Kesempurnaan Allah dalam Penciptaan, 28 Januari 2018

Kej 1:1

Vic. Tangkas Siahaan, S.Th.

Jemaat, mari kita membuka bagian Kitab Suci yang paling awal, yaitu Kejadian 1:1. Ayat yang sangat terkenal. Mari kita baca bersama-sama ayat yang pendek ini. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Pada mulanya, Allah menciptakan langit dan bumi. Saudara yang dikasihi Tuhan, ayat ini ditulis membutuhkan studi satu orang yang namanya Musa itu, kira-kira dia harus studi itu 100 tahun. Bukan saja harus menghasilkan kalimat ini, Saudara, tetapi dia harus mencipta aksara yang bersifat feature atau fitur. Saudara tahu fitur? Yang paling gampang ini Saudara, kalau kita beli handphone, fiturnya itu seperti apa, ya to? Wah Saudara ya, ini luar biasa. Jadi tidak mungkin Saudara dan saya mengasingkan diri dari ini, itu tidak mungkin. Zaman itu sudah berubah ya. Ini tidak mungkin bisa dimusuhi lagi ya. Anak-anak kita itu tidak mungkin bisa lepas dari ini, sama seperti Saudara dan saya dulu tidak bisa lepas dari layangan, gasing. Zaman sekarang itu tidak bisa diperkenalkan gasing itu lagi, tidak bisa. Kecil sekali tetapi di dalamnya fiturnya luar biasa, compact ya. Contactlist kita di sini, ya to? Seluruh pekerjaan kita di sini, di google drive, ya to? Rekening kita di sini. Sekarang orang lebih kuatir ketinggalan dompet atau ketinggalan ini? Ketinggalan ini Saudara ya? Karena di sini semuanya sudah ada. Sekarang di Jakarta itu kelebihan officespace. Jadi antara ketersediaan ruangan kantor yang mau di-rental dengan peminat, penyewa, itu lebih besar supply-nya daripada kebutuhannya. Mengapa Saudara? Orang sekarang tidak mau punya kantor. Kantornya di mana? Di Starbucks, di MaxxCoffee. Saudara meetingclient bayar Rp 200 ribu wifi sudah gratis, tempat nyaman, WC bersih. Kalau kita punya kantor, biaya bersihkan closet itu berapa 1 bulan? Rentokil itu berapa satu bulan ya? Wah sekarang orang pintar, nggak mau dia sewa-sewa kantor, semua di sini ya? Luar biasa sekali.

Nah, sebenarnya ini sudah ketinggalan Saudara. Musa sudah berpikir tentang features atau fitur itu kira-kira 4 ribu tahun yang lalu. Wah, luar biasa ya, luar biasa. Nah, apa yang dimaksud fitur yang dimaksudkan oleh Musa? Mari kita lihat ya, dengan seksama. Saudara, fitur itu adalah sebuah peliputan objek yang bersifat memberikan informasi, mendidik, menghibur, meyakinkan serta menggugah hati. Ini [mengangkat handphone]. Ini, ini siapa ini tidak menggubah hati, Saudara? Siapa yang tidak dapat informasi di sini? Saya duga ya, seluruh nanti sekolah-sekolah konvensional akan tutup. Ketika apa? Sekolah semua itu cyber. Sekarang sekolah-sekolah konvensional yang mahal, arogan, tunggu, akan rontok satu per satu karena sekarang semua sekolah itu mengarah kepada cyberuniversity dan cyberschool. Saudara, jadi guru tuh ya sekarang, kalau lambat belajar, kalah sama murid. Murid, “Kata guru ini, wah saya nggak percaya ini.” Dia lihat, wah salah. Ya to? Siapa yang tidak dihibur oleh ini Saudara? Bohong kalau tidak pernah dihibur oleh ini ya. Lalu siapa yang tidak bersimpati, berempati ketika dalam hitungan detik twitter langsung memberikan informasi gempa bumi terjadi di A, B, C, D. Ya to? Sehingga Saudara, fitur itu harus lengkap lalu melawan kebiasaan. Misalnya saja, kalau dulu kita itu di meja makan, ya, makan itu kita harus, wah, tenang, ya to? Tenang. Sendok garpu nggak boleh berbunyi. Sekarang di meja makan, Saudara ya, bagaimana kabarnya? Multitasking semua, ya to? Sambil setir mobil. Peraturan dibilang berbahaya main hp, makin dilarang makin tetap seperti itu. Itu artinya apa? Melawan kebiasaan.

Dan Saudara, yang menarik adalah, di dalam dunia fitur itu ada unsur sastra yang tinggi sekali. Nah oleh sebab itu Saudara, Bahasa Ibrani itu terdiri dari 22 abjad yang memiliki sifat akrofoni, yaitu nama huruf dimulai dengan sebutan huruf yang pertama. Seperti Ibrani ini, א (Aleph) itu adalah bentuknya, seperti ini. Ini indah sekali sebenarnya bentuknya. Ini melambangkan relasi antara Allah Tritunggal. Ini adalah “upperiod“(י) itu berarti adalah Dunia Atas dan “loweriod” (י) itu adalah dunia manusia. Lalu sifat pictography artinya “picturized“. Jadi setiap huruf itu menggunakan representasi gambar. (א) Aleph itu lambang kepala kerbau, Saudara. Saudara bayangkan waktu itu Musa menciptakan sebuah aksara yang sudah demikian maju dibandingkan hieroglyph Mesir. Saudara, mengapakah PL tidak memakai hieroglyph Mesir yang saat itu levelnya sudah paling tinggi? Tuhan tidak mau, Saudara. Harus Musa itu dilatih 40 tahun di Mesir, 40 tahun di padang belantara, lalu 40 tahun di situ dia bersama dengan orang Israel. Lalu dia di situ memikirkan apa aksara yang tepat untuk merangkum Kitab Suci Pentateukh itu. Wah, nggak maian-main ini, Saudara.Sehingga ayat yang kita baca tadi itu, memiliki fitur yang Saudara dan saya itu harus terkagum-kagum. Ya, nah Saudara, mari kita lihat satu-persatu. [Gambar Kej 1:1 bahasa Ibrani]. Ya. Ini Kejadian 1 : 1, Saudara. Bacanya ya, dari sini ke sini (kanan ke kiri-red). Ya, gampang sekali bacanya. Betul, 3 jam bisa baca. Ngerti belum tentu. Nah, tapi baca itu pasti bisa. Ini bacanya

בְּרֵאשִׁ֖יתבָּרָ֣אאֱלֹהִ֑יםאֵ֥תהַשָּׁמַ֖יִםוְאֵ֥תהָאָֽרֶץ׃ [bə-rê-šît bā-rā ‘ĕ-lō-hîm ‘êhaš-šā-ma-yim wə-‘êt hā-‘ā-reṣ.] Nah, Saudara, fitur yang pertama, ayat ini terdiri dari 7 kata. Ya, 7 kata. Nah, Saudara, bahasa Inggris itu menerjemahkan berapa kata? “In the beginning  God created the heavens and the earth“, ya, 9. Bahasa Indonesia itu tepat sekali 7. “Pada mulanya Allah menciptakan Langit dan Bumi”. Ya, to? Jadi ini fitur yang pertama adalah seven words.

Fitur yang kedua, Saudara, fitur yang kedua ini, fitur yang kedua ini bukan ayat kedua tetapi fitur yang kedua. Jumlah hurufnya itu 28 huruf, berarti 4 dikalikan 7. Ingat tadi apa? Picturized dan acrophony. Mengapa di dalam dunia pikir orang Ibrani, Saudara, huruf itu tidak memerlukan vokal, tetapi diciptakanlah konsonan yang ketika melihatnya maka langsung diingat dengan mudah sekali. Bayangkan, Saudara, dulu itu tidak ada kertas, ya. Tulis, buang. Enggak. Dulu tulis di atas batu. Berarti apa, waktu tulis itu tidak boleh salah, ya to? “Mari jemaat sekalian membaca Kejadian pasal 1, ayat 1-10” itu berapa gerobak batu, Saudara? Bayangkan saja. Jadi, Musa pun berpikir keras. Huruf apa, kata apa, dan melambangkan apa. Nah, jadi yang kedua apa? 4 dikalikan 7.

Fitur yang ketiga, Saudara, fitur yang ketiga, menarik sekali. Kata אֱלֹהִ֑ים [‘ĕ-lō-hîm] sebagai Subjek, lalu dengan הַשָּׁמַ֖יִם[haš-šā-ma-yim] dan הָאָֽרֶץ [hā-‘ā-reṣ] sebagai objek, itu memiliki 14 huruf. Ini penting sekali. Antara Subjek dan objek yang diciptakan, yaitu הַשָּׁמַ֖יִם [haš-šā-ma-yim], הָאָֽרֶץ [hā-‘ā-reṣ]; The Sky, The Heaven and The Earth itu sejoli yang tidak bisa dipisahkan. הַשָּׁמַ֖יִם [haš-šā-ma-yim] dapat diterjemahkan itu langit, tapi juga dapat diterjemahkan sebagai Heaven, atau Surga. Nah, antara The Heaven and The Earth ini menjadi sejoli yang sifatnya ituoverlapping, Saudara; overlapping bukan dua entitas yang berbeda seperti di dalam dunia filsafat Grika kuno, yaitu ada this earth: ada bumi ini, dunia ini yang fana, dan ada another world: dunia yang lain, dunia yang lain. Tidak, Saudara. Di dalam pemikiran dunia PL itu antara Surga dan Bumi itu sifatnya overlapping; beririsan satu dengan yang lain, sehingga mengapakah seringkali dikatakan “Takhta Allah itu di Surga dan Bumi itu tumpuan kaki-Nya”. Jadi ketika Saudara dan saya menikmati Ibadah pagi ini, itu menikmati the overlapping between heaven and earth, menjadi satu. Saudara berdagang, ya to, bekerja, studi di bumi. Lalu, ketika Saudara beribadah, wah di situlah irisan, cicipan Surgawi ketika kita semua menikmati Firman.

Fitur yang keempat, Saudara, fitur yang keempat ini menarik sekali yaitu dua-dua objek, yaitu אֵ֥תהַשָּׁמַ֖יִםוְאֵ֥תהָאָֽרֶץ׃  [‘êthaš-šā-ma-yim wə-‘êt hā-‘ā-reṣ] juga 14, berarti 2 dikalikan 7. Perhatikan tadi 7, 7, 7, 7, ya to? Nah, ini dua objek antara langit dan bumi itu merupakan dua entitas yang tidak bisa dipisahkan, Saudara. Kalau mau ditanya ya, kita mendapatkan untung, materi di dunia ini, itu sebenaranya untuk apakalau kita tidak memikirkan tentang eternity, the Heaven. Sehingga Saudara masih ingat doa yang diajarkan Yesus Kristus, yaitu apa? “Jadilah kehendak-Mu dibumi sama seperti di Surga,” jadi, apa yang Saudara kerjakan di bumi ini, berpatronkan pikiran surga, maksudnya itu. Berpatronkan pikiran Allah. Kami di STTRI Sunter atau SPRI itu mencari murid dari sekolah-sekolah SMA, pernah saya mencari di sini. Nah, saya mencari ke sekolah-sekolah unggulan, SMA Kristen pun saya tidak mau, tapi SMA 1 atau 2. “Tok…tok..tok, permisi bu.” “Ada apa?” “Saya mau mencari kelas 3 yang akan lulus, Kristen. Saya mau tes.” “Untuk apa?” “Masuk sekolah teologi.” Tahu tidak saingannya apa Saudara? UGM, ITB, itu. “Oke, baik,” tes, lalu calling.Waktu calling,“berapa nilai semester pertama?”“O biasa saja pak.”“Berapa biasanya?”“Yaa 7”. Lalu saya bilang, “otak goblok mau jadi hamba Tuhan.”“Tersinggung saya pak.”“Loh, Tuhan lebih tersinggung lagi,” saya bilang. “Yaa, tapi saya ingin melayani.”“Jadi mau melayani kasih sampah? Nggak diterima di ITB, di UI, di UGM, lalu bernyanyi, ‘aku mau iring Yesus..’?”Lalu Tuhan tanya kenapa mau iring Saya? “Begini Tuhan Yesus, UGM ditolak, ITB ditolak.”“Jadi?”“Masuk STT.”“Kembali ke kursimu, saya tidak mau yang goblok-goblok.” Saudara sakit hati tidak digitukan? Sakit hati. Saya lebih sakit hati Saudara, kalau SMA-SMA kasih yang bego-bego buat STT, iya toh? Betul tidak? Lalu saya bilang, “Mana Kepala Sekolah?Saya mau yang paling pinter di sekolah ini, mana-mana kau tunjukan. Maju!!”“Saya gak mau pak jadi hamba Tuhan.”“Oke duduk.”“Saya mau tanya ibu guru dulu pak.”“Oke tanya dulu, saya beri waktu 10 menit.” Setelah tanya, bagaimana? “Mau pak, mau.” Sekarang ada di Sunter.Saya kejam kalau cari murid untuk STT, saya nggak mau itu ya rekomendasi dari pendeta A, pendeta B, pendeta C, saya tidak mau. Saya mau ke sumber yang paling pintar, sekalipun menyinggung hati banyak orang, daripada hati Tuhan tersinggung lebih baik saya menyinggung hati orang supaya mimbar ini berbahagia.Mau tidak kalau yang jadi hamba Tuhan pintarnya seperti Musa, mau? Harus seperti itu. Jadi ketika Saudara itu studi atau kerja, what is the connection between God’s mind in Heaven? Di dalam fitur ini Saudara diberitahu.

Fitur yang ke-5 Saudara, perhatikan disini, fitur yang ke-5,‘ĕ-lō-hîmet haš-šā-ma-yim, 7 huruf.Mengapa antara God and the Heaven itu penting Saudara, seperti sejajar? Di dalam dunia PL Saudara, orang PL itu sungkan menyebut nama Allah secara langsung tetapi, oke gantikan saja dengan sebut Dia di Surga. Jadi, Surga itu identik dengan Allah itu sendiri. “Haimanusia, Aku bertahkta di Surga dan ujung jubah-Ku saja sudah memenuhi bumi ini.” Seberapa hebatkah engkau dibumi ini? Seberapa banyakah hartamu dan kuasamu dibumi ini? Ingat, kita tetap dibumi, tumpuan kaki Allah. artinya apa? Keset kakinya Allah.Saudara dan saya itu hanya hidup dikeset kakinya Tuhan Allah. apa itu keset? “WELCOME,” ada di depan, “WELCOME yaa. Jadi, Allah itu, Saudara ya, Dia keset-keset kaki, artinya apa? Di dalam etika pelayanan kita harus tahu bahwa kita melayani itu di dunia keset, iya toh? Sehebat apapun, kita di dunia keset bukan di Surga, bukan, di dunia keset; keset kaki itu wilayah kita. Nggak bisa kita saling menanduk, nggak bisa kita saling menggusur, tahu diri kita di wilayah keset. Seringkali di dalam pelayanan, mau KPIN kah, mau A,B,C lah, “Ehh.. di kota ini bupati siapa?”“Ohh, bupatinya Kristen,” wah saya paling anti tuh mendekati penjabat-penjabat Kristen. Jangan main-main Saudara, di dalam pelayanan itu nggak bisa kita main kuasa manusia. Kita sama-sama low profile. Sudah diberitahu di Kejadian 1:1, cuma kita seringkali lupa. Kita pikir, “Surga adalah takhtaku, yang lain di keset” Wah bahaya!

Lalu fitur yang keenam, wah ini adalah sebuah gaya tulis yang sangat cerdas sekali, yaitu “gematria.” “Gematria” artinya adalah setiap abjad Ibrani itu memiliki jumlah hitung-hitungan. Jadi “’ĕ-lō-hîmhaš-šā-ma-yimhā-‘ā-retṣ“adalah jumlahnya triple seven, artinya adalah tujuh dikalikan 111. Dan yang terakhir, Saudara, fitur yang ke-7 adalah kata “bârâ’” ini, itu berarti berjumlah 203, 29×7 di dalam pola tulis gematria. Tujuh… tujuh.. tujuh.. tujuh.. tujuh.. tujuh.. tujuh… artinya apa? Perfectness. Hari ketujuh itu, Saudara, hari ketujuh itu bukan di dalam bentuk numerical, satu dua tiga empat lima enam, ketujuh, bukan; tapi ditulis di dalam bentuk apa? Kata sifat. Jadi “ketujuh” itu lebih tepat diterjemahkan “Si Tujuh”, artinya sifat tujuh, artinya apa? Sifat sempurna. Jadi, dari sejak awal, berita dari Kitab Suci Perjanjian Lama adalah, “All things are perfect. Our God is perfect.” Itu maksudnya.

Saudara silahkan bandingkan dengan Kitab Suci Hinduisme, Kitab Suci Budhisme, Kitab Suci daripada Islam, Kitab Suci daripada agama-agama suku yang ada di Indonesia, adakah kalimat pembuka itu berbicara tentang the perfection, the perfectness of the Creator and the creation? Dan Saudara, menarik sekali, para Scientist itu ribuan tahun, itu memikirkan tentang: What is time? What is space? What is matter? Barulah setelah, yang namanya adalah Albert Einstein itu mengalami sedikit kemajuan. Menurut Albert Einstein, antara ruang dan waktu itu bukan entitas yang terpisah tetapi itu adalah satu kesatuan. Nah dibuktikanlah dengan sebuah percobaan, Saudara, bagaimana antara ruang dan waktu itu saling beririsan satu dengan yang lain, yaitu ketika zaman sekarang ini muncul satu studi yang namanya adalah Astrofisis, Astrofisis itu berbeda dengan Astronomi. Astrofisis itu berbicara tentang space, time, continuum. Saudara sadar tidak, ketika kita di bandara, duduk diam dengan orang yang terbang di atas pesawat memakai arloji yang sama, di manakah waktu yang lebih cepat atau lebih lambat, atau sama? Sama atau berbeda? Berbeda, Saudara! Jadi, ketika kita berada di atas pesawat melesat, waktu itu lebih lambat daripada Saudara yang ada di bumi diam. Itu yang disebut dengan space, time, continuum, Saudara! Dan itu baru ribuan tahun para Scientist di situ membuktikannya. Ah, padahal Musa 4000 tahun yang lalu itu sudah tulis ini.

Jadi ini Scientist pinter atau apa, Saudara? Sekarang apa itu Scientist? Scientist itu kan berbicara, dia mempelajari alam, ya toh? Dulu saya waktu SMA, dari SD sampai SMP, Saudara, bangun jam 4 pagi. Kenapa? Belajar Matematik. Waduh, belajar Matematik? Papahku langsung, “Kau buktikan!” “Nggak tahu” Langsung… wuah…[memperagakan kepala dibenturkan-Red.] ke meja. Bayangkan dari SD sampai SMP. “Kenapa sih, Pa, digitukan?” “Biar encer” Wah… “Pokoknya kamu harus masuk ITB! Harus A1, A2, Science!” Tapi akhirnya, saya sadar, Saudara. Apa? Who is the Scientist? Ilmuwan berarti apa? Mempelajari tentang alam. Jadi kalau mempelajari tentang alam, ya toh, ya kan, dia harus melihat alam. Nah menarik sekali, Pdt. Stephen Tong itu di dalam Seminar Pembinaan Iman Kristen, saya lupa tahun berapa itu, sepertinya tahun 1986, “Mengapakah ketika Saudara dan saya menyebut: “Allah”  — mulutnya terbuka. Ya toh? Lalu kalau: “Alam” – tertutup. Artinya apa? When you study God, it is open system. Allah – terbuka. Tapi Alam – tertutup.” Jadi saya kaitkan, waktu seorang ilmuwan itu mempelajari alam, misalnya saja ya, katak atau kodok dibelah, begitu kan?Nah sekarang saya tanya, ada tidak relasi antara saya dan kodok? Ada tidak? Ada tidak si kodok terkagum-kagum dengan saya lalu kemudian dia menciptakan sebuah hymne, “Maka jiwa…” ada? Itu yang dimaksud dengan closed-system. Jadi waktu Saudara dan saya itu mempelajari alam, tidak mungkin ada relasi ikatan dengan alam. Jadi sebenarnya scientists itu berada di wilayah paling rendah. Saudara, untuk mengerti ruang, waktu, dan materi itu hubungannya apa, itu membutuhkan ribuan tahun, karena mereka itu closed-system. Tetapi waktu kita berbicara tentang theology, berbicara tentang revelasi, “Allah,” maka di situ ada sebuah relasi yang hidup antara Allah dan manusia sehingga Saudara menyanyikan himne. Ketika Saudara di situ belajar tentang diri sendiri, sosiologi, antropologi, psikologi, lalu kemudian dibandingkan dengan bagaimana Allah di situ menyatakan diri-Nya, wah kita di situ terkagum-kagum dan kita makin memuji-muji Allah.

Jadi di dalam ayat yang demikian sederhana ini, Musa hendak memberi pelajaran kepada Saudara dan saya bahwa perfectness itu adalah demikian penting di dalam landasan Saudara dan saya menjadi orang Kristen; artinya, setiap hidup kita itu dituntut perfect. Perfect di sini artinya adalah hari makin hari kita di situ hidup selalu memperbaiki diri. Saya terkagum sekali Saudara ketika Louis Brandt itu di dalam ruang kerjanya dia hendak mengerti waktu, hendak menghitung waktu; chronograph, chronos-graphyr, menuliskan waktu. Di ruang kerjanya itu dia kemudian mengukir satu persatu logam-logam, dijadikan gerigi-gerigi, dijadikan as-as yang paling kecil, dijadikan baut-baut yang paling kecil sekali, lalu disusun satu persatu, lalu kemudian di situ jadilah sebuah masterpiece namanya adalah Globemaster Omega, arloji. Saudara tahu mengapa arloji Omega itu harganya bisa ratusan juta rupiah? Karena dites di dalam ruang yang namanya adalah master chronometer, yaitu bagaimana setelah dibuat, setiap arloji itu dimasukkan ke dalam ruang hampa udara magnetik dengan 50.000 gauss; lalu kemudian setelah itu dimasukkan ke dalam suhu yang berbeda-beda, yaitu 23⁰ dan 32⁰, dan kemudian posisi manusia sering menggunakan jam tangan itu bagaimana [sudut yang berbeda-beda, Red.]; lalu setiap 24 jam difoto, ada tidak di situ perubahan yang signifikan atau dia tetap stabil; lalu kemudian ditaruh di dalam sebuah ruang yang penuh dengan air, lalu ditutup rapat, lalu kemudian ditekan, masuk tidak uap air ke dalam. Perfectness. Perfectness. Bagaimana engkau yang studi di Yogyakarta ini, tujuannya apa? Bagaimana kalau kita juga usaha, adakah perfectness yang kita kejar di situ? Demikian juga kami, hamba-hamba Tuhan, di dalam berkhotbah, apakah ada nuansa perfectness di situ?

Saudara, berkat besar Kejadian 1:1, karena apa? Allah yang kita sembah itu selalu Dia berkarakter “bârâ’,” bârâ’ artinya adalah Dia bekerja dan kerja-Nya itu demikian komplit, completed action; dan Dia puas dengan karya itu. Dia mencipta manusia demikian perfect, perfect sekali; Dia mencipta seluruh tatanan dunia ini begitu perfect; sampai dalam urusan membuat arloji, orang Kristen itu bisa menghasilkan perfectness sedemikian teliti. Sudah berapa teliti hidup Saudara dan saya? Waktu buat tesis, skripsi, berapa teliti? Waktu mengkalkulasi mau buka usaha, sudah berapa teliti? Teliti siapa rekan kerja kita, teliti apa yang sebenarnya bisa kita hasilkan. Ketelitian itu penting, dan ketekunan, dan tidak mudah berubah, dan selalu konsisten. Salah satu ketekunan dari mimbar Reformed itu apa? Mengeksposisi satu ayat demi satu ayat, itu tidak dilewatkan sedikitpun, sekalipun bosan, sekalipun sepertinya kok lama bergerak, tetapi itu mengenyangkan Saudara, mengenyangkan. Kiranya ini menjadi berkat bagi kita pada pagi hari ini.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *