Hidup yang Berpadanan dengan Panggilan, 11 Juni 2017

Ef. 4:2-3

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Saudara, apa yang kita percayai, itu adalah sesuatu yang sangat berkaitan erat sekali dengan apa yang menjadi tindakan atau perilaku kita di dalam kehidupan kita. Alkitab tidak pernah mengajarkan kita untuk hanya mementingkan apa yang kita percayai saja. Alkitab juga tidak pernah mengajarkan kita untuk mementingkan hanya apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita, tanpa mementingkan apa yang kita percayai. Tetapi 2 hal ini, baik itu iman, yang dibangun di atas kebenaran firman, pengetahuan akan firman Allah, maupun perbuatan yang kita lakukan dalam kehidupan hidup kita, itu memiliki kaitan erat sekali, dan bahkan tidak bisa dipisahkan sama sekali. Karena apa yang kita ketahui, itu membentuk apa yang akan kita lakukan di dalam kehidupan kita. Apa yang kita imani, itu yang menjadikan kita melakukan sesuatu perbuatan atau tingkah laku di dalam kehidupan kita. Nah Paulus nyatakan ini di dalam pasal 1 sampai pasal yang ke-6. Ada satu kaitan erat sekali antara pasal 1-3 dengan pasal 4-6.

Kalau Bapak, Ibu perhatikan ya, misalnya di dalam pasal 1 sendiri, Tuhan berbicara mengenai apa melalui Paulus? Di situ dikatakan, kita dipanggil oleh kasih karunia dan kita dijadikan menjadi anggota daripada Tubuh Kristus sendiri, secara umum kita bisa mengerti ini. Lalu di dalam pasal 4:1-16, bicara mengenai apa? ‘’Hendaklah engkau hidup seperti seorang yang sudah ditebus atau sesuai dengan panggilanmu tersebut.” Lalu di pasal 2:1-10, Paulus berbicara mengenai dibangkitkan dari antara orang mati. Lalu pada waktu kita komparasikan dengan pasal 4:17 – 5:17, maka kita diminta oleh Paulus untuk, sebagai orang Kristen, menanggalkan jubah kematian kita dan kita mengenakan jubah yang baru yaitu jubah kehidupan yang ada di dalam Tuhan. Lalu pasal yang ke-3, itu berbicara mengenai kemenangan Kristus, baik itu atas iblis ataupun di dalam misteri yang Tuhan sudah kerjakan di dalam sejarah dunia ini. Dan di dalam pasal 6:10-24, di situ Paulus berkata, kita perlu memiliki kehidupan yang berkemenangan tengah-tengah dunia ini.Jadi ada korelasi yang erat sekali antara pasal 1-3 dengan pasal 4-6, dan semua yang dibahas dalam pasal 1-3, itu diaplikasikan di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen itu bagaimana? Karena itu di dalam ayat 1 pasal yang ke-4, Paulus berkata, “Hendaklah kamu memiliki kehidupan sebagai orang-orang yang dipanggil oleh Tuhan, yang berpadanan dengan panggilan yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita ini.” Jadi kalau kita adalah orang-orang Kristen, maka kehidupan kita sebagai orang Kristen, itu harus sesuai dengan status kita sebagai orang Kristen. Kalau kita berkata, saya orang Kristen, maka apa yang kita perbuat, tunjukkanlah bahwa perbuatan itu adalah seperti mulut kita yang mengatakan bahwa diri kita itu adalah orang Kristen.

Di dalam Persekutuan Doa kemarin, kita telah membahas mengenai khotbah di bukit, yaitu menjadi garam dunia dan menjadi terang dunia. Pada waktu Tuhan Yesus berbicara, “Hendaklah kamu menjadi garam dunia,” Dia nggak berkata seperti ini, tapi Dia berkata, “Kamu adalah garam dunia.” Maksudnya apa? Ada perbedaan antara “Hendaklah kamu menjadi garam dunia” dengan “Kamu adalah garam dunia.” Di dalam Bahasa Yunani-nya, itu terlihat jelas sekali. “Kamu adalah garam dunia” – itu menggunakan kata kerja yang bersifat indikatif. “Kamu menjadi garam dunia itu” – itu berbicara mengenai satu kata kerja yang bersifat imperatif. Bedanya dimana? Kalau “menjadi garam dunia”, “Hendaklah kamu menjadi…” itu adalah satu perintah yang Tuhan berikan kepada kita untuk berubah dari sesuatu yang kita tidak ada itu, menjadi sesuatu yang baru, atau menjadi satu manusia yang baru dengan usaha dan kekuatan kita untuk mencapai itu. Tapi pada waktu Tuhan Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia”, itu berarti, dengan kata kerja indikatif, itu berarti: kita adalah garam. Kenapa kita bisa menjadi garam? Karena sebelumnya kita adalah garam. Karena itu hiduplah seperti orang yang adalah garam dunia, karena kamu adalah garam itu sendiri, yang bisa memberi rasa ke dalam dunia ini. Jadi panggilan kita sebagai orang Kristen, untuk memiliki kehidupan yang Kristiani dalam kehidupan kita, itu bukan sesuatu yang kita bisa usahakan dengan kekuatan kita sendiri dan kemampuan kita sendiri. Kalau Tuhan tidak menganugrahkan satu perubahan hidup dalam hati kita, satu perubahan dari manusia lama menjadi manusia baru, maka kita nggak mungkin bisa memiliki satu kehidupan Kristen, atau sesuatu kehidupan yang didasarkan kepada manusia baru itu dalam kehidupan kita. Jadi apa yang menjadi panggilan Tuhan, itu adalah satu karunia yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita. Tapi panggilan yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita itu harus dicerminkan, harus dinyatakan di dalam kehidupan kita yang sesuai dengan panggilan yang Tuhan berikan itu dalam diri kita.

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang kita bahas di dalam pasal 4-6, itu bisa dikatakan sebagai karakter umum atau natur yang dimiliki oleh semua orang Kristen. Kalau kita adalah orang Kristen, maka kita akan memiliki kehidupan seperti yang Paulus katakan di dalam pasal 4-6 yang akan kita bahas ini. Dan pengertian hidup sesuai dengan panggilanmu itu, sebenarnya di dalam terjemahan Bahasa Inggris itu memiliki arti yang lebih jelas, lebih clear. Maksudnya adalah, “Hendaklah kamu berjalan sesuai dengan panggilan Tuhan di dalam kehidupanmu.” Apa yang membedakan “hidup” dengan “berjalan”? Saya pikir, pada waktu kita berkata, “Hendaklah kamu berjalan sesuai dengan panggilanmu.” – maka di situ ada satu pengertian: hidup mengikut Tuhan, itu adalah kehidupan yang tidak bisa diam. Ikut bersama Tuhan, itu adalah satu kehidupan yang harus terus maju. Hidup bersama Tuhan, itu adalah satu kehidupan yang harus ada progress-nya dalam kehidupan kita. Jadi pada waktu kita diselamatkan, kita tidak bisa menjadi orang Kristen yang menjadi seorang penonton saja, seperti para komentator ketika melihat pertandingan yang ada di depan mata mereka. Seperti seorang yang menonton perlombaan tenis, atau bulutangkis, atau tinju, lalu apa yang dilakukan komentator ini? Mereka hanya mengatakan, memberi comment-comment mengenai apa yang dilakukan para pemain di hadapan mereka tersebut. Hidup Kristen tidak seperti ini.

Maksudnya adalah, pada waktu kita menjadi seorang Kristen, maka yang kita lakukan apa? Kita tidak bisa hanya menjadi seorang yang membicarakan mengenai dosa, lalu menjadi seorang yang hanya membicarakan atau mendiskusikan mengenai penebusan Kristus dalam kehidupan kita, atau pengampunan dosa yang Tuhan lakukan dalam kehidupan kita, bagaimana kita bisa bertobat daripada dosa. Itu tidak bisa kita stop di dalam tataran itu saja. Walaupun pengertian mengenai pertobatan, penebusan Kristus, dosa, itu adalah hal yang penting dan sangat kita perlukan dalam kehidupan kita. Tapi pada waktu kita mengerti, kita perlu berjalan bersama Kristus, sesuai dengan panggilan kita. Paulus mau katakan bahwa kita, pertama, harus bertumbuh di dalam pengertian kita akan firman Tuhan. Di dalam Ibrani pasal 6, itu ada kalimat, “Kamu jangan hanya tetap berbicara masalah-masalah yang menjadi dasar iman Kristen saja, mengenai pembaptisan, mengenai segala hal yang mengenai pertobatan atau yang lain, yang tidak boleh atau boleh dimakan. Tapi kamu harus bertumbuh ke arah yang lebih sempurna. Kamu harus mulai meninggalkan itu. Kamu harus menjadi orang yang lebih dewasa lagi.” Dan pengertian-pengertian itu pasti muncul dari pemahaman pikiran dan pemahaman mengenai firman Tuhan terlebih dahulu.

Tapi yang kedua, itu tidak cukup. Pada waktu kita mengerti itu semua, kita harus belajar untuk menghidupi teori firman yang kita mengerti itu dalam kehidupan kita. Kita harus menjadikan hidup kita berjuang untuk bertumbuh, seperti pemahaman firman yang kita ngerti sebagai satu kebenaran yang perlu kita hidupi dalam kehidupan kita. Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, sekali lagi, kehidupan Kristen harus bersifat progresif karena Tuhan menggunakan istilah ‘berjalan mengikut Tuhan.’ Dan kalau itu bersifat progresif, berarti kehidupan seorang Kristen pasti selalu menarik, pasti tidak mungkin tidak menarik, dan kehidupan Kristen itu akan selalu dipenuhi dengan warna-warna pengalaman yang baru bersama Tuhan dalam kehidupan kita. Kita tidak akan menjadi orang Kristen yang menjemukan, atau orang Kristen yang monoton, merasa kehidupan mengikut Tuhan itu adalah satu beban yang berat atau merasa bahwa ini adalah suatu kehidupan yang tidak menyenangkan sekali dalam diri kita. Satu hal, pada waktu kita mengalami kehidupan yang monoton, mengalami kehidupan yang berat dan menjadi beban, atau menjemukan sebagai orang Kristen, mungkin disebabkan karena kita sebenarnya tidak pernah berjalan bersama Tuhan dalam kehidupan kita; atau istilahnya kita tidak mengalami progres pertumbuhan di dalam kehidupan kita.Makanya kita merasa hidup mengikut Tuhan adalah seperti ini terus tidak ada perubahan, tidak ada sesuatu yang baru, tidak ada sesuatu yang menarik dan menyenangkan. Padahal kalau Saudara belajar berjalan dengan Tuhan, mendekat baik di dalam firman dan bergaul dengan Tuhan melalui kehidupan Saudara yang belajat taat kepada Tuhan atau sesuai dengan panggilan Tuhan, Saudara akan menemukan bahwa hidup ini tidak mungkin monoton, hidup ini tidak mungkin menjemukan dan membebani kehidupan kita.

Karena itu Saudara, kadang-kadang saya melihat ada orang-orang Kristen tertentu seperti ini ya: pada waktu mereka mau melayani Tuhan, kadang-kadang mereka menunggu mood hatinya itu bagaimana. Kalau mood hatinya baik, perasaan hangat, ada rasa sreg, cocok, baru di situ dia mau melayani Tuhan, atau baru di situ dia akan belajar berjalan sesuai dengan panggilan Tuhan dalam kehidupan dia. Tapi Saudara, kalau kita mengerti apa yang Paulus katakan di sini, bahwa panggilan kehidupan kita berjalan itu harus sesuai dengan panggilan Tuhan dalam hidup kita, maka kehidupan Kristen kita itu jangan disesuaikan dengan mood kita bagaimana tetapi kita harus belajar berjalan sesuai dengan panggilan kita, kita harus belajar berjalan sesuai dengan kebenaran firman yang Tuhan nyatakan dalam kehidupan kita itu seperti apa. Dan itu berarti pada waktu kita melakukan suatu tindakan maka tindakan kita itu harus tunduk di bawah pengertian firman Tuhan yang benar, itu adalah hal yang sangat-sangat perlu kita pentingkan dalam kehidupan kita. Saudara jangan belajar hanya mengikuti perasaan bagaimana karena manusia yang sudah jatuh di dalam dosa itu adalah, dikatakan Alkitab, seorang yang sudah tercemar secara total dalam kehidupan. Total berarti baik pikiran manusia itu bisa salah, pengertian dia akan firman Tuhan bisa salah, perasaan dia bisa salah. Dia mungkin tahu itu benar tapi perasaan dia bisa mengatakan tidak seperti itu, tidak boleh seperti itu; dan pada waktu dia berbicara mengenai kehendak yang dilakukan, itupun adalah suatu kehendak yang bisa tidak cocok dengan apa yang dia pikirkan atau dia mengerti sebagai satu kebenaran. Jadi sebagai seorang yang sudah jatuh dan rusak dalam dosa, baik pengetahuan dia, baik perasaan dia, baik apa yang dia inginkan untuk dilakukan, itu sudah tercemar secara total, sudah rusak oleh karena pengaruh dosa dalam kehidupan kita. Karena itu kita tidak bisa sepenuhnya percaya pada pikiran kita, pada bijaksana kita atau pada perasaan kita dan apa yang kita lakukan 100% pasti benar. Kita harus kembali pada Kitab Suci mengatakan apa, baru kita bisa mengerti ini adalah suatu kebenaran atau tidak dalam kehidupan kita.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, bukan hanya sampai di situ saja Alkitab juga mengatakan kalau itu sudah tercemar, baik pikiran, perasaan, ataupun kehendak kita, ada dua kemungkinan lagi yang kita biasanya akan alami sebagai orang berdosa. Ada ketidak sinkronan, yang pertama, antara pikiran, perasaan, sama kehendak kita. Kita tahu sesuatu itu benar, tapi perasaan kita bisa berkata, “saya nggak mau lakukan itu.” Contohnya apa? Misalnya, seorang tahu mengampuni sesama itu adalah hal yang merupakan perintah Tuhan kan, perintah bukan? Perintah kan? Lalu pada waktu kita melihat orang-orang yang kita benci, perasaan kita ngomong apa? Pikiran ngomong, “ampuni,” perasaan ngomong, “jangan lihat mukanya,” begitu? Kelakuan kita ngomong apa? Jangan lihat mukanya. Sinkron nggak? Nggak kan. Kita bisa seperti ini, dan bukan cuma sampai di situ saja, Alkitab berkata, pada waktu kita ngomong, “Ini yang benar, harus ampuni,” perasaan ngomong, “Jangan ampuni,” tindakan kita menunjukkan kita tidak mau mengampuni tapi pikiran kita ngomong mengampuni, kita ngomong apa? Kita kemudian mencari alasan-alasan untuk membenarkan tindakan kita untuk tidak mau mengampuni, lalu kita berusaha mencari alasan untuk menenangkan hati nurani kita yang mengatakan kita berdosa karena tidak mengampuni. Bukan cuma itu lho, kita bisa terapkan ke dalam hal-hal yang lain, misalnya berzinah. Pada waktu seseorang itu lakukan perzinahan dengan perempuan lain, dia akan ngomong apa? Pikirannya ngomong, “Ini dosa,” hatinya ngomong apa? “Tapi istriku tidak setia, tidak melayani aku, dia tidak semenarik dan selembut perempuan lain,” begitu? Perasaanku merasa, “Aku nggak mencintai istriku lagi sehingga aku mengalihkan kepada perempuan lain, lalu aku kemudian berzinah dengan perempuan lain. Setelah itu kita lakukan apa? Kita mulai membenarkan diri: “Iya, kalau andai saja istriku itu baik, istriku itu lembut hatinya, istriku itu memperhatikan diriku, aku nggak akan lakukan itu.” Kita berusaha untuk menghibur diri kita.

Saudara, karena itu pada waktu kita membaca Alkitab, coba ya, ketika seseorang itu jatuh dalam dosa, Tuhan ketika menegur mereka Tuhan tidak pernah tanya alasannya kenapa, tapi Tuhan langsung ngomong, “Kamu sudah salah, kamu lakukan ini,” itu yang Tuhan tuntut dari pada kehidupan orang-orang yang berdosa karena Tuhan tahu ketika kita jatuh dalam dosa maka manusia ciptaan-Nya itu yang punya kemampuan seperti Allah, yang punya gambar seperti Allah itu, bisa memiliki satu tindakan untuk melawan Allah lalu menipu dirinya sendiri, membenarkan dirinya sendiri di hadapan Allah walaupun dia adalah orang yang sudah jatuh di dalam dosa. Saudara, ini sungguh-sungguh adalah suatu realita yang Kitab Suci menyatakan mengenai diri kita itu bagaimana. Karena itu pada waktu kita diajak untuk berjalan sesuai dengan panggilan kita, jangan cuma lakukan itu berdasarkan mood kita bagaimana, perasaan hati kita mengatakan apa, kalau sreg saya baru melayani, kalau nggak sreg tidak melayani, tapi kita harus menundukkan perasaan kita, kemauan kita itu di bawah kebenaran firman, dari situ baru akan muncul satu kehidupan hati yang damai, kelegaan yang sesungguhnya, dan rasa sukacita dalam kehidupan kita yang sesungguhnya, tanpa itu saya pikir kita akan mengalami satu perasaan semu, damai yang semu, sukacita yang semu dalam kehidupan kita. Harus kembali pada firman, baru dari situ kita baru bisa memiliki kehidupan yang sesuai dengan panggilan kita yang berpadanan itu bagaimana.

Lalu apa yang dikatakan oleh Kitab Suci mengenai kehidupan yang berpadanan dengan panggilan kita? Hal-hal apa yang perlu kita lakukan dalam kehidupan kita yang dituntut oleh Kitab Suci sebagai orang yang dikatakan sebagai orang Kristen atau orang yang sudah ditebus oleh Kristus? Nah di sini Paulus katakan, hal pertama itu adalah setiap orang Kristen itu harus berjalan di dalam kerendahan hati. Apa itu kerendahan hati? Mengapa kita harus memiliki satu kerendahan hati dalam kehidupan kita? Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kerendahan hati itu adalah, kalau kita mengerti secara definisi umum, itu adalah satu tindakan yang berlawanan dengan kesombongan. Kalau saya rendah hati, maka saya pasti tidak sombong. Kalau saya tidak sombong, saya itu adalah rendah hati. Kalau saya sombong, berarti saya tidak rendah hati. Kalau saya ngomong saya rendah hati, maka saya pasti tidak rendah hati. Itu adalah satu definisi umum yang saya pikir semua manusia mengerti mengenai definisi ini.

Lalu apa yang dikatakan oleh Kitab Suci sendiri mengenai seorang yang rendah hati itu sebenarnya itu bagaimana? Nah Alkitab ada memberikan beberapa ilustrasi untuk memberi kita pengertian, rendah hati yang dimaksud oleh Kitab Suci itu bagaimana. Pertama adalah, kerendahan hati itu adalah satu perasaan yang tidak layak di hadapan Tuhan. Satu perasaan yang menyatakan diri kita adalah orang yang tidak layak untuk berdiri di hadapan Tuhan, tetapi kita tidak akan menjauhkan diri dari Tuhan, justru melakukan tindakan yang sebaliknya, mendekatkan diri kepada Tuhan pada waktu kita merasa diri kita tidak layak. Di dalam Alkitab ada satu cerita, pada waktu Yesus Kristus itu diundang oleh seorang Farisi yang bernama Simon untuk makan di rumahnya, pada waktu Yesus datang ke rumah itu lalu Dia duduk di situ dan makan bersama-sama dengan Simon yang ada di depan-Nya itu, datanglah seorang perempuan yang dikatakan sebagai perempuan yang berdosa. Lalu apa yang dilakukan perempuan ini ketika dia menghampiri Yesus yang ada di dalam rumah Simon orang Farisi itu? Saya pikir ini satu keberanian yang besar sekali. Orang berdosa masuk ke dalam seorang pemimpin agama, pemuka agama yang merasa diri kudus dan benar. Pada waktu dia berdiri di situ, perempuan ini dikatakan sama sekali tidak berdiri di samping Kristus atau di depan Yesus Kristus, tetapi dia hanya berdiri di belakang Yesus. Tapi pada waktu dia berdiri di belakang Yesus, Alkitab mencatat ada tambahan, dia tidak berdiri di belakang-Nya, tetapi dia berdiri di dekat kaki-Nya. Mungkin waktu itu kaki Yesus agak menjulur, ya. Di dekat kaki-Nya. Setelah dia berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, dia kemudian membasahi kaki Yesus itu dengan air matanya. Lalu setelah membasahi itu dia menggunakan rambutnya yang adalah mahkota kecantikan dari pada seorang perempuan itu untuk me-lap bersih kaki Yesus yang kotor itu, yang sudah dibasahi dengan air mata. Lalu setelah itu apa yang dia lakukan? Alkitab mencatat, dia kemudian menciumi kaki Yesus terus menerus dan meminyaki kaki itu dengan minyak wangi.

Saudara, saya lihat ini adalah satu sikap yang sangat kontras sekali dengan Simon si orang Farisi. Pada waktu Yesus datang ke rumah Simon, Alkitab mencatat, Simon sama sekali tidak menyediakan air untuk Yesus membasuh kaki-Nya. Pada waktu Yesus duduk di depan meja makan itu, Dia duduk di hadapan Yesus dan berbicara sebagai orang yang setara dengan Yesus Kristus. Dia tidak menyambut Yesus dengan cinta kasih ataupun ciuman kepada pipi-Nya. Dia hanya, ya sudah membiarkan Yesus duduk di situ, mungkin membiarkan orang lain yang melayani Yesus, lalu dia hanya berbicara dengan Yesus Kristus. Satu kontras yang sangat besar sekali dengan seorang perempuan yang dikatakan sebagai orang berdosa yang datang kepada Yesus Kristus. Saudara, kenapa Simon si orang Farisi ini melakukan hal ini? Mungkin sebabnya karena dia merasa dirinya setara dengan Yesus Kristus, bahkan mungkin dirinya adalah seorang yang merupakan anggota dewan pengawas doktrin, sehingga pada waktu Yesus datang, dia harus menguji kebenaran firman yang Yesus ajarkan, kalau salah, dia punya otoritas untuk mengecap Yesus adalah guru palsu. Saudara, satu sikap yang sangat bertentangan.Tapi perempuan ini pada waktu dia menghampiri Yesus, dia merasa dirinya tidak layak sama sekali. Tapi pada waktu dia tidak merasa diri layak di hadapan Tuhan, itu tidak membuat dia mundur dari Tuhan, tapi justru mendatangi Tuhan dan melakukan pelayanan bagi Tuhan Allah. Tapi seorang yang merasa diri layak, dia tidak melayani Tuhan Allah, tapi dia cuma mengecap dan menilai apa yang dilakukan Tuhan dalam kehidupan dia. Rendah hati berarti dia adalah orang yang merasa diri tidak layak, tapi dia tidak mundur, dan mendekati Tuhan.

Yang kedua adalah, seorang yang rendah hati Alkitab kaitkan dengan satu tindakan orang yang jujur untuk mengakui dirinya adalah orang yang berdosa secara terbuka dan membutuhkan Allah di dalam kehidupan dia, pertolongan Tuhan, atau pengampunan Tuhan. Di dalam Alkitab ada kali contoh lain selain dari pada perempuan ini yang Tuhan gunakan untuk menggambarkan kerendahan hati ini, yaitu dalam perumpamaan seorang anak yang hilang. Seorang anak dari seorang tua yang sangat kaya sekali, pada waktu orang tuanya masih hidup, sebenarnya dia bisa menikmati semua harta yang dimiliki oleh orang tuanya. Tapi anak ini begitu kurang ajarnya sehingga dia kemudian datang kepada ayahnya lalu meminta bapanya itu untuk memberikan harta warisan kepada dirinya, semua milik warisan harus diberikan kepada dirinya selagi bapanya masih hidup. Itu adalah satu tindakan yang kurang ajar. Lalu apa yang dilakukan setelah anak muda ini mendapatkan harta warisan ini? Kalau saya jadi orang tuanya mungkin saya sudah gampar dan usir anak itu ya. Tapi bapa ini tidak lakukan itu. Dia kasih semuanya itu kepada anaknya. Lalu anak ini kemudian membawa hartanya itu pergi dan difoya-foyakan. Sampai akhirnya habis lalu dia jatuh miskin, dan setelah dia miskin dia tidak memiliki apa pun. Teman-teman meninggalkan dia semua. Lalu di situ dikatakan, dia hanya bisa bekerja sebagai seorang penjaga babi. Tapi pada waktu dia menjadi seorang penjaga babi, apa yang dia alami?Dia tetap tidak dapat makanan yang cukup, tetap tidak dapat gaji yang cukup. Bahkan di situ ketika dia ingin makan makanan babi, penjaga yang lain tidak ngasih dia makan makanan babi itu. Artinya apa? Saya lihat artinya dia begitu terpuruk, dia begitu susah, miskin, kelaparan, hampir mati, bahkan nilai dirinya sendiri tidak dianggap sebagai seorang yang lebih berharga atau bernilai dari seekor babi. Dia begitu dipandang rendah sekali oleh orang-orang yang ada di sekitar dia, bahkan oleh penjaga babi yang lain. Mau makan makanan babi saja nggak dikasih sama sekali.

Tapi Saudara, pada waktu dia mulai merenung di dalam kondisinya yang begitu terpuruk sekali, dia mulai memikirkan:“di rumah bapaku itu tempat yang enak sebenarnya, di rumah bapaku itu tempat yang hangat, penuh dengan makanan yang banyak, yang limpah,karyawan terjaga dengan baik, tidak seperti aku yang bekerja di sini setengah mati dan susah hati dan tidak diakui lagi sebagai seorang manusia. Karena itu, apa yang harus saya lakukan?” Dia berkata dalam hatinya, “saya harus bangkit. Saya harus bangun. Saya akan pergi ke rumah bapaku itu, lalu dari situ saya akan meminta pengampunan dari pada bapaku dengan berkata, “aku sudah berdosa kepada Allah, dan aku sudah berdosa kepada engkau, bapa. Karena itu, terimalah aku bukan sebagai seorang anak, tapi terimalah aku sebagai seorang upahan bapaku.”” Saudara, ini sikap rendah hati. Rendah hati berkaitan dengan satu sikap yang mau mengakui diri kita adalah orang yang berdosa dihadapan Allah. Rendah hati merupakan satu sikap yang mau mengakui tanpa pengampunan Tuhan, tanpa pertolongan Tuhan dalam kehidupan kita maka kita tidak akan menjadi apa-apa dalam hidup ini, kita tidak punya nilai sama sekali dalam hidup ini. Kita harus datang kepada Bapa, mengakui dosa kita, kita harus datang kepada Bapa mengakui pertolongan Dia dalam kehidupan kita dan segala yang kita miliki itu bersumber dari diri Dia. Itu adalah orang yang rendah hati.

Yang ketiga adalah Alkitab mencatat seorang yang rendah hati adalah seorang yang dikaitkan dengan suatu kesadaran adanya perbedaan yang besar antara Tuhan Allah dengan diri Dia. Adalah suatu perbedaan yang besar antara Tuhan yang adalah Tuan atas hidupnya,  yang berotoritas atas hidupnya, yang berkuasa atas hidupnya untuk mengatur kehidupannya, sedangkan dia hanyalah seorang hamba, budak yang harusnya taat dan tunduk dibawah otoritas daripada Tuhan Allah. Nah, ini dikatakan oleh Yesus di dalam peristiwa seorang perwira Kapernaum yang hambanya sedang sakit keras dan hampir mati. Pada waktu perwira ini itu melihat hambanya yang sakit keras dan hampir mati, lalu perwira ini mengutus tua-tua dari orang Yahudi untuk datang kepada Yesus Kristus dan berkata kepada Yesus, “Guru, tolong datang ke rumah si perwira itu, hambanya sakit keras, dia adalah orang yang layak Kamu tolong, dia adalah orang yang baik kepada bangsa kita, dia adalah orang yang turut membangun Sinagoge tempat kita berbakti kepada Tuhan. Tolong bantu orang perwira itu walaupun dia bukan dari bangsa kita, tapi dia adalah orang yang baik kepada bangsa kita.” Pada waktu Yesus mendengar ini, akhirnya Dia berkata, “Ayo! Kita pergi ke rumah itu.” Tapi pada waktu Dia di dalam perjalanan, hampir sampai kepada rumah Kapernaum itu, perwira itu, perwira ini berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Tolong sekarang kalian pergi menemui Yesus, lalu katakan kepada Dia, “jangan bersusah-susah datang ke rumah dari pada perwira ini.”” Karena apa? “Karena dia tidak layak untuk menerima Engkau ada di dalam rumah-Nya, seperti dirinya tidak layak untuk menemui Engkau,” karena itu dia mengutus sahabat-sahabatnya yang orang yang paling dekat, orang yang paling dia percayai untuk datang dan mengatakan hal ini kepada Tuhan Yesus, bukan tua-tua dari pada bangsa Yahudi. Pada waktu Yesus mendengar ini, dan sahabat ini kemudian melanjutkan, kenapa sebabnya? “Sebabnya karena perwira ini tahu, dia adalah seorang bawahan, kalau dia adalah seorang bawahan, diatas dia ada tuan, ada pemimpin perwira yang lebih tinggi lagi. Nah apa yang dikatakan pemimpin dia kepada diri dia, dia pasti lakukan. Karena itu, Tuhan Yesus, apa yang Engkau katakan, apapun itu juga, saya percaya itu akan terjadi dan saya akan lakukan apa yang Engkau katakan itu, saya tidak perlu menemui Kamu, saya tidak layak, cukup perintahkan.”

Saya yakin ini seorang yang sangat rendah hati sekali. Dia adalah orang yang punya posisi yang tinggi, di dalam masyarakat orang Yahudi, padahal dia bukan orang Yahudi. Dia punya posisi begitu tinggi sampai tua-tua pun harus tunduk kepada dia dan dengan rela hati untuk melakukan apa yang dia inginkan, itu berarti dia sangat terhormat sekali diantara orang Yahudi. Tapi, orang yang begitu terhormat, begitu tinggi, begitu memiliki kuasa yang besar, memiliki nama yang baik, dimana semua orang bisa tunduk dan bahkan pemimpin pun tunduk daripada musuhnya sebenarnya. Itu bisa berkata kepada Yesus Kristus, “aku tidak layak menemui Engkau, cukup katakan satu patah kata saja, karena aku adalah hamba-Mu, aku akan taat kepada apa yang Engkau katakan.” Saudara, itu adalah orang yang rendah hati, tahu posisi, tahu menempatkan diri dihadapan Tuhan.Dan yang menarik Saudara, kalau kita perhatikan diantara orang yang dianggap sebagai orang yang rendah hati, itu adalah orang yang bagaimana? Yang berdosa. Yang bagaimana? Apa? Merasa diri tidak layak. Lalu? Tahu posisi, bukan orang Yahudi. Saudara, saya pikir ini satu peringatan yang besar bagi diri kita ya, kita yang sering kali mendengar tentang cinta kasih Tuhan dalam kehidupan kita. Kita yang sering kali mendengar tentang penebusan Tuhan dalam kehidupan kita. Kita yang terlahir dalam keluarga Kristen yang hidup di dalam anugerah Tuhan yang begitu limpah sekali, mungkin kita bisa jatuh sebagai orang Yahudi yang merasa dirinya layak dihadapan Allah. Padahal, kita sebenarnya tidak layak sama sekali dihadapan Allah. Saya pikir kita perlu belajar untuk mengakui kita adalah orang berdosa, kita adalah orang yang tidak layak untuk berdiri di hadapan Allah dan kita adalah orang yang begitu kecil yang hanya hamba yang membutuhkan pertolongan Tuhan kita, pimpinan Tuhan kita, berkat dari Tuhan kita, baru kita bisa menjalani kehidupan kita dengan baik di tengah-tengah dunia ini, bukan sebaliknya. Orang sombong adalah seorang yang rasa diri tidak butuh Tuhan, dia bisa melakukan segala sesuatu, mengejar segala sesuatu berdasarkan kemampuan dan kekuatan dirinya sendiri, termasuk bagaimana dia diselamatkan, dia bisa usahakan dengan kemampuan dirinya tanpa membutuhkan pertolongan Tuhan sama sekali. Itu adalah orang yang sombong sekali.

Saudara, perlu tidak kita memiliki kerendahan hati? Itu bukan soal perlutidak perlu, tapi kerendahan hati itu adalah satu sikap hati yang pasti dimiliki semua anak Tuhan. Di dalam khotbah Yesus di bukit. Hal pertama yang Yesus katakan, “berbahagialah mereka yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerejaan Sorga.” Saudara, ini adalah suatu sikap seorang yang rendah hati.Tadi ciri-cirinya orang itu adalah orang berdosa, orang itu merasa dirinya tidak layak, orang itu tahu bahwa dirinya tidak bisa hidup tanpa pengampunan Tuhan dan pertolongan dari pada Tuhan Allah. Orang itu tahu siapa Tuhan dan siapa diri dia dalam dunia ini, itu adalah orang yang miskin secara rohani di hadapan Tuhan Allah. Karena itu, kita bisa katakan seorang yang rendah hati itu adalah orang yang merupakan seorang yang pasti ada di dalam kerajaan Allah, bukan diluar daripada kerajaan Allah, karena orang yang diluar kerajaan Allah tidak mungkin memiliki kerendahan hati di dalam kehidupan dia. Diluar bisa kelihatan rendah hati, tapi dalam hati dia pasti merasa “aku adalah orang yang terhormat, aku adalah orang yang harus di dengarkan kata-katanya, aku melayani supaya aku dihormati dan diterima oleh orang lain,” dan dia tidakmengerti kenapa dia harus menjadi orang yang rendah hati, baik diluar maupun di dalam hatinya, kecuali dia menjadi anak Tuhan yang mendapatkan karunia lahir baru daripada Tuhan baru dia mengerti makna ini dalam kehidupan dia. Jadi, Saudara, kalau rendah hati itu berkaitan dengan status rohani yang sejati dihadapan Allah, itu berarti tidak perduli seberapa kita memiliki suatu sikap yang rajin untuk melayani, tidak perduli seberapa kita itu memiliki banyak karunia, tidak perduli seberapa banyak pengalaman rohani  yang kita miliki atau alami, dan tidak perduli seberapa banyak pengalaman supranatural yang kita alami yang katanya dari Tuhan Allah, kalau Saudara tidak memiliki kerendahan hati, itu semua tidak ada artinya sama sekali, itu hanya menunjukan Saudara bukan bagian dari kerajaan Allah, walaupun Saudara punya begitu banyak karunia, begitu banyak pengalaman rohani sepertinya, dan bahkan hal-hal yang bersifat supranatural sekalipun, itu tidak menjamin kita adalah orang Kristen yang sejati.

Chrysostom, itu pernah berkata seperti ini ya, “tidak ada suatu pun yang begitu berkhasiat dalam memecah gereja seperti halnya cinta akan kekuasaan.” Saya ulangi ya, Chrysostom,“tidak ada yang begitu berkhasiat dalam memecah gereja seperti halnya cinta akan kekuasaan.” Saudara, kerendahan hati, itu akan membawa kita ke dalam suatu persatuan, tetapi kesombongan itu akan membawa kita ke dalam satu perpecahan dalam kehidupan kita, dan juga di dalam kehidupan bergereja. Kalau kita memiliki satu perasaan, “saya melayani Tuhan, saya perlu melayani Tuhan dalam gereja, saya rajin melayani Tuhan dalam gereja,” saya mau tanya, apa yang mendorong kita melayani Tuhan? Sikap hati seperti apa yang membuat kita mau terlibat aktif di dalam gereja atau di dalam kerajaan Allah? Apakah kita aktif karena merasa diri kita dipentingkan dan dibutuhkan baru saya aktif, kalau saya tidak diterima,tidak dibutuhkan, saya menarik diri daripada gereja, daripada pelayanan? Apakah kita melayani kalau kita punya pendapat atau usul itu didengarkan orang, kalau tidak, saya tidak mau melayani? Apakah karena kita ingin mendapatkan satu pengaruh, satu pengakuan di dalam gereja baru kita melayani? Saudara apa yang membuat kita melayani? Apakah itu karena kita ingin mengaktualisasi diri kita? Apakah itu karena kita ingin orang lain mengakui keberadaan kita atau karena kita merasa diri kita itu benar dan mengetahui banyak hal dan orang semua harus mendengarkan diri kita? Apa yang menjadi motivasi kita melayani? Saudara kalau kita melayani dengan sikap hati seperti ini ya, mau melayani karena usul kita diterima, atau mau melayani karena kita diakui, mau melayani supaya kita dihormati, mau melayani untuk kita bisa mengaktualisasi diri kita, saya pikir itu adalah satu sikap yang sombong sih dalam pelayanan, bukan dari hati yang rendah dihadapan Tuhan. Tidak heran, saya percaya kalau itu kita lakukan, apa yang menjadi perkataan Chrysostom akan menjadi satu kebenaran. Yang jahat adalah mempengaruhi orang untuk melawan gereja itu atau pelayanan gereja itu lalu pergi daripada gereja itu, tapi yang lebih baik mungkin adalah dirinya sendiri akan mengundurkan diri dari gereja itu dan tidak mempengaruhi orang lain. Tapi Saudara, sebelum Saudara mundur, sebelum Saudara menarik diri dari pelayanan, coba tanyakan dulu dalam diri, “saya mau menarik diri motivasinya apa? Karena saya merasa tidak di terima, tidak dihargai, tidak diberikan satu jabatan atau posisi pelayanan yang penting, atau apa? Atau doktrinnya yang salah, dan yang lain-lain? Dan sebelum Saudara melayani, tolong tanya kepada diri kenapa Saudara ingin melayani Tuhan? Karena Saudara sadar ini adalah satu anugerah yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita untuk bisa melayani Tuhan, walapun itu berarti mungkin tidak diakui dan tidak dihargai oleh orang lain, tapi itu bukan satu masalah, yang penting aku bertanggungjawab di hadapan Tuhan, seperti itu?

Saudara, kita dipanggil untuk memiliki sikap rendah hati dan sikap rendah hati kalau itu bicara mengenai 3 hal tadi yang saya angkat di depan. Itu berarti kita juga pasti dipengaruhi di dalam kita berelasi dengan orang lain. Kalau kita tahu segala sesuatu bersumber dari Allah, bukan sesuatu yang layak kita terima, kita tahu posisi kita di hadapan Allah, maka kita akan lebih mengutamakan Allah, mendahulukan orang lain, dan baru terakhir mendahulukan diri kita, bukan sebaliknya. Saudara, rendah hati yang sesungguhnya membuat kita utamakan Tuhan, orang lain, dan baru kepentingan diri kita sendiri. Karena itu, saya minta terutama bagi pengurus daripada gereja, aktifis yang sudah mulai melayani, pada waktu kita menjabat satu posisi dalam sebuah gereja jangan mau dilayani lagi, tapi belajarlah melayani orang; jangan mau didengarkan terus perkataan kita, supaya orang mau tunduk pada kita, tapi belajarlah mendengar apa yang menjadi kebutuhan jemaat daripada gereja; jangan selalu merasa diri penting, tapi belajarlah untuk menjadi seorang hamba yang mendahulukan orang lain. Kalau tidak, bagaimana gereja bisa melayani dengan baik, dan memberikan teladan yang baik? Bagaimana bisa menjadi satu berkat bagi gereja atau jemaat yang lain di dalam Tuhan atau orang-orang yang baru percaya kepada Tuhan? Itu pasti tidak mungkin terjadi. Kita perlu memiliki satu kerendahan hati. Kerendahan hati berarti membuka telinga mendengar apa yang menjadi kebutuhan, melayani mereka, mendahulukan mereka daripada kepentingan diri kita sendiri. Itu berarti kita menjadikan diri kita panutan daripada orang lain, untuk bersikap seperti diri kita. Kalau Saudara adalah seorang pengurus, atau aktifis dalam gereja, belajar ini, jangan minta dikasihi, jangan minta orang mendengarkan, jangan minta dilayani lagi, tapi belajarlah untuk melayani orang dan memperhatikan orang lain. Saya harap ini menjadi satu hal yang membuat kita mengerti, panggilan kita sebagai orang Kristen itu seperti apa, dan apa yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan kita. Kiranya Tuhan boleh memeberkati kita. Mari kita masuk dalam doa

Kami kembali besyukur Bapa, untuk firman yang boleh Engkau beritakan bagi kami. Kami bersyukur untuk setap hal besar yang telah Engkau kerjakan dalam hidup kami. Dan kami sungguh bersyukur untuk Engkau sadarkan akan ketidak layakan kami, kerendahan kami, keberdosaan kami, ketidakmampuan kami untuk mengusahakan sesuatu yang baik untuk diri kami sendiri kecuali kalau Engkau anugerahkan itu dalam kehidupan kami dan Engkau ampuni dosa kami dan Engkau angkat status kami untuk menjadi anak-anak Allah, baru kami boleh memiliki satu kehidupan yang sungguh berkenan di hadapan Allah untuk kehidupan yang ada damai yang sejati, sukacita yang sejati dan kelegaan yang sejati. Kami sungguh mohon, kiranya Engkau boleh pimpin kehidupan kami, supaya kami boleh hidup berpadanan dengan panggilan kami, bukan sesuai dengan apa yang kami inginkan dan kami lakukan untuk memuaskan emosi dan perasaan kami, tapi sesuai dengan apa yang Engkau inginkan dan senangi dalam kehidupan kami. Tolong ajar kami untuk menjadi seorang yang rendah hati di hadapan Tuhan. Sekali lagi kami bersyukur dan berterimakasih hanya di dalam nama Yesus Kristus. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *