Mengasihi Pekerjaan Tuhan, 14 Maret 2021

Filipi 4:14-17

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Dalam bagian ini kita menemukan ada suatu pembahasan ya bahwa Paulus itu bersyukur ya ketika dia bilang ini ya ada sebagai ucapan terima kasih di sini kalau mau dibilang seperti itu, yaitu ketika jemaat Filipi itu mengirimkan bantuannya ya, mengirimkan bantuannya dan mereka itu berbagian di dalam menolong pekerjaan Tuhan di dalam berbagai tempat. Kita lihat ini disebutkan waktu dia masih ketika dia berangkat ke Makedonia, lalu kemudian hari ini juga di Tesalonika itu juga jemaat Filipi menolong di situ. Sehingga di dalam bagian ini ketika kita lihat satu sisi ya ini bisa seperti oh iya just ucapan terima kasih ya. Tapi kita mengerti ini bukan cuma sekedar surat personal dari Paulus kepada jemaat Filipi tapi bagian dari Kitab Suci, sehingga menjadi pembelajaran bagi kita juga bagaimana kita belajar berbagian di dalam pekerjaan Tuhan, berbagian di dalam pekerjaan Tuhan.

Istilah yang dipakai di sini ketika menjadi partaker of God’s Word, menjadi bagian dalam pekerjaan Tuhan atau kesusahannya Paulus di sini. Istilah Yunaninya yaitu sugkoinoneo yaitu bicara berbagian, fellowship, itu bicara adanya suatu deep partnership, ada suatu relasi yang mendalam antara dua pihak yang bergerak ke arah yang sama. Ini menarik ya, sehingga ini bukan cuma saling berhadap-hadapan ala romantis wah senang satu sama lain, tapi bergerak kepada arah yang sama ya. Ini ada berbagian di dalam pekerjaan Tuhan itu di situ, yaitu mereka sama-sama bergerak ke arah yang sama, didorong dari visi Tuhan yang sama mengerjakan misi yang sama ya. Dan itu di sini kita melihat makanya pemberian mereka itu menjadi pemberian mereka itu baik ya karena itu mendemonstrasikan, sebagaimana Richard Muller katakan, mendemonstrasikan bahwa mereka sungguh mengerti adanya pekerjaan Tuhan di dunia ini dan mereka punya kerelaan untuk mendukungnya melalui hamba Tuhan dan melalui pekerjaan pelayanan itu sendiri ya.

Di dalam bagian ini kehidupan kita, kalau kita banyak mengerti ya sebagai orang Kristen kita mengasihi Tuhan ya karena Tuhan mengasihi kita, tapi adakah kita juga bisa belajar mengasihi pekerjaan-Nya? Kadang-kadang ini kita lihat orang distinct ya, ini bedakan ya. Memang satu sisi kita membedakan tapi jangan untuk dipisahkan ya kalau mau dibilang seperti itu, antara Tuhan dan karya-Nya, pekerjaan-Nya sehingga – kembali lagi kita tetap membedakannya tapi kita jangan pisahkan – sehingga kalau orang memisahkan itu akhirnya pikir ya pokoknya saya mengasihi Tuhan, saya mengasihi Tuhan benar-benar sungguh, terus pekerjaan-Nya? Ah itu urusan sekunder, urusan lain ya, tidak ada urusan dan seterusnya. Tapi banyak hal kalau kita lihat di dalam bagian permasalahan kita, ketika kita bertumbuh semakin mengasihi Tuhan, makin implikasinya itu bukan cuma kita berhadap-hadapan dengan Tuhan, tapi ada kita melihat ada pekerjaan-Nya dan ya kita terlibat, kita juga mengasihi pekerjaan Tuhan itu ya.

Apalagi kita mengerti ada efek pekerjaan Tuhan itu adalah untuk memenangkan jiwa ya, untuk membawa orang kembali kepada Kristus sehingga kita mengerti apa yang pekerjaan Tuhan itu kita terlibat di dalamnya dan memang dimaksudkan seperti demikian. Pekerjaan Tuhan dari mulanya memang kenyataannya itu bersifat seperti itu, bersifat untuk kita dipanggil manusia itu dipanggil untuk terlibat berbagian di dalamnya. Bukan suatu yang kalau saya mau bilang itu ‘komplit’ langsung pada mulanya, tapi adalah memang untuk manusia dipanggil berbagian di dalam mengerjakannya ya.

Hal ini kita bisa lihat paling clear sebenarnya jelas saja sebenarnya mulai dari penciptaan ya. Kalau dari penciptaan itu kan kita lihat manusia itu diciptakan ada pembahasan dari Herman Bavinck dia bilang, “Apa bedanya ketika malaikat dan manusia itu diciptakan?” Dia bilang ya tentu ada beberapa hal beda ya, malaikat itu roh sepenuhnya tapi manusia itu adalah punya roh dan juga ada tubuh ya. Tapi juga menarik dia bilang kalau malaikat itu dari mulanya diciptakan itu langsung lengkap jumlahnya, langsung genap. Dan itu ya meskipun mereka ada hirarkinya, ada beda role, peranan seperti itu ada kerubim, ada seraphim, ada bagian-bagian yang lain, tapi mereka itu akhirnya relasinya satu sama lain ya lebih longgar seperti itu ya, lebih tidak terlalu ada relasi mendalam, dan juga memang mereka langsung dari awal cetak jumlahnya itu langsung lengkap. Termasuk kemudian hari ada malaikat yang jatuh seperti itu ya kan. Dari awal langsung jumlahnya sekian, ya kita nggak tahu berapa, sebut saja suatu jumlah yang banyak, lalu akhirnya bagaimana ada sebagian itu jatuh ya yang kita mengerti akhirnya si iblis itu ya jatuh dalam dosa dengan para pengikutnya, tapi dari awal langsung lengkap.

Tapi kemudian Bavinck bilang tapi menariknya manusia itu diciptakan start dari dua orang ini yaitu Adam dan Hawa lalu diperintahkan untuk beranak cucu memenuhi bumi dan seterusnya dan terus berjalan itu sampai sekarang. Jadi kita melihat itu ada suatu nuansa itu pada mulanya diciptakan itu baik adanya tapi tidak suatu yang sempurna itu satu hal, tapi juga dan hal lainnya itu belum komplit, belum genap. Dan karena itu masih berproses, dan karena itu bahkan sebelum kejatuhan pun manusia dipanggil sebagai gambar rupa Allah itu menjadi wakil Tuhan menggenapkan hal itu, bisa nangkap ya? Dari aspek jumlahnya saja memang dari awal itu belum lengkap gitu. Dan kita dipanggil berbagian di dalamnya. Lalu tentu pembahasannya itu kita bisa kaitkan makanya itu ada perintah beranak cucu bertambah banyak ya itu mandat budaya dan penuhi bumi dan seterusnya, tapi ada memang untuk manusia itu di set dari awal itu untuk berbagian dalam ongoing work of God, suatu pekerjaan yang masih dalam proses, dan kita berjalan bertahap setahap demi dalam waktu Tuhan itu seperti itu. Bukan suatu yang langsung lengkap kalau mau dibilang seperti itu baik dari aspek jumlahnya dan fakta pekerjaannya itu juga.

Kembali lagi ya kita mengerti tentu Tuhan bisa saja ciptakan langsung lengkap ya dari awal langsung komplit jumlahnya. Tapi ternyata Tuhan lebih suka itu berjalan dalam prosesnya, dan untuk manusia di situ ada berbagian kalau mau dibilang, berbagian dan bergumul bagaimana menaati kehendak Tuhan di dalam bagian itu juga. Sehingga bahkan bagian kalau mau rujuk di Kitab Kejadian itu beranak cucu bertambah banyak pun itu bukan cuma dorongan secara keinginan manusia atau cuma sekedar dorongan seksual semata, tapi ada berbagian dalam mengerjakan kehendak Tuhan di situ. Kita memang dipakai menggenapi kehendak Tuhan di sana yang menghadirkan generasi-generasi selanjutnya di bawah kita ya dan seterusnya, karena memang Tuhan ingin kita itu dipakai seperti itu. Kita bukan cuma duduk menjadi penonton melihat semua sudah berjalan tapi Tuhan ingin pakai kita untuk berbagian di dalamnya.

Nah dan makanya karena itu di bagian ini ketika kita lihat ada pekerjaan Tuhan dan kita bertumbuh mau semakin mengasihi Tuhan maka itu akan tidak bisa dipisahkan maka kita pun akan belajar berbagian dan untuk mengasihi pekerjaan itu sendiri. Ketika saya bahas di sini mungkin satu sisi pikir ya itu, “Oh yes kita mengasihi Tuhan, mengasihi karya-Nya, mengasihi pekerjaan-Nya,” gitu kan dalam keseharian juga kita lihat itu kan.

Misalnya ketika kita mengasihi misalnya ya misalnya kita punya orang yang kita kasihi sebut saja entah orang tua kita atau anak kita atau ya mungkin pacar kita bagi pemuda-pemudi sini, terus dia ada tulis suatu karya paper, dia sudah kerjakan dengan begitu giat dengan setengah mati apakah kita akan lantas sobek papernya gitu? Kan nggak. Terus apakah kalau kita sobek paper-nya, “Oh nggak, saya cuma suka robek kertas,” gitu? Itu akan merasa kita itu against orangnya loh ya. Dan bagaimana kita treat paper itu, karya dia, ya salah satu karya dia itu adalah bagaimana berelasi kita itu sebenarnya mengasihi dia atau tidak. Iya kan? Saya kan nggak bisa bilang, “Oh iya saya sayang kamu tapi ini paper saya rasa kok apa ya cuma mengganjal mending saya sobek-sobek saya buang,” maka orangnya akan merasa against. Dan kita juga secara umumnya mengerti ya nggak masuklah seperti itu. Mengasihi orangnya maka ya termasuk dalam pekerjaannya apa yang dia karyakan itu.

Dan terlebih lagi dalam kita juga mengasihi Tuhan adakah kita itu juga lihat korelasinya dengan mengasihi pekerjaan-Nya ya dalam pelayanan yang ada maupun juga ketika kita lihat gereja-Nya ya. Bagian ini kembali lagi meskipun saya bilang obvious harusnya ya jelas ada seperti itu. Tapi seringkali itu ada gap kita itu bisa rasanya kok untuk pekerjaan Tuhan itu kita kurang bisa mengasihi ya. Sederhana saja dalam kehidupan kita seperti kita seringkali itu ya diawal ibadah kita ada mendoakan untuk penginjilan ataupun dalam doa syafaat berapa banyak kita itu mendoakannya dengan suatu eagerness, mendoakannya dengan suatu kesungguhan ya memang ini pekerjaan Tuhan.

Loh nggak main-main loh kita biar sebut ada bagaimana pelayanan orang-orang Kristen ada di Myanmar dan situasi sana itu bukan, ya mungkin ya satu sisi kita rasa nggak ada urusan saya tidak ada relasi sana dan saya doakan biasa, tapi kalau kita ingat ya itu pekerjaan Tuhan juga ada di sana dan Tuhan yang sama yang bekerja dan yang berdaulat atas apa yang terjadi di Myanmar juga yang berdaulat atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita juga. Sehingga ada koneksinya di sana dan kita belajar bertumbuh untuk mengasihi juga pekerjaan Tuhan di sana meski dalam suatu artian itu tidak ada benefit-nya bagi kita, dan karena itu memang mengasihi pekerjaan Tuhan itu bukan untuk benefit-nya bagi kita, tapi adalah karena memang pribadi-Nya, ya kan. Dan kita bersyukur bahwa ternyata pekerjaan Tuhan bukan hanya di kota kita, bukan hanya untuk keluarga kita, bukan hanya di lingkungan kita, tapi juga untuk segala bangsa dan di berbagai tempat. Dan kita belajar bertumbuh juga di dalam mengasihi pekerjaan-Nya itu.

Di bagian ini kenapa saya meng-highlight di bagian ini karena kita lihat menarik ya di bagian ini meski sederhana, diungkapkan bagaimana Filipi ya karena memang ungkapannya juga kota Filipi itu adalah kasih, kota yang mengasihi itu, dia belajar mereka belajar bukan hanya concern kepada mungkin urusan-urusan gereja lokal mereka saja di Filipi tapi mereka juga bisa concern memperhatikan pekerjaan Tuhan di tempat-tempat lain, di Makedonia dan juga Tesalonika dan kita lihat di sini dan Paulus bersukacita ya ada pertumbuhan jemaat itu seperti ini.

Dalam satu artian ya ketika mau dilihat di dalam aspek sini ya ini kan juga belum ada bentukan sinode. Kecuali kita pikir ini ada sinode, kalau sinode kan mungkin misalnya ya seperti kita nanti bangun gedung gereja Jogja oh dapat pinzaman dari cabang A, kenapa? Satu sinode. Besok-besok ya gantian juga dong ada cabang C gitu mungkin ada butuh kalau kita sudah keuangan ada kita bantu. Jadi saling tolong-tolong kira-kira karena dalam relasi satu sinode.

Tapi kalau kita lihat di dalam bagian itu gerejanya itu tidak se-established mapan sistemnya, sehingga dalam bagian ini kita mengerti adalah ketika Filipi mengirimkan bantuan kepada Makedonia ataupun kepada Tesalonika, besar kemungkinan memang mereka nggak dapat feedback, mereka nggak dapat imbalannya. Ya memang just kirim bantu sana ya. Dan belum lagi kita ngerti dalam mengirimkan bantuan itu bukan ala zaman sekarang bisa transfer, bisa ke bank gitu aman gitu selesai, tapi ya manual. Ya manual beneran dikirim utusan bawa uang sekian, dan kita tahu juga banyak resiko zaman dulu itu bisa dirampok dan seterusnya, tapi mereka resikokan ke sana demi bawa bantu jemaat yang di sana.

Dan itu kita lihat ya kenapa mereka lakukan ini, apakah ini suatu yang konyol ya? Apa adanya saya ngomong ya mereka bukan berada di zaman yang enak, gampang gitu, mereka ada penganiayaan, penderitaan. Sederhana saja ya rasulnya, gembalanya itu aja dipenjarakan, bagaimana ya kita expect jemaat-jemaatnya gitu seperti apa. Tapi toh mereka tetap bisa concern untuk melihat pekerjaan Tuhan di tempat lain karena apa? Karena adanya pertumbuhan untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi pekerjaan-Nya itu. Bahwa pekerjaan Tuhan juga di sana adalah ya memang pekerjaan Tuhan. Dan ketika di sana ada kebutuhan bukan saja melihat oh itu kebutuhan di sana tidak ada urusan dengan saya, tapi adakah kita belajar berbagian juga di situ ya. Berbagian di sana.

Dan memang kalau mau dibilang loh apa untungnya bagi saya? Memang kita bukan untuk kasih untung toh. Itulah namanya kita berikan dengan ikhlas gitu, dengan rela ya karena memang kembali kita mengasihi Tuhan itu dinyatakan kita mengasihi pekerjaan-Nya. Dan juga dikaitkan juga bahwa kita mengasihi Tuhan ketika kita mengasihi pekerjaan-Nya maka kita juga belajar mengasihi pekerjaan-Nya. Mengasihi pekerjaan-Nya ya atau kalau kita bilang secara umum umat-Nya, gereja. Mengasihi pekerjaan-Nya adalah karena ada orang-orang yang mengerjakan itu juga ada orang-orang kenyataannya toh dipakai Tuhan untuk menjalankan dan melaksanakan pekerjaan Tuhan itu. Kita belajar mengasihi juga ya pekerja-pekerja yang lain itu ya.

Kembali lagi ya ini perlu dibedakan ya antara Tuhan dengan pekerjaan-Nya, antara Tuhan dengan pekerjaan-Nya atau hamba-Nya ya dan seterusnya. Tapi bukan untuk dipisahkan. Kalau orang pisahkan itu seolah pokoknya just I and Thou, hanya saya dengan Tuhan, pokoknya saya mengasihi Engkau, saya mengasihi Engkau. Oh ya ini semua terserahlah mereka ada kesulitan sendiri, saya pokoknya dengan Engkau. Tapi kalau kita lihat kembali di dalam prinsip apa yang Kristus katakan ya, 2 hukum yang terutama itu kasih kepada Tuhan, kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Dan kalau pakai Richard Pratt itu pakai istilah itu katakan dekat sekali itu sampai bedanya seperti millisecond ya.

Ini ada yang pernah ingat ya waktu pembahasan Richard Pratt di Refo WRF yang lalu itu ya dia katakan itu sama seperti kalau orang lari ya dalam perlombaan lari seperti Olimpiade kejuaraan seperti itu, lalu kamu tahu itu ketika akhirnya jarak antara juara 1 dan juara 2 itu dekat sekali cuma jarak berapa mili atau cuma jarak berapa detik sehingga mereka masuk finish-nya. Dan dia bilang ya seperti itulah jaraknya antara sebenarnya mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Ya mengasihi Allah lebih utama daripada sesama ya, tapi jaraknya itu tidak jauh seperti itu, tapi dekat sekali. Karena ketika kita mengasihi sesama itu adalah wujud nyata kita mengasihi Tuhan ya. Sebagaimana Kristus juga katakan di dalam bagian lain bagaimana mungkin kamu katakan kamu mengasihi Allah yang tidak kamu lihat jika kamu tidak mengasihi saudaramu yang kelihatan ya.

Di dalam bagian ini makanya kita mengerti kita ketika mengasihi pekerjaan Tuhan, mengasihi pekerjaan-Nya, itu adalah suatu ekspresi dari kita mengasihi Tuhan itu sendiri ya. Tentu ada masa lain ya kalau orang terjebak akhirnya cuma masalah di relasi horizontal saja, cuma mengasihi pekerjaan-Nya, mengasihi cuma sesama relasi ini karena nanti kadang satu sama lain misalnya terjadi ada beda pendapat atau konflik dan seterusnya, kita gagal melihat sebenarnya kita lakukan ini apa sih bukan cuma sekedar horizontalnya saja tapi didasarkan pada vertikal yaitu didasarkan pada apa yang Tuhan perintahkan sendiri.

Maksud saya sederhana misalnya sisi lain saja lihat di dalam 10 Hukum gitu kan. Di dalam 10 Hukum misalnya dikatakan, “Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang dijanjikan Tuhan kepadamu.” Oh iya kita harus menghormati orang tua dan seterusnya di situ. Kembali menghormati itu tidak sama persis dengan menaati ya karena di dalam konteks bahkan Israel itu ya terutama second generation, generasi kedua mereka keluar, mereka tidak taati ikuti persis apa yang dilakukan oleh generasi pertama yang tegar tengkuk dan juga tidak taat Tuhan ya. Jadi kita bedakan sana. Tapi anyway ketika kita mentaati orang tua, menghormati orang tua di situ, biarlah kita sadari itu bukan cuma relasi horizontal, “Oh saya menghormati orang tua, saya menghargai orang tua,” tapi terutama di saat yang sama ketika kita lakukan itu kita sadar ya saya sedang menaati Tuhan. Iya kan karena itu perintah-Nya. Sehingga bukan cuma sekedar dorongan kultur, budaya saja tapi lebih mendalam ada aspek spiritualnya. Saya melakukan ini karena ini bukan saja menyenangkan orang tua saya tentunya, tapi adalah ini menyenangkan Tuhan ketika kita menaati itu.

Dan kita lihat seolah-olah ada korelasinya di dalam bagian itu ya. Ketika kita menyatakan kasih kita kepada Allah, yang real-nya, dalam wujud konkritnya itu adalah kepada sesama. Dan ketika kita menjalankan itu kepada sesama biarlah kita hayati mengerti itu bukan cuma per se kepada sesama, tapi ada di dalam pengabdian kita kepada Tuhan karena memang itu kehendak Tuhan itu seperti itu ya.

Dan di sini kita mengerti makanya di dalam pekerjaan Tuhan kalau kita punya mengerti ada pekerjaan Tuhan yang scope-nya itu bisa lebih luas bukan hanya terpaku pada diri kita sendiri, konteks lokal kita sendiri, kota kita apalagi cuma keluarga saya, maka harusnya kita melihat pekerjaan Tuhan itu bisa lebih luas bukan hanya dibatasi dengan gedung ini. Kita bisa lihat bahwa dan saya lihat di dalam bagian ini ya makanya mereka bisa melayani sampai kirim bantuan kepada Makedonia dan yang lain-lain, karena lihat ya pekerjaan Tuhan itu luas, concern-nya bukan cuma di sini. Kalau kita cuma lihat masalah kita di sini, “Ya elah kita di sini aja masih susah, ngapain bantu yang lain,” maka kita akhirnya gagal melihat sebenarnya pekerjaan Tuhan itu jauh lebih luas, dan totalitas memang kita justru ndak bisa pahami.

Saya jelaskan di dalam bagian totalitas kita tidak bisa pahami adalah memang dalam kita, kalau mau dibilang kadang-kadang, “Efeknya apa Pak kita bantu?” Seperti itu misalnya ya, misalnya bantu ke Makedonia, bantu ke Tesalonika, memang tidak tentu untuk mereka jemaat Filipi itu pahami oh kita akhirnya bantu efeknya sampai seberapa. Bagian kita hanyalah mengerjakannya, dan biar nanti Tuhan akan tumbuhkan dan karyakan seperti apa. Contoh mungkin sederhana ya dalam misalnya kayak kita dalam mengajar, terutama misalnya kayak kita mengajar dalam Sekolah Minggu ya, mengajar ke anak-anak itu kan sebenarnya dalam satu artian itu, paling nggak keliatan efeknya gitu kan. Diajar gini, diajar begini-begini ya, dan diajar-ajar seperti itu, itu dia mudeng ga sih? Masuk nggak sih ya? Atau ada nanti satu titik ada anak yang kita suka, terus, “Oh dia itu bisa hafal Pak sekarang, dia mulai rajin ikut.” Tapi apakah sungguh-sungguh mengalami lahir baru? Terus terang kita juga ndak tau, ya. Tapi tujuannya adalah kembali lagi kita bukan patok kepada result-nya itu seperti apa, tapi kita kerjakan saja, dan nanti Tuhan akan pakai di dalam waktu rencana-Nya.

Oh bagaimana ketika dalam kita layani, sudah layani bertahun-tahun, eh kemudian hari ternyata anak itu setelah gede jadi nakal terus dia keluar, malah meninggalkan kekristenan dan seterusnya. Apakah lantas kita rasa sia-sia ya selama ini ditanamkan kebenaran firman akhirnya dia juga sangkal iman?  Saya percaya dalam bagian ini tidak sia-sia karena kembali lagi kalau dia keluar, mungkin nanti bisa kembali lagi, ya kan. Bisa saja itu cuma anak yang hilang, itu satu hal.

Dan yang kedua, bagi saya juga kadang kalau saya pikir-pikir kalau dia saja sudah diberikan firman begitu banyak toh bisa membangkang keluar, apalagi kalau tidak. Apalagi kalau tidak. Karena kembali ya kalau kita kembali kepada Kitab Suci kita mengerti kita semua adalah manusia berdosa, dan dari lahirnya juga total depravity, ya termasuk anak-anak itu. Terus kita pikir, “Oh biar Pak, tunggu sendiri, nanti tahu sendiri.” Lho kalau tidak kita beritakan firman, dan kalaupun akhirnya nanti mereka menyimpang, ya setidaknya kita itu semacam sudah mengusahakan terbaik untuk memagari, menahan, membendung hal itu. Sama lah kasarnya kaya zaman sekarang COVID, “Wah COVID-nya kan di mana-mana Pak.” Iya tapi kan kita pakai masker, apakah pakai masker otomatis pasti 100% ndak bisa kena? Bisa saja kena. Apakah lantas kalau kena kemudian, “Ah nyesel. Tau gini saya ndak usah pakai masker.” Ya ndak. Kita telah menahan lajunya di situ kan.

Dan sama, ketika kita melihat juga di dalam pelayanan dan pekerjaan Tuhan dan di dalam bagian-bagian pelayanan yang sepertinya tidak terlalu nampak hasilnya, semuanya kita lihat kita setidaknya itu ada menahan kejahatan dalam titik tertentu ketika kita mengerjakannya bagian itu, dan terutama ketika firman Tuhan itu diberitakan. Dan makanya kita lihat pekerjaan Tuhan itu tidak sia-sia di situ. Kita beritakan, kita jalankan, ya, hasilnya seperti apa, ya serahkan kepada Tuhan. Dan memang tidak harus terverifikasi dalam kehidupan kita.  Kadang-kadang itu bisa nanti setelah lewat masa nya berapa lama baru muncul buahnya, sampai ada begitu juga sih.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *