Allah Membimbing Bangsa-bangsa, 26 Januari 2020

Gal. 3:22-29

Pdt. Jimmy Pardede, M. A., M.Th.

Saudara sekalian, di dalam Surat Galatia ada pertentangan antara orang-orang yang Kristen di dalam tradisinya Paulus dengan orang-orang yang Kristen di dalam tradisi Yahudi. Saudara, tidak heran kalau ini terjadi karena sebelum Paulus ditugaskan untuk memberitakan Injil ke seluruh daerah misinya, banyak orang yang menjadi Kristen itu adalah orang Yahudi. Dan tidak aneh kalau orang Kristen itu adalah Yahudi, karena Kekristenan itu adalah kelanjutan dari iman Yahudi. Orang Kristen tidak bisa memisahkan Kristus dari Yudaisme, orang Kristen tidak bisa memisahkan Kristus dari tradisi Israel. Yesus dinubuatkan di dalam Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama adalah Kitab Suci orang Israel. Yesus adalah Mesias bagi Israel. Tema yang digunakan di dalam janji tentang Mesias adalah Raja Israel. Dia adalah raja Israel, Dia adalah keturunan Daud, dan Dia adalah orang yang menggenapi janji Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Yesus adalah Sang Bait Suci, seperti yang dikatakan Yohanes, dan bait suci adalah tema di dalam Israel. Jadi Saudara tidak bisa pisahkan antara Kekristenan dengan Israel. Nah perpisahan antara gereja dan orang Kristen dengan Israel menjadi bentur itu terjadi lebih sangat banyak di abad ke-2. Di dalam abad ke-2 banyak orang Kristen berusaha menginjili orang Yahudi dengan cara menyatakan bedanya Kristen dengan Yahudi. Yahudi agama yang palsu, yang jelek, yang kafir, yang salah; Kekristenan adalah agama satu-satunya yang benar. Maka orang Kristen menjadi sangat anti dengan orang Yahudi, karena dianggap orang Yahudi adalah kelompok agama yang sesat dan yang sudah menyalibkan Yesus Kristus. Perbedaan besar antara Kristen dan Yahudi makin lama makin besar, makin lama makin dalam, sehingga kita tidak lagi akrab dengan tema-tema Yahudi. Saudara baca Perjanjian Lama, banyak hal Saudara tidak tahu, karena Saudara tidak merasa itu penting. “Yang penting saya sudah terima Yesus Kristus dan saya sudah percaya kepada Dia.” Tetapi Yesus Kristus pun adalah nama dari Yahudi, yang harus dipahami maknanya berdasarkan tradisi Yahudi.

Nah Saudara, sulit menjadi orang Kristen yang bisa mengerti kedalaman Kitab Suci jika tidak melanjutkan tradisi dari orang Yahudi di Perjanjian Lama. Tetapi sulit kalau mau lanjutkan tradisi Perjanjian Lama, karena tradisi Perjanjian Lama sangat berkait dengan tradisi belajar. Orang Yahudi sangat giat, dipaksa belajar untuk memahami Kitab Suci. Sesuatu yang orang Kristen sangat malas lakukan. Banyak orang Kristen malas sekali belajar, tidak mau pahami Kekristenan dengan cara yang sangat mendalam. Itu sebabnya, di tempat di mana Kekristenan malas belajar, Kekristenan tidak akan berkembang. Kekristenan tidak mungkin dikembangkan oleh orang-orang yang cuma tahu berkat, berkat, berkat, dan tidak mau tahu kebenaran Kitab Suci. Jika kita malas belajar, kita malas cari tahu kebenaran dari Kitab Suci, kita tidak layak untuk Tuhan. Jika kita tidak habiskan berjam-jam untuk selidiki Kitab Suci, kita tidak layak untuk Tuhan. Nah itu sebabnya ketika Kekristenan berkembang, Kekristenan berkembang lewat metode apologetik dari orang-orang seperti Justin Martyr dan lain-lain yang berusaha counter orang Yahudi dengan pikiran yang sangat dalam. Tapi efeknya adalah, karena begitu giat melawan orang Yahudi, akhirnya mulai ada pemisahan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. “Kitab Suci yang sejati: Perjanjian Baru; Kitab Suci bayangan: Perjanjian Lama. Kalau belum ada Perjanjian Baru, Perjanjian Lama penting, tapi Perjanjian Baru sudah ada, Perjanjian Lama jadi tidak penting.” Itu semua pola pikir salah yang menjauhkan kita dari Kitab Suci, membuat kita jauh dari kehidupan iman yang sejati, karena iman sejati harus dilandaskan pada kisah dari Perjanjian Lama. Maka Perjanjian Lama sangat penting. Siapa malas belajar Perjanjian Lama sulit menikmati Perjanjian Baru. Yang tidak tahu bagaimana memahami Perjanjian Lama juga akan tidak tahu bagaimana memahami Injil. Saudara kalau tanya, kapan Injil pertama kali diajar? Saya akan mengatakan, Injil pertama kali diajar sebagai pengertian Injil itu di dalam Yesaya 40. Iya dari Kejadian pasal 3 sudah ada proto evangelium, berita tentang Injil melalui perkataan Tuhan kepada ular tapi itu bukan definisi Injil yang lengkap. Definisi Injil yang lengkap tidak terdapat di Perjanjian Baru lebih dulu, definisi Injil yang lengkap sudah terdapat di dalam Yesaya 40. Seluruh Perjanjian Lama sudah memiliki konten Injil. Saudara boleh pikirkan ya, Paulus waktu pertama kali menjalani pekerjaan misinya, dia tentu tidak mungkin baca surat Roma, dia belum tulis surat Roma; dia tidak bisa baca surat Korintus, dia belum tulis surat Korintus; bahkan dia tidak mungkin baca kitab Galatia karena dia sendiri yang akan tulis, dan dia belum tulis. Maka kalau dia injili orang, dia pakai ayat dari mana? Dari PL. Membuktikan Yesus Allah, ayatnya dari mana? Dari Perjanjian Lama. Membuktikan bahwa Yesus itu Juruselamat yang mati di atas kayu salib, ayatnya dari mana? Juga dari Perjanjian Lama. Nah maka Saudara sekalian, begitu banyak hal dari Perjanjian Lama yang sangat penting sehingga jika kita tidak tahu apa yang dikatakan, kita tidak mungkin tahu Perjanjian Baru sama sekali. Dan jika kita tidak tahu Kitab Suci, sulit bagi kita untuk menyebut kalau diri kita Kristen.

Nah maka Saudara sekalian, perdebatan di tengah-tengah orang Galatia adalah antara orang Kristen yang bukan dari Yahudi dengan orang-orang Kristen dari Yahudi. Mereka mengatakan,“Mesias itu dijanjikan kepada Daud. Engkau bisa baca ini di dalam Kitab Suci orang Yahudi, engkau dapat kenal berita-berita dari Tuhan tentang Mesias dari Kitab Suci, engkau dapat tahu nubuat tentang Yesus, semua dari Kitab Suci orang Yahudi. Jadi jika engkau bukan orang Yahudi, engkau tidak boleh jadi Kristen. Jika engkau bukan orang Yahudi engkau tidak mungkin tahu berita Injil.” Tapi Paulus mengatakan bahwa apa yang Tuhan ajarkan dalam Perjanjian Lama adalah bahwa Tuhan menghargai bangsa-bangsa. Nah ini poin pertama yang saya mau share di dalam khotbah pada hari ini. Surat Galatia berisi pengertian Paulus, bahwa Perjanjian Lama mengajarkan penghargaan Tuhan kepada bangsa-bangsa. Tuhan hargai bangsa-bangsa. Bukankah di Perjanjian Lama ada bangsa pilihan? Ya. Tetapi Tuhan menghargai bangsa-bangsa lain. Mana tandanya kalau Tuhan hargai bangsa-bangsa lain? Yang pertama, di dalam janji Tuhan kepada Abraham, Tuhan menjanjikan berkat bagi bangsa-bangsa lain. Jadi Tuhan tidak mengatakan, “Abraham, lewat keturunanmu Saya akan berkati sebuah bangsa besar, satu bangsa unik di tengah-tengah bangsa kafir.” Tidak, Tuhan berjanji memberkati bangsa-bangsa. Jadi seluruh bangsa adalah bangsa-bangsa di dalam Tuhan yang harus mengakui bahwa Tuhan adalah Raja. Bangsa-bangsa milik Tuhan, maka tidak ada perbedaan di dalam pandangan Tuhan. Seluruh bangsa harus menjadikan Dia Raja dan tunduk kepada Dia. Ini hal pertama.

Lalu hal yang kedua Saudara bisa lihat di dalam Perjanjian Lama adalah setelah Tuhan bentuk Israel menjadi umat Tuhan, Tuhan tetap bangkitkan raja maupun tokoh-tokoh yang Tuhan hormati dari bangsa lain. Sebelum Israel dipanggil keluar dari Mesir, bahkan sebelum Israel ada, Tuhan sudah menyatakan ada imam yang sangat agung namanya Melkisedek dan dia tidak termasuk di dalam kelompok keluarga Abraham. Jadi Israel berasal dari Abraham, Melkisedek bukan. Jika Melkisedek tidak berasal dari Abraham, mana lebih besar Abraham atau Melkisedek? Surat Ibrani mengatakan Melkisedek lebih besar, lebih besar daripada Abraham. Bukankah Abraham bapa orang pilihan? Siapa Melkisedek ini? Melkisedek adalah imam maka Abraham memberi perpuluhan kepada dia, lalu Melkisedek memberi berkat kepada Abraham. Abraham beri perpuluhan kepada Melkisedek, Melkisedek memberkati Abraham dan Alkitab mengatakan dia yang memberkati lebih tinggi daripada dia yang menerima berkat. Ini pengajaran Alkitab. Alkitab tidak bilang, “Dia yang memberi uang lebih besar dari dia yang terima uang.” Tidak, tapi Alkitab mengatakan dia yang menyatakan berkat sorgawi lebih besar daripada yang menerima. Abraham orang yang sangat kaya tetapi Surat Ibrani mengatakan Melkisedek lebih besar daripada Abraham. Melkisedek dari bangsa mana? Tidak penting. Siapa dia? Raja Salem. Di mana Salem? Gak tahu, mungkin di Yerusalem mungkin bukan, enggak ada yang tahu. Jadi Tuhan membuktikan bahwa Dia adalah Allah bagi bangsa lain dengan membangkitkan orang dari bangsa lain dan memberikan kedudukan tinggi sekali. Demikian setelah Israel menjadi bangsa, Tuhan tetap memberikan pertobatan kepada orang dari bangsa lain, seperti Naaman misalnya. Jadi Paulus mengatakan dari dulu Kitab Suci sudah memberikan satu janji sama seperti umat Tuhan mendapatkan berkat dari Tuhan demikian bangsa-bangsa lain akan mendapat berkat dari Tuhan. Bangsa lain sama dengan bangsa sendiri akan mendapat berkat dari Tuhan.

Lalu orang Israel tanya pastinya, “Kalau bangsa lain dapat berkat dari Tuhan, kami dapat berkat dari Tuhan, maka kami dan bangsa lain tidak beda? Enggak beda sama sekali? Lalu kenapa dari awal Tuhan memberikan Taurat kepada kita? Apa spesialnya kita? Apa hebatnya kita? Bukankah kita punya Taurat?” Nah saudara, bagi orang Israel mengatakan Taurat bukan apa-apa itu dosa besar. Jadi kalau Paulus mengatakan kamu dan bangsa lain sama, “lho bangsa lain nggak punya Taurat.” Iya tapi mereka dapat anugerah Tuhan. “Kami punya Taurat,” ya tapi kamu tidak lebih baik dari bangsa lain. Kenapa bisa bangsa yang punya Taurat tidak lebih baik dari bangsa lain? Saudara, ini mengejutkan sekali. Maka Paulus sudah siapakan apologetik tentang hal ini. Kenapa Taurat tidak membuat Israel lebih spesial tetapi Taurat tetap sangat penting? Pentingnya Taurat dan spesialnya Taurat tidak membuat Israel lebih penting dari bangsa lain tetapi Taurat tetap penting dan tetap spesial. Nah inilah poin yang kedua yang ingin saya tekankan kepada saudara. Maka pertama yang ingin saya tekankan bahwa dari Perjanjian Lama Tuhan sudah menjanjikan kabar baik bagi banyak bangsa bukan cuma bagi 1 bangsa. Kalau Tuhan cuma janji kepada 1 bangsa, Indonesia tidak mungkin berbagian. Kita sebagai orang-orang yang bukan dari Israel tidak mungkin berbagian.

Lalu yang kedua, kalau begitu apa fungsi Taurat? Mengapa Tuhan memberikan kitab Taurat dan kalau Tuhan memang sudah memberikan kitab Taurat, haruskah kita menaatinya? Nah Saudara, di sini kita perlu bijaksana yang tepat. Di dalam Kekristenan ada 3 hal yang perlu dimiliki manusia: yang pertama paling penting adalah wisdom, bijaksana; yang kedua yang juga tidak kalah penting adalah understanding yaitu pengertian; yang ketiga, yang paling kurang penting adalah knowledge atau pengetahuan. Saudara boleh punya knowledge, pengetahuan tanpa understanding? Percuma. Saudara punya knowledge atau pengetahuan dan punya pengertian understanding tapi tidak punya hikmat wisdom? Percuma. Saudara punya wisdom, Saudara pasti akan cari understanding dan Saudara akan cari knowledge. Hanya orang berhikmat yang terus mau tahu, yang terus mau belajar, karena punya hikmat maka apa yang dia pelajari selalu akan membangun bijaksananya. Tapi orang bodoh yang mau belajar, yang tidak punya hikmat itu sulit,dia senang belajar tapi dia tidak mampu kerangka-kan, dia senang belajar tapi dia tidak mampu aplikasikan. Saudara, orang yang banyak pengetahuan tapi tidak mampu aplikasikan itu seperti Google. Saudara kalau, ini sekalian promosi [Seminar, red.] nanti ya kita bahas tentang teknologi, Saudara kalau mau cari apapun di Google atau Wikipedia mungkin, pasti ada data. Google punya data atas segala hal. Saudara mau cari di mana alamat GRII, saudara akan ketemu karena Google punya datanya,Google tahu segalanya, tapi adakah di antara Saudara yang menganggap Google itu punya hikmat untuk hidup yang baik? Tentu tidak. Orang dengan pengetahuan yang sama seperti Google, punya referensi kepada begitu banyak hal tapi tidak punya hikmat tetap percuma. Maka Saudara, kita perlu hikmat. Hikmat itu berarti saya mampu menjalani hidup dengan penuh kelincahan untuk menerapkan segala hal demi Tuhan. Penuh kelincahan untuk menerapkan segala hal demi Tuhan itu hikmat. Saya tahu bagaimana gunakan pengertian dan pengetahuan saya untuk hal yang memuliakan nama Tuhan sehingga orang berhikmat akan ambil keputusan yang baik, orang berhikmat akan hidup dengan cara yang baik, orang berhikmat punya kemampuan untuk kerjakan apa yang dia pikir baik. Orang yang cuma tahu teori baik tapi dia sendiri kesulitan menjalankan sulit disebut orang berhikmat. Maka perlu hikmat, perlu pengertian, perlu pengetahuan. Ketiga disatukan, Saudara akan jadi orang yang baik, yang hidup dengan cara memuliakan nama Tuhan.

Maka di dalam Kitab Suci, Paulus mau mengajarkan orang-orang Kristen, engkau harus tahu dulu kenapa engkau hidup. Engkau hidup untuk Tuhan. Seluruh bangsa harusnya hidup untuk Tuhan. Karena di dalam Kisah Rasul, Paulus sendiri sudah mengajarkan bahwa semua bangsa itu berasal dari 1 orang yaitu Adam. Adam adalah bapak Israel, Adam juga adalah bapak Amerika, bapak Eropa, dan lain-lain, karena seluruh bangsa akhirnya bermuara kalau ditarik ke atas, ke tokoh ini.Dari Adam lahir banyak anak-anak, dan dari anak-anak itu akhirnya lahir bangsa-bangsa.Saudara jangan pikir Adam cuma punya dua anak.Siapa anak pertama? Kain.Siapa anak kedua? Habel. Adam punya banyak sekali anak-anak.Saudara bisa pikirkan kalau orang zaman dulu usia 28 tahun bisa punya 8 anak, mukjizat tiap tahun. Menikah umur berapa? 20.Sekarang umurnya berapa? 28.Anaknya berapa? 8.Jadi orang dulu bisa begitu, orang sekarang sudah agak terlambat.Umur berapa? 39.Anak berapa? Oh tahun depan mau nikah. Oh baru tahun depan baru mau nikah,oke. Jadi banyak hal-hal yang beda.Tapi Saudara kalau pikir, orang zaman dulu umur 28 bisa punya 8 anak maka Saudara bisa pikirikan sendiri orang yang berumur ratusan tahun, 800-900, kira-kira anaknya berapa ya? Apakah Adam cuma punya dua anak, ratusan tahun sudah menikah dengan Hawa lalu anaknya dua?Ini anak pertama umur berapa? Umur 230.Anak kedua umur berapa? Masih bayi gitu ya, kakaknya kayak sudah manusia tua gitu ya, atau manusia purba. Jadi Saudara sekalian, Adam punya banyak sekali anak.Di dalam Alkitab bahasa yang dipakai itu bukan keluarga, referensi kepada keluarga Adam itu bukan keluarga, tapi sebuah bangsa, Adam adalah kepala dari sebuah bangsa, keluarganya mirip bangsa, anak-anaknya banyak sekali.Maka kalau Saudara berpikir Kain membunuh Habel, Kain sudah membunuh seperempat penduduk dunia, pikir lagi, karena seperempat penduduk dunia mengasumsikan bahwa penduduk dunia sebelum pembunuhan Habel ada empat. Lalu Saudara bingung,“Kalau Kain membunuh Habel, lalu Habel mati, terus Kain tinggal sendirian, kok saya ada?Apa Kain membelah diri untuk berketurunan, atau bagaimana?” Tentu tidak, ingat ya waktu Kain dihukum Tuhan, Tuhan mengatakan,“Pergi, Saya buang kamu dari tanah ini.” Kain mengatakan, “Tuhan, jangan suruh pergi nanti ada orang membalas dendam bagaimana? Lindungi saya.” Ini Kain ya, kebangetan dosanya, dia sudah bunuh Habel, dia minta lindungi.“Kalau saya dibunuh orang bagaimana?” Orang mana yang bunuh? Saudara, dia mengatakan kalau bertemu orang random, “siapa saja” ini mengasumsikan ada begitu banyak orang selain dia.Maka banyak orang yang mengatakan Adam itu bukan orang pertama, ada banyak orang cuma Adam itu orang pertama yang kenal Tuhan, kita tidak terima teori itu, karena teori itu akan membuat perkataan Paulus di Kisah [Para] Rasul menjadi salah. Paulus mengatakan seluruh bangsa datang dari Adam, sedangkan banyak orang percaya Adam itu bukan manusia yang pertama, Adam adalah manusia pertama yang Tuhan taruh di taman Eden,tapi ini tentu ini tidak benar, Adam adalah manusia pertama tetapi dia mempunyai banyak anak yang banyak sekali, baik laki-kali maupun perempuan, ia mempunyai ratusan anak. Saudara hafalin nama ratusan susah ya, Adam kesulitan hafal nama anak-anak. “Hey you, nama you siapa?”“Papa kok lupa terus?”“Ya jelas lah ada ratusan,” gitu ya.

Jadi Saudara sekalian, ini yang harus kita tahu, bahwa Adam adalah kepala dari bangsa yang besar dan dari dia, dari bangsa ini, yaitu keturunan pertama generasi selanjutnya setelah Adam, itu akan keluar banyak bangsa-bangsa lain.Nah itu sebabnya baik Adam maupun keluarganya yang sebesar bangsa kecil, atau ya kalau Saudara mau bilang mungkin kota kecil lah ya, Tuhan membangkitkan banyak bangsa-bangsa lain, lewat mereka akhirnya ada bangsa-bangsa lain.Lalu setelah Tuhan memberikan air bah yang mengerikan itu, Tuhan melanjutkannya lewat satu orang, yaitu Nuh.Jadi baik Nuh maupun Adam adalah bapa dari seluruh bangsa yang ada, dan apa yang Tuhan inginkan dikerjakan seluruh bangsa, Tuhan sudah titipkan sebagai pesan kepada Adam dan Nuh.Kepada Adam dan Nuh, Tuhan sudah beri tahu apa yang Dia mau manusia kerjakan di bumi: Tuhan mau manusia penuhi bumi, Tuhan mau manusia beranak cucu, Tuhan mau manusia menaklukan bumi, Tuhan mau manusia mengembangkan bumi sebagai gambar Allah.Tapi bangsa-bangsa lain tidak lakukan itu, karena bangsa-bangsa gagal melakukan itu, maka Tuhan berniat membangkitkan Israel.Mengapa Tuhan bangkitkan Israel? Saudara perhatikan kalimat ini, karena ini penting sekali: Israel Tuhan bangkitkan untuk memurnikan kembali, menebus, dan menyucikan kembali bangsa-bangsa lain; melalui Israel, bangsa-bangsa lain akan kenal Tuhan.Jadi bangsa Israel tidak pernah jadi rencana satu-satunya dari Tuhan, Tuhan bangkitkan Israel supaya seluruh bangsa dapat berkat, Tuhan bengkitkan Israel supaya seluruh bangsa dapat kembali kepada fungsi yang Tuhan mau, karena semua bangsa sudah berkhianat, menolak Tuhan, tidak mau tunduk kepada Tuhan, mengerjakan apa yang mereka mau, mengabaikan peringatan dan firman Tuhan.

Banyak orang menjalankan hal yang mirip dengan bangsa-bangsa yang tersesat, tidak peduli Tuhan.Saudara, tidak tahukah kita kalau Tuhan punya kehendak dalam hidup kita, dan kehendak itu dijalankan dengan bebas oleh kita? Pernakah Tuhan mendikte Saudara apa yang harus Saudara lakukan tiap-tiap hari? Tidak, tetapi Tuhan menginginkan Saudara menjadi orang dewasa, yang tahu bagaimana mengerjakan segala sesuatu itu untuk Tuhan. Tuhan ingin dilayani oleh orang-orang yang rela dan mengerti melayani Tuhan, tanpa diperintah dengan detail oleh Tuhan. Tuhan tidak beritahu kepada Saudara harus nikah dengan siapa, tapi Tuhan ingin Saudara memutuskannya dengan cara yang bijaksana.Nah saya tidak mengatakan Tuhan tidak menetapkan ya.Banyak orang Reformed yang berdebat dengan percuma.Saya lihat perdebatan mengenai ketetapan Tuhan, pasangan ditetapkan Tuhan atau tidak, lalu perdebatan itu di ngawur mulai pakai kata-kata kasar.Saya pikir orang-orang yang melakukan berdebat seperti ini kurang pintar dengar dan cuma pinter ngomong.Kurang pintar dengar karena dia tidak mau repot-repot mendengar posisi lain, cuma tahu posisi lain itu salah.Saudara, di dalam tradisi Reformed, baik posisi Armenian maupun posisi Calvinist dua-dua diterima.Posisi Reformed tidak mengeluarkan posisi Armenian.Apa sih posisi Armenian? Posisi Armenian: manusia berhak memilih, bebas, tidak ditentukan Tuhan, tidak diatur Tuhan; orang Reformed mengatakan, ya, manusia bebas berhak memilih tapi semua ada di dalam ketetapan Tuhan.“Jadi bukan Saya yang pilih, kamu pilih.”Jadi bukan ketetapan Tuhan?Tetap ketetapan Tuhan.Nah ini yang sulit, baik orang Armenian maupun beberapa orang Reformed enggakmengerti paradoks ini.Saudara, ini paradox, kalau Saudara menginjili orang, Saudara akan mengatakan,“Yang saya injili kalau dia percaya berarti dia orang pilihan Tuhan, Tuhan yang pilih, Tuhan yang lahirbarukan, bukan saya.”Tapi Saudara tetap punya tanggung jawab memberitakan injil, maka Saudara akan mengatakan, “Orang ini bertobat karena saya injili,” itu benar;“orang ini bertobat karena Tuhan yang sudah pilih,” itu juga benar, dua-duanya adalah kebenaran yang tidak boleh dipisah.

Sama seperti Saudara punya koin yang ada dua sisi, Saudara tidak bilang cuma satu yang pentinyang satunya dibikin flat. Demikian juga dengan tema-tema seperti ini. Allah berdaulat,benar; tetapi Allah berdaulat itu tidak boleh dijadikan acuan untuk Saudara mengambil keputusan. Kalau ada orang tanya kenapa pilih berkebaktian di MRII Jogja, lalu Saudara bilang karena Allah berdaulat,saya akan jawab salah. Lho jadi Allah tidak berdaulat? Bukan, tapi itu jawaban yang tidak boleh kau klaim. Itu ya. “Saya pilih untuk melakukan kejahatan.” Kenapa? “Karena Tuhan itu sudah tetapkan.” Ngawur kan.Kenapa Saudara kebaktian hari ini? “Karena Tuhan tetapkan.” Ngawur. “Jadi Tuhan tidak tetapkan?” Iya, Tuhan tetapkan. Lalu kenapa salah jawab itu? Karena akan saya bilang begini ya. Seperti contoh berikut. Harap Saudara ikuti contoh-contohnya, lumayan mencerahkan. Kalau saya tanya sama Saudara, kira-kira khotbah di GRII, misalnya saya ambil contoh yang akan khotbah di GRII pusat itu siapa ya? Lalu Saudara jawab,“orang.” Itu benar apa salah? Benar, tapi enggak menolong, itu bukan jawaban yang saya mau. Demikian kalau saya tanya,“Kenapa engkau ke GRII Jogja?”Lalu Saudara jawab karena ketetapan Tuhan, itu benar, tapi enggak menjawab. Saudara enggak boleh jawab itu, Saudara harus menjawab,“Saya kesini karena,” misalnya,“karena disini ada kehangatan.” Atau Saudara mungkin jawab,“Oh disini firman-Nya membuat saya mengerti Kekristenan, menolong saya mengerti Alkitab.” Dan saya pikir orang bijak itu selalu punya jawaban yang detail, tidak mengambang, dan tidak abstrak. Saya tertarik ketika dengar percakapan Carl Truman seorang ahli sejarah gereja. Ditanya,“Kenapa kamu Reformed?” Lalu dia bilang,“Ya ada beberapa alasan. Alasan utama adalah karena Reformed itu tradisi yang luas mencakup banyak tradisi tradisi lain.”Kita pinjam tema dan belajar juga dari Ortodoks Timur, kita belajar dari Katholik ada Agustinus kemudian Thomas Aquinas itu banyak sekali mempengaruhi tradisi Reformed. Jadi tradisi Reformed itu tradisi yang paling luas dan ada buktinya. Tulisan-tulisan dari para teolog Reformed cakupan teologinya itu luas, sedangkan kutipan-kutipan dari teolog yang lain baru di abad 20 akhir menjadi lebih luas, setelah paham oikumenisme di pertengahan abad 20 menjadi populer. Jadi seorang Carl Truman mengatakan,“Saya senang Reformed karena Reformed itu luas mencakup banyak tradisi lain.” Tapi kalau Saudara jawab, “Saya senang Reformed karena paling dekat sekali dengan Alkitab.” Saya mau tanya itu jawaban abstrak sekali, saya enggak mengerti lho. Berapa sentimeterdekatnya? Sedekat apakah Saudara dengan Alkitab? Reformed sendiri kalau Katholik segini, gitu ya? [peragakan mendekatkan Alkitab ke wajah, Red.] Saya enggak mengerti “dekat dengan Alkitab” itu artinya apa.Jadi kadang-kadang kita pakai bahasa enggak menjawab pertanyaan orang. Termasuk ketika ditanya,kenapa kamu pilih ini? “Karena ketetapan Tuhan.” Kenapa kamu nikah dengan orang itu? “Tuhan yang tetapkan.” Itu jawaban benar tapi enggak menyambung dengan pertanyaan, jawaban benar yang tidak menjawab pertanyaan. “Itulah paradoks”?Sorry, itu ironis, ironisnya orang yang enggak mau menjawab pertanyaan.

Memang benar Tuhan benar berdaulat tapi manusia tidak berarti menjadi manusia pasif yang tinggal menunggu keadaan berubah karena Tuhan yang tetapkan. Ketetapan Tuhan adalah hal yang penting dan benar-benar nyata, tetapi ketetapan Tuhan tidak boleh menjadi acuan kita untuk mempertimbangkan sesuatu atau merancang hidup. Saudara tidak bisa merancang hidup dengan mengatakan,“Nantilah Tuhan yang atur, Tuhan yang tetapkan,” enggak bisa. Demikian juga dengan tanggung jawab untuk mengelola bumi ini. Tuhan menginginkan Saudara dan saya punya bijaksana, punya kedewasaan memutuskan untuk melayani Tuhan. Tuhan ingin dilayani oleh orang-orang yang imannya dewasa sehingga dia digerakkan oleh cinta kepada Tuhan, mencari apa yang sebenarnya yang menyenangkan Tuhan, dan dia mulai mengerjakan itu. Maka Saudara sekalian, Tuhan menginginkan adanya relasi kasih dengan umat, dan dimana relasi kasih itu dikembangkan maka inisiatif akan berperan besar di dalamnya. Cinta dan perintah tidak bisa nyambung. Cinta dan inisiatif itu masih bisa nyambung. Ketika seseorang memerintahkan Saudara sesuatu lalu perintahnya menjadi begitu detail maka orang itu tidak punya relasi yang seimbang dengan orang yang memberi perintah. Saya ambil contoh, kalau Saudara adalah boss di sebuah perusahaan, lalu Saudara memberikan instruksi kepada bawahan, instruksi Saudara detail sekali maka Saudara tahu bawahan itu bukan orang se-level dengan Saudara. Tapi kalau Saudara memberi perintah kepada manajer kepercayaan Saudara, Saudara akan beri perintah lalu belakangnya suka pakai kata “you atur lah,” gitu ya. Saudara tahu maksudnya ya. Saudara panggil tangan kanan Saudara di perusahaan contohnya. Bagi yang enggak punya perusahaan, mimpi bayangkan ajalah Saudara punya perusahaan. Saudara panggil tangan kanan Saudara di perusahaan lalu Saudara bilang,“Saya sangat ingin bikin cabang di Bandung.”“Oh gitu ya Pak.”“Iya saya rindu sekali, saya pikir Bandung adalah kota yang cukup besar.”“Oh bagus Pak, saya juga setuju.”“Setuju ya. Tolong you atur.”“Terus gimana caranya?”“Saya yakin kamu punya bijaksana.”Enggak dikasih tahu: pertama sewa ruko, kedua cari pegawai kira kira jumlahnya 4,enggak. Kamu atur. Cara atur bagaimana? “Kamu punya jiwa mirip saya meskipun lebih junior dari saya, kamu punya pengetahuan mirip saya meskipun masih ada dibawah saya karena pengalaman saya mungkin karena usia, jadi saya percaya kamu tahu bagaimana melakukannya.” Ketika saya lulus dari STT saya ditempatkan di Malang. Nah sebelum ditempatkan di Malang saya telpon Pak Tong,“Pak Tong, saya ditempatkan di Malang.”“Oh iya, layani Tuhan baik-baik.”“Iya. Pak Tong, minta saran saya musti ngapain disana.” Pak Tongbilang apa?“Yang you lihat di pusat, kerjakan disana.” Apa yang saya lihat di pusat dikerjakan disana. “Pak Tong boleh kasih langkah-langkah?” Pak Tong bilang,“Melangkahlah.”“Enggak Pak Tong,step by step?”Ndak bisa. Saudara, ketika seorang dosen membimbing seorang mahasiswa yang berbakat, lalu dia mengatakan,“Kamu bikin paper ya.” Paper temanya apa? Pilih. Tapi kalau seorang pembimbing orang lain dengan cara ngawur lalu dia akan bilang,“Kamu pilih tema.” Temanya apa? “Nih saya kasih tahu. Ini temanya.” Ok. Berapa bab ya pak? Lima. Bab pertama apa? Bab pertama ini, ini. Lalu kerangka pikirnya apa? Ini, ini, ini. Pengembangannya? Ini, ini, ini. Itu dosen yang tulis bukan mahasiswa yang tulis.

Saudara, kira-kira Saudara dianggap dewasa tidak kalau Tuhan mengatakan kamu musti gini, gini, gini,secara luar biasa detail? Pagi-pagi kamu musti bangunnya jam 5:30 persis. Lalu sarapanmu hanya boleh 2 telor, setengah matang, lebih matang sedikit: Kafir. Lalu kau harus menjalankan hidup dengan cara begini: Begitu masuk jam 7 engkau harus sudah mandi, kemudian jam 7:10 engkau cium istrimu dan cium anakmu, lalu pergi ke kantor. Tanpa mencium istri dan anak pergi kekantor: Kafirlah kau! Jika kau sudah sampai kantor senyum kepada satpam, jika tidak kau menghina orang kecil. Lalu setelah masuk, senyum kepada tukang pel, kalau tidak, kau bisa kepleset, itu namanya karma, begitu misalnya ya? Bukan, enggak begitu lho.Maka Saudara sekalian, ketika Saudara dibimbing oleh Tuhan, dan Tuhan benar-benar menginginkan Saudara dewasa, Tuhan akan membimbing Saudara dengan seorang anak. Nah, di dalam tradisi Ibrani, anak itu bisa dua, kata pertama Yeled, kata kedua Ben. Yeled, adalah anak secara fisik, Ben adalah ahli waris. Saudara mungkin bukan Yeled, tapi Saudara bisa jadi ahli waris. Anak angkat yang jadi ahli waris, tetap lebih penting daripada anak asli. Nah ini tradisi Israel. Begitu sang bapak angkat anak dan mengatakan,“Kamu jadi ahli waris saya,” dia akan jadi lebih penting dari yang lain.

Bagaimana anak bisa diangkat? Bisa beberapa caranya, yang pertama misalnya anak itu punya mama, papanya sudah meninggal, lalu orang lain menikahi mamanya, anak ini otomatis jadi anak dari papa yang dinikahi itu. Itu sebabnya Yusuf musti menikah dengan Maria karena dengan menikahi Maria, Yesus akan jadi anak Yusuf, dan dengan demikian jadi anak Daud. Ada satu orang yang bukan Kristen, berdebat dengan saya, “Yesus kok anak Daud, katanya Maria lahirnya perawan, melahirkan Yesus kok masih perawan?”“Iya.”“Ngawur,” kata dia. “Benar, ini fakta,” saya bilang. “Buktinya apa?” Saya balikkan ke dia,“Apa buktinya kalau Maria nggak perawan waktu melahirkan Yesus?Kamu punya medical record? Enggak ada kan? Jadi Maria melahirkan Yesus waktu dia masih perawan, kalau dia masih perawan berarti dia belum menikah dengan Yusuf.” Maka orang ini bilang,“Kalau dia belum menikah dengan Yusuf, Yesus bukan anak Yusuf.” Saya bilang,“Tapi Yusuf menikah dengan Maria setelah itu.”“Berarti anak angkat, anak angkat lebih rendah.” Nah, ini dia ngawur, anak angkat enggak lebih rendah, karena kalau anak angkat itu dijadikan ahli waris, anak angkat itu bahkan lebih tinggi dari anak asli yang tidak jadi ahli waris. Yeled, itu adalah anak secara fisik, tapi anak secara fisik, tidak sepenting ben. Maka kalau ada di antara Saudara namanya Ben, Saudara masih lebih OK daripada yang namanya Yeled, gitu ya. Jadi yeled adalah anak secara fisik, ben, adalah ahli waris, dan Tuhan mengirimkan Anak, untuk membimbing kita jadi anak. Ini teorinya, atau teologinya Paulus. Mengapa Yesus datang ke dalam dunia? Di dalam Galatia pasal 3, ayat-ayat yang kita baca dikatakan supaya Dia menjadi pembimbingben, Saudara dan saya menjadi ben. OK. Bagi yang perempuan, bukan ben, ben itu son, kalau perempuan itu harusnya bat, tapi nggak apa apa, ben ini gabungan laki-laki dan perempuan, karena di dalam Kristus, tidak ada laki-laki, tidak ada perempuan. Dan ini bukan ayat untuk LGBT. Tidak ada laki-laki dan perempuan maksudnya baik laki-laki maupun perempuan Tuhan anggap sama pentingnya. Maka Saudara, kenapa Kristus datang ke dalam dunia? Kristus datang ke dalam dunia untuk mengajar para ben, para anak-anak ahli waris. Ini alasan kenapa Yesus datang ke dalam dunia. Saudara, saya pernah kotbah 8 alasan tahun 2017, lalu ada jemaat merasa dapat berkat, akhirnya dibukukan. Setelah dibukukan, saya bilang sebenarnya ada alasan-alasan lain, akhirnya tahun lalu saya kotbah 8 alasan lagi, jadi total ada 16, dan sekarang jadi alasan tambahan satu lagi. Mengapa Yesus datang jadi manusia, untuk mendidik para anak. Kenapa para anak perlu dididik oleh Anak? Karena hanya Anak yang akan mendidik orang dewasa.

Lalu Taurat gunanya apa? Taurat gunanya untuk mempersiapkan anak itu waktu dia belum cukup umur, dan belum cukup bijaksana jadi ahli waris. Di dalam tradisi Israel, anak dididik dua kali, dua tahap. Tahap pertama, tahap anak-anak, oleh orang tuanya; tahap kedua adalah tahap ketika dia sudah akil balik, dia menjadi anak dari mezbah, dia setelah umur 13, atau 12, dia akan dibimbing oleh rabbi, untuk mempersiapkan dia menjadi penerus dari umat Tuhan. Ini hebatnyaKitab Suci, Kitab Suci membagi peristiwa usia anak dalam dua kelompok, usia manusia dalam dua kelompok. Kelompok pertama, anak-anak, kelompok kedua, dewasa. Kapan dewasa? 13. Jadi Saudara, tidak ada remaja dan tidak ada kegalauannya dalam jaman dulu. Kegalauan masa remaja itu kasus modern, karena orang modern membagi anak di dalam beberapa bagian: anak kecil banget, anak enggak kecil-kecil amat, anak mulai gede, anak mulai nyebelin, kemudian anak remaja galau, kemudian remaja tanggung, lalu pra-pemuda, aduh banyak sekali kategorinya. Lalu pemuda, kemudian, pemuda hampir dewasa, pemuda rada dewasa, pemuda lumayan dewasa, lalu dewasa pemuda, dewasa lansia, gitu ya. Lansia pun nggak mau dibilang lansia, usia emas. Loh kalau sekarang emas yang lalu apa? Yang lalu masih perak, atau usia tembaga mungkin, sekarang sudah usia emas.Nah maka, Saudara sekalian, pembagian seperti itu enggak dikenal oleh Kitab Suci, tidak dikenal oleh orang dulu.Bagi orang dulu, kamu either anak-anak atau dewasa. Remaja dituntut jadi dewasa, remaja nggak boleh jadi anak-anak lagi. Remaja harus pikul tanggung jawab kerja. Remaja harus pikul tanggung jawab mulai mandiri. Tapi banyak orang, bukan cuma tidak menghargai usia remaja, bahkan sampai dewasa pun anak terus dikurung di dalam rumah. “Pokoknya kamu jadi anak papa mama selalu, seumur hidup,” sampai kapan? “Sampai papa mama jadi orang yang diurus oleh kamu, pokok nya kamu tinggal di rumah enggak boleh ke mana-mana.” Itu bener-bener mematikan. Alkitab tidak menyarankan pendidikan kepada manusia dilakukan dengan cara seperti itu, anak-anak atau dewasa, enggak ada remaja, enggak ada usia tanggung, enggak ada usia galau dan lain-lain. Kamu harus belajar dewasa, kamu musti pikul tanggung jawab.Dan ketika anak terus ditekankan seperti itu, nanti umur 13 sudah dewasa, umur 13 mandiri, umur 13 belajar kerja, umur 13 punya iman kepada Tuhan, maka dia akan dipersiapkan untuk jalankan itu.

Nah apa yang dilakukan orang tua waktu anak itu belum 13? Yang dilakukan orang tua adalah didik mereka dengan cara yang detail sekali, semua diberi tahu.Anak kecil akan diberi tahu kapan waktu tidurnya,“Kamu tidur jam segini.” Nah jadi Saudara sekalian, anak kecil perlu dibimbing, diberi tahu ini, diberi tahu itu, dikasih tahu musti bagaimana.Dan Tuhan membimbing siapa, bagaimana caranya? Di dalam surat Paulus dikatakan, Tuhan membimbing bangsa-bangsa seperti mereka masih kecil, dengan cara apa? Dengan cara memakai Israel. Jadi Saudara, ini tafsirannya unik sekali. Paulus tidak mengatakan Israel adalah masih kecil, lalu Yesus itu dewasanya, bukan. Tapi yang Tuhan katakan adalah Israel harus jadi pembimbing bangsa-bangsa lain, dan bangsa-bangsa lain yang dibimbing oleh Israel, itu adalah bangsa-bangsa di dalam keadaan mereka masih kanak-kanak, mereka masih kecil, masih kecil, masih perlu aturan-aturan, masih perlu didikan, masih perlu bimbingan yang luar biasa detail. Dan Israel menjadi pembimbing di dalam level seperti itu, maka Tuhan mempercayakan Taurat. Tuhan memberi Taurat, yang memberikan kepada Israel ajaran-ajaran tentang kebangsaan atau tentang sebuah negara yang masih kanak-kanak. Saudara tahu apa yang ditulis di dalam Taurat? Yang ditulis di dalam Taurat adalah jika engkau memperkosa seorang perempuan, maka engkau berkewajiban menikahi perempuan itu, atau membayar denda. Saudara kalau baca ini, kira-kira perasaan Saudara bagaimana? Perempuan diperkosa lalu boleh dinikahi, kalau enggak mau dinikahi mesti bayar denda. Apa ini ? Kok bisa ada peraturan ngawur seperti ini? Lalu Saudara mulai mempersalahkan Taurat, biasanya gitu kan? Atau di bagian lain, jika ada orang kena kusta, dia mesti diusir dari perkemahan, nanti setelah sembuh baru boleh masuk. Jika ada seorang memukul pencuri sampai mati, jika itu siang hari, maka yang memukul pencuri sampai mati mesti dihukum mati, tapi kalau itu malam hari, yang memukul pencuri sampai mati, itu boleh tidak dihukum. Saudara akan mulai pikir, bijaksana apa yang bisa diperoleh dari hukum seperti ini? Taurat itu banyak hal anehnya ya? Jika seorang perempuan melahirkan anak, anak itu perempuan, dia najis dua kali lipat daripada kalau dia lahirkan anak laki-laki. Masak perempuan diremehkan dan direndahkan seperti ini ? Lalu Saudara mulai berpikir, jangan-jangan Kitab Suci enggak benar, jangan-jangan Taurat isinya semua peraturan-peraturan orang kasar, orang-orang zaman dulu yang luar biasa liar, yang tidak berguna bagi kita. Nah, di situ kita salah.

Yang  Tuhan nyatakan di dalam Taurat adalah bimbingan bagi kanak-kanak. Bangsa-bangsa lain begitu rusak, Israel perlu dibimbing dengan cara yang mirip dengan membimbing bangsa-bangsa rusak itu. Israelpun masih berada dalam keadaan rusak seperti itu. Saudara, ini sesuatu yang sangat memberkati. Di dalam zaman Israel, ketika terjadi perang, satu bangsa akan kalahkan sebuah negara dan seluruh orang di negara itu akan dimatikan. Ini tidak terjadi sekarang. Maka bangsa-bangsa pada zaman dulu tidak memiliki pengertian tentang penghargaan memperlakukan manusia, tidak memiliki pengertian tentang bagaimana harus memperlakukan individu dengan cara yang seimbang dan adil. Dengan demikian, Tuhan masih memberikan peraturan luar biasa detail untuk bimbing Israel dan bangsa-bangsa lain di dalam level kanak-kanak ini. Apa maksudnya level kanak-kanak ? Maksudnya adalah tidak pernah ada suara Tuhan membentuk sebuah bangsa yang kena kepada mereka sebelumnya, maka mereka masih kanak-kanak. Mereka belum dewasa karena apa ? Karena belum pernah dengar ajaran hikmat dari Tuhan. Ajaran hikmat dari Tuhan belum pernah dinyatakan sama sekali, Tuhan baru menyatakannya secara individu kepada hati nurani orang-orang tertentu di dalam Kitab Kejadian, tetapi belum pernah kepada sebuah bangsa. Belum pernah ada bangsa yang  dipimpin langsung oleh Firman sehingga seluruh bangsa di bumi belum pernah mengetahui apa itu pengertian dasar dari Allah tentang keadilan, kebenaran, kasih, dan lain-lain. Ini sama dengan kalau Saudara pertama kali datang ke GRII misalnya, Saudara sangat senang baca Alkitab, begitu Saudara datang ke GRII Saudara akan dapat hikmat yang limpah sekali, ini yang saya temukan di dalam pelayanan-pelayanan saya maupun dalam diskusi saya dengan hamba Tuhan lainnya. Kalau ada orang dari gereja lain, enggak peduli gereja apa ya, Saudara gereja Kharismatik, gereja Katolik, gereja apapun itu enggak terlalu signifikan, tapi Saudara rajin baca Alkitab, Saudara datang dengar khotbah dari GRII Saudara akan rasa dapat berkat sekali. Tapi kalau Saudara jarang baca Alkitab, meskipun Saudara sudah lama di GRII, Saudara tetap akan kesulitan dengar khotbah ini. Kenapa kesulitan? Karena pengkhotbahnya GRII mengasumsikan Saudara sudah baca seluruhnya, paling enggak saya akan asumsikan itu. Jadi kalau Saudara belum baca bagaimana? Ya kalau begitu mungkin enggak akan nyambung dalam beberapa poin. Lalu bagaimana dong? Ya kita perlu ikut kelas, kelas katekisasi misalnya, dimana orang diajar pelan-pelan bahwa ternyata Tuhan menyatakan ini di dalam Alkitab, lalu Saudara juga mulai baca. Orang lain yang belum pernah baca Alkitab, belum kenal firman Tuhan, belum punya bijaksana sorgawi, belum pernah disentuh oleh kebenaran Kitab Suci sama sekali sulit untuk mendengarkan bimbingan yang sudah lebih maju.

Dan demikian juga Tuhan tidak membimbing bangsa-bangsa dengan bimbingan yang lebih maju, Tuhan bimbing di dalam cara yang sangat sangat dasar. Itu sebabnya Paulus mengatakan hukum Taurat adalah untuk pembunuh, untuk pencuri, untuk homoseksual, untuk orang-orang liar. Maksud Paulus adalah bangsa-bangsa kebanyakan masih liar dan Tuhan belum berikan cara hidup berbangsa yang baik sama sekali. Tuhan belum berikan itu kepada Abraham, Tuhan belum berikan itu kepada Nuh, Tuhan belum berikan itu kepada siapapun untuk dipakai mempengaruhi semua bangsa. Maka pertama kali firman Tuhan datang mempengaruhi semua bangsa itu terjadi di dalam Kitab Keluaran, pertama kali bangsa dibentuk lewat firman Tuhan adalah dengan Taurat, maka Paulus mengatakan kalau begitu Taurat adalah pembimbing untuk anak-anak sebelum dia berusia 13, anak-anak yang belum tahu apa-apa. Saudara bimbing anak kecil perlu sabar. Kadang kita sudah tahu sampai 100 langkah tapi Saudara mengajarkan anak-anak harus mulai langkah pertama. Saya kalau bicara dengan anak-anak seringkali akan kesulitan karena anak-anak akan cari isu lain saya pikir mereka tahu. “Jadi nak, kita semua ini harus punya keteguhan hati.” “Keteguhan itu apa?” “Keteguhan itu berarti kita mempertahankan niat.” “Mempertahankan itu apa?” “Mempertahankan itu berarti kalau sudah ada enggak lepas.” “Ada apa?” “Yang tadi kamu tanya.” “Saya tanya apa?” Aduh, bagaimana ya mengajar anak. Saudara enggak bisa maju dengan terlalu cepat, Saudara harus sabar, mesti breakdown dari hal-hal kecil. Nah indahnya Kitab Suci adalah Tuhan menganggap bangsa-bangsa yang kafir sebagai kanak-kanak. Coba Saudara pikirkan betapa luas hatinya Tuhan. Saudara kalau pikirkan bangsa kafir maka yang Saudara pikirkan selanjutnya adalah? Pembinasaan kan. Ada bangsa masih makan orang? Bunuh mereka! Pakai apa? Baygon, saya enggak peduli, pokoknya mereka enggak boleh hidup di bumi. Tapi Tuhan lihat bangsa-bangsa yang masih kafir dan Tuhan mengatakan anak-anak. Kenapa anak-anak? Belum pernah dengar Taurat, belum pernah ada contoh dari Israel, belum pernah ada contoh mengenai bagaimana kita harus hidup.

Saudara mungkin kita enggak sadar betapa sabarnya Tuhan bimbing kita di sini. Kalau Saudara lihat orang umur 40 duduk di belakang Saudara, lalu dia mulai tendang-tendang Saudara, kira-kira Saudara bertindak apa sama orang itu?Saudara akan balik ke belakang lalu bilang, “Tolong Pak, jangan tendang kursi saya.” Begitu dia tendang lagi Saudara langsung jalan ke belakang minta tolong usher yang gede untuk usir orang itu dari tempat kebaktian gitu kan. Lalu usher yang gede datang, “Permisi Pak sebaiknya Bapak ibadah di saksi Yehovah saja. Bapak tidak cocok di sini.” Tapi kalau yang tendang itu anak kecil, anak kecil tendang-tendang kursi Saudara, Saudara balik ke belakang lalu Saudara dengan senyum bilang, “Jangan ya dek ya, enggak boleh.” Saudara nggak diam-diam pergi ke belakang lalu usher yang gede dateng, “Nak, kamu ke Masjid saja!” gitu?Kan enggak. Jadi Saudara sekalian, anak kecil mendapatkan toleransi  kita, anak kecil mendapatkan kesabaran kita, anak kecil mendapatkan bimbingan kita. Tapi anak kecil mendapatkannya karena dia belum pernah dapat sebelumnya. “Kamu enggak ngerti ini salah ya, sekarang saya kasih tahu ini salah ya. Enggak boleh ulang lagi ya,” selesai. Kalau diulang lagi jitak gitu ya. Ini bisa Saudara katakan kan ya. Kalau anak kecil  enggak mengerti lalu dia pukul, saya pernah ada pengalaman, di sebelah saya ada Ibu-ibu bawa anak kecil di kereta. Saya paling stres kalau  ternyata sebelahnya adalah orang yang beli satu tiket untuk anak yang harusnya sudah punya kursi sendiri, lalu dia dudukkan  di situ, anaknya sudah enggak betah duduk di dia, lalu dia bingung. Dia lihat  saya, “Pak bisa minggir sedikit?” Saya senyum dan bilang, “Lihat badan saya? Mau  minggir kemana lagi?” Akhirnya Ibu itu dengan stres gendong anaknya,sudah lumayan berat. Lama duduk tidak tenang, digendong juga enggak enak, ini Ibu terlalu irit tidak mau beli tiket kursi tambahan. Lalu anak itu mulai taruh kakinya tendang-tendang kakinya ke depan, dia enggak sadar itu mulai menggangu orang di depannya. Orang di depannya penuh bijaksanan lalu lihat ke belakang dan bilang, “Jangan ditendang. Nanti Om sakit punggungnya.” Anak kecil itu malu, senyum-senyum sama dia. Kemudian sudah berapa lama anak itu bosan lagi, tiba-tiba dia tarik kakinya tutup mulutnya, lalu dia bilang, “Eh Om sakit nanti.” Dia udah mulai mengerti ya, dia tidak lakukan itu lagi. Tapi Om itu kalau terus mendapatkan perlakuan sama anak dia mulai marah. Suatu kali anak itu lupa dia tendang-tendang lagi, dia ingat oh nanti Om sakit, Om nya mulai agak emosi dia lihat lagi ke belakang, tapi dia tenang lagi lihat wajah anaknya lucu ini diamulai tenang, “Udah mulai sakit nih,” katanya dengan penuh senyum lagi, dengan perasaan malu abis itu nggak pernah lagi  ada penendangan sepanjang perjalanan Bandung ke Jakarta. Nah tapi kalau anak itu tetap nekad tendang terus, mungkin akhirnya dijewer sama mamanya juga. Tapi mamanya enggak boleh langsung jewer dia kali tendangan pertama. Dia  tendang kursi depan, duk, lalngsung mamanya jewer, banting ke lantai kemudian.. enggak bisa. Kenapa enggak bisa? Dia enggak tahu kalau itu salah. Kalau dia enggak tahu itu salah bagaimana dong? Ya dikasih tahu. Tapi setelah dikasih tahu masih ngotot ini namanya nakal, ini namanya jahat. Jahat itu terjadi ketika seorang sengaja melawan apa yang dia sudah tahu sebagai hal yang benar.

Nah itu sebabnya ketika Tuhan membimbing orang-orang kafir, bangsa-bangsa lain,  Tuhan pakai Israel yang juga sama kafirnya dengan mereka. Israel itu bangsa budak yang enggak mengerti mentalitas berbangsa yang baik. Tuhan berikan peraturan yang mendasar sekali. Maka Saudara harus mengerti, peraturan dari Taurat itu peraturan yang kontennnya kekal sampai sekarang diperlukan tetapi yang contoh kasusnya sangat kuno, sehingga Saudara tidak boleh hina Taurat berdasarkan contoh kasus. Kalau Taurat pakai contoh kasus di zaman sekarang itu aneh sekali.  “Hai Israel jika kamu mau pilih orang  jangan lihat agamanya, ingat Ahok.” Orang Israel bilang, “Ahok? Siapa Ahok?” Enggak tahu mereka. Maka Tuhan bimbing Israel di dalam cara yang sangat sabar,“Kamu enggak boleh bunuh orang, kamu enggak boleh pukul orang, kalau kamu pukul orang, orang akan balik pukul kamu. Kamu enggak boleh bunuh orang, nanti ada balas dendam, kamu harus jaga jangan sampai terjadi balas dendam. Balas dendam bukan keadilan.” Ini pun orang Israel enggak ngerti. Balas dendam tidak sama dengan adil, maka kalau ada orang dibunuh, siapa yang dibunuh tidak boleh dibunuh oleh penumpah darah. Dia harus dilindungi dan diadili datang kepada Imam sampai Imam putuskan ini sengaja atau tidak. Orang yang bunuh orang lain nggak sengaja nggak boleh sama dengan orang yang bunuh orang lain dengan sengaja. Semua hal-hal ini adalah hal-hal dasar, hidup kemanusiaan yang  tidak dimengerti oleh orang-orang barbar, orang-orang liar, orang-orangyang hidup sembarangan. Maka setelah Tuhan berikan ini, Tuhan nyatakan bahwa Israel menjadi pendidik orang-orang  yang harus bertumbuh dari keadaan kanak-kanak liar jahat karena belum pernah dengar firman, menjadi keadaan yang makin lama makin dewasa, makin dewasa, makin dewasa. Akhirnya saatnya tiba dan Saudara mungkin  merasa ini aneh, tapi bangsa-bangsa  makin lama makin baik. Hukum dan peraturan Persia di abad keempat sebelum Masehi mempunyai aturan-aturan detail tentang hak manusia jauh lebih dalam dari sebelumnya. Hukum zaman kuno  paling bagus, paling dalam, paling tinggi dan paling  bijak adalah dari bangsa-bangsa Het, dan dari mereka ada banyak  begitu banyak keluar pengertian tentang manusia. Tetapi di zaman Persia jauh lebih agung lagi. Dan kalau Saudara lihat masuk di abad pertama, abad kedua sebelum Masehi, bangsa-bangsa  makin mengerti bagaimana cara hidup yang lebih beradab meskipun mereka tidak kenal Tuhan. Mereka mulai beradab, mereka mulai lebih menghargai orang lain. Penghargaan seperti ini yang membuat Tuhan mengatakan, “Sekarang anak-anak itu sudah mulai dewasa, dan sekarang saya akan kirim Sang Ahli Waris.”

Apa yang dinyatakan oleh Sang Ahli Waris? Dia akan membuat perbedaan antara bangsa-bangsa tidak ada lagi melalui pendidikan yang Dia berikan sebagai ahli waris. Apa yang  Yesus kerjakan sebagai ahli waris? Sebagai ahli waris Dia menerima warisan dari Bapa-Nya.Apa warisan dari Bapa-Nya? Ini penting untuk kita pahami. Di dalam teologi  Paulus di Galatia, Saudara tidak bisa bilang teologi Paulus itu cuma di Galatia ya, ada banyak di tempat lain juga, saya tidak bahas yang di tempat lain saya cuma bahas yang di Galatia. Di dalam surat Galatia, Yesus adalah ahli waris dan Yesus akan mewarisi bangsa-bangsa, bangsa-bangsa akan jadi milik Dia, dan karena itu Dia musti jadi pendidik bagi bangsa-bangsa ini. Yesus seperti imam.Anak kecil dididik orang tua, sudah 13 tahun yang didik Imam. Siapa imamnya? Yesus. Siapa yang dididik? Bangsa-bangsa. Kenapa? Karena sudah mulai dewasa. Tahu dari mana mulai dewasa? Di dalam pandangan Tuhan zaman berubah, zaman berlalu, zaman terus berjalan dan manusia terus belajar. Manusia bukan cuma belajar kembangkan teknologi.Dulu telepon meski pakai putar lama sekali,drrrrt drrrrt,lama-lama telefon enggak perlu ngapa-ngapain tinggal ngomong. Ya saudara tinggal ngomong ya, “Ey google telepon Jimmy Pardede,” langsung nyambung ya, Saudara nggak perlu pakai apa-apa, Saudara cuma pakai benda kecil yang nempel di telinga Saudara. Maka Saudara, ketika orang bisa mengembangkan teknologi demikian pesat akhirnya orang berpikir teknologi itu terus maju tapi tidak menyangka bahwa kehidupan berbangsa juga terus maju. Bangsa-bangsa belajar bagaimana hidup sebagai bangsa. Bangsa-bangsa mulai belajar bagaimana memperlakukan bangsa lain atau orang lain dengan cara yang baik dan adil.Nah inilah yang Tuhan nyatakan sebagai momen dewasa. “Sekarang kamu harus dibimbing oleh ahli waris!” Siapa ahli waris? Kristus. Apa yang Dia lakukan? Dia panggil semua bangsa jadi milikNya, dan yang pertama Dia lakukan sebagai imam adalah menguduskan anak-anak asuhnya ini. Bagaimana Yesus menguduskan? Dengan Dia mati di kayu salib, Dia menjadi pengganti, oleh Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain. Dia adalah Sang Imam yang Agung, Imam yang tidak membawa darah binatang, tapi bawa darahNya sendiri. Setelah Dia membawa darahNya, dengan cara itu, Dia menebus bangsa-bangsa. Setelah Dia menebus bangsa-bangsa, maka Dia menjadi Imam Besar, Imam Besar yang mendidik bangsa-bangsa melalui Roh Kudus.

Saudara dan saya sekarang adalah bangsa-bangsa yang sedang dididik oleh Sang Anak. Bayangkan berapa advance-nya orang-orang yang menerima didikan ini? Eropa ketika hancur Kerajaan Romawi, muncul Kerajaan-kerajaan barbar, seperti Visigoth, kemudian Kerajaan Franks. Kerajaan Franks menjadi kerajaan Kristen dan akhirnya maju pesat. Ini adalah kerajaan yang pertama kali memberikan pengaruh Kristen kepada seluruh Eropa Barat, karena Romawi yang sempat Kristen hancur dan tidak ada sisanya lagi di Barat.Jadi Saudara, Tuhan pakai orang-orang barbar. Setelah dipengaruhi Kekristenan, mereka jauh lebih agung dan baik hidupnya daripada bangsa lain. Mereka mulai dirikan lembaga pembelajaran karena mereka percaya manusia akan sangat limpah hidupnya jika ada ilmu pengetahuan. Orang-orang seperti, Charlemagne – Charles the Great, itu mendirikan kebangunan pertama di Eropa, kebangunan pembelajaran, universitas-universitas mulai didirikan. Karena pengaruh ini, Tuhan membimbing bangsa-bangsa yang sekarang sudah siap menjadi anak, ahli waris. Dan itu yang Paulus katakan, “Maka kalau kamu sudah saatnya menjadi ahli waris, lalu suruh orang kembali ke zamannya Israel, supaya lewat Israel bangsa-bangsa lain dididik, kamu sedang bawa bangsa ke dalam keadaan kanak-kanak lagi. Israel sebagai pendidik, adalah pendidik untuk bangsa-bangsa kanak-kanak. Yesus sebagai ahli waris, adalah Pendidik untuk anak-anak yang sudah dewasa, ahli waris.”

Nah ini Saudara adalah tema apologetik yang indah sekali. Paulus sedang mengatakan bahwa jika kamu ada di dalam Kristus, kamu ahli waris. Ini kalimat sering kita nggak ngerti ya, “Jika kamu ada di dalam Kristus, kamu adalah ahli waris.” maksudnya apa? Maksudnya kamu sudah saatnya melanjutkan apa yang Bapa inginkan. Itu manusia ada di bumi untuk menguasainya, menaklukkannya, demi kemuliaan Bapa. Anak kecil tidak bisa lakukan itu, anak kecil cuma bisa eksploitasi, menghancurkan, mengacaukan, dan mereka perlu dicegah untuk tidak lakukan itu. Tapi mereka tidak bisa diharapkan untuk mengembangkan.Saudara bisa berharap anak Saudara tidak coret-coret rumah, nggak? Tapi Saudara tidak bisa harapkan dia design bangunan baru waktu Saudara mau renovasi rumah. Saudara panggil anak Saudara umur 7, panggil, “Sini, Nak!”“Kenapa Pa?”“Papa mau rombak rumah nih, kamu tolong design ya!”“Oh ya Pa, baik. Mau model apa pa? Classic?”“Boleh.. boleh.. classic.”“Saya gambarin ya Pa, ya?Nanti saya mungkin sewa pegawai 3 untuk bantu saya merumuskan gambar. Iya, ada anak umur 3, ada anak umur 5, teman saya di TK dulu.” Atau, “teman di TK saya sekarang” atau gimana. Nggak ada anak kecil, Saudara, melakukan itu. Saudara cukup senang karena dia nggak merusak rumah saja. Saudara cukup senang kalau dia berbagian di dalam bantuan yang seminimal mungkin.“Nak, bantu Papa!”Anaknya umur 5.“Bantu Papa ngapain?”“Papa mau cuci mobil.”“Bantu apa?”“Pegang selang ya!” Selesai.Tapi kalau anak Saudara sudah umur 20, “Bantu papa dong!”“Apa?”“Cuciin mobil!”“Ya pa, saya pegangin selang.”“Nggak! Cuci semuanya sampai bersih.”Mungkin setelah anak itu umur 30, Saudara bahkan tidak minta dia bantuin cuci mobil. Saudara minta dia bantuin beli mobil.Itu dewasa. Nah Israel mendidik bangsa lain. Berarti bangsa lain akan diharapkan seperti tadi: Jangan coret-coret rumah, pegangin selang, dan lain-lain. Tapi Tuhan nggak mau bangsa-bangsa disitu terus. Tuhan tidak mau bangsa-bangsa tidak merusak bumi, Tuhan mau bangsa-bangsa kembangkan diri, dewasa, jadi ahli waris. Dan Kristus adalah Pendidiknya.

Maka, siapa yang sudah ada di dalam Kristus? Dia dapat janji Abraham, janji Tuhan menjadikan keturunan Abraham berkat bagi bangsa-bangsa lain di dalam level yang dewasa.Saudara dan saya adalah ahli waris, bukan kanak-kanak lagi. Berhenti jadi kanak-kanak! Berhenti marah untuk hal-hal simple. Berhenti menuntut orang untuk memperhatikan Saudara di dalam hal-hal yang tidak significant. Berhenti berpusat pada diri, itu kanak-kanak! Mulai berpusat ke Tuhan, mulai lihat tugas yang Tuhan berikan. Mulai belajar untuk mengerti kehendak Tuhan. Anak yang dewasa jadi ahli waris, mulai berpikir Kerajaan Allah, mulai berpikir Kerajaan Allah itu apa, bagaimana saya menjalankannya di dunia ini. Dan Saudara tidak tunggu instruksi detail dari Tuhan. Saudara digerakkan oleh Roh Kudus untuk berinisiatif untuk mengembangkan pekerjaan Tuhan demi kemuliaanNya karena Saudara sudah menjadi dewasa. Saudara adalah ahli waris. Maka dengan khotbah yang hari ini, saya harap kita boleh merenung: “Saya ini kanak-kanak, atau sudah jadi ahli waris? Saya masih perlu Taurat, seperti Israel dulu dan bangsa-bangsa lain dulu? Atau saya sudah saatnya bertumbuh dan menjadi ahli waris yang dengan inisiatif penuh, dengan bijaksana, tahu bagaimana menjalankan sesuatu untuk menyenangkan hati Tuhan.Tiap kali saya dengar jemaat tanya pertanyaan sedetail-detailnya, saya tahu dia belum ahli waris – jiwanya, meskipun statusnya sudah.“Pak, saya mau tanya, bagaimana nanti panggilan?”Lalu saya bilang, “Belajar bergumul cari tahu kebutuhan masyarakat, cari tahu pimpinan Tuhan bagaimana.” “Ya, pak, saya tahu jawaban itu, tahu panggilan tuh bagaimana? Kaya itu lho, kaya Gideon gunting bulu domba, lalu nanti ada yang basah ada yang kering, dan itu membuat saya bisa ambil keputusan.Boleh nggak ya Pak? Saya doa sama Tuhan dulu, lempar koin, kalau kepala berarti saya nikah dengan si A. kalau ekor, saya nikah dengan si B. boleh nggak?” Saya bilang: Boleh saja, tapi itu bukan dari Tuhan. Kalau benar dari Tuhan bagaimana? Bergumul! Orang dewasa tahu kehendak Tuhan karena dia punya hikmat. Anak-anak tahu kehendak Tuhan karena dikasih instruksi didik. Biarlah kita menjadi orang dewasa yang tahu bagaimana punya hikmat untuk hidup menyenangkan Tuhan.Mari kita berdoa.

Bapa di Sorga, bimbinglah kami sehingga kami boleh menjadi orang-orang yang menyenangkan hati Tuhan. Bukan karena kami mendengar instruksi detail, karena kami seharusnya sudah dewasa, kami seharusnya sudah menjadi orang-orang yang mengenal Firman, yang mengerti Tuhan, dan yang mencintai Tuhan. Tuntun kami, ya Tuhan, sebagai orang-orang yang sudah seharusnya menjalankan kehendak Tuhan, dengan penuh kedewasaan, dengan penuh pengertian akan siapa Tuhan, dan dengan penuh hikmat Sorgawi. Sehingga kami bukan lagi anak-anak yang harus arahkan untuk tidak menghancurkan dan merusak pekerjaan Tuhan, tapi menjadi orang dewasa yang dengan kesadaran, berbagian di dalam kehendak Tuhan. Tuhan berkenanlah memimpin kami. Dan kiranya firman Tuhan menguatkan kami. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa dan bersyukur. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *