Menanti Jawaban dari Betlehem, 22 Desember 2019

Mik. 5:1

Pdt. Calvin Bangun, M. Th.

Kerajaan Yehuda berada di ujung tanduk tahun 701 SM, kerajaan Asyur di bawah pemerintahan Raja Sanherib menyerang Yerusalem, ibukota kerajaan Yehuda. Saudara-saudara, kerajaan Asyur adalah kerajaan superpower pada zaman itu, kerajaan ini sedang memperluas wilayahnya dari Mesopotamia sampai ke Laut Mati, dalam perluasan itu, sudah banyak kerajaan di wilayah Laut Mati yang mereka kalahkan seperti Sidon, Tirus, dan Syria. Tahun 721 SM, kerajaan Asyur di bawah pimpinan Raja Salmaneser atau Sargon II, berhasil menghancurkan kerajaan Israel, ibukota kerajaan Israel hari itu adalah Samaria, dan membuang penduduknya ke Asiria. Bisa dibayangkan bagaimana hebatnya kerajaan ini, dan betapa takutnya raja Israel, hanya 20 tahun, hanya dalam waktu 20 tahun, kerajaan Asyur sudah meleluluh-lantakkan, memporak-porandakan kerajaan Israel, tetangga terdekatnya kerajaan Yehuda. Dan 20tahun kemudian, kerajaan ini menggedor pintu kerajaan Yehuda, menggedor pintu ibu kota kerajaan Yehuda yaitu Yerusalem. Saudara-saudara dikasihi oleh Tuhan, jika engkau dan saya hari itu menjadi penduduk kerajaan Yehuda, menjadi penduduk kota Yerusalem, bisa dibayangkan betapa takutnya, bagaimana hebatnya kerajaan Asyur itu, dan betapa menakutkannya, betapa takutnya kerajaan Israel.

Saudara-saudara, sebenarnya serangan Kerajaan Asyur ini adalah hukuman Allah kepada kerajaan Yehuda. Para nabi yang se-zaman dengan Mikha, tadi kita membaca 1 ayat dalam Kitab Mikha, tapi Mikha bukanlah satu-satunya nabi yang hidup pada zaman itu. Mikha memiliki contemporaryprophets, dia memiliki nabi-nabi lain yang se-zaman dengan dia, seperti Yesaya dan Amos. Sebenarnya pada zaman itu, nabi-nabi seperti nabi-nabi yang se-zaman dengan Mikha, sudah membeberkan semua kejahatan bangsa Yehuda mulai dari raja sampai rakyatnya. Jadi kita membaca, jadi jika kita mendengarkan, bagaimana kerajaan Asyur menyerang kerajaan Yehuda, kita tidak perlu heran, secara manusiawi, kerajaan Yehuda itu lebih kecil dari Israel. Secara manusiawi, kerajaan Israel lebih kecil dari Asyur. Kalau Israel saja sudah hancur, maka tinggal tunggu waktu, Yehuda pun akan hancur. Tapi Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, secara teologis kita tahu bahwa kerajaan Yehuda itu memiliki pelindung, yaitu Allah Pencipta langit dan bumi. Jadi sebenarnya walaupun secara manusiawai kerajaan Yehuda itu lebih kecil tapi mereka jauh lebih kuat. Saya ulangi, Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, sekalipun secara manusiawi kerajaan Yehuda lebih kecil daripada kerajaan Israel, lebih kecil dari kerajaan Asyur, tapi secara rohani mereka lebih kuat, mengapa? Karena mereka memiliki pelindung, yaitu, Allah Pencipta langit dan bumi. Lah, kalau memang begitu kuatnya, mengapa kerajaan Yehuda bisa diserang oleh kerajaan Asyur? Kalau memang kerajaan ini lebih kuat secara teologis, lebih kuat secara rohani, mengapa mereka bisa diserang oleh kerajaan Asyur? Jawabannya adalah karena mereka melakukan begitu banyak dosa. Nabi-nabi seperti Mikha, Amos, Hosea, Yesaya, berkali-kali, berulang-ulang menegur, baik raja maupun rakyat dari kerajaan Yehuda.

Seluruh kejahatan bangsa Yehuda, dapat dibagi menjadi dua, yang pertama menyembah berhala, yang kedua menindas sesama. Saya ulangi Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, kalau kita membaca seluruh kitab nabi, mulai nabi-nabi besar, sampai nabi-nabi kecil, maka kita bisa membagi dua jenis kejahatan bangsa Yehuda, yang pertama, menyembah berhala, ini yang disebut dengan spiritual sin; dan yang kedua, menindas sesama, ini yang disebut dengan socialsin.Saudara-saudara dikasihi oleh Tuhan, para nabi bukan hanya menegur spiritualsin, tapi juga menegur socialsin. Para nabi bukan hanya tertarik pada penyembahan berhala, mereka juga tertarik dengan penindasan sesama. Saudara-saudara, kita sebagai orang Kristen harus memiliki jiwa para nabi.Kita sering kali hanya peduli pada dosa spiritual tapi kita kurang peka dengan dosa sosial. Kalau kita melihat orang melakukan dosa spiritual darah kita naik ke ubun-ubun,“Wah bapak itu berzinah,” darah kita naik ke ubun-ubun. “Woah, bapak itu menyembah berhala.Wah sudah pengurus tapi di rumahnya masih ada patung-patung, dia masih mempersembahkan sesajen,” darah kita naik ke ubun-ubun. Kalau orang bertanya,“Bapak kok begitu marah?”“Oh iya itu penyembahan berhala, dimurkai oleh Tuhan.” Kita begitu peka terhadap dosa-dosa spiritual, tapi Saudara dikasihi oleh Tuhan, belajarlah dari para nabi, mereka bukan hanya melotot pada dosa spiritual, mereka juga melotot pada dosa sosial. Ketika melihat bangsa Yehuda menindas sesamanya, mereka juga menegur dosa tersebut. Para nabi menegur kejahatan bangsa Israel yang bisa dibagi menjadi dua, yang pertama dosa spiritual, dan dosa sosial. Kedua kejahatan ini adalah pelanggaran berat terhadap esensi hukum Taurat, karena seluruh hukum Taurat dapat dibagi menjadi dua, kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu. Jadi apa yang dilakukan oleh Allah dan apa yang dilakukan oleh para nabi konsisten dengan hukum Taurat. Sejak hukum Taurat diberikan kepada Musa isinya bukan melulu masalah spiritual, tapi juga ada masalah sosialnya. Seluruh hukum Taurat kalau mau diperas menjadi esensi bisa dibagi menjadi dua: kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia. Pada pasal 3 ayat 12 Mikha berkata,“Sion akan dibajak seperti ladang, Yerusalem akan menjadi timbunan puing, gunung bait Suci akan menjadi seperti bukit yang berhutan,” artinya nasib Yehuda akan sama dengan Israel.

Saudara dikasihi oleh Tuhan, sebelum pasal 5 Mikha sudah memperingatkan raja Yehuda, “Jangan pikir karena Tuhan sudah menghancurkan kerajaan Israel, kamu akan baik-baik saja. Jangan pikir karena 20 tahun yang lalu Tuhan menghancurkan raja Israel dan sampai hari ini Tuhan belum sentuh kamu, itu karena kamu lebih baik dari Israel. No.” menarik ya Saudara-saudara dikasihi oleh Tuhan, kalau ditanya mana yang lebih berat dosanya, Israel atau Yehuda? Sama. Tapi saya belum sebutkan kenapa Israel lebih duluan hancur daripada Yehuda. Karena Israel lebih baik, karena Yehuda lebih baik? Tidak. Saya ulangi Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, dua orang dosa yang sama, tapi hukumannya ada yang duluan, ada yang belakangan.Ada dua orang dosanya sama, tapi yang satu dihukum Tuhan duluan, yang satu dihukum Tuhan belakangan, dan intervalnya Saudara-saudara, lumayan, 20 tahun. Kalau satu hari bedanya enggak masalah, Saudara-saudara, kita merasa fair aja lah ya, hari ini dihukum besok yang lain dihukum, itu kan fair. Tapi Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, hari ini Israel yang dihukum, 20 tahun kemudian, Yehuda yang dihukum. Kalau saya yang jadi bangsa Yehuda, saya akan berpikir bahwa saya lebih baik dari Israel, kenapa? Israel dihukum, tapi 20 tahun ini, kami baik-baik saja.Saudara-saudara dikasihi oleh Tuhan, jangan berpikir, karena sampai hari ini dosa Saudara belum disentuh oleh Tuhan, berarti Saudara lebih baik dari orang yang sudah dihukum oleh Tuhan. Kenapa Saudara dihukum belakangan? Bukan karena Saudara better, tapi karena Tuhan itu sabar. Kenapa hari ini Saudara belum dihukum, padahal dosa Saudara lebih berat daripada dosa orang lain?Bukan Saudara lebih baik dari orang lain, tapi karena Tuhan lebih sabar dengan Saudara. Penundaan hukuman Tuhan bukan berarti kita lebih baik dari orang lain, itu hanya menunjukkan Tuhan lebih sabar sama kita. Kalau ditimbang dosanya Israel dan Yehuda sama beratnya, tapi melalui nabi Mikha, Tuhan mau mengatakan kepada Yehuda, “Engkau akan bernasib sama dengan tetangga dekat mu, Israel.”

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, apakah Allah akan membuang Yehuda untuk selamanya? Tidak, Allah tetap mengasihi Yehuda. Kasih Allah ditunjukkan dengan kesetiaan-Nya kepada perjanjian, itulah sebabnya kasih Allah dalam Bahasa Ibraninya menggunakan kata hesed, yang artinya kasih perjanjian, covenantal love. Allah mengasihi based on His covenant, itulah sebabnya di dalam Perjanjian Lama, setiap kali berbicara mengenai kasih Allah, istilah yang digunakan adalah hesed,hesed itu artinyacovenantal love. Mengapa disebut hesed Saudara-saudara? Karena Allah mendasarkan kasihNya pada perjanjian, Allah mengasihi based on covenant. Allah Yehuda setia dengan perjanjianNya, mulai dengan perjanjianNya dengan Abraham, dengan Musa, dan dengan Daud. Yehuda memang tidak setia dengan perjanjian, itulah sebabnya mereka harus dihukum, tapi Allah setia dengan perjanjian, sehingga tidak akan membuang Yehuda selama-lamanya. Saya ulangi sekali lagi Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, saya ulangi sekali lagi, Yehuda memang tidak setia dengan perjanjian, itulah sebabnya mereka harus dihukum, tetapi Allah setia dengan perjanjian sehingga tidak akan membuang Yehuda selama-lamanya. Pengharapan kita terletak pada kesetiaan Allah, bukan pada kesetiaan kita. Tapi Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, mengapa Allah mengampuni kita? Pengharapan kita bukan terletak pada kesetiaan kita pada Allah, tapi terletak pada kesetiaan Allah pada kita. Pengharapan kita terletak pada kesetiaan Allah, bukan pada kesetiaan kita. Kalau pengharapan kita terletak pada kesetiaan kita, betapa celakanya kita. Kita ini manusia berdosa yang terlalu lemah untuk setia kepada Allah. Jangankan setia kepada Allah Saudara-saudara, setia kepada sesamapun susah. Boro-boro setia kepada Allah, setia kepada sesama saja berat. Tapi kita bersyukur, pengharapan kita bukan terletak pada kesetiaan kita, melainkan pada kesetiaan Allah. Karena Yehuda sudah melanggar perjanjian, mereka melanggar hukum, mereka melanggar mengasihi Allah dan mereka juga tidak mengasihi sesama, maka Allah menghukum mereka, kelak mereka dibuang ke Babel. Tapi apakah selama-lamanya mereka dibuang? Tidak. Mereka dibuang ke Babel tujuh puluh tahun, sampai mereka akan lenyap dari dunia ini? Tidak. Mengapa? Karena pengharapan kita bukan terletak pada kesetiaan kita melainkan pada kesetiaan Allah.

Saudara-saudara, Allah akan memulihkan Yehuda dengan jalan membangkitkan suatu bangsa baru yang terdiri dari sisa-sisa Israel dan Yehuda. Saya mengajak Saudara-saudara untuk mundur ke pasal 4 ayat 6-7. Setelah Allah menegur dan setelah Allah menghukum, menjanjikan hukuman kepada Bangsa Yehuda lalu pasal 4, Allah kemudian menjanjikan keselamatan kepada Bangsa Yehuda. Mari kita baca pasal 4 ayat 6-7, “Pada hari itu,demikianlah Firman Tuhan, Aku akan mengumpulkan mereka yang pincang, dan akan menghimpunkan mereka yang terpencar-pencar, dan mereka yang telah Kucelakakan.” Wah, Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, saya sangat tertarik dengan istilah ’Kucelakakan’ itu. Siapa yang akan dikumpulkan Saudara-saudara? Mereka yang pincang. Kenapa mereka pincang? “Karena Kucelakakan.” Ini bicara mengenai Bangsa Yehuda yang akan dibuang ke Babel. Siapa yang membawa mereka ke Babel? Bukan Nebukadnezar. Siapa yang membuang mereka ke Babel? Allah sendiri. Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, kalau Saudara bertanya,kenapa ya Bangsa Israel, Bangsa Yehuda akhirnya dibuang ke Babel? “Oh karena mereka lebih lemah, Babel lebih kuat”? Bukan.  Kenapa bangsa Yehuda akhirnya harus berimigrasi ke Babel, dibuang ke Babel, dideportasi ke Babel?Karena Allah. Siapa aktor intelektual yang membuang mereka? Bukan Nebukadnezar, Allah sendiri. Tapi Saudara perhatikan pada ayat yang ke-6, “Aku akan mengumpulkan mereka yang pincang, dan akan menghimpunkan mereka yang terpencar-pencar,” siapa itu? “Mereka yang telah Kucelakakan.”

Lalu kita lihat ayat 7, “Mereka yang pincang akan Kujadikan pangkal suatu keturunan, dan yang diusir suatu bangsa yang kuat.” Bagaimana mungkin dari sisa-sisa muncul suatu bangsa yang kuat? Tidak mungkin sesuatu yang kuat keluar dari yang sisa, itu tidak mungkin. Softboard itu enggak pernah kuat, kalau Saudara beli lemari yang terbuat dari softboard enggak pernah kuat, kenapa? Karena bahan softboard itu sisa-sisa. Kalau lemari dari kayu jati Jepara itu pasti kuat, tapi kalau yang Olympic itu tidak pernah dari kayu jati Jepara, itu softboard. Softboard tidak pernah kuat, itu lemari mahasiswa, Saudara-saudara, itu lemarinya mahasiswa UNY dan UGM. Saya juga pernah jadi mahasiswa, UNPAD, Universitas Negeri Padang, bukan ya Universitas Padjajaran. Teman-teman saya waktu mahasiswa rata-rata kalau beli lemari ya itu lemari Olympic, semua terbuat dari bahan softboard, dan softboard terbuat dari serbuk kayu, sisa-sisa. Tidak mungkin sesuatu yang kuat keluar dari sisa-sisa. Tapi kalau Saudara baca pasal 4 ayat 6-7, Tuhan berkata, “Aku akan memunculkan bangsa yang kuat dari sisa-sisa,” bagaimana mungkin dari sisa-sisa muncul suatu bangsa yang kuat, tidak mungkin, tetapi inilah janji Allah dan Allah akan melakukannnya. Mari kita maju ke pasal 4 ayat 13, “Bangkitlah dan iriklah, hai puteri Sion, sebab tandukmu akan Kubuat seperti besi, dan kukumu akan Kubuat seperti tembaga, sehingga engkau menumbuk hancur banyak bangsa; engkau akan mengkhususkan rampasan mereka bagi TUHAN dan kekayaan mereka bagi Tuhan seluruh bumi.” Ayat ini menggambarkan betapa kuatnya bangsa yang baru itu. Tuhan mengatakan, “Saya akan throw away bangsa yang lama, the old Judah, tapi Saya akan membangkitkan the new Judah. Saya akan membuang Yehuda yang lama tapi Saya akan membangun Yehuda yang baru, lebih kuat daripada Yehuda yang lama.” Terbuat dari apa Yehuda yang baru ini? Sisa, Bahasa Inggrisnya remnant. Bagaimana mungkin sesuatu yang kuat keluar dari yang sisa? Saudara-saudara, nasi aking tidak pernah lebih enak daripada nasi putih ya. Bagaimana mungkin sesuatu yang kuat keluar dari sisa-sisa? Kalau Saudara perhatikan ya, semua negara yang sudah pecahan tidak pernah lebih kuat daripada negara pertamanya, enggak mungkin. Cekoslovakia setelah berpisah tidak menjadi lebih kuat lagi. Uni Soviet setelah bubar tidak  pernah ada yang lebih kuat lagi dari Uni Soviet.

Tidak mungkin sesuatu yang kuat keluar dari yang sisa. How come? Bagaimana mungkin sesuatu yang kuat keluar dari sisa-sisa? Ini menunjukkan anugerah Allah is greater than the sin of man. Anugerah Allah lebih besar daripada pelanggaran manusia. Saudara-saudara, bagaimana mungkin yang baru itu lebih kuat daripada yang lama sedangkan yang baru itu terbuat dari sisa-sisa yang lama?Mengapa yang lama itu dibuang? Karena dosa. Mengapa yang lama itu dibuang? Karena pelanggaran, dan pelanggaran mereka itu pelanggaran yang berat, tapi Allah berkata,“Aku akan membangun bangsa yang baru dari sisa-sisa yang lama ini.” Ini menunjukkan anugerah Allah lebih besar daripada pelanggaran manusia, pelanggaran Yehuda sangat besar, tetapi Allah memperlihatkan anugerah-Nya lebih besar melebihi daripada pelanggaran itu. Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, di dalam sejarah  keselamatan, di dalam drama penebusan, begitu banyak peristiwa yang besar, begitu banyak perbuatan Allah yang besar keluar dari dosa-dosa yang kelam. Perhatikan di dalam drama penebusan, di dalam sejarah keselamatan, begitu banyak peristiwa-peristiwa besar, begitu banyak pekerjaan-pekerjaan Allah yang hebat keluar dari dosa-dosa yang mengerikan. Ambil contoh, yang pertama, Yehuda berzinah dengan Tamar. Bisa bayangkan, saya tidak bisa percaya Musa memasukkan itu di dalam Kitab Kejadian, itu aib keluarga lho, kita saja kalau aib dalam keluarga kita tutupi dalam silsilah. Apalagi orang Batak, Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, dihapus generasi itu, agak malu menceritakannya. Saudara bisa bayangkan, Musa masukkan yang agak mengerikan, bukan agak, sangat mengerikan. Yehuda berzinah dengan menantu. Sampai di situ? No. Hamil. Wah. Cerita apa ini? Saudara-saudara, di Kompas banyak cerita kayak gitu ya, ya Saudara baca Kompas, Tribun Jogja banyak cerita kayak gitu ya. Seorang menantu dan mertua. Tapi ini Alkitab, ini bukan Tribun Jateng. Ini Alkitab. Ada cerita seperti ini. Mengerikan lho. Yehuda mertua punya tiga anak, anak pertama menikah dengan Tamar, mati. Anak kedua menikah dengan Tamar, mati. Anak ketiga enggak berani menikah dengan Tamar, disembunyikan. Tamar kemudian disembunyikan, diusir pulang ke rumah orang tuanya. Wah ini lagu dari zaman Pak Harto, “pulangkan saja aku pada ibuku,” sudah terjadi pada zaman Yehuda. Dipulangin, kenapa Saudara-saudara? Karena itu sudah ndak tahu suruh ngomong apa sama Tamar. Kalau dia bilang,“Enggak, saya enggak akan nikahkan,” Yehuda melanggar peraturannya. Kenapa? Seorang adik harus menikahi janda kakaknya, itu peraturannya. Tapi kalau dinikahinentar mati gimana? Sudah jelas dua kali anak saya mati karena menikahi perempuan ini, apa jaminannya yang ketiga nggak mati juga. Mati kan dilema. Gimana? Gampang, pulangkan Tamar ke orang tuanya, bilang anak ketiga masih terlalu kecil, underage untuk menikah, nanti kalau sudah cukup umur saya nikahkan dengan anakmu. Siapa tahu Tamarnya lupa lalu dinikahkan dengan orang lain di kampung halamannya. Ternyata Saudara-saudara, Tamarnya nggak lupa, dia nggak lupa, dia tunggu terus sampai anak ketiga itu besar. Dia lihat, sudah makin besar tapi kok enggak dinikahkan dengan saya? Wah habis akal. Dia dekatin Yehuda, dia menyamar seperti pelacur. Yehuda kan baru menang tender, tender perdagangan bulu domba. Wah dia pulang dengan hati yang bahagia. Akhirnya dia lihat ada pelacur nongol, dia enggak tahu itu menantunya,kenapa? Sudah 20 tahun enggak ketemu. Maka Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, dia nggak tahu. Akhirnya terjadi hal yang tidak diinginkan. Menantunya pulang, Yehuda pulang,dan tidak lama menantunya hamil. Wah ngeri ya, ngeri saudara-saudara. Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, dari Tamar itu dan perzinahan mereka telah berbuah anak, yang pertama Peres dan yang kedua Zerah. Saudara yang dikasihi Tuhan, Matius 1 memasukkan Peres ke dalam silsilah karena Peres adalah nenek moyang dari Yesus Kristus. Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, Yusuf yang hidupnya baik-baik saja enggak masuk ke silsilah, Saudara-saudara bayangkan, Yusuf yang begitu baik saja dari usia 17 tahun sampai matihidup baik-baik enggak dikasih kesempatan jadi nenek moyangnya Yesus, Yehuda yang amburadul begitu, Peres yang lahir dari perzinahan itu jadi nenek moyang Yesus.

Contoh kedua Saudara-saudara, yang paling terkenal, Daud dan Batsyeba. Apalagi yang mengerikan Saudara? Kalau Yehuda sudah berzinah dengan Tamar, understandable. Yehuda model kayak gitu ya wajar. Daud? The man after God own heart, akhirnya jatuh dalam perzinahan. Saudara-saudara jangan bilang ya, “Oh Daud khilaf Pak,” itu nggak khilaf, itu jauh dari khilaf. “Dia khilaf Pak, ya namanya juga Raja nggak tahan lihat cewek-cewek cantik,” itu ndak khilaf, sudah berkali-kali diperingatkan. Waktu dia nanya, “Siapakah perempuan itu?” Dibilang siapa perempuan itu? “Itu cucu dari Ahitofel, penasihatmu yang terbaik.” Oh anak penasihat sendiri jangan diambil. Saudara-saudara bisa bayangkan, sejak nama Ahitofel muncul, saudara tahu Ahitofel? Itu  adalah orang pertama dalam Alkitab yang Bahasa Inggrisnya paling bagus,“Ahli TOEFL.” Siapakah manusia yang paling paham Bahasa Inggris? Ya itu Saudara. Maka wajar dia jadi  penasihatnya Daud. Saudara, ini Ahitofel, itu penasihat terbaik itu, masak cucunya Saudara ganggu, kan keterlaluan. Ditanya lagi siapa perempuan itu? “Istrinya Uria.” Sudah dua nama. Saudara-saudara, kalau orang khilaf ya Saudara, itu dua nama itu bikin geger lho ya. Diterusin. Singkat cerita, perzinahan berakhir pembunuhan, Uria mati. Dari pezinah jadi pembunuh. Akhirnya Batsyeba jadi istri Daud, dan dari Betsyeba lahirlah Yedija, anak yang dikasihi Tuhan. Dan Daud mengganti namanya menjadi Salomo, artinya raja damai, Salom, damai. Dan dari Salomo lahirlah Yesus Kristus. Banyak perbuatan Allah yang besar di dalam drama penebusan lahir dari dosa-dosa yang kelam. “Oh kalau begitu saya ikut jejak Daud saja ya Pak. Daud dari Yehuda endingnya happy ending. Kalau begini ceritanya saya ikut jejak Daud saja.” Coba aja Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, kalau Saudara mau nekad ya silahkan. “Ternyata dari Daud, Yehuda happy ending lho. Perez nenek moyang  Yesus, Salomo nenek  moyang Yesus. Kalau begitu Pak, dosa-dosa kayak gini bisa happy ending dong?” Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, itu hanya menunjukkan the grace of God is greater than our sins. Itu tidak menunjukkan dosa kita baik, itu hanya menunjukkan anugerah Allah lebih besar. Anugerah Allah lebih besar, Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan.

Siapakah bangsa yang kuat ini? Tadi kita sudah melihat janji Tuhan, Ia akan mengumpulkan suatu bangsa, Dia akan membangun suatu bangsa dari sisa-sisa bangsa yang lama, dari Yehuda yang lama. Siapakah bangsa yang kuat ini? Selama ratusan tahun janji ini terkubur. Saudara-saudara, bangsa Yehuda berpikir, bahwa bangsa yang kuat ini adalah orang-orang yang pulang dari pembuangan, ternyata bukan. Setelah pulang dari pembuangan, bangsa Yehuda tetap berada di bawah penjajahan. Setelah Babel dikalah oleh Persia, bangsa Yehuda dipulangkan ke Tanah Perjanjian, tapi status mereka tetap sebagai jajahan Persia, dan sebagian orang Yehuda tetap tinggal di Persia. Setelah Persia dikalahkan Yunani, bangsa Yehuda menjadi jajahannya Yunani, dan orang-orang Yehuda ber-diaspora ke seluruh dunia. Bukannya ngumpul, malah diaspora. Kemudian Yunani dikalahkan oleh Romawi sehingga bangsa Yehuda menjadi jajahannya Romawi. Pada masa penjajahan Romawi, terjadilah sejumlah pemberontakan oleh bangsa Yehuda untuk menunjukkan mereka adalah bangsa yang kuat. Tetapi semua pemberontakan itu dapat dipadamkan dengan kekerasan oleh pemerintah Romawi.Wah, siapakah bangsa yang kuat itu? Orang Yehuda berpikir, “Ini adalah bangsa yang akan pulang dari Babel.” Ternyata ratusan tahun menunjukkan: Bukan, bangsa yang pulang itu bukanlah bangsa yang dijanjikan dalam kitab Mikha ini. Selama ratusan tahun, Yehuda menunggu penggenapan janji Allah. Dalam hati mereka bertanya, “Kapankah Allah akan memulihkan kami menjadi bangsa yang kuat?” ini adalah pengharapan Messianic, Saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan.Saudara-saudara, maka tidak heran sebelum Yesus naik ke sorga, Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan bilakah Engkau memulihkan Kerajaan Israel?” Saudara yang dikasihi Tuhan, janji-janji para nabi itu membuat semua orang Yehuda bertanya, “Kapankah Allah akan memulihkan kami menjadi bangsa yang kuat?”

Saudara-saudara, Allah akan menggenapi janji ini setelah Ia membangkitkan seorang Raja yang dipilihNya. Kapan bangsa yang baru ini akan muncul? Setelah Raja yang dipilih muncul, setelah Allah membangkitkan Raja yang dipilihNya, baru Dia akan membangun bangsa yang dijanjikan-Nya. Bukan dibalik, Allah memulihkan Israel dulu, baru Dia mengutus Mesias. Bukan. Allah utus Mesias dulu, baru Dia akan membangun bangsa yang dijanjikan itu. Maka pertanyaan yang sebenarnya bukan: “Kapan Tuhan memulihkan kami?” Tapi: “Siapa Raja yang dijanjikan itu?”Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, Raja yang dijanjikan itu adalah Yesus sendiri. Sebelum Yesus Kristus datang, Israel dan Yehuda tidak akan dipulihkan. Maka pada pasal 5 ayat 1, yang tadi kita baca, Saudara-saudara. Dalam pasal 5, ayat 1, yang tadi kita baca, saya akan bacakan sekali lagi, Mikha berkata, “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.”Ayat ini memberikan 3 ciri Yesus Kristus.Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita membaca pasal 5, ayat 1, kita akan mengerti bahwa hanya Yesus yang bisa memenuhi ketiga ciri ini. Saudara-saudara, pasal 5 ayat 1 menunjukkan kepada kita: Siapa Raja itu? Mikha bilang ada 3 ciri.

Yang pertama, Saudara-saudara, berasal dari tempat terpencil. “Hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda.” Yang kedua, berasal dari dalam Yehuda, “dari padamu”. Yang ketiga, ini yang sulit ditemukan, Saudara-saudara. Dua ciri pertama, gampang dicari. Saudara yang dikasihi Tuhan, siapa sih yang sulit mencari tempat terpencil? Semua gampang kok!Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, dari tempat terpencil? Gampang! Mencari orang dari tempat terpencil? Gampang! Yang kedua, dari dalam Yehuda. Gampang, ada banyak orang Yehuda. Tapi Saudara-saudara yang ketiga, ini yang sulit untuk dicari. Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, ciri yang ketiga ini sulit untuk mencari orang yang matching, kenapa? Bait yang ketiga, “berasal dari luar Yehuda, yang permulaannya sejak purba kala.” Saudara yang dikasihi Tuhan, enggak mungkin Yehuda itu dari purbakala. Yehuda baru ada ya setelah zamannya Yakub, sebelum Yakub enggak ada Yehuda. Sebelum Abraham, enggak ada Yehuda. Tapi Mesias ini, permulaannya dari sejak purbakala. Dia dari tempat terpencil, Dia dari Yehuda, tapi Dia dari luar Yehuda. Lho ini bagaimana? Tapi inilah ciri yang harus dipenuhi oleh seorang Mesias. Mesias enggak boleh dari bangsa lain, harus dari bangsa Yehuda. Tapi Mesias harus dari tempat terpencil, harus dari Betlehem. Tapi Saudara-saudara, Mesias harus berasal dari luar. Lho ini bagaimana? Yang permulaannya sudah sejak purbakala. Maka tidak heran, Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, banyak ahli Taurat sedang putus asa menunggu penggenapan janji ini. Putus asa mereka, Saudara-saudara. Mencari orang dari Betlehem, gampang; mencari salah satu dari orang Yehuda, gampang; tapi mencari orang yang asal mulanya sudah sejak purbakala, ini yang sulit, tidak gampang, Saudara-saudara dikasihi oleh Tuhan.

Setelah ratusan tahun Allah menggenapi janji-Nya, tapi sayang sekali, orang pertama yang melihat penggenapan itu, bukanlah bangsa Yehuda, melainkan bangsa kafir, yaitu orang Majus dari Timur. Matius 2 menceritakan pertemuan orang-orang Majus, yang tidak mengetahui janji Allah, dengan ahli-ahli Taurat yang mengetahui janji Allah. Saat orang-orang Majus bertanya, “Dimanakah tempat Yesus dilahirkan?” Ahli-ahli Taurat menjawabnya dengan mengutip Mikha 5:1, yang kita baca tadi.Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, sudah ratusan tahun Mikha 5:1 ini ada di tangan mereka tapi mereka nggak ngeh juga, Siapa yang dimaksud oleh Mikha 5:1 ini? Ratusan tahun mereka sudah membaca Mikha 5:1 ini. Tapi pada satu hari datanglah orang Majus dari Timur ke kota Yerusalem dan bertanya, “Dimanakah Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?” Lalu ahli-ahli Taurat ini, membuka Bible Apps mereka di Android, Saudara-saudara dikasihi oleh Tuhan. Langsung. Mikha 5:1. Bunyinya: “Dan engkau, Betlehem, di Efrata.” “Lho, kamu selama ini tahu dong? Tahu koordinat GPS-nya. Tuhan sudah share-loc dari sejak ratusan tahun yang lalu. Lalu kenapa kamu enggak pergi? Nggak nunggu? Kamu tahu Betlehem, tempat lahirnya, kenapa nongkrong di Yerusalem?”Tapi orang Majus begitu mendengarkan nubuat itu dibacakan, Saudara-saudara bisa bayangkan, mereka meninggalkan kampung halaman mereka hanya dengan bermodalkan bintang. Lalu mereka berhenti di Yerusalem dan ayat itu dibacakan. Wah Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, wahyu umum disusul wahyu khusus, Saudara-saudara.Bintang itu wahyu umum, wahyu umum mengantar mereka sampai ke Yerusalem, tidak sampai ke Betlehem. Wahyu khusus yang menuntun mereka sampai ke Betlehem. Saudara-saudara, wahyu umum membawa orang untuk mengetahui: Ada Allah, tapi tidak akan membawa orang mengetahui: Siapa Allah. Maka Saudara-saudara, jangan meremehkan agama lain, Saudara jangan mengatakan, “Agama lain enggak tahu ada Allah,” agama lain tahu ada Allah, Saudara-saudara. Lho kok mereka tahu ada Allah? Wahyu umum. Orang Majus dari Timur saja, bukan hanya tahu ada Allah, Saudara-saudara, tahu ada Raja yang baru dilahirkan. Modal apa? Modal bintang. Sampai sekarang, Saudara-saudara, orang berdebat, sebenarnya ada yang nanya, bintang itu apa? Enggak tahu lah ya Saudara-saudara, tapi yang jelas bintang itu membuat mereka ngeh ada Raja yang baru dilahirkan. Saudara yang dikasihi Tuhan, ada raja yang baru dilahirkan, lalu bintang itu menuntun sampai mana? Yerusalem. Apakah Yesus lahir di Yerusalem? Tidak, sampai di situ, sampai di situ Saudara, buntu. Itulah agama-agama, menuntun sampai apa? Ada Allah. Sampai di situ, buntu. Ada Allah, ada Allah, ya ada gitu ya. Siapa? Tuh gunung meletus, nah, itulah namanya dewa gunung. Sudah, selesai. Oh itu tuh, badai mengamuk, ah itu namanya ratu pantai selatan. Nah sampai ke situ, buntu. Sudah, sampai di situ doang. Loh itu Allah? Bukan. Tapi setidaknya kamu tahu ada Allah. Seterusnya? Wahyu khusus, dibacakanlah Mikha 5:1 oleh para teolog liberal, Saudara yang dikasihi Tuhan, yang dia pun enggak percaya itu. Bisa bayangkan Saudara-saudara ya, ini ahli Taurat ini enggak percaya itu, dia bacakan. Tapi tetap firman Tuhan ya Saudara-saudara, wahyu khusus.

Orang Majus itu menerima firman itu dengan serius sehingga mereka berangkat ke Betlehem, lalu Allah membawa mereka sampai ke rumah di mana Yesus berada. Wahyu umum hanya sampai Yerusalem, tapi wahyu khusus menuntun mereka sampai ke Betlehem di mana Yesus berada. Tapi sayang ya Saudara-saudara, ini janji diberikan kepada orang Yehuda, yang nyampe pertama kali orang Majus. Ini kan jadi bingung. Saudara-saudara, kita orang Reformed ini jangan sampai seperti ahli Taurat, yang sampai pertama kali orang Majus. Allah membawa mereka sampai ke tempat di mana Yesus berada. Saudara-saudara, di Betlehem Allah mengumpulkan sisa-sisa untuk menjadi bangsa yang baru. Di dalam kisah Matius 2 ketika orang Majus bertemu dengan Yesus, di situlah Allah menunjukkan bangsa yang baru itu. “Lho di mana ada Pak?” Perhatikan, Saudara-saudara, ketika mereka sampai di rumah itu, itu bukan hanya pertemuan Sang Mesias dengan orang kafir,bukan Saudara-saudara, tapi di dalam rumah itu bertemulah orang kafir dan orang Yahudi. Orang Majus itu mewakili non-Yahudi, Yusuf dan Maria mewakili orang Yahudi. Tapi di mana persamaannya? Sama-sama sisa. Di antara semua orang kafir, Tuhan hanya menyisakan orang Majus; di antara orang Yahudi, Tuhan menyisakan Yusuf dan Maria. Saudara-saudara bisa bayangkan, di bawah atap rumah itu berkumpullah orang Majus yang bukan Yahudi dengan Yusuf dan Maria orang Yahudi dan berhadapan dengan Yesus Kristus. Bertemu di sekitar Yesus Kristus. Di rumah di mana Yesus berada, bukan hanya terjadi pertemuan orang Majus dengan Yesus, tapi orang Majus yang tidak bersunat dengan Yusuf dan Maria orang Yahudi, berkumpul. Dan mereka sama-sama sisa. Saudara bayangkan, Yusuf dan Maria itu adalah kelompok marjinalnya orang Yahudi. Mereka orang miskin, mereka bukan orang Yerusalem, mereka orang Galilea. Mereka orang kecil, tapi di antara orang Yahudi, yang Tuhan percayakan orang kecil ini, sisa. Lalu orang Majus itu orang dari Timur, Saudara-saudara, bagi orang Yahudi, orang kafir. Tapi diantara ini dikumpulkan sisa, dipertemukan, terbentuklah the new nation. Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, kedua kelompok ini bertemu dengan Yesus Kristus.

Siapakah bangsa yang baru itu? Gereja. Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, di dalam Kitab Mikha Tuhan sudah berfirman, “Aku akan membangun bangsa yang baru, lebih kuat dari bangsa yang lama, tapi dari sisa-sisa bangsa yang lama,” siapa bangsa yang baru itu? The church, gereja. Gereja adalah tempat di mana seluruh sisa bangsa dipertemukan dalam Yesus Kristus menjadi suatu bangsa yang baru. Saya ulangi sekali lagi Saudara-saudara, gereja adalah tempat di mana seluruh sisa bangsa-bangsa, bukan hanya bangsa Yahudi. Saudara yang dikasihi Tuhan, gereja bukan hanya terdiri dari bangsa Yahudi, tapi juga bukan hanya terdiri dari orang Majus. Karena di kemudian hari, Tuhan akan mengumpulkan sisa dari seluruh bangsa, setiap bangsa akan ada yang disisakan untuk menjadi orang Kristen. Saya yakin, Saudara yang dikasihi Tuhan, nanti di sorga seluruh bangsa akan ada representasinya. Nanti di sorga seluruh bangsa akan ada representasinya. Mungkin karena itulah hari ini Yesus belum datang, Saudara-saudara. Kenapa? Masih ada suku yang belum ada representasinya. Maka Saudara-saudara, tiap orang Kristen bukalah website mengenai unreached people, Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, supaya kita jangan terkurung dalam dunia kita sendiri, merasa seluruh dunia sudah Kristen. Kenapa? Karena di sini banyak orang yang kumpul di gereja. Kalau Saudara buka website, Joshua Project itu, Saudara akan menemukan, ada ratusan suku yang tergolong UPG, Unreached People Group. Kenapa dikatakan unreached people group? Itu bangsa yang belum memiliki representasi di dalam Kerajaan Allah karena belum ada orang Kristen di bangsa itu.

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, from the very beginning, Allah ingin mengumpulkan dari bangsa-bangsa sisa, dikumpulkan menjadi satu bangsa, gereja, inilah bangsa yang baru, bangsa yang kuat. Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, gereja adalah bangsa yang kuat bukan karena orang-orang di dalamnya. Saudara dengarkan baik-baik. Kenapa gereja itu bangsa yang kuat? Bukan karena orang-orang dalamnya, orang-orang yang sisa. Tapi kenapa kuat Saudara-saudara? Karena melekat pada Kristus Rajanya. Gereja itu kuat karena melekat pada Kristus, Rajanya. Maka kalau Saudara perhatikan ayat 3 pasal 5 Saudara-saudara, Pasal 5:3. Tadi kita baca ayat 1, tapi ayat 3, Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, saya bacakan untuk kita semuanya. “Ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar”. Saya minta Saudara perhatikan kalimat ini, mereka akan tinggal tetap. NIV menerjemahkannya and they will live securely. Kenapa secure, Saudara-saudara? Sebab ia menjadi besar. Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, secure-nya gereja bukan terletak pada orang-orangnya. Secure-nya gereja terletak pada besar Kristus-nya. And they will live securely because He become great. Saudara-saudara, gereja yang membesarkan Kristus pasti secure. Saya ulangi Saudara-saudara ya. Gereja yang membesarkan Kristus ke ujung bumi pasti secure. Tapi gereja yang membesarkan diri lebih daripada Kristus enggak pernah secure. Saya ulangi ya Saudara-saudara ya, Gereja yang membesarkan Kristus sampai ke ujung bumi pasti secure. Tapi gereja yang membesarkan diri tidak pernah secure, Saudara-saudara. Maka ada gereja yang insecure, mulai dari pengurus, jemaat, hamba Tuhan, insecure terus. Kenapa? Sibuk membesarkan diri. Setiap kali lihat gereja lain lebih besar, langsung insecure. “Ih kok gereja lain lebih besar dari kita,“ insecure. Saya kadang-kadang capek Saudara-saudara ya, kalau banyak orang itu nanya sama kita hamba Tuhan ini, “Kenapa Pak, kalau gereja Reformed ajarannya benar tapi jumlah jemaat yang nggak Reformed, yang sesat itu, lebih besar Pak?” Pertanyaannya itu bolak-balik, bolak-balik, Saudara yang dikasihi Tuhan, ya. Lha ini pertanyaan atau apa saya pikir,“Pokoknya itu benar, ajarannya benar tapi jumlah jemaatnya nggak lebih besar kok Pak daripada gereja-gereja sesat. Reformed bilang ini sesat, itu sesat, semuanya itu yang sesat lebih besar daripada Reformed. Jangan-jangan Reformed insecure, Pak?” Wah Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, ini agak menohok hamba Tuhan ya. Reformed bilang ini sesat, ini sesat, ini sesat, tapi semua yang dituding sesat lebih besar daripada Reformed. “Kalau Reformed memang benar, tunjukkan lebih besar dong dari gereja yang lain.” Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, kenapa kita nggak perlu insecure? Karena memang kita bukan untuk membesarkan diri, kita membesarkan Allah. Bagi kita, melihat Kristus menjadi besar sampai ke ujung Yogyakarta ini, saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, sudah cukup bagi kita walaupun jumlah jemaat gereja kita tetap biasa-biasa saja. They live and they will live securely because He will be great. Saudara-saudara, KKR Jogja yang biayai siapa? Dari Jogja saudara, MRII Jogja. Yang tanggung semua siapa? MRII Jogja. Yang sharing tadi kekurangan biaya siapa? Pendeta MRII Jogja. Yang dengerin siapa? Yang hadir di kebaktian MRII Jogja. Yang datang siapa saudara-saudara? Ribuan orang itu di luar MRII Jogja. Setelah kebaktian selesai, kemana mereka? Kembali ke MRII Jogja? Tidak, saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, entah ke mana saya nggak tahu. Waduh yang pikul biaya ratusan juta kita, yang dengar firman Tuhan mereka, yang pulang mereka, yang nanggung kekurangan kita. Lho sampai sekarang Saudara-saudara, masih aja ada yang nuduh kalau Pak Tong bikin KKR di kota-kota itu ingin memperbesar gereja sendiri. Sudah puluhan tahun KKR, cabang di mana KKR Pak Tong diadakan tidak bertambah terlalu signifikan jemaatnya. Jadi sekarang kita nggak ngerti tuduhan ini dari mana sebenarnya. Tapi apakah itu menjadi suatu masalah? Tidak. We will live securely because He will be great, because He will be great.

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, gereja adalah kumpulan sisa-sisa. Siapapun Saudara di gereja ini, seberapa kaya pun Saudara, ingat Saudara sisa. Sisa. Kalau Tuhan enggak sisakan Saudara, Saudara hari ini tidak jadi orang Kristen. Kenapa Saudara hari ini jadi orang Kristen? Karena Dia taruh semua nenek moyang Saudara yang sisakan Saudara? Saya tidak tahu perasaannya jadi orang Kristen generasi pertama, saya enggak tahu Saudara-saudara, karena saya orang Kristen generasi ke sekian. Orang Batak,generasi ke sekian lah, kakek buyut juga Kristen. Tapi Saudara-saudara, beberapa waktu yang lalu saya melayani satu orang di GRII Semarang, saya juga baru tahu ternyata dia bukan orang Kristen keluarganya tapi dalam anugerah Tuhan, saya nggak ada waktu menceritakan, tiba-tiba dia mau jadi orang Kristen. “Perjalanannya sudah cukup lama sih Pak, perjalanannya sudah bertahun-tahun. Saya punya teman Kristen, kalau mereka nikahan saya datang, mulai dari nikahan teman yang Kristen saya datang, saya ikut Natalan. Tapi perlahan-lahan seolah-olah Tuhan tarik dalam perjalanan Kristen. Saya punya rekan kerja yang orang Kristen, kami ngobrol-ngobrol kok banyak obrolan yang masuk akal ya, nyambung ya, menarik ya. Saya malam Natal saya dibawa ke gereja ini,” di gereja Reformed,Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan. “Saya waktu mendengar Reformed, o ternyata Kekristenan itu cukup dalam lho nggak seperti yang saya bayangkan selama ini, Natal, Natal doang, Natal doang, gitu ya. Ternyata ajarannya mendalam.” Terus ikut katekisasi dia Saudara-saudara. Dia katekisasi terus saya tanya, “Ada nggak diantara keluargamu yang Kristen?” “Belum. Sayalah yang pertama kali Kristen.” Saya orang Kristen sisa. Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, sisa.

Ravi Zacharias punya nenek adalah orang Kristen pertama di dalam keluarganya Ravi Zacharias. Kalau bukan karena neneknya, tidak mungkin Ravi Zacharias Kristen. Kenapa? Dulunya neneknya Ravi Zacharias itu bukan orang Kristen, dan di India hari itu misionaris sudah melayani. Lantas banyak orang Kristen dari orang India itu diusir sama keluarga maka misionaris itu menyediakan asrama, seperti perkampungan. Nah nenek Ravi Zacharias menjadi Kristen melalui pelayanan seorang misionaris lalu diusir keluarganya, pergi ke kampung itu Saudara-saudara. Kayak Blimbingsari-nya Bali,Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan. Pergi ke kampung itu. Nah di kampung itu neneknya Ravi Zacharias ketemu sama seorang laki-laki yang juga diusir oleh keluarganya. Lalu neneknya menikah dengan laki-laki ini, lalu mereka punya anak, anak itu adalah papanya Ravi Zacharias. Tapi tahun demi tahun berjalan akhirnya Kekristenan luntur, papanya Ravi Zacharias jadi Kristen nominal, maka Ravi Zacharias jadi orang Kristen yang nominal juga. Dia bilang, “Setiap hari Minggu saya ke gereja, badannya doang di gereja pikiran saya di lapangan kriket.” Zaman itu belum ada basket Saudara-saudara, jadi pertandingan olahraga yang dominan itu adalah kriket, kasti hari ini Saudara-saudara ya. Hari ini nggak ada anak muda yang berpikiran main kasti,Saudara-saudara, ya nggak ada kan? Nggak ada ya. Nah karena pertandingan, dia bilang, “Saya itu ya kalau di gereja itu mikirnya kapan selesai ibadah, kapan selesai ibadah, supaya saya bisa main kriket. Tapi di dalam, dalam perjalanan hidup saya tiba-tiba saya merasa emptiness, kekosongan. Maka dengan kekosongan itu saya pingin bunuh diri, pikiran pingin mati aja,” dia bilang, “Maka satu hari saya ambil obat serangga, saya minum supaya saya mati karena saya nggak merasa punya arti hidup. Waktu saya minum, sayang yang mati bukan saya, yang mati adalah kuman-kuman di perut saya,” dia bilang. Kenapa? “Dosisnya kurang sebab yang diminum itu obat serangga yang sudah tinggal setengah,” nggak cukup untuk matikan dia tapi akhirnya semua bakteri dalam tubuhnya mati.Dia muntah, karena dia muntah, maka seluruh cairan tubuhnya keluar, dehidrasi. Wah dibawa ke rumah sakit, diinfus. “Dalam keadaan itu saya bingung, saya pingin mati nggak bisa mati. Saya nggak tahu harus bagaimana.” Bisa bayangkan Saudara-saudara ya, sudah mau mati aja nggak bisa mati itu repot ya. Sudah mau hidup pingin mati, sudah mati nggak bisa mati, ini kan susah. Maka, “Dalam keadaan saya nggak bisa apa-apa itu ada orang bawa Alkitab ke saya, ditaruh di meja dekat tempat tidur saya. Dalam waktu 2 hari saya baca ayat itu, saya kemudian buka langsung ke Yohanes. Dalam ayat itu tertulis because I live, you shall live. Because I live that you shall live. Karena Aku hidup maka engkau pun akan hidup.” Wah dia bilang,“Ayat ini pas banget dengan saya, saya pengen mati. Tapi ayat ini berkata because I live that you shall live. Saya ingin tahu ini Siapa yang ngomong.” Maka Ravi Zacharias itu melalui penyakitnya dia mulai mengenal Kristus. Dia makin hari, makin hari, makin hari, akhirnya menjadi seorang hamba Tuhan. Dan menarik, suatu hari dia ingin mencari kuburan neneknya, kata bapaknya neneknya sudah habis tapi kita nggak pernah kasih tahu. Karena kita nggak tahu apa itu Kekristenan. Maka dia pergi ke kampung halaman neneknya, dia cari kuburan itu nggak ada yang tahu. Lalu dia tanya sama orang-orang di sekitar situ akhirnya ada yang tahu, nenekmu dikubur dimana. Dia cari, dia sampai ke tempat itu sudah semak belukar. Tidak dirawat, sudah semak belukar, lalu dia bersihkan batu nisan neneknya itu, dia kaget Saudara-saudara, ketika neneknya meninggal neneknya minta supaya di batu nisannya diukir satu ayat, “Because I live that you shall live.” Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan siapa nenek Ravi Zacharias? Sisa. Dari sisa itu Tuhan bangkitkan Ravi Zacharias.

Saudara-saudara kalau saya mengenang pun bagaimana kelaurga saya, kakek saya itu seorang Kristen. Tapi ya gitu, Kristen-kristenan. Dan dalam sejarah keluarga kami tidak ada yang pendeta, yang ada penyembah berhala. Kampung saya itu di tanah Karo atas, yang hampir meletus kena Gunung Sinabung, di kampung saya itu di sebelah rumah kakek saya itu ada kuil penyembahan berhala. Jadi kalau kampung itu nggak dapat hujan, maka semua ngumpul di rumah kakek saya, minta apa? Minta ritual. Dan kakek saya suka pimpin, ritual itu potong ayam warna putih, ambil darahnya, siram-siram. Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, orang Karo ya musim kemarau semua kumpul bikin ritual, menantu perempuan ambil ember isi air, siram mertuanya, itu salah satu ritualnya. Wah Saudara bisa bayangkan, ini sudah musim kemarau  siram-siraman, itu gimana ya, coba pikir, orang butuh air, disiram airnya, gimana ini, ini kan perbuatan bodoh gitu ya.Memang bodoh Saudara-saudara dikasihi Tuhan, orang sudah butuh air, kering-kering, disiram, supaya apa Saudara? Untuk memprovokasi leluhur kita, karena begitu menantu perempuan nyiram mertua laki-laki ini kan ndak sopan, maka leluhur itu marah, turunkan hujan.Waduh saya pikir ini kok kayak gini ya, itulah keluarga saya, dari keluarga saya itu kakek seperti itu.Saya bersyukur di dalam perjalanan, sejak keluarga saya, papa saya jadi Kristen, jadi Kristen beneran, di momen-momen kritis hidupnya dia jadi Kristen benaran, mama sayapun dalam momen-momen krisis hidupnya jadi Kristen beneran, belum lahir saya.Dan singkat cerita akhirnya mereka berdua melahirkan saya.Sekitar tahun 2002 saya diterima di kedokteran UNPAD, papa saya mengatakan,“Kamundak tahu betapa baiknya Tuhan bagi keluarga kita, dari kakekmu sampai hari ini tidak pernah ada jadi dokter, kamulah yang pertama jadi dokter, betapa baiknya Tuhan bagi keluarga kita.”Dan beberapa minggu kemudian saya test, dan menemukan kabar saya tidak masuk ke kedokteran itu walau lulus, kenapa? Buta warna partial.Saya lapor ke orang tua saya, “Saya ndak jadi masuk kedokteran,” kenapa?Partial colour blind.Kecewa?Oh pasti,Saudara-saudara, pasti, Filipi berkata,“Bersukacitalah senantiasa,” ya tetap ndak bisa juga, “bersukacita dimana?” Saya sudah belajar mati-matian berbulan-bulan gitu ya, orang saja sampai nangis enggak bisa masuk kedokteran, saya sudah masuk kedokteran enggak boleh masuk, itu gimana ya saya pikir, tinggal di depan pintu, depan pintu ya kan, gagalnya dimana? Di meja dokter juga gagalnya, keterlaluan, gagalnya bukan diadministrasi, meja dokter gagalnya.Singkat cerita, akhirnya saya berhenti di Hubungan Internasional,tapi beberapa tahun kemudian saya masuk STT.Lalu papa saya bilang, “Dari zaman kakekmu memang belum pernah ada yang jadi dokter, tapi kamu juga lihat sekarang, belum pernah juga ada yang jadi pendeta, hari ini kamulah yang pertama jadi pendeta, ingat baik-baik kakekmu siapa dulu, dulu kakek kita ini penyembah berhala sekarang cucunya jadi pendeta,” sisa, sisa, Saudara-saudara dikasihi oleh Tuhan.

Saya akan akhiri khotbah ini dengan tiga pelajaran berharga.Yang pertama, dalam keterpurukan jangan fokus pada pemulihan, fokusnya pada Kristus.Saudara-saudara, Bangsa Yehuda terpuruk karena dosa mereka, mereka menantikan pemulihan tapi pemulihan mereka baru terjadi setelah Kristus datang.Mereka fokus pada pemulihan,“Kapan, kapan, kapan? Kapan kami dipulihkan,” kunci pemulihan mereka Kristus.Fokusnya bukan pada pemulihan, fokusnya pada Kristus.Apapun kondisi Saudara hari ini, keterpurukan Saudara yang terjadi hari ini, jangan fokus pada pemulihan, fokus pada Kristus.Kapan pulihnya enggak perlu dipikirkan, sepanjang Saudara masih melihat Kristus Saudara enggak perlu takut kapan pulihnya.Kalau Saudara fokus pada pemulihan,Saudara depresi nanti, kok enggak pulih-pulih, kenapa belum pulih juga ya Pak? Pada saat kita meletakkan kepercayaan kita pada Kristus Dia akan memulihkan kita melampaui apa yang kita pikirkan. Kalau Saudara terus fokus pada pemulihan, fokus pada pemulihan, fokus pada pemulihan,Saudara depresi, karena kapan, kok belum, kok belum, kok belum, kok lama amat, karena Saudara fokusnya pada pemulihannya.Fokusnya pada Kristus, kalau Saudara sudah melihat Kristus itu dengan iman, Saudara tidak perlu melihat keadaan Saudara , sooner or later pasti akan pulih. Tapi kapan? Hanya Dia yang tahu. Kalau Saudara naik kereta dari Jogja menuju Jakarta, yang Saudara perlu pastikan bukan kapan sampai jakartanya, Saudara pastikan Saudara di kereta yang benar atau tidak. Kalau Saudara di kereta yang salah enggak perlu nanya kapan nyampenya, pasti enggaksampai.Tapi kalau Saudara di kereta yang benar, tidurlah, sampai kok.Tapi kalau Saudara sudah di kereta yang salah, jangan nanya kok belum sampai, kok belum sampai, masalah Saudara bukan sampaienggaksampai-nya, salahnya keretanya salah,Saudara ambil ke Surabaya ya,kok lama amat, ini bukan lama, masalah Saudara ini salah jalur. Saudara terpuruk oleh dosa, Tuhan bilang, “Aku mengampunimu,” terima kasih Tuhan, Tuhan akan pulihkan aku enggak?“Iya Aku akan pulihkan,” kapan? Saudara enggak perlu fokus ke situ, jangan fokus pada pemulihan, fokus pada Kristus, kenapa Saudara-saudara? Karena Saudara enggak tahu sebenarnya akar permasalahan Saudara dimana, Dia yang tahu.Kalau Saudara fokus pada pemulihan, Saudara akan salah diagnosa terus nantinya. Ada suami-istri bertengkar, istrinya bilang,“Pak pendeta, doakan saya ya Pak, doakan saya,” ini Saudara-saudara, saya paling enggak suka orang minta didoakan kayak begini, “Pak pendeta doakan saya,” pendeta pasti doakan lah ya. Baru minggu depan datang,“Kenapa lagi bu?”“Sudah seminggu Pak, belum ada yang terjadi.”“Lho maksudmu apa?” saya bilang.“Bapak harus doakan saya, apapun yang terjadi suami saya tetap keras seperti dulu Pak, tetap keras, saya kan doakan supaya lembut, kita sudah doakan seminggu yang lalu, tapi sampai minggu ini pun masih keras Pak, masih keras, saya sudah berdoa supaya suami saya yang keras menjadi lembut, bahkan enggak berubah-berubah, oh doakan lagi-doakan lagi ya Pak.”Sebulan kemudian, “Pak, belum berubah juga suami saya.”Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, inilah orang yang fokus pada pemulihan, begitu dia fokus pada Kristus dia sadar penyebab utama bukan Kristus tetapi dirinya sendiri, begitu lihat Kristus,“Ya Tuhan, aku yang salah, pantas dia keras terus ya saya lebih keras lagi daripada dia,” begitu dia lihat Kristus,“Aku yang perlu berubah, saya yang perlu berubah, saya yang harusnya membalik, saya yang harusnya berubah, saya yang harusnya belajar mengalah, saya harusnya belajar tidak egois.”Begitu dia belajar tidak egois, belajar mengalah, tanpa disadari suaminya berubah.Jangan fokus pada pemulihan, fokuslah pada Kristus.

Yang kedua, Allah menjawab masalah yang besar dari tempat yang kecil. Masalah yang besar memang butuh solusi yang besar, tapi seringkali kita menganggap solusi yang besar harus datang dari tempat yang besar, itu kesalahan kita orang berdosa.Masalah besar butuh solusi besar,betul, tapi solusi besar selalu dianggap harus datang dari tempat yang besar. Tetapi jika Saudara perhatikan disini, Allah memberikan solusi bagi masalah yang besar dari tempat yang kecil,Betlehem.Saudara-saudara jangan meremehkan tempat-tempat yang kecil, jangan meremehkan hal-hal yang kecil, karena Tuhan bisa memakai hal-hal yang kecil untuk menyelesaikan masalah-masalah yang besar.Saudara bisa bayangkan Israel, Yehuda menunggu pemulihan-pemulihan, dari manakah pemulihan itu akan datang?Masalah besar, penindasan Romawi, keterjajahan, keterpurukan, Tuhan bilang jawabannya dari Betlehem. Wah gimana dari tempat kecil begini solusi bagi masalah besar?Inilah cara kerja Tuhan. Allah memberikan solusi untuk masalah yang besar dari tempat yang kecil, Allah menjawab persoalan bangsa Yehuda yang besar dari Betlehem yang kecil. Saudara-saudara, jawaban Allah seringkali kurang meyakinkan bagi akal karena manusia sudah berdosa selalu tertarik pada hal-hal besar. Itulah orang berdosa Saudara-saudara. Orang berdosa itu kecanduan hal-hal besar, itu sebabnya sebagai hamba Tuhan saya selalu memperingatkan diri saya jangan kecanduan hal besar. Saudara-saudara, selesai KKR jogja ini itu hal besarnyasudah selesai, sudah selesai. Jangan kecanduan hal besar. Setahun hal besarnyaenggak banyak, setahun yang banyak hal-hal kecil, apa?Persekutuan Doa,jangan libur. Betul,Saudara yang dikasihi Tuhan. Orang kalau disuruh panitia KKR enggak pernah absen rapat,Persekutuan Doa absen tiap minggu, kenapa? Enggak besar, kecil, kecil. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, ingat ya jangan fokus pada hal-hal besar karena sering kali hal-hal kecil adalah jawaban pertama untuk masalah-masalah besar.

Salah satu yang sering kita kecilkan apa? Doa. Cuma doa katanya, ya cuma, cuma ya, cuma doa. Ini cara berfikir laki-laki Saudara-saudara, pada umumnya ya kan? Pada saat ada masalah besar istri bilang, “Sudahlah ya pak, ya kita jangan banyak berfikir, kita doa saja.”“Doa, doa,emangdoa bisa menyelesaikan masalah?” Itu refleks ya Saudara saudara umumnya. Perempuan biasanya enggak susah diajak doa,makanya yang banyak Persekutuan Doa perempuan isinya ya kan? Masalahnya apapun,doa adalah jawabannya. Makanya banyak suami enggak sabar. Masalah terbesar begini, bisnis bangkrut, toko terbakar, istri bilang apa, “Mari kita berdoa”. “Doa, doa,emang doa bisa selesaikan masalah?Enggak bisa!”“Kalau enggak berdoa gimana pak?” Begadang, ya begadang sendirian. Bisa bayangkan Saudara-saudara, suaminya begadang gara-gara toko terbakar, bisnis bangkrut. Istrinya bilang, “Ayo kita doa,” enggak bisa doa. “Terus ngapain kalau enggak berdoa?”Enggak tahulah, pokoknya jangan doa.”Enggak tidur Saudara-saudara, buka TV, nonton solusi bagi jiwa. Ya sudahlah nih orang. Kadang kadang solusi itu jam 3 pagi ya Saudara-saudara, karena jam 3 pagi adalah tempat dimana orang-orang untuk cari solusi gitu ya. Kalau perempuan kan tetap, besar kecilnya masalah jawabannya tetap satu, doa. Nah jawabannya tetap satu doa. Maka Saudara-saudara, ada seorang profesor saya bikin joke sebagai hamba Tuhan,“Di dalam rumah kami ada kesepakatan, semua hal besar serahkan ke suami, semua hal kecil serahkan ke istri. Dan sampai hari ini enggak pernah ada masalah besar,” karena semua ditangani oleh istrinya Saudara-saudara ya. Maka semua masalah kecil karena semua istri yang tangani. Saudara-saudara, kadang-kadang kita seringkali meremehkan hal kecil karena kita berfikir semua yang besar itu pasti datangnya dari tempat yang besar, itu salah. Itu salah.

Yang ketiga, gereja harus ingat asal-usulnya. Saudara-saudara darimana Gereja di mulai? Bukan dari Yerusalem, Gereja di mulai dari Betlehem. Gereja harus ingat asal-usulnya, dia dimulai dari Betlehem. Betlehem adalah kota yang terlupakan. Banyak tokoh penting dalam sejarah Israel yang berhubungan dengan Betlehem, Rahel tumbuh di sana, Rut tinggal disana, Daud lahir disana. Pamornya hilang dengan munculnya Yerusalem. Betlehem menunjukkan bahwa Allah memulai gereja-Nya tanpa orang-orang hebat. Sering kali setelah mapan gereja lupa akan asal-usulnya sehingga berfikir tanpa dukungan orang hebat gereja tidak bisa bertahan, makanya inilah celakanya gereja besar. Lupa dulu dari mana mulainya,dari kandang. Kandang Betlehem kok mulainya, tempat yang kecil, dari sana gereja dimulai. Tapi Saudara-saudara, pada zaman kaisar Konstantin gereja lupa, gereja berfikir dia memulai dari tempat yang besar, maka pada zaman kaisar Konstantin gereja tidak tertarik hal kecil, gereja pingin besar, lupa asal-usulnya. Saudara-saudara, gereja tidak perlu takut melihat orang hebat karena dulupun dimulai tanpa ada orang hebat. Gereja tidak perlu takut tidak ada orang hebat di dalam gereja karena awalnya pun dimulai tanpa orang hebat. Ada tidaknya orang hebat tidak menjadikan gereja menjadi ada karena dulu dimulainya pun dari Betlehem. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,Saudara dan saya hari ini beribadah di sebuah hotel, ini bukan tempat kita, kita menyewa tempat ini. Inilah Betlehem Saudara-saudara, inilah Betlehem. Apakah suatu hari nanti Jogja, akankah MRII akan memiliki gedungnya sendiri?Sedang kesana. Tapi jangan sampai Saudara-saudara, setelah tiba di “Yerusalem” MRII Jogja lupa kita dulu dimulai dari Betlehem yang namanya Kranggan yang kemudian berpindah ke Horison. Kita pernah ada di Betlehem, dan dari sanalah kita berasal. Disana siapa yang ada?Enggak ada siapa-siapa, cuma kita, kita. Tetap ada, kenapa? Immanuel, Tuhan beserta kita.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, gereja Jerman pada masa perang dunia adalah contoh yang tepat menggambarkan hal ini. Sebelum perang dunia yang pertama gereja memiliki posisi penting di negara Jerman, gereja mendapatkan dukungan dari kerajaan Wilhemina. Kekalahan Jerman pada perang dunia pertama menyebabkan berubahnya peta politik di Jerman. Kerajaan Wilhemina runtuh dan diganti dengan Republik Weimar yang sekuler sehingga gereja tersingkir dari negara. Keadaan ini memukul gereja, sehingga pada saat Republik Weimar gagal untuk membangun kembali Jerman dari puing-puing kekalahan Jerman, bangkitlah Hitler. Dan Hitler berjanji kepada gereja kalau dia memimpin Jerman nanti Jerman akan kembali kepada kejayaannya dan gereja kembali pada zaman Wilhemina. Itulah sebabnya Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, pada saat Hitler berkuasa, gereja di Jerman mendukung kebijakan-kebijakan Hitler, termasuk pembunuhan orang-orang Yahudi. Kenapa?Hitler begitu menggiurkan bagi orang-orang Kristen pada zaman itu karena orang Kristen pernah diatas tapi lalu kemudian terpuruk. Itulah Hitler bilang,“Kalau saya pimpin Jerman, saya akan bawa kembali Jerman ke atas, gerejapun ke atas.” Wah gereja Jerman waktu itu berfikir,“Jangan-jangan Hitler itu mesias.” Wah Saudara-saudara, apalagi waktu itu Hitler itu bilang,“Saya akan membangun kembali Jerman dan gereja.” Bagaimana caranya?“Kita akan bunuh orang Yahudi.” Apa propagandanya Saudara-saudara? “Kamu ingat siapa yang bunuh Yesus? Orang Yahudi. Bayangkan saya diutus Allah untuk membalaskan dendam-Nya Yesus. Kamu enggak dukung saya? Tuhanmu dibunuh oleh orang Yahudi lho. Saya sekarang bunuh orang Yahudi, kamu enggak dukung saya?” Wah Saudara-saudara, gereja kala itu euphoria,dukung Hitler bantai jutaan orang Yahudi. Kenapa? Gereja lupa, dulu dia berdiri tanpa Hitler kok. Dulu gereja berdiri dari sebuah kandang di Betlehem tapi akhirnya menjadi besar seperti ini. Gereja tidak boleh lupa dengan asal-usulnya,Betlehem. Kiranya kita semakin memahami Natal. Natal adalah hari dimana Tuhan menjawab masalah besar di dunia ini, tetapi jawabannya bukan dari tempat yang besar, jawabannya dari tempat yang kecil; bukan dengan suara yang besar tapi dengan suara bisikan. Tapi suara bisikan itu Saudara dengar hari ini bukan bisikan lagi, sekarang seperti megaphone mengegerkan seluruh dunia. Tuhan memberkati kita semua. Mari kita bersatu dalam doa.

Bapa di dalam surga, kami mengucap syukur untuk firman yang sudah kami renungkan pada pagi hari ini ditengah-tengan ruangan ini di bulan menjelang 25 Desember kami akan merayakan Natal. Kami sekali lagi diingatkan bahwa Natal sudah dipersiapkan selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Nabi-nabi sudah berjanji melalui firman Tuhan bahwa akan datang Mesias itu yang akan memulihkan, tapi pemulihan itu tidak seperti yang kami bayangkan, pemulihan itu tidak seperti yang kami harapkan. Allah memulihkan masalah yang besar justru melalui tempat yang kecil. Kami bersyukur ya Tuhan, ketika kami sebagai gereja Tuhan di tengah-tengah Indonesia ini kecil, kami harus ingat bahwa semua dimulai ini dari yang kecil, semua dimulai dari tempat yang kecil, dari tempat diBetlehem itu. Tapi dari sanalah Allah bekerja memulai untuk memulihkan, bukan hanya Israel tapi seluruh dunia. Kami bersyukur pada hari ini, pada pagi ini. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *