Apa yang Membawa Orang kepada Pertobatan, 11 April 2021

Kisah Para Rasul 3:11-26

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita masuk ke dalam khotbah Petrus di Serambi Salomo ini, kita lihat bahwa Tuhan telah merancang suatu keadaan di mana melalui penyembuhan orang yang lumpuh itu orang yang telah berpuluh-puluh tahun tidak bisa berjalan bahkan dari kecil dia tidak bisa berjalan, yang tidak mungkin ada kesempatan untuk disembuhkan dan mungkin sembuh tersebut kemudian melalui kasih karunia Allah di dalam Kristus atau melalui Nama Yesus Kristus maka dia boleh disembuhkan. Dan ini menjadi satu kesempatan atau satu pembuka peluang bagi Petrus kemudian bisa menyampaikan atau memberitakan kabar Injil kepada orang-orang Yahudi atau orang-orang Israel yang ada di Bait Allah itu. Karena pada waktu orang-orang itu melihat pada orang yang lumpuh ini bisa bangkit berdiri, yang tidak mungkin secara medis dia bisa bangkit berdiri tetapi karena nama Yesus Kristus bisa bangkit berdiri, berjalan, dan seperti orang normal lainnya seketika itu juga, maka ini menjadi satu daya tarik yang besar bagi orang-orang Yahudi yang ada di Bait Allah yang sedang datang untuk berdoa di sana, melihat memperhatikan mujizat ini, lalu berkumpul dan memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi kepada orang lumpuh ini. Dan kesempatan itu dipakai oleh Petrus untuk memberitakan Injil Kristus.

Dan pada waktu Petrus memberitakan Injil Kristus, ternyata dia bukan beritakan satu kabar yang menghibur orang-orang banyak yang datang ke situ, ada bagian itu, tetapi hal pertama yang Petrus kabarkan adalah kebersalahan atau dosa dari kejahatan yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap Yesus Kristus. Kita lihat di dalam Injil, orang-orang Yahudi khususnya para pemimpin orang Yahudi yaitu kelompok Sanhedrin, mereka tidak bisa menerima kalau Yesus Kristus itu adalah Mesias. Mereka menyangkali kebenaran itu dan bahkan mereka mengatakan Yesus sudah menghujat Allah dengan menyamakan diri-Nya sebagai Allah atau dengan Allah, dan menyatakan kalau Dia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa, dan bahkan Dia adalah Anak Manusia yang akan datang dari awan-awan dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Itu membuat mereka murka dan begitu benci kepada Yesus Kristus dan mereka ingin membunuh Yesus Kristus, dan akhirnya tuduhan itu sungguh-sungguh terjadi seperti yang mereka rencanakan dan harapkan.

Nah pada waktu Petrus melihat peristiwa itu dan kesempatan untuk berkhotbah, maka Petrus berkata, “Kamu tahu tidak, orang yang kamu tolak itu, orang yang kamu aniaya itu, orang yang kamu siksa itu, Yesus dari Nazaret itu, orang yang kemudian kamu salibkan itu, orang yang kamu anggap bukan adalah Mesias yang datang yang diutus oleh Tuhan Allah, Dia sungguh-sungguh adalah Mesias itu. Buktinya apa? Buktinya itu adalah Dia yang lumpuh ini bangkit dan bisa berjalan dalam Nama Yesus Kristus.”

Dan Petrus bukan hanya menjadikan mujizat yang ada di depan mata mereka sebagai satu bukti bahwa Yesus punya nama memiliki kuasa untuk menyembuhkan orang lumpuh ini, tetapi Petrus walaupun secara sepertinya tidak di dalam khotbah pasal yang ke-2, bagian dia mengutip Perjanjian Lama, tetapi Petrus mengutip gelar-gelar yang dikhususkan untuk Mesias untuk diterapkan bagi Yesus Kristus sehingga orang-orang yang datang dan mendengar khotbah Petrus tidak bisa berdalih kalau semua yang dibicarakan mengenai Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh berkaitan dengan nubuat nabi di dalam Perjanjian Lama berkaitan dengan Mesias yang akan datang tersebut. Petrus berkata Dia adalah Hamba Allah, Hamba Tuhan, misalnya saudara bisa lihat di dalam ayat yang ke-13, “Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus.”

Hamba-Nya itu adalah satu istilah yang memang kalau kita lihat Perjanjian Lama, umat Allah bisa menggunakan istilah itu untuk menerapkan diri mereka sebagai hamba Tuhan tetapi juga di dalam Perjanjian Lama ada satu ada bagian secara khusus Hamba itu diperuntukkan bagi Mesias, dan Dia memang adalah Hamba, bukan Anak Allah saja tapi Hamba Allah yang Allah utus. Kemudian kita bisa lihat juga dalam Perjanjian Lama, Kitab Mazmur berkali-kali berkata bahwa Dia adalah yang kudus dan benar. Tetapi engkau telah membunuh Dia dan menghendaki pembunuh sebagai hadiahmu untuk dibebaskan. Maka ada bagian yang menyatakan Dia ada Pemimpin kepada hidup, dan ada istilah Kristus yang muncul untuk menyatakan kalau Yesus Kristus adalah Mesias itu.

Jadi dan waktu Petrus berkhotbah, dia tidak mereduksi atau mengurangi bobot tuntutan, dosa yang diberitakan kepada orang-orang Yahudi yang sebelumnya menentang Yesus Kristus dan ingin Yesus Kristus mati. Tetapi Petrus dengan blak-blakan dan terus terang dengan begitu tajam dan keras mengatakan kalau mereka sungguh-sungguh telah menolak Yesus, menolak Hamba-Nya itu, Hamba Allah, menolak Pemimpin kepada hidup, menolak seorang yang benar dan kudus itu, menolak Kristus untuk kau salibkan dan mati, dan kau lebih memilih seorang penjahat untuk dibebaskan daripada engkau menerima Pemimpin kepada hidup itu. Dan lebih bahwa orang lumpuh itu bisa berjalan kembali itu menunjukkan kalau Yesus Kristus tidak mati, kalau Yesus Kristus bangkit dari kematian, kalau Yesus Kristus adalah seorang Mesias yang tetap hidup karena Dia adalah Allah yang tidak mungkin bisa mengalami kematian. Itu sebabnya harus inkarnasi untuk mati tetapi juga Dia memiliki kuasa untuk mengambil hidup-Nya kembali karena Dialah adalah yang memiliki kuasa atas hidup dan mati dari semua makhluk yang ada di dalam dunia ini karena Dia adalah sumber kehidupan itu sendiri.

Jadi pada waktu Petrus berkata kamu sudah menyalibkan Yesus, kamu sudah membunuh Yesus, kamu sudah membunuh Pemimpin kepada hidup itu, maka Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu berarti adalah mereka tidak akan pernah punya kesempatan untuk bisa membenarkan diri mereka di hadapan Allah karena mereka telah membunuh Pemimpin kepada hidup, atau istilah lainnya adalah mereka telah menolak satu-satunya jalan, satu-satunya yang bisa membawa mereka kepada satu kehidupan yang kekal dalam hidup mereka. Dan Pemimpin kepada hidup itu adalah Allah dan Hakim yang adil yang Kitab Suci nyatakan.

Jadi pada waktu orang Yahudi tersebut mendengar pemberitaan Petrus, bisa dibayangkan mereka yang berteriak salibkan Dia salibkan Dia, mereka yang ngomong tidak mungkin Mesias adalah Yesus Kristus, mereka yang berkata bahwa Dia adalah penghujat Allah tetapi ternyata sekarang Petrus bukakan semua ternyata Yesuslah yang digenapi dalam Perjanjian Lama, Dia adalah Allah itu, dan Dia adalah Pemimpin kepada hidup, dan Dia sekarang kamu sebutkan, telah bangkit dari kematian, satu-satunya jalan yang membawa kamu pada kekekalan, kamu tolak. Akibatnya apa?

Saya percaya itu mengakibatkan suatu keputusasaan dalam hidup daripada orang-orang Yahudi. Itu membuat mereka melihat pada dosa mereka yang begitu mengerikan, begitu jahat, begitu tidak punya kemungkinan untuk bisa dibebaskan daripada hukuman dosa. Nah ini kalau Bapak, Ibu, bandingkan dengan khotbah Petrus sebelumnya, maka Bapak, Ibu, akan melihat pada waktu mereka mendengar respon itu, mereka kemudian berkata, “Apa yang harus kami perbuat untuk melepaskan kami daripada penghakiman Tuhan atau dosa yang kami lakukan itu?” Dan Petrus berkata kamu harus bertobat dan memberi dirimu dibaptis atau dibaptis bukan hanya dalam pengertian baptisan air, tapi dan memberi hidup diselamatkan di dalam Yesus Kristus yang ditandai dengan baptisan air tersebut.

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu Petrus berkhotbah, saya percaya seorang yang hamba Tuhan yang sungguh-sungguh dipanggil oleh Tuhan, dia menyadari satu hal, kabar sukacita, kabar baik baru bisa menjadi satu kabar sukacita dan kabar baik di dalam Kristus kalau orang mengerti dia diselamatkan dari apa. Kita diselamatkan dari apa? Mungkin banyak orang berkata kita diselamatkan dari dosa, kita diselamatkan dari hukuman kekal yang Tuhan berikan bagi kita di dalam neraka. Tapi sebenarnya di balik itu ada pengertian secara implisit kalau kita berdosa berarti kita menentang Allah yang suci, relasi kita dengan Allah yang suci itu terputus. Kalau ternyata ada neraka berati Allah, keberadaan-Nya sebagai Hakim adalah satu hukuman yang pantas kita terima dalam kehidupan kita, dan ini berarti bahwa yang menjadi musuh terbesar kita adalah Allah sendiri.

Jadi pada waktu Yesus Kristus datang menebus dosa, datang dan mati di atas kayu salib menebus dosa, sebenarnya Yesus sedang memimpin orang-orang yang berdosa, orang-orang yang jahat, orang-orang yang menolak Tuhan Allah, hidup di dalam dosa itu, dari tuntutan atau dari penghakiman Allah yang suci dan adil dalam hidup mereka. Jadi Yesus ketika mati di kayu salib itu akan, dan mereka beriman kepada Yesus Kristus, mereka akan dibebaskan daripada atau mereka akan dilepaskan dari tuntutan atau penghakiman murka Allah atas hidup mereka. Makanya mereka berkata apa yang harus kami perbuat? Kamu harus bertobat dan memberi dirimu dibaptis. Kalau di bagian ini dikatakan ayat 19 kamu harus bertobat dan kamu harus datang kepada Allah. Walaupun di dalam terjemahan LAI nggak terlalu terlihat bagian ‘datang kepada Allah’ tetapi diterjemahkan dengan kata ‘sadarlah.’ “Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan,” tapi di dalam terjemahan bahasa Inggris itu adalah terjemahan yang lebih jelas dari bahasa Yunaninya, Petrus berkata, “Kamu harus bertobat dan kamu harus datang kepada Tuhan di dalam Kristus.” Bukan sadar tapi datang. Bahkan ada yang berkata, “Larilah kepada Tuhan,” atau lari kepada Kristus.

Ini yang saya bahasa sebelumnya, seperti seorang yang ada di dalam kehidupan budaya orang Yahudi lalu kemudian ketika mereka melakukan satu dosa tertentu yang tidak disengaja dan membunuh orang, Tuhan telah memberikan ada kota-kota perlindungan untuk mereka bisa lari ke sana, untuk kemudian mereka dilindungi daripada penuntut darah atau penuntut nyawa yang mengambil nyawa dia sampai pengadilan ditegakkan untuk orang tersebut. Dan kalau memang terbukti dia bersalah dan berada dalam kota perlindungan, dia harus dihukum mati. Tetapi kalau dia terbukti tidak sengaja untuk membunuh orang tersebut, maka dia dibiarkan hidup tetapi dia harus tinggal di dalam kota itu sampai imam besar mati. Dan Alkitab berkata yang menjadi imam besar itu adalah Yesus Kristus, Dia adalah Allah yang tidak mungkin mati, Dia adalah Allah yang akan terus menjabat sebagai imam besar selama-lamanya di dalam kekekalan, dan itu berarti ketika engkau lari kepada diri-Nya, berlindung kepada diri-Nya, maka engkau akan tetap memiliki hidup.

Jadi pada waktu Petrus berbicara berkenaan dengan khotbah, dia tidak mengurangi bobot daripada dosa orang. Dia tidak membuat khotbah itu bisa diterima oleh orang karena dia membuat orang merasa atau dia membuat orang itu tidak sepenuhnya tidak melanggar Tuhan, tidak melawan Allah, tidak di bawah murka Allah, dan tidak di bawah hukuman Tuhan Allah, tetapi justru yang Petrus lakukan adalah ketika dia mengerti kabar baik kepada dalam Kristus yang membebaskan kita dari murka Allah, orang pertama kalau memang ini bisa menghargai penebusan Kristus, dia harus menyadari kalau dirinya adalah orang berdosa, dia harus menyadari kalau dirinya adalah orang yang harus dihukum oleh Tuhan Allah, dan dia harus menyadari kalau dirinya adalah orang yang memberontak dan harus berhadapan dengan Allah yang suci secara langsung di dalam hidup dia. Baru kemudian mereka bisa sadar akan dosa.

Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, yang menarik adalah juga di dalam berita khotbah Petrus, Petrus bukan hanya berbicara akan dosa, Petrus bukan hanya menyatakan membuka kejahatan dan kebobrokan orang-orang Yahudi yang telah menyalibkan Yesus Kristus lalu kemudian berkata bahwa, “Kamu sudah membunuh Pemimpin kepada hidup kan? Sekarang sukurin bahwa kamu akan dihukum oleh Tuhan Allah dan matilah kamu.” Dia nggak ngomong seperti itu. Tetapi yang dia ngomong adalah di dalam ayat yang ke-17, “Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu.”

Jadi hal pertama yang Petrus angkat adalah pada waktu kamu menyalibkan Yesus Kristus, tahu tidak kamu melakukan itu dari ketidaktahuan. Kenapa diangkat ketidaktahuan itu? Pertama memang mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu kalau Yesus itu adalah Mesias seperti halnya 12 rasul itu. Mereka tahu Yesus adalah Mesias mungkin lebih jelas daripada pemimpin agama lain yang tidak mengetahui Yesus adalah Mesias. Tetapi walaupun mereka tahu bahwa Yesus adalah Mesias, mereka tetap tidak mengetahui sepenuhnya apa yang akan dilakukan Mesias dalam menyelamatkan orang berdosa. Makanya kita bisa lihat Petrus bisa menarik Yesus ke samping dan berkata bahwa sekali-kali hal itu tidak terjadi kepada Engkau Yesus Kristus, Engkau tidak mungkin mati, Engkau pasti hidup karena Mesias tidak mungkin menderita mati. Dan Yesus berkata enyahlah engkau iblis.

Dan murid-murid yang lain ketika Yesus Kristus bangkit dari kematian, dan ketika Maria dan dua perempuan lain berbicara kepada mereka mengenai Yesus yang bangkit dari kematian, mereka telah bersaksi bahwa Yesus bangkit dari kematian, mereka dengan setengah mati menerima berita itu dan mereka tetap tidak percaya bahwa Yesus bangkit dari kematian. Cuma Petrus dan Yohanes yang akhirnya pergi ke kubur itu untuk membuktikan kalimat dari Maria itu benar atau tidak. Dan pada waktu dia masuk mungkin dengan satu keraguan, dia melihat kain kafan tergeletak, kain yang menutupi kepala sudah tergulung dan ditaruh dengan rapi di tempat Yesus dibaringkan. Dari situ baru dia mulai timbul sedikit kepercayaan kalau Yesus sungguh-sungguh bangkit dari kematian.

Nah sekarang yang berhadapan dengan Petrus siapa? Yang menyalibkan Yesus siapa? Orang-orang yang tidak dengan setia mengikut Yesus Kristus, orang-orang yang menjaga jarak dari Yesus Kristus, orang-orang yang tidak mau menyelidiki apakah Yesus sungguh-sungguh adalah Mesias itu, mereka tidak mau membuka Kitab Suci dan mereka tidak mau menerima realita bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka lebih memproteksi hidup mereka, mereka lebih memproteksi jabatan mereka, mereka lebih memproteksi keselamatan mereka di bawah pemerintahan Romawi. Kenapa? Mungkin sebabnya karena dalam pemikiran mereka Mesias adalah orang yang akan memberontak melawan pemerintahan Romawi. Kalau sampai dia sungguh-sungguh adalah Mesias, itu berarti ada satu kecelakaan yang besar di dalam kehidupan orang-orang Yahudi. Dan mereka tidak mau menerima itu. Di sini Petrus berkata kamu melakukan itu semua, memang satu sisi karena kamu tidak peduli itu, tetapi di sisi lain kamu tidak mengetahui kalau Dia sungguh-sungguh adalah Mesias.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau engkau terus menjaga jarak dari Tuhan dengan cara engkau tidak membaca firman, engkau tidak mau belajar doktrin, engkau tidak mau belajar Kitab Suci memperdalam pengetahuanmu akan Yesus Kristus atau kebenaran Kitab Suci, engkau tidak mau ikut Pendalaman Alkitab, engkau tidak mau ikut Sekolah Theologi untuk Kaum Awam (STRI), yakinlah Bapak, Ibu, akan ada di dalam satu kondisi yang tidak akan mengenal siapa Yesus itu. Bapak, Ibu, tidak akan ada dalam satu kondisi yang sungguh-sungguh memahami kenapa Dia datang dan apa yang menjadi kuasa-Nya dan betapa besar kasih-Nya dalam kehidupanmu. Yang akan terjadi adalah setiap kali Bapak, Ibu, masuk dalam satu kondisi yang membuat Bapak, Ibu, harus memilih antara iman atau melawan Tuhan, engkau pasti akan memilih untuk melawan Tuhan dan tidak percaya pada Tuhan. Wujudnya mungkin tidak seperti Petrus yang menyangkali Yesus sampai tiga kali, wujudnya mungkin tidak seperti Yudas Iskariot yang kemudian menyerahkan Yesus demi sekantong uang karena terang-terangan yang membuat Yesus kemudian diadili dan dihukum mati. Tetapi Bapak, Ibu, lebih memilih percaya kepada diri, percaya kepada pengertian diri, percaya pada kemampuan diri, daripada datang dan percaya atas pertolongan Tuhan dalam hidupmu.

Saya percaya itu adalah bagian dari penyangkalan terhadap Tuhan dan kebenaran Tuhan. Dan saya juga percaya kekuatiran itu juga bagian daripada ketidakberimanan atau kepercayaan kita akan Tuhan. Sebenarnya karena apa? Karena kita tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan kita atau Yesus Kristus. Orang Farisi, Sanhedrin, mereka menolak, mereka menyangkali Yesus karena mereka tidak mengenal Yesus Kristus, tidak mengetahui siapa Dia, dan sebabnya karena ketidakpedulian mereka terhadap siapa Yesus Kristus.

Kita bisa lihat juga dari peristiwa bahkan kelahiran dari Yesus Kristus. Pada waktu orang Majus dari Timur datang untuk menengok bayi itu jauh-jauh, puluhan kilometer, berkilo-kilo atau nggak tahu berapa jauh itu ratusan kilo, pokoknya berhari-hari mereka menempun jalan untuk mencari bayi Yesus Kristus karena mereka melihat ada bintang di langit. Mereka datang ke Yerusalem karena dalam pemikiran mereka kalau raja lahir pasti di Yerusalem. Kalau raja lahir di Yerusalem, karena itu adalah ibukota dan pemerintahan raja di situ, tempat yang paling pantas adalah di dalam kerajaan. Makanya mereka datang kepada Herodes dan bertanya di mana bayi itu dilahirkan?

Lalu Herodes yang licik itu memanggil orang-orang ahli Taurat dan Farisi untuk bertanya di mana bayi itu dilahirkan. Bisa nggak mereka sebutkan? Mereka bisa sebutkan dengan tepat bayi itu lahir di Betlehem, Efrata. Tapi pertanyaan berikutnya adalah di mana orang Farisi dan Ahli Taurat itu? Alkitab mencatat yang pergi ke Betlehem, Efrata menyaksikan bayi itu lahir pertama adalah para gembala yang disebut sebagai orang berdosa, yang kedua adalah orang Majus dari Timur. Tapi tidak ada satu pemimpin agama yang ingin menelusuri silsilah Yesus Kristus, apa yang terjadi di malam hari itu, dan akibatnya apa? Mereka berkata nggak mungkin ada sesuatu yang baik dari Nazaret. Mesias pasti dari Betlehem, Efrata, bukan dari Nazaret. Kenapa? Karena mereka tidak meneruskan perjalanan hidup dari bayi itu dan mereka tidak mencari tahu dan memperdalam pengetahuan mereka akan Yesus Kristus.

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di sini Petrus berbicara mereka lakukan dosa itu karena mereka tidak mengetahui apa yang mereka lakukan. Dan kenapa ini menjadi satu yang penting? Karena di dalam hukum Yahudi atau hukum Musa, ada perintah yang menyatakan kalau engkau melakukan dosa yang tidak disengaja atau yang tidak kamu ketahui itu adalah satu dosa, maka ada kesempatan pertobatan. Tetapi ketika engkau tahu bahwa engkau melakukan satu dosa dan engkau tahu itu adalah dosa, dan engkau sungguh-sungguh dengan segenap hati melanggarnya, kebenaran itu dan perintah Tuhan, maka tidak ada lagi kesempatan untuk engkau diampuni melainkan engkau akan dihukum mati. Bapak, Ibu, bisa lihat dalam Bilangan 15.

Dosa yang tidak disengaja Bilangan 15:22, “”Apabila kamu dengan tidak sengaja melalaikan salah satu dari segala perintah ini, yang telah difirmankan TUHAN kepada Musa, yakni dari segala yang diperintahkan TUHAN kepadamu dengan perantaraan Musa, mulai dari hari TUHAN memberikan perintah-perintah-Nya dan seterusnya turun-temurun, dan apabila hal itu diperbuat di luar pengetahuan umat ini, tidak dengan sengaja, maka haruslah segenap umat mengolah seekor lembu jantan muda sebagai korban bakaran menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN, serta dengan korban sajiannya dan korban curahannya, sesuai dengan peraturan; juga seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa. Maka haruslah imam mengadakan pendamaian bagi segenap umat Israel, sehingga mereka beroleh pengampunan, sebab hal itu terjadi tidak dengan sengaja, dan karena mereka telah membawa persembahan-persembahan mereka sebagai korban api-apian bagi TUHAN, juga korban penghapus dosa mereka di hadapan TUHAN, karena hal yang tidak disengaja itu. Segenap umat Israel akan beroleh pengampunan, juga orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu, karena hal itu dilakukan oleh seluruh bangsa itu dengan tidak sengaja. Apabila satu orang saja berbuat dosa dengan tidak sengaja, maka haruslah ia mempersembahkan kambing betina berumur setahun sebagai korban penghapus dosa; dan imam haruslah mengadakan pendamaian di hadapan TUHAN bagi orang yang dengan tidak sengaja berbuat dosa itu, sehingga orang itu beroleh pengampunan karena telah diadakan pendamaian baginya. Baik bagi orang Israel asli maupun bagi orang asing yang tinggal di tengah-tengah kamu, satu hukum saja berlaku bagi mereka berkenaan dengan orang yang berbuat dosa dengan tidak sengaja. Tetapi orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya, sebab ia telah memandang hina terhadap firman TUHAN dan merombak perintah-Nya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahannya akan tertimpa atasnya.””

Jadi ada 2 kelompok orang, satu adalah orang yang lakukan suatu pelanggaran tanpa disengaja, satu yang melakukan pelanggaran dengan sengaja. Pertanyaan saya adalah orang yang melakukan pelanggaran tanpa sengaja, berdosa tidak? Dosa ya. Makanya ada korban yang harus dipersembahkan bagi orang itu. Alkitab ngomong kayak gitu. Jadi Bapak, Ibu, Saudara, jangan pikir kalau Bapak, Ibu, tidak mengerti firman, tidak perlu bertumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan dan kebenaran, Bapak, Ibu, bisa tenang-tenang karena tuntutan Tuhan akan dilewatkan dari Bapak, Ibu, atau Saudara? Jawabannya: tidak mungkin.

Orang yang tidak mau bertumbuh atau berpikir kalau diri dia tidak tahu banyak hal maka hukuman Tuhan akan berkurang atas diri dia, pertama dia pasti dituntut besar. Mungkin karena dia melakukan sesuatu tanpa dia ketahui, ada hal-hal yang dia lakukan, dosa yang dia lakukan mungkin karena dia tidak ketahui itu adalah satu perbuatan pelanggaran kepada Tuhan. Dia bersalah nggak? Tetap bersalah dan tetap akan dituntut oleh Tuhan dan dihukum oleh Tuhan walau mungkin tuntutannya tidak sebesar daripada orang yang tahu itu dosa dan melanggarnya dengan sengaja. Karena di sini dikatakan kalau dia terus mempersembahkan korban penghapus dosa bagi perbuatan tidak sengaja yang dia lakukan.

Tapi ada kemungkinan bersalah? Ada. Ada kemungkinan mendapatkan pengampunan? Ada kalau tidak keraskan hati dan dia datang dan bertobat kepada Tuhan. Tapi di sisi lain kalau ada orang yang tahu itu dosa, tapi tetap sengaja lakukan dosa, Alkitab berkata nggak ada pengampunan lagi untuk orang itu. Jadi kalau orang tahu Yesus adalah Juruselamat, kita telah menikmati segala kebaikan Tuhan, berkat Tuhan dalam hidup kita, anugerah Tuhan dalam hidup kita, kita tetap melanggar, meninggalkan, membuang iman kita, makanya di dalam Ibrani tidak ada lagi pengampunan bagi orang itu. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tetapi di dalam perjalanan saya percaya kita kalau dia tetapi pertahankan itu sampai mati, maka tidak ada lagi pengampunan bagi orang itu. Kalau dia bertobat dan kembali pasti tetap ada pengampunan bagi orang itu tetapi biasanya orang kaya gitu sulit untuk bertobat kembali.

Bagaimana dengan orang yang tahu dia harus bertumbuh tetapi membuat diri dia tidak mau bertumbuh? Itu bagaimana? Tahu harus belajar firman, tapi nggak mau belajar firman. Itu bagaimana? Jawab sendiri ya. Saya tetap percaya dia akan dituntut oleh Tuhan karena dia tahu kebenaran tetapi dia menolak mengaku. Nah Petrus berkata kalau orang-orang Yahudi itu adalah orang-orang yang melakukan suatu dosa, satu pembunuhan, penolakan kepada Yesus Kristus, menyangkali kalau Dia adalah Mesias, betul. Dosa bukan? Petrus bilang dosa, Petrus bilang itu adalah kesalahanmu, dari mana? Dari kata, “Kamu, kamu yang telah menyalibkan, kamu telah membunuh, kamu telah menolak Pemimpin kepada hidup itu, kamu telah menyerahkan Dia kepada Pilatus walaupun Pilatus ngomong Dia tidak bersalah dan tidak layak untuk dihukum mati, kamu yang melakukan itu.” Tetapi Petrus juga berkata saudara-saudara, kamu melakukan itu karena kamu tidak mengetahui kebenaran-kebenaran dan siapa Yesus Kristus.

Artinya satu sisi Petrus berkata kenapa Yesus bisa disalibkan? Itu adalah dosamu, tetapi di sisi lain tetap ada kemurahan dari Tuhan Allah terhadap tindakan berdosamu karena kamu melakukannya tanpa ada satu pengertian terhadap siapa Yesus Kristus. Berarti tetap ada anugerah dibalik dari pada tindakan dosa kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi itu kepada Yesus Kristus, Pemimpin kepada hidup itu dan ini membuat ada kemungkinan untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan dan diselamatkan di dalam Yesus Kristus. Jadi Petrus berkata walaupun kamu berdosa, tetap ada kemurahan Tuhan, yaitu apa? Pertama, kamu lakukan itu tanpa disengaja, kalau andaikata memang harus disengaja sudah nggak ada harapan lagi, contohnya siapa? Contohnya adalah, satu Yudas Iskariot, kedua Pilatus. Walaupun Bapak, Ibu bisa berkata juga pemimpin agama itu ya, tapi yang pasti tahu benar Yesus tidak berdosa secara hukum itu pertama adalah Yudas Iskariot, kedua adalah Pilatus. Yudas Iskariot itu bersama dengan Yesus selama 3.5 tahun, Yudas Iskariot mendengar tentang pengajaran Yesus Kristus tentang kebenaran dan Yudas Iskariot menjadi salah satu bersama dari 12 rasul yang lain bersama dengan Petrus mengaku kalau Dia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup itu. Tetapi dia kemudian menyerahkan Yesus Kristus karena rasa berdosa, rasa bersalah karena dia tidak bisa menekan rasa bersalah di dalam hati nuraninya yang kerap menyerahkan orang yang benar, Mesias yang Tuhan janjikan itu. Itu yang membuat dia akhirnya mengambil langkah untuk bunuh diri.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Pilatus juga seperti itu. Pada waktu dia mengadili Yesus Kristus, dia tahu sejak Yesus datang ke hadapan dia, orang-orang itu mau bawa Yesus karena dengki dan iri hati kepada Yesus Kristus. Pada waktu kemudian didesak lagi oleh orang-orang Yahudi itu, Sanhedrin itu, dan dia berkata bahwa mungkin aku akan bebaskan antara Yesus atau Barabas. Tapi mereka memilih Barabas untuk itu. Tapi pada waktu ditengah-tengah dia mengadili itu, istrinya mengutus orang datang ke hadapan Pilatus untuk berkata tolong kamu jangan ganggu orang benar itu karena akibat dari Dia aku menjadi susah sekali dalam mimpiku atau dalam hidupku.

Pilatus sudah diberikan kesempatan lagi untuk berkata kamu jangan bunuh orang itu, kamu jangan jahati Dia dari seizin Tuhan melaui istrinya karena Dia adalah orang yang benar itu. Dia tahu benar dan dia berusaha bebaskan Yesus saat itu, Alkitab berkata seperti itu. Tetapi karena desakan orang banyak yang berusaha untuk menghukum dia dan mengancam kedudukan dia sebagai seorang wali negeri dan akan berkata kalau engkau berpihak membebaskan Yesus, engkau artinya berpihak kepada Yesus Kristus, dan itu berarti engkau melawan pemerintahan Romawi atau Kaisar Tiberius pada waktu itu, maka engkau adalah seorang pemberontak. Akibatnya apa? Pilatus di dalam dilemanya dia demi menyelamatkan jabatan dia, posisi dia, dan dia tidak mau dikatakan sebagai pemberontak tapi di sisi lain orang Yahudi begitu mengekang diri dia dan akhirnya ambil satu baskom membasuh tangannya lalu berkata aku nggak ikut campur sama sekali. Itu adalah darah orang yang ditanggung oleh kamu dan keturunanmu, orang Yahudi berkata, “Ya kami menanggung itu.”

Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, betul tidak cuci tangan lepas tangan dari suatu kebenaran tidak berani ambil sikap untuk memutuskan mana yang benar yang salah itu membebaskan kita dari dosa? Alkitab bilang di dalam Kisah 3 ya Pilatus menyalibkan Yesus Kristus tetapi tetap berdosa. Dan menurut tradisi, dia mati bunuh diri sebab peristiwa ini, karena apa? Mungkin karena perasaan bersalahnya juga. Dia melawan yang benar, dia tahu benar, dia tetap berpihak kepada yang salah untuk menghukum yang benar, dan Tuhan tidak memberi kesempatan pengampunan lagi bagi orang ini. Tapi bagi orang Yahudi ini, mereka karena dihasut oleh pemimpin agama akhirnya mereka berteriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” karena ketidakpedulian mereka terhadap kebenaran, jadi tetap salah tapi ada kesempatan.

Namun ada bagian kedua yang Petrus angkat juga berbicara tentang kemurahan Allah yang membuat mereka memiliki kesempatan untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan yaitu di dalam ayat yang ke-18. Saya baca dari 17 juga ya, “Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita.”

Ayat 18 ini berkata kamu memang serahkan Dia, kamu memang berdosa, kamu memang jahat, tetapi jangan lupa kalau kamu adalah juga alat Allah untuk menyerahkan Yesus Kristus, karena apa? Karena Allah memang berkehendak untuk menyerahkan Yesus Kristus disalibkan demi untuk menebus dosamu. Artinya penyaliban Yesus satu sisi adalah satu tanggung jawab yang harus dipikul oleh orang-orang Yahudi yang menyalibkan Dia dan orang-orang Romawi dan pemimpin agama yang menyalibkan diri Dia, tetapi di sisi lain itu harus terjadi karena Perjanjian Lama berkata Yesus harus disalibkan. Dan saya percaya ini membuat ada satu kelegaan yang besar di dalam hidup orang-orang Yahudi ketika mereka mendengar ternyata itu rencana Tuhan, ternyata bukan karena kejahatan kami semata, tetapi memang Tuhan berencana Yesus harus disalibkan, kami memang betul seakan-akan membuat satu kesalahan yang Tuhan gunakan untuk bisa menyalibkan Yesus Kristus dan mati demi untuk menebus dosa kita. Dan ini membuat ada kesempatan untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita jatuh di dalam dosa, jangan pergi tinggalkan Tuhan, jangan jauhkan diri dari rumah Tuhan, karena di dalam rumah Tuhan ada kebenaran firman, di dalam rumah Tuhan engkau pasti masih bisa mendapatkan teguran dari Tuhan dan peringatan dari Tuhan dan mendengar cinta kasih dari Tuhan dalam hidupmu. Tapi kalau engkau menjauhkan diri, nggak ada lagi suatu kemungkinan engkau mungkin bisa kembali kepada Tuhan kecuali kau dapatkan anugerah lagi daripada Tuhan. Apalagi kalau engkau menolak Tuhan. Justru di kala kita ada di dalam dosa dan kebersalahan, kita harus makin dekatkan diri kepada Tuhan dan bukan menjauhkan diri dari Tuhan.

Kalau engkau memilih menjauhkan diri dari Tuhan, itu kayak kita memilih jalan hidup Yudas Iskariot dan Pilatus. Tapi kalau kita mendekatkan diri kepada Tuhan, tentunya di dalam anugerah Tuhan juga itu akan seperti Petrus yang dia tidak bunuh diri tetapi dia mendapatkan karunia yang dari Tuhan untuk tetap bisa bertahan hidup dan merenungkan kesalahan dia dan akhirnya mendapatkan anugerah dalam kehidupan dia dan kembali kepada Tuhan. Dan sebelum itu terjadi Yesus berkata aku berdoa bagi kamu kalau kamu sudah pulih, kuatkan saudaramu yang lain. Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa Yesus disalibkan? Karena Tuhan sudah menetapkan Yesus harus disalibkan selain daripada engkau berdosa menyalibkan Dia. Itu sebabnya bertobatlah, kembalilah kepada Tuhan, dan dosamu akan dihapuskan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, maksud Petrus apa bertobat dan kembalilah kepada Tuhan? Maksudnya begini ya, pada waktu kita baca Kitab Suci istilah bertobat, metanoia. Metanoia itu memiliki definisi kamu harus berubah di dalam pemikiranmu, yang sebelumnya seperti ini lalu berubah menjadi yang lain. Atau istilah lainnya adalah metanoia berarti kamu harus berbalik arah, kamu berjalan ke sana dan kamu harus berbalik arah menuju jalan yang satunya lagi, itu yang namanya metanoia. Nah pada waktu Petrus bilang kamu harus bertobat artinya apa? “Kamu memang punya pemikiran-pemikiran akan siapa Yesus sebelumnya, kamu bilang Dia adalah pembunuh, Dia adalah seorang pengkhianat, Dia adalah penghujat Allah, Dia pasti bukan Mesias, Dia adalah orang yang meninggikan diri-Nya seperti Allah menjadi seorang manusia biasa, Ia tidak mungkin bisa menyelamatkan kamu dari dosa, sekarang ubah cara pikirmu itu semua ganti dengan yang benar.” Yang benar itu siapa? Yesus adalah Hamba Allah, Yesus adalah yang kudus dan yang benar, Yesus adalah Pemimpin kepada hidup, Yesus adalah Kristus itu. Ubah cara pikirmu untuk melihat kepada kebenaran itu.

Dan walaupun memang metanoia juga berkata itu bukan hanya perubahan konsep, tetapi adalah perubahan hidup yang atau sikap yang dipengaruhi oleh perubahan konsep yang kita alami. Itu metanoia. Jadi di sini dikatakan mereka harus ubah segala cara berpikir mereka dan menerima Yesus yang adalah Tuhan atau Mesias yang Tuhan berikan dalam hidup mereka. Dan bukan berhenti di situ tapi harus datang kepada Allah atau harus datang kepada Kristus.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab mengatakan dukacita itu adalah sesuatu yang bisa muncul karena satu kesadaran akan kesalahan yang dia lakukan dalam hidup dia. Tetapi kalau dukacita itu hanya sebagai suatu kesadaran akan kesalahan dalam hidup dia atau dosa yang sudah dia lakukan, hal itu tidak akan membawa dia di dalam satu atau itu bukanlah suatu pengertian dia sudah bertobat, atau dia pasti akan diselamatkan dengan dia menyadari kesalahan dan berbalik arah.

Contohnya adalah yang tadi Yudas Iskariot, dia sadar dia salah, dikatakan dia berdosa tapi dia memilih untuk bunuh diri. Lalu contoh lain adalah mungkin Bapak, Ibu bisa lihat orang-orang yang dalam penjara. Pada waktu orang sebelum dimasukkan dalam penjara, ada orang yang tidak mau ngaku sebenarnya, tapi rata-rata adalah orang mengaku kan dia ada di dalam penjara, dia telah jahat, dia telah berdosa, dia telah melakukan kesalahan, masih lakukan lagi nggak? Kemungkinan masih. Jadi perasaaan dukacita terhadap satu perbuatan tertentu baik tidak? Baik, tetapi belum tentu itu adalah pertobatan.

Alkitab ketika berbicara berkenaan dengan pertobatan, Alkitab berkata dia dukacita itu pertama harus datang dari Allah, kalau itu datang dari Allah dia tidak berhenti di dukacita itu dan berhenti di dalam perubahan perbuatan itu saja tetapi dia harus datang kepada Tuhan Allah. Saudara bisa buka ini di dalam 2 Korintus 7:9. Saya baca dari ayat 8 ya, “Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena aku lihat, bahwa surat itu menyedihkan hatimu – kendatipun untuk seketika saja lamanya – namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikit pun tidak dirugikan oleh karena kami.”

Dukacita itu mungkin atau penyesalan itu adalah sesuatu yang baik tetapi kalau penyesalan itu tidak membawa kita ke dalam satu pertobatan dalam hidup karena suatu kesadaran bahwa ada Allah dibalik dari pada dukacita yang kita alami itu, maka itu bukan pertobatan. Bapak, Ibu, sadar ya. Jadi kalau kita lihat orang dari iman yang berbeda, mengaku atau bersaksi dulu saya penjahat, dulu saya penipu, dulu saya adalah orang-orang yang melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, baik secara hukum, masyarakat, atau agama lalu mereka berhenti tidak melakukan itu lagi. Pertobatan bukan? Bertobat menurut agama tapi bukan bertobat menurut Iman Kristen. Iman Kristen berkata kamu harus kembali kepada Allah yang benar, Allah yang benar itu adalah Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus, itu baru namanya pertobatan.

Dan Alkitab berkata Tuhan bisa menggunakan berbagai cara untuk menyadarkan orang supaya dia bertobat. Satu adalah dari merasa dukacita pada waktu Paulus melihat jemaat Korintus itu berdosa. Kalau kita baca Surat Korintus pertama dia betul-betul sampai kayaknya putus asa hadapi jemaatnya yang tidak mau menerima pengajaran dia, menolak diri dia sebagai rasul, rasul yang dirikan gereja Korintus justru ditolak oleh gereja Korintus sendiri karena ada guru-guru palsu di situ, dia dianggap mungkin lemah, dia dianggap mungkin orang yang plin plan, dia dianggap mungkin kurang kuasa, dia dianggap orang yang hanya meninggikan diri mungkin seperti itu, mungkin mau benar sendiri akhirnya ditolak oleh jemaat Korintus akhirnya dia dengan putus asa, dia tulis surat lagi kepada jemaat Korintus dan itu mendatangkan dukacita. Pada waktu dia mendatangkan dukacita kepada jemaat Korintus, Paulus sempat menyesal menulis itu tapi akhirnya dia sadar itu ternyata itu dari Tuhan agar mereka bertobat dari pada dosa mereka dan kembali pengajaran Paulus.

Jadi dukacita bisa dipakai oleh Tuhan membawa kepada suatu pertobatan. Tetapi Alkitab juga berkata ada cara lain Tuhan untuk membawa seseorang ke dalam pertobatan, misalnya saudara bisa lihat di dalam peristiwa Khorazim dan Kapernaum, itu di dalam Matius 11:21. Yesus mengecam beberapa kota kita baca dari ayat 20 ya, “Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya: “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini.”

Di sini dikatakan apa yang mendorong seseorang itu bisa bertobat? Pertama, adalah suatu dukacita yang berasal dari Tuhan itu bisa menolong orang untuk bertobat. Tapi hal lainnya adalah mungkin karena mereka menyaksikan suatu kuasa Tuhan, supranatural Tuhan, itu membawa mereka di dalam suatu pertobatan. Kalau saudara perhatikan ini bisa antara dua ya. Ketika Yunus diutus oleh Tuhan ke Niniwe yang begitu jahat, yang suka menganiaya, menyiksa orang, dan bahkan menyiksa dan membunuh orang-orang Israel umat Tuhan, di situ Yunus pergi dan memberitakan Tuhan akan menunggangbalikkan Kota Niniwe dalam waktu 40 hari lagi dan dia pergi setengah hari perjalanan. Lalu berita itu kebenaran itu, ini yang saya ngomong bisa nggak membentuk pengertian akan kebenaran yang Tuhan akan lakukan dan juga penghakiman yang akan Tuhan datangkan kepada Niniwe itu mengakibatkan suatu pertobatan di dalam hidup Niniwe, atau mungkin kalau mau anggap Yunus itu bertobat akibat dari pada dia dimasukkan ke dalam perut ikan dia tetap hidup di situ dan dia dimuntahkan lagi setelah hari ketiga itu membuat dia balik pemikirannya tidak mau melarikan diri lagi tapi pergi ke Niniwe untuk memberitakan suatu kebenaran tentang apa yang akan Tuhan lakukan pada Niniwe, kita bisa bilang pertobatan juga ya. Tetapi tindakan Allah sendiri kepada orang-orang yang berdosa, Allah menyatakan diri Dia kepada orang berdosa baik itu melalui kebenaran-Nya atau melalui mujizat yang Dia lakukan itu bisa dipakai menjadi alat orang bertobat dari dosanya selain daripada suatu perasaan dukacita yang timbul di dalam hati orang tersebut.

Selain daripada itu kita bisa lihat juga di dalam Roma 2:4, “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” Cara lain yang Allah gunakan untuk mepertobatkan orang adalah dengan menyadarkan orang akan kemurahan Dia, kesabaran Dia, kebesaran dan kelapangan hati Tuhan. Kalau kita bandingkan dengan surat 2 Petrus tentang hari Tuhan di situ, Petrus berkata seperti ini, ditengah-tengah kami ada orang-orang Kristen yang hidup seperti orang dunia. Makan dan minum seperti itu, tidak bertobat dari dosanya lalu berkata seperti orang dunia berkata kalau lebih baik kita makan dan minum karena hari yang saat ini sama dengan hari-hari sebelumnya dan itu akan sama seperti hari-hari yang akan datang. Di mana janji penghakiman Tuhan? Nggak ada kan janji penghakiman Tuhan bahwa Tuhan akan menghukum orang-orang yang berdosa karena hari berlalu beribu-ribu tahun masih sama seperti itu berarti itu adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, jangan pernah dasarkan kebenaran berdasarkan pengalaman ya. Jangan dasarkan kebenaran berdasarkan apa yang kau lihat dengan matamu mungkin bisa salah lihat, tetapi ketika engkau mendasarkan kebenaran harus atas dasar kebenaran Alkitab. Petrus kemudian berkata kamu tahu tidak bagi Tuhan 1000 tahun itu sama seperti 1 hari, 1 hari itu sama seperti 1000 tahun. Kamu tahu tidak di zamanmu itu apa yang terjadi? Seluruh manusia yang datang berapa juta binasa karena oleh air bah dan hanya beberapa orang yang diselamatkan, itu berarti ada penghakiman Tuhan. Tapi kenapa Tuhan tidak mendatangkan penghakiman itu? Karena Tuhan bersabar kepada dosamu, kenapa Dia bersabar kepada dosamu? Apakah karena Dia kompromi kepada dosamu? Bukan, karena Dia mengasihi engkau dan Dia ingin engkau bertobat dari dosamu dan kembali kepada Tuhan sehingga engkau tidak dibinasakan.

Kita buka 2 Petrus 3:4, Bapak, Ibu nanti bisa baca sendiri ya, “Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, dan bahwa oleh air itu, dunia yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik. Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”

Kenapa Tuhan tidak segera mendatangkan penghakiman-Nya? Kenapa Tuhan tidak segera datang untuk kedua kalinya? Jawabannya adalah kalau Dia datang kedua kali mungkin Dia tidak akan menemukan iman diantara mungkin banyak orang Kristen, sehingga Dia akan jatuhkan penghakiman itu. Dia justru menunda kedatangan itu supaya engkau sadar, bangun dari dosamu, dan bertobat dari dosa. Tapi kita kebalik ya. Kita pikir kalau Tuhan belum datang, nggak ada satu tekanan dalam hidup kita, segala sesuatu berjalan baik dan lancar itu berarti waktu saya masih panjang. Saya bisa menggapai semua mimpi saya, cita-cita saya, harapan saya, semua yang saya ingin lakukan saya bisa penuhi itu dan saya bisa kejar, nanti saja pertobatan waktu saya sudah menjelang usia tua karena hari ini sama seperti hari kemarin-kemarin dan sama seperti hari yang lalu dengan dasar kebenaran itu kita beriman hari besok pasti baik baik baik baik dan kita masih memiliki hari yang panjang sehingga itu tidak membawa kita ke dalam pertobatan.

Padahal Tuhan berkata kita nggak pernah tahu lho hari kita itu berapa lama. Tuhan berkata kita tidak pernah bisa tahu kapan Tuhan akan mematikan kita dan kita juga tidak pernah tahu kapan penghakiman Tuhan terjadi dalam hidup kita. Mungkin hari ini tapi kalau saya sudah ngomong kaya gitu mungkin nanti nggak. Tapi bisa jadi kapanpun, mungkin besok, mungkin lusa, kita nggak ngerti tapi satu hal yang pasti adalah di dalam Surat Petrus sudah katakan Tuhan datang, entah Petrus atau Paulus, Tuhan datang ketika engkau menjalani hari harimu seperti biasa makan dan minum, kawin dan mengawinkan, di situ hari Tuhan datang. Jadi nggak ada orang yang tahu.

Dan pada waktu kita melihat keadaan seperti ini, saya berdoa kita beda dengan orang dunia ya. Orang dunia berpikir bahwa hari penghakiman masih lama atau tidak mungkin ada hari penghakiman tetapi anak Tuhan harus melihat kesempatan itu sebagai kesempatan saya untuk bertobat, saya harus kembali kepada Tuhan, kalau saya berbuat salah, saya harus kembali kepada Tuhan? Kapan? Bukan besok, bukan lusa, sekarang saya harus kembali kepada Tuhan karena Tuhan masih memberikan satu hari dan satu hari yang ada itu adalah tanda kesabaran Dia untuk saya mau bertobat dari dosa saya. Tuhan bisa bukakan kesabaran Dia, waktu yang lama, berkat yang Dia berikan dalam hidup kita untuk mau menyadarkan kita untuk bertobat. Yesus pernah berbicara kamu harus sama seperti Bapa-Ku yang di sorga, yang mengasihi orang yang baik dan orang yang jahat dengan cara Bapa-Ku memberikan hujan dan matahari kepada orang yang baik dan orang yang jahat.

Saya percaya itu bukan hanya satu berkat untuk ini, untuk supaya kita bisa menikmati hidup ini dan menjalani hidup ini dengan baik, tetapi itu adalah satu berkat untuk kita bisa melihat ada kemurahan Allah di dalam hidup kita, ada belas kasihan Allah, ada berkat Allah, ada Allah yang suci dalam kehidupan kita, yang terus menopang hidup kita, supaya kita tidak hidup di dalam dosa secara terus menerus. Termasuk ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, kenapa Tuhan tidak langsung bunuh saja dua orang itu, mati? Kenapa Dia biarkan hidup selama ini, dan punya keturunan sampai empat ribu-an tahun dan seterusnya? Supaya, Mesias lahir, supaya ada orang-orang yang diselamatkan, bertobat daripada dosanya. Jadi, kesabaran Tuhan jangan dianggap enteng, jangan dipermainkan dan jangan dianggap itu adalah kesempatan kita untuk berbuat dosa, tapi harus kembali kepada Tuhan dalam pertobatan.

Yang berikutnya adalah Tuhan bisa menyadarkan orang untuk bertobat melalui penghakiman. Kita buka dari Kisah Rasul 17:30-31, ini khotbah Paulus di Athena, “Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat. Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.”

Kenapa harus bertobat? Karena ada hari penghakiman. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, misalnya ambil contoh kaya gini ya, anak-anak kita melakukan satu kesalahan yang betul-betul pantas untuk membuat kita memukul dia atau menghukum diri dia. Lalu sebagai orang tua dipukul kaya gitu, tujuannya untuk apa? Saya percaya orang tua yang benar tujuannya adalah supaya anak tidak mengulangi lagi kesalahan dia. Itu didikan, cambukan adalah bagian daripada didikan dan disetujui oleh Alkitab. Tapi, di sisi anak, dia akan melihat, setiap kali dia lakukan kesalahan dia akan dapat cambuk, setiap kali melakukan kesalahan dapat cambuk, cambukan itu bisa menjadi satu peringatan bagi diri dia, “Saya tidak boleh melakukan kesalahan, karena ketika saya melakukan kesalahan, sakit lho, ada hukuman yang saya terima dalam hidup saya, dari orang tua saya yang merupakan wakil Tuhan.”

Jadi hukuman yang benar, itu bertujuan untuk membawa kepada pertobatan dan adanya satu kesadaran akan satu hukuman yang akan dialami seseorang itu akhirnya membawa dia menjaga diri dan tidak hidup di dalam dosa, yang akibatnya dia dihukum oleh Tuhan. Ini maksud tujuan Tuhan ketika memberitakan tentang Injil, salah satu bagian daripada pemberitaan Injil, kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, itu bukan hanya berkat dan berkat, bukan kesempatan dan kesempatan, tetapi di juga peringatan akan penghakiman yang Tuhan akan berikan bagi manusia yang berdosa, yaitu ketidakadanya kesempatan kedua lagi untuk engkau bertobat kalau hari penghakiman itu tiba atas hidup mu, kau pasti dihukum kekal selama-lamanya di dalam neraka. Dan kesadaran ini harusnya membawa kita di dalam suatu pemikiran, nggak enak lho dalam neraka yang dibuang oleh Tuhan, tidak ada suatu kebahagiaan, tidak ada kasih, yang ada mungkin penyesalan demi penyesalan demi penyesalan akan apa yang kita lakukan dalam hidup kita, termasuk kita menolak Kristus dalam hidup kita. Enak nggak hidup dalam penyesalan? Saya yakin nggak enak. Tapi, kalau engkau menolak, salah satu bagian dari hukuman Tuhan dalam neraka mungkin engkau akan menyesal sampai waktu yang tidak terhingga hidupmu atas dosamu, kejahatanmu, kegagalanmu, tapi terutama penolakan terhadap Tuhan Yesus Kristus.

Salah satu cerita yang Yesus katakan kepada kita mengenai orang kaya dan Lazarus yang miskin, pada waktu orang kaya mati dia masuk ke dalam neraka, Lazarus yang miskin mati masuk ke dalam surga di pangkuan Abraham, maka orang kaya itu penuh dengan penderitaan dikatakan dia haus dan dia ingin Lazarus meneteskan satu tetes air ke mulut dia, tapi Abraham bilang tidak bisa, ada jurang pemisah yang lebar sehingga Lazarus yang dari surga nggak mungkin masuk neraka, kamu dari neraka nggak mungkin masuk surga, nggak ada kesempatan kedua bertobat untuk orang yang sudah mati.

Tapi, kemudian orang kaya ini bekata demikian, “Bapa Abraham, di dalam dunia masih ada saudara ku di situ, tolong dong suruh Lazarus ke dunia, kasih tahu mereka kalau jangan ikuti jejak saya. Saya di dalam neraka nggak enak sekali, tolong dong supaya mereka mengerti kebenaran, supaya mereka bertobat dan kembali kepada Tuhan.” Abraham bilang, “Sori ya, kalau di dunia itu ada hukum Taurat Musa, ada firman Tuhan, kalau mereka tidak mau terima Taurat, walaupun ada orang mati bangkit dari kematian mereka tetap tidak akan percaya dan bertobat.” Jadi, yang bawa pertobatan itu pengenalan akan kebenaran Tuhan, mujizat itu bisa dipakai tapi harus ada kebenaran yang menyertainya, tapi di sisi lain, saya juga mau katakan, orang di dalam neraka itu menderita sekali. Orang dalam neraka mungkin mendoakan, mengharapkan, kita yang hidup dalam dunia tidak mengikuti jejak dia dalam dunia. Sadar akan penghakiman, itu bisa membawa kita di dalam pertobatan.

Makanya kenapa Petrus di dalam khotbahnya menyadarkan tentang dosa, menyadarkan akan kejahatan, dan bahkan di dalam khotbahnya kalau Bapak, Ibu lihat, Yesus itu siapa di dalam ayat yang ke 22 dan 23, “Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu. Dan akan terjadi, bahwa semua orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibasmi dari umat kita.”

Jadi, khotbah Petrus, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu juga mencakup yang tadi kita bahas, berkenaan dengan apa yang membawa orang kepada pertobatan. Salah satunya adalah, Petrus berkata, kalau kamu tidak menggunakan Yesus Kristus, kamu pasti dihakimi. Ada penghakiman itu, karena Dia adalah Pimpinan kepada hidup itu. Selain daripada ada bagian lain yang Petrus juga katakan di sini, kenapa kita perlu bertobat, secara cepat saja ya, pertama adalah karena dengan bertobat, kita punya dosa dihapuskan, Saudara bisa lihat itu di dalam ayat yang ke 19, dosa kita dihapuskan, ini saya nggak perlu jabarin lebih lanjut, sudah banyak bicara ya, Yesus adalah satu-satunya jalan ketika menghapuskan dosa, Saudara boleh bandingkan dengan Kolose 2 ya, saya harap Saudara biasakan mencatat ya di dalam kebaktian.

Kolose 2:13-15, “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.” Ayat 14, “dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib.”

Pada waktu kita berbicara berkenaan dengan dosa, Paulus berkata yang menuntut engkau adalah perintah Tuhan, Taurat, itu yang menjadi dasar didikan Tuhan. Taurat yang ada di dalam hati semua manusia baik Kristen dan bukan Kristen, Roma pasal yang ke-2. Dan itu akan menjadi dasar kalau engkau datang kepada Kristus, engkau tidak, tuntutan dosa itu sudah dipakukan di atas kayu salib, sehingga engkau tidak akan lagi dituntut berdasarkan Taurat Tuhan karena engkau hidup di dalam kasih karunia Tuhan di dalam Yesus Kristus. Kenapa bisa begini? Karena dosa mu sudah dipakukan di kayu salib. Itu yang dasar pertama kenapa kita perlu mengalami pertobatan.

Lalu yang kedua adalah di dalam ayat yang ke 20, “Agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan.” Waktu kelegaan itu bicara apa? Ada beberapa pengertian. Pertama adalah mungkin kita bisa lihat dari peristiwa ketika Yesus berkata pikulah kuk, datanglah kepada-Ku, dan pikulah kuk-Ku itu, ya, Saudara boleh buka di dalam Matius 11:28, dari ayat 25-30 ini bicara tentang, sebelumnya bicara tentang penghakiman Tuhan bagi manusia berdosa, dan usaha manusia untuk membenarkan diri dengan perbuatan dia, lalu di dalam ayat 25 dikatakan, “Pada waktu itu berkatalah Yesus: ”Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” Lalu di dalam ayat yang ke 29, “Pikullah kuk yang Ku pasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Ku pasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.””

Jadi waktu berbicara dengan kelegaan, kelegaan dari apa? Kelegaan daripada tuntutan agama, kelegaan daripada satu kita usaha menjalankan menjalani tuntutan keagamaan tapi tetap tidak bisa menghapus dosa kita, sehingga ketika kita datang kepada Kristus, bisa memberikan satu kelegaan bagi diri kita daripada segala hal ritual keagamaan kita jalankan tapi tidak pernah bisa memberikan satu perasaan dibenarkan oleh Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di dalam Kristus ada kelegaan, bukan hanya bicara tentang satu pengampunan dosa. Tapi sungguh-sungguh ada kelegaan, ada pengampunan, di dalam Kristus ada pengampunan bagi hidup kita. Ada satu lembaga yang mengurusi orang-orang yang sakit jiwa ya, atau orang-orang yang stres, pernah berbicara kepada John Stott, ketika John Stott itu di sana, tahu tidak, saya lupa berapa persen, kalau nggak salah 50% ya, 50% daripada orang-orang yang ada di dalam tempat ini sebenarnya sudah bisa pulang kalau mereka mengerti mereka diampuni, ada mereka diampuni hidup mereka.

Saya pikir kesadaran, atau pengertian, pemikiran, bahwa kita tidak pernah mendapatkan satu pengampunan, tidak ada kemungkinan diampuni itu memberikan satu beban yang berat dalam hidup kita. Dan ini juga ketika saya di KTB Bapak dan Ibu, bicara tentang pentingnya, berbicara tentang keterbukaan di dalam relasi pernikahan, saya bilang kaya gini, kenapa Alkitab berkata Adam dan Hawa diciptakan telanjang? Karena ketelanjangan itu bukan berbicara soal tidak ada rasa malu karena kita tidak berpakaian, tetapi juga berbicara berkenaan dengan tidak ada rasa malu di dalam membuka diri kita kepada pasangan kita, baik dalam apa yang ada di dalam pikiran kita, perasaan kita, apa yang kita doakan, apa yang kita pentingkan, apa yang kita kuatirkan dan segala sesuatu.

Tuhan ingin kita bangun di dalam relasi keterbukaan ini antara suami dan istri. Tapi di balik keterbukaan itu, ada bahaya. Bahayanya adalah keterancaman. Enak nggak orang tahu siapa diri kita sepenuhnya? Saya percaya nggak enak. Kalau sampai bilang kaya gini ya, manusia itu subjek, tetapi maunsia yang subjek itu suka membuat manusia yang lain menjadi objek. Sehingga dia menjadi objek itu menjadi suatu sorotan daripada subjek ini. Dan ini tidak enak sekali. Dan itu membuat dia berkata, karena itu Tuhan tidak boleh ada, karena apa? Kalau Dia adalah subjek, saya adalah objek, itu berarti Dia akan melihat diri saya terus menerus, dan itu berarti ancaman dalam hidup saya.

Contohnya kaya gini ya, saya berdiri sendirian di sini, Bapak, Ibu ada berapa puluhan orang, itu semua mata nyorot ke saya. Makanya banyak orang yang berdiri di depan itu keringat dingin, gelisah, takut, karena semua mata ada berapa puluhan orang itu semua punya penilaiannya sendiri terhadap diri saya, satu orang ini. Saya menjadi objek Bapak, Ibu semua. Nah dia bilang Tuhan seperti itu, kalau Tuhan itu ada, Dia akan lihat, dan semua orang akan dilihat secara detail. Nah ini kalau itu mau tarik, tarik ke dalam penghakiman itu yang kenapa membuat dia menolak keberadaan Tuhan, karena dia lihat, kalau Tuhan lihat diri dia secara detail itu berarti semua perbuatan dosa dia akan dicatat oleh Tuhan, dan itu akan semua diperhadapkan, dibuka di hadapan Tuhan, sehingga dia akan dihakimi. Dan karena dia dihakimi, dia tidaknyaman dengan penglihatan dari Tuhan itu, maka dikatakan Tuhan tidak ada. Tuhan tidak boleh ada. Orang Kristen gimana? Orang Kristen harusnya ketika kita membuka diri, dan di dalam keterbukaan itu yang bisa berakibat kepada terancamnya diri kita, justru di situ kasih harus dinyatakan. Kenapa Tuhan mengasihi kita? Karena kita baik? Bukan. Karena Tuhan menyatakan kasihnya di dalam pengenalan diri, akan diri kita yang penuh dengan kekurangan dan dosa, itu orang Kristen.

Kita di dalam relasi keluarga juga harus seperti itu. Ketika suami melihat istri yang membuka segala kelemahan diri dia, bahkan ada yang ngomong, istri itu seperti lampu sorot bagi suaminya, yang melihat segala kelemahan, dan dia akan ungkit itu, bahkan sejarah-sejarah masa lalu sepertinya tidak ada pertobatan itu akan diungkit semua bicara tentang siapa diri kita, itu nggak nyaman sekali. Mungkin juga suami bisa melakukan yang sama kepada istrinya, ketika mereka hidup bersama, makan, tidur, satu rumah, satu ranjang, apapun yang dilakukan akan dilihat semua begitu, itu bisa menjadi satu hal yang tidak menyenangkan. Tetapi pada waktu hal itu tidak menyenangkan, ada dua kemungkinan, pertama adalah engkau belajar mengasihi, engkau mengasihi seperti Kristus mengasihi kita, dan itu harusnya Kristen. Atau kedua, engkau akan menceraikan dia. Dan Saudara, kenapa perceraian itu begitu menyakitkan sekali dan begitu merusak sekali? Sebabnya karena yang menceraikan engkau adalah paling kenal engkau dan engkau paling mengenal diri dia. Nggak ada orang lain yang mengenal kita selain dari pasangan kita dan Tuhan dan diri kita. Mungkin kalau mau diurutkan, Tuhan, diri kita, pasangan kita. Nah itu sebabnya kehidupan perceraian itu begitu menghancurkan sekali.

Jadi, pada waktu kita datang kepada Kristus, Kristus menyatakan ada kemungkinan diampuni nggak? Pasti ada pengampunan itu. Dan kalau kita datang kepada diri Dia, di dalam Kristus, di dalam segala persoalan yang kita alami dalam hidup kita, saya yakin ada kekuatan di dalam menghadapinya, dan juga akan ada solusi di dalam menghadapnya kalau kita sama-sama membuka diri dan takut akan Tuhan. Tuhan sungguh-sungguh bisa memberikan satu kelegaan dalam hidup kita, bukan hanya bicara tentang kematian, satu kehidupan yang lepas daripada hukuman kekal, tetapi juga ketika kita mengalami satu kesulitan dalam dunia ini, makanya pemimpin daripada rehabilitasi itu berkata kepada John Stott, kalau andaikata mereka mengerti mereka diampuni, sebagian dari mereka minimal sudah bisa pulang kepada rumah mereka masing-masing. Memberikan kelegaan.

Dan bicara tentang kelegaan penghakiman, Alkitab berkata itu diberikan kepada Yahudi dan non-Yahudi di dalam Kristus. Tetapi juga ada yang menyatakan kelegaan di sini berbicara tentang khotbah yang ditujukan kepada orang Israel. Bukankah di sini Petrus khotbah di Bait Allah? Kalau Petrus khotbah di Bait Allah, berarti pendengarnya adalah orang-orang Yahudi. Dan ketika dia berbicara mengenai kelegaan, itu berarti mereka dilepaskan dari satu kekekalan hukuman Tuhan atas hidup mereka kalau mereka kembali kepada Kristus, dan bertobat kepada Kristus, dan di dalam Roma 11 dikatakan ada sisa Israel yang akan diselamatkan. Dan kalau mereka datang kembali dan bertobat, di situ mereka akan dibebaskan dari dosa kepada Kristus.

Lalu yang ketiga adalah, di dalam ayat 20 juga, kenapa kita harus bertobat? Karena Yesus akan datang kembali. Yesus akan datang kembali. Artinya adalah Dia akan datang, dan Alkitab setiap kali berbicara datang kembali, Dia akan datang sebagai Hakim. Dan di bawahnya Saudara bisa lihat, Petrus mengutip perkataan Musa, lalu di dalam perkataan Musa yang menubuatkan Yesus akan datang seorang nabi seperti dirinya akan datang, itu bukan Muhammad, tapi Yesus Kristus yang akan datang, yang memang sudah digenapi di dalam pribadi Yesus Kristus, maka itu berarti ketika Tuhan berjanji sesuatu akan datang berkenaan dengan Nabi, maka Dia pasti datang. Dan Dia sudah datang pertama kali, lalu Alkitab berkata Dia akan datang kedua kali, Dia pasti akan datang kedua kalinya. Saudara jangan pernah ragukan itu. Dia pasti akan datang kedua kalinya.

Kenapa kita doa Bapa Kami, ketika kita doa Bapa Kami kita ketika, “Datanglah kerajaan-Mu,” itu bukan bicara kerajaan di dalam dunia ini saja, tetapi datangnya Dia yang ke dua kalinya, Dia pasti akan datang. Dan pada waktu Dia datang, Petrus berkata, ada dua kemungkinan, kamu didamaikan, kamu dapat kelegaan di dalam Kristus, atau kamu akan dibasmi dan dibinasakan. Khotbah yang keras ya? Saya percaya itu khotbah yang keras sekali. Tapi Saudara tidak akan pernah mungkin menghargai kasih karunia Kristus, dan tidak akan sungguh-sungguh mengalami satu pertobatan yang sungguh-sungguh dan sejati kalau Saudara tidak mengerti berapa besar ancaman yang akan Saudara alami ketika engkau berhadapan dengan Hakim yang adil itu, yaitu Yesus Kristus.

Dan terakhir, Petrus bilang, bahwa kebenaran adalah satu kebenaran yang diberikan kepada engkau dulu orang Yahudi, baru kepada bangsa-bangsa lain, tetapi orang-orang Yahudi menolak itu, kita bisa lihat itu nanti di dalam pelayanan Petrus, Paulus, bahwa Paulus selalu akan datang kepada orang Yahudi terlebih dahulu, tapi kemudian sebagian besar dari mereka menolak kebenaran itu, maka Paulus mulai memberitakan kebenaran Injil kepada bangsa yang lain, makanya Injil bisa sampai pada kita saat ini. Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ini adalah inti khotbah penginjilan yang penting. Unsur-unsur di dalam bagian ini Bapak, Ibu bisa pelajari, dan jangan berusaha untuk meng-kompromikan apa yang Kitab Sucinyatakan. Karena itu tidak akan mendatangkan kebaikan. Saudara harus belajar menyatakan apa yang Kitab Suci nyatakan tanpa diskon, tanpa ditambahkan. Dan jangan membiasakan mendiskon atau menambahkan sesuatu kepada kebenaran Kitab Suci. Karena dari situ Tuhan ingin kita menyaksikan Dia apa adanya, kebenaran dari situ kuasa Tuhan dinyatakan, cinta kasih Tuhan dinyatakan, kebenaran Tuhan dinyatakan kalau engkau mengkompromikan itu, maka orang justru akan menghina Tuhan dan imanmu.

Kemarin di KTB Pengurus Pemuda, Kevin tanya ke saya kayak gini, “Pak, gimana kita hadapi orang-orang yang benci kekristenan? Dia nggak nolak Yesus sih, tapi dia benci agama Kristen, karena agama Kristen itu adalah satu agama yang sebenarnya dengan sejarah yang tidak terlalu baik. Contohnya pada waktu masuk ke Indonesia, menjajah, menipu, kaya gitu, membunuh, dan meraup segala keuntungan dari bangsa ini untuk diri mereka.” Saya bilang, kita harus bedakan dua hal ya, antara kesaksian hidup dari orang Kristen itu atau perbuatannya dan kebenaran dari Kitab Suci ini sendiri. Dan kita tidak boleh menjadikan yang ke dua itu untuk mengatakan yang ini tidak benar. Ini adalah satu kebenaran objektif yang tetap harus kita terima sebagai satu kebenaran yang kita beritakan walaupun kita penuh dengan cacat dan kekurangan.

Tetapi saya juga ngomong ke dia, saya ngomong ke dia seperti ini, “Kamu tahu tidak orang itu lihat kesaksian hidup kita, orang itu lihat bagaimana kita hidup berdasarkan Kitab Suci, apakah kita mengkompromikan ini, dengan cara hidup di dalam dosa, dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran Kitab Suci atau tidak? Pada waktu kita melakukan hal-hal yang jahat, yang berdosa dalam kehidupan kita, mereka nggak tahu Kitab Suci kita ngajarin itu atau tidak. Tapi yang mereka lihat adalah hidup kita yang jahat dan berdosa, dan itu membuat mereka berkesimpulan bahwa pengajaran agamamu itu salah.”

Makanya di dalam agama-agama banyak sekali orang berkata, “Agama itu semuanya baik, yang salah itu adalah pribadi-pribadinya kok.” Setuju nggak? Saya nggak setuju. Satu sisi benar, pribadinya bermasalah, tapi saya nggak setuju kalau semua agama itu sama. Karena Alkitab berkata inilah firman Tuhan, yang bersumber dari Tuhan Allah sendiri. Dan Saudara kalau berani bedah, dengan satu prinsip yang sama, dengan satu standar yang sama, metode yang sama, apple to apple, saya yakin ini akan muncul sebagai satu kebenaran yang ada di atas semua Kitab Suci agama yang lain. Ini adalah satu kebenaran tetapi hidup kita yang suka menambahi segala sesuatu kepada Kitab Suci dan mengurangi kebenaran Kitab Suci itu akan membuat orang tersandung datang kepada Kristus. Ingat itu baik-baik.

Saudara berdoa ingin suamimu datang ke Tuhan, ingin istrimu datang ke Tuhan, ingin anakmu datang ke Tuhan, ingin orang tuamu datang ke Tuhan, baik tidak? Baik. Tapi Saudara, hidupmu mencerminkan kalau ini adalah kebenaran yang bisa di kompromi atau tidak. Kalau engkau hidupnya mengkompromikan ini terus menerus, bagaimana mereka bisa berkata ini standar kebenaran, ini wahyu Tuhan, yang harus kita taati. Nggak mungkin, karena engkau sendiri nggak hargai perkataan Tuhanmu dan engkau tidak hidup untuk mendengarkan Yesus Kristus. Itu adalah perkataan yang keras, tapi di balik itu ada penuh cinta kasih dan kemurahan, ingin Saudara bertobat, ingin Saudara kembali kepada Tuhan, ingin keluargamu kembali kepada Tuhan, ingin orang-orang yang engkau cintai kembali kepada Tuhan. Tapi mereka butuh satu saksi mata untuk menyaksikan hidupmu yang betul-betul telah diperbaharui di dalam Kristus dan mengalami pertobatan yang kembali kepada Tuhan Yesus. Kiranya Tuhan memberkati kita, mari kita masuk ke dalam doa.

Kami kembali berdoa bersyukur Bapa untuk kebenaran-Mu, kiranya Engkau boleh berkati setiap anak-anak Mu, ketika kami mendengarkan firman, mendengarkan Injil, mendengarkan cerita kebenaran penebusan Kristus dan diingatkan kembali akan dosa kami. Biarkan kami bukan hanya menjadi satu pengetahuan bagi kami tapi sesuatu yang merubah hidup kami, karena di balik itu ada kuasa dari Tuhan yang menyadarkan dosa, dan mempertobatkan kami untuk kembali kepada Tuhan. Beri kami kelembutan hati ya Bapa, beri kami suatu kelembutan hati untuk mau datang kepada Engkau, dan merendahkan diri kami di hadapan Engkau, dan mengakui dosa kami, bertobat dari dosa dan kembali kepada Engkau di dalam Kristus Yesus. Dan biarkan kami juga memiliki suatu kehidupan yang tidak suka mengkompromikan firman dan kebenaran-Mu, mengurangi atau menambahkannya, sehingga kami boleh sungguh-sungguh memiliki kehidupan seperti yang Engkau nyatakan dan dari situ kami boleh menjadi berkat dan membawa orang untuk melihat kepada kebenaran-Mu, berdasarkan segala kebenaran yang Kitab Suci nyatakan bagi kami dan melalui kehidupan kami kepada orang yang belum percaya kepada Kristus. Dalam nama Tuhan Yesus, yaitu Tuhan dan Juru Selamat kami yang hidup kami mau berdoa. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *