Hidup yang Memuliakan Tuhan, 25 November 2018

Flp. 1:18-20

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Dalam bagian ini kita menemukan kembali Paulus tekankan bahwa meski di dalam tengah pergumulannya dan kesulitannya, di dalam pemenjaraannya di dalam surat Filipi ini, dia katakan, dia tetap bersukacita, “Tentang hal itu, aku bersukacita dan aku akan tetap bersukacita.” Menyatakan bahwa dalam situasinya yang sangat sulit, dia tetap bisa bersukacita. Sukacitanya di sini apa? Pasti sukacita nya adalah bukan karena dia masuk ke dalam penjara, tapi karena ada suatu sukacita yang lebih besar, yang tidak bisa digantikan dan tidak bisa dibatalkan, meski dia berada di dalam situasi yang tidak mengenakkan di penjara itu. Yaitu fokus utama di dalam pelayanan kehidupan Paulus adalah dia fokus kepada sukacitanya dan karena Injil itu sendiri. Yaitu fokus hidupnya adalah yang penting itu Injil itu diberikan dan karena itu dia bersukacita.

Kembali di dalam ayat-ayat sebelumnya, berbicara ada pertentangan, ada orang-orang yang pro-Paulus, ada yang tidak setuju dengan cara kerja pelayanan Paulus. Tapi bagi Paulus nggak apa-apa, yang penting orang demikian pun tetap bisa memberitakan Injil. Dan fokus dia ke sana. Fokus dia adalah kehidupan ini goal-nya, tujuannya itu jelas, yaitu memuliakan Allah. Dan di dalam memuliakan Allah itu, baik di dalam kehidupannya, dan pekerjaannya pelayanannya, itu terus yang dia fokuskan. Dan yang penting Injil yang terus dikumandangkan. Dan bagi dia, itulah yang membuat dia tetap bersukacita. Dan apalagi kalau kita melihat di dalam ayat ini, itu ada suatu tekanan yang dia bersiap menghadapi hal di depan, yang paling terdekat yang dia akan hadapi adalah persidangannya. Dia akan menghadapi persidangan di hadapan Nero dan di hadapan kaisar itu dia tidak tahu apakah dia bisa lolos, selamat, gitu ya. Kalau bilang selamat, dalam artian dia dibebaskan. Meski biasanya dia akan tetap dicambuk, disiksa, tapi kemudian akan dilepaskan sebagai bentuk hukuman, tapi nggak sampai hukuman mati. Ataupun dia nanti bisa juga akan dieksekusi mati. Tapi bagi dia tidak apa-apa, yang penting dia sudah kerjakan tugas tanggung jawabnya itu.

Nah itu, dalam kehidupan, orang, ketika kita mengerjakan tugas kita, goal itu menentukan dan menjadi titik penentu bagaimana kita menjalani kehidupan sekarang. Ya, dalam kehidupan kita seperti itu. Sama seperti seorang pelari, seorang pelari, misalnya, pelari marathon, dia pelari marathon, lalu ketika mulai diberi aba-aba: Siap, 3, 2, 1, dor… ditembak bunyinya itu “dor”, dia langsung lari, lari… kejar sedemikian, dan dia akan lari terus melintasi jalur yang sudah harusnya dia tuju. Seumur hidupnya, semua pekerjaannya, semua latihannya dia lakukan hanya untuk sampai di titik itu, dan goalnya, tujuannya jelas adalah mencapai garis finish itu. Nggak ada kan seorang pelari marathon itu sampai berlari-lari, lari.. lari.. lari.., lalu misalnya, “Eh ada kupu-kupu”, lalu dia belok, “eh ada kupu-kupu” keluar lintasan. Lho ngapain? Nggak ada. Dia akan terus fokus, goalnya itu di depan, dan itu yang dia akan capai. Karena itulah hidup matinya dia, kalau mau dibilang, dan semua jerih lelahnya difokuskan ke sana. Sehingga dia menjadi, sukacitanya adalah ketika itu yang dicapai. Dan itulah yang juga dinyatakan di dalam kehidupan Paulus di sini, yaitu sukacitanya hanya karena Injil saja. Sehingga ketika pun akhirnya dia harus, entah ini dia nanti mati atau dia masih bisa hidup, setelah persidangan nanti, bagi dia ya nggak apa-apa, yang penting adalah, yang pasti adalah keselamatannya. Keselamatannya itu bukan ditentukan oleh Nero, bukan ditentukan oleh Kaisar zaman itu, tapi ditentukan oleh Tuhan Yesus sendiri.

Ya itu menarik ya, istilah Tuhan di dalam Bahasa Yunani itu adalah “Kurios”, itu adalah “Tuan”, terjemahannya Indonesia itu Tuhan, itu sebenarnya kembali di dalam padanan, di dalam Perjanjian Baru, itu konteksnya adalah mereka umumnya melihat siapakah Kurios, siapakah Lord, siapakah Tuhan? Yaitu tidak lain adalah Kaisar. Tapi bagi perspektif Paulus dan juga bagi setiap orang Kristen, setiap orang percaya pada zaman itu, ada Kurios yang lain, ada Tuan yang lain, dan Dialah menjadi Penentu keselamatan kehidupan kita. Dan bagi Paulus, itu yang lebih pas, yaitu dia melihat kepada Tuhan Yesus sendiri, dan ada kepastian keselamatan yang diberikan oleh Dia. Dan itu menjadi sukacita dia. Jadi satu sisi dia sukacitanya itu terus, pertama adalah yang penting fokusnya dia beritakan Injil. Dan kenapa dia beritakan Injil bukan semata-mata karena ada suatu message, pesan yang dia sampaikan itu. Tapi karena di dalam Injil itulah mengandung keselamatan itu. Dan di dalam kandungan Injil itu bicara keselamatan, berita keselamatan itu bukan saja bagi orang-orang yang mendengarkannya, tapi juga bagi dia yang memberitakannya. Dan ini yang menjadi suatu kepastian, assurance, kepastian keselamatan itu yang tidak akan diubahkan oleh situasi apapun. Dalam kehidupan kita, apa yang menjadi sandaran kita kehidupan ini? Terkadang dalam kehidupan kita mendapat suatu “keselamatan” kita, itu kan kita sandarkan kepada hal-hal yang lain. Secara umum orang Kristen, dengan mulut bibirnya akan mengaku: “Oh iya keselamatan saya bergantung kepada Tuhan Yesus” – itu jelas, itu pasti. Itu statement pengakuan iman kita. Tapi kenyataannya, dalam praktek kehidupan, kita banyak ketidakkonsistenan, dan malah di dalam praktek kehidupan kita malah lihat yang memberikan kepastian keselamatan kita itu adalah hal-hal yang lain. Entah itu, kalau misalnya saja, sederhana ya, kalau misalnya kita mengalami suatu kecelakaan, atau kita mengalami suatu musibah yang besar, yang pernah kita pikirkan apa? Oh yang penting kita sudah ada kepastian keselamatan dalam Tuhan Yesus, ataukah kita pikir: Oh bagaimana dengan deposito saya? Atau bagaimana dengan tabungan saya? Atau bagaimana dengan hal-hal lain yang sebenarnya memang menjadi sekuritas kita, menjadi keamanan dan kepastian dalam kehidupan kita, yang menjadi suatu, sebenarnya, sandaran kita memberikan keselamatan dalam kehidupan ini. Dan seringkali dalam kehidupan kan demikian. Dan dalam kehidupan kita itu ada banyak hal-hal dalam kehidupan kenyataannya meski mulut bibir kita, gitu ya, dan di dalam teologi kita, kita mengaku yang memberikan keselamatan itu adalah Tuhan Yesus. Tapi kenyataannya, kadang dalam kehidupan ini, uang itu bisa memberikan keselamatan. Saya ngomong apa adanya saja. Kalau misalnya hari ini anak kita kena sakit parah, lalu kita datang ke dokter, dokter itu kan nggak tanya, “Kamu sudah percaya Tuhan Yesus? Boleh diobati.” Kan nggak begitu, dia langsung tanya di depan: anda ada duit berapa? Anda ada duit berapa, baru boleh diladeni oleh Rumah Sakit, atau anda ada BPJS sudah diurus, baru boleh di-handle, kalau nggak, ya nggak. Dan seolah-olah, kadang kehidupan itu menghimpit kita sedemikian, seolah-olah bahwa kalau anda punya uang, itulah baru anda bisa dapat keselamatan. Dan terkadang dalam kehidupan kita bisa mengalami semacam kepahitan akan hal itu, di mana kita melihat realitanya, kadang ada orang itu akhirnya mati. Kenapa ya? Karena memang tidak punya uang yang cukup. Ataupun kadang ketika, entah mungkin pengalaman kita sendiri atau mungkin orang tua kita, atau kerabat, saudara kita yang lain, kita menemukan bahwa, seandainya saja dia punya keuangan yang cukup, dia mungkin bisa berobat di rumah sakit yang lebih baik, atau mungkin dia bisa ke luar negri untuk bisa berobat. Sekarang orang Indonesia itu suka ke Singapur, ke Singapur di sana, tapi karena nggak punya cukup duit untuk itu, akhirnya ya mati, akhirnya ya nggak dapat pengobatan yang cukup. Dan sebaliknya juga bisa terjadi, yaitu, “Oh untung saya ada duit yang cukup, untuk saya ada simpan Singapore dollar, jadinya saya bisa berobat ke sana. Dan cukup ketemu dokter itu. Dan akhirnya selamat.” Akhirnya, wah puji Tuhan pulang kembali berobat dan masih sekarang hidup bersama dengan kita.

Dan kembali, di dalam kehidupan gitu ya, selalu di dalam realitanya, akan ada sesuatu yang mendistorsi pikiran kita, sehingga akhirnya melihat: iya, keselamatan itu secara teologis ada di dalam hanya Tuhan Yesus, tapi secara praktis, dalam kehidupan kita, kita menemukan keselamatan itu ada banyak di tempat lain. Ketika kita dapat dokter yang tepat, yang bisa mendiagnosa tepat, yang mengambil tindakan medis yang tepat, bukankah kita melihat dia sebagai … (?menit 08:44), dia sebagai juruselamat kita yang memberikan keselamatan bagi kita atau pun keluarga kita. Dan itulah fakta realita di dalam kehidupan ini. Bahwa di dalam dunia ini ada banyak jalur yang seolah-olah menyediakan keselamatan. Dan terlebih lagi kalau kita mundur dalam kembali konteks ini, yaitu terlebih lagi kepada Kaisar Nero. Kaisar Nero itu ketika, kalau dia misalnya setuju: “Oh kamu selamat ya.” Dia akan memberikan keselamatan itu, dan memang dia sanggup, dia penguasa kok zaman itu. Para tantara, serdadunya, ketika misalnya sakit menderita. Kalau Nero bilang: “Oke, saya utus tabib saya yang terbaik untuk selamatkan kamu.” Orang itu selamat. Tapi kalau sebaliknya, Nero bilang, “Oh kamu sudah luka parah ya? Sudahlah kamu mati saja.” Atau malah orang masih cuma luka ringan, dieksekusi, ya dieksekusi. Jadi seolah dalam kehidupan ini selalu ada memperlihatkan soteri yang lain, ada suatu Juruselamat yang lain, ada suatu keselamatan yang lain di luar dari Kristus. Dan di dalam kehidupan, kita tarikan dunia itu ya memang realitanya seperti itu pak. Saya banyak dalam kehidupan itu, berkali-kali orang ngomong, “Oh iya, di dalam doktrin kita gini. Oh iya, teologi kita gini. Tapi dalam kehidupan realitanya beda pak, dalam kehidupan tidak bisa dipraktekkan.” Bukankah sama, mungkin di sini ada banyak mahasiswa. Bukankah yang menjadi soteri-mu, itu adalah dosenmu kan? Kamu kerjakan paper, kamu kumpul, itu kan bukan… Dosenmu bilang: Oh kamu Kristen? Lulus! Nggak kan? Ikuti tuntutan dia, ikuti maunya seperti apa? Dan seolah-olah nasib kita itu digantungkan pada dosen itu.

Tapi di dalam bagian inilah Paulus kembali mengingatkan, bahwa kepastian keselamatan dia, dia sandarkan bukan pada hal-hal yang di luar, yang buatan manusia, yang fana ini. Tapi dia kembali mengingatkan, baik pada dirinya, maupun pada khususnya jemaat Filipi, dan saya percaya bagi setiap kita, bahwa keselamatan, kepastian keselamatan kita itu di dalam Tuhan Yesus sendiri. Dan itu yang memberikan jaminan kepastian. Kembali lagi ya, dia tidak menyandarkan: Oh saya mungkin bisa selamat, mungkin Nero ini kali ini akan lepaskan saya. Nggak. dia nggak berkait kepada itu. Karena kalau kita menggabungkan keselamatan kita kepada manusia, kenyataannya suatu saat kita pasti akan kecewa. Kenyataannya suatu saat akan kecewa. Kenapa? Karena memang manusia, pertama, tidak bisa diandalkan. Manusia itu adalah manusia yang berdosa. Kita baca Alkitab, kembali jelas, manusia adalah manusia berdosa. Siapapun andalan kita, kenyataan juga tempat lain, manusia yang berdosa, yang mau berbuat dengan baik sekalipun, pun adalah manusia yang terbatas. Dokter terbaik pun ketika mau tolong keluarga kita, dia bisa memberikan semua usaha terbaik, tapi kenyataannya dia adalah terbatas. Tapi karena itu, kita lihat, yang terutama adalah sandaran kita itu bukan kepada dunia ini, tapi kepada apa yang disediakan dalam surga. Dan itu yang difokuskan oleh Paulus dan dia melihat itulah esensi berita Injil dan karena itulah dia menjadi sukacita. Yang penting, meski semua ini mungkin satu persatu, dia juga melihat banyak orang Kristen yang sudah dibakar, dimatikan satu per satu, martir satu per satu. Ada yang sudah mendahului dia begitu banyak juga. Tapi bagi dia, nggak apa-apa, mereka sekarang sudah selamat. Kenapa? Mereka sekarang sudah ada di sorgawi. Dia ada di sorga dan mereka hidup memuliakan Allah, dan itu kelak saya akan alami juga, cepat atau lambat saya akan menuju ke sana, tapi yang penting adalah pegangan saya, keselamatan saya, saya serahkan kepada yang di atas sana.

Menarik ya dalam dunia ini terkadang kita menemukan suatu paradoks bahwa kenyataannya apa yang bisa kita pegang justru itu nggak bisa kita pegang, tapi yang tidak bisa kita pegang justru itulah yang bisa kita pegang. Saya ulangi ya, apa yang kita bisa pegang ini actually tidak bisa kita pegang karena ini hal materi tapi apa yang tidak bisa kita pegang, yaitu rohani, yaitu Allah yang Roh adanya, itulah yang menjadi pegangan kita dalam kehidupan ini. Selama kita masih memegang hal-hal yang bersifat fana, hal-hal yang kita tahu bersifat sementara, materi ini, kita tahu suatu saat ini akan berlalu. “Oh sandaran saya toko saya, ini sudah berjalan bertahun-tahun dan dari dulu sukses,” c’mon maju dan lihat di dalam masa kini berapa banyak perusahaan-perusahaan besar itu akhirnya juga tumbang. Itu mereka punya histori sudah panjang sekali, mereka keuangan begitu luar biasa kok bisa tumbang juga? Itulah masa kini seperti itu, ada banyak perubahan zaman dan tantangan zaman yang sadar atau tidak sadar kita digerus oleh waktu, seolah-olah itu menuntut kita untuk melihat zaman ini sudah tidak seperti dahulu. Apa yang kita bisa sandarkan dahulu itu bisa menjadi sesuatu yang malah bangkrut atau memburuk bagi kemuliaan Allah. Kita melihat di dalam beberapa berita terakhir ini ya, perusahaan-perusahaan yang besar, perusahaan-perusahaan yang ternama, perusahaan jamu yang besar itupun bangkrut. Saya pikir itu mengejutkan karena ini perusahaan jamu yang sudah lama sekali di Indonesia, ini bukan mbok-mbok yang jualan di pinggir jalan, kok bisa bangkrut juga. Nah kita lihat kehidupan itu seperti itu dan kadang itu mengejutkan sekali. Perusahaan-perusahaan yang bangkrut dan masuk berita itu bukan toko di samping, tapi yang besar-besar, yang kita pikir ini yang kelas atas yang nggak mungkin jatuh tapi kenyataannya bangkrut juga. Dan saya nggak tahu mungkin ada beberapa dari kitapun mengalami hal demikian. Kita sudah kerjakan bagian kita dengan baik-baik dan kita berusaha dengan yang terbaik yang kita bisa kerjakan, eh perusahaannya bangkrut, kita bisa apa? Tapi itulah realita kehidupan. Di situlah kembali Paulus menyadarkan kita bahwa makanya jangan menaruh keselamatan pada hal itu karena itu tidak bisa dipegang, suatu saat bisa berubah. Pekerjaan kita bisa berubah, usaha kita bisa berubah, tempat tinggal kitapun bisa berubah, tapi yang pasti keselamatan kita itu jaminan dan kepastiannya itu dari Yesus Kristus, itu yang tidak pernah berubah dan itu yang menjadi kepastian kita dimanapun kita berada dan dalam situasi apapun yang kita temui.

Menarik kemudian lebih lanjut Paulus juga katakan, “dan aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.” Bagian ini menarik karena bicara doktrin keselamatan yang pertama-tama dan semata-mata itu adalah anugerah Allah, itu adalah semata-mata pekerjaan Allah. Tapi ternyata secara paradoks, keselamatan itu tidak bisa terlepas dari ada bagian tanggung jawab kita, yang dituntut pada kita adalah berdoa, mendoakan. Jadi di dalam bagian ini adalah meski Paulus itu sadar bahwa dia sudah punya kepastian keselamatan tapi dia juga sadar bahwa hal itu bisa berjalan dan Tuhan memakai sebagai alat anugerahNya yaitu doa-doa dari jemaat, doa-doa dari sesama orang Kristen. Keselamatan dan juga doa, kedaulatan Allah-tanggung jawab manusia, ini seringkali kita lihat kayaknya nggak bisa disatukan, seperti bertentangan. Tapi dalam kehidupan kita memang seperti demikian yaitu kita lihat di satu sisi keselamatan sepenuhnya anugerah Allah, itu adalah kedaulatan Allah, tapi lalu yang kita bisa lakukan apa? Bukan kita pasif dan menunggu kapan Tuhan menyelamatkan, kita dipanggil untuk mendoakan. Dan itu adalah kita masuk dalam doktrin doa. Dalam teologi doa adalah kita menggumulkan boleh melihat ada kehendak Allah yang terjadi di dala kehidupan kita. Saya pikir dalam berbicara hal ini saya tidak bisa tidak mengingat apa yang pernah dikatakan oleh J.I. Packer. J.I. Packer itu sendiri berbicara di dalam bukunya berjudul penginjilan dan kedaulatan Allah, dia mengatakan bahwa dua hal ini sepertinya bertentangan. Kadang seolah kalau kita pikir kedaulatan Allah ya nggak usah penginjilan lah, kenapa, dia pasti akan selamat. Tapi sambil kita getol kerjaka penginjilan kadang jadinya kita pikir seolah-olah sepertinya kita harus mengesampingkan kedaulatan Allah, sebenarnya tidak, harus agak arminian, “Bertobatlah, percaya Tuhan Yesus saat ini,” seolah kita kesampingkan doktrin kedaulatan Allah. Tapi Packer di dalam bukunya itu mengatakan yaitu sebenarnya kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia itu tidak saling bertentangan, justru saling berkaitan dan doktrin ini justru saling berteman tanpa harus menyatu ataupun meniadakan yang lainnya. Lalu di dalam bagian bukunya, di bab awal dia mengatakan dalam doa saja misalnya kita itu sadar atau nggak sadar sebenarnya sudah mengakui kedaulatan Allah, kenapa? Packer mengatakan bahwa dalam doa kita meminta sesuatu dan bersyukur akan sesuatu kan, itu paling basic ya dalam doa kita, tapi mengapa kita lakukan demikian? Packer mengatakan karena sebenarnya di saat itu kita menyadari bahwa sebenarnya Allah adalah Sumber semua kebaikan yang anda miliki saat ini dan semua kebaikan yang anda harapkan di masa depan.

Jadi ketika kita berdoa, kita bersyukur karena naik kelas atau lulus misalnya, bersyukur, berdoa, “Terima kasih Tuhan karena saya sudah lulus kuliah,” sambil dalam pikiran kita: yang kerjakan kan saya, yang kerjakan paper-nya kan kita, bukan tiba-tiba muncul file-nya sendiri di laptop anda, oh dikerjakan malaikat, wah puji Tuhan saya kumpul jadi skripsi saya. Kan nggak, yang kerjakan kita, tapi kenapa ya kita berdoa, bersyukur pada Tuhan ketika kita lulus? Karena kita sadar bahwa Allah-lah Sumber semua kebaikan yang bisa kita nikmati. Dan sebaliknya juga ketika kita berdoa untuk apa yang kita harapkan di depan. Bukankah ketika kita berdoa untuk menghadapi ujian itu disamping kita juga belajar, iya kan? Kita tidak masuk ke ekstrim, “Pokoknya Tuhan kasih saya jawaban ya,” lalu saya tidur, besok ujian muncul ada malaikat yang bisikin jawabanya, ya nggak, kita berdoa sambil belajar. Jadi ora et labora itu ya, berdoa dan bekerja. Dan itu berarti kita berdoa karena Packer mengatakan sebenarnya kita menyadari bahwa apa yang kita minta, apa yang kita harapkan itupun Sumbernya dari Allah juga. Jadi baik semua kebaikan masa lampau ataupun yang di depan, kita sadar itu semua Sumbernya dari Allah, jadi tidak meniadakan kedaulatan Allah itu. Dan Packer katakan inilah dasar filsafat doa Kristen, dalam doa kita bukan sedang memaksa Tuhan, melainkan dengan kerendahan hati kita mengakui ketidak berdayaan dan kebergantungan kita kepada Tuhan.

Dan di bagian ini saya lihat inilah juga yang dialami oleh Paulus di sini, yang dia ingatkan juga kepada jemaat di Filipi bahwa di dalam kehidupannya ketika dia berdoa, keselamatannya tergantung sepenuhnya kepada Allah. Jadi di satu sisi dia punya kepastian keselamatan, di sisi lain dia terus mendoakan dan dia sadar ketika dia bisa kuat menjalani ini itu karena ada doa dari sesama jemaat. Saya pikir ini menarik karena terkadang kita itu melihat tokoh-tokoh Alkitab itu kayak superhero gitu ya, tapi kita menemukan tokoh-tokoh Alkitab justru ada tokoh-tokoh yang realistis, yang apa adanya, yang juga memiliki kerentanan dan kelemahan pada dirinya sendiri. Dan saya mungkin bisa bilang mereka itu tidak sungkan dan jujur mengatakan situasi mereka ini, Paulus mengatakan, “Aku berdoa bagimu,” tapi juga ada bagian mengatakan, “Berdoalah bagiku.” Jadi relasi kita itu satu sama lain sebagai orang Kristen itu demikian karena memang sebenarnya di dalam pengertian kita adalah justru relasi jemaat itu bukan masalah “saya yakin, saya yakin, yang penting saya dapat keyakinan keselamatan saya dengan kekuatan saya sendiri.” Pertama-tama memang keyakinan itu adalah Roh Kudus sendiri yang berikan pada kita, tapi tetap saja kita saling mendoakan satu sama lain. Kita bisa mendoakan teman kita ataupun rekan kita, ataupun hamba Tuhan seperti Pak Dawis, doakan supaya terus bertekun setia dalam pelayanan karena itulah relasi yang organik di dalam jemaat. Di dalam gereja itu bukan cuma organisasi tapi juga ada nuansa organik di dalamnya karena di situ ada relasi bukan cuma struktur, strata, tingkatan, tapi juga kita ada kesetaraan, kenapa? Karena memang kita sedang mencerminkan nilai dari Allah Tritunggal sendiri, yaitu di dalam Allah Tritunggal ada hirarkis, bertingkat, Allah Bapa mengutus Allah Anak, Allah Bapa dan Allah Anak mengutus Roh Kudus, tidak pernah dibalik. Tidak pernah Allah Roh Kudus mengutus Allah Bapa. Berjenjang seperti itu, tapi Mereka setara. Dan sebenarnya dalam kehidupan gereja juga demikian, satu sisi kita itu berjenjang karena ada struktur, ada pengurus, ada aktivis, ada jemaat, ada hamba Tuhan, tapi juga setara. Dan ada tempatnya dalam bagian kita untuk saling mendoakan. Jadi bukan cuma tunggu yang atas mendoakan yang bawah, tapi yang bawah juga mendoakan yang atas. Karena memang kita sebenarnya ada kesetaraan dan juga tingkatan itu. Dan di dalam bagian ini Paulus itu menyatakan bahwa dia bersyukur karena ada doa dari jemaat yang menguatkan dia juga. Nah ini saya lihat adalah hal yang menarik, di dalam ketekunannya, kekonsistenan Paulus menjalani panggilannya di sana, dan fokus dia terus kepada injil, dia tetap melihat juga bahwa ini semua bisa terjadi karena adanya dukungan doa dari jemaat, dan memang relasi yang organik di dalam jemaat Filipi dengan Paulus sendiri. Dan itu yang dijalani dan dikatakan oleh Paulus.

Dan kemudian dia melanjutkan bahwa, poin ketiga adalah, “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Ada dua hal yang kita bisa bicara di sini. Yang pertama, Paulus fokusnya itu adalah dia yang penting hidupnya tidak mempermalukan Tuhan tapi dia hidup memuliakan Tuhan. Saya pikir ini adalah suatu hidup yang menarik kalau kita melihat itu menjadi suatu yang ironis ataupun paradoks dalam situasi Paulus di saat dia menuliskan surat ini. Sederhana saja, kalau kita pergi ke penjara, kita lihat orang-orang yang mulia atau orang yang malu-maluin? Kalau pernah bezuk orang di sana, itu kita di sana masuk tempat itu saja itu kita nangkapnya ini tempat yang mulia atau tempat yang memalukan? Bukankah kita semua mengerti itu adalah hal yang memalukan. Bahkan terkadang saya pernah alami suatu ketika itu membezuk ada kenalan dari jemaat di salah satu penjara bahkan bilang, “Oh pergi ke sana jangan bilang-bilang ya Pak,” karena malu, dia nggak ngomong malu sih tapi saya nangkap. Maksudnya jangan ngomong mengunjungi orang itu karena saking malunya. Sehingga knotasinya selalu kalau orang di dalam penjara itu sesuatu yang memalukan, terlebih situasi Paulus di sini itu dia berada dalam penjara, saya lihat dari perspektif orang umum ataupun kalau kita mau pakai dari perspektif Kaisar Nero atau tuan Nero, Paulus itu memalukan sekali. Bayangkan orang ini bolak-balik masuk penjara, nggak kapok-kapok. Sudah diberitahu, “Kamu jangan lakukan ini ya, kamu jangan lagi beritakan itu,” suratnya banyak yang disobek, dibakar, banyak dibuang. Lalu dimasukkan penjara, sudah dihukum jalani beberapa lama, sudah bebas, “Jangan diulangi lagi ya,” eh diulangi lagi, masuk lagi. Nggak malu bolak-balik masuk penjara.

Bagi perspektif tuan Nero, kehidupan Paulus ini adalah kehidupan yang sangat-sangat memalukan. Tapi Paulus, perhatikan di sini, dia bukan melihat dari sudut pandang penguasa dunia tapi dia melihat kepada sudut pandang Penguasa alam semesta, yaitu dari perspektif Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus sendiri melihat hambaNya ini dengan berani menyatakan injil dan itu adalah suatu yang mulia. Nah ini kita menemukan dalam kehidupan kita ada kontras seperti demikian. Terkadang apa yang kita kerjakan dalam dunia ini bagi orang dunia itu sesuatu yang memalukan, tetapi sebaliknya ketika kita kerjakan dengan sungguh bagi Tuhan kita tahu ini sebenarnya sesuatu yang memuliakan Tuhan dan Tuhan itu berkenan ketika kita mengerjakan hal itu. Dalam kehidupan ini apa yang malu bagi dunia tapi mulia bagi Tuhan itu memang seringkali menjadi bertolak-tolakan, kontras, karena kembali kita dalam realistisnya dalam kehidupan ini, dunia ini adalah dunia yang berdosa. Dunia dan segala napsunya ini akan segera berlalu. Dan kita lihat apa yang dianggap bernilai oleh dunia ini seringkali memang berbeda dengan apa yang dikasihi Allah, dan sebaliknya juga apa yang bernilai dari prinsip Kerajaan Allah berbeda dengan apa yang dianggap berharga dalam prinsip dunia, karena ini masalah konsep nilai. Kita mau lihat dari sudut perspektif mana. Sederhana mungkin dalam kehidupan kita ada beberapa pemuda di sini, ketika kamu mengikuti seperti acara kemarin kami retreat ataupun ikut dalam kegiatan pemuda sore hari, kalau kamu ajak temanmu kan kadang temanmu bilang, “Ah ngapain sih sore-sore ke gereja? Ngantuk,” sesuatu yang kayaknya memalukan untuk datang. Tapi ketika kita kerjakan kita tahu ini kita memuliakan Tuhan. Kita nggak bisa menyangkali memang ada kontras ini dalam kehidupan. Bahwa kenyataannya manusia itu tidak menginginkan apa yang diinginkan oleh Allah, dan kadangkala itu memang selalu bertentangan dengan kehendak manusia. Tapi pertanyaannya adalah kita akan melihat dari perspektif yang mana itu akan mempengaruhi kita menjalani kehidupan ini seperti apa.

Kembali, dalam kehidupan Paulus, Paulus itu bukan dari background orang penjahat, background Paulus itu orang kelas top, dia ini dari kaum Farisi. Kita bisa tahu sendiri background orang Farisi itu bagaimana, itu orang terpandang, seperti orang bangsawan, ternama, terkemuka di bangsanya. Kok ini sekarang setelah percaya Tuhan Yesus wah kehidupannya bolak-balik masuk penjara. Itu kalau mau dibilang derajadnya atau harkatnya secara manusia yang dulu dia pegang, “Wah Paulus orang top, orang terkenal, orang ternama,” tapi sekarang ternamanya apa? Penjahat kelas kakap; itu kan kayak turun derajad yang banyak sekali. Tapi bagi Paulus, memang di dalam surat ini di bagian lain dia mengatakan, “Karena itu apa yang dahulu kuanggap sebagai keuntungan kemudian kuanggap sebagai sampah, aku menyampahkan semua yang lama dan berfokus hanya kepada Kristus.” Dan ini dia jalani dalam kehidupannya. Dalam kehidupan ini kenyataannya memang tidak selalu bersahabat dengan kita, dan kenyataannya kita memang tidak dipanggil juga untuk bersahabat dengan dunia. Saya tidak mengatakan kita sengaja mencari gara-gara, masalah dengan dunia, tapi biarlah kita sadar bahwa apa yang dipegang sebagai prinsip-prinsip nilai dari dunia itu selalu bertentangan dengan prinsip dari Allah, tapi di situlah kita belajar bersandar bukan melihat dari apa yang berharga di mata dunia tapi apa yang berharga di mata Tuhan, dan itu yang terus dia kerjakan.

Lalu kemudian di dalam bagian 20b itu dia mengatakan sesuatu yang menarik yaitu, “demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Nah di dalam bagian ini saya akan berbicara membaginya secara 4 kuadran, yaitu bicara ada 4 macam manusia di sini. Maka pertama kita ketemu ada semacam orang itu yang hidupnya itu memuliakan Tuhan tapi matinya itu mempermalukan Tuhan. Saya ketika menemukan ini saya teringat ada kisah yang di-sharingkan oleh Pak Tong, yaitu pernah ada seorang pendeta yang sangat rajin bergiat melayani, terus bertekun melayani, dia seumur hidupnya terus melayani mengerjakan pelayanan sampai akhirnya dia lanjut usia, lalu sampai akhirnya dia mati dan masuklah proses penguburannya. Dan menarik ketika proses penguburannya ini begitu banyak yang hadir, begitu banyak orang yang bersyukur atas pelayanan dari pendeta ini setelah bertahun-tahun bergiat melayani. Lalu sambil dibawa jenazahnya itu sampai ke kuburan, ada banyak yang menangis, yang bersedih. Tapi kemudian ada seorang wanita muda itu yang menangis terisak-isak tidak habis-habisnya. Terus jemaatnya bingung, “Oh mungkin ini yang pernah dilayani tapi kenapa ya dia sedih sekali.” “Kamu siapa? Kamu jemaat dimana? Hamba Tuhan ini pernah melayani kamu dimana?” Setelah dicari tahu ternyata ini adalah isteri mudanya. Jadi di akhir itu, waktu penguburan itu menjadi suatu kejutan bagi semua yang di sana, ternyata hamba Tuhan ini punya simpanan yang dia sembunyikan selama ini dan baru terungkap waktu dia meninggal. Dan itu menjadi sesuatu peristiwa yang begitu memalukan dalam kematiannya itu. Ada orang yang sepanjang hidup itu seperti memuliakan Tuhan tapi nanti matinya malah baru terungkap bahwa dia itu dalam kematiannya dia mempermalukan Tuhan, itu menjadi suatu cacat yang begitu besar dan orang malah ingatnya Oh hamba Tuhan itu ternyata punya simpanan, menggugurkan semua yang dia kerjakan selama ini. Ini adalah bentuk pertama, kenyataannya ada orang yang hidup seperti itu. Dia berpikir dia memuliakan Tuhan tapi sambil dia melayani ada dosa yang dia masih simpan dan dia pikir tidak apa-apa ini tidak ketahuan. Suatu saat pasti akan ketahuan juga. Kalau dalam pepatah itu mengatakan sepandai-pandainya tupai melompat nanti akan jatuh juga. Jadi bagaimana kita menjalani kehidupan itu kalau nggak konsisten, dia menyimpan ada dosa suatu saat itu akan terungkap dan malah orang akan lebih mengingat hal yang memalukan ini daripada kehidupannya yang sebelumnya “patuh.” Ini adalah contoh pertama.

Lalu kemudian ada jenis orang kedua yaitu orang yang hidupnya mempermalukan Tuhan tapi matinya malah mempermuliakan Tuhan. Bagi saya ini kita lihat di dalam kisah hidup Lot. Lot itu seumur hidupnya memalukan Tuhan, Lot keponakan Abraham itu ya. Keponakan yang bochai, keponakan yang tidak guna, keponakan yang waktu pembagian harta tanah saja dia pikir, “Oh saya akan pilih yang lebih baik, sisakan Abraham yang buruk-buruk, saya pilih dulu yang utama.” Eh malah yang dia pilih itu daerah Sodom dan Gomorah, dan dia sempat ditangkap lalu Abraham membebaskan dia, lalu kemudian sampai kisah Sodom-Gomorah. Dan kita lihat kehidupan Lot itu kehidupan yang menjadi batu sandungan, kehidupan yang bahkan di dalam kisah Alkitab itu kita membaca heran ya, ngapain Alkitab mencatat kehidupan orang seperti ini yang isinya memalukan. Sampai di Perjanjian Baru kita temukan bahwa Lot itu disebut dalam Surat Petrus dia itu adalah orang benar. Jadi kalau saya lihat itu waktu dia sudah mati baru kemudian dinyatakan hidupnya bisa dibilang memuliakan Tuhan. Jadi bagi saya ini adalah gambaran kehidupan orang percaya yang seumur hidup itu tidak menjadi berkat, hanya menjadi catatan yang jelek di dalam Kekristenan, menjadi batu sandungan, meski akhirnya ya dia selamat juga; meski akhirnya ya dia memuliakan Tuhan di akhir hidupnya. Tetapi kita lihat kenyataannya ada orang yang seperti demikian. Dan jangan sampai kita juga berpikir di sini seperti itu ya, “oh yang penting saya selamat Pak,” itu adalah kehidupan yang sia-sia, kehidupan yang setelah kita diselamatkan ini malah kita tidak garap dengan sebaiknya untuk memuliakan Tuhan juga, tapi malah hidup cuma memalukan Tuhan, akhirnya mati baru bisa memuliakan Tuhan, yaitu ya minimal di kuburannya itu ya, oh ada salib, oh orang Kristen toh. Oh orang Kristen toh, selama ini baru tahu, gitu ya. Ya kadang-kadang ada yang seperti itu.  Macam orang kedua yang hidupnya memalukan Tuhan tapi kemudian waktu matinya baru dia bisa memuliakan Tuhan.

Tapi kemudian ada bentuk ketiga yang bentuk negatif-negatif, yaitu ada orang yang baik dia hidup dan matinya itu memalukan Tuhan. Saya pikir menarik itu ketika mempersiapkan ini saya ingat itu ada kisah kapal Titanic. Tahu ya kapal Titanic itu ya? Banyak versi film itu yang ada pasangan muda-mudi yang romantik itu, bukan itu; intinya memang itu ada kapal yang begitu besar yang dikatakan unsinking ship, kapal yang tidak bisa tenggelam, dan katanya rencananya akan dibuat lagi di era modern ini bentuk keduanya. Anyway, kita lihat saja tenggelam atau nggak nanti. Tapi ya kapal Titanic itu pertama kali ketika berlayar dikatakan ini kapal yang tidak mungkin bisa tenggelam, dibuat dengan teknologi begitu mutakhir di zamannya dengan pemikiran manusia begitu bagus zamannya dan tidak mungkin tenggelam. Dan ternyata dalam perjalanan itu, perjalanan begitu keluar, begitu panjang perjalanannya, lalu orang kan itu ceritanya itu dia tabrak ada bongkahan es. Bongkahan es yang ternyata dipikir, ah cuma bongkahan es, ditabrak saja. Eh ternyata bongkahan itu begitu kuat, dan itulah kita temu ternyata bongkahan itu adalah puncak dari gunung es di bawah. Jadi bukan cuma bongkahan lepasan seperti itu, cuma air yang menjadi es gitu, tapi itu adalah puncak gunung es. Jadi ada gunungnya itu di bawah gitu, dan itu kita menemukan istilah, sejak saat itu ada istilah itu dalam bahasa Inggris, the tip of the iceberg. Tahu ya itu ya? Hanya itu puncak ujung dari ada gunung es gitu ya. Jangan kamu pikir oh ini hal kecil. Itu gede di bawahnya. Makanya ketika Titanic itu labras, malah bukan puncak gunung es itu yang hancur, dia yang jebol dan akhirnya tenggelam dengan semuanya. Nah di dalam kisah Titanic itu menarik adalah kalau kita lihat yang secara historisnya ya, bukan film karangan Hollywood itu, tapi di dalam kisah historiknya itu ada kita temukan catatan sepertinya ya itu ketika kapal itu tenggelam, masih sebagian orang itu berpikir bahwa, oh sekocinya akan cukup. Karena itu, mereka harus semua naik sekoci satu per satu, dan kisahnya itu sebenarnya pada zaman itu ada punya satu kebiasaan bahwa memang orang Inggris gitu ya, mereka itu gentlemen, yaitu ladies first. Jadi yang naik sekoci itu adalah perempuan dulu. Nah itu kebiasaan memang zaman itu, kayaknya di film juga ada muncul deh. Jadi itu cewek, perempuan-perempuan itu yang duluan naik. Jadi perempuan-perempuan itu yang naik sekoci. Dan nanti memang belakangan baru tahu bahwa ternyata sekocinya, perahu kecilnya itu nggak cukup untuk menampung semuanya. Ya itu mungkin karena mereka pikir ini  kapal nggak bakal tenggelam, sekoci secukupnya gitu ya.

Saya nggak tahu juga, kadang kalau naik pesawat itu pelampungnya berfungsi nggak ya. Ya anyway, ya itu masalah lain, tapi ya gitu. Jadi mereka itu akhirnya menaikkan perempuan-perempuan dulu, akhirnya terakhir belakangan tahu, wih ternyata perahu karetnya ini nggak cukup; nggak cukup sekocinya untuk selamatkan semua. Nah lalu kemudian ada kisah, ada seorang laki-laki di situ yang tahu, wih sebenarnya ini dikasih perempuan dulu, dan kelihatannya nggak cukup nih perahu karetnya. Dia dengar mungkin bisikan dari awak kapal, wah ini pak nggak cukup kapten, nggak cukup. Lalu apa yang dia lakukan? Lalu dia pergi sembunyi ke belakang lalu dia cari baju perempuan, dia ambil pakaian perempuan, dia berdandan seperti perempuan, lalu menyamar, oh iya saya perempuan; lalu dia naik sekoci itu. Ini kejadian betulan. Ada seorang itu yang akhirnya menyamar sebagai perempuan, dia menipu gitu ya, dia menipu dia mengatakan oh iya saya perempuan, lalu dia naik sekoci itu supaya dia selamat. Dan akhirnya setelah naik, perjalanan itu panjang, lalu perempuan itu yang sama-sama dia naik, baru lihat, perempuan nggak ya? Perempuan itu bisa tahu kok. Ini kamu laki toh. Waduh, ternyata curang naik seperti ini ya. Dan sampai ke darat baru diabsen data, yah ini mah laki-laki. Kenapa kamu naik sekoci yang awal ini? Gitu ya. Oh, yang penting saya selamat. Nah kisah seperti ini itu menarik gitu ya, kemudian ada seorang wartawan yang meneliti kehidupan orang ini seperti apa. Dan ditemukan menariknya adalah kehidupan orang ini yang selamat dengan cara menipu lolos dari perahu tenggelamnya kapal Titanic ini adalah akhirnya kehidupan dia itu bolak-balik kadang menjadi penipu, menjadi pencuri, menjadi perampok, menjadi orang yang kehidupannya rusak dan keturunannya pun demikian. Generasi-generasi setelahnya pun demikian. Mereka itu keturunan-keturunan yang itu ya. Menarik gitu ya, ada memang jurnalis itu yang mengecek, oh orang ini, lalu keturunannya apa? Oh ini juga narapidana, ini juga adalah orang perampok, wah ini juga adalah sampah masyarakat. Keturunan, keturunan, keturunan semuanya itu adalah penipu. Semua adalah orang-orang yang menjadi sampah masyarakat. Saya pikir, kenapa mungkin nggak lepas, karena mereka pikir, ya kakek kita dulu bisa selamat karena nipu. Jadi, for whatever reason, yang penting for the sake of survive, for the sake of survival yang penting kamu bisa bertahan hidup, menipu pun nggakpapa. Dan akhirnya, itu yang diwariskan pada generasi berikutnya, bolak-balik kehidupannya menipu seperti itu. Itu adalah kehidupan orang yang dari dia hidup memalukan Tuhan. Sampai dia mati pun, menjadi kisahnya itu memalukan Tuhan juga. Ada kenyataan kehidupan itu demikian; bukan cuma berakhir di kematian, tetapi setelah mati itu menyisakan cerita seperti apa. Ini bentuk ketiga.

Lalu ada bentuk keempat yang memang diajarkan oleh Paulus di sini, yaitu baik hidup maupun mati kita, biarlah kita hidup memuliakan Tuhan. Di bagian sini saya akan memakai contoh yang lain, yaitu dari Jonathan Edwards, seorang puritan. Seorang puritan itu yang dia hidupnya itu bertekun terus hidup memuliakan Tuhan. Terus bertekun melayani Tuhan seumur hidupnya, dan sampai matinya dia hidup memuliakan Tuhan. Buku-bukunya sampai sekarang kan kita bisa baca. Orang yang sudah mati, tapi ada yang katakan itu dia masih bersuara, berbicara dengan kita melalui buku-bukunya. Dan menarik juga ada seorang wartawan itu yang meneliti Edwards dan garis keturunannya, itu menemukan bahwa garis keturunan Edwards itu adalah orang-orang yang luar biasa dipakai Tuhan. Ada yang jadi orang kongres, ada yang menjadi orang-orang penting, ada yang menjadi ilmuwan, ada yang menjadi orang-orang yang ternama, orang-orang terkemuka di dalam sepanjang sejarah Amerika. Nah di sini kita temukan bahwa ada satu legacy yang diwariskan oleh Edwards kepada keturunanya, kehidupan itu yang sedemikian itu seperti apa; hidup yang memuliakan Tuhan itu seperti apa, dan itu diwariskan juga kepada anak cucunya. Dan saya mau mengontraskan ada dua bagian ini yaitu dalam kehidupan kita, kenyataannya sadar nggak sadar kita itu hidup bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk yang ke depan. Dan yang ke depan itu bukan cuma bicara sampai kita mati, yang penting masuk sorga, tapi kisah seperti apakah kehidupan kita yang akan kita wariskan menjadi legacy kita kepada generasi selanjutnya.

Beberapa banyak anak muda di sini, ingat, hidupmu bukan hanya untuk masa kini. Jagalah kekudusan hidupmu; bukan hanya untuk masa kini, bukan hanya untuk kesenangan sekarang, tapi biarlah kamu melihat itu adalah untuk kamu menjadi suatu warisan pada generasi selanjutnya, bagaimana kamu menjadi hidup yang memuliakan Tuhan, menjadi teladan pada generasi selanjutnya. Ingatlah akan hal ini, karena ada legacy kita. Dan sadar nggak sadar kita akan mempengaruhi sesama kita juga; entah menjadi kita itu hidupnya menjadi kisah narasi untuk kita menjadi kisah yang memuliakan Tuhan atau memalukan Tuhan. Hanya ada dua pilihan itu kehidupan ini. Mungkin karena kita pikir, oh kehidupan saya biasa-biasa saja. Lho, ya biasa-biasa saja berarti kita juga tidak memancarkan kemuliaan Tuhan. Tapi kita dipanggil itu secara positif, bukan secara titik nol; tapi secara positif, aktif untuk memuliakan Tuhan. Dan kenyataannya ketika kita gagal memuliakan Tuhan itu, akhirnya orang lihat kehidupan kita itu juga mempermalukan Tuhan. Artinya apa? Ya lihatlah kehidupan orang Kristen, yah gitu-gitu aja, juga tidak menjadi contoh, juga tidak bisa menjadi cermin, tidak bisa menjadi saksi Kristus yang sejati; hidupnya hanya memalukan Tuhan saja. Kembali ya, derajat orang memuliakan, memalukan Tuhan itu memang bisa beda; tapi kita pasti hanya ada di antara dua itu. Dan itu menjadi pilihan kehidupan kita yang  bahkan setelah kita mati akan menjadi legacy kita. Pertanyaannya, kita akan hidup seperti apa? Ingatlah hari ini yang kita kerjakan, hari ini pelayanan yang kita kerjakan pun, mungkin yang sederhana hari ini itu. Seperti hari ini, kita kan kalau datang ibadah, siapa sih yang melihat, oh siapa sih penatalayannya? Nggak ada kan. Yang paling hafal itu paling cuma bagian departemen ibadah gitu. Yang lain nggak ada yang perhatikan. Tapi Tuhan melihat kita sedang hidup memuliakan Dia atau tidak. Dan itu penting di sini. Dan kalau kita hidup sudah demikian berkonsisten terus hidup memuliakan Tuhan sampai kita mati pun kita sungguh hidup memuliakan Tuhan, itulah baru kita bisa katakan seperti dikatakan Paulus di dalam ayat berikutnya, karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan. Kiranya nats ini menjadi pegangan hidup kita, prinsip hidup kita, dan menjadi doa kita dalam menjalani aktivitas-aktivitas kita sehari-harinya. Mari kita satu dalam doa.

Bapa kami di dalam sorga, kami bersyukur untuk firman-Mu yang kembali mengingatkan kami akan kepastian keselamatan kami di dalam Kristus Yesus saja yang sudah mati dan bangkit untuk menebus dosa kami, yang sudah mati dan bangkit untuk keselamatan kami. Dan biarlah keselamatan di dalam Kristus itu yang menjadi jaminan kami, pegangan kami seumur hidup kami; supaya kehidupan yang kami jalani ini bukanlah suatu kehidupan yang mempermalukan nama-Mu, tapi menjadi hidup yang sungguh memuliakan nama-Mu saja. Pimpin setiap kami ya Bapa, berbelas kasihanlah kepada setiap anak-anak-Mu yang ada di tempat ini. Biarlah kebenaran firmanMu itu yang mengubahkan kami, mendorong kami, menggiatkan kami untuk hidup terus bertekun memuliakan nama-Mu saja, karena hidup adalah Kristus, maka mati itu menjadi keuntungan bagi setiap kami yang mati di dalam Kristus. Terima kasih Bapa, semua ini, hanya dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *