Christian Mindset, 6 Desember 2020

Filipi 4:8-9

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Bagian ini kalau kita melihat ada urutan ya di bagian sebelumnya yang saya sudah ada bahas ini bicara ada Christian mindset ya, ada cara berpikir, pola berpikir Kristen yang diajarkan oleh Paulus di sini, yang dipaparkan dari ayat 8. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci,” itu ada 4 aspek yang kita sudah bahas pada minggu yang lalu. Dan dibilang ini itu ada di closing-nya dari ayat 8 bilang, “pikirkanlah semuanya itu.” Itu harus kita pikirkan, dan ini tentu bukan cuma sekedar pikir, sekedar pikir saya tahu, tapi lebih memang sesuatu yang memang sampai kita renungkan, kita gumulkan, sampai memang masuk ke dalam diri kita, masuk ke dalam cara mindset berpikir kita, cara pandang kita. Itu saya sudah bahas yang lalu.

Saya sudah bahas 4 yang sebelumnya yaitu bicara benar, adil, mulia, dan suci, dan kita bisa dibilang ini adalah prinsip-prinsip yang kalau mau dibilang itu ketat, kaku. Ya memang kaku sekali dan memang nggak boleh dikompromikan di situ. Kalau bicara kebenaran ya itu memang sesuatu yang bersifat ekslusif, ya kan. Saya sudah singgung minggu lalu, kebenaran itu memang bersifat eksklusif. 1 + 1 = 2. “Wah sombong sekali cuma bisa 2, nego sedikit 1,5 boleh nggak?” Nggak bisa. “Kasih lebih dikit ya, 2,1 atau 2,2?” Nggak bisa. Yang benar itu 1 + 1 = 2 karena itu adalah bicara kebenaran yang memang apa adanya memang demikian. Beda dari itu, itu adalah kepalsuan, itu adalah penipuan, dan seterusnya. Jadi itu memang bersifat kaku ya, kalau mau saya pakai istilah ini, memang berkesan rigid dan memang nggak bisa digoyang, memang begitu adanya.

Lalu juga adil yaitu bicara ada fairness, keadilan. Kalau mau prinsip dari Perjanjian Lama itu ada istilah yang dipakai oleh Musa itu mata ganti mata, gigi ganti gigi, itu bukan masalah kita pikir balas-balasan, “Oh kamu cungkil mata saya, saya juga cungkil matamu.” Bukan cuma sekedar bacanya negatif begitu tapi ini juga bicara prinsip keadilan, jangan membalaskan lebih dari seharusnya. Dan membalasnya itu yang adil, yang tidak melebihi dari seharusnya itu satu, dan saya juga melihat ada unsur preventif di situ karena kalau kita mengerti adalah zaman dulu itu – dan terutama konteks kuno ada nuansa militer – seringkali orang bisa berbuat sesuatu dia pikir dia nggak dapat ganjarannya. Istilahnya itu saya pukul kamu karena saya lebih kuat jadi makanya bisa mem-bully dan seterusnya. Tapi kalau ada fairness di sini, kalau kamu pukul orang, kamu juga akan dapat setimpal yang sebaliknya. Dan itu ada menjaga supaya mem-prevent kejahatan dan seterusnya.

Lalu kemudian juga bicara mulia, ada yang terhormat, mengingatkan kita akan status, harkat nilai kita sebagai manusia yang dicipta menurut gambar rupa Allah. Nilai kita itu di mana, dan kita jaga kemuliaan atau kehormatan kita itu. Lalu juga suci itu bicara tidak bercampur dengan yang lain, murni, yaitu seperti apa? Saya sudah singgung minggu lalu seperti gambaran emas yang dibakar, dibakar berkali-kali supaya tersingkirkan kotorannya. Dan ini juga ada yang bilang kaitannya itu bicara ke motivasi. Motivasi itu memang kita harus jaga tetap murni, tidak bercampur dengan yang lain. Ada hamba Tuhan yang lain mengatakan kadang-kadang orang memulai suatu pelayanan atau suatu tindakan tertentu bahkan dalam pekerjaan bisa awalnya itu motivasinya murni, tapi kemudian bagaimana itu bisa tetap murni itu ada suatu tantangan, ada progres di sana dan pergumulan, kalau mau dibilang, bagaimana menjaga kemurniannya. Karena kenyataannya kadang bisa setelah berjalan berapa lama akhirnya menyimpang, akhirnya bercampur kotoran yang lain dan akhirnya menjadi polluted, jadi kotor di sana dan tidak murni lagi. Selain tentu ada juga orang memulai dari awal pelayanan dengan motivasi curang, nggak tahu ya misalnya mau cari untung atau orang membuka suatu pekerjaan memang dengan niat berdosa dan seterusnya tentu itu ada, tapi dalam beberapa case itu ya bahkan ketika kita memulai sesuatu, menginisiasi sesuatu itu yang murni pun kenyataannya tidak mudah untuk kita pikir karena dia sudah mulai murni maka pasti akan terus murni. Nggak. Itu makanya ada pemurnian terus menerus, dan kita harus menjaga kesuciannya itu dan membersihkan ketika ada muncul kotoran-kotoran yang lain dalam motivasi kita dan seterusnya. Dan inilah sesuatu yang memang prinsip yang ketat dan tidak boleh dikompromikan sama sekali. Aspek-aspek yang kalau mau saya bilang itu 4 di awal itu lebih di arah vertikal, tanggung jawab kita di hadapan Tuhan itu seperti apa.

Dan kemudian menariknya dilanjutkan dengan aspek-aspek ini yang dibahas kalau bahasa Indonesia terjemahkan itu, “Semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji.” Nah ini menarik karena bagi saya di bagian ini ketika kita melihat menemukan aspek-aspek 4 sisanya ini, itu bicara lebih ke aspek-aspek yang nuansanya mungkin lebih warm, lebih hangat, nggak rigid, kaku, kayaknya dingin sekali kayak gitu, yang seperti awal. Ini adalah semua yang manis, jadi kedengarannya saja menyenangkan, enjoyable, kalau mau dibilang seperti ada komentator Gordon Fee mengatakan itu ada satu nuansa enjoyable. Ataupun kalau seperti ESV menerjemakan itu menjadi sesuatu yang lovely. Sesuatu yang memang menyenangkan, sesuatu yang memberikan ada suatu nuansa kasih di sana, dan memang makanya terjemahan Indonesia itu suatu yang manis. Memang sulit ya terjemahan persis dari Yunaninya sana, tapi anyway kita menangkap ternyata ada suatu nuansa yang ternyata kok lain, yang mana saya lihat ini menjadi suatu aspek-aspek, cara berpikir kita juga, yang ternyata juga ada mencakup aspek horisontalnya. Aspek yang kita bisa dibilang sebagai iya dalam relasi kita sesama itu perlu ada mempertimbangkan hal-hal itu juga.

Menarik bagian ini saya teringat dengan apa yang pernah diistilahkan oleh Pendeta Billy, misalnya saja dalam kita menyampaikan kebenaran firman, itu bicara ada 2 aspek: ada konten dan ada kontainernya. Sebenarnya itu bahasa marketing, ada isinya lalu ada bungkusannya itu seperti apa. Kita suka berpikir kontennya harus benar, isinya harus benar, tapi jangan lupa seringkali ketika kontennya benar, kontennya bagus, tapi kontainernya, bungkusannya ini, pembungkusnya atau cara penyampaiannya keliru, jadi keliru. Ini selalu dalam kehidupan kita banyak masalah di situ. Banyak masalah kita itu juga di aspek kontainernya, cara penyampaiannya. Sederhana kalau saya tawarkan kepada anda suatu barang yang bagus, katakanlah suatu vitamin yang itu sangat menyehatkan kita, meningkatkan imunitas supaya anti corona, misalnya, tapi bungkusannya itu jelek, lusuh, kita mau makan nggak? Wah kita biasanya pasti nggak mau makan karena dari bungkusannya saja tidak meyakinkan. Meski kadang orang bilang ‘don’t judge the book by its cover’ tapi kenyataannya yang kita beli di toko buku itu lihat dari kovernya karena tersegel kan? Kira-kira begitu. Kenyataannya kover itu kita lihat dan itu yang memberikan impresi kita pertama.

Bahkan konon katanya dalam ilmu komunikasi ataupun psikologi, impresi kita pertama terhadap seseorang itu sangat-sangat mempengaruhi kita menilai seseorang itu. Katakanlah suatu ketika si A kita lihat lagi tunggu di terminal bus lalu lagi tunggu, tunggu kapan lewat busnya, terus kita lihat si A ini ngedumel, marah-marah, “Ini busnya mana sih?!” Kita akan rasa rese ini orang kok kayak gini, dan kita rasa orang kayak gini nggak bisa sabar atau apa. Jadi impresi kita pertama kali kenal orang ini begitu jelek kira-kira begitu. Terus jalan berapa lama, misalnya suatu saat kita jalan, hujan, wah kita lari mau kehujanan eh muncul lagi si A terus dia tawarkan kita payung. Kita akan pikirnya apa? Oh ternyata si A itu baik? Nggak tentu lho. Kita mungkin bisa pikir, “Aduh ini orang kan tukang ngomel-ngomel, jangan-jangan pas saya dipayungin dia ngomel-ngomel ini cuaca jelek.” Jadi mungkin kita itu bisa tolak lho. Meskipun itu tawaran yang baik. Kenapa? Kembali lagi karena urutannya, first impression kita buruk terhadap orang itu. Ini memang kita bisa argue lagi lebih lanjut tapi kita nggak bisa sangkali setidaknya dalam argumen ini ada impresi pertama itu sangat berpengaruh dan kita itu karena secara mental itu fill the gap, kita pikir orang ini gini, terus kita interpretasi, kita proyeksikan dari diri kita, lalu kita fill the gap kira-kira orangnya gini gini gini, dan seterusnya, dan kita menyimpulkan orang berdasarkan memang kesempatan bertemu dia yang sepintas-sepintas. Apalagi yang kesan pertama. Dan itu biasanya paling kena, paling kita ingat.

Tapi menarik ya kalau kebalikannya misalnya kita sudah kenal orangnya lebih lama dari dulu dan kenal kebaikannya, suatu saat misalnya pas lagi tunggu, eh ketemu dia ditunggu di terminal bus, si A ini – tapi kita sudah kenal dari lama, dari dulu kenal baik – satu ketika di waktu itu dia ngomel-ngomel, “Iya ini kenapa busnya lama!” kita cuma akan memaklumi, ya nggak? Biasanya kan begitu, “Sudah lah tidak apa-apa.” Kita tenangin, dan kita nggak terlalu rasa negatif karena kita rasa ini irregularity. Ini adalah suatu yang tidak umum yang dialami oleh orang ini. Biasanya nggak begitu. Menarik gitu ya, ini kita bisa lihat itu kesan kita pertama seperti apa dan biasanya karena apalagi kadang kalau kita nggak ada kesempatan atau kurang kesempatan untuk membangun komunikasi atau pengenalan yang lebih mendalam, akhirnya parsial dan akhirnya memang bisa berkesan negatif sekali. Dan karena itu saya pikir menarik ya ketika kita memikirkan bagian ini, ketika bicara Christian mindset, worldview, itu Paulus memasukkan ungkapan-ungkapan yang, akan kita bahas detailnya di sini, yaitu ungkapan yang bernuansa manis, bernuansa bagaimana kita itu bisa menjaga juga aspek horisontalnya itu tetap juga berjalan dengan baik.

Meski memang sih kalau saya kembali di konten kontainer itu, kalau mau diadu terakhir yang mana yang lebih penting konten atau kontainer? Bagaimanapun at the end of the day, ulitmately, bagi saya tetap yang penting itu kontennya. Yang lebih penting itu ajarannya, inti yang disampaikan, message-nya itu benar, baik, nggak keliru, nggak salah, itu bagaimana pun itu fondasi yang kalau saya mau timbang itu ya bagaimanapun itu yang lebih baik. Karena apa? Karena kenyataannya kita dalam kehidupan juga demikian, kita mendengarkan khotbah yang benar sesuai dengan kebenaran firman itu lebih baik karena itu yang benar, meski mungkin cara penyajiannya kaku, kurang humoris, kurang lincah, itu kita bisa rasa capek dan seterusnya, tapi konten yang benar itu tetap lebih baik daripada kontainer. Dan lebih masalah itu sebenarnya kontainer yang kelihatannya baik tapi kontennya keliru, dan itu bukankah banyak dalam kehidupan ini? Kita kecele gitu ya, atau ketipu. Bungkusannya bagus tapi isinya ternyata beracun. Itu malah lebih membahayakan.

Tapi biarlah kita itu tidak sekedar puas dengan punya konten yang benar dan kita menyiapkan bagaimana kontainernya, bungkusannya, cara penyampaiannya benar itu, karena itu juga diperintahkan oleh Tuhan di sini. Bagi saya ini ada aspek memang kita mengerti dalam prinsip Alkitab itu ada bagian imannya yang benar seperti apa, tapi juga ada bagian aspek di mana kelakuan kita juga diukur dan dituntut benar seturut dengan firman itu. Dan ada memang bagian-bagian firman yang bicara aspek moral. Dan ada aspek juga bicara kalau ke bagian etika ya, itu agak lebih lain lagi karena moral ke prinsip, etika itu ke bagaimana tingkah lakunya. Kadang-kadang ada sesuatu itu bermoral tapi kita rasa kurang etis. Misalnya kita ngomong ada isu orang itu sudah bercerai atau misalnya ada itu pasangannya selingkuh sebelum cerai, dia itu selingkuh terus kita lihat secara hukum moralnya dia boleh ceraikan, tapi terus ketika orang ini nggak mau cerai, kita langsung pikir dia ini apa? Dia etis, mungkin lebih etis, memaklumi. Meski secara moralnya, ya kalau kita mau argue, bahwa boleh bercerai misalnya seperti itu.

Jadi kita lihat ada bagian lapisan layer yang beda bicara moral, bicara etika, itu ada beda, dan nanti kemudian kalau di dalam aspek lebih ke sananya lagi dari prinsip-prinsip etika itu bagaimana kita melakukan cultural appropriation. Bagaimana menyesuaikan dengan budaya setempat ya, budaya lokal, sejauh itu memang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pertama, tidak bertentangan dengan firman. Kenyataannya kita dituntut seperti itu. Kita tidak dituntut untuk memaksakan budaya satu dibanding budaya lainnya, lalu itu lebih imperialisme, menjajah seperti itu, tapi kita bisa belajar bagaimana kebenaran firman itu masuk, menyesuaikan dengan budaya-budaya yang ada selama ada aspek di sana budaya yang memang bukan berdosa, hanya saja berbeda. Dan ini yang diajarkan oleh Paulus di sini dan mengingatkan mereka untuk memang, jadi dalam kita menggumulkan, merenungkan dalam cara berpikir kita, kita bukan hanya berpikir prinsip yang benar apa. Ya dari prinsipnya benar apa, lalu kita gumulkan ke arah ini bagaimana kemasnya itu bagus, kemasnya itu baik sehingga bisa sesuai dengan konteks yang ada. Bagaimana kita melakukan kontekstualisasi tanpa mengkompromikan kebenaran dan aspek-aspek lainnya. Dan itu memang menjadi ada tension di sana.

Sederhananya kalau kita pikir salah satu, pokoknya saya pilih prinsipnya apa, kebenarannya apa, atau pokoknya saya langsung impor saja semua budaya dari aslinya, dari Yahudi, dari zaman Tuhan Yesus dan seterusnya, pokoknya saya tolak semua budaya yang lain. Itu maka pendekatan yang ya saya sebutnya ini saja, bahwa ada pendekatan di agama yang lain yang seperti itu, yaitu semua pengikut-pengikutnya kalau mau ukur rohaninya apa, ya bajunya makin menyesuaikan nabinya. Itu makin rohani. Bajunya itu ya kira-kira warnanya seperti apa, putih-putih gitu ya, celananya mungkin tidak sampai sepanjang ini mungkin dia ¾, terus rambutnya kayak bagaimana, jenggotnya kayak bagaimana, makannya kayak bagaimana, kalau perlu cara makannya pakai tangan atau pakai sendok itu lebih rohani karena itu mengimpor semua dari budaya di suatu masa, suatu waktu, dan spesifiknya, oleh nabinya. Dan dilihat makin ke sana, makin mengikuti ke sana dan diangkat-angkat budayanya, makin itu mulia. Itu makin rohani. Bahasanya makin mengerti bahasa yang sana itu bahasa surgawi kira-kira begitu. Itu kalau orang hanya menekankan bagian aspek itu, bagian prinsipnya dia tarik, include dengan budayanya.

Tapi kenyataannya Alkitab membuka bagi kita bahwa untuk bisa – karena nggak lepas dari peristiwa Pentakosta – itu memang bisa membuka kebudayaan dan bahasa-bahasa yang lain. Dan itu akhirnya membuka kita lihat bahasa yang paling mulia itu bukan bahasa Ibrani Yunani kira-kira begitu, tapi bagaimana semua lidah, lutut, bertelut, dan dari segala suku dan bangsa itu mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan meskipun sebut Yesusnya saja beda. Ini bisa ngikutin ya di bagian sini, itu masuk ke budaya kita lho. Kita sebut kan, kita diselamatkan kenapa? Karena percaya Tuhan Yesus, bukan karena Iesous Christos kan, Yesus Kristus bahasa Yunaninya gitu. Bukan Aramaiknya, bahasa Ibraninya, nangkap ya? Kita bukan mengkultuskan suatu budaya bahasa tertentu dan makin ke sana makin rohani, nggak, tapi kita masuk ke pengertiannya. Dan itulah sebabnya nanti kalau Mandarin disebut Yēsū jīdū lho itu kan jauh sekali. Jesus Christ itu pun jauh lho dari teks aslinya. Padahal Alkitab mengatakan hanya ada 1 nama di bawah kolong langit ini di mana kita memperoleh keselamatan. Terus namanya kita saklek-kan begitu ya? Tapi ternyata nama itu pun bisa diterjemahkan dan semua pengertiannya itu di-elaborate itu kenapa? Karena mengarah ke kontekstualisasi masuk ke budaya yang berbeda. Dan berarti terjadi perubahan di sana.

Nanti kita bisa debat lagi dalam terjemahan mana yang lebih bagus dan seterusnya, tapi kita lihat dalam bagian sini, itu kenapa dilakukan? Karena itulah yang manis itu, yang lovely, yang bisa didengar ketika sampai ini bahkan terjemahan ke bahasa Indonesia, semua yang manis itu kita jadi mengerti bahwa apa yang disampaikan itu yang diinginkan oleh Paulus itu sesuatu yang memang dekat dengan kehidupan kita. Suatu yang bisa masuk ke budaya kita yaitu masuk ke pengertian prinsipnya tapi mengikuti budaya setempat tanpa mengkompromikan. Kembali lagi ya ada dalam kepercayaan lain bisa berubah-ubah bentuk. Agamanya kalau lagi di kota negara apa, bentuknya apa, nanti di negara mana, bentuknya beda, di negara mana, bentuknya beda. Nggak ada unitasnya kalau mau dibilang. Tapi kalau kita lihat di bagian ini setidaknya saya kasih masih struktur pembukaannya, yaitu ada unitas dan ada diversitas. Ada kesatuan di dalam prinsip-prinsipnya tapi memang ada keragaman. Dan keragaman itu tidak bisa terhindarkan terjadi kenapa? Karena memang ada beda budaya, beda kontes, beda zaman, dan seterusnya. Dan it’s ok untuk melakukan itu. Dasarnya kenapa? Kembali dari lihat tentu di peristiwa Pentakosta itu momen historisnya, tapi kemudian memang di dalam bahasa Alkitab senang menjelaskan memang untuk dibuka seperti itu.

Dan di dalam bagian ini saya juga, kalau saya mau renungkan, kaitkan bagi sehari-hari Bapak, Ibu, Saudara sekalian, misalnya Bapak, Ibu mendengarkan khotbah saya dalam bahasa Indonesia ini, mungkin ada lho ya tetangga kalian atau sanak saudara famili anda misalnya yang mungkin cuma bisa bahasa Jawa, lalu anda menyampaikan poin-poin kebenaran firman yang didapat dari sini, anda translate lagi ke bahasa Jawa. Nah itu bukankah suatu bentuk cultural appropriation juga? Karena kita harus akui kadang-kadang ada ketemu sekelompok orang tertentu kalau diajarin bahasa Indonesia itu susah, apalagi ikuti jargon-jargonnya Reformed itu memang agak kesulitan lain. Tapi kalau anda terjemahkan, meski memang sepertinya jadi lebih dilunakkan begitu ya tidak apa-apa karena tujuannya masuk ke pengertiannya bukan terkunci di kosa katanya. Dan ini prinsip memang yang diajarkan oleh Paulus untuk mereka terus gumulkan seperti itu. Karena apa? Karena untuk semua yang manis, dan itu bicara semua yang bisa diterima, kemasannya itu bisa untuk kita gumulkan diterima oleh banyak orang.

Menarik makanya ya kalau kayak Pak Tong itu suka katakan ke kita bagi dia itu, setidaknya dia ngomong, GRII itu pentingkan kualitas dan juga kuantitas. Wah ini kan juga tension. Kadang kita suka pikir kalau pentingkan kualitas ya nggak dapat kuantitas Pak, karena yang mengerti kualitas itu sebenarnya cuma sedikit. Tapi kemudian Pak Tong bilang setelah pentingkan kualitas, kuantitas harus dikejar juga tanpa mengkompromikan kualitas. Ini menjadi tension, memang ada ketegangan dan kesulitan iya kan? Karena seringkali kalau mau jumlah banyak, jumlah banyak, kita selalu sudah bayangannya kompromi, jadinya ya sudah ubah semuanya, buang prinsip, dan seterusnya. Nggak. Bagian ini menarik karena mau mengatakan untuk kamu masuk ke sana, tapi tanpa mengkompromikan kebenaran. Semua yang manis itu, apa yang lovely, apa yang manis untuk memang bisa didengar oleh lawan bicara kita. Seperti ketika kita mau berbicara itu bukan hanya berpikir saya mau ngomong apa, tapi kira-kira kalau dari perspektif dia, apa yang bisa baik, bisa sampai dia dengar. Dan itu adalah bagian ada engagement secara horisontal yang diajarkan di sini.

Lalu juga “semua yang sedap didengar,” ini sesuatu yang commendable, sesuatu yang bisa orang puji, orang yang lihat ini sesuatu yang dihormati. Kadang-kadang ada dalam budaya tertentu ketika misalnya saya paling ingat kalau KKR ke daerah-daerah itu ada dingomong gini, ada acara appropriation-nya. Misalnya kamu disuguhkan minuman teh, minum sampai habis atau tidak itu tergantung daerah lho. Ini pada aware nggak ya, ini ada beda-beda daerah. Itu ya dalam budaya daerah tertentu kita nggak habisin dianggap, “Kenapa? Kurang enak ya?” Tapi di budaya lain kita habisin itu malah dibilang rakus sekali. Memang kudu sisain sedikit, kira-kira seperberapa begitu tapi juga jangan sisa setengah, jangan juga minum 1/6, 1/5 jangan, tapi sisain sedikit itu sopan. Itu adalah aspek-aspek suatu yang commendable. Tidak mutlak memang, kembali lagi, tapi ketika kita lakukan itu, ya orang jadi lebih bisa terima. Bisa nangkap ya. Kan ini tidak bertentangan dengan Injil sama sekali. Tapi pertanyaannya di dalam budaya itu menjadi sesuatu yang kita lihat, “Oh ini orang baru tahu tata karma.” Kembali lagi kira-kira ada budaya seperti itu. Kita habisin ya, ya ribut gitu. “Aduh ini orang katanya dia pendeta, rakus sekali.” “Rakusnya kenapa?” “Iya dikasih minum, dia habisin.” Loh ada yang kaya gitu loh.

Tapi ya kembali lagi dalam budaya lain itu bisa berbeda. Ada budaya tertentu yang ketika kita sambil makan ngobrol-ngobrol itu boleh. Ada yang itu kayak setengah sakral gitu ya, diam, ngomong secukupnya. Ada budaya tertentu itu kalau ambil makan itu ya kita ambilin, ada yang diambilin, ada yang ya itu kalau kaya saya ingat itu konon mama saya ngomong di Cina daratan itu orang ambil sudah dia sumpit yang dia masuk mulutnya ini kalau dia memang sayang kamu, sumpit ini dia pakai ambil daging kasih kamu. Itu kudu dimakan, itu budaya. Kalau kita mungkin sebagian besar kita merasa, “Aduh jijik banget itu kan udah bekas mulut,” mungkin lagi corona atau apa gitu. Tapi kembali, itu budaya. Itu kan tidak ditentang oleh Alkitab, tapi itu bicara budaya, dan ada bagian budaya-budaya itu ketika kita pelajari dengan sedemikian – tujuannya tentu bukan untuk menyenangkan manusia, kita kembali menyenangkan Tuhan karena diajarkan Tuhan – tapi ada, biarlah itu tidak menjadi penghalang konten yang kita mau sampaikan. Karena kenyataannya kembali lagi ya, seringkali isi yang baik,  sayang sekali ketika tidak disampaikan, dikemas dengan kemasan yang baik pula.

Dan apalagi kadang-kadang kalau kita itu bablas, ini berkesannya kaya orang sok pintar kadang-kadang orang pun berkesan begitu. Ngomong apa, jelasin apa, dianggap sok pinter. Kenapa? Kita paksa kosa kata kita langsung masuk. Jadi kaya ngajarin, jejelin gitu. Tapi ada nggak bagian kita pikir kira-kira kata apa yang bisa lebih tepat yang lebih bisa dia pahami? Dan itu ada bagian kita bergumul dan doakan ya. Pun kita sudah kerjakan terbaik kalau sampai ditolak ya nggak apa-apa karena tujuannya kan bukan untuk menyenangkan manusia, menyenangkan Tuhan. Saya lakukan ini yang terbaik bagi Tuhan ya. Sebagaimana Paulus di bagian surat lain dikatakan itu, “Karena itu baik kamu makan, minum, atau melakukan suatu hal yang lain, lakukanlah bagi Tuhan.” Dan termasuk ketika kita menggumulkan bagaimana menyusun kata-kata kita dalam menyampaikan kebenaran Injil kepada sesama kita yang konteks budaya beda, kulturnya beda, bagaimana kita kalau mau dibilang menerjemahkannya atau menyusunnya sedemikian di dalam tingkah laku, di dalam kosa kata dan bahasa kita, itu adalah bagian tanggung jawab kita. Bagian tanggung jawab kita yang juga Tuhan tuntut dalam kehidupan kita ya.

Kembali lagi itu ada bagian yang mempelajari ini dan memang ada tantangannya di sana karena kita bukan menarik orang semua mundur ke belakang mengikuti dan mensakralkan, mengkultuskan budaya tertentu, zaman tertentu, dan bahasa tertentu. Itu ada aliran agama lain lah tapi not Christianity. Kristen bukan di sana. Kristen adalah masuk ke pengertian dan sebisanya itu penetrasi masuk ke dalam berbagai budaya, bahasa, dan orang memahaminya dan akhirnya Kristus ditinggikan oleh segala bangsa, segala suku kata, bahasa yang berbeda. Dan mereka mengerti Kristus yang sama meski di dalam keterbatasan bahasa juga yang berbeda-beda.

Lalu kemudian juga dikatakan “semua yang patut dipuji,” praiseworthy ya, yang akhirnya memang membawa orang ketika menangkap mengerti itu, dia akhirnya mau hidupnya itu di elevate, dibangunkan kerohaniannya untuk memuji Tuhan ya. Ini bicara aspek yang patut dipuji itu. Eh maaf sebelumnya “semua yang disebut kebajikan,” kebajikan itu bicara wisdom ya. Ada juga terjemahkan sebagai excellence, itu bicara suatu yang bajik, sesuatu yang kita memang butuh bijaksana. Ada yang mengatakan, “Kadang-kadang itu orang yang sampai studi sudah Ph.D itu pintar banget tapi kok bisa bodoh banget ya dalam kehidupan?” Sebenarnya itu bukan pintar banget sekaligus bodoh banget, tapi dia pintar tapi kurang bijaksana, kurang bijak dalam menjalani kehidupan ini.

Sebaliknya di ekstrem lain ada, maaf kata itu, misalnya kaya mbok-mbok (ibu-ibu) sederhana sekali tidak sekolah tapi ilmunya bijaksana sekali, pendidikannya nggak tinggi. Kita kalau lihat fenomena ini kita akan, “Oh kalau gitu makanya nggak usah belajar, nggak usah belajar tinggi-tinggi.” Saya rasa bukan di situ solusinya, tapi kita mengerti kepintaran atau IQ dan pembelajaran-pembelajaran itu penting, tapi bagaimana menggunakannya dengan bijak itu jauh lebih penting lagi ya. Dan sebenarnya bicara belajar penting itu ada kepentingan untuk studi, belajar itu adalah sebenarnya sesuai dengan pimpinan panggilan Tuhan juga sih dan tiap orang ada panggilannya beda-beda. Tapi bagimana kita menggunakan dengan bijak itu memang benar-benar membutuhkan pertolongan dari Allah Roh Kudus. Dan itu ada bagian makanya kita bergumul setelah tahu kebenaran firman, bukan saja kita belajar, belajar, belajar, dan untuk makin hafal, tapi bagaimana kita melihat ada koneksinya satu sama lainnya dan bagaimana kita mengutarakannya dengan lebih bijaksana dari sebelumnya. Itu bertemu dengan kebenaran firman.

Kembali lagi ya, mungkin kalau dalam satu ekstrem, kalau anda pikir bahwa kita itu kalau mau rohani banget itu masuk STT, saya harus ngomong dari depan ya, itu keliru. Serius. Kalau kita pikir masuk Sekolah Theologi supaya saya lebih rohani, kenyataannya itu ada keliru. Kenapa? Karena di dalam Sekolah Theologi menekankan terutama didalam aspek knowledge, pendidikan dan banyak pengajaran di sana, dan terutama adalah dalam pertumbuhan rohani itu tidak ada sekolahnya. Tidak ada sekolah supaya kamu naik rohani, kira-kira seperti itu. Yang ada, meski memang di STT itu ada nuansa konteksnya yang sangat mendukung ke sana, tapi ingat itu tidak otomatis. Akhirnya kembali lagi ada tanggung jawab kita masing-masing mau bertumbuh secara kerohanian atau tidak. Data kita dapat tapi kemudian kita bisa hidup lebih berbijaksana atau tidak, itu ada tanggung jawab kita pribadi ya.

Apalagi kadang-kadang di STT itu ya fokusnya ajaran theologi gitu ya, terus nggak pikir aspek lain gitu ya. Ini ada rekan juga yang sudah masuk tahu seperti apa, kadang-kadang ada yang saya lihat itu, “Aduh hidupnya itu awur-awuran, berantakan sekali. Aduh ini disuruh orang hidup tertib aja susah.” Kira-kira gitu. Tapi theologinya bagus, theologinya bagus, tapi dia berantakan. Aduh berantakan lagi. Terus ya konon di kami STT itu diatur sekamarnya, ini tentu jaman sebelum COVID, itu biasanya dikasih mix katanya, yang rajin campur sekamar dengan yang malas ya. Itu yang suka bangun pagi, dicampur tidurnya dengan yang bangunnya suka siang dan seterusnya. Yang bersih campur dengan agak jorok-jorok, kira-kira gitu. Itu supaya mem-balance, complementer gitu ya. Saya nggak tahu habis itu penderitaannya, ya anda bisa banyangkan lah ya penderitaannya seperti apa. Ada kesulitannya gitu ya.

Ada orang itu, saya ingat ada itu teman gitu ya, pokoknya alarm itu set banyak banget. Saya nggak tahu ya dia bangun tiap pagi itu set 10 alarm. Tiap berapa menit bunyi, berapa menit bunyi, bunyi bunyi bunyi terus, aduh ini orang kapan bangun sih, tapi set alarmnya banyak. Itu ada orang kaya gitu. Ada lagi orang cuma set 1 alarm cukup. Tapi makanya kita lihat itu ada beda-beda budaya, dan di dalam bagian itu sebenarnya memang dimaksudkan untuk pembentukan, tapi tidak otomatis terjadi. Dan apalagi secara rohani yang itu bicara tanggung jawab kita, kita responi itu seperti apa, kita responi tantangan itu akan seperti apa ya. Dan sama di dalam bagian ini makanya bicara bajik itu adalah meski pembaca dari Surat Filipi ini mereka sudah mengerti kebenaran-kebenaran firman yang disampaikan Paulus mungkin secara oral sebelumnya ya bukan mungkin ya, pasti sebelumnya lewat khotbah dia, lalu poin-poin awal yang dibahas didalam Surat Filipi ini, tapi diingatkan bahwa ingatlah ini bukan untuk kamu pintar gitu dalam artian profesor gitu, tapi adalah untuk kamu bijak dalam menjalani hidup ini. Bagaimana semua yang disebut kebajikan itu, dan kamu pikirkan kesana bagaimana kamu olahnya itu sehingga menjadi sesuatu yang patut dipuji ya.

Kalau mau terakhirnya itu menjadi sesuatu yang patut dipuji, ada yang katakan itu membuat orang itu memuji Allah bukan puji kamu. Itu juga sih. Kadang-kadang itu sulit ya. Kita itu kalau kadang pelayanan itu bagus sekali, kadang-kadang ya orang jadinya pujinya ke kita. Itu padahal keliru loh. Ini Pak Tong dulu seringkali ngomong ya, ingat kita jangan mencuri kemuliaan nama Tuhan, jangan mencuri kemuliaan nama Tuhan. Artinya apa? Ya jangan sampai ketika kita sudah pelayanan, yang orang ingat kita saja, maksudnya kalau mau dibilang gitu. Cuma ingat kita tok, cuma sampai ke kita. Dia nggak melihat kepada Tuhan-nya. Itu gagal sama sekali dalam pelayanan.

Saya ingat didalam salah satu kelas penggembalaan yang saya pernah ambil waktu dulu kuliah di STT, dalam kelas penggembalaan itu ada ngomong bahwa sebenarnya di dalam penggembalaan itu, penggembalaan yang efektif dan berhasil itu seperti apa? Wah saya mulai pikir ya. Kira-kira seperti apa gitu ya? Seperti apa berhasilnya? Oh mungkin bayangannya sampai orang itu masalahnya selesai. Kalau orang konseling, masalah selesai. Oh orang ada ribut, bisa damai ya. Oh ini tadinya suami istri mungkin mau cerai, mereka tidak jadi cerai, dan seterusnya. Tentu itu adalah hal penting. Tapi menarik ya waktu itu dosen yang mengajar bilang penggembalaan berhasil adalah ketika yang dikonseling itu bertemu Sang Gembala yang Agung. Bahwa dalam penggembalaan pelayanan dan juga mengkonseling itu ada yang dilayani, domba-domba dilayani bertemu dengan Sang Gembala jiwa kita, bukan cantol ke kita. Apa-apa kita kemana-mana dia ngekor kita gitu. Jadi fans club gitu, ya nggak kaya gitu. Tapi adalah di dalam, kalau kita mau ukur berhasil nggaknya ini, adalah mereka itu melihat kepada Kristus atau nggak, karena memang itulah tolak ukur keberhasilan dalam pelayanan itu. Bahkan dalam penggembalaan loh yang biasanya kan face to face gitu ya atau cuma satu dengan satu gitu ya, satu orang satu per satu atau biasa berdua gitu kan, itu dalam personal pelayanan, se-personal itu pun kita mengerti ada bukan untuk personal ke kita juga bukan cuma untuk kebaikan mereka, tapi membawa mereka kepada Sang Gembala Agung itu, Sang Gembala yang baik, barulah penggembalaannya berhasil.

Karena itu jangan pikir penggembalaan itu berhasil kenapa? “Oh iya Pak pokoknya mereka nggak jadi cerai.” “Kenapa?” “Takut didatangi sama pendeta.” Wah sungkan gitu. Sungkan. Gagal sebenarnya. Tapi harusnya, “Mereka sebenarnya sudah mau pisah, Pak, tapi ketika lihat Kristus lagi mereka akhirnya mau tetap jaga keutuhan pernikahannya dan jalani itu dengan topangan anugerah dari Kristus,” nah itu baru berhasil. Kalau nggak, kita sama aja seperti psikolog atau psikiater dunia. Kita tidak bawa ke sana. Kembali lagi ya itu memang bisa ada solusi dalam sementara-sementara, tapi ingat kita itu ada bagian penggembalaan itu ada secara iman Kristen yaitu bawa kembali kepada Kristus, membawa orang untuk memuji Tuhan, untuk dia menjadi membawa dia kepada Soli Deo Gloria, segala kemuliaan bagi Tuhan semata, untuk dia mengerti bahwa tujuan hidup dia untuk memuliakan Allah dan menikmati Allah. Dan ini bukan cuma menjadi suatu prinsip yang muluk-muluk atau abstraksi, tapi itu yang terjadi. Bahwa, “Pak, meski dalam kesulitan ini, saya akhirnya lihat saya tetap jalani.” “Kenapa?” “Karena melihat pada Kristus.” Ya.

Dan makanya dalam satu artian itu kadang bilang ya kalau orang misalnya sebut saja kasusnya konseling, orangnya bolak-balik konseling, langganan-langganan, akhirnya ini sebenarnya nggak bertumbuh loh. Jangan pikir, “Oh sudah lebih membaik. Dia dulunya pukul istri, sekarang nggak pukul, atau dulu pukul 10 kali sekarang 5 kali. Oh lumayan berkurang,” atau apa gitu. Nggak seperti itu. Meski ada kadang fase-fase itu bisa terjadi tetapi terutama adalah ketika dia bergumul itu bukan jadi pelanggan kita, tapi adalah dia menemukan topangan dalam Kristus dan mereka bergumul melihat bagaimana Kristus pimpin keluarga mereka sehingga ada satu titik memang ya selesai konselingnya. Kenapa? Karena sudah sampai, kalau Gembala Agung itu sudah datang dan memeluk, mengayomi mereka, ya kita cuma hamba-Nya, ya mundur. Memang di situ peran kita. Bukan untuk kita terus-terus masuk, “Eh jangan lupa saya. Jangan lupa jasa saya.” Bukan. Biarlah itu di dalam ada pujian lain itu, “May they forget the channels and only seek only Him,” yaitu biarlah dia lupa akan kita channel-Nya, sarana-Nya, alat-Nya yang dipakai, tapi yang penting orang itu terus melihat kepada Kristus saja. Bertumbuh di dalam Tuhan. Itu berhasil. Itu baru ukuran berhasil. Itu artinya kita memuliakan Tuhan. Dan itu artinya makanya dari pembahasan ini sampai kepada sesuatu yang dipuji, yaitu orang itu mencapai suatu pengertian dia memuji Tuhan, bukan pada kita ataupun sistem dan segala sesuatunya.

Nah menarik di dalam bagian ini, 8 urutan ini itu saya percaya itu bukan suatu urutan yang kebetulan, tapi ini urutan penting dan jangan dibalik. Karena menarik kalau kita itu bicara mulai dari misalnya ya, “Apa prinsip cara berpikirnya semua yang manis?” Wah kita langsung pikir pokoknya yang enak didengar saja atau sesuatu yang memang sedap didengar, sesuatu yang manis kita akan langsung pikir pokoknya menyesuaikan saja apa kata orang. Nggak. Dia start dari prinsip dulu kaku. Kita bisa lihat ini sebagai suatu saringan ya. Kalau kita ngomong bagaimana cara pikir Kristen? Pokoknya sama orang semuanya enak, semuanya comfort, nyaman. Itu kita terbalik karena di start mulai dari apa yang benar dulu, berarti langsung menyaring semua yang kepalsuan, semua yang keliru. Lalu apa yang adil, apa yang mulia, apa yang suci, sudah yang kaku itu baru semacam dikasih rajutannya belakang yaitu kamu harus pikirkan yang manis, sedap didengar, kebajikan, dan membawa untuk patut dipuji, membawa orang untuk memuji nama Tuhan. Kalau tidak berdasarkan kebenaran, tidak akan sampai orang kepada Soli Deo Gloria.

Dan ini bagian makanya ini urutan ini penting. Seringkali kita soalnya kadang-kadang pikir gitu sudah terbawa pada konteks yang ada, “Iya, Pak. Bagaimana ya?” Apalagi zaman sekarang banyak ibadah online, “Bagaimana bikin konten yang menarik? Yang bisa menjual?” Aduh kalo pikirannya kayak gitu, ya di mana pikir tentang konsep kebenaran? Dimana pikir dengan dasar firman Tuhan? Tapi sebaliknya kalau sudah disusun memang di dalam materinya dengan baik sesuai dengan naskahnya, dengan persiapannya sesuai dengan prinsip pengajaran firman, bagaimana kita kemas, bagaimana kita humasnya, kalau mau saya pakai istilah itu, bagaimana kita humaskan dengan baik, penjelasan yang baik, dengan ramah, suatu bagaimana kita bisa menjembatani kepada orang-orang yang dijangkau. Ini adalah suatu tantangan yang real kita hadapi karena saya juga dulu humas ya, kan. Ya memang begitu.

Tapi kita jangan balik, ya. Bisa nangkap ya? Kalau kita balik itu akhirnya cuma ikutin kata orang cuma ngikutin aja, “Orang senangnya ini, Pak, yang lagi trend ini ya pasti itu aja.” Loh pertanyaan itu kembali kepada apa kebenaran itu sendiri? Kembali kepada kebenaran firman atau nggak? Jangan tarik urutan ini. Karena kalo nggak, maka kita akan mengkompromikan firman dan akhirnya cuma pilih-pilih firman yang disuka. Cuma langsung ambil tema, temanya apa? Kita lagi suka, kita lagi suka trend ini terus ya cocokkin aja firmannya ngomong apa bagian ini. Tapi harusnya kita belajat mau taat dari firman dulu, lalu kita bagaimana gumulkan. Dari prinsip ini bagaimanakah kita bisa penyampaiannya lebih baik? Kemas dengan manis, dengan yang sedap didengar, yang disebut kebajikan, dan patut dipuji itu kepada sesama kita. Itu ada pergumulan kita. Kembali lagi ada tension, ada ketegangan disini tapi memang itulah artinya kita bergumul di hadapan Tuhan.

Sebagaimana ada theolog itu yang mengatakan bahwa kita itu diselamatkan bukan untuk dibebaskan dari pergumulan, tapi kita diselamatkan justru untuk masuk dalam pergumulan. Kita jangan berpikir saya sudah diselamatkan ya karena Kristus sudah mati dan bangkit menyelamatkan saya, menebus dosa saya, saya percaya pada Dia. Ya, betul kita mendapatkan keselamatan sempurna. Lalu kita pikir apa? Mulai sekarang saya bebas, saya nggak bergumul lagi, nggak ada kesulitan. Loh keliru. Kenyataannya kita dibebaskan dari perbudakan dosa untuk bergumul menaati Tuhan. Jadi, memang kehidupan orang Kristen tidak lepas dari pergumulan. Pertanyaannya, kita mengerti adalah inilah makna keselamatan kita dan di dalam pergumulan yang tepat tentunya, tidak sembarangan ya kita bukan siksa diri, tapi dalam pergumulan yang tepat untuk mau menjalankan perintah Tuhan. Nah itu masuk di dalam berbagai aspek dan lini kehidupan kita itu bisa juga ada beda-beda bentuknya karena tidak lepas dari fase background kita masing-masing.

Pergumulan itu kalau mau dibilang ya memang nggak pernah berhenti sih sampai kita nafas terakhir. Pergumulan akan selalu ada, entah dalam pergumulan kita relasi dengan Tuhan untuk terus bersandar percaya pada Dia, maupun juga dalam bagaimana kita memakai kehidupan kita menjadi alat demi kemuliaan Tuhan, mengerjakan keselamatan itu dalam kehidupan kita, ya itu memang ada kehendak Tuhan disana. Selagi kita masih diberikan nafas, berarti Dia masih mau pakai kita untuk menjadi alat demi kemuliaan nama-Nya. Lalu kemudian pertanyaan lebih lanjutnya adalah bentuknya seperti apa, konteks pelayanan seperti apa, di mana, nah itu bagian kita bergumul. Tapi kita tidak pernah dipilih untuk jadi cuma disimpan di rak. Kaya orang beli sepatu, maaf ini ya yang wanita-wanita ini ya, beli sepatu habis itu sudah beli ditaruh aja di rak di gudang, dikoleksi tidak dipakai. Tapi simpan. Suka. Karena saya belum punya warna pink gitu ya, cuma punya warna hitam, warna biru gitu ya. Belum punya warna pink, nanti besok-besok beli lagi warna ungu, kenapa? Karena belum punya warna ungu. Itu aja jadi koleksi. Nggak.

Kita ditebus, kita diselamatkan untuk mengerjakan keselamatan itu ada bicara untuk menyatakan di dalam perbuatan-perbuatan yang memperkenankan Tuhan dan kita ini bukan barang koleksian. Nggak. Ada rencana Tuhan atas hidup kita selagi kita mau bergumul dan memikirkan dan belajar mau menaati di mana pimpinan Tuhan dalam kehidupan kita masing-masing memang beda-beda ya. Dan juga bisa berubah station-nya ya kalau pakai istilah Luther sana bisa pindah lokasi karena satu lain hal, tapi yang penting Tuhan yang sama yang kita ikuti, dan tantangan itu terus kita jalani dan berbagai bentuk juga bisa berubah.

Lalu menarik poin berikutnya ini dikaitkan di ayat 9 dengan “Apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Yang bagian pertama dari ayat 9 ini bicara ada bagaimana Christian example for others, bagaimana memberikan suatu contoh teladan orang Kristen bagi yang lain. Ini tentu bukan berarti kita sudah sempurna, tapi setidaknya bisa sesuatu yang dilihat oleh orang lain, sesuatu yang bisa orang lihat, “Oh kira-kira begini.” Kadang-kadang ya dalam suatu artian ketika misalnya kita itu, ada yang mengatakan itu, “Bagaimana sih kita ajar anak itu belajar?” Misalnya ya belajar makan. Ya dia lihat kita kan. Kita sendok masuk mulut, sendok masuk mulut gitu, itu kan paling umum kan. Ya nggak? Anak kita kalau diajar makan itu gimana? “Oh makan. Kamu tahu ini bernutrisi, nasinya ada begini gini, harus ambil sayurnya gini gini bagus seratnya ini.” Nggak, dia nggak masuk situ. Dia dari contoh langsung, konkrit. Dia lihat, “Aaaa..” masuk. “Aaa..” masuk. Terus lama-lama dia, “Oh kayanya menyenangkan ya makan itu,” dia ngikut. Itulah maksudnya contoh teladan itu, jadi set example itu ya. Dan itu dia ajarkan untuk dia katakan kepada jemaat Filipi itu ada sesuatu yang telah mereka pelajari, telah mereka terima, telah dengar, dan telah lihat. Jadi Paulus sudah set dirinya untuk menjalani itu dulu dan bisa memberi suatu kalau mau dibilang efek yang jadi bola salju gitu ya, menjadi contoh, contoh, contoh bagi yang lainnya ya.

Menarik ketika dia pakai istilah gini, yang pertama itu dalam pemberian contoh itu “apa yang telah kamu pelajari.” Nah ini berarti memang dalam kita belajar kebenaran firman, dalam meneladani orang lain pun itu ada aspek edifikasinya, ada aspek pembelajaran. Dan belajar itu seperti kita tahu ya, yaitu susah, gampang-gampang susahlah setidaknya ya. Memang ada susahnya. Saya kadang kesel ya kalau orang bilang, “Ah kan yang rohani itu gampanglah, Pak. Nggak usahlah belajar-belajar gini, pokoknya baca langsung bisa.” Heran ya. Coba ya kita misalnya ini apalagi masa-masa sekarang ya kita kalau, “Wah sakit nih. Kayaknya sakit menggigil ya.” Pergi ke dokter. Kita mau nggak ketemu dokter lalu dokter ini kita tanya, “Dok, ini saya sakit gini gini ya.” Lalu dia itu masih buka buku, “Oh tunggu ya saya lagi belajar.” Mau nggak? Nggak mau. Atau misalnya kita ngomong dengan dokternya, “Dok, dulu belajar dimana kuliahnya?” “Oh saya nggak belajar. Tapi saya learn by doing. Jadi saya ambil-ambil aja itu obat-obatan, kasih-kasih resep, atau saya suntik-suntik.” Kita mau disuntik nggak? Kenapa ya kalau untuk dokter, untuk kalau mengenai kesehatan fisik, kita itu harus pikir dokternya kudu belajar, harus yang ahli, kalau perlu spesialis, tapi kalau urusan rohani oh yang gampang-gampang aja. Everybody can do it. Nggak bisa. Kenyataannya memang ada proses pembelajaran dan termasuk dalam pembelajaran itu ada trial and error, ada bagian kita keliru dan kita belajar bergumul di situ.

Makanya mengerti firman Tuhan itu saya pikir selalu menarik ya, mudah dipahami, tapi memang sulit untuk dipahami sampai secara lengkap gitu, dan butuh pembelajaran, dan apalagi sampai semua detail-detailnya itu limpah sekali. Lihatlah komentari yang ndak pernah habis dicetak-cetak, itu bukan jualan, karena memang bolak-balik itu ternyata direnungkan direnungkan lagi masih banyak kelimpahannya tidak habis-habis. Lalu kita pikir, “Oh gampang.” Kita gagal melihat ada bagian di sini bahwa ternyata dalam jemaat Filipi meneladani Paulus, melihat, mempelajari apa yang diajarkan Paulus, mereka juga belajar. Karena itu kita juga jangan patah semangat ketika kita dalam proses pembelajaran, misalnya ikut PA, atau ikut mendengarkan firman Tuhan pun dalam Minggu, ada bagian yang sulit kita pahami, ndak apa-apa namanya juga belajar, ya toh. Proses belajar sama.

Itu sama seperti kalau anak kita itu pulang sekolah, “Mama…” nangis, “Kenapa?” “Iya, saya tidak tahu disuruh tambah 10 tambah 10, tangan nya ndak cukup, jarinya ketutup ndak bisa lihat, ndak bisa 10 tambah 10 berapa.” Terus kita bilang, “Ya sudah lah, kalau kamu memang ndak bisa, keluar aja dari sekolah!” Ya ndak to, belajar saja nanti lama-lama juga bisa. Malah nanti kalau dia sudah naik kelas, adiknya lagi, gantian adiknya, “Mama, dedek pulang, ndak bisa itung-itungan, 10 tambah 10, tangannya ndak cukup, jarinya tertutup, jari kaki.” Ya ciciknya yang di atas ngomong, “Gitu aja ndak tahu.” Ya dia sudah naik kelas. Pembelajaran memang begitu Bapak, Ibu. Malah kita yang suka lupa dulu betapa sulitnya kita bergumulnya fase-fase awal, tapi memang itu worth it dalam pembelajaran iman kita, dan terutama kita mengenal Tuhan kita. Kita mengenal Tuhan kita yang sudah mengasihi kita, yang sudah menerima kita, yang menebus kita melalui pengorbanan anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, yang tidak bisa kita bayar dengan apapun usaha kita, tapi demikianlah kasih-Nya dan anugerah-Nya pada kita, menebus menyelamatkan kita yang tidak layak ini, sehingga Dia pasti layak dan patut dipelajari, pantas untuk kita gumulkan, renungkan apa perkataan-perkataan-Nya. Dan selain itu tentu, kalau mau pakai istilah Calvin itu, mengenal Allah berkaitan dengan mengenal diri. Ketika kita semakin bertumbuh mengenal Allah, ada aspek itu, implikasinya membuat kita mengenal diri kita juga secara tepat.

Saya lanjut, lalu kemudian dalam pembelajaran example itu, contoh itu adalah “apa yang telah kamu terima,” jadi sesuatu yang memang diterima gitu ya. Jadi waktu belajar, susah, ya terima dulu. Lho memang belajar begitu to? Kita kalau ada di sini yang background-nya guru ada itu tahu gitu ya, kadang kalau kita ngajar gitu ya, “Anak-anak, begini-begini,” langsung paling males juga ada satu anak langsung, “Ibu, Ibu, bagaimana kalau ini, Ibu, Ibu, kalau begini gimana?” Gitu ya. Atau cerita Yunus lah, misalnya ya, kalau mungkin pengalaman Sekolah Minggu gitu ya, “Anak-anak, Yunus suatu saat diperintahkan Tuhan pergi ke Niniwe, tapi dia tidak mau, dia lari ke Tarsis, ya dia naik kapal,” langsung anaknya angkat tangan, “Ibu, Ibu, bentar, kapal nya itu harga tiketnya berapa ya?” Aduh kita pikir ini ngapain anak ini, denger dulu. “Ibu, tolong tanya itu Niniwe di mana? Petanya mana?” Ya ndak gitu lah, terima dulu. Ada fasenya terima dulu. “Lho Ibu, itu napi, kok dia lari?” Lho terima dulu, dengar dulu ceritanya. Dan ada fasenya kita ndak mengerti, ya kita pelajari dulu. Ada bagian-bagian memang demikian kok. Karena itu adalah bicara acceptance, kita terima, itu berarti kesiapan hati kita itu memang mau taat dengar.

Sama seperti orang itu kalau sudah haus, haus sekali, kering sekali, lalu sudah sampai di tengah kekeringan itu, ketemu temannya, “Eh kawan, ini, kamu haus ya, ini ada air.” Coba ya, kita ini dikasi air itu kita akan ngomong apa? “Eh ini pH nya berapa?” Gitu ya? “Oh ini air itu sudah bagus? Sudah di saring berapa kali?” Lho nggak, kita langsung minum, kenapa? Kita langsung mau submit, terima, karena kita sudah haus. Terima dulu. Itu ada bagian sana. Dan makanya dalam banyak hal ketika kita masuk dalam ibadah, ataupun ketika kita mengikuti PA dan pembelajaran lainnya, itu kesiapan sebelumnya itu penting. Kita siapkan hati kita, memang siap terima atau ndak? Ada orang kalau ndak siap terima, bolak-balik dilawan aja. Bolak-balik, selesai pembelajaran firman, juga ditentang aja, “Eh kaya nya tadi itu kurang bagus ya.” Atau ada mau comment, “Oh sudah selesai, kurang bagus.” Aneh-aneh lah yang kaya gitu-gituan, heran dah, itu karena ndak punya kesiapan hati yang teachable, yang bisa memang diajar, yang memang ada mau humble mode, terima dulu, mau belajar dulu, saya mau submit dulu, ada yang bagian sulit saya pahami, atau ada ada yang bagian kayanya tidak kaitan dengan pergumulan saya gimana, ndak match dengan pembacaan Alkitab saya kemarin dan seterusnya. Kita terima dulu, gumulkan dulu, dan lihat bagaimana Tuhan pakai itu, rajut itu dalam pertumbuhan iman kita.

Ada proses pembelajaran, ada proses kita terima, ya. Ada critical thinking, kalau mau dibilang dalam aspek pembelajaran itu, tapi juga ada aspek obedience karena kita mau terima. Kita terima. Ya, kita terima, juga dengar. Itu bicara dengar itu bicara adalah suatu yang, sebenarnya kalau bicara dengar itu memang ada unsur makanya aspek ketaatan ya, tapi makanya menarik gitu ya dikatakan itu, ya, karena shema dalam bahasa Ibrani itu kan dengar, itu ada unsur itu sebenarnya taat. Itu kayak kita kalau dalam bahasa Indonesia itu kayak itu suka ngomong ke anak kita, “Kamu sih anak yang nggak dengar-dengaran,” terus anak itu ngomong, “oh ndak kok, aku dengar kok, mama suruh saya kan jangan makan permen, saya dengar.” Lho maksudnya taat, jangan makan permen yang jangan makan gitu ya. Ada unsur gitu ya, nuansa seperti itu dalam kultur kita. Jadi dengar ada kaitan dengan taat, tapi terutama bicara, saya pikir, di dalam ada aspek lainnya di sini, telah dengar, yaitu adalah dengar pemberitaan firman, ya. Karena iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran akan firman Tuhan, ya. Dan memang dalam konteks itu nanti kaitan luasnya tentang bagiamana pengutusan hamba Tuhan, tapi menarik ya, iman itu timbul dari pendengaran.

Mungkin kita bisa tanya, ini kalau orang budeg, kalau dia tuli, itu gimana, dia ndak bisa beriman atau gimana? Tapi ini bicara iman itu timbul dari apa yang kita dengar, kita nggak lihat langsung. Kita dengar dulu, dan nanti kalau memang kita dengar baik-baik, mendengarkan dengan ada nuansa ketaatan di sana, untuk mau terima juga, itu menghasilkan iman. Sehingga di dalam bagian ini ada bicara “apa yang telah kamu dengar” itu berkaitan ada kita mau menaatinya dan memang kita mau mempercayainya. Itu yang saya mau bedakan dengan ‘telah terima’ itu. Telah terima, pokok nya kita taat dulu, dingomong begini, ya sudah saya taat. Suruh catat, ya sudah saya tulis. Tapi saya ndak tentu mau mempercayainya. Itu kan hal lain, karena itu ngomong bicara percaya itu kita, apa ya, keseluruhan diri kita terlibat dalamnya, kita sungguh mau menghidupi itu, kita sungguh mau mendengar nya. Ada suatu, ya memang mau denger-dengeran gitu dan kita percaya bahwa itu yang baik. Sehingga bukan cuma sekedar, apa ya, orang taat ada sih semacam orang itu taat-taat, sampai ngedumel gitu, karena apa? Karena cuma terima, terima sih tapi dia ndak mau denger, kira-kira gitu.

Nah itu ada menarik bagian sini Paulus di dalam berbagai kosa kata yang pakai ini ya dia bilang ‘telah dengar’ dan juga ‘telah lihat.’ Ya itu ya, action-nya Paulus itu sendiri nyata seperti apa. Dan mereka lihat oh ya, seperti itu, seperti itu. Jadi kita lihat dalam bagian ini, ada dan ini bisa, kadang-kadang orang bilang karena cuma diberikan prinsip-prinsip, ini membentuk satu tradisi, ya. Kadang-kadang ada tradisi-tradisi Kristen itu memang dibentuk dari dasar pengertian kebenaran yang benar, lalu dari tradisi itu, apa, prinsipnya cuma sampai mana, tapi implementasinya itu akhirnya menjadi tradisi.

Ambil contoh seperti Pengakuan Iman Rasuli, ini adalah tradisi. Ini paham ya? Pengakuan Iman Rasuli dan kita bacakan seperti ini tapi kita mengerti ini adalah tradisi yang baik yang tidak bertentangan dengan firman. Tidak ada lho bagiannya dalam Alkitab, “Kamu harus bacakan Pengakuan Iman Rasuli,” nggak ada. Karena ini tulisan di abad kemudian gitu. Tapi di dalam bagian ini adalah apa yang kita mengerti ini sebagai suatu yang telah dipelajari oleh orang Kristen sepanjang segala zaman, yang mereka terima, mau submit, taat, ya, dan mereka dengar, mereka sungguh imani menjadi suatu pengakuan iman, dan mereka lihat memang sudah dinyatakan menjadi pengakuan iman orang Kristen di segala tempat, segala zaman, itu Pengakuan Iman Rasuli itu sendiri. Ada example yang konkrit. Ini bukan baru diterbitkan sejak GRII berdiri tahun 1989 Pak Tong cetuskan kita pakai lagi Pengakuan Iman Rasuli, nggak. Dari dulu sudah dipelajari, dari dulu telah diterima, dari dulu telah didengar, dan dari dulu telah dilihat, memang gereja bacakan itu.

Menarik ya, ada dalam tradisi Gereja lain malah pakai Pengakuan Iman Rasuli ini, orang itu katanya untuk baptisan. Jadi, ketika orang mau baptis itu yang mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli ini. Jadi apa pernyataan dia itu, itu kok jadi mirip kayak itu ya, mungkin itu dasarnya wedding vow itu, kalau yang pernah pernikahan orang, itu janji, sumpah, ikrar gitu, kaya gitu. Ada bagian itu, kaya gitu. Jadi ketika peserta sudah mau baptisan gitu ya, orang yang sudah mengikuti katekisasi, dan seterusnya, mereka sebelum menerima sakramen, mereka mengaku Pengakuan Iman Rasuli ini. Yaitu, “Aku percaya kepada Allah Bapa yang Maha Kuasa, khalik langit dan bumi, dan kepada Yesus Kristus, anak-Nya yang tunggal Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus,” dan seterusnya. Ini bicara ada aspek bicara ada Tritunggalnya. Dan ini adalah, ya mereka mengaku itu, statement itu.

Kembali lagi, tentu bukan untuk kita lihat sekedar menjadi formula ya, apalagi mantra ya, “Oh pokoknya kudu ini, kalau sudah sebut berarti lahir baru,” oh nggak. Tapi ini adalah suatu tradisi yang dipelajari diterima, didengar, dan dilihat, dan kita lihat ini tidak bertentangan dengan firman, ya kita jalani. Kembali lagi ya ada tradisi ke sana, dan ini di dalam kita GRII akhirnya menjadi suatu yang setiap selesai khotbah dibacakan. Dibacakan ini bukan cuma untuk, “Oh, sekarang saya sudah hafal.” Ini ada yang ngalami nggak ya? Atau cuma saya, dulu ketika pertama kali datang GRII, Pengakuan Iman Rasuli, apa, apa Pak? Baca gini. Atau sambil nunduk, lihat, baca gitu ya. Tapi kalau sudah lama, sudah hafal. Tapi poinnya itu Pengakuan Iman Rasuli bukan, kembali lagi, ke hafalan ya, tapi adalah ke pengertiannya yaitu adalah kita mengerti ini adalah dasar iman yang rasuli. Dan bahwa ketika gereja ini proklamasi, bacakan Pengakuan Iman Rasuli, berarti inilah gereja yang sesuai dengan ajaran para rasul. Setidaknya ketika – karena memang keterbatasan khotbah, ndak bisa kotbah semuanya ya – setidaknya dari tradisinya ini kita melihat bahwa kita mengakui yang demikian, kita mengikuti apa yang tradisi yang baik, yang sesuai dengan prinsip firman, dan sari-sarinya, dirangkumkan dalam sini.

Lho ini dasar iman kita, Pengakuan Iman Rasuli ini. Bicara percaya kepada Allah Tritunggal, percaya kepada Kristus, ya, yang di dalam peng-kalimat-an syairnya ini ada bicara Dia itu sejatinya adalah Allah, lalu berinkarnasi menjadi manusia, lalu Dia mati, bangkit, dan pada hari ketiga Dia naik dari antara orang mati, lalu Dia terangkat naik ke Surga, dan seterusnya, dan kelak Dia akan datang penghakiman, menghakimi orang yang hidup dan mati. Percaya Roh Kudus, Gereja yang kudus dan Am, persekutuan orang kudus, pengampunan dosa, kebangkitan tubuh, hidup yang kekal, Amin. Ya, itu bicara garis besarnya iman kita itu seperti apa. Dan ini bicara, ya ketika kita mengerti, kembali lagi, ini tradisi, tapi tradisi yang baik itu adalah ternyata juga perlu, dan baik bagi kehidupan kita. Sama seperti ketika di awal saya katakan itu dalam kita menyampaikan kebenaran Tuhan itu kontainernya itu yang baik itu menunjang, kalau mau pakai istilah itu ya, menunjang kontennya, dalam satu artian, menunjang sehingga orang bisa terima dengan baik, dan sama, tradisi yang baik itu juga dalam satu artian itu, seperti ‘menunjang’ kebenaran firman, supaya lebih mudah orang langsung nangkap intinya apa, intisarinya apa, yang paling penting yang saya harus ingat, apa yang menjadi pengakuan iman saya, dan menjadi pengakuan iman gereja ini, ya, dan seterusnya.

Lalu lanjut bahwa, dan, ketika Christian practice ini dijalankan ini yang kita mengerti menjadi piety ya, karena ketika kita menjalankan ini, yaitu seperti apa yang dikatakan Calvin, bahwa sebenarnya semua pengertian doktrinal itu sebenarnya, semua pengertian doktrinal itu tujuannya adalah untuk piety, untuk kesalehan hidup. Jadi bukan cuma knowledge, bukan cuma hafal, bukan cuma tahu, tapi membawa kita kepada kesalehan hidup, yaitu bagaimana kita tetap beriman kepada Allah Tritunggal di tengah berbagai tantangan yang ada, dan bagaimana hidup kita diwarnai dari prinsip kebenaran firman, itu adalah bagian yang kita menggumulkan, bagaimana kita menghidupi kebenaran firman itu dalam keseharian. Memang tujuannya ke sana. Bukan untuk sekedar waktu ujian, “Wah, bisa ini dapatnya 100.” Ya mungkin itu ada aspeknya pembelajaran juga tetap bagaimanapun tetap ada, tapi ingat bukan end goal-nya untuk nilai-nilai begituan. Tapi adalah kita bisa bijaksana ndak di dalam mempraktekkannya dan menjadi kehidupan yang saleh.

Dan menarik terakhir ketika dikaitkan semuanya ini, dan dikatakan adalah ada God of Peace gitu ya, “Allah sumber damai sejahtera” kalau terjemahan Indonesia itu, ada dari Allah yang, Allah yang damai sejahtera itu, itu akan menyertai kita, ya. Tema penyertaan Allah itu adalah tema yang sangat penting ya, terutama ini bicara juga ini adalah Allah yang seperti apa yang menyertai kita, ya. Mungkin saya bahas lebih dari God of Peace-nya dulu. God of Peace itu bicara adalah Allah yang adalah damai, Dia bukan Allah perang, sehingga kita mengerti dalam bagian ini, ketika ada nuansa dalam Alkitab itu peperangan, itu peperangan yang karena memang inevitable, tak terhindarkan. Allah kita bukan Allah yang senang berperang, kalau senang berperang saja dalam per se senang berperang, ketika nanti musuhnya sudah ndak ada, ya nanti cari gara-gara, “Karena Saya senang perang.” Tapi Allah kita adalah Allah sumber damai sejahtera, tapi ketika ada si jahat itu yang memang ingin menggoco dan merusak damai yang sejati itu, maka yang harus terjadi adalah peperangan, sebelum ada mencapai kedamaian. Dan makanya di hari akhir itu adalah kedamaian. Dan ada sumber damai sejahtera dari Allah itu yang akan menyertai kita, ketika kita mau menjalankan perintah-Nya ini.

Ketika kita mau, makanya kadang-kadang orang bilang, ketika kita mengerti kehendak Tuhan itu apa? Ukur dari damai sejahtera, ya. Mesti ini ndak mutlak ya karena ada bagian Tuhan, perintahkan kita untuk sangkal diri, pikul salib, dan kita ndak merasa damai, tetapi ketika kita menjalankan itu sedemikian, ada suatu damai dalam diri kita, ya karena Tuhan sertai. Kembali ya, karena Allah kita itu bukan Allah perang. Kalau Allah perang pokoknya selalu rasa tension, selalu rasa ketakutan, selalu kaya mau gigit orang atau apa gitu ya. Nggak, tapi ada damai di situ, ada suatu kita rasa contentment, kalau mau pakai istilah Gordon Fee, ada contentment, ada suatu rasa fulfillment dalam kehidupan kita, ada kehidupan kita merasa bermakna, karena memang inilah yang harus kita jalani, ya. Dan itu didapat bukan karena kita mau memberi makna pada diri sendiri, oh ya memang ini harusnya seperti ini, it meant to be, tapi God wants it to be like that, Allah menghendaki kita menjalani demikian.

Berapa banyak kehidupan kita bergumul di situ ya, ketika kita mengambil langkah-langkah keputusan dalam kehidupan ini, kadang-kadang yang sulit pun, terus kita ambil langkah, kenapa? Karena saya tahu sesuai dengan prinsip firman, sesuai ini yang benar, ini adil, ini yang mulia, ini yang patut dipuji, ini yang sedap didengar, ini yang seterusnya itu, lalu kita mengerti itu sesuai dengan prinsip, tradisi dari iman Kristen, lalu kita bergumul awalnya jalan itu sulit, sulit. Betul tapi ingatlah ada promise di sini, ada satu janji bahwa Allah damai sejahtera itu akan menyertai kita juga. Sehingga ketika di bagian situ kita bisa menemukan ada penyertaan Tuhan, hadirat Tuhan itu yang memberikan kelegaan bagi kita, memberikan suatu penghiburan, ketenangan, bahwa ya saya berjalan dalam track rencana Tuhan.

Kembali lagi ya, meski ukuran damai sejahtera itu tidak semutlak itu, Kristus ketika mau disalibkan itu tidak rasa damai sama sekali, tapi setelah Dia jalani itu, ada damai terakhir ditulis, ya kan. Makanya itu ada ungkapan tetelestai, sudah genap, kenapa? Ya itu, memang sudah tercapai kehendak Tuhan. Dia jadi bukan pensiun terus, “Allah kenapa Engkau meninggalkan Aku,” itu bagian klimaks dari ketegangan yang ada, tapi kemudian ada ketenganan di sana, yaitu sudah genap, dan terakhir, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Ku serahkan nyawa-Ku.” Karena Dia ndak selalu tension di situ ya, dan kita lihat itu karena ada damai yang kita sulit bayangkan ya, bagaimana di atas kayu salib itu terakhir-terakhirnya itu Dia bilang itu, “Bapa ke dalam tangan-Mu ‘Ku serahkan nyawa-Ku.” Karena Dia sudah genap, Dia sudah genapi, ada akhirnya damai sejahtera juga yang dinyatakan oleh Kristus ketika di tengah pergumulan-Nya itu.

Dan menarik adalah ketika bicara ini, itu tema yang kental dalam Perjanjian Lama itu, God’s presence ya, kehadiran Allah, penyertaan Allah. Kita temukan ada pencatatan yang dialami oleh Musa, di satu titik karena bangsa Israel itu terus memberontak terus melawan Tuhan, tegar tengkuk, tegar tengkuk seperti itu akhirnya bilang, “Ya sudah,” ada itu satu momennya itu dibilang, “Saya tidak akan menyertai kamu lagi, tapi malaikat-Ku akan menyertai kamu, dia akan jalan di depan dan dia halau semua musuh.” Itu ada satu chapter itu di dalam kisah pelayanan Musa itu ya. Jadi bayangin ya, Tuhan karena sudah kesel ya, kalau mau pakai istilah itu, ya tentu ini bahasa anthropomorphis, ya itu, Dia katakan, “Aku tidak akan menyertai lagi kamu, tapi, Saya janji, karena sudah sesuai kan janjinya, bahwa kamu akan masuk Kanaan, ya sudah, Saya kasih Malaikat, dia akan halau semua musuh, kamu masuk itu.” Berarti kalau kita pikir bagian situ ya, bisa masuk tanpa capek-capek perang. Lho luar biasa lho itu, malaikatnya jalan di depan, ya kan. Wih, kalau kita jadi Israel kita pikir, “Boleh juga ini ya, ndak repot-repot lagi,” masuk, malaikat langsung halau habis tumpas semua musuh, mereka ndak usah capek-capek perang, ndak ada peperangan Yeriko, Ai, dan seterusnya, langsung menang, langsung duduki semua. Tapi, Musa, yang sangat mengerti dan mengenal dekat dengan Tuhan dia tahu ini bukan kalimat berkat tapi ini adalah penghukuman atau peringatan yang keras, kenapa? Karena dia bilang, “Tapi Aku tidak menyertai kamu.”

Nah itu ya kalau kita mau kontras di sini ya, antara berkat, dan penyertaan Tuhan, kita pilih mana? “Oh mau nya dua-dua Pak, disertai Tuhan dan diberkati.” Ya kadang ada kehidupan seperti itu, tapi ndak selalu, kenyataannya ndak selalu. Kadang-kadang itu ya, Tuhan menyodorkan ke kita gitu kamu pilih berkat, kelimpahan, keenakan, kenyamanan, kembali lagi tidak ada yang selama itu tidak berdosa dalam dirinya itu suatu yang baik, tapi ketika itu tidak, akhirnya tidak disertai Tuhan, kita harusnya melihat bahwa, “Tapi saya ingin Engkau, pribadi-Mu itu yang lebih bernilai daripada berkat-berkat ini.” Itu sama seperti kalau orang tua sudah kesel sama anaknya, “Sudah lah, kamu keluar dari rumah, ndak usah lagi ketemu papa, tapi kamu butuh kebutuhan itu selalu saya kasih duitnya.” Seneng gitu ya, tapi ndak ketemu lagi papa sudah, selamanya. Kita mengerti itu kalimat teguran dan kalau mau dibilang ancaman itu yang keras sekali, dan Musa di situ bilang “Show me Thy glory,” tunjukkan lah kemuliaan-Mu, yaitu Musa, dan dia bilang, “Jangan Engkau biarkan kami melangkah satu langkah kaki pun dari sini kalau Engkau tidak menyertai kami,” dan dia minta tunjukkanlah kemuliaan Tuhan.

Kehidupan kita, dalam kehidupan kita itu, dalam mengikut Tuhan itu sebenarnya di situ, kita mau, sungguh mau mencari Tuhan Sang Pemberi Berkat, atau sampai kepada berkat-berkat-Nya? Itu adalah pilihan-pilihan kehidupan, itu adalah bagian tahap kerohanian itu kita mau bertumbuh mengejar itu saja, atau yang lainnya? Dan apalagi menarik ya, ketika bicara God’s presence, kehadiran Tuhan, bukankah itu yang kita rayakan di Natal? Di dalam Matius mencatat ketika dikabarkan kepada Yusuf bahwa tunangannya itu, Maria itu sedang mengandung, dikatakan bahwa anak yang dikandungnya itu adalah menggenapi apa yang di nubuat di Perjanjian Lama, dan Dia akan disebut Imanuel, Allah beserta kita. Dan itulah yang kita rayakan Natal. Yang kita rayakan Natal itu apa sih? “Hadiahnya Pak.” Ya itu lihat lagi berkat, bukan pada pribadi-Nya. Kita harusnya fokus kembali lagi kepada pribadi Kristus, karena Dialah, kalau mau ada pakai istilah itu, Dialah hadiah terbesar itu sendiri. Dan pribadi Kristus, penyertaan Kristus itulah yang sebenarnya dihadirkan di dalam Natal itu sendiri. Dan adakah kita rasakan itu sehingga menjadi suatu damai sejahtera yang sejati, bukan damai sejahtera Allah karena nyaman ada berkat dan kado dan hadiah semuanya, tapi karena ada penyertaan Kristus. Dan Kristus itu yang sebenarnya, dari pembukaan Matius menyatakan Dialah Imanuel, Allah beserta kita, Dia juga yang di penutup Matius katakan bahwa, “Pergilah, jadikan segala bangsa murid-Ku, baptislah mereka di dalam nama Allah Bapa, Allah Anak, Anak Roh Kudus, dan ajarkanlah mereka semua yang ‘Ku katakan kepadamu, dan ketahuilah Aku akan menyertai kamu, sekalian sampai pada kesudahan zaman.” Dibuka dari kelahiran-Nya, Dia menyertai kita, dan sampai kenaikan-Nya pun Dia terus menyertai kita melalui Roh Kudus, Roh Kristus, yang terus menyertai gereja-Nya, dan biarlah itu yang kita nikmati dan kita syukuri, dan terus kita jaga di dalam kita menjalani kehidupan kita khususnya di momen-momen Natal seperti ini. Mari kita satu dalam doa.

Bapa kami dalam surga kami sungguh bersyukur untuk kebenaran firman-Mu, kami berdoa, bersyukur untuk Engkau kembali mengkoreksi kami, mengingatkan kami akan kebenaran-Mu, untuk kami memiliki perspektif, cara pandang yang sesuai dengan kebenaran firman-Mu, untuk kami boleh diubahkan oleh kebenaran-Mu, dan hidup seturut firman-Mu. Pimpin setiap kami Bapa, dalam pergumulan kami, pribadi lepas pribadi, banyak tantangan, banyak kesulitan, kegalauan, bahkan kebingungan yang kami hadapi, namun kami berdoa kiranya Engkau yang berbelas kasihan, kiranya Engkau yang ampuni dosa kesalahan kami, dan kiranya Allah Roh Kudus yang mencelikkan mata rohani kami, yang berikan kami kepekaan akan kehendak rencana-Mu untuk kami taati, untuk kami jalani, sehingga biarlah hidup yang satu kali ini, sungguh kami persembahkan bagi-Mu dan bagi kemuliaan nama-Mu saja. Terima kasih Bapa untuk semua ini, hanya dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *