3 Mentalitas Orang Percaya, 20 Januari 2019

2 Tim. 2:1-10

Pdt. Agus Marjanto, M.Th.

Kitab 2 Timotius adalah kitab terakhir yang ditulis Paulus sebelum dia mati kepada anak didik yang paling dicintainya, maka dia menuliskan tulisan-tulisan terakhir. Dan kita tahu semua pada saat-saat tulisan terakhir maka Paulus menginginkan Timotius cepat untuk mengunjungi dia sebelum dia dihukum mati. Kita tidak tahu apakah Timotius akhirnya bertemu dengan Paulus, tetapi yang jelas, apakah dia bertemu dengan Paulus atau tidak, Timotius sekarang sudah mendapatkan satu surat yang sangat berharga yang merupakan summary dari pada seluruh isi hati Paulus yang itu dikatakannya sebelum dia mati. Di dalam 2 Timotius 2 itu dinyatakan, “Engkau harus ingat, aku menderita semua ini karena aku berjuang memberitakan Injil, dan Injil itu adalah tentang pribadi Yesus Kristus yang lahir sebagai keturunan Daud, dan yang dibangkitkan oleh Allah Bapa di sorga. Engkau harus ingat, Timotius, engkau setiap kali, setiap kali engkau beraktivitas, setiap kali engkau melayani, setiap kali engkau berbicara, setiap kali engkau melakukan tindakan apa pun, itu adalah tindakan untuk memberitakan Kristus.” Saudara-saudara, semua yang kita kerjakan, baik di dalam gereja maupun keluar dari tempat ini, seluruh yang kita itu katakan kepada orang gereja maupun orang-orang teman bisnis kita, atau siapa pun saja, apa pun saja tindakan kita, apakah itu ada di dalam gereja ini maupun di luar, hari Minggu atau hari Senin sampai Sabtu, seluruhnya Saudara harus sadar, Tuhan menentukan seluruh tindakan, aktivitas, pelayanan itu, adalah untuk menyatakan Kristus kepada dunia, menyatakan pribadi Kristus yang sudah menebus kita dan yang sudah bangkit bagi kita untuk keselamatan kita.

Saudara-saudara, ini yang dinyatakan kepada Timotius dan kemudian di awal dari pada pasal 2 ini maka Paulus itu menyatakan, “Hai Timotius, kuatlah engkau di dalam kasih karunia Allah dan perhatikanlah, Timotius, aku mau engkau memperhatikan apa yang sudah aku katakan. Engkau mendengarkan apa yang sudah kukatakan, yang engkau dengar dari pada apa yang aku ajarkan, ajarkan itu kepada orang-orang yang cakap untuk mengajar.” Apa yang Paulus itu nyatakan? Yang Paulus nyatakan adalah, “Timotius, engkau harus memuridkan. Timotius, engkau harus meneruskan.” Meneruskan apa Paulus? “Meneruskan teologiaku.” Saudara-saudara perhatikan, di sini Paulus di dalam ayat 2 tidak mengatakan, “Apa yang engkau dengar dari Yesus Kristus, turunkan itu ke bawah.” Tidak. Dia mengatakan, “Apa yang engkau dengar dari padaku,”itu berarti bicara mengenai teologia, itu bicara berkenaan dengan kepercayaan Paulus. Itu berbicara berkenaan dengan Paulus menginginkan teologia dia yang kita tahu karena anugerah dan pilihan Tuhan itu adalah teologia yang benar, yang sejati, itu terus diturunkan sepanjang zaman. Saudara-saudara, apa itu pelayanan? Maka pelayanan itu adalah meneruskan dari pada teologia. Apa itu gereja? Gereja itu memiliki tugas untuk membawa teologia sebelumnya yang benar, yang sejati, yang sudah dinyatakan oleh Tuhan, sekarang terus diajarkan kepada Saudara-saudara.Kalau Saudara mengajarkan kepada anak-anak Saudara, Saudara mengajarkan kepada pemuda-pemuda, Saudara mengajarkan kepada keluarga-keluarga Saudara. Saudara-saudara di dalam hal ini saya minta untuk Saudara-saudara peka bahwa sering sekali orangtua tahu teologia Reformed, orangtua tahu ini sesuatu yang benar, tapi Saudara tidak sanggup untuk menyatakannya kepada anak-anak. Banyak anak-anak kemudian diambil oleh gereja-gereja yang tidak karuan, oleh seluruh dari orang-orang yang membuat gereja dan teologia yang tidak beres dan kemudian anak kita di sana. Kemarin saya ada di Magelang, bicara setelah khotbah lalu kemudian diundang oleh seorang kepala  sekolah, lalu bicara, bicara anak ini dari keluarga Kristen, sekarang anak ini jadi pengikut Lucifer, dia ikut di dalam gereja yang anti-Christ, dia makan minum dan makan “perjamuan kudusnya” itu adalah perjamuan gereja mereka, yaitu darah, darah ayam dan juga dari hati ayam. Saudara-saudara, kita mengerti teologia Reformed, tapi saya tanya anakmu ada di mana? Kita mengerti teologia Reformed, tapi kita tidak sanggup untuk berbicara kepada anak kita. Anak kita sama sekali tidak menghargai, tidak melihat pentingnya ini. Anak kita terus kemudian pergi ke gereja yang nggak karu-karuan, lalu kemudian kita menyadari, kita sedih mereka di sana, tapi kita juga tidak mampu untuk menjangkau hati mereka.

Paulus menyatakan, “Aku mau mati. Sekarang perhatikan baik-baik, kabarkan Kristus. Perhatikan baik-baik, turunkan teologia. Engkau sudah dengar dari padaku, maka aku minta engkau menjamin, engkau beritakan, ajarkan kepada orang yang sanggup untuk mengajar. Orang baik.” Maka Saudara-saudara, Paulus menginginkan adanya jaminan penurunan teologia yang sejati. Tetapi bukan itu saja, menjadi fokus saya pada pagi hari ini adalah hal yang kedua, Paulus menginginkan bukan saja turunnya teologia, pengajaran yang sejati, Paulus menginginkan turunnya kerja kerasnya dia; turunnya sifat perjuangannya dia, turunnya api perjuangannya dia kepada Timotius dan kepada semua orang di bawah dia. Ini adalah dua hal yang berbeda. Banyak orang mengerti teologia Reformed, banyak orang mendapatkan teologia Reformed, membaca buku-buku Reformed yang tadinya Saudara-saudara tidak kenal, lalu begitu baca dapat sesuatu,“Saya senang, ini jawaban.” Tetapi kita tidak mewariskan dari spirit perjuangan dari pada orang-orang Reformed. Saudara-saudara, pada waktu NREC saya sendiri bicara berkenaan dengan kita tidak meneruskan dari pada spirit doa dari pada orang-orang Reformed dan orang-orang puritan. Orang-orang Reformed dan puritan adalah pendoa-pendoa teguh yang memiliki teologia-teologia yang dalam; tetapi kita hanya pegang dari pada teologianya, tapi kita tidak pegang dari pada cara hidupnya. Kita mengerti secara debat teologianya, tetapi kita tidak memiliki api di dalam doanya. Ini adalah sesuatu yang hilang. Saudara-saudara, di tempat yang lain, ketika saya PA tentang 2 Timotius ini, mulai memikirkan, merenungkan 2 Timotius ini, saya mulai terkesima, apa yang ada di tengah-tengah kita, Pdt. Stephen Tong itu sungguh-sungguh itu tepat di dalam hal ini. Dia berkali-kali itu menyatakan pentingnya niat perjuangan, pentingnya kerja keras. Dia tidak pernah puas kalau orang-orang di bawah dia, pendeta-pendeta di bawah dia atau penginjil-penginjil, kami ini, atau jemaatnya, adalah cuma orang yang ngerti teologia tetapi tidak berjuang. Saudara-saudara, pada waktu dia berkali-kali bicara ini, entah di master class, entah di kelas pada waktu kelas teologia, ataupun di tengah-tengah perkumpulan hamba Tuhan, atau dosen. Setiap kali bicara ini dia tidak pernah  mengutip dari Timotius ini. Dia mengutip dari tempat-tempat lain, sampai kemudian saya membaca ini, apa yang jadi prinsipnya Pak Tong adalah persis sama dengan prinsipnya Paulus. Ini sesuatu hal yang kita semua harus belajar. Paulus itu menyatakan ikutlah bekerja keras dengan aku. Engkau lihat aku, engkau jangan hanya lihat daripada teologiaku saja. Engkau lihat aku, lihat kerja kerasku, lihat spirit perjuanganku harus turun. Dan perhatikan baik-baik Timotius, engkau melihat spirit perjuangan, spirit kerja keras, engkau ingat tentang tiga gambaran ini.

Gambaran yang pertama engkau harus ingat tentang prajurit, tentang tentara. Saudara-saudara, ini apa? Saya akan langsung masuk pada intinya, ini adalah panggilan dari Paulus kepada Timotius untuk menderita bersama-sama. Panggilan bersama untuk menderita. Engkau harus memiliki satu spirit prajurit, engkau harus memiliki satu mental prajurit. Adalah apa itu Paulus? Yaitu engkau harus rela menderita bersama-sama. Seorang yang berjuang, spirit perjuangan yaitu di dalam Kekristenan harus diturunkan yaitu spirit mau rela menderita. Kalau Saudara-saudara melihat secara keseluruhan teologia penderitaan, maka Saudara-saudara akan tahu bahwa penderitaan itu bukan saja resiko memberitakan injil, penderitaan itu adalah upah memberitakan injil, reward. Petrus itu pernah  mengatakan,“Aku bersukacita karena aku diberi satu hak istimewa untuk menderita bagi Kristus.” Di dalam kisah para Rasul, juga murid-murid itu diberi hakistimewa dan mereka bersukacita bersyukur karena sudah diberikan kesempatan memiliki hak istimewa yang tidak dimiliki oleh orang-orang lain, yaitu menderita bagi Kristus, menderita bagi pemberitaan injil. Penderitaan itu bukan saja resiko memberitakan injil, penderitaan itu bukan saja upah memberitakan injil, tetapi kalau Saudara-saudara melihat di dalam Alkitab, penderitaan itu adalah sarana untuk memperluas pemberitaan injil. Penderitaan itu adalah sarana, untuk memperluas kesaksian kita tentang Kristus.

Di dalam Kolose pasal 1:24 ada satu ayat yang mencengangkan saya, ayat itu mengatakan, “Aku menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus untuk tubuhNya.” Aku menggenapinya, aku menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus untuk tubuhNya. Lho berarti penderitaan Kristus untuk tubuhNya kurang? Lalu Paulus itu mau menggenapkan? Apanya yang kurang ya? Apakah Penderitaan Kristus, salib Kristus itu kurang untuk kita bisa mendapatkan penebusan? Kurang diterima daripada Allah? Jawabannya adalah tidak. Kalimat dalam Kolose ini bukan secara hakekat, secara esensi bahwa penderitaan Kristus itu kurang cukup untuk menebus kita. Ini bukan bicara mengenai hakekat esensi kualitas akan penderitaan Kristus itu kurang cukup diterima oleh Allah. Penderitaan  Kristus itu once for all.  Sekali untuk selamanya. Cukup. Diterima oleh Allah Bapa tanpa ada sesuatu perlu ditambah lagi. Tetapi kenapa Paulus menyatakan aku menggenapkan apa yang kurang dari penderitaan Kristus akan tubuhNya? Saudara-saudara, apa artinya? Itu adalah Paulus artinya adalah menyatakan penderitaan Kristus itu kurang cukup didengar, diketahui secara luas di seluruh dunia. Penderitaan Kristus itu secara kualitas itu cukup adanya tetapi secara kuantitas itu tidak cukup didengar oleh seluruh manusia di dunia ini. Yesus mati di Israel, Yesus mati di Yerusalem dan Dia kemudian naik ke surga. Dia mengutus muridNya dengan kuasa Roh Kudus pergi ke seluruh dunia untuk menderita, menderita, menderita, menderita  bagi Kristus. Ketika mereka itu menderita, mereka rela menderita bagi Kristus maka orang –orang yang membuat Dia menderita, orang-orang yang penjahat itu melihat, kenapa ya engkau mau menderita?Engkau mau menderita bagi siapa? Akhirnya mereka tahu,“Oh bagi Kristus Yesus.” Siapa Kristus? Aku ada di negara Eropa, aku ada di tanah Bugis, aku ada di tanah Batak. Engkau sekarang menderita bagi Kristus, Kristus ada di mana? Kristus ada di Yerusalem 2000 tahun yang lalu. Kenapa engkau mau menderita bagi Dia? Karena orang-orang itu mengatakan Dia adalah Tuhan yang menebus yang mengasihi hidupku. Baru semua orang tahu kemuliaan daripada Kristus. Seluruh dunia satu persatu itu mengenal kemuliaan daripada Kristus mengenal Kristus adalah Tuhan yang bangkit dari antara orang mati. Satu-satunya Allah yang kita hormat kepada Dia, Saudara-saudara, melalui apa? Melaui satu persatu murid Kristus itu menderita. Menderita, menderita, menderita,  menderita. Aku menggenapkan apa yang  kurang pada penderitaan Kristu bagi tubuhNya yaitu jemaat di seluruh dunia.

Saudara-saudara, sekali lagi Paulus menyatakan kepada Timotius, engkau punyailah mental untuk berjuang. Mental berjuang seperti apa Paulus? Punyailah mental seorang Prajurit yang rela menderita. Ini adalah panggilan untuk kita semua. Saudara-saudara rela menderita. Tetapi saudara-saudara perhatikan baik-baik, Saudara dan saya  hanya bisa menggenapi panggilan rela menderita jikalau Saudara-saudara hanya punya satu fokus di dalam hidup. Perhatikan baik-baik Saudara-saudara, ini kuncinya. Panggilan rela menderita itu, panggilan menderita itu hnaya dapat digenapi oleh kita, hanya dapat dilakukan oleh kita dapat digenapi oleh Timotius dengan satu prinsip hidup, yaitu kunci jikalau mata rohani dia berfokus pada satu saja, yaitu berfokus pada perkenanan Allah. Itulah sebabnya maka Paulus itu menyatakan kepada Timotius, seorang Prajurit itu tidak memusingkan dari pada penghidupannya, tidak memusingkan dengan apapun saja yang ada pada dirinya kecuali tentang satu hal, dia berkenan kepada komandannya. Saudara-saudara, ini berarti hidup cuman satu fokus, dan fokus daripada hidup Timotius dan kita semua adalah mencari perkenanan Allah saja. Hidup ini adalah satu fokus, tidak pecah, tidak terbagi.

Saudara-saudara, saya suka sekali dengan satu kalimat pemazmur, ketika saya mendapatkannya itu adalah sesuatu yang seharusnya kita doakan, dia mengatakan demikian, “Bulatkan hatiku ya Tuhan, bulatkan hatiku untuk aku takut kepadaMu.” Apa masalah dari pada hidup kita? Kenapa kita melihat bahwa ada seseorang yang mau menderita, mau rela melayani, rela melayani lalu kemudian, Saudara-saudara, ketika dia rela melayani lalu suatu hari dia berhenti di situ, dia tidak bisa melanjutkan? Dulu suatu hari saya pernah mendengarkan suatu berita Paskah dan kemudian berita Paskah itu ada suatu judulnya dan judulnya itu bagus Saudara-saudara, yaitu iklan rokok “how low can you go?” Betul, pelayanan itu adalah how low can you go? Apalagi itu sangat teraplikasi pada GRII Saudara-saudara. Saudara naik jabatan itu bukan naik fasilitas, naik jabatan itu artinya salibnya semakin besar. Saudara-saudara nanti lihat saja pasti akan ada kesaksian dari Pak Agung nanti, dari bukan wakil rektor menjadi wakil rektor salibnya akan makin besar, dan itu adalah dalam gerakan ini.

Alkitab bilang “bulatkan hatiku untuk takut kepadaMu,” hidup kita itu memang hidup yang selalu pecah dan hidup orang berdosa itu selalu pecah, tidak pernah bulat untuk Allah, tidak pernah fokus bagi Allah. Hidup kita itu persis seperti Yesaya, ketika bertemu dengan Allah yang suci itu dan kemudian seluruh serafim mengatakan, “Kudus, Kudus, Kuduslah Allah,” maka kemudian Yesaya itu mengatakan, “Celakalah aku, aku binasa.” Kata yang dipakai di situ dalam bahasa aslinya bisa seperti ilustrasi satu gelas yang kemudian Saudara lepas dan jatuh di tanah atau jatuh di lantai yang keras dan hancur berkeping-keping. Hidup kita itu hancur berkeping-keping, dan kita itu berusaha untuk menyatukan semuanya selalu salah, selalu sulit. Kita selalu tertarik dengan satu hal dan hal yang lain. “Oh iya ya, saya pentingkan pelayanan,” tetapi kemudian kita ditarik oleh keluarga kita, “Pak untuk sementara nggak bisa, ini urusan sama isteriku ini.” Lalu kemudian tertuju kepada isteri ternyata juga tidak bisa fokus di sana, pergi ke tempat dia kerja, hidup kita itu sulit fokus. Saudara-saudara, tetapi Paulus menyatakan, “Engkau ikutlah menderita, engkau jadilah prajurit,” ini panggilan untuk menderita. Dan Timotius mengatakan, “Ya, ya aku mau mengikut Tuhan, aku mau mengikut engkau Paulus, aku mau melayani Tuhan, aku mau hidup bagi Tuhan.” Tetapi Paulus mengatakan kalau engkau mau hidup bagi Tuhan, dan kalau Saudara dan saya mau hidup bagi Tuhan, Saudara dan saya tidak bisa punya dua, tiga fokus, hanya punya satu fokus dan fokus itu adalah hidup memperkenankan Allah.

Saudara-saudara saya ingatkan memiliki fokus itu bukan berarti satu-satunya yang dilihat itu, tidak Saudara-saudara. Saudara kalau punya kamera, kemudian di-jepret, direkam dengan kamera, itu adalah fokus. “Oh fokusnya orang itu,” yang lainnya tetap kelihatan. Kalau Saudara sedang dipotret dan di belakang Saudara ada misalnya saja binatang gajah dan Saudara pingin dipotret bersama gajah, potret itu fokusnya Saudara, latar belakangnya gajah. Saya suatu hari minta kepada seseorang untuk foto saya bersama dengan kuda, dan kemudian setelah difoto itu hasilnya adalah saya-nya kelihatan separuh, pantat kudanya yang kelihatan semua di foto, itu salah fokus Saudara-saudara. Fokus itu adalah bukan berarti semuanya tidak kelihatan, tetapi fokus itu Saudara interest paling dalam, satu-satunya dalam hati Saudara adalah itu, dan kalau itu bergeser Saudara-saudara langsung peka, kalau itu ada Saudara-saudara langsung peka. Itu akan menentukan Saudara nangis atau gembira, itu akan menentukan dari pada prioritas dalam hidup Saudara. Fokus itu sama seperti misalnya Saudara lihatlah orang yang fokus di dunia ini banyak sekali, salah satunya adalah tukang parkir. Tukang parkir itu fokus Saudara-saudara. Saudara tahu kan begitu Saudara (suara menyetir), dia lagi duduk, dia lagi makan, dia lagi ngobrol, tapi entah kenapa, itu latihan ya, kupingnya itu bionic Saudara-saudara, itu dimanapun, mungkin 300m, dia langsung letakkan, langsung pergi, dia tahu dimana. Itu fokus, padahal di tengah-tengah pasar tapi dia tahu yang punya langganannya dia siapa, yang barusan dia parkirin siapa, itu fokus. Kalau Saudara-saudara punya anak, pasti ini, di tengah-tengah keramaian tiba-tiba ada suara anak menangis. Kalau ibu itu bisa tahu, “Ini bukan anak saya,” makan aja Saudara, ngomong bagaimana arisannya, siapa yang menang. Tapi begitu anak sendiri, entah dimana itu, terus kemudian langsung bilang, “Eh ini anak saya menangis,” “Lho kok tahu itu anakmu?” Nah yang laki-laki nggak pernah mungkin tahu, nggak pernah fokus ke sana. Fokus itu bukan tidak melihat yang lain, tidak mendengar yang lain, tidak interest dengan yang lain, tetapi fokus itu adalah dia menetapkan, memiliki penglihatan untuk itu yang paling utama, dia memiliki interest terdalam tentang hal itu, dan dia hanya melihat kesukaannya itu ada atau tidak.

Saudara-saudara, salah sastu bagian Alkitab yang paling mendebarkan dalam hidup saya itu adalah Keluaran 33:34, itu berbicara berkenaan dengan Musa meminta penyertaan Tuhan di padang gurun setelah dari pada kasus lembu emas 3000 orang dibunuh oleh tangan Musa, kemudian Tuhan bicara kepada Musa, “Kamu masuklah ke Tanah Perjanjian, Aku akan memberikan kemenangan kepadamu, Aku tidak akan beserta dengan engkau, malaikat-Ku akan menyertai engkau dan menghalau suku Yebus, Het, Feris, apapun, 7 suku di sana Aku akan habisi, engkau akan masuk ke dalam tanah yang berlimpah susu dan madu,” dan Musa akan mendapatkan kebahagiaan dari generasi ke generasi, dari keturunan ke keturunannya, Musa juga akan mendapatkan nama karena Musa itu masuk ke dalam Tanah Perjanjian maka yang memasukkan orang Israel ke Tanah Perjanjian bukan Yosua tetapi adalah Musa. Musa akan mendapatkan segala sesuatunya, tapi Saudara-saudara perhatikan, Musa mengatakan kepada Tuhan, “Jikalau Engkau tidak menyertai aku, jangan biarkan aku melangkah satu langkahpun keluar dari tempat ini, biarkan aku mati di tempat ini beserta dengan Engkau daripada aku itu masuk, mendapatkan seluruh kelegaan tetapi Engkau tidak ada menyertai aku, aku tidak mau, aku tidak mau hidup seperti itu.” Saudara-saudara perhatikan, itu yang disebut sebagai fokus. Saudara2 dia hanya peka akan satu hal:“Engkau ada atau tidak. Engkau memimpin kami atau tidak.” Saudara-saudara, saya bertanya suatu gereja, Saudara-saudara peka akan apa?“Oh musiknya,  oh itu orangnya banyak atau sedikit, uangnya itu ada atau tidak.” Saudara-saudara ketika masuk dalam sebuah gereja, Saudara ikut dalam sebuah aktifitas daripada gereja, Saudara perhatikan hal yang paling penting adalah Saudara harus sadar mengerti apakah Allah itu ada disitu atau tidak. Itu fokus.

Paulus menyatakan,“Engkau ikutlah menderita. Aku menderita bagi Kristus. Timotius, engkau ikutlah menderita.” Dan Timotius berkata,“Iya Paulus, aku mau.” Tapi kalau engkau mau maka tetap kan hatimu hanya untuk satu saja, maka engkau akan memiliki kerelaan hati untuk menderita. Tetapkan hatimu untuk melihat satu saja. Untuk mengurusi satu saja dan itu adalah bukan dirimu, bukan keluargamu, bukan apapun saja, tapi hidup yang diperkenankan oleh Allah dalam segala sesuatunya. Perkenanan itu apa? Saudara-saudara, di dalam Perjanjian Baru maka Saudara-saudara akan  mendapatkan satu orang yang hidupnya berfokus untuk perkara Allah yang begitu jelas diperlihatkan kepada kita, yaitu Stefanus. Dan Saudara-saudara, bagaimana kita bisa tahu padahal tidak ada didalam Alkitab tulisan bahwa Stefanus itu hidupnya fokus hanya memperkenan Allah saja? Saudara-saudara lihat daripada setelah Alkitab itu menyatakan bagaimana dia berhadapan dengan semua orang-orangYahudi ataukah orang Farisi dengan gagah berani dan kemudian dia diseret dan dihujani dengan batu, lalu kemudian Saudara bisa melihat apa yang ditunggu-tunggu oleh Stefanus yang merupakan suatu isi hati terdalam yang merupakan fokus dari pada seluruh aktivitas dan pelayanannya?Yaitu dinyatakan kepada dia Yesus Kristus berdiri disebelah kanan Allah Bapa. Dan Itu yang dicari oleh Stefanus seumur hidupnya. Itu yang dicari oleh Stefanus. Saudara-saudara, mata kita melihat apa? Itu adalah hal yang penting.

Hal yang kedua adalah kerja keras. Kerja keras Timotius, kerja keras seperti olahragawan. kedua adalah mental atlet, mental olahragawan. Nah Saudara-saudara, mental olahragawan itu apa? Saya menggunakan kata seperti ini, Saudara-saudara, ini adalah panggilan membatasi diri. Dan akan saya jelaskan. Olahragawan itu, atlet itu, bertanding untuk menjadi juara. Tetapi juaranya,Saudara-saudara lihat misalnya adalah pertandingan lari, juaranya itu tidak bisa adalah pelari yang cepat saja, tidak, tapi pelari yang cepat dan yang mengikuti aturan. Oh nomer 1, nomer 1 terus kemudian dibilang juara juara?Ya kalau dia tidak mengikuti aturan, kalau tiba-tiba dia shortcut, kalau tiba-tiba dia lari maraton lalu kemudian dia cuma lari 1 kilometer melewati hutan lalu kemudian turun dan mendapati garis finish-nya dan jadi juara? Tidak! Kita sering ingin melayani Tuhan, ingin Allah dipermuliakan memakai cara kita sendiri. Kita ingin menang dan kemulian diberikan kepada Allah tetapi bukan pakai aturannya Allah tapi pakai cara kita sendiri. Pada suatu hari ada seseorang itu kemudian mengambil busur panah lalu mengambil anak panah lalu kemudian dia membidik suatu tempat, tembok yang besar dibidik dari jauh. Lalu kemudian anak panah itu masuk lalu kemudian dia mengambil spidol. Lalutempat yang kena anak panah itu dikasih titik,dilingkari di luarnya, dlingkari luarnya,dilingkari luarnya,lalu panggil teman-temannya,“Eh lihat, luar biasa kan saya.” Kemulian bagi Tuhan? Saudara-saudara, kita itu menentukan aturan main kita sendiri. Kita ingin mempermuliakan Allah tetapi tidak mau memakai caranya Allah.

Dan Saudara-saudara, sekarang saya akan masuki ke dalam ini. Aturan-Nya itu apa? Paulus mengatakan,“Seorang olahragawan hanya akan memperoleh mahkota jikalau ia bertanding menurut peraturan peraturan olahraga.”Sekarang,peraturan didalam hidup bagi kemuliaan Allah itu apa?Peraturan bagi hidup dalam gereja itu apa?Peraturan dalam hidup pelayanan itu apa? Peraturannya adalah satu hal ini, yaitu sangkal diri,  pikul salib dan mengikuti Kristus. Itu aturan nya. “Barangsiapa yang mau menjadi murid-Ku, dia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.” Saya akan jelaskan satu persatu dengan singkat Saudara-saudara, untuk mengingatkan kita semua, meski mungkin kita tahu. Sangkal diri itu apa? Yaitu diri itu tidak menjadi pusat. Saudara-saudara setiap kali pelayanan, banyak kali saya rasa tersinggung. Tersinggung, tersinggung sana, tersinggung sini.Gesekan karakter, tersinggung.  Saudara-saudara, maka saya menyadari sebenarnya dalam seluruh pelayanan ini saya ini pusatnya. Saya ini pusatnya, perasaan saya, muka saya. “Muka saya mau saya kasih dimana?” Ya disini. Kita itu mau melayani Tuhan tetapi tidak mau sangkal diri. Kita ini melayani Tuhan tapi pusatnya diriku, diriku.

Pikul salib, itu artinya apa? Pikul salib itu adalah salib itu adalah suatu beban yang dari Kristus diberikan kepada kita. Suatu beban yang dari Kristus, bukan beban yang Saudara dan saya cari sendiri. Saudara-saudara, beban yang diletakkan Kristus kepada kita. Saudara jangan pernah bilang istriku adalah salibku, jangan pernah bilang anakku adalah salibku. Jadi kalau Saudara-saudara sudah 14 tahun nggak punya anak lalu kemudian bisa punya anak, itu sulit memang, tapi nggak pernah boleh bilang anakku ini adalah salibku, itu anugerah Tuhan tapi bukan salib Tuhan. Istriku adalah salibku?Bukan, itu anugerah Tuhan bukan salib. Saudara-saudara jangan pernah bicara seperti itu. Tetapi salib itu apa? Saudara-saudara perhatikan, salibnya Abraham itu apa?Yaitu keluar dari Ur-kasdim, dari rumah yang besar itu. Sekarang Tuhan berikan seorang yang terus mengembara sampai mati, bahkan dia tidak pernah memiliki Tanah Perjanjian, satu-satunya tanah yang dimiliki dia adalah kuburan istrinya. Saudara sekarang lihat, Musa itu salibnya apa? Yaitu dia harus kembali ke tempatnya Firaun, dengan seluruh ketiadaan lagi koneksi, tidak ada lagi kekuatan militer menyertai dia, bahkan untuk bicarapun dia terbata-bata.“Sekarang Aku minta engkau pergi, Musa, ke tempatnya Firaun. Bicara: “Let My people go!”” Musa kemudian mengatakan, “Saya tidak mau. Saya tidak mau.”“Saya mau untuk engkau pergi!” Itu salibnya Musa. Saudara lihat salibnya Ayub apa? Anaknya itu mati, hidupnya penuh dengan koreng. Istrinya itu terakhirnya tidak lagi bisa menerima dia. Seluruh daripada hidupnya digoncang seperti itu untuk nama Tuhan akhirnya dipermuliakan. Saudara lihat salibnya Daniel apa? Seorang pemuda atau remaja dikeluarkan dari tempat dia bermain, daripada keluarganya, dan kemudian harus pergi ke Babel puluhan tahun, mati di sana dan tidak pernah kembali.Saudara lihat satu persatu nabi itu salibnya apa? Yesaya salibnya apa? Maka Tuhan memberikan pelayanan kepada dia untuk berkhotbah kepada seluruh orang Israel dan keberhasilannya adalah kalau khotbahnya itu tidak pernah mau ditaati dan didengar. Saudara-saudara itu adalah sesuatu yang menyesakkan sekali, Saudara-saudara, kalau saya khotbah pada Saudara-saudara kemudian Saudara nggak dengar, ngapain saya khotbah?Tetapi Yesaya harus terus berkhotbah. Dan apa salibnya daripada Yeremia? Yaitu tidak ada seorang pun yang mencintai dia, bahkan keluarganya yang mengutuki daripada hari lahirnya.

Saudara-saudara perhatikan, salib adalah beban yang dari Kristus diberikan kepada kita, Saudara dan saya seharusnya tidak perlu menjalani itu, tetapi karena panggilan, Tuhan memberikan itu kepada kita.Dan ketika kita memikul salib, kita mempermuliakan Bapa di Sorga. Yesus mengatakan: “Barangsiapa mau jadi muridKu, dia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Mengikut Kristus, Yesus pernah berkata, “Di mana Aku berada, di situ pelayanKu berada. Di mana Aku berada di situ pelayanKu itu berada.” Saudara-saudara, Saudara perhatikan prinsipnya ini adalah kita tidak boleh menempatkan tempat pelayanan kita sendiri. Kita tidak pernah boleh menetapkan tempat pelayanan kita sendiri. Satu hal yang saya minta Tuhan terus jagai dalam hidup kami, ini tidak mudah, tetapi minta Tuhan memberikan kita kerelaan untuk pergi ke tempat yang Tuhan kehendaki, bukan ke tempat yang kita tetapkan untuk melayani Tuhan. Saya sendiri sudah melihat dengan mata kepala sendiri, dan dengan cerita dari berbagai macam orang. Saudara, puluhan hamba Tuhan, lebih daripada sepuluh, mungkin belasan hamba Tuhan yang saya tahu sendiri maupun dengar sendiri, mereka ingin pindah ke Amerika, mereka ingin pindah pergi ke Australia, mereka ingin pindah pergi ke Eropa. Mereka menginginkan itu lalu kemudian mereka mengusahakan pelayanan di sana, dan kemudian saya tahu sendiri bahwa Tuhan sama sekali tidak memberkati pelayanan, pelayanannya mandeg di sana, tidak berkembang.Tentu Saudara-saudara, Saudara bisa bicara mengevaluasi dengan berbagai macam hal, tetapi secara prinsip dasarnya saya mau lihat terlebih dahulu: kenapa engkau pergi ke sana? Saudara-saudara, barangsiapa mau menjadi muridKu, dia harus menyangkal diri, memikul salib, mengikuti Aku. Paulus mengatakan kepada Timotius, “Engkau harus membatasi dirimu dengan hal ini. Engkau harus mengikuti aturan kalau engkau mau berjuang bagi Kristus, untuk mempermuliakan nama Kristus.”

Saudara-saudara. Pertama adalah prajurit, panggilan untuk menderita. Kedua adalah olahragawan, panggilan untuk membatasi diri. Dan ketiga adalah petani, panggilan untuk tekun sampai akhir, dan menikmati Tuhan.Saudara-saudara, yang pertama adalah prajurit bicara mengenai fokus, atlit bicara mengenai aturan dan petani bicara mengenai kerja keras dengan tekun. Kerja keras dengan tekun, Saudara-saudara, dan menikmati. Saya akan jelaskan.Saudara-saudara, seorang petani maka setelah dia bekerja keras dan bekerja keras dengan tekun, Saudara akan tahu bahwa seorang petani itu menikmati hasilnya bukan dengan namanya terkenal. Saudara-saudara, saya suka sekali dengan kalimat daripada Paulus ini, dan ini mau bicara ke hikmat yang Paulus itu miliki. Saudara lihat, prajurit kalau dia itu sudah bertempur, menang, pulang, jendral itu akan Saudara kenal. Itu akan masuk koran, itu akan masuk radio. Nggak apa-apa, Saudara-saudara. Tetapi Paulus tidak menggunakan ilustrasi ketiga tentang hal ini. Saudara-saudara, olahragawan kalau menang, Saudara-saudara akan Saudara ingat, Liem Swie King, misalnya, Christian Ronaldo. Saudara-saudara ingat, Saudara tahu. Tapi saya mau tanya pada Saudara-saudara, apakah Saudara mengenal seorang petani?Seorang petani yang berasnya Saudara makan? Yang jagungnya Saudara makan? Apakah kita pernah mengenal dia? Tidak, bukan? Padahal mereka berbulan-bulan, apalagi kalau gagal panen, ngulang lagi dari awal. Tekun untuk memproduksi itu. Dan setelah panen dijual, mereka sama sekali tidak ada nama. Saudara-saudara, Paulus mau menyatakan kepada Timotius, “Kamu kerja keras, menderita, batasi dirimu,  pikul salib, sangkal diri, ikut Kristus. Tapi pada ujungnya, jangan sekali-kali, itu adalah urusan daripada namamu terkenal.” Saya tidak katakan Saudara-saudara, nama kalau terkenal itu salah. Artinya adalah jangan sekali-kali menginginkan nama itu terkenal. Saudara-saudara, banyak orang terkenal sebenarnya tidak pernah menginginkan namanya terkenal. Banyak orang tidak terkenal, Saudara-saudara, menginginkan namanya terkenal. Saudara-saudara, ini bukan masalah nama terkenal atau tidak terkenal, tetapi adalah menginginkan, menginginkan nama sebagai reward dari seluruh perjuangannya, nama sebagai upah daripada seluruhnya. Tidak Saudara-saudara.

Ketika Paulus menggunakan kata ‘petani,’ di dalam konsep Alkitab, Saudara-saudara, baik misalnya saja Perjanjian Lama, mungkin Perjanjian Baru, waktu itu misalnya Yesus, atau pada Yesaya, Yehezkiel. Saudara-saudara, yang disebut sebagai petani, itu adalah orang Israel, itu adalah tidak pernah menjadi pemilik. Saudara, misalnya saja, Saudara-saudara, misalnya ilustrasi daripada Yesus Kristus. Ada pemilik kebun anggur, dia mencari orang untuk bekerja, itu petani. Ke tempat kebun anggurnya, mulai dari jam 6 pagi, jam 9, jam 12, jam 3, lalu jam 5 sore. Lalu setelah itu, dia kemudian dibayar, dibayar pakai mulai daripada yang jam 5 sore, yaitu 1 dinar. Lalu kemudian yang jam 6 pagi berfikir, “Ah aku akan dapat lebih daripada 1 dinar! Aku akan dapat lebih daripada 1 dinar. Ternyata begitu dibayar, cuma 1 dinar.Dan mereka semua mulai komplain, dan kemudian Yesus mengatakan yang terdahulu akan menjadi terakhir dan terakhir akan menjadi terdahulu. Saudara-saudara apa itu artinya? Saudara-saudara, Paulus mengatakan seorang petani yang berkerja keras,bukan seorang petani aja, petani bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.Lalu kemudian, hasil usaha kita itu apa sih, kalau kita berjuang untuk injil?Dua hal itu adalah, yang pertama kalau kita melihat orang-orang bertobat, melihat orang-orang berubah, melihat orang-orang yang tadinya itu tidak berbuah lalu kemudian bisa berbuah bagi Kerajaan Allah atau berbuah di dalam karakter dari pada Holy Sprit, the fruit of Holy Spirit, maka itu adalah kenikmatan yang tinggi sekali bagi kita semua. Kalau Saudara-saudara bisa melihat orang yang dalam satu rumah tangga yang hampir cerai, lalu kemudian Saudara layani dia, dengan hidup Saudara, dengan bisnis Saudara, dengan kata-kata Saudara, dengan ajakan Saudara ke gereja , dengan traktat Saudara, dan kemudian bisa diselamatkan dari kehancuran dan kedua-duanya itu bisa mengenal Tuhan dan takluk kepada Tuhan maka Saudara akan menyadari bahwa Roh Kudus akan memberikan kesaksian dalam hidup kita, kita akan menikmati hasil itu.Itu suatu sukacita, kenikmatan, seorang yang berjuang bagi injil.Kalau saya mengatakan ini sekali lagi, jangan Saudara-saudara pikir itu adalah hanya pendeta, itu adalah hak Saudara dan saya, kita semua, dan itu adalah kenikmatan yang pertama yang kita dapatkan.

Tetapi hal yang lain yang kedua adalah, apa sih kenikmatan kita bekerja berjuang bagi injil? Apa sih kenikmatan daripada Timotius? “Kalau engkau menjadi berjuang seperti seorang petani, tanpa nama, engkau berjuang dengan tekun, engkau akan menikmati hasil usahamu, engkaulah yang pertama menikmati hasil usahamu.” apa itu Paulus? Kuat? Tidak. Nama? Tidak. Kemasyuran? Tidak.Dikenal dimana-mana, di gereja gereja? Tidak.Apa itu Paulus? Kenikmatannya adalah boleh bekerja bersama-sama dengan Allah Tritunggal.Saudara-saudara,reward seorang yang berjuang bagi Kristus di tengah-tengah dunia adalah pekerjaannya bersama dengan Allah Tritunggal. Reward yang bukan uang, reward yang bukan apa pun saja, tetapi reward-nya itu disertai oleh Allah.Kalau Saudara-saudara melihat misalnya saja di dalam kesaksian, sekali lagi kesaksian misalnya tentang Calvin Institute of Technology, Saudara lihat saja orang-orang yang melayani di sana, dia akan sangat bersukacita melihat anak didiknya itu akhirnya berubah dipakai oleh Tuhan, ada yang bertobat melalui daripada teologi Reformed, melalui daripada pelajaran alkitab dan teknologi,  akhirnya dia bisa dipakai oleh Tuhan, Oh itu sukacita yang besar melebihi dari pada uang.Tetapi bukan itu saja, ketika mereka mesti mengurus ijin, ketika mereka mesti melakukan ini itu dan mereka berdoa sama Tuhan karena sampai terjepit, tetapi kemudian  Tuhan itu melepaskan mereka, mereka sangat bersukacita karena mereka boleh melayani Tuhan bersama dengan Allah, Allah itu hidup adanya. Apa sih yang menjadi kebanggaan daripada orang-orang yang melayani Tuhan, baik itu fulltime atau tidak? Tapi kalau Saudara sungguh-sungguh menetapkan diri untuk melayani Tuhan, apa sih kebanggaannya? Saudara akan menyadari bahwa hidup Saudara itu dipimpin oleh Allah, Saudara akan menyadari bahwa Allah itu hidup adanya.

Saudara-saudara, biarlah khotbah pada pagi hari ini masuk ke dalam jiwa. Didiklah jiwa kita untuk kita memiliki mental seorang yang berjuang untuk injil Yesus Kristus dengan seluruh perkataan tindakan, bisnis Saudara, apa pun saja, hari Minggu maupun hari Senin sampai Sabtu.Saudara-saudara harus tahu, bahwa kita ditentukan oleh Allah untuk melangkah supaya injil Kristus makin tersebar dan milikilah tiga mental itu, pertama adalah seorang tentara, prajurit dengan kerelaan untuk menderita, kedua olahragawan dengan kerelaan untuk memikul salib, menyangkal diri, mengikut Kristus, dan ketiga seorang petani dengan satu hati yang tekun tidak mencari keuntungan atau nama diri sendiri tetapi kita boleh mendapatkan keuntungan ,kita mendapatkan kenikmatan yaitu hidup yang disertai oleh Allah.Kiranya Tuhan boleh memperkaya kita, memimpin kita menumbuhkan iman kita untuk kita boleh semakin hidup berkenan kepada Dia.Mari kita berdoa dan minta belas kasihan Tuhan.

Bapa di surga, kami mengucap syukur untuk hari ini. Terima kasih sekali lagi untuk anugerahMu yang Tuhan berikan kepada kami, firmanMu yang mengarahkan seluruh kehidupan kami.Jangan meninggalkan kami Tuhan, pimpin kami untuk kami menjadi orang-orang yang melayani Tuhan dengan seluruh yang kami punya dan setiap hari, bukan saja di hari Minggu, setiap hari.Kami tahu bahwa panggilan kami adalah menyebarkan luaskan daripada Engkau agar semakin banyak orang menjadi muridMu dan namaMu dipermuliakan. HambaMu berdoa kiranya kasihan Tuhan menyertai hidup kami.Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih untuk firman Mu.Terima kasih untuk persekutuan. Terima kasih untuk segala sesuatu yang Tuhan libatkan kami ke dalam gerejaMu. Kami juga bersyukur untuk keluarga pak Dawis, terima kasih untuk anak yang baru didapatnya, itu adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada Dia, berkati pemulihan daripada Ibu Dessy. Berkati juga untuk seluruh jemaat ini untuk boleh bersukacita. Kami mengucap syukur untuk anugerahMu. Bapa di surga, berikan pertumbuhan juga bagi gerejaMu di MRII Solo dan juga MRII Jogja di bawah kepemimpinan Pendeta Dawis. Berkati untuk kedua MRII dengan pertumbuhan rohani dan juga pertumbuhan secara kuantitas, makin banyak orang mengenal  Engkau dan takluk kepada Mu. Terima kasih Bapa.Kami berdoa di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus. Amin

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *