Berdoa Setiap Waktu, 30 Agustus 2020

Ef. 6:18-24

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita masuk ke dalam bagian terakhir dari Surat Efesus ini, kita dibawa kembali oleh Paulus untuk berdoa kepada Tuhan. Kenapa ini menjadi unsur yang penting? Bukankah di dalam pasal yang pertama sampai pasal yang kelima Paulus sudah membicarakan hal-hal yang berkenaan dengan segala fasilitas, segala kebaikan, segala kemuliaan, segala mungkin kebesaran, dan segala sesuatu yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan orang-orang percaya dimulai dari Tuhan memilih kita di dalam kekekalan, lalu kemudian Tuhan bekerja menurut pribadi-pribadi Tritunggal itu untuk menyelamatkan kita yang dipilih oleh Bapa sejak di dalam kekekalan tersebut? Lalu tidak sampai disitu, Tuhan juga menganugerahkan kepada kita mata untuk bisa melihat kepada kebenaran-kebenaran rohani dan Paulus berdoa meminta kita bisa melihat kepada kebenaran-kebenaran itu di dalam hidup kita. Lalu di dalam pasal yang kedua dikatakan kita adalah orang-orang yang sudah ditebus dari dosa dan ketika ditebus dari dosa itu kita diberikan satu kehidupan yang bertujuan untuk melakukan hal yang baik yang telah dipersiapkan oleh Allah sebelumnya bagi kita. Dan bahkan tidak sampai disitu, Paulus pun berkata kita adalah orang-orang yang diberikan suatu kuasa karunia untuk bisa hidup di dalam kekudusan di tengah-tengah dunia ini. Walaupun Paulus kemudian memasuki suatu tahap berikutnya, yaitu kalaupun engkau telah memiliki semua itu, bahkan Paulus berkata Tuhan pun tidak berhenti disitu, Tuhan memberikan kita senjata rohani untuk menghadapi peperangan melawan iblis dalam kehidupan kita atau kuasa jahat di dalam kehidupan kita. Pada waktu Paulus berbicara mengenai semua kebenaran ini, kenapa Paulus kemudian bawa kita masuk ke dalam hal terakhir poin terakhir, yaitu berdoa di hadapan Tuhan? Bukankah semua kebenaran ini adalah suatu kebenaran yang berbicara mengenai identitas orang Kristen? Siapa itu orang Kristen? Apa yang menjadi kuasa kita? Apa yang telah Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita? Kekuatan-kekuatan yang kita miliki untuk bisa berperang melawan iblis dan berkemenangan di dalam kehidupan kita ketika kita ada dalam dunia ini? Lalu kenapa Paulus membawa kita masuk ke dalam posisi dimana kita tetap harus berdoa dihadapan Tuhan? Saya percaya sebabnya adalah karena apa yang Paulus katakan di dalam Efesus pasal yang pertama kalau bapak ibu saudara lihat didalam doa perikop ayat yang ke-15 sampai ayat yang ke-23 di situ dikatakan, Paulus disini ayat yang ke-18 ya “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayaNya kemuliaan bagi yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.”

Di sini dikatakan Kristus adalah kepala dari jemaat, jemaat adalah tubuh-Nya di mana dalam pengertian segala sesuatu yang mengalir di dalam kehidupan jemaat, kuasa untuk bisa menghidupi kehidupan Kristen yang kudus, yang benar dalam dunia ini itu mengalir dari Kepala. Tanpa ada kepala itu kita tidak mungkin bisa memiliki kemenangan di dalam kehidupan kita dan hidup seperti yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Itu sebabnya pada bagian pasal yang ke-6 ketika Paulus telah menjelaskan segala hal berkenaan dengan kehidupan orang Kristen, Paulus kemudian mengajak kita untuk melihat kembali bahwa segala sesuatu itu tidak mungkin bisa kita lakukan dan kita hidupi dan berkemenangan di dalamnya kalau kita tidak bersandar kepada Tuhan. Karena baik senjata rohani yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita ataupun kehidupan yang kudus di dalam iman kepada Kristus, itu semua kalau Kristus memberikan kuasa-Nya dan kekuatan-Nya di dalam kehidupan dari orang-orang Kristen. Itu sebabnya pada waktu kita menjadi orang yang belajar firman, saya percaya firman yang kita belajar makin mendalam itu, makin lengkap itu, makin menyeluruh firman itu, tidak akan pernah membawa kita berhenti menjadi seorang yang merasa saya baik-baik, menjadi seorang yang legalis, seorang yang kemudian berpikir saya tidak lagi membutuhkan Tuhan dalam hidup kita. Tetapi makin seseorang dekat dengan Tuhan melalui firman Tuhan, yang akan terjadi adalah dia punya persekutuan dengan Allah itu akan makin erat, makin baik, dan itu menunjukkan bahwa dia tidak mungkin tidak berbicara kepada Tuhan atau berdoa kepada Tuhan.

Saya ambil contoh ya, mungkin masa pacaran saya dengan istri saya. Awal mula waktu saya belum kenal istri saya, saya merasa ya biasa-biasa saja, nggak ada sesuatu yang perlu dibicarakan, nggak ada suatu relasi yang perlu lebih dekat lagi, seperti itu. Tetapi ketika pengenalan itu makin baik, makin baik, makin baik, makin tahu satu dengan yang lain secara lebih baik, maka di dalam hati ada sesuatu rasa kerinduan, rasa ingin dekat, rasa ingin berbicara dengan orang yang kita kenal itu. Saya percaya ini adalah hal yang harusnya dibangun didalam kehidupan Kristen. Pada waktu kita mendengar teologi, makin limpah pemahaman Fiman yang kita pahami berkenaan dengan Tuhan harusnya membawa kita bagaimana? Awal mula mungkin kita mengenal Dia Mahakuasa, benar semua orang agama-agama apapun mengenal Dia Mahakuasa, lalu kita mendengar sebagai orang Kristen, Dia bukan hanya Mahakuasa tapi Dia mengasihi kita lalu kasih-Nya itu dinyatakan dengan memberikan anak tunggal-Nya bagi kita untuk mati di atas kayu salib menggantikan dosa-dosa kita, lalu pada waktu kita mendengar ini seperti apa? Lalu bukan hanya itu., ketika kita mungkin sampai pada titik ini saja kita merasa, “Oh Tuhan pengasih, wajar Dia mengasihi saya dengan mati menggantikan dosa kita dengan anak-Nya digantung di atas kayu salib.” Tapi pada waktu kita masuk lagi lebih mendalam misalnya, kita mempelajari, “Oh ternyata Tuhan nggak harus seperti itu lho. Tuhan seharusnya nggak perlu memberikan anak-Nya mati diatas kayu salib, Dia bisa membuat anak-anak dari batu bagi Abraham.” Lalu saya percaya itu harusnya membawa suatu pengertian yang lebih jauh lagi di dalam pemahaman kita mengenai Tuhan. Lalu pada waktu misalnya di kelas Sekolah Minggu ada bicara tentang penciptaan, lalu penciptaan hari pertama, hari kedua, hari ketiga, hari keempat, hari kelima, hari keenam, lalu hari keenam adalah penciptaan terakhir manusia setelah sebelumnya Tuhan menciptakan segala sesuatunya untuk manusia bisa nikmati dalam kehidupan ini yang baik itu untuk manusia lalu kita mengerti satu hal bahwa kehidupan kita ini adalah punya tujuan, punya arah yang harusnya membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Allah yang mencipta manusia untuk taat kepada Dia tanpa perlu bertanggung jawab untuk menebus dosa kita yang memberontak melawan Dia lalu kemudian ketika ciptaan-Nya itu memberontak, yang seharusnya dibinasakan lalu kemudian diselamatkan melalui Yesus Kristus demi untuk mentaati Dia dan mengembalikan kemuliaan bagi nama Dia dan berhutang Injil dalam hidup kita. Saya yakin itu akan membawa kita makin melihat kebenaran Tuhan dan makin bersyukur dalam kehidupan kita, makin tidak mau menjauh daripada Dia kecuali kalau kita hanya mengenal Dia secara pengetahuan, maka kita akan melihat bahwa hal-hal yang kita ketahui, yang kita sudah pelajari itu adalah suatu hal yang mungkin benar tetapi tidak pernah mengubah kehidupan kita.

Nah kenapa Paulus mengajak kita masuk ke dalam doa? Karena Paulus tahu ada satu bahaya dari kehidupan orang Kristen apalagi orang Reformed yang katanya punya kelimpahan firman rata-rata kalau orang saya tanya kenapa engkau mau bergabung ketika katekisasi biasanya ngomong, “Saya tahu firman disini lebih lengkap, firman disini lebih mendalam, di sini saya bisa bertumbuh berdasarkan firman Tuhan.” Bapak, Ibu, Saudara tahu tidak ada bahaya yang besar sekali, yaitu apa? Engkau bisa menjadi seorang yang rohani sepertinya tetapi sebenarnya ateis. Engkau bisa seperti orang yang mengenal Tuhan dalam hidupmu tetapi sebenarnya kita punya kehidupan tidak berserah dan bergantung kepada Tuhan. Sepertinya beriman tetapi setiap kali iman kita dituntut oleh Tuhan selalu saja kita mencari alasan dan jalan lain untuk bisa tidak perlu bertanggung jawab dan diperhadapkan dengan suatu keputusan saya harus percaya kepada Tuhan. Itu adalah hal yang sangat serius sekali. Dan saya bersyukur sekali karena kita adalah anak-anak Tuhan, Tuhan berkata yang pegang kita bukan kita yang pegang Tuhan terus, tetapi Tuhan yang pegang kita terus-menerus sampai pada akhirnya dan demi untuk membuat mata kita bisa melihat kepada cinta Tuhan atas hidup kita, keagungan Tuhan dan otoritas Dia atas kehidupan kita, dan kekudusan hidup, Dia kadangkala membawa kita masuk ke dalam segala situasi yang membuat kita mau ndak mau harus terluka dan belajar untuk taat kepada Dia. Saya bersyukur sekali untuk hal seperti ini yang Tuhan izinkan terjadi di dalam kehidupan anak-anak-Nya termasuk saya sendiri. Dari situ kita mulai belajar biasanya makin berdoa kepada Tuhan, makin melihat berusaha untuk melihat dari kacamata Tuhan atas apa yang terjadi di dalam kehidupan kita.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, doa bagi orang Kristen saya pernah katakan itu seperti seorang yang bernafas. Maksudnya apa seperti seorang yang bernafas? Maksudnya adalah kalau kita hidup kita ndak mungkin akan berhenti bernafas. Sehebat-hebatnya, sekuat-kuatnya kita bertahan di dalam tidak bernafas, itu dalam hitungan menit kita pasti sudah merasa paru-paru mau meledak dan kita harus bernafas lagi. Kehidupan orang yang sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus sebagaimana manusia yang baru akan melihat doa itu seperti nafas. Maksudnya adalah kita ndak mungkin akan tidak berdoa dan bisa bertahan untuk berhari-hari, tidak mengingat Tuhan dalam kehidupan kita karena doa itu menjadi hal yang natural bagi orang yang sudah percaya kepada Tuhan dan itu menjadi suatu komunikasi yang hidup antara kita dengan Tuhan. Makanya di dalam Surat 1 Yohanes, Yohanes berkata, “Kami ingin persekutuan kami dengan Allah di dalam Kristus itu juga menjadi milikmu dan bagianmu.” Persekutuan itu ditandai dengan apa? Bukan hanya dengan kita belajar firman, tetapi dengan sesuatu kehidupan yang berdoa di hadapan Tuhan. Makanya di dalam bagian ini Paulus berkata, “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus.” Berdoalah setiap waktu itu menjadi hal yang penting. Kalau Saudara baca di dalam Lukas 18:1 ketika Tuhan Yesus mengajarkan kepada umat Allah bagaimana berdoa seharusnya berdoa, Tuhan Yesus memberikan suatu ilustrasi berkenaan dengan hakim yang tidak adil lalu seorang janda miskin yang mengalami ketidakadilan lalu dikatakan di situ janda terus menggedor hakim ini dan meminta keadilan dari hakim ini, akhirnya hakim ini berkata daripada aku diganggu secara terus menerus oleh janda ini lebih baik aku kabulkan apa yang dia inginkan. Tapi sebelum itu di ayat pertama ada satu introduksi yang Tuhan berikan, yaitu apa? Coba kita buka Lukas 18:1 ya. Kita baca sama-sama ya, Lukas 18 ayat pertama, “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.” Bahasa Indonesia dengan tidak jemu-jemu kurang jelas dan kurang tepat kalau Saudara lihat di dalam, bahasa Inggrisnya di situ dikatakan berdoalah terus dan tidak faint atau pingsan. Artinya adalah cuma ada dua pilihan dalam kehidupan orang Kristen untuk bisa hidup sebagai anak Tuhan di dalam peperangan yang kita yang Tuhan izinkan ada di dalam kehidupan kita, yaitu kita kalah atau kita menang. Lalu bagaimana kita bisa menang? Yesus berkata kalau kita berdoa terus. Tapi kalau kita berhenti berdoa kita pasti kalah. Itu yang Tuhan ajarkan sendiri di dalam Lukas pasal yang ke-18.

Tapi Saudara, mungkin kita tanya lagi, saya nggak ajak lihat satu per satu bagian ayat Kitab Suci ya, tapi kalau Saudara yang suka membaca ayat Alkitab, Saudara akan menemukan di mana Paulus dan para rasul itu akan berkata kami berdoa siang dan malam. Kami berdoa terus-menerus dalam kehidupan kami. Maksudnya bagaimana kita bisa berdoa setiap waktu? Apakah itu berarti kita ndak kerjakan sesuatu yang lainpun dalam hidup kita karena kita dedikasikan hidup kita untuk berdoa di hadapan Tuhan? Kalau saudara perhatikan misalnya orang Yahudi mereka biasanya dalam satu hari itu ada tiga jam untuk berdoa. Pagi, siang dan sore kayak gitu. Kalau Saudara pergi ke tempat Yerusalem sampai hari ini tembok ratapan, Saudara bisa lihat kalau orang Yahudi berdoa itu bisa berjam-jam mereka berdoa sambil goyang-goyang seperti ini terus-menerus. Apakah kita ketika diminta untuk berdoa tiap waktu berarti kita harus tiap waktu siapkan waktu beberapa menit mungkin setengah jam atau satu jam untuk berdoa di hadapan Tuhan? Saya percaya kalau pengertian kita seperti ini maka yang terjadi adalah kita nggak kerja. Yang terjadi kita hanya akan berdoa dan berdoa lalu orang mulai berkata kamu adalah orang yang tidak bertanggung jawab di dalam kehidupanmu karena yang kamu pikirkan hanya hal-hal rohani terus di dalam kehidupanmu dan doa terus. Mungkin kemudian kalimat yang keluar berikutnya adalah kalau kamu tidak bekerja kamu nggak usah makan seperti yang ada dalam surat Tesalonika.

Saudara, berdoa setiap waktu dan doa adalah nafas bukan dalam pengertian kita harus mengkhusukan suatu waktu setiap jamnya dalam hidup kita untuk berdoa di hadapan Tuhan, walaupun saya percaya kita perlu ada waktu khusus untuk berdoa di hadapan Tuhan. Tetapi di dalam pengertian ini adalah Paulus mau mengajak kita untuk menjadikan doa itu seperti sebuah komunikasi yang sehari-hari atau sesuatu yang bukan rutin ya, sesuatu yang kebiasaan di dalam kita berelasi dengan Tuhan dalam segala hal yang Tuhan izinkan terjadi di dalam hidup kita. Maksudnya begini, misalnya ketika saudara bawa kendaraan keluar kota karena saya suka keluar kota, waktu Saudara bawa kendaraan ke luar kota lalu lihat ada kecelakaan di pinggir jalan, yang kita pikirin apa? Waduh mati nggak ya orang itu? Tu gara-gara kebut-kebutan pasti. Yang keluar kutukan mungkin. Makian bagi orang itu. Apalagi kalau orang itu nyalib kita kencang banget hampir buat kita kaget atau kecelakaan lalu di depan dia tabrakan sukurin lu, kayak gitu ya? Nggak, nggak seperti itu ya. Tapi pada waktu kita melihat kondisi itu, mungkin kita bisa langsung ingat Tuhan untuk berbelaskasih bagi jiwa itu. Kita mendoakan dia. Waktu Saudara melihat orang yang Saudara ajak bicara, yang belum mengenal Tuhan, apa yang ada di dalam hati? Apakah Saudara kemudian anggap dia adalah orang biasa, teman yang Saudara nggak ada hubungan relasi dengan dia, ndak ada suatu tanggung jawab kepada diri dia atau ada kasih kepada orang itu yang membuat Saudara walaupun berbicara dengan orang itu saudara mendoakan orang itu untuk mengenal Tuhan? Pada waktu Saudara melihat pembangunan gereja, Saudara pada waktu melihat pembangunan gereja itu adalah sesuatu yang otomatis bisa terjadi dan selesai begitu saja? Lalu serahkan itu kepada para pengurus dan hamba Tuhan yang menyelesaikan itu semua? Atau saudara ingin berbagian di dalamnya dan mendoakan hal itu misalnya? Apapun yang Tuhan izinkan terlintas atau ada di depan mata kita, yang melalui hadapan kita itu bisa menjadi satu pokok doa yang kita naikkan kepada Tuhan melalui percakapan yang kita doakan kepada Tuhan. Atau istilah lainnya adalah berdoa setiap waktu itu adalah suatu kehidupan yang senantiasa punya kesadaran kalau Tuhan ada dan kita ada di hadarapan Tuhan. Itu kehidupan Kristen. Jadi kita bukan hanya mengingat Tuhan pada waktu kita persekutuan doa. Kita bukan hanya mengingat Tuhan pada waktu kita datang kebaktian Minggu, atau doa pagi, doa syafaat, saat teduh kita. Bukan hanya itu, tetapi di dalam situasi yang Tuhan izinkan kita alami, Saudara ingat nggak, ada Tuhan yang intervensi dan ikut campur tangan di dalamnya? Dan ketika Saudara sadar ini, Saudara meresponinya seperti apa? Apa yang Saudara katakan, apa yang Saudara doakan kepada Tuhan di dalam situasi itu? Adakah kasih kepada Tuhan dan sesama itu menjadi unsur yang penting? Jadi Paulus mengajak kita sebagai orang Kristen ingat selalu tanpa ada intervensi Tuhan, campur tangan Tuhan di dalam kehidupan orang percaya, ndak mungkin orang percaya bisa punya kemenangan di dalam kehidupan ini dan menghadapi peperangan di dalam kehidupan ini. Peperangan rohani khususnya.

Dan dalam hal apa kita berdoa? Tentunya di sini ada dikatakan segala doa dan permohonan itu yang kita harus naikkan kepada Tuhan. Ada orang yang menafsirkan berdoalah itu berbicara mengenai hal-hal yang umum dan segala permohonan deēsis bahasa Yunaninya itu berbicara mengenai segala permohonan yang spesifik yang kita naikkan kepada Tuhan. Saya percaya ada aspek ini dalam kita berdoa. Anak Tuhan ketika berdoa kepada Tuhan tidak hanya mengungkapkan  hal-hal yang global, hal-hal yang umum, walaupun ada banyak bagian itu tetapi saya percaya kalau Saudara mulai belajar berdoa untuk hal yang spesifik, hal yang jelas apa yang Saudara mintakan kepada Tuhan dalam pergumulan kita maka Saudara juga akan mendapatkan jawaban Tuhan yang spesifik dalam kehidupan kita. Dan Saudara ketika melihat ada jawaban Tuhan yang spesifik dalam hidup kita maka Saudara akan makin mempermuliakan Tuhan melalui jawaban spesifik yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Jadi ada aspek itu. Berdoalah selalu dalam permohonan bicara mengenai hal-hal yang umum yang kita bisa doakan berkenaan dengan  pekerjaan Tuhan misalnya penginjilan secara umum, tetapi jangan lupa ada penginjilan yang khusus yang mungkin kita perlu doakan, ada orang-orang tertentu yang khusus yang kita perlu doakan. Ada hal-hal yang kita doa berkenaan dengan pembangunan gereja, tetapi ada hal-hal khusus yang juga kita bisa lihat dalam pembangunan itu. Misalnya ambil contoh, ketika membangun Solo sebelum masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) waktu itu kita sangat ketar-ketir sekali karena waktu itu kalau kita tidak lakukan pengecoran lantai paling atas, dak, maka ada kemungkinan beberapa bulan kemudian kita nggak mungkin bisa ngecor dan pembangunan struktur mungkin sampai hari ini mungkin baru selesai. Waktu itu akhirnya kita sambil ketar-ketir kita berdoa, pemerintah sudah mulai tutup, lalu ketika kita bawa molen datang nanti warga akan ngomong apa. Lalu ada semacam isu orang seberang itu ada salah satu karyawannya yang pingsan lalu ambulans datang dengan semua pakaian lengkap APD (Alat Pelindung Diri) untuk membawa pasien itu ke rumah sakit, jangan-jangan daerah itu diisolasi dan jadi zona merah, lalu bagaimana kita bisa meneruskan pembangunan saat itu? Lalu kita berdoa berdoa kepada Tuhan kita minta mulai dari DP (down payment) terlebih dahulu, kita tentukan tanggalnya, kita kejar tanggal itu harus selesai, dan bersyukur memang pada hari H pengecoran polisi datang berdasarkan pengaduan dari warga ini kok masih kerja masa PSBB kayak gini. Lalu mau menghentikan pengecoran itu, lalu bersyukur kita sudah koordinasi dengan keamanan warga setempat dia yang datang dia yang handle semua akhirnya kita bisa ngecor sampai selesai dan hari ini kita bisa nikmati secara lebih baik pembangunan itu. Kita bisa mulai masuk ke finishing. Saudara kalau bicara tentang keuangan juga, kita mulai akan masuk di dalam pembangunan. Kita bersyukur kemarin proses salah satunya Damkar sudah dikeluarkan rekomendasi untuk Jogja. Masih ada proses untuk Dishub, DLH (Dinas Lingkungan Hidup), dan perhitungan konstruksi bangunan Tinggal tiga ini yang harus dipenuhi, kalau ini semua dipenuhi dan rekomendasi sudah keluar, kita bisa ajukan untuk pengurusan IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Kemarin kita bersyukur seperti ini, kalau Saudara lihat keuangan gereja ini saya yakin Saudara akan pikir, “Mana mungkin kita bisa bangun gereja?” Kalau Saudara lihat keuangan di Solo saat ini mungkin Saudara akan ngomong, “Mana mungkin kita bisa selesaikan pembangunan gereja?” Lalu yang kita doakan apa kepada Tuhan? Apakah cuma berbicara secara umum seperti itu? Saya percaya kalau kita mengerti pergumulan yang ada, kita bisa doakan pergumulan itu secara spesifik, saya yakin Tuhan akan memberikan jawaban secara spesifik juga dalam kehidupan kita yang membawa kemuliaan yang lebih besar bagi nama Tuhan. Makanya di dalam bagian ini Paulus berkata berdoalah dalam segala doa dan permohononan kepada Tuhan.

Tapi ada juga yang menafsirkan doa ini bukan hanya berbicara mengenai hal-hal yang global dan hal-hal yang spesifik saja, tetapi berdoalah dan naikkanlah segala permohononan kepada Tuhan ini berbicara mengenai segala situasi dalam hidup kita itu bisa menjadi satu doa yang kita naikkan kepada Tuhan. Dan segala sikap dan postur pun di dalam kita berdoa itu bisa menjadi satu doa yang kita naikkan kepada Tuhan, walaupun itu bukan sesuatu yang penting sekali ya, yang menjadi hal yang utama di dalam kita berdoa. Maksudnya adalah ada orang yang berdoa dengan lipat tangan dan tutup mata, lalu kalau kita melihat ada anak kecil yang kita ngomong, “Ayo kita berdoa,” lalu dia mendadak celetuk, “Laoshi, laoshi, si itu nggak doa, dia matanya terbuka,” kayak gitu. Saudara, di dalam konotasi kita sering kali adalah, “Oh kalau orang yang berdoa dengan mata terbuka itu bukan berdoa,” mungkin bisa seperti itu. Tapi Saudara, apakah doa dengan mata terbuka itu tidak berdoa? Apakah kalau kita tidak berlutut itu tidak berdoa? Apakah kalau kita tidak membentangkan tangan itu tidak berdoa? Apakah kalau kita berbaring itu tidak hormat pada waktu kita berdoa? Bagi orang-orang tertentu mungkin iya. Bagi saya pribadi, kalau saya disuruh berdoa sambil baring, rasanya kurang sreg, kurang hormat kepada Tuhan, lebih baik saya berlutut, kayak gitu. Tetapi apakah doa harus berlutut? Apakah doa harus pejamkan mata? Apakah doa harus diam di satu tempat tertentu? Pernah satu hari waktu saya antar Pak Tong KKR lalu kemudian Pak Tong berkata mendadak sambil saya nyetir mobil, “Dawis kamu sekarang doa.”

Lho Pak Tong, saya lagi nyetir lho Pak Tong.”,

Nggak apa-apa kan kamu sambil nyetir sambil berdoa,” kayak gitu. Dan di situ saya juga mulai belajar, oh ternyata doa itu bisa sambil nyetir. Walaupun saya sering kali lakukan itu tapi terus terang hari itu saya cukup kaget karena saya harus doa, keluar suara depan orang-orang lain sambil nyetir, dan Pak Tong ngomong ndak usah berhentiin mobil, kamu bawa aja mobil itu jalan terus kayak gitu. Jadi Saudara, ada yang menafsirkan pada waktu dalam segala doa dan permohonan, ini bukan hanya berbicara mengenai hal yang global dan spesifik saja, tetapi di dalam segala postur tubuh kita atau di dalam segala sesuatu yang kita lakukan, apakah sambil makan, atau sambil berkendara, atau sambil olahraga, atau sambil tidur, atau sambil berbicara dengan orang, dan bahkan mungkin sambil berkotbah, kita bisa berdoa kepada Tuhan di dalam segala permohonan yang global dan spesifik itu ya, kita naikkan kepada Tuhan. Jadi intinya adalah di dalam setiap waktu, jangan batasi di waktu-waktu tertentu saja, tetapi di dalam setiap keadaan baik pagi, siang, malam, atau bahkan setiap detik, apapun yang kita lakukan, atau sedang lakukan itu tidak pernah bisa menghalangi kita untuk berdoa di hadapan Tuhan. Bahkan ada satu teolog, saya lupa siapa namanya, dia berkata seperti ini, “Sebenarnya doa itu adalah satu-satunya anugerah yang Tuhan berikan, atau sarana yang Tuhan berikan bagi kehidupan Kristen yang tidak pernah bisa direbut oleh orang lain.” Maksudnya begini, bahkan ketika kita mungkin dianiaya karena iman kita, mulut kita ditutup dan diisolasi, dan bahkan dijahit sekalipun, musuh kita itu ndak pernah bisa menghalangi kita untuk berdoa. Jadi dalam segala situasi silahkan berdoa, dan itu adalah satu sarana yang Tuhan berikan untuk kita bisa berkomunikasi dengan Bapa kita yang di surga, yang baik itu, yang mengasihi diri kita.

“Dan berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putus nya untuk segala orang kudus.” Pada bagian ini, mungkin saya nggak akan bawa terlalu masuk dalam makna doa dalam Roh, tapi satu hal yang saya mau tekankan, doa dalam Roh itu bukan berbicara mengenai doa bahasa Roh, tetapi doa dalam Roh ini adalah suatu doa yang kita naikkan sinkron dengan doa yang Roh Kudus naikkan bagi diri kita, itu adalah doa dalam Roh. Misalkan kalau Saudara lihat dalam Roma 8:26 di situ dikatakan Roh Kudus membantu kita berdoa di dalam keluhan-keluhan yang tidak terucapkan, maka orang Kristen ketika berdoa di dalam Roh, maka doa yang dimaksudkan di sini adalah doa kita itu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Roh Kudus. Dan tentunya di balik itu adalah ada satu penundukkan kepada firman. Kita ketika dikatakan sebagai orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus, maka bukan dilihat dari manifestasi luar yang kita nyatakan dengan gejala-gejala yang tidak normal atau abnormal seperti itu, tetapi Alkitab berkata orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus adalah orang yang memiliki kehidupan yang ditundukkan di bawah otoritas Firman. Jadi kalau hati kita sungguh-sungguh sesuai dengan firman Tuhan, kehidupan kita sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki, dan keingingan kita sungguh-sungguh adalah memuliakan nama Tuhan, Saudara berdoa berdasarkan prinsip ini, saya yakin Saudara punya doa pasti sesuai dengan Roh Kudus. Ini yang dimaksud dengan berdoalah dalam Roh. Tetapi untuk bisa berdoa seperti ini, Paulus juga berkata jangan asal berdoa, kita punya mata perlu berjaga-jaga untuk melihat situasi. Saya yakin, orang yang ndak ngerti kondisi yang ada, yang terjadi dalam dunia ini, dan terjadi dalam kehidupan kita, dan terjadi di dalam gereja, dia nggak mungkin bisa berdoa dengan baik. Makanya pada waktu kita berdoa, ada aspek lain yang kita harus naikkan, yang harus kita perhatikan adalah, mata kita harus bisa melihat apa yang menjadi situasi yang sedang terjadi di sekitar kita, dan juga di dalam gereja. Dari situ baru kita bisa menaikkan doa secara baik di hadapan Tuhan. Kita bisa berdoa, mengerti apa yang sedang Tuhan izinkan, mungkin terjadi dalam gereja, dan pergumulan apa, atau bahaya apa yang sedang dihadapi dalam gereja yang perlu kita doakan. Makanya kalau kita perhatikan seperti ini ya, saya yakin orang Kristen nggak mungkin bisa tinggal diam ya. Orang Kristen tidak mungkin bisa menjadi orang Kristen yang baik kalau dia hanya duduk, datang kebaktian, lalu pulang ke rumah, lalu tidak berbagian apapun di dalam gereja, atau di dalam kehidupan orang Kristen yang lainnya. Karena dia nggak akan tau situasi, lalu kalau dia nggak tahu situasi dan keadaan, bagaimana dia berdoa secara baik di hadapan Tuhan dan sesuai dengan Roh Tuhan? Kita perlu berjaga-jaga, kita perlu melihat keadaan di dalam kita menaikkan doa kita kepada Tuhan.

Lalu, untuk siapa? Untuk orang-orang kudus juga, itu menjadi hal yang penting. Dalam hal ini apa yang kita perlu naikkan bagi orang kudus? Satu hal yang menarik adalah kalau kita baca di dalam ayat berikut nya, ayat 19 dan 20, dikatakan, “Juga untuk aku, supaya jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya sebagaimana seharusnya aku berbicara.” Saudara, pada waktu Paulus berkata berdoalah bagi orang kudus, Paulus menjadikan diri dia sebagai contoh, seorang yang perlu didoakan. Lalu yang menariknya adalah pada waktu Paulus berkata doakanlah aku, poin apa yang mereka minta Paulus minta doakan? Ini saya pernah bahas sebelumnya juga ya tapi ini menjadi satu hal yang mungkin bisa mengingatkan kita kembali. Surat Paulus adalah surat yang ditulis di dalam penjara. Pada waktu Paulus menulis Surat Efesus ini, dia tidak sedang bebas, tapi dia ada di dalam tahanan, di mana dia sendiri tidak tahu hari depannya seperti apa. Dan kalau Saudara lihat di dalam Kisah Rasul, ketika seorang ditawan oleh Romawi, ada kemungkinan dia dibelenggu tangan dan kakinya. Lalu di dalam kondisi yang begitu menderita sekali, apakah  bisa makan atau minum, saya ndak ngerti, tapi yang pasti menderita di dalam satu ruangan yang mungkin lembab, yang tidak nyaman, mungkin dengan binatang-binatang pengerat yang ada di sana di situ, yang diminta oleh Paulus dalam doanya bagaimana? Dia nggak ngomong tolong doakan supaya saya lepas dari tahanan, tolong doakan supaya saya kuat di dalam menghadapi kondisi tahanan yang begitu menyusahkan fisik saya, atau kondisi saya seperti ini, tolong doakan supaya saya punya kesehatan di dalam melewati masa tahanan ini, dia nggak ngomong itu. Tetapi yang dia minta adalah tolong doakan saya supaya saya tetap diberikan keberanian untuk memberitakan rahasia Injil. Saya percaya, ini harusnya menjadi satu hal yang kita gumulkan juga ya. Pada waktu kita berdoa, kita tahu prioritas. Saya bukan ngomong doakan kesehatan orang itu tidak penting. Saya juga doakan kesehatan orang. Dan kalau kita doakan kesehatan orang memang itu lebih menyentuh hati, umumnya begitu. Lebih diterima daripada kalau kita doakan kondisi rohaninya walaupun orang mungkin juga bersyukur kalau rohaninya baik dia akan bersyukur. Tapi coba bandingkan ya, Saudara tidak doakan kondisi rohaninya dengan Saudara hanya doakan kondisi rohaninya, mana yang lebih berterima kasih? Umumnya orang yang didoakan kondisi fisiknya, yang tidak rohani tapi fisiknya itu didoakan, dia akan merasa tersentuh oleh orang yang mendoakan. Tapi Saudara, pada waktu kita mendoakan, Paulus sudah memberi satu contoh, kamu harus pikirkan yang penting adalah rohani orang itu, rohani kita, kekuatan iman kita, peperangan yang kita hadapi ketika kita ada di dalam kondisi itu bagaimana bisa berkemenangan melalui kondisi tersebut, itu yang lebih penting.

Ini yang tadi saya katakan di awal, saya hanya bisa mendidik firman, saya hanya bisa memberitakan firman, saya hanya bisa mendoakan kita semua. Tetapi, Saudara, ketika firman itu ada tertanam di dalam hati kita, harusnya kita bisa belajar meresponi dengan benar dalam setiap keadaaan. Bersyukur ada tangan Tuhan yang memegang kita bukan tangan kita yang diminta untuk pegang Tuhan 100% dan ndak pernah boleh lepas dalam hidup kita. Karena apa? Di dalam kondisi pergumulan sering kali kita lepaskan Tuhan dan kita buang Tuhan dari hidup kita. Kita ndak percaya sepenuhnya bahwa Dia yang ikut campur, Dia yang intervensi, Dia yang memimpin yang terbaik dalam hidup kita. Itu seringkali kita ragukan. Tapi bersyukur ada tangan Tuhan yang pengang kita itu yang lebih penting. Dan dalam situasi seperti itu, apapun yang menjadi situasi itu tidak menjadi soal yang terlalu penting lagi. Saudara bisa lihat tidak ada tangan Tuhan yang pegang, ada tangan Tuhan yang pimpin? Apapun situasi yang Tuhan izinkan, pasti ada yang baik kalau Tuhan pikirkan anak Tuhan, dan Tuhan izinkan kita masuk dalam situasi itu. Dan Paulus berdoa hal ini, yang penting adalah kamu bisa saksikan Injil nggak dalam situasi seperti itu, atau kamu hanya menunjukkan jati dirimu itu seperti apa? Karena pada waktu kita menghadapi situasi seperti itu, itulah kalau kita pakai istilah Petrus ataupun Paulus, seperti emas yang dibakar makin murni dan makin murni. Kalau dia bukan emas dia akan tersingkirkan, nggak ada lagi. Jadi Saudara, apa yang lebih penting? Apakah kita sehat? Itu baik. Apakah kita sukses? Itu baik. Apakah semua dalam keadaan yang baik? Itu baik. Apakah pekerjaan kita lancar? Itu baik. Tapi Saudara ingat satu hal, apakah semua yang baik itu membuat kita makin mengenal Tuhan atau tidak? Kalau itu tidak membawa kita makin mengenal Tuhan dan percaya kepada Dia dan bergantung pada Dia, Tuhan akan singkirkan itu, kikis itu dari hidup kita, dan membuat kita ada di dalam pergumulan yang tidak nyaman supaya kita makin diproses oleh Tuhan untuk menyatakan iman kita. Itu lebih penting. Dan saya harap kita sebagai orang yang percaya, dan saya juga berdoa, mari kita sama-sama gumulkan ini ya. Pada waktu kita bertemu dengan saudara kita dalam kesulitan, doakan pergumulan mereka, baik, ndak masalah, tapi tolong ingat juga apa yang dia harus pelajari di dalam situasi itu berdasarkan kacamata firman Tuhan itu jauh lebih penting. Karena kita ndak mungkin akan selalu ada di atas. Kita tidak mungkin ada selalu dalam kondisi sehat, kita tidak mungkin selalu ada dalam kondisi yang baik dan diberkati menurut pandangan orang dunia. Dan Tuhan bisa gunakan itu semua, kalau kita anak Tuhan, untuk makin mendekatkan kita kepada Tuhan.

Ada satu hal ketika pergumulan ini terjadi dan doa untuk orang kudus juga ditekankan oleh Paulus di sini adalah kita diminta untuk tidak hanya terus menerus berdoa untuk kepentingan diri kita sendiri. Berdoalah bagi orang kudus itu berarti fokuskanlah perhatian kita kepada orang Kristen yang lain. Saya percaya ini adalah prinsip Alkitab ya. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Fokus layanilah seorang dengan yang lain. Fokusnya itu bukan pada diri kita sendiri tapi pada orang lain. Itu sebabnya Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan sekali lagi saya tekankan ya. Bapak, Ibu bisa bawa doa dalam pribadi, ndak masalah, tetapi pintu gereja selalu terbuka di hari Rabu malam untuk persekutuan doa. Bisa tidak kita belajar untuk mengikuti firman Tuhan? Belajar untuk memikirkan hal-hal yang di luar kepentingan diri kita sendiri? Mari kita sama-sama belajar untuk memikirkan gereja, memikirkan orang Kristen yang lain, iman mereka, pelayanan yang dilakukan oleh gereja, orang-orang yang belum percaya kepada Kristus. Ayo sama-sama kita doakan mereka di dalam gereja, baru saya  percaya gereja itu akan diberkati. Jangan lihat diri sebagai hal yang utama, terus-menerus diri yang utama. Walaupun kita perlu doakan diri itu nggak salah, tetapi kalau kita mengerti di dalam kesatuan tubuh, saya yakin makin minim kita akan mendoakan diri. Setuju nggak? Kalau Saudara melihat prinsip karunia, makin saudara akan mengerti doakan diri itu ndak terlalu menjadi hal yang penting. Karena apa? Misalnya ambil contoh saya ya, mungkin orang banyak mendoakan saya lalu untuk apa saya doakan diri lagi? Saya yang perlu pikirkan adalah doakan jemaat satu per satu. Lalu jemaat yang ada melayani sama-sama perlu mikirin doa diri nggak? Nggak perlu juga, ada jemaat lain yang mendoakan mereka. Itu prinsip kesatuan tubuh. Tapi saya tetap katakan di sini kalau Bapak, Ibu ingin doakan diri itu ndak masalah, itu baik. Itu bukan sesuatu yang perlu dipaksakan untuk tidak mendoakan diri. Tetapi kalau kita mengerti prinsip kesatuan tubuh dalam pelayanan dan karunia, saya yakin satu orang Kristen akan menguatkan dan memperhatikan orang Kristen yang lain, dan dia akan diperhatikan oleh orang Kristen yang lain juga dalam hidup dia. Ini tujuannya. Termasuk di dalam PA, saya ada bahas tentang hal kekuatiran. Di situ ada kalimat kenapa orang kuatir? Orang kuatir biasanya karena dia punya pikiran itu self-centered. Cara mengatasi kekuatiran itu bagaimana? Kasih, itu caranya. Fokus kita jangan ke diri tapi ke orang lain. Pada waktu kita memikirkan orang lain, di situ kekuatiran akan berkurang bagi hidup kita. Pada waktu kita memikirkan orang lain di dalam doa, maka kita akan mengurangi dosa yang mementingkan diri sendiri, itu akan terjadi. Jadi ini semua adalah prinsip firman yang kita sudah bahas satu per satu dan saya percaya Efesus menjadi suatu surat berkenaan dengan gereja yang penting sekali di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen dan bergereja dan kita sudah mengakhirinya sampai hari ini. Termasuk Saudara boleh mengulaingnya dan Saudara boleh belajar untuk membaca kembali mungkin khotbah-khotbah yang sudah dibawakan sebelumnya, dan kiranya itu boleh menguatkan iman kita kembali ya, makin dekat kepada Tuhan dan makin berfungsi seperti gereja yang Tuhan kehendaki.

Terakhir saya ngomong ini aja ya, ingat doa ya Bapak, Ibu. Bukan hanya doa pribadi, doalah bersama dengan gereja Tuhan. Ikut bersekutu bersama, boleh share akan kesulitan, saling mendoakan satu sama lain, maka kita akan terlihat seperti gereja. Kita bukan orang-orang yang super kuat tapi gereja itu adalah orang-orang yang lemah, orang-orang yang masih berdosa, orang-orang yang masih bisa salah. Sekuat-kuatnya kita berusaha jalan dalam iman dan kebenaran tetap bisa jatuh. Makanya kita butuh pertolongan Tuhan dan kekuatan dari Tuhan, dan orang Kristen yang lain yang turut memperhatikan, mendoakan kita satu dengan yang lain. Mari kita masuk dalam doa.

Bersyukur, Bapa, karena Engkau boleh senantiasa menjadi Bapa kami dan Engkau telah memberikan suatu sarana bagi kami untuk berkomunikasi dengan Engkau di dalam doa di dalam Kristus dan dalam Roh. Melalui itu biarlah kami boleh makin belajar untuk bergantung kepada Tuhan dan memiliki satu kesadaran bahwa Engkau senantiasa adalah Allah yang intervensi dalam kehidupan kami, dalam segala sesuatu yang boleh kami hadapi dalam hidup kami. Mohon belas kasih-Mu bagi gereja-Mu ini ya Tuhan. Dalam segala kelemahan yang ada dan kekurangan yang ada kami berdoa mohon kiranya Engkau boleh kuduskan dan makin dekatkan kepada Engkau. Kami mohon kiranya Engkau boleh makin dewasakan di dalam iman, ya Tuhan, dan makin bergantung kepada Engkau dan melihat segala sesuatu dari kacamata Tuhan dalam kehidupan kami. Pimpin senantiasa anak-anak-Mu ini ya Tuhan dan gereja-Mu ini di dalam melewati hari demi hari biarlah firman-Mu boleh senantiasa menjadi suatu terang yang membawa mereka senantiasa boleh menjadi terang dan garam, dan bersikap seperti  eorang yang telah disediakan untuk mengerjakan segala sesuatu yang baik, yang seperti Tuhan rencanakan. Bersyukur untuk suatu surat yang telah Tuhan pimpin sampai hari ini sebanyak enam pasal. Kiranya Engkau boleh bawa ke kami untuk menyelami kitab-kitab yang lain, ya Tuhan, yang berkenaan dengan firman, yang boleh makin melimpahkan kami di dalam kebenaran-Mu dan makin membawa kami dekat kepada Tuhan dan mengenal Engkau secara pribadi di dalam kehidupan kami. Ampuni dosa kami ya Tuhan yang selama ini mungkin membuat kami seringkali meremehkan Tuhan, mengabaikan Tuhan, tidak menjadikan Tuhan sebagai prioritas utama dalam hidup kami. Tapi biarlah Engkau boleh makin dekatkan kami khususnya di dalam kondisi pandemi ini untuk melihat kembali, menguji iman kami, kepercayaan kami, pengenalan kami akan Tuhan, untuk kami boleh menjadi anak-anak Tuhan yang meresponi setiap situasi berdasarkan terang firman dan kebenaran sehingga kami boleh semakin menyatakan identitas kami sebagai anak Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa dan bersyukur. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *