam kehidupan dia dan mengabaikan apa yang menjadi pengajaran firman Tuhan. Dan di dalam bagian ini dikatakan itu seperti sebuah kapal yang kecil yang ada diantara lautan yang memiliki ombak yang besar yang diombang-ambingkan kian kemari. Ciri yang kedua adalah, Paulus berkata, dia adalah seorang yang tidak memiliki kontrol diri. Orang yang belum dewasa rohani, dia tidak memiliki disiplin diri, dia tidak memiliki kontrol diri; jadi apa yang menjadi dasar dia bertindak itu adalah bukan kebenaran tetapi moody, mungkin perasaan yang mendorong dia untuk melakukan sesuatu. Jadi dia bukan menundukkan diri di bawah kebenaran firman, tetapi justru dia menjadikan perasaannya menjadi penuntun dia di dalam dia mengambil sesuatu keputusan atau tindakan tertentu dalam kehidupan dia.

Lalu yang ketiga, seorang bayi rohani adalah seorang yang terbuka untuk dimanipulasi, terbuka untuk dibohongi, karena dia tidak memiliki kebenaran di dalam kehidupan dia, dan tidak mengerti kebenaran itu dalam kehidupan dari pada diri dia. Di dalam Surat Kolose, Paulus ada berikan beberapa contoh bagaimana orang-orang yang merupakan bayi rohani begitu gampang sekali untuk diselewengkan dari pada pengajaran yang sudah diajarkan oleh para rasul dan para nabi. Mereka begitu rentan sekali untuk dirusak atau dijauhkan dari kebenaran injil. Misalnya ambil contoh, di dalam Surat Kolose ada peristiwa ketika orang mengajarkan ada makanan yang boleh disentuh, ada makanan yang tidak boleh disentuh, karena makanan itu bisa mempengaruhi kekudusan dari pada hidup seseorang yang percaya; lalu orang-orang Kolose berkata, “Iya itu adalah suatu kebenaran.” Jadi kehidupan kudus atau tidak kudus itu ditentukan dari apa yang ada di luar diri kita, yang kita sentuh.

Lalu orang-orang Kolose juga terpengaruh dengan suatu pandangan hal-hal yang supranatural; apa yang kita bisa lihat, yang tidak bisa dilihat oleh orang Kristen yang lain, yang seperti malaikat, beribadah kepada malaikat, memiliki penglihatan-penglihatan atau karunia penglihatan dalam kehidupan mereka, maka dikatakan sebagai orang yang lebih rohani daripada orang Kristen yang lain, yang tidak memiliki karunia penglihatan tersebut. Dan mereka juga memiliki pengertian ada hari-hari tertentu yang lebih baik daripada hari yang lain yang Tuhan cipta di dalam 7 hari yang ada di dalam kehidupan kita, dan mereka terpengaruh oleh hari-hari yang baik itu, mungkin menganggap hari-hari itu memiliki berkat yang lebih besar daripada hari-hari yang lain. Saudara, ini yang terjadi pada zaman Paulus ketika dia menggembalakan jemaat yang ada di Kolose tersebut. Dan pada zaman itu mungkin ada hal-hal yang lain, misalnya suatu pengajaran yang mengatakan bahwa orang Kristen harus diberkati, orang Kristen harus memiliki kesembuhan ketika dia meminta kepada Tuhan, orang Kristen harus memiliki karunia Roh untuk menandakan kalau dia memiliki kedewasaan di dalam rohani dia. Saya pikir itu semua, menurut Alkitab, kalau kita terpancing untuk masuk ke dalam situ, berarti kita sedang termakan oleh suatu pengajaran yang bukan dari firman Tuhan yang benar tetapi justru dari pada pengajaran manusia. Kita tertarik untuk hidup seperti itu, kita tertarik untuk memiliki suatu kehidupan yang terikat oleh sesuatu, mungkin [dirasa-Red.] lebih menjamin, tetapi Paulus berkata itu adalah suatu pengajaran yang berasal dari manusia, bukan dari Allah.

Saya di dalam perjalanan ke Israel kemarin, ada satu hal yang saya kagumi juga dan saya pikirkan, walaupun tempat-tempat yang dikunjungi itu adalah suatu tempat yang sebenarnya hanya replika mungkin karena nggak ada orang yang sebenarnya tahu secara pasti apakah Yesus lahir di tempat itu atau Yesus kemudian mengungsi ke Mesir di temmpat itu atau tidak. Misalnya di dalam perjalanan ke Mesir, Kairo, kita melihat kepada sebuah gereja yang diperkirakan Yesus pernah tinggal di situ pada waktu Dia mengungsi dari Israel ke Mesir. Yesus pernah mengungsi ke Mesir nggak? Pernah ya. Saya pernah bicara sama satu teman, dia bilang, “Ah saya nggak pernah tahu Yesus pernah ke Mesir lho.” Pada waktu bayi, Yesus pernah dibawa ke Mesir 2000 tahun yang lalu, lalu pada waktu Dia di Mesir itu lalu ada orang mulai membangun sebuah gereja dan mengatakan Yesus pernah di sini, tahu nggak bahwa Yesus pernah di Mesir dan itu pasti tempatnya? Siapa yang tahu 2000 tahun yang lalu? Pada waktu itu keadaan masih di bawah pemerintahan dari pada Kerajaan Mesir pada waktu itu, pada waktu itu nggak ada terlalu banyak saksi mata yang melihat Yesus itu ada dimana tempat tinggalnya. Pada waktu itu yang diketahui adalah Yesus pernah pergi ke Mesir, lalu apa yang menjadi dasar mereka membangun tempat itu sebagai sebuah gereja peringatan? Dasarnya karena mereka menemukan melalui arkeologi, ada misalnya rumah di situ tempat orang tinggal, lalu tidak jauh dari situ ada kandang, lalu di situ ada sumur yang tua sekali dari diperkirakan 2000 tahun yang lalu; dari antara begitu banyak sumur mungkin yang ada atau puing-puing yang ada, tapi karena dasar itu ada ditemukan sumur itu, ada ditemukan kandang, lalu orang berkata kemungkinan Yesus pernah tinggal di sini.

Saudara, lalu pada waktu saya melihat keadaan-keadaan seperti itu, orang datang dengan khusuk beribadah di situ memperingati hari kelahiran Kristus, memperingati perjalanan Yesus di Mesir, Saudara, itu sesuatu yang baik tidak? Mungkin sesuatu yang baik untuk bisa mengingat kembali apa yang telah ada di dalam sejarah Kekristenan, apa yang pernah Yesus lakukan di dalam inkarnasi-Nya di dalam dunia ini. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita melihat pada hal itu semua, apakah kita kemudian mensakralkan tempat itu sebagai suatu tempat yang bisa menguduskan kita misalnya, menjadi tempat yang lebih berarti bagi kehidupan rohani kita dibandingkan kalau kita tidak pergi ke situ? Saya pikir pergi ke sana ada baiknya untuk bisa melihat lebih jelas, lebih dipertajam mengenai apa yang menjadi perkataan firman Tuhan dalam kehidupan kita; tapi tidak pergi ke sana juga bukan sesuatu yang membuat rohani kita tidak bisa bertumbuh. Namun pada waktu kita hidup sebagai orang-orang Kristen, seringkali kita akan melihat kalau saya bisa ada suatu pegangan tertentu, ada sesuatu yang bisa kita lihat, ada sesuatu yang mungkin kita bisa raba, kita rasakan dengan indera kita, itu menjadi sesuatu yang lebih riil dan lebih nyata dalam kehidupan rohani kita, dan itu yang kita kejar.

Nah ini yang terjadi dalam Surat Kolose. Mereka menganggap kalau mereka memiliki pengalaman rohani dalam kehidupan mereka, melihat sesuatu yang supranatural, itu menjadikan mereka lebih rohani. Kalau mereka berpegang pada hari-hari tertentu yang dipegang oleh orang Yahudi, walau mereka sudah  menjadi orang Kristen waktu itu, maka itu membuat mereka punya hidup sebagai orang Kristen yang beribadah pada Allah lebih berarti daripada kalau mereka melihat semua hari itu baik. Tapi Paulus berkata nggak bisa seperti itu, itu hanya menunjukkan kalau engkau mengikuti keinginan dagingmu dan mengikuti pengajaran manusia, engkau tidak sedang mengikuti pengajaran dari Tuhan Allah. Kecondongan kedagingan kita adalah menambahkan sesuatu kepada injil dan mengurangkan sesuatu dari pada injil. Dan kita melihat bahwa kuasa injil tidak cukup untuk menebus dan membebaskan kita dari pada semua ikatan atau belenggu dosa dalam kehidupan kita dan membuat kita bisa beribadah kepada Tuhan Allah dengan bebas. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah sesuatu yang harus kita pertimbangkan, ini adalah sesuatu yang harus kita hati-hati dalam menghadapinya dan merupakan hal yang Paulus peringatkan untuk orang-orang Kristen tidak terjebak masuk ke dalam kondisi seperti ini.

Lalu siapa yang ada di balik tindakan itu, penyesatan tersebut, yang membuat orang Kristen itu diombang-ambingkan oleh pengajaran yang tidak jelas, atau kalau bisa membuat orang Kristen itu terhilang dari pada pengajaran yang benar yang telah Tuhan Allah berikan kepada gereja? Nah di sini Paulus kemudian berkata ada 2 oknum yang terlibat dalam keadaan ini, pertama adalah manusia. Siapa yang memiliki tipu muslihat yang licik? Siapa yang membuat gereja itu tersesat, tidak memiliki kebenaran firman, lalu mengikuti jalan lain yang tidak diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus? Paulus berkata mereka adalahh guru-guru palsu dan mereka adalah manusia; dan manusia yang menjadi guru palsu ini digambarkan oleh Paulus sebagai orang yang memiliki permainan palsu dan memiliki kelicikan. Apa yang dimaksud “permainan palsu dan kelicikan”? Kalau Saudara melihat di dalam bahasa aslinya, Yunani, “permainan palsu” memiliki kata “kubeia,” lalu “kelicikan” itu memiliki kata “panourgia.”Kubeia itu berarti sesuatu permainan dadu; maksudnya adalah, orang yang menjadi guru palsu itu bukan seseorang yang tidak memiliki rencana, keahlian, atau kemampuan tertentu, tapi mereka adalah orang-orang yang melakukan tipu daya kepada gereja atau khususnya kepada orang-orang Kristen yang masih bayi rohani dengan sesuatu keahlian tertentu yang membuat orang yang masih bayi rohani itu mungkin berpikir, apa yang dilakukan itu adalah suatu kebenaran yang dari Tuhan sendiri, dan mereka tanpa mengetahui yang benar sesungguhnya itu seperti apa langsung percaya dan tertarik kepada suatu guru palsu yang mengajarkan hal yang tidak benar. Karena apa? Mereka begitu ahli, mereka begitu pandai; sedangkan di dalam gereja, umumnya kadang tidak terdapat hal-hal yang menarik, mungkin tidak terdapat sesuatu cara-cara yang membuat jemaat bisa tergugah atau tergerak atau perasaannya semakin diangkat supaya mereka merasa seperti orang yang sedang beribadah kepada Tuhan Allah.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita lihat dalam kehidupan Elia ketika dia melawan nabi palsu, di situ ada perbedaan yang besar sekali dalam cara ibadah seorang nabi yang asli daripada seorang nabi yang palsu. Nabi palsu ketika memanggil api turun untuk membakar korban persembahan, mereka begitu meriah sekali dalam ibadah mereka, mereka begitu berteriak-teriak dengan penuh semangat sekali, bahkan sampai dikatakan mereka kemudian mulai kerasukan ketika mereka beribadah; tapi yang terjadi adalah, tidak ada api yang diturunkan dari langit untuk membakar korban itu. Tapi pada waktu Elia berdoa, dia tidak perlu menoreh-noreh dirinya, dia tidak teriak-teriak kepada Tuhan Allah, tapi dia hanya berdoa, “Kalau aku adalah hamba-Mu, nyatakan kalau aku adalah hamba-Mu dan Engkau adalah Allah yang sejati.” Baru dia berkata seperti itu, api turun dari sorga dan menghanguskan semua korban persembahan yang sudah disiram dengan air itu beserta seluruh air yang ada di dalam parit yang mengelilingi korban tersebut. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kadang ketika kita beribadah, Paulus berkata, kita harus hati-hati. Yang menjadi penyesat itu adalah pertama pasti manusia yang ada di dalam gereja, guru-guru palsu. Dan ketika mereka menyesatkan, mereka bukan seperti orang yang polos, yang lugu, yang kita dengan gampang melihat ini pasti salah. Tapi mereka adalah orang-orang yang begitu licik, begitu cerdik, begitu memiliki keahlian, dan Allah katakan menggunakan segala cara untuk bisa menipu orang-orang Kristen yang masih bayi rohani. Dan mereka dengan gampang akan mengikuti mereka. Ini adalah hal pertama yang kita perlu waspadai sebagai orang Kristen. Siapa yang menjadi tokoh di balik kelicikan tersebut, di dalam penipuan itu? Paulus berkata, mereka hanyalah manusia, sama seperti diri kita adalah manusia. Tetapi, mereka menggunakan segala tipu daya untuk menyesatkan orang-orang Kristen yang merupakan bayi rohani.

Ada hal yang kedua, oknum kedua, yang kita perlu waspadai. Di balik dari pada manusia yang melakukan kelicikan dan kejahatan itu, Paulus juga katakan, ada si iblis yang memiliki kuasa untuk mau menjerat, membawa orang-orang Kristen yang masih bayi rohani masuk ke dalam penyesatan. Nah ini dikatakan di dalam 2 Korintus 11:3, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” Di balik dari pada tipu daya yang terjadi dalam gereja, Paulus berkata, ada iblis, kuasa iblis yang memperdayakan orang-orang Kristen sama seperti dia telah memperdayakan Hawa sebagai perempuan pertama atau manusia pertama yang Tuhan ciptakan tersebut. Dan di dalam Efesus 6:11 sendiri Paulus berkata, kita harus senantiasa mengenakan “perlengkapan senjata Allah” dalam kehidupan kita. Untuk apa? Melawan tipu muslihat dari pada iblis. Jadi dari sini Paulus mau katakan, di balik tindakan penyesatan yang dilakukan oleh manusia, kita harus sadar, ada kuasa iblis di balik itu. Ada pengaruh yang memiliki kuasa jahat yang bersifat supranatural, yang sangat licik, yang merupakan bapa segala dusta di balik semua tindakan dari pada orang-orang yang menyesatkan itu. Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika kita tidak memiliki kepekaan untuk melihat bahwa ini adalah pengajaran dari Tuhan atau tidak, secara tidak langsung sebenarnya kita sudah mengikut pengajaran dari pada iblis dari pada kehidupan kita. Dan ini adalah hal yang Paulus tidak kehendaki dari pada kehidupan orang Kristen. Ini yang membuat Paulus selalu berkata, sebagai orang Kristen kita harus bertumbuh. Kita nggak bisa tinggal sebagai orang Kristen yang bayi rohani, tetapi kita harus bertumbuh menjadi orang Kristen yang dewasa di dalam kerohanian kita.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kita bisa bertumbuh menjadi orang Kristen yang dewasa? Apa yang membuat kita, hal-hal apa yang bisa mendorong kita bertumbuh dalam kedewasaan ini? Nah ini jawabannya dikatakan di dalam ayat 15. Di sini Paulus katakan, “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” Bagaimana caranya bertumbuh kepada Kristus, menuju kepada kedewasaan? Paulus berkata, caranya adalah berpegang pada kebenaran di dalam kasih. Maksudnya apa berpegang kepada kebenaran dalam kasih? Nah di dalam tafsiran, ada 2 kemungkinan pengertian, walaupun ada kecondongan dari orang-orang Kristen untuk memisahkan itu. Ada yang berkata, berpegang teguh pada kebenaran dalam kasih itu berkaitan dengan apa yang menjadi tindakan kita sebagai orang Kristen. Tapi ada yang mengatakan, berpegang teguh kepada kebenaran dalam kasih itu berbicara mengenai mengatakan kebenaran firman dalam kehidupan kita, atau Injil. Saya lihat dua-duanya ada benarnya.

Siapa yang bisa bertumbuh dalam kedewasaan? Siapa yang bisa menjadi orang Kristen yang tidak diombang-ambingkan oleh rupa-rupa dari pada pengajaran yang ada itu? Saya percaya salah satu hal yang pertama adalah, dengan tindakan kita untuk berpegang teguh pada kebenaran dalam pengertian kita melihat kebenaran itu sebagai suatu kebenaran yang kita hidupi dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya pernah berbicara dengan seseorang, lalu saya tanya, “Kkamu percaya nggak bahwa apa yang dikatakan firman Tuhan, Injil tentang Kristus itu adalah suatu kebenaran?” Dia orang Kristen. “Kamu tahu nggak arti percaya itu apa?” Lalu dia bingung, dia mikir, lalu dia ngomong, “Kelihatannya saya belum percaya kepada Tuhan ya.” Kenapa? Karena percaya itu adalah kita mengizinkan diri kita dibentuk dan diubah oleh Tuhan. Itu namanya percaya. Tapi kalau kita nggak pernah mengizinkan diri kita untuk dibentuk dan diubah oleh Tuhan, maka itu berarti kita nggak percaya kepada perkataan yang Tuhan katakan. “Lalu kalau gitu selama ini kamu ikut Tuhan bagaimana? Kamu karena dipaksa oleh orang tua?” “Ya, mungkin ada faktor itu.” “Lalu yang kedua apa?” “Mungkin saya hanya sebagai knowledge saja, percaya kepada Tuhan, pada Kristus, menurut pengajaran yang saya terima dari kecil, bahwa Yesus itu adalah Tuhan dan Yesus itu adalah Juruselamat. Itu baru pengetahuan yang saya terima. Saya nggak terlalu yakin kalau dia sungguh-sungguh adalah Tuhan dan Juruselamat dalam hidup kita.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, bagaimana kita bisa sungguh-sungguh memiliki kepastian kalau Yesus itu Tuhan, kalau perkataan Yesus itu adalah suatu kebenaran, bahwa apa yang dikatakan itu adalah bukan sesuatu dusta, tapi sesuatu yang riil? Jawabannya adalah, lakukan kebenaran, berpegang teguh pada kebenaran, baru dari situ kita punya keyakinan bahwa apa yang dikatakan oleh Kristus itu adalah kebenaran yang riil. Kenapa saya katakan ini? Karena kita ada bahaya sebagai orang Kristen yang masih hidup dalam dunia ini. Memang Alkitab katakan orang Kristen adalah anak-anak Allah, dan anak-anak Allah adalah orang yang telah dihidupkan oleh Tuhan, dan orang yang telah ditempatkan di dalam sorga bersama dengan Kristus; itu dikatakan dalam Efesus 2. Memang sebagai orang percaya kita telah dikatakan telah memiliki Sorga dan telah memiliki kehidupan yang baru. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab juga berkata, walaupun kita sudah ditempatkan dalam Sorga, walaupun kita sudah memiliki hidup yang baru, yang dari pada Roh Kudus, tetapi kita masih hidup dalam dunia ini dan kita belum ada di dalam Sorga. Kenapa Yesus berkata dalam Doa Bapa Kami, “datanglah kerajaan-Mu”? Itu menunjukkan bahwa selama kita hidup dalam dunia ini kita masih menantikan ada suatu hari Kerajaan Allah datang dalam dunia ini, Sorga yang sesungguhnya datang dalam dunia ini, dalam kehidupan kita. Dan selama kita hidup dalam dunia ini kita sedang menuju ke sana, kita sedang menantikan itu, dan berharap itu terjadi dan segera terjadi dalam kehidupan kita. Itu berarti kita hidup di dalam dua dunia, satu adalah kewarganegaraan Sorga, satu ada di dalam dunia sebagai warga negara dunia. Nah ini memiliki suatu hal yang bahaya yang harus kita hati-hati dalam menghadapinya. Bahayanya dalam hal apa? Bahayanya adalah, kemungkinan besar kita sering kali terjerumus dalam suatu pandangan yang melihat bahwa realita kehidupan dunia yang ada di mata kita itu adalah realita yang riil; yang benar. Sedangkan apa yang menjadi realita surga itu adalah sesuatu yang diawang-awang, sesuatu yang kabur, nggak terlalu jelas dan pasti.

Saudara, padahal yang Kitab Suci katakan itu sebaliknya. Apa yang Kitab Suci katakan? Realita di Surga itu adalah realita yang riil. Realita dunia bagaimana? Walau pun kelihatan riil sering kali merupakan realita yang semu. Apa yang kita pikir benar, itu sering kali sebenarnya sesuatu yang tidak benar. Tetapi, ketika kita hidup dalam dunia ini, cara pandang dunia, apa yang diyakini dunia sebagai suatu kebenaran, itu telah sering kali meresap dalam kehidupan orang Kristen dan cara menilai orang Kristen dalam dunia ini. Saya ambil contoh, siapa orang yang harus kita hormati? Siapa orang yang terhormat? Orang yang punya kedudukan tinggi? Orang yang punya uang yang banyak? Orang yang memiliki penampilan style dengan pakaian-pakaian yang mahal? Orang yang punya pendidikan yang tinggi? Orang dunia kan melihatnya seperti itu. Dan kita di dalam berbicara, coba saya tanya, Saudara kalau ketemu orang yang punya pendidikan tinggi dan punya pekerjaan yang baik, dengan seorang tukang sampah; Saudara lebih memilih bicara sama siapa? Mungkin berbicara dengan orang yang punya pendidikan dan posisi yang tinggi daripada kita bicara sama orang yang rendah.

Tapi kalau kita mau melihat ini sebagai sesuatu standar orang yang harus dihormati dan benar, coba perhatikan Yesus Kristus bagaimana. Apa yang terjadi pada Yesus, yang kita anggap sebagai Pribadi yang sangat tinggi dan mulia dan terhormat itu justru punya keadaan yang bertolak belakang sekali dengan apa yang dunia pandang sebagai suatu kebenaran, seorang yang harus dihormati. Ambil contoh, orang yang dihormati pasti dari kecil memiliki keluarga yang kaya, lahir dalam keluarga yang kaya; Yesus lahir di kandang domba. Orang yang terhormat adalah orang yang memiliki pendidikan yang tinggi; Yesus nggak pernah sekolah rabbi dan sekolah tinggi, Dia adalah seorang tukang kayu. Orang yang terhormat memiliki uang yang banyak; Yesus nggak punya uang; dikatakan “Serigala dan burung yang liar punya sarang; Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala.” Saudara, sangat bertolak belakang dengan prinsip yang kita dikatakan di dunia mengenai orang yang terhormat seperti apa. Orang dunia punya baju yang begitu mewah, begitu baik sekali, begitu mahal. Yesus pakaian-Nya apa? Mungkin satu-satunya pakaian mewah yang Dia pakai pada waktu Dia mau disalibkan: kain ungu yang diberikan pada diri Dia, selain itu Dia nggak pernah pakai pakaian mewah. Saudara, kita hidup dalam dunia, kita masih ada di dalam dunia, apa yang kita lihat dalam dunia ini, sering kali kita melihat sesuatu yang “riil”. Tapi kita harus lihat, bukan hanya dari kacamata orang dunia lihat, karena kacamata orang dunia lihat Alkitab katakan sering kali salah; bukan sesuatu yang benar.

Saya ambil contoh yang lain. Pada waktu kita masuk ke Kairo, lalu masuk antara perbatasan dari pada Mesir, masuk ke dalam Israel, di situ yang Saudara akan temukan adalah padang gurun, benar-benar padang gurun, nggak ada air, yang ada adalah bebatuan, pasir, dan semuanya seperti itu. Lalu orang Israel berjalan di situ selama 40 tahun. Bapak-Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan, kira-kira kalau kita ada di situ, kemungkinan besar kita akan melakukan hal yang sama tidak dengan orang Israel? Realita kita bagaimana? Di Mesir, walau pun kerja berat, susah, diperbudak, tapi di situ ada makanan yang enak; ada tempat untuk istirahat, dan semuanya dicukupi. Tapi pada waktu Israel dibawa keluar dari Mesir, masuk ke dalam Tanah Perjanjian; dan selama perjalanan itu Tuhan ajak lewat padang gurun yang betul-betul padang gurun, yang malam hari kalau dalam suasana dingin bisa dinginnya berapa derajat, yang kalau siang hari di musim panas itu bisa 40-an derajat; panas sekali. Kita bersyukur pergi di musim dingin, jadi nggak terlalu panas dan juga nggak terlalu dingin; sudah mau masuk ke dalam musim panas sedikit. Tapi selama perjalanan yang kering itu, di tengah-tengah padang gurun, kira-kira wajar nggak kalau orang Israel itu mengeluh di hadapan Tuhan? “Kami nggak punya makanan, lebih baik kami kembali ke Mesir; kami nggak punya air minum. Engkau membawa kami ke sini untuk kami mati.” Saya pikir itu menjadi hal yang diteriakkan, dan kita juga bisa masuk ke dalam teriakan itu. Padahal, Saudara, di dalam keadaan itu, Tuhan memimpin mereka melalui Tiang Awan dan Tiang Api, siang hari nggak kepanasan, malam hari nggak kedinginan. Tuhan memberikan mereka makanan manna tiap hari di hadapan mereka. Tapi yang mereka lakukan apa? Tetap mengeluh; tetap nggak bisa percaya kepada Tuhan. Karena apa? Mata mereka tertuju pada dunia di mana realita di hadapan mata adalah nggak ada apa-apa. “Kami dibawa kepada suatu tempat, mungkin menuju kepada kebinasaan karena kami nggak punya air, kami nggak punya makanan di situ.” Padahal Tuhan senantiasa pelihara mereka.

Saudara, kita mungkin bisa terjebak di dalam kondisi-kondisi seperti ini sebagai orang yang hidup dalam kehidupan kita. Karena itu Paulus berkata, pada waktu kita hidup sebagai orang Kristen, kita jarang untuk memiliki suatu pemahaman yang riil akan kebenaran Tuhan. Hal pertama itu adalah kita harus melakukan kebenaran itu dalam kehidupan kita. Kalau kita nggak pernah melakukan kebenaran-kebenaran yang Tuhan katakan dalam kehidupan kita, maka kita akan lihat apa yang Tuhan katakan itu sebagai sesuatu yang boleh diketahui sih, boleh dihafalkan, boleh kita pahami, atau dalam pengertian ada kita ingat itu dan anda bisa katakan itu pada orang. Tapi kalau kita diminta untuk melakukan, “tunggu dulu, saya boleh tahu itu secara knowledge, tetapi untuk hidup saya nggak yakin itu sebagai suatu kebenaran.” Kalau begini, saya percaya sekali, kita akan gampang digoyahkan. Begitu ada suatu pemahaman filsafat dunia yang masuk dalam pemikiran kita, sesuatu yang kita lihat secara realita itu adalah kenyataan yang kita hadapi dalam dunia ini, maka itu membuat kita condong ke arah sana dari pada ikut Tuhan, dan hidup menurut kebenaran Tuhan. Bagaimana caranya untuk memiliki hidup yang tidak diombang-ambingkan? Ya, lakukan perkataan Tuhan; berpegang teguh pada perkataan kebenaran firman dalam kehidupan kita. Baik itu dalam keluarga, dalam pekerjaan, relasi suami-istri, relasi orang tua dengan anak, anak dengan orang tua, teman dengan teman; semua yang kita lakukan itu dalam kebenaran, saya yakin kita itu akan memiliki suatu keyakinan yang kokoh, pendirian yang kokoh kalau yang dikatakan Tuhan itu adalah suatu kebenaran dan kita nggak mudah diombang-ambingkan oleh pengajaran yang lain. Itu yang pertama.

Yang kedua adalah, apa yang dimaksud dengan berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih? Berpegang teguh dalam kebenaran, yang kedua, itu pasti sangat berkaitan dengan mengatakan kebenaran firman. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau seseorang ingin memiliki suatu kehidupan yang teguh di dalam firman, pasti dia harus memiliki pengertian akan firman itu seperti apa. Kalau dia tidak mengerti apa yang menjadi perkataan Allah, bagaimana dia bisa memiliki suatu kehidupan yang teguh sesuai dengan firman. Makanya pengajaran firman itu menjadi unsur yang penting yang harus ada di dalam gereja dan ditekankan di dalam kebaktian Minggu dan ibadah orang Kristen atau persekutuan orang Kristen, karena kita butuh mengerti kebenaran firman, apa yang menjadi perkataan Allah dalam kehidupan kita, dan saya lihat ini memang secara konteks itu lebih cocok di dalam kaitan dengan ayat 15. Kenapa? Kalau Bapak, Ibu, Saudara lihat ayat 11 dan sebelumnya itu, maka di situ Tuhan berkata, pada waktu Dia naik ke atas, ke tempat yang Tinggi, Kristus itu mengaruniakan karunia-karunia kepada jemaat. Lalu karunia paling utama apa? Mereka adalah orang-orang yang dipanggil oleh Tuhan sebagai rasul, sebagai nabi, sebagai penginjil, sebagai penggembala dan pengajar yang ditempatkan di dalam gereja, untuk apa? Untuk mengajarkan apa yang menjadi pengajaran rasul dan nabi kepada Gereja Tuhan.

Jadi, maksud Paulus adalah, ketika kita dipanggil sebagai orang Kristen, dan ketika kita diharapkan untuk bertumbuh ke arah Kristus, ketika kita diminta untuk bisa menjadi orang yang dewasa secara iman, maka unsur kedua yang tidak boleh diabaikan adalah kita berbicara dan biasakan diri kita berkata-kata tentang Injil dan kebenaran firman Tuhan di dalam kehidupan kita. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya mau tanya, ketika Bapak-Ibu berelasi dengan pasangan hidup, biasanya bicarakan firman atau tidak? Apakah firman menjadi dasar di dalam pengambilan keputusan dan solusi suatu masalah? Ketika Bapak-Ibu berelasi dalam suatu pekerjaan dengan orang lain, ketika ada suatu masalah, apa yang menjadi dasar kita di dalam mengambil suatu keputusan untuk penyelesaian masalah itu? Ketika kita berteman dengan orang lain, apa yang menjadi sasar kita berteman dengan mereka? Ketika kita memilih pasangan hidup kita, apa yang menjadi kriteria kita untuk memilih seorang yang pantas untuk menjadi pasangan hidup kita? Saudara, semua ini nggak mungkin kita bisa lakukan secara benar kalau kita nggak pernah mengatakan kebenaran firman dalam kehidupan kita. Hal yang membentuk kita itu adalah kalau kita sungguh-sungguh menyatakan apa yang menjadi kebenaran yang merupakan kehendak Tuhan di dalam kehidupan diri kita, baru dari situ kita bisa hidup di dalam kebenaran itu.

Maka Paulus berkata di dalam, misalnya, Efesus 1:13, ini juga yang menjadi dasar kenapa saya katakan berpegang teguh pada kebenaran itu juga berkaitan dengan mengatakan kebenaran, “Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.” Saudara, apa yang membuat orang-orang bukan Yahudi bisa ada di dalam Tubuh Kristus? Apa yang membuat orang-orang Yahudi bisa ada di dalam Tubuh Kristus? Paulus bilang apa? “Karena kamu telah mendengar firman kebenaran.” Nah ini yang membuat saya katakan ketika Paulus berkata untuk bisa menjadi orang yang dewasa rohani harus berpegang teguh pada kebenaran, maka unsur yang harus ada di dalam aspek berpegang teguh pada kebenaran adalah mengatakan kebenaran itu dalam kehidupan kita. Efesus 6:14 juga berbicara sama, tetapi dalam ilustrasi kita harus berikat pinggangkan kebenaran. Jadi pada waktu kita mau menjadi orang Kristen, apa yang membuat kita bisa masuk menjadi orang Kristen? Firman Tuhan, injil. Lalu sebagai orang yang sudah menjadi Kristen, bagaimana kita harus berjalan sebagai orang Kristen? Dikatakan juga firman Tuhan. Firman Tuhan yang dikatakan itu yang menjadi penuntun langkah kaki kita untuk bisa berjalan sesuai dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Makanya, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita melihat sebuah gereja sebagai sebuah gereja yang tidak utamakan firman adalah gereja  yang baik untuk kita ada di dalamnya, saya yakin orang Kristen yang ada di dalam gereja itu nggak akan bertumbuh. Dan begitu juga dengan kalau kita melihat sebuah gereja adalah sebuah gereja yang tidak sempurna dimana kita boleh kemudian merasa diri lebih baik dari orang lain dan kita berpindah-pindah gereja, maka itu juga akan membuat kita tidak bisa bertumbuh. Dan ini juga membuat ketika kita menghadapi suatu keadaan, kalau kita melihat diri kita lebih benar, lebih baik daripada orang Kristen yang lain, maka disitu saya yakin kita akan sulit dipakai oleh Tuhan dalam pelayanan. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, terkadang kita seringkali melihat pertumbuhan dan pembentukan Tuhan itu adalah sesuatu yang kita rindukan, tetapi pembentukan dan pertumbuhan dalam kedewasaan iman itu bukan lebih baik bukan dari sesuatu yang bukan dari Tuhan. Maksud saya seperti ini ya, dalam bentuk pertanyaan saja saya katakan: Saudara ingin bertumbuh nggak? Mau jadi orang yang dewasa dalam iman? Mau? Saya mau tanya, caranya bagaimana untuk bertumbuh? Mengatakan kebenaran? OK mengatakan kebenaran, siapa yang mengatakan kebenaran itu? Ada orang Kristen mungkin ngomong, “Saya mau bertumbuh, tapi tolong yang mengatakan kebenaran itu Tuhan sendiri kepada saya. Saya mau bertumbuh, boleh, tapi tolong melalui orang-orang tertentu atau sarana-sarana tertentu yang saya inginkan saja untuk bertumbuh.”

Tapi Saudara, coba Saudara perhatikan Galatia 6:1, “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” Hayo, saya tanya lagi ya, ingin bertumbuh dalam kebenaran? Ingin bertumbuh dalam kedewasaan iman? Ingin ya, caranya bagaimana dan tempatnya dimana? Gereja, bersama siapa? Tuhan langsung? Tuhan ngomong, “Memang Aku yang akan membentuk, tetapi Aku telah menetapkan cara pembentukan-Ku adalah melalui orang Kristen lain yang Tuhan tempatkan sama-sama dalam gereja. Itu cara yang Tuhan pakai. Berarti kita nggak ada pilihan Saudara mau dibentuk oleh siapa, dengan cara apa dala kehidupan kita; karena orang Kristen yang Tuhan tempatkan dalam kehidupan kita adalah orang Kristen yang bukan pilihan kita. Siapa yang mau berteman dengan orang yang ada di dalam gereja ini? Siapa yang sudah rencanakan itu dalam kehidupan kita? Bukan kita kan, tetapi Tuhan yang rencanakan itu dan Tuhan tempatkan mereka bersama-sama dengan kita dalam gereja lokal yang ada di dalam dunia ini, dan Tuhan pakai mereka untuk membentuk kita satu sama lain, dan Tuhan pakai mereka untuk mengatakan kebenaran yang tidak kita sukai untuk kita dengar, seringkali, untuk mengingatkan kita, untuk menegur kita, membimbing kita untuk hidup dalam kebenaran sesuai dengan firman Tuhan. Saya percaya ini hal yang penting ya, kita nggak bisa menjadi individu-individu Kristen yang tidak berelasi dengan orang Kristen yang lain, karena kalau kita lakukan itu dan kita pilih itu, saya yakin kita akan sulit sekali untuk dibentuk dan dipakai oleh Tuhan kita, dan gereja menjadi sarana yang paling baik untuk hal ini. Saudara, mengatakan berpegang teguh pada kebenaran itu berarti saya harus hidup sesuai dengan kebenaran, dan saya harus mengatakan kebenaran dalam kehidupan saya sebagai orang Kristen. Dan ini menjadi dasar di dalam semua relasi kita dalam kehidupan kita di tengah-tengah dunia ini.

Tapi yang terakhir, yang menjadi unsur yang tidak boleh diabaikan, yaitu apa? Ketika kita mengatakan kebenaran, Paulus berkata jangan lupa unsur terakhir adalah kasih. Pada waktu kita berpegang teguh pada kebenaran maka Paulus berkata kita perlu dan harus berpegang teguh pada kebenaran itu di dalam kasih. Lalu maksud “kasih” ini bagaimana? Ada orang-orang Kristen yang berkata, “O ‘berpegang teguh pada kebenaran dalam kasih itu’ berarti saya menjadi orang Kristen yang penyayang dan baik.” Kasih itu apa? “Lemah lembut.” Kasih boleh marah nggak? “O nggak boleh.” Tapi begitu ada orang marah kita langsung merasa tersinggung, umumnya begitu kan? Kasih boleh nggak mengatakan orang lain salah? Dunia punya pemikiran, dan bahkan gereja sekarang mengatakan, “kalau kita memiliki kasih maka kasih itu harus mempertahankan kesatuan, dan kesatuan itu adalah sesuatu yang bicara bukan dasarnya kebenaran, bukan pengajaran, tetapi kesatuan itu berbicara mungkin mengenai kesatuan sama-sama percaya kepada Kristus, sama-sama capnya orang Kristen. Dan pada waktu kita mempertahankan kesatuan, dari sini baru bisa injil itu diberitakan; dan demi untuk bisa ada kesatuan maka orang Kristen tidak boleh menyalahkan orang Kristen yang lain dan pengajaran yang lain dalam kehidupan mereka; kita harus menjadi orang yang sabar, yang menerima perbedaan yang ada dalam pengajaran yang ada dalam gereja, jangan mengklaim, jangan mengatakan yang lain salah dan kita yang benar, itu namanya kita hidup di dalam kasih.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita punya definisi seperti ini tentang kasih, saya yakin Paulus akan menjadi orang pertama yang kita benci dalam kehidupan kita.

Saudara, Paulus itu penuh kasih tidak? Saya pikir kita tidak akan ragukan dia penuh kasih. Tetapi penuh kasih dari pada Paulus sesuai nggak dengan definisi kita tentang kasih? Saya bilang nggak sesuai. Karena kalau Saudara baca Surat Filipi 3, Paulus berkata tentang pengajar palsu atau guru-guru palsu itu bagaimana? “Mengatakan hal ini adalah sesuatu yang tidak menyusahkan saya, hal yang saya akan katakan dengan begitu ringan sekali dan begitu dengan suatu perasaan yang tidak ada kesalahan sama sekali atau rasa salah sama sekali”? Dia berkata, “Hati-hatilah sama anjing-anjing itu, guru-guru palsu itu!” Saudara, ini bahasa Paulus lho dalam berbicara. Lalu kalau kita berkata kepada orang-orang Kristen: “nggak boleh saling menegur kalau mereka lakukan suatu pengajaran atau tindakan;” maka ketika Paulus bertemu dengan Petrus yang ada di Galatia, pada di saat dia duduk makan bersama dengan orang-orang non Yahudi, saya yakin itu mungkin makan juga makan makanan yang tidak halal ya, datang orang-orang dari kelompok Yakobus masuk ke dalam ruangan itu, dia begitu lihat kelompok Yakobus, dia berdiri dan pindah ke meja orang kelompok Yakobus, orang Yahudi, karena apa? Karena takut. Lalu ketika Paulus lihat tindakan ini, Paulus langsung berkata, “Petrus, kalau kamu tidak berlaku seperti orang Yahudi, bagaimana kamu bisa membawa orang Yahudi untuk berlaku secara Yahudi?” Di mana dia katakan? Di depan semua orang Kristen yang lain. Saudara, siapa Petrus? Petrus adalah pemimpin dari 12 rasul lho! Petrus adalah orang yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri dengan janji, bukan, ini bukan bicara Petrus menjadi kunci itu ya, tapi Petrus yang menjadi orang yang wakil Tuhan, yang Tuhan nyatakan: “di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gerejaKu.” Tapi ketika dia menjadi salah satu soko guru, mungkin, dalam jemaat, selain dari pada Yakobus, ketika dia menjadi pemimpin dari pada para rasul, mungkin gereja saat itu, Paulus dengan keberanian berdiri dan tegur Petrus di hadapan semua jemaat yang lain. Baikkah Paulus? Penuh kasihkah Paulus?

Saya yakin kita, kalau kita bicara suatu kebenaran, hal yang ada dalam hati pasti nggak nyaman, nggak menyenangkan, sakit. Karena apa? Karena kebenaran yang dikatakan. Dan kita, dalam hati, itu lebih suka kalau orang itu datang kepada kita dengan lemah lembut dan berbicara sesuatu. Sepertinya lebih manusiawi dan bisa diterima. Tapi Saudara, yang namanya teguran, sehalus apapun itu, menyakitkan tidak? Saya yakin itu menyakitkan, sesuatu yang nggak menyenangkan. Dan sebagai orang Kristen, yang kita harus utamakan adalah relasi atau kebenaran? Saya pikir kita harus lebih utamakan kebenaran daripada relasi. Kalau Petrus atau Paulus lebih utamakan relasi daripada kebenaran, saya yakin dia nggak akan tegur Petrus di hadapan umum. Saya yakin dia nggak akan bicara kasar kepada guru-guru palsu itu, yang ada di Filipi, dengan umpatan sebagai anjing. Tapi dia akan lebih respect mereka, dia akan menerima mereka berbicara dengan baik, menjaga muka mereka di hadapan umum. Jadi saya lihat, mengatakan kebenaran dalam kasih, itu bukan berbicara, kita harus menjadi orang Kristen yang penuh lemah lembut, penuh dengan kebaikan, mungkin, penuh dengan suatu tindakan yang mempertahankan relasi di atas kebenaran, tapi kita harus tetap mengutamakan kebenaran di atas relasi. Lalu kalau begitu, berarti kita memerangi semua orang? Saya yakin nggak seperti itu ya. Pada waktu kita diminta untuk mengatakan kebenaran di dalam kasih, maka ada beberapa hal yang harus menjadi pegangan kita untuk menjaga kita tidak menjadi farisi-farisi yang menghakimi orang lain. Kalau tidak, kita akan menjadi penghakim-penghakim yang jahat dalam kehidupan kita. Kita akan melihat kebenaran itu sebagai suatu pengetahuan yang kita pakai untuk menyalahkan semua orang lalu membenarkan diri kita.

Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu Paulus berkata, “Kamu harus berpegang teguh pada kebenaran di dalam kasih.” Maka “di dalam kasih” – itu berbicara mengenai ketika kita mengatakan kebenaran, cobalah libatkan perasaanmu, cobalah libatkan emosimu di dalam mengatakan kebenaran itu kepada orang lain. Maksudnya adalah, pada waktu kita ingin menegur seseorang, coba perhatikan teguranmu itu adalah suatu teguran yang akan membuat orang justru menjauh dari kebenaran atau mengerti kebenaran dalam hidup. Pada waktu engkau ditegur oleh seseorang berdasarkan kebenaran yang ada, makalah cobalah belajar bersabar terlebih dahulu dan mengalahkan ego kita, atau jangan bertindak berdasarkan ego kita di dalam menghadapi teguran itu, tetapi coba buka hati, buka mata, lihat, yang dikatakan itu suatu kebenaran atau tidak. Prinsipnya cuma satu, pada waktu kita mengatakan kebenaran, kita mengatakan itu adalah dengan tujuan ingin menang di atas orang lain atau ingin orang lain itu melihat kepada kebenaran dan hidup dalam kebenaran.

Kita perlu memberitahu orang, kalau kita ketika berbicara, bukan hanya pengetahuan penghakiman, tapi kita berbicara dari hati ingin membawa orang itu sungguh-sungguh mengerti kebenaran seperti kebenaran yang kita mengerti; baru dari situ orang itu bisa menerima kebenaran, walaupun tidak semua orang tetap bisa menerima ya, tapi paling tidak, kita harus tahu, tindakan kita bukan mau ngotot menang, tetapi tindakan kita itu adalah didasarkan kasih kepada orang untuk mengerti kebenaran. Dan tentunya adalah, kita sendiri harus terbuka untuk dibentuk dan ditegur oleh orang. Kalau kita hidup di dalam kebenaran dalam kasih tersebut. Saudara, boleh tidak berbicara keras kepada orang? Boleh. Terutama siapa? Orang yang menjadi guru palsu. Boleh bicara keras. Tapi pada waktu kita bicara kepada orang Kristen yang lain, bagaimana sikap kita? Kalau kita punya kasih di dalam kebenaran, bagaimana sikap kita? Saudara, kalau pengen anak tumbuh dewasa, lalu anak memiliki keahlian-keahlian dan kepintaran-kepintaran tertentu, kita ingin anak punya karakter tertentu yang baik. Sebagai orang tua bagaimana? Sabar? Pasti ada sabarnya. Mengatakan kebenaran? Pasti ada kebenaran itu. Lalu, mengesampingkan ego diri? Pasti ada. Mengulangi, mengatakan kebenaran sampai anak itu mengerti? Pasti ada. Lalu, berikan anak itu waktu untuk mengerti kebenaran dan bertumbuh dalam kebenaran. Jadi faktor kesabaran itu penting sekali. Dan untuk bisa mereka mengerti pasti tentunya ketika mengatakan kebenaran, kebenaran harus dikatakan secara jelas dan dimengerti. Baru di situ orang bisa bertumbuh dalam kebenaran.

Ini adalah panggilan kita sebagai orang percaya, dan untuk bisa membawa orang bertumbuh, sikap kita sendiri harus sebagai orang yang menempatkan diri sebagai seorang bapak/ibu secara rohani. Kalau kita menempatkan diri selevel dengan orang, saya yakin kita nggak akan bertumbuh, atau dibawah orang, kita akan membawa orang itu bertumbuh. Tapi kalau kita di dalam berelasi, saya ingin orang berubah, kalau saya ingin orang berubah di dalam kebenaran, maka itu berarti saya sendiri harus berubah dalam kebenaran. Lalu saya membawa orang itu bertumbuh dalam kebenaran, dan saya perlakukan orang itu sebagai orang yang lebih dewasa terhadap orang yang belum dewasa. Dan saya harap ini ada di dalam setiap pengurus gereja ya, hati seperti ini. Kalau nggak, bagaimana kita bisa menggembalakan jemaat, bagaimana kita bisa melayani jemaat? Saudara, pertimbangkan baik-baik, gumulkan baik-baik, bagaimana kita, Kekristenan seperti apa yang kita ingin bangun dalam kehidupan kita. Saya akhiri khotbah kita di sini. Mari kita masuk dalam doa.

Bapa di Sorga, kami kembali bersyukur, untuk firman kebenaran yang boleh Engkau nyatakan bagi kami. Ada hal-hal dalam kehidupan kami yang seringkali kami anggap sebagai sesuatu yang benar. Tapi pada waktu kami bandingkan dengan firmanMu, kami boleh mengerti bahwa apa yang kami anggap benar, itu adalah sesuatu yang justru yang tidak sesuai dengan kebenaran firman. Tolong kami ya Bapa, untuk memiliki suatu kehidupan yang semakin sesuai dengan apa yang menjadi kebenaran. Dan tolong kami juga memiliki suatu kehidupan yang mencintai kebenaran dan mencintai untuk mengatakan kebenaran dalam kehidupan kami. Sehingga ketika kami berhadapan dengan orang lain dalam kehidupan kami, ketika kami berhadapan dengan Engkau sendiri, yang adalah Tuhan, dan ketika kami menghadapi diri kami sendiri, kami tidak menjadi orang-orang yang menipu diri kami, menipu orang lain, atau menipu Engkau sendiri, ya Tuhan. Tapi kami boleh melihat diri kami berdasarkan terang firmanMu, dan membentuk diri kami, mengubah diri kami sesuai dengan apa yang menjadi kebenaran firmanMu, tentunya di dalam pertolongan daripada Allah Roh Kudus. Kami sungguh mohon, biarlah kami boleh menjadi orang-orang Kristen yang semakin dewasa, semakin hidup sesuai dengan kebenaran, dan semakin berpegang teguh kepada kebenaran yang engkau nyatakan, dan semakin mengerti kebenaran itu, seperti yang Engkau kehendaki untuk kami mengerti. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur dan berdoa. Amin

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *