5 Kriteria Pemimpin Pelayanan dalam Gereja, 6 Juni 2021

Kisah Para Rasul 6:1-7

Pdt. Dawis Waiman, M. Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita perhatikan dari Kisah Rasul pasal 2 dan seterusnya maka kita menemukan gereja mula-mula itu makin lama makin berkembang dan perkembangan itu juga disertai dengan jumlah jemaat yang makin lama makin banyak, bukan hanya pelayanan Rasul Petrus dan Yohanes makin menjadi berkat bagi orang banyak dan bagaimana mereka mulai mempengaruhi orang-orang Yahudi pada waktu itu termasuk pada pemimpin Yahudi pada waktu itu, termasuk pemimpin Yahudi pun akhirnya menjadi gerah akan pelayanan yang mereka lakukan, tetapi Alkitab berkata pada waktu itu pelayanan yang bermula dari Yerusalem itu kemudian berkembang sampai seluruh Yerusalem mendengar akan berita Kristus dan bahkan orang-orang yang ada di sekitar dari Yerusalem yaitu di luar dari Yerusalem tetapi dekat dengan Yerusalem pun telah mendengar dan datang untuk mendengarkan Injil Kristus, dan pada waktu itu mereka pun bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus.

Dan pada waktu berita Injil makin disebarkan, Alkitab juga berkata bahwa kuasa penyertaan Tuhan di dalam pelayanan Petrus begitu luar biasa sekali bahkan bayangannya sendiri bisa menyembuhkan orang yang terkena dari bayangan itu sehingga mereka pulih dari pada sakit mereka. Dan semua itu bisa terjadi karena apa? Karena kalau kita perhatikan di dalam pasal sebelumnya, itu karena Tuhan menjawab permohonan doa mereka untuk menyertai mereka dengan kuasa, dengan mujizat, dengan keberanian untuk memberitakan Injil Kristus. Jadi kita bisa lihat gereja berkembang dengan begitu pesat sekali dalam beberapa bulan mulai dari 3000 orang yang bertobat, kemudian masuk ke 5000 orang yang bertobat, dan Saudara ketika membaca 3000, 5000 itu bukan total dari seluruh jemaat, tetapi itu adalah angka yang berkaitan dengan jumlah laki-laki yang ada di dalam jemaat. Artinya kalau Saudara kalikan mungkin 1,5 atau 2,5 ya, ada istri yang menyertai ataupun ada anak-anak mungkin ada yang single, maka jumlahnya itu bisa sampai belasan ribu orang pada waktu mereka melayani di dalam beberapa bulan itu.

Dan pada waktu mereka mulai berkembang dengan begitu pesat, Alkitab juga mencatat ternyata kemanisan yang ada di dalam gereja, suasana yang penuh dengan kasih itu, suasana yang penuh dengan kesatuan yang ada di dalam gereja ternyata ada masalah, ada ancaman yang akan menghancurkan pekerjaan Tuhan di dalam gereja atau melalui gereja itu di tengah-tengah dunia ini. Kita bisa lihat itu dari peristiwa ketika Petrus dan Yoahanes yang mengabarkan Injil kemudian ditangkap oleh orang-orang Farisi dan Ahli Taurat atau Sanhedrin yang merupakan pemimpin agama, kemudian diperingatkan dengan keras untuk tidak boleh memberitakan tentang Yesus dari Nazaret. Dan pada waktu mereka mendapatkan peringatan itu, yang pertama mereka dibiarkan dan mereka tidak bisa berbuat apapun untuk menghalangi Petrus dan Yohanes tetapi yang kedua kali ketika mereka ditangkap, maka mereka kemudian disesah dengan keras atau dengan hebat supaya mereka jera memberitakan Yesus dari Nazaret.

Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu hal itu terjadi Alkitab berkata dapatkah firman Tuhan dihambat? Dapatkah mereka melawan atau menahan supaya orang-orang tidak bertobat dan datang kepada Kristus? Dapatkah mereka membuat gereja tidak bisa melayani lagi dan tidak mengalami pertumbuhan? Alkitab mencatat tidak. Mereka tetap bertumbuh walaupun terjadi penganiayaan dan ancaman di dalam kehidupan gereja.

Tetapi setelah peristiwa itu terjadi, maka kemudian muncul lagi ada suatu masalah di dalam gereja yaitu terdapat satu pasang suami istri yang kemudian berusaha untuk mendapatkan nama yang baik ditengah-tengah umat Allah lalu merancangkan suatu kebohongan dengan menahan sebagian dari pada hasil penjualan tanah mereka untuk menjadi milik mereka sendiri tetapi mereka mengatakan kalau yang mereka persembahkan adalah semua hasil penjualan tanah itu. Sehingga di situ muncul dosa penipuan, muncul dosa kemunafikan secara eksternal terlihat mereka menipu, tetapi di dalam hati mereka adalah orang-orang yang mau tampil rohani tetapi dalamnya penuh dengan keduniawian yang disebut dengan kemunafikan, dan menjadi satu ancaman terjadinya kerusakan relasi di dalam gereja atau di dalam tubuh Kristus.

Jadi yang pertama dari luar tekanan datang untuk menahan perkembangan gereja. Ketika setan melihat dari luar ternyata dia tidak menghancurkan gereja, tetapi gereja makin bersatu, makin memiliki kerinduan yang kuat untuk mengabarkan Injil dan pengaruh dari gereja makin tersebar, maka kemudian gereja atau setan kemudian mengganti rencana, mungkin atau menggunakan rencana yang lain yaitu berusaha untuk menghancurkan pelayanan gereja dari dalam melalui orang-orang Kristen yang berbuat dosa.

Saudara kalau masih ingat di dalam perjalanan Israel keluar dari Mesir, maka mereka pernah bertemu dengan seorang raja yang namanya Balak yang begitu benci kepada orang-orang Israel karena bangsanya pernah dikalahkan oleh orang Israel lalu kemudian dia memanggil seorang nabi yang bernama Bileam untuk mengutuki bangsa Israel. Tetapi setiap kali dia bawa Bileam untuk mengutuki bangsa Israel dan Bileam memerintahkan untuk membawa korban persembahan untuk dipersembahkan lalu dia akan mengucapkan kutukan kepada Israel, Alkitab mencatat 3 kali kesempatan itu digunakan Bileam bukan untuk mengutuk tetapi untuk memberkati Israel. Dan Saudara, menariknya adalah berkat itu diberikan bukan di kala Israel dalam kondisi yang baik dan diberkati oleh Tuhan, tetapi justru pada waktu Israel sedang menjalani hukuman karena mereka menolak untuk percaya kepada Tuhan.

Jadi pada waktu mereka diusir dari jalan masuk menuju ke pada Tanah Perjanjian karena pada waktu itu timbul sungut-sungut dari dalam hati mereka, ketidakpercayaan mereka akan kuasa Tuhan untuk memimpin dan memelihara hidup mereka dan memimpin peperangan dan memenangkan mereka dalam peperangan untuk menaklukkan bangsa-bangsa Kanaan tersebut, mereka kemudian disuruh berputar kembali di padang gurun dan menghabiskan waktu 40 tahun untuk menghabiskan satu generasi yang tua-tua yang keluar dari Mesir dan baru generasi kedua yang boleh diizinkan masuk, dan di kala itulah justru berkat yang Tuhan berikan kepada Israel melalui Bileam yang seharusnya mengutuki orang-orang Israel.

Dan pada waktu Balak melihat dan Bileam melihat bahwa mereka tidak mampu untuk mengutuk Israel, akhirnya mereka ubah rencana. Caranya bagaimana? Kalau Tuhan tidak berpihak kepada mereka, maka mereka mengubah rencana untuk membuat Tuhan yang tidak berpihak kepada Balak dan Bileam tetapi berpihak kepada Israel sekarang justru memusuhi Israel. Bagaimana? Caranya adalah membuat Israel melakukan kawin silang. Jadi, Bileam berbicara kepada Balak, mereka menyusun rencana, “Sekarang kita berikan anak-anak perempuan kita ke Israel, kita berikan anak laki-laki kita untuk menikah dengan anak-anak perempuan Israel.” Pada waktu mereka menikah, itu bukan hanya sebagai satu perkawinan antara laki-laki dan perempuan untuk membangun sebuah keluarga, itu juga menjadi suatu perkawinan antar allah di mana Israel kemudian mulai terbuka untuk menerima allah dari orang-orang Moab lalu kemudian turut menyembah kepada Allah atau dewa-dewa mereka. Akibatnya apa? Akibatnya adalah Tuhan murka, sungguh-sungguh murka kepada Israel yang mengakibatkan 28.000 orang Israel mati pada waktu itu.

Saudara, iblis bisa menggunakan berbagai strategi untuk menghancurkan gereja Tuhan atau umat Allah. Bisa melalui luar penganiayaan, tetapi juga bisa melalui dalam. Melalui luar umumnya itu akan membuat gereja peka dan makin bersatu, tetapi melalui dalam seringkali itu yang menghancurkan gereja Tuhan atau umat Tuhan. Dan Ananias dan Safira ini adalah bagian dari bagaimana iblis mulai bekerja di dalam hati dari mereka untuk menimbulkan satu kecintaan kepada dunia, kecintaan pada uang, dan membuat mereka bisa tampil sebagai orang yang baik di tengah-tengah jemaat tetapi sebenarnya penuh dengan penipuan yang bisa merusak relasi yang ada di dalam gereja Tuhan. Tetapi bersyukurnya kepada Tuhan adalah pada waktu mereka merancangkan itu dan pada waktu mereka akan menjalankan program mereka atau rencana mereka, Tuhan intervensi dan kemudian mematikan sepasang suami istri ini disaat itu dan di hari itu juga sehingga pada waktu itu timbul suatu ketakutan yang besar di dalam jemaat dan juga kepada orang-orang yang mendengar tentang kekristenan, dan saya percaya itu juga ada tujuan baiknya supaya jemaat tidak berani macam-macam untuk menipu kembali atau berbuat dosa di dalam gereja dan itu menjadi suatu kesaksian yang makin membawa orang banyak datang ke dalam gereja untuk percaya kepada Kristus.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya baik dari luar punya ancaman itu adalah sesuatu yang pasti tidak menyenangkan, tetapi bahaya dari luar itu lebih terdeteksi daripada bahaya yang dari dalam. Tetapi pada waktu kita berbicara berkenaan dengan bahaya dari dalam, satu sisi mungkin bahaya itu bisa merupakan suatu bahaya yang merupakan dosa yang begitu terlihat di dalam gereja, tetapi kadangkala dosa itu juga bisa begitu subtle, begitu halus, begitu tersembunyinya, tapi sebenarnya itu adalah suatu dosa yang ada di dalam gereja yang sangat membahayakan sekali dan seringkali membuat gereja justru mengalami perpecahan. Dan bahaya itu apa? Salah satunya lagi adalah ketika kita baca Kisah Rasul pasal 6, kita melihat bahwa ada sungut-sungut yang timbul dari antara orang-orang Kristen Yahudi yang berbicara bahasa Yunani terhadap orang Kristen Yahudi yang berbicara bahasa Ibrani. Lalu persoalan yang ditimbulkan itu apa? Mereka bilang karena pembagian kepada janda-janda orang-orang Kristen Yahudi yang berbicara bahasa Yunani itu tidak sebanding dengan atau tidak sebaik seperti yang diterima oleh janda orang-orang Kristen Yahudi yang berbicara bahasa Ibrani, sehingga dari situ timbul suatu persungutan.

Nah yang menjadi penyebab apakah karena rasul tidak melakukan tugas itu dengan baik? Saya percaya kalimat ini mengatakan dan juga komentari mengatakan ini bukan berarti bahwa rasul-rasul itu tidak menjalankan tugas pembagian itu dengan baik, kalau Saudara perhatikan di dalam Kisah Rasul pasal 5 kelihatannya memang rasul-rasul yang bertanggung jawab untuk menjalankan pembagian itu ketika jemaat Allah menjual harta mereka lalu kemudian menyerahkannya ke dalam gereja untuk dikelola maka itu diserahkan kepada kaki rasul untuk dikelola saat itu, saya percaya itu membuat kita bisa melihat bahwa rasul menjalankannya maka walaupun mereka menjalankannya kelihatannya ada yang tetap tidak puas terhadap hal itu sehingga mereka melakukan sungut-sungut kepada pembagian itu.

Nah sebelum kita masuk lebih lanjut, saya mau bicara, sungut-sungut itu karena apa sih? Mungkin karena mereka merasa mereka kurang diperhatikan, mungkin mereka merasa karena mereka kurang dianggap penting dibandingkan dengan orang Kristen Yahudi yang berbicara bahasa Ibrani, mungkin karena mereka merasa bahwa orang Kristen bahasa Yunani itu adalah orang-orang yang kelasnya lebih rendah daripada yang Yahudi sehingga atau mungkin karena mereka tidak memiliki suatu pelayan atau pemimpin yang bisa lebih bersuara untuk menjaga mereka atau untuk mencukupkan kebutuhan mereka atau bahkan mungkin mereka merasa pembagian mereka itu tidak sepantasnya seperti itu walaupun itu sudah dibagikan kepada mereka. Ya apapun itulah ya, yang intinya adalah karena mereka merasa mereka telah terima tetapi mungkin mereka merasa perlakuan yang diberikan kepada mereka kurang memuaskan atau istilah lainnya adalah mereka ribut karena masalah ego.

Saudara, kalau Saudara perhatikan kenapa saya di dalam grup gereja tidak pernah bicara selamat ulang tahun? Kalau Saudara perhatikan, saya ada alasannya. Kalau sampai saya lupa menyebutkan ulang tahun kepada seseorang karena kesibukan tertentu misalnya, kadang-kadang kalau sudah terlalu banyak kayak gitu saya juga milih-milih untuk baca, kalau nggak saya bisa balas WA itu satu harian penuh dari pagi sampai pada malam hari dan itu pun belum selesai. Kenapa saya nggak mengucapkan? Karena saya pernah mendengar atau saya pernah mengalami ada orang-orang yang ketika ulang tahunnya di-skip, itu bisa ngamuknya minta ampun loh. Seolah-olah dia tidak diperhatikan seperti halnya jemaat lain yang diperhatikan dan dia kurang dikasihi.

Saudara, saya percaya ini bisa menjadikan satu masalah seperti halnya juga di dalam Kisah Para Rasul, ketika berbicara berkenaan dengan pembagian dan pembagian itu berbicara berkenaan dengan pelayanan meja dan pelayanan meja itu berbicara berkenaan dengan mungkin dua hal atau tiga hal yaitu berkenaan tentang makanan atau tentang uang atau tentang barang-barang yang dibutuhkan oleh janda-janda ini, maka ketika mereka merasa mungkin pembagiannya tidak seimbang, timbul pemikiran dan kecurigaan dari orang-orang Kristen yang berbicara bahasa Yunani untuk mengatakan mereka kurang diperhatikan. Artinya adalah ada semacam ego, ada semacam penghargaan yang dituntut oleh orang-orang Kristen Yunani ini yang berbicara bahasa Yunani kepada gereja, kepada para rasul karena mereka merasa mereka kurang dihargai atau mungkin kurang dikasihi.

Dan umumnya ini yang seringkali, saya bukan ngomong masalah uangnya dan masalah pembagian itu yang menyebabkan perpecahan gereja ya, tetapi persoalan kurang dihargai itu yang seringkali membuat gereja mengalami perpecahan. Perasaan bahwa apa yang menjadi pemikiran dia, rencana dia, program yang dia pikirkan dan dia ingin lakukan di dalam gereja tidak didengar dan diakomodir oleh gereja, maka itu membuat dia merasa bahwa dia diabaikan dan dia tidak dihargai dan akhirnya mengakibatkan perpecahan di dalam gereja.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ketika sebuah gereja makin bertumbuh dan makin berkembang, yang namanya perselisihan itu adalah sesuatu yang tidak mungkin dihindarkan, yang namanya kekurangan yang ada di dalam pelayanan itu adalah sesuatu yang tidak mungkin dihindarkan. Tetapi juga di balik itu kita harus mengerti suatu hal yaitu ada kemungkinan iblis turut mengintervensi masuk ke dalamnya untuk memperbesar suatu masalah yang ada yang sebenarnya sesuatu masalah yang berkaitan dengan kepentingan diri kita sendiri atau ego kita, harga diri kita tetapi kemudian itu menjadi sesuatu yang kita blow up di dalam gereja supaya timbul suatu perpecahan di dalam gereja. Dan ini seringkali menjadi hal yang tidak peka atau tidak kritis dilihat oleh orang gereja karena yang berbicara itu adalah ego.

Saya seringkali kuatir sekali dan takut sekali ketika berbicara berkenaan dengan suatu masalah dan ketika ego berbicara, maka yang terjadi seringkali adalah walaupun firman sudah dipaparkan di depan, prinsip-prinsip Alkitab sudah dibukakan di depan, kita lebih memilih keraskan hati daripada menundukkan diri di dalam kebenaran. Makanya itu yang mengakibatkan seringkali umumnya gereja mengalami perpecahan.

Tapi pada waktu itu terjadi, di dalam Kisah Rasul pasal 6, pada waktu ada semacam perselisihan yang ditimbulkan, apa yang dilakukan oleh para rasul ketika menghadapi situasi seperti itu ya? Alkitab berkata di dalam ayat yang ke-2, “Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja.”” Lalu kalau Saudara tarik ke dalam ayat ke-3 di situ dikatakan, “Karena itu, Saudara-Saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu.”

Jadi pada waktu para rasul melihat ada perselisihan itu, satu hal yang para rasul kemudian angkat adalah mereka memiliki kesadaran kalau mereka punya keterbatasan di dalam pelayanan dan itu membuat mereka kemudian melihat secara lebih luas lagi mungkin, melihat kepada karunia-karunia yang Tuhan berikan di dalam gereja untuk melengkapi pelayanan yang mereka lakukan. Dan pada waktu mereka melihat kepada pelayanan yang berkaitan dengan meja dan juga pelayanan yang mereka kerjakan itu, para rasul memiliki satu pemahaman yang mereka melihat itu adalah menjadi tanggung jawab panggilan mereka, yaitu pelayanan meja itu bukan menjadi tanggung jawab dari para rasul karena para rasul itu memiliki tanggung jawab panggilan untuk melayani firman dan doa. Lalu kalau dia melakukan pelayanan firman dan doa, pelayanan meja itu dilakukan oleh siapa? Atau pelayanan meja itu apakah menjadi sesuatu yang kedudukannya lebih rendah daripada pelayanan yang dilakukan oleh para rasul?

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu berbicara tentang ini dan kita lihat di dalam bahasa aslinya, maka Lukas menggunakan kata yang sama untuk berbicara berkaitan dengan pelayanan. Pertama adalah di dalam ayat yang ke-2 melayani meja, melayani meja itu adalah diakonia. Lalu ketika para rasul berbicara pelayanan firman di dalam ayat yang ke-4 itu menggunakan kata yang sama juga, diakonia. Artinya adalah baik pelayanan meja maupun pelayanan firman itu adalah dua hal yang merupakan pelayanan yang sama-sama penting untuk dilakukan di dalam gereja dan tidak pernah boleh diabaikan. Makanya kalau Saudara perhatikan di dalam beberapa bagian, misalnya di dalam Kisah Rasul, bagian-bagian belakangnya, di dalam Surat Korintus, lalu di dalam Yakobus pasal 1, Saudara bisa menemukan di situ para rasul berkata kita harus memperhatikan saudara-saudara kita yang ada di dalam kekurangan, ibadah yang sejati itu adalah ibadah yang memperhatikan fakir miskin atau janda miskin dan anak yatim, itu adalah hal-hal yang tidak boleh diabaikan di dalam sebuah pelayanan gereja.

Tetapi persoalannya pada waktu para rasul melihat jemaat yang makin berkembang, makin banyak, maka mereka menyadari satu hal ketika mereka melayani meja itu, maka tanggung jawab mereka untuk melayani firman menjadi terganggu. Itu sebabnya mereka kemudian berkata kami tidak bisa lakukan ini, kami tidak bisa teruskan pelayanan meja ini karena dengan kami meneruskan pelayanan meja, maka kami tidak bisa mempersiapkan firman dan tidak bisa berdoa untuk mempersiapkan firman atau untuk mendoakan jemaat atau mendoakan pelayanan yang mereka butuhkan untuk dilakukan itu dengan baik. Dan itu membuat para rasul kemudian menyerahkan tanggung jawab pelayanan meja kepada orang-orang yang Kristen yang ada di situ.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya dibalik dari prinsip ini mengandung satu pengertian kalau keberadaan dari orang Kristen di dalam gereja itu adalah keberadaan yang penting yang tidak boleh diabaikan. Atau kehadiran orang Kristen di dalam sebuah pertemuan di dalam suatu pertemuan ibadah gereja atau persekutuan, itu adalah suatu hal yang penting yang harus dijalankan oleh semua orang Kristen. Karena pada waktu kita berbicara berkenaan dengan pertemuan-pertemuan ibadah yang dihadiri orang-orang Kristen, sebenarnya itu bukan hanya berkaitan dengan suatu ibadah yang kita tegakkan di hadapan Allah, tetapi juga di baliknya, atau di dalamnya mengandung satu pelayanan kasih yang harus ditunjukkan oleh orang Kristen yang satu terhadap orang Kristen yang lain berdasarkan karunia yang Tuhan berikan kepada diri mereka.

Saya berkali-kali bicara hal ini tapi saya akan ngomong lagi, kalau setiap orang Kristen memiliki karunia yang tidak sama dengan orang Kristen yang lain. Setiap orang Kristen memiliki keunikan yang Tuhan pakai di dalam diri dia yang tidak bisa digantikan oleh orang Kristen yang lain. Dan ketika para rasul menggunakan ilustrasi untuk menggambarkan keberadaan orang Kristen di dalam tubuh Kristus, maka para rasul menggunakan gambar sebuah batu yang disusun di atas batu yang lain tetapi batu tersebut adalah bukan batu bata, tetapi batu candi, di mana batu yang satu harus di tempat yang itu dan tidak mungkin di posisi tempat yang lain. Di tempat yang itu karena ada lekokan atau yang masuk, atau yang keluar, yang membuat batu itu hanya bisa disusun di situ, mungkin kalau saya gambarkan seperti puzzle.

Anak saya, saya belikan puzzle, dia suka susun-susun puzzle, mulai dari 2×2 mungkin, 2×3 seperti itu, dan seterusnya, lalu ketika dia susun puzzle itu saya perhatikan dia punya, nggak tahu ya, dia tahu mungkin susunan yang bener itu seperti apa, tetapi kadang-kadang dia suka mencoba-coba, mungkin kreatifitas ya. Dia coba, kalau yang satu ini dicolok ke dalam sini dengan posisi yang beda bisa masuk nggak, kayak gitu. Kadang-kadang ada yang bisa masuk lho di dalam lubang itu, tapi ketika itu masuk, puzzle-nya nggak terbentuk, lalu dia stress sendiri, dia marah-marah sendiri, seperti itu.

Saudara, pada waktu kita berbicara tentang karunia, maka keberadaan dari orang Kristen yang satu dengan orang Kristen yang lain di dalam tubuh Kristus, kita harus mengerti, itu memiliki tempat yang masing-masing, yang tidak bisa digantikan oleh orang Kristen yang lain. Kalau Saudara merasa, kalau keberadaan saya di dalam gereja tidak penting, dan banyak orang Kristen yang lain yang bisa melengkapi tubuh Kristus itu, dan Saudara tidak perlu ada di dalam gereja, mungkin Saudara bukan bagian dari gereja. Karena yang namanya gereja, namanya orang Kristen itu memiliki peran di dalam tubuh Kristus yang tidak bisa digantikan oleh orang Kristen yang lain. Dan keberadaan itu di dalam gereja, keberadaan orang Kristen di dalam gereja itu dengan karunia masing-masing, tujuannya adalah untuk melayani orang Kristen yang lain yang ada di dalam gereja. Perhatikan ini baik-baik.

Saya baru berapa hari yang lalu dapat WA, orang yang nanya kayak gini, “Pak, saya punya teman, dia sekarang nggak mau datang ke gereja, karena dia kecewa dengan gereja, lalu dia memilih beribadah sendiri melalui online,” kayak gitu. Sebelum pandemi pun sudah banyak yang seperti itu ya, pandemi menjadi satu legalitas untuk membuat kita lebih memilih ibadah online dan ada kemungkinan untuk membenarkan diri karena gereja melakukan streaming online, seperti itu. Tetapi sebenarnya, di balik itu, ada hal yang dia nggak mengerti kalau saya lihat. Lalu orang ini bertanya kepada saya, “Pak, itu gimana ya cara jawab orang ini? Apakah boleh melakukan ibadah online sendiri dan tidak bergabung dengan orang Kristen yang lain?” Ya saya jawab, “Itu nggak mungkin karena dia nggak mengerti prinsip kesatuan tubuh dan prinsip karunia.”

Bapak, Ibu, kalau sendirian, di dalam rumah, beribadah, seperti itu, dan bahkan saya berkata juga keluarga itu menjadi satu kesatuan dengan diri kita dan kita tidak bisa jadikan sebagai satu kebenaran, “Saya beribadah tetapi dengan keluarga saya kok, berarti ada orang Kristen lain di dalam tempat saya beribadah.” Kecuali kalau Bapak, Ibu, berada di dalam negara non-Kristen, sendirian, satu keluarga beribadah, saya nggak masalahkan itu. Tapi kalau Bapak, Ibu, berada dalam satu tempat atau satu negara di mana ada begitu banyak gereja, lalu Bapak, Ibu, nyaman dengan keluarga sendiri, bagi saya itu bukan satu, itu bukan pengertian ‘saya mengerti konteks ibadah’ yang dimaksud oleh Kitab Suci. Karena pada waktu kita bertemu dengan orang Kristen yang lain, tujuannya adalah saya melalui diri saya, dalam saya beribadah misalnya, saya menjadi satu contoh bagi orang Kristen yang lain bagaimana seseorang itu beribadah kepada Tuhan. Lalu pada waktu saya beribadah kepada Tuhan bersama dengan orang-orang Kristen yang lain, dan ketika saya membangun satu relasi dengan mereka, di situ saya menjadikan kesempatan itu untuk melayani mereka.

Lalu Bapak ini bilang, “Bagaimana dengan orang-orang yang habis kebakatian itu langsung pulang?” Saya bilang justru itu adalah prinsip yang salah karena pada waktu kita datang ke dalam gereja, tujuannya bukan hanya saya beribadah kepada Tuhan, tetapi tadi yang saya bilang, kita tujuannya untuk bisa berelasi dengan orang Kristen yang lain, mengerti pergumulan mereka, lalu melayani mereka melalui karunia yang Tuhan berikan bagi diri kita kepada diri mereka.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ingat ya, itu menunjukkan kalau yang namanya pertemuan ibadah secara fisik tidak bisa diabaikan, itu namanya kalau kita berelasi dengan orang Kristen yang lain adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh orang Kristen yang satu dan orang Kristen lain yang tidak pernah boleh di-skip. Kita tidak pernah boleh nyaman dengan diri kita sendiri dan berpikir kita bisa menjadi orang Kristen yang baik dengan kita nyaman dengan diri kita sendiri dan dengan Tuhan. Karena Alkitab berkata kamu tidak mungkin bisa mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan kalau kita tidak bisa mengasihi manusia yang kelihatan.

Jadi, ada karunia yang diberikan oleh Tuhan di dalam gereja, yang harusnya digunakan seperti halnya karunia yang diberikan kepada para rasul untuk memberitakan firman dan pengajaran firman di dalam gereja Tuhan yang juga tidak boleh diabaikan. Dan ketika para rasul mengerti prinsip ini, akhirnya dia kemudian berkata, “Kami tidak bisa lakukan lagi pelayanan meja ini karena ketika saya melakukan pelayanan meja ini atau kami melakukannya, maka seluruh waktu kami, tenaga kami terkuras untuk melayani jemaat yang ada dan kebutuhan mereka.” Lalu ketika mereka berbicara seperti itu, apa yang mereka putuskan berikutnya? Mereka berkata, “Kalau begitu, serahkan 7 orang dari antara kamu untuk bisa fokus di dalam pelayanan yang berkaitan dengan meja ini.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau ditanya, kenapa 7 orang? Ada beberapa tafsiran, ada yang berkata 7 itu berkaitan dengan jumlah orang yang melakukan atau kebiasaan di dalam kehidupan orang Yahudi, 7 itu menjadi jumlah total orang yang yang mengelola sesuatu usaha tertentu atau sesuatu hal tertentu, seperti itu. Tapi ada juga yang berkata 7 itu karena berkaitan dengan 7 hari, jadi 1 orang melayani di hari yang satu, yang satu lagi melayani di hari yang lain, yang satu lagi melayani di hari yang lain lagi, kayak kita bicara tentang pelayanan song leader atau pianis seperti itu, atau usher dan kolektan, ada orang-orang tertentu minggu ini siapa, minggu depan siapa, minggu depannya siapa lagi, begitu. Kenapa ada hal seperti ini? Karena di dalam kebudayaan orang Yahudi, mereka begitu memperhatikan orang-orang yang miskin, janda, dan anak yatim, akhirnya mereka ada satu tim yang melakukan collect dana kepada jemaat, biasanya di hari Jumat, dan biasanya dibagikan ketika mereka berkumpul bersama di dalam suatu pertemuan ibadah. Dan orang-orang ini, yang in-charge ini, itu akan menjadi orang-orang yang melakukan hal itu, mengumpulkan dana itu, mengelola dana itu, lalu kemudian membagikannya kepada jemaat yang ada di dalam kebutuhan itu.

Tapi pada waktu mereka memilih orang-orang yang merupakan 7 orang ini, saya percaya ada prinsip yang Alkitab berusaha untuk ajarkan bagi diri kita berkenaan dengan siapa yang menjadi orang yang merupakan pemimpin, tokoh, yang harus menjabat sebuah pelayanan yang ada di dalam gereja Tuhan. Dan hal itu dicatat di dalam ayat yang ke-3, Saudara bisa lihat ada 5 persyaratan yang dikatakan di sini untuk memilih seorang pemimpin. Pertama adalah, “Tujuh orang dari antaramu.” Oh, kalau gitu yang pertama adalah dari antara kita ya? Nggak, sebenarnya sebelum ‘antaramu’ itu ada satu kata yang dihilangkan oleh LAI, yang ada di dalam terjemahan bahasa aslinya ya atau dalam bahasa Inggris, “Tujuh orang laki-laki dari antaramu,” itu yang pertama. Jadi yang pertama laki-lakinya, yang kedua ‘dari antaramu’ itu ya. Maksudnya adalah ketika kita berbicara berkenaan dengan pemimpin gereja yang bertanggungjawab untuk satu pelayanan tertentu, apapun itu, maka Alkitab menekankan dia haruslah seorang laki-laki.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa laki-laki? Apakah karena laki-laki punya derajat lebih tinggi dari perempuan? Apakah laki-laki itu adalah seorang yang mungkin bisa dikatakan lebih hebat, lebih, pokoknya lebih segala sesuatu dari perempuan maka laki-laki itu yang menjadi calon yang dipilih? Saya percaya jawabannya tidak seperti itu ya. Alkitab tidak pernah mengajarkan kalau perempuan itu memiliki derajat yang lebih rendah daripada laki-laki. Karena kalau Saudara perhatikan di dalam Kejadian pasal 1, ketika Allah mencipta manusia laki-laki dan perempuan, Alkitab mencatat, atau Allah dikatakan berkata kalau Dia menciptakan laki-laki dan perempuan menurut gambar dan rupa-Nya. Artinya adalah laki-laki adalah gambar Allah, perempuan juga adalah gambar Allah, dan mereka kalau sama-sama adalah gambar Allah mereka adalah orang yang setara satu dengan yang lain, cuma yang membedakan adalah kelaminnya berbeda, atau seksnya berbeda, tetapi mereka setara di hadapan Tuhan Allah.

Jadi laki-laki dan perempuan itu adalah manusia yang setara, dan sebagai orang Kristen kita tidak bisa berkata kalau perempuan atau istri itu kedudukannya lebih bawah dari laki-laki sehingga laki-laki boleh berlaku sewenang-wenang terhadap perempuan, seolah-olah perempuan itu pelayan. Apalagi Alkitab berkata dia adalah penolong, pelayan pokoknya perempuan posisinya adalah melakukan segala sesuatu yang diinginkan oleh laki-laki. Nggak seperti itu ya. Tapi kalau tidak seperti itu, kenapa di sini dikatakan sebagai laki-laki? Apalagi ketika Alkitab berbicara berkenaan dengan perempuan, perempuan juga sepertinya memiliki satu jabatan atau sesuatu kemampuan tertentu, atau suatu karunia tertentu dari Tuhan untuk bisa bukan hanya melayani suaminya atau menjadi penolong suaminya, tetapi juga melayani firman di dalam umat Allah.

Saudara bisa lihat di dalam Perjanjian Lama, nabi itu bukan hanya nabi laki-laki tetapi ada nabi-nabi perempuan di situ. Lalu ketika Saudara lihat di dalam Perjanjian Baru, Saudara juga bisa menemukan yang melayani firman itu tidak harus laki-laki, tetapi yang melayani firman ada perempuan juga. Contohnya siapa? Salah satu contoh yang begitu terkenal sekali adalah Akwila dan Priskila, sepasang suami istri yang begitu saleh, begitu takut Tuhan, dan mereka sering kali melayani di dalam gereja, dan bahkan Tuhan pakai mereka untuk membimbing Apolos yang begitu giat memberitakan Injil tetapi tidak terlalu memahami kabar atau kebenaran tentang Kristus. Dan di situ ada Priskila yang berbagian untuk melayani dan mengajarkan firman.

Jadi pada waktu melihat keberadaan perempuan di dalam gereja, Alkitab berkata ada perempuan-perempuan yang turut memiliki satu pelayanan penting di dalam gereja. Tetapi kenapa ketika berbicara berkenaan dengan pemimpin yang memiliki tanggung jawab dalam pelayanan sebuah gereja, Alkitab berkata pilih laki-laki di situ? Saya percaya ini berkaitan dengan kepala ya. Laki-laki dicipta oleh Tuhan sebagai kepala, yang harusnya menjadi pemimpin di dalam sebuah keluarga ataupun di dalam sebuah gereja. Dan ini menjadi satu ordo atau sesuatu prinsip yang kita tidak boleh abaikan di dalam sebuah pelayanan. Bukan berarti perempuan tidak memiliki bagian di dalam pelayanan, tetapi jabatan sebagai seorang pemimpin itu harus tetapi dipegang seorang laki-laki. Dan saya percaya hal ini juga berkaitan dengan melindungi natur perempuan yang Tuhan cipta sebagai seorang perempuan.

Jadi pada waktu kita memilih seorang pempimpin yang melayani di dalam gereja, maka prinsip pertama dia harus laki-laki, bukan perempuan. Lalu yang kedua adalah dia haruslah seorang yang dari antaramu. Artinya adalah, pada waktu kita memilih pelayan di dalam gereja, kita tidak perlu melirik-lirik gereja sebelah. Pada waktu kita melihat sebuah kebutuhan yang ada di dalam gereja, maka umumnya, atau pasti Tuhan sudah siapkan orang-orang yang ditentukan untuk bisa melayani di dalam bidang itu. Di sini, ketika berbicara berkenaan dengan orang yang melayani di bidang itu, berbicara berkenaan dengan kebutuhan yang ada di dalm gereja, maka kita bisa kaitkan itu dalam pengertian bagaimana Tuhan memimpin atau Roh Kudus memimpin di dalam gereja dan organisasi yang ada di dalam gereja. Tuhan memimpin, mungkin orang dan organisasi yang ada di dalam gereja.

Nah menariknya adalah, pada waktu kita berbicara seperti ini, maka prinsip pelayanan di dalam gereja itu bertolak belakangan dengan prinsip yang ada di dalam dunia kerja. Di dalam dunia kerja, ketika kita bekerja, biasanya yang kita tentukan adalah organisasinya dulu kan? Itu yang penting. Dananya yang penting, lalu cari orang yang bisa bekerja di situ, sesuai dengan skill yang mereka miliki di dalam bidang itu. Tetapi ketika berbicara mengenai pelayanan gereja, Alkitab mengajak kita melihat yang kita perlu lakukan adalah, kita perhatikan adalah ke mana Roh Kudus memimpin di dalam gereja, di mana pelayanan itu mulai bertumbuh dan berkembang di dalam gereja. Lalu pada waktu kita melihat ada kebutuhan di situ, melalui pelayanan itu mulai berkembang, hal kedua adalah kita melihat siapa orang yang ada di dalam situ, yang berbagian di dalam pelayanan itu, atau mengerjakan pelayanan itu. Lalu yang ketiga baru kita membentuk satu organisasi untuk mendukung mereka yang melayani di dalam bidang itu.

Makanya pada waktu kita berbicara mengenai prinsip ke-2, sebuah pelayanan, dan prinsip ke-2 ini berbicara berkenaan dengan karunia yang ada di dalam gereja, Saudara bisa lihat di dalam 1 Korintus 12 dan 1 Korintus 14 di situ dikatakan Tuhan atau Roh Kudus ketika memberikan karunianya ke dalam gereja, Roh Kudus akan memberikan karunia itu berdasarkan kebutuhan yang ada di dalam gereja itu. Jadi Roh Kudus tidak memberikan karunia dengan sembarangan tanpa ada kebutuhan yang dibutuhkan di dalam gereja, dia berikan kepada orang-orang yang ada di dalam gereja tetapi tidak terpakai, tetapi Roh Kudus akan berikan karunia sesuai dengan kebutuhan yang ada di dalam gereja itu. Ini lagi menjadi satu prinsip lagi di mana kita tidak pernah bisa berpikir bahwa kita tidak butuh orang Kristen yang lain, dan orang Kristen tidak butuh saya. Karena Tuhan ketika menempatkan kita di dalam gereja pasti ada kebutuhan di situ, cuma mungkin kita belum melihat kebutuhannya itu apa, dan atau tempat kita di mana di dalam pelayanan gereja itu.

Dan Paulus di sini berkata pada waktu kebutuhan itu ada, dan kebutuhan itu apa? Kebutuhan itu adalah berkaitan dengan pelayanan meja, waktu pelayanan meja itu, kebutuhan itu ada, siapa yang harus dicari? Jangan cari orang lain yang kita anggap punya skill untuk bisa bekerja di dalam bidang itu lalu kita hire atau kita panggil dia untuk masuk ke dalam pelayanan itu, untuk melayani itu, tapi sebelumnya dia tidak pernah berbagian di dalam pelayanan itu, tetapi carilah mereka yang ada di antaramu, yaitu yang berkebutuhan itu, yang memikirkan itu, lalu tunjuk mereka untuk menjadi pemimpin yang mengkoordinasi pelayanan itu.

Saya percaya ini adalah prinsip yang Pak Tong sendiri ajarkan di dalam gereja kita ya. Dengan satu kalimat yang sering kali menimbulkan kemarahan, tetapi saya percaya kalimat ini benar sekali. Atau bukan cuma menimbulkan kemarahan tetapi juga membuat orang takut untuk mengusulkan sesuatu tetapi sebenarnya benar sekali yaitu, “You say, you pay,” kamu berkata sesuatu, kamu mengusulkan sesuatu, ya kamu yang lakukan. Kalau prinsip dunia, kita usul, orang yang mengusul itu hebat, prinsip, tetapi yang bekerja itu bukan kita, orang lain, itu namanya jago. Tapi di dalam gereja, yang namanya pelayanan, bukan kita usul orang lain yang kerja, tetapi kita usul kita yang kerja. Prinsipnya dari sini, ya, prinsipnya dari karunia itu.

Karena saya percaya ketika seseorang itu diberikan satu mata untuk melihat satu keadaan tertentu, itu menunjukkan dia punya kelebihan dibandingkan jemaat Kristen yang lain di dalam bidang itu, tetapi juga sekaligus kekurangan yang paling besar yang sering kali dia nggak sadar. Karena pada waktu dia diberikan satu kemampuan untuk melihat yang lebih banyak, kalau dia melihat diri dia dalam pengertian penonton tadi, untuk orang lain yang bekerja, bukan saya, maka dia akan mulai mengkritisi, mengkritisi kekurangan-kekurangan yang ada di dalam sebuah pelayanan. Padahal sebenarnya ketika Tuhan memberikan karunia itu kepada diri dia untuk bisa melihat hal yang tidak dilihat oleh jemaat yang lain, sebenarnya Tuhan mau dia cemplungkan diri ke dalamnya dan mulai memperbaiki keadaan yang ada berdasarkan karunia yang Tuhan berikan pada diri dia. Makanya saya bilang satu sisi itu adalah satu kelebihan, tetapi juga di sisi lain, itu adalah satu kekurangan yang besar sekali dalam diri orang itu, yang sering kali dia tidak lihat dan dia tidak pahami.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, prinsip kedua ketika kita ingin memilih seseorang yang berkaitan dengan sebuah pelayanan, yang ada di dalam gereja, pilihlah orang yang aktif di dalam pelayanan itu, jangan pilih orang yang tidak ada hubungan, dan tidak ada kaitannya di sana. Saya percaya, dia nggak akan pernah bisa melayani dengan baik di situ. Tetapi ketika kita memilih, pilihlah orang yang memang sudah melayani. Ketika dia sudah melayani, saya percaya dia mengerti apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan di dalam pelayanan itu, walaupun mungkin ada orang lain bisa memberikan satu masukan yang membuat dia bisa, mungkin, memperbaiki pelayanan untuk lebih baik, seperti itu, tetapi, saya percaya, yang ada di dalam pasti adalah orang yang memiliki hati di situ, dan dia adalah orang yang pasti akan bekerja dengan segiat mungkin demi untuk mengerjakan apa yang Tuhan, beban yang Tuhan tanam di dalam, atau taruh di dalam hati dia.

Jadi pertama dia adalah laki-laki, kedua dia adalah orang yang dipilih dari antara mereka yang membutuhkan atau mereka yang melayani di dalam bidang itu, lalu yang ketiga adalah orang yang terkenal baik. Baik ini berbicara tentang moral, baik ini berbicara tentang satu nama baik yang ada di dalam, mungkin bisa dikatakan, di dalam gereja dan juga di dalam masyarakat. Jadi pada waktu kita memilih seorang pemimpin, kalau di dalam dunia, kita tidak peduli bagaimana kehidupan keluarganya, bagaimana moralitas daripada orang itu di dalam dunia ini, yang penting dia punya skill. Ketika dia punya skill itu berarti dia adalah orang yang cocok di dalam bidang pelayanan itu atau di dalam pekerjaan itu. Tetapi ketika kita berbicara berkenaan dengan pelayanan gereja maka skill itu belakangan. Saya percaya Tuhan akan memberikan kemampuan itu kepada orang yang Tuhan berikan beban untuk melayani, karena yang namanya karunia, itu adalah bersumber dari Tuhan, tetapi yang penting adalah moralitasnya bagaimana? Kekudusan hidupnya bagaimana? Keluarganya seperti apa? Nama baiknya di tengah-tengah masyarakat dan di dalam gereja bagaimana? Itu harus menjadi hal yang dipertimbangkan dan aspek ketiga yang harus diperhatikan ketika kita memilih seorang pelayan.

Yang keempat adalah dia adalah orang yang penuh roh. Penuh roh berbicara berkenaan dengan orang yang hidupnya meninggikan Kristus. Penuh roh itu berbicara berkenaan dengan orang yang hidupnya tunduk di bawah kebenaran firman Tuhan. Karena penuh roh di dalam Alkitab berkaitan erat dengan ketaatan kepada pimpinan Tuhan di dalam hidupnya dan pimpinan itu diberikan oleh Tuhan melalui perkataan firman Tuhan. Jadi pada waktu kita melihat seseorang itu penuh dengan Roh Kudus, jangan terpancing untuk melihat dari aspek karunia supranatural yang dimunculkan oleh orang itu tetapi lihatlah kelembutan hatinya terhadap firman Tuhan dan kerelaan dia dan kesiapsediaan dia untuk taat kepada firman itu walaupun itu berarti dia harus sangkal diri dan demi itu dia harus membiarkan mukanya dicoreng. Itu namanya lembut hati, itu namanya seorang yang tunduk di bawah firman, seorang yang penuh dengan Roh Kudus.

Lalu yang kelima adalah hikmat, orang yang berhikmat. Siapa itu orang yang berhikmat? Orang yang berhikmat itu adalah orang yang bisa mengaplikasikan firman di dalam hidup dia, orang yang bijak, orang yang kata-katanya itu atau nasehatnya itu adalah sesuatu yang benar, sesuatu yang baik, sesuatu yang kita bisa percaya dan kita bisa jalankan dan kita tahu itu adalah benar dan itu adalah sesuai dengan firman Tuhan.

Jadi ini adalah 5 syarat siapa yang seharusnya menjadi orang yang kita ajukan untuk menjadi pemimpin di dalam gereja dalam kaitan ini dalam urusan pelayanan meja. Dan orang-orang itu siapa yang mengajukan? Di sini dikatakan jemaat yang mengajukan, dan para rasul kemudian mungkin bisa menyeleksi atau menguji atau menilai apakah pilihan itu adalah sebuah pilihan yang benar atau tepat atau tidak. Nah itu berarti Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya tekankan sekali lagi, itu berarti bahwa orang ini pastilah orang-orang yang sudah diakui dalam pelayanan gereja jadi jemaat mengenal dia, jemaat mengusulkan orang itu untuk menjadi pelayan.

Nah saya berharap ketika Bapak, Ibu, melihat sebuah pelayanan, melihat sebuah kebutuhan, hal yang pertama adalah yang kita perlu doakan, di mana Tuhan tempatkan saya di dalam keadaan itu. Lalu yang kedua adalah kalau kita misalnya bukan seorang yang Tuhan tempatkan di situ sebagai seorang pemimpin tapi kita merasa ada orang lain yang bisa lebih layak, mulai pikirkan siapa yang adalah orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus yang baik itu, yang punya suatu moralitas yang baik, memiliki takut akan Tuhan dalam hidup dia, yang berhikmat itu, yang kira-kira ketika dia duduk di situ dia akan menjadi berkat di dalam pelayanan itu. Jadi sekali lagi jangan cuma lihat dari sisi skill, jangan cuma lihat dari sisi kekayaan, jangan cuma lihat dari sisi jabatan yang dia miliki di dalam dunia pekerjaan, tetapi lihatlah dari hatinya, dari karakternya, dari moralitasnya, dari kelembutan hatinya untuk tunduk di bawah kebenaran firman, orang itu adalah orang yang kita perlu usulkan dan ajukan untuk menjadi pemimpin di dalam gereja.

Mungkin Bapak, Ibu, bisa tanya kenapa begitu? Bukankah orang yang teruji di luar adalah orang yang pasti bisa melakukan sesuatu yang baik? Ya mungkin saja ya tetapi persoalannya adalah kita gereja, kita bukan dunia. Kita adalah gereja yang memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan rohani. Dan kalau kita adalah gereja yang bergerak di dalam bidang rohani yang memikirkan apa yang menjadi kehendak Tuhan yang harus jadi di dalam kehidupan gereja dan dunia ini, maka orang yang layak untuk menjabat itu adalah orang yang memiliki kerohanian yang baik, bukan sekedar skill-nya yang bagus atau pendidikannya yang sesuai dengan bidang yang dia harus layani itu. Tetapi yang paling penting adalah kerohaniannya terlebih dahulu. Karena kalau tidak, kita akan menjalankan gereja bukan berdasarkan prinsip pimpinan Roh Kudus, kita akan menjalankan pelayanan gereja bukan berdasarkan apa yang menjadi kehendak Allah harus terjadi di dalam gereja itu, tetapi kita akan mengusulkan suatu prinsip-prinsip atau program-program yang kelihatannya bagus, mungkin, tapi sebenarnya bukan kehendak Tuhan atau rencana Tuhan yang harus jadi di dalam pelayanan gereja.

Jadi ini adalah 5 prinsip yang harus menjadi satu standar yang kita gunakan untuk memilih seorang pemimpin yang menjabat sebuah pelayanan tertentu. Lalu rasul bagaimana? Rasul, sekali lagi, memiliki bidang pelayanan yang berbeda. Bedanya dalam hal apa? Firman dan doa. Itu menjadi hal utama yang harus ditekankan di dalam pelayanan rasul. Dan kalau Saudara perhatikan di dalam Efesus 4:11 maka di situ diajarkan ketika rasul-rasul sudah tidak ada lagi dalam dunia ini, maka pelayanan berkaitan dengan firman dan doa itu kemudian diteruskan kepada yang namanya penginjil dan pengajar penggembala. Itu yang akan meneruskan pelayanan firman di dalam gereja Tuhan. Lalu jemaat bagaimana? Jemaat di dalam ayat berikutnya, ayat 12 dikatakan para rasul, para penginjil, para gembala, para pengajar mendidik jemaat untuk melayani.

Kita coba buka sama-sama Efesus 4:11, “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.” Jadi kalau kita mengerti prinsip ini, kita tahu bahwa ada karunia masing-masing Tuhan tempatkan di dalam gereja Tuhan untuk melakukan suatu pelayanan tertentu, dan ketika kita tahu bahwa karunia kita di situ dan panggilan kita di situ maka itu adalah hal yang harus dipentingkan dan diutamakan untuk dilakukan dalam sebuah pelayanan gereja. Dan tanggung jawab seorang rasul atau hamba Tuhan atau Vikaris di dalam gereja yang paling utama itu bukan melakukan pelayanan meja tetapi melakukan pelayanan firman dan doa.

Dan Alkitab demi untuk mengatakan pentingnya aspek ini, maka kalau Saudara perhatikan di dalam surat 1 Timotius 5:17-18 Paulus berkata, “Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar. Bukankah Kitab Suci berkata: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,” dan lagi “seorang pekerja patut mendapat upahnya.”” Saya bicara ini bukan dalam pengertian untuk, “Oh saya minta dihormati,” gitu.

Kemarin di dalam perpisahan dari Vik. Leo, dia ada bicara satu hal, “Saya senang sekali ketika ada 3 tahun di sini, di Solo, saya melihat bagaimana jemaat kemudian mengalami pertumbuhan, kemudian di situ ada yang tidak aktif gereja mulai aktif gereja, yang tidak aktif pelayanan sekarang mulai aktif pelayanan.” Kemudian saya sambung, saya bilang seperti ini, “Bapak, Ibu, kalian tahu tidak sukacita terbesar seorang hamba Tuhan itu bukan dihormati. Bagi kami, sukacita terbesar kami adalah kalau kami melihat jemaat yang kami layani belajar menundukkan diri kepada Tuhan dan bertumbuh di dalam iman dan ketaatan mereka kepada Tuhan. Itu sukacita terbesar sekali di dalam pelayanan. Ketika kami melihat ada orang yang dulunya suam-suam kuku kemudian mereka mengalami pertobatan, sadar Tuhan bukakan, celikkan mata mereka, lalu kemudian Tuhan pertumbuhkan pengertian kebenaran firman lalu di situ dia mulai Tuhan gerakkan untuk terlibat di dalam sebuah pelayanan, itu bawa sukacita yang bisa membuat saya menangis di hadapan Tuhan dan bersyukur di hadapan Tuhan.”

Dan setiap kali ketika kita berbicara sesuatu pada jemaat, coba perhatikan yang kami katakan itu berkaitan dengan kepentingan diri atau pelayanan. Kalau itu berkaitan dengan kebutuhan pelayanan, dengarkan baik-baik karena itu bukan berkaitan dengan diri kami untuk kami dihormati atau didengarkan. Bapak, Ibu, mau menolak silahkan, nggak masalah kami juga nggak terlalu pusingkan hal itu. Sakit nggak? Mungkin sakit seperti itu, mungkin merasa diabaikan, bisa saja seperti itu. Tapi kami juga belajar satu hal, ketika hal itu diabaikan, kami uji ke diri kembali itu karena kami atau bukan. Kalau bukan, ya sudah biarlah dia bertanggung jawab di hadapan Tuhan berdasarkan keputusan yang diambil. Karena pada waktu kita berbicara dan bukan berkaitan dengan kepentingan diri, itu berarti kami berusaha untuk mengajarkan kebenaran firman yang diaplikasikan mungkin dalam wujud yang lain atau moral dan segala hal yang lain.

Jadi pada waktu saya mengutip bagian 1 Timotius 5, bukan tujuannya untuk saya dihormati ya, tetapi yang saya mau tekankan seperti ini, pada waktu seorang melayani sungguh-sungguh di dalam gereja, ayat 17 dikatakan menghormati, tetapi ayat 18-nya dikatakan apa? Dia harus dibayar oleh jemaat di dalam gereja itu. Nah ini juga saya bukan menuntut untuk dibayar lebih ya karena di dalam sinode kita sudah ada standarnya seperti itu. Tapi yang saya mau ngomong gini, ketika seseorang itu melayani di dalam gereja, dan dia harus dibayar oleh gereja ketika dia melayani firman, maka itu berarti pelayanan firman adalah pelayanan yang sangat penting sekali sehingga ketika seseorang dipanggil dengan satu karunia melayani di dalam gereja untuk pelayanan firman, maka kita tidak boleh membiarkan orang itu untuk sambil melayani sambil bekerja, sambil melayani sambil bekerja seperti itu.

“Lho kalau nggak boleh bagaimana dengan Rasul Paulus, bukankah dia juga sambil membuat tenda sambil melayani firman Tuhan?” Bapak, Ibu, konteksnya beda. Bedanya adalah kalau itu adalah sesuatu yang diizinkan, maka Paulus nggak akan tulis kepada Timotius dan kepada gereja yang Timotius layani atau kepada Efesus berkata bahwa seorang pekerja firman harus dibayar gajinya oleh firman dan dijamin hidupnya oleh gereja Tuhan. Tapi Paulus akan berkata kepada Timotius, “Timotius kamu jangan malas ya selain kamu memberitakan firman, kamu juga harus bekerja cari uang untuk kebutuhanmu sendiri,” seperti itu. Prinsipnya sama. Tetapi Paulus ketika berbicara kepada Timotius prinsipnya beda, “Kamu kerja firman, kamu harus dicukupkan oleh gereja karena kamu melayani dalam gereja bidang firman.”

Kalau gitu kenapa Paulus sendiri bekerja tenda? Saya lihat sebabnya karena dia adalah seorang misionaris yang harus pergi ke tempat di mana tidak ada orang Kristen. Dan ketika tidak ada orang Kristen, mungkin tidak dia punya kehidupan dicukupkan oleh orang Kristen? Pasti tidak. Karena itu dia harus bekerja untuk mencukupkan diri dia sendiri, lalu ketika kehidupan dia sudah cukup, dia juga sambil melayani firman di daerah tersebut. Dan Alkitab ada bicara sampai kapan? Sampai misalnya Akwila dan Priskila tiba, maka dia bisa full melayani firman Tuhan karena Akwila dan Priskila bekerja mencukupkan kebutuhan mereka.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ayat di dalam 1 Timotius 5:17-18 itu berkata pentingnya pelayanan firman di dalam gereja, pentingnya pelayanan doa di dalam gereja. Karena saya percaya ini yang membuat kita hidup di dalam kebenaran Tuhan dan hidup di dalam Kerajaan Tuhan. Dan ketika Petrus tahu bahwa hal yang paling utama dan penting ini terabaikan karena pelayanan meja, mereka tidak menjadi puas, dan mereka mengembalikan tanggung jawab itu kepada orang-orang yang ditunjuk di antara jemaat Tuhan untuk menjadi pemimpin di dalam aspek ini.

Dan satu hal yang menarik, ketika hal ini dijalankan, siapa yang ditunjuk? Ada 7 orang. 7 orang ini siapa? Kalau Bapak, Ibu, perhatikan, mereka pertama adalah Stefanus, yang kedua adalah Filipius, ketiga adalah Prokhorus, keempat Nikanor, kelima Timon, enam Parmenas, dan tujuh adalah Nikolaus. Siapa mereka? Sekali lagi komentari berkata seperti ini, kalau perhatikan namanya, mereka semua adalah memiliki nama Yunani. Nggak ada satupun yang bernama Ibrani. Artinya adalah ketika para jemaat ini menunjuk orang-orang yang akan menjabat posisi itu untuk memperhatikan pelayanan meja, maka semuanya adalah dari orang Kristen Yahudi yang berbahasa Yunani.

Artinya apa Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan? Ada yang mengatakan itu menunjukkan di dalam gereja sekarang sudah hilang dari keributan, hilang dari keretakan, karena mereka sudah kembali ke dalam satu kehidupan kesatuan, trust, dan kasih yang ada di dalam gereja. Karena pada waktu berbicara mengenai pelayanan itu, bisa saja orang-orang Kristen Yahudi berkata seperti ini, “Hati-hati ya itu kalau kita pilih semua orang Kristen yang berbicara bahasa Yunani yang menduduki jabatan itu, jangan-jangan nanti kita punya janda-janda dalam bahasa Ibrani ini diabaikan juga karena sebelumnya pelayanan untuk mereka diabaikan. Karena itu kita jangan berikan semua orang Yunani yang duduk di situ tetapi kita tunjuk beberapa orang paling tidak seimbang, seimbang lah antara Yahudi Kristen, Yahudi Ibrani, dengan Yahudi Kristen yang bahasa Yunani supaya terjadi keseimbangan di dalam pengaturan kebutuhan bagi para janda itu.” Tetapi yang terjadi di dalam gereja mula-mula adalah mereka tidak pikirkan itu, mereka menunjuk semua orang Kristen Yahudi yang berbicara bahasa Yunani yang menjabat pimpinan pelayanan itu.

Nah itu sebabnya ketika kita melihat bagian ini, kita bisa katakan apa yang diusulkan oleh para rasul berkenaan dengan pelayanan meja itu telah mempersatukan gereja kembali. Semula gereja itu mengalami satu keributan dan sungut-sungut dan saling curiga satu dengan yang lain, tetapi kemudian sekarang sudah bisa membangun trust kembali dan kasih kembali dengan pemilihan yang terjadi yang ditunjukkan dengan 7 orang yang berbicara bahasa Yunani yang menjabat sebagai pempin itu. Saya lihat itu adalah satu keindahan yang ada di dalam gereja mula-mula ya. Satu keindahan yang juga menunjukkan bagaimana Tuhan memelihara gereja-Nya dan mencegah iblis untuk bisa menghancurkan gereja Tuhan. Dan di situ mereka tidak mementingkan ego mereka tapi mereka belajar untuk bisa memikirkan pelayanan lebih utama daripada urusan perut dan urusan kepentingan diri pribadi. Dan akibat daripada keputusan itu, Alkitab berkata para rasul kemudian meletakkan tangannya atas mereka dan firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak, juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya. Jadi hasil dari keputusan itu menunjukkan ada satu perkembangan dari gereja Tuhan kembali yang terjadi pada waktu itu.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya perselisihan itu tidak mungkin dihindarkan. Perselisihan satu terhindar, saya yakin akan ada muncul perselisihan yang lain di dalam gereja. Perselisihan yang lain selesai, akan muncul lagi perselisihan lain yang muncul di dalam gereja. Karena kita bukan orang yang merupakan malaikat yang tidak ada dosa sama sekali di dalam gereja, kita masih ada dosa itu. Tetapi satu hal yang saya mau katakan, sampaikan, jangan sampai perselisihan itu membuat kekuatan pelayanan dalam gereja itu hilang atau hancur. Jangan akhirnya kita kembali memikirkan untuk kepentingan diri dan mengorbankan pelayanan gereja. Tetapi kita harus tahu bahwa yang utama itu adalah bagaimana gereja harus bersaksi bagi Tuhan dan mengabarkan Injil di dalam dunia ini.

Dan saya percaya kalau fokus kita adalah untuk injil, untuk saksi bagi nama Kristus, urusan pribadi menjadi urusan yang tidak terlalu penting lagi. Kita menjadikan urusan pribadi penting karena kita tidak melihat diri kita adalah saksi Kristus tetapi kita adalah saksi untuk diri kita sendiri. Tapi kalau kita melihat diri kita adalah saksi Kristus, saya yakin kita akan menjaga bagaimana kita berbicara, kita akan menjaga mata kita melihat apa, kita akan menjaga kita bagaimana berperilaku, kita akan menjaga bagaimana kita bersikap kepada orang lain, kita akan menjaga bagaimana kita mengendalikan emosi kita ketika orang lain lihat kita, pokoknya segala sesuatu yang membuat Kristus bisa makin dilihat dalam hidup kita itu akan kita utamakan. Dan saya percaya dengan begitu gereja akan menjaga kesatuan, gereja akan terus berkembang, dan gereja akan makin dipakai oleh Tuhan untuk menjadi saksi-Nya di tengah-tengah dunia ini.

Jadi itu yang menjadi satu doa terus terang dalam hati saya, ketika setiap kali saya memutuskan sesuatu berkaitan dengan pelayanan gereja, saya usahakan semaksimal mungkin keputusan itu bukan berkaitan dengan apa yang saya prefer, tetapi apa yang dibutuhkan atau yang terbaik untuk sebuah pelayanan gereja. Dan saya harap kita semua juga ketika kita melayani Tuhan, kita memikirkan yang terbaik untuk gereja ini apa. Beda pendapat tidak apa-apa, bisa, tetapi ketika sebuah keputusan diambil, kita bersama-sama satu hati untuk memikirkan apa yang menjadi kepentingan daripada gereja dan kesaksian di tengah-tengah dunia ini. Dengan begitu saya percaya Tuhan akan berkati gereja ini, Tuhan akan pertumbuhkan, dan Tuhan akan buat kita memiliki satu pengaruh yang baik untuk bisa membawa jiwa kepada Tuhan di tengah-tengah kota ini. Kiranya Tuhan boleh berkati kita. Mari kita berdoa.

Kami kembali berdoa bersyukur Bapa untuk prinsip-prinsip firman yang boleh Engkau berikan kepada kami pagi hari ini. Kiranya Engkau boleh tolong kami di dalam menjalankannya, di dalam mengutamakan firman, di dalam mengutamakan Kristus, di dalam mengutamakan suatu kehidupan yang menyaksikan Kristus dalam hidup kami. Kami sangat rindu dan mohon belas kasih-Mu Bapa untuk Engkau boleh pakai gereja-Mu ini untuk makin memberkati, makin menjadi berkat, dan setiap dari anak-anak-Mu yang ada di dalam gereja-Mu ini boleh makin bertumbuh dalam iman dan kasih kepada Tuhan. Kami berdoa untuk kedewasaan rohani mereka masing-masing ya Bapa, kiranya Engkau boleh berbelas kasih dan kiranya Engkau sendiri boleh membentuk mereka seturut dengan apa yang menjadi panggilan yang Engkau tetapkan dalam kehidupan mereka. Tetapi satu hal, ketika kami menjalani kehidupan kami baik dalam gereja ataupun di tengah-tengah dunia ini, kami rindu Kristus boleh senantiasa boleh dilihat oleh pribadi-pribadi orang yang melihat dalam diri kami. Sehingga melalui itu, kami boleh senantiasa menjadi saksi-Mu di tengah-tengah dunia ini. Kiranya Engkau boleh tolong ya Bapa, kiranya Engkau boleh pimpin, kiranya Engkau boleh berkati gereja-Mu ini. Dalam nama Tuhan Yesus yaitu Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup kami telah berdoa. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *